Fungsi dan Bidang Hukum Media Massa
Oleh: Khairullah, S.I.Kom, M.I.Kom Fungsi Media Massa
Dalam rangka menjalankan fungsi hukum media massa yang informatif, mendidik, mampu menyajikan hiburan yang sehat, serta menjadi kontrol dan perekat sosial, maka hukum dapat mengabdi pada dua sektor, yaitu:
1. Hukum sebagai alat penertib (ordering).
Dalam rangka penertiban ini, maka hukum media massa dapat menciptakan suatu kerangka bagi pengambilan keputusan redaksional dan mencegah delik pers, yang mungkin timbul dari suatu pemberitaan, penyiaran dan iklan yang dipublikasikan. Delik pers sendiri dapat diartikan sebagai suatu tindak pidana yang dilakukan oleh lembaga pers lewat pemberitaan yang menyalahi aturan.
Alias agar tidak melenceng dari cita-cita awalnya. Contonya seperti UU Penyiaran yang lahir, guna:
Pasal 2 - Penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, keberagaman, kemitraan, etika, kemandirian, kebebasan, dan tanggung jawab.
Pasal 3 - Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.
2. Hukum sebagai alat penjaga keseimbangan (balancing) dan keharmonisan antara kepentingan privat perusahaan dengan kepentingan publik.
Penerapan firewall ini sesuai dengan pernyataan A.J. Liebling dalam pendekatan dikotominya, bahwa pers sebagai unit organisasi memiliki dua belahan, dimana satu belahan menampakkan diri sebagai lembaga
masyarakat yang membawa pesan. Pada sisi lain, pers juga dilihat sebagai suatu bentuk usaha. Artinya, motif mencari keuntungan tidak lepas dari hal ini.
Sesuai dengan bunyi Pasal 4 UU Penyiaran, bahwa: (1) Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial; (2) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), penyiaran juga mempunyai fungsi ekonomi dan kebudayaan. Begitu pula dengan Pasal 3 UU Pers yang berbunyi: 1. Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial; 2. Disamping fungsi- fungsi tersebut ayat (1), pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi.
Lantas, mengingat fungsi dan peranan hukum media massa yang sangat strategis dalam menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak, sehat, adil, merata, seimbang dan benar, sesuai dengan hak masyarakat untuk tahu (#righttoknow). Maka, regulasi di bidang hukum media massa amat sangat diperlukan.
Untuk itulah UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran hadir, guna mengisi kekosongan hukum yang ada, atau mengganti hukum yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman (tuntutan masyarakat dan insan pers/penyiaran). Contohnya, sejarah perjalanan media massa di Indonesia yang memperlihatkan adanya pasang surut dari segi hukum. Khususnya pada era Orde Baru, dimana era tersebut diwarnai dengan ketentuan hukum perundang- undangan yang ‘mengekang’ kebebasan pers.
Adapun contoh hukum penyiaran yang tidak berlaku lagi, seperti Undang- Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran. Hal ini sebagaimana tertuang dalam pertimbangan UU Penyiaran yang baru, yang berbunyi: “UU No. 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran dipandang tidak sesuai lagi, sehingga perlu dicabut dan membentuk Undang-Undang tentang Penyiaran yang baru”. Pada Undang-Undang Penyiaran yang
baru, bahkan sensor isi siaran berlaku secara internal dan/atau lembaga yang berwenang (bukan KPI). Berikut bunyi aturan terkait:
Pasal 26 - (2) Dalam menyelenggarakan siarannya, Lembaga Penyiaran Ber- langganan harus: a. melakukan sensor internal terhadap semua isi siaran yang akan disiarkan dan/atau disalurkan.
Pasal 47 - Isi siaran dalam bentuk film dan/atau iklan wajib memperoleh tanda lulus sensor dari lembaga yang berwenang.
- Penjelasan: Tanda lulus sensor yang dimaksud dalam Pasal ini, hanya berlaku bagi jasa penyiaran televisi.
Pasal 39 P3 (1) Lembaga penyiaran sebelum menyiarkan program siaran film dan/atau iklan wajib terlebih dahulu memperoleh tanda lulus sensor dari lembaga yang berwenang.
(2) Lembaga penyiaran televisi wajib melakukan sensor internal atas seluruh materi siaran dan tunduk pada klasifikasi program siaran yang ditetapkan dalam peraturan ini.
Pasal 55 SPS (1) Program siaran dalam bentuk film wajib memperoleh dan menampilkan tanda lulus sensor berupa pernyataan lulus sensor dengan bukti nomor surat registrasi yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang dan ditayangkan sebelum disiarkan.
(2) Program siaran dalam bentuk promo film dan/atau iklan wajib memperoleh tanda lulus sensor yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang sebelum disiarkan.
(3) Tanda lulus sensor yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang sebagaimana yang diatur pada ayat (1) dan (2) di atas tidak serta- merta membuktikan kesesuaian program siaran dengan peraturan ini.
Pasal 56 SPS - Program siaran berlangganan yang berasal dari saluran-saluran asing wajib:
a. Melalui sensor internal.
Bahkan, dalam UU Pers terkait dengan penyensoran menolak dengan lebih tegas, seperti:
Pasal 4 - 2. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran.
- Penjelasan: Penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran tidak berlaku pada media cetak dan media elektronik. Siaran yang bukan merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan jurnalistik diatur dalam ketentuan undang-undang yang berlaku.
Bidang Hukum Media Massa
Adapun hukum media massa sendiri dapat dibagi ke dalam berbagai bidang.
Namun, dalam kajian ini kita hanya akan berfokus pada hukum media massa saja.
Hukum media massa adalah hukum yang mengatur tentang ketentuan-ketentuan media massa sebagai alat komunikasi massa. Hukum media massa meliputi hukum media cetak, hukum media elektronik (penyiaran), film, dan hukum media siber.
Ketentuan yang diatur adalah tentang masalah isi media dan prosedur penggunaan media. Dalam P3SPS, contohnya seperti:
Nilai-nilai kesukuan, keagamaan, ras, dan antargolongan;
Hak privasi Larangan dan
pembatasan rokok, NAPZA (narkotika, psikotoprika, dan zat adiktif), dan minuman beralkohol;
Hak siar; Program asing;
Pengawasan , sosialisasi, dan rekaman;
Norma kesopanan dan
kesusilaan;
Perlindungan kepada anak
Larangan dan
pembatasan muatan perjudian;
Bahasa, bendera, lambang negara, dan lagu
kebangsaan;
Siaran lokal dalam sistem stasiun jaringan;
Sanksi dan
penanggung
jawab;
dan Etika profesi; Perlindungan
kepada orang dan kelompok masyarakat tertentu;
Larangan dan
pembatasan muatan mistik, horor dan
supranatural;
Sensor; Muatan penggalangan dana dan bantuan
Sanksi
administratif
Kepentingan
publik; Muatan seksualitas;
Penggolongan program siaran;
Program siaran
berlangganan;
Muatan kuis, undian berhadiah, dan
permainan berhadiah lain;
Program Muatan Program Siaran iklan; Siaran
layanan
publik; kekerasan; siaran
jurnalistik; pemilihan
umum dan pemilihan umum kepala daerah;
Begitu pula dengan ketentuan yang diatur tentang kepemilikan media, dan sebagainya. Untuk kepemilikan media sendiri dalam UU Penyiaran, contohnya seperti:
Pasal 5 - g. Penyiaran diarahkan untuk: mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran;
Pasal 18 (1) (1) Pemusatan kepemilikan dan penguasan Lembaga Penyiaran Swasta oleh satu orang atau satu badan hukum, baik di satu wilayah siaran maupun di beberapa wilayah siaran, dibatasi.
(2) Kepemilikan silang antara Lembaga Penyiaran Swasta yang menyelenggarakan jasa penyiaran radio dan Lembaga Penyiaran Swasta yang menyelenggarakan jasa penyiaran televisi, antar Lembaga Penyiaran Swasta dan perusahaan media cetak, serta antara Lembaga Penyiaran Swasta dan lembaga penyiaran swasta jasa penyiaran lainnya, baik langsung maupun tidak langsung, dibatasi.
- (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembatasan kepemilikan dan penguasaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan pembatasan kepemilikan silang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) disusun oleh KPI bersama pemerintah.
Pasal 43 - (2) Dalam menayangkan acara siaran, lembaga penyiaran wajib mencantumkan hak siar.
- (3) Kepemilikan hak siar sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus disebutkan secara jelas dalam mata acara.
Pasal 17 - (3) Lembaga Penyiaran Swasta wajib memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memiliki saham perusahaan dan memberikan bagian laba perusahaan.
- Penjelasan: Yang dimaksud memberikan kesempatan kepemilikan saham adalah pada saat-saat penjualan saham kepada publik.
Tugas Perseorangan:
1. Memberikan contoh tangkapan layar ‘Hak Jawab’ di salah satu portal berita.
2. Memberikan contoh tangkapan layar ‘Aduan Masyarakat’ di situs web resmi KPI Pusat.
Tugas Kelompok:
1. Meringkas buku berjudul “Kasus Silet: Kemenangan Bagi Publik” milik Tim Bidang Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Pusat 2012.
Sumber Bacaan:
id.m.wikipedia.org/Hukum
Hapsari, Sinung Utami Hasri.(2012). Hukum Media: Dulu, Kini dan Esok. Riptek, Vol. 6, No. 1, Hal: 49-53.
Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran.