• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI PENGARUH KAWASAN korban PERDAGANGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IDENTIFIKASI PENGARUH KAWASAN korban PERDAGANGA"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konsep pengembangan wilayah dikembangkan dari kebutuhan suatu daerah untuk meningkatkan fungsi dan perannya dalam menata kehidupan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Pengaruh globalisasi, pasar bebas dan regionalisasi menyebabkan terjadinya perubahan dan dinamika spasial, sosial, dan ekonomi antar negara, antar daerah (kota/kabupaten), kecamatan hingga perdesaan.

Pengembangan wilayah juga harus memperhatikan pembangunan ekonomi daerah untuk dapat memacu pengembangan wilayah tersebut. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses di mana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut (Arsyad, 1999 : 108). Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah ( ) yang terjadi (Tarigan, 2005 : 46).

Pertumbuhan ekonomi yang baik juga tidak terlepas dari perkembangan pendapatan wilayah yang merupakan penunjang dalam pertumbuhan ekonomi siatu wilayah. Pendapatan wilayah menggambarkan balas jasa bagi faktor faktor produksi yang beroperasi di daerah tersebut (tanah, modal, tenaga kerja, dan teknologi), yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di wilayah tersebut juga oleh seberapa besar terjadi , yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah (Widodo, 2006).

(2)

2

Menurut Myrdal (1957), perbedaan tingkat kemajuan ekonomi antar daerah yang berlebihan akan menyebabkan pengaruh yang merugikan

mendominasi pengaruh yang menguntungkan terhadap pertumbuhan

daerah, dalam hal ini mengakibatkan proses ketidakseimbangan. Pelaku pelaku yang mempunyai kekuatan di pasar secara normal akan cenderung meningkat bukannya menurun, sehingga mengakibatkan ketimpangan antar daerah (Arsyad, 1999)

Untuk memacu pertumbuhan ekonomi suatu daerah beberapa negara di Asean sudah menerapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau juga salah satunya adalah

kawasan Perdagangan Bebas Perdagangan bebas

merupakan suatu bentuk perjanjian internasional yang dianggap dapat memberikan landasan dan harapan baru bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang diarahkan dalam rangka percepatan pengentasan dan penghapusan kemiskinan, terutama bagi negara berkembang dan miskin, termasuk salah satu adalah bangsa Indonesia (Hidayat, 2010).

Pengembangan Kabupaten Karimun sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas didasarkan pada PP No.48 tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun. Karimun relatif jauh tertinggal dibandingkan dengan Batam dan Bintan dalam kesiapan menarik investasi, terutama investasi asing. Relatif masih kurangnya infrastruktur di wilayah ini pada satu sisi menyebabkan Karimun masih belum terlalu memberikan daya tarik bagi investor besar yang ingin menanamkan investasinya di wilayah tersebut. Namun pada sisi lain, Karimun belum menghadapi persoalan peningkatan harga sewa/jual lahan dan biaya hidup yang cukup nyata seperti yang dihadapi oleh Batam. Dengan belum banyaknya investasi yang masuk ke wilayah ini serta harga lahan yang relatif lebih kompetitif serta posisi geografisnya yang spesifik, maka Karimun sangat memungkinkan untuk dapat dipacu pengembangannya. Untuk itu pentingnya penelitian ini dilakukan untuk dapat diketahui pengaruh dari KPBPB ini terhadap kemampuan pembiayaan daerah dan pengaruhnya terhadap kawasan non KPBPB yang berada disekitarnya.

1.2 Rumusan Masalah

(3)

3

diambil juga diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karimun sehingga kemampuan untuk membiayai daerah juga semakin meningkat. Namun yang terjadi sebaliknya ratusan milyar dana pajak di Provinsi Kepulauan Riau, hilang sejak diberlakukannya status kawasan perdagangan bebas atau lebih dikenal dengan di kawasan Batam, Bintan dan Karimun. Sekitar dua ratus lima puluh milyar dana yang bersumber dari pajak pertambahan nilai atau PPN di Provinsi Kepulauan Riau, hilang sejak tiga daerah yaitu Kota Batam, Kabupaten Bintan serta Kabupaten Karimun ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas atau (KPBPB) (kepriprov.go.id, 2011).

Hingga saat ini pembiayaan pembangunan Kabupaten Karimun sebagian besar didapat dari sektor pajak dan retribusi, oleh karna itu pertanyaan permasalahan yang akan di bahas ialah

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh ditetapkannya sebagian wilayah dari Kabupaten Karimun sebagai KPBPB terhadap pembiayaan daerah dan perekonomian kawasan non KPBPB di Kabupaten Karimun. Berdasarkan dari tujuan penelitian di atas, maka hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat baik itu secara akademis maupun praktis sebagai berikut :

1.3.1 Manfaat Akademis

Manfaat dan informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan atau wawasan dalam bidang ilmu pembiayaan pembangunan daerah dan dapat dimanfaatkan oleh peneliti lain yang akan melakukan penelitian sejenis.

1.3.2 Manfaat Praktis

(4)

4 1.4 Ruang Lingkup

Berdasarkan tujuan dan sasaran studi di atas, maka ruang lingkup studi ini terbagi dari lingkup wilayah dan lingkup kajian yang membahas aspek aspek yang akan dikaji.

1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah studi yang dikaji adalah Kabupaten Karimun Secara geografis Kabupaten Karimun berada pada posisi 00o 24’ 36” LU 01o 13’ 12” LU dan 103o 13’ 12” BT 104o 00’ 36” BT mencakup wilayah seluas 7.984 Km2, terdiri dari wilayah daratan seluas 1.524 Km2 dan wilayah lautan seluas 6.460 Km2, dengan batas wilayah :

• Utara : Selat Singapura, Semenanjung Malaysia dan Selat Malaka

• Barat : Provinsi Riau

• Timur : Batam

• Selatan : Provinsi Riau

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 1.1

1.4.2 Ruang Lingkup Substansi

Berdasarkan tujuan yang telah disebutkan, maka ruang lingkup substansi adalah sebagai berikut :

• Identifikasi pengaruh KPBPB terhadap kemampuan pembiayaan daerah

Kabupaten Karimun dilakukan analisis :

Perkembangan PAD Kabupaten Karimun sebelum KPBPB 2006 2008 dan sesudah KPBPB 2009 2010.

Kontribusi dan pertumbuhan penerimaan daerah 2006 2010. Proporsi dan kemandirian fiskal Kabupaten Karimun 2006 2010. Korelasi antara investasi dan PAD Kabupaten Karimun 2006 2010

• Identifikasi pengaruh KPBPB terhadap perekonomian kawasan non KPBPB :

Analisis rantai nilai turunan usaha dan kebutuhan usaha dari kegiatan yang berlangsung di KPBPB dan non KPBPB.

(5)
(6)

6

Identifikasi dan :

Pertumbuhan Investasi di kawasan KPBPB dan non KPBPB Pertumbuhan jumlah industri, tenaga kerja industri dan jumlah bidang usaha perdagangan di kawasan KPBPB dan non KPBPB.

Ketimpangan jumlah penduduk Kabupaten Karimun per Kecamatan.

Ketimpangan jumlah penduduk produktif Kabupaten Karimun per Kecamatan.

1.5 Definisi Operasional

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB)

KPBPB adalah kawasan tertentu dimana diberlakukan ketentuan khusus di bidang kepabeanan, perpejakan, perizinan, keimigrasian, dan ketenagakerjaan (PP No.48 tahun 2007)

Pajak

Pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku, yang dapat digunakan untuk pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah (Adisasmita, 2011)

Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber penerimaan yang murni dari daerah, yang merupakan modal utama bagi daerah sebagai biaya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah (Undang Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah).

Retribusi

(7)

7

!! "

adalah kekuatan yang menuju konvergensi antar daerah daerah kaya dan daerah daerah miskin. Dengan timbulnya daerah kaya, maka akan tumbuh pula permintaannya terhadap produk daerah daerah miskin. Dengan demikian mendorong pertumbuhannya (Myrdal, 1957)

" !! "

adalah dampak pengurasan yang terjadi akibat berkembangnya pusat pertumbuhan sehingga sumberdaya yang terdapat di daerah sekitarnya akan terkuras oleh pusat pertumbuhan (Myrdal, 1957)

1.6 Metode Penelitian

Metodologi studi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari jenis penelitian, kerangka pemikiran, metode pengumpulan data, dan metode analisis. Untuk lebih jelasnya berikut uraian metode tersebut:

1.6.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian dalam studi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif menurut Siregar (2010) adalah metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Penelitian deskriptif pada studi ini mencoba menjelaskan mengenai pengaruh Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) terhadap kemampuan Pembiayaan Daerah Kabupaten Karimun.

1.6.2 Kerangka Pemikiran

Proses penyusunan laporan penelitian, setiap tahapan yang akan dilakukan harus disusun dalam suatu kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran tersebut merupakan gambaran secara umum mengenai penelitian yang dilakukan. Oleh karena itu, penyusunan laporan penelitian ini didasarkan kepada alur pikir yang secara sistematik digambarkan pada Gambar 1.2 Adapun penelitian ini didasari oleh PP No. 48 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas Karimun. Berdasarkan PP tersebut maka dilakukan identifikasi pengaruh terhadap kemampuan pembiayaan daerah. Kawasan KPBPB dapat memberikan dua pengaruh

untuk Kabupaten Karimun yaitu dan Dari kedua efek

(8)

8

pertumbuhan investasi, laju pertumbuhan PAD dan laju pertumbuhan produksi

komoditas. Sedangkan untuk dilakukan analisis ketimpangan

jumlah penduduk yang kemudian akan dibandingkan antara penduduk di kawasan KPBPB dan kawasan sekitar KPBPB. Dari hasil analisis tersebut kemudian dihasilkan kesimpulan dan rekomendasi untuk penelitian ini.

(9)

9 1.6.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah suvey sekunder pada instansi pemerintahan yang terkait dengan penelitian dan memperoleh data data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh kebijakan KPBPB terhadap pembiayaan daerah Kabupaten Karimun, khususnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karimun, sehingga pada akhirnya dapat diketahui kebijakan yang telah ditetapkan apakah dapat membawa pengaruh atau tidak untuk pembiayaan daerah Kabupaten Karimun. Pendekatan yang dilakukan untuk mengenali dan menganalisis permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1. Teknik Pengumpulan Data Primer

Survei primer pada penelitian ini dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara. Observasi langsung adalah cara pengambilan data menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut ( Nazir, 1988 ). Sementara itu maksud wawancara adalah untuk mengkonstruksi mengenai orang lain, kegiatan, organisasi, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain lain yang berkaitan dengan pandangan orang (Siregar, 2010). Dalam studi ini wawancara yang dilakukan adalah jenis wawancara langsung. Wawancara dilakukan dengan beberapa instansi : Bagian Keuangan Daerah Kabupaten Karimun, BAPPEDA Kabupaten Karimun, Badan Pengelolaan Kawasan Kabupaten Karimun mengenai pengaruh yang dirasakan dari kegiatan KPBPB.

2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder

Survey sekunder dilakukan dengan melakukan studi dokumentasi yang digunakan untuk menggali data sekunder yang diperlukan guna menunjang studi ini. Data data dan informasi dikumpulkan melalui data data tertulis seperti buku buku, literatur, dan data Kabupaten Karimun Dalam Angka yang berasal dari instansi milik pemerintah. Bentuk bentuk data tersebut dapat berupa gambar, peta dan peraturan perundang undangan tentang pendapatan asli daerah Kabupaten Karimun dan tentang kegiatan yang berjalan di KPBPB dan non KPBPB. Adapun data data dan informasi yang dikumpulkan tersebut dapat diperolah dari instansi berikut:

− BAPPEDA Kabupaten Karimun

− Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Karimun

(10)

10

− Badan Keuangan Daerah Kabupaten Karimun

− Badan Pengawas Kawasan Kabupaten Karimun

1.6.4 Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif dengan analisis data kuantitatif. Adapun yang dimaksud dengan analisis data kuantitatif yang menghitung data berupa angka ataupun numerik. Pada studi ini adalah menghitung pertumbuhan investasi antara kawasan KPBPB dan non KPBPB, menghitung pertumbuhan PAD, menghitung proporsi APBD dan kemandirian fiskal Kabupaten Karimun, menghitung nilai korelasi antara investasi dan PAD, menghitung pertumbuhan produksi antara kawasan KPBPB dan non KPBPB, mengidentifikasi pajak dan retribusi yangtidak berlaku di kawasan KPBPB, menghitung ketimpangan jumlah penduduk Kabupaten dan penduduk produktif dengan analisis

dan mengidentifikasi rantai nilai dari kegiatan di KPBPB dan non KPBPB.

Adapun tahapan yang akan dilakukan dalam pengerjaan studi ini ialah :

1. Sasaran 1, Mengidentifikasi pengaruh KPBPB terhadap kemampuan pembiayaan daerah Kabupaten Karimun :

• Analisis perkembangan PAD Kabupaten Karimun sebelum dan sesudah KPBPB. dengan cara sebagai berikut :

Menghitung laju pertumbuhan PAD,

Pn =((Qn − (Qn − 1Qn − 1 x 100%

Keterangan :

Pn : Pertumbuhan PAD pada tahun n Qn : Jumlah PAD pada tahun n Qn 1 : Jumlah PAD pada tahun n 1

(11)

11 • Analisis kontribusi dan pertumbuhan penerimaan daerah. dengan cara sebagai berikut : menghitung besaran kontribusi dan laju pertumbuhan penerimaan daerah Kabupaten Karimun menggunakan rumus,

Pn =QXnQYn x 100%

Keterangan :

Pn : Kontribusi penerimaan terhadap pendapatan asli daerah QY : Jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah

QX : Jumlah penerimaan obyek pendapatan daerah (pajak dan retribusi) n : Tahun (Periode tertentu)

Periode tahun adalah 2007 2010 untuk melihat obyek penerimaan daerah mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap penerimaan daerah dan juga melihat pertumbuhan obyek penerimaan daerah. Analisis dilakukan juga untuk melihat apakah terjadi pengaruh dari pajak dan retribusi yang tidak berlaku di KPBPB terhadap kontribusi dan pertumbuhan penerimaan daerah.

• Analisis proporsi APBD kemandirian fiskal daerah Kabupaten

Karimun.dengan cara sebagai berikut :

Menghitung PAD terhadap total belanja daerah Kabupaten

Karimun 2006 2010 dengan rumus.

Share = PADi 100% TBDi

Keterangan :

PADi : Pendapatan Asli Daerah tahun i TBDi : Total Belanja Daerah tahun i

(12)

12 • Analisis Korelasi antara Investasi dengan Pendapatan Asli daerah dengan

cara sebagai berikut :

r =

∑xy

∑x² . ∑y²

Keterangan :

r : Koefisien Korelasi X : Investasi

Y : PAD

Tabel 1.1

Tabel Representasi Nilai r

r Interpretasi

0 Tidak Berkolrlasi 0,01 0,20 Sangat Rendah 0,21 0,40 Rendah 0,41 0,60 Agak Rendah 0,61 0,80 Cukup 0,81 0,99 Tinggi

1 Sangat Tinggi Sumber : Usman dan Purnomo (2008 : 201)

Menghitung nilai korelasi antara investasi dan PAD 2006 2010, apakah terjadi hubungan yang kuat antara investasi dan PAD ataukah tidak, bila nilai korelasi antara investasi dan PAD = 1 maka terdapat hubungan yang kuat antara investasi dan PAD, bila nilai korelasi antara investasi dan PAD = 0 maka hubungannya tidak kuat dan bila nilai korelasi antara investasi dan PAD = 1 maka hubungan antara investasi dan PAD lemah. bila terjadi hubungan yang kuat maka harus diberi pemacu agar investasi terus meningkat.

2. Sasaran 2, Identifikasi pengaruh KPBPB terhadap perekonomian kawasan non KPBPB :

• Analisis rantai nilai yang terjadi dari kegiatan KPBPB di Kabupaten Karimun dengan cara :

(13)

13

usaha yang dapat terjadi langsung maupun tidak langsung dan tidak melihat besaran nilai dari kegiatan tersebut. Selain itu juga mengidentifikasi potensi yang ada di Kabupaten Karimun agar dapat menunjang kegiatan yang terdapat di KPBPB.

• Analisis pertumbuhan produkdi komoditas kawasan non KPBPB dan KPBPB :

Menghitung laju pertumbuhan produksi, komoditas antara kawasan KPBPB dan non KPBPB. Apabila laju pertumbuhan produksi di wilayah non KPBPB lebih tinggi dari pada wilayah KPBPB maka dapat diindikasikan kawasan non KPBPB dapat memenuhi kebutuhan komoditas kawasan KPBPB. Kebutuhan komoditas yang diperlukan dari kegiatan turunan sebagai mana hasil analisis rantai nilai.

• Mengidentifikasi dan yang terjadi di

Kabupaten Karimun dengan cara sebagai berikut :

Menghitung laju pertumbuhan investasi dilakukan dengan menghitung laju pertumbuhan investasi secara series2005 2010 antara kawasan KPBPB dan non KPBPB, sehingga dapat dilihat apakah tiap tahunnya terjadi peningkatan investasi atau tidak. bila laju pertumbuhan investasi di ono KPBPB terus meningkat tiap tahunnya maka dapat diindikasikan terjadinya

ke daerah non KPBPB .

Menghitung laju pertumbuhan jumlah industri, tenaga kerja industri dan jumlah bidang usaha perdagangan, analisis ini dilakukan dengan menghitung laju pertumbuhannya jumlah tersebut dan membandingkat antara laju pertumbuhan antara kawasan KPBPB dan non KPBPB. Apabila laju pertumbuhan di wilayah non KPBPB lebih tinggi maka dapat diindikasikan

terjadinya akibat dari kegiatan yang terjadi pada

KPBPB.

(14)

14

analisis ! ! , bila nilai ranksize > 0,5 maka terjadi ketimpangan jumlah penduduk. Apabila setelah berjalannya KPBPB terjadi ketimpangan maka diindikasikan terjadi dan bila sebelum berjalannya KPBPB telah terjadi ketimpangan maka dapat diindikasikan tidak terjadi

Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.3 mengenai kerangka analisis yang dilakukan dalam penelitian ini.

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran garis besar mengenai pembahasan yang akan diuraikan secara keseluruhan di dalam penulisan laporan ini. Berikut adalah sistematika pembahasan laporan ini.

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisikan mengenai latar belakang dilakukan studi, rumusan masalah, tujuan, sasaran dan penelitian, ruang lingkup wilayah studi, lingkup subtansi, metode penelitian, metode pengumpulan data, jenis penelitian, metode analisis, tahap analisis, kerangka pemikiran dan sistematika pembahasan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisikan mengenai berbagai macam teori yang berkenaan dengan kajian penulisan penelitian ini, yaitu mengenai pengertian konsep pengembangan wilayah, pengertian dan konsep dari Kawasan Ekonomi Khusus dan teori teori lain yang berhubungan dengan pembiayaan daerah.

BAB III GAMBARAN UMUM

Bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum fisik, ekonomi, sosial dan budaya Kabupaten Karimun serta gambaran umum kawasan Free Trade Zone di Kabupaten Karimun.

BAB IV ANALISIS

Bab ini menjelaskan mengenai analisis pengeruh kawasan Free Trade Zone (KPBPB) terhadap kemampuan pembiayaan daerah Kabupaten Karimun.

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

(15)

15 Gambar 1.2

(16)

16 BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Teori Kutub Pertumbuhan (# $ )

Teori ini dicetuskan oleh ahli ekonomi kelahiran Perancis bernama Francois Perroux (1903 1987), yang dikenal juga sebagai penganut aliran ekonomi keseimbangan umum. Kutub pertumbuhan di definisikan sebagai suatu gugus industri yang mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi yang dinamis dalam suatu sistem ekonomi tertentu, mempunyai kaitan yang kuat melalui hubungan input

– output di sekitar ( atau ")

(Adisasmita, 2008).

Teori Kutub Pertumbuhan merupakan teori yang menjadi dasar dalam strategi dan kebijaksanaan pembangunan industri daerah yang banyak dijalankan di berbagai negara. Pada awalnya, konsep ini dianggap penting karena memberikan kerangka rekonsialiasi antara pembangunan ekonomi regional di wilayah pusat (kota) dan nya Tetapi dalam praktek tidak seperti yang diharapkan karena wilayah

pusat dampak tetesan ( ) kepada wilayah hinterlandnya ternyata

jauh lebih kecil dari pada dampak polarisasi ( ) sehingga pengurasan

sumberdaya oleh pusat menjad sangat menonjol (Adisasmita, 2008).

2.2 Teori Cummulative Causation

Pada tahun 1957, ahli ekonomi asal Swedia bernama Karl Gunnar Myrdal

(1898 1987) melalui karyanya yang berjudul “Economic Theory and

Underdeveloped Regions” London mempublikasikan Teori # # .

Di bawah paradigma keseimbangan ekonomi statis‟, teori tersebut memberikan gambaran yang sederhana mengenai penjalaran dampak industrialisasi terhadap proses sosial ekonomi yang berjalan menurut pola sirkulatif kumulatif. Myrdal (1957) menyatakan bahwa bahwa, apapun alasannya, ekspansi industri yang berawal

dari pusat pertumbuhan ( ) akan menyebabkan meluasnya keuntungan

internal dan eksternal industri bersangkutan sehingga memperkuat pertumbuhannya, namun dengan mengorbankan daerah lain. Menurut pandangannya, ekonomi ini tidak hanya mencakup keahlian tenaga kerja dan modal publik, tetapi juga perasaan positif untuk tumbuh dan semangat dari pengusaha/wiraswasta baru. Dalam analisisnya,

(17)

17

dapat diindentikkan dengan konsep dan milik

Albert O. Hirschman (Adisasmita, 2008)

2.2.1 Konsep Spread Effect (Efef Sebar)

Konsep spread effect menyatakan bahwa pada waktu tertentu kualitas industri pendorong dinamik dari kutub pertumbuhan akan memancar keluar dan memasuki ruang sekitarnya. Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan wilayah satu dengan wilayah lainnya. Untuk itu diperlukan suatu kondisi yang dapat menyeimbangkan keadaan ekonomi wilayah melalui penciptaan atau sektor. Hirschman dalam Lincolin Arsyad (2003) selanjutnya

mengungkapkan segi keterkaitan ( ) diantara berbagai ragam kegiatan

ekonomi. Hal ini menyangkut keterkaitan antar sektor (misalnya antar sektor pertanian dan sektor industri) mauun kerterkaitan yang berlaku didalam lingkungan satu sektor tertentu (intrasektor). Setiap proyek investasi disuatu industri tertentu selalu trkait dengan kegiatan ditahap menyusul dan atau ditahap yang mendahuluinya. Dalam hal keterkaitan itu dengan kegiatan industri di tahap

menyusul (indusri hilir), maka keterkaitan tersebut bersifat $ %,

sebaliknya didalam hal keterkaitan menyangkut kegiatan industri ditahap yang

mendahului (industri hilir) maka hal tersebut disebut $ %.

Selanjutnya kemajuan wilayah akan tercapai jika terdapat konsentrasi pembangunan

pada sektor sektor kunci yang ditentukan dan . Efek

penetesan yang diharapkan terjadi karena adanya pertukaran investasi di .

2.2.2 Konsep Backwash Effect (Efeect Pengurasan)

(18)

18 2.3 Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas

A. Teori Kawasan Ekonomi Khusus

Alfred Weber pada tahun 1909 telah menjelaskan &

' yang intinya menjelaskan bagaimana pemilihan suatu lokasi yang paling optimal serta biaya yang minimal untuk pengembangan industri. Selanjutnya, diuraikan bahwa untuk menentukan lokasi industri perlu evaluasi berdasarkan : (i) biaya transportasi dari lokasi bahan mentah; (ii) ketersediaan upah dengan murah; serta (iii) aglomerasi yang menjamin kedekatannya dengan pasar serta dukungan dari perusahaan lokal (Hidayat, 2010).

Teori yang dikemukan oleh Weber dianggap masih releven sampai saat ini, khususnya bagi operasi perusahaan multi nasional di pasar global. Memakai pendekatan Weber, jarak ke pasar menjadi kurang penting apabila diimbangi dengan ketersediaan buruh murah atau tersedianya bahan mentah dalam jumlah besar. Apabila nantinya bahan mentah tersebut sudah habis, atau terjadi kenaikan upah buruh, maka industri multi nasional akan segera memindahkan lokasinya ke negara lain (Hidayat, 2010).

Pemikiran tentang konsepsi kawasan ekonomi khusus secara umum berangkat dari pengalaman empirik beberapa negara yang telah mengenal dan menerapkan kawasan ekonomi khusus. Istilah Kawasan Ekonomi (Economic Zone) atau Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zone) umum digunakan untuk menunjuk suatu kawasan tertentu dalam suatu negara yang dibuat untuk tujuan ekonomi atau mendukung kegiatan perekonomian negara yang bersangkutan. Ide dasar pengembangan kawasan khusus terkait dengan pemberian perlakuan yang berbeda dibanding dengan perlakukan yang dapat dinikmati kawasan lainnya seperti pemberian insentif di bidang perpajakan, kepabeanan dan berbagai bentuk insentif lainnya (Hidayat, 2010).

Pengertian zona ekonomi sampai saat ini belum memiliki defenisi baku. Defenisi kawasan ekonomi yang umum dikenal adalah (

" ) "

*(Hidayat, 2010).

(19)

19

sendiri didefenisikan sebagai (

* +

* (Hidayat, 2010).

B. Karakteristik Kawasan Ekonomi Khusus

Dari analisis pelaksanaan kawasan eknomi khusus di beberapa negara, secara umum karakteristik kawasan ekonomi khusus dapat dikelompokkan ke dalam dua model generik pelaksanaan KEK yang telah diterapkan :

KEK sebagai sebuah terminologi generik untuk kawasan yang ditetapkan untuk menyediakan lingkungan yang secara internasional kompetitif serta bebas dari berbagai hambatan berusaha dalam rangka memacu peningkatan ekspor nasional. Konsep ini dapat ditemukan di negara India dan Filipina. Di India dikenal tiga jenis

umum SEZ meliputi : (a) SEZ , yaitu SEZ yang terdiri dari sejumlah

perusahaan yang tergolong dalam lebih dari satu sektor, yang di dalamnya juga

terdapat kegiatan perdagangan dan pergudangan; (b) SEZ , yaitu

SEZ bagi satu sektor tertentu saja (bisa lebih dari satu perusahaan) atau SEZ untuk berbagai pelayanan satu sektor , seperti dalam pelabuhan atau bandar udara; dan (c)

SEZ , yaitu SEZ yang secara khusus menyediakan

pelayanan fasilitas kegiatan perdagangan bebas dan pergudangan, fasilitasnya bisa untuk kegiatan yang multi sektor maupun untuk satu sektor tertentu saja. Di Filipina,

kawasan kawasan semacam ini dapat berbentuk ' (IES), "

- . (EPZs), . , dan /! # .

(Hidayat, 2010).

KEK sebagai sebuah model untuk menyebutkan kawasan dengan kebijakan

ekonomi terbuka yang di dalamnya mencakup . (FTZ), "

- . (EPZ), pelabuhan (- ), 0 ' dan lain

sebagainya atau dikenal dengan sebutan . Konsepsi ini memberikan

otoritas kepada badan pelaksana untuk mengoperasikan KEK secara penuh atas mandat dari pemerintah pusat.

(20)

20 Tabel 2.1

Bentuk Zona Ekonomi

Varian Tujuan Besaran

Kawasan Lokasi

Campuran Multi sektor Multi

market

<50 Ha Pelabuhan

dan Bandar

Ekspor Pembelian

domestik dan

<100 Ha Campuran Industri Domesti

k dan

(21)

21 • Insentif Fiskal ;

1. Pembebasan/pengurangan terhadap bea masuk/impor, bea ekspor, cukai, pajak penjualan, pajak penghasilan, social services tax, pajak bumi dan bangunan, dan biaya tambat;

2. Pemberian kredit pajak untuk pembelian barang substitusi impor dan pembelian peralatan lokal;

3. Tidak ada pembatasan peralatan bawaaan; 4. Kebebasan repatriasi penghasilan ke negara asal;

5. Penanaman modal secara bebas/sendiri atau bekerjasama;

6. Tidak ada pembatasan atau pengurangan dalam presentasi pembagian modal atau saham; dan

7. Bebas pengembalian laba bersih dan modal.

Insentif Non Fiskal

1. Diizinkan melakukan sepanjang memenuhi ketentuan

perpajakan dan kepabeanan;

2. Pemberian status ;

3. Diperbolehkan memperkerjakan orang asing;

4. Hak sewa tanah selama 50 tahun dan dapat diperpanjang selama 25 tahun dan pengurangan biaya sewa lahan;

5. Pemerintah daerah memberikan kewenangan otonominya kepada otoritas kawasan;

6. Pemangkasan birokrasi ( 5 ) ) dan

);

7. Penyediaan infrastruktur, antara lain listrik, air bersih, sanitasi dan telekomunikasi;

8. Pembebasan visa; dan

9. Pengaturan tenaga kerja yang dijalankan secara khusus dan dirumuskan dengan persetujuan rekomendasi ILO.

2.4 Pembiayaan Daerah

(22)

22

peremajaan, karena aspek tersebut berupa konsep pendanaan yang akan membiayai proyek peremajaan tersebut. Proyek merupakan suatu rangkaian aktivitas

yang dapat direncanakan dan di dalamnya menggunakan sumber sumber (input), misalnya : uang, dan tenaga kerja, untuk mendapatkan manfaat ( ) atau hasil ( ) dimasa yang akan datang. Aktivitas proyek ini mempunyai saat mulai

( ) dan saat berakhir ( ) (Adisasmita, 2011).

2.4.1 Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambahan nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Setelah desentralisasi digulirkan oleh pemerintah pusat, maka pemerintah daerah (pemda) diberikan kewenangan untuk mengembangkan dan meningkatkan jumlah penerimaan PAD di masing masing daerah. Kewenangan daerah untuk memungut pajak dan retribusi diatur dengan Undang Undang Nomor 34 tahun 2000 yang merupakan penyempurnaan dari Undang Undang Nomor 18 tahun 1997 dan ditindaklanjuti dengan peraturan pelaksanaannya berupa Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 2001 tentang Retribusi Daerah. Berdasarkan Undang Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut, daerah diberikan kewenangan untuk memungut 11 jenis pajak dan 28 jenis retribusi.

Penetapan jenis pajak dan retribusi tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa jenis pajak dan retribusi tersebut secara umum dipungut di hampir semua daerah dan merupakan jenis pungutan yang secara teoritis dan praktek merupakan jenis pungutan yang baik. Selain jenis pajak dan retribusi tersebut, daerah juga diberikan kewenangan untuk memungut jenis pajak (kecuali untuk provinsi) dan retribusi lainnya sesuai kriteria kriteria tertentu yang ditetapkan dalam undang undang, tetapi pertanyaannya adalah apakah pemerintah daerah mampu melaksanakan seluruh kewenangannya? Apakah dengan meningkatnya PAD sudah merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan pelaksanaan desentralisasi atau otonomi daerah.

(23)

23

berkembang atau semakin buruk, maka belum dapat dikatakan bahwa peningkatan PAD merupakan keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah. Sebab peran pemda dalam perekonomian daerah cenderung akan semakin menurun, karena perubahan fungsi pemerintahan kearah fasilitator. Artinya, inisiatif memang harus datang dari masyarakat lokal sesuai dengan aturan dan ketentuan hukum yang berlaku serta kebijakan pemerintah daerah, wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan undang undang yang berlaku ( Suparmoko ,2001: 56). Pada dasarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber pendapatan daerah yang digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Peran PAD menjadi sangat signifikan karena otonomi daerah akan lebih banyak bergantung pada kemampuan daerah dalam memenuhi keuangan daerah secara mandiri. Menurut Undang Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah, tepatnya pada pasal 4 disebutkan bahwa sumber Pendapatan Asli daerah terdiri atas:

a. Hasil Pajak Daerah b. Hasil Retribusi daerah

c. Hasil Perusahaan Milik daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah lainnya yang dipisahkan

d. Lain lain Pendapatan Asli daerah yang sah

Pendapatan Asli Daerah yang antara lain terdiri dari pajak daerah dan retribusi daerah diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat. Jadi, daerah mampu melaksanakan otonomi dengan kemampuan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, pemerintah daerah diharapkan memiliki kemandirian yang lebih besar (Mardiasmo, 2002:148). Menurut Mardiasmo (2002:148) saat ini masih banyak masalah yang dihadapi pemerintah daerah terkait dengan upaya peningkatan penerimaan daerah, antara lain:

• Tingginya tingkat kebutuhan daerah ( ) yang tidak seimbang

dengan kapasitas fiskal ( ) yang dimiliki daerah sehingga

menimbulkan

(24)

24

negatif. Keadaan tersebut juga menyebabkan keengganan masyarakat untuk taat membayar pajak dan retribusi daerah

• Lemahnya infrastruktur prasarana dan sarana umum

• Berkurangnya dana bantuan dari pusat (DAU dari pusat yang tidak mencukupi bagi beberapa daerah)

• Belum diketahui potensi PAD yang mendekati kondisi riil

Pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan PAD untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan dari pusat, sehingga meningkatkan otonomi

dan keleluasaan daerah ( ). Langkah penting yang harus dilakukan

oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan penerimaan daerah adalah dengan menghitung potensi Pendapatan Asli daerah yang riil dimiliki daerah secara sistematis dan rasional.

Komponen pendapatan asli daerah (PAD) terdiri dari :

1. Pajak Daerah

Pajak Daerah diatur dalam Undang undang Republik Indonesia No. 18 tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 34 tahun 2000. Dalam Pasal 1angka 6 UU No.34 tahun 2000 disebutkan pengertian pajak daerah. “Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan pembangunan Daerah “

Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah (dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah / Dispenda) yang digunakan untuk membiayai rumah tangga pemerintah daerah dan tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Besaran dan bentuk pajak daerah ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda).

Adapun pembagian pajak daerah sesuai Pasal 2 UU No. 34 tahun 2000 adalah (1) Jenis pajak Propinsi terdiri dari :

a. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air; c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

(25)

25

(2) Jenis pajak Kabupaten/Kota terdiri dari : a. Pajak Hotel;

b. Pajak Restoran; c. Pajak Hiburan; d. Pajak Reklame;

e. Pajak Penerangan Jalan;

f. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C; g. Pajak Parkir.

2. Retribusi Daerah

Retribusi adalah suatu pembayaran dari rakyat kepada pemerintah yang dapat memperhatikan adanya hubungan yang jelas antara balas jasa yang langsung diterima dengan adanya pembayaran retribusi. Misalnya retribusi sampah, retribusi air minum, retribusi listrik. (Adisasmita, 2011). Pengertian retribusi seperti dikemukakan oleh Sumitro (1989) dalam Kaho (1997) adalah pembayaran kepada negara yang dilakukan oleh mereka yang menggunakan jasa negara. Penerapan retribusi keadaannya tidak selalu sama besar dengan biaya yang dikeluarkan. Ada kalanya lebih besar dari biaya yang dikeluarkan dan sebaliknya. Kekurangan biaya akan diperoleh melalui subsidi ataupun dari sumber penerimaan pajak. Berdasarkan pengertian tersebut, ada perbedaan yang jelas antara pajak dan retribusi. Secara umum, yang membedakan adalah sifat dari manfaat kegiatan pelayanan yang diberikan. Pelayanan yang memberikan manfaat secara umum adalah kegiatan yang lebih sesuai dibiayai oleh pajak, sedangkan pelayanan yang memberi manfaat secara pribadi adalah kegiatan yang sesuai dibiayai oleh retribusi.

Sedangkan dalam Undang Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, bahwa yang dimaksud dengan retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah daerah untuk kepentingan pribadi atau badan. Menurut undang undang dan pertauran pemerintah tersebut retribusi daerah dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, antara lain:

(26)

26

umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Jenis jenis Retribusi Jasa Umum adalah :

a. Retribusi Pelayanan Kesehatan

b. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan

c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akte Catatan Sipil

d. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat e. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi jalan Umum

f. Retribusi Pelayanan Pasar

g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor h. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemdam Kebakaran i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta

j. Retribusi Pengujian kapal Perikanan

Retribusi Jasa Usaha, adalah retribusi atas jasa pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial, sehingga pada dasarnya dapat disediakan oleh sektor swasta. Jenis jenis Retribusi Jasa Usaha yaitu:

a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan c. Retribusi Tempat Pelelangan

d. Retribusi Terminal

e. Retribusi Tempat Khusus Parkir

f. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa g. Retribusi Penyedotan Kakus

h. Retribusi Rumah Potong Hewan i. Retribusi Pelayana Pelabuhan Kapal j. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga k. Retribusi Penyebrangan di Atas Air l. Retribusi Pengolahan Limbah Cair

m. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah

(27)

27

pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.

a. Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan

b. Retribusi Ijin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol c. Retribusi Ijin Gangguan

d. Retribusi Ijin Trayek

Pasal 1 ayat 26 Undang Undang Nomor 34 Tahun 2000 menyatakan bahwa

Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan.

Pajak biasanya harus dibayar oleh anggota masyarakat sebagai suatu kewajiban hukum tanpa pertimbangan apakah secara pribadi mereka mendapat manfaat langsung dari pembayaran pajak tersebut. Namun tidak demikian halnya

dengan retribusi. Pemungutan retribusi # dibayar langsung oleh mereka

yang menikmati suatu pelayanan, dan biasanya dimaksudkan untuk menutup seluruh atau sebagian dari biaya pelayanannya.

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan

Sesuai dengan Undang Undang Nomor 33 tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan pasal 9 menyebutkan bahwa hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud pada pasal 6 ayat (1) huruf c ditetapkan berdasarkan peraturan perundang – undangan.

4. Lain>lain PAD yang sah

Lain lain PAD yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d pasal 6 Undang Undang Nomor 33 tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan, meliputi:

1. Hasil penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan;

2. Jasa giro;

3. Pendapatan bunga;

4. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; dan 5. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan

(28)

28

Masing masing Daerah dapat menggali sumber sumber penerimaan lain lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah Penggalian sumber sumber penerimaan ini dapat dibenarkan oleh peraturan perundang undangan yang berlaku.

Berbeda dengan pengeloaan pajak daerah, retribusi daerah dan laba usaha milik daerah, pengelolaan lain lain penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) yang sah ini tampaknya sangat terbatas dan sumbernya pun bersifat khusus, seperti misalnya hibah, penjualan asset tetap daerah, dan jasa giro.

Perhitungan terhadap pengelolaan sumber sumber penerimaan seperti ini tentu kurang optimal bagi perumusan kebijakan keuangan daerah. Namun demikian, hal terpenting dalam menganalisis kinerja keuangan daerah adalah bagaimana secara kreatif masing masing daerah dapat mengembangkan atau memperluas penerimaan dari lain lain pendapatan asli daerah (PAD) yang sah, dengan tetap memperhatikan peraturan perundang undangan yang berlaku. Hal ini tergantung pada kemampuan dan kreativitas daerah dalam menilai potensi sumber sumber penerimaannya, termasuk dalam mengelola sistem keuangannya.

2.4.2 Sumber Pembiayaan Daerah

Menurut Adisasmita (2011), Sumber sumber pembiayaan pelaksanaan

desentralisasi terdiri dari:

1. Pendapatan Asli Daerah, penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku. Sumber sumber Pendapatan Asli Daerah terdiri atas:

• Hasil pajak daerah

• Hasil retribusi daerah

• Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan

• Lain lain Pendapatan Asli daerah yang sah, antara lain hasil penjualan asset tetap daerah dan jasa giro

(29)

29

penerimaan tersebut saling mengisi dan melengkapi. Dana perimbangan terdiri atas:

• Dana bagi hasil, yaitu bagian daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bangunan, dan Penerimaan dari sumber daya alam. Dana bagi hasil merupakan alokasi yang pada dasarnya memperhatikan potensi daerah penghasil

• Dana Alokasi Umum (DAU) yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah dengan memperhatikan potensi daerah, luas daerah, keadaan geografi, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah.

• Dana Alokasi Khusus (DAK), yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan tertentu.

3. Pinjaman Daerah

Berdasarkan Undang Undang Nomor 35 tahun 2004 sebagai perubahan dari Undang undang nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, bahwa pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri atau sumber luar negeri dengan persetujuan pemerintah pusat untuk membiayai sebagian anggarannya. Pinjaman dalam negeri dapat bersumber pada pemerintah pusat dan/atau lembaga komersil, atau melalui penerbitan obligasi daerah. Pinjaman luar negeri dimungkinkan dilakukan daerah, namun mekanismenya harus melalui pemerintah pusat.

4. Jenis Penerimaan yang termasuk hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya dipisahkan, antara lain bagian laba, ) dan penjualan saham milik daerah.

5. Lain>lain penerimaan yang sah, meliputi hibah, dana darurat, dan penerimaan lainnya sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku.

2.4.3 Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Teori ekonomi mengartikan atau mendefinisikan investasi sebagai

”pengeluaran pengeluaran untuk membeli barang barang modal dan

(30)

30

Menurut Boediono (1992) investasi adalah pengeluaran oleh sektor produsen (swasta) untuk pembelian barang dan jasa untuk menambah stok yang digunakan atau untuk perluasan pabrik.

Menurut Sadono Sukirno (2002) kegiatan investasi memungkinkan suatu masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat. Peranan ini bersumber dari tiga fungsi penting dari kegiatan investasi, yakni (1) investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, sehingga kenaikan investasi akan meningkatkan permintaan agregat , pendapatan nasional serta kesempatan kerja; (2) pertambahan barang modal sebagai akibat investasi akan menambah kapasitas produksi; (3) investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi

2.5 Teori Rantai Nilai

Womack, Jones et all, 1990 mendefinisikan Value Chain Analysis (VCA)

sebagai berikut :

“ …..is a technique widely applied in the fields of operations management, process engineering and supply chain management, for the analysis and subsequent improvement of resource utilization and product flow within manufacturing processes.”

Sedang Shank dan Govindarajan, 1992; Porter 2001, mendefinisikan Value Chain Analyisis, merupakan alat untuk memahami rantai nilai yang membentuk suatu produk. Rantai nilai ini berasal dari aktifitas aktifitas yang dilakukan, mulai dari bahan baku samapi ketangan konsumen, termasuk juga pelayanan purna jual.

(31)

31 2.6 Kemandirian Fiskal

Kemandirian fiskal merupakan salah satu aspek yang sangat penting dari otonomi daerah secara keseluruhan. Menurut Mardiasmo (1999) disebutkan bahwa manfaat adanya kemandirian fiskal adalah :

a. Mendorong peningkatan partisipasi prakarsa dan kreativitas masyarakat dalam pembangunan serta akan mendorong pemerataan hasil hasil pembangunan (keadilan) di seluruh daerah dengan memanfaatkan sumberdaya serta potensi yang tersedia di daerah.

b. Memperbaiki alokasi sumber daya produktif melalui pergeseran pengambilan keputusan publik ke tingkat pemerintahan yang lebih rendah yang memiliki informasi lebih lengkap.

Dari hal tersebut diatas, kemandirian fiskal daerah menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan PAD seperti pajak dan retribusi daerah dan lain lain dan pembanguan daerah bisa diwujudkan hanya apabila disertai kemandirian fiskal yang efektif. Ini berarti bahwa pemerintah daerah secara finansial harus bersifat independen terhadap pemerintah pusat dengan jalan sebanyak mungkin menggali sumber sumber PAD seperti pajak, retribusi dan sebagainya (Radianto, 1997)

(32)

32 BAB III

GAMBARAN UMUM

3.1 Keadaan Geografi

3.1.1 Letak dan Luas Wilayah

Kabupaten Karimun dibentuk berdasarkan Undang undang nomor 53 tahun 1999. Pada awal pembentukannya wilayah Kabupaten Karimun terdiri dari 3 (tiga) kecamatan yakni Kecamatan Karimun, Kecamatan Moro dan Kecamatan Kundur. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Karimun nomor 16 tahun 2001, maka wilayah Kabupaten Karimun dimekarkan menjadi 8 (delapan) kecamatan, dan akhirnya berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Karimun nomor 10 tahun 2004 dimekarkan lagi menjadi 9 (sembilan) kecamatan dan jumlah kelurahan sebanyak 22 kelurahan dan 32 desa, 327 RW dan 945 RT.

Kabupaten Karimun terletak di antara 0o 35’ Lintang Utara sampai dengan 1o 10’ Lintang Utara dan 103o 30’ Bujur Timur sampai dengan 104o Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Karimun terdiri atas daratan dan perairan, yang secara keseluruhan kurang lebih seluas 7.984 Km2 .

Kabupaten Karimun merupakan sebuah kabupaten kepulauan yang terdiri dari pulau besar dan kecil. Kabupaten Karimun saat ini terdiri dari 249 buah pulau, dimana semua pulau sudah bernama dan hanya sebanyak 54 pulau yang sudah berpenghuni (Data terakhir hasil verifikasi Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun). Dua pulau terbesar di wilayah ini menjadi sentra berbagai kegiatan ekonomi masyarakat dan juga pemukiman penduduk, yaitu Pulau Karimun dan Pulau Kundur. Wilayah Kabupaten Karimun berada di antara Kota Batam, Singapura, Malaysia, Kepulauan Riau dan Riau. Hal ini menjadikan Karimun sebagai tempat yang sangat strategis terutama untuk berbagai kegiatan perekonomian.

3.1.2 Pola Penggunaan Lahan

(33)

33 Tabel 3.1

Peruntukan Lahan di Kabupaten Karimun No. Penggunaan Lahan Luas (Ha)

1 Belukar 103.326,44

2 Permukiman 3.796,68

3 Hutan 8.945,78

4 Pertanian 6.041,80

5 Perkebunan 13.829,35

6 Kota Baru 1.664,36

7 Hutan Mangrove 11.922,11 8 Pertambangan 1.999,92 9 Lahan Terbuka 276,693

10 Industri 300,862

11

Lainnya

(Danau/Kolong) 296,006

Jumlah 152.400

1 6 7 8 2343

Jenis aktivitas pemanfaatan lahan berpengaruh terhadap nilai dan harga lahan di suatu daerah. Lokasi tanah strategis dan bernilai tinggi sangat ditentukan oleh faktor jarak dengan aglomerasi penduduk kota dengan skala yang cukup tinggi, jarak terhadap jaringan transportasi dan ketersediaan sarana dan prasarana (air minum, listrik dan lain lain).

3.1.3 Sumber Daya Alam dan Lingkungan

Kabupaten Karimun adalah wilayah yang dikelilingi oleh perairan sehingga memiliki sumber daya alam di darat dan di laut. Sumber daya alam di darat mencakup sumber daya lahan, sumber daya hutan, dan sumber daya mineral di daratan yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan penduduknya. Sedangkan sumber daya laut mencakup segala sumber daya hayati dan non hayati di perairan/laut. Sumber daya lahan terutama sumber daya yang dimanfaatkan untuk sektor pertanian dan non pertanian. Sektor pertanian di Kabupaten Karimun berkembang dari kegiatan pertanian dan perkebunan dengan komoditi tanaman bahan pangan, palawija dan tanaman keras tahunan. Komoditas tanaman perkebunan merupakan komoditi primer yang di kembangkan seperti karet, kelapa dan cengkeh.

(34)

34

mangrove yang merupakan ciri khas dari wilayah kepesisiran. Potensi sumber daya yang cukup melimpah di Kabupaten Karimun adalah sumber daya mineral. Batuan yang menyusun wilayah daratan dan lautan memiliki kandungan bahan galian tambang, terutama bahan galian C. Bahan galian tersebut telah dimanfaatkan melalui berbagai kegiatan pertambangan seperti, penambangan granit, pasir laut, pasir darat, timah, bijih besi dan bauksit. Sumber daya mineral baik di darat dan di laut menjadi bahan galian yang mempunyai kualitas baik telah di ekspor ke beberapa negara tetangga.

3.2 Pemerintahan

Pada tahun 2010, jumlah desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Karimun adalah 54 desa/kelurahan. Terdiri atas 32 daerah berstatus desa dan 22 kelurahan. Sedangkan jumlah RW/RT secara keseluruhan adalah sebanyak 353 RK/RW dan 1006 RT. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi penambahan lagi dalam waktu yang akan datang. Diharapkan dengan adanya pemekaran wilayah, pembangunan akan lebih cepat dan maju secara menyeluruh.

3.2.1 Administrasi Pemerintahan

Pada tahun 2010 Dinas Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana telah menerbitkan 29.305 Kartu Tanda Penduduk Baru, 9.663 akta kelahiran, dan 291 akta nikah. Terjadi peningkatan jumlah akta kelahiran yang diterbitkan pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sedangkan akta nikah menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Tabel 3.2

Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan dan Ibukota Kecamatan serta Jumlah Desa dan Kelurahan di Kabupaten Karimun, 2010

No. Kecamatan Kecamatan Ibukota Kelurahan Desa

1 Moro Moro 1 6

2 Durai Durai 0 4

3 Kundur

Tanjung Batu

Kota 3 5

4 Kundur Utara Tanjung Berlian 1 7

5 Kundur Barat Sawang 1 4

6 Karimun Tanjung Balai 4 2

7 Buru Buru 2 2

8 Meral Meral 4 1

9 Tebing Tebing 6 1

Jumlah 22 32

(35)

35

3.3 Kependudukan

Berdasarkan hasil registrasi kependudukan, jumlah penduduk Kabupaten Karimun tahun 2010 mencapai 266.411 jiwa, terdiri atas laki laki sebanyak 137.831 jiwa, dan perempuan sebanyak 128.580 jiwa. Dengan demikian rasio jenis kelamin secara total mencapai 107,2. Berdasarkan kelompok umur, penduduk dibagi atas anak anak (di bawah usia 15 tahun), dewasa (15 sampai 64 tahun), dan lanjut usia (65 tahun ke atas). Anak anak dan lanjut usia disebut kelompok usia tidak produktif, sedangkan dewasa disebut kelompok usia produktif. Perbandingan kelompok usia produktif dan tidak produktif dikenal sebagai angka ketergantungan (

).

Pada tahun 2010, komposisi jumlah penduduk tidak produktif mencapai 80.296 jiwa atau 30,14 persen dan penduduk produktif mencapai 186.115 jwa atau 69,86 persen. Dengan demikian dependency ratio hampir mencapai 43,14 persen. Artinya dari 100 penduduk produktif dibebani oleh 43 orang penduduk tidak produktif. Menurut kepadatan, wilayah yang paling padat penduduk berada di Kecamatan Karimun dengan jumlah 2.763 jiwa/Km2, sedangkan wilayah yang paling jarang penduduk berada di Kecamatan Moro dengan jumlah 17 jiwa/Km2. Secara Umum, kepadatan penduduk Kabupaten karimun sebesar 175 jiwa/Km2.

3.3.1 Tenaga Kerja

Masalah kependudukan selalu berkaitan dengan masalah ketenaga kerjaan. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk akan berpengaruh pada tingginya penyediaan (supply) tenaga kerja. Penawaran tenaga kerja yang tinggi tanpa diikuti penyediaan kesempatan kerja yang cukup akan menimbulkan pengangguran. Hasil Sensus Penduduk 2010 memberikan gambaran bahwa dari seluruh penduduk Kabupaten Karimun yang berusia 15 tahun ke atas, sebanyak 83,94 persen adalah angkatan kerja laki laki dan 38,32 persen angkatan kerja perempuan.

(36)

36

sekitar 6,52 persen, sedangkan 139 jiwa atau 9,06 persen berpendidikan SLTP dan untuk tingkat pendidikan lainnya masing masing di bawah enam persen.

Tabel 3.3

Luas Wilayah, Jumlah Penduduk Hasil Registrasi dan Kepadatannya per km2 menurut Kecamatan di Kabupaten Karimun, 2010

No. Kecamatan Luas Daratan Penduduk Kepadatan per Km2

Km2 % Jumlah %

Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Karimun, Hasil Sensus Penduduk 2000 dan 2010

No. Kecamatan

Penduduk Hasil Registrasi menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Karimun, 2010

laki Perempuan Jumlah

(37)

37

No. Kecamatan Laki>Jumlah Penduduk Rasio Jenis Kelamin laki Perempuan Jumlah

2 Durai 3.834 3.501 7.335 109,5

3 Kundur 21.225 20.726 41.951 102,4 4 Kundur Utara 11.872 10.704 22.576 110,9 5 Kundur Barat 9.829 9.026 18.855 108,9 6 Karimun 30.793 29.154 59.947 105,6

7 Buru 5.777 5.265 11.042 109,7

8 Meral 28.720 26.041 54.761 110,3

9 Tebing 15.312 14.353 29.665 106,7

Jumlah 137.831 128.580 266.411 107,2

1 6 7 8 2343

3.4 Sosial

Penduduk yang berpendidikan dan berkualitas tinggi merupakan aset yang sangat berharga bagi pembangunan daerah. Melalui suatu sistem pendidikan yang terpadu dan menjangkau seluruh masyarakat baik di kota maupun di desa, maka diharapkan kualitas penduduk di Kabupaten Karimun dapat lebih meningkat.

3.4.1 Pendidikan Dasar

Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan terutama pendidikan dasar 9 tahun, di Kabupaten Karimun telah banyak berdiri sekolah sekolah mulai dari taman kanak kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah tingkat pertama. Begitu pula dengan tenaga pengajar yang juga mengalami peningkatan baik dari segi jumlah maupun mutunya.

Pada tahun 2010 telah terjadi penambahan sekolah taman kanak kanak sehingga jumlahnya menjadi 61 sekolah. Murid yang terdaftar sebanyak 3.242 siswa dan diasuh sebanyak 302 guru. Berarti setiap guru harus menangani sebanyak 11 siswa. Sementara itu, kondisi yang sama juga terjadi pada level sekolah dasar. Pada tahun 2010 jumlah sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Kabupaten Karimun pada tahun 2010 ini mengalami peningkatan dari 142 menjadi 143. Murid sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah berjumlah 30.042 siswa dengan tenaga pengajar sebanyak 2.093 guru. Berarti 1 orang guru mengajar sebanyak 14 siswa.

(38)

38

sekolah menengah tingkat pertama baik negeri maupun swasta dan madrasah tsanawiyah ada sebanyak 56 buah. Dengan jumlah siswa 11.098 orang dan guru 868 orang. Berarti 1 orang guru mengajar sebanyak 13 siswa.

3.4.2 Pendidikan Menengah

Bila suatu daerah ingin maju dan berkembang, maka penduduk yang berkualitas dan berkemampuan tinggi sangat diperlukan guna mendukung pembangunan daerah tersebut. Untuk itu pendidikan dasar saja belum cukup, tapi masih perlu ditambah lagi dengan pendidikan menengah.

Kabupaten Karimun saat ini telah memiliki 17 buah sekolah menengah umum dan 4 buah madrasah aliyah. Jumlah siswa yang ada, yaitu 6.671 orang dengan tenaga pengajar sebanyak 483 orang. Berarti 1 orang guru mengajar sebanyak 14 siswa. Selain sekolah menengah umum dan madrasah aliyah, terdapat pula sekolah menengah kejuruan sebanyak 6 buah dengan jumlah siswa 1.954 orang dan jumlah tenaga pengajar 176 orang. Berarti 1 orang guru sekolah kejuruan mengajar 13 siswa.

3.4.3 Pendidikan Tinggi

Salah satu faktor yang dapat menarik investor untuk dapat menanamkan modal di suatu daerah adalah tersedianya fasilitas pendidikan untuk jenjang perguruan tinggi. Hal ini sangat beralasan karena diharapkan para lulusan perguruan tinggi dapat menjadi modal SDM bagi para investor.

Saat ini, Kabupaten Karimun memiliki 2 perguruan tinggi yaitu Universitas Karimun dan STIE Cakrawala. Universitas Karimun memiliki 4 fakultas dan 12 program studi. Universitas Karimun mempunyai 1.434 mahasiswa dengan 180 tenaga dosen. STIE Cakrawala memiliki 2 jurusan dengan mahasiswa sebanyak 156 mahasiswa dengan 24 tenaga dosen.

3.4.4 Pendidikan Non>Formal

(39)

39

lembaga tersebut menawarkan berbagai jenis kemampuan non formal yang diperlukan dalam dunia kerja.

3.5 Pertanian

Sektor pertanian dikelompokkan kedalam 5 sub sektor, yaitu tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Sektor ini masih memegang peranan sebagai sumber penghasilan utama bagi sebagian besar penduduk Kabupaten Karimun. Di antara kelima sub sektor pertanian yang terdapat di Kabupaten Karimun, sub sektor yang paling menonjol peranannya adalah sub sektor perikanan. Hal ini wajar mengingat kondisi geografis Kabupaten Karimun terdiri atas wilayah lautan yang cukup luas yang kaya akan potensi perikanan dan hasil laut lainnya.

3.5.1 Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Data pertanian tanaman pangan meliputi luas lahan, luas panen, produksi dan produktivitas. Hortikultura terdiri dari tanaman sayur sayuran dan buah buahan. Tanaman sayur sayuran meliputi luas tanam, luas panen, dan produksi. Sedangkan tanaman buah buahan meliputi jumlah tanaman yang menghasilkan dan produksi.

Pada tahun 2010 tercatat ada enam jenis tanaman pangan yang diusahakan di Kabupaten Karimun, yaitu padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, talas, dan kacang tanah. Keenam jenis tanaman tersebut diusahakan secara merata hampir di seluruh wilayah Kabupaten Karimun kecuali di Kecamatan Durai. Produksi tanaman pangan pada tahun 2010 rata rata mengalami penurunan. Untuk tanaman ubi jalar dan kacang tanah produksi maupun produktivitasnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu jenis tanaman sayur sayuran yang diusahakan petani di Kabupaten Karimun diantaranya adalah sawi, kacang panjang, cabe, terung, ketimun, kangkung dan bayam. Luas panen sayur sayuran di karimun tahun 2010 hampir semua mengalami penurunan dibanding tahun yang lalu. Namun, produksi pada tanaman kacang panjang, ketimun dan kangkung mengalami peningkatan, sehingga bisa dikatakan bahwa produktivitas untuk tanaman tersebut semakin baik.

(40)

40

durian, dan lain lain. Pada tahun 2010 rata rata produksi buah buahan di Kabupaten Karimun mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi terbesar yang dihasilkan oleh Kabupaten Karimun adalah buah rambutan dan durian. Daerah utama penghasil komoditas ini terletak di Pulau Kundur.

3.5.2 Perkebunan

Tanaman perkebunan yang banyak diusahakan di Kabupaten Karimun diantaranya adalah karet, kelapa, cengkeh, kopi, lada, dan gambir. Jenis usaha perkebunan yang diusahakan di Kabupaten Karimun seluruhnya merupakan perkebunan rakyat. Jenis tanaman perkebunan yang menjadi primadona di kalangan petani Karimun adalah Karet dan kelapa. Daerah penghasil utama kedua jenis tanaman ini terdapat di Pulau Kundur. Pada tahun 2010, luas areal perkebunan di kabupaten Karimun hampir sama dengan luas areal tahun 2009, kecuali luas areal cengkeh. Hal ini diikuti dengan produksi cengkeh yang sedikit mengalami kenaikan dari 0,6 ton pada tahun 2009 menjadi 1,4 ton tahun 2010.

3.5.3 Peternakan

Salah satu sasaran pembangunan sub sektor peternakan adalah untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak dalam usaha memperbaiki gizi masyarakat. Pada tahun 2010 populasi ternak besar yang tercatat adalah sapi sebanyak 1.125 ekor, kambing 6.505 ekor dan babi 2.183 ekor.

Sementara itu pada jenis ternak unggas yang diusahakan pada tahun 2010 tercatat jenis ayam ras pedaging sebanyak 107.900 ekor, ayam ras petelur 28.400 ekor, ayam kampung 40.135 ekor dan itik 3.477 ekor.

3.5.4 Perikanan

(41)

41 Tabel 3.6

Total Produksi Pertanian Kabupaten Karimun 2010

No. Kecamatan

Tanaman

Pangan sayuran Sayur> buahan Buah> Perkebunan Peternakan Perikanan

TOTAL

3.6 Industri, Pertambangan, Dan Konstruksi

3.6.1 Industri

Di Indonesia, industri pengolahan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu industri besar, industri sedang, industri kecil, dan industri kerajinan rumah tangga. Pengelompokan tersebut didasarkan pada banyaknya pekerja yang terlibat, tanpa memperhatikan penggunaan mesin produksi yang digunakan ataupun modal yang ditanamkan. Perusahaan industri besar memiliki tenaga kerja 100 orang atau lebih, perusahaan industri sedang memiliki tenaga kerja 20 – 99 orang, perusahaan industri kecil memiliki tenaga kerja antara 5–19 orang, dan terakhir perusahaan industri rumah tangga yang memiliki tenaga kerja kurang dari lima orang. Jumlah unit usaha dan tenaga kerja terbesar terdapat di Kecamatan Meral. Hal ini wajar karena di kecamatan Meral merupakan kawasan industri di Kabupaten Karimun.

(42)

42

industri Makanan dan Minuman (KBLI 15), dan kelompok industri Angkutan, selain kendaraan bermotor roda empat atau lebih (KBLI 35).

Jumlah perusahaan PMA dan PMDN pada tahun 2010 di Kabupaten Karimun mencapai 34 perusahaan, naik dari tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah perusahaan PMA dan PMDN tersebut diikuti dengan kenaikan besarnya investasi, menjadi sebesar Rp. 5.385.329.270.037.

3.6.2 Pertambangan

Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi sektor pertambangan terhadap PDB Kabupaten Karimun cenderung mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena tutupnya salah satu perusahaan besar pertambangan batu granit, dan adanya larangan ekspor pasir darat yang sebelumnya merupakan salah satu komoditi hasil tambang andalan di Kabupaten Karimun, selain batu granit dan timah.

Meskipun demikian pada tahun 2010, produksi batu granit di Kabupaten Karimun mengalami peningkatan sebesar 9.489.695 ton. Produksi timah, bijih timah mencapai 5.217 Ton Sn dan logam timah mencapai 3.891,84 M.Ton. Sedangkan ekspor timah ke Singapura adalah sebesar 3.640 M.Ton.

3.6.4 Konstruksi

Secara umum kegiatan pada sektor konstruksi menggambarkan peranan yang signifikan dalam kegiatan perekonomian suatu wilayah, berkaitan dengan permintaan terhadap bahan baku, jasa, dan penyerapan tenaga kerja. Sektor tersebut peka terhadap pergerakan aktivitas dunia usaha secara umum, pergerakan sektor konstruksi (paling tidak dalam sistem ekonomi pasar yang dominan) cenderung dapat menjelaskan dan mendahului pergerakan ekonomi secara keseluruhan.

(43)

43 Tabel 3.7

Jumlah Usaha dan Tenaga Kerja Industri Menurut Kecamatan di Kabupaten Karimun, 2009>2010

No. Kecamatan 2009 2010

Unit Usaha Tenaga Kerja Unit Usaha Tenaga Kerja

1 Moro 8 57 14 50

2 Durai 1 2 5 10

3 Kundur 38 26 70 292

4 Kundur Utara 6 172 12 78

5 Kundur Barat 19 38 29 81

6 Karimun 72 328 105 495

7 Buru 10 64 16 38

8 Meral 75 2.250 117 3.451

9 Tebing 52 203 76 530

Jumlah 281 3.140 441 5.025

1 6 7 8 2343

Tabel 3.8

Besarnya Investasi (Rp) Perusahaan PMA dan PMDN Menurut Kecamatan di Kabupaten Karimun, 2010

No. Kecamatan Perusahaan PMA Perusahaan PMDN Jumlah

1 MORO 170.750.000.000 100.000.000.000 270.750.000.000

2 DURAI 0

3 KUNDUR 0

4

KUNDUR

UTARA 30.000.000.000 30.000.000.000

5

KUNDUR

BARAT 151.000.000.000 151.000.000.000

6 KARIMUN 31.000.000.000 31.000.000.000

7 BURU 30.000.000.000 30.000.000.000

8 MERAL 8.362.540.415.624 429.915.350.000 8.792.455.765.624

9 TEBING 198.422.343.380 198.422.343.380

JUMLAH 8.533.290.415.624 970.337.693.380 9.503.628.109.004

1 6 7 8 2343

3.7 Perhubungan Dan Pariwisata

3.7.1 Transportasi

Gambar

Tabel 1.1 Tabel Representasi Nilai r
Gambar 1.2 Karangka Analisis
Tabel 3.1 Peruntukan Lahan di Kabupaten Karimun
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Kecamatan di
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Kadar CO Lingkungan dan Masa Kerja dengan Kadar CO Dalam Darah (COHb) pada Petugas Keamanan Lalulintas Terminal Tirtonadi Surakarta.. Correlation of CO in Environmental

Tahap Uji Kinerja Bahan Bakar Solar + Bioaditif Pada Mesin Diesel LIPI Serpong……….36a. Uji

Jika anda tertarik untuk membudidayakan tanaman buah berwarna merah ini, anda tidak perlu khawatir karena pada kesempatan kali ini JualBenihMurah.com akan memberikan ulasan

Keterbatasan penelitian ini, pada data rekam medis petugas kurang mencantumkan identitas pasien secara lengkap sehingga peneliti kesulitan dalam mencari faktor risiko

Untuk menghindari terjadinya hal-hal tersebut maka dilakukan perancangan dan pembuatan pintu gerbang yang dapat membuka dan menutup secara otomatis.. Cara kerja

RTK GNSS -vastaanottimeen nähden edulliseen, korkeintaan noin 2500 euron myyntihintaan anturin pitäisi ratkaista mahdollisimman moni edellä esitetyistä, yksi- ja

Tingginya obesitas pada remaja ada kecenderungan mengalami peningkatan, dengan pola makan yang sudah berubah serta aktivitas fisik yang kurang dengan latar

Hasil penelitian menunjukan bahwa tanaman selada dengan pupuk organik diperkaya N, P organik dapat meningkatkan serapan hara tanaman setara dengan perlakuan