• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL SKRIPSI ANALISIS COST VOLUME PR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROPOSAL SKRIPSI ANALISIS COST VOLUME PR"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL SKRIPSI

ANALISIS COST VOLUME PROFIT DALAM PERENCANAAN LABA

(STUDI PADA PT. CITRA KALIMANTAN MEDIATAMA)

Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh

HAFID MAYDANNY

NIM : C1C1100031

PROGRAM STUDI : AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan bisnis media cetak berupa surat kabar di Kalimantan

Selatan akhir-akhir ini sudah semakin pesat dan persaingan di sektor ini juga

semakin ketat. Hal ini terbukti dengan banyaknya surat kabar yang beredar di

tengah-tengah masyarakat. Terlebih lagi tingkat pembangunan wilayah yang

sangat tinggi menyebabkan perlunya ketersediaan informasi yang lengkap

untuk kebutuhan masyarakat dan bisa menjangkau sampai ke pelosok daerah

di wilayah Kalimantan Selatan. Surat kabar mampu menjawab semua

kebutuhan masyarakat tersebut selain mudah untuk didapatkan, surat kabar

juga sangat praktis untuk digunakan oleh semua kalangan masyarakat.

Hal tersebut di atas berhubungan dengan objek penelitian ini yaitu

PT. Citra Kalimantan Mediatama. Perusahaan manufaktur yang berkembang

pada bidang bisnis produksi surat kabar dengan produknya bernama “Media

Kalimantan”. Surat kabar Media Kalimantan merupakan salah satu yang terbesar di Kalimantan Selatan, ini tidak terlepas dari keberhasilan pihak

manajemen yang selalu merencanakan masa depan perusahaan dengan baik.

Nurul Fatia Muhlisa (2013:1) memaparkan salah satu ukuran untuk

menilai keberhasilan manajemen suatu perusahaan adalah laba yang

didapatkan oleh perusahaan. Tiga faktor yang sangat mempengaruhi laba:

Volume Produk Yang Dijual, Harga Jual Produk, dan Semua Biaya Yang

Dikeluarkan Untuk Menghasilkan Produk. Biaya menentukan harga jual

(3)

mempengaruhi volume penjualan, sedangkan volume penjualan berpengaruh

pada volume produksi, dan volume produksi mempengaruhi biaya. Tiga

faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Oleh karena itu, dalam

perencanaan laba jangka pendek hubungan antara biaya, volume, dan laba

memegang peranan yang sangat penting, sehingga dalam pemilihan alternatif

tindakan dan perumusan kebijakan untuk masa yang akan datang manajemen

memerlukan informasi biaya, volume, dan laba untuk menilai berbagai

macam kemungkinan yang berakibat terhadap laba yang akan datang.

Menentukan titik impas dan tingkat output yang diperlukan untuk

mencapai laba operasi juga harus dilakukan manajer agar risiko terjadinya

kerugian dapat dihindari. Berdasarkan hal tersebut manajer harus menemukan

suatu metode alternatif untuk membantu dalam keputusan yang mereka

ambil. Analisis biaya-volume-laba (Cost-Volume-Profit/CVP) dapat dipakai

menjadi alternatif pilihan, selain dapat menentukan berapa banyak unit

produk baru harus dijual agar mencapai titik impas, analisis CVP juga dapat

menguji perilaku pendapatan total, biaya total, dan laba operasi ketika terjadi

perubahan dalam tingkat output, harga jual, biaya variabel per unit, atau biaya

tetap produk.

Pada objek penelitian ini perusahaan dapat memakai analisis

biaya-volume-laba untuk memahami biaya manufaktur dengan lebih baik bagi

produk surat kabar atau untuk membantu menjawab pertanyaan seperti:

bagaimana pengaruh perubahan tingkat output (unsur volume dalam analisis

CPV) terhadap pendapatan total dan biaya total. Misalnya, jika perusahaan

(4)

bisnis ke pasar yang lebih besar, bagaimana dampaknya terhadap biaya, harga

jual, serta tingkat output, pertanyaan seperti ini termasuk dalam tema

“bagaimana jika (what-if)”. Dengan menguji hasil dari kemungkinan dan alternatif what-if ini, analisis biaya-volume-laba menyajikan gambaran laba

dari setiap kemungkinan dan alternatif. Dengan cara ini, analisis

biaya-volume-laba dapat memandu rencana kerja manajer kedepan.

Melihat dari uraian dan latar belakang tersebut, maka penulis sangat

tertarik untuk lebih jauh secara mendalam melakukan penelitian dengan

mengambil judul: “Analisis Cost-Volume-Profit Dalam Perencanaan Laba

(Studi Pada PT. Citra Kalimantan Mediatama)”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, maka rumusan masalah

yang dikemukakan adalah sebagai berikut:

“Bagaimana peranan cost-volume-profit dalam perencanaan laba pada PT. Citra Kalimantan Mediatama?”

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian yang

dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana peranan cost-volume-profit

(5)

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan

manfaat dikemudian hari bagi semua pihak yang dapat digolongkan dalam:

a. Aspek Akademis

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan khasanah baru dalam

ilmu pengetahuan bagi para akademisi terutama yang berkaitan

dengan aplikasi analisis biaya-volume-laba sebagai alat perencanaan

laba.

2. Model/metode analisis biaya-volume-laba dapat dijadikan referensi

bagi penelitian selanjutnya untuk lebih dikembangkan dan di

aplikasikan pada berbagai perusahaan.

3. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan indikator penerapan ilmu

yang diperoleh dibangku kuliah, sehingga lebih menguasai kembali

dari ilmu yang didapat pada saat menempuh mata kuliah Akuntansi

Manajemen dan Akuntansi Biaya di semester sebelumnya.

4. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk dapat menganalisis

kesinkronisasian antara teori dengan penerapannya di lapangan.

b. Aspek Praktis

Hasil analisis atau simulasi ini sebagai masukan dan sumbangan

pemikiran bagi perusahaan yang diharapkan dapat dijadikan suatu metode

untuk merencanakan laba dan dapat menginformasikan tentang

bagaimana merencanakan dan menentukan biaya-biaya, volume

penjualan, harga jual, persediaan produk/barang, dan laba yang akan

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEPTUAL

2.1. Landasan Teori/Kajian Teoritis

2.1.1. Pengertian Biaya

Sutrisno dalam Joko Pratomo (2008:18) menyatakan bahwa

“Biaya adalah pengorbanan ekonomis yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan suatu barang dan atau jasa”. Menurut Mulyadi (2012:8) “Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang

kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Dalam arti sempit

biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk

memperoleh aktiva”.

Definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya

adalah pengeluaran yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk

memperoleh faktor produksi dan bahan mentah yang akan digunakan

untuk produksi guna mencapai tujuan tertentu dan memperoleh

sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Dalam ilmu akuntansi, antara

biaya (cost) dengan beban (expense) dibedakan pengertiannya karena

dalam semua pembahasan akuntansi kedua istilah tersebut memang

berbeda.

Biaya (cost) dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat dimasa

(7)

pendapatan, biaya tersebut dinyatakan kedaluwarsa (expire). Biaya

(cost) yang telah kedaluwarsa disebut beban (expenses).

Menurut Kamaruddin (2011:34) didalam bukunya menuliskan cost adalah pengeluaran yang diukur dalam moneter yang telah dikeluarkan atau potensial akan dikeluarkan untuk memperoleh dan mencapai tujuan tertentu. Sebaliknya expense adalah pengeluaran yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi.

Biaya (cost) dikatakan sebagai setara kas karena sumber

nonkas dapat ditukar dengan barang dan jasa yang diinginkan.

Sebagai contoh, menukar peralatan dengan bahan yang digunakan

untuk produksi. Biaya (cost) bisa dianggap sebagai ukuran dolar dari

sumber daya yang digunakan untuk mencapai keuntungan tertentu.

Mengurangi biaya (cost) yang dibutuhkan untuk mencapai manfaat

tertentu berarti membuat perusahaan menjadi lebih efisien. Akan

tetapi biaya (cost) dikelola secara strategis. Sebagai contoh, manajer

harus memiliki tujuan menyediakan nilai bagi pelanggan yang sama

besar (atau lebih besar) dengan biaya (cost) yang lebih rendah dari

para pesaingnya. Dengan cara ini, posisi strategis perusahaan akan

naik dan keunggulan kompetitif akan tercipta.

“Biaya adalah kas atau setara kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat

ini atau dimasa depan bagi organisasi” (Hansen dan Mowen, 2009:47). “Perusahaan mengeluarkan biaya (cost) jika menggunakan sumber daya untuk tujuan tertentu” (Blocher et al., 2009:102).

Setiap periode, beban akan dikurangkan dari pendapatan

(8)

perusahaan tetap berjalan, pendapatan harus selalu melebihi beban

dan laba yang dihasilkan harus cukup besar untuk memuaskan pemilik

perusahaan.

Jadi, harga dan biaya (cost)berkaitan dalam pengertian bahwa

harga harus melebihi biaya agar menghasilkan laba yang memuaskan.

Selanjutnya, penurunan harga dapat meningkatkan nilai bagi

pelanggan dengan mengurangi pengorbanan pelanggan dan

kemampuan menurunkan harga berkaitan dengan kemampuan

mengurangi biaya (cost). Oleh sebab itu, para manajer perlu

mengetahui biaya (cost)dan berbagai tren biaya.

2.1.2. Objek Biaya

“Dalam berbagai konsep akuntansi biaya baik konsep

akuntansi biaya konvensional maupun akuntansi manajemen

kontemporer dikenal istilah yang disebut dengan objek biaya (cost

object)” (Kautsar, 2013:23). Objek biaya juga dikenal sebagai tujuan biaya. Objek biaya dapat berupa apapun, seperti produk, pelanggan,

departemen, proyek, pesanan, aktivitas, kontrak, lini produk, divisi,

proyek dan lain-lain yang digunakan untuk mengukur dan

membebankan biaya (cost).

Pengertian objek biaya menurut Blocher et al. (2009:102)

“Objek biaya adalah berbagai produk, jasa, atau unit organisasi

(9)

Sedangkan menurut Kamaruddin (2011:13) “Objek biaya merupakan

sesuatu atau aktivitas dimana biaya diakumulasikan”.

Carter (2009) dalam Kautsar (2013:23) “mendefinisikan objek

biaya sebagai suatu item atau aktivitas yang biayanya diakumulasi dan

diukur”. Adapun Hongren dalam Kautsar (2013:23) “menjelaskan objek biaya untuk menunjukkan sesuatu yang biayanya ingin diukur”.

Sebagai contoh nyata dari objek biaya, Jika sebuah rumah

makan ingin menetapkan biaya pembukaan cabang baru, maka objek

biayanya adalah pembukaan cabang baru. Jika sebuah pabrik semen

ingin menetapkan biaya pembangunan gudang baru, maka objek

biayanya adalah proyek pembangunan gudang baru. Beberapa tahun

terakhir, aktivitas muncul sebagi objek biaya yang penting. Carter

(2009:31) memaparkan item-item dan aktivitas-aktivitas yang dapat

menjadi objek biaya:

Produk Proses

Batch dari unit-unit sejenis Departemen

Pesanan pelanggan Divisi

Kontrak Proyek

Lini Produk Tujuan Strategis

Aktivitas adalah unit dasar dari kerja yang dilakukan dalam

sebuah organisasi. Menurut Hansen dan Mowen (2009:48) “Aktivitas juga dideskripsikan sebagai kumpulan tindakan dalam suatu

organisasi yang berguna bagi para manajer untuk melakukan

(10)

2.1.3. Penggolongan Biaya Berdasarkan Unsur Produksi

Menurut Garrison et al. (2008:51) “Kebanyakan perusahaan manufaktur membagi biaya produksi ke dalam tiga kategori besar:

bahan langsung (direct material), tenaga kerja langsung (direct

labor), dan biaya overhead pabrik (manufacturing overhead)”.

a. Bahan Langsung (direct material) adalah bahan yang menjadi

bagian tak terpisahkan dari produk jadi, dan dapat ditelusuri

secara fisik ke produk tersebut. Kadang-kadang tidak terlalu

bermanfaat untuk menelusuri biaya bahan baku yang tidak

berpengaruh secara signifikan dalam produk jadi. Bahan-bahan

tersebut misalnya solder untuk menghubungkan rangkaian TV

atau lem untuk perekat kursi. Bahan-bahan seperti solder maupun

lem disebut Bahan Baku Tidak Langsung (indirect material) yang

termasuk dalam biaya overhead pabrik.

b. Tenaga Kerja Langsung. Istilah tenaga kerja langsung (direct

labor) digunakan untuk biaya tenaga kerja yang dapat ditelusuri

dengan mudah ke produk jadi. Biaya tenaga kerja langsung

misalnya adalah tenaga kerja bagian perakitan seperti halnya biaya

untuk tukang kayu, tukang batu, dan operator mesin. Biaya tenaga

kerja yang tidak dapat ditelusuri secara fisik dalam pembuatan

produk disebut tenaga kerja tidak langsung (indirect labor) dan

perlakuannya sebagai bagian biaya overhead pabrik. Tenaga kerja

tidak langsung misalnya biaya untuk pembersih gedung,

(11)

c. Overhead pabrik (manufacturing overhead). Mencakup seluruh

biaya produksi yang tidak termasuk dalam bahan baku langsung

dan tenaga kerja langsung. Contoh: bahan baku tidak langsung,

tenaga kerja tidak langsung, pemeliharaan peralatan produksi,

listrik, pajak, depresiasi, dan asuransi fasilitas-fasilitas produksi.

2.1.4. Penggolongan Biaya Berdasarkan Hubungannya dengan

Produksi

Biaya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu:

a. Biaya utama (prime cost), “gabungan antara biaya tenaga kerja langsung dengan bahan langsung” (Garisson et al., 2008:52). Sedangkan menurut Kautsar (2013:26) “biaya utama adalah biaya pabrikasi yang secara langsung membentuk bagian integral dari

suatu produk jadi”.

b. Biaya konversi (conversion cost), “biaya overhead pabrik ditambah dengan biaya tenaga kerja” (Garisson et al., 2008:52). Sedangkan menurut Kautsar (2013:27) “biaya konversi ini adalah keseluruhan biaya pabrikasi yang mencerminkan biaya

pengubahan bahan baku menjadi produk jadi”.

2.1.5. Penggolongan Biaya Berdasarkan Hubungannya dengan Volume

(12)

“Biaya akan berubah sejalan dengan perubahan volume produksi. Klasifikasi biaya ini dibedakan atas biaya tetap, biaya fixed,

biaya variabel, dan biaya semivariabel” (Nurul Fatia Muhlisa ed, 2013:10). Biaya berdasarkan hubungannya dengan volume akan

dipaparkan secara rinci pada bahasanmengenai perilaku biaya.

2.1.6. Penggolongan Biaya Berdasarkan Kemampuannya untuk

Ditelusuri

Biaya dapat dianggap sebagai biaya langsung atau tidak

langsung tergantung pada kemampuan manajemen untuk menelusuri

biaya tersebut pada pekerjaan, produk, atau departemen tertentu.

Biaya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu:

a. “Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu

yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak

terjadi” (Mulyadi, 2012:15).

b. “Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung

dalam proses produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak

langsung atau biaya overhead pabrik” (Mulyadi, 2012:15).

2.1.7. Penggolongan Biaya Berdasarkan Departemen dimana

Dilakukan Pembebanan

Penetapan biaya per departemen membantu manajemen

(13)

Nurul Fatia Muhlisa ed (2013:11) Departemen-departemen yang dapat

dijumpai pada perusahaan industri, yaitu:

a. Departemen produksi, merupakan departemen yang secara langsung berhubungan dengan produksi barang dan meliputi berbagai departemen yang terlibat untuk mengkonversi atau memproses barang.

b. Departemen jasa, yaitu departemen yang tidak berhubungan secara langsung dengan produksi suatu barang.

2.1.8. Penggolongan Biaya Berdasarkan Fungsi Pokok Perusahaan

Menurut Mulyadi (2012:14) “Fungsi pokok perusahaan manufaktur ada tiga, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi

administrasi dan umum”. Adapun dalam perusahaan manufaktur biaya dikelompokkan atas:

a. Biaya produksi (manufacturing cost), yaitu biaya-biaya yang

terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap

untuk dijual.

b. Biaya pemasaran (marketing cost), yaitu biaya-biaya yang terjadi

untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Contohnya

adalah biaya iklan, biaya promosi, biaya angkutan dari gudang

perusahaan ke gudang pembeli, biaya contoh (sampel), gaji

karyawan bagian-bagian yang melaksanakan pemasaran

c. Biaya administrasi (administrative cost), yaitu biaya-biaya untuk

mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk.

Contoh: biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi,

(14)

2.1.9. Penggolongan Biaya Berdasarkan Periode Pembebanan terhadap

Pendapatan

Biaya dapat dikelompokkan berdasarkan kapan mereka

dibebankan pada pendapatan. Biaya ini dapat dikelompokkan

menjadi:

a. “Biaya produk (product cost) mencakup semua biaya yang terkait

dengan pemerolehan atau pembuatan suatu produk” (Garrison,

2008:54). Biaya ini tidak memberikan manfaat sebelum produk

dijual dan karenanya dicatat sebagai nilai persediaan atau aset

(asset). Saat produk dijual, total produk cost dicatat sebagai

expense dan disebut sebagai harga pokok penjualan (cost of good

sold).

b. “Biaya periode (period cost) adalah semua biaya yang tidak

termasuk dalam biaya produk” (Garrison, 2008:55). Artinya biaya periode tidak berhubungan secara langsung dengan suatu produk.

Biaya periode dibebankan segera (diakui sebagai expense), pada

periode biaya-biaya ini terjadi, misalnya: biaya gaji bagian

penjualan dan biaya promosi.

2.1.10. Penggolongan Biaya Berdasarkan Hubungan dengan

Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan

Nurul Fatia Muhlisa ed (2013:13) memaparkan penggolongan

Biaya Berdasarkan Hubungan dengan Perencanaan, Pengawasan, dan

(15)

a. Standard and budgeted cost. Standard cost adalah biaya yang

terjadi dalam suatu proses produksi dalam kondisi normal. Budget

adalah pernyataan kualitatif dari tujuan manajemen dan digunakan

sebagai alat untuk memantau usaha pencapaian tujuan.

b. Controllable and uncontrollable. Controllable cost adalah biaya

yang secara langsung dipengaruhi oleh manajer tertentu.

Uncontrollable cost adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi

secara langsung oleh kebijakan manajemen.

c. Committed and discretionary fixed cost. Committed fixed cost

terjadi karena adanya suatu dasar struktur organisasi, misalnya

properti, pabrik. Discretionary fixed cost terjadi karena adanya

kebijakan manajemen seperti biaya perbaikan dan pemeliharaan

mesin.

d. Relevant and irrelevant cost. Relevant cost adalah expected future

cost yang berada di antara serangkaian kegiatan dan mungkin

dapat di eliminasi jika beberapa kejadian ekonomi diubah atau

ditiadakan. Irrelevant cost tidak dipengaruhi oleh tindakan

manajemen.

e. Differential cost, adalah perbedaan antara biaya dari beberapa

alternatif kegiatan.

f. Opportunity cost, adalah nilai manfaat yang dapat diukur dengan

cara memilih serangkaian tindakan alternatif.

g. Shutdown cost merupakan biaya yang tetap yang terjadi jika ada

(16)

2.1.11. Perilaku Biaya

Perilaku biaya (cost behaviour) mendeskripsikan apakah biaya

berubah seiring dengan perubahan keluaran. Biaya-biaya yang

bereaksi pada perubahan keluaran dengan berbagai cara. Jadi biaya

diklasifikasikan berdasarkan pada bagaimana perubahan biaya

tersebut. Biaya ini terdiri atas biaya variabel, tetap, dan campuran.

a. Biaya Tetap (fixed cost)

Menurut Hansen dan Mowen (2009:98) “biaya yang dalam jumlah keseluruhan tetap konstan dalam rentang yang relevan ketika

tingkat keluaran aktivitas berubah”. “Bagian dari biaya total yang tidak berubah meskipun jumlah penggerak biaya berubah dalam

rentang yang relevan” (Blocher et al., 2009:110). b. Biaya Variabel (variable cost)

Menurut Hansen dan Mowen (2009:100) “biaya yang dalam jumlah keseluruhan bervariasi secara proporsional terhadap

perubahan keluaran”. “Perubahan pada biaya total yang dihubungkan dengan tiap perubahan pada jumlah output” (Blocher et al., 2009:110).

c. Biaya Campuran (mixed cost)

Menurut Hansen dan Mowen (2009:102) “biaya campuran adalah

biaya yang memiliki komponen tetap dan variabel”. “Biaya

campuran digunakan untuk mengacu pada biaya total yang

(17)

2.1.12. Metode Pemisahan Biaya

Biaya yang termasuk biaya semivariabel perlu dipisahkan

menjadi komponen biaya tetap dan biaya variabel dengan

menggunakan metode kuadrat terkecil (least square). Metode kuadrat

terkecil menghitung garis regresi yang meminimalkan jumlah dan

kesalahan kuadrat residual (the sum of squared error). Pada metode

kuadrat terkecil (least-squares method) untuk membuat estimasi

hubungan linear didasarkan pada persamaan linear:

Rumus berikut ini digunakan untuk menghitung nilai titik potong pada

sumbu X (a) dan slope (b) yang meminimalkan kuadrat residual.

n ( ΣXY - (ΣX)(ΣY) b =

n ( ΣX² - (ΣX)

(ΣY) - b(ΣX) a =

n

dimana:

X = Tingkat aktivitas (independent variable)

Y = Total biaya semivariabel (dependent variable)

a = Total biaya tetap

b = Biaya variabel per unit aktivitas

n = Jumlah observasi

Σ = Jumlah total observasi (Mulyadi, 2012:447)

Pada umumnya, metode regresi kuadrat terkecil digunakan

untuk menentukan rumus biaya. Selain itu, metode regresi kuadrat

terkecil bersifatobjektif.

(18)

2.2. Analisis Cost-Volume-Profit

2.2.1. Pengertian Analisis Cost-Volume-Profit

Menurut Garisson (2008:322) Analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profitCVP) adalah satu dari beberapa alat yang sangat berguna bagi manajer dalam memberikan perintah. Alat ini membantu mereka memahami hubungan timbale balik antara biaya, volume, dan laba dalam organisasi dengan memfokuskan pada interaksi antar lima elemen:

1. Harga produk.

2. Volume atau tingkat aktivitas. 3. Biaya variabel per unit. 4. Total biaya tetap.

5. Bauran produk yang dijual.

Analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profit analysis)

sangat berguna bagi perusahaan yang sedang menyusun rencana

usahanya atau sebagai alat pengendali sewaktu perusahaan masih

dalam kegiatan. Analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profit

analysis) menitikberatkan sampai seberapa jauh perubahan–perubahan pada biaya, volume dan harga jual akan berakibat pada perubahan

laba yang direncanakan.

Analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profit analysis)

merupakan faktor penting dalam beberapa keputusan bisnis, termasuk

pemilihan jenis produk, kebijakan apa yang harus dijalankan, strategi

pemasaran dan struktur biaya apa yang digunakan, penentuan harga

produk, dan pemanfaatan fasilitas produktif (Garrison, 2008:322).

Analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profit analysis) kerap pula

(19)

2.2.2. Margin Kontribusi (Contibution Margin/CM)

Laporan Contribution Margin (CM) adalah konsep yang

digunakan sebagai dasar perhitungan didalam menggunakan analisis

biaya-volume-laba (cost-volume-profit analysis). Menurut Garisson

(2008:324) “margin kontribusi adalah jumlah yang tersisa dari pendapatan dikurangi beban variable”. Jumlah yang tersisa/selisih tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya tetap secara

keseluruhan dan sisanya merupakan laba. Jika CM lebih dari biaya

tetap maka perusahaan akan mendapatkan laba, jika CM< kurang dari

biaya tetap maka akan rugi dan jika CM sama dengan biaya tetap

maka perusahaan dalam posisi impas (tidak laba dan tidak rugi).

Penjualan XXX

Biaya Variabel XXX -

Contribution Margin (CM) XXX

Biaya Tetap XXX -

Laba XXX

Ratio Contribution Margin (CM Ratio):

CM

CM Ratio = x 100%

Penjualan

2.2.3. Analisis Titik Impas (Break Event Point)

Menurut Blocher et al. (2009:392) “Titik awal dalam banyak perencanaan bisnis adalah penentuan titik impas, yaitu titik ketika

pendapatan sama dengan biaya total dan laba sampai dengan nol”. Sedangkan pengertian Analisis Titik Impas menurut Bustami

(20)

penjualan dan volume produksi berapakah suatu perusahaan yang

bersangkutan tidak menderita kerugian dan tidak pula memperoleh

laba.”

Berdasarkan pengertian dari berbagai sudut pandang diatas

maka dapat disimpulkan bahwa pengertian Analisis Titik Impas

(Break Event Point) adalah suatu keadaan dimana dalam operasi

perusahaan untuk menentukan jumlah produk dalam rupiah atau unit

perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi.

(penghasilan = total biaya).

Analisis Titik Impas memberikan informasi berapa tingkat

penjualan minimum yang harus dicapai suatu perusahaan agar supaya

tidak menderita kerugian. Dari analisa tersebut juga dapat diketahui

sampai seberapa jauh volume penjualan yang direncanakan boleh

turun, agar supaya perusahaan tidak menderita kerugian. Analisis

Titik Impas merupakan salah satu bentuk analisa biaya, volume dan

laba karena untuk mengetahui titik impas maupun margin of safety

perlu dilakukan analisa terhadap hubungan antara biaya, volume dan

laba.

Apabila didalam analisa titik impas, titik berat analisa

diletakkan pada tingkat penjualan minimum yang menghasilkan laba

sama dengan nol, maka dalam analisa biaya, volume, dan laba ini titik

berat analisa diletakkan pada sampai seberapa jauh perubahan– perubahan pada biaya, volume dan harga jual berakibat pada

(21)

Analisis Titik Impas dapat digunakan untuk membantu

menetapkan sasaran tujuan perusahaan, kegunaan bagi manajemen

antara lain:

1. Sebagai dasar atau landasan merencanakan kegiatan operasional

dalam usaha mencapai laba tertentu

2. Sebagai dasar atau landasan untuk mengendalikan kegiatan

operasi yang sedang berjalan yaitu alat untuk pencocokan antara

realisasi dengan angka-angka dalam perhitungan Analisis Titik

Impas (Break Event Point).

3. Sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan harga jual yaitu

setelah diketahui hasil perhitungan menurut hasil Analisis Titik

Impas (Break Event Point) dan laba yang ditargetkan.

4. Sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang

harus dilakukan seorang manager suatu perusahaan.

Perhitungan Analisis Titik Impas (Break Event Point) dapat

dihitung dengan dua metode yaitu:

1. Metode Persamaan

Metode persamaan mempunyai dua pendekatan yang dapat

digunakan dalam menghitung titik impas baik dalam unit maupun

rupiah, penjelasannya sebagai berikut:

a. Pendekatan Pendapatan Operasi

Pendekatan pendapatan operasi memfokuskan pada laporan

(22)

biaya perusahaan dalam kategori biaya tetap dan variabel. Laporan

laba-rugi dapat dinyatakan dalam persamaan naratif:

Persamaan ini dapat diperluas lagi menjadi:

b. Pendekatan Margin Kontribusi

Margin kontribusi adalah pendapatan penjualan dikurangi

biaya variabel total. Pada titik impas, jumlah margin kontribusi

setara dengan beban tetap.

Biaya Tetap BEP ( Unit ) =

Margin kontribusi per unit

Atau

FC BEP ( Unit ) =

P - VC

Biaya Tetap BEP ( rupiah ) =

Rasio Margin kontribusi

Atau

FC

BEP ( rupiah ) =

1.

Keterangan:

FC : Biaya Tetap

P : Harga jual per unit

VC : Biaya Variabel per unit

Penghasilan Operasi = (Harga Jual x Jumlah unit) – (Biaya variabel per unit x Jumlah unit) – Jumlah biaya tetap

(23)

Jika ingin merencanakan laba tertentu, maka rumusnya:

Penjualan =

2. Metode grafik

Menurut Blocher et al. (2009:395) “Grafik biaya, volume dan laba (cost-volume-profit/CVP) menggambarkan perubahan

tingkat pendapatan dan biaya total pada berbagai tingkat output”. Rp

Garis pendapatan

Penjualan

Daerah Laba

Titik impas

Garis Biaya Tetap

Daerah rugi

Gambar 1.1 Grafik BEP

BEP digambarkan dalam Pendekatan grafis sebagai titik

potong antara garis penjualan dengan garis biaya total (Biaya total =

Biaya tetap + Biaya variabel).

Pada grafik biaya-volume-laba (CVP), volume per unit

digambarkan dalam sumbu horizontal dan nilai uang dalam sumbu

vertikal. Langkah-langkah untuk membuat grafik biaya-volume-laba

adalah sebagai berikut:

(24)

1. Membuat garis yang sejajar dengan sumbu volume untuk

menunjukkan besarnya total beban tetap.

2. Garis biaya tetap digambarkan mulai pada titik biaya tetap pada

sumbu vertikal diagonal ke atas dengan memilih beberapa volume

penjualan dan plot dengan total beban (tetap dan variabel) pada

tingkat aktivitas yang dipilih.

3. Garis penjualan digambarkan mulai dari titik nol. Kemudian

membuat titik yang menunjukkan total penjualan pada tingkat

aktivitas yang dipilih.

Melihat dari gambar di atas bahwa titik impas (break event

point) adalah titik potong antara garis total pendapatan dengan garis

total beban. Daerah rugi merupakan daerah dimana jumlah garis biaya

lebih besar daripada jumlah garis penjualan. Daerah laba adalah

sebaliknya dimana garis penjualan di atas atau lebih besar dari jumlah

biaya.

2.1.4.Batas Keamanan (Margin of Safety)

Margin of safety atau batas/tingkat keamanan memberikan

informasi tentang seberapa jauh volume penjualan boleh turun dari

yang dianggarkan namun perusahaan tidak menderita rugi. Dengan

kata lain, margin of safety merupakan batas keamanan bagi

perusahaan dalam hal terjadi penurunan penjualan, berapa pun

penurunan penjualan yang terjadi sepanjang dalam batas-batas

(25)

Rumus perhitungannya sebagai berikut:

Margin of safety dapat juga disajikan dalam persentase. Rumus

perhitungannya sebagai berikut:

Margin of safety (Rupiah)

Margin of Safety = x 100%

Total pendapatan dianggarkan

Margin of safety dapat membantu manajer untuk mengetahui

besarnya resiko yang terkandung dalam suatu rencana penjualan.

Perusahaan yang mempunyai margin of safety yang besar dikatakan

lebih baik karena rentang penurunan penjualan yang dapat ditolerir

adalah lebih besar sehingga kemungkinan menderita kerugian rendah.

Namun sebaliknya jika margin of safety rendah, kemungkinan

perusahaan untuk menderita kerugian besar. Dalam hal ini, manajer

dapat mempertimbangkan untuk meningkatkan volume penjualan atau

menurunkan biayanya. Langkah ini akan membantu untuk

menurunkan timbulnya resiko kerugian.

2.2.5. Operating Leverage

Bagi manajer, leverage menjelaskan bagaimana dapat

mencapai kenaikan laba besar (dinyatakan dalam persentase) hanya

dengan kenaikan penjualan dan/atau aktiva yang sedikit. Salah satu Margin of safety (Rupiah)= total pendapatan yang dianggarkan –

pendapatan titik impas

(26)

jenis leverage yang digunakan manajer untuk melakukan hal tersebut

dikenal sebagai operating leverage. Menurut Garisson (2008:344),

operating leverage mempunyai kaitan dengan struktur biaya

perusahaan, dalam hal bahwa operating leverage semakin lebih besar

pada perusahaan yang mempunyai biaya tetap yang lebih besar dan

biaya variabel per satuan yang kecil. Sebaliknya, operating leverage

semakin lebih rendah dalam perusahaan yang mempunyai biaya tetap

yang kecil dan biaya variabel per satuan yang tinggi. Singkatnya

operating leverage merupakan ukuran besaran biaya tetap yang

digunakan dalam organisasi. Semakin besar biaya tetap, semakin

besar pula operating leverage yang tersedia dan semakin besar

kepekaan penghasilan netto terhadap perubahan penjualan.

Apabila perusahaan mempunyai operating leverage yang

tinggi (yaitu biaya tetap yang besar dan biaya variabel per satuan yang

kecil), maka kenaikan penjualan yang hanya sedikit saja dapat

mengakibatkan kenaikan persentase laba yang tinggi. Degree of

operating leverage merupakan ukuran, pada tingkat penjualan

tertentu, berapa persen perubahan volume penjualan akan

mempengaruhi keuntungan.

Garrison (2008:343) “tingkat operating leverage pada

berbagai tingkat penjualan dihitung dengan rumus di bawah ini”:

Tingkat Operating Leverage =

(27)

2.2.6. Titik Penutupan Usaha (Shut Down Point)

Apabila ditinjau dari sudut biaya, pengambilan keputusan

untuk menutup usaha dilakukan dengan mempertimbangkan

pendapatan penjualan dengan biaya tunai (cash cost atau of pocket

costs atau biaya keluar dari saku). Biaya tunai adalah biaya-biaya

yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas. Biaya

variabel biasanya merupakan biaya tunai tetapi biaya tetap mungkin

juga termasuk sebagai biaya tunai seperti: gaji pengawas pabrik dan

biaya pemeliharaan. Dalam pengambilan keputusan untuk menutup

harus diadakan pembedaan antara biaya keluar dari saku (

out-of-pocket cost) dengan biaya terbenam (atau sunk cost, yaitu pengeluaran

yang dilakukan pada masa yang lalu, yang manfaatnya masih

dinikmati sampai sekarang). Contoh biaya terbenam adalah biaya

depresiasi, amortisasi, dan deplesi)

Suatu usaha harus dihentikan apabila pendapatan yang

diperoleh tidak dapat menutup biaya tunainya. Untuk mengetahui

pada tingkat penjualan berapa usaha harus dihentikan dapat dilakukan

dengan mencari titik perpotongan antara garis pendapatan penjualan

dengan garis biaya tunai dalam grafik impas.

Titik penutupan usaha dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Titik Penutupan usaha (rupiah) =

Titik Penutupan usaha (unit) =

(28)

2.3. Perencanaan Laba

2.3.1. Pengertian Laba

Pada dasarnya tujuan utama perusahaan adalah mencapai laba

yang seoptimal mungkin, agar tujuan tersebut dapat dicapai maka

diperlukan suatu perencanaan laba yang baik, sehingga kemampuan

yang dimiliki oleh perusahaan dapat terkoordinir dan terkendali.

Secara sederhana perencanaan dapat diuraikan sebagai penetapan apa

yang akan dilaksanakan, kapan dilaksanakan dan bagaimana

melaksanakannya.

Perencaan laba merupakan rencana kerja yang telah

diperhitungkan dengan cermat dimana implikasi keuangannya

dinyatakan dalam bentuk proyeksi perhitungan rugi–laba, neraca kas dan modal kerja untuk jangka panjang dan jangka pendek.

Perencanaan laba adalah pengungkapan keuangan dan naratif

akan hasil yang diharapkan dari keputusan perencanaan dimana

dengan jelas menetapkan sasaran dalam bentuk waktu yang

diperkirakan dan hasil keuangan yang diharapkan.

2.3.2. Penetapan Sasaran/Tujuan Laba

Perencanaan laba yang baik dan cermat tidaklah mudah,

karena teknologi berkembang dengan cepat dan faktor-faktor sosial,

ekonomi dan politik berpengaruh kuat dalam dunia usaha. Guna

(29)

keras mencapai sasaran perusahaan yang sejalan dengan sasaran

pribadi.

Menetapkan sasaran/tujuan laba perusahaan, pihak manajemen

harus mempertimbangkan faktor – faktor sebagai berikut:

a. Laba atau rugi yang ditimbulkan oleh suatu volume penjualan

tertentu.

b. Volume penjualan yang diperlukan untuk memperoleh kembali

semua biaya yang dikeluarkan, untuk membuat laba yang cukup

guna membayar dividen–dividen dari saham preferen dan saham biasa, dan untuk menahan pendapatan dalam jumlah yang cukup

dalam perusahaan untuk kebutuhan–kebutuhan yang akan datang. c. Titik keseimbangan (Break Event Point).

d. Volume penjualan yang diproduksi oleh kapasitas operasi sekarang.

e. Kapasitas operasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan–tujuan laba. (Matz dan Ursy, 1997)

2.3.3. Analisis Target Laba

Tujuan untuk mencapai laba yang besar (dalam rencana

maupun realisasinya), manajemen dapat menempuh berbagai langkah,

misalnya:

1. Menekan biaya produksi maupun biaya operasi serendah mungkin

dengan mempertahankan tingkat harga jual dan volume penjualan

(30)

Penjualan = Beban variabel + Beban tetap + Laba

2. Menentukan harga jual sedemikian rupa sesuai dengan laba yang

diinginkan.

3. Meningkatkan volume penjualan sebesar mungkin.

Rumus biaya-volume-laba dapat digunakan untuk menentukan

volume penjualan yang dibutuhkan untuk mencapai target laba.

Menurut Garrison et al. (2008:336-337), ada dua cara untuk

melakukan analisis target laba, yaitu:

1. Persamaan Biaya-Volume-Laba. Pendekatan pertama yaitu

dengan menggunakan metode persamaan. Rumus persamaannya:

2. Pendekatan Margin Kontribusi. Pendekatan kedua yaitu dengan

memperluas rumus margin kontribusi dengan memasukkan target

laba:

Unit penjualan untuk mencapai target =

2.3.4. Analisis Sensitivitas

Analisa hubungan biaya-volume-laba dapat dipakai oleh

manajemen untuk menghadapi berbagai kemungkinan perubahan

kondisi yang dapat mempengaruhi laba perusahaan. Di dalam Analisis

CVP terdapat suatu analisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

laba perusahaan yaitu analisis sensitivitas. Faktor-faktor tersebut yaitu

1. Perubahan harga jual satuan.

Perubahan harga jual satuan akan berakibat mempengaruhi

(31)

rasio volume laba berakibat yaitu titik break event point berubah

dan jumlah laba berubah.

2. Perubahan jumlah total biaya tetap.

Perubahan jumlah total biaya tetap, baik kenaikan atau penurunan,

tidak mengubah rasio volume-laba tetapi merubah titik break

event point-nya. Meskipun rasio volume laba tidak berubah dan

slope garis laba tidak berubah, tetapi adanya penurunan total biaya

tetap akan berakibat garis laba bergeser ke atas (ke kiri) dan titik

break event point-nya juga turun. Sebaliknya apabila total biaya

tetap naik, maka akan berakibat garis laba bergeser ke bawah (ke

kanan) dan titik break event point-nya juga naik.

3. Perubahan biaya variabel satuan.

Perubahan biaya variabel satuan baik kenaikan maupun penurunan

akan berakibat pada harga jual suatu produk yang secara langsung

mempengaruhi rasio volume laba.

4. Perubahan harga jual satuan, volume penjualan, biaya variabel

satuan, dan biaya tetap.

Dalam menyusun perencanaan perusahaan, mungkin manajemen

akan menghadapi perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi

laba secara serempak.

5. Perubahan laba masa lalu.

Semakin besar perubahan laba masa lalu, semakin tidak pasti laba

(32)

2.4. Hasil-hasil penelitian sebelumnya

Penelitian ini mengacu pada penelitian-penelitian sebelumnya yang

akan menerapkan analisis cost-volume-profit dalam studi kasus di perusahaan

manufaktur. Adapun deskripsi singkat dan hasil dari penelitian sebelumnya

sebagai berikut:

No. Nama, Tahun dan

Judul Objek Tehnik Analisa Hasil Penelitian

(33)

5. Analisis Margin Of

3. Nurul Fatia Muhlisa

(34)

Sebagai Alat Bantu

Penelitian ini menindaklanjuti hasil dari penelitian sebelumnya akan

tetapi dalam objek penelitian yang berbeda yaitu pada perusahaan percetakan

surat kabar. Objek ini dipilih karena persaingan di segmen industri percetakan

surat kabar sudah sangat meningkat oleh karena itu peneliti ingin mengetahui

peran manajemen dalam merencanakan laba di tengah persaingan bisnis yang

terjadi.

Berdasar pada hal tersebut di atas peneliti akan menganalisa

bagaimana pihak manajemen menerapkan perencanaan laba perusahaan dan

mengimplementasikan Analisis Cost-Volume-Profit sebagai alat perencanaan

laba. Dengan begitu perusahaan akan memilih metode apa yang tepat dan

(35)

Kesimpulan

2.5. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual mempermudah peneliti dalam menguraikan

secara sistematis pokok permasalahan dalam penelitian. Secara sederhana,

kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Analisis

cost-volume-profit

Perencanaan Laba

PT. Citra Kalimantan Mediatama

Hasil Penelitian Data Historis:  Biaya-biaya

 Volume Penjualan/Volume Produksi  Harga Jual Produk

Menentukan:  Margin Kontribusi  Titik Impas

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

3.1.1. Jenis Penelitian

Gay (1977) dalam Sugiyono (2011:4) menyatakan bahwa

sebenarnya sulit untuk membedakan antara penelitian murni (dasar)

dan terapan secara terpisah, karena keduanya terletak pada satu garis

kontium. Penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori dan

tidak memperhatikan kegunaan yang langsung bersifat praktis.

Penelitian dasar pada umumnya dilakukan pada laboratorium yang

kondisinya terkontrol dengan ketat. Penelitian terapan dilakukan

dengan tujuan menerapkan, menguji, dan mengevaluasi kemampuan

suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah

praktis. Jadi penelitian murni/dasar berkenaan dengan penemuan dan

pengembangan ilmu. Setelah ilmu tersebut digunakan untuk

memecahkan masalah, maka penelitian tersebut akan menjadi

penelitian terapan. Berdasarkan uraian tersebut jenis metode

penelitian ini adalah penelitian terapan (applied research).

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif

dengan pendekatan studi kasus yang dimaksudkan untuk memberikan

informasi mengenai data yang diamati agar bermakna dan

komunikatif, dilakukan dengan memecahkan permasalahan yang ada

(37)

3.1.2. Objek Penelitian

Objek dari penelitian yang dilakukan adalah

cost-volume-profityang terdapat pada produksi surat kabar “Media Kalimantan”.

3.2. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel dimaksudkan untuk membatasi studi

sehingga dengan pembatasan tersebut akan mempermudah penulis dalam

pengelolaan data yang kemudian menjadi kesimpulan. Dengan bertitik tolak

dari rumusan masalah, maka diperlukan definisi operasional yang

dikemukakan penulis adalah sebagai berikut:

a. Perencanaan Laba yaitu rencana meningkatkan laba perusahaan untuk

tahun 2014. Cara yang digunakan adalah dengan menganalisis data

historis tahun 2013 dan laporan tahun berjalan.

b. Biaya yaitu sejumlah uang yang dibebankan oleh PT. Citra Kalimantan

Mediatama pada penjualan produk yang terdiri dari:

1. Biaya tetap

2. Biaya variabel

3. Biaya semivariabel

c. Volume yaitu tingkat aktivitas perusahaan, dalam hal produksi ataupun

penjualan yang dinyatakan dengan banyaknya satuan. Volume yang

diteliti merupakan volume yang sudah terjadi sebelum penelitian ini

dimulai.

d. Laba yaitu laba sebelum pajak, selisih lebih antara pendapatan dengan

biaya yang berasal dari transaksi penjualan yang dilakukan oleh PT. Citra

(38)

e. Analisis Cost-Volume-Profit adalah analisis yang menekankan keterkaitan

antara biaya, kuantitas yang terjual dan harga jual.

3.2. Tehnik Pengumpulan Data

Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan suatu penelitian salah

satunya dengan menggunakan tehnik pengumpulan data yang tepat, jadi data

penelitian yang diharapkan bisa didapatkan dengan menggunakan metode

atau tehnik tertentu.

Metode atau Tehnik Pengumpulan Data yang digunakan penulis

adalah dengan Penelitian Lapangan (field work research) yaitu suatu metode

dengan melakukan peninjauan ke objek yang diteliti, guna memperoleh data

yang diperlukan yaitu Data Primer. Penulis dalam penelitian data primer

menggunakan tiga metode yaitu:

1. Pengamatan (observasi)

Mengadakan pengamatan secara langsung yang berkaitan dengan objek

yang diteliti.

2. Wawancara (interview)

Mengadakan wawancara secara langsung dengan pimpinan dan karyawan

yang terlibat dalam objek penelitian.

3. Dokumentasi

Melihat dan mempelajari data–data berupa laporan keuangan, catatan perusahaan maupun data akuntansi perusahaan yang ada relevansinya

(39)

3.3. Tehnik Analisis Data

Menurut Indriantoro (2002:11) “Analisis data merupakan bagian dari proses pengujian data yang hasilnya digunakan sebagai bukti yang memadai

untuk menarik kesimpulan penelitian”.

Tahap–tahap analisis data yang akan dilakukan, yaitu sebagai berikut: 1. Penggolongan biaya-biaya

2. Analisis Metode Least-Square

Y = a + bx

Rumus a dan b adalah:

b =

a =

3. Analisis Cost-Volume-Profit

a. Analisis Margin Kontribusi (Contribution Margin)

Penjualan XXX

Biaya Variabel XXX -

Contribution Margin (CM) XXX

Ratio Contribution Margin (CM Ratio):

CM

CM Ratio = x 100%

Penjualan

b. Analisis Titik Impas (Break Event Point)

Biaya Tetap BEP ( Unit ) =

Margin kontribusi per unit

Biaya Tetap BEP ( rupiah ) =

(40)

Penjualan (rupiah) = Beban variabel + Beban tetap + Laba

Unit penjualan untuk mencapai target (unit) =

c. Analisis Batas Keamanan (Margin Of Safety)

Margin of safety (Rupiah)

Margin of Safety = x 100% Total pendapatan yang dianggarkan

d. Analisis Operating Leverage

Tingkat Operating Leverage =

e. Titik Penutupan Usaha (Shut Down Point)

Titik Penutupan usaha (rupiah) =

Titik Penutupan usaha (unit) =

4. Perencanaan Laba

a. Persamaan Biaya-Volume-Laba,

b. Pendekatan Margin Kontribusi,

Margin of safety (Rupiah)= Total Pendapatan Yang Dianggarkan – Pendapatan Titik Impas

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Kamaruddin, 2011, Akuntansi Manajemen: Dasar-dasar Konsep Biaya Pengambilan Keputusan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Bustami, Bastian, Nurlela, 2006, Akuntansi Biaya: Kajian Teori dan Aplikasi.

Graha Ilmu. Yogyakarta.

Blocher, Edward J.,dkk, 2009, Manajemen Biaya: Penekanan Strategis. Alih bahasa oleh Tim Penerjemah Penerbit Salemba. Buku I Edisi 3. Salemba Empat.

Carter, William. K dan Milton F. Usry, 2006, Akuntansi Biaya. Edisi Ketigabelas. Buku Satu. Jakarta: Salemba Empat.

Dini Septiantoro, Rande Samben, Set Asmapane. 2012. Perencanaan Laba Berdasarkan Analisis Biaya Volume Laba Pada CV Jarwo Tirta Murni Di Samarinda. Jurnal. Program Studi Akuntansi, Universitas Mulawarman. Samarinda.

Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, 2009, Pedoman Penulisan Skripsi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin.

Garrison, Eric W. Noreen, Peter C. Brewer, 2008, Managerial Accounting. Buku 1 Edisi 11. Salemba Empat. Jakarta.

________, 2007, Managerial Accounting. Buku 2 Edisi 11. Salemba Empat. Jakarta.

Hansen, Don R., Mowen, Maryanne M, 2009, Cost Management: Accounting and Control.Salemba Empat.

(42)

Kautsar Riza Salman, 2013, Akuntansi Biaya Pendekatan Product Costing. Cetakan Kesatu. Akedemia Permata. Jakarta.

Matz dan Usry, 1997, Akuntansi Biaya dan Harga Pokok: Perencanaan dan Pengendalian 2. (Terjemahan oleh Soemita). Akademi Akuntansi Bandung (A2B). Bandung.

Mulyadi, 2001, Akuntansi Manajemen Konsep, Manfaat, dan Rekayasa. Edisi Ketiga. Cetakan Kesatu. Salemba 4. Jakarta.

_______, 2012, Akuntansi Biaya, Edisi Kelima. Cetakan Kesebelas UPP STIM YKPN. Yogyakarta.

Nur Indriantoro, Bambang Supomo, 2002, Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Edisi I. Yogayakarta: BPFE.

Nurul Fatia Muhlisa, 2013, Implementasi Cost-Volume-Profit Sebagai Alat Perencanaan Laba (Studi Pada Industri Tekstil Irma Sasirangan). Skripsi. Program Studi Akuntansi, Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin.

Prisma Nohandhini, 2011, Analisis Perencanaan Laba Dengan Penerapan Metode CVP (Cost-Volume-Profit) Pada PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang. Skripsi. Program Studi Akuntansi, Universitas Brawijaya. Malang.

Riki Martusa dan RR. Diva Amelia Putri .2010. Penerapan Analisis Cost-Volume-Profit Sebagai Alat Bantu Dalam Perencanaan Penjualan Atas Target Laba Yang Ditetapkan (Studi Kasus Pada Toko Mei Pastry). Akurat Jurnal Ilmiah Akuntansi No.3 Tahun ke-1 September-Desember 2010.

Gambar

Gambar 1.1 Grafik BEP

Referensi

Dokumen terkait

Analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profit analysis) dapat menentukan besarnya biaya variabel dan tetap pada perusahaan dalam hubungannya dengan jumlah produk

Dari ilustrasi tersebut jelas bahwa setiap perubahan volume penjualan akan diikuti dengan perubahan besarnya biaya variabel total, yang selanjutnya akan

Penerapan Cost Volume Profit analysis Sebagai Alat Bantu Dalam Perencanaan Penjualan Atas Target Laba Yang Ditetapkan, Jurnal Ilmiah Akuntansi No.3.. Penerapan Cost Volume

dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laba seperti biaya variabel per unit, biaya tetap per periode, volume atau kuantitas penjualan, dan harga per unit yang dapat

Analisis cost-volume- profit merupakan suatu alat yang sangat berguna untuk perencanaan dan pengambilan keputusan yang menekankan keterkaitan antara biaya, volume

Perubahan biaya variabel satuan baik kenaikan maupun penurunan akan mengubah rasio volume laba. Adanya perubahan rasio volume laba mempunyai dua akibat yaitu titik break

Biaya yang Tidak Boleh Dibiayakan Menurut Gunadi 2013:62 Mengemukakan; Pada prinsipnya biaya yang tidak boleh dibiayakan adalah biaya yang mempunyai hubungan langsung dan tidak

Rumus AnalisisCost Volume Profit Metode analisis yang digunakan sebagai alat hitung dan analisis data yang berhu- bungan dengan biaya tetap, biaya variabel, dan volume penjualan