• Tidak ada hasil yang ditemukan

SASTRA ADAB NUSANTARA DALAM BINGKAI SEJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SASTRA ADAB NUSANTARA DALAM BINGKAI SEJA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

SASTRA ADAB NUSANTARA DALAM BINGKAI

SEJARAH

Makalah Diajukan untuk Dipresentasikan Pada Mata Kuliah Sastra Islam Nusantara

Prepared by:

Nasrullah Nurdin, S.Hum., Lc.

Lecturers:

Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag.

Dr. Moh. Syarif Hidayatullah, M.Hum

PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYAHID

JAKARTA

(2)

2013 M/ 1435 H.

A. PENDAHULUAN

Masyarakat Nusantara kaya akan tradisi lama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka. Sampai sekarang masayarakat Nusantara masih dapat menikmati berbagai khazanah budaya yang tidak bernilai harganya. Salah satu peninggalan nenek moyang tersebut adalah dalam bentuk karya sastra, baik karya sastra yang hidup di kalangan masyarakat umum maupun karya sastra yang berkembang di sana.1

Penggalian berbagai khazanah ini menjadi menarik bagi peminat dan Mahasiswa Pascasarjana di UIN Jakarta, misalnya, untuk mendalami seluk-beluk sejarah kesusastraan Nusantara. Di antaranya yang menjadi daya tarik bagi Penulis makalah ini adanya pembahasan terkait konten yang menceritakan tentang latar belakang dan asal-usul karya sastra Nusantara tersebut.

Studi atas karya sastra Islam Nusantara merupakan kajian yang perlu diapresiasi karena sudah banyak penulis yang memberikan concern-nya dan telah menulis karyaconcern-nya dalam bidang ini. Dalam kajian ini, menunjukkan bahwa Islam di wilayah Nusantara tidak hanya dipahami sebagai “agama”, tetapi juga sudah merupakan identitas diri dalam kehidupan masyarakat.

Meskipun banyak ahli yang memperdebatkan tentang historisitas karya sastra jenis ini, namun karya sastra Nusantara ini—bagi pendukungnya—tetap diyakini sebagai sejarah yang menjadi cultural heritage, bila boleh dikatakan warisan nenek moyang. Bahkan yang lebih menarik lagi bahwa karya sastra sejarah Islam Nusantara tersebut berkembang pada masa Islam Nusantara.

Sebelum beranjak pada sejarah karya sastra Islam Nusantara beserta corak-coraknya, alangkah lebih baik kita menelusuri sejenak historiografi sastra Arab pada zaman permulaan Islam dan disusul pada aspek sejarah bagaimana kemudian karya sastra Islam Nusantara lahir.

(3)

B. SASTRA ARAB PADA ZAMAN PERMULAAN ISLAM

Penerimaan terhadap agama Islam di kalangan bangsa Arab pada mulanya memang tidak banyak membawa perubahan terhadap perkembangan sastra Arab, juga tidak banyak memberi perubahan terhadap sifat-sifat, watak dan tabiat bangsa Arab. Lagipula pada masa awal sejarah Islam, kesusastraan berkembang agak lambat. Hal ini disebabkan banyaknya peperangan yang dihadapi kaum Muslimin yang begitu menguras tenaga. Pada awal abad ke-7 M, setelah Rasulullah wafat dan kepemimpinannya diganti oleh khalifah yang empat, satu-satunya bentuk kegiatan penulisan yang berkembang ialah penyusunan dan penulisan mushaf al-Qur’an. Kendati demikian sebenarnya pada masa ini telah muncul beberapa penyair yang kreatif. Di antaranya ialah penyair-penyair yang disebut golongan mukhdramain, artinya penyair-penyair yang hidup dalam dua zaman, zaman Jahiliyah dan zaman Islam. Di antara mereka telah terdapat penyair yang dipengaruhi ajaran dan sejarah perkembangan Islam. Syair-syair tersebut mayoritas merupakan rekaman sejarah awal Islam, khususnya perjuangan Nabi Muhammad dan Sahabat. Walaupun sikap hidup mereka secara umum tidak berubah setelah memeluk Islam, namun karangan mereka cukup penting karena nilai sejarahnya. Di antara mereka terdapat orang yang dekat dengan Rasulullah seperti Hasan bin Tsabit, Ka`aab bin Zubair, Ka`ab bin Malik dan Labid bin Rabi`ah. Hasan bin Tsabit misalnya sering mendampingi Nabi dan tampil dalam perdebatan dengan para penyair yang gemar merendahkan dan mengejek Islam. Bersama-sama Labid bin Rabi`ah, Hasan bin Tsabit dianggap sebagai perintis sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad.

(4)

kemudian semakin menarik perhatian penyair yang pada gilirannya kelak mempengaruhi corak penulisan dan pola bercerita. Penamaan adab yang secara leksikal bermakna pendidikan kemudian berubah-ubah (mengalami perubahan makna) menjadi sastra Arab, puisi, orasi dan sejarah Arab.2

C. PROSA DAN PUISI

Dalam tradisi Arab, puisi disebut manzun, yaitu komposisi (nazm) yang bahasanya terikat pada pola rima dan sajak. Prosa disebut mantsur, yaitu gubahan yang bahasanya longgar, tidak terikat pada pola rima dan aturan persajakan tertentu. Dari segi tema, amanat dan coraknya sastra Arab baru ini pun berbeda dari sastra Arab lama. Pada masa ini para sastrawan mulai mengaitkan sastra dengan adab, bahkan menyebut sastra sebagai adab, yaitu sikap dan perbuatan yang didasarkan pada akhlaq dan sopan santun. Adab juga dihubungkan dengan tingginya tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dicapai oleh seorang penulis, serta kedewasaan dan kematangan pandangan hidup mereka. Berdasar pandangan ini maka sastra tidak hanya berisi ungkapan perasaan dan pengalaman hidup biasa sebagaimana kerap diartikan orang, begitu pula sekarang ini. Sastra lebih dari itu. Ia juga merupakan karangan yang menyajikan kearifan dan gagasan-gagasan penting kehidupan termasuk moral, al-hikmah dan spiritualitas. Perubahan itu juga tampak dalam bahasa yang digunakan. Kaya-karya baru yang dihasilkan oleh penulis Muslim ini lebih halus, sedangkan isinya lebih universal. Puisi karya penyair zaman pra-Islam biasanya kasar dan nadanya sombong. Isinya pun tidak mendalam, sering hanya berkaitan dengan masalah-masalah sensual. Bahkan terdapat syair-syair zaman pra-Islam yang ditulis untuk mengejek kabilah musuh. Biasanya sajak-sajak seperti itu bisa menyulut sengketa dan permusuhan antar kabilah. Beberapa syair sengaja ditulis untuk menghina kabilah musuh. Untuk keperluan itu maka setiap kabilah mesti memiliki penyair andalan, yang setiap diharapkan

(5)

dapat menulis syair-syair berisi jawaban terhadap syair ejekan dari kabilah lain.

Pada masa sebelumnya prosa tidak berkembang, karena kecintaan pada puisi yang mendalam. Setelah Islam datang, lambat laun prosa mulai bertunas dan tumbuh subur. Tokoh yang dipandang penulis prosa terawal ialah Ali bin Abi Thalib (600-601 M). Dalam sejarah Ali bin Abi Thalib merupakan pemuda Arab pertama yang memeluk agama Islam. Dia adalah menantu Nabi dan terkenal sebagai orang yang berani membela Islam dan terpelajar pula. Ketika Rasulullah masih hidup, dia pernah diberi tugas menjadi pengumpul wahyu yang diterima Nabi. Ali bin Abi Thalib menguasai bahasa Arab dengan baiknya, khususnya dialek Hejaz yang dianggap sebagai dialek bahasa Arab yang terindah pada zaman itu. Karyanya yang masyhur sebagai prosa pertama bernilai sastra dalam bahasa Arab ialah Nahj al-Balaghah (Jalan Terang). Kitab ini merupakan kumpulan khotbah, peribahasa, kata-kata mutiara dan surat-suratnya. Pada akhir abad ke-7 M muncul pula penyair yang membawa pembaruan cukup berarti, yaitu Umar bin Abi Rabi`ah (643-712). Dia hidup pada zaman kejayaan Umayyah. Umar bin Abi Rabi`ah berasal dari kabilah Quraysh ban Makhzun. Ayahnya pernah diberi tugas oleh Nabi untuk menyebarkan agama Islam di Yaman. Menjelang akhir hayatnya dia banyak menulis syair-syair zuhudiyah. Gaya bahasanya sangat halus dan ekspresif.

(6)

Jenis syair lain yang juga digemari dan muncul pada zaman ini ialah al-ghazal al`uzri, yaitu sajak-sajak cinta muni. Penyair yang banyak melahirkan syair semacam ini ialah Qays alias Majnun bin Amir. Kisah cintanya yang mendalam kepada seorang gadis bernama Layla, menarik perhatian masyarakat Arab dan diabadikan dalam kisah yang sangat terkenal Layla wa Majnun. Tema ghazal a-uzri ialah cinta murni yang didasarkan atas ajaran Islam. Cinta seperti itu menuntut ketulusan, pengurbanan dan kesucian. Hija’ (sindiran) juga digemari. Melalui hija’ mereka melontarkan kritik atau kecaman terhadap ketimpangan yang berlaku dalam masyarakat, Misalnya ketidakadilan penguasa, penyelewengan dan korupsi yang dilakukan para pejabat, pemimpin agama dan politisi. Biasanya hija’ ditulis untuk mengecam orang-orang yang perilakunya menyimpang dari ajaran agama. Di antara penulis hija’ yang terkenal ialah Farazdaq (w. 728 M).3

E. THEORITICAL FRAMEWORK

Beberapa ahli menyebutkan bahwa Islam sebagai pencetus lahirnya jenis karya sastra sejarah di Nusantara. Sebagai karya sastra yang sebagian besar ditulis setelah datangnya agama Islam, karya sastra Nusantara banyak mengandung unsur-unsur Islam yang berkembang saat itu. Bahkan, dalam karya sastra sejarah Nusantara ini akan dipahami bagaimana warna keislaman yang terdapat dalam suatu masyarakat pendukung karya itu.4

Pada Abad ke-14-15 M, Sastra Islam Nusantara mulai sering muncul seiring semakin luasnya penyebaran agama Islam di Kepulauan Melayu. Bahasa Melayu yang menjadi lingua franca di Kepulauan Nusantara digunakan sebagai media dakwah dan bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sehingga pada abad ke-16 M, bahasa Melayu 3 Muhammad bin Abdul Rahman al-Rabi’, al-Adab al-‘Arabi wa Tarikhuhu, (Riyadh: Jami’ah Muhammad bin Sa’ud, 1410 H), hal 217-223. Hemat penulis, dengan berpegangan pada karya Prof. Dr. Sukron Kamil, sejatinya memang apa yang merasuk (terjadi) dalam kesejarahan sastra Islam di Nusantara—masih terpengaruh pada sastra Islam dahulu. Embrionya dari sana.

(7)

semakin mendapatkan posisi yang penting dan lebih tinggi daripada bahasa-bahasa etnik Nusantara lainnya. Kondisi ini berimplikasi pada semakin meningkatnya posisi kesusastraan Melayu yang mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 M dan bermunculannya tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan lain-lain.5

Istilah sastra Islam sering dikaburkan dengan sastra Arab, karena medium awalnya yang tumbuh di negara-negara Arab (timur-tengah) dan ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Mengacu pada ensiklopedia Islam, di sana dijelaskan jika kesusasteraan Islam adalah kesusastraan Arab setelah masuknya pengaruh Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya orang Arab terkenal sebagai bangsa yang menyukai syair-syair. Bangsa-bangsa nomaden (orang badui) senang membuat syair-syair melalui prosa, dan puisi yang dinyanyikan dengan kasidah atau ode, dengan ciri khas memiliki ritme yang sama di setiap akhir lirik, yang terdiri sekitar 25 sampai dengan 100 bait.

Puisi-puisi atau syair-syair tersebut kebanyakan mengisahkan tentang kejayaan dan kecintaan mereka pada suku-suku mereka (masa jahilliyah, bangsa Arab hidup bersuku-suku dan gemar berperang). Perkembangan sastra Islam yang ada di dunia Arab yang terbagi ke dalam lima periode di antaranya, kesusastraan jahiliyah, kesusastraan zaman Islam, kesusastraan Abbasiyah, kesusastraan pemerintahan Turki Usmani, dan kesusastraan abad modern. Namun penulis menyederhanakannya menajadi tiga fase perkembangan, yakni dimulai dengan fase perkebangan awal, fase masuknya gaya barat, dan terakhir adalah fase kaum sufi.

F. MENGUPAS SEKILAS SASTRA ISLAM

5 Abdul Hadi WM, Sastra Islam Melayu-Nusantara, 10 Agustus 2011. Sumber

(8)

Sastra sebagai sebuah produk pemikirian, merupan medium dalam menyampaikan ide-ide melalui lisan maupun tulisan. Namun kunci utamanya adalah kemampuan dalam berbahasa (language skill). Jika Ayu Utami memandang sastra sebagai sebuah medium pergulatan nilai, maka persepsi ini mungkin tidak masuk dalam sastra islam sebagai sebuah bentuk tulisan orang-orang saleh yang mengemban sebuah mission sacré berdakwah mengamalkan nilai-nilai suci ajaran Islam. Adapun ciri-ciri spesifik dari karya semacam ini adalah sebagai berikut:

1. Karya tersebut medorong pembacanya melakukan amal makruf nahi mungkar.

2. Karya tersebut bertujuan meneggakan ajaran Allah

3. Karya tersebut bertandesi membenarkan yang benar dan mengharamkan yang haram

4. Karya tersebut mendorong lahirnya masyarakat yang adil dan makmur

5. Dan karya tersebut mengesankan tidak ada hak hidup bagi orang-orang jahat.

(9)

tergantung situasi dan kondisi yang mendukung keberadaannya dan diterimanya oleh masyarakat.6

G. SASTRA ISLAM DAN BAHASA MELAYU

Sejarah bahasa Melayu dalam rumpun austronesia yang paling tua menunjukkan pada 680 M dalam prasasti kota Kapur di Bangka. Bahasa Melayu tua menjadi dasar dari bahasa Indonesia dan Melayu Johor. Mengkaji perkembangan sastra Islam di Indonesia maka tak akan lepas dari perkembangan bahasa Melayu. Sejak masuknya sastra Islam apda abad 14-an menunjukkan jika sastra bernafaskan Islam ditulis dalam bahasa melayu, seperti karya-karya pada (tabel II) sebagian karya-karya itu disadur ke dalam bahasa Melayu. Sejak penyebarannya yang intens pada masa ekpansi melayu, lalu diteruskan pada masa penjajahan Portugis yang menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar teks bible dan sekolah-sekolah Kristen di Ambon, menjadikan bahasa Melayu semakin akrab dan digunakan di berbagai daerah di Nusantara. Puncaknya adalah pada 1928 setelah peristiwa Sumpah Pemuda, bahasa Melayu telah bertansfomasi menjadi bahasa dengan karakteristik Indonesia, yang menjadi pemersatu berbagai perbedaan yang ada. Sutan Takdir Alisyahbana dalam studinya tentang bahasa Indonesia menekankan jika dengan tumbuhnya bahasa Indonesia maka menjadi harapan baru bagi perkembangan sastra di Nusantara dan fungsinya dalam mengangkat bangsa Indonesia. Tabel I di bawah ini menunjukkan periodesasi sastra Islam di Nusantara:

Periodesasi Sastra Islam Indonesia

N o

Periode Nama

Pengarang

Tahun Karya Karakteristik

(10)

1 Abad Awal

(11)

dari Persia

(tidak tersedia)

ada sejak abad 15-16 M dan Salinann ya lagi pada Abad 17

miskin dan si kaya, hikayah marakarma, hikayah nahkoda muda,

hikayah siti Sara,

hikayah Ahmad Muhammad , hikayah berma

Syahdan, Hikayah Indra putera, hiakyah Syar’I Mardu

Transisi - 18-19 Kisah Nabi

dan Wali

Hikayah pahlawan islam Seperti: Iskandar Zulkarnaen, Amir

(12)

Akhir masa klassik dan sastra Islam modern

Menurut Liau Yock Fang, sastra Islam adalah sastra tentang orang Islam dan segala amal salehnya. Sastra Islam melayu adalah sastra orang Islam yang ditulis dalam bahasa malayu di rantau ini. Lebih lanjut Yock menjelaskan jika sastra Islam melayu pada awalnya merupakan hasil saduran dari karya sastra bahasa parsi dan Arab oleh dua kelompok yang paling mencolok, yang pertama yaitu karya yang berupa kitab-kita berunsur keagaamaan yang dilakukan oleh orang-orang Melayu Nusantara yang belajar di Arab, sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang dari India Selatan yang karyanya lebih bersifat hiburan. Semua karya-karya pada masa awal ini tidak diketahui nama pengarang dan tariknya sehingga menyulitkan dalam membuat periodesasi. Namun ada bukti yang menunjukkan jika karya-karya tersebut datang setelah Islam masuk dan huruf Jawi diciptakan. Berdasarkan kategori yang dibuat R. Roolvinck tedapat lima jenis sastra Islam yaitu:

1.Cerita Al-Qur’an

2.Cerita Nabi Muhammad

3.Cerita Sahabat Nabi Muhammad

4.Cerita Pahlawan Islam

5.Sastra Kitab

Karya-karya Sastra Islam Melayu Fase Awal7

(13)
(14)

Musa

CeritaAyub

CeritaYunu s

Cerita Elias

Cerita Daud

Cerita Sulaiman

Cerita Armia dan Azis

Cerita Yahya

Cerita Maryam dan Isa

Hikayah Raja

Jumjumah atau

tengkorak kering

Yazan

(15)

Parsi. Cerita Al-Qur’an adalah cerita yang mengisahkan cerita nabi-nabi atau tokoh-tokoh yang namanya disebut dalam Al-qur’an. Al-Kisai adalah seorang penulis cerita Al-Qur’an yang paling terkenal dengan ceritanya berjudul ‘Qisah Al-Anbiya’. Karakteristik dari cerita ini adalah bersifat didaktis yang kaya akan muatan nilai dan suri Tauladan, selain itu juga kuat akan muatan nilai keagamaan yang menjunjung ajaran tauhid. Yang menarik dari sebagian karya-karya tersebut adalah karena diterjemahkan tidak hanya ke dalam bahasa melayu saja melainkan juga ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Aceh, Parsi, dan Hindustan seperti yang dapat kita jumpai dari karya berjudul Hikayah Raja Junjumah atau Tengkorang Elang.

Berikutnya Cerita Muhammad, terdiri dari tiga jenis yaitu, pertama mengisahkan tentang riwayat nabi dari kelahiran sampai wafatnya. Dalam bahasa melayu jenis cerita pertama ini terdapat dua buah yaitu, Hikayah Muhammad Hanafiah dan Hikayah nabi. Walaupun cerita ini berasal dari sirah Nabi, namun karena karya sastra sangat mengedepankan nilai bahasa dan pemaknaan, maka ceritanya sudah banyak disusupi dengan cerita-cerita khayalan yang bertujuan untuk mengagungkan Nabi. Jenis kedua, meceritakan mengenai mukjizad nabi, cerita ini juga bersumber dari sirah dan hadis,beberapa contohnya yang terkenal di antaranya Hikayah Bulan Berbelah dan Hikayah Nabi Bercukur. Dan yang terakhir adalah karya berjenis Maghzi, sebagai jenis sastra yang betutur tentang peperangan pada masa Nabi dalam usaha meneggakan Dinullah (Agama Allah).

PETA PERIODESASI SASTRA ARAB8

Periode Genre Ideologi Sastrawan

Klasik : Jahiliyah

(122SH -1H

/500-Puisi Imaginatif Geneologi Arab – Fanatisme

Mempertahankan Orisinalitas dan pokok-pokok struktur arab klasik

(16)

622M) Ilmu Balaghah sebagai kritik sastra Formalisme.

Khalifah Islam – Fanatisme agama Dinasti Muawiyah

Muncul Pertengahan Abad ke-19 (1920 – sekarang) dengan ditandainya beberapa Negara Arab berhasil memerdekakan diri dari pemerintahan Kolonial.

Perkembangan Sastra Arab Modern :

Genre Sastra

(17)

Drama Terpengaruh aliran penyampaian, keindahan bentuk serta disertai perhatian terhadap ide.

Modern Taufiq Al-Hakami, Toha Husein, Aqqad Gagasan pemikiran dan gaya modern

Mahmud Samy Al-Barudy Dan Ahmad Syauqy :

Menghidupkan kembali keindahan puisi klasik seperti abu nawas, puisi pada dinasti abbassiyah dengan tema dan semangat

Abbas Mahmud Aqqad, Abdul Qadir Al-Maziy, Abdurrahman Syukri

(18)

Madrasah Al-Mughaliinu

Madrasah Apollo

Nu’minah, dkk

Ideologi Aliran Barat ( Realisme, Romantisme, Simbolisme, Eksestensisme, dll) Muncul Puisi bertemakan perlawanan

Pemikiran sastra Arab modern yang nampak dan menonjol lebih mengarah pada penjabaran di atas, sehingga banyak pembaharuan dari sastra klasik ke modern terutama pada puisi dan prosa, serta pada perkembangan sebelumnya (klasik) genre Drama hanya muncul pada era sastra arab modern. Adapun pada era modern selain puisi, prosa, dan drama perkembangan kisah (Qishash) berkembang lebih pesat lagi akibat pengaruh hubungan dengan aliran barat, begitupula dengan Amtsal, Al-Hikma, Tarikh, Shirah, Abhats ‘ilmiyyah yang mengalami perkembangan tentang tema serta topik yang ada didalamnya.

BIBLIOGRAFI

al-Rabi’, Muhammad bin Abdul Rahman. al-Adab al-‘Arabi wa Tarikhuhu, Riyadh: Jami’ah Muhammad bin Sa’ud, 1410 H.

Fang, Liaw Yock. Sejarah Kesusastraan Melayu-Klasik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.

Kamil, Sukron. Teori Kritik Sastra Arab: Klasik dan Modern, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009.

Purnama, Retno Irawati. Mengenal Sejarah Sastra Arab, Semarang: Egaacitya, 2013

Resi, Maharsi. Islam Melayu VS Jawa Islam: Menelusuri Jejak Karya Sastra Sejarah Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Teeuw, A. Sejarah Kesusastraan Melayu, hal 16.

WM, Abdul Hadi. Sastra Islam Melayu-Nusantara, 10 Agustus 2011. Sumber sastra-muslim.blogspot.com/2011/11/sastra-islam-melayu-nusantara.html, (diakses pada 1 November 2013)

Gambar

Tabel IIKategori

Referensi

Dokumen terkait

Agar pada penelitian yang berjudul Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Lirik Lagu pada Album Don't Make Me Sad Karya Band Letto: Tinjauan Sosiologi Sastra

Karya sastra, terutama puisi yang disusun dalam bahasa sehari-hari, memainkan peran dominan dalam menggambarkan peristiwa Arab Spring, karena kemampuannya yang

Metode ini digunakan dalam penelitian ini karena, estetika sastra go’et Paki Ata yang ditulis oleh Yoseph Ngadut merupakan karya tulis sastra yang harus dicari maknanya yang

Penelitian ini dinilai rekonstruktif, karena novel ini muncul justru ditengah maraknya karya- karya sastra Arab yang coraknya misoginis. berbagai penelitian menunjukkan 5

Endraswara (2002:104-105) menjelaskan bahwa menganalisis karya sastra dengan pendekatan psikologi sastra yang berfokus pada psikologi tokoh yaitu menekankan kajian

Karya sastra yang akan digunakan untuk melihat adanya pengaruh unsur Islam dalam cerita adalah karya sastra Melayu berjudul Hikayat Iskandar Zulkarnain.. Cerita

PENDAHULUAN Berbicara masalah sejarah sastra Periode paling awal dalam sejarah kebudayaan Arab, disebut zaman jahiliyah sekitar satu setengah abad sebelum islam, kemudian periode

Sebuah karya sastra yang mati tidak dikenal, dan lemah.129 Dalam syair Imam Asy-Syafi’i sendiri memiliki gagasan yang luas pandangnya , akan tetapi yang paling cocok pada syair sang