Deskripsi dan Klaim Produk Paten “Proses Produksi dan Formulasi Mi
Jagung Kering yang Disubstitusi dengan Tepung Jagung Termodifikasi’’
(Nomor Pendaftaran Paten P00200600052)
“Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas Hak atas Kekayaan Intelektual”
Disusun Oleh:
1. Adhitya Firmansyah (8111412163) 2. Rama Tantowijaya(8111412169) 3. Nugraheni Meimasari (8111412246) 4. Zaka Arditya Maulana (8111412271) 5. Indah Tri Purwanti (8111412272)
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’aalamin, puji syukur kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, berkat karunia-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai prinsip-prinsip dasar pembuatan spesifikasi pembuatan dokumen permohonan paten yang dikhususkan terhadap deskripsi dan klaim paten serta contoh produk paten yang telah memiliki deskripsi dan klaim paten sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Terselesaikannya makalah ini juga tidak terlepas dari bantuan dari beberapa pihak. Karena itu, kami menyampaikan banyak terima kasih kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Hak atas Kekayaan Intelektual yang telah memberikan tugas makalah ini dan memberikan pengarahan, sehingga kami menjadi bertambah pengetahuannya.
Meskipun telah berusaha untuk menghindari kesalahan, kami sangat menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Karena itu, kami berharap agar pembaca berkenan menyampaikan kritik dan saran. Dengan segala pengharapan dan keterbukaan, kami menyampaikan rasa terima kasih dengan setulus-tulusnya. Akhir kata, penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat kepada pembaca. Dan secara khusus menginspirasi generasi bangsa ini agar menjadi generasi yang tanggap dan tangguh. Jadilah generasi yang bermartabat, kreatif dan mandiri.
Semarang, Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN MUKA...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB 1 PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan...2
BAB II PEMBAHASAN...3
2.1 Prinsip-Prinsip Dasar Pembuatan Spesifikasi Dokumen Permohonan Paten...3
2.2 Deskripsi dan klaim paten dari produk paten yang berjudul “Proses Produksi dan Formulasi Mi Jagung Kering yang Disubstitusi dengan Tepung Jagung Termodifikasi” ...10
BAB III PENUTUP...18
3.1 Kesimpulan...18
3.2 Saran...18
DAFTAR PUSTAKA...19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini, teknologi mempunyai peran yang sangat signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Negara yang menguasai dunia adalah negara yang menguasai teknologi. Amerika serikat, Jerman, Perancis, Rusia dan Cina merupakan contoh negara yang sangat maju dalam bidang teknologi sehingga mereka mampu memberi pengaruh bagi negara lain. Negara-negara tersebut melindungi teknologi mereka secara ketat. Jadi jika ada seorang mahasiswa asing yang belajar dalam bidang teknologi di negara-negara tersebut, maka dosen tidak menularkan seluruh ilmunya kepada si mahasiswa tersebut. Karena itu, Indonesia perlu merangsang warga negaranya untuk mengembangkan teknologi dengan mengembangkan sistem perlindungan terhadap karya intelektual di bidang teknologi yang berupa pamberian hak paten.
Kata paten, berasal dari bahasa inggris patent, yang awalnya berasal dari kata patere yang berarti membuka diri (untuk pemeriksaan publik), dan juga berasal dari istilah letters patent, yaitu surat keputusan yang dikeluarkan kerajaan yang memberikan hak eksklusif kepada individu dan pelaku bisnis tertentu. Dari definisi kata paten itu sendiri, konsep paten mendorong inventor untuk membuka pengetahuan demi kemajuan masyarakat dan sebagai gantinya, inventor mendapat hak eksklusif selama periode tertentu. Mengingat pemberian paten tidak mengatur siapa yang harus melakukan invensi yang dipatenkan, sistem paten tidak dianggap sebagai hak monopoli.
klaim sebagai persyaratan struktur dokumen paten. Bagaimana uraian lengkapnya selanjutnya akan dibahas di dalam makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas di dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
a.
Bagaimana prinsip-prinsip dasar pembuatan spesifikasi dokumen permohonan paten terkait deskripsi paten dan klaimnya?b.
Bagaimana deskripsi dan klaim paten dari produk paten yang berjudul “Proses Produksi dan Formulasi Mi Jagung Kering yang Disubstitusi dengan Tepung Jagung Termodifikasi”?1.3 Tujuan Masalah
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mendeskripsikan prinsip-prinsip dasar pembuatan spesifikasi dokumen permohonan paten terkait deskripsi paten dan klaimnya.
b. Untuk mendeskripsikan produk paten yang yang berjudul “Proses Produksi dan Formulasi Mi Jagung Kering yang Disubstitusi dengan Tepung Jagung Termodifikasi”.
BAB II PEMBAHASAN
1. Pendahuluan
Persyaratan pengajuan permohonan paten didasarkan pada ketentuan yang terdapat dalam Bab III, yang meliputi Pasal 20, 21, 22, 23,dan 24 Undang-undang Paten Nomor 14 Tahun 2001. Secara khusus, Pasal 24 menyatakan bahwa:
(1) Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Direktorat Jenderal HKI.
(2) Permohonan harus memuat:
a. tanggal, bulan, dan tahun Permohonan; b. alamat lengkap dan alamat jelas Pemohon; c. nama lengkap dan kewarganegaraan inventor;
d. nama dan alamat lengkap lengkap Kuasa apabbila Permohonan diajukan melalui kuasa; e. surat kuasa khusus, dalam hal Permohonan diajukan oleh Kuasa;
f. pernyataan permohonan untuk dapat diberi invensi; g. Judul invensi;
h. Klaim yang terkandung dalam invensi;
i. Deskripsi tentang invensi, yang secara lengkap memuat keterangan tentang cara melaksanakan invensi;
j. Gambar yang disebutkan dalam deskripsi yang diperlukan untuk memperjelas invensi; dan
k. Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pengajuan Permohonan diatur dengan peraturan pemerintah.
Pada kesempatan ini, makalah dikhususkan terutama untuk ketentuan yang dinyatakan dalam butir (g) s/d (k) di atas, yaitu cara penyajian dan penulisan spesifikasi permohonan paten, termasuk strategi penulisannya yang sangat menentukan apakah suatu invensi dapat diberi atau ditolak patennya. Selain itu, penulisan yang benar dan tepat juga menentukan lingkup perlindungan patennya, dan mempengaruhi lamanya waktu pemeriksaan terutama pada saat pemeriksaan substantif karena tidak ada waktu terbuang hanya untuk memperbaiki spesifikasi dokumen permohonan tersebut.
Secara umum ada 2 jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk setiap permohonan paten yaitu:
Pemeriksaan formalitas yang meliputi pemeriksaan administratif dan fisik
Selain hal-hal yang bersifat administratif yang disebutkan pada bagian pendahuluan di atas, terdapat persyaratan fisik yang harus dipenuhi. Apabila pada saat dilakukan pemeriksaan formalitas, ditemukan adanya kekurangan persyaratan fisik, hal ini tidak mempengaruhi tanggal penerimaan (filling date). Dalam hal ini pemohon akan diminta untuk memenuhi kekurangan persyaratan tersebut yang apabila kekurangan tersebut tidak dipenuhi dalam jangka waktu yang ditetapkan, maka tanggal penerimaan yang telah diberikan dapat diundur dan disamakan dengan tanggal dipenuhinya persyaratan tersebut. (Sebagaimana yang telah diketahui, tanggal penerimaan ini sangat penting dan kritis pada saat menentukan kebaruan dan langkah inventif suatu invensi yaitu pada saat dilakukan pemeriksaan substantif).
Pemeriksaan substantif
Pada tahap ini, pemeriksaan dilakukan terhadap dokumen permohonan paten yang pada dasarnya meliputi: (1) kejelasan, (2) kesatuan invensi, (3) kekonsistenan, (4) Kebaruan, (5) langkah inventif, dan (6) dapat diterapkan dalam industri
Dengan mengetahui/memahami hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi diberikan atau ditolaknya suatu permohonan paten, penulisan spesifikasi yang meliputi deskripsi, klaim dan abstrak menjadi sangat penting.
3. Prinsip-prinsip Dasar Penulisan Dokumen Paten
Ada dua hal mendasar yang harus ada dalam dokumen paten yaitu : a. Lingkup perlindungan
Dokumen Paten harus menggambarkan lingkup perlindungan yang akan diklaim (dimintakan perlindungan). Lingkup perlindungan ini ditulis dalam bentuk klaim-klaim dan klaim-klaim tersebut harus didukung oleh deskripsi .
b. Informasi
Selain dua hal mendasar diatas yang perlu diingat, adalah bahwa apabila spesifikasi telah didaftarkan ke DitJend HKI, spesifikasi tersebut tidak dapat diperluas lagi atau ditambah dengan hal-hal yang baru. Jika pengungkapan atau informasi dari invensi tersebut tidak lengkap, dapat mengakibatkan hilangnya kesempatan memperoleh paten.
Struktur Dokumen Paten sesuai dengan ketentuan kantor Paten Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Deskripsi, adalah penulisan secara lengkap dan jelas dari invensi sehingga dapat dimengerti oleh orang yang ahli dibidangnya dan mencakup :
a. Judul
Judul seharusnya dinyatakan secara singkat dan jelas, serta menunjukkan bidang teknik yang dimaksud dalam uraian invensi terutama klaim mandirinya. Contohnya : “Komposisi herbisida” atau “Komposisi Herbisida yang mengandung senyawa X”, akan tetapi ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan yaitu :
Judul yang berisi iklan (promosi), contohnya : “Komposisi Herbisida yang sangat manjur”. Judul yang berisi merek dagang, contohnya: “Komposisi Herbisida “TIGA RODA”
b. Bidang Teknik invensi
Bidang Teknik Invensi menjelaskan secara ringkas inti invensi yang dimintakan perlindungan patennya. Biasanya Bidang Teknik invensi tidak lebih banyak dari judul dan kadang-kadang dimasukkan juga indikasi dari klaim-klaim mandirinya. Sebagai contoh, jika invensi adalah mengenai komposisi herbisida, metode pembuatan komposisi tersebut dan penggunaannya untuk mengontrol pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan, maka ketiga kategori ini biasanya disebutkan dalam Bidang Teknik invensi.
Contoh: Penemuan ini berhubungan dengan Komposisi herbisida , metode pembuatan komposisi herbisida tersebut dan penggunaannya untuk mengontrol pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan.
c. Latar Belakang Invensi
yang membaca invensi ini akan dapat melihat apa kelebihan invensi dibandingkan dengan invensi terdahulu atau yang telah ada sebelumnya dan masalah yang bisa diatasi oleh invensi sekarang. Invensi terdahulu tidak harus selalu berupa dokumen paten, tetapi dapat juga berupa buku-buku teks, jurnal ilmiah, atau bahkan pengungkapan secara oral, misalnya pengungkapan dalam suatu seminar atau juga sesuatu yang dapat kita amati secara langsung.
Contoh: “Dengan menggunakan alat pemarut kelapa yang ada di pasaran, pemakai harus mengikis kulit ari kelapa terlebih dahulu apabila konsumen tidak menginginkannya. Tetapi dengan alat dari invensi ini, kulit ari kelapa akan terkikis secara otomatis dengan menggunakan tombol pengatur”
d. Ringkasan Invensi
Ringkasan Invensi adalah menjelaskan invensi secara umum. Guna dari Ringkasan Invensi ini adalah untuk mengindikasikan apa inti dari invensi yang dapat mengatasi masalah yang ada dalam invensi terdahulu. Penyelesaian masalah yang sebenarnya tidak perlu diuraikan disini. Biasanya istilah yang digunakan dalam Ringkasan Invensi ini adalah susunan kata dalam klaim utama, atau jika klaim utama lebih dari satu, maka dapat disebutkan susunan kata yang ada pada masing-masing klaim mandiri. Ringkasan Invensi dapat juga mengindikasikan apa keuntungan yang diberikan invensi.
e. Uraian Singkat Gambar (jika ada)
Bagian ini menjelaskan secara singkat keterangan dari gambar-gambar (Gambar 1 sampai dengan n), baik gambar perspektif, tampak atas, depan, samping, grafik, dan lain-lain. Gambar dijelaskan secara berurutan dengan keterangan singkat, contohnya:
Gambar 1 adalah gambar perspektif dari cangkir pemanas dari invensi.
Gambar 2 adalah gambar potongan melintang dari cangkir pemanas dari invensi.
f. Uraian Lengkap Invensi
informasi yang berkaitan, karena penambahan hal-hal baru hanya diperkenankan dalam kondisi tertentu, misalnya hanya hal-hal yang bersifat memperjelas invensi, atau menambahkan data pendukung untuk menunjukkan kelebihan invensi dibandingkan invensi terdahulu. Sebagai contoh, dalam bidang kimia, farmasi dan bioteknologi, pemohon dapat mencantumkan sebanyak mungkin senyawa (puluhan sampai ratusan senyawa dalam satu permohonan paten) dari satu senyawa inti, asalkan contoh-contoh yang melengkapinya harus cukup mendukung hal tersebut.
Hal ini juga untuk mengantisipasi apabila pemeriksa paten menemukan dokumen pembanding yang relevan, masih dapat dicari celah-celah yang memungkinkan untuk mengamandemen invensi tanpa menambah feature baru dalam uraian. Dalam bagian ini, penjelasan mengenai gambar yang diberikan secara singkat dalam Uraian Singkat Gambar, dijelaskan secara lebih rinci. Selanjutnya, sebaiknya satu pemanfaatan invensi tersebut harus diungkapkan untuk menunjukkan bahwa invensi tersebut dapat diterapkan dalam industri. Pernyataan secara eksplisit bahwa suatu invensi dapat diterapkan dalam industri jarang diungkapkan dalam uraian, tetapi kadangkala pemohon menginginkan untuk mengungkapkannya apabila ada hal-hal yang dirasa perlu.
g. Klaim
Bagian ini merupakan bagian yang terpenting dari dokumen paten, karena klaim adalah bagian dari invensi yang dimintakan perlindungannya.
Klaim terbagi dua yaitu: klaim mandiri (independent claim) dan klaim turunan (dependent claim).
Contoh:
1. Senyawa dengan formula X klaim mandiri
2. Senyawa sesuai klaim 1, yang selanjutnya juga meliputi senyawa X yang disubstitusi pada cincin heterosiklik…. klaim turunan
3. Komposisi yang mengandung senyawa dengan formula X klaim mandiri
4. Komposisi sesuai dengan klaim 3, dimana selanjutnya komposisi tersebut mengandung senyawa formula Y klaim turunan
1. Klaim harus didukung sepenuhnya oleh uraian (deskripsi). Deskripsi boleh lebih luas lingkupnya dari klaim, tetapi klaim tidak dapat lebih luas dari uraian.
2. Orang yang membuat draft permohonan paten harus cermat dan hati-hati. Dalam sistem pemeriksaan substantif paten, dalam penilaian kebaruan, berlaku sistem, “yang luas tidak dapat mengantisipasi kebaruan dari yang sempit” tetapi “yang sempit dapat mengantisipasi kebaruan dari yang luas”. Dengan demikian, klaim harus cukup luas untuk memperluas lingkup perlindungannya tetapi harus cukup sempit agar kemungkinan terantisipasi oleh dokumen pembanding dapat dieliminasi.
3. Klaim tidak boleh memuat gambar, kecuali apabila tidak dimungkinkan. Contoh: senyawa kimia
4. Klaim juga tidak boleh merujuk pada uraian atau contoh-contoh yang ada dalam uraian.
h. Gambar (jika ada)
Gambar invensi dilampirkan ke dalam spesifikasi invensi untuk maksud penjelasan perwujudan invensi. Gambar yang dimaksud di sini adalah gambar teknik dari suatu invensi yang memuat tanda-tanda, simbol, huruf, angka, yang menjelaskan bagian-bagian dari invensi tersebut. Dalam gambar hanya tanda yang berupa huruf atau angka yang boleh dicantumkan dan tidak dibenarkan dalam bentuk tulisan, kecuali bila tulisan sangat diperlukan sebagai bagian dari gambar yang bersangkutan. Bagan dan grafik dianggap sebagai gambar
i. Abstrak
4. Persyaratan Fisik Dokumen Paten
- Dari setiap lembar kertas, hanya salah satu mukanya saja yang boleh dipergunakan untuk penulisan deskripsi, klaim dan abstrak.
- Deskripsi, klaim dan abstrak diketik dalam lembaran kertas yang terpisah dengan ukuran kertas A-4 dengan berat 80 gram dan dengan jarak sebagai berikut:
(i) dari pinggir atas 2 cm (maksimum 4 cm) (ii) dari pinggir bawah 2 cm (maksimum 3 cm) (iii) dari pinggir kiri 2,5 cm (maksimum 4 cm) (iv) dari pinggir kanan 2 cm (maksimum 3 cm)
(v) Kertas A4 tersebut harus dapat ditekuk, kuat, berwarna putih, rata, tidak mengkilat, dan pemakaiannya harus dilakukan dengan menempatkan sisi-sisinya yang pendek di bagian atas dan bawah (kecuali dipergunakan untuk gambar).
(vi) Setiap lembar dari deskripsi dan klaim diberi nomor urut menurut agka arab pada bagian tengah atas.
(vii) Di pinggir kiri dari pengetikan deskripsi dan klaim, setiap lima barisnya diberi nomor baris yang selalu dimulai dari awalnya tiap halaman baru.
(viii) Pengetikan harus dilakukan dengan menggunakan warna hitam, dengan ukuran antara baris 1,5 spasi, dan dengan huruf yang ukuran tinggi minimum huruf adalah 0,21 cm. (ix) Tanda-tanda dengan garis, rumus-rumus kimia atau matematika dan tanda-tanda
tertentu dapat ditulis dengan tangan atau dilukis.
(x) Gambar harus dibuat dengan tinta hitam pada kerta gambar putih, masing-masing dengan ukuran A4 dengan berat minimum 100 gram dan dengan jarak sbb.:
- dari pinggir atas : 2,5 cm
- dari pinggir bawah : 1,0 cm
- dari pinggir kiri : 2,5 cm
- dari pinggir kanan : 1,5 cm
2.2 Deskripsi dan klaim paten dari produk paten yang berjudul “Proses Produksi dan Formulasi Mi Jagung Kering yang Disubstitusi dengan Tepung Jagung Termodifikasi”
Deskripsi
PROSES PRODUKSI DAN FORMULASI MI JAGUNG KERING YANG DISUBSTITUSI DENGAN TEPUNG JAGUNG TERMODIFIKASI
Bidang Teknik Invensi
Invensi ini berhubungan dengan suatu proses pembuatan mi jagung kering. Lebih khusus lagi proses pembuatan mi jagung kering tersebut disubstitusi dengan tepung jagung termodifikasi.
Latar Belakang Invensi
Jagung merupkan bahan pangan yang banyak terdapat di Indonesia. Jagung dapat dijadikan sebagai bahan baku pangan pokok seperti mi dengan kandungan karbohidratnya yang tinggi.
Invensi tentang mi jagung sudah banyak dilakukan, diantaranya mi yang dibuat dari pencampuran pati jagung dan tepung jagung (Soraya, 2006) serta tepung jagung (Juniawati, 2003; Putra, 2008). Teknologi produksi mi jagung dapat menggunakan teknik sheeting maupun ekstrusi (Hatorangan, 2007; Fahmi, 2007). Namun demikian mi tersebut masih memiliki beberapa kelemahan diantaranya tingkat kekerasan yang tinggi, kekenyalan yang rendah, kelengketan yang tinggi, kehilangan padatan akibat pemasakan (KPAP) yang tinggi dan tingkat kesukaan pada kisaran netral.
Kenyataan tersebut menunjukkan perlunya cara untuk memperbaiki karakteristik mi jagung. Cara yang dapat digunakan antara lain dengan melakukan modifikasi terhadap tepung jagung yang digunakan sebagai bahan baku mi. Modifikasi ini diarahkan untuk meningkatkan kestabilan tepung jagung terhadap pemanasan dan pengadukan mengingat karakteristik yang ingin diperbaiki adalah tingkat kekerasan, tingkat kekenyalan, tingkat kelengketan dan KPAP.
Modifikasi fisik dengan metode HMT (heat moisture treatment) diketahui dapat menggeser profil gelatinisasi pati dari tipe A menjadi tipe B (Purwani et al, 2006), tipe B menjadi tipe C (Collado et al, 2001; Shin et al, 2004). Aplikasi pati termodifikasi HMT tersebut diketahui dapat memperbaiki karakteristik fisik mi diantaranya dapat meningkatkan elastisitas dan kekompakan tekstur mi, menurunkan KPAP dan menurunkan kelengketan (Purwani et al., 2006).
Dari invensi ini diketahui bahwa substitusi pati jagung termodifikasi memperbaiki karakkteristik mi jagung diantaranya menurunkan KPAP, menurunkan kekerasan dan menurunkan kelengketan dan meningkatkan penerimaan organoleptik. Selain meningkatkan karakteristik fisik dan organoleptik, substitusi pati jagung termodifikasi HMT juga dapat meningkatkan kandungan pati resisten yang dapat berperan sebagai sumber serat serta menurunkan indeks glikemik. Serat pada bahan pangan diperlukan untuk membantu sistem pencernaan. Sementara itu, pangan dengan indeks glikemik rendah dapat membantu penderita diabetes.
Penelusuran yang dilakukan melalui http://www.uspto.gov/patft/index.html diketahui bahwa mi jagung telah terdapat pada paten no. US 6.083.551. Pada paten tersebut, mi jagung diproduksi dari tepung jagung alami yang mempunyai sifat fungsional terbatas sebagaimana sifat fungsional sumber tepung alami lainnya. Selain melalui penelusuran ke alamat tersebut, informasi yang diperoleh dari alamat website ipb (http://www.ipb.ac.id), mi jagung sudah terdaftar pada dirjen HKI departemen Hukum dan HAM RI dengan nomor pendaftaran P00200600052. Judul paten tersebut menunjukkan bahwa mi jagung diproduksi dari pati dan gluten jagung. Produksi mi dari pati dan gluten jagung membutuhkan suplai pati dan gluten jagung yang kemungkinan hanya dapat disuplai oleh pabrik. Invensi ini menggunakan tepung jagung termodifikasi HMT sebagai pensubstitusi tepung jagung alami sebagai bahan baku mi sehingga mi yang dihasilkan mempunyai karakteristik yang lebih baik bila dibandingkan dengan mi yang diproduksi dari pati jagung alami saja ataupun mi yang diproduksi dari pati jagung dan gluten jagung.
Ringkasan Invensi
fisik dan organoleptik yang lebih baik bila dibandingkan dengan mi yang diproduksi dari mi jagung alami. Mi yang disubstitusi dengan tepung jagung termodifikasi HMT memiliki kandungan pati resisten lebih tinggi, warna dan penampakan umum yang lebih menarik, KPAP yang lebih rendah, kelengketan yang lebih rendah, dan tingkat kesukaan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mi dari tepung jagung alami.
Produksi tepung jagung termodifikasi HMT dilakukan dengan terlebih dahulu mengatur kadar air tepung jagung menjadi 24%. Tepung jagung kemudian dipanaskan pada suhu 100-120oC selama 3 – 9 jam. Proses modifikasi tersebut menghasilkan tepung jagung dengan
karakteristik gelatinisasi tipe C yang ditandai dengan tidak adanya penurunan viskositas pada pada profil gelatinisasinya (tidak ada breakdown), swelling volume 9,73 ml/g dan pelepasan amilosa 1,49%. Untuk menghasilkan tepung jagung dengan karakteristik tersebut diperlukan beberapa tahapan antara lain:
a. tepung jagung diatur kadar airnya mencapai 24%;
b. tepung jagung dimasukkan ke dalam loyang tertutup dan disimpan di suhu refrigerator selama satu malam;
c. loyang berisi tepung jagung dipanaskan di dalam oven udara pada suhu 100 – 120oC selama 3 – 9 jam;
d. tepung termodifikasi yang diperoleh dikeringkan pada suhu 50oC selama 4 jam;
e. tepung kering dihaluskan kemudian diayak dengan menggunakan ayakan 100 mesh.
f. tepung jagung termodifikasi yang diperoleh digunakan untuk mensubstitusi tepung jagung yang digunakan sebagai bahan baku mi jagung. Substistusi tersebut menghasilkan mi jagung dengan karakteristik kimia dan fisik sebagai berikut: pati resisten mencapai 2,28%, KPAP mencapai 7,27%, kekerasan 2229 gf, elastisitas 0,70 gs, dan kelengketan -52,30 gf. Sementara itu, pengujian organoleptik menunjukkan bahwa mi dengan substitusi tepung jagung termodifikasi HMT lebih disukai bila dibandingkan dengan mi dari pati jagung alami saja.
Invensi ini meliputi optimasi proses produksi dan formulasi mi jagung yang disubstitusi dengan tepung jagung termodifikasi HMT untuk memperoleh mi jagung dengan karakteristik kimia, fisik dan organoleptik yang baik. Tujuan akhir dari invensi tersebut telah dicapai dengan diperolehnya mi jagung dengan kandungan pati resisten lebih tinggi, warna dan penampakan umum yang lebih menarik, KPAP yang lebih rendah, kelengketan yang lebih rendah, dan tingkat kesukaan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mi dari tepung jagung alami.
Invensi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu produksi tepung jagung termodifikasi HMT dan aplikasi tepung jagung termodifikasi yang diperoleh sebagai pensubstitusi tepung jagung yang digunakan sebagai bahan baku mi. Produksi tepung jagung termodifikasi HMT dilakukan dengan menggunakan beberapa tahapan yaitu pengaturan kadar air tepung, penyeimbangan kadar air, pemanasan pada oven udara, pengeringan, pendinginan, dan pengayakan.
Pengaturan kadar air tepung dilakukan dengan cara melakukan penyemprotan yang disertai pengadukan di dalam loyang. Jumlah air yang disemprotkan disesuaikan dengan kadar air target. Walaupun penambahan air pada tepung dilakukan dengan cara penyemprotan, masih terdapat kemungkinan belum meratanya air ke seluruh permukaan. Oleh karena itu, tepung disimpan pada suhu 4 – 5oC selama satu malam. Loyang berisi tepung jagung dipanaskan di dalam oven udara
pada suhu 100 - 120oC selama 3 – 9 jam. Loyang dikeluarkan dari oven kemudian dibiarkan pada
suhu ruang selama satu jam. Untuk mengurangi kadar air dari tepung, tepung dalam loyang dikeringkan pada suhu 50oC selama 4 jam. Tepung kering diayak dengan menggunakan ayakan
100 mesh. Karakteristik tepung jagung termodifikasi HMT dan perbandingannya dengan tepung jagung alami disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik tepung jagung alami dan tepung jagung termodifikasi HMT
Kadar Protein (% bk) 7,24 7,28
Produksi mi yang disubstitusi dengan tepung jagung termodifikasi HMT dilakukan dengan menggunakan beberapa tahapan yaitu pencampuran bahan, pengukusan bahan, penekanan adonan, pembentukan lembaran, pembentukan untaian, pemotongan mi, pengukusan mi mentah dan pengeringan mi. Pencampuran bahan yang digunakan pada pembuatan mi jagung ini dilakukan secara bertahap. Percampuran pertama dilakukan dengan mencampurkan sebagian tepung jagung alami, sebagian tepung jagung termodifikasi HMT, guar gum, air, dan garam. Campuran bahan dikukus pada suhu 90oC selama 15 menit untuk membentuk binder (pengikat)
adonan mi. Campuran sisa tepung jagung alami dan sisa tepung jagung termodifikasi dicampurkan dengan bahan yang telah dikukus kemudian diadon. Adonan yang diperoleh dimasukkan ke dalam grinder untuk memperoleh tekstur adonan yang lebih liat. Adonan dibentuk lembaran dengan menggunakan sheeter mi. Lembaran adonan dibentuk untaian dan dipotong dengan menggunakan alat yang sama. Mi mentah yang diperoleh dikukus pada suhu 90oC selama 20 menit untuk membuat mi tergelatinisasi. Mi matang yang diperoleh dikeringkan
pada suhu 60oC selama 70 menit untuk mencapai kadar air mi yang aman untuk penyimpanan.
Mi kering yang diperoleh dikemas dengan menggunakan kemasan plastik polypropylene (PP) tebal. Mi jagung kering yang disubstitusi tepung jagung memiliki karakteristik seperti yang terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik mi jagung
Karakteristik Mi jagung
100% tepung jagung alami Disubstitusi tepung jagung HMT Fisik
Waktu pemasakan(menit) 7,00 9,00
Kekerasan (gf) 2802 2229
Elastisitas (gs) 0,71 0,70
Kelengketan (gf) -66,42 -52,30
Sensori
Tingkat kekerasan Sedikit keras Sedikit keras
Tingkat elastisitas Tidak elastis hingga
Indeks glikemik (IG) 56,73 (sedang) 52,13 (rendah)
Klaim
1. Proses produksi mi jagung yang disubstitusi oleh tepung jagung termodifikasi HMT dilakukan dengan tahapan:
a. membagi tepung jagung menjadi dua bagian yaitu bagian 1 dan bagian 2;
c. mengukus campuran pada suhu 90oC selama 15 menit;
d. mengadon campuran yang sudah dikukus hingga tercampur rata;
e. menambahkan tepung jagung bagian 2 pada adonan;
f. mencampurkan adonan dengan tepung jagung bagian dua hingga tercampur rata;
g. menekan adonan dengan menggunakan grinder;
h. memipihkan, mencetak dan menyisir adonan hingga diperoleh untaian mi;
i. mengukus untaian mi pada suhu 90oC selama 20 menit;
j. mengeringkan mi pada suhu 60oC selama 70 menit;
k. mengemas dalam kemasan.
2. Proses produksi mi jagung yang disubstitusi tepung jagung termodifikasi HMT seperti pada klaim 1 dimana tepung jagung bagian 1 merupakan campuran antara tepung jagung alami dan tepung jagung termodifikasi HMT dengan kisaran 50 – 70% dari total tepung jagung untuk tepung jagung alami dan 0 – 20% dari total tepung jagung untuk tepung jagung termodifikasi HMT.
3. Proses produksi mi jagung yang disubstitusi tepung jagung termodifikasi HMT seperti pada klaim 1 dimana tepung jagung bagian 2 merupakan tepung jagung alami dengan jumlah 30% dari total tepung jagung.
4. Proses produksi mi jagung yang disubstitusi tepung jagung termodifikasi HMT seperti pada klaim 1 dimana jumlah air, guar gum dan garam yang digunakan masing-masing adalah 50%, 1% dan 1 % dari total tepung jagung.
5. Tepung jagung termodifikasi HMT seperti pada klaim 2 dibuat dengan tahapan: a. mengatur kadar air tepung jagung menjadi 24%; b. memasukkan tepung jagung ke dalam loyang tertutup;
c. menyimpan loyang tertutup berisi tepung jagung pada refrigerator selama 1 malam;
e. mengeringkan tepung jagung termodifikasi HMT pada suhu 50oC selama 4 jam;
f. mengayak tepung jagung termodifikasi HMT dengan ayakan 100 mesh.
Abstrak
PROSES PRODUKSI DAN FORMULASI MI JAGUNG KERING YANG DISUBSTITUSI DENGAN TEPUNG JAGUNG TERMODIFIKASI
Proses produksi dan formulasi mi jagung kering yang disubstitusi dengan tepung jagung termodifikasi menggunakan bahan baku tepung jagung alami dan tepung jagung termodifikasi HMT. Tepung jagung termodifikasi HMT yang digunakan diproduksi melalui tahapan pengaturan kadar air, penyeimbangan kadar air, pemanasan, pengeringan dan pengayakan. Tepung jagung termodifikasi tersebut mempunyai karakteristik yang lebih baik sebagai bahan baku mi jagung sehingga substitusinya pada tepung jagung yang digunakan sebagai bahan baku mi jagung dapat memperbaiki kualitas mi jagung. Proses produksi mi jagung yang disubstitusi dengan tepung jagung termodifikasi dilakukan melalui tahap pencampuran bahan, pengukusan bahan, pembuatan adonan, penekanan adonan, pembentukan lembaran, pembentukan untaian mi, pemotongan mi, pengukusan mi, pengeringan mi, pendinginan dan pengemasan.
BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan
Prinsip-Prinsip Dasar Pembuatan Spesifikasi Dokumen Permohonan Paten terdiri dari 4 prinsip yaitu pembukaan, pemeriksaan dokumen permohonan paten, prinsip-prinsip dasar penulisan dokumen paten, dan persyaratan fisik dokumen paten. Pada prinsip-prinsip dasar penulisan dokumen paten terdapat Struktur Dokumen Paten yang harus sesuai dengan ketentuan kantor Paten Indonesia yaitu deskripsi yang terdiri dari Judul, Bidang Teknik invensi, Latar Belakang Invensi, Ringkasan Invensi, Uraian Singkat Gambar (jika ada), Uraian Lengkap Invensi, Klaim, Gambar (jika ada), dan Abstrak.
Deskripsi dan klaim paten dari produk paten yang berjudul “Proses Produksi dan Formulasi Mi Jagung Kering yang Disubstitusi dengan Tepung Jagung Termodifikasi” telah sesuai dengan ketentuan kantor Paten Indonesia dan dibuktikan dengan mi jagung sudah terdaftar pada dirjen HKI departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia dengan nomor pendaftaran P00200600052.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten
Munandar, Haris. 2008. Mengenal HAKI Hak Kekayaan Intelektual Hak Cipta, Paten, Merek dan seluk Beluknya. Jakarta: Erlangga.
lpp.uad.ac.id/08/wp-content/penulisan-klaim-contoh-4-erlina.doc
http://biofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2013/Sample%20of%20Description%20Patent