1 1.1 Latar Belakang
Dalam bahasa Arab, sastra disebut adab. Istilah adab mempunyai arti lain selain sastra yakni etika, sopan santun, tata cara, filologi, kemanusiaan, kultur, dan ilmu humaniora. Artinya, adab mencakup keseluruhan aspek ilmu termasuk tata cara kita bersopan santun, dan aspek kebudayaan. Sastra adalah ilmu yang luas (Kamil, 2009:3).
Adab (sastra) terbagi ke dalam dua bagian besar, yaitu sastra deskriptif (al-adab al-wa fī) dan sastra kreatif (al-adab al-insyā‘ī). Sastra deskriptif terdiri dari tiga bagian, yakni sejarah sastra (tārikh al-adab), kritik sastra (naqd al-adab), dan teori sastra (naẓariyyatu al-adab). Sastra kreatif juga terdiri dari tiga jenis, yaitu puisi (asy-syi‘r), prosa (na r), dan drama (al-masra iyyah) (Kamil, 2009:8-9).
Prosa fiksi terbagi dalam tiga genre, yakni novel (riwāyah), cerita pendek (qi ah qa īrah), dan novelet (uq ū iyyah). Ketiga genre tersebut memiliki unsur-unsur fiksi yang sama, hanya takaran dari setiap unsur-unsurnya yang berbeda (Kamil, 2009:41).
Cerita pendek atau cerpen adalah cerita berbentuk prosa yang relatif pendek. Dikatakan pendek, selain dapat dibaca dalam waktu yang singkat, juga karena genre ini mempunyai efek tunggal, karakter, plot, dan setting yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks (Kamil, 2009:44).
▸ Baca selengkapnya: arti dighom mutaqoribain secara istilah adalah ...
(2)Cerita pendek yang penulis pilih berjudul “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis” dalam antologi alā u ikāyātin ‘an al-Gaḍabi karya Mu ammad al-Mansī Qandīl. Cerpen ini menceritakan tentang keadaan di Mesir pada revolusi 2011. Diceritakan dalam cerpen tersebut dampak revolusi Mesir terhadap sebuah keluarga kecil yang mempunyai anak tunggal yang meninggal karena kejadian tersebut. Cerpen ini juga menggambarkan kondisi nyata di Mesir pada saat revolusi 2011.
Sebagai sebuah karya sastra, cerpen “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis” ini merupakan sebuah struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan dalam membentuk sebuah makna. Oleh karena itu, diperlukan analisis struktural untuk mengungkapkan unsur-unsur intrinsik dan keterkaitan antarunsur yang terdapat dalam cerpen tersebut agar bisa dipahami dengan baik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis” dalam antologi alā u ikāyātin ‘an al-Gaḍabi karya Mu ammad al-Mansī Qandīl dan keterkaitan antarunsur di dalamnya. 1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis” dalam antologi alā u ikāyātin ‘an al-Gaḍabi karya Mu ammad al-Mansī Qandīl dan mengetahui keterkaitan antarunsurnya.
1.4 Tinjauan Pustaka
Penelitian terhadap antologi alā u ikāyātin ‘an al-Gaḍabi karya Mu ammad al-Mansī Qandīl telah diteliti oleh peneliti sebelumnya, Zulfaroh (2015) dalam skripsinya “Kondisi Psikologis Tokoh Utama dalam Cerpen “ ikāyatu al-Gulāmi al-lażī Yuhaddiṡu an-Nahra” Karya Mu ammad al-Mansī Qandīl: Psikoanalisis Sigmund Freud”. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat ketidakseimbangan unsur (id, ego, dan superego) yang dialami tokoh utama akibat tekanan-tekanan psikologis yang dialaminya.
Adapun penelitian yang membahas analisis struktural telah banyak dilakukan, sebagai contoh Fauziyah (2015) dalam skripsinya “Unsur-Unsur Instrinsik Cerpen “Garāmun Fī at-Tilīfūn” dalam Antologi Qulūbun agīratun Karya Anīs Manṣūr: Analisis Struktural Robert Stanton”. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa unsur-unsur intrinsik dalam cerpen tersebut saling berkaitan.
Penelitian lain terhadap cerpen-cerpen dalam antologi alā u ikāyātin ‘an al-Gaḍabi dengan menggunakan analisis struktural belum pernah dilakukan. Dengan demikian, peneliti dapat meneliti cerpen “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis” dengan menggunakan analisis struktural.
1.5 Landasan Teori
Karya sastra dari segi strulturalisme dilihat sebagai fenomena yang memiliki struktur yang saling terkait satu sama lain. Struktur tersebut memiliki hubungan yang kompleks, sehingga pemaknaan harus diarahkan pada hubungan antar unsur secara keseluruhan (Kamil, 2009:184).
Sebuah teks sastra, fiksi atau puisi, menurut pandangan Kaum Strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara keherensi oleh berbagai unsur (pembangun)-nya. Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Nurgiyantoro 2013:57).
Struktur karya sastra juga menunjuk pada pengertian adanya hubungan antarunsur (intrinsik) yang bersifat timbal-balik, saling menentukan, saling memengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh. Tiap bagian akan menjadi berarti dan penting setelah ada dalam hubungannya dengan bagian-bagian yang lain serta bagaimana sumbangannya terhadap keseluruhan wacana (Nurgiyantoro, 2013:57-58).
Stanton (1965:11-36), membedakan unsur pembangun cerita ke dalam tiga bagian: fakta-fakta cerita, tema, dan sarana-sarana sastra. Fakta (facts) dalam sebuah cerita meliputi karakter (tokoh cerita), alur, latar. Ketiganya merupakan unsur fiksi yang secara faktual dapat dibayangkan peristiwanya, eksistensinya dalam sebuah karya sastra yang disebut dengan struktur faktual atau derajat faktual.
Terma ‘karakter’ bisa dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada pencampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut (Stanton, 1965: 33).
Dalam sebagian besar cerita dapat ditemukan satu ‘karakter utama’, yaitu karakter yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita (Stanton, 1965: 33-35). Menurut Nurgiyantoro (2013:259), tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan. Karena tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkembangan plot cerita secara keseluruhan. Ia selalu hadir sebagai pelaku, atau yang dikenai kejadian dan konflik penting yang memengaruhi perkembangan plot. Kemudian ada karakter tambahan, yaitu karakter yang mendukung peran karakter utama dalam menyelesaikan jalan cerita (Stanton, 1965: 33-35).
Unsur alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menjadi dampak dari berbagai peristiwa laindan tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya. Peristiwa kausal tidak terbatas pada hal-hal seperti ujaran atau tindakan saja, tetapi juga mencakup perubahan sikap karakter, kilasan-kilasan pandangannya, keputusan-keputusannya, dan segala yang menjadi variabel pengubah dalam dirinya (Stanton, 1965:26).
Stanton (1965:28) membagi alur menjadi tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir. Nurgiyantoro (2013:201-205) menjelaskan definisi-definisi pada masing-masing tahap sebagai berikut: Tahap awal juga disebut sebagai tahap perkenalan, yang berisi sejumlah informasi berupa pengenalan latar, pengenalan tokoh. Tahap awal juga memunculkan bagaimana dimulainya konflik cerita.;
Tahap tengah juga disebut sebagai tahap pertikaian yang memunculkan konflik lanjutan dari tahap awal tadi. Di tahap tengah inilah ditampilkan konflik yang semakin meruncing dan mencapai klimaks, peristiwa-peristiwa penting, dan tema pokok diungkapkan.; Tahap tengah merupakan bagian terpanjang dan terpenting dalam unsur alur ini. Tahap akhir juga disebut sebagai tahap penyelesaian yang berisi bagaimana cerita tersebut berakhir.
Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial-budaya. Ketiga unsur ini saling berkaitan dan saling memengaruhi satu dengan yang lainnya. Latar tempat menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Latar sosial-budaya menunjuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan hal-hal yang tergolong latar spiritual (Nurgiyantoro, 2013:314-322).
Tema adalah makna yang dapat merangkum semua elemen dalam cerita dengan cara yang paling sederhana. Stanton (1965:36-42) menjelaskan, tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan makna. Tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Tema merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detail sebuah cerita. Bagian awal dan akhir
cerita akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema. Cara untuk mengenali tema adalah dengan mengamati secara teliti setiap konflik yang ada di dalamnya.
Sarana-sarana sastra meliputi judul, sudut pandang, gaya dan tone, simbolisme dan ironi (Stanton, 1965:9). Sarana-sarana sastra yang terdapat dalam cerpen ini adalah judul, sudut pandang, gaya dan tone.
Stanton (1965:51) menyebutkan, judul seringkali selalu dikaitkan dengan karya yang diampunya, sehingga keduanya membentuk satu kesatuan. Pemahaman judul seperti itu benar apabila judul mengacu pada sang karakter utama atau satu latar tertentu. Berbeda apabila judul tersebut mengacu pada satu detail yang tidak menonjol. Judul seperti ini seringkali muncul dalam cerpen yang menjadi petunjuk makna cerita bersangkutan.
Sudut pandang adalah posisi atau pusat kesadaran tempat kita untuk dapat memahami setiap peristiwa di dalam cerita. Stanton (1965:53) menjelaskan, pembaca memiliki posisi dan hubungan yang berbeda dengan tiap peristiwa dalam sebuah cerita, entah itu di dalam atau di luar satu karakter, atau menyatu dan terpisah secara emosional. Singkatnya, posisi pembaca dalam membaca cerita dinamakan sudut pandang.
Sudut pandang menurut Stanton (1965:53-54), dibagi menjadi empat tipe utama.
1. Orang pertama-utama, sang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri.
2. Orang pertama-sampingan, cerita dituturkan oleh satu karakter bukan utama (sampingan).
3. Orang ketiga-terbatas, pengarang mengacu pada semua karakter dan memosisikannya sebagai orang ketiga, tetapi hanya menggambarkan apa yang dapat dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu orang karakter saja. 4. Orang ketiga-tidak terbatas, pengarang mengacu pada setiap karakter dan
memosisikannya sebagai orang ketiga.
Gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Stanton (1965:61) menjelaskan, meski dua orang memakai alur, karakter, dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan menyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Campuran dari aspek-aspek tersebut menghasilkan gaya.
Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa dilihat dalam berbagai wujud, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan. Tone identik dengan dengan atmosfer (Stanton, 1965:63).
1.6 Metode Penelitian
Penelitian struktural memandang karya sastra sebagai karya yang mampu menjalin unsur-unsur secara padu dan bermakna. Adapun untuk melihat semua keterkaitan unsur-unsur tersebut, dilakukan terlebih dahulu penelitian terhadap satu-persatu unsur tersebut. Langkah-langkah yang penulis lakukan untuk
melakukan penelitian ini mengacu kepada Endraswara (2013:52-53), berikut langkah-langkahnya:
1) Membangun teori struktur sastra yang baik sesuai dengan genre yang diteliti. Hal ini dimaksud agar nantinya penulis dapat dengan mudah mengikuti teori yang telah dibangunnya. Penulis pun harus memahami secara mendalam hakikat setiap unsur pembangun karya sastra.
2) Penulis melakukan pembacaan secara cermat cerpen “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis”, kemudian diterjemahkan agar dapat memahami lebih jauh makna-makna yang terkandung di dalamnya.
3) Dari hasil pembacaan yang dilakukan penulis, secara kasar sudah dapat dilihat unsur-unsur struktur dari cerpen “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis”. Kemudian unsur-unsur yang telah didapat, dicatat dalam catatan penulis sebagai acuan dalam penjabaran di bab pembahasan.
4) Sesuai dengan teori struktural Robert Stanton, urutan unsur-unsur intrinsik pembangun karya sastra terdiri atas: fakta cerita (karakter, alur, dan latar), tema, dan sarana sastra (judul, sudut pandang dan gaya dan tone). Satu persatu unsur-unsur tersebut dijabarkan sesuai dengan urutannya.
5) Setelah selesai menjabarkan unsur-unsur tersebut, dicari keterkaitan antar unsurnya dengan menghubungkan unsur satu dengan yang lainnya.
Dengan demikian, analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan. Analisis struktural tidak cukup dilakukan hanya sekadar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, namun menunjukkan
bagaimana hubungan antarunsur itu dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai (Nurgiyantoro, 2013:60). 1.7 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam skripsi ini dibagi menjadi empat bab. Bab I pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II berisi biografi Mu ammad al-Mansī Qandīl dan sinopsis cerpen “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis”. Bab III berisi pembahasan analisis struktural cerpen “ ikāyatu Lā‘ibi at-Tinis”. Bab IV berisi kesimpulan, kemudian diakhiri dengan daftar pustaka.
1.8 Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Penulisan transliterasi Arab-Latin dalam penelitian ini menggunakan pedoman transliterasi Arab-Latin berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tanggal 22 Januari 1988 No. 158/1987 dan No. 0543 b/U/1987.
1. Konsonan
Konsonan bahasa Arab dilambangkan dengan huruf hijaiyah atau disebut dengan huruf Arab.
Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan
أ
alif - tidak dilambangkanب
bā’ B -ت
tā’ T -ج
jīm J -ح
ā’ h dengan titik di bawahnyaخ
khā’ kh -د
dāl d -ذ
zāl ż z dengan titik di atasnyaر
rā’ r -ز
zā’ z -س
sīn s -ش
syīn sy -ص
sād ṣ s dengan titik di bawahnyaض
dād ḍ d dengan titik di bawahnyaط
tā’ ṭ t dengan titik di bawahnyaظ
zā’ ẓ z dengan titik di bawahnyaع
‘ain ‘ koma terbalikغ
gain g -ف
fā f -ق
qāf q -ك
kaf k -ل
lām l -م
mīm m -ن
nŭn n -و
wawu W -ه
hā’ H -ا
lam alif - -ء
hamzah ` apostrof, tidak digunakan untukhamzah di bawah kata
ي
yā’ y - 2. VokalVokal Pendek Vokal Panjang Diftong
…
َ
: aا
…َ
: āي
…َ
: ai...
َ
: iي
…َ
: īو
…َ
: au ...َ
: uو
…َ
: ū3. Tā Marbūṭah
Transliterasi untuk tā Marbūṭah ada dua, yaitu:
a. Tā Marbūṭah hidup atau mendapat harakat fat ah, kasrah, atau ḍammah, transliterasinya adalah /t/.
b. Tā Marbūtah mati atau mendapat sukūn, transliterasinya adalah /h/.
Kalau pada kata yang terakhir dengan Tā Marbūṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta kedua kata itu terpisah, maka Tā Marbūṭah itu ditransliterasikan dengan /h/.
Contoh:
ةرّونما ةنيدما
: al-Madīnah al-Munawwarah atau al-Madīnatul-Munawwarah.4. Syaddah
Tanda Syaddah dilambangkan dengan huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah tersebut.
5. Kata Sandang
Transliterasi kata sandang dibedakan atas kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyyah dan kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyyah.
a. kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /I/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang tersebut.
Contoh:
سمّشلا
: asy-syamsub. kata sandang yang diikuti huruf qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu /I/ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh:
رمقلا
: al-qamar 6. HamzahHamzah ditransliterasikan dengan apostrof jika terletak ditengah dan akhir kata. Bila terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan karena dalam tulisan Arab berupa alif.
Contoh:
ّنإ
: inna,ذخأيو
: wa ya`khużu,أرق
: qara`a 7. Penulisan KataPada dasarnya setiap kata ditulis terpisah, tetapi untuk kata-kata tertentu yang penulisannya dalam huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan, maka transliterasinya dirangkaikan dengan kata lain yang mengikutinya.
Contoh:
نقزاّرلا رخ وه ها ّنإو
: Wa innallāha lahuwa khair ar-rāziqīn atau innallāha lahuwa khairur-rāziqīn8. Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem tulisan Arab tidak dikenal huruf kapital, tetapi dalam transliterasinya huruf kapital digunakan dengan ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).