• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERUBAHAN STRUKTUR TATA NEGARA YANG TERJ

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERUBAHAN STRUKTUR TATA NEGARA YANG TERJ"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PERUBAHAN STRUKTUR TATA NEGARA YANG TERJADI

DI INDONESIA

Oleh :

M. Habib Maulana

8111416117

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...1

BAB I : PENDAHULUAN...2

22Latar Belakang...2

1.1 Rumusan Masalah...2

1.2 Tujuan...2

BAB II : ISI...3

2.1. Dinamika Ketatanegaraan Indonesia...3

2.2. Sebelum Amandemen UUD 1945...4

2.3. Sesudah Amandemen UUD 1945...5

BAB III : KESIMPULAN...8

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bertujuan untuk mengembangkan struktur ketatanegaraan di Indonesia agar menjadi lebih baik, maka sistem ketatanegaraan Indonesia telah mengalami banyak perubahan dari mulai UUD, kabinet, dan lain sebagainya.

Dinamika ketatanegaraan di Indonesia mengalami banyak perbaikan/reformasi guna menyesuaikan dan sekaligus memperbaiki sistem ketatanegaraan agar dapat berjalan efektif dan efisien guna memberikan keadilan bagi masyarakat.

Dalam makalah ini akan mengkaji apa saja perubahan dari sistem ketatanegaraan Indonesia mulai dari sebelum dan sesudah amandemen.

1.2 Rumusan Masalah

1. Kenapa sistem ketatanegaraan harus diganti?

2. Bagaimana sistem ketatanegaraan sebelum dan sesudah Amandemen UUD 1945?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui tujuan dari bergantinya sistem ketatanegaraan di Indonesia 2. Untuk mengetahui perbedaan dari sistem ketatanegaraan Indonesia sebelum dan

(4)

BAB II

ISI

2.1 Dinamika Ketatanegaraan Indonesia

Sejak proklamasi 17 Agustus 1945 hingga sekarang di Indonesia telah berlaku tiga macam Undang-Undang Dasar dalam beberapa periode, yaitu periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949 (masa kemerdekaan), periode 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 (masa UUDS 1950), periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 (masa Orde lama), periode 5 Juli 1959 – 1998 (masa Orde baru); sampai masa Reformasi yang berlangsung saat ini.

Reformasi yang terjadi pada 1998 memberikan perubahan yang cukup signifikan terhadap ketatanegaraan Republik Indonesia. Hal ini berlaku pula pada perubahan UUD 1945 sebagai salah satu amanat reformasi. Perubahan UUD 1945 pada rentang waktu 1999-2002 dilakukan sebanyak 4 tahap atau 4 kali. Dalam satu rangkaian perubahan, dibahas selama 2 tahun 11 bulan dengan cermat, dan disahkan dalam 4 tahap tadi melalui sidang tahunan MPR, yaitu tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002. Perubahan itu kemudian

memperlihatkan bahwa Indonesia mengadopsi prinsip-prinsip baru dalam sistem

ketatanegaraan, antara lain prinsip “pemisahan kekuasaan” dan “checks and balances” yang menggantikan prinsip supremasi parlemen yang dianut sebelumnya.

Menurut Jimly Asshiddiqie dalam bukunya sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara, beliau menyatakan, “jika sebelumnya UUD 1945 memang menganut faham pembagian kekuasaan, maka setelah perubahan keempat, prinsip pembagian kekuasaan yang bersifat vertical itu tidak lagi dianut oleh UUD 1945”. Sekarang, meskipun bukan dalam pengertian trias politica ala Montesquieu, UUD 1945 menganut paham pemisahan

kekuasaan berdasarkan prinsip check and balances antar lembaga-lembaga negara, buktinya adalah:

o Adanya pergeseran kekuasaan legislatif dari tangan Presiden ke DPR, (bandingkan sebelum dan sesudah perubahan)

o Dikenal sistem pengujian konstitusional oleh MK

o Diakuinya lembaga pelaku kedaulatan rakyat yang tidak terbatas pada MPR

o MPR bukan lagi sebagai pemegang kedaulatan tertinggi rakyat

o Hubungan antar lembaga negara seimbang dan saling mengendalikan

(5)

hanya mendasarkan diri pada prinsip “the rule of majority”. Dalam hal ini, fungsi judicial review atas undang-undang tidak dapat lagi dihindari penerapannya dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Mengubah sistem ketatanegaraan mamang menimbulkan pro dan kontra apalagi perubahan tersebut terjadi dalam waktu singkat, tentu saja masyarakat tidak bisa menerima begitu saja perubahan tersebut. Ada orang yang masih menginginkan sistem yang dulu, tetapi di lain pihak ada juga orang yang sudah muak dengan sistem yang dulu karena menurutnya sistem tersebut tidak menjamin keadilan bagi masyarakat. Tetapi terlepas dari pro dan kontra tersebut, sebenarnya tujuan pemerintah mengubah sistem ketatanegaraan atau biasa kita sebut dengan amandemen itu adalah semata-mata untuk membuat sistem ketatanegaraan atau memperbaiki sistem yang dulu dengan sistem yang lebih baik. Dan semua itu ditujukan untuk mewujudkan keadilan yang ada di dalam masyarakat.

2.2 Sebelum Amandemen UUD 1945

Sebelum diamandemenkan, UUD 1945 mengatur tentang kedudukan lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara, serta hubungan antar lembaga-lembaga tersebut. Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi, kemudian kedaulatan rakyat diberikan seluruhnya kepada MPR (lembaga tertinggi). MPR mendistribusikan kekuasaannya

(distribution of power) kepada 5 lembaga tinggi yang sejajar kedudukannya, yaitu Mahkamah Agung (MA), Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

 Pembukaan UUD dan UUD 1945 menjadi hukum tertinggi sebelum amandemen

 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

(6)

diberikan kekuasaan tak terbatas, karena kekuasaan ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR dan MPR adalah “penjelmaan” dari seluruh rakyat tersebut.

 Mahkamah Agung (MA)

Merupakan lembaga tinggi negara yang memegang kekuasaan kehakiman bersama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) dan bebas dari pengaruh cabang-cabang lainnya. MA membawahi lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, peradilan tata usaha negara.

 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Lembaga tertinggi yang memiliki kewenangan untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Merupakan lembaga yang bebas dan mandiri.

 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Tugas dan wewenang sebelum amandemen adalah :

1. Memberikan persetujuan atas RUU [pasal 20 ayat (1)] 2. Mengajukan RUU [pasal 21 ayat (1)] 3. Memberikan persetujuan atas PERPU [pasal 22 ayat (2)]

4. Memberikan persetujuan atas Anggaran pendapatan dan Belanja Negara [pasal 23 ayat (1)].

 Presiden

2.3 Sesudah Amandemen UUD 1945

Salah satu tuntutan Reformasi adalah dilakukannya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat, kekuasaan yang sangat besar pada Presiden, adanya pasal-pasal yangmenimbulkan multitafsir, serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi.

Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara

demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Meskipun banyak dari isi UUD 1945 dirubah tetapi dengan

(7)

 Undang-Undang Dasar tetap menjadi hukum tertinggi, dimana kedaulatan berada

ditangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya menurut UUD.

 UUD membagikan kekuasaan (separation of power) kepada 6 lembaga yang sama dan sejajar, antara lain sebagai berikut :

1. Presiden

2. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

Lembaga yang sebelum amandemen menjadi lembaga paling tinggi ini kini setelah amandemen mempunyai kedudukan yang sama dengan lembaga tinggi lainnya seperti Presiden, DPR, DPD, MA, MK, dan BPK.

3. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Posisi dan kewenangannya diperkuat. Mempunyai kekuasaan untuk

membentuk UU, sebelumnya hanya memberikan persetujuan saja dan yang membentuk UU adalah presiden.

4. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)

Lembaga negara baru. Keberadaannya dimaksudkan untuk memperkuat kesatuan Negara Republik Indonesia. Dipilih langsung oleh masyarakat di daerah melalui pemilu.

5. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD.

Berwenang mengawasi dan memeriksa APBN dan APBD serta menyampaikan hasil pemeriksaan kepada DPR dan DPD.

6. Mahkamah Agung (MA)

Mahkamah Agung tidak terlalu banyak beralih fungsi dari sebelum

amandemen dan setelah amandemen. Tetap berwenang dalam kekuasaan kehakiman.

7. Mahkamah Konstitusi (MK)

(8)
(9)

KESIMPULAN

Dari penjelasan atau materi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa :

1. Negara Indonesia sudah melakukan sekurangnya 4 kali atau 4 tahap perubahan UUD 1945 pada rentang waktu 1999 – 2002.

2. Indonesia juga memberlakukan tiga macam Undang-Undang Dasar selama masa kemerdekaan hingga masa reformasi saat ini.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

1. Ispratiwi, Intan. “Ketatanegaraan Indoesia Sebelum & Sesudah Amandemen UUD 1945”. 11 April 2017. http://intanispratiwi.blogspot.co.id/2012/06/ketatanegaraan-indonesia-sebelum.html?m=1

2. Ammar, Ganjar. “STRUKTUR KETATANEGARAAN INDONESIA BERDASARKAN KONSTITUSI”. 11 April 2017.

http://www.academia.edu/19857435/STRUKTUR_KETATANEGARAAN_INDONESIA_BE RDASARKAN_KONSTITUSI

3. Anisa, Nur. “Tujuan Amandemen UUD 1945”. 10 April 2017.

http://rippleword.wordpress.com/2010/03/18/tujuan-amandemen-uud-1945/ 4. Martitah. 2013. “MAHKAMAH KONSTITUSI Dari Negative Legislature ke Positive

Legislature”. Jakarta: Konstitusi Press.

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahun 1908, desa Taratara masih berstatus sebagai tempat kedudukan onderdistrik yang masuk distrik Tombariri, namun jarak distrik Tombariri dengan Onderdistrik

Kepercayaan dapat dibangun oleh perusahaan jasa dimulai dari pelayanan yang diberikan kepada pelanggan atau nasabah.Hal itu disebabkan pelanggan merupakan faktor yang

- Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretariat Kecamatan sesuai dengan bidang tugasnya.. Sub Bagian

Kerangka konseptual adalah sebuah konstitusi, sebuah sistem koheren dari tujuan dan asas yang saling berhubungan yang dapat mengarah kepada standar yang konsisten dan

Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa pada pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik pada operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan

- Tahun 2012 target indikator RPJMD tercapai dengan angka rasio mencapai 100%. - Tahun 2013 target indikator RPJMD tercapai dengan angka rasio mencapai 100%. - Tahun 2014

Volume (juta saham) Emiten listing Perusahaan Delisted Kapitalisasi Pasar (Rp.Triliun) Kapitalisasi Pasar (MilIar US$)** Volume Transaksi (MilIar Saham)..

Pembuatan REFI “Religius Wi fi” Sebagai sistem yang dapat meningkatkan sifat religius dalam diri mahasiswa UNNES dilaksanakan di kampus Universitas Negeri Semarang.. Untuk sementara