II - 1
BAB II
KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA
2.1. LAHAN DAN HUTAN 2.1.1. Kondisi Eksisting
Sumber daya lahan di wilayah perkotaan merupakan bagian dari bentang alam yang meliputi lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, hidrologi tanah dan keadaan vegetasi alami yang berpontensi dapat mempengaruhi penggunaan lahan pada wilayah kota. Ketersediaan lahan merupakan salah faktor penting untuk mendukung usaha Pemerintah Kota dalam perencanaan tata ruang dan pemenuhan kebutuhan serta kegiatan suatu kota. Faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik, ekonomi, demografi, dan budaya. Aspek politik merupakan pembentukan kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola tata ruang lahan.
Seiring pertumbuhan ekonomi, permintaan terhadap penggunaan lahan wilayah perkotaan Surabaya akan terus berkembang untuk pembangunan pendidikan, kemajuan teknologi, fasilitas umum kota, transportasi, pemukiman penduduk dan industri. Tingginya permintaan sektor-sektor bisnis akan pemenuhan kebutuhan lahan kosong menyebabkan adanya perubahan penggunaan lahan pertanian dan ruang terbuka hijau. Permasalahan tersebut menyebabkan Pemerintah Kota perlu menetapkan konsep tata ruang kota yang saling berkesinambungan dengan melakukan berbagai pendekatan dalam perencanaan dan pembangunannya.
Kota Surabaya dibagi dalam beberapa wilayah yang terdiri atas 31 kecamatan.
Masing-masing kecamatan memiliki lahan yang dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan masyarakat. Penggunaan lahan secara umum dikelompokan ke dalam 2 (dua) kelompok besar, yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan non pertanian. Penggunaan lahan di Kota Surabaya sebagian besar digunakan oleh sektor non pertanian dengan luasan sebesar 30.076,30 ha dari luas total lahan kota yaitu 36.508,39 ha. Pembagian wilayah menurut penggunaan lahan/ tutupan lahan di Kota Surabaya digambarkan seperti diagram pada Gambar 2.1.
II - 2 82,4%
5,3%
0% 0% 0,3%
12%
Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan Kota Surabaya
Non Pertanian Sawah Lahan Kering Perkebun-an Hutan Lain-nya Gambar 2.1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan / Tutupan Lahan Kota
Surabaya
Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011
Pemerintah Kota memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang terkait untuk melakukan pembangunan secara berkesinambungan di berbagai sektor sarana dan fasilitas umum Kota Surabaya. Hal tersebut merupakan salah satu wujud usaha dalam mengembangkan kehidupan kota yang dinamis, khususnya pada bidang industri dan perdagangan yang menjadi titik berat pembangunan di Kota Surabaya.
Pengembangan kawasan konservasi di Kota Surabaya perlu dilakukan sebagai perwujudan upaya perlindungan serta pelestarian flora dan fauna. Berdasarkan Keputusan Walikota Surabaya No. 188.45/296/436.1.2/2010, dibentuk suatu tim persiapan untuk pengembangan kawasan konservasi sumber daya alam kota Surabaya. Instansi yang memiliki kewajiban dalam pelaksanaan konservasi di Kota Surabaya adalah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam JawaTimur. Tugas dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam JawaTimur adalah sebagai berikut:
Penyelenggaraan KSDA hayati dan ekosistemnya
Pengelolaan kawasan cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam dan taman buru
Koordinasi teknis pengelolaan taman hutan raya dan hutan lindung
Konservasi tumbuhan dan satwa liar di luar kawasan konservasi berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
Hutan Kota adalah pepohonan yang berdiri sendiri atau berkelompok atau vegetasi berkayu di kawasan perkotaan yang pada dasarnya memberikan dua manfaat pokok bagi masyarakat dan lingkungannya, yaitu manfaat konservasi dan manfaat estetika.
II - 3
Sesuai dengan peruntukannya, Hutan Kota dapat dibangun dalam beberapa bentuk, di antaranya :
Ruang hijau pertamanan kota
Ruang hijau rekreasi kota
Ruang hijau stadion olah raga
Ruang hijau pemakaman
Ruang hijau pertanian
Ruang jalur hijau (green belt)
Ruang hijau taman hutan raya
Ruang hijau kebun binatang
Ruang hijau hutan lindung
Ruang hijau areal penggunaan lain (APL)
Ruang hijau kebun raya
Ruang hijau kebun dan halaman di lingkungan perumahan, perkantoran, pertokoan, pabrik, terminal dan, sebagainya.
Hutan Kota mempunyai beberapa peranan penting di antaranya : 1. Identitas Kota
Hutan Kota dapat menggambarkan identitas kota melalui koleksi jenis tanaman dan hewan di areal Hutan Kota tersebut yang merupakan simbol atau lambang suatu kota.
2. Pelestarian Plasma Nutfah
Hutan Kota dapat dijadikan tempat koleksi keanekaragaman hayati yang tersebar di seluruh wilayah tanah air kita. Kawasan Hutan Kota dapat dipandang sebagai areal pelestarian di luar kawasan konservasi, karena pada areal tersebut dapat dilestarikan flora dan fauna secara ex-situ.
3. Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara
Tajuk pohon yang ada di areal Hutan Kota dapat membersihkan partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi melalui proses jerapan dan serapan, sehingga udara kota menjadi lebih bersih. Partikel padat yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan mempunyai permukaan yang kasar. Sebagian lagi akan terserap masuk ke dalam ruang stomata daun.
Selain di daun, maka partikel padat ini juga akan menempel pada kulit batang, ranting, dan cabang.
II - 4
4. Penyerap dan Penjerap Partikel Timbal dan Debu Industri
Hutan Kota dengan jenis-jenis tanaman yang sesuai mempunyai kemampuan untuk menyerap dan menjerap partikel timbal dan debu industri. Sumber utama timbal yang mencemari udara berasal dari kendaraan ber motor.
5. Peredam Kebisingan
Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang, dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara adalah yang mempunyai tajuk tebal dengan daun yang rindang.
Dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95% (Grey and Deneke, 1978). Dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah.
6. Mengurangi Bahaya Hujan Asam
Menurut Smith (1985), pohon dapat membantu mengatasi dampak negatif hujan asam melalui proses fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi, yang menghasilkan beberapa unsur-unsur seperti Ca, Na, Mg, K, dan bahan organik seperti glutamin dan gula (Smith, 1981). Menurut Henderson et al. (1977) bahan inorganik diturunkan ke lantai hutan dari tajuk daun lebar maupun daun jarum melalui proses through fall dengan urutan K > Ca > Mg >Na. Hujan yang mengandung H2SO4 atau HNO3 jika tiba di permukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai basah, maka asam seperti H2SO4 akan bereaksi dengan Ca pada daun membentuk garam CaSO4 yang bersifat netral. Adanya proses intersepsi dan gutasi oleh permukaan daun akan sangat membantu dalam menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak berbahaya lagi bagi lingkungan.
7. Penyerap Karbon-monoksida (CO)
Mikroorganisme dan tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam menyerap gas CO. Inman et al. dalam Smith (1981) mengemukakan, tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas CO dari udara yang semula konsentrasinya sebesar 120 ppm menjadi hampir mendekati nol dalam tiga jam.
8. Penyerap Karbon-dioksida (CO2) dan Penghasil Oksigen (O2)
Hutan (termasuk di dalamnya Hutan Kota) merupakan penyerap gas CO2 dan penghasil O2 yang cukup penting, selain fitoplankton, ganggang, dan rumput laut di samudera. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh tumbuhan di areal Hutan Kota melalui proses fotosintesis untuk merubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen.
II - 5
9. Penahan Angin
Angin kencang dapat dikurangi 75-80% oleh suatu penahan angin berupa Hutan Kota (Panfilov dalam Robinette, 1983).
10. Penyerap dan Penapis Bau
Tanaman dapat menyerap bau secara langsung atau menahan angin yang bergerak dari sumber bau (Grey dan Deneke, 1978). Akan lebih baik hasilnya jika ditanam tanaman yang menghasilkan bau harum yang dapat menetralisir bau busuk dan menggantinya dengan bau harum, seperti cempaka, dan tanjung.
11. Mengatasi Penggenangan
Daerah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai kemampuan evapotranspirasi tinggi, yaitu tanaman berdaun banyak sehingga luas permukaan daunnya besar dan mempunyai banyak stomata (mulut daun).
12. Mengatasi lntrusi Air Laut
Intrusi air laut dapat diatasi dengan upaya peningkatan kandungan air tanah melalui pembangunan hutan lindung kota pada daerah resapan air dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah. Dengan dibentuknya ruang-ruang terbuka hijau tersebut, maka dapat disusun suatu jaringan RTH kota sebagai pendukung ekosistem lingkungan perkotaan yang berfungsi meningkatkan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang nyaman, segar, bersih, sehat, dan indah.
Beberapa kawasan konservasi di Kota Surabaya diantaranya:
1. Kebun Binatang Surabaya
Lokasi : Jl. Setail No. 1, Wonokromo Luas : 15 Ha
Fungsi : Sebagai tempat rekreasi dan telah dikembangkan fungsinya menjadi sarana perlindungan dan pelestarian, pendidikan, penelitian, dan rekreasi
2. Taman Flora
Lokasi : Jl. Manyar KertoarjoLuas : 2,4 Ha
Fungsi : Sebagai taman lingkungan yang berfungsi untuk estetika, elemen pembatas fungsi kawasan, elemen pengikat ruang, dan taman bermain
3. Kebun Bibit Wonorejo Lokasi : Jl. Kendang Sari Luas : 87.526,54 m2
II - 6
Fungsi : Sebagai kebun pembibitan tanaman 4. Mini Agrowisata Dinas Pertanian
Lokasi : Jl. Pagesangan II /56 Surabaya Luas : 6.000 m2
Fungsi : Sebagai kebun koleksi tanaman, pembibitan, dan sarana edukasi
Di Kota Surabaya kawasan hutan yang ada hanyalah kawasan hutan yang memiliki fungsi dan status sebagai kawasan konservasi dan hutan kota, sedangkan kawasan hutan yang berfungsi sebagai cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata, taman buru, taman nasional, taman hutan raya, hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi terbatas maupun hutan produksi konservasi tidak ada disini. Luas kawasan konservasi di Kota Surabaya adalah sebesar 2.490,95 Ha, sedangkan luas hutan kota Surabaya adalah sebesar 3,14 Ha. Gambar 2.2 di bawah ini menunjukkan luas kawasan hutan di Kota Surabaya menurut fungsi dan statusnya.
Gambar 2.2. Luas Kawasan Hutan menurut Fungsi atau Statusnya
Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011
Dari gambar di atas diketahui bahwa luas kawasan hutan didominasi sepenuhnya oleh kawasan konservasi dan hanya sebagian kecil saja yang berupa
2,490.95
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.14
500.000.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00 2,500.00 3,000.00
Luas Kawasan Hutan menurut Fungsi atau Statusnya
Luas (Ha)
II - 7
hutan kota. Pemerintah Kota Surabaya menetapkan kawasan hijau Hutan Kota dan Kawasan Konservasi agar dilakukan kegiatan penanaman jenis tanaman tahunan dengan jarak tanam rapat. Sekitar 90 % - 100 % dari luas areal total diwajibkan untuk dilakukan kegiatan penghijauan, sedangkan areal lainnya dapat digunakan untuk kelengkapan penunjang.
Hutan mangrove di Kota Surabaya menempati luas wilayah total sebesar 491,62 Ha. Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan kawasan pantai timur dari daerah Kenjeran hingga Gunung Anyar Tambak sebagai “Wana-Mina” . Masyarakat tani dan nelayan daerah Wonorejo, Medokan Ayu, Kejawen Putih dan Gunung Anyar Tambak menjadikan kawasan hutan mangrove tersebut sebagai kawasan pembudidayaan berbagai jenis ikan dan udang, serta biota laut lainnya. Menurut hasil pengamatan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Jogjakarta diketahui bahwa dalam waktu satu tahun terakhir terjadi pertambahan jenis burung yang hidup menetap di hutan mangrove kota Surabaya. Populasi awal yang diperkirakan sebanyak 140 jenis burung bertambah menjadi 147 jenis burung. Sebanyak 38 jenis burung berimigrasi dari Australia dan Thailand. Hutan Mangrove di Kota Surabaya tersebar di sekitar kawasan Pantai Utara dan Pantai Timur Surabaya dengan luasan total 624,73 ha. Luas penutupan lahan untuk hutan mangrove di Kota Surabaya selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Luas Penutupan Lahan Hutan Mangrove
No KOTA DAS Kecamatan Kelurahan
Luas Hutan Mangrove (ha) Blok Pantai Tambak KA-KI
sungai Lain-
nya Jumlah 1 Surabaya Brantas PANTAI UTARA SURABAYA
Kec. Pakal -Tambak Dono - - 3,08 - - 3,08
Jumlah 0 0 3,08 0 0 3,08
Kec. Benowo -Romokalisari - 13,79 11,3 8,02 - 33,11
-Tbk. Osowilangun - 6,78 5,39 2,09 - 14,26
Jumlah 0 20,57 16,69 10,11 0 47,37
Kec.
Asemrowo
-Tbk. Langon - 1,66 1,66 0,72 - 4,04
-Greges - 4,86 0,3 0,88 - 6,04
-Kalianak - 3,92 1,38 4,15 - 9,45
Jumlah 0 10,44 3,34 5,75 0 19,53
Kec. Kenjeran -Tbk. Wedi - 35,51 0,007 - - 35,58
Jumlah 0 35,51 0,007 0 0 35,58
Kec. Bulak -Kedung Cowek - 5,59 0,44 - - 6,03
-Kenjeran - - 6,39 - - 6,39
-Sukolilo - 5,77 5,99 3,37 - 15,13
Jumlah 0 11,36 12,82 3,37 0 27,55
Jumlah Pantai Utara 0 77,88 35,937 19,23 0 133,11
PANTAI TIMUR SURABAYA
Kec.
Mulyorejo
-Kalisari - 74,47 17,5 5,55 - 97,52
-Kejawan Putih
Tambak - 10,12 28,63 10,57 - 49,32
Jumlah 0 84,59 46,13 16,12 0 146,84
Kec. Sukolilo -Keputih - 24,03 85,72 7,16 - 116,91
Jumlah 0 24,03 85,72 7,16 0 116,91
Kec. Rungkut -Wonorejo - 23,12 13,29 27,86 - 64,27
II - 8
No KOTA DAS Kecamatan Kelurahan
Luas Hutan Mangrove (ha) Blok Pantai Tambak KA-KI
sungai Lain-
nya Jumlah
-Medokan Ayu - 24,76 56,68 8,3 - 89,74
Jumlah 0 47,88 69,97 36,16 0 154,01
Gunung Anyar -G. Anyar Tambak - 14,94 47,64 11,28 - 73,86
Jumlah 0 14,94 47,64 11,28 0 73,86
Jumlah Pantai Timur 0 171,44 249,46 70,72 0 491,62 Sumber: Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011.
Lahan Potensial Kritis
Lahan potensial kritis adalah tanah-tanah yang masih produktif bila diusahakan untuk usaha pertanian.
Lahan Semi kritis / hampir kritis (agak kritis)
Lahan semi kritis adalah tanah-tanah yang kurang produktif akibat terjadinya erosi, tetapi masih dapat diusahakan untuk usaha pertanian, namun demikian produktivitasnya relatif rendah.
Lahan Kritis
Lahan kritis adalah tanah-tanah yang tidak produktif, dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk diusahakan sebagai lahan pertanian, tanpa usaha-usaha rehabilitasi lebih dahulu.
Di kota Surabaya terdapat lahan seluas 7.920 Ha, dimana kondisinya masih dalam taraf agak kritis dan potensial kritis. Lahan yang paling berpotensial kritis terdapat di Kecamatan Benowo dengan luas 500 Ha. Selain di Kecamatan Benowo lahan kritis juga tersebar di kecamatan-kecamatan lain di Kota Surabaya, selengkapnya disajikan pada Tabel 2.2 berikut ini.
Tabel 2.2. Luas Lahan Kritis
No Kecamatan Luas (ha)
Lahan Kritis (ha) Sangat
Kritis Kritis Agak Kritis
Potensial Kritis
1. JAMBANGAN 106 0 0 40 66
2. KARANGPILANG 250 0 0 90 160
3. WIYUNG 250 0 0 122 128
4. DUKUH PAKIS 275 0 0 90 185
5. SAWAHAN 138 0 0 63 75
6. LAKARSANTRI 582 0 0 193 389
7. SAMBIKEREP 501 0 0 167 334
8. PAKAL 601 0 0 199 402
9. BENOWO 742 0 0 242 500
10. TANDES 231 0 0 104 127
11. SUKOMANUNGGAL 202 0 0 83 119
12. ASEMROWO 403 0 0 139 264
13. KREMBANGAN 195 0 0 76 119
14. PABEAN CANTIAN 102 0 0 48 54
15. BUBUTAN 76 0 0 36 40
II - 9 No Kecamatan Luas
(ha)
Lahan Kritis (ha) Sangat
Kritis Kritis Agak Kritis
Potensial Kritis
16. SEMAMPIR 159 0 0 73 86
17. KENJERAN 166 0 0 75 91
18. BULAK 149 0 0 88 61
19. SUKOLILO 731 0 0 218 513
20. SIMOKERTO 53 0 0 25 28
21. GUBENG 166 0 0 80 86
22. TAMBAKSARI 179 0 0 87 92
23. MULYOREJO 355 0 0 137 218
24. GENTENG 79 0 0 37 42
25. RUNGKUT 200 0 0 75 125
26. TENGGILIS MEJOYO
109 0 0 53 56
27. GUNUNG ANYAR 370 0 0 76 294
28. GAYUNGAN 136 0 0 60 76
29. WONOKROMO 188 0 0 89 99
30. TEGALSARI 88 0 0 40 48
31. WONOCOLO 138 0 0 64 74
TOTAL 7.920 0 0 2.969 4.951
Sumber: Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011.
Kota Surabaya tidak memiliki kawasan hutan alami, hutan produksi, hutan tanaman industri, maupun hutan konservasi. Oleh karena itu di Kota Surabaya juga tidak terdapat kerusakan hutan.
2.1.2. Baku Mutu
Pola pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam RTRW Kota Surabaya meliputi perencaanaan strategis pelaksanaan wilayah kota yang sesuai dengan regulasi Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 3 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya. Pihak yang memiliki kewajiban untuk menyusun RTRW adalah Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya. Regulasi lainnya adalah Keputusan Walikota Surabaya No. 188.45/296/436.1.2/2010 yang mengamanatkan bahwa sekitar 90% - 100% dari luas areal total diwajibkan untuk dilakukan kegiatan penghijauan, sedangkan areal lainnya dapat digunakan untuk kelengkapan penunjang.
2.1.3. Perbandingan Nilai antar Lokasi
Dengan potensi yang dimilikinya, Kota Surabaya dapat dikembangkan menjadi pusat perdagangan utama untuk melayani kawasan timur Indonesia. Sektor perumahan dan pemukiman juga mendapatkan perhatian yang cukup besar dari pemerintah Kota Surabaya seiring semakin pesatnya pertumbuhan penduduk dan
II - 10
urbanisasi. Di Kota Surabaya Kecamatan Tegalsari merupakan kecamatan dengan luas wilayah terbesar, yaitu seluas 4.730 Ha, dimana seluruh wilayah tersebut merupakan lahan yang digunakan untuk sektor non pertanian. Hal ini juga menunjukkan bahwa laju perkembangan sektor non pertanian (permukiman dan perdagangan) Kecamatan Tegalsari juga merupakan yang paling besar. Menempati tempat ke-dua adalah Kecamatan Sukolilo dengan luas wilayah 3.117,53 Ha, dimana lahan yang digunakan untuk sektor non pertanian adalah seluas 2.232,53 Ha.
Sedangkan daerah luas wilayah paling kecil adalah Kecamatan Wonokromo dengan luas 214,80 Ha dan seluruhnya merupakan lahan untuk sektor non pertanian.
Perbandingan luas lahan menurut penggunaan lahan per kecamatan di Kota Surabaya disajikan pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3. Luas Lahan Menurut Penggunaan Lahan per Kecamatan di Kota Surabaya
Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011
Pengembangan berbagai sektor di Surabaya tidak hanya memberikan manfaat namun juga dampak negatif yaitu berkurangnya luasan lahan kosong terbuka hijau (RTH) yang memiliki potensi sebagai hutan kota.
Kualitas tanah dan lahan di beberapa kawasan di Kota Surabaya semakin memburuk dari waktu ke waktu sehingga banyak terbentuk lahan kritis. Pembentukkan lahan kritis tersebut diakibatkan oleh penggunaan lahan secara berlebihan tanpa disertai dengan pengelolaan yang terpadu dan sesuai. Berdasarkan data seperti yang tercantum pada Tabel 2.2 diketahui bahwa saat ini wilayah kecamatan di Kota Surabaya yang memiliki lahan agak kritis dan potensial kritis terparah adalah Kecamatan Benowo dengan luas 242 Ha untuk lahan agak kritis dan seluas 500 Ha
II - 11
untuk lahan potensial kritis. Tingginya tingkat kerusakan lahan di Kecamatan Benowo dipengaruhi oleh adanya TPA di wilayah tersebut. Daerah yang memiliki lahan kritis terbesar kedua setelah Kecamatan Benowo adalah Kecamatan Sukolilo yang memiliki lahan agak kritis seluas 218 Ha dan lahan potensial kritis seluas 513 ha. Perbandingan luas lahan kritis per kecamatan di Kota Surabaya disajikan pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4. Luas Lahan Kritis per Kecamatan di Kota Surabaya
Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011
2.1.4. Analisis Statistik
Lahan di Kota Surabaya sebagian besar digunakan untuk sektor non pertanian (82,4%). Sisanya, sebesar 5,3% untuk lahan persawahan, 0,3% untuk perkebunan dan 12% untuk sektor lainnya (Gambar 2.3). Karena di Kota Surabaya tidak terdapat hutan dan lahan kering maka luas lahan untuk sektor tersebut adalah 0%. Kecamatan yang memiliki luas lahan non pertanian terbesar adalah Kecamatan Tegalsari dengan luas 4.730,00 Ha, sedangkan persawahan terluas terdapat di Kecamatan Pakal yaitu 640,09 Ha.
Gambar 2.5. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan Kecamatan Tegalsari
Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011 100%
Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan Kecamatan Tegalsari
Non Pertanian Sawah Lahan Kering Perkebun-an Hutan Lain-nya -
100 200 300 400 500 600 700 800
Kritis Sangat Kritis Potensial Kritis Agak Kritis
Kecamatan
Luas (Ha)
Luas Lahan Kritis
II - 12
Kecamatan Tegalsari memiliki luas wilayah terbesar dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota Surabaya, dan seluruhnya hanya dipergunakan untuk sektor non pertanian saja (100%).
Gambar 2.6. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan Kecamatan Sukolilo
Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011
Kecamatan Sukolilo dengan luas wilayah total 3.117,53 ha merupakan kecamatan dengan luas wilayah terbesar kedua setelah Kecamatan Tegalsari. Penggunaan lahan di Kecamatan Sukolilo terdiri atas 72% lahan non-pertanian, 2% lahan persawahan, dan 26% sisanya untuk sektor lainnya.
Gambar 2.7. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan Kecamatan Pakal
Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011
Kecamatan dengan luas wilayah terbesar ketiga adalah Kecamatan Pakal dengan luas wilayah sebesar 2.982,65 Ha, dimana 40%-nya berupa lahan non pertanian, 21% berupa lahan persawahan, dan sisanya sebesar 39% dimanfaatkan untuk sektor lainnya.
40%
21%
0% 0%
0%
39%
Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan Kecamatan Pakal
Non Pertanian Sawah Lahan Kering Perkebun-an Hutan Lain-nya 2% 72%
0% 0%
0% 26%
Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan Kecamatan Sukolilo
Non Pertanian Sawah Lahan Kering Perkebun-an Hutan Lain-nya
II - 13
Luas lahan kritis di Kota Surabaya telah mencapai 21,7% dari luas Kota Surabaya, dimana statusnya masih dalam taraf agak kritis dan potensial kritis. Luas lahan agak kritis adalah sebesar 8,1% dari luas total Kota Surabaya, sedangkan lahan potensial kritis sebesar 13,6% dari luas total Kota Surabaya. Perbandingan antara luas lahan kritis dan luas total Kota Surabaya disajikan pada Gambar 2.8 berikut.
Gambar 2.8. Perbandingan Luas Lahan Kritis dengan Luas Total Kota Surabaya
Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2011
2.2. KEANEKARAGAMAN HAYATI 2.2.1. Kondisi Eksisting
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas merupakan keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah, yang merupakan dasar kehidupan di bumi.
Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan. Pasal 26 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya menyebutkan bahwa pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dan pemanfaatan jenis tumbuhan serta satwa liar.
Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dapat dilakukan dengan cara tidak melakukan degradasi dan fragmentasi habitat asli kawasan tersebut.
Sedangkan untuk pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar, dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung, dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar yang bersangkutan. Seiring semakin pesatnya pertumbuhan suatu kota, maka akan mengurangi jumlah populasi dan ekosistem dari tumbuhan dan
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000
Sangat Kritis
Kritis Agak Kritis Potensial Kritis
Luas Kota Surabaya
Luas Lahan Kritis
Kondisi Lahan
Luas (Ha)
II - 14
hewan yang ada. Diperlukan suatu program perlindungan dari pemerintah, agar tidak terjadi pengurangan jumlah flora dan fauna atau bahkan mengalami kepunahan.
Pemanfaatan komponen keanekaragaman hayati ini sangat beragam, tidak hanya terbatas sebagai bahan pangan atau untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia lainnya, tetapi lebih luas lagi mencakup aspek lainnya. Fauna yang dilindungi di hutan perkotaan serta konservasi Kota Surabaya sebagian besar merupakan golongan hewan menyusui (mamalia) dan burung (aves). Jumlah spesies flora dan fauna yang diketahui dan dilindungi di Kota Surabaya dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3. Jumlah Spesies Flora dan Fauna yang Diketahui dan Dilindungi
No Golongan Jumlah spesies
diketahui
Jumlah spesies dilindungi
1. Hewan menyusui ( Mamalia) 85 20
2. Burung ( Aves) 243 27
3. Reptil ( Reptilia) 32 8
4. Amphibi 7 0
5. Ikan ( Pisces) 117 0
6. Keong ( Crustacea) 12 0
7. Serangga ( Insecta) 37 0
8. Tumbuh-tumbuhan ( Plantae) 756 1
TOTAL 1.289 56
Sumber: Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011.
Kota Surabaya memiliki beberapa jenis fauna yang telah terancam punah (critically endangered) yaitu Kera Sulawesi Jambul, Cikalang Christmas, Jalak Bali, Jalak Putih, Kakaktua Jambul Kuning Kecil, Kakatua Jambul Oranye, dan Kura-Kura Tungtong. Peristiwa tersebut diakibatkan oleh kegiatan manusia serta kompleksitas makhuk hidup yang dapat beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Pencegahan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Kota Surabaya untuk meminimalisir berkurangnya jumlah fauna yang hampir punah adalah dengan pelestarian hewan langka. Pemerintah telah bekerja sama dengan pihak Kebun Binatang Surabaya untuk mengkonservasi flora dan fauna yang dianggap memiliki potensi punah. Langkah lainnya adalah dengan membuat beberapa tempat konservasi bagi flora dan fauna dengan bantuan dari pihak terkait seperti Dinas Pertanian Kota Surabaya. Tempat-tempat konservasi yang telah disediakan oleh pemerintah adalah Kebun Bibit Wonorejo, Taman Flora, Hutan Mangrove Wonorejo, dan lain-lain.
II - 15
2.2.2. Baku Mutu
Nilai Indeks diversitas yang semakin tinggi atau ID>2 menunjukkan bahwa semakin beranekaragam jenis flora dan fauna dalam suatu wilayah dan memiliki kondisi ekosistem yang stabil. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 merupakan regulasi yang mengatur tentang perlindungan terhadap keanekaragaman flora - fauna dan pengawetannya. Perundang-undangan tersebut mengacu pada UU No. 5 Tahun 1990 yang berisi tentang perlindungan burung dengan sifat endemik pada suatu daerah (persebaran terbatas), mempunyai populasi yang kecil dan terdapat penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam.
2.2.3. Analisis Statistik
Surabaya merupakan kota yang memiliki kelimpahan flora dan fauna di beberapa wilayah konservasi terutama mamalia, burung (aves), ikan (pisces), reptil dan vegetasi tumbuhan yang telah masuk dalam daftar daerah IBA (Important Bird Area). Daerah IBA (Important Bird Area) merupakan daerah perlindungan bagi burung terutama burung air dan migran. Salah satu wilayah konservasi burung adalah daerah Wonorejo. Wilayah tersebut memiliki luas kurang lebih 50 Ha dan digunakan sebagai tempat singgah lebih dari 10.000 burung air tiap tahunnya. Salah satu upaya dari Pemerintah Kota Surabaya adalah dengan melakukan pengembangan Kawasan Wonorejo sebagai MIC (Mangrove Information Center) menjadi ekowisata bakau.
Upaya pengembangan kawasan Wonorejo memiliki dampak terhadap ekosistem lingkungan sekitar terutama habitat asli flora dan fauna. Selama tahun 2007- 2008 tercatat sekitar 140 jenis burung berdomisili di Wonorejo. Jenis burung tersebut meliputi burung air, migran maupun burung lain. Sebanyak 31 jenis burung diantaranya memiliki status dilindungi oleh Perundang - undangan Indonesia. Secara keseluruhan jumlah flora dan fauna di Kota Surabaya yang diketahui dan dilindungi dapat dilihat pada Tabel 2.3 dan Gambar 2.9 serta Gambar 2.10. Jumlah spesies terbesar di Kota Surabaya adalah tumbuh-tumbuhan (plantae) yaitu 58,7% dari jumlah total spesies, kemudian disusul oleh burung 18,9%, ikan sebesar 9%, hewan menyusui 6,6%, serangga 2,9%, reptile 2,5%, keong 0,9% dan yang terakhir adalah amphibi sebanyak 0,5 %.
II - 16
Gambar 2.9. Persentase Jumlah Spesies Flora dan Fauna yang Diketahui di Kota Surabaya
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Gambar 2.10. Perbandingan Jumlah Spesies Flora dan Fauna yang Diketahui dan Dilindungi di Kota Surabaya
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa sebagian kecil dari jumlah spesies flora dan fauna yang diketahui berstatus dilindungi. Sebanyak 23,5% dari jumlah spesies hewan menyusui (mamalia) yang diketahui berstatus dilindungi, dan berturut- turut sebanyak 11%, 25%, dan 0,1% dari jumlah spesies burung (aves), reptil (reptilia), dan tumbuh-tumbuhan (plantae) yang diketahui juga berstatus dilindungi.
2.3. AIR
2.3.1. Kondisi Eksisting
Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang biasa dimanfaatkan oleh manusia dalam berbagai macam kegiatan yaitu sebagai air minum, mandi, cuci, dan lain-lain. Secara umum manfaat air bagi kehidupan manusia meliputi dua aspek yaitu :
6,6%
18,9%
2,5%
0,5%
9%
0,9%
2,9%
58,7%
Jumlah Spesies Flora dan Fauna yang Diketahui
Hewan menyusui ( Mamalia) Burung ( Aves)
Reptil ( Reptilia) Amphibi Ikan ( Pisces) Keong ( Crustacea) Serangga ( Insecta)
Tumbuh-tumbuhan ( Plantae)
0 100 200 300 400 500 600 700 800
Jumlah Spesies Diketahui Jumlah Spesies Dilindungi
Jumlah Spesies Flora dan Fauna
Jumlah Spesies
Golongan
II - 17
Aspek Internal yaitu air yang berperan dalam tubuh manusia, misalnya untuk keperluan minum, proses metabolisme, melarutkan bahan makanan, dan lain- lain.
Aspek Eksternal yaitu peranan air di luar tubuh manusia, misalnya untuk keperluan industri, pertanian, transportasi, dan lain-lain.
Ketersediaan air di bumi yang dapat dikonsumsi oleh manusia terdiri dari air hujan, air permukaan, dan air tanah. Dari ketiga macam sumber air tersebut, yang dapat langsung dikonsumsi oleh manusia adalah air hujan dan air tanah dengan kriteria tertentu. Air permukaan yaitu air hujan yang telah terendapkan di permukaan bumi selama beberapa lama, tidak dapat dikonsumsi langsung karena rentan terhadap penyebaran penyakit yang dapat disebarkan melalui air (water borne disease).
Selain permasalahan tersebut di atas, buruknya kualitas sumber air di Kota Surabaya juga diakibatkan oleh adanya pencemaran air tanah karena pembuangan limbah cair dan padat dari kegiatan industri, kegiatan penimbunan sampah, tumpahan bahan kimia, eksploitasi sumber-sumber air secara massal oleh rumah tangga, dan lain-lain. Oleh karena itu, untuk mendapatkan air yang sesuai dengan kualitas yang diharapkan air harus diolah terlebih dahulu sebelum akhirnya dikonsumsi oleh manusia.
Kualitas air tergantung dari karakteristik fisik, kimia dan biologinya. Adapun syarat- syarat kualitas air secara fisik, kimia dan biologi adalah sebagai berikut :
Persyaratan fisik, meliputi warna, bau, rasa, kekeruhan, temperatur, dan daya hantar listrik.
Persyaratan kimia, meliputi pH, kesadahan, besi, mangan, seng, krom cadmium, nitrat, chlor, sulfat, klorida, dan lain-lain.
Persyaratan radioaktif, meliputi sinar alpha dan sinar betha.
Persyaratan mikroorganisme, meliputi total koliform dan koli tinja.
A. Air Permukaan
Sumber air permukaan utama yang digunakan oleh Kota Surabaya adalah sungai. Sungai memiliki fungsi yang vital dan beragam, diantaranya adalah sebagai sumber air baku untuk pengolahan air bersih, transportasi, irigasi, perikanan, fungsi rekreasi, fungsi komunikasi, fungsi konservasi (ekosistem air sungai), dan lain-lain.
Kota Surabaya memiliki sebanyak 6 sungai, 27 saluran primer, dan 142 saluran sekunder. Kali Surabaya merupakan sungai terpanjang di Kota Surabaya dengan panjang mencapai 17.400 m, sedangkan sungai yang terpendek adalah Kali Lamongan dengan panjang sungai 9.770 m. Aliran air permukaan Kota Surabaya dimulai dari DAM Mlirip (Kabupaten Mojokerto), kemudian melewati Sidoarjo,
II - 18
Gresik, dan akhirnya sampai sampai di DAM Jagir Wonokromo (Surabaya). Terjadi percabangan pada DAM Jagir menjadi dua sungai yaitu Kali Mas yang mengalir ke utara sampai pelabuhan dan Kali Wonokromo yang mengarah ke timur sampai Selat Madura. Kali Surabaya memiliki fungsi sebagai air baku untuk air minum (PDAM) masyarakat kota. Sedangkan Kalimas dan Kali Wonokromo fungsi pokoknya adalah untuk drainase kota, kegiatan perikanan, peternakan, mengaliri tanaman, serta pariwisata air. Pihak yang memiliki kewajiban untuk memiliharaan dan dan pengawasan kawasan sungai di Kota Surabaya adalah Balai PSAWS (Pengelolaan Sumber Air Wilayah Sungai) dan Perum Jasa Tirta. Saluran primer dan sekunder Kota Surabaya dikelola oleh pemerintah Kotamadya Surabaya.
Selain sungai, sistem hidrologi Surabaya juga dipengaruhi oleh keberadaan beberapa danau, waduk, situ atau embung. Pada tahun 2011 terdapat sebanyak 21 sistem hidrologi (Danau/ Waduk/ Situ/ Embung) masuk dalam rekapitulasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik Kota Surabaya. Inventarisasi Danau/ Waduk/ Situ/
Embung di Kota Surabaya selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4. Inventarisasi Danau/ Waduk/ Situ/ Embung
No. Rayon Nama
Danau/Waduk/Situ/Embung
Luas (ha)
Volume (m3) I TANDES
- Sambikerep 0,80 16.000
- Telaga Manukan Tirto 0,20 4.000
- Telaga Manukan 0,30 6.000
- Sumber Langgeng 0,30 6.000
- Sumberejo 0,30 6.000
- Sememi 5,00 100.000
- Lontar 0,30 6.000
- Tanjungsari 0,17 3.400
- Margomulyo 0,10 2.080
II JAMBANGAN
- Wonorejo 1 1,05 21.021
- Wonorejo 2 2,00 40.000
- Wonorejo 3 2,91 58.155
- Bratang 1,72 34.493
- Jambangan 0,59 11.760
- Rungkut ( SIER ) 16,00 320.000 - Sidosermo ( PDK ) 0,55 11.060 III GUBENG
- Kalidami 2,70 54.000
- Kenjeran ( Kepiting ) 7,50 150.000 IV GENTENG
- Morokrembangan 80,50 1.610.000 V WIYUNG
- Kedurus 37,00 740.000
- Lakarsantri 0,54 10.800
Sumber: Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya, 2011.
Pemantauan kualitas air dilakukan untuk mengetahui status kualitas air di Kota Surabaya. Kualitas air sungai dipantau berdasarkan standar baku mutu dalam
II - 19
Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di Propinsi Jawa Timur. Pemantauan kualitas air di Kota Surabaya tidak dilakukan secara terus menerus, tetapi dilakukan secara berkala tergantung kebutuhan dan dana yang ada. Pengambilan sampel dilakukan di 23 titik lokasi dengan waktu yang berbeda. Pemantauan dilakukan mulai bulan Januari hingga November 2011. Parameter-parameter yang dipantau adalah pH, DO, BOD, COD, TSS, dan deterjen. Hasil pemantauan kualitas air sungai selengkapnya dapat dilihat pada Tabel SD-13 di Buku Data. Titik pengambilan sampel serta penggolongan kelas kualitas air sungai Kota Surabaya adalah sebagai berikut :
Kali Surabaya
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Surabaya di Kedurus (1) dan Jembatan Wonokromo (2)
Kelas Sungai : Kelas II
Kali Mas
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Mas di Jl. Ngagel (1), Jembatan Keputran (2), dan Jembatan Kebon Rojo (3)
Kelas Sungai : Kelas II
Kali Jeblokan
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Jeblokan di Jl. Petojo(1) dan Jl.
Kedung Cowek (2) Kelas Sungai : Kelas III
Kali Pegirian
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Pegirian di Jl. Undaan (1) dan Jl.
Pegirian (2)
Kelas Sungai : Kelas IV
Kali Banyu Urip
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Banyu Urip di Jembatan Balongsari (1)
Kelas Sungai : Kelas IV
Kali Greges
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Greges di Jembatan Jl. Dupak (1)
Kelas Sungai : Kelas IV
Kali Dami
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Dami di Jembatan Jl. Kali Dami (1) Kelas Sungai : Kelas III
II - 20
Kali Bokor
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Bokor di Jembatan Jl. Pucang (1) Kelas Sungai : Kelas III
Kali Wonorejo
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Wonorejo di Jembatan Kedung Baruk Utara (1)
Kelas Sungai : Kelas IV
Kali Kepiting
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Kepiting di Jl. Sutorejo (1) Kelas Sungai : Kelas III
Kali Kebon Agung
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Kebon Agung di Jl. Rungkut Madya (1) Kelas Sungai : Kelas III
Kali Wonokromo
Lokasi Pengambilan Sampel : Kali Wonokromo di Jembatan Merr C II (1) Kelas Sungai : Kelas III
Saluran Dinoyo
Lokasi Pengambilan Sampel : Saluran Dinoyo di Pompa air Dinoyo (1) Kelas Sungai : Kelas III
Saluran Darmo
Lokasi Pengambilan Sampel : Saluran Darmo di Pompa air Darmo Kali (1)
Kelas Sungai : Kelas IV
Saluran Kenari
Lokasi Pengambilan Sampel : Saluran Kenari di Jl. Simpang Dukuh (1)
Kelas Sungai : Kelas IV
Selain pemantauan terhadap kualitas air sungai, juga dilakukan pemantauan terhadap kualitas air waduk/ situ/ embung. Pemantauan dilakukan di 4 (empat) lokasi yaitu Boezem Kalidami, Boezem Wonorejo, Boezem Morokrembangan, dan Tambak Wedi, dimana pemantauan dilakukan secara berkala tergantung kebutuhan dan dana yang ada. Boezem-boezem di Kota Surabaya memiki fungsi sebagai pengendali banjir. Oleh karena itu pemantauan terhadap kualitas airnya sangat penting dilakukan agar pencemaran yang terjadi dapat segera ditangani dan tidak sampai mengganggu fungsi dari boezem tersebut.
Hasil analisis kualitas air waduk/ situ/ embung selengkapnya dapat dilihat pada Tabel SD-14 pada Buku Data.
II - 21
B. Air Tanah
Bila dilihat dari ketinggian muka air tanah, pola dan kedudukan muka air tanah bebas umumnya dikontrol oleh topografl setempat sehingga Kota Surabaya dibagi menjadi 4 (empat) zona wilayah kedalaman air tanah yang meliputi :
a. Zona kedalaman air tanah 0 – 1 m: meliputi wilayah Kecamatan Sukolilo, Tegalsari, Rungkut, Gunungsari, Sukomanunggal, dan sebagian Benowo bagian Timur.
b. Zona kedalaman air tanah 1 – 2 m: meliputi wilayah Kecamatan Genteng, Tandes, Asemrowo, Gubeng, Mulyorejo, Gayungan, Wonocolo.
c. Zona kedalaman air tanah 2 – 3 m: meliputi wilayah Kecamatan Kenjeran, Tenggilis Mejoyo, dan sebagian Karangpilang sebelah Utara.
d. Zona kedalaman air tanah > 3 m: meliputi wilayah Kecamatan Lakarsantri, Wiyung, Sawahan, Dukuh Pakis.
Arah aliran air tanah di wilayah Surabaya umumnya mengalir ke arah timur menuju kearah pantai, kecuali pada daerah Surabaya Barat umumnya arah aliran air tanah mengalir searah dengan kemiringan sayap lipatannya.
2.3.2. Baku Mutu
Regulasi yang menjadi dasar pemantauan kualitas air permukaan adalah PP No. 82 Tahun 2001 dan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di Jawa Timur.
Apabila persyaratan kualitas air tidak memenuhi untuk peruntukan tertentu, maka air tidak dapat digunakan dan tidak mempunyai manfaat. Penggolongan kelas air berdasarkan peruntukannya sesuai dengan PP No. 82 Tahun 2001 adalah sebagai berikut :
Kelas I : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas II : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas III : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan
air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan
kegunaan tersebut
II - 22
Kelas IV : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Pemantauan kualitas air permukaan oleh BLH Kota Surabaya dilakukan di 20 titik pada beberapa sungai utama di Kota Surabaya. Kegiatan ini dilakukan mulai bulan Januari hingga November 2011. Parameter yang dianalisis sesuai dengan baku mutu yang tercantum pada PP No.82 Tahun 2001. Beberapa parameter yang dianalisa meliputi 5 (lima) parameter yaitu :
pH
DO
BOD
COD
TSS
Deterjen
2.3.3. Perbandingan Nilai antar Lokasi
Dari hasil pemantauan kualitas air sungai di Kota Surabaya yang mencakup parameter-parameter di atas, masih terdapat beberapa parameter yang melebihi baku mutu. Berikut merupakan penjelasan tentang kualitas air sungai ditinjau dari 3 (tiga) parameter yaitu DO, BOD, dan TSS :
Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen dalam miligram yang terdapat dalam satu liter air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas II ditunjukkan Gambar 2.11.
Gambar 2.11. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas II
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
II - 23
Kandungan oksigen terlarut pada badan air kelas II di Kota Surabaya di beberapa titik pengambilan sampel masih di bawah baku mutu yaitu 4 mg/L. Badan air kelas II yang memiliki kualitas paling baik dilihat dari parameter DO adalah Kali Surabaya pada titik pengambilan sampel di Jembatan Wonokromo yang diambil pada bulan November 2011 yaitu 7,32 mg/L. Kualitas paling buruk terjadi di Kali Surabaya pada titik pengambilan sampel di Kedurus yang dipantau pada bulan Januari 2011 yaitu berada di bawah limit deteksi alat pemantau. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas III ditunjukkan pada Gambar 2.12.
Gambar 2.12. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas III
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Untuk badan air kelas III baku mutu parameter DO adalah sebesar 3 mg/L.
Beberapa badan air juga masih belum memenuhi baku mutu tersebut. Nilai DO terbaik dimiliki oleh Kali Jeblokan pada titik pengambilan sampel di Jl. Petojo pada pemantauan bulan Mei 2011 yaitu sebesar 7,51 mg/L, sedangkan kondisi DO terburuk terjadi di Kali Dami karena selama 5 bulan pemantauan dari bulan Juli hingga November 2011 nilai DO-nya berada di bawah limit deteksi alat. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas IV ditunjukkan Gambar 2.13.
Gambar 2.13. Hasil pemantauan parameter DO untuk badan air kelas IV
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
II - 24
Sedangkan untuk badan air kelas IV baku mutu parameter DO adalah sebesar 0 mg/L, sehingga semua badan air yang dipantau telah memenuhi baku mutu tersebut. Nilai DO terbaik dimiliki oleh Kali Pegirian pada titik pengambilan sampel di Jl. Undaan pada pemantauan bulan Juni 2011 yaitu sebesar 5,8 mg/L.
BOD (Biological Oxygen Demand)
BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorgasnisme untuk menguraikan bahan-bahan organik (zat pencemar) yang terdapat di dalam air secara biologis. BOD dan COD digunakan untuk memonitor kapasitas self purification badan air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk mendesain sistem-sisitem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas II ditunjukkan Gambar 2.14.
Gambar 2.14. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas II
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Kandungan BOD pada badan air kelas II di Kota Surabaya di beberapa titik pengambilan sampel masih belum memenuhi baku mutu yaitu 3 mg/L, bahkan hampir di semua titik pengambilan sampel. Hanya beberapa titik pada waktu pemantauan tertentu saja yang masih memenuhi baku mutu parameter BOD untuk Badan air kelas II, yaitu Kali Surabaya di semua titik pemantauan dan Kali Mas di titik Jembatan Kebon Rojo, hanya pada bulan November 2011.
Badan air yang memiliki kualitas paling buruk dilihat dari parameter BOD adalah Kali Surabaya pada titik pengambilan sampel di Kedurus yang diambil pada bulan Januari 2011 yaitu 13,95 mg/L. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas III ditunjukkan Gambar 2.15.
II - 25
Gambar 2.15. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas III
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Untuk badan air kelas III baku mutu parameter BOD adalah sebesar 6 mg/L.
Beberapa badan air juga masih belum memenuhi baku mutu tersebut. Nilai BOD terendah dimiliki oleh Kali Jeblokan pada titik pengambilan sampel di Jl.
Petojo pada pemantauan bulan November 2011 yaitu sebesar 3,07 mg/L, sedangkan konsentrasi BOD tertinggi terjadi di Kali Dami pada pemantauan bulan Agustus 2011 yaitu sebesar 25,69 mg/L. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas IV ditunjukkan Gambar 2.16.
Gambar 2.16. Hasil pemantauan parameter BOD untuk badan air kelas IV
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Sedangkan untuk badan air kelas IV baku mutu parameter BOD adalah sebesar 12 mg/L. Masih banyak badan air kelas IV yang belum memenuhi baku mutu ini. Konsentrasi BOD terendah dimiliki oleh Kali Wonorejo pada titik pengambilan sampel di Jembatan Kedung Baruk Utara pada pemantauan bulan Maret 2011 yaitu sebesar 2,56 mg/L, namun konsentrasi BOD tertinggi juga terjadi pada Kali Wonorejo titik sampling Jembatan Kedung Baruk Utara yaitu sebesar 15,39 mg/L.
II - 26
TSS (Total Suspended Solid)
TSS adalah jumlah berat dalam mg/L kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron (Sugiharto, 1987). Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui kekuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air (BAPPEDA, 1997). Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan.
Padatan tidak terlarut menyebabkan air berwarna keruh. Penetrasi cahaya matahari ke permukaan dan bagian yang lebih dalam tidak berlangsung efektif akibat terhalang oleh zat padat tersuspensi, sehingga fotosintesis tidak berlangsung sempurna. Apabila ini terjadi kehidupan mikroorganisme dalam air akan terganggu. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas II ditunjukkan Gambar 2.17.
Gambar 2.17. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas II
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Kandungan TSS pada badan air kelas II di Kota Surabaya di beberapa titik pengambilan sampel masih belum memenuhi baku mutu yaitu 50 mg/L. Badan air yang memiliki kualitas paling buruk dilihat dari parameter TSS adalah Kali Mas pada titik pengambilan sampel di Jembatan Kebon Rojo yang diambil pada bulan Maret 2011 yaitu sebesar 793 mg/L. Sedangkan hasil pemantauan TSS terbaik diperoleh pada Kali Mas pada titik pemantauan di Jl. Ngagel sebesar 6 mg/L. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas III ditunjukkan Gambar 2.18.
II - 27
Gambar 2.18. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas III
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Untuk badan air kelas III baku mutu parameter TSS adalah sebesar 400 mg/L.
Hanya satu badan air yang masih belum memenuhi baku mutu tersebut, yaitu Kali Kepiting pada waktu pemantauan bulan Januari 2011 yaitu sebesar 492 mg/L. Nilai TSS terendah dimiliki oleh Kali Jeblokan pada titik pengambilan sampel di Jl. Kedung Cowek dan Kali Dami pada pemantauan bulan Juni 2011 yaitu sebesar 2 mg/L. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas IV ditunjukkan Gambar 2.19.
Gambar 2.19. Hasil pemantauan parameter TSS untuk badan air kelas IV
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Untuk badan air kelas IV baku mutu parameter TSS juga sebesar 400 mg/L.
Pada badan air kelas IV semua lokasi pemantauan telah memenuhi baku mutu ini. Konsentrasi TSS terendah dimiliki oleh Saluran darmo pada titik pengambilan sampel di Pompa Air Darmo Kali pada pemantauan bulan Mei 2011 yaitu sebesar 1 mg/L, sedangkan konsentrasi TSS tertinggi terjadi pada Kali Greges titik sampling Jembatan Jl. Dupak pada waktu pemantauan bulan Juli 2011 yaitu sebesar 365 mg/L.
II - 28
Dari hasil analisa tersebut, diketahui bahwa pada beberapa parameter justru badan air yang seharusnya merupakan badan air kelas III dan kelas IV memiliki kualitas yang lebih baik daripada badan air yang peruntukannya sebagai badan air kelas II. Hal ini disebabkan beban pencemaran yang masuk pada badan air kelas II tersebut kemungkinan lebih besar, sehingga degradasi kualitas airnya juga terjadi lebih cepat.
Berdasarkan Tabel 2.4 diketahui bahwa Boezem Morokrembangan merupakan boezem terbesar di Surabaya dengan luasan sebesar 80,50 ha dan mampu menampung air sebanyak 1.610.000 m3. Volume terkecil berada di Margorejo yang hanya mampu menampung limpasan air sebesar 2.080 m3. Hasil pemantauan terhadap kualitas air boezem dapat dilihat pada Gambar 2.20 sampai Gambar 2.22.
Gambar 2.20. Perbandingan Hasil Pemantauan Parameter DO
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Untuk parameter DO, Boezem Kalidami memiliki kualitas terbaik, diikuti Boezem Wonorejo, dan Boezem Morokrembangan memiliki kualitas terburuk.
Gambar 2.21. Perbandingan Hasil Pemantauan Parameter BOD
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011 0.501
1.52 2.53 3.54 4.55
Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember
Bozem Kalidami
Waktu Pemantauan
Perbandingan Parameter DO
Konsentrasi (mg/L)
0 5 10 15 20 25 30
Bozem Kalidami
Waktu Pemantauan
Perbandingan Parameter BOD
Konsentrasi (mg/L)
II - 29
Sedangkan untuk parameter BOD, Boezem Wonorejo cenderung memiliki kualitas yang paling baik dengan kadar BOD relatif paling rendah, disusul Boezem Kalidami, dan yang terakhir Boezem Morokrembangan.
Gambar 2.22. Perbandingan Hasil Pemantauan Parameter TSS
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2011
Untuk parameter TSS, Boezem Morokrembangan relatif paling rendah konsentrasinya, sedangkan Boezem Wonorejo pada bulan September 2011 konsentrasi TSSnya melebihi baku mutu yaitu sebesar 525 mg/L, dan Boezem Kalidami pada bulan Maret kadar TSS mencapai 920 mg/L.
2.3.4. Analisis Statistik
Dari hasil inventarisasi sungai yang ada di Kota Surabaya diketahui bahwa dari keseluruhan sungai yang merupakan sungai asli ada 6 sungai atau 3,5% dari hasil inventarisasi keseluruhan, sedangkan sebanyak 27 sungai atau 16% merupakan saluran primer, dan sebanyak 142 sungai atau 80,5% merupakan saluran sekunder.
Sedangkan dari hasil inventarisasi danau/ waduk/ situ/ embung di Kota Surabaya diketahui terdapat total 21 danau/ waduk/ situ/ embung yang tersebar di beberapa Kecamatan. Sebanyak 9 danau/ waduk/ situ/ embung (43%) berada di Kecamatan Tandes, 7 danau/ waduk/ situ/ embung (33%) berada di Kecamatan Jambangan, 2 danau/ waduk/ situ/ embung (9,5%) berada di Kecamatan Gubeng, 1 danau/ waduk/
situ/ embung (5%) berada di Kecamatan Genteng, dan 2 lagi (9,5%) berada di Kecamatan Wiyung.
1000 200300 400500 600700 800900 1000
Bozem Kalidami
Waktu Pemantauan
Perbandingan Parameter TSS
Konsentrasi (mg/L)