• Tidak ada hasil yang ditemukan

Operasi Baris Elementer OBE dan Eliminas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Operasi Baris Elementer OBE dan Eliminas"

Copied!
257
0
0

Teks penuh

(1)

MZI

Fakultas Informatika Telkom University

FIF Tel-U

Agustus 2015

(2)

Acknowledgements

Slide ini disusun berdasarkan materi yang terdapat pada sumber-sumber berikut:

1 Aplikasi Matriks dan Ruang Vektor,Edisi 1 2014,olehAdiwijaya.

2 Elementary Linear Algebra, 10th Edition, 2010,olehH. Anton dan C. Rorres. 3 Slide kuliah Aljabar Linier di Telkom UniversityolehJondri.

(3)

2 Representasi Matriks untuk SPL

3 Operasi Baris Elementer (OBE)

4 Bentuk Eselon Baris (EB) dan Eselon Baris Tereduksi (EBT)

5 Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

6 Latihan OBE dan EGJ (1)

7 SPL Homogen

8 Latihan OBE dan EGJ (2)

9 Latihan OBE dan EGJ (3)

(4)

Bahasan

1 Motivasi dan Pengenalan OBE

2 Representasi Matriks untuk SPL

3 Operasi Baris Elementer (OBE)

4 Bentuk Eselon Baris (EB) dan Eselon Baris Tereduksi (EBT)

5 Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

6 Latihan OBE dan EGJ (1)

7 SPL Homogen

8 Latihan OBE dan EGJ (2)

(5)

Kita sudah melihat beberapa metode untuk memperoleh solusi dari SPL dengan2 atau3 peubah, diantaranya adalah: metode geometris (menggambar gra…k), metode substitusi, metode eliminasi, dan metode eliminasi-substitusi. Metode-metode tersebut memiliki kelemahan, yaitu:

(6)

Motivasi

Kita sudah melihat beberapa metode untuk memperoleh solusi dari SPL dengan2 atau3 peubah, diantaranya adalah: metode geometris (menggambar gra…k), metode substitusi, metode eliminasi, dan metode eliminasi-substitusi. Metode-metode tersebut memiliki kelemahan, yaitu:

(7)

Kita sudah melihat beberapa metode untuk memperoleh solusi dari SPL dengan2 atau3 peubah, diantaranya adalah: metode geometris (menggambar gra…k), metode substitusi, metode eliminasi, dan metode eliminasi-substitusi. Metode-metode tersebut memiliki kelemahan, yaitu:

1 Metode geometris sukar diterapkan untuk mencari solusi SPL dengan3 peubah dan mustahil diterapkan jika kita ingin mencari solusi SPL dengan banyak peubah lebih dari3.

2 Metode substitusi, eliminasi, maupun eliminasi-substitusi membutuhkan waktu yang relatif lama. Selain itu penerapan metode-metode ini juga rentan dengan kesalahan aritmetika. Singkatnya, metode-metode ini terlalunguli.

(8)

Motivasi

Kita sudah melihat beberapa metode untuk memperoleh solusi dari SPL dengan2 atau3 peubah, diantaranya adalah: metode geometris (menggambar gra…k), metode substitusi, metode eliminasi, dan metode eliminasi-substitusi. Metode-metode tersebut memiliki kelemahan, yaitu:

1 Metode geometris sukar diterapkan untuk mencari solusi SPL dengan3 peubah dan mustahil diterapkan jika kita ingin mencari solusi SPL dengan banyak peubah lebih dari3.

2 Metode substitusi, eliminasi, maupun eliminasi-substitusi membutuhkan waktu yang relatif lama. Selain itu penerapan metode-metode ini juga rentan dengan kesalahan aritmetika. Singkatnya, metode-metode ini terlalunguli.

(9)

Operasi baris elementer merupakan suatu operasi yang dilakukan pada suatu matriks. Operasi ini terdiri atas:

1 OBE 1: Perkalian dengan skalar tak nol. 2 OBE 2: Penukaran baris.

3 OBE 3: Penjumlahan kelipatan skalar suatu baris dengan baris yang lain.

(10)

OBE 1: Perkalian dengan Skalar Tak Nol

Pandang SPL berikut

x+y= 4

x y= 2 (1)

(11)

Pandang SPL berikut

x+y= 4

x y= 2 (1)

Dengan metode yang dipelajari di sekolah menengah, kita mengetahui bahwa x= 3dany=

(12)

OBE 1: Perkalian dengan Skalar Tak Nol

Pandang SPL berikut

x+y= 4

x y= 2 (1)

(13)

Pandang SPL berikut

x+y= 4

x y= 2 (1)

Dengan metode yang dipelajari di sekolah menengah, kita mengetahui bahwa x= 3dany= 1 adalah solusi dari SPL (1). Jika kita mengalikan persamaan pertama dengan2, maka kita memperoleh SPL

(14)

OBE 1: Perkalian dengan Skalar Tak Nol

Pandang SPL berikut

x+y= 4

x y= 2 (1)

Dengan metode yang dipelajari di sekolah menengah, kita mengetahui bahwa x= 3dany= 1 adalah solusi dari SPL (1). Jika kita mengalikan persamaan pertama dengan2, maka kita memperoleh SPL

2x+ 2y= 8

(15)

Pandang SPL berikut

x+y= 4

x y= 2 (1)

Dengan metode yang dipelajari di sekolah menengah, kita mengetahui bahwa x= 3dany= 1 adalah solusi dari SPL (1). Jika kita mengalikan persamaan pertama dengan2, maka kita memperoleh SPL

2x+ 2y= 8

x y= 2 (2)

Dengan metode yang dipelajari di sekolah menengah, kita mengetahui bahwa x= 3dany= 1 juga solusi dari SPL (2).

(16)

OBE 1: Perkalian dengan Skalar Tak Nol

Pandang SPL berikut

x+y= 4

x y= 2 (1)

Dengan metode yang dipelajari di sekolah menengah, kita mengetahui bahwa x= 3dany= 1 adalah solusi dari SPL (1). Jika kita mengalikan persamaan pertama dengan2, maka kita memperoleh SPL

2x+ 2y= 8

x y= 2 (2)

(17)

Pada SPL (1) jika kita menukar posisi persamaan pertama dan persamaan kedua, maka kita akan memperoleh SPL berikut

x y= 2

x+y= 4 (3)

Jelas bahwa solusi dari SPL (3)

(18)

OBE 2: Menukar Persamaan

Pada SPL (1) jika kita menukar posisi persamaan pertama dan persamaan kedua, maka kita akan memperoleh SPL berikut

x y= 2

x+y= 4 (3)

(19)

Pada SPL (1) kita dapat mengalikan persamaan pertama dengan 1dan kemudian menambahkan hasilnya ke persamaan kedua. Dalam hal ini persamaan pertama tetap, namun persamaan kedua berubah. Kita memiliki SPL baru berikut

(20)

OBE 3

Pada SPL (1) kita dapat mengalikan persamaan pertama dengan 1dan kemudian menambahkan hasilnya ke persamaan kedua. Dalam hal ini persamaan pertama tetap, namun persamaan kedua berubah. Kita memiliki SPL baru berikut

x+y= 4

(21)

Pada SPL (1) kita dapat mengalikan persamaan pertama dengan 1dan kemudian menambahkan hasilnya ke persamaan kedua. Dalam hal ini persamaan pertama tetap, namun persamaan kedua berubah. Kita memiliki SPL baru berikut

x+y= 4

2y= 2 (4)

Solusi dari SPL (4) adalahy= 1danx= 3, yang sama dengan solusi SPL (1).

(22)

OBE 3

Pada SPL (1) kita dapat mengalikan persamaan pertama dengan 1dan kemudian menambahkan hasilnya ke persamaan kedua. Dalam hal ini persamaan pertama tetap, namun persamaan kedua berubah. Kita memiliki SPL baru berikut

x+y= 4

2y= 2 (4)

(23)

1 Motivasi dan Pengenalan OBE

2 Representasi Matriks untuk SPL

3 Operasi Baris Elementer (OBE)

4 Bentuk Eselon Baris (EB) dan Eselon Baris Tereduksi (EBT)

5 Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

6 Latihan OBE dan EGJ (1)

7 SPL Homogen

8 Latihan OBE dan EGJ (2)

9 Latihan OBE dan EGJ (3)

(24)

Representasi Matriks untuk SPL

(25)

Di sekolah menengah Anda sudah mengenal perkalian matriks2 2dengan suatu vektor kolom2 1. Contohnya, SPL (1) dapat kita tulis dalam bentuk

1 1

1 1

x y =

4 2

Sekarang kita de…nisikan representasi matriks dalam bentuk yang “lain” untuk SPL (1) sebagai berikut

(26)

Representasi Matriks untuk SPL

Di sekolah menengah Anda sudah mengenal perkalian matriks2 2dengan suatu vektor kolom2 1. Contohnya, SPL (1) dapat kita tulis dalam bentuk

1 1

1 1

x y =

4 2

Sekarang kita de…nisikan representasi matriks dalam bentuk yang “lain” untuk SPL (1) sebagai berikut

1 1 j 4

1 1 j 2 atau

1 1 4

1 1 2 (5)

(27)

1 Motivasi dan Pengenalan OBE

2 Representasi Matriks untuk SPL

3 Operasi Baris Elementer (OBE)

4 Bentuk Eselon Baris (EB) dan Eselon Baris Tereduksi (EBT)

5 Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

6 Latihan OBE dan EGJ (1)

7 SPL Homogen

8 Latihan OBE dan EGJ (2)

9 Latihan OBE dan EGJ (3)

(28)

Operasi Baris Elementer (OBE)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

(29)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol.

(30)

Operasi Baris Elementer (OBE)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol. JikaA0 adalah

matriks baru yang diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keterangan

(31)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol. JikaA0 adalah

matriks baru yang diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keterangan Ri Ri . Ini berarti barisRi yang barupadaA0sama dengan kali baris

Ri yang lamapadaA.

(32)

Operasi Baris Elementer (OBE)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol. JikaA0 adalah

matriks baru yang diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keterangan Ri Ri . Ini berarti barisRi yang barupadaA0sama dengan kali baris

Ri yang lamapadaA.

(33)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol. JikaA0 adalah

matriks baru yang diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keterangan Ri Ri . Ini berarti barisRi yang barupadaA0sama dengan kali baris

Ri yang lamapadaA.

OBE2 Menukar posisi dua baris padaA. Jika A0 adalah matriks baru yang

diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keteranganRi$Rj untuk barisRi

danRj yang ditukar padaA.

(34)

Operasi Baris Elementer (OBE)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol. JikaA0 adalah

matriks baru yang diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keterangan Ri Ri . Ini berarti barisRi yang barupadaA0sama dengan kali baris

Ri yang lamapadaA.

OBE2 Menukar posisi dua baris padaA. Jika A0 adalah matriks baru yang

diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keteranganRi$Rj untuk barisRi

danRj yang ditukar padaA. Ini berarti barisRi padaA0 menjadi barisRj

(35)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol. JikaA0 adalah

matriks baru yang diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keterangan Ri Ri . Ini berarti barisRi yang barupadaA0sama dengan kali baris

Ri yang lamapadaA.

OBE2 Menukar posisi dua baris padaA. Jika A0 adalah matriks baru yang

diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keteranganRi$Rj untuk barisRi

danRj yang ditukar padaA. Ini berarti barisRi padaA0 menjadi barisRj

padaA, dan sebaliknya.

OBE3 Mengalikan suatu baris padaAdengan suatu konstanta dan menambahkan hasilnya ke suatu baris yang lain.

(36)

Operasi Baris Elementer (OBE)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol. JikaA0 adalah

matriks baru yang diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keterangan Ri Ri . Ini berarti barisRi yang barupadaA0sama dengan kali baris

Ri yang lamapadaA.

OBE2 Menukar posisi dua baris padaA. Jika A0 adalah matriks baru yang

diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keteranganRi$Rj untuk barisRi

danRj yang ditukar padaA. Ini berarti barisRi padaA0 menjadi barisRj

padaA, dan sebaliknya.

OBE3 Mengalikan suatu baris padaAdengan suatu konstanta dan menambahkan hasilnya ke suatu baris yang lain. JikaA0 adalah matriks baru yang diperoleh

(37)

Operasi Baris Elementer/ OBE

Diberikan suatu matriksAdengan baris-barisR1; R2; : : : ; Rm. Operasi baris

elementer (OBE) padaAadalah salah satu dari operasi-operasi berikut:

OBE1 Mengalikan suatu baris padaAdengan konstanta tak nol. JikaA0 adalah

matriks baru yang diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keterangan Ri Ri . Ini berarti barisRi yang barupadaA0sama dengan kali baris

Ri yang lamapadaA.

OBE2 Menukar posisi dua baris padaA. Jika A0 adalah matriks baru yang

diperoleh dengan OBE ini, kita berikan keteranganRi$Rj untuk barisRi

danRj yang ditukar padaA. Ini berarti barisRi padaA0 menjadi barisRj

padaA, dan sebaliknya.

OBE3 Mengalikan suatu baris padaAdengan suatu konstanta dan menambahkan hasilnya ke suatu baris yang lain. JikaA0 adalah matriks baru yang diperoleh

dengan OBE ini, kita berikan keteranganRj Rj+ Ri. Ini berarti baris Rj yangbarupadaA0 sama dengan barisRj yanglamapadaAditambah dengan kali barisRi yanglama padaA.

(38)

Contoh OBE

Kita akan menyelesaikan SPL x+y= 4

x y= 2 via OBE, matriks diperbesar yang

(39)

Kita akan menyelesaikan SPL x+y= 4

x y= 2 via OBE, matriks diperbesar yang

berkaitan adalah 1 1 4

1 1 2 . Langkah-langkahnya adalah

0). 11 11 42 ;

(40)

Contoh OBE

Kita akan menyelesaikan SPL x+y= 4

x y= 2 via OBE, matriks diperbesar yang

berkaitan adalah 1 1 4

1 1 2 . Langkah-langkahnya adalah

(41)

Kita akan menyelesaikan SPL x+y= 4

x y= 2 via OBE, matriks diperbesar yang

berkaitan adalah 1 1 4

1 1 2 . Langkah-langkahnya adalah

0). 11 11 42 ; 1). 10 21 42 (R2 R2 R1);

2). 1 1 4

0 1 1 R2

1 2R2 ;

(42)

Contoh OBE

Kita akan menyelesaikan SPL x+y= 4

x y= 2 via OBE, matriks diperbesar yang

berkaitan adalah 1 1 4

1 1 2 . Langkah-langkahnya adalah

0). 11 11 42 ; 1). 10 21 42 (R2 R2 R1);

2). 1 1 4

0 1 1 R2

1

2R2 ; 3).

1 0 3

(43)

Kita akan menyelesaikan SPL x+y= 4

x y= 2 via OBE, matriks diperbesar yang

berkaitan adalah 1 1 4

1 1 2 . Langkah-langkahnya adalah

0). 11 11 42 ; 1). 10 21 42 (R2 R2 R1);

2). 1 1 4

0 1 1 R2

1

2R2 ; 3).

1 0 3

0 1 1 (R1 R1 R2). Pada langkah terakhir kita memiliki matriks

1 0 3

0 1 1 . (6)

Dari bentuk (6) kita dengan mudah mengetahui bahwax= 3 dany= 1 merupakan solusi dari SPL (1).

(44)

Contoh OBE

Kita akan menyelesaikan SPL x+y= 4

x y= 2 via OBE, matriks diperbesar yang

berkaitan adalah 1 1 4

1 1 2 . Langkah-langkahnya adalah

0). 11 11 42 ; 1). 10 21 42 (R2 R2 R1); langkah terakhir kita memiliki matriks

1 0 3

0 1 1 . (6)

(45)

Untuk menghemat waktu dan kertas, kita bisa melakukan OBE secara simultan dengan syarattidak menimbulkan ambiguitas. Contoh:

rangkaian OBE berikut

0

B B @

1 1 1 10

1 0 1 5

2 1 3 5

3 1 4 10

1

C C A

(46)

Melakukan OBE Simultan (1)

Untuk menghemat waktu dan kertas, kita bisa melakukan OBE secara simultan dengan syarattidak menimbulkan ambiguitas. Contoh:

rangkaian OBE berikut

(47)

Untuk menghemat waktu dan kertas, kita bisa melakukan OBE secara simultan dengan syarattidak menimbulkan ambiguitas. Contoh:

rangkaian OBE berikut

0

(48)

Melakukan OBE Simultan (1)

Untuk menghemat waktu dan kertas, kita bisa melakukan OBE secara simultan dengan syarattidak menimbulkan ambiguitas. Contoh:

rangkaian OBE berikut

(49)

dapat dilakukan lebih ringkas sebagai

(50)

Melakukan OBE Simultan 2

Kemudian rangkaian OBE berikut

0

B B @

1 0 0 2 0 1 0 2 1 1 0 4 1 0 1 6

1

(51)

Kemudian rangkaian OBE berikut

(52)

Melakukan OBE Simultan 2

Kemudian rangkaian OBE berikut

(53)

Kemudian rangkaian OBE berikut

(54)

Melakukan OBE Simultan 2

Kemudian rangkaian OBE berikut

0

(55)

Kemudian rangkaian OBE berikut

dapat dilakukan lebih ringkas sebagai

0

(56)

OBE yang Baik: Hindari Operasi Bertingkat

Meskipun OBE dapat dilakukan secara simultan, kita harus berhati-hati agar tidak melakukan “operasi bertingkat (nested operation)”, karena hal ini dapat

(57)

Meskipun OBE dapat dilakukan secara simultan, kita harus berhati-hati agar tidak melakukan “operasi bertingkat (nested operation)”, karena hal ini dapat

menimbulkan ambiguitas. Contoh operasi bertingkat yang menimbulkan ambiguitas

(58)

OBE yang Baik: Hindari Operasi Bertingkat

Meskipun OBE dapat dilakukan secara simultan, kita harus berhati-hati agar tidak melakukan “operasi bertingkat (nested operation)”, karena hal ini dapat

menimbulkan ambiguitas. Contoh operasi bertingkat yang menimbulkan ambiguitas

(59)

Meskipun OBE dapat dilakukan secara simultan, kita harus berhati-hati agar tidak melakukan “operasi bertingkat (nested operation)”, karena hal ini dapat

menimbulkan ambiguitas. Contoh operasi bertingkat yang menimbulkan ambiguitas

Pada OBE tersebut, nilai dariR1yang baru adalah2R1yang lama. Kemudian nilaiR1 yang baru tersebut dijumlahkan denganR2 yang lama untuk memperoleh R2 yang baru.

(60)

OBE yang Baik: Hindari Operasi Bertingkat

Meskipun OBE dapat dilakukan secara simultan, kita harus berhati-hati agar tidak melakukan “operasi bertingkat (nested operation)”, karena hal ini dapat

menimbulkan ambiguitas. Contoh operasi bertingkat yang menimbulkan ambiguitas

(61)

Meskipun OBE dapat dilakukan secara simultan, kita harus berhati-hati agar tidak melakukan “operasi bertingkat (nested operation)”, karena hal ini dapat

menimbulkan ambiguitas. Contoh operasi bertingkat yang menimbulkan ambiguitas

Pada OBE tersebut, nilai dariR1yang baru adalah2R1yang lama. Kemudian nilaiR1 yang baru tersebut dijumlahkan denganR2 yang lama untuk memperoleh R2 yang baru. Padahal pada keterangan yang kita berikan kita hanya menulis R2 R2+R1. JadiR1 di sini tidak jelas mengacu ke mana.

(62)

Tips OBE Simultan

Tips OBE Simultan

OBE dapat dilakukan secara simultan, namun kita harus menghindari operasi bertingkat pada OBE yang kita lakukan:

1 Pada OBE 1, jika kita melakukanRi Ri, makatidak boleh ada operasi lain yang mengubah nilaiRi.

2 Pada OBE 3, jika kita melakukanR

j Rj+ Ri, maka tidak boleh ada

(63)

Tips OBE Simultan

OBE dapat dilakukan secara simultan, namun kita harus menghindari operasi bertingkat pada OBE yang kita lakukan:

1 Pada OBE 1, jika kita melakukanRi Ri, makatidak boleh ada operasi lain yang mengubah nilaiRi.

2 Pada OBE 3, jika kita melakukanR

j Rj+ Ri, maka tidak boleh ada

operasi lain yang mengubah nilaiRj danRi.

Singkatnyapada operasi(kiri) (kanan), tidak boleh ada operasi lain yang mengubah nilai(kanan).

(64)

Bahasan

1 Motivasi dan Pengenalan OBE

2 Representasi Matriks untuk SPL

3 Operasi Baris Elementer (OBE)

4 Bentuk Eselon Baris (EB) dan Eselon Baris Tereduksi (EBT)

5 Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

6 Latihan OBE dan EGJ (1)

7 SPL Homogen

8 Latihan OBE dan EGJ (2)

(65)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah ditentukan.

(66)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah ditentukan.

0

B B @

1 0 1996 0 1 2015

0 0 0

0 0 0

1

(67)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah ditentukan.

0

B B @

1 0 1996 0 1 2015

0 0 0

0 0 0

1

C C

Amemiliki solusi

(68)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah ditentukan.

0

B B @

1 0 1996 0 1 2015

0 0 0

0 0 0

1

C C

(69)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah

(70)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah ditentukan.

(71)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah

(72)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

(73)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah

Amemberikan dua PL, yaitu

(74)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

(75)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah

(76)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah ditentukan.

(77)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah

(78)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

(79)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah

(80)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

(81)

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah

Atidak memiliki solusi (tidak konsisten),

(82)

Matriks Diperbesar dengan Solusi “Mudah Dilihat”

Beberapa matriks diperbesar memiliki bentuk sehingga solusinya mudah ditentukan.

Atidak memiliki solusi (tidak konsisten), baris terakhir ekivalen

(83)

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

0

@

1 0 2 4 0 1 3 6 0 0 1 0

1

A

(84)

Bentuk Eselon Baris

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

(85)

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

0

(86)

Bentuk Eselon Baris

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

0

2 1utama pada barisyang lebih bawahberada pada tempatyang lebih kanan.

(87)

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

0

2 1utama pada barisyang lebih bawahberada pada tempatyang lebih kanan.

0

(88)

Bentuk Eselon Baris

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

0

2 1utama pada barisyang lebih bawahberada pada tempatyang lebih kanan.

(89)

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

0

2 1utama pada barisyang lebih bawahberada pada tempatyang lebih kanan.

0

3 Semua baris yangseluruh entrinya0 ditempatkan bersama dibaris bawah.

0

(90)

Bentuk Eselon Baris

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

0

2 1utama pada barisyang lebih bawahberada pada tempatyang lebih kanan.

0

3 Semua baris yangseluruh entrinya0 ditempatkan bersama dibaris bawah.

(91)

Bentuk Eselon Baris (EB)

1 Jikaentri sebuah baristidak seluruhnya nol,makaentri pertama dari kiri

adalah1. Selanjutnya1 ini akan kita sebut1 utama(leading 1).

0

2 1utama pada barisyang lebih bawahberada pada tempatyang lebih kanan.

0

3 Semua baris yangseluruh entrinya0 ditempatkan bersama dibaris bawah.

0

(92)

Bentuk Eselon Baris

Bentuk Eselon Baris Tereduksi (EBT)

Sebuah matriks dikatakan dalam bentuk EBT apabila matriks tersebut berada dalam bentuk EB dan memenuhi sifat tambahan berikut.

4 Semua entri matriks yang beradadi atas1utama bernilai0.

0

@

0 0 1 7 0 0 0 2 0 0 0 0 0 1 0 4 0 0 0 0 0 0 1 3

1

(93)

Bentuk Eselon Baris Tereduksi (EBT)

Sebuah matriks dikatakan dalam bentuk EBT apabila matriks tersebut berada dalam bentuk EB dan memenuhi sifat tambahan berikut.

4 Semua entri matriks yang beradadi atas1utama bernilai0.

0

@

0 0 1 7 0 0 0 2 0 0 0 0 0 1 0 4 0 0 0 0 0 0 1 3

1

AEBT?Ya.

(94)

Bentuk Eselon Baris

Bentuk Eselon Baris Tereduksi (EBT)

Sebuah matriks dikatakan dalam bentuk EBT apabila matriks tersebut berada dalam bentuk EB dan memenuhi sifat tambahan berikut.

4 Semua entri matriks yang beradadi atas1utama bernilai0.

(95)

Bentuk Eselon Baris Tereduksi (EBT)

Sebuah matriks dikatakan dalam bentuk EBT apabila matriks tersebut berada dalam bentuk EB dan memenuhi sifat tambahan berikut.

4 Semua entri matriks yang beradadi atas1utama bernilai0.

0

(96)

Bentuk Eselon Baris

Bentuk Eselon Baris Tereduksi (EBT)

Sebuah matriks dikatakan dalam bentuk EBT apabila matriks tersebut berada dalam bentuk EB dan memenuhi sifat tambahan berikut.

4 Semua entri matriks yang beradadi atas1utama bernilai0.

(97)

Bentuk Eselon Baris Tereduksi (EBT)

Sebuah matriks dikatakan dalam bentuk EBT apabila matriks tersebut berada dalam bentuk EB dan memenuhi sifat tambahan berikut.

4 Semua entri matriks yang beradadi atas1utama bernilai0.

0

(98)

Bentuk Eselon Baris

Bentuk Eselon Baris Tereduksi (EBT)

Sebuah matriks dikatakan dalam bentuk EBT apabila matriks tersebut berada dalam bentuk EB dan memenuhi sifat tambahan berikut.

4 Semua entri matriks yang beradadi atas1utama bernilai0.

0

(99)

Bentuk Eselon Baris Tereduksi (EBT)

Sebuah matriks dikatakan dalam bentuk EBT apabila matriks tersebut berada dalam bentuk EB dan memenuhi sifat tambahan berikut.

4 Semua entri matriks yang beradadi atas1utama bernilai0.

0

AEBT?Tidak,EB?Tidak.

(100)

Bahasan

1 Motivasi dan Pengenalan OBE

2 Representasi Matriks untuk SPL

3 Operasi Baris Elementer (OBE)

4 Bentuk Eselon Baris (EB) dan Eselon Baris Tereduksi (EBT)

5 Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

6 Latihan OBE dan EGJ (1)

7 SPL Homogen

8 Latihan OBE dan EGJ (2)

(101)

Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ) merupakan suatu cara untuk mencari solusi SPL.

EGJ memberikan suatu metode sistematis dalam mengubah matriks diperbesar dari suatu SPL dengan OBE sehingga diperoleh suatu matriks dalam bentuk EBT. Singkatnya, EGJ melakukan hal berikut

(102)

Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ): Pendahuluan

Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ) merupakan suatu cara untuk mencari solusi SPL.

EGJ memberikan suatu metode sistematis dalam mengubah matriks diperbesar dari suatu SPL dengan OBE sehingga diperoleh suatu matriks dalam bentuk EBT. Singkatnya, EGJ melakukan hal berikut

0

matriks diperbesar dari SPL

=)

(103)

Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ) merupakan suatu cara untuk mencari solusi SPL.

EGJ memberikan suatu metode sistematis dalam mengubah matriks diperbesar dari suatu SPL dengan OBE sehingga diperoleh suatu matriks dalam bentuk EBT. Singkatnya, EGJ melakukan hal berikut

0

matriks diperbesar dari SPL

=)

serangkaian OBEBentuk EBT

Catatan: eliminasi Gauss: mengubah matriks diperbesar menjadi bentukEB,

eliminasi Gauss-Jordan: mengubah matriks diperbesar menjadi bentukEBT.

(104)

Contoh Penerapan EGJ

Kita akan menentukan solusi dari SPL

2y +z = 7

2x 2y = 2

2x y +z = 3

.

(105)

Kita akan menentukan solusi dari SPL

2y +z = 7

2x 2y = 2

2x y +z = 3

.

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL ini adalah

2

4

0 2 1 7

2 2 0 2

2 1 1 3

3

5

(106)
(107)

4

0 2 1 7

2 2 0 2

2 1 1 3

5

2).

(108)

1) Cari kolom paling kiri yang tak seluruhnya nol.

2

4

0 2 1 7

2 2 0 2

2 1 1 3

3

5

(109)

4

0 2 1 7

2 2 0 2

2 1 1 3

5

2). Jadikanentri terkiri dan teratas sebagai entri tak nol,jika perlu lakukan tukar baris. Entri ini disebutpivot.

2

4 2

2 0 2

0 2 1 7

2 1 1 3

3

5(R1$R2)

3).

(110)

1) Cari kolom paling kiri yang tak seluruhnya nol.

2). Jadikanentri terkiri dan teratas sebagai entri tak nol,jika perlu lakukan tukar baris. Entri ini disebutpivot.

2

(111)

4

0 2 1 7

2 2 0 2

2 1 1 3

5

2). Jadikanentri terkiri dan teratas sebagai entri tak nol,jika perlu lakukan tukar baris. Entri ini disebutpivot.

2

3). Jadikan pivot bernilai1.

2

4 1

(112)

1) Cari kolom paling kiri yang tak seluruhnya nol.

2). Jadikanentri terkiri dan teratas sebagai entri tak nol,jika perlu lakukan tukar baris. Entri ini disebutpivot.

2

3). Jadikan pivot bernilai1.

2

4 1

(113)

4

0 2 1 7

2 2 0 2

2 1 1 3

5

2). Jadikanentri terkiri dan teratas sebagai entri tak nol,jika perlu lakukan tukar baris. Entri ini disebutpivot.

2

3). Jadikan pivot bernilai1.

2

4 1

1 0

(114)

1) Cari kolom paling kiri yang tak seluruhnya nol.

2). Jadikanentri terkiri dan teratas sebagai entri tak nol,jika perlu lakukan tukar baris. Entri ini disebutpivot.

2

3). Jadikan pivot bernilai1.

(115)

4). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

(116)

4). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4 1

1 0 1

0 2 1 7

(117)

4). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4 1

1 0 1

0 2 1 7

0 1

(118)

4). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4 1

1 0 1

0 2 1 7

(119)

4). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4 1

1 0 1

0 2 1 7

0 1 1 5

3

5(R3 R3 2R1)

5).

(120)

4). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4 1

1 0 1

0 2 1 7

0 1 1 5

3

5(R3 R3 2R1)

(121)

4). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

5). 1utama pertama sudah diperoleh. Untuk memperoleh 1utama berikutnya, lakukan cara yang serupa seperti langkah 1).

2

5. Lakukan OBE agar pivot bernilai1.

(122)

4). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

5). 1utama pertama sudah diperoleh. Untuk memperoleh 1utama berikutnya, lakukan cara yang serupa seperti langkah 1).

2

5. Lakukan OBE agar pivot bernilai1.

(123)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

(124)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

(125)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

0 0 1

(126)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

0 0 1 3

3

5(R3 R3 2R1)

(127)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

0 0 1 3

3

5(R3 R3 2R1)

7). 1utama untuk baris pertama dan kedua sudah diperoleh, untuk memperoleh1 utama berikutnya, lakukan cara yang serupa seperti pada langkah 1).

(128)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

0 0 1 3

3

5(R3 R3 2R1)

7). 1utama untuk baris pertama dan kedua sudah diperoleh, untuk memperoleh1 utama berikutnya, lakukan cara yang serupa seperti pada langkah 1).

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

(129)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

0 0 1 3

3

5(R3 R3 2R1)

7). 1utama untuk baris pertama dan kedua sudah diperoleh, untuk memperoleh1 utama berikutnya, lakukan cara yang serupa seperti pada langkah 1).

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

0 0 1

(130)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

7). 1utama untuk baris pertama dan kedua sudah diperoleh, untuk memperoleh1 utama berikutnya, lakukan cara yang serupa seperti pada langkah 1).

2

5. Lakukan OBE agar pivot bernilai1.

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

(131)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

7). 1utama untuk baris pertama dan kedua sudah diperoleh, untuk memperoleh1 utama berikutnya, lakukan cara yang serupa seperti pada langkah 1).

2

5. Lakukan OBE agar pivot bernilai1.

2

4

1 1 0 1

0 1 1 5

0 0 1

(132)

6). Gunakan OBE untuk membuat semua entri di bawah pivot bernilai0.

7). 1utama untuk baris pertama dan kedua sudah diperoleh, untuk memperoleh1 utama berikutnya, lakukan cara yang serupa seperti pada langkah 1).

2

5. Lakukan OBE agar pivot bernilai1.

(133)
(134)
(135)
(136)

8). Semua1utama sudah diperoleh, sekarang saatnya membentuk EBT. Jadikan semua entri di atas1 utama paling kanan bernilai0.

2

4

1 1 0 1

0 1 0 2

0 0 1 3

3

5(R2 R2 R3)

(137)

2

4

1 1 0 1

0 1 0 2

0 0 1 3

3

5(R2 R2 R3)

9). Jadikan semua entri di atas semua1 utama berikutnya (dari kanan) bernilai0.

2

4

1 0 0 1 0 1 0 2 0 0 1 3

3

5(R1 R1+R2)

(138)

8). Semua1utama sudah diperoleh, sekarang saatnya membentuk EBT. Jadikan semua entri di atas1 utama paling kanan bernilai0.

2

9). Jadikan semua entri di atas semua1 utama berikutnya (dari kanan) bernilai0.

2

Bentuk EBT telah diperoleh, yaitu

(139)

2

9). Jadikan semua entri di atas semua1 utama berikutnya (dari kanan) bernilai0.

2

Bentuk EBT telah diperoleh, yaitu

2

(140)

Bahasan

1 Motivasi dan Pengenalan OBE

2 Representasi Matriks untuk SPL

3 Operasi Baris Elementer (OBE)

4 Bentuk Eselon Baris (EB) dan Eselon Baris Tereduksi (EBT)

5 Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

6 Latihan OBE dan EGJ (1)

7 SPL Homogen

8 Latihan OBE dan EGJ (2)

(141)

Latihan

Tentukan semua solusi (jika ada) dari SPL-SPL berikut menggunakan OBE

1 x 2y = 4

2x 4y = 5

2

x1 +2x2 = 66 x1 +x2 = 39 2x1 +3x2 = 105 2x1 +x2 = 51

3

2x1 +x2 +x3 = 0 x1 2x2 +x3 = 0 x1 +x2 2x3 = 0

4 x +y +z = 0 x +2y +3z = 1

(142)

Solusi Soal 1

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan x 2y = 4

(143)

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan

2x 4y = 5 adalah

1 2 4

2 4 5 . Langkah-langkah OBE:

1).

(144)

Solusi Soal 1

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan x 2y = 4

2x 4y = 5 adalah

1 2 4

2 4 5 . Langkah-langkah OBE:

1). 1 2 4

(145)

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan

2x 4y = 5 adalah

1 2 4

2 4 5 . Langkah-langkah OBE:

1). 1 2 4

0 0 3 (R2 R2 2R1). 2).

1 2 4

0 0 1 R2

1 3R2 .

(146)

Solusi Soal 1

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan x 2y = 4

2x 4y = 5 adalah

1 2 4

2 4 5 . Langkah-langkah OBE:

1). 1 2 4

0 0 3 (R2 R2 2R1). 2).

1 2 4

0 0 1 R2

1 3R2 . Akibatnya diperoleh persamaan0x+ 0y= 1, ini berarti SPL tidak konsisten.

Lebih jauh, kita memiliki teorema berikut.

(147)

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan

2x 4y = 5 adalah

1 2 4

2 4 5 . Langkah-langkah OBE:

1). 1 2 4 Akibatnya diperoleh persamaan0x+ 0y= 1, ini berarti SPL tidak konsisten.

Lebih jauh, kita memiliki teorema berikut.

Teorema

Diberikan suatu SPL (mpersamaan dannpeubah) yang memiliki matriks diperbesarA. ApabilaEadalah bentuk EBT dariA, makaSPL tersebut konsisten jika dan hanya jikaEtidak mengandung baris berbentuk

0 0 0 1 .

(148)

Solusi Soal 2

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan

x1 +2x2 = 66 x1 +x2 = 39 2x1 +3x2 = 105 2x1 +x2 = 51

(149)

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan

5. Langkah-langkah OBE:

1).

(150)

Solusi Soal 2

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan

x1 +2x2 = 66

5. Langkah-langkah OBE:

(151)

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan

5. Langkah-langkah OBE:

1).

(152)
(153)

3).

(154)

Solusi Soal 3

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan

2x1 +x2 +x3 = 0 x1 2x2 +x3 = 0 x1 +x2 2x3 = 0

(155)

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan

2x1 +x2 +x3 = 0 x1 2x2 +x3 = 0 x1 +x2 2x3 = 0

adalah

2

4

2 1 1 0

1 2 1 0

1 1 2 0

3

5. Langkah-langkah OBE:

1).

(156)

Solusi Soal 3

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan

2x1 +x2 +x3 = 0

5. Langkah-langkah OBE:

(157)

Matriks diperbesar yang bersesuian dengan

5. Langkah-langkah OBE:

1).

(158)

3).

2

4

1 2 1 0

0 3 3 0

0 0 0 0

3

5(R3 R3+R2)

(159)

3). 4 0 3 3 0

0 0 0 0

5(R3 R3+R2)

4).

2

4

1 2 1 0

0 1 1 0

0 0 0 0

3

5(R2 R2)

5).

(160)
(161)

3). 4 0 3 3 0

(162)
(163)

3). 4 0 3 3 0

(164)
(165)

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan x +y +z = 0

x +2y +3z = 1 adalah

(166)

Solusi Soal 4

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan x +y +z = 0

x +2y +3z = 1 adalah

1 1 1 0

1 2 3 1 . Langkah-langkah OBE:

1). 1 1 1 0

0 1 2 1 (R2 R2 R1)

2). 10 01 21 11 (R1 R1 R2)

Diperoleh SPL x z= 1

(167)

1 Motivasi dan Pengenalan OBE

2 Representasi Matriks untuk SPL

3 Operasi Baris Elementer (OBE)

4 Bentuk Eselon Baris (EB) dan Eselon Baris Tereduksi (EBT)

5 Eliminasi Gauss-Jordan (EGJ)

6 Latihan OBE dan EGJ (1)

7 SPL Homogen

8 Latihan OBE dan EGJ (2)

9 Latihan OBE dan EGJ (3)

(168)

SPL Homogen

Suatu SPL dikatakan homogen apabilasemua konstantayang terdapat pada SPL tersebutbernilai 0.

SPL Homogen

(169)

Suatu SPL dikatakan homogen apabilasemua konstantayang terdapat pada SPL tersebutbernilai 0.

SPL Homogen

SPL homogen denganmpersamaan dannpeubahx1; : : : ; xn berbentuk

a11x1 + a12x2 + a1nxn = 0

a21x1 + a22x2 + a2nxn = 0

..

. ... ... ...

am1x1 + am2x2 + amnxn = 0

(7)

denganaij 2Runtuk setiap1 i mdan1 j n.

Pertanyaan

(170)

SPL Homogen

Suatu SPL dikatakan homogen apabilasemua konstantayang terdapat pada SPL tersebutbernilai 0.

SPL Homogen

SPL homogen denganmpersamaan dannpeubahx1; : : : ; xn berbentuk

a11x1 + a12x2 + a1nxn = 0

a21x1 + a22x2 + a2nxn = 0

..

. ... ... ...

am1x1 + am2x2 + amnxn = 0

(7)

denganaij 2Runtuk setiap1 i mdan1 j n.

Pertanyaan

(171)

SPL homogen selalu memiliki solusi. Kita akan segera melihat buktinya. Namun sebelumnya tinjau SPL homogen berikut

ax+by = 0(adanbtak keduanya0) cx+dy = 0(c dandtak keduanya0).

(172)

Solusi SPL Homogen

SPL homogen selalu memiliki solusi. Kita akan segera melihat buktinya. Namun sebelumnya tinjau SPL homogen berikut

ax+by = 0(adanbtak keduanya0) cx+dy = 0(c dandtak keduanya0).

(173)

SPL homogen selalu memiliki solusi. Kita akan segera melihat buktinya. Namun sebelumnya tinjau SPL homogen berikut

ax+by = 0(adanbtak keduanya0) cx+dy = 0(c dandtak keduanya0).

Secara geometris, kita dapat membuat dua buah garis, yaitu`1:ax+by= 0dan `2:cx+dy= 0.

(174)

Solusi SPL Homogen

SPL homogen selalu memiliki solusi. Kita akan segera melihat buktinya. Namun sebelumnya tinjau SPL homogen berikut

ax+by = 0(adanbtak keduanya0) cx+dy = 0(c dandtak keduanya0).

(175)

SPL homogen selalu memiliki solusi. Kita akan segera melihat buktinya. Namun sebelumnya tinjau SPL homogen berikut

ax+by = 0(adanbtak keduanya0) cx+dy = 0(c dandtak keduanya0).

Secara geometris, kita dapat membuat dua buah garis, yaitu`1:ax+by= 0dan `2:cx+dy= 0. Jelas bahwa(0;0)merupakan solusi SPL karena`1dan`2 pasti melalui titik(0;0).

Pertanyaan yang sekarang muncul adalah: apakah(0;0) merupakan satu-satunya solusi?

(176)

Solusi SPL Homogen

SPL homogen selalu memiliki solusi. Kita akan segera melihat buktinya. Namun sebelumnya tinjau SPL homogen berikut

ax+by = 0(adanbtak keduanya0) cx+dy = 0(c dandtak keduanya0).

Secara geometris, kita dapat membuat dua buah garis, yaitu`1:ax+by= 0dan `2:cx+dy= 0. Jelas bahwa(0;0)merupakan solusi SPL karena`1dan`2 pasti melalui titik(0;0).

(177)

Teorema

(178)

Solusi Trivial SPL Homogen

Teorema

SPL homogen denganmpersamaan dannpeubah (seperti SPL (7)) selalu konsisten.

(179)

Teorema

SPL homogen denganmpersamaan dannpeubah (seperti SPL (7)) selalu konsisten.

Bukti

ntupel(0;0; : : : ;0)merupakan salah satu solusi SPL homogen.

Solusi(0;0; : : : ;0)disebut sebagaisolusi trivial dari suatu SPL homogen.

(180)

Latihan SPL Homogen

Latihan

Tentukan semua solusi dari SPL homogen berikut

1

3a b c d = 0

a 3b +c +d = 0 a +b 3c +d = 0 a +b +c 3d = 0

2

3a +2b c = 0

a +2b 3c = 0 a +b c = 0

3

2a 2b +c = 0

a 2b 2c = 0

2a +b 2c = 0

(181)

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL

3a b c d = 0

a 3b +c +d = 0 a +b 3c +d = 0 a +b +c 3d = 0

adalah

(182)

Solusi Soal 1

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL

3a b c d = 0

(183)

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL

5. Langkah-langkah OBE:

1).

(184)

Solusi Soal 1

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL

3a b c d = 0

5. Langkah-langkah OBE:

(185)

3). 66 4

0 2 1 1 0

0 1 1 0 0

0 1 0 1 0

7 7

5@

R2 2R2 R3

1 4R3 R4

1 4R4

A

(186)
(187)

3). 66

(188)

6).

2

6 6 4

1 3 0 2 0

0 1 0 1 0

0 0 1 1 0

0 0 0 0 0

3

7 7 5

(189)

6). 66

(190)

6).

(191)

6). 66

(192)
(193)

6). 66

(194)

Solusi Soal 2

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL

3a +2b c = 0

a +2b 3c = 0 a +b c = 0

(195)

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL

3a +2b c = 0

a +2b 3c = 0 a +b c = 0

adalah

2

4

3 2 1 0

1 2 3 0

1 1 1 0

3

5. Langkah-langkah OBE:

(196)

Solusi Soal 2

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL

3a +2b c = 0

5. Langkah-langkah OBE:

(197)

Matriks diperbesar yang bersesuaian dengan SPL

5. Langkah-langkah OBE:

1).

(198)

3).

2

4

1 2 3 0

0 1 2 0

0 1 2 0

3

5 R2

(199)

3).

(200)

Referensi

Dokumen terkait

Tingkat kecemasan dari hasil penelitian diperoleh data seperti pada tabel 4.1 tentang tingkat kecemasan mahasiswi UNITRI jurusan PSIK semester I yang menunjukan

Segala puji dan rasa syukur kupersembahkan hanya kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayahnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan

 Metode dasar Operasi Baris Elementer (OBE) adalah dengan menggantikan sistem yang diberikan dengan suatu sistem baru yang mempunyai himpunan penyelesaian yang sama tetapi lebih

a) Lama pengeringan granul berpengaruh pada kadar air dalam granul dan tablet, dimana semakin lama pengeringan granul memberikan kadar air yang semakin kecil, waktu alir granul

Diisi dengan alamat lengkap sesuai domisili kantor pusat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Status Pemilikan Gedung.. Diisi dengan status pemilikan gedung, yaitu

Operasi baris elementer (OBE) pada matriks sistem persamaan lanjar dapat digunakan sebagai kunci kriptografi.. Algoritmanya cukup mudah, yaitu hanya dengan

Metode Gauss merupakan turunan dari metode eliminasi yang dapat mengatasi kelemahan ketiga metode di atas, dimana metode ini memberikan solusi persamaan linier yang lebih

Untuk menyelesaikan suatu sistem persamaan lanjar kita harus mengolah matriks teraugmentasi dari sistem persamaan lanjar tersebut dengan Operasi Baris Elementer hingga