• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai sebuah gejala sosial, bahasa tidak dapat dipisahkan dari faktor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Sebagai sebuah gejala sosial, bahasa tidak dapat dipisahkan dari faktor"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam perspektif sosiolinguistik, bahasa tidak hanya dipandang sebagai sebuah gejala individual, tetapi juga sebagai sebuah gejala sosial. Sebagai sebuah gejala sosial, bahasa tidak dapat dipisahkan dari faktor kemasyarakatan. Bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat erat kaitannya dengan masyarakat penutur bahasa tersebut. Masyarakat penutur bahasa sangat beragam. Keragaman penutur bahasa ini menyebabkan bahasa yang dituturkan di dalam masyarakat pun beragam. Semakin beragam masyrakatnya, maka akan semakin banyak pula keragaman bahasa yang dimilki. Keragaman bahasa i n i muncul karena adanya kebutuhan penutur dalam memilih bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Istilah keragaman bahasa atau sering juga disebut variasi bahasa menurut C.A Ferguson dan J.D Gumperz dalam Aller (Ed.) 1973:92 (via Pateda, 1990:52) dapat diartikan sebagai berikut.

’ A variety is any body of human speech patterns which is sufficienly homogeneous to be analysed by avalaible techniques of synchronized description and which has a sufficiently large repetory of elements and their arrangements or procceses with broad enough semantic scope to function in all normal contexts of communication’’

Dari pengertian di atas, dijelaskan bahwa variasi bahasa memiliki pola-pola bahasa yang sama sehingga dapat dianalisis secara deskriptif. Pola-pola-pola

(2)

bahasa ini dibatasi oleh makna. Selain itu, pola-pola yang dibatasi makna tersebut dapat dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi.

Variasi bahasa dalam masyarakat timbul bukan hanya karena adanya kaidah-kaidah kebahasaan semata-mata. Variasi bahasa dalam masyarakat secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor. Kedua faktor tersebut yakni faktor-faktor nonlinguistik dan faktor-faktor situasional. Menurut Suwito (1985:3), faktor-faktor nonlinguistik meliputi faktor-faktor sosial seperti tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Adapun faktor-faktor situasional meliputi siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa. Menurut Pateda (1990:70), dalam variasi bahasa dikenal istilah bahasa slang. Bahasa slang diartikan sebagai bahasa yang dibuat untuk merahasiakan sesuatu dari orang lain.

Menurut Kridalaksana (1983:156), bahasa slang merupakan ragam bahasa yang tidak resmi yang dipakai oleh kaum remaja atau komunitas sosial tertentu untuk berkomunikasi secara intern sebagai usaha agar orang yang berasal dari luar komunitas tidak mengerti apa yang dikomunikasikan. Bahasa slang lazim digunakan sebagai bahasa pergaulan.

Bahasa slang ditandai dengan adanya pemendekan kata atau akronim, penggunaan kata yang diberi arti baru, bahkan penggunaan kosakata yang sama sekali baru. Selain itu, bahasa slang juga dapat ditandai dengan pembalikan tata bunyi (Kridalaksana, 1983:156).

(3)

Dengan demikian, bahasa slang yang dimaksud dalam penelitian ini dapat diartikan sebagai sebuah bahasa rahasia yang digunakan oleh komunitas tertentu untuk berkomunikasi antarsesama anggota. Ada tiga poin utama dalam bahasa slang, yakni digunakan oleh kelompok sosial tertentu, digunakan secara intern, dan bersifat rahasia. Kerahasiaan ini bertujuan untuk menjaga informasi dari orang di luar komunitas. Jadi, bahasa slang menjadi bahasa yang membuat suatu kelompok menjadi „eksklusif‟ karena teralienasi dari dunia luar.

Bahasa slang banyak digunakan oleh komunitas-komunitas sosial, terutama komunitas sosial yang memang sengaja mendikotomikan diri dari komunitas lain. Komunitas-komunitas sosial ini biasanya membentuk komunitas sendiri. Mereka menciptakan bahasa khusus yang bersifat rahasia. Bahasa ini hanya bisa dipahami oleh anggota komunitas tersebut. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memisahkan diri dari kelompok sosial lain.

Salah satu komunitas sosial yang menggunakan bahasa slang adalah komunitas waria. Komunitas waria lazim ditemui di kota-kota besar,

termasuk Yogyakarta. Menurut Sumarsono (2007:130), istilah waria

(singkatan dari wanita-pria) atau wadam (wanita-adam atau Hawa-Adam)

merujuk kepada orang-orang yang secara biologis atau fisik berkelamin laki-laki, tetapi berpenampilan (berpakaian dan berdandan) serta berperilaku seperti atau mengidentifikasikan diri sebagai perempuan.

Definisi yang lebih spesifik mengenai waria dikemukakan oleh

(4)

organization) bernama Arus Pelangi pada tahun 2012. Menurut penelitian Arus Pelangi yang bekerja sama dengan PLU Satu Hati Yogyakarta tahun 2012, waria dikategorikan ke dalam kelompok LGBT. LGBT merupakan

istilah umum yang merujuk pada kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan

Transgender dan atau Transeksual. Secara umum, perincian masing-masing kelompok yakni sebagai berikut.

a. Lesbian

Lesbian merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan perempuan yang memiliki ketertarikan secara emosional dan seksual terhadap perempuan lain.

b. Gay

Gay merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan

laki-laki yang memiliki ketertarikan secara emosional dan seksual terhadap laki-laki lain.

c. Biseksual

Biseksual merupakan istilah yang digunakan untuk

mengidentifikasikan baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki ketertarikan secara emosional dan seksual baik terhadap lawan jenis dan sesama jenisnya.

d. Transgender

Transgender merupakan istilah yang digunakan untuk

(5)

keinginan untuk menjalani hidup sebagai bagian dari gender lain tanpa mengubah alat kelamin bawaan lahir.

e. Transeksual

Transeksual merupakan istilah yang digunakan untuk

mengidentifikasikan baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki keinginan untuk menjalani hidup sebagai bagian dari gender lain dengan melakukan perubahan pada alat kelamin bawaan lahir.

Dalam penelitian tersebut, kelompok waria di Yogyakarta masuk dalam kategori kelompok transgender dan transeksual, umumnya transgender dan transeksual dari laki-laki ke perempuan. Sementara itu, transgender dan transeksual dari perempuan ke laki-laki lebih lazim disebut priawan, bukan waria.

Komunitas waria di Yogyakarta menggunakan bahasa khusus yang unik dan bersifat rahasia. Bahasa ini digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi antarsesama anggota saja. Bahasa yang mereka gunakan tidak dimiliki oleh komunitas sosial lain. Bahasa yang mereka gunakan inilah yang biasa disebut sebagai bahasa waria.

Seperti kebanyakan kelompok waria di kota besar lainnya, komunitas waria di Yogyakarta termasuk ke dalam kelompok masyarakat kelas bawah. Mayoritas waria di Yogyakarta berprofesi sebagai pengamen jalanan dan pekerja seks. Kelompok waria yang bekerja sebagai pengamen jalanan merupakan kelompok waria yang sudah tidak lagi menjadi pekerja seks. Faktor yang menyebabkan hal tersebut diantaranya karena mereka sudah

(6)

dianggap terlalu tua dan tidak menarik sehingga tidak laku lagi. Selain itu, mereka juga kalah bersaing dengan waria yang lebih muda. Keterbatasan lapangan pekerjaan formal yang tersedia untuk bisa mereka akses menjadi salah satu pemicu mengapa banyak waria yang memutuskan menjadi pekerja seks dan pengamen jalanan.

Profesi komunitas waria ini secara tidak langsung berpengaruh pada kosakata bahasa waria yang mereka gunakan sehari-hari. Pengaruh ini misalnya tampak pada penggunaan kosakata yang bersifat porno dan terkesan

vulgar. Kosakata seperti kentong yang berarti kontol „penis‟, apem yang

berarti „vagina‟, dan sisilia yang berarti silit (bahasa Jawa: „anus‟) seringkali

mereka gunakan dalam keseharian.

Komunitas waria di Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan komunitas waria di kota-kota lain. Waria-waria yang tergabung dalam komunitas waria di Yogyakarta tidak hanya berasal dari kota Yogyakarta dan sekitarnya saja, tetapi juga banyak waria yang berasal dari luar daerah. Meskipun berasal dari luar Jawa, mereka dapat beradaptasi dengan bahasa waria yang sedikit banyak telah terinterferensi oleh bahasa

Jawa seperti kata sisilia yang berasal dari kata dalam bahasa Jawa silit yang

berarti anus dan lenthes yang diambil dari kata bahasa Jawa lonthe yang

berarti pelacur.

Bahasa waria merupakan fenomena kebahasaan yang menarik untuk dikaji. Meskipun terkesan rumit dan tidak beraturan, bahasa waria memiliki

(7)

semacam pola dan kaidah khusus dalam proses pembentukannya. Pola dan kaidah ini dapat dipetakan dan dijabarkan secara linguistis.

Sebagai bahasa slang yang awalnya bersifat eksklusif dan hanya dimengerti oleh anggota kelompok waria saja, saat ini kosakata bahasa waria mulai dikenal dan digunakan oleh masyarakat umum. Bahasa waria ini mulai dikenal masyrakat luas karena sering digunakan oleh kalangan selebritis yang kemudian diadopsi oleh masyarakat. Hal ini misalnya terlihat pada beberapa

kosakata bahasa waria seperti kata rempong, capcus, cucok, bok, cin,

rumpi dan lain sebagainya. Kata-kata tersbut sudah banyak digunakan oleh masyarakat umum sebagai bagian dari bahasa “gaul”. Pembuatan kamus

bahasa gaul oleh Debby Sahertian yang diambil dari kosakata bahasa waria

secara tidak langsung turut meningkatkan prestise bahasa waria yang selama ini dianggap sebagai bahasa komunitas marginal. Meksipun demikian, jika hal tersebut terjadi secara terus-menerus, kerahasiaan bahasa waria bisa hilang.

Oleh karena itu, jika tidak dikaji secara lebih mendalam, dikhawatirkan identitas slang waria sebagai bahasa slang yang eksklusif dan rahasia menjadi hilang. Hal ini disebabkan oleh adanya „kebocoran‟ bahasa waria. „Kebocoran‟ ini bisa berdampak buruk terhadap komuintas waria karena mereka merahasiakan bahasa mereka dengan tujuan melindungi informasi dan diri mereka sendiri dari kelompok luar yang berpotensi menjadi ancaman bagi eksistensi mereka.

(8)

„Kebocoran‟ ini lebih diakibatkan oleh kelompok gay yang seringkali menggunakan kosakata yang mereka ambil dari kosakata bahasa waria kemudian mereka gunakan dalam keseharian. Kosakata-kosakata tersebut kemudian dianggap sebagai bahasa bencong yang merujuk pada kelompok

gay, bukan kelompok waria. Jika hal tidak dikaji secara lebih mendalam,

dikhawatirkan etimologi slang waria akan menjadi rancu.

1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut.

1. Apa saja pola dan kaidah yang digunakan dalam pembentukan

kata d a l am s l a n g w a ri a yang digunakan di wilayah Yogyakarta?

2. Apa relasi makna yang ditimbulkan dalam slang waria di wilayah

Yogyakarta?

3. Bagaimana fungsi penggunaan slang waria bagi komunitas waria di

wilayah Yogyakarta?

1. 3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, tujuan penelitian ini yaitu:

1. mengklasifikasi pola pembentukan kata ya n g d i gu n ak a n d al a m

(9)

2. menguraikan relasi makna yang digunakan dalam slang waria di wilayah Yogyakarta,

3. memaparkan fungsi penggunaan slang waria dalam komunitas waria

di wilayah Yogyakarta.

1. 4Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah cakrawala pengetahuan dalam bidang linguistik, terutama dalam kajian mengenai bahasa slang khususnya slang waria. Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif mengenai slang waria di Yogyakarta bagi penelitian selanjutnya dan sebagai dasar penyusunan kamus sederhana yang berisi daftar

leksikon kosakata bahasa waria.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Pembahasan slang waria dalam proposal penelitian ini dibatasi pada pembicaraan mengenai ragam bahasa waria yang digunakan oleh komunitas waria di sekitar wilayah Yogyakarta. Cakupan terma “Yogyakarta” dalam judul penelitian ini meliputi wilayah Kabupaten Sleman dan Kotamadya Yogyakarta. Pembatasan ini dilakukan karena data yang diambil diperoleh dari dua orang informan yang berasal dari dua komunitas waria yang berbeda.

(10)

Masing-masing informan berasal dari Kabupaten Sleman dan Kotamadya Yogyakarta.

Adapun pembahasan yang akan dilakukan meliputi pola dan kaidah yang digunakan dalam pembentukan ragam bahasa waria di Yogyakarta, relasi makna yang ditimbulkan, dan fungsi penggunaan bahasa waria di wilayah Yogyakarta. Data penelitian yang diambil merupakan data tuturan yang diperoleh dari dua informan yang masing-masing mewakili Kabupaten Sleman dan Kotamadya Yogyakarta. Informan yang dipilih merupakan waria-waria yang tergabung dalam komunitas waria-waria “Wadah Inspirasi Waria-Waria Bank Indonesia (WIWBI)” untuk wilayah Kotamadya Yogyakarta dan komunitas waria “Ebenezer” untuk wilayah Kabupaten Sleman. Komunitas WIWBI merupakan komunitas waria yang menjadi wadah inspirasi bagi waria-waria yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial di sekitar Bank Indonesia. Adapun komunitas Ebenezer merupakan komunitas waria yang menaungi waria yang berprofesi sebagai pengamen jalanan di sepanjang Jalan Solo dan jalan-jalan besar di sekitarnya.

1. 6 Tinjauan Pustaka

Penelitian yang secara khusus membahas tentang bahasa waria pernah dilakukan oleh Dede Oetomo pada tahun 1988. Dede Oetomo adalah seorang dosen yang juga berprofesi sebagai aktivis komunitas homoseksual GAYa Nusantara di Surabaya. Melalui makalah seminarnya yang berjudul “Bahasa

(11)

dasarnya ada dua pola pembentukan bahasa waria dan gay di Surabaya. Pola pembentukan yang pertama adalah struktur pembentukan kaidah perubahan bunyi yang produktif dan teramalkan. Pola pembentukan kedua adalah penciptaan istilah baru atau pemberian makna istilah umum yang sudah ada.

Adapun perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian Oetomo yakni tempat penelitian Oetomo di Surabaya sementara penelitian ini dilakukan di Yogyakarta. Perbedaan tempat penelitian ini menyebabkan perbedaan kosakata bahasa waria yang digunakan karena adanya perbedaan

dalam pola pembentukannya. Sebagai contoh, di Surabaya kata banci

berubah menjadi siban karena adanya pemenggalan silabe pertama kemudian

diberi awalan si- sedangkan di Yogyakarta kata banci berubah menjadi

bencong karena adanya modifikasi bunyi [a] menjadi [e]ditambah akhiran

-ong. Selain perbedaan tersebut, penelitian ini lebih menekankan fokus pada

kelompok waria.

Sementara itu, Sari (2000) dalam penelitiannya yang berjudul “Slang

waria dan Gay di Kotamadya Yogyakarta” juga membahas bahasa waria di

Yogyakarta. Dalam skripsi tersebut, Sari tidak hanya membahas bahasa waria

tetapi juga bahasa komunitas gay yang digunakan di wilayah Kotamadya

Yogyakarta. Data yang diperoleh Sari berupa data tuturan dan data tulisan. Meskipun secara sekilas penelitian yang dilakukan Sari hampir sama dengan penelitian ini, data penelitian yang diambil merupakan data tuturan 14 tahun yang lalu sehingga diasumsikan data telah mengalami perubahan. Sebagai

(12)

kata handphone yang belum populer pada masa itu. Selain itu, pada data

penelitian ini ditemukan variasi kata rumpi yang sudah digunakan dari dulu.

Kata rumpi dalam data penelitian ini memiliki variasi lain seperti rumput

dan rumpita. Kata lain yang juga mengalami perubahan yakni kata bintil

yang berubah menjadi binan. Kata ini merujuk pada kata banci atau

kelompok gay. Selain perbedaan data tersebut, penelitian ini hanya berfokus pada slang waria. Penelitian sebelumnya belum membahas proses pembentukan slang waria Yogyakarta secara terperinci. Cakupan wilayah penelitian ini juga lebih luas yang meliputi wilayah Kabupaten Sleman dan Kotamadya Yogyakarta.

Selain Sari, penelitian tentang bahasa waria juga pernah dilakukan oleh Selvia (2002) dalam penelitiannya yang berjudul “Kajian Pragmatik Bahasa Waria di Yogyakarta”. Dalam skripsi tersebut, Selvia membahas bahasa waria yang dikaji melalui pendekatan pragmatik. Penelitian Selvia lebih menekankan pada penggunaan bahasa waria dalam kaitannya dengan kegiatan berkomunikasi. Dalam penelitian Selvia, dijelaskan bahwa selain digunakan sebagai sarana komunikasi antaranggota dalam komunitas waria, bahasa waria juga digunakan sebagai alat solidaritas yang mengakrabkan sesama anggota komunitas waria. Komunitas waria juga hanya akan menggunakan bahasa waria kepada sesama anggota saja. Adapun perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian Selvia terletak pada fokus penelitian. Penelitian ini menekankan pada pola pembentukan dan relasi makna yang ditimbulkan. Selain itu, pendekatan yang digunakan juga berbeda. Selvia

(13)

menggunakan pendekatan pragmatik sedangkan penelitian ini akan menggunakan pendekatan sosiolinguistik.

Adapun penelitian yang mengkaji tentang bahasa slang sendiri telah banyak dilakukan sebelumnya. Penelitian-penelitian tersebut mengkaji penggunaan bahasa slang dalam komunitas sosial tertentu. Salah satu penelitian mengenai bahasa slang pernah dilakukan sebelumnya oleh Hariani (2001). Hariani meneliti penggunaan bahasa slang dalam komunitas anak jalanan dalam penelitiannya yang berjudul “Slang Anak Jalanan di Kotamadya Yogyakarta”. Dalam penelitian tersebut, Hariani membahas proses pembentukan, relasi semantik, dan fungsi sosial slang bagi komunitas anak jalanan di Kotamadya Yogyakarta. Adapun perbedaan penelitian Hariani dengan penelitian ini yakni terletak pada kelompok sosial yang diteliti. Heriani meneliti slang pada kelompok anak jalanan sedangkan penelitian ini mengkaji slang pada kelompok waria.

1. 7 Landasan Teori 1.7.1 Sosiolinguistik

Selain dikaji secara stuktural, kajian linguistik juga dikaitkan dengan faktor di luar kebahasaan. Salah satu faktor di luar kebahasaan yang sering dikaitkan dengan kajian linguistik adalah faktor sosial. Kajian linguistik yang meneliti faktor kebahasaan yang dikaitkan dengan faktor sosial seperti kelas-kelas sosial biasa disebut kajian sosiolinguistik.

(14)

Pengertian di atas senada dengan pengertian yang diberikan oleh Sumarsono. Menurut Sumarsono (2007:1), sosiolinguistik merupakan kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan. Faktor-faktor kemasyarakatan yang mempengaruhi bahasa di antaranya meliputi status sosial, usia, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, dan lain sebagainya.

Selain Sumarsono, ada pula Kridalaksana (1978:94 via Chaer, 2004:3) yang mendefinisikan sosiolinguistik sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan pelbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa.

Semantara itu, Fishman (1972:4 via Chaer, 2004:3) juga mengemukakan pengertian sosiolinguistik. Menurut Fishman, sosiolinguistik merupakan kajian mengenai ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur.

1.7.2 Varisasi Bahasa

Dalam perspektif sosiolinguistik, bahasa dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar faktor kebahasaan. Adanya berbagai faktor di luar faktor kebahasaan tersebut menyebabkan timbulnya variasi atau ragam bahasa. Istilah variasi atau ragam menurut C.A Ferguson dan J.D Gumperz dalam Aller (Ed.) 1973: 92 (via Pateda, 1990:52) dapat diartikan sebagai berikut.

’ a variety is any body of human speech patterns which is sufficienly homogeneous to be analysed by avalaible techniques of synchronized description and which has a sufficiently large repetory of elements and their

(15)

arrangements or procceses with broad enough semantic scope to function in all normal contexts of communication’’

Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa variasi bahasa memiliki pola-pola bahasa yang sama sehingga dapat dianalisis secara deskriptif. Pola-pola tersebut dibatasi oleh makna. Selain itu, pola-pola yang dibatasi makna tersebut dapat dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi.

Variasi bahasa dapat dibagi menjadi beberapa macam menurut faktor di luar faktor kebahasaan yang mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi variasi bahasa yakni faktor-faktor tempat, waktu, pemakai bahasa, pemakaiannya, situasi, dan status. Menurut Patteda (1990:70), dalam variasi bahasa yang ditinjau dari segi pemakaiannya, dikenal

istilah bahasa bahasa kan (cant). Bahasa kan diartikan sebagai bahasa yang

dibuat untuk merahasiakan sesuatu dari orang lain. Bahasa kan ini termasuk ke dalam bahasa slang.

1.7.3 Bahasa Slang

Menurut Kridalaksana (1983:156), bahasa slang merupakan ragam bahasa yang tidak resmi yang dipakai oleh kaum remaja atau komunitas sosial tertentu untuk berkomunikasi intern sebagai usaha orang luar komunitas tidak mengerti. Bahasa slang ini dapat berupa kosakata yang

serba baru dan berubah-ubah. Sementara itu, dalam buku Tata Bahasa baku

Bahasa Indonesia (Moeliono dan Soeyono, peny., 1988:851), bahasa slang didefinisikan sebagai ragam bahasa tidak resmi, yang tidak baku, bersifat

(16)

musiman, dipakai oleh kaum remaja atau komunitas sosial tertentu untuk berkomunikasi intern dengan maksud agar orang yang bukan merupakan anggota komunitas tidak mengerti apa yang dikomunikasikan. Berbeda halnya dengan Suradtidjo (via Heriani, 2001:9) yang menggolongkan bahasa slang sebagai salah satu bentuk kreativitas berbahasa yang dapat menciptakan bentuk baru, kata baru, dan lambang yang berhubungan dengan bahasa.

Adapun menurut Keraf (via Hariani, 2001:10), slang adalah kata percakapan tinggi dan murni, kata-kata nonstandard yang informal, yang disusun secara khas, atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer, atau kata-kata kiasan khas, bertenaga, dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Danandjaya (via Hariani 2001:23) berpendapat bahwa bahasa slang merupakan salah satu bentuk bahasa rakyat. Maksud penciptaan bahasa slang adalah untuk menyamarkan bahasa terhadap orang luar. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa slang merupakan ragam

bahasa colloquial (bahasa percakapan) yang digunakan dalam pergaulan,

khususnya pergaulan remaja dan komunitas sosial tertentu. Bahasa slang umumnya bersifat rahasia. Penggunaan bahasa slang ini dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan informasi dari orang lain yang bukan anggota komunitas.

Menurut Crystal (1992:53) bahasa slang mempunyai beberapa fungsi. Adapun fungsi bahasa slang diantaranya meliputi sebagai sarana untuk (1) menyegarkan suasana, sarana untuk (2) menciptakan humor, sarana untuk (3) menyindir atau mengejek, sarana untuk (4) mengintimkan/mengakrabkan

(17)

hubungan, sarana untuk (5) merahasiakan informasi tertentu, sarana untuk (6) menghaluskan sesuatu yang dianggap vulgar atau tabu, sarana untuk (7) mengungkapkan sikap dan perasaan hati, dan sarana untuk (8) menunjukkan keanggotaan seseorang terhadap kelompok sosial tertentu, dan sebagainya.

1.7.4 Relasi Makna

Relasi makna diartikan sebagai hubungan kebermaknaan antara sebuah kata maupun satuan kebahasaan lainnya dengan kata atau satuan kebahasaan yang lain. Adapun Chaer (1994:297) mengemukan difinisi relasi makna yakni hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa yang lainya lagi. Dalam relasi makna, hubungan makna dapat mencakup beberapa hal seperti kesamaan makna (sinonimi), kebalikan makna (antonimi), kegandaan makna (polisemi) dan lain sebagainya.

1. 8 Metode Penelitian

Penelitian melewati tiga tahap yang dimulai dari tahap penyediaan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Adapun langkah-langkah dari ketiga tahap tersebut akan dijabarkan sebagai berikut.

1. Tahap Penyediaan Data

Data yang dijadikan bahan analisis dalam penelitian ini merupakan data tuturan yang diambil pada 1 Maret 2014. Data diperoleh dari dua orang informan. Informan pertama yang berinisial E.F berasal dari komunitas waria WIWBI (Wadah Inspirasi Waria-Waria Bank Indonesia). Informan kedua

(18)

berinisial C.V berasal dari komunitas Ebenezer. Populasi data yang diperoleh sebanyak 147 kosakata slang waria. Sementara itu, sampel yang digunakan

sebanyak 135 kosakata. Metode yang digunakan dalam penyediaan data ini

ialah metode simak yakni dengan teknik simak libat cakap dan teknik pancing melalui cakap semuka. Pertama, informan diajak bercakap-cakap mengenai topik seputar profesi dan keseharian yang biasa mereka jalani. Topik yang dipilih merupakan topik yang ringan. Hal ini dimaksudkan agar tercipta kedekatan emosional dengan informan.

Selanjutnya, informan dipancing untuk mengujarkan kosakata bahasa waria. Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu dipancing dengan pertanyaan yang sudah diinterferensi dengan kosakata bahasa waria. Kosakata bahasa waria yang diujarkan lalu direkam dan dicatat untuk kemudian dituliskan dalam kartu data. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam analisis data.

2. Tahap Analisis Data

Setelah data yang diperlukan untuk analisis terkumpul, tahap selanjutnya yang ditempuh adalah tahap analisis data. Analisis data slang waria dilakukan dengan mengamati secara cermat kosakata bahasa waria. Data kosakata bahasa waria yang diperoleh kemudian ditentukan pola-pola pembentukan dan relasi makna kosakatanya. Adapun metode yang digunakan pada tahap analisis data adalah metode padan. Metode padan dipilih karena alat penentunya berada di luar satuan kebahasaan.

Langkah selanjutnya yakni mengklasifikasikan data berdasarkan pola pembentukan kata dan relasi makna yang telah ditemukan. Setelah dilakukan

(19)

klasifikasi terhadap pola-pola pembentukan dan relasi makna kosakata ragam bahasa waria, langkah selanjutnya adalah menjabarkan fungsi penggunaan ragam bahasa waria. Teori yang akan digunakan menentukan pola-pola pembentukan kosakata dalam ragam bahasa waria yakni teori sosiolingustik dengan fokus kajian ragam bahasa slang. Sementara itu, teori yang akan digunakan untuk menjabarkan relasi makna yakni semantik dan teori pragmatik untuk menjabarkan fungsi penggunaan ragam bahasa waria.

3. Tahap Penyajian Hasil Analisis Data

Setelah tahap penyediaan data dan tahap analisis data selesai dikerjakan, tahap terakhir yang dikerjakan adalah tahap penyajian hasil analisis data. Tahap penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode informal. Hasil penelitian dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk kata-kata.

1. 9 Sistematika Penyajian

Pelaporan hasil penelitian ini akan disajikan dalam lima bab. Bab I meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, ruang lingkup penelitian, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II mendeskripsikan pola dan kaidah pembentukan slang waria. Adapun pola yang digunakan dalam

pembentukan slang waria terbagi menjadi 13 yakni (1) pola modifikasi bunyi

dan penambahan akhiran, (2) pola penggunaan akronim dan singkatan, (3) pola penggunaan nama yang lazim digunakan di Indonesia, (4) pola

(20)

lagu, (6) pola peminjaman kosakata bahasa asing, (7) pola perubahan dan

penggantian akhiran dengan –se, (8) pola pemanjangan dan penggantian

akhiran dengan –dang , (9) pola penambahan sisipan, (10) pola pergeseran

fonem, (11) pola penggunaan nama tempat, (12) pola penggantian dan

pemanjangan kata, dan (13) pola penggunaan metafora. Pada Bab III

disajikan relasi makna slang waria yang meliputi relasi makna sinonimi, homonimi, antonimi, polisemi, dan metafora. Bab IV menyajikan analisis fungsi penggunaan slang waria yang di antaranya sebagai alat peningkat solidaritas, alat menunjukkan eksistensi, sarana menginformasikan rahasia dan lain sebagainya. Bab V berisi penutup dan kesimpulan yang kemudian dilanjutkan dengan halaman daftar pustaka.

Referensi

Dokumen terkait

1.2 Merespon makna yang terdapat dalam percakapan transaksional ( to get things done ) dan interpersonal (bersosialisasi) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa

Sejalan dengan hal tersebut, Chaer (2010:68) beranggapan jargon termasuk ragam bahasa sosial yang dipakai secara terbatas oleh kelompok masyarakat dan istilah yang

Dalam penelitian ini, penulis akan mencoba merumuskan masalah sebagai berikut:.. Bagaimana kemampuan pemahaman teks berbahasa Jepang mahasiswa semester 3 pendidikan

Menurut Kridalaksana (2008:67), fungsi adalah: (1) beban makna suatu kesatuan bahasa; (2) hubungan antara satu satuan dengan unsur-unsur gramatikal, leksikal,

29 Sehingga, budaya dapat diperkenalkan melalu lembaga ataupun universitas yang memiliki pembelajaran bahasa, dengan kata lain, diplomasi Bahasa merupakan salah satu upaya

Rata-rata remaja tersebut mempunyai statement “ Kalau ada dipakai, kalau tidak ada tidak dicari.“ Sedangkan remaja yang di kategorikan sebagai pecandu yaitu remaja yang

Implikatur dalam bahasa Jepang disebut gan i 「 含 意 」 menurut Kridalaksana (2008:91), “implikatur adalah apa yang secara logis dianggap menjadi simpulan dari

Mengingat hilangnya suatu komunitas masyarakat pedalaman Mariah Dolog tersebut, sebagai manifestasi kehidupan sosial yang pernah ada, oleh penulis menarik untuk mengkajinya