• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup manusia secara bersih dan terhormat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidup manusia secara bersih dan terhormat."

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

Perkawinan sangat penting untuk dilakukan yaitu untuk

memperoleh keturunan dalam kehidupan manusia baik perorangan

maupun kelompok, dengan jalan perkawinan yang sah. Pergaulan hidup

berumah tangga dibina dalam suasana damai, tenteram, dan penuh rasa

kasih sayang antara suami-isteri. Anak keturunan dari hasil perkawinan

yang sah menghiasi kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan

kelangsungan hidup manusia secara bersih dan terhormat.

Perkawinan dapat menjadi wadah pertemuan dari sekian banyak

gejala keislaman. Di dalam perkawinan terdapat prosedur yang mengikat,

seperti syarat, rukun, dan larangan yang berada pada skala hukum serta

lahir dengan cara perspektif. Aktivitas perkawinan menurut hukum

melibatkan beberapa pihak yang bersangkutan seperti calon suami-isteri,

wali nikah, dan saksi. Keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah

merupakan suasana yang diinginkan setiap perkawinan (Abdul Gani

Abdullah, 1994: 39).

Suatu perkawinan baru dapat dikatakan sebagai perbuatan hukum

apabila dilakukan menurut ketentuan hukum yang berlaku secara positif.

Ketentuan hukum yang mengatur mengenai tata cara perkawinan yang

dibenarkan oleh hukum adalah seperti yang diatur dalam Undang-undang

(2)

Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 tentang Perkawinan, sehingga

perkawinan ini akan mempunyai akibat hukum yaitu akibat yang

mempunyai hak mendapatkan pengakuan dan perlindungan hukum. Pasal

2 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

menentukan bahwa suatu perkawinan baru dapat dikatakan sebagai

perkawinan yang sah menurut hukum apabila perkawinan itu dilakukan

menurut masing-masing agama dan kepercayaannya dan ayat (2)

menentukan tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Pencatatan perkawinan dalam pasal-pasal tersebut di atas bertujuan

untuk mewujudkan ketertiban perkawinan dalam masyarakat. Hal ini

merupakan suatu upaya yang diatur melalui perundang-undangan untuk

melindungi martabat dan kesucian perkawinan, dan lebih khusus lagi

untuk melindungi kaum wanita dalam kehidupan rumah tangga. Melalui

pencatatan perkawinan yang dibuktikan dengan akta nikah, yang

masing-masing suami-isteri mendapat salinannya, sehingga apabila terjadi

perselisihan atau percekcokan di antara mereka sebagai akibat dari ketidak

konsistenan salah satu pihak untuk mewujudkan tujuan perkawinan

membentuk keluarga sakinah, maka yang lain dapat melakukan upaya

hukum guna mempertahankan atau memperoleh hak masing-masing,

karena dengan akta tersebut suami-isteri memiliki bukti otentik atas

(3)

Akta nikah menjadi bukti otentik dari suatu pelaksanaan

perkawinan sehingga dapat menjadi “jaminan hukum” bila terjadi salah

seorang suami atau isteri melakukan suatu tindakan yang menyimpang.

Selain itu, akta nikah juga berfungsi untuk membuktikan keabsahan anak

dari perkawinan itu, sehingga tanpa akta dimaksud, upaya hukum ke

pengadilan tidak dapat dilakukan (Zainuddin Ali, 2006: 29). Maka jelaslah

bahwa pencatatan nikah untuk mendapatkan akta nikah tersebut adalah

sangat penting. Sebagaimana disinyalir dalam Pasal 7 Ayat (1) Kompilasi

Hukum Islam : “Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah

yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah”. Konsekuensi dari dijadikannya

akta nikah sebagai satu-satunya alat bukti perkawinan bagi mereka yang

tidak mencatatkan perkawinannya, maka segala macam akibat hukum

yang terkait dengan peristiwa perkawinan tidak dapat diselesaikan melalui

jalur hukum, seperti pengajuan perceraian ke Pengadilan, pembagian harta

bersama, pembagian warisan, status anak dan lain-lain.

Di satu sisi peraturan perundang-undangan di Indonesia

mewajibkan pencatatan perkawinan dan menjadikannya sebagai

satu-satunya alat bukti bagi adanya perkawinan yang berarti secara logis tidak

ada jalan keluar bagi yang melanggar ketentuan ini untuk menyelesaikan

persoalannya secara hukum di belakang hari. Namun, di sisi lain

perundang-undangan membuka pintu bagi mereka yang tidak dapat

membuktikan adanya perkawinan mereka dengan alat bukti akta nikah

(4)

resmi yaitu Pengadilan Agama dengan dibukanya jalan bagi penetapan

nikah mereka (itsbat nikah). Hal ini sesuai dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 7 Ayat (2) yang berbunyi “Dalam hal perkawinan tidak dapat

dibuktikan dengan akta nikah, dapat diajukan itsbat nikahnya ke

Pengadilan Agama”. Dalam Pasal 49 Undang-Undang No. 7 Tahun 1989

tentang Peradilan Agama yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 3

Tahun 2006 dan terakhir dengan Undang-Undang No. 50 Tahun 2009,

kompetensi absolut Pengadilan Agama di antaranya adalah tentang

perkawinan dan termasuk di dalamnya yaitu tentang itsbat nikah.

Membicarakan itsbat nikah akan terkait dengan sesuatu yang

negatif terhadap suatu peristiwa hukum yang mendahuluinya dan

terkadang terkesan jika hal itu dirasakan suatu kelalaian mengapa pada

waktu itu tidak mendaftarkan perkawinan yang telah dilaksanakan

tersebut. Namun, kenyataan dalam masyarakat sering seperti itu, seolah

ada anggapan jika sudah sah secara agama maka dirasakan cukup, tetapi di

sisi lain ketika berhadapan dengan institusi Negara maka dirasakan ada

sesuatu yang mengharuskan mereka untuk mau tidak mau harus

mentaatinya.

Fenomena itsbat nikah telah banyak terjadi di beberapa daerah di

negara Indonesia, seperti yang terjadi di Jakarta pada hari Minggu tanggal

15 Mei 2013 tepatnya di daerah Tugu Monas Jakarta telah dilaksanakan

itsbat nikah massal. Perhelatan tersebut diikuti oleh 349 pasangan

(5)

diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Lembaga

zakat ini menyelenggarakan acara berjudul Wedding On The Street, Pelaminan Nusantara untuk memecahkan rekor MURI sebagai pelaminan

terpanjang (Jawa Pos, 2013). Acara ini penting untuk mereka yang selama

ini tidak punya cukup uang untuk melaksanakan pernikahan, atau yang

belum sampai nikah secara resmi di KUA. Dengan ini mereka bisa

mendapatkan buku nikah setelah mengikuti sidang itsbat nikah.

Selain di Jakarta, itsbat nikah juga terjadi di Surabaya yaitu

sebanyak 154 pasangan suami-isteri di Kota Surabaya, Jawa Timur,

mengikuti nikah dan itsbat massal yang digelar Baitul Muslimin Indonesia

Surabaya di Balai Pemuda, pada hari Sabtu tanggal 19 Januari 2013.

“Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Kota Surabaya Muklish Amal mengatakan pasutri yang ikut nikah dan itsbat massal berasal dari beberapa kecamatan di Surabaya, seperti Kenjeran, Semampir, Simokerto, Sukomanunggal dan lainnya. "Yang paling banyak pesertanya dari Pasuruan. Ini khusus warga Surabaya saja," katanya. Menurut dia, kegiatan sosial ini bertujuan memberikan kemudahan kepada warga yang tidak mampu dalam kepengurusan nikah” (KBRN, 2013).

Dari kedua berita di atas jelas terlihat masih banyaknya pasangan

suami-isteri di Indonesia yang pernikahannya belum sah secara hukum

Negara. Hal tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Perkawinan yang

belum sah secara hukum sangat berpengaruh terhadap status anak (nasab).

Dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan tentang kriteria anak sah (yang dilahirkan dalam ikatan perkawinan yang sah), sebagaimana yang dicantumkan dalam Pasal 99 Kompilasi Hukum Islam sebagai Instruksi Presiden Tahun 1991, yang berbunyi bahwa anak yang sah adalah anak

(6)

yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah dan hasil pembuahan suami isteri yang di luar rahim dan dilahirkan oleh isteri tersebut.

Dalam Pasal 42 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dijelaskan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dan atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Yang termasuk dalam kategori pasal ini adalah:

1. Anak yang dilahirkan oleh wanita akibat suatu ikatan perkawinan yang sah.

2. Anak yang dilahirkan oleh wanita di dalam ikatan perkawinan dengan tenggang waktu minimal 6 (enam) bulan antara peristiwa pernikahan dengan melahirkan bayi.

3. Anak yang dilahirkan oleh wanita dalam ikatan perkawinan yang waktunya kurang dari kebiasaan masa kehamilan tetapi tidak diingkari kelahirannya oleh suami.

Pernikahan siri dianggap sah secara agama Islam, yaitu adanya ijab

dan kabul, wali nikah, 2 orang saksi dan pengantin sudah cukup umur.

Namun, perkawinan tersebut juga harus sah secara hukum Negara. Tanpa

adanya pencatatan secara hukum Negara, maka anak-anak yang lahir dari

perkawinan tersebut tidak dapat dibuktikan secara hukum merupakan anak

sah dari ayahnya. Akibatnya, si anak hanya memiliki hubungan hukum

keperdataan dengan ibu yang melahirkannya, karenanya anak di luar

kawin tidak mempunyai hak mewaris atas harta kekayaan ayah dan

keluarga ayahnya.

Perkawinan yang tidak dicatatkan akan merugikan kepentingan dan

mengancam pemenuhan, perlindungan, dan penegakan hak anak. Sebagai

(7)

anak-anak yang dilahirkan, baik menyangkut hukum keluarga maupun hak-hak

anak yang dijamin sebagai hak asasi manusia (child’s rights are human rights).

Adanya perkawinan yang tidak dicatatkan merupakan hambatan

dan mengandung resiko bagi pengakuan dan pemenuhan hak-hak anak

dalam hukum keluarga, yatu berdampak pada hubungan perdata,

pengakuan nasab atau garis keturunan (formal), hak mewaris,

pemeliharaan dan biaya hidup. Bahkan kasih sayang dan tanggung jawab

orang tuanya untuk tumbuh dan kembang anak secara bersamaan

berdampak pula bagi pemenuhan hak-hak anak sebagai HAM dan sebagai

subjek warga negara, seperti hak atas identitas (akta kelahiran, relasi

kekerabatan, kewarganegaraan). Anak berhak mengetahui asal usul orang

tuanya, dibesarkan dan diasuh orang tuanya sendiri [Pasal 7 Ayat (1)

Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak]. Anak

yang lahir dari perkawinan yang tidak dicatatkan, dengan demikian tidak

tercatatkan ke dalam sistem pencatatan, dan karenanya tidak memiliki

dokumen formal yang diterbitkan Pemerintah. Hal ini menjadi hambatan

yuridis dalam pemenuhan hak atas identitas, yakni hak atas akta

kelahiran. Alih-alih untuk anak yang dari perkawinan tidak dicatatkan,

pemenuhan hak identitas yakni akta kelahiran atas anak dari perkawinan

yang sah (dicatatkan) saja masih belum memadai atau cenderung gagal

dilaksanakan (Tim KPAI, 2013).

“Anak Indonesia yang memiliki akta kelahiran sekitar 54,79 persen, dari jumlah tersebut 14,57 persen tidak dapat menunjukkan

(8)

akta kelahiran, sedangkan jumlah anak yang tidak memiliki akta kelahiran 44,09 persen (Susenas 2010, BPS). Jika dibanding dengan data kependudukan tahun 2005, pencatatan kelahiran setelah disahkannya UU Nomor 23 Tahun 2006 bisa dikatakan gagal. Karena tidak ada kenaikan signifikan dalam pencatatan kelahiran anak yang menggunakan asas “Stelsel Aktif bagi Penduduk”, sebagaimana data berikut ini. Data Penduduk Usia 0-4 Tahun yang Memiliki Akta Kelahiran menurut Provinsi (Sensus BPS, 2005), sebelum UU No. 23 Tahun 2006 disahkan, sebanyak 42,82%. Sedangkan data Penduduk Usia 0-4 Tahun yang memiliki Akta Kelahiran, (BPS, Susenas 2011), setelah UU Nomor 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan disahkan sebanyak 59%” (Tim KPAI, 2013).

Oleh karena akta kelahiran adalah yang pertama, maka ketiadaan

akta kelahiran berimplikasi luas kepada pemenuhan hak-hak anak lain,

terutama hak atas jaminan sosial dan pendidikan. Dalam hal

perkembangan regulasi dan kebijakan jaminan sosial yang cenderung

mengarah kepada dokumen formal, maka anak-anak yang tidak

memperoleh akta kelahiran karena tiadanya perkawinan tidak dicatatkan

akan semakin tersingkirkan dari akses jaminan sosial.

Mengenai hak-hak seorang anak secara rinci dan khusus telah

diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan

Anak, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi

Manusia, dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak. Dicantumkannya hak-hak seorang anak dalam

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

sebagai upaya untuk menjamin tewujudnya kesejahteraan anak, yaitu suatu

tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan

(9)

sosial, terutama terpenuhinya kebutuhan pokok anak. Undang-Undang

Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak membedakan hak-hak

seorang anak secara umum dan hak-hak seorang anak secara khusus bagi

anak-anak yang mengalami hambatan rohani, jasmani, sosial, dan

memerlukan pelayanan khusus. Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun

1999 tentang Hak Asasi Manusia terdapat 15 Pasal, yakni Pasal 52 sampai

dengan Pasal 66 yang mengatur mengenai hak-hak anak. Demikian pula

hak-hak seorang anak diatur pula dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 18

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,

dengan maksud memberikan perlindungan dan memberikan jaminan

pemenuhan hak-hak anak tersebut dan tidak adanya perlakuan diskriminasi

terhadap anak-anak (Rachmadi Usman, 2006: 352-357).

Fenomena tentang itsbat nikah juga terjadi di Kabupaten Kulon

Progo. Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa

Yogyakarta dimana masih banyak pasangan suami isteri yang

pernikahannya belum dicatatkan atau sah secara hukum Negara. Hal ini

terlihat dari banyaknya permohonan itsbat nikah ke Pengadilan Agama

Wates. Sebagai contoh jumlah permohonan itsbat nikah dari tahun 2011

(10)

Tabel 1. Jumlah Permohonan Itsbat Nikah di Pengadilan Agama Wates Periode Tahun 2011-Juli 2013

No Tahun Jumlah Permohonan Itsbat Nikah

1 2011 22

2 2012 15

3 Januari-Juli 2013 3

Sumber: Dokumen Pengadilan Agama Wates, diolah pada tanggal 20 Juli 2013

Jika melihat data tersebut di atas bukanlah jumlah yang sedikit

perkara permohonan itsbat nikah ke Pengadilan Agama Wates. Terdapat

berbagai alasan pemohon dalam mengajukan permohonan itsbat nikah.

Salah satu dari alasan tersebut yaitu untuk membuat akta kelahiran guna

mengurus pembagian warisan. Sebagai contoh yaitu Penetapan Pengadilan

Agama Wates dengan Nomor: 0005/Pdt.P/2011/PA.Wt. Dalam penetapan

tersebut hakim telah mengabulkan permohonan pemohon untuk

mengitsbatkan pernikahan ayah dan ibu pemohon. Itsbat nikah tersebut

bertujuan untuk mengurus pembuatan akta kelahiran yang memerlukan

bukti pernikahan ayah dan ibu pemohon, sedangkan pemohon tidak

mempunyai bukti tersebut dikarenakan pernikahan terjadi sebelum

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan belum

dicatatkan ke Petugas Pencatat Nikah. Namun, karena pertimbangan

(11)

hakim mengabulkan permohonan pemohon untuk mengitsbatkan

pernikahan ayah dan ibu pemohon.

Menurut Buku Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan

Agama yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia yaitu

“Permohonan itsbat nikah yang dilakukan oleh anak, wali nikah, dan pihak

lain yang berkepentingan harus bersifat kontensius, dengan mendudukkan

suami dan isteri dan/atau ahli waris lain sebagai Termohon”. Akan tetapi,

dalam penyelesaian beberapa perkara itsbat nikah di Pengadilan Agama

Wates, salah satunya penyelesaian perkara Nomor:

0005/Pdt.P/2011/PA.Wt sebagai contoh di atas, dikategorikan sebagai

perkara voluntair yang produknya berupa penetapan. Hal tersebut tentu

tidak sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh Mahkamah Agung.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis bermaksud

mengkaji secara mendalam melalui sebuah penelitian yang berjudul:

“PELAKSANAAN ITSBAT NIKAH DI PENGADILAN AGAMA WATES”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat

diidentifikasikan beberapa permasalahan yang dapat diteliti, antara lain :

1. Adanya pasangan suami isteri yang tidak mempunyai akta nikah atau

(12)

2. Banyaknya anak yang tidak memiliki akta kelahiran karena

perkawinan orang tuanya tidak dicatatkan.

3. Adanya hak-hak anak yang tidak terpenuhi disebabkan karena tidak

adanya akta kelahiran.

4. Adanya permohonan itsbat nikah di Pengadilan Agama Wates.

5. Masih adanya pelaksanaan itsbat nikah di Pengadilan Agama Wates

yang kurang sesuai dengan ketentuan Mahkamah Agung.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan pada identifikasi masalah di atas, maka peneliti perlu

untuk melakukan pembatasan masalah. Untuk pengkajian selanjutnya

peneliti membatasi penelitian ini pada dua pembatasan pokok yaitu:

1. Adanya permohonan itsbat nikah di Pengadilan Agama Wates.

2. Masih adanya pelaksanaan itsbat nikah di Pengadilan Agama Wates

yang kurang sesuai dengan ketentuan Mahkamah Agung.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka peneliti mengambil

rumusan masalah yaitu:

1. Apa alasan permohonan itsbat nikah di Pengadilan Agama Wates?

(13)

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui alasan permohonan itsbat nikah di Pengadilan

Agama Wates.

2. Untuk mengetahui pelaksanaan itsbat nikah di Pengadilan Agama

Wates.

F. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara

teoretis maupun praktis. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian

ini, yaitu:

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

(ilmu) dan wawasan di bidang hukum serta khususnya hukum perdata

dan hukum Islam yang menjadi bagian dari objek kajian Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn). Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan

salah satu rujukan bagi penelitian yang sejenis di masa yang akan

datang.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk

(14)

bidang PKn, khususnya dalam objek kajian hukum perdata dan

hukum Islam.

b. Bagi Masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan

pengetahuan serta menambah wawasan masyarakat sehingga dapat

menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berpikir kritis tentang

pentingnya pencatatan perkawinan.

G. Batasan Istilah

Untuk mencegah adanya kesalah pahaman terhadap permasalahan

yang akan diteliti, maka peneliti akan memberikan gambaran yang lebih

jelas tentang maksud dari judul penelitian, yaitu:

1. Pelaksanaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelaksanaan adalah

proses, cara, perbuatan, usaha, perbuatan melaksanakan (rancangan,

keputusan, dsb) (Tim Penyusun, 2008: 774).

2. Itsbat Nikah

Itsbat nikah berasal dari bahasa Arab yang terdiri isbat dan nikah. Itsbat berasal dari bahasa Arab yang berarti penetapan,

pengukuhan, pengiyaan. Itsbat nikah sebenarnya sudah menjadi istilah

dalam Bahasa Indonesia dengan sedikit revisi yaitu dengan sebutan

(15)

adalah penetapan tentang kebenaran (keabsahan) nikah (Tim

Penyusun, 2008: 549). Itsbat nikah adalah pengesahan atas perkawinan

yang telah dilangsungkan menurut syariat agama Islam, akan tetapi

tidak dicatat oleh KUA atau PPN yang berwenang.

3. Pengadilan Agama

Pengadilan Agama (PA) merupakan sebuah lembaga peradilan

di lingkungan Peradilan Agama yang berkedudukan di ibu kota

kabupaten atau kota. Sebagai Pengadilan Tingkat Pertama, Pengadilan

Agama memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa, memutus,

dan menyelesaikan perkara-perkara antara orang-orang yang beragama

Islam di bidang:

a. perkawinan

b. warisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan berdasarkan hukum

Islam

c. wakaf dan shadaqah

d. ekonomi syari'ah

Dari batasan pengertian di atas, penelitian ini akan membahas

mengenai proses penetapan tentang kebenaran (keabsahan) nikah di

Gambar

Tabel 1. Jumlah Permohonan Itsbat Nikah di Pengadilan Agama Wates Periode Tahun 2011-Juli 2013

Referensi

Dokumen terkait

Isi Naskah Letter of Intent (LoI) ini berisi minat kerjasama yaitu untuk membangun hubungan persahabatan dan kerjasama pertukaran antara kedua kota atas dasar keuntungan bersama

Metode yang digunakan adalah Metode Clinic-Based Dan Community Empowerment Pada Pemberdayaan Pendidik Dan Konselor Sebaya Dalam Program Kesehatan Reproduksi

Skrining aktivitas antifungi terhadap hidrolisat menunjukkan bahwa peptida yang diperoleh dari hasil hidrolisis susu kambing pada pH 7 pada waktu hidrolisis 30 maupun

Berdasarkan pengamatan terhadap terhadap intensitas penyakit terlihat bahwa cara aplikasi bahan penginduksi melalui perendaman benih menunjukkan intensitas penyakit yang

Berdasarkan standardized regression weights dapat diketahui bahwa indikator disiplin merupakan indikator dari profesional yang paling berpengaruh dalam meningkatkan

Suhu permukaan laut perairan pantai Bhinor kompleks PLTU Paiton akibat air bahang berdasarkan kajian citra Satelit Landsat 7ETM+ memiliki kenaikan hingga 6°C

Pada waktu itu permukaan bumi yang ada di atas muka laut merupakan gurun, yang tidak disebabkan karena kekurangan air yang sangat besar (Sahara), tetapi karena pada waktu itu

Budaya keselamatan pasien pada setiap instalasi tergolong kuat dengan instalasi yang memiliki budaya keselamatan yang sangat kuat terdapat pada instalasi gawat