• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN PEMELIHARAAN MESIN ROVING STRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MANAJEMEN PEMELIHARAAN MESIN ROVING STRI"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KERJA PRAKTEK INDUSTRI

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan mata kuliah Kerja Praktek dan Seminar di Program Studi D4 Teknik Otomasi Industri

Jurusan Teknik Elektro

Oleh: Ogi Fathu Rizki NIM 141364025

(2)

Diajukan Oleh Ogi Fathu Rizki

141364025

Pelaksanaan di perusahaan/industri :

Tanggal : 03 Juli 2017 s/d 05 Agustus 2017

Tempat : PT. Indo-Rama Synthetics Tbk,. Indo-Rama Teknologies Complex

Ketua Program Studi Teknik Otomasi Industri Politeknik Negeri Bandung

(3)

PT. INDO-RAMA SYNTHETICS TBK., INDORAMA TEKNOLOGIES COMPLEX

”Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa laporan

Praktek Kerja Lapangan ini adalah hasil murni hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada perkerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi dalam laporan Praktek Kerja Lapangan ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/Tugas Akhir/ Laporan Kerja Lapangan lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menggunakannya.

Saya memahami bahwa laporan Praktek Kerja Lapangan yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan

(4)

iv ABSTRAKSI

(5)

v ABSTRACT

In this modern era, industrial world are consistantly forced to keep improving the efficiency of the production process by replacing the convetional machine with the modern machine. This modern machine has

better qulity, easy to operate and the system is easy to modify if it‟s needed.

PT. Indo-Rama Synthetics., Indorama Teknologies Complex is one of international textile companies. This company is using Roving Stripper Machine to improve their production efficiency. The machine is used to release the yarn which is still sticked on the bobbin. Roving Stripper machine is consisted of four sensors. One controller which is actually PLC (Program Logic Control) Omron type CP1E, one inverter to control the rotation and two outputs, which are Selenoid Valve and Induction Motor 3 Fasa. The finding of this study is specifically on Maintenance program of Roving Striper Machine. There are two important activities in maintenance program which are Preventive Maintenace and Recovery/replacing Maintenance. In Preventive maintence, the company using schedule of once in three months. While in Replacing or Emergency Maintenace, it will be based on the needs of it whether there is a problem or not.

(6)

vi KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta kesehatan yang selalu dijaga-Nya kepada kita semua, tidak lupa juga kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. sehingga penulis diberikan kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan kegiatan kerja praktek di PT KMK Plastics Indonesia, dan berhasil menyusun laporan selama praktek kerja lapangan. Laporan ini disusun sebagai pertanggung jawaban penulis selama masa kerja praktek di PT KMK Plastics Indonesia dan sebagai salah satu syarat memenuhi mata kuliah kerja praktek dalam kurikulum program studi D-IV Teknik Otomasi Industri Politeknik Negeri Bandung.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan ini, baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam hal Ilmu yang berupa materi maupun motivasi , pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT karna berkat rahmat dan karunianya penulis dapat menyusun laporan kerja praktek ini.

2. Bapak Yusup dan Ibu Lilis Rohamah selaku orang tua penulis yang senantiasa mendoakan penulis dan mendukung penulis baik moril maupun materil.

3. Bapak Malayusfi, BSEE., M.Eng selaku ketua Jurusan Teknik Elektro. 4. Bapak Sarjono Wahyu Jadmiko, ST., M.Eng., selaku ketua Program Studi

D4-Teknik Otomasi Industri.

5. Bapak Siswoyo, Drs., ST., MSIE. selaku dosen pembimbing di Politeknik Negeri Bandung yang telah memberikan ilmu, pengarahan, dan dorongan dalam penyusunan laporan kerja praktek ini.

(7)

vii 7. Bapak Yusep Yudiana, selaku HOS (kepala seksi) instrument sekaligus pembimbing Kerja Praktek di PT. Indo-Rama Synthetics Tbk,. Indo-Rama Teknologies Complex.

8. Seluruh staf pengajar khususnya Program Studi Teknik Otomasi Industri Politeknik Negeri Bandung.

9. Seluruh jajaran direksi PT. Indo-Rama Synthetics Tbk,. Indo-Rama Teknologies Complex.

10.Teman-teman Program Studi Teknik Otomasi Indutri dan teman-teman ankatan listrik 2014, khusunya Moch Benny, Ridwan dan Sony Faizal sebagai partner kerja praktek yang telah memberikan dukungan dan semangatnya.

11.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini banyak sekali kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi tercapainya penulisan laporan yang lebih baik dan juga mendekati kesempurnaan. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandung, 05 Oktober 2017

(8)

viii

I.3 Maksud dan Tujuan ... 2

I.4 Manfaat... 3

I.4.1 Bagi Mahasiswa ... 3

I.4.2 Bagi Lembaga Pendidikan ... 4

I.4.3 Bagi Perusahaan ... 4

I.5 Waktu dan Tempat Kerja Praktek Industri ... 4

I.6 Rumusan Masalah ... 4

I.7 Batasan Masalah ... 5

I.8 Metode Pengumpulan Data ... 5

I.9 Sistematika Penulisan ... 5

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN ... 7

II.1Sejarah Perusahaan ... 7

II.2 Visi, Nilai-nilai dan Motto Perusahaan ... 8

II.3 Pernyataan Kebijakan Indorama ... 9

II.4Struktur Organisasi PT. Indo-Rama Synthetics Tbk - Indorama ... 11

(9)

ix

II.5.1 Lingkungan Produksi ... 12

II.5.2 Lingkungan Engineering ... 13

II.5.3 Lingkungan Service/Pelayanan ... 14

II.6Kegiatan Perusahaan ... 15

II.7Tujuan Perusahaan ... 17

II.8Sistem Kerja ... 17

II.9 Kesehatan dan Keselamatan Kerja ... 18

II.9.1 OHSAS 18001:2007 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) ... 18

II.9.2 Prosedur ... 19

II.10 Landasan Teori ... 20

II.10.1 Motor Induksi ... 20

II.10.2 Sensor ... 22

II.10.3 Programmable Logic Controller ... 31

II.10.4 Inverter / Motor Drive AC 3 Fasa ... 33

II.10.5 Sistem Aktuator Pneumatik ... 34

II.10.6 Jenis-Jenis Perawatan ... 37

II.10.7 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pemeliharaan ... 39

BAB III HASIL KERJA PRAKTEK ... 41

III.1 Proses Produksi Polyester ... 41

III.1.1 Diagram Alur Produksi Polyester Spinning 8 ... 41

III.1.2 Proses Produksi Polyester Spinning 8 ... 42

III.2 Proses Pemintalan Benang ... 43

III.2.1 Raw Material ... 43

III.2.2 Lay Down ... 43

III.2.3 Blowing Room ... 43

III.2.4 Mesin Carding ... 45

III.2.5 Mesin Drawing ... 46

III.2.6 Mesin Simplex (Roving) ... 48

III.2.7 Mesin RingFrame ... 49

III.2.8 Mesin Winding ... 50

(10)

x

III.2.10 FinishProductGodown ... 51

III.3 Mesin Roving Stripper ... 52

III.3.1 Prinsip Kerja Mesin Roving Stripper ... 53

III.4 Komponen Mesin Roving Stripper ... 54

III.4.1 Morot Induksi 3 Fasa ... 55

III.4.2 PLC (Programmable Logic Controller) ... 55

III.4.3 Inverter ... 56

III.4.4 Sensor ... 57

III.4.5 Sistem Pneumatik ... 62

III.5 Perawatan Pada Mesin ... 64

III.5.1 Tujuan Di Lakukannya Perawatan ... 64

III.5.2 Sistematika Kegiatan Pemeliharaan ... 65

III.5.3 Penyebab Terjadinya Kerusakan ... 67

III.6 Pemeliharaan Pada Mesin Roving Stripper ... 68

III.7 Analisis Masalah ... 70

III.7.1 Masalah Yang Sering Terjadi Pada Mesin Roving Stripper ... 70

III.7.2 Penyebab Terjadinya Masalah Pada Mesin Roving Stripper ... 70

III.7.3 Solusi Pemecahan Masalah ... 71

BAB IV KESIMPULAN ... 73

IV.1 Kesimpulan ... 73

IV.2 Saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 75

(11)

xi DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Visi, Nilai-nilai dan Motto Perusahaan ... 8

Gambar II.2 Struktur Organisasi PT. Indo-Rama Synthetics Tbk ... 11

Gambar II.3 Konstuksi sederhana motor induksi [1] ... 20

Gambar II.4 Rangkaian ekivalen motor induksi 3-fasa perfasa [1] ... 21

Gambar II.5 Saklar Magnet [2] ... 23

Gambar II.6 Proximity Induktif [3] ... 25

Gambar II.7 Proximity Kapasitif [3] ... 26

Gambar II.8 Photoelectric Tipe Retroreflektif [3] ... 28

Gambar II.9 Sensor foto jenis Difuse [3] ... 29

Gambar II.10 Arsitektur Sensor Serat Optic [4] ... 30

Gambar II.11 Sistem layout dan skema PLC [5] ... 31

Gambar II.12 Terminal Input/ Output PLC [5] ... 32

Gambar II.13 Rangkaian Pengendali Kecepatan Motor AC ... 33

Gambar II.14 Silinder Pneumatik Keluar [6] ... 35

Gambar II.15 Silinder Pneumatik Masuk [6] ... 35

Gambar II.16 Simbol Katup Selenoid 5/2 [6] ... 35

Gambar II.17 Silinder kerja tunggal dan simbol [6] ... 36

Gambar II.18 Silinder Kerja Ganda dan Symbol [6] ... 36

Gambar III.1 Layout Mesin Roving Stripper ... 52

Gambar III.2 Layout Komponen Mesin Roving Stripper ... 54

Gambar III.3 Nameplate Motor AC 3 Fasa ... 55

Gambar III.4 Komponen yang adadalam PLC CP1E N30DR-A [4] ... 56

Gambar III.5 Letak Posisi Sensor Proximity ... 57

Gambar III.6 Letak Posisi Sensor Photoelectric jenis Retroreflektif ... 59

Gambar III.7 Letak Posisi Sensor Photoelectric Jenis Difuse... 60

Gambar III.8 Posisi Letak Sensor Reed Switch ... 61

Gambar III.9 Letak Posisi Sensor Optic ... 62

Gambar III.10 Letak Posisi Katup Double Selenoid ... 63

(12)
(13)

xiii DAFTAR TABEL

Tabel III.1. Spesifikasi Sensor Photoelectric Sick VL180-2N41131 ... 59

Tabel III.2. Spesifikasi Sensor Photoelectric Omron E3Z-L61 ... 60

Tabel III.3. Spesifikasi Sensor Reed Switch Sick MZT1 ... 61

(14)

xiv DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Curiculum Vitae ... 77

Lampiran 2. Surat Pernyataan ... 79

Lampiran 3. Lembar Kegiatan Lapangan ... 81

Lampiran 4. Lembar Penilaian Pelaksanaan...………83

Lampiran 5. Lembar Penilaian Seminar ... 85

Lampiran 6. Lembar Penilaian Laporan dan Bimbingan ... 87

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

I.2 Latar Belakang

Kemajuan elektronika ini menjadi suatu tantangan bagi dunia industri atau pabrik. Karena persaingan industri semakin meningkat maka efisiensi produksi umumnya dianggap sebagai kunci suskses perusahaan. Oleh karena itu untuk mengendalikan proses produksi yang berkesinambungan dengan kualitas produk yang terjamin serta memiliki daya saing yang tinggi dengan industry lainnya diperlukan mesin-mesin berteknologi tinggi dengan sistem pengendalian otomatis berbasis elektronika (Pandu, 2007).

Perkembangan zaman yang demikian memaksa dunia industri untuk terus berupaya meningkatkan efisiensi produksi dengan cara menggantikan mesin konvensional dengan mesin yang lebih modern, lebih mudah dalam perawataannya, pengoperasiannya maupun dalam kemudahan untuk melakukan modifikasi sistem bila diperlukan dikemudian hari (Pandu, 2007).

PT. Indo-Rama Synthetics., Indorama Teknologies Complex yang merupakan salah satu perusahaan tekstil yang berskala internasional, menggunakan mesin Roving Stripper untuk meningkatkan efisiensi produksi. Mesin ini digunakan untuk melepas sisa benang roving yang masih menempel pada bobbin.

(16)

judul “MANAJEMENT PEMELIHARAAN MESIN ROVING STRIPPER DI PT.

INDO-RAMA SYNTHETICS TBK., INDORAMA TEKNOLOGIES

COMPLEX” agar memahami manajement pemeliharaan pada mesin roving stripper serta mengetahui prinsip kerjanya.

I.3 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dari dilakukannya PKL (Praktik Kerja Lapangan) yaitu, sebagai mahasiswa/i D4-Teknik Otomasi Industri, agar memiliki kemampuan secara profesional untuk mengenal suasana serta lingkungan dunia kerja dan mampu menyelesaikan masalah-masalah dalam dunia kerja terkait bidang otomasi industri denganbekal ilmu yang diperoleh selama masa kuliah.

Sedangkan tujuan dilaksanakannya Praktik Kerja Lapangan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dilaksanakannya PKL ini menghubungkan kebutuhan antara intansi pendidikan, tuntutan pekerjaan dan dunia kerja industri melalui : a. Mengetahui gambaran umum mengenai lingkungan kerja di dpartement Instrument di PT. Indo-Rama Synthetics Tbk,. IndoRama Teknologies Complex.

(17)

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari PKL yang dilaksanakan di dpartement Instrument di PT. Indo-Rama Synthetics Tbk,. IndoRama Teknologies Complex ialah sebagai berikut :

a. Mengetahui prinsip kerja dari mesin Roving Stripper.

b. Mengetahui komponen utama yang digunakan pada mesin Roving Stripper.

c. Menganalisis pemeliharaan pada mesin Roving Stripper.

I.4 Manfaat

I.4.1 Bagi Mahasiswa

Adapun manfaat dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan adalah sebagai berikut:

1. Memahami atau mengetahui kebutuhan pekerjaan ditempat kerja praktik. 2. Menyesuaikan (menyiapkan) diri dalam menghadapi lingkungan kerja

setelah menyelesaikan studynya.

3. Mengetahui atau melihat secara langsung penggunaan atau peranan teknologi terapan ditempat kerja praktek.

4. Menyajikan hasil-hasil yang diperoleh selama kerja praktek dalam bentuk laporan praktek kerja lapangan.

(18)

I.4.2 Bagi Lembaga Pendidikan

1. Menjalin hubungan dan kerjasama yang baik antara lembaga pendidikan dan perusahaan dalam mengembangkan SDM dan teknologi.

2. Mendapat informasi terkait kurikulum pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan manajemen dan teknologi industri.

I.4.3 Bagi Perusahaan

1. Wujud pengabdian kepada masyarakat.

2. Menjadi sarana pendidikan di luar lembaga pendidikan. 3. Dapat membangun kerjasama dengan lembaga pendidikan. 4. Dapat menyaring tenaga kerja yang profesional dan berkualitas.

I.5 Waktu dan Tempat Kerja Praktek Industri

Kegiatan kerja praktek Industri ini dilaksanakan selama 1 bulan dengan rincian sebagai berikut:

1. Waktu Pelaksanaan : 03 Juli 2017 s/d 05 Agustus 2017 2. Nama Industri : PT. Indo-Rama Synthetics Tbk,. Indo

Rama Teknologies Complex

3. Alamat : Jl. Raya Subang Ds. Cijaya km. 6, kec.

Cempaka Purwakarta 41181, Jawa Barat, Indonesia

I.6 Rumusan Masalah

1. Bagaimana prinsip kerja mesin Roving Stripper

(19)

I.7 Batasan Masalah

Penulisan laporan ini, penulis membatasi masalah dari pembahasan yaitu hanya membahas fungsi dan prinsip kerja mesin Roving Stripper di PT. Indorama.

I.8 Metode Pengumpulan Data

Metode yang penulis gunakan dalam pengumpulan data untuk membuat laporan kerja praktik dilakukan dengan cara:

1. Studi Literatur; Pengumpulan data diperoleh dari melihat literatur dan tinjauan pustaka yang ada sehingga mendapatkan data yang faktual.

2. Studi Lapangan; Data diperoleh dengan cara wawancara atau tanya jawab secara langsung dengan karyawan yang berwenang mengenai masalah yang dibutuhkan dalam penyusunan laporan kerja praktek selain itu data juga dapat diperoleh secara observasi langsung dari lapangan.

I.9 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan ini disusun menjadi 4 bab, yaitu yang terdiri dari sebagai berikut :

1. Bab I Pendahuluan; Bab ini membahas tentang latar belakang, tujuan, rumusan masalah, batasan masalah, metode pengumpulan data, serta sistematika penulisan.

(20)

penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari perusahaan PT. INDO-RAMA SYNTHETICS Tbk. IRT COMPLEX Purwakarta, Jawa Barat. 3. Bab III Pembahasan; Di dalam bab ini dijelaskan pokok permasalahan

yang disusun oleh penulis yang berisi pembahasan tentang proses produksi

polyester di spinning 8, serta prinsip kerja dan perawatan mesin Roving Stripper.

(21)

7 mempunyai pengalaman luas di Mancanegara (Jepang, Italy, Myanmar, Singapura, Hongkong dan Thailand) dalam bidang perdagangan tekstil sejak tahun 1947.

Pada tahun 1975, pabrik pemintalan benang (Spinning 1) mulai dibangun, yang berlokasi di Desa Ubrug Kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta diatas tanah seluas 10,8 Ha dengan luas bangunan 9,918 M2 . Kemudian pada tahun 1976, pabrik pemintalan benang (Spinning 1) telah selesai dibangun, dan mulai berproduksi komersial pada bulan September 1976, dengan jumlah karyawan +600 orang.

Pada tanggal 01 Mei 1997, Mr. Prakash Lohia sebagai wakil Presiden Direktur PT. Indo-Rama Synthetics Tbk. Menghadap Notaris Dr. H. E Gewang dengan maksud untuk membangun sebuah pabrik industry pemintalan, polyester staple fiber dan polyester filament yang berlokasi di Desa Cijaya Kecamatan Campaka Kabupaten Purwakarta dengan nomor notaris 1.

(22)

nomor : 3211/3513-02-013.629 pada tanggal 18 Juni 1998. Sehingga dapat dimulai pembangunan pabrik industry pemintalan, polyester staple fiber dan polyester filament yang luasnya +48Ha. Pabrik pertama yang dibangun adalah Sewing Thread, Unit yang memproses benang jahit dan mulai beroperasi pada bulan Desember 1998.

Sejalan dengan keberadaannya,PT. INDO-RAMA SYNTHETICS Tbk. Sekarang menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang memproduksi bahan baku tekstil. Kantor Pusat PT. Indo-Rama Synthetics Tbk. Di Jakarta adalah di gedung Graha Irama lantai 16-17, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X, Kav.1-2 Jakarta 12950 Telp. 021-5261555.

II.2 Visi, Nilai-nilai dan Motto Perusahaan

PT. Indo-Rama Synthetics Tbk,. Indo-Rama Teknologies Complex memiliki visi, nilai-nilai dan motto perusahaan yaitu :

Gambar II.1 Visi, Nilai-nilai dan Motto Perusahaan Visi Indo-Rama. Kepemimpinan bisnis:

(23)

3. People First (Utamakan SDM) 4. Sustainability (Keberlanjutan) Nilai-nilai Indo-Rama:

1. Execution (Pelaksanaan)

2. Knowledge (Ilmu)

3. Leadership (Kepemimpinan)

4. Courage (Keberanian)

5. Respect (Rasa Hormat)

6. Openness (Keterbukaan)

7. Teamwork (Kerjasama)

8. Motivation (Motivasi) 9. Commitment (Komitmen) 10. Govenance (Tata Kelola) 11. Environment (Lingkungan) 12. Innovation (Inovasi) Motto Indo-Rama:

1. People (SDM)

2. Technology (Teknologi)

3. Exellence (Keunggulan)

II.3 Pernyataan Kebijakan Indorama

(24)

2. Berkomitmen untuk mencegah kecelakaan, sakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan dan secara terus menerus meningkatkan pemenuhan Mutu, Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta Sistem Pengelolaan Lingkungan Hidup melalui penerapan Standard ISO, OHSAS dan pemenuhan terhadap peraturan dan persyaratan lainnya.

3. Untuk terus menerus mengkaji Sasaran Mutu, KPI, Prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Pengendalian Pengelolaan Limbah, Emisi dan Penerapan 4-R untuk meningkatkan Kinerja Perusahaan, Kesehatan & Keselamatan Kerja serta Lingkungan. Secara aktif mengedepankan nilai-nilai dengan meningkatkan training, pengetahuan dan kemampuan seluruh sumber daya manusia.

(25)

II.4 Struktur Organisasi PT. Indo-Rama Synthetics Tbk - Indorama

Gambar II.2 Struktur Organisasi PT. Indo-Rama Synthetics Tbk - Indorama

II.5 Ruang Lingkup

Ditinjau dari ruang lingkup saat ini yang dalam mencapai fungsi dan tujuannya secara garis besar dibagi atas 3 lingkungan kerja, dan setiap lngkungan kerja tersebut terdiri beberapa department.

Adapun 3 lingkungan kerja yang dimaksud adalah: 1. Lingkungan Produksi

(26)

II.5.1 Lingkungan Produksi

Department-departement yang terdapat dalam LINGKUNGAN PRODUKSI serta fungsinya masing-masing adalah sbb:

1. Department : BLOWROOM

Fungsinya : Pembuat ballfibred an pengurai fibre

2. Department : CARDING

Fungsinya : Sebagai pengurai serat polyester/kapas (pembentukan serat kapas menjadi sliver)

3. Department : DRAWING

Fungsinya : pelurusan serat polyester dan perangkapan sliver

4. Department : COMBER

Fungsinya : Pelurusan serat, memisahkan serat pendek dan panjang 5. Department : SIMPLEX

Fungsinya : Membuat sliver menjadi roving

6. Department : ELECTRONICDATAPROCESSING (EDP)

Fungsinya : Menerima data dari semua department untuk diolah kedalam computer.

7. Department : STORAGE (STG)

Fungsinya : Menerima, menyimpan dan menyalurkan barang atau spare part

8. Department : GENERALAFFAIRSOFFICER (GAO)

(27)

9. Department : FIREAND SAFETY (FST)

Fungsinya : Mengendalikan pekerjaan-pekerjaan yang mengandung dan berakibat terjadinya kecelakaan kerja dengan tingkat resiko tertentu serta mencegah terjadinya kebakaran dan ledakan

10. Department : WASTE (WST)

Fungsinya : Mengambil, menjaga, mengolah dan menjual waste yang berasal dari department produksi

11. Department : SECURITY (GSC)

Fungsinya :Mengendalikan segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan dan ketertiban dilingkungan perusahaan.

12. Department : PURCHASE (PUR)

Fungsinya : Merencanakan dan melaksanakan pengadaan / pembelian barang sesuai dengan indent dan inventory Management 13. Department : RAWMATERIAL (RML)

Fungsinya : Mengendalikan material/ bahan baku yang datang.

II.5.2 Lingkungan Engineering

Department-departement yang terdapat dalam LINGKUNGAN

ENGINEERING serta fungsinya masing-masing adalah dsb: 1. Department : SPINNINGMAINTENANCE

Fungsinya : Untuk memelihara, membongkar dan atau memasang seta memonitor kelancaran jalanya mesin produksi.

(28)

Fungsinya : Memelihara, memasang atau membongkar peralatan dan instalasi mesin yang berhubungan dengan elektrik (arus lemah) termasuk Telpun.

3. Department : ELECTRICIAN

Fungsinya : Mengendalikan penyediaan listrik arus kuat melalui generator set (genset) ta memasang dan memelihara instalasi penerangan dan tenaga.

4. Department : UTILITY

Fungsinya : Mengendalikan kelancaran Air Conditioning(AC) Chiller, Boiler, Compressor dan Water TreatmentH2Nitrogen. 5. Department : CIVIL

Fungsinya : Mengawasi proyek dan pengawasan bangunan

II.5.3 Lingkungan Service/Pelayanan

Department-departement yang terdapat dalam LINGKUNGAN

SERVICE/PELAYANAN serta fungsinya masing-masing adalah dsb:

1. Department : PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA & PERSONALIA

Fungsinya :Merekrut, menyeleksi, menerima dan mengarahkan serta memberhentikan karyawan

2. Department : TRAINING (TRG)

Fungsinya :Sebagai wadah untuk membina/membimbing dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dana sikap mental karyawan secara terarah, terencana, serta terprogram.

3. Department : RESEARCH & DEVELOPMENT(QUALITY CONTROL)

(29)

kualitas tertentu. 4. Department : PACKING (PCK)

Fungsinya : Melaksanakan pengepakan hasil produksi 5. Department : FINANCE ACCOUNTING (FAC)

Fungsinya :Mengkalkulasikan pemasukan dan pengeluaran perusahaan

II.6 Kegiatan Perusahaan

Perusahaan ini merupakan salah satu industry tekstil terbesar di Indonesia, PT. Indo-Rama Synthetic Teknologies Complex dengan kegiatan industry pemintalan benang yang berasal dari serat alam dan serat buatan.

Serat alam yaitu serat yang sudah terbentuk langsung dari alam. Serat alam terbagi menjadi 3. Pertama, serat binatang yaitu wol, sutera, mohair. Kedua, serat tumbuhan yaitu kapas / cotton, rami, henep,goni, jute. Ketiga, serat mineral yaitu asbes. sedangkan serat buatan yaitu serat yang dibuat oleh manusia atau yang dikenal dengan nama proses polymerisasi. Serat buatan terbagi menjadi 3. Pertama, serat yang diolah kembali seperti rayon. Kedua,serat setengah synthetics seperti asetat. Ketiga, serat synthetics yaitu nylon, acrylic, dan polyester.

Pemintalan di PT.Indo-Rama Synthetics Teknologies Complex menggunakan material serat alam berupa cotton dan serat buatan seperti polyester. Serat yang akan dipintal harus memenuhi syarat seperti serat harus cukup panjang, cukup halus, punya gesekan permukaan, cukup kenyal / elastis, memiliki kekuatan dan memiliki daya serap air.

(30)

Proses pemintalan benang dengan material serat buatan berupa Polyester 100% tahap-tahapnya yaitu

Selain proses pemintalan benang, terdapat proses yang menentukan kualitas benang yaitu Quality Control Proses agar kualitas benang tetap terjaga dan hasil yang optimal. Tahap- tahap quality control yaitu:

Raw

Blowing Drawing Breaker Drawing Finisher

FPG

(31)

Sehingga dengan proses pemintalan benang dan proses quality control produk benang yang di hasilkan dapat optimal dan memenuhi kriteria standart produksi yang telah ditentukan. Serta terdapat kegiatan lain sebagai pendukung seperti penangan system HVAC, penganan waste, keamanan dan keselamatan pabrik serta kegiatan lainnya.

II.7 Tujuan Perusahaan

Tujuan perusahaan yaitu sebagai perusahaan di bidang tekstil terbesar di dunia dengan bisnis pemintalan kapas dan pembuatan benang polyester filament, serat polyester staple, PET resin, polyester chips untuk memenuhi pasar global.

II.8 Sistem Kerja

Sistem kerja di PT. Indo-Rama Teknologies Complex terdapat beberapa waktu kerja, terdiiri dari :

a. GS (General Shift) : waktu kerja 08.00-16.00 b. Shift 1 : waktu kerja 06.00-14.00 c. Shift 2 : waktu kerja 14.00-22.00 d. Shift 3 : waktu kerja 22.00-06.00

Apabila ada kendala atau masalah pada mesin maka dilakukan troubleshooting dengan tahap-tahap oleh Teknisi dengan durasi waktu 45 Menit apabila belum terselesaikan maka di atasi oleh posisi diatasnya dengan durasi waktu yang sama.

(32)

Senin : Scouring bagian Backprocess

Selasa-Kamis : Scouring bagian Simplex, Ringframe dan Winding

Jum‟at : Cleaning Panel

II.9 Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Ditinjau dari keilmuan, keselamatan dan kesehatan kerja diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam upaya mencegah kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran, penyakit, dan sebagainya.

1. Keselamatan (safety)

Keselamatan kerja diartikan sebagai upaya-upaya yang ditujukan untuk melindungi pekerja; menjaga keselamatan orang lain; melindungi peralatan, tempat kerja dan bahan produksi; menjaga kelestarian lingkungan hidup dan melancarkan proses produksi.

2. Kesehatan (health)

Kesehatan diartikan sebagai derajat/tingkat keadaan fisik dan psikologi individu (the degree of physiological and psychological well being of the individual). Secara umum, pengertian dari kesehatan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk memperoleh kesehatan yang setinggi-tingginya dengan cara mencegah dan memberantas penyakit yang diidap oleh pekerja, mencegah kelelahan kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

II.9.1 OHSAS 18001:2007 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

Kebijakan IRT-Complex dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah

(33)

1. Menyediakan dan memelihara seluruh area kerja dalam kondisi aman dan memberlakukan praktek kerja yang aman untuk mencegah kecelakaan dan sakit akibat kerja.

2. Melaksanakan audit secara berkala untuk memastikan peningkatan berkelanjutan pada kinerja sesuai persyaratan OH dan S.

3. Melaksanakan pelatihan untuk seluruh karyawan dan pendukung lainnya untuk kinerja yang aman sesuai tugas dan area kerja mereka.

4. Memenuhi seluruh persyaratan-persyaratan resmi (legal requirements).

II.9.2 Prosedur

1. Setiap karyawan yang melakukan aktifitas kerja harus memakai APD yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada untuk melindungi diri dari kemungkinan terjadinya kecelakaan gangguan kesehatan dan penyakit akibat kerja.

2. Karyawan yang bekerja di area yang mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB harus memakai ear plug.

3. Karyawan yang bekerja di area yang mempunyai debu di atas Nilai Ambang Batas harus memakai cloth masker.

4. Untuk pemakaian APD yang lainnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan resiko yang ada pada pekerjaan tersebut (lihat pada list APD).

(34)

6. Prosedur ini juga berlaku untuk tamu dan kontraktor yang bekerja di IRTC.

II.10 Landasan Teori

Landasan teori digunakan sebagai teori dasar atau acuan dalam penyusunan analisis permasalahan dari judul laporan kerja praktek. Landasan teori ini terdiri atas landasan teori mengenai Mesin Roving Stripper, Komponen Mesin Ropping Stripper, Perawatan pada Mesin Roving Stripper.

II.10.1Motor Induksi

Motor induksi 3-fasa merupakan motor induksi yang banyak digunakan untuk berbagai keperluan terutama di pabrik-pabrik yang menggunakan motor sebagai pengeraknya. Diantara semua jenis motor induksi, motor induksi 3-fasa merupakan motor yang paling stabil dalam kondisi normal bila disuplai dengan sistem 3-fasa yang seimbang.

Gambaran sederhana konstruksi motor induksi 3-fasa ini diperlihatka pada gambar 2.1.

.

Gambar II.3 Konstuksi sederhana motor induksi [1]

(35)

Ns = 120. f / p ……..(2.1) yang mana :

f = frekuensi sumber AC (Hz)

p = jumlah kutup yang terbentuk pada motor

Ns = kecepatan putaran medan magnet stator (putaran/menit, rpm) Putaran medan magnet stator ini akan diikuti oleh putaran rotor motor induksi. Makin berat beban motor, maka kecepatan rotor juga akan turun sehingga terjadi slip (s), seperti yang diperlihatkan pada persamaan (2.2).

…….. (2.2) yang mana :

s = slip

Nr = kecepatan putaran rotor pada motor

Perubahan frekuensi sumber pada motor induksi 3-fasa akan mempengaruhi besarnya impedansi kumparan motor karena kumparan motor induksi mengandung reaktansi induktif

(XL) seperti yang diperlihatkan pada gambar II.4 di bawah ini.

(36)

Yang mana keterangan pada gambar II.4 sebagai berikut: V1= Tegangan sumber perfasa pada kumparan stator

R1= Resistansi kumparan stator

X1= Reaktansi Induktif kumparan stator

R2‟= Resistansi kumparan rotor dilihat dari sisi stator

X2‟= Reaktansi Induktir rotor dilihat dari sisi stator

Xm= Reaktansi magnet pada Motor

= Resistansi yang mewakili beban motor

I1= Arus kumparan stator

I2‟= Arus pada kumparan rotor dilihat dari sisi stator Im= Arus Magnet

II.10.2Sensor

Sensor adalah salahsatu peralatan dimana informasi atau data tentang situasi terakhir disekitar alat dikumpulkan untuk digunakan oleh program pengendali.

Terdapat berbagai jenis sensor yang tersedia dan bentuk juga ukurannya bermacam-macam tergantung pada perinsip kerjanya. Pada mesin Roving Stripper ada beberapa sensor yang digunakan yaitu saklar magnet (reed switch), sensor proximity, sensor photocell dan sensor fiberoptic.

1. Saklar Magnet (Reed Switch)

(37)

magnet, ujung-ujung tab kontak yang saling bertemu, menarik satu sama lain dan menjadi kontak.

Gambar II.5 Saklar Magnet [6]

Saklar magnet digunakan untuk mengetahui posisi silinder pneumatik, bila magnet yang terdapat di ujung dalam silnder menginduksi saklar magnet, maka saklar akan kontak dan sinyal akan diteruskan menuju PLC untuk diolah.

(38)

2. Sensor Proximity

Sensor proximity adalah suatu jenis sensor yang akan aktif bila benda obyek tertentu didekatkan padanya, yang memiliki sifat kerja secara tidak langsung membutuhkan kontak langsung dengan obyeknya.

Terdapat dua macam sensor proximity yang dibedakan berdasarkan jenis obyeknya yaitu :

a. Sensor Proximity Induktive

Untuk mendeteksi benda obyek yang dapat menghasilkan „eddy current‟ bila dikenai medan magnet. Obyek yang seperti ini adalah benda

logam pada umummya.

Prinsip kerja dari sensor proximity yaitu seperti transformator, kondisi pada kumparan sekunder akan mempengaruhi kondisi kumparan primer.

Kumparan primernya pada proximity yaitu „detecting coil‟ yang diletakan

(39)

Gambar II.6 Proximity Induktif [3]

Karakteristik dari sensor ini adalah mendeteksi obyek benda dengan jarak yang cukup dekat. Proximity sensor ini mempunyai tegangan kerja antara 10-30 Vdc dan ada juga yang menggunakan tegangan 100-200VAC. Obyek yang dideteksi oleh sensor proximity induktif yaitu benda yang memiliki bahan logam.

b. Sensor Proximity Kapasitif

Untuk mendeteksi benda obyek yang mudah terpolarisasi muatan elektrostatis di dalamnya bila dikenai medan magnet statis. Obyek seperti ini adalah isolator dengan konstanta dielektrikum tinggi dan konduktor.

(40)

Energi untuk menambah kerapatan muatan diambil dari sumber tegangan tersebut, sehingga perubahan kerapatan muatan menyebakan perubahan arus dari sumber.

Gambar II.7 Proximity Kapasitif [3]

Karakteristik dari sensor ini adalah mendeteksi obyek benda dengan jarak yang cukup dekat. Proximity sensor ini mempunyai tegangan kerja antara 10-30 Vdc dan ada juga yang menggunakan tegangan 100-200VAC. Obyek yang dideteksi oleh sensor proximity kapasitif yaitu benda yang memiliki bahan logam ataupun nonlogam.

3. Sensor Photoelektrik

(41)

obyek, temperatur obyek dan masih banyak variabel lainnya yang masih dapat diukur.

Photoelectric sensor merupakan sensor yang tergolong dalam jenis sensor optikal. Sensor ini mengeluarkan LED (Light Emitting Diode) sebagai sumber cahaya yang memerlukan dan memancarkan sinar (emitter) yang terpantul ke penerima (receiver).

Sensor foto yang digunakan terdiri dari transmitter dan receiver, yang mana transmitternya mengandung LED yang memancarkan sinar infra merah. Jika ada obyek yang lewat, maka sinar infra merah akan terhalang sehingga akan menentukan keadaan output dari sensor foto.

Karakteristik dari sensor photoelectric yaitu memiliki power supply 12-24 VDC dengan konsumsi arus maksimal 45mA, respon time sebesar maksimal 1ms, dengan mode oprasi light on atau dark on dan juga memiliki kontrol output NPN atau PNP dengan tegangan beban maksimal sebesar 30VDC dan arus beban maksimal 200mA.

Berdasarkan cara mendeteksi obyeknya, Photoelectric sensor dapat digolongkan sebagai berikut, yaitu :

a. Sensor Photoelectric Jenis Retroreflektif.

(42)

diterima oleh penerima maka sensor ini akan aktif. Jarak lensa terhadap sensor tergantung jenis dan besar lensa serta spesifikasi sensor.

Gambar II.8 Photoelectric Tipe Retroreflektif [3]

b. Sensor Photoelectric tipe Reflective

Sumber cahaya dan penerima menjadi satu, terletak pada satu sumbu dimana sudut kemiringan keduanya dapat diatur. Sudut kemiringan tersebut menentukan jarak obyek yang akan dideteksi dan titik fokus cahaya. Bila berada pada titik fokus tersebut, pantulan cahaya akan mengena pada penerima. Bila cahaya yang dipantukan cukup kuat (dapat diatur dengan sensitivitas) maka sensor akan aktif. Bila cahaya dipantulkan tidak dari titik fokus maka tidak akan tertangkap penerima dan sensor tidak aktif.

c. Sensor Photoelectric Jenis Difuse

(43)

cahaya masuk ke penerima terhalang) dan Light-On (sensor akan aktif jika ada cahaya masuk ke penerima).

Gambar II.9 Sensor foto jenis Difuse [3]

d. Sensor Photoelectric Jenis Separate

Sumber cahaya dan penerima terpisah, diletakan berhadapan. Bila obyek lewat dan memotong jalur cahaya, maka sensor akan aktif. Jarak antara pemancar dan penerima tergantung karakteristik photoelectric tersebut serta pengaturan sensitivitas yang diatur oleh oprator.

4. Sensor Optic

(44)

Gambar II.10 Arsitektur Sensor Serat Optic [4]

Pada gambar diatas dalam penginderaan serat optic,Transmitter

(Pengirim) dan Receiver (penerima) terletak dalam satu tempat. Kabel serat optic yang terhubung ke amplifier memungkinkan sensor untuk mencapai wilayah yang tidak terjangkau.

Karakteristik sensor serat optik yaitu memiliki output NPN atau PNP dengan rating voltase daya sebesar 12 hingga 24 VDC dan konsumsi arus maksimal 39mA pada tegangan 24V. Sesor ini memiliki waktu tanggap 50 µs pada kecepatan tinggi,untuk pemilihan output bisa di pilih antara light-on atau

(45)

II.10.3Programmable Logic Controller

Dalam sistem yang terotomasi, PLC berperan sebagai jantung dari sistem kontrol. Dengan program aplikasi kontrol, yang di simpan dalam memori, PLC secara terus-menerus akan selalu memonitor keadaan sistem memaluli sinyal arus balik dari peralatan input. Logika pemograman merupakan dasar untuk menentukan jalannya kegiatan untuk dibawa ke peralatan output.

PLC (Programmable Logic Controller) terdiri dari tiga bagian utama, yaitu Central Processing Unit (CPU) yang berisi program aplikasi, input dan

output interface modul yang secara langsung dihubungkan ke bagian peralatan I/O dimana ketika sinyal input dari peralatan input ON, maka tanggapan ini secara normal menyalakan sinyal output ke beberapa jenis peralatan output. Bagian lain yang tidak kalah pentingnya adalah programmer yang mengontrol atau mengatur jalannya program PLC. Hubungan antara bagian-bagian PLC di tunjukan oleh gambar di bawah ini.

(46)

PLC merupakan suatu CPU sama seperti komputer, sehingga unutuk mengoprasikannya diperlukan suatu bahasa pemogramman. Pada pemograman PLC terdapat dua bahasa pemogramman, yaitu ladder diagram dan kode

mnemonic.

Gambar II.12 Terminal Input/ Output PLC [5] Keterangan :

1. Blok power suplai, ground dan input terminal. 2. Blok eksternal power suplai dan output terminal.

3. Peripheral USB Port untuk menghubungkan dengan komputer dan komputer dapat digunakan untuk memprogram dan memonitoring.

4. Operation indicator, mengindikasikan status operasi dari PLC termasuk power status, mode operasi, errors, dan komunikasi USB.

5. Baterai untuk mempertahankan internal clock dan isi RAM ketika suplai OFF.

(47)

7. Output Indicator, menyala jika kontak terminal output kondisi menyala. 8. Expansion I/O unit connector, digunakan untuk menambah input/output

PLC.

9. Option board slot, digunakan untuk menginstal RS-232C

II.10.4Inverter / Motor Drive AC 3 Fasa

Inverter adalah sebuah perangkat peubah listrik yang dikenal memiliki kemampuan untuk merubah listrik bertegangan DC menjadi listrik bertegangan AC dengan nilai frekuensi yang dapat diatur. Inverter pada umumnya digunakan untuk mengendalikan kecepatan motor AC. Selain untuk mengendalikan kecepatan motor AC, inverter juga digunakan sebagai catu daya AC, dan berbagai macam kebutuhan lainnya.

Gambar II.13 Rangkaian Pengendali Kecepatan Motor AC

(48)

mengubah arus searah menjadi arus AC tga phase dengan frekuensi beragam (dapat distel) kedua sirkuit ini disebut sirkuit utama. Bagian ketiga adalah sebuah sirkuit kontrol berfungsi sebagai pengontrol sirkuit utama. Gabungan keseluruhan sirkuit ini disebut unit inverter.

Cara kerja inverter adalah, pertama input inverter adalah AC 50 Hz, lalu dirubah ke DC, kemudian difilter, setelah itu diubah lagi ke AC tetapi frekuensinya tidak lagi 50 Hz. Tetapi besarnya dapat diatur sesuai keinginan. Dengan demikian frekuensi keluaran ini akan berpengaruh terhadap putaran motor, seperti yang diperlihatkan pada persamaan (2.3).

n = 120 × f ÷ p ……..(2.3) dimana:

n = jumlah putaran, dalam satuan rpm f = frekuensi, dalam satuan Hz

p = jumlah kutub

II.10.5Sistem Aktuator Pneumatik

Perkataan pneumatik berasal bahasa Yunani “pneuma” yang berarti

“napas” atau “udara”. Jadi pneumatik berarti terisi udara atau digerakkan oleh

udara mampat. Pneumatik merupakan cabang teori aliran atau mekanika fluida dan tidak hanya meliputi penelitian aliran-aliran udara melalui suatu sistem saluran, yang terdiri atas pipa-pipa, selang-selang, gawai dan sebagainya, tetapi juga aksi dan penggunaan udara mampat.

(49)

Katup Solenoid adalah kombinasi dari dua unit fungsional: solenoid (elektromagnet) dengan inti atau plungernya dan badan katup (valve) yang berisi lubang mulut pada tempat piringan atau stop kontak ditempatkan untuk menghalangi atau mengizinkan aliran.

Gambar II.14 Torak Silinder Pneumatik Keluar saat Solenoid diberi Daya [6]

Gambar II.15 Silinder Pneumatik Masuk saat Solenoid tidak diberi Daya [6]

(50)

2. Silinder Pneumatik

Komponen kerja sistem pneumatik berfungsi untuk mengubah tekanan udara menjadi kerja.

a. Silinder Kerja Tunggal (Single Acting Cylinder) Silinder kerja tunggal (single acting cylinders) hanya bisa diberikan gaya pada satu arah, dan hanya mempunyai satu saluran masuk.

Gambar II.17 Silinder kerja tunggal dan simbol [6]

b. Silinder Kerja Ganda (Double Acting Cylinders) Silinder kerja ganda (double acting cylinders) digunakan apabila torak diperlukan untuk melakukan kerja bukan hanya gerakan maju, tetapi juga untuk gerakan mundur.

(51)

Jenis silinder dengan aksi ganda (Double Acting Cylinder). Keuntungan yang dapat diperoleh dari silinder kerja ganda yaitu bisa diatur kecepatan pada kedua arah gerakan batang pistonnya.

II.10.6Jenis-Jenis Perawatan

Maintenance atau perawatan dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah :

1. Sistim pemeliharaan sesudah rusak (breakdown maintenance)

Tujuan pemakaian metode ini adalah untuk mendapatkan penghematan waktu dan biaya dan perbaikan dilakukan pada keadaan yang benar-benar perlu. Pada pemeliharaan sistim ini pekerja-pekerja pemeliharaan hanya akan bekerja setelah terjadi kerusakan pada mesin atau peralatan. Jika kita memakai sistim ini kerusakan mesin atau equipment akan terjadi berkali kali dan frekuensi kerusakannya hampir sama saja setiap tahunnya. Artinya beberapa mesin atau equipment pada pabrik tersebut ada yang sering diperbaiki. Pada pabrik yang beroperasi secara terus menerus, dianjurkan untuk menyediakan cadangan mesin (stand by machine) bagi mesin-mesin yang vital. Sebagai tambahan, sistim ini untuk pembongkaran mesin-mesin pabrik tahunan tidak dipakai karena pada saat dilakukannya penyetelan dan perbaikan mesin, unit-unit mesin cadanganlah yang dipakai.

2. Sistim Pemeliharaan Rutin ( preventive maintenance)

(52)

perbaikan dan faktor-faktor lainnya. Biaya perbaikan dan lamanya mesin/peralatan tidak beroperasi dapat diminimalkan dibandingkan dengan perbaikan mesin yang sama tetapi dilakukan setelah mesin itu rusak total. Sistim pemeliharaan mesin meliputi rencana inspeksi dan perbaikan secara periodik. Biaya pembuatan atau modal awal dapat dikurangi bila bagian pemeliharaan dapat memberikan informasi-informasi yang baik tentang masalah-masalah servis mesin/peralatan, pemasangan unit-unit cadangan dapat dibuat optimal. Selanjutnya dilakukan standarisasi jenis mesin dan supplier dan juga meningkatkan mutu barang tanpa menambah biaya hingga modal dapat dihemat dan juga biaya-biaya pemeliharaan selanjutnya.

3. Sistim Pemeliharaan Ulang (corrective maintenance).

(53)

4. Sistim Pemeliharaan Produktif

Dari beberapa sistem pemeliharaan yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa makin tinggi efisiensi makin tinggi pula keuntungan yang akan diperoleh, maka bila efisiensi yang tinggi tersebut belum memberi keuntungan yang diinginkan, maka perlu dipikirkan konsep baru yang lain. Dewasa ini pola pemeliharaan prediktif dianggap lebih efektif dan efisien jika jam operasi pada peralatan tersebut masih dalam petunjuk pabrikan, jika jam operasi sudah terpenuhi maka peralatan harus diganti. Jika pergantian peralatan yang jam operasinya telah terpenuhi tidak dilakukan, dikhawatirkan kerusakan yang lebih parah akan terjadi dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.

II.10.7Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pemeliharaan

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sistem pemeliharaan, diantaranya yaitu :

1. Ruang lingkup pekerjaan

Untuk tindakan yang tepat, pekerjaan yang dilakukan perlu diberi petunjuk atau pengarahan yang lengkap dan jelas. Pengadaan gambar-gambar atau skema dapat membantu dalam melakukan pekerjaan.

2. Lokasi pekerjaan

(54)

3. Prioritas pekerjaan

Prioritas pekerjaan harus dikontrol sehingga pekerjaan dilakukan sesuai dengan urutan yang benar. Jika suatu mesin mempunyai peranan penting, maka perlu memberi mesin tersebut prioritas utama.

4. Metode yang digunakan

“Membeli kemudian memasang” sangat berbeda artinya dengan “membuat kemudian memasang”. Meskipun banyak pekerjaan bisa dilakukan

dengan berbagai cara, namun akan lebih baik jika penyelesaian pekerjaan tersebut dilakukan dengan metode yang sesuai dengan keahlian yang dipunyai. 5. Kebutuhan material

Apabila ruang lingkup dan metode kerja yang digunakan telah ditentukan, maka biasa diikuti dengan adanya kebutuhan material. Material yang dibutuhkan ini harus selalu tersedia.

6. Kebutuhan keahlian

Keahlian yang dimiliki seorang pekerja akan memudahkan dia bekerja. 7. Kebutuhan tenaga kerja

(55)

41 BAB III

HASIL KERJA PRAKTEK

III.1 Proses Produksi Polyester

III.1.1 Diagram Alur Produksi Polyester Spinning 8

(56)

III.1.2 Proses Produksi Polyester Spinning 8

1. Mesin Blow Room : Mesin ini melakukan proses membuka serat polyester menjadi bagian yang terurai. Pada proses di mesin blow room ini tidak ada limbah yang dihasilkan.

2. Mesin Carding : Mesin ini melakukan proses pembuatan sliver dan pensejajaran serat. Pada proses ini dihasilkan limbah yaitu plat strip sebanyak 7.185,97 kg / bulan. Penanganan limbah plat strip dengan cara dijual.

3. Mesin Draw Frame : Mesin ini melakukan proses perangkapan 6 ( enam ) sliver menjadi satu dan proses penarikan ( Drafting ). Pada proses di mesin Draw Frame tidak ada limbah yang dihasilkan.

4. Mesin Simplex : Mesin ini melakukan proses penarikan dan pembuatan roving. Limbah yang dihasilkan adalah Open roving sebanyak 1.235,29 kg / bulan. Penanganan limbah open roving dengan cara dijual.

5. Mesin Ring Frame : Mesin ini melakukan proses penarikan dan pemberian Twist (pilinan) pada benang. Proses ini disebut juga pembuatan benang. Limbah yang di hasilkan adalah Pneumafil sebanyak 747,08 kg / bulan. Penanganan limbah pneumafil dengan cara dijual. 6. Mesin Winding : Mesin ini melakukan proses pembersihan dan

penggulungan menjadi bentuk cones. Limbah yang dihasilkan adalah Hard Waste sebanyak 2.823,09 kg / bulan. Penanganan limbah hard waste dengan cara dijual.

(57)

dihasilkan adalah karton / kardus sebanyak 200 kg / bulan. Penanganan limbah karton / kardus dengan cara dijual.

8. Finished Yarn Godown : Proses penyimpanan benang yang telah dikemas untuk proses distribusi.

III.2 Proses Pemintalan Benang

III.2.1 Raw Material

Material yang dipakai di Indorama Teknologies adalah :

1. Polyester Stapie Fibre Teijin, yang berasal dari Thailand. Spesifikasinya yaitu : denier panjang 1.2 x 38 mm New (HL-3) OM3

2. Polyester Stapie Fibre dari IRS, spesifikasi fibre IRS yaitu : 1.1D x 38 mm

III.2.2 Lay Down

Lay Down adalah susunan beberapa bahan polyester atau kapas yang telah dibuka dipembungkusnya dan dibariskan rapat dilantai dengan presentase sesuai dengan grading yang telah ditentukan. Pada dasarnya sebelum material diproses terlebih dahulu harus dibuka minimal 24 jam, ini dimaksud agar kondisi dan karakteristik dari fibre bias normal kembali seperti sebelum pada proses balling. Pada pada sewing thread jumlah Bale polyester dalam satu lay down adalah 62

bales polyester.

III.2.3 Blowing Room

(58)

Untuk proses pemintalan dengan memakai synthetic fibre (polyester)

pembersihan tidak menjadi proses utama sebab material yang disiapkan itu sendiri sudah bersih sehingga proses utama pada Sewin Thread adalah pembukaan serat. Berikut adalah uraian-uraian yang dilalui oleh fibre di sewing thread:

1. Automatic bale Plucker

Dalam sistem pemintalan modern biasanya proses pemintalan selalu didahului oleh mesin pembukaan bale yang lazim di sebut dengan automatic bale plucker. Di Indorama Teknologies mesin ini bernama BLENDOMAT BDT 019 buatan TRUTZSCHLER. Dengan type mesin :

Type : BDT 019/2300 No : 014-61-03 Kom no : 156452

Mesin ini mempunyai kapasistas produksi yang cukup besar yaitu 900 kg/jam dan mempunyai dua area dalam penyimpanan bahan. Yaitu area AB1, dan AB2. Dengan panjang 10-30m tergantung dari space yang tersedia. Apabila mesin ini beroperasi pada area AB1, maka kita bisa siapkan material atau lay down pada area AB2. Dilihat dari fungsinya maka mesin ini mempunyai fungsi:

a. Mesin Pembuka (opening) b. Mesin Pencampur (mixing)

Prinsip kerja mesin Blendomat:

(59)

sesuai program yang diset pada mesin tersebut, mesin ini akan berjalan sepanjang Lay Down yang telah terpasang (62 Bales Polyester) sehingga terjadi pencampuran yang merata. Material yang dibuka dan diisap dikirimkan ke mesin berikutnya melalui sebuah kanal dan pipa.

III.2.4 Mesin Carding

Carding adalah salah satu mesin yang memegang peran penting sekali dalam menentukan quality hasil produksi dalam suatu pabrik pemintalan. Pada mesin ini massa fibre diuraikan menjadi serat-serat tunggal dengan cara penggarukan antara wire yang berbentuk gerigi kecil dan jarum-jarum yang banyak disebut dengan Top Flat.serat-serat yang telah melalui proses penggarukan tersebut akan mengakibatkan serat menjadi sejajar satu dengan yang lain. Mesin yang diunakan din IRT adalah :

Merk : Trutzsehler Type : DK-740 No : 740-22-09 Kom No : 156500-A Fungsi Mesin Carding:

1. Carding Action: Proses penggarukan serat diantara dua bagian permukaan yang tajam yang mempunyai kecepatan yang berbeda.

(60)

3. Pemisahan serat pendek : Pada proses ini serat-serat pendek (serat yang patah) pada peroses sebelumnya sebagian akan terbuang dan di pisahkan sewaktu adanya pembentukan Top Flat.

4. Pembentukan Sliver : Serat individu yang telah melalui proses-proses pembentukan akan membentuk seperti lapisan tipis dn lembut slebar mesin carding tersebut dan ini dikumpulkan dan disaukan menjadi ali yang besar dan getas yang di sebut dengan sliver dan akan di tumpuk pada sebuah drum yang besar yang berdiameter 40 yang di sebut dengan Can Carding.

5. Drafting adalah proses penarikan. Penarikan yang terjadi disini adalah sekitar 0 sampai 100 kali dengan mengabaikan jumlah waste yang

Adapun tujuan dan prinsip kerja mesin tersebut adalah:

1. Untuk memproses merangkap sliver carding dan mendraftnya dengan tujuan mendapatkn sliver yang rata.

(61)

nomer tertentu sehingga kekurangan/ kelemahan dari satu sliver akan tertutupi oleh sliver lainnya.

3. Ada dua tahap proses pada mesin Drawing yaitu Drawing Breaker dan

Drawing Finisher. Proses kedua mesin tersebut adalah sama bedanya hanya pada nomer sliver yang dihasilkan. Drawing Finisher akan memproduksi sliver yang lebih halus disbanding dengan Drawing Breaker.

Type mesin drawing yang digunakan di IRT yaitu : a. Drawing Breaker

1. Perangkapan, dimaksudkan untuk menutupi kelemahan-kelemahan sliver yang dihasilkan oleh satu mesin carding terhadap sliver hasil mesin carding yang lain. Biasanya perangkapan dilakukan antara 6-8 sliver. 2. Sliver carding yang jumlahnya 6-8 disatukan ditarik (draft) oleh 3 pasang

(62)

perbedaan kecepatan tersebut akan terjadi penarikan dan sekaligus persejajaran yang sempurna terhadap sliver.

III.2.6 Mesin Simplex (Roving)

Simplex adalah suatu mesin yang memperoses sliver hasil mesin drawing menjadi roving dengan ukuran tertentu.

Fungsi dan Prinsip Kerja Mesin Simplex:

Fungsi utama adalah menarik (Drafting) Sliver dan memberi gintiran (pilihan) dan menggulung dalam bobbin sehingga memudahkan proses selanjutnya.

Type mesin Simplex yang digunakan di IRT : Type : 660-16 x 6

No : 02573-02581 Kom No : 90/15/9139

Bagian-bagian terpenting dari mesin Simplex:

1. Drafting Sistem

Mesin ini terdiri dari tiga button roller, dua buah Top Roller dan satu set Creadle. Kedua Top Rolles dan Creadle tersebut adalah merupakan bagian dari pendulu Arm yang dipasang sebagai alat Drafting pada mesin tersebut. Sebagai pengantar Sliver pada saat Drafting terjadi, mesin tersebut di lengkapi dengan dua Condensor dan satu Floating Condensor sehingga proses Drafting

berjalan dengan baik.

2. Penggintiran (Pemberian Twist)

(63)

Frame. Alat yang dipakai saat pemberian Twist tersebut adalah Flyeer dimana pada ujung atas Flyeer tersebut dipasang Twist Cap yang berfungsi sebagai penambah Twist palsu terhadap Rovig yang di proses, sehingga proses roving bias berjalan dengan baik.

3. Penggulungan

Penggulungan yang terjadi pada mesin Simplex adalah adanya perbedaan antara kecepatan bobbin dan kecepatan Flyeer.

III.2.7 Mesin RingF rame

Ring Frame adalah suatu mesin yang memproses material roving yang dihasilkan mesin simplex menjadi benang single sesuai dengan nomor tertentu.

Tujuan dan prinsip kerja mesin RingFrame:

Mesin Ring Frame dibuat untuk memproses material berupa roving menjadi benang tunggal. Pada mesin inilah terjadi proses pemintalan yang sesungguhnya dimana roving yang disiapkan ditarik menjadi massa serat yang halus sesuai dengan nomor yng dikehendaki dan memberi twist (pilihan) sesuai dengan kegunaan atau untuk apa benang itu dibuat. Benang yang telah diberi twist

lalu digulung pada bobbin (cop) dan untuk selanjutnya dikirim ke mesin berikutnya. Dalam menentukan besarnya suatu pabrik biasanya dinyatakan dengan berapa banyaknya jumlah spindle Ring Frame (mata pintal) dari pabrik tersebut, dan untuk menentukan effectivitas suatu pabrik selalu diukur dengan berapa gram produksi spindle Ring Frame tersebut dalam 8 jam berproduksi dan

(64)

produksi Ring Frame ini adalah menjadi patokan utama. Adapun type yang digunakan di IRT yaitu :

Type : Zinser RM-330 No Mc : 80-99

Nn of Spdl Mc : 1152

Dilihat dari proses yang terjadi dan pengelompokan part yang dilalui maka proses spinning (Pemintalan) bisa dibagi menjadi 4 bagian, yaitu : 1. Penyuapan (memindahkan) gulungan benang dari bobbin Ring Frame menjadi gulungan besar yang berbentuk Cones.

Tujuan dan prinsip kerja Mesin Winding:

(65)

mesin sebelumnya dan setting clearer yang dipakai pada mesin itu. Di IRT (S/T) Yam Fault (Cacat Benang) menjadi sangat penting sebab itu Clearer harus betul-betul dibuat ketat agar benang yang dihasilkan nantinya bisa lolos dan lobang jarum saat penjahitan.

Type mesin Winding yang digunakan di IRT, yaitu : Merk : Schlafhorst

Mc Type : 238 UWP -X 1460990.2653

Mc No : 155.1090.2699 Kom No : K.17843

III.2.9 Packing

Fungsi Packing:

1. Membungkus/mengemas benang hasil dari Winding sesuai dengan nomor benangnya

2. Mendata/entry benang yang sudah dipack untuk dikirim ke gudang benang.

III.2.10 F inishProductGodown Fungsi Finish Product Godown:

(66)

III.3 Mesin Roving Stripper

Gambar III.1 Layout Mesin Roving Stripper

Mesin yang digunakan pada industri tekstil khususnya bagian spinning salah satunya adalah mesin Roving Stripper, mesin ini sebenarnya bukan mesin utama dari proses produksi tetapi hanya mesin pendukung saja, yang berguna untuk mempercepat pemerosesan produksi. Mesin Roving Stripper ini biasa juga disebut dengan Roving Cleaner yang berfungsi untuk melepas atau membersihkan benang (sliver) yang masih menempel pada bobbin dan mengubahnya menjadi serat kapas kembali.

Untuk itu mesin Roving Stripper beroprasi pada saat mesin ring frame

selesai bekerja atau pada saat proses penggantian bobbin yang baru, untuk itu

(67)

di transfer kembali oleh material transport ke mesin simplex dan begitu siklusnya.

III.3.1 Prinsip Kerja Mesin Roving Stripper

Pertama rel elektro-jet yang diatas mengantarkan benda kerja atau yang disebut dengan bobbin yang masih terdapat sisa roving pada bobbin tersebut, setelah itu sensor photocell membaca bahwa terdapat bobbin pada rel tersebut, apabila photocell tidak membaca bahwa tidak ada benda kerja pada rel tersebut maka cylinder tidak akan aktif untuk mengambil ke atas dan apabila sensor

photocell telah membaca adanya benda kerja pada rel tersebut maka cylinder akan aktif dan mengambil bobbin yang ada pada rel tersebut dan setelah benda kerja terambil maka spindle akan aktif pula dan posisi cylinder akan kembali ke tengah, namun hanya berhenti ditengah yang dimana pada posisi tersebut terdapat

magnetic sensor pada bagian luar cylinder sehingga piston cylinder berhenti ditengah yang dimana pada posisi tersebut terjadi proses pembersihan bobbin dari

sisa roving, pada posisi tersebut telah di pasang selang vacum yang berfungsi untuk menyedot sisa roving pada bobbin.

(68)

fungsinya untuk membuang sisa roving pada selang vacum agar tidak terjadi macet atau ada sisa roving pada selang vacum tersebut, dan setelah proses tersebut selesai maka bobbin di kembalikan keatas atau ke rel elektro-jet, dan posisi

cylinder kembali ke bawah ke posisi awal.

Saat pembersih vacum mencari ujung benang pada bobbin, bobbin tersebut bekerja naik turun yang digerakan oleh cylinder pneumatic yang disetting naik turun. Tujuannya agar vacum pembersih dapat menemukan ujung benang agar dapat disedot dan dibersihkan.

III.4 Komponen Mesin Roving Stripper

Mesin Roving Stripper terdiri dari empat sensor, satu controller yaitu PLC (Programmable Logic Control) Omron Type CP1E dan satu inverter untuk mengatur putaran motor, selain itu memiliki dua output yaitu selenoid valve dan motor induksi 3 fasa.

(69)

III.4.1 Morot Induksi 3 Fasa

Pada mesin ini di gunakan motor induksi 3 fasa sebagai penggerak dari

spindle, yang fungsinya yaitu untuk memutar spindel pada saat pembersihan roving sesuai dengan poros dan kecepatannya yang di atur oleh inverter. Motor ini bertujuan agar pada saat pembersihan sisa roving pengerjaannya atau peroses pembersihannya menjadi lebih cepat yang di sebabkan oleh putaran dari bobbin akibat motor dan selain itu pada saat pencarian ujung benang sisa atau roving lebih mudah ditemukan dan dapat di hisap oleh selang hisap (nozzle). Adapun name palte dari motor ini yaitu :

Gambar III.3 Nameplate Motor AC 3 Fasa

III.4.2 PLC (Programmable Logic Controller)

(70)

digunakan untuk mengatur bukaan selenoid valve dan kerja motor dengan melalui masukan (input) dari sensor dan tombol dengan kata lain selenoid valve dan motor sebagai keluaran (output).

Gambar III.4 Komponen yang adadalam PLC CP1E N30DR-A [4]

III.4.3 Inverter

(71)

frekuensi dan tegangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan kecepatan putaran dan torsi motor yang diinginkan atau sesuai dengan kebutuhan.

III.4.4 Sensor

Ada beberapa sensor yang digunakan pada mesin roving stripper yaitu sensor proximity, sensor photoelektrik, sensor saklar magnet (reed switch) dan sensor optik. Adapun kegunaan setiap sensor tersebut, yaitu :

1. Sensor Proximity

Terdapat di ujung atas mesin roving stripper yang dimana berfungsi sebagai pengaman pada saat mesin beroprasi, ketika pada saat spindle gagal mengambil bobbin dan spindel lurus mengenai rel atas bobbin dan terdeteksi oleh sensor proximity maka mesin akan mati atau tripped.

(72)

Tabel III.1. Spesifikasi Sensor Proximity

Tegangan 24 VDC

Arus 10 mA sampai 30 mA

Keadaan suhu lingkungan -25% sampai 70% Kelembapan udara 15 % sampai 65%

Jangkauan deteksi 20 mm

Bahan yang terdeteksi Logam

1. Sensor Photoelektrik

Sensor photoelektrik pada mesin ini menggunakan dua jenis photoelektrik yang berbeda dengan penempatan dan fungsi yang berbeda, yaitu sensor Photoelectric jenis Retroreflektif dan sensor Photoelectric jenis Difuse.

a. Sensor Photoelectric Jenis Retroreflektif

Sensor ini terdapat dibagian dekat dengan rel yang dimana berfungsi sebagai pendeteksi ada atau tidaknya bobbin pada rel yang dapat mengaktifkan selenoid valve sehingga silinder naik untuk mengambil

(73)

Gambar III.6 Letak Posisi Sensor Photoelectric jenis Retroreflektif Tabel III.2. Spesifikasi Sensor Photoelectric Sick VL180-2N41131

Tegangan 10 sampai 30 VDC

Arus 35 mA

Suhu sekitar -25 hingga +55 °C Kelembapan Udara 5% sampai 50% Jangkauan Deteksi 20 cm

Bahan yang Terdeteksi Manusia, kertas, logam, dll Sensitivitas Dapat Diatur

Metode Penginderaan Photoelectric retro-reflective

b. Sensor Photoelectric Jenis Difuse

(74)

dan apabila sensor tidak mendeteksi adanya bobbin pada spindel maka rel akan aktif dan melanjutkan proses selanjutnya.

Gambar III.7 Letak Posisi Sensor Photoelectric Jenis Difuse Tabel III.3. Spesifikasi Sensor Photoelectric Omron E3Z-L61

Tegangan 12 sampai 24 VDC

Konsumsi Arus maksimal 30 mA

Mode Operasi Light-ON/Dark-ON dapat dipilih

Respon Waktu 1 ms maksimal

Metode Penginderaan Diffuse-reflective

Sensing jarak 60 mm sampai 120 mm (kertas putih 100 x 100 mm)

c. Sensor Saklar Magnet (Reed Switch)

(75)

oprator selain itu sensor ini dapat membatasi kerja silinder dapat berhenti di titik-titik tertentu sesuai dengan pemasanagn sensor tersebut.

Gambar III.8 Posisi Letak Sensor Reed Switch Tabel III.4. Spesifikasi Sensor Reed Switch Sick MZT1

Tegangan 10-30 V

Arus 100 mA

Keadaan suhu lingkungan -25% sampai 75%

Tipe Output PNP-NO

Frekuensi 5 kHz

Rating IP IP67

d. Sensor Optik

(76)

tersebut tidak mendeteksi adanya sliver pada nozzle tersebut,biasanya apabila terjadi terjadi tersebut maka oleh oprator nozzle di tiup oleh angin agar tidak terjadi penyumbatan.

Gambar III.9 Letak Posisi Sensor Optic Tabel III.5. Spesifikasi Sensor Optic Omron E3X-HD

Tegangan 12 sampai 24 VDC

Konsumsi Arus maks. 39 mA pada 24 V, maks. 52 mA pada 12 V

Suhu sekitar -20 hingga +55 °C (Tanpa pembekuan)

Respon Waktu 50 μs (KECEPATAN TINGGI) Kelembapan sekitar 35 hingga 85 % RH (Tanpa

kondensasi)

Pemilihan output LIGHT-ON/DARK-ON (dapat dipilih dengan tombol)

III.4.5 Sistem Pneumatik

Pada mesin roving stripper ini melibatkan sistem pneumatik dalam pengoprasiannya, yang diataranya komponen dari sistem pneumatik ini yaitu :

(77)

Pada mesin ini digunakan katu selenoid sebanyak dua buah dengan jenis yang berbeda yaitu katup double selenoid yang berfungsi untuk menaikan dan menurutnkan silinder pada spindle dan katup selenoid spring untuk menggerakan silinder pada nozzle.

Gambar III.10 Letak Posisi Katup Double Selenoid

Gambar III.11 Letak Posisi Katup Selenoid & Spring 2. Silinder Pneumatik

(78)

sebagai penggerak maju dan mundur yang memanfaatkan spring sebagai penggerak mundur pada selang hisap (nozzle).

III.5 Perawatan Pada Mesin

Suatu mesin pada perusahaan mempunyai peran penting dalam proses produksi, yaitu untuk mempermudah serta membantu kegiatan manusia dalam melakukan suatu proses produksi suatu barang, sehingga proses produksi dari barang-barang yang dihasilkan memiliki jumlah lebih banyak dan memiliki kualitas yang lebih baik. Hal ini pada gilirannya telah memperbesar kebutuhan akan fungsi pemeliharaan pabrik, khususnya pemeliharaan mesin. Perlu diketahui pula bahwa suatu mesin jika digunakan secara terus menerus akan mengalami penurunan tingkat kesiapan (availability) dan kualitas performansinya, tetapi usia kegunaan pemeliharaan dapat diperpanjang dengan melakukan pemeliharaan peralatan secara berkala.

Menurut (Sofyan Assauri, 2008 : 134) Pengertian pemeliharaan, pemeliharaan adalah suatu kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penggantian yang diperlukan agar terdapat suatu pengadaan oprasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.

III.5.1 Tujuan Di Lakukannya Perawatan

(79)

bertujuan untuk membantu menambah masa usia pakai dari mesin tersebut dan mengurangi investasi modal yang telah di anggarkan untuk perbaikan, sesuai dengan kebijakan perushaan. Perwatan mempunyai tujuan supaya mencapai tingkat biaya yang serendah mungkin serta menghindari kegiatan perawatan yang membahayakan keselamatan tenaga kerja atau karyawan.

III.5.2 Sistematika Kegiatan Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan peralatan, dapat dilihat pada Gambar

Gambar III.12 Sistematika Kegiatan Pemeliharaan. 1. Pemeliharaan Terprogram

Suatu kegiatan pemeliharaan yang diprogramkan dan merupakan salah satu kegiatan institusi/perusahaan yang dilakukan dengan pemikiran berorientasi kemasa depan, pengendalian dan pendataan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Termasuk didalamnya adalah:

Gambar

Gambar II.1 Visi, Nilai-nilai dan Motto Perusahaan
Gambar II.2 Struktur Organisasi PT. Indo-Rama Synthetics Tbk - Indorama
gambar 2.1.
Gambar II.4 Rangkaian ekivalen motor induksi 3-fasa perfasa [1]
+7

Referensi

Dokumen terkait

Proporsi sepeda motor berpengaruh dengan kecepatan waktu tempuh pada Jalan W.R.supratman yang dapat dilihat kecepatan rata-rata sepeda motor kurang dari kecepatan

Apabila keceapatan putaran motor pengukuran sensor tidak sama dengan kecepatan putaran motor yang di input, maka mikrokontroller akan memberikan lebar pulsa, dalam

Dynamometer, adalah suatu mesin yang digunakan untuk mengukur torsi ( torque ) dan kecepatan putaran ( rpm ) dari tenaga yang diproduksi oleh suatu mesin,

Berdasarkan temuan pada penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa (1) ditemukan kerusakan mesin yaitu kelonggaran pisau pemotong mesin disc mill yang

Di dalam dunia industri banyak peralatan yang membutuhkan energi listrik, diantaranya motor listrik sebagai sumber penggerak peralatan atau mesin, seperti yang ada

Mesin ayak getar adalah mesin yang digunakan untuk melakukan proses pengayakan, di mana prinsip kerjanya adalah putaran yang bersumber dari motor listrik ditransmisikan ke

Mesin yang telah di instalasi ke sepeda motor, dan siap untuk pengujian... Pengujian kecepatan

131 Yamaha, sepeda motor Yamaha merupakan produk yang berkualitas dalam kecepatan dan mempunyai daya tahan mesin yang tinggi, sepeda motor Yamaha mempunyai