• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Hukum Tidak Tertulis Sebagai Sumber Hukum untuk Putusan Pengadilan Perkara Pidana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Hukum Tidak Tertulis Sebagai Sumber Hukum untuk Putusan Pengadilan Perkara Pidana"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kondisi penegakan hukum di Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan, karena itu penerapan asas legalitas1 secara kaku sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Selain itu, perlakuan diskriminasi terhadap pencari keadilan, juga semakin kasat mata dengan berbagai pertimbangan latar belakang sosial dan politik serta kedudukan seseorang dalam strata sosialnya. Konsekuensinya, pedang keadilan hanya tajam ke bawah, akan tetapi tumpul ke atas. Oleh karena itu, asas legalitas2

1

Pada dasarnya asas legalitas lazim disebut juga dengan terminologi “principle of legality”, “legaliteitbeginsel”, “non-retroaktif”, “de la legalite” atau “ex post facto laws”. Di Indonesia ketentuan asas legalitas ini diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang menentukan: “Tiada suatu peristiwa dapat dipidana selain dari kekuatan ketentuan undang-undang pidana yang mendahuluinya.” P.A.F. Lamintang dan C. Djisman Samosir merumuskan dengan terminologi sebagai, “Tiada suatu perbuatan dapat dihukum kecuali didasarkan pada ketentuan pidana menurut undang-undang yang telah diadakan lebih dulu”. P.A.F. Lamintang dan Djisman Samosir, Hukum Pidana Indonesia, Bandung: Sinar Baru, 1990, hal. 1.Andi Hamzah menterjemahkan dengan terminologi, “Tiada suatu perbuatan (feit) yang dapat dipidana selain berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang mendahuluinya”.Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta, 2005, hal. 41 dan Andi Hamzah, Naskah Akademik RUU-KUHAP, Makalah Diskusi Panel 27 tahun KUHAP, Indonesia Room, Hotel Shangri-La, Jakarta, 26 Nopember 2008, hal. 12.

2

Utrecht sejak dahulu juga sudah sangat berkeberatan dengan dianutnya asas legalitas di Indonesia. Alasannya antara lain ialah banyak sekali perbuatan yang sepatutnya dipidana tidak dipidana karena adanya asas tersebut serta asas legalitas menghalangi berlakunya Hukum Pidana Adat yang masih hidup dan akan hidup di Indonesia. Lebih lanjut Utrecht mengatakan, bahwa: “Terhadap asas nullum delictum itu dapat dikemukakan beberapa keberatan antara lain, bahwa asas nullum delictum itu kurang melindungi kepentingan-kepentingan kolektif (collectieve belangen). Akibat asas nullum delictum itu hanyalah dapat dihukum mereka yang melakukan suatu perbuatan yang oleh hukum ditentukan secara tegas sebagai suatu pelanggaran ketertiban umum. Jadi, ada kemungkinan seseorang yang telah melakukan suatu perbuatan yang pada hakikatnya merupakan suatu kejahatan, akan tetapi tidak diatur oleh hukum sebagai suatu pelanggaran ketertiban umum, maka ia tidak dapat dihukum. Lihat Utrecht, Rangkaian Sari Kuliah Hukum Pidana I, Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1958, hal. 195-198.

(2)

mendapat perluasan pengertian, artinya undang-undang bukan satu-satunya pedoman Hakim dalam menjatuhkan putusan.

Hal tersebut sesuai pula dengan konsep Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 2011 (untuk selanjutnya disingkat dengan RUU-KUHP), pada Pasal 1 angka (3) dirumuskan, bahwa: ”ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat yang menentukan, bahwa seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan”.3 Selanjutnya pada Pasal 1 angka (4) dijelaskan, bahwa: ”berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakatsebagaimana dimaksud pada angka (3) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa”.4

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka (1) sampai angka (4) RUU KUHP tersebut, maka secara ringkas dapat dikatakan, bahwa Hukum Pidana Indonesia adalah berdasarkan asas legalitas yang dipertegas dengan larangan menggunakan penafsiran analogi. Walaupun demikian, asas legalitas tersebut dapat dikesampingkan dengan memberlakukan hukum yang hidup dalam masyarakat (living law). Dengan demikian, ketentuan Pasal 1 angka (4) ini, jika tidak hati-hati dalam penerapannya, maka Hakim bisa terjebak pada analogi.5 Sedangkan analogi6

3

Rancangan Undang-Undang KUHP Tahun 2011.

4

Ibid.

5

Analogi adalah memberikan penafsiran pada suatu peraturan hukum dengan memberi kias pada kata-kata dalam peraturan tersebut sesuai dengan asas hukumnya, sehingga suatu peristiwa yang sebenarnya tidak dapat dimasukkan, kemudian dianggap sesuai dengan peraturan tersebut (lihat Syafruddin Kalo, Teori & Penemuan Hukum, 2004, Diktat Untuk Mata Kuliah Teori Hukum dan Penemuan Hukum Pada Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, hal. 69.

(3)

RUU KUHP tersebut dilarang dipergunakan. Tegasnya ketentuan Pasal 1 tersebut antara satu dengan yang lainnya terjadi kontradiksi, dengan kata lain pembuat undang-undang kurang konsisten.

Terlepas dari hal tersebut, setidak-tidak RUU KUHP Nasional tersebut, jika nanti disahkan dan diberlakukan, maka telah secara nyata membuka peluang penerobosan terhadap asas legalitas. Hukum tidak tertulis atau hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat tidak terabaikan keberadaannya, malahan UUD 1945 hasil amandemen kedua dalam Pasal 18B ayat (2) telah menentukan secara limitatif, bahwa: ”Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang”. Oleh karena itu, asas legalitas dewasa ini memang mulai melemah, sebagaimana yang dikatakan oleh Barda Nawawi Arief, bahwa: ”asas legalitas dalam KUHP Indonesia bertolak dari ide/nilai dasar ”kepastian hukum”. Namun, dalam realitasnya asas legalitas ini mengalami berbagai bentuk pelunakan/penghalusan atau pergeseran/perluasan dan menghadapi berbagai tantangan, antara lain sebagai berikut:7

1. Bentuk pelunakan/penghalusan pertama terdapat di dalam KUHP sendiri, yaitu dengan adanya Pasal 1 angka (2) KUHP;

6

Dalam hukum pidana analogi tidak diperbolehkan, berhubung dengan asas legalitas yang ditentukan dalam Pasal 1 KUHP, bahwa seseorang tidak dapat dijatuhi hukuman pidana, terkecuali apabila berdasarkan ketentuan undang-undang yang sudah ada sebelum peristiwa pidana dilakukan.

7

(4)

2. Dalam praktik yurisprudensi dan perkembangan teori, dikenal adanya ajaran sifat melawan hukum yang materiel;

3. Dalam hukum positif dan perkembangannya di Indonesia (dalam Undang- Undang Dasar Sementara Tahun 1950; Undang-Undang Nomor 1 Drt. Tahun 1951; Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999; dan Konsep KUHP Baru), asas legalitas tidak semata-mata diartikan sebagai ”nullum delictum sine lege”, akan tetapi juga sebagai ”nullum delictum sine ius” atau tidak semata-mata dilihat sebagai asas legalitas formal, akan tetapi juga sebagai asas legalitas materiel, yaitu dengan mengakui Hukum Pidana Adat, yaitu suatu hukum yang hidup dan ditaati oleh masyarakat atau hukum tidak tertulis yang berfungsi sebagai salah satu sumber hukum.

Walaupun demikian, kenyataan yang nampak hingga saat ini adalah kebijakan pembangunan hukum nasional masih kental dengan hegemoni hukum modern yang sarat dengan model penalaran positivistiknya. Kenyataan tersebut nampak dari beberapa indikasi, yakni:

”a. Pembangunan hukum nasional yang terfokus pada kebijakan legislasi berupa peraturan perundang-undangan;

b. Penegakan hukum yang lebih mengedepankan aspek kepastian hukum, aspek prosedural dan seringkali bersifat legalistik-formalistik”.8

Selain itu, tatanan hukum Indonesia saat ini, yang disebut-sebut sebagai ”Hukum Nasional”, tidak dibangun dari jati diri bangsa Indonesia, namun dipaksakan

8

(5)

dari konsep bangsa asing (not developed from within but imposed from out side). Perjalanan sejarah hukum Indonesia yang terinvensi melalui usaha transplantasi, transformasi, penetrasi atau upaya apapun namanya yang mengarah pada pemasukan sistem hukum asing (sistem hukum modern/Eropa) ke dalam suatu sistem hukum asli (sistem hukum pribumi/tradisional/adat) yang sudah mapan, sehingga akan mengalami kesulitan dan menimbulkan polemik yang berkepanjangan. Dengan demikian, nyatalah bahwa sumber permasalahan memakai tradisi negara hukum model Barat (constitutional state) pada negara berkembang adalah tidak terjadinya receptio in complexu secara

sempurna, ”melainkan hanya penerimaan konsep negara dan hukum ketatanegaraan Barat secara terpenggal (konstruksi dan norma positifnya dimengerti dan diterima), akan tetapi ide dan maksud dasarnya terlepas dan tidak tertangkap”.9

Di negara-negara berkembang, kebanyakan mewarisi perundang-undangan kolonial seperti Indonesia, karena itu pula pembinaan hukum melalui perundang-perundangan baru memegang peranan yang sangat penting, tetapi di samping itu harus dipahami pula tidak semua persoalan atau sengketa yang terjadi di dalam masyarakat dibawa ke pengadilan untuk penyelesaiannya. Namun demikian, seperti apa yang dikatakan oleh S.Tasrif, bahwa ia menyetujui hukum adalah ”suatu alat yang ampuh untuk mencapai pembaharuan masyarakat (Law as a tool of social engineering)”,

10

9

Ibid., mengutip pendapat Soetandyo Wignyosoebroto, Hukum: Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya, Jakarta: ELSAM dan HUMA, 2002, hal. 406.

10

S.Tasrif, Tanggap Atas Prasaran Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH, dalam: Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan, Kumpulan Karya Tulis, cet. ke-2, Bandung: Alumni, 2006, hal. 35.

(6)

peranan hukum dalam pembangunan adalah untuk menjamin, bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur yang dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi kedua-duanya.

Apa yang dikatakan oleh S.Tasrif tersebut, bahwa perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi kedua-duanya sangat berperan membantu peranan hukum dalam pembangunan, sehingga sangat diperlukan suatu penelitian tentang hukum tidak tertulis sebagai sumber hukum dalam putusan pengadilan.

Selain itu, masyarakat lebih cepat melihat hukum itu ada di ruang pengadilan, yaitu melalui perangkat-perangkat penegak hukumnya, Jaksa Penuntut Umum, Penasihat Hukum dan Majelis Hakim. Putusan pengadilan yang adil, putusan yang tidak memihak adalah harapan semua pencari keadilan, apakah ia terdakwa maupun korban serta juga para penegak hukumnya. Akan tetapi, dalam kenyataannya, harapan tersebut selalu kandas dilindas asas legalitas yang berkuasa dalam pertimbangan putusan pengadilan.

Peranan Hakim atau pengadilan dalam hal penerapan dan pengembangan hukum adalah sangat penting untuk dipelajari, dipahami ataupun diteliti. Seperti apa yang dikatakan oleh Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Sidharta,11

11

Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum Suatu Pengenal Pertama Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum, Buku I, cet. ke-2, Bandung: Alumni, 2009, hal. 97-98.

(7)

la loi)”.12

Berdasarkan ketentuan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman tersebut, tampak dengan jelas, bahwa Pengadilan atau Hakim dalam sistem hukum Indonesia bukanlah Hakim yang pasif yang merupakan corong belaka dari badan perundang-undangan seperti yang digambarkan oleh Mostesquieu, Oleh karena itu, pada umumnya orang sekarang mengetahui, bahwa selain menerapkan undang-undang, Pengadilan atau Hakim itu juga menemukan atau bahkan sering membentuk hukum baru. Hal ini disebabkan, karena di dalam sistem hukum Indonesia dikenal asas yang menyatakan, bahwa: ”Pengadilan atau Hakim itu tidak boleh menolak untuk memeriksa satu perkara dengan alasan, bahwa hukum mengenai perkara itu tidak ada atau tidak jelas”. Asas atau prinsip ini dinamakan asas non-liquet. Asas ini termuat di dalam Pasal 22 AB (Algemene Bepalingen van Wetgeving) yang berlaku di masa Kolonial Hindia Belanda.

Ketentuan Pasal 22 AB tersebut, pada saat ini diadopsi oleh Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang menentukan, bahwa: ”Pengadilan dilarang, menolak untuk memeriksa, mengadili, memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih, bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib memeriksa dan mengadilinya”. Pada ayat (2) ditentukan, bahwa: ”ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menutup usaha penyelesaian perkara perdata secara perdamaian.”

12

(8)

akan tetapi Hakim harus aktif dan berperan di dalam menemukan hukum atau membentuk hukum baru. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa: ”Pengadilan atau Hakim itu merupakan unsur yang cukup penting, tidak saja di dalam menemukan hukum, akan tetapi juga di dalam mengembangkan hukum”.13

Paul Scholten

14

mengatakan: ”Het recht is er, doch moet gevonden worden” (hukum telah ada, tetapi harus diketemukan). Selanjutnya Paul Scholten mengatakan adalah ”sesuatu yang khayal apabila orang beranggapan, bahwa undang-undang itu telah mengatur segala-galanya secara tuntas”.15

Apa yang dikatakan oleh Scholten tersebut memberikan makna, bahwa selengkap apapun undang-undang itu tetap menyiratkan kekuranglengkapan. Apa lagi seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang merupakan warisan kolonial itu masih diberlakukan di Indonesia, sudah barang tentu banyak yang tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan teori yang pernah dikemukakan oleh Cicero, ”Ubi societas, ibi ius” (”where there is a society, there is law”) di mana ada masyarakat, di sana ada hukum. Sehubungan dengan itu, Von Savigny, menyatakan, bahwa: ”hukum itu akan

13

Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Sidharta, Ibid., hal. 98 mengutip, Soedikno Martokoesoemo, Sejarah Peradilan dan Perundang-undangan di Indonesia, disertasi Universitas Gajah Mada, 1970, Penyalur (Penerbit) PT. Gunung Agung. Lihat juga buku: Bab Tentang Penemuan Hukum Prof. Dr. Soedikno Mertokoesoemo dan Prof. Mr. A. Pitlo, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1983.

14

E. Utrecht dalam Pengantar Dalam Hukum Indonesia, Djakarta: PT Penerbit Dan Balai Buku ”Ichtiar”, tjetakan kelima, 1959, hal. 224, mengutip pendapat Paul Scholten dalam bukunya, Alg Deel, hal.19.

15

(9)

berkembang sebagaimana berkembangnya pemikiran masyarakatnya”. Artinya, jika pemikiran masyarakatnya berkembang dengan baik, maka hukumnya juga akan berkembang pula dengan baik. Demikian juga sebaliknya, jika pemikiran masyarakatnya tidak berkembang dengan baik, maka hukumnya juga tidak akan berkembang dengan baik. Oleh karena itu, peranan hukum tidak tertulis untuk melengkapi hukum yang tertulis, khususnya dalam pertimbangan putusan hakim sangatlah dibutuhkan. Dengan kata lain, penerapan hukum tertulis (asas legalitas) semata-mata akan banyak menciderai rasa keadillan masyarakat, terutama masyarakat kecil dan miskin.

(10)

Sehingga dengan demikian, ”keyakinan hakimlah yang menentukan wujud kebenaran sejati dalam sistem pembukt ian ini”.16

Kedua, Conviction-Raisonee, dalam sistem ini pun dapat dikatakan, bahwa

”keyakinan hakim” tetap memegang peranan penting dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Akan tetapi, dalam sistem pembuktian ini, faktor keyakinan hakim ”dibatasi”. Jika dalam sistem pembuktian conviction in time peran ”keyakinan hakim” leluasa tanpa batas, maka pada sistem conviction-raisonee, keyakinan hakim harus didukung dengan ”alasan-alasan yang jelas”. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Dengan demikian, ”keyakinan hakim harus mempunyai dasar-dasar alasan yang logis dan benar-benar dapat diterima akal. Tidak semata-mata atas dasar keyakinan yang tertutup tanpa uraian alasan yang masuk akal”.17

Ketiga, pembuktian menurut undang-undang secara positif, merupakan pembuktian yang bertolak belakang dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau conviction-in time. Pembuktian menurut undang-undang secara positif, ”keyakinan

hakim tidak ikut ambil bagian” dalam membuktikan kesalahan terdakwa. Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukt i yang ditentukan undang-undang. Untuk membuktikan salah atau tidaknya terdakwa semata-mata digantungkan kepada alat-alat bukti yang sah. Asal sudah dipenuhi syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang, sudah cukup menentukan kesalahan terdakwa

16

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, Jakarta: Sinar Grafika, 2006, Edisi Kedua, hal. 277.

17

(11)

tanpa mempersoalkan keyakinan hakim. Dalam sistem ini, hakim seolah-olah robot pelaksana undang-undang yang tak memiliki hati nurani. Hati nuraninya tidak ikut hadir dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa.

Keempat, pembuktian menurut undang-undang secara negatif (Negatief Wettelijk

Stelsel), sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan teori

antara sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau conviction-in time. Selain itu, sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan keseimbangan antara kedua sistem yang saling bertolak belakang secara ekstrim. Dari keseimbangan tersebut, sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif ”menggabungkan” ke dalam dirinya secara terpadu, antara sistem pembuktian menurut keyakinan dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif. Dari hasil penggabungan kedua sistem dari yang saling bertolak belakang itu, terwujudlah suatu ”sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif”. Rumusannya berbunyi, salah tidaknya seseorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.

(12)

alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang serta sekaligus keterbuktian kesalahan itu ”dibarengi” dengan keyakinan hakim”.18

Sehubungan dengan itu, Wirjono Prodjodikoro19

Selanjutnya dalam Penjelasan Pasal 183 KUHAP tersebut dijelaskan pula, bahwa ketentuan ini adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum bagi seseorang. Penjelasan Pasal tersebut juga menegaskan, bahwa yang diprioritaskan pertama untuk menjatuhkan pidana terhadap seorang itu adalah untuk

berpendapat, bahwa sistem pembuktian berdasar undang-undang secara negatif (negatief wettelijk) sebaiknya dipertahankan berdasarkan dua alasan. Pertama, memang sudah selayaknya harus ada keyakinan Hakim tentang kesalahan terdakwa untuk dapat menjatuhkan suatu hukuman pidana, janganlah Hakim terpaksa memidana seseorang, sedangkan Hakim tidak yakin atas kesalahan terdakwa. Kedua ialah berfaedah, jika ada aturan yang mengikat hakim dalam menyusun keyakinannya, agar ada patokan-patokan tertentu yang harus diturut oleh hakim dalam melakukan peradilan. Sehingga sistem pembuktian berdasar undang-undang secara negatif (negatief wettelijk) ini dianut oleh Hukum Acara Pidana Indonesia. Sistem tersebut tercantum dalam Pasal 183 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menentukan: ”Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan, bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

18

Ibid., hal. 278-279.

19

(13)

tegaknya kebenaran, kemudian keadilan dan yang terakhir adalah kepastian hukum. Oleh karena itu, kepastian hukum yang selalu menjadi label asas legalitas, ternyata dalam Penjelasan Pasal 183 KUHAP, kepastian hukum diposisikan paling belakang, yaitu di belakang kebenaran dan keadilan.

Selain itu, Penjelasan Pasal 183 KUHAP yang menganut sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif tersebut merupakan pintu masuk penerapan melawan hukum materiel, baik fungsi negatif maupun positif. Hal mana disebabkan dalam memutus suatu perkara, Hakim tidak terikat pada ketentuan perundang-undangan yang ada, setidak-tidaknya Hakim lebih leluasa untuk menemukan hukum atau menafsirkan hukum sesuai dengan keyakinan yang ada padanya yang termasuk juga di dalamnya adalah keyakinan Hakim, bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa walaupun tidak memenuhi unsur-unsur perundangan-undangan. Akan tetapi, dia meyakini perbuatan tersebut adalah perbuatan tercela, tidak patut menurut hukum yang hidup masyarakat atau yang mencederai rasa keadilan masyarakat. Di lain pihak ia berkeyakinan walaupun perbuatan tersebut memenuhi unsur-unsur dalam pasal-pasal yang didakwakan, tetapi ia berkeyakinan, bahwa perbuatan tersebut tidak tercela dalam pandangan masyarakat.

(14)

Indonesia bukanlah suatu permainan untuk mencari menang, melainkan untuk mencari kebenaran dan keadilan”.20

20

Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progressif, Jakarta: Buku Kompas, 2007, hal. 275.

Oleh karena itu, dalam Hukum Pidana dimungkinkan adanya alasan pembenar (rechtvaardigingsgrond), yaitu pembenaran atas tindak pidana yang sepintas lalu melawan hukum dan alasan pemaaf (schuldduitsluitingsgrond) yaitu pemaafan perbuatan seseorang sekalipun telah melakukan tindak pidana atau melawan hukum. Alasan pembenar ini diatur dalam KUHP, yaitu antara lain dalam Pasal 31, 32, 33, 34, 35. Pasal-pasal tersebut antara lain mengatur tentang: ”tidak dipidana orang yang melakukan tindak pidana, karena melaksanakan peraturan perundang-undangan, melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh pejabat yang berwenang, keadaan darurat serta pembelaan diri.

Sedangkan alasan pemaaf ini diatur dalam KUHP, yaitu antara lain dalam Pasal 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50 dan 51. Pasal-pasal tersebut antara lain mengatur tentang: ”tidak dipidana, orang yang tidak mengetahui, bahwa perbuatan yang dilakukan merupakan tindak pidana, orang yang melakukan tindak pidana karena adanya paksaan, tekanan dan ancaman yang tidak bisa dihindari”.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, setidak-tidaknya ada lima alasan yang menjadi latar belakang penelitian ini perlu untuk dilakukan, yakni:

Pertama, adanya ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun

(15)

Dalam penjelasan pasal tersebut dijelaskan, bahwa ketentuan ini dimaksudkan agar putusan Hakim dan Hakim Konstitusi sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Oleh karena itu, semua masyarakat yang masih mengenal hukum tidak tertulis, serta berada dalam masa pergolakan dan peralihan, Hakim merupakan perumus dan penggali nilai-nilai hukum yang hidup di kalangan masyarakat. Untuk itu ia harus terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian Hakim dapat memberikan putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Dalam menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan, ”Hakim wajib memperhatikan sifat baik atau sifat jahat dari terdakwa, sehingga putusan yang dijatuhkan sesuai dan adil dengan kesalahan yang dilakukannya”.21

Dibenarkannya melakukan penafsiran berarti walaupun asas legalitas bersifat rigid tetap dimungkinkan dilakukan pengecualian sepanjang batas-batas tertentu, meski

dalam realitasnya penganut legal positivis menolak hal tersebut. Dalam ajaran positivis larangan penafsiran analogi bukan hanya sekedar doktrin, melainkan telah Ketentuan Pasal 5 ayat (1) tersebut secara tegas membuka peluang untuk menerapkan hukum yang tidak tertulis, hukum yang hidup dalam masyarakat (living law), yang sekaligus menegatifkan asas legalitas. Selain itu, juga membuka peluang bagi

Hakim untuk melakukan penemuan hukum atau penafsiran-penafsiran, sepanjang tidak bernuansakan penafsiran analogi, akan tetapi penafsiran yang dibenarkan yaitu penafsiran ekstensif.

21

(16)

diformulasikan secara tegas dalam asas legalitas yang diatur dalam Pasal 1 angka (1) KUHP.

Dalam sejarah peradilan Indonesia penafsiran analogi pernah diterapkan oleh Bismar Siregar ketika menjadi Hakim Pengadilan Tinggi Sumatera Utara di Medan yaitu dalam kasus seorang lelaki yang menyetubuhi seorang perempuan dengan janji akan menikahinya, akan tetapi kemudian ia mengingkari janjinya tersebut.

Menurut Hakim Bismar, memang benar dari segi hukum perdata perikatan hukum yang demikian batal demi hukum karena bertentangan dengan undang-undang, sehingga walaupun ada cedera janji (wanprestasi) yang dilakukan oleh terdakwa, hal tersebut tidak dapat digugat ganti rugi oleh saksi korban, tetapi Bismar berpendapat di bidang pidana, perbuatan cedera janji dapat dipertanggungjawabkan kepada terdakwa. Bismar menganalogikan sesuatu yang melekat bersatu dalam diri seseorang seperti ”alat kelamin” sebagai ”barang” dengan menafsirkan istilah ”barang” dalam bahasa daerah terdakwa dan saksi (Tapanuli) dikenal sebagai ”bonda” yang dapat diartikan sebagai ”alat kelamin”. Saksi korban menyerahkan kehormatannya kepada terdakwa karena bujuk-rayu hendak dinikahi sama dengan menyerahkan bonda (barang) karena tipu muslihat. Hakim Bismar kemudian memutus menghukum laki-laki tersebut berdasarkan Pasal 378 KUHP (Penipuan). Akan tetapi, ”putusan tersebut kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung, karena dianggap melakukan analogi”.22

Kedua, adanya ketentuan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang menentukan: ”Pengadilan

22

Widodo Dwi Putri, mengutip Putusan Pengadilan Tinggi Medan No. 144/PID/1983/PT Mdn dalam disertasi: Tinjauan Kritis Filosofis Terhadap Positivisme Hukum,

(17)

dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih, bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”.

Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman ini mirip dengan ketentuan Pasal 22 A.B. yang menentukan: ”bilamana seorang Hakim menolak menyelesaikan suatu perkara dengan alasan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan tidak menyebutnya, tidak jelas atau tidak lengkap, maka Hakim itu dapat dituntut karena penolakan mengadili. Oleh karena itu, maka Hakim terpaksa turut serta menentukan mana yang merupakan hukum dan mana yang tidak. Bilamana undang-undang tidak menyebut suatu perkara, maka Hakim harus bertindak atas inisiatif sendiri. Hakim harus bertindak sebagai pembentuk hukum dalam hal undang-undang diam saja. Rasio ketentuan yang terdapat dalam Pasal 22 A.B. ini: masyarakat tidak tertolong apabila ditinggalkan dengan perselisihan-perselisihan yang tidak selesai. Sehingga, tugas Hakim ialah menyelesaikan semua perkara. Selain itu, Hakim wajib membuat penyelesaian yang diinginkan masyarakat tersebut. Oleh karena itu, adanya pendapat, bahwa: ”Hakim tidak lain dari pada corong undang-undang atau ”Labouche qui prononce les paroles de la loi” telah tidak berlaku lagi”.23

Menurut van Apeldoorn, Hakim harus menyesuaikan (waarderen) undang-undang dengan hal-hal konkrit yang terjadi di masyarakat dan selanjutnya dibawa kemukanya, Hakim harus menambah (aanvullen) apabila perlu. Hakim harus menyesuaikan undang-undang dengan hal-hal yang konkrit, karena undang-undang

23

(18)

tidak dapat meliputi segala kejadian yang timbul di masyarakat. Bukankah pembuat undang-undang hanya menetapkan suatu petunjuk hidup umum saja? Pertimbangan mengenai hal-hal yang konkrit tersebut, yaitu: ”menyesuaikan undang-undang dengan hal-hal konkrit, diserahkan kepada Hakim”.24

Lembaga penemuan hukum ini akan dibawa kepada lembaga interpretasi hukum dan konstruksi hukum. Karena dalam melakukan penyesuaian peraturan perundang-undangan dengan peristiwa konkrit yang terjadi dalam masyarakat, tidak selalu dapat diselesaikan dengan jalan menghadapkan fakta dengan peraturannya saja melalui interprestasi, tetapi lebih jauh dari itu kadangkala Hakim terpaksa mencari dan membentuk hukumnya sendiri melalui kontruksi penafsiran, rechtsverfijning

Ketentuan tersebut di atas dapat dimaknai, bahwa Hakim dipaksa atau wajib turut serta menentukan mana yang merupakan hukum dan mana yang tidak. Bilamana undang-undang tidak mengatur suatu perkara, maka Hakim harus bertindak atas inisiatif sendiri untuk menemukan dan menggali nilai-nilai hukum yang tidak tertulis yang hidup di kalangan masyarakat (living law). Untuk itu, ia harus terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Penemuan hukum lazimnya diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh Hakim yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa-peristiwa konkrit. Ini merupakan proses konkritisasi dan individualisasi peraturan hukum yang bersifat umum dengan mengingat peristiwa konkrit.

24

(19)

(menghaluskan hukum, membentuk pengecualian-pengecualian atas aturan-aturan hukum yang bersifat umum).

Paham yang menyatakan, bahwa Hakim tidak lain adalah corong undang-undang belaka (La bouche qui prononce les poroles de la loi) harus ditinggalkan karena masyarakat bergerak/berkembang begitu cepat, sehingga tidak jarang zaman meninggalkan hukum jauh di belakang.

Ketiga, adanya ketentuan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang menentukan: ”Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili”.

(20)

Dalam tradisi hukum Civil Law, peran pemerintah dan parlemen dominan dalam pembuatan hukum yang berupa peraturan-peraturan tertulis. Sementara Hakim hanyalah corong undang-undang dan dilarang untuk menciptakan hukum. Para Hakim dari tradisi Eropa Kontinental, pada dasarnya berada pada arus besar (mainstream) pemikiran, bahwa ”law as it is written in the book”. Artinya, Hakim dalam menyelesaikan perkara harus terlebih dahulu melihat kepada undang-undang dari pada sumber hukum lainnya. Tempat pengadilan dalam sistem hukum yang lebih cenderung ke tradisi kontinental serta dominasi paradigma Positivisme Hukum, tidak memberi ruang yang cukup pada pengadilan untuk menjadi suatu institusi yang mampu menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.25

Sifat melawan hukum (wederrechtelijkeheid) dalam ilmu hukum dikenal dua macam, yaitu sifat melawan hukum materiel (materiel wederrechtelijkehid) dan sifat melawan hukum formil (formale wederrechtelijkehid). Sifat melawan hukum materiel (materiel wederrechtelijkeheid) merupakan sifat melawan hukum yang luas yaitu melawan hukum itu sebagai suatu unsur tidak hanya melawan hukum yang tertulis saja, tetapi juga hukum yang tidak tertulis. Jadi walaupun undang-undang tidak menyebutkannya, maka melawan hukum adalah tetap merupakan unsur dari setiap tindak pidana. Sedangkan sifat melawan hukum formal (formale wederrechtelijkeheid) adalah ”merupakan unsur dari hukum positif yang tertulis saja sehingga ia baru

Keempat, Perbuatan Melawan Hukum Materil Pasca Putusan Mahkamah

Konstitusi Nomor: 003/PUU-IV/2006, tanggal 25 Juli 2006.

25

Widodo Dwi Putro, Disertasi: Tinjauan Kritis Filosofis Terhadap Positivisme Hukum,

(21)

merupakan unsur dari tindak pidana apabila dengan tegas disebutkan dalam rumusan tindak pidana”.26

Praktek peradilan pidana di Indonesia menganut sifat melawan hukum materiel dalam fungsinya yang negatif yang merupakan hukum yang tidak tertulis. Tetapi diterapkan dalam berbagai putusan pengadilan. Meskipun perbuatan terdakwa memenuhi unsur tindak pidana, apabila perbuatan tersebut menurut nilai-nilai yang hidup di masyarakat tidak lagi mengandung sifat melawan hukum, telah merupakan social adequat, telah menjadi hal yang biasa dalam masyarakat, maka kepada terdakwa

tidak dikenakan pidana. Putusan bisa berupa pelepasan dari segala tuntutan hukum. Sifat melawan hukum materiel terdiri dari sifat melawan hukum materiel fungsi negatif dan sifat melawan huku m materiel fungsi positif. Ajaran melawan hukum materiel fungsi negatif mengatakan, bahwa jika suatu hukum tertulis menganggap suatu perbuatan melawan hukum dan diancam dengan pidana, tetapi masyarakat menganggap perbuatan tersebut wajar-wajar saja, tidak tercela, maka terdakwa tidak dipidana walaupun unsur-unsur pasal yang didakwakan terbukti secara sah dan meyakinkan terbukti dilakukan oleh terdakwa.

Sedangkan ajaran melawan hukum materiel fungsi positif mengatakan bahwa perbuatan yang dilakukan terdakwa tidak diatur di dalam hukum positif atau hukum tertulis, tetapi perbuatan tersebut melanggar norma-norma tidak tertulis yang ada di dalam masyarakat dan perbuatan itu dianggap tercela, maka terdakwa masih dapat dipidana.

26

(22)

Merupakan alasan peniadaan pidana disebabkan kehilangan sifat melawan hukumnya dan merupakan alasan pembenar.

Sifat melawan hukum materiel yang negatif tersebut dalam praktek tidak secara tegas dipraktekkan dalam peradilan pidana di Indonesia, karena Mahkamah Agung RI ternyata mempraktekkan pula sifat melawan hukum materiel dalam fungsi positif yakni sebagaimana dalam putusannya Nomor 275K/Pid/1982 dalam perkara Korupsi Bank Bumi Daya, Mahkamah Agung secara tegas dan jelas mengartikan sifat melawan hukum materiel, yaitu menurut kepatutan dalam masyarakat, khususnya dalam perkara tindak pidana korupsi apabila seorang pegawai negeri menerima fasilitas berlebihan serta keuntungan lainnya dengan maksud agar ia menyalahgunakan kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatannya. Hal itu menurut Mahkamah Agung ”merupakan perbuatan tercela atau perbuatan yang menusuk rasa keadilan masyarakat banyak”.27

Mahkamah Agung melalui yurisprudensinya melakukan pergeseran perbuatan melawan hukum materiel ke arah fungsi positif melalui kriteria limitatif dan kasuistik berupa ”perbuatan pelaku yang tidak memenuhi rumusan delik dipandang dari segi kepentingan hukum yang lebih tinggi, ternyata menimbulkan kerugian yang jauh tidak seimbang bagi masyarakat/negara dibanding dengan keuntungan dari perbuatan pelaku yang tidak memenuhi rumusan delik tersebut”.28

27

Guse Prayudi, Sifat Melawan Hukum Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Majalah Varia Peradilan, Tahun XXII, No. 254 Januari 2007, Jakarta: IKAHI, 2007, hal. 25.

28

(23)

Pada hakikatnya, pertimbangan putusan Mahkamah Agung ini dianggap sebagai perkembangan interpretasi futuristis yang menyelami perasaan keadilan masyarakat di satu pihak, sedangkan lainnya berpendapat, bahwa sejak putusan itu ajaran sifat melawan hukum materiel telah mempunyai fungsi positif. Fungsi ini, menurut ajaran umum hukum pidana, ”tidak diperbolehkan karena akan bertentangan dengan asas legalitas”.29

Walaupun demikian, Mahkamah Agung sebagai garda terakhir penegakan hukum ternyata tidak memperdulikan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut. Dengan kata lain Mahkamah Agung tetap menganut ajaran perbuatan melawan hukum materiel sebagaimana terdapat dalam putusannya, antara lain Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 2064 K/Pid/2006 tanggal 8 Januari 2007 atas nama terdakwa H. Fahrani Dengan demikian, pertimbangan putusan Mahkamah Agung tersebut dianggap sebagai perkembangan interpretasi futuristis yang menyelami perasaan keadilan masyarakat di samping mempunyai daya efek jera bagi para pelaku korupsi yang semakin menggurita.

Hanya saja, yurisprudensi yang memiliki daya tangkal yang kuat untuk menekan angka kenaikan tindak pidana korupsi tersebut telah dibatalkan oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 yang menyatakan, bahwa Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 dinyatakan telah bertentangan dengan UUD 1945 dan telah dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

29

(24)

Suhaimi, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 996 K/Pid/2006 tanggal 16 Agustus 2006 atas nama terdakwa Hamdani Amin, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1974 K/Pid/2006 tanggal 13 Oktober 2006 atas nama terdakwa Prof. Dr. Rusadi Kantaprawira, SH, seluruh putusan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).

Kelima, ketentuan Undang-Undang Darurat (UUDRT) Nomor 1 Tahun 1951

Tentang Tindakan-Tindakan Sementara Untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan Kekuasaan dan Acara Pengadilan-Pengadilan Sipil pada Pasal 5 ayat (3) huruf (b) menentukan, bahwa:

Hukum materiil sipil untuk sementara waktu pun hukum materil pidana sipil yang sampai kini berlaku untuk kaula-kaula daerah Swapraja dan orang-orang yang dahulu diadili oleh Pengadilan Adat, ada tetap berlaku untuk kaula-kaula dan orang itu, dengan pengertian:

a. bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana, akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil, maka dianggap diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus rupiah, yaitu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak terhukum dan penggantian yang dimaksud dianggap sepadan oleh Hakim dengan besar kesalahan yang terhukum;

b. bahwa bilamana Hukuman Adat yang dijatuhkan itu menurut fikiran Hakim melampaui padanya dengan hukuman kurungan atau denda yang dimaksud di atas, maka atas kesalahan terdakwa dapat dikenakan hukuman pengganti setinggi-tingginya 10 tahun penjara. Dengan pengertian, bahwa Hukuman Adat yang menurut faham Hakim tidak selaras lagi dengan zaman senantiasa mesti diganti seperti tersebut di atas, dan bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana dan yang ada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil, maka dianggap diancam dengan hukuman yang sama dengan hukuman bandingnya yang paling mirip kepada perbuatan pidana itu.

(25)

Undang-Undang Darurat dan Semua Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Yang Sudah Ada Sebelum Tanggal 1 Januari 1961 Menjadi Undang-Undang yang menentukan secara tegas pada Pasal 1-nya, bahwa: ”Semua Undang-Undang Darurat dan Semua Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang hingga tanggal 31 Desember 1960 belum mendapat pengesahan atau persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, ditetapkan menjadi Undang-Undang.” Lebih lanjut dalam Pasal 2-nya menentukan, bahwa: ”Peraturan-peraturan Negara termaksud dalam Pasal 1 yang masih berlaku pada saat mulai berlakunya undang-undang ini, akan segera disesuaikan dengan Ketetapan-Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor I/MPRS/1960 dan Nomor II/MPRS/1960.”

Perlu ditegaskan, bahwa dalam penelusuran kepustakaan di Indonesia bahwa penelitian tentang: ”Hukum tidak tertulis sebagai salah satu sumber hukum dalam keputusan pengadilan perkara pidana” belum pernah dilakukan. Dengan demikian penelitian ini masih orisinal.

(26)

”putusan-putusan Mahkamah Konstitusi kerap dikatakan memiliki sifat progresif karena dilandasi oleh pemikiran progresif dari Hakim-Hakimnya”.30

Teori Roscoe Pound mengenai kepentingan-kepentingan sosial merupakan sebuah usaha yang lebih eksplisit untuk mengembangkan suatu model hukum responsif. Dalam perspektif ini, hukum yang baik seharusnya menawarkan sesuatu yang lebih daripada sekadar keadilan prosedural. Hukum yang baik harus berkompeten dan juga adil. Oleh karena itu, ”hukum semacam itu seharusnya mampu mengenali keinginan publik dan punya komitmen bagi tercapainya keadilan substantif”.

Di negara-negara Anglo-Saxon, Hakim pengadilan diberi kebebasan untuk tidak terbelenggu oleh ketentuan undang-undang guna mencari keadilan serta menciptakan hukum sendiri, sehingga produk hukumnya cenderung responsif. Sebaliknya, di negara-negara Eropa Kontinental, Hakim hanya boleh menerapkan hukum sesuai ketentuan undang-undang, sehingga produk hukumnya cenderung ortodoks.

31

30

Moh. Mahfud MD, Hukum Kata Kerja, Hukum Untuk Manusia, Kata Pengantar dalam, Norbertus Jegalus, Hukum Kata Kerja Diskursus Tentang Hukum Progresif, cet. ke-1, Jakarta: Obor, April 2011, hal. xxiii.

31

Philippe Nonet and Philip Selznick, Law and Society in Transition: Toward responsive aw, Harper & Row, 1978, Penerjemah, Raisul Muttaqien, Hukum Responsif, cet. ke-2, Bandung: Nusamedia, Agustus 2008, hal. 83-84.

(27)

Satjipto Rahardjo mengatakan, ”hukum progresif adalah sebuah konsep mengenai cara berhukum”.32

Selanjutnya Satjipto Rahardjo

Cara berhukum tidak hanya satu; melainkan bermacam-macam. Di antara cara berhukum yang bermacam-macam itu, hukum progresif memiliki tempatnya sendiri.

Untuk membuat deskripsi yang jelas mengenai hukum progresif, maka ia dapat dihadapkan kepada cara berhukum yang positif-legalistis. Dalam cara berhukum terakhir, maka berhukum adalah menerapkan undang-undang. Cara berhukum yang demikian ini semata-mata berdasarkan undang-undang (alles binnen de kader van de wet) atau ”mengeja undang-undang”. Di sini orang tidak berpikir jauh kecuali membaca

teks dan logika penerapannya. Cara berhukum seperti ini adalah ibarat menarik garis lurus antara dua titik. Titik yang satu adalah pasal undang-undang dan titik yang lain adalah fakta yang terjadi.

Segalanya berjalan secara linier, sehingga cara berhukum sudah seperti mesin otomatis. Paul Scholten (1954) menyebutnya sebagai: ”hanteren van logische figuren”, sedangkan O.W. Holmes (1963) mengatakannya sebagai ”a book of mathematics”.

33

32

Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif: Aksi, Bukan Teks,kumpulan tulisan peringatan Ulang Tahun yang ke-40 Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh,, dalam Memahami Hukum Dari Konstruksi Sampai Implementasi, Jakarta: Rajawali Pers, Ed.1-1, 2009.

33

Ibid.

(28)

Cara berhukum memang dimulai dari teks, tetapi tidak berhenti hanya sampai di situ, melainkan mengolahnya lebih lanjut yang disebut aksi dan usaha manusia itu. Dengan demikian, maka cara berhukum secara progresif itu lebih menguras energi, baik pikiran maupun empati dan keberanian.

Hadi Suyoto mengutip pendapat Gustav Radbruch yang menyatakan, bahwa: ”putusan hakim yang ideal setidaknya memuat idee des recht yang meliputi unsur keadilan (gerechtigheit), kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (Zwechmassingheit) ketiga unsur harus diterapkan secara proporsional yang pada akhirnya menghasilkan putusan yang memenuhi harapan para pencari keadilan”.34

Selanjutnya Hadi Suyoto menyatakan, bahwa: ”ketiga unsur yang dipopulerkan Gustav Radbruch tersebut dalam implimentasinya tidaklah mudah, oleh karena Hakim harus bekerja lebih sungguh-sungguh dalam menemukan hukum (rechtsvinding) dan menciptakan hukum (rechtsshepping)”. Akan tetapi, sangat disayangkan masih banyak ditemukan kesungguhan hakim belum maksimal bahkan sekadar menerima apa adanya dalam undang-undang atau hukum positif. ”Sehingga hegemoni ini berimplikasi terhadap hak-hak dan atau kepentingan-kepentingan para pencari keadilan terabaikan atau bahkan kepatutan, keadilan, ketertiban dan kepentingan umum juga menjadi hal-hal yang terlupakan”.35

34

Majalah Varia Peradilan, Tahun XXV No. 293 , April 2010, hal. 67.

35

Hadi Suyoto, Ibid.

Sedangkan di Amerika seorang Hakim dianggap menjalankan empat peranan: Pertama, menegakkan norma (norm enforcer) ;

(29)

Keempat sebagai seorang politikus.36

Ketiga: Peradilan rasional, peradilan yang bekerja atas asas-asas kerja sebuah organisasi birokrasi dan hasilnya berlaku secara universal, peradilan inilah yang banyak berkembang di negara-negara modern, tidak terkecuali di Indonesia.

Peranan terakhir ini tidak lazim diakui di Indonesia, kecuali apabila diperdebatkan apa yang sering dikeluhkan para hakim, bahwa pada masa Orde Baru sangat terasa pengaruh Menteri Kehakiman (seorang yang ditunjuk secara politis) terhadap para Hakim, termasuk juga pada para Hakim Agung.

Merujuk terhadap konsep tentang rasionalitas hukum, baik formal maupun substantif Max Weber menengarai adanya tiga tipe penyelenggaraan peradilan dalam masyarakat, yaitu:

Pertama: Peradilan Kadi atau peradilan dengan fungsi perdamaian atas dasar kearifan dan kebijaksanaan sang Pengadil.

Kedua: Peradilan Empiris, dalam peradilan ini Hakim memutuskan perkara-perkaranya dengan cara beranalogi dengan keputusan-keputusan terdahulu yang ada relevansinya dengan perkara yang sedang ditangani. Tipe yang kedua ini lebih rasional.

37

Sehingga ada pertanyaan yang muncul dari sebuah peradilan rasional, apakah hasilnya sudah bisa berlaku universal? Ketika putusan peradilan hanya didasarkan atas ketentuan-ketentuan perundang-undangan atau kitab undang-undang (rechtspraak naar wetboeken), ”pengadilan yang demikian ini adalah diilhami dengan paham positif atau

moderne wetgeving yang mengutamakan peraturan perundang-undangan yang bersifat

tertulis (schreven wetgeving)”.38

36

Mardjono Reksodiputro, Butir-Butir Pemikiran Dalam Hukum memperingati 70 tahun Prof. Dr. B. Arief Sidharta, SH., Bandung: PT. Refika Aditama, Oktober 2008, hal. 110.

37

Hadi Suyoto, Op. Cit., hal. 68.

38

(30)

Konsep yang terus dicantumkan di dalam ketentuan undang-undang Kekuasaan Kehakiman, walaupun undang-undang tersebut telah berapa kali dirubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, adalah diterimanya konsep yang menjadi acuan pengadilan pidana yaitu:

Pertama, bahwa pengadilan menerapkan dan menegakkan hukum dan keadilan

berdasarkan Pancasila.

Kedua, bahwa pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan

memutus perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.

Ketiga, bahwa segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar

putusan, memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar mengadili.

Keempat, bahwa Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai

hukum dan rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat. Di dalam praktek konsep yang ada bernaung di dalam Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman tersebut merupakan konsep yang selalu diabaikan untuk dipedomani oleh para hakim dalam memutus suatu perkara, khususnya konsep ketiga dan keempat.

Para Hakim seharusnya konsisten menerapkan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman39

Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta: Sekretaris Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006, hal. 7.

(yang merupakan konsep

39

(31)

ketiga) yang membuka peluang bagi sumber hukum tidak tertulis untuk

dipertimbangkan hakim dalam mengadili dan memutus perkara. ”Tetapi faktanya, pasal tersebut merupakan pasal yang mati suri dalam prakteknya”.

Di satu sisi Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman membuka peluang diterapkannya sumber hukum tak tertulis dalam pertimbangan suatu putusan, di lain sisi Undang-Undang tersebut tidak menunjukkan konsistensinya, karena pada Pasal 6 ayat (2) ditegaskan bahwa tidak seorangpun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila Pengadilan karena alat pembuktian yang sah ”menurut undang-undang”, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.

(32)

mendasar pada sistem penegakan hukum di Indonesia yang menyebabkan prinsip keadilan menjadi lemah ditindas oleh prinsip kepastian hukum yang bernuansakan penerapan hukum tertulis secara kaku.

Problem itu berakar dari sistem hukum yang dianut yaitu civil law system. Masalah utama terlihat ketika suatu hukum telah bertransformasi menjadi undang-undang yang merupakan prinsip utama dari kultur civil law system, sistem ini telah diadopsi Indonesia.

Problem yang tidak putus-putusnya dari reformasi hukum adalah problem yang menyangkut keadilan dalam hubungannya dengan penegakan hukum. Hukum ataupun peraturan perundang-undangan seharusnya bersikap adil, tetapi realitasnya keadilan bagai barang mewah yang tidak terjangkau sebagian masyarakat, terutama masyarakat kecil dan miskin.

Tetapi di lain pihak, negara asal Civil Law System seperti Prancis telah membuka pintu untuk mentransfer sistem hukum yang lain, seperti common law system.

Achmad Ali40

40

Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial Prudence), Vol.1 Pemahaman Awal, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009, hal. 498.

(33)

Realitas hukum di Indonesia, memberlakukan: (1) Perundang-undangan (ciri Eropa Kontinental), (2) Hukum Adat (ciri customary law), (3) Hukum Islam dan eksistensi Peradilan Agama di Indonesia (ciri Islamic Law System), (4) Hakim Indonesia di dalam praktek mengikuti ”Yurisprudensi” (ciri common law, dengan asasnya ”stare

decisis”. Itulah argumen, sehingga ”pakar modern memasukkan Indonesia ke dalam

”Mix Legal System” (berlaku sistem hukum perundang-undangan, hukum adat dan

hukum Islam), dan memang itulah yang tepat”.41

Memperhatikan apa yang dikemukakan Achmad Ali di atas, tergambarlah bahwa ia sangat tidak setuju, jika Indonesia menganut sistem hukum Civil Law. Sampai-sampai ia menghujat pakar hukum lainnya yang berdiri atas pendapat Indonesia menganut sistem hukum Civil Law: ”Maka bagi para alumni Fakultas-Fakultas Hukum di Indonesia produk ”tempo doloe” senantiasa dicekoki dengan indoktrinasi, bahwa: ”sistem hukum Indonesia (yang mantan Kerajaan Hindia Belanda), adalah menganut sistem Civil Law atau Eropa Kontinental”, katanya”.42

Begitu pula halnya dengan konsep keempat, hal tersebut diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, mengamanatkan ”Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”, tidak digunakan oleh para Hakim dalam memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara (pidana). Padahal pasal tersebut memiliki titik temu dengan pemikiran Eugen Ehrlich yang menegaskan, bahwa: ”titik berat perkembangan hukum tidak terletak dalam

41

Ibid., hal. 499.

42

(34)

perundang-undangan juga tidak dalam putusan pengadilan maupun ilmu pengetahuan di bidang hukum akan tetapi dalam masyarakat itu sendiri”.43

Kalimat ”Ketuhanan Yang Maha Esa” tersebut mengilhami mantan Hakim Agung, Bismar Siregar untuk mengatakan, bahwa: ”mengamati hukum yang berlaku sekarang ini, siapapun tidak akan menyangkal, bahwa apa yang disebut hukum yang Berketuhanan Yang Maha Esa, masih jauh dari harapan”.

Putusan Hakim beberapa waktu belakangan ini, khususnya priode 2009-2011 banyak mendapat kritikan tajam dari masyarakat, karena dinilai mencederai rasa keadilan yang menyimpang dari nilai-nilai keadilan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 hasil amandemen Pasal 24 ayat (1) yang menentukan, bahwa kekuasaan Kehakiman (di mana produknya adalah putusan Hakim) merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Menegakkan hukum dan keadilan, ibarat ketidakakuran antara bibir dan hati. Yang mencuat ke permukaan di dominasi oleh prinsip kepastian hukum, sementara keadilan tenggelam di dasar laut yang dalam. Padahal setiap putusan Hakim diawali dengan kalimat yang sangat sakral, yakni: ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

44

Untuk menegakkan hukum dan keadilan yang dilakukan aparat penegak hukum, khususnya Hakim, tidaklah cukup hanya berbekal kualitas ilmu hukum dan ilmu

43

Eugen Ehrilch, Fundamental Prinsiples of the Sosiology of Law, New York: Arno Press, Edisi 1975, terjemahan oleh W. L. Moll.

44

Bismar Siregar, Meningkatkan Peranan dan Tanggung Jawab Profesi Hukum Dalam

Pembangunan Sebagai Pengamalan Pancasila Menjelang Tahun 2000, dalam Abu Daud

(35)

pengetahuan lainnya, tetapi lebih dari itu adalah kualitas ilmu pengetahuan dan sikap tentang bagaimana menegakkan hukum dan keadilan. Khususnya bagi Hakim, pedoman itu telah diatur secara tegas di dalam Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman.

Dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, dinyatakan dengan tegas bahwa peradilan dilakukan ”Demi Keadilan Berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa.” Namun, apa yang dikatakan oleh Bismar Siregar tersebut di atas adalah fakta yang hingga tulisan ini dibuat, hukum Berketuhanan Yang Maha Esa itu hanya simbolik tanpa diwujudkan secara konsisten dan konsekwen di dalam praktek peradilan. Ini terbukti ada beberapa orang Hakim yang ditangkap oleh KPK karena diduga menerima suap. Satu di antaranya adalah Syarifuddin yang membebaskan Agusrin, Gubernur Bengkulu dalam kasus tindak pidana korupsi.

Barda Nawawi Arief mengatakan, namun tidak sedikit di antara mereka, termasuk para Hakim yang tidak mengetahui pedoman/tuntunan Ilahiah (tuntunan Tuhan Yang Maha Esa) tentang bagaimana menegakkan kebenaran dan keadilan, sebagaimana misalnya terdapat tuntunan Al-Quran yang menyatakan antara lain:

1. ”Apabila kamu menghukum di antara manusia (”bainan naas”), maka hukumlah dengan adil”(Surat An-Nisaa: 58);

2. ”Tegakkanlah kebenaran dan keadilan walau pada dirimu sendiri, ayah-ibumu, maupun pada karib kerabat (kroni-kroni)-mu” (Surat An-Nisaa: 135); 3. ”Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari

kebenaran/keadilan” (Surat An-Nisaa: 135);

4. ”Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum/golongan, mendorong/ menyebabkan kamu berlaku tidak adil” (Surat Al-Maidah: 8).45

45

(36)

Tuntunan keadilan menurut Al-Quran di atas jelas mengandung prinsip-prinsip universal, yaitu: Prinsip Persamaan (”equality”; ”indiskriminasi”); tidak pilih kasih (”nonfavoritisme”; ”antinepotisme”; tidak berpihak (”fairness”, impartial”); dan

prinsip objektivitas (tidak subjektif).

Prinsip/nilai-nilai universal itu, saat ini terlihat semakin melemah atau mengalami erosi. Peningkatan kualitas para penegak hukum terhadap tuntunan keadilan keTuhanan Yang Maha Esa di atas, tentunya tidak hanya sebatas kemampuan pengetahuan (”knowledge/cognitive”) saja, akan tetapi diharapkan menjiwai keyakinan dan sikapnya,

bahwa apabila keadilan berdasarkan tuntunan Illahi itu tidak diikuti dan dilaksanakan, maka rusaklah masyarakat.

Gustav Radbruch mengatakan, bahwa pengertian hukum dapat dibedakan tiga aspek. Yang ketiga-tiganya diperlukan untuk sampai pada pengertian hukum yang memadai, yakni:

Aspek yang pertama ialah keadilan dalam arti sempit. Keadilan ini berarti kesamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan.

Aspek yang kedua ialah tujuan keadilan atau finalitas. Aspek ini menentukan isi hukum.

Aspek ketiga ialah kepastian hukum atau legalitas. Aspek itu menjamin, bahwa hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati.46

Keadilan harus menempati posisi yang pertama dan utama dari pada yang lainnya. Dalam hal ini Indonesia pada prakteknya menganut Positivisme hukum, yang mengabaikan secara transparan pendapat dari Gustav Radbruch di atas, sedangkan secara teoretis hukum positif yang berlaku di Indonesia khususnya tentang Kekuasaan

46

(37)

Kehakiman menomorsatukan aspek keadilan. Kenapa ini bisa terjadi? Oleh karena itu, hal ini sangat perlu untuk diteliti secara ilmiah dan bukan berdasarkan asumsi belaka. Positivisme hukum termasuk dalam kategori ilmu pengetahuan hukum modern. Karakter utama hukum modern adalah sifatnya yang rasional. Rasionalitas ini ditandai oleh sifat peraturan hukum yang prosedural. Prosedur, dengan demikian menjadi dasar legalitas yang penting untuk menegakkan apa yang disebut keadilan, bahkan prosedur menjadi lebih penting daripada bicara tentang keadilan (justice) itu sendiri.

Di dalam konteks ini upaya mencari keadilan (searching for justice) bisa menjadi gagal hanya karena terbentur pelanggaran prosedur. “semua penanganan kasus harus sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku”, demikian ungkapan yang merepresentasikan betapa pentingnya prosedur demi menjamin rasionalitas hukum. ”Sebaliknya segala bentuk upaya lain mencari kebenaran dalam upaya menegakkan keadilan, di luar peraturan hukum yang berlaku tidak dapat diterima dan dianggap sebagai out of legal thought, bahkan illegal”.47

47

FX. Adji Samekto, Justice Not For All: Kritik terhadap Hukum Modern dalam Perspektif Studi Hukum Kritis, Yogyakarta: Genta Press, 2008, hal. 33-34.

Pada sistem hukum modern, keadilan (justice) sudah dianggap diberikan dengan membuat hukum positif. Akan tetapi di dalam praktek, penggunaan paradigma positivisme dalam hukum modern ternyata juga banyak menimbulkan kekakuan-kekakuan sedemikian rupa, sehingga pencarian kebenaran (searching for the truth) dan keadilan (searching for justice) tidak tercapai karena terhalang

(38)

Resolusi PBB pada Kongres PBB ke-9 Tahun 1995 di Kairo Tentang “Criminal Justice Management in The Context of Accountability of Public Administration and Sustainable Development”, telah menentukan a.l.:

a. Peradilan (pidana) bertanggung jawab untuk terselenggaranya peradilan pidana yang efisien dan manusiawi (humane and efficient criminal justice);

b. Manajemen peradilan pidana merupakan bagian dari administrasi publik yang bertanggung jawab pada masyarakat luas;

c. Penyelenggaraan peradilan pidana harus merupakan bagian dari kebijakan pembangunan sumber daya yang berkelanjutan (a policy of sustainable development of resources), termasuk “ensuring justice” dan “the savety of citizens”. 48

Lebih lanjut dalam “working paper” Kongres PBB ke-9 Tahun 1995 di Kairo tersebut pada dokumen A/CONF. 169/6, tersebut juga menentukan:

a. semua aspek dari penyelenggaraan Sistem Peradilan Pidana bertanggung jawab agar sistem peradilan mendapat kepercayaan dan respek masyarakat (to gain public trust and respect).

b. Agar mendapat kepercayaan dan respek masyarakat, maka Sistem Peradilan Pidana harus terbuka dan transparan (must be open and transparant).

c. akuntabilitas Sistem Peradilan Pidana merupakan bagian dari konsep pemerintahan yang baik (accountability of the criminal justice system is part of the concept of good governance) yang pada gilirannya akan menjamin keberhasilan masyarakat yang berkelanjutan (sustainable society).49

Sistem Peradilan Pidana yang sehat “sangat diperlukan”, karena merupakan:

1. bagian integral dari kebijakan membangun kepercayaan dan respek masyarakat (public trust and respect);

48

Dokumen A/CONF. 169/6 Resolusi PBB pada Kongres PBB ke-9 Tahun 1995 di Kairo.

49

(39)

2. bagian integral dari kebijakan pengembangan sistem pemerintahan yang baik (good governance); dan

3. bagian integral dari kebijakan meningkatkan kualitas lingkungan (quality of life) dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).50

Sehubungan dengan itu, Deklarasi Wina pada Kongres PBB ke-10 Tahun 2000 dalam dokumen A/CONF.187/4/Rev.3 tanggal 15 April 2000, juga menentukan, bahwa: “Tiap negara bertanggung jawab untuk menegakkan dan mempertahankan: “a fair, responsible, ethical and efficient criminal justice system”. 51

Hakim Cardozo mengatakan, bahwa dalam penerapan hukum yang baik sangat dibutuhkan kesadaran para hakim mengenai nilai-nilai kepentingan yang berkembang di tengah masyarakat. Hakim harus menggunakan cara yang dipergunakan pembuat undang-undang, yakni: ”dengan melakukan penyelidikan terhadap kepentingan yang berkembang di dalam masyarakat. Hanya dengan memahami perkembangan kepentingan di masyarakat hakim dapat menerapkan hukum secara benar dan adil”.

Dengan demikian dalam deklarasi ini tidak ditonjolkan semata-mata pada prinsip peradilan yang cepat, sederhana, dan biaya ringan.

52

50

Ibid.

51

Deklarasi Wina pada Kongres PBB ke-10 Tahun 2000 dalam dokumen A/CONF.187/4/Rev.3 tanggal 15 April 2000.

52

Ibid., hal. 64.

(40)

memahami secara benar logika, sejarah, adat istiadat, pedoman perilaku yang benar agar keadilan dapat ditegakkan”.53

Satjipto Rahardjo mengatakan, bahwa: ”tugas hakim dalam menerapkan hukum tidak selalu dipahami sebagai upaya sosial kontrol yang bersifat formal dalam menyelesaikan konflik, tetapi sekaligus mendisain penerapan hukum itu sebagai upaya social engineering.”54 Ajaran Teori hukum rasional menolak pandangan bahwa Hakim harus selalu memutus perkara sesuai perintah yang sudah digariskan undang-undang. ”Hakim seharusnya menguji undang-undang terhadap perkembangan kebutuhan (needs) yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Hakim bukan corong undang-undang.”55

Di dalam praktek, penggunaan paradigma positivisme dalam hukum modern ternyata juga banyak menimbulkan kekakuan-kekakuan sedemikian rupa, ”sehingga pencari kebenaran (searching for the truth) dan keadilan (searching for justice) tidak tercapai karena terhalang oleh tembok-tembok procedural.”56

53

Ibid., hal. 48.

54

Ibid., hal. 53.

55

Ibid., hal. 63.

56

FX Adji Samekto, Studi hukum Kritus kritik terhadap hukum modern, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2008, hal. 51.

(41)

dapat menundukkan hukum. Sebaliknya, ”hukum amat tajam saat berhadapan dengan orang kecil yang tak punya kuasa”.57

Pada saat ini pelaksanaan penegakan hukum, khususnya dalam peradilan pidana cenderung dilakukan dengan prosedural yang kaku. Hukum untuk rakyat kecil ditafsirkan persis dengan teks undang-undang dan mengabaikan pertimbangan nurani, aspek sosial dan moral. Dengan kata lain positivisme hukum dipraktekkan secara membabi buta. Padahal baik dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia,

58

maupun dalam Undang Nomor 4 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman59 mengisyaratkan, bahwa:60

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar, pada saat melakukan kunjungan kerjanya ke salah satu sel Lembaga Pemasyarakatan (LP)

”positivisme hukum tersebut dapat diterobos.”

57

Saleh Ridla, Wakil Ketua Komnas Ham Media Massa Ikut Pantau Keadilan, Pers Jadi Harapan Bongkar Ketidakadilan, Kompas, Senin 15 Februari 2010, hal. 4.

58

Pasal 8 ayat (4) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia disebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Jaksa senantiasa bertindak berdasarkan hukum dengan mengindahkan norma-norma keagamaan, kesopanan, kesusilaan, serta wajib menggali dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam masyarakat, serta senantiasa menjaga kehormatan dan martabat profesinya.

59

Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman menentukan, bahwa Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai- nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Selanjutnya pada ayat (2) menentukan, bahwa: dalam mempertimbangan berat ringannya pidana, Hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa. Hal ini diperkuat lagi dalam penjelasan pasal yang menyebutkan bahwa berdasarkan ketentuan ini, maka dalam menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan, maka Hakim wajib memperhatikan sifat baik atau sifat jahat dari terdakwa, sehingga putusan yang dijatuhkan setimpal dan adil sesuai dengan kesalahannya.

60Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 ini telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku

(42)

Anak Tangerang, sangat terperanjat, ketika bertemu dengan Aris. Ia tidak menduga Aris yang masih sangat belia telah dihukum berat, walau hanya mencuri sebuah telepon genggam. Konsekuensinya, “Ia akan menghabiskan masa remajanya di penjara. Ini sangat memprihatinkan,” kata Patrialis. 61

Dalam kunjungan kerja sebelumnya di LP Anak Tangerang, pada bulan Desember 2009, Patrialis juga pernah menemukan empat anak berusia 10 tahunan yang dihukum 3-4 tahun, karena terlibat berbagai kejahatan. Padahal, ”semestinya anak-anak itu tidak perlu menjalani hukuman di penjara, dan dikembalikan kepada orang tuanya.”

62

Menurut Sosiolog Kastorius Sinaga di Jakarta, cerita anak-anak yang terpaksa mendekam di penjara itu kian menggambarkan ketidakadilan yang dirasakan rakyat miskin di negeri ini. Aris dan kawan-kawan adalah korban penerapan hukum yang mengabaikan rasa keadilan. Ia membandingkan hukuman bagi Aris dengan Robert Tatular, pemilik Bank Century, yang juga dihukum lima tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Bahkan, di tingkat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Robert sebelumnya dihukum empat tahun penjara. “Kita perlu benar-benar mendesak agar penegakan hukum di negeri ini dapat memberikan rasa keadilan, menimbulkan efek jera, dan memberikan jaminan kepastian hukum,” tutur Kastorius, yang juga Direktur Eksekutif Centre for Information and Law Economic Studies itu.

63

61

Kompas, Senin, 15 Februari 2010, hal. 1.

62

Ibid.

63

(43)
(44)

juga korban kecelakaan itu. Rasa keadilan masyarakat juga terluka. “Apalagi saat melihat dalam kasus besar, yang jelas pelakunya ada dan keuangan Negara dibobol, penegak hukum malah sibuk bicara soal unsur hukum formal, yang katanya belum terpenuhi, sehingga kasus besar itu tak kunjung selesai,” ujarnya.64

Dalam hukum progresif, seharusnya penegak hukum tidak hanya berlaku normatif. “Adakalanya penegak hukum harus mendengar hati nuraninya. Kasus Minah yang mengambil tiga kakao misalnya, Hakim tidak perlu menangis. Keyakinan hakim bisa digunakan untuk membebaskan seseorang,” ujar Agnes lagi.

Sehubungan dengan itu, Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Katolik Soegijaoranata Semarang, Agnes Widanti mengakui, masyarakat miskin semakin tak berdaya saat berhadapan dengan hukum. Penegak hukum dengan mudahnya menjatuhkan hukuman kepada masyarakat miskin yang terbukti bersalah tanpa melihat konteks mengapa hal itu terjadi. Agnes mengakui, saat ini semua orang yang memiliki kekuasaan dengan leluasa menerapkan kekuasaannya melalui jalur hukum. Karena itu, orang yang tidak memiliki kuasa apapun, seperti orang miskin, dengan mudahnya dijerat.

65

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang Siti Rakhma Mary Herwati menambahkan, hukum saat ini cenderung tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Ada diskriminasi perlakuan hukum antara mereka yang memiliki uang dan yang tidak memiliki uang. Menurut Rakhma, harus ada keadilan yang dirasakan

64

Ibid., hal. 15.

65

(45)

rakyat, jika berhadapan dengan hukum. Akan tetapi, kenyataannya hukum terasa justru dibuat untuk menghancurkan masyarakat miskin.

Rahkma menambahkan, negara lebih banyak mengabaikan realitas yang terjadi di masyarakat, ketika menegakkan undang-undang atau peraturan. Akibatnya, penegak hukum hanya menjadi corong dari aturan. “Ini tidak lain adalah dampak dari sistem pendidikan hukum yang lebih mengedepankan positivisme. Penegak hukum seperti memakai kacamata kuda yang sama sekali mengesampingkan fakta sosial,” ujar Rakhma.

Dari kasus yang ditangani LBH Semarang, kasus pencurian kapuk randu di Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang dengan terdakwa Manisih (39), Sri Sumarti (19), Jowono (16), dan Rusnoto (14), sebagai contoh. Keempatnya akhirnya dihukum 24 hari penjara karena dinilai terbukti mencuri 14 Kilogram randu senilai Rp 12.000. Padahal, yang mereka lakukan adalah nggeresek (mengambil sisa panen) yang menjadi tradisi masyarakat setempat.66

Selanjutnya seorang lelaki bernama Aspuri yang berusia 19 tahun telah ditahan selama dua setengah bulan dengan alasan melanggar Pasal 362 KUHP,

Selain pencurian telepon genggam, kakao, randu, media massa juga memberitakan kasus-kasus pidana yang dilakukan rakyat kecil, seperti pencurian sebuah semangka di kebun Gaguk Prambudi, warga Ngampel, Kediri yang dilakukan oleh Basar Suyanto dan Kholil, dihukum percobaan 15 hari, tetapi selama proses hukum berjalan, pelaku sudah ditahan selama 2 bulan 10 hari.

66

(46)

karena disangka melakukan pencurian sebuah baju yang terletak di pagar rumah yang tidak bertuan.

Selain itu, kasus yang menimpa seorang lelaki bernama Lanjar Sriyanto, warga Solo, Jawa Tengah dalam kecelakaan lalu lintas. Ia dianggap lalai mengenderai motor, sehingga menghilangkan nyawa isterinya. Ia ditahan sekitar sebulan. Kasus Lanjar dan isterinya bernama Saptaningsih dan anaknya terlibat kecelakaan di Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Sepeda motor Lanjar menabrak mobil Suzuki Carry yang berhenti mendadak di depannya. Isterinya terpelanting dan akhirnya tewas akibat tertabrak mobil Isuzu Panther yang saat bersamaan muncul di jalur berlawanan. Lanjar diduga lalai dan didakwa berdasarkan Pasal 359 dan 360 KUHP. Pengemudi Panther yang notabene anggota Kepolisian Resort Ngawi hanya dijadikan saksi.

Berbagai kasus tersebut di atas mungkin telah berulang kali terjadi, namun mungkin pula tak terdeteksi oleh pers sehingga tak diketahui secara meluas oleh masyarakat. Sehubungan dengan itu, Satjipto Rahardjo mengatakan, bahwa: ”hukum itu bukan hanya peraturan, bukan mesin, melainkan syarat dengan peran yang dimainkan oleh manusia.”67

67

Satjipto Rahardjo, Biarkan Hukum Mengalir. Catatan Kritis Pergulatan Manusia dan Hukum, Jakarta: Buku Kompas, 2007, hal. 104.

Referensi

Dokumen terkait

ノ Tokumaru,Yosihiko(2000)五'aspectmelodiquedelamusiquedesyamisen ,Selaf378,Paris:Editions Peeters..

Dari sekian banyak penelitian yang telah diuraikan diatas, belum ada yang membahas tentang “Analisis Hukum Pidana Islam Tentang Praktik Penegakkan Peraturan Daerah Nomor

Namun, di kawasan HLPT dijumpai fakta yang menurut Dishutbun Kota Tarakan (2008) berdasarkan observasi bahwa sebagian areal HLPT telah dikonversi ke berbagai

Lingkungan keluarga dapat berperan penuh terhadap perkembangan keluarganya untuk memberikan system pendidikan secara komprehensif, saling berkesinambungan, mulai dari

Penelitian yang dilakukan oleh Cita Ayupraba berbeda dengan penelitian Peneliti yakni dalam penelitian tersebut tidak ada analisis maupun kajian mengenai

Patogen (lebih tepat disebut inokulum patogen) dapat terbawa benih tanaman dalam 3 cara, yaitu : 1). Patogen terbawa secara internal dan berada di dalam jaringan

Hal-hal pokok yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini adalah tata cara pendaftaran dan pengesahan sebagai badan hukum, tata cara pendaftaran perubahan anggaran dasar,

b. Untuk memperoleh bentuk interaksi sosial siswa tunanetra dengan siswa awas, guru, staf sekolah, staf sekolah, dan kepala sekolah di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri 1