commit to user
PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP MINAT BELAJAR
BIOLOGI REPRODUKSI SEMESTER II DIII KEBIDANAN FK UNS SURAKARTA
KARYA TULIS ILMIAH
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Saint Terapan
Indah Sri Rahayu R1110008
PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2011
commit to user ABSTRAK
Indah Sri Rahayu, R1110008, Pengaruh Penggunaan Metode Teams Games Tournament Terhadap Minat Belajar Biologi Reproduksi Semester II DIII Kebidanan FK UNS Surakarta, Program studi Diploma IV Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2011.
Latar belakang metode pembelajaran kooperatif memegang peranan penting dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, salah satunya adalah untuk meningkatkan minat belajar peserta didik. Namun kenyataannya saat ini pembelajaran kooperatif jarang digunakan khususnya pada institusi pendidikan Diploma III Kebidanan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode pembelajaran TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi.
Metode penelitian menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest and posttest. Populasi penlitian adalah mahasiswa program studi Diploma III Kebidanan FK UNS tahun ajaran 2010/2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling diperoleh sampel 38 orang. Pretest diberikan setelah pembelajaran Biologi Reproduksi selama 1 semester dengan metode konvensional, kemudian perlakuan pembelajaran Biologi reproduksi dengan metode TGT, setelah itu dilakukan posttest.
Hasil penelitian berdasarkan uji statistik paired sample test menunjukkan adanya perbedaan minat belajar Biologi Reproduksi sebelum menggunakan metode pembelajaran TGT dengan sesudah menggunakan metode pembelajaran TGT, dilihat dari nilai t hitung sebesar -2, 282 dan secara statistik nilai p 0,008 < 0,050 menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada penggunaan metode TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa semester II Diploma III Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS.
Kesimpulan penelitian adalah ada pengaruh penggunaan metode TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi.
Kata kunci :
Teams Games Tournament (TGT), Minat Belajar, Biologi Reproduksi
commit to user DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 4
C. TUJUAN PENELITIAN ... 4
D. MANFAAT PENELITIAN ... 5
BAB II LANDASAN TEORI ... 6
A. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
1. Minat ... 6
2. Belajar ... 6
3. Minat Belajar ... 8
4. Metode Teams Games Tournament ... 12
5. Biologi Reproduksi ... 15
commit to user
6. Pengaruh Metode TGT Terhadap Minat Belajar ... 16
B. KERANGKA KONSEP ... 17
C. HIPOTESIS ... 18
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 19
A. DESAIN PENELITIAN ... 19
B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN ... 20
C. POPULASI PENELITIAN ... 20
D. SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING ... 21
E. ESTIMASI BESAR SAMPEL ... 21
F. KRITERIA RESTRIKSI ... 22
G. DEFINISI OPERASIONAL ... 23
H. CARA KERJA ... 24
1. Intervensi ... 24
2. Instrumen Penelitian ... 25
3. Validitas dan Reliabilitas ... 27
I. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ... 30
1. Pengolahan Data ... 30
2. Analisis Data ... 32
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 33
A. HASIL ANALISIS UNIVARIAT ... 33
1. Pretest ... 33
2. Posttest ... 34
3. Analisis Perbedaan Pretest dan Posttest ... 34
commit to user
B. HASIL ANALISIS BIVARIAT ... 35
BAB V PEMBAHASAN ... 36
BAB IV PENUTUP ... 41
A. KESIMPULAN ... 41
B. SARAN ... 41 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
commit to user BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah dunia yang bersifat dinamis. Hal ini dapat dilihat dari berubahnya paradigma pembelajaran dari paradigma pembelajaran behavioristik menjadi paradigma konstruktivistik. Konsep dasar paradigma konstruktivisme adalah bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran pendidik kepada pikiran peserta didik, melainkan peserta didik dituntut untuk berusaha mencari sendiri dan mencoba menemukan dan menyusun sendiri makna-makna sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya.
Berawal dari pandangan konstruktivistik kegiatan pembelajaran sedapat mungkin dilaksanakan dalam lingkungan spesifik dan kondusif bagi terjadinya proses belajar-mengajar yang optimal. Agar dapat berlangsung optimal esensi pendidikan atau pembelajaran harus memperhatikan kebermaknaan bagi peserta didik yang dilakukan secara dialogis atau interaktif. Inti dari kebermaknaan pembelajaran bagi peserta didik yaitu pembelajaran berpusat pada siswa sebagai pembelajar dan pendidik sebagai fasilitator yang memfasilitasi proses belajar bagi peserta didik.
Pembelajaran berpusat pada siswa atau disebut juga Student Center Learning (SCL) menuntut pendidik untuk mampu mendorong,
mencapai tujuan. Hal ini sesuai dengan isi Undang-undang No. 20 tentang Sisdiknas, dimana salah satu ayatnya berbunyi : “Guru sebagai tenaga kependidikan berkewajiban untuk menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis”, dan PP No. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 ayat (1) dinyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi secara aktif, memberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi siswa.
Dalam rangka memfasilitasi peserta didik dengan baik, seorang pendidik penting untuk memiliki pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam menerapkan dan memadupadankan berbagai metode pembelajaran yang ada. Sehingga proses pembelajaran menjadi aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan yang dikenal dengan sebutan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). Dengan kondisi yang demikian diharapkan natinya akan dapat meningkatkan minat belajar peserta didik.
Meningkatnya minat belajar dalam diri peserta didik akan membuat perhatian terhadap proses pembelajaran menjadi tinggi, konsentrasi peserta didik selama proses pembelajaran akan meningkat.
Menurut hasil penelitian, konsentrasi yang tinggi terbukti meningkatkan hasil belajar. Dalam penelitian mengenai otak dan pembelajaran diungkapkan fakta yang mengejutkan, yaitu apabila sesuatu dipelajari
dengan sungguh-sungguh (dimana perhatian yang tinggi dari seseorang tercurah) maka struktur internal sistem syaraf kimiawi seseorang berubah.
Di dalam diri seseorang tercipta hal-hal baru seperti jaringan syaraf baru, jalur elektris baru, asosiasi baru dan koneksi baru (Indrawati, 2009).
Kenyataan yang ada saat ini metode pembelajaran inovatif yang melibatkan keaktifan peserta didik masih kurang dilaksanakan, metode ceramah yang bersifat teacher center masih mendominasi. Khususnya di lembaga pendidikan kesehatan Diploma Kebidanan, dari empat lembaga pendidikan DIII Kebidanan di Surakarta pada saat melakukan praktek Kependidikan, penulis mengamati pendidik dominan menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran. Pada studi pendahuluan yang dilakukan di DIII Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta penulis menemukan bahwa pada laporan Kartu Hasil Studi (KHS) mahasiswa pada tahun ajaran (TA) 2008/2009 dan TA 2009/2010 perolehan nilai akademik pada mata kuliah Biologi Reproduksi sangat minim. Hal ini penulis mencoba mengkaitkan dengan penelusuran minat belajar mahasiswa pada beberapa mata kuliah kebidanan diantaranya Biologi Reproduksi, Komunikasi dan Konseling Kebidanan, Asuhan Kebidanan I. Dari penelusuran tersebut penulis memperoleh hasil bahwa mahasiswa dengan minat belajar kurang sebesar 28,9% pada mata kuliah Biologi Reproduksi, 21% pada mata kuliah Komunikasi dan Konseling Kebidanan, dan 15,7% pada mata kuliah Asuhan Kebidanan I.
commit to user
Biologi Reproduksi merupakan mata kuliah yang memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk memahami struktur biologi reproduksi dengan penekanan pada integrasi ilmu dan praktek kebidanan.
Kurangnya minat belajar Biologi Reproduksi dapat menyebabkan kesulitan bagi mahasiswa untuk mencapai kompetensi yang diharapkan, karena dengan menguasai ilmu Biologi Reproduksi merupakan modal dasar praktek kebidanan. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan baik kognitif maupun psikomotor dari output institusi kelak.
Dari latar belakang di atas maka penting bagi penulis untuk melakukan penelitian terhadap minat belajar mahasiswa pada mata kuliah Biologi Reproduksi. Dengan menggunakan metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) yang merupakan salah satu metode
pembelajaran yang berpusat pada siswa, apakah akan berpengaruh positif pada minat belajar mahasiswa pada mata kuliah Biologi Reproduksi.
B. RUMUSAN MASALAH
Apakah ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) terhadap minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa semester II DIII Kebidanan FK UNS.
C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode pembelajaran TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi.
commit to user 2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa semester II sebelum menggunakan metode pembelajaran TGT.
b. Mengetahui minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa semester II setelah menggunakan metode pembelajaran TGT.
c. Menganalisis adanya pengaruh penggunaan metode TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi.
D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis
Membuktikan teori bahwa metode pembelajaran TGT dapat meningkatkan minat belajar peserta didik.
2. Manfaat Aplikatif a. Bagi Peserta Didik
Mahasiswa termotivasi sehingga senang belajar Biologi Reproduksi dan dapat memperoleh pengalaman belajar.
b. Bagi Pendidik
Menambah wawasan tentang strategi pembelajaran.
c. Bagi Institusi
Meningkatkan mutu pendidikan di institusi pendidikan.
d. Bagi Pengembangan Kurikulum
Merupakan upaya penyempurnaan kurikulum.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. TINJAUAN PUSTAKA 1. Minat
Minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Sobur, 2009). Menurut Sujanto dalam Burhanuddin (2008), minat adalah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang lahir dengan penuh kemauannya dan tergantung dari bakat dan lingkungan.
Berdasarkan definisi minat di atas dapat diambil pengertian bahwa individu yang memiliki minat terhadap belajar, maka akan memiliki kecenderungan dan kegairahan yang tinggi terhadap belajar sehingga terdorong untuk memberikan perhatian yang besar pada materi ajar yang diberikan. Hal ini didukung pula oleh hasil penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa kurangnya minat belajar dapat mengakibatkan kurangnya rasa ketertarikan pada suatu bidang tertentu (Slameto, 2009).
2. Belajar
Menurut Morgan belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman (Suprijono, 2009).
Suprijono juga mengungkapkan pengertian belajar menurut Harold
Spears bahwa belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti arah tertentu.
Dari pengertian belajar di atas penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu usaha merubah perilaku yang dilakukan melalui kegiatan mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan kegiatan lainnya yang dilakukan secara berulang-ulang di dalam pengalaman belajar sehingga menjadi perilaku yang bersifat permanen dalam diri seseorang sesuai dengan bidang yang ditekuninya.
Sobur (2009) menguraikan beberapa faktor yang mempengaruhi belajar yaitu :
a. Faktor Endogen
Faktor endogen disebut juga faktor internal yakni semua faktor yang ada dalam diri individu, dibagi menjadi faktor fisik dan psikis.
Banyak faktor yang termasuk aspek psikis yang dapat mempengaruhi kuwantitas dan kualitas perolehan pembelajaran, faktor psikis yang paling sering disoroti adalah faktor intelegensia dan kemampuan, perhatian dan minat, bakat, motivasi, kematangan individu dan kepribadian (Sobur, 2009).
b. Faktor Eksogen
Faktor eksogen adalah faktor yang berasal dari luar diri anak. Sobur membagi faktor eksogen menjadi tiga yaitu faktor
keluarga, faktor sekolah, dan faktor lingkungan lain, di luar sekolah dan keluarga.
3. Minat Belajar
Berdasar pada uraian landasan teori minat dan belajar di atas maka yang dimaksud dengan minat belajar adalah keinginan atau kegairahan yang tinggi dalam diri seseorang untuk mempelajari sesuatu dalam usaha mencapai tujuan tertentu.
Menurut Hadis dalam Ayuningtyas (2010), minat belajar meliputi empat aspek yaitu perhatian, perasaan senang, kemauan dalam belajar dan aktivitas belajar.
a. Perhatian
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu objek. Pemusatan tenaga psikis adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktifitas yang dilakukan (Suryabrata, 2008).
Suryabrata (2008) membagi perhatian dalam 2 macam yaitu :
1) Atas dasar intensitasnya a) Perhatian intensif b) Perhatian tidak intensif
Semakin banyak kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas atau pengalaman batin, berarti semakin intensif perhatiannya.
Aktivitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih sukses, alangkah baiknya kalau tiap-tiap pelajaran dapat diterima oleh siswa dengan perhatian yang cukup intensif (Suryabrata, 2008).
2) Atas dasar timbulnya
a) Perhatian spontan atau perhatian yang tidak disengaja b) Perhatian sekehendak
Perhatian spontan atau perhatian yang tidak disengaja cenderung untuk berlangsung lebih lama dan lebih intensif daripada perhatian yang disengaja.
b. Perasaan Senang
Perasaan adalah gejala psikis yang bersifat subjektif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenal dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf (Suryabrata, 2008).
Perasaan umumnya berhubungan dengan fungsi mengenal artinya perasaan dapat timbul mengamati, menganggap, mengkhayalkan, mengingat-ngingat atau memikirkan sesuatu.
Kendatipun demikian perasaan bukanlah hanya sekedar gejala
tambahan dari fungsi pengenalan saja, melainkan adalah fungsi tersendiri (Suryabrata, 2008).
Perasaan mendasari aktivitas-aktivitas manusia karena itu dalam memberikan pembelajaran diusahakan adanya perasaan senang. Perasaan senang dapat menumbuhkan rasa kegembiraan, dimana umumnya diketahui bahwa kegembiraan bersifat menggiatkan, kekecewaan bersifat melembekkan dan melemahkan. Oleh karena itu alangkah baiknya kalau pendidikan dan pengajaran yang kita berikan dapat diterima peserta didik dalam suasana gembira (Suryabrata, 2008).
c. Kemauan Belajar
Sardiman (2011) menjelaskan bahwa kemauan untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar.
Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan yang tidak mempunyai maksud sebelumnya. Kemauan untuk belajar berarti dalam diri anak didik itu memang ada dorongan untuk belajar, sehingga hasilnya tentu lebih baik.
Menurut Hadis dalam Ayuningtyas (2010), anak didik yang menunjukkan minat belajar yang tinggi juga akan menunjukkan kemauan belajar yang tinggi. Anak didik tidak mungkin memiliki minat belajar yang tinggi jika tidak memiliki kemauan belajar yang tinggi pula.
d. Aktifitas Belajar
Sudjana dalam Ayuningtyas (2010) mengungkapkan bahwa aktivitas belajar adalah aktifitas yang bersifat fisik maupun mental.
Menurut Sardiman (2011) jenis-jenis aktivitas belajar meliputi membaca, memperhatikan gambar, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, menulis cerita, mencatat, melakukan percobaan, memecahkan soal, bersemangat dan bergairah dalam belajar.
Menurut Hadis anak didik yang tidak berminat terhadap suatu mata pelajaran cenderung untuk tidak aktif, kreatif dan produktif dalam melaksanakan aktivitas dan menyelesaikan tugas- tugas belajar. Pengajar harus kreatif dalam merencanakan pembelajaran, sehingga anak didik yang pada mulanya tidak ada hasrat untuk belajar menjadi lebih berminat karena ada kesesuaian antara kebutuhan anak didik dengan materi ajar (Ayuningtyas,2010).
Hadis dalam Ayuningtyas (2010) menguraikan beberapa faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, yaitu :
1. Objek Belajar
2. Metode Pembelajaran
3. Pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh pengajar 4. Variasi mengajar
5. Media Pembelajaran
6. Fasilitas dan sumber belajar yang tersedia 7. Lingkungan belajar
Dalam kegiatan belajar-mengajar, pengajar dapat menggunakan metode, objek, pendekatan dan media pengajaran yang bervariasi dalam lingkungan dan fasilitas belajar yang menunjang, sehingga jalannya pengajaran tidak membosankan tetapi menarik perhatian anak didik.
Metode pembelajaran adalah cara-cara pelaksanaan daripada proses belajar-mengajar, atau soal bagaimana teknisnya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik (Suryosubroto, 2009).
Metode pembelajaran kooperatif adalah metode dimana para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang atau lebih untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru (Slavin, 2005).
Semua metode pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerjasama dalam belajar dan bertanggungjawab terhadap teman satu timnya mampu membuat diri mereka belajar sama baiknya (Slavin, 2005).
4. Metode Teams Games Tournament (TGT)
Metode TGT merupakan salah satu pembelajaran kooperatif dengan dibentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga
sampai lima siswa yang bersifat heterogen baik dalam prestasi akademik, jenis kelamin, ras maupun etnis (Indrawati, 2009).
Komponen-komponen dalam metode TGT adalah sebagai berikut (Slavin, 2005) :
a. Tim
Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas.
Fungsi utama dari tim adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, melakukan yang terbaik untuk tim dan tim pun harus melakukan yang terbaik untuk anggotanya.
b. Game
Game dalam TGT terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi di kelas dan pelaksanaan belajar tim.
c. Turnamen
Turnamen adalah sebuah struktur dimana game berlangsung.
Berlangsung pada akhir minggu atau akhir unit setelah pengajar memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Setelah turnamen pertama para siswa akan bertukar tempat tergantung pada kinerja mereka pada turnamen terakhir.
d. Rekognisi Tim
Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu.
Dalam rekognisi tim diberikan tiga tingkatan penghargaan, yang didasarkan pada skor rata-rata tim :
Tabel 2.1. Kriteria Tim
Rata-rata Skor Tim Penghargaan
40 45 50
Tim Baik Tim Sangat Baik
Tim Super Sumber : Slavin (2005)
Jadual kegiatan TGT terdiri dari siklus reguler dari aktivitas pengajaran sebagai berikut :
a. Pengajaran, yaitu menyampaikan materi pelajaran oleh dosen mata kuliah.
b. Belajar Tim, yaitu para siswa mengerjakan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai materi. Dilaksanakan 1-2 periode kelas.
c. Turnamen, yaitu para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang homogen, dalam 1 meja turnamen 3 peserta.
Dilaksanakan dalam 1 periode kelas.
d. Rekognisi Tim, yaitu skor tim dihitung berdasarkan skor turnamen anggota tim. Dilaksanakan segera setelah turnamen selesai.
Penelitian mengenai metode pembelajaran kooperatif telah mengindikasikan bahwa penghargaan tim dan tanggungjawab individual sangat penting untuk meningkatkan prestasi kemampuan dasar (Slavin, 2005).
5. Biologi Reproduksi
Di dalam silabus Biologi Reproduksi merupakan mata kuliah yang memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk memahami struktur biologi reproduksi dengan penekanan pada integrasi ilmu dan praktek kebidanan. Mata kuliah ini memiliki beberapa topik bahasan yaitu : sistem reproduksi, struktur dan fungsi reproduksi, genetika, hormon, fertilisasi, plasentasi, embriogenesis dan fisiologi kehamilan.
Berdasar pada studi pendahuluan yang dilakukan dengan mengamati nilai dari hasil studi, ditemukan bahwa hasil belajar Biologi Reproduksi semester II D III Kebidanan dua tahun terakhir tidak mencapai nilai rata-rata yang optimal. Hasil dari angket minat yang diberikan oleh penulis pada mahasiswa semester II DIII Kebidanan memperoleh hasil bahwa mata kuliah dengan minat kurang terbanyak adalah pada mata kuliah Biologi Reproduksi. Maka dari itu penulis memilih mata kuliah Biologi Reproduksi.
commit to user
6. Pengaruh Metode TGT Terhadap Minat Belajar
Sesuai dengan paradigma pendidikan yang bersifat konstruktivistik salah satu usaha yang dilakukan pendidik untuk meningkatkan minat belajar siswa adalah dengan menggunakan metode pembelajaran inovatif, dimana siswa merupakan pusat pembelajaran.
Sardiman (2011), memandang bahwa anak didik sebagai organisme yang mempunyai potensi untuk berkembang. Tugas dan peran dosen dalam hal ini adalah bagaimana usaha mereka dalam menumbuhkan minat peserta didiknya pada setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sebagaimana diketahui bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar, pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya, ia segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu (Riyanto, 2010).
Salah satu metode pembelajaran yang akan digunakan penulis untuk meningkatkan minat belajar mahasiswa dalam penelitian ini adalah Metode TGT. Dimana diketahui tournament atau permainan dalam metode pembelajaran ini akan memberikan motivasi pada siswa sehingga dapat meningkatkan minat belajar (Slavin, 2005).
Dalam pelaksanaan TGT menggunakan turnamen akademik, dimana siswa berkompetisi sebagai wakil dari timnya melawan anggota tim yang lain yang mencapai hasil atau prestasi serupa pada
commit to user
dalam suasana gembira sehingga dapat menumbuhkan perasaan senang, membuat perhatian siswa lebih intensif sehingga kemauan dan aktifitas belajar akan meningkat.
B. KERANGKA KONSEP
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Konsep Keterangan :
Di teliti
Metode TGT
Paradigma Konstruktivisme
Pembelajaran berpusat pada siswa
PAKEM
Perhatian
Perasaan Senang Kemauan Belajar Aktivitas Belajar Faktor-faktor yang
mempengaruhi minat 1. Objek Belajar
2. Metode Pembelajaran 3. Strategi Belajar-mengajar 4. Pendekatan Pembelajaran 5. Sikap dan Perilaku
mengajar
6. Media Pembelajaran 7. Fasilitas Pembelajaran 8. Lingkungan Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar 1. Faktor Endogen
Fisik, intelegensia, minat, bakat, kematangan pribadi 2. Faktor Eksogen
Keluarga, Sekolah, Lingkungan Minat Belajar
Hasil Belajar
C. HIPOTESIS
Ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa semester II DIII Kebidanan FK UNS.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperiment dengan pendekatan one group pretest and posttest.
Disebut quasi eksperiment karena desain penelitian ini digunakan untuk mencari perlakuan terhadap variabel dependen dan masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh (Sugiyono, 2008).
Pendekatan one group pretest and posttest adalah pendekatan dengan melakukan observasi sebanyak 2 kali pada satu kelompok sampel (Arikunto, 2006). Kelompok diberi pretest kemudian diberi perlakuan setelah itu dilakukan posttest pada kelompok yang sama, dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan (Sugiyono, 2008). Desain ini digambarkan dalam bagan berikut :
Gambar 3.1. Bagan Penelitian Perlakuan Pre-Test dan Post Test Keterangan:
O1 : Pretest O2 : Postest X : Perlakuan (Arikunto, 2006)
O1 X O2
B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di DIII Kebidanan FK UNS Tingkat I Semester II dengan rentang waktu bulan Februari – bulan Agustus 2011.
C. POPULASI PENELITIAN 1. Populasi Target
Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran akhir yang parameternya akan diketahui melalui penelitian (Taufiqurrohman, 2008).
Populasi target dalam penellitian ini adalah mahasiswa Progam Studi Diploma III Kebidanan semester II yang mengambil mata kuliah Biologi Reproduksi.
2. Populasi Aktual
Populasi aktual adalah bagian dari populasi target tempat anggota sampel diambil.
Populasi aktual dalam penelitian ini adalah mahasiswa tingkat I semester II DIII Kebidanan FK UNS tahun ajaran 2010/2011.
Pertimbangan pengambilan populasi tersebut karena kualitas input mahasiswa DIII Kebidanan FK UNS telah melalui proses seleksi yang ketat, sehingga kualitas peserta didik tergolong baik. Kondisi kualitas peserta didik yang baik bila ditemukan minat belajar yang kurang
menjadi alasan pendidik untuk kreatif memberikan stimulus dengan metode pembelajaran yang inovatif.
D. SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel diambil dengan maksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian, artinya bahwa hasil penelitian yang berlaku pada sampel juga berlaku untuk populasi (Arikunto, 2006).
Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling, dengan tujuan untuk memperoleh sampel yang representatif.
Menurut Taufiqurrahman (2004) jumlah sampel yang terbatas dengan jumlah variabel luar banyak yang tidak dapat dikendalikan merupakan alasan dilakukan random sampling dalam penelitian ini.
Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester II DIII Kebidanan FK UNS.
E. ESTIMASI BESAR SAMPEL
Besar sampel dalam penelitian dihitung dengan menggunakan rumus Ꚑ (Notoatmodjo, 2005). Pada derajat kesalahan 5 % (d) dan jumlah populasi 42 (N) diperoleh jumlah sampel sebesar 38.
Untuk memperoleh 38 orang responden dari 42 jumlah populasi dilakukan dengan undian, yaitu mengundi nama-nama subjek dalam
nomor subjek kemudian diundi untuk mengambil sampel sebanyak yang diperlukan (Azwar, 2010).
F. KRITERIA RESTRIKSI
Subjek dalam penelitian ini adalah subjek yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Sugiyono, 2005). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
a. Terdaftar sebagai mahasiswa DIII Kebidanan FK UNS tahun ajaran 2010/2011.
b. Bersedia menjadi subjek penelitian dengan menandatangani informed consent.
c. Hadir saat melakukan penelitian.
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat penelitian, menolak menjadi responden atau suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian (Sugiyono, 2005). Kriteria
commit to user
eksklusi dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang tidak bersedia menjadi responden.
G. DEFINISI OPERASIONAL 1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran TGT.
a. Definisi Operasional
Metode pembelajaran TGT merupakan perlakuan peneliti yang diberikan pada sampel. Perlakuan diberikan dengan cara membagi sampel dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai empat siswa yang bersifat heterogen dalam prestasi akademik, jenis kelamin, ras maupun etnis. Kelompok yang sudah terbentuk kemudian melakukan belajar tim dan bermain dalam turnamen dengan langkah-langkah sesuai pedoman langkah pembelajaran TGT.
b. Alat Ukur
Alat untuk melakukan metode TGT terdiri dari : lembar kegiatan tim, lembar jawaban tim, lembar pembagian meja turnamen, lembar skor permainan (Slavin, 2005).
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah minat belajar
a. Definisi Operasional
Minat Belajar Biologi Reproduksi adalah perasaan senang, perhatian mahasiswa, kemauan dalam belajar dan aktivitas belajar mahasiswa pada mata kuliah Biologi Reproduksi.
b. Alat Ukur : Kuesioner minat belajar Biologi Reproduksi c. Skala Pengukuran: Interval
H. CARA KERJA 1. Intervensi
Intervensi dalam penelitian ini berbentuk metode pembelajaran TGT. Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan metode TGT terlebih dahulu responden diberikan kuesioner minat belajar Biologi Reproduksi sebagai pretest. Pretest diberikan pada tanggal 16 Juni 2011 setelah mahasiswa menerima pembelajaran Biologi Reproduksi dengan metode pembelajaran konvensional selama satu semester.
Pretest diberikan bertujuan untuk mengetahui minat belajar Biologi
Reproduksi dengan metode pembelajaran konvensional yaitu ceramah.
Setelah pretest diberikan, peneliti melakukan pembelajaran Biologi Reproduksi menggunakan metode TGT dengan rangkuman materi Biologi Reproduksi selama satu semester. Kemudian setelah pelaksanaan pembelajaran dengan TGT, responden kembali diberikan
kuesioner minat belajar Biologi Reproduksi untuk memperoleh data posttest pada hari ke-22 setelah pretest (Machfoedz dkk, 2005).
2. Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner.
Kuesioner adalah sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto,2006).
Instrumen yang digunakan adalah skala sikap model Likert, berisi pernyataan-pernyataan tentang minat belajar Biologi Reproduksi (Azwar, 2010). Instrumen terdiri dari sejumlah pernyataan yang diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan- tingkatan mulai dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju (Arikunto, 2006). Terdapat pernyataan yang favourable yaitu pernyataan yang mendukung atau memihak objek sikap dan pernyataan yang unfavourable yaitu pernyataan yang tidak mendukung objek sikap (Azwar, 2010).
Tabel 3.1. Skala Likert Pernyataan Positif
(favourable)
Nilai Pernyataan Negatif (un favourable)
Nilai
Sangat Setuju (SS) 4 Sangat Setuju (SS) 1
Setuju (S) 3 Setuju (S) 2
Tidak Setuju (TS) 2 Tidak Setuju (TS) 3
Sangat Tidak Setuju (STS) 1 Sangat Tidak Setuju (STS) 4 Sumber : Azwar (2010)
commit to user
Skor individu merupakan skor minat belajarnya terhadap mata kuliah Biologi Reproduksi, adalah jumlah skor dari keseluruhan pernyataan yang ada dalam skala (Azwar, 2010).
Kuesioner disusun dengan membuat kisi-kisi yang berpatokan pada empat aspek yang mempengaruhi minat belajar yaitu perhatian mahasiswa, perasaan senang, kemauan belajar, dan aktivitas belajar.
Adapun jumlah pernyataannya dijelaskan dalam tabel berikut : Tabel 3.2. Kisi-kisi Kuesioner
No Indikator
Minat Belajar
Pernyataan Positif
Pernyataan Negatif
∑
1.
2.
Perhatian Intensif
Tidak Intensif
1, 6, 17, 25, 32, 39, 42
10, 20, 28, 36 11
1.
2.
3.
4.
Perasaan Senang Merasa penting Merasa puas Mudah memahami Menanti-nanti
2, 51, 11, 33, 26 , 45, 38
43, 50, 29, 16, 22, 40, 52, 46
15
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kemauan Belajar Menyelesaikan tugas Ketekunan
Keinginan memperoleh nilai bagus
Persiapan materi Tepat waktu Bersemangat
3, 18, 27, 37, 41, 47, 48, 49
23, 30, 7,
12, 34
13
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Aktivitas Belajar Membaca
Memperhatikan gambar Bertanya
Mengeluarkan Pendapat Mencatat
Melakukan percobaan Bersemangat
13, 24 19 9 14, 31 8, 35, 44
5, 53 4
21 15
14
Jumlah 31 22 53
Jadi pernyataan kuesioner berjumlah 53 pernyataan, terdiri dari 31 pernyataan positif dan 22 pernyataan negatif.
3. Validitas dan Reliabilitas a. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 2006).
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan validitas internal, dimana butir-butir pernyataan dalam kuesioner mencerminkan faktor-faktor atau aspek-aspek yang mempengaruhi minat (Arikunto, 2006) disebut juga validitas construct.
Untuk uji validitas yang akan dilakukan, yaitu dengan cara memberikan kuesioner kepada responden di luar kelompok sampel, namun memiliki karakteristik yang diasumsikan sama dengan kelompok sampel, yaitu di AKBID Mitra Husada Karanganyar pada mahasiswa semester II kelas B. Setelah itu dilakukan uji korelasi antara skor tiap-tiap item pernyataan dengan skor total kuesioner tersebut (Notoatmodjo, 2010) dengan rumus Pearson Product Moment menggunakan bantuan SPSS 16.
Uji coba dilakukan pada 47 responden. Berdasarkan tabel r
kesalahan 5% taraf signifikansi yang diperlukan adalah 0,288.
Oleh sebab itu, nilai korelasi dari pernyataan dalam kuesioner yang memenuhi taraf signifikansi di atas 0,288, maka pernyataan tersebut valid.
Apabila terdapat pernyataan yang memenuhi taraf signifikansi di bawah 0,288 maka pernyataan tersebut tidak valid harus diganti dengan merevisinya lalu diujikan kembali atau dihilangkan (drop out). Pernyataan diganti atau direvisi apabila dalam instrumen tidak terdapat pernyataan yang mewakili salah satu aspek minat belajar yang ingin diukur. Pernyataan dapat dihilangkan bila dalam instrumen telah terdapat wakil dari masing-masing aspek minat yang ingin diukur.
Dari hasil uji validitas 53 pernyataan diperoleh 16 pernyataan valid yaitu pernyataan nomor 2, 5, 7, 8, 9, 10, 14, 19, 21, 29, 33, 37, 40, 48, 52, 53, dan pernyataan lainnya yang tidak valid tidak digunakan. Dari 16 butir pernyataan yang valid belum mencakup seluruh aspek minat belajar yang ingin diukur, oleh karena itu peneliti menyusun kembali 25 pernyataan dengan merevisi dari pernyataan sebelumnya yang belum valid. Kemudian dilakukan uji validitas kedua pada tanggal 15 Juni 2011. Hasil uji validitas memperoleh 22 pernyataan valid dan 3 pernyataan yang tidak valid yaitu nomor 2, 8, 21. Jadi jumlah total pernyataan valid dalam kuesioner ada 38 pernyataan. Untuk pernyataan yang tidak
valid dibuang (drop out) dan tidak digunakan dalam penelitian ini, karena sudah mewakili tiap indikator minat belajar yang akan diukur.
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas (ajeg) bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2010).
Untuk melakukan pengujian reliabilitas instrumen penelitian ini, dilakukan secara internal, yaitu dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen menggunakan metode koefisien Cronbach Alpha dengan bantuan program SPSS 16. Kuesioner atau angket dikatakan reliabel jika memiliki nilai alpha (ri) minimal 0,7 (Riwidikdo, 2008).
Hasil uji reliabilitas terhadap 38 pernyataan valid diperoleh nilai α > 0,7, maka kuesioner dapat dinyatakan reliabel.
Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.
Dari uraian cara kerja di atas, secara ringkas dapat dilihat dalam skema berikut :
Gambar 3.2. Skema Cara Kerja
I. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 1. Pengolahan Data
Dalam proses pengolahan data hasil penelitian ini, langkah- langkah yang ditempuh adalah:
a. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan (Hidayat, 2007).
Pengajuan Proposal Penelitian
Persetujuan Proposal
Uji Validitas Instrumen
Uji Reliabilitas Instrumen
Intervensi Metode TGT
Posttest Pretest
Analisis Data Paired t-test Kuliah Biologi
Reproduksi Semester II
b. Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik
(angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori (Hidayat, 2007).
c. Scoring
Scoring dilakukan dengan memberikan nilai pada data
sesuai dengan skor yang telah ditentukan berdasarkan kuesioner yang tersusun kemudian memberikan total skor dari semua jawaban (Arikunto, 2006).
d. Tabulating
Tabulating dilakukan dengan memasukkan data-data hasil
penelitian ke dalam tabel-tabel sesuai kriteria yang telah ditentukan. (Arikunto, 2006)
e. Entry Data
Kegiatan memasukkan data yang telah ditabulasi ke dalam master tabel atau database computer (Hidayat, 2007).
f. Cleaning
Yaitu kegiatan pengecekkan kembali data yang sudah dimasukkan apakah ada kesalahan atau tidak (Arikunto, 2006).
2. Analisis Data
a. Analisis Univariat
Dalam penelitian ini analisis univariat berfungsi menyajikan data yang merupakan langkah awal dari analisis yang lebih lanjut (Hidayat, 2007). Analisis ini bermanfaat untuk memberi gambaran karakteristik subjek penelitian.
b. Analisis Bivariat
Pengaruh penggunaan metode TGT dilihat dengan menghitung apakah terdapat perbedaan rata-rata hasil skor pretest dan posttest dari satu sampel. Uji beda dari satu sampel menggunakan rumus paired t Test (Riwidikdo, 2007) dengan tingkat kepercayaan 95% dan α 5%. Analisis bivariat ini digunakan untuk melihat ada tidaknya pengaruh variabel independen yaitu metode pembelajaran TGT terhadap variabel dependen yaitu minat belajar Biologi Reproduksi. Pengolahan dan analisis data menggunakan bantuan program SPSS 16 for windows.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. HASIL ANALISIS UNIVARIAT
Minat belajar Biologi Reproduksi diukur dua kali yaitu setelah responden menerima pembelajaran Biologi Reproduksi selama satu semester dengan metode ceramah (pretest) dan setelah responden diberi perlakuan pembelajaran Biologi Reproduksi dengan metode TGT (posttest).
1. Pretest
Berikut adalah skor rata-rata minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa dengan metode ceramah selama satu semester sebelum dilakukan pembelajaran dengan metode TGT.
Tabel 4.1. Tabel Distribusi Nilai Pretest N Valid
Missing
38 0 Mean
Median Std. Deviation Minimum Maximum
108,84 109,00 10,0553 91,00 128,00 Sumber : Data Primer 2011
Berdasarkan tabel diketahui bahwa minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa dengan metode ceramah sebelum dilakukan TGT rata-rata sebesar 108,84.
2. Posttest
Berikut adalah skor rata-rata minat belajar Biologi Reproduksi setelah responden diberi pembelajaran Biologi Reproduksi dengan metode TGT.
Tabel 4.1. Tabel Distribusi Nilai Posttest N Valid
Missing
38 0 Mean
Median Std. Deviation Minimum Maximum
113,11 112,00 7,71376 104,00 139,00 Sumber : Data Primer 2011
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa setelah dilakukan TGT rata-rata sebesar 113,11.
3. Analisis Perbedaan Pretest dan Posttest
Perbandingan skor rata-rata pretest dan posttest secara statistik dapat dilihat berdasarkan ukuran-ukuran sebagai berikut :
Tabel 4.3. Tabel Nilai-Nilai Statistik Skor Minat
N Mean Std. Deviation
Pretest 38 108.84 10.05532
Posttest 38 113.11 7.71376
Valid N (listwise) 38 Sumber : Data Primer 2011
Berdasarkan tabel di atas secara umum dapat dilihat skor hasil posttest lebih tinggi dibandingkan dengan skor hasil pretest. Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata hasil posttest sebesar 113,11 dan rata- rata hasil pretest sebesar 108,84.
B. HASIL ANALISIS BIVARIAT
Untuk membuktikan kebenaran hipotesis tentang perbedaan skor hasil posttest dan pretest, dilakukan pengujian sebagai berikut :
Tabel 4.4. Tabel Paired Samples Test Paired Differences
t df (p value)
Mean SD
Pair 1
Pretest –
Posttest -4.26316 9.29308 -2.828 37 .008 Sumber : Data Primer 2011
Dari hasil SPSS yang tertera pada tabel di atas diketahui bahwa thitung 2,828 > ttabel 2,021 menunjukkan bahwa ada perbedaan antara minat belajar Biologi Reproduksi sebelum pemberian perlakuan TGT dan setelah pemberian perlakuan TGT. Nilai negative (-) menunjukkan bahwa minat belajar Biologi Reproduksi sebelum TGT lebih rendah dari setelah pemberian perlakuan TGT. Sedangkan pembacaan singkat menurut harga signifikansi (p), dimana p=0,008 < 0,050, menunjukkan ada pengaruh yang signifikan pada penggunaan metode TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi, dengan demikian maka Ho ditolak.
Dari hasil analisis di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi.
BAB V PEMBAHASAN
Dari hasil analisis data pretest diketahui bahwa skor rata-rata minat belajar Biologi Reproduksi selama pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional ceramah sebesar 108,84. Setelah mahasiswa diberikan pembelajaran dengan metode TGT skor rata-rata minat belajar Biologi Reproduksi meningkat menjadi 113,11. Adanya peningkatan skor rata-rata dari hasil pretest dan posttest menunjukkan bahwa metode pembelajaran TGT dapat meningkatkan minat belajar Biologi Reproduksi pada peserta didik.
Sesuai hasil analisis data nilai p < 0,050 yaitu 0,008 mengandung makna bahwa ada pengaruh secara signifikan dalam penggunaan metode pembelajaran TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi. Minat belajar Biologi Reproduksi meningkat dengan menggunakan metode TGT, hal ini terjadi karena TGT seringkali dilihat sebagai salah satu pembelajaran kooperatif yang paling mengasyikkan (Slavin, 2005). Menurut Pearsons dalam Slavin, TGT memberikan kesempatan kepada pendidik untuk menggunakan kompetisi dalam suasana yang konstruktif/ positif. TGT memberi kesempatan pada siswa untuk merasa percaya diri ketika mereka bersaing dalam kompetisi dalam turnamen dengan membangun ketergantungan atau kepercayaan dalam tim asal mereka.
Pelaksanaan TGT menggunakan materi yang bersumber dari rangkuman materi Biologi Reproduksi yang telah disampaikan sebelumnya
oleh dosen mata kuliah Biologi Reproduksi dengan metode konvensional.
Persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan TGT terdiri dari menyusun pertanyaan sebanyak 30 soal untuk tiap meja turnamen sebanyak 9 meja turnamen, membuat undian bernomor dari nomor 1 sampai dengan 30, membuat kopian lembar penempatan meja turnamen, dan terakhir adalah membuat hadiah sebagai penghargaan pada saat rekognisi tim. Pelaksanaan TGT pada tanggal 20 juni 2011 para siswa dibagi dalam kelompok dengan jumlah anggota 4 orang, peneliti menjelaskan langkah-langkah yang akan mereka kerjakan mulai dari mengerjakan tugas kelompok sampai pada turnamen dan akhirnya rekognisi tim.
Pada awalnya para siswa masih canggung dan merasa enggan dengan turnamen karena banyaknya jumlah soal yang harus mereka selesaikan.
Namun ketika permainan memasuki turnamen, tiap kelompok dibagi dalam meja-meja turnamen dengan kemampuan yang homogen. Mereka mulai berkompetisi menjawab pertanyaan sebanyak-banyaknya untuk memperoleh skor sebanyak-banyaknya, membuat rasa canggung dan enggan berkurang berganti dengan perasaan senang yang ditandai dengan pertanyaan dari beberapa siswa, tentang mengapa pembelajaran seperti ini tidak dilaksanakan di kelas. Perasaan senang yang mendasari pembelajaran ini akan menggiatkan siswa sehingga apa yang disampaikan oleh pendidik dapat diterima dengan baik oleh peserta didik (Suryabrata, 2004).
Menurut Kauffman penelitian terhadap pembelajaran kooperatif menemukan bahwa penghargaan kelompok merupakan bagian yang penting
dalam pembelajaran kooperatif (Slavin, 2005). Sardiman (2011) mengungkapkan bahwa peran guru sangat penting dalam melakukan usaha- usaha untuk dapat menumbuhkan dan memberikan motivasi agar anak didiknya melakukan aktivitas belajar dengan baik. Rekognisi tim dalam TGT merupakan salah satu usaha yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.
Siswa menikmati suasana permainan dan menyukai kesempatan rekognisi tim mereka, hal ini dapat dilihat pada pelaksanaan TGT pada tanggal 7 Juli 2011 mahasiswa bersemangat dan menanyakan penghargaan yang akan mereka terima apakah sama dengan yang lalu. Suasana seperti ini akan mendorong peserta didik untuk melakukan yang terbaik bagi tim mereka dan ingin tim mereka menjadi yang terbaik agar memenangkan permainan sehingga memperoleh penghargaan, dengan demikian keseluruhan aktivitas belajar akan berjalan penuh semangat dan bergairah.
Suasana belajar dengan perasaan senang, penuh semangat dan bergairah dapat meningkatkan perhatian, kemauan belajar dan aktivitas belajar siswa, sehingga minat belajar siswa dalam suatu pembelajaran pun meningkat.
Terbukti dari hasil penelitian dimana skor rata-rata minat belajar peserta didik secara umum lebih tinggi setelah diberikan pembelajaran dengan metode TGT dibandingkan sebelum diberikan pembelajaran dengan metode TGT.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Saputri dengan tujuan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap minat belajar memperoleh hasil bahwa metode TGT dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar matematika. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Imam
dkk, hasilnya menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode TGT pada pelajaran Fisika di SMA terbilang tinggi.
Perbedaan dengan penelitian ini adalah terletak pada materi pelajaran dan tempat pelaksanaan TGT, penelitian ini dilakukan di lingkup perguruan tinggi sedangkan penelitian sebelumnya di lingkungan Sekolah Dasar dan Menengah. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran dengan metode TGT dapat meningkatkan minat belajar siswa pada berbagai bidang ilmu yang hendak disajikan di kelas tidak hanya pada pembelajaran Biologi Reproduksi saja, serta dapat diterapkan dengan mudah bagi peserta didik berbagai usia sekolah.
Penelitian terhadap beberapa metode pembelajaran kooperatif juga telah dilakukan untuk melihat pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Buzz Group Discussion, Number Head Together (NHT) dan Jigsaw, menunjukkan hasil bahwa pembelajaran kooperatif dengan metode
tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Meningkatnya prestasi belajar siswa merupakan indikator bahwa guru di kelas dapat memberikan motivasi yang baik pada peserta didik, timbullah dalam diri peserta didik itu dorongan dan hasrat belajar atau minat belajar menjadi lebih baik (Sobur, 2009).
Untuk dapat menerapkan metode pembelajaran TGT dengan baik pendidik harus dapat memilih waktu yang baik, apakah setiap selesai satu pokok bahasan atau dua pokok bahasan dalam satu mata kuliah ataukah pada menjelang ujian tengah semester atau waktu lainnya. Hal ini dilakukan karena
metode pembelajaran TGT membutuhkan waktu belajar yang panjang, jika pendidik tidak mampu mengatur waktu maka dikhawatirkan materi-materi pembelajaran dalam satu semester tidak dapat disampaikan seluruhnya.
Pendidik dapat melakukan inovasi pada tahap presentasi di kelas dengan meminimalisasikan waktu selanjutnya siswa dapat diberi tugas baca di rumah untuk persiapan diri dalam pertemuan berikutnya dengan games dan tournament. Kondisi seperti ini juga membantu mengkondisikan siswa belajar
aktif.
Adapun kendala yang dihadapi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian ini adalah adanya rasa bosan dan jenuh pada responden karena materi yang digunakan oleh peneliti pernah diberikan sebelumnya walaupun dengan metode pembelajaran yang berbeda. Oleh karena itu dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan penelitian selanjutnya agar penelitian dapat dilaksanakan sejak awal semester sebelum peserta didik menerima pembelajaran Biologi Reproduksi.
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Skor rata-rata minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa semester II DIII Kebidanan FK UNS sebelum pembelajaran Biologi Reproduksi dengan TGT sebesar 108,84.
2. Skor rata-rata minat belajar Biologi Reproduksi mahasiswa semester II D III Kebidanan FK UNS setelah pembelajaran Biologi Reproduksi dengan TGT sebesar 113,11.
3. Ada pengaruh penggunaan metode TGT terhadap minat belajar Biologi Reproduksi. Pengaruh tersebut bersifat positif, artinya minat belajar Biologi Reproduksi meningkat dengan menggunakan metode pembelajaran TGT. Hal ini dapat dilihat dari uji beda paired t-test dengan nilai thitung -2,828 dan p = 0,008.
B. SARAN
1. Bagi Pendidik
a. Diharapkan agar metode pembelajaran TGT dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk melaksanakan pembelajaran di
kelas karena telah terbukti dapat meningkatkan minat belajar peserta didik.
b. Diharapkan sebagai seorang pendidik sebaiknya mengenal dan mengetahui metode-metode pembelajaran inovatif dan diharapkan dapat menerapkannya dalam pelaksanaan pembelajaran, sehingga pembelajaran berlangsung aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan selanjutnya dapat meningkatkan minat belajar peserta didik, sehingga prestasi belajar peserta didik meningkat.
2. Bagi institusi pendidikan semoga dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai pertimbangan penyelenggaraan program pembelajaran dalam upaya penyempurnaan kurikulum.
3. Bagi penelitian selanjutnya
a. Peneliti menyarankan agar dapat dilakukan penelitian secara kualitatif dalam hal penerapan metode pembelajaran TGT, karena beragamnya respon peserta didik terhadap metode pembelajaran TGT perlu digali lebih dalam untuk pengembangan pembelajaran.
b. Peneliti menyarankan untuk melakukan penelitian yang sejenis sebaiknya menggunakan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.