PRAWACANA
PRAWACANA
Apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu pengetahuan?
Filsafat ilmu pengetahuan merupakan suatu disiplin
yang amat sulit didefinisikan. Hal ini terjadi karena
kesulitan kita untuk mendefinisikan apa itu filsafat dan apa kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Namun
apabila kita melihat relasi antara filsafat dengan ilmu-ilmu alam, biologi, ilmu-ilmu-ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu-ilmu-ilmu perilaku, maka kehadiran refleksi filsafat ilmu pengetahuan
amatlah penting.
Dalam sejarahnya, ilmu pengetahuan lahir dari filsafat.
Oleh karena itu segala usaha untuk memahami pengertian keduanya haruslah diawali dari
PRAWACANA
PRAWACANA
Van Peursen dalam bukunya “De opbouw van de
Wetenschap, Een Inleiding in de Wetenschapleer”
menyatakan bahwa dahulu orang lebih mudah
memberi batasan bagaimana ilmu pengetahuan itu daripada sekarang.
Ilmu Pengetahuan identik dengan Filsafat.
Perkembangan filsafat itu sendiri telah mengantarkan
pada berkembangnya “pohon ilmu pengetahuan”
yang tumbuh mekar dan bercabang dengan subur.
Sekarang orang atau para ilmuwan merasa lebih
berkepentingan mengadakan penggolongan
(klasifikasi) sehingga garis demarkasi antara cabang ilmu satu dengan yang lainnya menjadi lebih
PRAWACANA
Berfilsafat
sebagai manifestasi kegiatan
intelektual merupakan tradisi keilmuan
masyarakat
Barat
yang diawali oleh orang
Yunani Kuno
pada abad ke-6 SM.
Filsafat tidak dirintis oleh dunia
Timur.
Hal ini ditegaskan oleh Eduard Zeller bahwa
yang datang dari dunia
Timur
bukanlah Filsafat,
melainkan ilmu praksis-terapan, seperti: ilmu
perbintangan, ilmu pengobatan, ilmu hitung,
ilmu pertanian.
Muncul satu pertanyaan filsafat: apakah ilmu
pengetahuan kini dibedakan antara ilmu
pengetahuan “Barat” dan ilmu pengetahuan
“Timur”?
PRAWACANA
Pada kenyataannya tidak ada perbedaan secara
definitif antara
“ilmu pengetahuan Barat”
dan
“ilmu Pengetahuan Timur.”
misal: Dunia
Barat juga menggunakan dan mengembangkan
ilmu timur seperti ilmu hitung (matematika), ilmu
perbintangan (astronomi), ilmu pengobatan, dan
lain sebagainya. Pun juga sebaliknya dunia
Timur.
Ilmu pengetahuan sifatnya netral dan merupakan
produk kesejarahan umat manusia secara
keseluruhan, tidak tersekat-sekat oleh
pembedaan secara geografis, kebudayaan,
keagamaan, maupun secara politis.
PRAWACANA
Edward Said dalam karyanya “Orientalism” menggarisbawahi adanya pembedaan secara kultural antara Timur dan Barat. Dalam hal ini Barat diasosiasikan sebagai Rasional,
materialisme, dan individualisme. Sedangkan kebudayaan timur digambarkan sebagai religius, mistis, dan sifat
kekeluargaan yang kuat.
Konsekuensi daripada dikotomi budaya Barat dan Timur
berimplikasi secara politis. Dimana disini kebudayaan Barat dianggap lebih unggul dan civilized ( beradab ) daripada kebudayaan Timur yang lebih rendah dan uncivilized (tidak beradab).
Muncullah kolonialisme dan imperialisme sebagai upaya dari negara-negara Barat untuk menyebarkan supremasi atau
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
Pada saat kelahirannya Filsafat bersifat mitologik. Berbagai
macam kosmogoni menjelaskan bagaiman kosmos dengan berbagai aturannya terjadi, dan dengan berbagai
theogoninya diuraikan peran para dewa yang merupakan unsur penentu dengan segala sesuatu yang ada.
cosmogony: scientific theory concerning the coming into
existence of either the cosmos, or reality. theogonia: the genealogy or birth of the Gods.
Filsafat bercorak mitologik ini terutama bersumber pada
mitos-mitos yang berkembang pada suatu masyarakat. Contohnya: kepercayaan bahwa Zeus merupakan Tuhan penguasa langit dan kilat.
Barulah setelah dilakukan gerakan demitologisasi yang
dipelopori para filsuf Pra-Sokrates, Filsafat setapak demi
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
Pasca Aristoteles, Filsafat Yunani Kuno berubah menjadi ajaran Praksis, bahkan Mistis. Kemudian bersamaan
dengan mulai pudarnya kekuasaan Romawi, yang
merupakan isyarat akan datangnya tahapan baru, yaitu Filsafat yang harus mengabdi pada agama. Ancilla
Theologiae. Filsafat Yunani kuno yang sekuler telah dicairkan antinominya dengan doktri gerejani.
Periode ini diawali ketika raja Konstantinus I atau
Konstantinus Agung mengadopsi agama Kristen sebagai agama resmi bangsa Romawi.
Filsafat menjadi bercorak Theologik. Biara tidak saja
menjadi pusat kegiatan agama, akan tetapi juga menjadi pusat kegiatan intelektual.
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
Dalam periode
middle ages
ini, tidak dapat
dilupakan kehadiran para filsuf Arab seperti:
Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Al Ghazali,
yang telah menyebarkan filsafat Aristoteles
dengan membawanya ke dunia islam hingga
sampai ke Cordova (Spanyol) untuk kemudian
diwarisi kembali oleh dunia Barat melalui
kaum Patristik dan Skolastik. Wells dalam
karyanya
“Outline of History”
(1951)
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
Dipelopori oleh gerakan Renaissance pada abad 15 dan
dimatangkan oleh gerakan Aufklarung di abad ke 18, dengan langkah-langkah revolusionernya filsafat memasuki tahap
yang baru atau modern.
Renaissance adalah kelahiran kembali, gerakan ini mengacu
kelahiran kembali filsafat ilmu pengetahuan yang dimulai di Italia pada abad ke 14 dan menyebar ke Eropa secara
keseluruhan pada abad 17. Salah satu contoh dari era ini
adalah ketika Copernicus menyelidiki perputaran benda-benda angkasa, menemukan teori bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Teori ini berlawanan dengan doktrin gereja yang
menyatakan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.
Aufklärung maknanya adalah pencerahan, enlightenment.
Terma ini diinisiasi oleh Immanuel Kant dalam bahasa Jerman, Was ist Aufklärung? Gerakan Aufklärung ini diperkirakan
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
Kepeloporan revolusioner yang telah dilakukan
oleh anak-anak
Renaissance
dan
Aufklärung
seperti: Copernicus, Galileo Galilei, Kepler, Rene
Descartes, Immanuel Kant, telah memberikan
implikasi yang sangat mendalam bagi
perkembangan ilmu pengetahuan. Bersamaan
dengan itu agama yang semula menguasai dan
manunggal dengan filsafat, segera ditinggalkan
oleh filsafat.
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
Lepasnya ilmu-ilmu cabang dari batang
filsafatnya
diawali oleh ilmu-ilmu alam atau fisika
melalui tokohnya diantaranya:
I. Copernicus (1473-1543), Galileo (1564-1642),
dan Kepler (1571-1630) mempelopori ilmu astronomi.
II. Isaac Newton (1642-1727) telah menyumbangkan
bentuk definitif bagi mekanika klasik.
III. Versalinus (1514-1564) melalui karyanya de
humani corporis fabrica telah melahirkan
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan
Yang perlu digarisbawahi disini adalah bahwa
kelahiran gerakan Renaissance dan Aufklärung
berlatar belakang penemuan-penemuan penting di bidang Astronomi, Fisika, dan Biologi yang secara garis besar merupakan ilmu-ilmu alam.
Dengan dilatarbelakangi situasi dan kondisi
semacam itu maka tidaklah mengherankan apabila model-model ilmu sosial yang mulai muncul pada abad ke-18 juga menggunakan, secara ekstrem dapat dikatakan “mengadopsi”, ilmu-ilmu alam.
Ilmu alam dianggap sebagai sesuatu yang akurat
Tahap perkembangan ilmu
Perkembangan ilmu pengetahuan dan juga ilmu sosial
dengan gaya semacam itu mencapai bentuknya secara definitif dengan kehadiran August Comte (1789-1857)
dengan grand-theorynya yang digelar dalam karya Course de Philosophie Positive. Hingga saat ini, para filsuf
menyepakati bahwa Comte merupakan Filosof Ilmu Pengetahuan, Philosopher of Science, yang pertama.
Dalam karyanya, Comte mengatakan bahwa:
“The law is this: -that each of our leading conceptions, -each branch of our knowledge, -passes successively through three different theoretical conditions: the
Theological, or fictitious; the Metaphysical, or abstract;
and the Scientific, or positive." -From The Positive
Philosophy of Auguste Comte (trans. Harriet Martineau;
Tahap perkembangan ilmu (August Comte)
Theological stage dalam tahap awal ini manusia
mempercayai bahwa semua pengetahuan atau kenyataan di bumi ini merupakan hasil penciptaan dari suatu zat
ketuhanan, supreme deity atau deities. Comte membagi tahap ini menjadi tiga sub-tahapan:
Fetishism / Animisme kepercayaan bahwa segala objek
mati (misalnya Batu, Pohon, Kayu, Erupsi gunung, dsb) memiliki roh atau living spirit.
Polytheism / Politheisme percaya pada banyak Tuhan
atau kepercayaan bahwa segala sesuatu di alam ini
dikontrol oleh Tuhan yang berbeda-beda. Misalnya: dewa petir, dewa api, dewa bumi, dewa langit, etcetera.
Monotheisme percaya pada Tuhan Tunggal sebagai
Tahap perkembangan ilmu (August Comte)
Metaphysical stage adalah kelanjutan dari tahap
teologis. Suatu tahapan dimana pengetahuan atau kenyataan berasal dari suatu kekuatan supranatural atau immaterial atau metafisik (realitas di luar dunia fisik) yang dapat dijelaskan dengan akal budi. Tahap metafisik ini secara tidak langsung menyanggah atau menyangkal kepercayaan terhadap adanya entitas ketuhanan yang konkrit.
Misalnya dalam masyarakat Hindu di India, mempercayai
konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali. Kepercayaan tentang reinkarnasi ini tidak didasarkan pada doktrin
Tahap perkembangan ilmu (August Comte)
Positivity Stage Dalam tahap ini perkembangan ilmu
pengetahuan individu dan masyarakat telah mencapai pada upaya menjelaskan kenyataan atau realitas dengan metode penalaran akal, observasi, eksperimentasi, dan komparasi. Tahap positif ini merupakan upaya intelektual yang murni dalam menjelaskan fenomena alam dan sosial.
Ilmu Pengetahuan menurut Comte akan berkembang kepada
tahap terakhir yaitu tahap positif, dimana cabang-cabang ilmu yang berkembang mencapai tahap ini melalui urutan yaitu: Matematika
AstronomyFisikaKimiaBiologiPsikologiSosiologi. Sosiologi menduduki posisi sebagai ‘The Queen Science’
dalam hirarki Comte karena bidang ini merupakan yang paling kompleks. Melalui Sosiologi yang telah mencapai tahap positif, menurut Comte, segala jenis penyakit sosial kemanusiaan
Kritik terhadap Auguste Comte
Teori Auguste Comte tentang tahap teologis,
metafisik, dan positif dalam perkembangan ilmu pengetahuan bertentangan dengan sejarah ilmu
pengetahuan barat yang urutannya adalah metafisik / mitologis, theologis, modern (positif).
Charles Dharwin seorang Naturalis sejati menyatakan
bahwa teori Auguste Comte tentang perkembangan ilmu (teologismetafisikpositif) sesungguhnya ide utamanya adalah bahwa ilmu itu theological state.
Dalam hal ini Darwin tidak mempercayai penciptaan kehidupan itu oleh kekuatan keTuhanan, melainkan melalui proses evolusi dan seleksi alam. Hal ini
CONCLUSION
GARIS BESAR SEJARAH FILSAFAT ILMU Pada awalnya filsafat bersifat Mitologik (Filsuf Pra-Sokrates), baru kemudian ada gerakan demitologisasi filsafat oleh the Greek Gang of Three (Sokrates, Plato, Aristotle).
Bersamaan dengan adanya sinyalemen keruntuhan
kekaisaran Romawi, Filsafat kemudian bercorak Teologik, Ilmu manunggal dengan Agama, Ancilla Theologiae.
Ditandai dengan dianutnya agama Kristiani sebagai agama resmi kerajaan Romawi. Dikenal juga dengan The Dark Ages.
Munculnya gerakan Renaissance dan Aufklarung, filsafat memasuki tahap baru, yaitu tahap Modern, dengan
didukung oleh penemuan-penemuan penting di bidang ilmu alam. Agama yang semula dikuasai filsafat, segera
CONCLUSION
Dengan demikian secara singkat era Filsafat Modern yang lahir dari rahim Renaissance dan Aufklarung ini memiliki beberapa karakter:
a) Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang semula tergabung secara utuh dalam Filsafat mulai memisahkan diri menjadi ilmu-ilmu praksis
maupun teoritik.
b) Dikembangkannya metode observasi, eksperimentasi, dan komparasi yang dipelopori oleh Francois Bacon (1561-1626) yang semakin
mendorong pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan.
c) Etos filsafat di era ini bercorak semangat kemenangan pengetahuan rasional terhadap pengetahuan yang sifatnya teologis dan mistis,
dengan semboyan yang mashur dari Francois Bacon bahwa “Knowledge is Power.”
d) Munculnya semangat kebebasan Renaissance dan Aufklarung, melahirkan sebuah masyarakat produktif, yang tiada hari tanpa
temuan-temuan baru yang muncul secara historis kronologis berurutan dan berdampingan sebagai alternatif.
e) Filsafat modern yang melahirkan temuan-temuan baru di bidang ilmu pengetahuan alam dan sosial tersebut secara tidak langsung
CONCLUSION
Teori tentang tahap perkembangan ilmu yang dikembangkan
oleh Auguste Comte berpengaruh besar terhadap
perkembangan ilmu sosial dewasa ini. Dengan menerapkan metode-metode observasi, eksperimentasi, dan komparasi yang dikemukakan oleh Bacon di atas ilmu sosial
berkembang menjadi ilmu yang empiris. Pada perkembangan berikutnya ilmu pengetahuan kembali berevolusi dengan
menggunakan metode-metode scientific ala ilmu alam (seperti statistik, matematika, dan biologi).
Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini mencapai suatu
tahap yang spektakuler sehingga membawa optimisme bagi kehidupan manusia yang semakin dimudahkan dan
dimanjakan kehidupannya dengan teknologi-teknologi baru.
Di satu sisi, ilmu pengetahuan tersebut telah meningkatkan
CONCLUSION
Namun di sisi lain, muncul pula gejala-gejala
catastrophe atau bencana yang tidak
terhindarkan dari penemuan-penemuan baru ilmu pengetahuan.
Seperti contohnya perkembangan teknologi
perang mengantarkan pada penciptaan senjata-senjata baru yang memiliki efek “mass
destruction” membawa kekhawatiran mendalam bagi manusia sendiri akan dampaknya.
Contoh lainnya adalah eksploitasi sumber daya