• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diferensiasi terhadap strategi komunikasi terkait

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Diferensiasi terhadap strategi komunikasi terkait"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA KEPEMIMPINAN DAN KOMUNIKASI TERKAIT KEBIJAKAN PENGENDALIAN TEMBAKAU

Disusun sebagai Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Kepemimpinan dan Komunikasi

Dosen: Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP, M.Si

Disusun oleh: Dian Budi Santoso 13/354377/PKU/13898

PASCASARJANA ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PEMINATAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KESEHATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA

(2)

DINAMIKA KEPEMIMPINAN DAN KOMUNIKASI TERKAIT KEBIJAKAN PENGENDALIAN TEMBAKAU

Indonesia merupakan surga bagi para perokok dan industri rokok. Menurut laporan terakhir WHO (2011), angka prevalensi merokok di Indonesia merupakan salah satu di antara yang tertinggi di dunia dengan 46,8 persen laki-laki dan 3,1 persen perempuan usia 10 tahun ke atas yang diklasifikasikan sebagai perokok. Jumlah perokok mencapai 62,8 juta, 40 persen di antaranya berasal dari kalangan ekonomi bawah. Meskipun faktanya kebiasaan merokok menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia dan menyebabkan lebih dari 200.000 (Barber dkk, 2008) kematian per tahunnya, Indonesia merupakan satu-satunya negara di wilayah Asia Pasifik yang belum menandatangani Kerangka Konvensi WHO tentang Pengendalian Tembakau. Dari hal tersebut dapat diketahui sikap pemerintah yang masih tarik ulur terkait kebijakan pengendalian tembakau. Keberadaan industri rokok di Indonesia memang dilematis, di satu sisi industri rokok merupakan penopang ekonomi negara karena cukainya merupakan sumber pendapatan yang besar, di sisi lain kita semua tahu bahwa rokok sangat berbahaya bagi kesehatan, baik itu perokok aktif, maupun perokok pasif di sekitarnya.

Pengendalian tembakau membutuhkan pendekatan secara intensif kepada berbagai pihak baik itu industri rokok, petani tembakau, maupun masyarakat sebagai konsumen rokok. Diferensiasi teknik komunikasi dibutuhkan agar pesan positif yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masing-masing pihak terkait.

Alternatif kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia

(3)

1. Menaikkan harga cukai rokok

Kenaikan pajak rokok adalah metode intervensi yang paling efektif untuk mengurangi permintaan terhadap tembakau. Pajak yang dibebankan dengan membuat harga rokok lebih tinggi 10% dari harga normal akan mengurangi kegiatan merokok sebesar 4% pada negara maju dan sebesar 8% pada negara miskin dan berkembang (Jha dan Chaloupka, 2000). Dengan naiknya harga cukai rokok maka perokok dengan daya beli rendah akan dipaksa untuk mengurangi konsumsi rokoknya sehingga diharapkan konsumsi rokok yang terutama ada pada masyarakat dengan kelas ekonomi menegah ke bawah dapat ditekan.

2. Kepedulian masyarakat, pendidikan, dan program berhenti merokok

Program peningkatan kepedulian masyarakat penting artinya karena memungkinkan perokok dapat membuat pilihan-pilihan berdasarkan informasi yang ia peroleh dalam masyarakat. Walaupun hubungan antara merokok dan kanker paru-paru dan penyakit-penyakit lainnya sudah jelas, banyak perokok masih belum peduli akan bahaya merokok terhadap dirinya dan orang-orang di sekitarnya yang terkena asap rokok (Barber, 2008). Dibutuhkan kesadaran dan kepedulian dari seluruh anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha mengurangi kebiasaan merokok. Beberapa contoh program peningkatan kepedulian masyarakat, pendidikan, dan program berhenti merokok adalah sebagai berikut:

a. Program di masyarakat dengan membuat iklan layanan masyarakat berupa serangan balik terhadap iklan rokok.

b. Program di sekolah terkait larangan merokok dan pengetahuan tentang bahaya merokok;

c. Ketersediaan program berhenti merokok untuk mendukung perokok yang ingin berhenti merokok.

(4)

3. Pengemasan dan pelabelan

Saat ini pada kemasan rokok yang beredar di Indonesia hanya tertera tulisan peringatan bahaya merokok. Namun banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan efektifitas peringatan bahaya merokok pada kemasan rokok seperti dengan menampilkan dampak dari merokok berupa organ yang rusak jika kita terus menerus mengkonsumsi rokok. Mencantumkan akibat yang lebih ganas bagi perokok pasif, mengingatkan para perokok bahwa keluarga mereka juga memiliki resiko penyakit akibat perilaku merokok.

4. Larangan menyeluruh terhadap iklan dan sponsor

Invasi perusahaan rokok di Indonesia terhitung sangat massive, selain sebagai salah satu sumber pemasukan negara yang besar perusahaan rokok juga menopang banyak kegiatan di masyarakat sebagai bagian dari promosinya. Hal ini membuat merk rokok begitu dikenal di masyarakat sehingga seolah tidak ada dampak negatif dari produk rokok tersebut di mata masyarakat. Oleh karena itu harus dibuat kebijakan yang melarang perusahaan rokok untuk beriklan di media, selain itu segala bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan rokok juga harus didistribusikan ke masyarakat tanpa mencantumkan merk rokok. 5. Denda bagi orang yang merokok di area publik

(5)

6. Menandatangani Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control)

Indonesia belum menjadi anggota FCTC sementara 176 negara atau mewakili 88% populasi dunia telah menjadi bagian dari FCTC (WHO, 2011). Apabila Indonesia tidak segera menantangani konvensi tersebut dan berkomitmen terhadap pengendalian tembakau maka epidemi tembakau dunia akan terkonsentrasi di Indonesia dan hal ini akan membawa bangsa Indonesia kepada kehancuran karena beban ekonomi yang tinggi dari produk tembakau dan berbagai penyakit yang ditimbulkannya.

Alternatif kebijakan di atas dapat dipertimbangkan pemerintah untuk dapat diimplementasikan guna usaha pegendalian tembakau di Indonesia. Namun kembali lagi dibutuhkan komunikasi yang intensif dan komprehensif antara pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan atau berkaitan langsung dengan tembakau. Menurut Dunn (2000), efektivitas kebijakan tergantung komunikasi kebijakan baik verbal maupun non verbal kepada publik.

Pembatasan ruang gerak industri rokok

Industri rokok memegang peranan cukup penting dalam sendi kegiatan kemasyarakatan di Indonesia. Banyak event atau kegiatan yang disponsori oleh perusahaan rokok, bahkan banyak klub olahraga dan atlit nasional yang operasionalnya dibiayai oleh perusahaan rokok. Tentu tidak mudah untuk merubah itu semua dan membuat peraturan yang langsung membatasi ruang gerak perusahaan rokok. Menutup pabrik rokok juga tidak mungkin dilakukan karena akan langsung berakibat pada kondisi sosial ekonomi di Indonesia. Para aktifis pro tembakau mengklaim bawha pengendalian tembakau akan berdampak negatif pada ekonomi negara karena akan berimbas pada banyaknya pekerja pabrik rokok yang kehilangan mata pencaharian (Simkhada dan Peabody, 2003).

(6)

tergolong muda. Survei Global Youth Tobacco 2006 menemukan bahwa di antara siswa usia 13-15 tahun, 24 persen laki-laki dan 4 persen perempuan mempunyai kebiasaan merokok. Di antara mereka yang pernah mencoba merokok, sekitar 1 dari 3 laki-laki dan 1 dari 4 perempuan mencoba merokok untuk pertama kalinya sebelum berusia 10 tahun (WHO, 2009). Jika cukai rokok dinaikan maka perokok usia muda yang rata-rata masih usia sekolah dan belum memiliki pendapatan pribadi akan kesulitan untuk membeli rokok sehingga dapat mengurangi konsumsi rokok di kalangan usia muda.

Jika langkah pertama sudah dilakukan, maka langkah berikutnya adalah dengan membatasi iklan rokok di media cetak dan elektronik. Pemasangan banner dan baliho rokok di tempat umum dilarang, kemudian iklan yang muncul di media elektronik seperti televisi juga harus didibatasi di jam-jam tertentu saja sehingga dapat meminimalisir efek dari iklan tersebut terutama bagi anak-anak dan remaja. Jika ruang gerak industri rokok sudah dibatasi maka bersmaan dengan itu harus dilakukan juga edukasi terhadap masyarakat terutama petani tembakau dan para konsumen rokok.

Komunikasi kepada petani tembakau

Petani tembakau memegang peranan penting dalam berkembangnya industri rokok di Indonesia. Tembakau dianggap merupakan komoditi yang memberikan keuntungan besar bagi petani, namun kenyataanya tidaklah demikian. Berikut beberapa fakta terkait petani tembakau di Indonesia menurut Tobacco Control Support Center – Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI, 2012):

 Jumlah petani tembakau tahun 2005 adalah 684.000 orang, 1,6% dari jumlah tenaga sektor pertanian dan 0,7% dari jumlah seluruh tenaga kerja di Indonesia. Laporan dari beberapa negara mencatat bahwa petani tembakau seringkali dipakai sebagai alasan menolak legislasi pengendalian tembakau.

(7)

 Petani tembakau mempersepsikan pendapatan kotor sebagai keuntungan yang lebih besar dari usaha lain. Sebagian besar petani mulai bertanam tembakau dengan modal pinjaman. Hal ini diakui petani memberatkan ketika harga tembakau turun.

 Petani tembakau hampir tidak memiliki posisi tawar karena kualitas dan harga tembakau ditetapkan oleh pembeli. Harga daun tembakau ditetapkan oleh grader berdasarkan kualitas yang mereka tetapkan sendiri. Masing-masing perusahaan memiliki grader yang akan menentukan grade. Keputusan tentang grade tidak diketahui oleh petani.

 Empat dari sepuluh petani pengelola mempunyai pembeli tetap, 43% adalah pabrik rokok dan hampir seluruhnya (91,7%) memiliki kontrak jual beli.

 Separuh dari kontrak dibuat untuk jangka waktu 3 tahun. Ini menguntungkan industri rokok karena menjamin ketersediaan stok tembakau dalam waktu yang cukup, sementara bagi petani tidak selalu karena ketika harga di pasaran tinggi petani tidak bebas menjual ke pembeli lain.

 Harga dalam kontrak ditetapkan oleh pabrik rokok. Posisi tawar petani tembakau sangat lemah, terutama yang berkaitan dengan penentuan kualitas tembakau di luar pengetahuan mereka.

Berdasarkan fakta tersebut sebenarnya petani tembakau dirugikan dari sisi ekonomi, tetapi membuat mereka beralih ke komoditi lain juga bukan merupakan hal yang mudah. Dibutuhkan pendekatan dan penyampaian informasi yang baik agar tidak terjadi resistensi di kalangan pentani tembakau. Solusi harus diberikan, misalkan dengan memberikan bantuan modal dengan syarat petani harus menanam komoditi lain, tentu dengan pendampingan dari pihak-pihak yang dapat membantu petani beralih dari komoditi tembakau.

(8)

berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Penyakit ini menimbulkan ketidaknyamanan dan kehilangan produktivitas (McKnight dan Spiller, 2005).

GTS disebabkan oleh nikotin dari permukaan daun tembakau yang terserap tubuh. Hal ini rentan pada petani yang sedang memanen tembakau, nikotin dapat larut pada air embun, hujan, dan keringat. Dalam 100 ml embun dapat terlarut 9 mg nikotin (McBride dkk, 1998). Apalagi jika petani memanen tembakau tanpa pengaman seperti pakaian yang terutup rapat termasuk masker dan sarung tangan, nikotin akan sangat mudah masuk dan terakumulasi di dalam tubuh.

Kerugian secara eknomi dan kesehatan ini mungkin tidak disadari sepenuhnya oleh petani tembakau, terutama para buruh tani kalangan ekonomi lemah. Informasi ini harus dapat dikomunikasikan dan diterima dengan baik oleh petani tembakau agar cara pandang mereka terbuka untuk segera beralih ke komoditi lain atau minimal mereka dapat mengantisipasi dampak negatif tembakau bagi kesehatan mereka.

Komunikasi yang baik dan intensif, adanya bantuan modal pertanian, serta adanya pendampingan penyuluh pertanian diharapkan dapat mendorong petani tembakau untuk segera beralih ke komoditi lain selain tembakau yang selama ini memang membuat para petani terjerat dalam siklus bisnis yang merugikan. Apabila hal ini dapat dilakukan maka laju produksi tembakau di Indonesia akan dapat dikendalikan.

Komunikasi kepada masyarakat

(9)

1995 2001 2004 0

5 10 15 20 25 30 35 40

Sumber: Demographic Institute (2010)

Grafik 1. Prevalensi perokok Indonesia kategori dewasa

1995 2001 2004

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Sumber: Demographic Institute (2010)

(10)

Prevalensi perokok di Indonesia terus mengalami kenaikan setiap tahunnya baik kategori dewasa maupun remaja, hal ini dapat dilihat pada Grafik 1 dan Grafik 2. Jika tidak dikendalikan, tren ini akan terus naik dan sangat merugikan masyarakat Indonesia karena bahaya dari rokok itu sendiri. Beberapa mitos tentang rokok yang berkembang di masyarakat menurut TSCS-IAKMI (2009) diantaranya:

1. Merokok menenangkan pikiran dan meningkatkan daya konsentrasi

Faktanya, perokok pemula merasa mual, pusing, batuk, dan mulut tak enak. Pengaruh nikotin akan membuat perokok kecanduan. Saat itu nikotin mulai menyerang otak dan secara berangsur akan membuat kecanduan. Pecandu rokok menjadi gelisah, berkeringat dingin dan sakit perut bila tidak merokok. Saat menghisap rokok, nikotin menyentuh otaknya lagi sehingga pecandu akan merasa tenang dan dapat berkonsentrasi kembali. Jadi merokok memang bisa menenangkan pada orang yang sudah kecanduan.

2. Merokok adalah hak individu yang tidak dapat diganggu gugat

Faktanya, merokok adalah ketidakberdayaan melawan adiksi nikotin dan efek negatif pada kesehatannya. Perokok bahkan tidak punya hak lagi untuk memilih merokok atau tidak karena dia sudah kecanduan sehingga mau tidak mau ia akan terus merokok. Perlu ditanamkan pengetahuan dan rasa tanggunggjawab sehingga para perokok tidak membawa risiko gangguan kesehatan akibat rokok pada anggota keluarga yang disayanginya.

3. Nikotin tidak menimbulkan kecanduan

Faktanya, pada tahun 1964, Departemen Kesehatan Amerika Serikat menyatakan bahwa nikotin merupakan zat adiktif. Studi berikutnya mengindikasikan bahwa ketagihan rokok adalah kondisi yang patologis seperti ketagihan narkoba.

4. Polusi udara oleh asap mobil lebih berbahaya dari asap rokok

(11)

5. Iklan rokok tidak mencari perokok baru tetapi agar perokok beralih ke produk baru

Faktanya, bagi pecandu rokok dengan atau tanpa iklan pun ia akan tetap mencari rokok. Jadi iklan rokok lebih ditujukan mencari perokok baru terutama anak-anak dan remaja yang seringkali mudah terjerat rokok dan seterusnya akan menjadi perokok. Hal ini yang harus kita sadari bersama kenapa iklan rokok seharusnya dibatasi atau dihilangkan.

6. Peningkatan harga rokok akan menurunkan penerimaan negara dari cukai tembakau karena berkurangnya konsumsi

Faktanya, penerimaan cukai tembakau naik 13 kali lipat antara tahun 1994-2007 padahal saat itu harga rokok naik tinggi. Studi Bank Dunia juga menunjukkan bahwa peningkatan cukai akan menaikkan penerimaan negara karena lambat dan sedikitnya penurunan konsumsi rokok. Peningkatan penerimaan cukai tembakau akibat naiknya harga jauh lebih tinggi dari turunnya penerimaan akibat turunnya konsumsi. Pada tahun 2005, penerimaan negara dari cukai rokok mencapai 32,6 triliun rupiah tetapi pengeluaran negara dan rakyat untuk pengobatan akibat rokok mencapai 167,1 triliun rupiah (Kosen, 2008). Tentu hal ini dapat dijadikan evaluasi dan dasar bagi pemerintah dalam pengambilan kebijakan terkait penaikan harga cukai rokok.

(12)

Promosi kesehatan harus dibekali dengan ilmu komunikasi yang memadai. Komunikasi kesehatan masyarakat difokuskan pada bagaimana agar masyarakat mengetahui efek perilaku sehari-hari terhadap status kesehatan mereka sendiri (Hornick, 2002). Komunikasi kesehatan membantu merubah kebiasaan dari sejumlah audiens terkait masalah kesehatan sepesifik pada suatu periode (Elayne dan Vicki, 1995). Contohnya, jika ada pasien yang datang ke dokter dengan keluhan yang berhubungan dengan pernapasan atau paru-paru hendaknya dokter menanyakan kebiasaan merokoknya atau apakah ada anggota keluarganya yang merokok agar tertananam dalam mindset pasien bahwa merokok memang membawa akibat buruk bagi kesehatannya. Sampaikan juga bahwa semakin cepat cepat ia berhenti merokok maka semakin cepat ia akan sembuh (Edwards, 2004).

(13)

Penutup

Alternatif kebijakan dalam rangka pengendalian tembakau telah tersedia bagi pemerintah. Kunci keberhasilan dari implementasi kebijakan tersebut adalah keefektifan komunikasi dengan pihak terkait serta ketegasan dalam penegakan peraturan. Dibutuhkan sikap tegas pemerintah dalam pengambilan kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia.

(14)

Daftar Pustaka

Aditama, T.Y., J., Pradono, K, Rahman, C.W Warren, N R Jones, S, Asma, and J. Lee, 2006. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia. http://209.61.208.233/LinkFiles/GYTS_Indonesia-2006.pdf. [Diakses tanggal 20 Desember 2013]

Azwar, S. (2000). Sikap Manusia : Teori dan Pengukuran. Yogyakarta : Liberty.

Barber S., Adioetomo S.M., Ahsan A., Setynoaluri D., 2008. Tobacco economics in Indonesia. Paris: International Union Against Tuberculosis and Lung Disease. http://www.tobaccofreeunion.org/assets/Technical %20Resources/Economic%20Reports/Tobacco%20Economics%20in

%20Indonesia%20-%20EN.pdf. [Diakses tanggal 19 Desember 2013]

Brehm, Sahron S., Kassin, Saul M. 1990. Social Psychology. Houghton Mifflin.

Clift, Elayne dan Freimuth, Vicki. 1995. Health Communication: What Is It and What Can It Do for You?. Journal of Health Education, volume 26 number 2 page 68-74 Mar-Apr 1995.

Demographic Institute. 2010. Boocklet of Tobacco Economics in Indonesia. http://whoindonesia.healthrepository.org/bitstream/123456789/643/1/Bookl et%20of%20Tobacco%20Economics...(INO%20FFC%20011%20XK %2008%20SE-09-228726).pdf. [Diakses tanggal 19 Desember 2013]

Dunn, William N. 2000. Analisa Kebijakan Publik. Terjemahan Samodra Wibawa dkk., Edisi Kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Edwards, Richards. 2004. The Problem of Tobacco Smoking. British Medical Journal 2004 Januari 24; 328(7433): 217-219.

Effendy, O.U. 2003. Ilmu, teori dan filsafat komunikasi. Bandung : PT citra aditya bakti.

Hornick, Robert C. 2002. Public Health Communication: Evidence for Behavior Change. NJ: Lawrence Erlbaum Associates Inc.

Jha, Prabhat dan Chaolupka, Frank J. 2000. The Economics of Global Tobacco Control. British Medical Journal 2000 August 5; 321(7257): 358-361.

(15)

Maulana, Heri D.J. 2007. Promosi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

McBride, Jeffry S., Altman, David G., Klein, Melissa., White, Wain. 1998. Green Tobacco Sickness. Tobacco Control 1998;7:294-298.

McKnight, Robert H dan Spiller, Henry A. 2005. Green Tobacco Sickness in Children and Adolescents. Public Health Rep. 2005 Nov-Dec; 120(6): 602-606.

Simkhada, Riti dan Peabody, Jhon W. 2003. Tobacco Control in India. Bulletin of the World Health Organization 2003; 81: 48-52.

TSCS-IAKMI. 2009. Fact Sheet Mitos dan Fakta tentang Tembakau. http://tcsc-

indonesia.org/wp-content/uploads/2012/08/Fact_Sheet_Mitos_Dan_Fakta_Tentang_Tembaka u.pdf [Diakses tanggal 22 Desember 2013]

TCSC-IAKMI. 2012. Fact Sheet Petani Tembakau di Indonesia. http://tcsc-indonesia.org/wpcontent/uploads/2012/08/Fact_Sheet_Petani_Tembakau_D i_Indonesia.pdf. [Diakses tanggal 20 Desember 2013]

WHO (World Health Organisation) , 2009. Indonesia (Ages 13-15), Global Youth

Tobacco Survey (GYTS) Fact Sheet.

http://www.searo.who.int/entity/noncommunicable_diseases/data/ino_gyts_ fs_2009.pdf. [Diakses tanggal 19 Desember 2013]

Gambar

Grafik 1. Prevalensi perokok Indonesia kategori dewasa

Referensi

Dokumen terkait

This study aims to determine the effect of the debt to equity ratio, return on assets, current ratio, and maturity of sukukin the sukukratings to company issuing the sukuk listed

KAMPANYE SOSIAL GUNA MENGURANGI TINGKAT PENYAKIT AKIBAT KERJA DI KALANGAN WANITA PEKERJA ( STUDI KASUS : KOTA SEMARANG ).. Menyatakan bahwa proyek akhir ini adalah keseluruhan

Pada penelitian ini akan ditambahkan mekanisme TLS dan crypto AES-CBC untuk melindungi data yang dikirim dari sensor nodemcu

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui Bagaimana hubungan antara pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa ( BPD ) dalam pembangunan desa di bidang

Edi Santoso, M.Sc, selaku dosen pembimbing Teknik Industri yang telah banyak meluangkan waktu dan kesabaran untuk memberi petunjuk, masukan, dan bimbingan yang berharga pada

Jumlah kuman pada alas sholat seluruh masjid yang diperiksa positif dengan diperoleh ALT terendah adalah 103 koloni/cm 2 dan tertinggi 1.483 koloni/cm 2 , sedangkan tungau

11 Jarak antar sel lebih besar, akar lebih pendek dan rasio akar/tajuk lebih rendah dan pada tanaman legume,bintil akar lebih sedikit dan lebih kecil.. Bila

Belum holistiknya proses penyusunan rencana kerja pembangunan daerah terlihat dari beberapa proses tahapan musrenbang, mulai dari musrenbang tingkat kelurahan,