• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENJUALAN DAN PERPUTARAN PIUTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PENJUALAN DAN PERPUTARAN PIUTAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENJUALAN DAN PERPUTARAN PIUTANG TERHADAP LABA BERSIH PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA

Griselda Clarissa Tanny Atma Jaya Makassar University

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penjualan dan perputaran piutang secara parsial terhadap laba bersih perusahaan di Bursa Efek Indonesia, serta pengaruh dominan penjualan dan perputaran piutang terhadap laba bersih perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan teknis analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda.Variabel Penjualan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap laba bersih pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia karena nilai sign 0,000 < (α) 0,05. Variabel perputaran piutang secara parsial berpengaruh signifikan terhadap laba bersih pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia ariab nilai sign 0,039 < (α) 0,05. Variabel Penjualan mempunyai pengaruh dominan terhadap laba bersih dengan nilai koefisien regresi tertinggi diantara variable independen yang mempengaruhi variable dependennya.

Kata kunci: penjualan, perputaran piutang dan laba bersih PENDAHULUAN

Latar Belakang

(2)

Perkembangan ekonomi mendorong peningkatan dan pertumbuhan dunia usaha, hal ini berarti semakin banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan yang lebih banyak, untuk mencapai hal tersebut salah satunya menentukan kebijakan penjualan yang menguntungkan bagi perusahaan. Melihat fakta yang terjadi di pasar bahwa di tengah kondisi ekonomi yang masih dalam tahap pertumbuhan, sebagian besar perusahaan memiliki kemampuan untuk memberikan fasilitas kredit bagi Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 1 (2014) 2 pelanggannya. Berawal dari aktivitas vital perusahaan, yakni penjualan (penjualan kredit yang tujuan utamanya adalah menjaga kelangsungan perusahaan dalam kondisi sulit) maka piutang timbul. Piutang sebagai asset yang materiil bagi perusahaan, karena sebagian besar penjualan umumnya dilakukan secara kredit. Dengan diterapkannya kebijakan penjualan secara kredit akan mempermudah perusahaan dalam menjual produknya dan juga mempermudah perusahaan untuk mendapatkan pelanggan yang lebih banyak serta dapat memperluas pangsa pasarnya dalam melakukan perluasan usaha. Penjualan kredit akan memberikan keuntungan yang lebih besar, hal ini disebabkan penjualan kredit menghendaki adanya laba yang lebih tinggi dibanding laba yang dikehendaki dalam penjualan tunai. Penjualan kredit akan mempengaruhi permintaan terhadap suatu produk yang ditawarkan, terutama disaat kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih seperti sekarang ini, ditambah lagi persaingan yang semakin ketat. Saat ini pembeli lebih memilih untuk membeli produk secara kredit, karena sebagian besar dari mereka tidak mempunyai kondisi keuangan yang kuat.

(3)

piutang dapat diperkecil dan diperoleh laba di masa yang akan datang dapat ditingkatkan. Sehingga dengan kecilnya piutang yang tidak tertagih dapat menambah modal perusahaan untuk mendapatkan laba Sehubungan dengan tujuan untuk memperoleh laba, maka perusahaan selalu membutuhkan dana untuk membiayai operasi perusahaan, misalnya untuk memberikan persekot pembelian, membiayai gaji pegawai, supplies kantor, dan lain-lain. Perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan dari masing-masing perusahaan dapat mempengaruhi perubahan besarnya profitabilitas ekonomi perusahaan tersebut.

Laporan keuangan selain sebagai sumber informasi juga sebagai pertanggungjawaban dan juga menggambarkan indikator kesuksesan suatu peru- sahaan dalam mencapai tujuannya. Salah satu jenis laporan keuangan adalah laporan laba-rugi dimana pengertiannya adalah ringkasan dari pendapatan dan biaya perusahaan selama periode tertentu, dan diakhiri dengan laba atau rugi bersih untuk periode tersebut. Laba tidak dapat menjadi satu-satunya tujuan perusahaan untuk memperoleh laba yang maksimum, perusahaan harus menghasilkan produk dengan cara dan dalam bentuk volume penjualan sehingga akhirnya akan didapat pendapatan penjualan. Volume penjualan diartikan sebagai seluruh jenis barang yang disediakan/diserahkan kepada konsumen atau pelanggan tanpa memandang jumlah rupiah relative tiap jenis produk tersebut ataupun sering tidaknya produk tersebut dihasilkan, sedangkan pendapatan penjualan adalah kenaikan modal pe milik karena adanya penjualan produk kepada konsumen. Laba bersih akan terjadi Kalau pendapatan yang dihasilkan melebihi pengorbanan untuk mendapatkan pendapatan tersebut, sedangkan kalau rugi dapat dibebankan terhadap operasi tahun berjalan (walaupun tidak sebagai pengurang pendapatan kotor), rugi tersebut dapat diperlukan Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 1 (2014) 3 sebagai pengurang laba bersih. Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh penjualan dan perputaran piutang terhadap laba bersih pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang diajukan adalah sebagai berikut:

(4)

2. Apakah perputaran piutang berpengaruh terhadap laba bersih perusahaan di Bursa Efek Indonesia?.

Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh penjualan terhadap laba bersih perusahaan di Bursa Efek Indonesia

2. Untuk mengetahui pengaruh perputaran piutang terhadap laba bersih perusahaan di Bursa Efek Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA

Laporan Keuangan

Menurut Munawir (2012:5) laporan keuangan adalah laporan keuangan itu terdiri dari neraca dan perhitungan rugi laba serta laporan perubahan modal, dimana neraca menunjukkan atau menggambarkan jumlah aktiva, hutang dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan perhitungan (laporan) rugi laba memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu, dan laporan perubahan modal menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan. Laporan keuangan memiliki tujuan masing-masing sesuai dengan kebijakan perusahaan dan harus diterapkan sesuai prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku. Pernyataan tersebut didukung pendapat oleh Harahap (2011:133), menggambarkan tujuan laporan keuangan dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Tujuan umum, menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima

2. Tujuan Khusus, memberi informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahaan kekayaan dan kewajiban, serta informasi yang relevan.

(5)

bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggung jawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2009:Par.05)

Menurut Baridwan (2008:109) isi laporan keuangan yang dihasilkan setiap periode adalah: 1. Neraca perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur posisi

keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Neraca minimal mencakup pos-pos sebagai berikut: aktiva berwujud, aktiva tak berwujud, aktiva keuangan, investasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas, persediaan, piutang usaha dan hutang lainnya, kewajiban yang diestimasi, kewajiban berbunga jangka panjang, hak minoritas, modal saham dan pos ekuitas lainnya;

2. Laporan laba rugi sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan, bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos pos berikut: pendapatan, laba rugi perusahaan, beban pinjaman, bagian dari laba atau rugi perusahaan afilitas dan asosiasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas, beban pajak, laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan, pos luar biasa, hak minoritas, laba rugi bersih dan periode berjalan,

3. Laporan perubahan ekuitas menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran yang dianut; 4. Laporan arus kas Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 1 (2014) 4 melaporkan arus kas masuk dan arus kas keluar atau setara kas selama periode tertentu. arus kas diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan; 5. Catatan laporan keuangan meliputi penjelasan negatif atau rincian jumlah yang tertera

dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban komitmen.

Penjualan

(6)

lebih besar daripada penjualan tunai. Cara mengetahui apakah pemberian kredit dapat bermanfaat bagi perusahaan dalam meningkatkan laba bersih adalah dengan menghitung tingkat perputaran piutang. Menurut Horngren, et al. (2009:301), penjualan merupakan nama lain dari pendapatan penjualan yang merupakan jumlah yang didapat penjual dari hasil penjualan barang dagang yang dimilikinya sebelum dikurangi dengan beban-beban dan dilakukannya secara berjangka.”

Perputaran Piutang

Menurut Martono (2010:95) piutang merupakan tagihan perusahaan kepada pembeli atau pihak lain yang menjual produk perusahaan secara kredit. Penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas namun menimbulkan piutang dan barulah kemudian pada hari jatuh temponya terjadi aliran kas masuk (cash inflow) yang berasal dari pengumpulan piutang tersebut. Kebijakan penjualan kredit yang timbul akibat adanya piutang ini tentunya akan menimbulkan biaya bagi perusahaan. Biaya tersebut antara lain adalah administrasi piutang, biaya modal atas dana yang tertanam dalam piutang, biaya penagihan dan biaya piutang yang mungkin tidak tertagih. Namun biaya piutang tersebut dapat terimbangi dengan meningkatnya penjualan perusahaan. Piutang dagang (account receivable) terjadi ketika perusahaan menjual barang atau jasa secara kredit, bukan tunai. Ketika uang tunai diterima, piutang akan berkurang dengan jumlah yang sama. Tingkat piutang yang tinggi akan mengurangi arus kas dan piutang tak tertagih (bad debt) akan mengurangi keuntungan dari penjualan (Atmaja, 2008:395).

(7)

Piutang Rata-Rata= PiutangAwal + Piutang Akhir / 2

Tinggi rendahnya perputaran piutang mempunyai efek langsung terhadap besar kecilnya modal yang diinvestasikan kedalam piutang. Makin tinggi perputarannya, berarti makin pendek waktu terikat modal terhadap piutang, sehingga untuk mempertahankan penjualan kredit tertentu, dengan naiknya perputaran akan dibutuhkan jumlah modal yang lebih kecil yang diinvestasikan dalam piutang. Riyanto (2012:90) untuk mengukur tingkat efisiensi piutang dapat menggunakan dua ukuran yaitu tingkat perputaran piutang dan budget pengumpulan piutang. Dimana efisiensi ini dipergunakan dalam memaksimalkan manfaat piutang bagi perusahaan. Semakin tinggi tingkat perputaran piutang maka semakin efisien piutang karena piutang semakin cepat terbayar. Periode terikatnya suatu modal dalam piutang sangat penting untuk membandingkan hari rata– rata pengumpulan piutang dengan syarat pembayaran yang telah ditetapkan perusahaan.

Apabila hari rata–rata pengumpulan piutang lebih besar daripada batas waktu pembayaran yang telah ditetapkan berarti bahwa cara pengumpulan piutang kurang efisien. Dimana banyak pelanggan yang tidak memenuhi syarat pembayaran yang telah ditetapkan perusahaan.

Laba Bersih

(8)

Laba = Penjualan – Biaya (Hanafi, 2011:32).

Pendefinisian laba sebagai pendapatan dikurangi biaya merupakan pendefinisian secara struktural atau sintatik karena laba tidak didefinisi secara terpisah dari pengertian pendapatan dan biaya. Pendapatan dan biaya masuk dalam definisi laba sehingga harus mendefinisikan pendapatan dan biaya untuk memaknai laba. Jadi, laba merupakan hasil penerapan sesuatu yang bermakna semantik. Dengan demikian laba tidak diinterpretasikan secara inuitif. Lebih dari itu, pengukuran pendapatan dan biaya sesuai PABU (Pernyataan Akuntansi Berlaku Umum) lebih didasarkan pada konsep cost historis sehingga laba yang dihasilkan tidak selalu setara dengan laba ekonomik yang pada umumnya mempertimbangkan perubahan daya beli dan perubahan harga. Besar kecilnya laba sebagai pengukur kenaikan aset sangat tergantung ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya. Laba hanya merupakan angka artikulasi dan tidak didefinisikan tersendiri seperti halnya aset atau utang, karena laba merupakan salah satu informasi potensial yang terkandung di dalam laporan keuangan dan sangat penting bagi pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Informasi laba merupakan komponen laporan keuangan yang bertujuan untuk menilai kinerja manajemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 1 (2014) 6 dalam jangka panjang dan menaksir risiko investasi. Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya bertujuan untuk memperoleh laba semaksimal mungkin.

Pengaruh antara Penjualan dan Perputaran Piutang terhadap Laba Bersih

(9)

perputaran piutang yang tinggi akan secara otomatis membuat rata-rata pengumpulan piutang akan menjadi lebih cepat sehingga investasi dalam piutang serta resikonya berkurang.

Perputaran piutang yang tinggi mengindikasikan jumlah penjualan yang tinggi pula dan mempengaruhi pendapatan secara mutlak. Oleh karena itu, usaha untuk meningkatkan penjualan juga hendaknya tidak hanya bertumpu pada strategi kebijakan penjualan kredit semata, tetapi juga harus memperhatikan efisiensi dan efektifitas piutang itu sendiri.Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa penjualan kredit harus dikendalikan dengan kebijakan kredit yang cermat dan sehat serta menguntungkan bagi perusahaan, sehingga penjualan tetap meningkat sementara perputaran piutang tetap stabil atau bahkan lebih cepat, yang pada akhirnya akan meningkatkan perolehan laba bersih.

Penelitian Terdahulu

Purnamasari (2010) meneliti “Pengaruh Perputaran Piutang Dan Persediaan Terhadap Profitabilitas Pada Industri Otomotif Di Bursa Efek Indonesia”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi adalah pengaruh perputaran piutang dan perputaran persediaan pada tahun penelitian untuk melihat profitabilitas modal sendiri. Dan dari hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa perputaran persediaan dan perputaran piutang secara bersama–sama tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Untuk mencapai tingkat profitabilitas yang tinggi, perusahaan otomotif perlu melakukan analisis biaya yang benar–benar harus dikeluarkan oleh perusahaan. Pramestia (2011) meneliti “Pengaruh Perputaran Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Pada PT. Ultra Jaya Milk di Bursa Efek Indonesia” . Hasil penelitian menyimpulkan bahwa permasalah yang terjadi dimana pengaruh modal kerja ternyata berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Dan dengan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa elemen–elemen modal kerja yang terdiri dari kas, piutang dan persediaan secara bersama–sama mempunyai pengaruh terhadap keuntungan bersih yang diperoleh Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 1 (2014) 7 perusahaan. Untuk mendapatkan profitabilitas perusahaan dapat menekan biaya–biaya operasional perusahaan agar dapat meningkatkan laba perusahaan.

(10)

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan teoretis, seperti diutarakan terdahulu maka model penelitian ini dapat ditunjukkan seperti pada gambar 1 sebagai berikut:

Keterangan: Pengaruh secara parsial

Perumusan Hipotesis Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teoretis di atas, maka hipotesis yang ajukan adalah:

H1 : Penjualan berpengaruh terhadap laba bersih perusahaan di Bursa Efek Indonesia.

H2 : Perputaran piutang berpengaruh terhadap laba bersih perusahaan di Bursa Efek Indonesia. METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian dan Gambaran dari Populasi (Objek) Penelitian

Untuk mendapatkan kebenaran ilmiah, dalam hal ini diperlukan adanya metode penelitian yang terkandung dalam tujuan penelitian.Mengingat maksud dan tujuan penelitian ini, maka jenis penelitian menggunakan kuantitatif dengan metode kausal komparatif (causal comparative research) yaitu jenis penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab-akibat antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2012:74). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian disimpulkan (Sugiyono, 2012:119). Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaaN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebanyak 20 perusahaan yang terdiri atas: Bekasi Asri Pemula, Sepatu Bata,Bayu Buana, Bhakti Capital Indonesia,Bumi Citra Permai, Bekasi Fajar Industrial Estate, Bhakti Investama, Primarindo Asia Infrastructure, Benakat Petroleum Energi, Bhuwanatala Indah Permai, Bukit Darmo Property,Sentul City, Berlian Laju Tanker, Bintang Mitra Semestaraya, Global Mediacom, Bank Bumi Arta,Bakrie &Brothers, Borneo Limbung Energi & Mental, Batavia Prosperindo Finance, Indo Kordsa.

Teknik Pengumpulan Data

LABA BERSIH (LB) PERPUTARAN

(11)

Teknik pengumpulan data merupakan bagian dari proses pengujian data yang hasilnya digunakan sebagai bukti yang memadai untuk menarik simpulan. Dalam rangka mendapat data dan informasi untuk penyusunan penelitian, teknik pengumpulan data melalui sumber data sekunder, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara memanfaatkan laporan keuangan perusahaan di Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia dari tahun 2010-2015.

Variabel dan Definisi Operasional Variabel Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

 Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah penjualan (P), dan perputaran piutang (PP);

 Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laba Bersih (LB). Definisi Operasional Variabel

1. Penjualan (P) adalah transaksi penjualan yang dilakukan oleh perusahaan baik secara tunai maupun kredit, sehingga pembeli mendapatkan kemudahan dalam hal pembayaran dan hal ini juga salah satu yang dapat meningkatkan jumlah pembeli maupun pembelian yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi pada laba. Pengukuran variabelnya berdasarkan rupiah pada tahun 2010-2015.

2. Perputaran piutang (PP) adalah kemampuan dana yang tertanam dalam piutang berputar dalam satu periode tertentu melalui penjualan. Perputaran piutang dihitung dengan cara membandingkan penjualan dengan rata-rata piutang yang merupakan hasil dari saldo awal ditambah saldo piutang akhir perusahaan dibagi dua. Pengukuran variabelnya berdasarkan kali (x). Perputaran piutang menjadi variabel (X2)

3. Laba bersih (LB) adalah selisih lebih pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu (periode) tertentu. Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan pembayaran dividen, pedoman investasi serta pengambilan keputusan. Pengukuran variabelnya berdasarkan rupiah pada tahun 2010-2015

(12)

a) Uji Multikolonieritas Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi adalah sebagai berikut jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10 dan nilai Tolerance (TOL) tidak kurang dari 0,1, maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolineritas VIF = 1/Tolerance, jika VIF = 10 maka Tolerance = 1/10 = 0,1 (Ghozali, 2011:106).

b) Uji Heterokedastisitas Deteksi adanya heteroskedastisitas yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik; dimana sumbu X adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual dari (Y prediksi–Y sebelumnya) yang telah di studentized. Dasar dalam pengambilan keputusan:

1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit maka telah terjadi heteroskedastisitas;

2) Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011:139). c) Uji Autokorelasi Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui korelasi antar anggota serangkaian data observasi baik data time series maupun cross section. Menurut Santoso (2009:219), secara umum untuk menentukan autokorelasi bisa diambil patokan sebagai berikut:

Angka D-W di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif.

Angka D-W di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.

Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif. Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 1 (2014) 10

d) Uji Normalitas Uji normalitas data dalam penelitian ini dapat dilakukan dalam pendekatan grafik Uji normalitas menguji apakah dalam sebuah model regresi, baik variabel dependen maupun variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal (Santoso, 2009:214). Dasar pengambilan keputusan uji normalitas adalah sebagai berikut:

(13)

2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi normalitas

2. Analisis Regresi Berganda Dalam analisis regresi, selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen (Ghozali, 2011:96). Menurut Ferdinand (2009:295), analisis regresi linier berganda adalah suatu prosedur statistik dalam menganalisis hubungan antara variabel satu atau lebih variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) rumus multiple regresinya adalah sebagai berikut : LB= a + b1P+ b2PP + e

Dimana:

LB= Laba bersih; a = Konstanta;

b1,b2= Koefisien regresi dari variabel bebas; P= Penjualan; PP= Perputaran piutang;

e = Faktor pengganggu dari luar model (Error)

Setelah diketahui persamaan regresi maka hubungan antara variabel independen dan variabel dependen di tafsirkan berdasarkan atas nilai koefisien dari variabel independen. Persamaan regresi linier berganda di atas dihitung dengan menggunakan program SPSS. 3. Analisis Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur

seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu (Ghozali, 2011:97). Interpretasi: 1) Jika R2 mendekati 1 (semakin besar nilai R2), menunjukkan bahwa sumbangan atau kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan semakin kuat; 2) Jika R2 mendekati 0 (semakin kecil nilai R2), menunjukkan bahwa sumbangan atau kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan semakin lemah. Untuk mempermudah perhitungan koefisien korelasi (R) dan koefisien determinasi (R2 ) di atas dihitung dengan menggunakan program SPSS.

4. Pengujian Hipotesis

(14)

2011:98): 1) Jika Sig > () 0,05, maka H0 diterima, berarti tidak ada pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap variabel terikat; 2) Jika Sig < () 0,05, maka H0 ditolak, berarti ada pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

b. Koefisien Determinasi Parsial (r²) Analisis ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana kontribusi dari masing-masing variabel independen (penjualan dan perputaran piutang) terhadap variabel dependen (laba bersih) secara parsial. atau untuk mencari pengaruh dominan diantara variabel bebas terhadap varaibel terikat. Dimana analisis ini dinyatakan oleh besarnya kuadrat koefisien parsial atau dengan kata lain r2 = koefisien determinasi parsial (Sugiyono, 2012:260). Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 1 (2014) 11

(15)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 171.222 33.878 5.054 .000

piutang -.247 .286 -.135 -.863 .393

a. Dependent Variable: laba Uji Anova

ANOVAb

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 24541.594 1 24541.594 .745 .393a

Residual 1316830.303 40 32920.758 Total 1341371.897 41

a. Predictors: (Constant), piutang b. Dependent Variable: laba

Dari table di atas dapat disimpulkan bahwa uji anova sebesar .745 dengan probabilitas .393 karena probabilitas lebih kecil dari 0.05 maka model regresi digunakan untuk memprediksi bahwa pengaruh piutang dan laba bersih yang dikaitkan atas piutang dan laba bersih yang secara Bersama-sama mempengaruhi piutang dan penjualan.

Coefficient Correlationsa

Model piutang

(16)

Residuals Statisticsa

Minimum Maximum Mean Std. Deviation N Predicted Value 54.4956 170.9504 1.5475E2 24.46580 42 Residual

-1.69681E2 6.26674E2 .00000 179.21443 42

Std. Predicted Value -4.098 .662 .000 1.000 42

Std. Residual -.935 3.454 .000 .988 42

a. Dependent Variable: laba

Penjelasan

Dengan demikian hipotesis yang menyatakan perputaran piutang berpengaruh signifikan terhadap laba bersih pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia terbukti. Hal ini berarti perputaran piutang berperan secara langsung dalam mendukung peningkatan laba bersih pada perusahaandi Bursa Efek Indonesia. Perputaran piutang berpengaruh terhadap laba bersih karena tingkat perputaran piutang tinggi berarti piutang dagang membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk dapat ditagih dalam bentuk uang tunai atau menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang besar. Menurut Sartono (2010:119) secara konseptual perputaran piutang menyatakan periode berputarnya menunjukkan semakin cepat perusahaan kembali menjadi kas. Manajer piutang perusahaan harus bisa menambah penjualan kreditnya dan menjaga rata-rata piutang harus tetap rendah supaya Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 1 (2014) 17 perputarannya meningkat (Putra, 2012). Bertambahnya penjualan kredit diharapkan dapat meningkatkan laba, sehingga profitabilitas juga meningkat. Kebanyakan perusahaan besar menjual produksinya dengan cara kredit sehingga nantinya akan menimbulkan piutang. Hal ini bertujuan untuk dapat mempertahankan langganan yang sudah ada dan untuk menarik langganan yang baru. Piutang mempunyai tingkat likuiditas yang lebih tinggi daripada persediaan, karena perputaran dari piutang ke kas membutuhkan satu langkah saja. Manajemen piutang merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan yang menjual produknya dengan kredit.

(17)

Simpulan

Dari hasil uji hipotesis dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut:

1) Penjualan berpengaruh terhadap laba bersih pada perusahaan farmasi di Bursa Efek Indonesia; 2) Perputaran piutang berpengaruh terhadap laba bersih pada perusahaan farmasi di Bursa Efek Indonesia;

3) Penjualan mempunyai pengaruh dominan terhadap laba bersih karena mempunyai koefisien determinasi parsialnya paling besar.

Saran

Dengan hasil analisis yang telah dikemukakan maka diharapkan perusahaan- perusahaan lebih dapat meningkatkan efektivitas pengendalian piutang, terutama di saat kondisi recovery pasca krisis global seperti sekarang ini. Perusahaan hendaknya menjalankan kebijakan dalam pengumpulan piutang secara aktif atau pasif. Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan secara aktif, maka perusahaan harus mengeluarkan uang yang lebih besar untuk membiayai aktivitas pengumpulan piutang, tetapi dengan menggunakan cara ini, maka piutang yang ada akan lebih cepat tertagih, sehingga akan lebih memperkecil jumlah piutang perusahaan. Sebelum memberikan piutang sebaiknya perusahaan mencari informasi terlebih dahulu tentang keadaan dari calon debitur yang diberi pinjaman. Untuk mengurangi risiko kredit sebaiknya perusahaan memperlihatkan lima C sebelum memberikan persetujuan kredit yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Conditions.

DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-972-BABI.pdf

https://ejournal.stiesia.ac.id/jirm/article/viewFile/1386/1344 (Limas Guntur Anggriono Putra [email protected] dan Nurul Widyawati)

http://eprints.upnjatim.ac.id/3354/1/file1.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Satuan mobil penumpang sendiri merupakan faktor yang akan digunakan untuk memodelkan jumlah kendaraan yang ada di dalam ruang jalan, dengan kata lain nilai dari

Kesimpulan yang dapat diberikan untuk komunitas belajar yang menunjang profesi guru dipaparkan oleh Peppers (2015: 29) bahwa tema yang muncul dari temuan

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah membantu Hotel Bumi Karsa untuk meningkatkan kualitas pelayanan dengan melakukan tindakan perbaikan terhadap faktor-faktor

Hasil: Hasil analisis data pada 54 subjek penelitian menunjukkan hubungan negatif antara pengetahuan tentang kode etik kedokteran dengan kejadian kekerasan di wahana

Untuk mengetahui Apakah hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran

SNI 2839:2008. Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan

Tujuan komunikasi dari Perancangan Mandala Sebagai Media Belajar Dalam Meningkatkan Kreatifitas Pada Siswa/i SMK Prima Unggul Jurusan Multimedia adalah

KWA’LIPP merupakan usaha penyedia layanan perencanaan acara, baik untuk acara pribadi ataupun acara kejutan.Jasa yang ditawarkan adalah membuat sebuah acara menjadi