• Tidak ada hasil yang ditemukan

BALOK SUSUN DI RUMAH SUSUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BALOK SUSUN DI RUMAH SUSUN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BALOK SUSUN DI RUMAH SUSUN

Rasanya baru kemarin halaman pertama majalah yang Mira baca adalah tentang kolase pakaian mode berwarna kuning telur yang identik dengan pantai dan teriknya matahari. Namun, bagai membalik halaman, kover majalah yang ramai dipajang majalah elektronik langganannya pagi ini sudah berisi rekomendasi pakaian hangat dan payung mode yang transparan untuk musim penghujan. Memang, ibunya pernah berkata kepadanya, kalau manusia selalu lupa tentang banyak hal, apalagi tentang waktu.

Mereka berlalu dengan cepat, kadang terlalu cepat sampai Mira tidak mengingat banyak hal yang terlalu menempel dalam ingatannya selain dua hal; betapa menyebalkan adik-adiknya, juga berapa banyak hal yang telah dimakan habis oleh pandemi. Contohnya malam ini, ketika ia seharusnya menonton serial drama yang baru tayang setelah seminggu, tiba-tiba saja adiknya mengumpulkan empat bersaudara itu bersama di ruang keluarga untuk bermain balok susun yang cat pelapisnya mulai kusam.

“Kak, ayo sekarang giliran Kak Mira!”

Si Pemilik Nama awalnya tidak bergeming, masih sibuk sendiri dengan gawai yang ada di genggamannya tanpa berniat menggubris adik bungsunya yang menatap tajam dari seberang tempat duduknya. Ah, anak kecil banyak keinginanya sekali sih, bikin repot, pikirnya. Namun, entah karena hari ini Naia bangun di sisi kasur yang salah atau sebal tidak dihiraukan, bocah yang lebih muda tujuh tahun darinya itu menggigit keras-keras lengannya.

Membuat Mira spontan melompat dari tempat duduknya sambil meringis kesakitan. “Aduh!

Kok kamu gigit kakak sih, Naia? Kayak buaya tahu!” Mira berseru marah, meniup pelan bekas gigitan adiknya yang nampak sedikit memerah.

Bukannya kapok, Naia malah menjulurkan lidahnya meledek, membuat Mira semakin naik pitam dengan wajah yang merah padam. “Bukannya minta maaf malah mengejek,”

giginya bergemeletuk kesal, “enggak sopan,” tegurnya.

“Kakak main sendiri terus sih. Giliran Naia ajak bicara enggak digubris, kita kan lagi main balok susun … Naia pundung, hmph! Naia enggak mau main sama Kak Mira lagi!”

rajuknya kecewa dengan bibir mencucu maju. Lantas, tanpa sempat memberikan waktu bagi Mira untuk mengatakan aksara tertahan di ujung lidahnya, Naia menangis sesegukan sampai hidungnya berair dan matanya total sembab.

“Aduh, Naia,” panggil Ningsih, kakak tertua, letih sambil menghela napas. Wajahnya yang tirus kelihatan lebih lesu karena masih dalam pakaian kerja yang formal dengan riasan dasar yang mulai luntur. Tangannya menarik yang paling muda ke dalam gendongan,

(2)

membisikan kata-kata penenang untuk melerai dua kubu yang sama-sama panas. “Jangan begitu sama Kak Mira, Sayang. Kalau Naia mau main sama Kak Mira, kan bisa bicara baik-baik, enggak perlu sampai gigit begitu. Coba lihat, kasihan tangannya Kak Mira jadi sakit karena digigit. Naia enggak kasihan?” tanyanya lembut sembari menghapus jejak air mata di pipi gembil si Bungsu.

“Itu bukan aku yang mulai, Kak!” cibir Naia dengan kedua tangan bersedekap dada.

Masih sesegukan karena menangis. “Naia cuma mau main sama Kak Mira tapi kakak emo yang satu itu malah sibuk sendiri. Masa kakak enggak ngerti aku sih? Hmph!”

“Enak saja! Aku ini ikut ekskul karate tahu!” tukas Mira tidak terima, terlihat semakin marah karena dibilang emo oleh anak berusia tak sampai dua digit itu. Membuat suasana yang belum surut semakin keruh karena gadis remaja itu menanggapinya.

“Aku itu sedang sibuk sama tugas, kalau nilaiku jelek mau tanggung jawab?”

“Ya, enggak dong, kan Kak Mira yang nilainya jelek,” bocah itu menceletuk tanpa beban, “Naia, kan masih belum hafal perkalian satu kali sembilan.”

“Ka–”

BRAAK!

Ruangan itu hening sejenak, bahkan Mira dan Naia yang sedari tadi sibuk cekcok tentang masalah sepele ikut membungkam begitu mendapati Candra yang sedang setengah berlutut sukses meluluhlantakkan bangunan balok susun yang mereka bangun susah-susah.

“Ops …. “

“Balok!” Naia lagi-lagi menangis, kali ini lebih kencang sampai menendang-nendang balok yang berserakan. Ningsih kelabakan, kepalanya mulai pening karena tidak mengerti lagi harus bagaimana menangani kekacauan yang terjadi di ruang keluarga. Mira dan Candra juga tak jauh berbeda, keduanya saling berargumen kalau salah satu dari mereka adalah penyebab tangisan nyaring si Kecil Naia–bukan keduanya.

Intinya, ruang keluarga mereka kacau balau, begitu pula gendang telinga mereka yang semakin bebal. Kalau tetap begini, mungkin tetangga akan mulai menggedor pintu sambil mencaci maki mereka karena mengganggu kesunyian malam.

“DIAM! TOLONG. DIAM!”

Ningsih akhirnya berteriak marah, kepalanya yang migrain sejak pulang dari kantor semakin menjadi-jadi begitu diuji sampai limit oleh ketiga adiknya yang kekanak-kanakan.

Walaupun memang dalam hati merasa tidak enak tapi Ningsih adalah yang paling tua disini.

Kalau bukan dia yang mengambil kendali lalu siapa?

Orang tuanya yang sudah meninggal?

(3)

“K–Kak Ningsih … “ Mira mencicit takut, pupilnya gemetar karena belum pernah melihat kakaknya yang lembut dan pengertian berubah layaknya siang dan malam.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang keluarga, membuat Ningsih tiba-tiba saja gagap, bingung mau mengatakan apa kepada adik-adiknya.

“A–Aku … Aku tidak tahu bagaimana, sungguh! Kakak tidak bermaksud! Itu keluar begitu saja. Kau tahu, seperti erupsi! BOOM!”

Ningsih mencari-cari penjelasan, tidak mengira akan meledak sedemikian rupa hingga membuat si Bungsu mengompol di celana.

“Oh, keren. Sekarang aku terlihat seperti orang sinting,” gumamnya pelan pada dirinya setelah sadar akan apa yang telah diperbuatnya. Empat pasang mata yang menatapnya ketakutan dan Naia yang gemetaran dalam rengkuhannya, membuat perempuan berusia dua puluh lima itu paham betul rasanya menjadi kakak paling buruk se-alam semesta.

“Maafkan kakak …. “

Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, pundaknya terasa begitu berat hingga ia tidak bisa menengadah, dadanya terasa begitu sesak seperti ditekan beban dunia yang diturunkan orang tuanya. Naia tidak lagi menangis, Mira dan Candra juga tidak lagi bertengkar namun kenapa rasanya Ningsih yang ingin menangis? Kenapa rasanya Ningsih yang ingin mengumpati dunia dengan segenap hatinya padahal seharusnya dia yang menjadi panutan model untuk ketiga adiknya?

Lenggang menyelimuti ruang keluarga yang tadinya ricuh. Berusaha memahami apa yang sedang terjadi, Candra memberi kode lewat tatapan ke arah kembarannya. Meminta Mira mengurus Naia yang masih kaku di tempatnya dan kebingungan. Sementara ia akan menenangkan kakak tertua mereka.

Mengerti apa yang harus dilakukan, Mira langsung menggendong adiknya walau sedikit kesusahan. “Hup! Ayo kita gosok gigi dulu, terus tidur bersama Tuan Olifant,”

katanya antusias sambil membawa Naia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setidaknya berhasil mengalihkan si Bungsu dari keterkejutannya dan kembali berceloteh membicarakan rasa odol sikat gigi yang mirip es krim cokelat min di kedai depan.

Sepeninggal keduanya, Candra dengan hati-hati memanggil kakaknya yang terlihat begitu kelelahan. “Kak,” panggilnya pelan. Namun, Ningsih tidak langsung merespon, membuat Candra merasa bersalah karena membuat kakaknya kesusahan.

“Kakak, kumohon jangan merasa bersalah. Aku dan Mira yang salah disini.

Kami–tidak, aku seharusnya lebih mengerti kalau Kak Ningsih pasti lelah karena baru pulang kerja tapi aku malah memperburuk masalah. Padahal aku bilang mau menjadi seperti ayah

(4)

tapi aku malah mengecewakan kakak. Maafkan aku, Kak … ” rasa tidak enak menyelimutinya seraya tangannya memilin gugup ujung kaus tidurnya, “M–Mungkin kalau kakak tidak mengurus kami, Kak Ningsih sudah menjadi jurnalis di Amerika sana,” sesalnya.

Mendengar itu, Ningsih kontan mengangkat wajahnya yang lesu. Ia menanggapinya dengan menggeleng pelan, sembari menangkup kedua telapak tangan dingin Candra dengan tangannya yang hangat. “Kamu keliru, Candra. Kamu keliru,” tukasnya tidak setuju.

“Justru kakak yang akan menyesal kalau meninggalkanmu, Mira dan Naia sendirian di Ibu Kota. Siapa yang tahu kalau orang tua kita akan pergi tahun lalu, siapa yang tahu kalau rumah kita digadai bank karena belum lunas cicilan. Kakak tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kita tidak berada di sisi satu sama lain, menguatkan satu sama lain dan mendukung satu sama lain. Jadi, jangan pernah berpikir kalau kakak hidup dalam penyesalan karena tidak pernah sekalipun merasa hidup sia-sia berkat kalian.”

“Kau mengerti?” tanya Ningsih sambil tersenyum tipis.

Pemuda yang duduk di tingkat akhir bangku sekolah dasar itu mengangguk paham, merasa tersentuh sekaligus lega karena selama ini ia merasa telah menahan mimpi kakaknya yang seharusnya terwujud di belahan dunia sana.

“Terima kasih banyak, Kak,” ungkapnya tulus, membuat keduanya tertawa kecil karena sedikit canggung berbicara sejujur ini dengan satu sama lain.

Tak berselang lama, Mira keluar dari kamar dengan wajah yang tertunduk malu.

Langkahnya malu-malu, pelan sekali seperti jalan putri kerajaan sebelum duduk di hadapan Ningsih dengan kepala yang masih menunduk. “Anu … Kak Ningsih masih marah?”

tanyanya gelisah, takut-takut Ningsih marah lagi seperti tadi.

“Enggak, Mira,” jawab yang lebih tua lembut, “Maaf ya, kamu pasti takut,” lanjutnya.

“Kak Ningsih …. “

Mira langsung memeluk erat sang kakak, mengatakan berulang kali kata maaf dengan pipi yang bercucuran air mata. Melihat Ningsih marah seperti tadi membuatnya menyadari betapa bebalnya dia. Bertengkar dengan bocah setinggi pinggang seperti Naia, setelah dipikir-pikir rasanya seperti Mira yang bau kencur.

“Kak, aku minta maaf karena sudah bikin kakak marah kayak tadi. Seharusnya aku lebih tahu diri kalau aku sudah besar tapi justru kekanak-kanakan seperti itu dengan Naia.

Pokoknya, aku janji enggak akan berantem lagi sama Naia! Mangkanya Kak Ningsih jangan marah kayak tadi lagi ya, please!” pintanya dengan nada memelas yang dibalas anggukan oleh yang lebih tua. “Tapi janji ya, jangan berantem karena hal kecil lagi?”

“Tenang! Mira, kan calon pelajar rok biru, masa berantem sama bocah cilik?”

(5)

“Bukannya yang tadi sombong ikut karate waktu diledek Naia itu kamu ya, Mira?”

“Itu lagi kebawa emosi, Candra.” Gadis itu mencebik malas.

“Lagipula enggak mungkin juga aku adu tanding karate sama Naia yang naik kasur aja bokongnya masih perlu dibantu naik,” cercanya gemas.

“Sudah, sudah,” lerai Ningsih menengahi keduanya sebelum bertengkar lagi. “Intinya sekarang kita jadi lebih tahu tentang satu sama lain dan kakak senang sekali kalian bisa mengerti. Sekarang kita tidur, besok jangan sampai kesiangan masuk zoom-nya.”

Malam itu, setelah lampu temaram terakhir dari rumah kecil keluarga itu dimatikan, mereka menyadari bahwa mereka hampir mirip seperti balok bersusun. Semua orang memiliki kekuatan mereka masing-masing, namun ketika mereka bersama layaknya balok bersusun, maka mereka akan menjadi lebih kuat dan kokoh bersama. Karena seperti kata pepatah, kebahagiaan akan lebih indah ketika dibagi, begitu pula kesedihan akan lebih ringan ketika dibagi. Mereka adalah keluarga dan keluarga akan jauh lebih kuat ketika bersama.

Apa kau sudah mengucapkan terima kasih kepada keluargamu hari ini?

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya motivasi kerja yang baik akan menghasilkan dorongan bagi karyawan untuk bekerja lebih baik namun tanpa adanya pelatihan yang akan meningkatkan

TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyerang paru-paru sehingga pada bagian dalam alveolus terdapat

Penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah prosedur untuk memperoleh data secara deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang

Audit K3 bertujuan untuk menentukan apakah system manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan perencanaan dan memenuhi persyaratan dari standar yang telah di terapkan oleh

Form output royalti pada gambar 4.18 digunakan untuk menampilkan data lengkap dari royalti, diantaranya nama pengarang, id buku, nama buku, harga buku jumlah terjual

Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya

Harga rapat arus kritis Jc bahan turun tajam dengan penambahan fasa Ti di dalam bahan YBCO, ini menunjukkan bahwa dengan penambahan unsur fasa Ti, menyebabkan

pendekatan yang dapat memberikan harapan untuk menciptakan manusia yang peka terhadap masalah- masalah. Pendekatan STM adalah belajar dan mengajarkan Sains dan