• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PUISI KASIDAH SORE HARI BERDASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PUISI KASIDAH SORE HARI BERDASA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PUISI “KASIDAH SORE HARI” BERDASARKAN STRATA NORMA RENE WELLEK1

Oleh

Eneng Reni Nuraisyah J.2

Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa yang digunakan menjadi pondasi untuk menentukan nilai estetik yang tinggi, di luar dari nilai makna yang dimiliki. Dibandingkan dengan karya sastra lain, puisi merupakan karya sastra yang imajinatif serta lebih bersifat konotatif. Proses pemaknaan sebuah puisi tidak terbatas dan luas, tergantung bagaimana tanggapan serta pemikiran pembaca dalam memaknai puisi tersebut. Oleh karenanya, untuk memahami puisi, perlu dilakukan penganalisisan puisi secara tepat. Metode yang digunakan dalam analisis puisi “Kasidah Sore Hari” karya Soni Farid Maulana ialah metode analisis Strata Norma.

Puisi merupakan karya sastra yang memiliki struktur yang kompleks, di mana terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya, yang dijelaskan oleh Rene Wellek dalam Pradopo (2010: 14-15) sebagai berikut :

Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum) adalah serangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Lapis pertama yang berupa bunyi tersebut mendasari timbulnyalapis kedua, yaitu lapis arti (units of meaning), karena bunyi-bunyi yang ada pada puisi bukanlah bunyi tanpa arti.

1Disusun untuk memenuhi tugas pengganti UAS dalam mata kuliah Kajian Puisi Indonesia dengan dosen pengampu Rudi Adi Nugroho, M.Pd.

(2)

Bunyi-bunyi itu disusun sedemikian rupa menjadi satuan kata, frase, kalimat, dan bait yang menimbulkan makna yang dapat dipahami oleh pembaca. Rangkaian satuan-satuan arti tersebut menimbulkan lapis ketiga berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, misalnya latar, pelaku, lukisan-lukisan, objek-objek yang dikemukakan, makna implisit, sifat-sifat metafisis, dunia pengarang dan sebagainya.

***

1. Analisis lapis pertama (bunyi/sound stratum)

Pembahasan lapis bunyi hanyalah ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, yaitu bunyi-bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Contoh pada kutipan kalimat satu bait pertama: rasa yang berdiang dalam dada, mengapa rupamu,/ tampak murung seperti bunga kecubung/ yang dipangkas orang dari pangkalnya? Walau cinta patah/ kedua kakinya, tidak seharusnya kau menyerah dipeluk/ ranjang duka…./ Terdapat fungsi bunyi yang dominan yaitu asonansi A (rasa - dalam - dada -mengapa - tampak - dipangkas - pangkalnya - patah - ranjang), U (rupamu -murung - bunga - kecubung - kedua - dipeluk - duka - walau), I (berdiang - seperti - cinta - kakinya). Eufoni B (bunga - kecubung -berdiang), dan D (dalam -dada -kedua -dipeluk -duka - berdiang) dengan bunyi sengau -Ng (mengapa - murung -bunga – kecubung dipangkas pangkalnya ranjang) dan Ny (pangkalnya -kakinya - seharusnya - menyerah); dan kakofoni K (tampak - kecubung -dipangkas - pangkalnya -kedua - kakinya - kau - dipeluk duka) dan P (rupamu -tampak – seperti - dipangkas –pangkalnya –patah - dipeluk).

(3)

udara– laut - segar – agar – terpecahkan – kasidah – suara- merdunya– bisa– menggetarkan – hati – batu), I (bangkitlah – hirup – ini– hati – pikiran – kita – kasidah – bisa – hati), dan E (segar – terpecahkan – oleh – merdunya – menggetarkan). Eufoni B (bangkitlah – burung-burung – bisa – batu), dan Bunyi liquida R (hirup – udara – segar – pikiran – terpecahkan - burung-burung – suara – merdunya – menggetarkan) dengan bunyi sengau – Ng (bangkitlah -burung-burung– menggetarkan),

pada kalimat satu bait kedua: kalau perlu bikin hidup ini lebih gila/ agar lebih bergairah mengisap luka…/ terdapat asonansi I (bikin – hidup – ini – lebih – gila – lebih – bergairah – mengisap) U (kalau – perlu – hidup – luka) dengan bunyi liquida L dan R (kalau – perlu – lebih – gila – agarlebih – bergairah –luka).

Pada kalimat dua bait kedua: ...Lihat ombak/ yang berdebur dan berdebur ke terjal karang/ adakah jadi beku ketika gerhana bulan menyungkup/ kehidupan? Tidak bukan! Sekali pun langit kelam/ laut tetap bernyanyi penuh pesona…/terdapat asonansi A (lihat – ombak – terjal – karang –adakah – jadi – ketika – gerhana) U (beku – bulan – menyungkup – kehidupan – bukan – laut – penuh) dan E (berdebur – terjal – beku – ketika – gerhana – kehidupan – sekali – kelam – tetap – bernyanyi – penuh – pesona). Dapat disimpulkan bahwa pada kalimat kedua ini, penyair membuat pola asonansi yang dominan, yaitu asonansi A dan E. Dalam polanya penyair membentuk pola asonansi a-e-a-e-u-a-e, di mana asonansi A dan E melambangkan suasana positif dalam puisi. Serta bunyi eufoni B (ombak –berdebur –beku –bulan –bukan –bernyanyi) dengan diiringi bunyi liquida R dan L (lihat – berdebur – terjal– karang – gerhana – bulan – sekali – langit – kelam – laut – bernyanyi) dan kakofoni K (ombakkarang – adakah – beku –ketika – menyungkup –kehidupan – tidak– bukan – sekali –kelam).

(4)

Pada kalimat satu bait ketiga:sebab kita sabar dirajam derita/ rasa yang dalam: mari kita teguk bersama/ isi botol ini di tepi pantai kehidupan…/terdapat asonansi A (sebab - kita – sabar – dirajam – derita – rasa – dalam – mari – kita– bersama– pantai – kehidupan) dan I (kita – dirajam – derita – mari –isi– di– tepi– pantai) dan eufoni B dan D (sebab- sabar –dalam – bersama –botol – kehidupan) dengan liquida R (sabar – dirajam – derita – rasa – mari – bersama) dan kakofoni S dan T (sebab – sabar – derita – rasa – kita – teguk – bersama – isi –tepi – pantai).

Kalimat dua bait ketiga:…Biarkan/ bintang-bintang dengan cahayanya yang mencrang/ menyapu wajah kita yang muram…/ terdapat asonansi A yang dominan (biarkan – bintang-bintang – dengan – cahayanya – mencrang – wajah - kita) serta eufoni bunyi sengau N, Ng, dan Ny yang dominan (biarkan– bintang-bintang – dengan – cahayanya – mencrang – menyapu) diiringi dengan bunyi liquida R (biarkan – mencrang - muram).

(5)

kakofoni K dan T yang dominan (bangkitlah – arahkan – mata –kita – kuntum – mekar –kalbu –kedua –kakinya –kokoh – langitkelam).

2. Analisis lapis kedua (arti/units of meaning)

Dalam kegiatan menganalisis arti, kita berusaha memberi makna pada bunyi, suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, bait, dan pada akhirnya makna seluruh puisi. Berikut ini adalah analisis arti dan makna puisi “Kasidah Sore Hari”. Bait I, kalimat pertama:

- rasa yangberdiangdalam dada,(berdiang= memanaskan diri di dekat api) rasa yang bergejolak atau memanas pada tubuh bagian depan manusia

- mengapa rupamu, tampak murung  (tampak murung = terlihat sedih) pertanyaan tentang raut wajah seseorang yang terlihat sedang sedih

- seperti bunga kecubung  (bunga kecubung = seperti tumbuhan yang bunganya berbentuk corong atau trompet dan berwarna ungu, bijinya memabukkan) Dalam puisi ini melambangkan raut muka yang masam atau muram

- yang dipangkas orang dari pangkalnya?  (pangkalnya = bagian permulaan atau bagian yang dianggap sebagai dasar) dipotong atau digunting oleh seseorang dari bagian dasarnya

- Walau cinta patah kedua kakinya,  cinta yang hancur dan tidak memiliki penopang untuk berdiri kembali

- tidak seharusnya kau menyerah dipeluk ranjang duka.  tidak

seharusnya ku mengalami keterpurukan serta kehilangan semangat hidup, dan jangan hanya berdiam dengan dinginnya kesedihan

Bait I, kalimat kedua:

(6)

- Hirup udara laut yang segar ini,  ajakan untuk merasakan sebuah kesejukan, kebahagiaan, dan senangan dengan menghirup udara laut yang segar

- agar hati dan pikiran kita terpecahkan  (hati dan pikiran kita terpecahkan =pikiran dan hati kita menjadi terbagi) kita tidak memikirkan hal yang itu-itu saja atau perasaan yang terbebaskan

- kasidah burung-burung, yang suara merdunya bisa menggetarkan hati batu. lantunan yang indah dari suara kicauan burung-burung dan dapat menenangkan perasaan yang keras sekali pun; bersifat pujaan keagamaan

Bait II kalimat pertama:

- kalau perlu bikin hidup ini lebih gila agar lebih bergairah mengisap luka.  memberikan saran untuk memiliki perasaan yang kuat, bersemangat dalam keadaan apapun dan bersedian mengalami kesakitan dalam hidup

Bait II kalimat kedua:

- Lihat ombak yang berdebur dan berdebur ke terjal karang

membuktikan bahwa masih ada kekuatan serta kekokohan semangat hidup - adakah jadi beku ketika gerhana bulan menyungkup kehidupan? Tidak

bukan!  pembuktian keberanian dalam menghadapi kerasnya serta gelapnya kehidupan

- Sekali pun langit kelam  (langit kelam = langit yang agak gelap; kurang terang; suram) hanya ada sedikit cahaya atau penerang dalam kehidupan

- laut tetap bernyanyi penuh pesona. Ganas, menelan korban.kekokohan prinsip hidup

Bait III kalimat pertama:

(7)

pada pelanggar hukum agama dengan dilempari batu) kesabaran hati dalam menerima penderitaan yang telah dialami

- mari kita teguk bersama isi botol ini di tepi pantai kehidupan. ajakan untuk melewati perjalanan hidup bersama-sama

- Biarkan bintang-bintang dengan cahayanya yang mencrang menyapu wajah kita yang muram.  menunggu datangnya kebahagiaan dan kesenangan yang akan menggantikan kesediahan yang telah dialami

Bait III kalimat kedua:

- Ayo bangkitlah,  (Ayo bangkitlah = ajakan untuk bangun atau berdiri) ajakan untuk menyongsong kehidupan

- arahkan pandang mata kita ke sorga,  (arahkan pandang mata = memusatkan perhatian mata pada sesuatu, sedikit lebih lama) bertujuan memiliki fokus untuk medapatkan segala kebaikan

- agarkuntum mawar mekar seluas kalbu,(kuntum mawar mekar seluas kalbu = kuncup bunga mawar yang mekar dengan bebas) menyongsong dengan bebas semangat serta keceriaan dalam hati

- dan cinta bersayap Sembilan (bersayap Sembilan = banyak cara untuk melakukan sesuatu melebihi kemampuan yang dimiliki) banyak kesempatan untuk memperoleh kasih sayang yang lebih dari sebelumnya - dengan kedua kakinya yang kokoh,  semangat serta perjuangan yang

kuat

- terbang melampaui angin dingin dan langit kelam, penjara kita di bumi.

 melewati berbagai rintangan serta cobaan yang menghampiri, yang mengurung serta membatasi kita

(8)

Lapis arti menimbulkan lapis ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, ‘dunia pengarang’, makna implisit, dan metafisis pada puisi ‘Kasidah Sore Hari’:

1. objek = benda, hal, dan sebagainya yang dijadikan sasaran untuk diteliti atau diperhatikan. Objek yang dikemukakan adalah rasa, dada(hati), rupamu, bunga kecubung, cinta, duka, udara laut, hati, pikiran, burung-burung, hidup, ombak, gerhana bulan, langit, laut, korban, derita, botol, pantai, wajah, mata, sorga, kuntum mawar, angin, penjara dan bumi.

2. Pelaku merupakan pelaku utama dalam perubahan situasi tertentu. Pelaku atau tokoh dalam puisi adalah penyair (sebagai tokoh aku yg tersirat), kau, -mu dan kita.

3. Latar adalah keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya perbuatan dalam karya sastra. Berikut latar dalam puisi:

a) di laut pada pagi hari dengan keadaan cerah dan berangin (bait I) b) di laut pada malam hari dengan keadaan gelap dan bergemuruh (bait II

dan akhir bait III )

c) di laut pada malam hari dengan keadaan cerah (awal bait III)

Jika objek-objek, latar, dan pelaku yang dikemukakan dalam puisi digabungkan, maka akan menghasilkan ‘dunia pengarang’ atau isi puisi. Dunia pengarang merupakan dunia (cerita) yang diciptakan penyair di dalam puisinya.

Contoh, berdasarkan puisi ‘Kasidah Sore Hari’ kita dapat menuliskan ‘dunia pengarang’ sebagai berikut :

(9)

dan kebahagiaan yang selama ini telah ia (kau) biarkan begitu saja, dengan cara mengajak (kau) untuk bersikap lebih kuat dalam menjalani lika-liku kehidupan. Penyair (tokoh aku yang tersirat) mengajak (kau) untuk mampu menghadapi rintangan sesulit apapun. Meskipun cobaan serta rintangan yang menghalangi jalan hidup kita teramat sulit dan berat untuk dilalui, jangan takut untuk menghadapinya, tetap teguhlah dalam pendirian dan hadapi dengan kekuatan serta semangat yang kokoh. Karena pada akhirnya rintang berat sekalipun dan kesedihan serta duka yang menyelimuti akan tergantikan dengan kebahagiaan yang telah menuggu untuk diraih.

Ada pula makna implisit yang walaupun tidak dinyatakan dalam puisi namun dapat dipahami oleh pembaca. Misalnya kata ekspresi wajah si kau seperti ‘bunga kecubung’ yaitu ekspersi muka yang muram, masam dan sedih. Pada kenyataannya pun bunga kecubung berbentuk corong atau trompet nampak seperti rauk muka seseorang yang mulutnya menjorok kedepan atau sering disebut juga ekspresi cemberut.

Dalam puisi tersebut nampak sikap optimisme yang dimunculkan penyair (tokoh aku yg tersirat) dalam memberikan ajakan untuk mengubah situasi yang selama ini ia (kau) alami yaitu dari situasi atau keadaan hidup yang sedih, penuh luka, dan derita menuju pada perubahan situasi penuh kebahagiaan dan keceriaan, seperti ajakan untuk bersikap jangan mudah menyerah, dan penuh keteguhan dalam menjalani hidup.

(10)

kembali keceriaan, dan kebahagiaan yang selama ini telah ia (kau) biarkan begitu saja, dengan cara mengajak (kau) untuk bersikap lebih kuat dalam menjalani kehidupan. Penyair (tokoh aku yang tersirat) mengajak (kau) untuk mampu menghadapi rintangan sesulit apapun. Meskipun cobaan serta rintangan yang menghadang teramat sulit dan berat untuk dilalui, jangan takut untuk menghadapinya, tetap teguhlah dalam pendirian dan hadapilah dengan kekuatan serta semangat yang kokoh. Karena pada akhirnya rintang seberat apapun dan kesedihan serta duka yang menyelimuti akan tergantikan dengan kebahagiaan yang telah menuggu untuk diraih.

***

Berdasarkan analisis fenomenologis yang sudah dilakukan pada sajak “Kasidah Sore Hari” karya Soni Farid Maulana, pada sajak tersebut terdapat fenomena ajakan berpindah dari situasi hidup fatalis yaitu prilaku menerima atau menyerah pada nasib yang meliputi situasi hidup yang penuh dengan kesedihan, luka, dan penderitaan menuju pada kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan.

Didukung dengan asonansi vokal dan bunyi eufoni (yaitu kombinasi bunyi yang menimbulkan suara merdu, dan indah) yang dominan yaitu vokal a, e, i, dan u, Konsonan bersuara b, d, g, bunyi liquida r, l dan Bunyi sengau m, n, ng, ny sehingga menimbulkan suasana penuh semangat, optimisme dan kebahagiaan.

DAFTAR PUSTAKA

- Djoko Pradopo, Rahmat. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

(11)

KASIDAH SORE HARI

Karya : Soni Farid Maulana (1987)

rasa yang berdiang dalam dada, mengapa rupamu, tampak murung seperti bunga kecubung

yang dipangkas orang dari pangkalnya? Walau cinta patah kedua kakinya, tidak seharusnya kau menyerah dipeluk ranjang duka. Bangkitlah. Hirup udara laut yang segar ini, agar hati dan pikiran kita terpecahkan oleh kasidah

burung-burung, yang suara merdunya bisa menggetarkan hati batu.

kalau perlu bikin hidup ini lebih gila

agar lebih bergairah mengisap luka. Lihat ombak yang berdebur dan berdebur ke terjal karang

adakah jadi beku ketika gerhana bulan menyungkup kehidupan? Tidak bukan! Sekali pun langit kelam laut tetap bernyanyi penuh pesona. Ganas,

menelan korban.

sebab kita sabar dirajam derita

rasa yang dalam: mari kita teguk bersama isi botol ini di tepi pantai kehidupan. Biarkan bintang-bintang dengan cahayanya yangmencrang menyapu wajah kita yang muram. Ayo bangkitlah, arahkan pandang mata kita ke sorga, agar kuntum mawar mekar seluas kalbu, dan cinta bersayap sembilan

Referensi

Dokumen terkait

Semua definisi diatas menggambarkan bahwa brand switching atau perilaku perpindahan merek oleh konsumen merupakan perilaku negatif dalam kegiatan bisnis, dimana

Tujuan Dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwa pengaruh perilaku konsumen gaya hidup, kelas sosial, dan kepribadian berpengaruh signifikan terhadap keputusan

Sesuai dengan tema pelayanan KAJ tahun 2014 “Dipilih untuk Melayani” maka Gereja mengajak seluruh umat Paroki SanMaRe untuk semakin beriman, semakin besaudara, dan semakin berbela

Akan tetapi, guru kurang mengembangkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran padahal salah satu strategi mengembangkan pendidikan karakter adalah

Dari hasil kesimpulan diatas, diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang mempunyai minat tinggi dengan siswa yang

Hakikatnya, warisan seni bina Melayu dan Islam Pulau Pinang menampilkan pelbagai jenis bangunan yang unik termasuk (a) rumah tradisional Melayu kampung yang

Genotipe kacang tanah yang diuji menunjukkan keragaman untuk hasil polong, ukuran biji, serta responsnya terhadap penyakit layu, karat, dan bercak daun, dari agak tahan hingga

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel bebas yakni variabel pendidikan keuangan di keluarga (X1), pengalaman bekerja (X2), dan