• Tidak ada hasil yang ditemukan

psikologi belajar dan pembelajaran dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "psikologi belajar dan pembelajaran dengan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI BELAJAR METAKOGNISI

Makalah Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Matakuliah Psikologi Belajar dan Pembelajaran

Dosen Pengampu : Nasarius Sudaryono,S. Pd., M. Si.

Disusun Oleh :

Anastasia Hariyati (131114038) Andrias Purwanto (131114058) Elisabet Dwi Retno (131114050) Mita Yuliani (131114068)

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini sering kita jumpai adanya siswa yang kurang mampu dalam merencanakan belajarnya. Mereka kurang mampu merencanakan belajarnya secara matang, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Hal ini terjadi karena yang bersangkutan kurang memiliki kemampuan untuk merencanakan, serta melihat kembali proses belajar yang telah terjadi. Kemampuan untuk dapat belajar dengan baik dipengaruhi oleh metakognisi yang baik juga. Metakognisi perlu ditumbuh-kembangkan pada pribadi siswa. Metakognisi berperan untuk membantu peserta didik dalam merencanakan strategi, mengendalikan, dan memberikan perintah bagaimana orang berpikir.

Melalui makalah singkat ini, penulis mencoba menguraikan beberapa pemahaman tentang metakognisi dan hal yang perlu dipahami bagi setiap pribadi terkait dengan metakognisi. Semoga apa yang kami tuangkan ini dapat

bermanfaat bagi para pembaca.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan metakognisi ?

2. Bagaimana peran metakognisi dalam pembelajaran?

3. Bagaimana Strategi pembelajaran metakognisi dilaksanakan?

C. Tujuan

1. Agar guru dan peserta didik mengetahui pengertian atau definisi dari metakognisi.

2. Agar guru dan peserta didik memahami peran metakognisi dalam pembelajaran.

3. Agar guru dan peserta didik dapat mengetahui bagaimana pembelajaran metakognisi dapat diterapkan dalam hidup sehari-hari.

(3)

A. Pengertian

Menurut Suherman (2001), metakognisi adalah suatu kata yang berkaitan dengan apa yang diketahui tentang dirinya sebagai individu yang belajar dan bagaimana dia mengontrol serta menyesuaikan prilakunya. Seseorang perlu menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Metakognisi adalah suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri, sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal.

Flavel & Brown (Veenman, 2006) menyatakan bahwa metakognisi adalah pengetahuan (knowledge) dan regulasi (regulation) pada suatu aktivitas kognitif seseorang dalam proses belajarnya.

Anderson & Krathwohl (Sukmadinata & As’ari, 2006) memberikan rincian dari pengetahuan yang dapat dikuasi atau diajarkan pada setiap tahapan kognitif. Dalam lingkup pengetahuan tersebut, pengetahuan metakognisi menempati pada tingkat tertinggi setelah pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan metakognisi meliputi pengetahuan strategik, pengetahuan tugas-tugas berpikir dan pengetahuan pribadi. Sebagai contoh pengetahuan metakognisi, yaitu pengetahuan tentang langkah-langkah penelitian, rencana kegiatan dan program kerja; pengetahuan tentang jenis metode, tes yang harus digunakan dan dikerjakan guru; dan pengetahuan tentang sikap, minat, dan karakter.

Berdasarkan pengertian dari beberapa tokoh di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa metakognisi merupakan kemampuan tertinggi seseorang setelah pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural, yang digunakan untuk melihat diri sendiri, serta meliputi pengetahuan strategik, tugas-tugas berpikir, dan pribadi, sehingga apa yang dilakukan dapat terkontrol secara optimal. Metakognisi dapat dikuasi atau diajarkan pada setiap tahapan kognitif.

B. Peran Metakognisi dalam Pembelajaran

(4)

Lester (Goos, 2000) mengungkapkan bahwa salah satu kajian yang menarik dalam topik pemecahan masalah adalah peran metakognisi dalam pemecahan masalah. Goos (2000) melakukan penelitian tentang peran metakognisi bagi siswa dalam kegiatan memecahkan masalah matematika. Mereka melakukan investigasi terhadap strategi siswa dalam sekolah

menengah ketika mereka memecahkan masalah matematika secara individu. Siswa-siswa diberikan soal matematika dan mereka kemudian

menyelesaikannya secara individu. Setelah siswa menyelesaikan soal tersebut, kemudian diberikan angket sebagai instrumen untuk mengetahui aktivitas metakognisi siswa.

Untuk mengetahui aktivitas metakognisi siswa digunakan instrumen monitoring diri metakognisi yang memuat pernyataan-pernyataan

metakognisi. Misalnya, saya yakin bahwa saya memahami masalah yang ditanyakan pada saya; saya mencoba menyajikan masalah dengan bahasa saya sendiri; saya mencoba untuk mengingat jika saya pernah menyelesaikan masalah yang mirip dengan masalah seperti ini; saya mengidentifikasi dan memeriksa setiap informasi yang terdapat dalam masalah ini; serta saya berpikir tentang pendekatan yang berbeda yang akan saya coba untuk mecahkan masalah ini. Siswa diminta untuk menyatakan “ya”, “tidak” atau “mungkin”.

Penelitian ini didasarkan pada rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa strategi yang digunakan siswa dalam memecahkan soal tidak rutin? 2. Bagaiamana siswa dapat mengatasi kesulitan dalam memecahkan

masalah sehingga dapat menyelesaiakan pekerjaannya?

3. Bagaiamana hubungan antara monitoring diri metakognisi dengan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika?

Dari penelitian itu, disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan strategi metakognisinya dengan baik ketika menyelesaikan soal matematika (pemecahan masalah) memiliki kemampuan lebih dalam menyelesaikan soal matematika. Siswa tersebut berusaha untuk menggunakan metakognisinya untuk mengatur langkah-langkah berpikir dalam menyelsaikan soal

(5)

2. Peran Metakognisi dalam Pembelajaran Bahasa

Pembelajaran bahasa yang memiliki kaitan dengan matekognitif adalah strategi membaca buku. Membaca buku adalah aktivitas yang menuntut strategi agar dapat membaca secara efisien. Aktivitas membaca yang efektif harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Pertama, menetapkan tujuan membaca; kedua, menetapkan urutan membaca bagian-bagian buku; dan ketiga, menetapkan strategi membaca agar efektif. Langkah-langkah ini menuntut aktivitas metakognisi karena siswa yang membaca harus

menentukan terlebih dahulu strategi apa yang akan dia gunakan. Siswa yang dilatih strategi membaca akan lebih mudah membaca buku dan mudah memahami buku dibandingkan dengan siswa yang tidak menggunakan strategi.

C. Pembelajaran Strategi Metakognisi

Strategi Metakognisi berkaitan dengan cara untuk meningkatkan

kesadaran tentang proses berpikir dan pembelajaran yang berlangsung. Apabila kesadaran itu ada, seseorang dapat mengontrol pikirannya.

Siswa dapat menggunakan strategi metakognisi dalam pembelajaran meliputi tiga tahap berikuti, yaitu: merancang apa yang hendak dipelajari;

memantau perkembangan diri dalam belajar; dan menilai apa yang dipelajari. Strategi metakognisi dapat digunakan untuk setiap pembelajaran bidang studi apapun. Hal ini penting untuk mengarahkan siswa agar bisa secara sadar mengontrol proses berpikir dan pembelajaran yang dilakukan siswa.

Dengan menggunakan strategi metakognisi, siswa akan mampu

mengontrol kelemahan diri dalam belajar dan kemudian memperbaiki kelemahan tersebut ; siswa dapat menentukan cara belajar yang tepat sesuai dengan

(6)

Strategi metakognisi dapat juga diajarkan kepada siswa untuk digunakan dalam memecahkan masalah dalam bentuk soal-soal matematika. Strategi metakognisi dapat digunakan siswa dalam proses pemecahan masalah, yaitu : memahami masalah, merencanakan strategi pemecahan, menggunakan/ menarapkan strategi yang telah direncanakan dan menilai hasil pekerjaan. Pembelajaran strategi metakognisi dapat dilakukan secara infusi dalam proses pembelajaran sehingga strategi metakognisi tidak menjadi materi khusus yang diajarkan. Guru dapat meningkatkan kemampuan strategi metakognisi dalam pembelajaran. Beberapa kemampuan strategi metakognisi siswa yang dapat dibiasakan berdasarkan modul yang dibuat oleh Pusat Perkembangan Kurikulum Malaysia (2001), yaitu :

1. merancang/mempersiapkan kegiatan belajar sendiri;

2. bertanya pada diri sendiri misalnya sebelum, ketika dan setelah membaca buku;

3. berfikir terlebih dahulu secara sadar sebelum melakukan sesuatu; 4. menilai dua jenis kegiatan untuk menentukan mana yang terbaik; 5. mengetahui tingkah laku yang terbaik karena melalui pujian guru atau

temannya;

6. menghindari mengatakan “saya tidak bisa”;

PENUTUP

(7)

dan pribadi, sehingga apa yang dilakukan dapat terkontrol secara optimal. Metakognisi dapat dikuasai atau diajarkan pada setiap tahapan kognitif.

Peran metakognisi dalam pembelajaran, yaitu untuk membantu proses pemecahan masalah belajar. Segala masalah yang timbul dalam pengalaman belajar dapat diatasi dengan adanya peranan metakognisi. Karenanya

metakognisi menjadi sangat penting dalam kehidupan setiap pribadi. Strategi Metakognisi berkaitan dengan cara untuk meningkatkan

kesadaran tentang proses berpikir dan pembelajaran yang berlangsung. Apabila kesadaran itu ada, seseorang dapat mengontrol pikirannya. Pikiran yang

terkontrol dengan baik akan membuat orang mampu mengendalikan diri dengan baik serta dapat menjalankan proses belajar secara optimal.

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya referensi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis para pembaca khusus pada penulis

Daftar Pustaka

Lidinillah, Dindin Abdul Muiz. 2013. Perkembangan Metakognisi dan Kemampuan Belajar Anak. [file.upi.edu] diunduh pada 2 September 2014.

Syaiful. 2011. Metakognisi Siswa dalam Pembelanjaran Matematika Realistik di Sekolah Menengah Pertama [download.portalgaruda.org] diunduh pada 2 September 2014.

Referensi

Dokumen terkait

KI-3: Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis dan spesifik sederhana berdasarkan rasa

Oleh karena itu, dalam pembelajaran materi sel yang memiliki banyak konsep pengetahuan konseptual dan faktual diharuskan peserta didik melakukan keterampilan proses

Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa ada hubungan antara kemampuan metakognisi dan hasil belajar siswa yaitu sebesar 0,873 sedangkan kemampuan

Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan

 KI-3 : Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,

Tidak ada tanda-tanda bendungan ASI 2.4 Konsep Penyuluhan Kesehatan 2.4.1 Pengertian penyuluhan Penyuluhan kesehatan penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik

Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan

Subtopik menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora