Telaah Media Massa:
Krisis Keteladanan Pemimpin Bangsa Bagi Generasi Muda
Indonesia Akibat Tayangan TV Yang Tidak Mendidik
Oleh: Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia1
Pembukaan
Media massa melalui badan penerbitannya, pers, di Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan dalam hal kebebasan. Bila kita buka kembali lembar sejarah masa lalu tepatnya pada masa orde baru dimana pihak pemerintah memiliki kekuasaan penuh untuk mengendalikan kehidupan politik termasuk pers sehingga perannya sulit sekali dirasakan oleh masyarakat Indonesia pada saat itu. Berita yang dibuatpun cenderung lebih menunjukkan sisi kebaikan dari pemerintah karena jika pers pada saat itu tidaklah sejalan dengan hasrat yang diinginkan oleh pemerintah, maka media yang dimilikinya tersebut akan terkena pembredelan serta pencabutan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).
Kini kita telah sampai kepada masa reformasi. Pada masa yang dianggap oleh kebanyakan masyarakat Indonesia sebagai puncak dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih demokratis. Pemerintah memberikan kebebasan sepenuhnya kepada media massa untuk mengawal jalannya pemerintahan yang juga sebagai jembatan penghubung antara pemerintah dan juga masyarakat. Namun sungguh disayangkan, media massa yang perannya dianggap sentral sebagai media penyalur informasi, pembuat keputusan dan mendidik yang dapat mengembangkan kehidupan sosial, tetapi malah mereka (baca: para aktor) pemilik media massa hanya melihatnya dari esensi kebebasan yang secara dangkal. Maksudnya, mereka hanya berlomba-lomba untuk membuat suatu acara yang saling menjatuhkan lawan politiknya. Selain itu para pemilik media massa lainnya yang berjalan pada esensi ekonomi, berlomba-lomba untuk dapat menarik minat masyarakat dengan membuat suatu acara yang menarik perhatian publik tanpa melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari acara yang di produksinya.
Sungguh disayangkan, media massa era reformasi ini bukan hanya media massa yang bebas, tetapi juga harus bertanggung jawab. Masyarakat
1 Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan Universitas Gadjah Mada dengan NIM:
harus mendapatkan tayangan yang baik dan benar namun bukan baik dan benar dari sudut pandang pers saja, tetapi juga menurut masyarakat. Jangan sampai tayangan-tayangan yang ada di TV kita hari ini diisi oleh tayangan yang tidak memiliki nilai positif dan kebermanfaatan. Hal ini akan memunculkan paradigma didalam masyarakat Indonesia khususnya generasi muda bahwa kebanyakan dari apa yang mereka lihat sehari-hari adalah gambaran negera kita saat ini. Jika tayangan di TV lebih banyak mengandung unsur celaan ataupun hinaan kepada orang lain, berarti masyarakat khususnya generasi muda akan mengatakan bahwa celaan maupun hinaan sudah menjadi hal yang legal di Indonesia. Hal ini pun akan menghapuskan budaya saling menghormati kepada orang yang lebih tua, budaya saling menyayangi kepada sesama (seumuran), budaya sopan dan bertutur kata yang baik, dsb.
Bayangkan, itu baru segelintir masalah yang ditimbulkan akibat tayangan TV yang tidak bermutu. Belum lagi mengenai pemberitaan-pemberitaan mengenai penyimpangan yang menyeret para petinggi negara. Seperti kita ketahui, tayangan di TV memiliki efek domino dimana bukan hanya aspek kepribadian saja yang rusak, tetapi aspek-aspek yang lain (psikologi, mental, watak, dsb.) dalam diri kita pun akan rusak jika kita terlalu lama mengikuti tayangan yang itu-itu saja.
Masalah ini akan terus ada, dan akan tetap ada jika tidak adanya niat dan aksi nyata yang dibangun untuk mengubah itu semua. Sekarang pertanyaannya, apakah kita rela generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu meneruskan perjuangan leluhurnya tidak memiliki rasa nasionalisme? Apakah kita rela generasi muda kita kehilangan budaya saling menghormati, sopan santun, bertutur kata yang baik, dsb? Jika tidak lalu apakah solusi dari permasalahan ini? Semua akan terjawab dalam bahasan-bahasan berikut.
Antara Pers dan Krisis Keteladanan Pemimpin Yang Dialami Bangsa Indonesia
Negara Indonesia telah berdiri selama 68 tahun. Sudah selama itulah kita semua menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Presiden Sukarno pernah mengatakan kepada kita bahwa, Jangan sekali-sekali melupakan sejarah
(jas merah) .2 Kalimat tersebut hingga kini masih terdengar ditelinga kita.
Bangsa ini sungguh kaya akan sejarah dan budaya. Sebagai generasi muda penerus bangsa selanjutnya, kita dituntut untuk mempertahankan sejarah dan budaya Indonesia. Jangan sampai kedua hal ini luntur dan termakan zaman akibat arus globalisasi yang kian terasa derasnya.
Bangsa ini telah melahirkan orang-orang hebat, sebut saja: Sukarno, seorang proklamator yang telah berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemudian, Mohammad Hatta, Sutan sjahrir, Mohammad Yamin, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, dan masih banyak lagi orang-orang hebat terlahir dari perut Ibu Pertiwi.
Namun, perlu penulis katakan bahwa kita semua sedang berada diujung persimpangan jalan. Akan terjadi suatu bencana mahadahsyat yang akan menimpa bangsa Indonesia khususnya generasi muda. Bencana ini akan menghapus segala ingatan-ingatan masalalu, nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, serta yang lebih parah adalah dekadensi moral. Timbullah pertanyaan, mengapa ini semua bisa terjadi? Jawabannya adalah kebanyakan dari generasi muda saat ini telah disibukkan dengan tayangan TV yang dirasakan kurang memiliki nilai positif dan manfaat. Dari bangun tidur hingga ingin tidur kembali, mereka para generasi muda disuguhkan oleh tayangan-tayangan yang membuat mereka melupakan segalanya. Mereka lupa belajar, lupa makan, lupa beribadah bahkan lebih jauh, mereka melupakan akan kayanya sejarah dan budaya dari bangsa ini.
Mereka tidak mengenal lagi siapa itu HS. Cokroaminoto, H. Samanhudi, WR. Soepratman, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Sutan Sjahrir, dsb. Sungguh disayangkan, mereka yang diharapkan mampu meneruskan tongkat perjuangan telah melupakan para pejuang dan pendiri bangsa ini. Mereka telah tergerus akal dan moralnya serta terlena akan arus globalisasi yang memunculkan tayangan TV yang tidak bermutu.
Sebagai contoh, pada saat kunjungan Jokowi dalam acara Deklarasi Jakarta Layak Anak di Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dia meminta seorang anak bernama Haris untuk menyanyikan lagu Padamu Negeri . Namun yang terjadi, Haris malah mau berjoget Bang Jali ketimbang menyanyikan lagu nasional tersebut.3
Pada kesempatan lain, ada kabar serupa dengan kejadian diatas yang datangnya dari Lampung. Dengan maraknya tayangan YKS (Yuk Keep Smile)
3
di TRANS TV yang mengedepankan hiburan berupa komedi, dan juga yang utama dan ditunggu-tunggu yaitu, Goyang Ala Caesar' di TV. Akibat dari tayangan tersebut, sejumlah siswa sekolah dasar di Bandar Lampung mempraktikkan goyangan itu sambil membuka resleting di depan kelas.4
Keadaan ini semakin diperparah oleh pemberitaan media mengenai carut marutnya pemerintahan Indonesia dibawah Kepemimpin SBY. Berbagai kasus korupsi hadir di TV kita. Sebut saja: kasus hambalang, kasus BLBI, kasus SKK Migas, kasus Simulator SIM, kasus suap MK, dan yang sedang marak adalah kasus dinasti Banten. Kasus inipun menyeret para petinggi negara dan pejabat pemerintah. Mereka yang seharusnya mampu menjaga amanah atas jabatan yang melekat pada dirinya dan mampu menjadi teladan bagi rakyat malah menjadi tokoh antagonis sebagai musuh dari rakyat dengan perilakunya yang buruk.
Sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo, mengatakan mereka (baca: politikus) memanfaatkan setiap peluang menumpuk harta dan kekayaan. Di depan publik mereka tampil dengan wajah shaleh, tapi di balik itu mereka dengan khusyuk memuja hedonisme. Kasus korupsi yang mengimpit beberapa petinggi partai politik, pejabat publik, serta aparat keamanan negara menjadi contoh. Tanpa sepenuhnya disadari, kemuakan pada praktik itu membuat masyarakat hidup tanpa teladan. Berulangnya kasus kekerasan komunal, mulai dari tawuran antar kampung dan pelajar, baku pukul karena rebutan penumpang, okupasi bantaran sungai, hingga keengganan warga digusur dari tanah negara yang mereka tinggali secara ilegal tak dapat dilepaskan begitu saja dari hilangnya keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat.5
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa antara pers dan krisis keteladanan yang dialami bangsa Indonesia memiliki keterkaitan yang luar biasa. Peran pers ternyata berpengaruh banyak terhadap pembentukan sifat dan perilaku didalam masyarakat. Hal ini pun menjadi tak terbantahkan atas kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita, seperti halnya pada contoh kasus yang telah saya sebutkan diatas.
4
http://www.tribunnews.com/regional/2013/10/27/tiru-goyang-caesar-siswa-sd-joget-dan-buka-resleting-di-kelas, diakses tanggal 24 Desember 2013, pukul 10.23 WIB.
5 Redaksi Kompas. Komunitas Minus Keteladanan . Hal. 6, Kompas, tanggal 20 Desember
Tayangan TV dan Akibat-akibatnya Yang Tidak Mendidik
UU No. 40 Tahun 1999 pasal 3 ayat 1 berbunyi: Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
Dalam hal ini, penulis menekankan akan pentingnya fungsi media. Sebagai contoh, pers hendaknya dapat menyuguhkan berita yang menyegarkan, humor atau jenaka yang mengandung daya imajinasi yang positif, karena ini merupakan kebutuhan dasar manusia (basic human needs). Fungsi ini cukup penting, karena manusia membutuhkan hiburan di sela-sela rutinitas kehidupannya. Fungsi ini dirancang untuk memberikan kesenangan atau perasaan rileks kepada pemirsa. Hiburan yang dimuat dalam pers dapat berupa pemuatan komedi, musik, goyangan, dan sebagainya pada beberapa acara di TV. Hal-hal yang bersifat hiburan seperti ini sering ditampilkan di media massa untuk mengimbangi pemberitaan tentang hal-hal berat; yang umumnya bersifat formal seperti berita politik mengenai pemilu, kesejahteraan sosial, dsb.
Pers sebagai media hiburan dimaksudkan agar dapat memberikan kesenangan kepada para pemirsa, sebagai upaya relaksasi dari kejenuhan. Namun hiburan- hiburan yang disuguhkan pers semestinya tidak keluar dari koridor- koridor yang boleh dan tidak boleh dilampaui. Hiburan yang sifatnya mendidik atau netral jelas diperbolehkan tetapi yang sifatnya melanggar nilai-nilai agama, moralitas, hak asasi seseorang, atau peraturan tidak diperbolehkan. Hiburan yang diberikan pers kepada masyarakat yang dapat mendatangkan dampak negatif, terutama apabila hiburan itu mengandung unsur-unsur terlarang seperti pornografi dan nilai-nilai yang telah saya sebutkan diatas seharusnya dihindari.
Banyak tayangan di TV kita akhir-akhir ini menyediakan acara hiburan tetapi mengandung unsur-unsur pornografi dan mengabaikan nilai-nilai agama, moralitas, dan hak asasi. Kemudian, media yang seharusnya membuat acara yang lebih kreatif dan inovatif malah terkesan ikut-ikutan. Akibat tren saat ini adalah yang berbau dangdut, goyangan dan gosipnya, tayangan-tayangan di TV kita dipenuh sesaki oleh berbagai acara seperti itu.
menyimpulkan beberapa tayangan TV yang dirasakan tidak mendidik. Tayangan tersebut antara lain:
1. Yuk Keep Smile (YKS), sebagai salah satu acara yang paling populer dikalangan pemirsa TV akhir-akhir ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa acara yang disiarkan oleh TRANS TV ini telah merajai seluruh segmen pasar Indonesia karena dapat diterima oleh seluruh kalangan. Dengan konten-konten seperti dangdut, goyangan, komedi, dsb, YKS menjelma sebagai acara yang disukai oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Tetapi, tanpa disadari oleh pemirsa, acara YKS memiliki dampak yang cukup serius bagi masyarakat Indonesia khususnya generasi muda. Didalam acara tersebut, terdapat beberapa propaganda seperti:
a. Musik dangdut, sebagai musik khas Indonesia kembali diterima dengan adanya acara YKS. Namun setelah masalah tersebut selesai, muncul kembali masalah baru bahwa goyangan yang ditampilkan di TV tidak sesuai dengan aspek moralitas karena cenderung mengedepankan sensualitas. Dalam acara ini terdapat goyang oplosan dimana menampilkan goyangan yang erotis dan memamerkan bagian tubuh dengan dandanan yang seksi. Goyangan ini dirasakan tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Kemudian, acara ini ditayangkan mulai pukul 19.30 WIB, dimana jam tersebut merupakan jam belajar anak. Artinya, karena begitu meluasnya acara YKS di masyarakat, sampai-sampai muncul opini gak lengkap kalau belum nonton YKS . Anak-anak yang seharusnya belajar rela meninggalkan buku-buku pelajarannya untuk menggantinya dengan menonton YKS. Inilah yang kemudian menjadi suatu keniscayaan bagi mereka generasi muda.
c. Gosip, dahulu menjadi sesuatu hal yang tabu untuk dibahas. Namun, gosip menjadi hal yang umum untuk dibahas akhir-akhir ini. Gosip isinya hanya membahas masalah orang lain dalam ranah yang lebih privat. Hal ini juga bertentangan dengan etika dimasyarakat, karena kita semua akan terbiasa membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya dan selalu ingin tahu urusan orang lain yang umumnya bersifat pribadi. Hal ini tentunya berdampak buruk dan nantinya hanya menjadi bahan perbincangan yang tiada guna dimasyarakat, khususnya bagi kaum terpelajar. Mereka yang seharusnya ikut aktif membahas masalah kenegaraan dalam forum resmi ataupun disaat waktu santai malah lebih disibukkan dengan bahasan gosip dari para selebritis tanah air.
2. Campur-campur, menjadi acara yang terkesan ikut-ikutan atau mungkin mencoba menandingi acara serupa. Acara yang tayang di ANTV pukul 18.30 WIB ini malah membuat acara dengan konten-konten yang hampir mirip dengan YKS. Menurut perspektif penulis, tidak ada hal-hal positif yang dapat dimaknai dari adanya acara ini. Karena acara ini hanya menyuguhkan talk show yang membicarakan kehidupan pribadi selebritis disertai celetukan-celetukan untuk mencela sesama pengisi acara. Inilah yang kemudian menjadi pembicaraan hangat ditengah masyarakat kita. Sebagai contoh dalam dunia pendidikan. Sebagian mahasiswa acuh dan enggan berkomentar terhadap kehidupan politik Indonesia. Namun jika mereka membahas masalah gosip selebritis, mereka akan hapal beserta kronologinya.
4. Pemberitaan TV Yang Menyudutkan Peran Pejabat Pemerintah, Tayangan-tayangan tersebut sebagian memang benar adanya tetapi masih banyak juga kasus sepertinya kecil tetapi dibesar-besarkan oleh media dan hal itu sama sekali tidak mencerdaskan akal dan pikiran kita, justru membawa kita kepada suatu kedangkalan dalam cara berpikir. Segala hal yang diserap oleh para generasi muda Indonesia di bangku pendidikan menjadi tiada berarti tatkala mereka ikut terlena dan memuja tayangan-tayangan tersebut tanpa mencoba untuk menganalisa dan memahami berita tersebut sebelum berpendapat.
Pemberitaan di media mengenai keburukan pejabat pemerintah selalu dijadikan top news. Sebagai contoh, Kasus Hambalang. Banyak dari kader-kader Partai Demokrat ikut terseret dalam kasus ini. Sebut saja, Nazaruddin, Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng. Mereka adalah pejabat pemerintah dan juga petinggi Partai Demokrat. Sebagai Partai Pemenang pemilu 2009, banyak lawan-lawan politiknya yang berusaha menjatuhkannya melalui media massa yang dimilikinya. Hal ini pula yang membuat media massa di Indonesia sebagai media informasi dan kontrol sosial menjadi tidak lagi independen, karena didalamnya terdapat kepentingan politik.
Banyak tuduhan yang ditujukan kepada Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan keluarga. Dalam pemberitaan, SBY seringkali dikaitkan dengan beberapa kasus yang menimpa kader Partai Demokrat, atau kasus-kasus yang sedang ditangani KPK. Tentunya SBY sebagai seorang Kepala Negara merasa dirinya tidak dihargai dan difitnah. Edi Baskoro Yudhoyono sebagai anak dari SBY juga difitnah mengenai lengan panjangnya. Menurut SBY, siapapun di negeri ini tidak boleh memberi toleransi terhadap fitnah, karena fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.6 Inilah peran media yang berusaha mematikan
karakter seorang pemimpin, sehingga pada akhirnya SBY yang dianggap berhasil pada periode pertama kembali terpilih menjadi presiden untuk periode kedua tidak lagi dihormati oleh rakyatnya, sehingga rakyat pun menjadi kehilangan sosok seorang pemimpin.
Padahal, penulis meyakini bahwa di Republik ini masih banyak orang-orang baik yang mampu untuk kita teladani tetapi mengapa selalu
6 http://www.beritasatu.com/nasional/156359-sby-kecam-fitnah-terhadap-dirinya.html, diakses
keburukan-keburukan yang ditampilkan dalam media massa. Inilah salah satu penyebab dari krisis keteladanan yang dialami bangsa ini. Akibatnya bangsa Indonesia khususnya para generasi muda berjalan seperti tanpa arah, ibarat pribahasa, bagai anak ayam yang kehilangan induknya . Akhirnya mereka tidak menghormati pemimpin (kepala negara), bertingkah laku tidak jujur/curang kepada sesama, saling menyakiti sesama (tawuran), meninggalkan pendidikan tetapi mengutamakan permainan, menggunjing/membicarakan keburukan orang lain dan masih banyak hal buruk yang akan lahir akibat tayangan-tayangan tersebut.
Itulah sebagian tayangan yang dianggap tidak mendidik dan berusaha menggerogoti akal dan pikiran kita. Sebenarnya masih banyak tayangan-tayangan yang dirasakan tidak bermutu, namun beberapa contoh diatas cukup untuk mewakili gambaran tayangan TV kita hari ini. Akibat yang ditimbulkan pun terbilang fantastis karena mempengaruhi banyak aspek yang menyangkut generasi muda sebagai aset masa depan bangsa.
Regulasi Penyiaraan: Peran Pemerintah Dalam Pers Indonesia
Lihat saja di TV, berbagai acara yang umumnya tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat banyak beredar. Acara yang hanya mengedepankan unsur-unsur tidak mendidik seperti celaan, atau hinaan yang jelas-jelas melanggar hak asasi manusia karena menurunkan harkat dan martabat malah dipertontonkan dihadapan publik. Berbagai tindakan tidak senonoh yang mengundang syahwat karena mengedepankan keseronokan seperti goyangan kini dipertontonkan. Lebih parahnya, hal yang sama diikuti oleh stasiun TV lain. Karena mengindikasikan terdapat nilai yang dapat dijual kepada masyarakat melalui dangdut dan goyangannya, stasiun TV kini berlomba-lomba untuk unjuk gigi, menyatakan siap berperang untuk mendapatkan konsumen.
Disisi lain, terdapat tumpang tindih antara kepentingan ekonomi dan politik pada sistem penyiaran TV kita. Sudah menjadi rahasia umum ketika kita melihat dan mendengar bahwa ada seorang pengusaha besar yang memiliki grup media massa terluas se Asia Tenggara, dan didalamnya terdapat sejumlah stasiun TV swasta di Indonesia. Kini dia juga berkiprah di dunia politik dengan mengikuti salah satu partai politik bahkan sudah berani untuk mengajukan diri sebagai calon wakil presiden.
Kemudian ada pula pengusaha besar dari pemilik stasiun TV yang lain lagi, juga menjadi pengurus Dewan Pembina sebuah partai politik yang baru lahir. Hal ini masih ditambah lagi dengan semakin mengerucutnya kepemilikan stasiun TV kepada segelintir orang atau pengusaha. Kondisi ini tentu beresiko bagi dunia penyiaran Indonesia. Sangat mungkin bila para pemilik stasiun TV tersebut menggunakan stasiun TV-nya sebagai media untuk memuluskan kepentingan politiknya. Dengan memahami kondisi semacam ini, kita dapat menyadari betapa pentingnya regulasi penyiaran pada dunia pers Indonesia.
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi tersebut telah membawa implikasi terhadap dunia penyiaran, termasuk penyiaran di Indonesia. Penyiaran sebagai penyalur informasi dan pembentuk pendapat umum, perannya makin sangat strategis, terutama dalam mengembangkan alam demokrasi di negara kita. Penyiaran telah menjadi salah satu sarana berkomunikasi bagi masyarakat, lembaga penyiaran, dunia bisnis, dan pemerintah. Perkembangan tersebut telah menyebabkan landasan hukum pengaturan penyiaran yang ada selama ini menjadi tidak memadai.
Peran serta masyarakat dalam menyelenggarakan sebagian tugas-tugas umum pemerintahan, khususnya di bidang penyelenggaraan penyiaran, tidaklah terlepas dari kaidah-kaidah umum penyelenggaraan telekomunikasi yang berlaku secara universal.
Atas dasar hal tersebut perlu dilakukan pengaturan kembali mengenai penyiaran. Undang-undang ini disusun berdasarkan pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
1. Penyiaran harus mampu menjamin dan melindungi kebebasan berekspresi atau mengeluarkan pikiran secara lisan dan tertulis, termasuk menjamin kebebasan berkreasi dengan bertumpu pada asas keadilan, demokrasi, dan supremasi hukum;
2. Penyiaran harus mencerminkan keadilan dan demokrasi dengan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban masyarakat ataupun pemerintah, termasuk hak asasi setiap individu/orang dengan menghormati dan tidak mengganggu hak individu/orang lain;
3. Memperhatikan seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, juga harus mempertimbangkan penyiaran sebagai lembaga ekonomi yang penting dan strategis, baik dalam skala nasional maupun internasional;
5. Lebih memberdayakan masyarakat untuk melakukan kontrol sosial dan berpartisipasi dalam memajukan penyiaran nasional; untuk itu, dibentuk Komisi Penyiaran Indonesia yang menampung aspirasi masyarakat dan mewakili kepentingan publik akan penyiaran;
6. Penyiaran mempunyai kaitan erat dengan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit geostasioner yang merupakan sumber daya alam yang terbatas sehinggapemanfaatannya perlu diatur secara efektif dan efisien;
7. Pengembangan penyiaran diarahkan pada terciptanya siaran yang berkualitas, bermartabat, mampu menyerap, dan merefleksikan aspirasi masyarakat yang beraneka ragam, untuk meningkatkan daya tangkal masyarakat terhadap pengaruh buruk nilai budaya asing.
Melalui amanat undang-undang tersebut, akhirnya pemerintah melahirkan suatu lembaga khusus bernama KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang lahir atas amanat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002, terdiri atas KPI Pusat dan KPI Daerah (tingkat provinsi). Anggota KPI Pusat (9 orang) dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan KPI Daerah (7 orang) dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Selain itu, anggaran program kerja KPI Pusat dibiayai oleh APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) dan KPI Daerah dibiayai oleh APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Dalam pelaksanaan tugasnya, KPI dibantu oleh sekretariat tingkat eselon II yang stafnya terdiri dari staf pegawai negeri sipil serta staf profesional non PNS. KPI merupakan wujud peran serta masyarakat berfungsi mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran harus mengembangkan program-program kerja hingga akhir kerja dengan selalu memperhatikan tujuan yang diamanatkan Undang-undang Nomor 32 tahun 2002 Pasal 3: "Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertaqwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil, dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia."7
7www.kpi go.id/index.php/2012-05-03-14-44-06/2012-05-03-14-44-38/profil kpi, diakses tanggal
Untuk mencapai tujuan tersebut, organisasi KPI dibagi menjadi tiga bidang, yaitu: bidang kelembagaan, struktur penyiaran dan pengawasan isi siaran. Bidang kelembagaan menangani persoalan hubungan antar kelembagaan KPI, koordinasi KPI serta pengembangan kelembagaan KPI. Bidang struktur penyiaran bertugas menangani perizinan, industri dan bisnis penyiaran. Sedangkan bidang pengawasan isi siaran menangani pemantauan isi siaran, pengaduan masyarakat, advokasi dan literasi media.
Melawan Musuh Bersama: Krisis Keteladanan
Bila kita berkaca kepada Keputusan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 009/SK/KPI/8/2004 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia BAB II Pasal 4 yang berbunyi: Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran ditetapkan dengan tujuan memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera. Kemudian pada pasal 5 dijelaskan bahwa: Pedoman Perilaku Penyiaran diarahkan agar: poin (b) lembaga penyiaran menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan poin (h) lembaga penyiaran melindungi publik dari pembodohan dan kejahatan.8
Melalui surat keputusan tersebut, seharusnya media memberikan sesuatu yang berdampak positif terhadap bangsa ini seperti memperkukuh integritas nasional, membina watak dan jati diri bangsa, mencerdeskan kehidupan bangsa, dsb. Tetapi media massa hari ini membaliknya dengan menyuguhkan tayangan-tayangan yang justru mengubur isme mereka, para generasi muda khususnya.
Proses penyiaran media massa dalam masyarakat yang sedang berubah dapat disaksikan dengan maraknya acara-acara hiburan di beberapa stasiun TV. Acara ini dilatarbelakangi oleh keberhasilan salah satu acara bernama YKS (Yuk Keep Smile) dari Trans TV. Acara ini memiliki konten yang berhasil memikat jutaan pemirsa di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek
seperti: dangdut, musik, lirik, busana dan goyangannya yang terpenting. Selain itu terdapat beberapa konten tambahan yang bisa jadi meningkatkan nilai jual dari acara tersebut. Contohnya, gosip-gosip mengenai kehidupan para selebritis. Kemudian media massa lainnya yang seharusnya membuat acara lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa malah membuat acara serupa (Campur-campur di ANTV) yang hampir tidak ada bedanya.
Selanjutnya pemberitaan yang buruk mengenai pejabat pemerintah menjadi isu yang menarik untuk dibahas. Segala keburukan-keburukan pemerintah dikeluarkan. Sepertinya media tidak melihat dari sudut lain (kebaikan) dalam memberikan berita sehingga opini publik yang terbangun pun akan menjadi rusak. Mereka tidak lagi mencintai pemimpin mereka, lebih jauh negara tempat mereka berpijak.
Hal inilah yang dilihat oleh para generasi muda Indonesia. Dangdut, goyangan, gosip, pemberitaan yang buruk mengenai Indonesia sepertinya menjadi santapan sehari-hari. Tanpa semuanya kita seperti kehilangan sesuatu. Dan karena hal ini pula, pengetahuannya mengenai pendidikan dan permasalahan bangsa kian tergerus dan menjadi dangkal.
Sekarang muncul pertanyaan. Bagaimana cara kita melawan krisis keteladanan yang menjadi musuh bersama ini? Tentunya ada banyak hal yang dapat dilakukan baik dari pemerintah maupun diri kita pribadi.
Dari pihak pemerintah sendiri sudah terdapat beberapa langkah tegas seperti: memberikan teguran pada seluruh lembaga penyiaran yang melanggar pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) terkait pemanfaatan lembaga penyiaran untuk kepentingan politik para pemilik. Selanjutnya, diperlukannya gerakan moral untuk menindaklanjuti tayangan-tayangan yang tidak mendidik di TV. Akhirnya, KPI masifkan Gerakan Masyarakat Sadar Media.9 Hal ini telah disampaikan pada acara Seminar
Literasi Bangsa di Deli Serdang, Sumatera Utara tanggal 21 Desember 2013. Namun sepertinya beberapa hal yang dilakukan oleh pemerintah belum cukup jika masyarakatnya sendiri tidak tergerak untuk melakukan suatu perubahan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai generasi muda (mahasiswa) yang salah satu tugasnya adalah berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan terahadap tayangan TV. Tindakan yang kita ambil
9
pun tanpa menimbulkan kekacauan (aksi turun ke jalan secara anarkis) untuk melawan musuh bersama ini, antara lain:
Pertama, kita harus mengalahkan ego ataupun keinginan kita untuk menonton tayangan TV tersebut. Ini merupakan langkah yang paling mendasar. Jika kita telah menjauhi tayangan-tayangan tersebut, maka kita telah melakukan hal kecil untuk memperbaiki kehidupan negeri.
Kedua, berusaha melibatkan diri dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Seperti contohnya, bagi mahasiswa dengan mengikuti kegiatan intra/ekstra kampus. Selain untuk menghindari waktu senggang dengan tayangan yang tidak bermanfaat, kita juga diajak untuk bersosialisasi, memiliki jaringan pertemanan yang luas, lebih berbobot dalam berdiskusi, ikut meningkatkan isme kita sebagai generasi muda dan yangg terpenting adalah belajar bertanggung jawab. Karena pada masa yang dianggap demokratis ini, kita mengira bahwa kebebasan individu diatas segalanya, namun hal itu perlu dikoreksi karena kebebasan dalam arti ini adalah kebebasan yang bertanggung jawab.
Keempat, memunculkan orang-orang baik dan hebat dari sekitar kita. Banyak orang-orang baik dan hebat yang ada di sekitar kita, namun kita kesulitan menyadarinya. Sekarang saatnya kita memunculkan orang-orang baik dan hebat itu ketengah-tengah kehidupan kita. Contohnya: rektor, dosen, teman, orangtua, tetangga, dsb. Kita dapat meneladani kehidupannya yang baik dan hebat itu. Orang tersebut tidak perlu terkenal, akan tetapi usaha dan kerja keras dalam bidangnya lah yang mampu menginspirasi kehidupan kita. Hal ini akan mencegah pesimisme dan menumbuhkan optimisme dalam tubuh generasi muda Indonesia.
Hal-hal diatas setidaknya dapat menjadi rujukan untuk kehidupan kita yang lebih baik. Kebanyakan orang mengatakan bahwa Indonesia kekurangan orang-orang baik dan hebat. Tetapi kenyataannya, saat ini telah banyak anak-anak generasi muda memenangi perlombaan sains tingkat dunia, bahkan menjadi seorang intelektual Indonesia di usia muda yang mampu menggerakkan orang lain, memberi pengaruh positif dan menjadi pemimpin di berbagai bidang.
Arti pemimpin pun tidaklah sesulit pelaksanakannya. Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keberanian untuk bermimpi, mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mempunyai kekuatan untuk melakukan suatu tindakan bila diperlukan.10 Keberanian untuk berubah itulah yang
menjadi bekal utama seorang pemimpin. Orang-orang Indonesia nyatanya juga mampu berkontribusi melalui banyak cara, seperti memproduksi tayangan TV yang kreatif, inovatif dan berkualitas; yang mampu memperkaya khazanah kita, membangun jati diri bangsa, menjaga integritas nasionalisme, dsb.
Dan saat ini, bangsa Indonesia harus semakin cerdas dalam memilih tayangan TV. Semakin banyaknya orang-orang terdidik menjadi kesempatan bagus bagi kita untuk bergerak menjauh dari hal-hal yang mengikis kecerdasan dan intelektual kita. Adalah suatu tanggung jawab bagi orang terdidik untuk mendidik masyarakat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh generasi muda untuk memperbaiki kehidupan negara ini. Belajar, berorganisasi, aktif dalam diskusi dan seminar, turun tangan dalam berbagai aksi-aksi kemanusiaan, bahkan beralih ke tayangan TV yang berbobot, atau sebagainya. Itu semua akan menjadi lebih berarti jika kita mampu mengajak orang-orang disekitar kita dan melakukannya bersama-sama. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan Kita, siapa lagi? Seperti kalimat berikut:
“Sikap diam kini tidak bisa lagi dipertahankan. Bahwa orang
baik harus berani berbuat dan tidak lagi mengandalkan ada orang baik di luar sana yang mau melakukannya . Anies Baswedan.11
Penutup
Krisis keteladanan seorang pemimpin telah tumbuh subur didalam buminya Indonesia. Kebutuhan akan hadirnya sosok pemimpin yang dapat menjadi panutan bagi masyarakat Indonesia khususnya pemuda sebagai generasi penerus bangsa sangat diperlukan. Media massa yang dianggap sebagai sumber informasi dan juga media hiburan terbaik, kini lebih banyak diisi oleh tayangan yang tidak bermutu, lebih banyak mengandung nilai-nilai yang dirasa menimbulkan efek buruk bagi yang menontonnya atau bahkan menghancurkan kecintaan kita terhadap pemimpin dan tanah air.
Gosip, cacian, hinaan, goyang yang mengundang sensualitas, pemberitaan buruk mengenai pejabat pemerintah menjadi makanan sehari-hari. Inilah yang kemudian menjadi musuh bersama di masyarakat yakni, krisis keteladanan. Masyarakat umum khususnya generasi muda menjadi kehilangan arah. Akibatnya, kini marak terjadi kasus kekerasan komunal, menggunjing, berlaku tidak wajar, tidak hormat kepada pemimpin, lupa akan sejarah dan budaya Indonesia, dsb.
Sikap seperti itu harus dihilangkan dari bumi Indonesia. Media massa harus memiliki tanggung jawab dan bekerja sesuai dengan fungsi dan perannya dalam rangka pembangunan bangsa, bukan malah menjadi penghambat kemajuan bangsa. Setiap orang juga harus mampu bersikap cerdas dan selektif dalam memilih tayangan TV dalam rangka menjaga idealisme dalam berpikir maupun bertindak. Langkah-langkah seperti: mengalahkan ego untuk menonton tayangan TV yang tidak bermutu, berusaha melibatkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat, beralih ke tayangan TV yang memperkaya khazanah dan menebar inspirasi serta memunculkan orang-orang baik dari sekitar kita.
Kita harus kembali bangkit dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sesungguhnya. Jangan sampai Indonesia menjadi
11 Redaksi Jawa Post. Tidak Restu Karena Tidak Tega . Hal. B26, Jawa Post, tanggal 20
bangsa yang seperti kerbau dicucuk hidungnya . Hanya diam, tanpa berbuat apa-apa. Sudah saatnya kita sebagai orang terdidik menjadi garda terdepan bagi generasi muda. Menjadi pelopor penggerak perubahan di tengah masyarakat demi tercapainya keutuhan bangsa ini; Indonesia kita bersama.
Daftar Pustaka
http://www.beritasatu.com/nasional/156359-sby-kecam-fitnah-terhadap-dirinya.html, diakses tanggal 30 Desember 2013, pukul 14.22 WIB.
http://www.kpi.go.id/index.php/lihat-terkini/38-dalam-negeri/31799-kpi-masifkan-gerakan- masyarakat-sadar media, diakses tanggal 4 Januari 2014, pukul 10.53 WIB.
http://www.kpi.go.id/index.php/2012-05-03-14-44-06/2012-05-03-14-44-38/profil kpi, diakses tanggal 4 Januari 2014, pukul. 10.56 WIB.
http://www.merdeka.com/jakarta/jokowi-banyak-program-acara-tak-mendidik-anak-anak.html, diakses tanggal 24 Desember 2013, pukul 10.12 WIB.
http://www.tribunnews.com/regional/2013/10/27/tiru-goyang-caesar-siswa-sd-joget-dan-buka-resleting-di-kelas, diakses tanggal 24 Desember 2013, pukul 10.23 WIB.
Mufid, Muhamad. 2005. Komunikasi dan Regulasi Penyiaran . Jakarta: Prenada Media.
Newman, B. 1997. The Ten Laws of Leadership. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Redaksi Jawa Post. Tidak Restu Karena Tidak Tega . Hal. B26, Jawa Post, tanggal 20 Desember 2013.
Redaksi Kompas. Komunitas Minus Keteladanan . Hal. 6, Kompas, tanggal 20 Desember 2013.