• Tidak ada hasil yang ditemukan

ONLINE SHOP MELALUI MEDIA SOSIAL SEBAGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ONLINE SHOP MELALUI MEDIA SOSIAL SEBAGA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

“ONLINE-SHOP MELALUI MEDIA SOSIAL SEBAGAI BENTUK HYPERREALITAS YANG MENCIPTAKAN MASYARAKAT KONSUMTIF”

Oleh:

AGUSTRINALDI (1300975) Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Padang

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi semakin pesat dari masa ke masa. Perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, politik, dan sebagainya. Aspek ekonomi misalnya, dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin canggih menimbulkan kreativitas- kreativitas yang baru sehingga mendobrak penghasilan, bisa memakmurkan suatu Negara. Negara jepang merupakan Negara di Asia dengan menciptakan berbagai barang barang elektronik seperti mobil, sepeda motor, Handphone, dll. Berkat teknologi-teknologi tersebut Jepang menjadi salah satu Negara terkaya dan juga disegani di Asia.Selain itu, teknologi sangat membantu sekali dalam memudahkan pekerjaan manusia seperti yang dikatakan oleh Mangunwijaya,1983 bahwa Teknologi adalah suatu bentuk penerapan sistematis dari pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang digunakan untuk keperluan atau suatu kebutuhan agar lebih praktis dan efisien. Oleh karena itu teknologi adalah hasil ilmu pengetahuan modern yang dibuat untuk mempermudah manusia, yang salah satunya membantu dalam komunikasi serta akses informasi agar lebih praktis.

(2)

kemajuan teknologi yang semakin canggih dan juga dunia dengan pasar bebasnya menciptakan suatu masyarakat konsumen.

Perkembangan internet yang semakin menjadi-jadi semakin berkembang dengan munculnya fitur fitur baru untuk online seperti Facebook, Tweeter, Instagram, Whats up, BBM, Line dan masih banyak lagi. Dengan muncul nya media-media sosial tersebut mengakibatkan para pemakainya menjadikan sebuah cara yang inovativ dan kreatif sebagai strategi pemasaran barang barang seperti sepatu, baju, hijab, dress dengan berbagai jenis dan berbagai merek serta keperluan-keperluan lainnya. Perkembangan media-media sosial tersebut sangat berdampak positif bagi orang-orang yang kreatif, tapi juga menciptakan dampak yang negative bagi para pengguna yang tidak memiliki kesadaran dan gampang terhegemoni oleh internet.

Online- shop merupakan suatu cara yang digunakan oleh para entrepreneur untuk memasarkan barang-barang dagangan mereka melalui media-sosial. Para orang-orang yang berpandangan positif benar-benar memanfaatkan suatu peluang suapay bisa menghasilkan keuntungan bagi mereka, dan peluang itu sudah ada. Media sosial dipilih untuk memasarkan online-shop karena mayoritas penduduk bumi memiliki akun di media sosial. Seperti di Indonesia, Indonesia merupakan salah satu Negara pengakses media sosial terbanyak. Rata-rata di Indonesia Siswa SMP, SMA, Mahasiswa, Guru, Dosen, bahkan para golongan-golongan pekerja keras pun telah memiliki beberapa akun seperti Facebook dan BBM. Orang-orang tersebutlah yang merupakan target pasar dari Online- shop dengan postingan postingan gambar dagangan (sepatu, Jam tangan, tas, rok, dll) yang sangat menarik ditambah dengan warna-warni plus model yang memakai produk-produk tersebut tambah memikat hati para pemakai media sosial.

(3)

Dengan adanya isu-isu tersebut maka terlihatlah adanya suatu kejanggalan terhadap pola pikir masyarakat yang sangat mudah terpengaruh dengan adanya online shop. Online shop juga memberikan hyperrealitas yang tinngi kepada masyarakat sehingga menyebaban mereka menjadi masyarakat yang konsumtif tanpa memandang produk yang dibelinya merupakan hal yang dibutuhkan oleh mereka atau tidak, atau jangan-jangan produk yang mereka beli tersebut hanyalah kebutuhan mereka yang ke-lima belas saja. Oleh sebab itu penulis akan membahas tentang hal-hal tersebut pada artikel ini yang berjudul “ONLINE-SHOP MELALUI MEDIA SOSIAL SEBAGAI BENTUK HYPERREALITAS DAN MENCIPTAKAN MASYARAKAT YANG KONSUMTIF”

PEMBAHASAN

Online-Shop saat ini memang sedang menjamur dan trend dikalangan penikmat dunia maya. Di jaman serba canggih seperti sekarang tidak perlu susah susah pergi ke toko atau mall untuk membeli barang kebutuhan kita, karena sekarang banyak yang menjual barang yang kita perlukan via online atau buka toko lewat internet. Online Shopping adalah suatu proses transaksi jual-beli melalui internet. Online Shopping mengusung motto Smart and Friendly.

Di Indonesia perkembangan Online Shop menunjukkan hasil yang signifikan. Ini ditandai dengan sudah banyak bermunculan penjual yang menerapkan sistem ini, Perkembangan yang signifikan ini didasari dengan mudahnya dalam memulai bisnis ini. Tanpa perlu modal yang besar Online Shop telah dapat dijalankan. Cukup dengan adanya foto produk dan akses internet sebagai modalnya. Selain itu, kelebihan lain yang disediakan dalam Online Shop adalah mudah dan murah untuk diakses, karena pembeli cukup dengan melihat contoh barang pada foto yang telah dipasang oleh penjual tanpa harus mendatangi toko tersebut. Kelebihan yang ditawarkan tersebut membuat para pebisnis muda yang berasal dari kalangan remaja tertarik untuk mencobanya. Tingginya minat remaja terhadap bisnis Online Shop ini semakin menambah pesatnya perkembangan Online Shop di Indonesia maupun dunia.

(4)

berlebihan hanya untuk mencapai kepuasan maksimal batin masyarakat. Perilaku konsumtif terjadi karena telah banyaknya tempat-tempat hiburan, mall dan tempat perbelanjaan, café, dan lain-lain sehingga pola konsumsi telah berubah yang mulanya hanya untuk memenuhi kebutuhan menjadi sarana pembentukan identitas diri dalam pergaulan sehari- hari. Perilaku konsumtif tersebut dialami juga oleh mahasiswa pada umumnya. Mahasiswa yang sebaiknya beraktivitas di dalam kampus untuk melakukan kegiatan- kegiatan yang bermanfaat malah lebih memilih menghabiskan waktunya berada di mall untk mengkonsumsi barang barang yang kurang diperlukan dan berada di tempat hiburan malam demi kepuasan semata untuk meningkatkan prestise. Ini berarti yang diinginkan mahasiswa dalam setiap perilaku konsumtifnya seperti untuk mendapatkan pakaian, handphone, sepatu, serta tempat-tempat yang menawarkan gaya hidup modern yaitu café, restoran cepat saji, club malam, dan lain-lain.

Online shop merupakan sarana atau toko untuk menawarkan barang dan jasa lewat internet sehingga pengunjung online shop dapat melihat barang-barang di toko online (Loekamto, 2012). Konsumen bisa melihat barang-barang berupa gambar atau foto-foto atau bahkan juga video. Toko online atau online shop bisa dikatakan sebagai tempat berjualan yang sebagian besar aktivitasnya berlangsung secara online di internet. Online shop memberikan beragam kemudahan bagi konsumennya diantaranya adalah adanya penghematan biaya, barang bisa langsung diantar ke rumah, pembayaran dilakukan secara transfer, dan harga lebih bersaing (Juju & Maya, 2010). Proses transaksi jual beli yang ada di online shop dilakukan dengan memberikan berbagai syarat kepada calon konsumen. Di antaranya adalah memberikan syarat kepada calon konsumen untuk registrasi sebagai anggota. Konsumen yang sudah menjadi anggota, selanjutnya dapat memesan produk. Setelah itu, konsumen membayar produk yang dibeli menggunakan kartu kredit atau melalui transfer bank. Pemilik toko online selanjutnya mengirimkan produk tersebut ke konsumen.

(5)

bujukan dari faktor-faktor emosional. Keuntungan toko online bagi pembeli adalah sebagai berikut (Juju & Maya, 2010): 1) Menghemat biaya, apalagi jika barang yang ingin dibeli hanya ada di luar kota. Pembeli tidak harus mengeluarkan biaya lebih untuk mencari barang tersebut di luar kota. 2) Barang bisa langsung diantar ke rumah. 3) Pembayaran dilakukan secara transfer, maka transaksi pembayaran akan lebih aman. 4) Harga lebih bersaing.

Howard Rheingold ( Piliang, 2004) mengatakan bahwa yang terbentuk pada komunitas online di dalam masyarakat sekarang adalah bentuk dari virtual community salah satunya media sosial seperti Facebook, Instagram, Path, Twitter, dan lain-lainnya. Pada virtual community semua bisa saling berlawanan, menyatu dan hadir bersama-sama membangun/merusak,moral/amoral, kebaikan/kejahatan, kebenaran/ kepalsuan). Dapat diartikan bahwa apa yang terjadi di komunitas virtual seperti pada Facebook dan Instagram dapat dirasakan gambaran layaknya dunia nyata seperti berinteraksi, berjualan, berdiskusi. Berjualan melalui virtual komunitas di media sosial menjadi sesuatu yang mudah, karena dapat mencari calon pembeli dari berbagai kalangan. Di samping kemudahan memperoleh calon pembeli juga mudah untuk menampilkan foto-foto produk yang bagus untuk dilihat, dan tak menjadi masalah entah itu palsu atau tidak.

Sekarang semua akun di media sosial bisa dijadikan saling terhubung antara yang satu dengan yang lainnya. Hiperteks berbentuk “clickable” memungkinkan pengguna internet dapat membuat atau memilih suatu item teks link dan dapat terhubung dari komputersatu ke yang lain dalam satu waktu. Hiperteks juga biasa digunakan untuk mencari informasi yang diinginkan (Dicks, Mason, Coffey, & Atkinson, 2005 ).Ketika seseorang terhubung dengan Facebook dan dapat berpindah dari akun satu ke yang lain ke yang, itu merupakan salah satu bentuk hiperteks. Hiperteks pada jejaring sosial Facebook, Instagram, dsb salah satu berbentuk suatu teks atau tulisan yang dapat ditambahkan gambar atau video dan link ke teks lain dan dapat terhubung dengan konten yang berbeda. Saya sendiri dapat berteman dan berhubungan di Facebook dengan online shop melalui hiperteks yang ada, dimana saya menambahkan dan ditambahkan oleh pemilik online shop pada jaringan pertemanan dengan menulis nama pada kotak pencarian atau dengan “mengklik” tulisan nama pada kotak add friend atau tambah pertemanan.

(6)

Foto yang dibuat oleh online shop merupakan penggambaran ulang produk yang dijual melalui sebuah simulasi. Hal ini karena bagi online shop foto merupakan salah satu bentuk hal yang penting. Sebenarnya tidak hanya bagi online shop tetapi juga para pelanggan. Misalnya Si Wati mahasiswi UNP jurusan bahasa inggris berpendapat bahwa foto-foto yang ditampilkan yang pertama kali dilihat, kemudian baru membaca keterangan kalau tidak jelas bertanya atau melihat komentar yang lainnya. Kemudian para penjual online shop yaitu menguangkapkan bahwa “ Foto yang diunggah sangat penting untuk itu diperlukan hasil foto dengan kualitas maksimal agar terlihat bagus, untuk itu diperlukan sedikit sentuhan (edit) untuk lebih memperjelas dan mempercantik tampilan”. Dari ungkapan tersebut dapat dimpulkan bahwa betapa pentingnya foto bagi online shop untuk menimbulkan hyperrealitas dan simulacra pada pelanggan di media sosial.

Simulasi produk pada foto biasanya online shop tidak bisa dibuat sembarangan. Biasanya online shop dalam pembuatan simulasi menggunakan bantuan model manusia dengan berbagai gaya yang menarik. Model yang dipilih untuk merepresentasikan produk memiliki standard atau syarat seperti memiliki tubuh yang langsing dengan wajah yang dianggap cantik dan tampan. Pemilihan warna pakaian ternyata juga ditentukan, biasanya online shop dalam penampilan fotonya menggunakan berbagai tema. Seperti tema jaman dahulu vintage dengan warna yang kalem atau warna- warna pastel. Sering juga online shop juga menampilkan fotonya dengan warna-warna ceria yang digambarkan dengan warna barang yang cerah atau corak yang ramai. Segala yang dilakukan online shop tersebut sebenarnya juga berguna untuk menonjolkan apa yang dijual.

(7)

Berbagai pengubahan foto yang dilakukan di Media sosial akan menimbulkan simulacra pada konsumennya. Disini simulacra representasi objek nyata, tetapi akhirnya mengaburkan representasi yang sebenarnya dan menciptakan representasinya sendiri. ruang realitas semu, dimana hanya membentuk realitasnya sendiri. Foto yang menarik yang dibuat menciptakan sebuah ruang yang dianggap pelanggan realitas. Hal ini terlihat ketika ada pelanggan yang yakin bahwa pada foto tersebut sangat mempengaruhi pemikiran pelanggan. Ketika mereka melihat foto-foto yang ada pada media sosial tersebut, maka khayalan pun timbul dalam diri mereka bahwa ketika mereka nantik membeli dan memakai produk tersebut, maka mereka akan menjadi seolah-olah seperti artis seperti yang ditampilkan dalam foto-foto di Media Sosial tersebut.

Tampilan Foto-Foto di Online Shop memggambarkan bagaimana keindahan sebuah produk dan kelebihan produk-produk oleh pemilik online shop . Mereka sengaja menata sedemikian rupa dengan caption atau sebuah tulisan-tulisan yang diletakan di dalam iklan dengan berbgai font atau bentuk tulisan yang sekiranya sangat menarik. Meraka sangat menghindari font atau jenis tulisan yang monoton tidak menarik untuk konsumen. Bagi pemilik online shop pemberian caption online shop lebih disempurnakan. Di samping itu, pengubahan berbagai foto dan font serta tulisan-tulisan yang di-posting di online shop tersebut membentuk sebuah simulacra. Simulakra ditimbulkan ketika foto membentuk sebuah reprsentasi objek yang sangat bagus dan seakan-akan jika konsumen memakai barang yang ada di online shop tersebut, maka mereka juga akan terlihat menarik. Sehingga dapat diartikan bahwasanya pelanggan terjebak oleh realitas semu pada foto yang ditampilkan di online shop pada Media Sosial tesebut.

(8)

membeli barang hanya berdasarkan keinginan tampil dengan gaya popular seperti model dalam foto. Citra sendiri adalah sesuatu yang terlihat oleh panca indra, dan makna dari citra sendiri bukan makna yang sepenarnya dari objek yang disimulasikan.

Bentuk Simulakra dan pencitraan yang ditimbulkan di online shop telah menghasilkan suatu bentuk hiperealitas yang tercipta dan ditampilkan melalui Media Sosial (Facebook, Instagram, dll). Hiperalitas sendiri merupakan sesuatu yang berkembang dalam masyarakat global saat ini, dan salah satu bentuknya adalah kecenderungan hipermodernitas yang dapat dilihat dari terjerat kemuajuan teknologi (Piliang, 2004). Kecenderungan hipermodernitas terlihat saat pemilik online shop tergantung pada teknologi guna membuat perubahan pada foto untuk ditampilkan di Facebook. Tidak hanya pemilik online shop yang terjebak dalam hipermodernitas tetapi juga pelanggan online shop yang sering belanja, dimana mereka membutuhkan teknologi untuk menyalurkan hasrat dan keinginan terhadap produk fashion.

Dari apa yang dilakukan baik pemilik online shop dengan penampilan fotonya atau pelanggan yang menyukai foto yang ditampilkan, hal ini menggambarkan hiperealitas. Foto yang ditampilkan online shop pada media sosial seperti Facebook sebagai sebuah hasil teknologi, telah menyebabkan kondisi antara realitas dan rekayasa tercampur baur dan tidak dapat dibedakan lagi antara palsu dan asli. Online shop dengan komoditas virtualnya telah menciptakan hiperealitas yang bukan hanya membaurkan realitas sebenarnya dari suatu objek, tetapi juga memusnahkan representasi dari objek. Pada objek foto dalam hal ini produk atau barang yang dijual online shop memiliki penanda atau bentuk dari objek yaitu produk fashion, dan petanda yaitu makna dari produk. Salah satu objek barang produk fashion yaing dijual online shop dalam hal ini berupa pakaian atau tas tidak memiliki makna atau fungsi sebenarnya. Penggeseran makna produk seperti pakaian terlihat saat pakaian yang dibeli pelanggan tidak lagi difungsikan sebagai penutup tubuh semata, tetapi dimaknai sebagai sesuatu yang trend atau popular di dunia maya sehingga harus dibeli.

(9)

menarik baik dari gambar atau tulisan dan keterangan pendukungnya. Dengan foto yang menarik calon pembeli diarahkan pada sebuah ruang semu dimana realitas yang berlebihan dihasilkan. Bukan hanya 1 foto yang dapat dinikmati tetapi banyak foto yang bisa dilihat dan dinikmati. Dalam sebuah foto calon konsumen ditunjukkan realitas palsu sehingga menggiring mereka pada sebuah imajinasi atau halusinasi, hal ini terlihat saat pelanggan online shop berpendapat dia membeli karena ingin tampil modis dan cantik seperti pada model di dalam foto. Di samping itu para pelanggan online shop terlihat terjebak dengan imajinasinya sendiri saat bagi mereka foto online shop merupakan realitas barang, meskipun sesungguhanya mereka mengatahui bahwa foto tersebut sudah diubah. Online shop sendiri terus menerus menghadirkan hiperelitas melalui foto, sehingga membuat pelanggan beranggapan bahwa realitas semu merupakan hal biasa bahkan dianggapnya sebagai realitas sesungguhnya.

Hiperealitas dan simulacra tidak dapat dipesahkan begitu saja, karena karena saling keduanya yang memang tidak dapat dipisahkan pada penelitian online shop ini. Dari segala hiperealitas tersebut yang menggiring para pelanggan online shop kepada tindakan konsumtif. Menurut Sumartono (2002) indikator perilaku konsumtif yaitu membeli produk karena iming-iming hadiah, membeli produk karena kemasannya menarik, membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi, membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status, memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan, munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi, dan mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda). Ruang virtual yang dibuat melalui foto dan ditampilkan melalui Facebook untuk menggambarkan ulang suatu produk, telah menciptakan hiperealitas dan tindakan konsumtif.

(10)

menimbulkan rasa ingin memiliki. Setalah membeli para pelanggan juga merasa puas dan senang karena telah berhasil membeli. Sehingga dapat dikatakan bahwa pelanggan online shop membeli bukan berdasarkan kebutuhan sebenarnya dari suatu produk. Dari apa yang dilakukan pelanggan online shop yaitu membeli untuk memenuhi nafsu dan keinginan.

Konsep nafsu menurut Lacan merupakan bentuk dorongan yang dapat membangun perasaan atau persepsi yang menyenangkan yang tidak dimiliki oleh kebutuhan. Kebutuhan merupakan suatu energi murni yang berbeda dengan nafsu (Piliang, 2004). Pelanggan membeli produk dari Online-Shop karena keinginan setelah melihat foto meskipun telah mengetahui foto telah diubah, kemudian membeli juga karena trend fashion telah mengarahkan mereka pada tindakan konsumtif. Tindakan konsumtif merupakan tindakan individu yang langsung terlihat dalam usaha mendapatkan dan menggunakan barang atau jasa termasuk pengambilan keputusan. Dan tindakan konsumtif terlihat saat pelanggan membeli untuk mendapatkan barang meskipun seperti halnya membeli kucing dalam karung. Para pelanggan hanya beranggapan bahwa yang mereka beli akan seperti pada foto. Pelanggan online shop disini juga menganggap suatu hal yang biasa terjadi apabila barang yang datang bisa berbeda dari yang difoto. Seharusnya kesadaran terhadap resiko perbedaan barang asli dan foto bisa menjadi pertimbangan sebelum membeli, tetapi tidak menjadi pertimbangan utama bagi pelanggan.

Semakin bagusnya produk yang di posting di Media Sosial dan semakin besarnya tuntutan bagi masyarakat untuk berpenampilan modis, maka akan semakin besar peluang masyarakat tersebut untuk berperilaku konsumtif. Hal ini nantinya akan memberikan dampak yang kurang baik bagi masyarakat tersebut. Sebab, dengan semakin konsumtifnya masyarakat dalam berbelanja online akan secara otomatis mengurangi kesempatan mereka untuk menabung. Hal ini dikarenakan, mereka lebih cenderung banyak membelanjakan uangnya dibandingkan dengan menyisihkan uangnya untuk menabung. Masyarakat yang lebih sering berbelanja melalui media sosial kebanyakan membeli produk yang dijual oleh online shop milik temannya.

(11)

dilakukan pelanggan dengan membeli berkali-kali produk online juga merupakan suatu bentu pemborosan, atau suatu bentuk menghabiskan uang tanpa adanya kebutuhan yang jelas. Dan yang terakhir apa yang dilakukan pelanggan online shop masuk pada tindakan konsumtif, karena para pelanggan membeli hanya karena mengejar hasrat dan keinginan semata.

KESIMPULAN

Perkembangan teknologi membawa banyak perubahan dalam gaya hidup masyarakat. Internet mengenalkan berbagai informasi mulai dari jejaring sosial, berita, video, foto, hingga berbelanja. Online shop merupakan fasilitas yang disajikan internet yang memberikaan berbagai kemudahan. Media sosial (facebook, instagram, path, tweeter, dll) merupakan jembatan yang paling meguntungkan bagi para pecinta Online Shop. Dengan berbagai macam postingan foto dan video di Media Sosial, Online Shop berhasil mempengaruhi pikiran para pemakainya. Foto-foto yang biasanya ditampilkan di media sosial dalam Online-shop sangat memperhatikan penampilan produk pada foto yang ditampilkan.

(12)

REFERENSI

Fatah, Maulana Subki. 2015. Pengaruh Online Shop Terhadap Perkembangan Generasi Muda Indonesia. Universitas Gunadarma.

Hotpascaman, S. 2010. Hubungan Antara Prilaku Konsumtif dengan Konformitas pada Remaja. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Mangunwijaya, Y. 1983. Teknologi dan dampak kebudayaannya. Yayasan Obor Indonesia.

Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang dilipat. Yogyakarta : Jalan Sutra

Rachmawati, Nadya. 2013. Dampak Positif dan Negatif dari Membeli dengan cara Online dan Langsung .Universitas Gunadarma.

Shohibullana, I. H. 2014. Kontrol Diri Dan Perilaku Konsumtif Pada Siswa SMA (Ditinjau dari lokasi sekolah). Jurnal Online Psikologi.

Sari , Chacha Andira .2015. Perilaku Berbelanja Online Di Kalangan Mahasiswi Antropologi Universitas Airlangga.Journal online.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kaitan ini, Athaillah Baderi berpendapat bahwa kesulitan pengumpulan angka kredit bagi para pustakawan, bukan semata-mata karena tidak bisa bekerja, atau

Secara simultan self assessment system yang tercermin dalam Pengusaha Kena Pajak (PKP), SPT Masa PPN, SSP PPN memiliki pengaruh signifikan positif terhadap

Identifikasi permasalahan dalam penelitian ini adalah pembangunan sistem pakar dalam mendiagnosa jenis penyakit kulit pada kucing.. Proses yang dilakukan oleh

Tujuan dalam penelitian adalah mengetahui besarnya pengaruh bauran pemasaran terhadap kepuasan konsumen, pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan konsumen, pengaruh

Hipotesis peneliti mengungkapkan bahwa pemanfaatan komunikasi masa tradisional yang tepat oleh pemimpin adat, tokoh agama dan jajaran pemerintahan desa dari kepala desa,

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), penelitian ini menggunakan pendekatan sosio normatif. Data di peroleh dengan menggunakan metode

Pengendalian ( Controlling ) adalah suatu usaha sistematik unttuk menetapkan standar kinerja dengan sasaran perencanaan, mendesai sistem umpan balik informasi, membandingkan

Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih, (Jakarta: Kencana, 2006), Cetakan pertama, hal.. Hukum asal menggunakan hak pilih adalah mubah, dalam arti boleh digunakan dan boleh juga