8
dijadikan sebagai topik penelitian oleh peneliti terdahulu. Penelitian terdahulu merupakan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya dan relevan dengan topik penelitian yang diteliti oleh peneliti. Penelitian terdahulu bisa membantu peneliti dalam memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang akan dilakukan. Pemaparan penelitian terdahulu akan membantu menentukan posisi penelitian dan menunjukkan perbedaan penelitian yang sedang dikaji peneliti dengan peneliti lain atau menunjukkan orisinalitas dari penelitian. Penelitian terdahulu terkait dengan kemitraan mempunyai banyak aspek yang dapat dikaji seperti salah satunya pola kemitraan yang terbentuk. Beberapa kajian penelitian terdahulu yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Suriati et al., (2015) melakukan penelitian dengan judul “Pola Kemitraan Antara Petani Heliconia dengan Sekar Bumi Farm di Desa Kerta Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar.” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan kemitraan antara petani Heliconia dengan Sekar Bumi Farm di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Metode penentuan lokasi penelitian dengan objek penelitian dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan tertentu. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Metode analisis data yang digunakan yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari penelitian ini adalah pola kemitraan inti plasma. Kemitraan dimulai dengan pendekatan yang dilakukan oleh Sekar Bumi Farm ke petani Heliconia, dilanjutkan dengan perjanjian bersama yang berisi tentang hak dan kewajiban dalam melakukan kemitraan dan antar kedua pihak menyepakati perjanjian tersebut.
Manfaat kemitraan terdiri dari aspek teknis, ekonomi dan sosial. Kendala petani dalam menjalankan kemitraan yaitu masih kurangnya kemampuan petani dalam teknis penanaman sedangkan kendala yang
dihadapi Sekar Bumi Farm yaitu kurangnya tenaga penyuluh dalam memberikan penyuluhan ke petani. Perbedaannya dengan penelitian yang akan diteliti yaitu apabila penelitian terdahulu ini berfokus pada tingkat keberhasilan kemitraan, sedangkan penelitian yang akan diteliti berfokus pada pelaksanaan pemberdayaan petani melalui kemitraan yang terjalin. Persamaan penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada gambaran pola kemitraan yang terjalin dengan mekanisme di dalamnya.
Rochdiani & Kenal (2007) melakukan penelitian dengan judul “Pola Kemitraan antara Petani Padi dengan PT. E-FARM Bisnis Indonesia dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Padi.” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme dan pola kemitraan antara petani padi dengan PT. E- Farm Bisnis Indonesia (PT. EBI) serta pendapatan petani padi sebelum dan sesudah menjalankan kemitraan. Penelitian ini dilakukan di Desa Salam Jaya, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Penentuan lokasi penelitian secara sengaja (purposive), desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan metode survei.
Metode analisis data secara deskriptif dengan metode pengambilan sampel secara acak sederhana (simple random sampling) dan menentukan ukuran sampel dari populasi digunakan rumus Slovin. Hasil penelitian yaitu kemitraan antara petani dengan PT. EBI termasuk pola Kemitraan Usaha Bersama (KUB) dengan mekanisme kemitraan yaitu PT. EBI menyediakan saprodi, bimbingan teknis, memasarkan hasil produksi, sedangkan petani menyediakan lahan dan tenaga dalam proses produksi sampai panen.
Kemitraan dilaksanakan dari perencanaan, produksi, panen, pasca panen, pengolahan sampai pemasaran. Kendalanya terlihat dari petani hanya terlibat sampai panen sedangkan pengolahan dan pemasaran belum. Keuntungan adanya kemitraan ini terlihat dari peningkatan pendapatan petani namun belum memperlihatkan kondisi yang diharapkan petani seperti efisiensi, produktivitas, harga jual tinggi dan bargaining position petani yang kuat.
Perbedaannya dengan penelitian yang akan diteliti yaitu apabila penelitian terdahulu ini berfokus pada peningkatan pendapatan petani hasil dari
kemitraan yang terjalin, sedangkan penelitian yang akan diteliti berfokus pada pelaksanaan pemberdayaan petani yang dilakukan dalam kemitraan ini.
Persamaan penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada pola kemitraan yang terbentuk antara petani dengan perusahaan mitra dan mekanisme di dalamnya.
Fadilah & Sumardjo (2011) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kemitraan Antara Pabrik Gula Jatitujuh dengan Petani Tebu Rakyat di Majalengka, Jawa Barat.” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan kemitraan antara PG Jatitujuh dengan petani tebu rakyat, menganalisis intensitas kemitraan berkaitan dengan keberdayaan masyarakat khususnya petani tebu dan menganalisis hubungan intensitas kemitraan dan keberdayaan masyarakat dengan efektivitas kemitraan. Metode penentuan lokasi secara sengaja (purposive) dengan metode penelitian deskriptif dan analitik. Penentuan sampel dengan metode disproportionate stratified random sampling dan perhitungan menggunakan Rumus Slovin dengan data primer dan sekunder kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif, analisis pendapatan dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian yaitu pola kemitraan antara petani kapas dengan PT. Nusafarm tergolong pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis (KOA) dengan penyedia lahan dan tenaga kerja yaitu petani kapas sedangkan PT. Nusafarm menyediakan sarana produksi menanggung biaya angkut, memberikan bimbingan dan memberikan jaminan kepastian pasar kepada petani. Pendapatan rata-rata yang diterima oleh petani kapas bermitra dengan PT. Nusafarm sebesar Rp. 1.235.818,75.
Faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani kapas meliputi biaya produksi, pendidikan petani dan luas lahan sedangkan faktor- faktor yang berpengaruh tidak nyata adalah umur petani dan lama bermitra.
Perbedaannya dengan penelitian yang akan diteliti yaitu apabila penelitian terdahulu ini berfokus pada pelaksanaan kemitraan yang keberhasilannya dihitung dari besarnya tingkat pendapatan petani serta faktor yang mempengaruhi peningkatan pendapatan petani, sedangkan penelitian yang akan diteliti berfokus pada pelaksanaan pemberdayaan petani yang dilakukan
dalam kemitraan ini. Persamaan penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada mekanisme terbentuknya pola kemitraan antara petani dengan perusahaan mitra.
Sahibani (2017) melakukan penelitian dengan judul “Pola Kemitraan Petani Jagung Manis dengan UD. Agro Nusantara Prima di Kecamatan Jetis Kabupaten Bantul.” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kemitraan UD. Agro Nusantara Prima, mengetahui biaya usahatani, penerimaan, pendapatan dan keuntungan usahatani jagung manis dan mengetahui kelayakan usahatani jagung manis di Desa Barongan, Kelurahan Sumberagung, Kecamatan Jetis, Bantul. Metode penentuan lokasi secara sengaja (purposive) dan pengambilan sampel secara sensus dengan jumlah 35 responden. Metode penelitian deskripsi analisis dengan data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Teknik analisis data berupa analisis data pola kemitraan, analisis biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan serta analisis kelayakan usaha tani dengan menggunakan rumus perhitungan. Hasil penelitian yaitu pola kemitraan yang dijalankan UD. Agro Nusantara Prima dengan petani termasuk dalam pola kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA). Perusahaan berperan dalam penyediaan sarana produksi benih, penyedia jaminan harga dan pasar, sedangkan petani menyediakan tenaga kerja dan lahan dan mengikuti arahan teknis dari perusahaan mulai budidaya sampai panen. Hasil kemitraan yang dilakukan dapat dikatakan bahwa usahatani jagung manis ini layak diusahakan dan dikembangkan kembali. Perbedaannya dengan penelitian yang akan diteliti yaitu apabila penelitian terdahulu ini berfokus pada hasil keuntungan yang menandakan adanya peningkatan pendapatan dari terjalinnya kemitraan ini, sedangkan penelitian yang akan diteliti berfokus pada pelaksanaan pemberdayaan petani yang dilakukan dalam kemitraan ini. Persamaan penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada pola kemitraan yang terbentuk antara petani dengan perusahaan mitra serta kewajiban masing- masing pihak dalam pelaksanaan kemitraan ini.
Harisman (2017) melakukan penelitian dengan judul “Pola Kemitraan antara Petani dengan PT. Indofood Fryto-Lay Makmur pada Usahatani Kentang Industri Varietas Atlantik.” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan usaha tani kentang pada kemitraan yang dilakukan petani di Desa Cigedug dengan analisis pendapatan petani. Penelitian dengan metode survei, objek penelitian meliputi usahatani keragaan kentang industri, bentuk kemitraan, biaya dan pendapatan dengan unit analisis yaitu petani kentang yang bermitra dengan PT. Indofood. Hasil penelitian yaitu pola kemitraan yang terbentuk yaitu saling menguntungkan, petani berperan dalam penyediaan lahan, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja dan biaya panen sedangkan perusahaan membantu dalam penyediaan bibit import. Besarnya biaya produksi usahatani kentang Atlantik ditentukan dengan besarnya biaya tetap dan variabel. Perbedaannya dengan penelitian yang akan diteliti yaitu apabila penelitian terdahulu ini berfokus pada keragaan usahatani dan pendapatan petani, sedangkan penelitian yang akan diteliti berfokus pada terjalinnya hubungan kemitraan dengan pelaksanaan pemberdayaan petani di dalamnya. Persamaan penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada pola kemitraan yang terbentuk antara petani dengan perusahaan mitra.
Putra (2011) melakukan penelitian dengan judul “Pola Kemitraan antara Petani dengan UBH-KPWN dalam Usaha Hutan Rakyat Jati Unggul Nusantara di Desa Ciaruteun Ilir, Kabupaten Bogor.” Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem pengelolaan hutan rakyat pola kemitraan di lokasi penelitian, menganalisis tingkat hubungan kemitraan antara petani penggarap dengan UBH-KPWN dan menganalisis cost sharing dari pola bagi hasil usahatani Jati Unggul Nusantara (JUN). Data yang dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara dan survei. Pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan metode stratified purposive sampling. Data yang digunakan data primer dan data sekunder. Metode pengolahan data dengan analisis deskriptif, analisis cost sharing, analisis Net Present Value (NPV) dan analisis tingkat hubungan kemitraan. Hasil penelitian yaitu hubungan
kemitraan yang terjalin termasuk dalam kategori Kemitraan Prima Madya antar petani, UBH-KPWN, investor, pemilik lahan dan pemerintah desa.
Petani merupakan pihak yang paling diuntungkan daripada mitra lainnya dengan mendapat benefit sharing sebesar 25%. Berdasarkan analisis finansial petani mendapat nilai NPV Rp 1.678.390.947,- terbesar dibanding mitra yang lain namun petani paling tinggi mendapat resiko kerusakan tanaman.
Perbedaannya dengan penelitian yang akan diteliti yaitu apabila penelitian terdahulu ini berfokus pada analisis cost sharing, pendapatan petani yang didapatkan dari menjalin kemitraan ini, sedangkan penelitian yang akan diteliti berfokus pada terjalinnya hubungan kemitraan dengan pelaksanaan pemberdayaan petani di dalamnya. Persamaan penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada pola hubungan kemitraan yang terbentuk antara petani dengan pihak mitra.
Tabel 2.1 Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian yang Diteliti
Judul Hasil dan Aspek Penelitian Perbedaan
Penelitian Dulu Penelitian Ini Suriati et al.
(2015) Pola Kemitraan Antara Petani Heliconia dengan Sekar Bumi Farm di Desa Kerta Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar.
Hasil penelitian yaitu pola kemitraan yang terbentuk merupakan pola inti plasma dengan manfaat kemitraan meliputi aspek teknis, ekonomi dan sosial. Kendalanya terletak pada kemampuan petani yang masih kurang.
Aspek Penelitian :
a. Mekanisme kemitraan yang dilakukan.
b. Keberhasilan petani dalam bermitra.
c. Manfaat kemitraan.
d. Kendala yang dihadapi petani saat bermitra.
Penelitian terdahulu berfokus pada tingkat
keberhasilan kemitraan antara petani dengan perusahaan mitra.
Penelitian ini berfokus pada kemitraan
yang di
dalamnya terdapat pelaksanaan pemberdayaan petani.
Rochdiani &
Kenal (2007) Pola Kemitraan antara Petani Padi dengan PT.
E-FARM Bisnis Indonesia dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Padi.
Hasil penelitian yaitu kemitraan terjalin dengan pola Kemitraan Usaha Bersama (KUB).
Keuntungan adanya kemitraan ini terlihat dari peningkatan pendapatan petani dan kendala terlihat dari petani yang belum terlibat dalam pemasaran.
Aspek Penelitian :
a. Mekanisme kemitraan.
b. Pendapatan petani.
Penelitian terdahulu berfokus pada peningkatan pendapatan petani hasil dari kemitraan yang terjalin.
Penelitian ini berfokus pada pelaksanaan pemberdayaan petani yang dilakukan dalam
kemitraan ini.
Judul Hasil dan Aspek Penelitian Perbedaan
Penelitian Dulu Penelitian Ini Fadilah &
Sumardjo (2011) Analisis Kemitraan Antara Pabrik Gula Jatitujuh dengan Petani Tebu Rakyat di Majalengka, Jawa Barat.
Hasil penelitian yaitu pola kemitraan yang terbentuk merupakan pola kemitraan Kerjasama Kerjasama operasional agribisnis (KOA). Faktor yang mempengaruhi pendapatan petani meliputi biaya produksi, pendidikan petani dan luas lahan.
Aspek Penelitian :
a. Kemitraan sebagai Implementasi Kredit Ketahanan Pangan-Tebu Rakyat (KKP-TR).
b. Keberdayaan masyarakat.
c. Efektivitas kemitraan.
Penelitian terdahulu berfokus pada pelaksanaan kemitraan yang keberhasilannya dihitung dari besarnya tingkat pendapatan petani serta faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan tersebut.
Penelitian ini berfokus pada mekanisme kemitraan yang terbentuk dengan pemberdayaan petani yang dilaksanakan oleh
perusahaan mitra.
Sahibani (2017) Pola Kemitraan Petani Jagung Manis dengan
UD. Agro
Nusantara Prima di Kecamatan Jetis Kabupaten Bantul.
Hasil penelitian yaitu pola kemitraan yang dijalankan UD.
Agro Nusantara Prima dengan petani termasuk dalam pola kemitraan Kerjasama Kerjasama operasional agribisnis (KOA).
Aspek Penelitian : a. Pola kemitraan.
b. Karakteristik petani mitra.
c. Analisis ekonomi.
Penelitian terdahulu berfokus pada pembahasan analisis ekonomi keuntungan kemitraan yang menandakan adanya peningkatan pendapatan petani.
Penelitian ini berfokus pada analisis pola kemitraan dan proses
pelaksanaan pemberdayaan petani di dalam
kemitraan tersebut.
Harisman (2017) Pola Kemitraan antara Petani dengan PT.
Indofood Fryto- Lay Makmur pada Usahatani Kentang Industri Varietas Atlantik.
Hasil penelitian yaitu pola kemitraan yang terbentuk saling menguntungkan. Besarnya biaya produksi usahatani dalam kemitraan ini ditentukan dengan besarnya biaya tetap dan variabel.
Aspek Penelitian : a. Keragaan usahatani.
b. Pola kemitraan.
c. Biaya produksi.
Penelitian terdahulu berfokus pada keragaan usahatani dan pendapatan petani yang didapatkan ketika menjalin kemitraan.
Penelitian ini berfokus pada terjalinnya hubungan kemitraan dengan pelaksanaan pemberdayaan petani di dalamnya.
Putra (2011) Pola Kemitraan antara Petani dengan UBH- KPWN dalam Usaha Hutan Rakyat Jati Unggul
Nusantara di Desa Ciaruteun Ilir.
Hasil penelitian yaitu hubungan kemitraan yang terjalin termasuk dalam kategori Kemitraan Prima Madya antara petani dengan pihak-pihak mitra. Petani termasuk pihak yang paling diuntungkan dinilai dari analisis cost sharing.
Aspek Penelitian : a. Analisis kemitraan.
b. Sistem bagi hasil usaha tani.
c. Analisis kelayakan usaha.
Penelitian terdahulu berfokus pada analisis cost sharing, analisis pendapatan petani yang didapatkan dari menjalin kemitraan ini.
Penelitian ini berfokus pada pola hubungan kemitraan yang terbentuk antara petani dengan pihak mitra.
Sumber: Analisis Data Sekunder
B. Tinjauan Pustaka
1. Sistem Pertanian Berkelanjutan
Suatu sistem pertanian yang di dalamnya terdapat konservasi sumberdaya dan kualitas kehidupan di pedesaan disebut dengan istilah sustainable agriculture atau pertanian berkelanjutan. Sistem pertanian berkelanjutan ditujukan untuk mengurangi kerusakan lingkungan dengan tetap mempertahankan produktivitas pertanian yang mampu meningkatkan pendapatan petani dan stabilitas serta kualitas kehidupan masyarakat di pedesaan. Indikator tercapainya tujuan sistem pertanian berkelanjutan yaitu dilihat dari lingkungan yang lestari, ekonomi masyarakat meningkat (sejahtera) dan secara sosial mampu diterima oleh petani (Effendi, 2016).
Penerapan sistem pertanian berkelanjutan yang di dalamnya terpenuhi indikator membentuk lingkungan yang lestari dengan upaya memanfaatkan bahan limbah organik sebagai media pertanian yang efektif dan efisien disebut integrated ecofarming. Sistem ini mengacu pada siklus berkelanjutan (sustainable cycle) yang selain menghasilkan proses dan produk pertanian yang berkualitas dan ekonomis juga ditujukan untuk kelestarian alam. Sistem pertanian berkelanjutan ini akan berdampak positif karena berbasis organik dan dikembangkan berdasarkan potensi lokal sesuai dengan kriteria pembangunan pertanian (Humaidi et al., 2019).
Penerapan sistem pertanian berkelanjutan lainnya yaitu dengan vertical ecofarming subsistem. Varietas tanaman yang paling umum dan menguntungkan yang ditanam di vertical ecofarming adalah kubis, selada, kemangi, mawar, tomat, okra, melon dan paprika. Dua manfaat utama dari penanaman tanaman tanpa tanah berpotensi menghasilkan hasil panen yang jauh lebih tinggi dan juga dapat tumbuh di tempat- tempat yang tidak memiliki banyak lahan pertanian. Produktivitas tanaman dalam pertanian vertical ecofarming hasilnya lebih tinggi dua kali lipat dari pertanian tradisional dan siklus tanaman juga lebih cepat
karena media yang terkontrol dan terdapat parameter lingkungan yang terjaga (Sarkar & Mrinmory, 2015).
Sistem pertanian berkelanjutan pada dasarnya mendukung upaya pembangunan perekonomian nasional artinya sektor pertanian menjadi motor penggerak pembangunan nasional yang menjadi andalan sebagai penyumbang devisa negara. Tantangan dalam mewujudkan hal tersebut ialah lahan pertanian yang semakin terbatas seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, perubahan iklim dan keterbatasan air. Keterbatasan air dan lahan yang semakin sempit menyebabkan penerapan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan menjadi penting. Pertanian berkelanjutan bisa menghasilkan paling tidak lima keuntungan, yaitu a) Produksi hasil pertanian yang stabil sepanjang tahun; b) Mencegah terjadinya kerusakan lingkungan; c) Hemat biaya; d) Hasil produk pertanian lebih sehat; dan e) Terjaganya kelestarian ekologi (Viriantita et al., 2019).
Keberhasilan sistem pertanian berkelanjutan dalam membawa dampak positif perlu didukung peran diseminasi inovasi teknologi pertanian. Pelaksanaannya dapat melalui pendampingan dan pembinaan kepada kelompok masyarakat. Pendampingan dilakukan agar adopsi teknologi tersebut akan semakin mudah diterima dan dikembangkan oleh masyarakat untuk diterapkan pada kegiatan usaha pertaniannya masing- masing. Pelaksanaan pemberdayaan dalam penerapan sistem pertanian berkelanjutan dengan peningkatan wawasan, keterampilan dan perilaku dalam meningkatkan produk hasil pertanian, diversifikasi usaha tani, mengolah hasil pertanian dan meningkatkan kualitas hasil pertanian secara produktif berorientasi pada peningkatan pendapatan petani (Rosmini et al., 2018).
2. Sistem Pertanian Ecofarming
Sistem pertanian berkelanjutan salah satunya melalui program ecofarming atau yang lebih dikenal pertanian terpadu. Program ecofarming sebagai upaya yang dapat dilakukan untuk menangani
dampak yang ditimbulkan dari penerapan sistem pertanian konvensional.
Praktik dalam program ecofarming mencakup penggunaan nutrisi organik dan biologis, rotasi tanaman, pengelolaan hama terpadu dan peningkatan keberagaman biologis. Program ecofarming atau pertanian organik merupakan suatu bagian integral dari pertanian berkelanjutan dengan penggunaan bahan organik alami (Mayrowani, 2012).
Pertanian organik bertujuan untuk a) menghasilkan produk yang berkualitas dengan kuantitas memadai, b) membudidayakan tanaman secara alami, c) mendorong dan meningkatkan siklus hidup biologis dalam ekosistem pertanian, d) meningkatkan kesuburan tanah untuk jangka panjang, e) menghindarkan seluruh bentuk cemaran yang diakibatkan dari penerapan teknik pertanian, f) memelihara dan meningkatkan keragaman genetik, dan g) mempertimbangkan dampak sosial dan ekologis (Fuady, 2011).
Pertanian dalam rangka peningkatan pendapatan petani disebut sistem eko-pertanian. Sistem ini merupakan bagian dari sistem pertanian berkelanjutan yang telah menjadi satu pendekatan yang efisien dan satu pilihan yang tak terhindarkan untuk pembangunan pertanian.
Sistem eko-pertanian sebagai model pertanian ramah lingkungan yang telah menjadi esensi dan refleksi konkret untuk berbagai daerah (Krishna, 2011; Kurosh & Saeid, 2010).
Upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan perlu adanya kegiatan menganalisis model pertanian ramah lingkungan dan karakteristik distribusinya di berbagai wilayah. Kegiatan analisis ini dapat membantu untuk mengarahkan pengembangan pertanian ramah lingkungan di masing-masing daerah, membantu untuk membandingkan faktor-faktor pembatas di berbagai wilayah untuk mempraktikan pertanian ramah lingkungan dan menyelesaikan masalah utama petani saat mempraktikkan pertanian ramah lingkungan dan mampu mempromosikan pengembangan pertanian ramah lingkungan secara luas (Che et al., 2013).
3. Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat untuk memampukan dan memandirikan masyarakat. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak, dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Hal yang dilakukan dalam mencapai kemandirian masyarakat diperlukan sebuah proses, melalui proses belajar maka secara bertahap masyarakat akan memperoleh kemampuan atau daya dari waktu ke waktu (Koeswantono, 2014).
Peningkatan kemampuan masyarakat dalam kemandirian tidak terlepas dari proses pemberdayaan. Konsep peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam pembangunan melalui pemberdayaan masyarakat dimana pembangunan dan proses pemberdayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Pembangunan dan pemberdayaan sebagai satu kesatuan karena untuk mencapai sebuah tujuan pembangunan proses yang perlu dilalui adalah memberdayakan masyarakat sehingga terwujudlah sebuah keberdayaan masyarakat dalam pembangunan (Laksono & Nasyikhatur, 2019).
Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat haruslah memiliki tujuan yang jelas dan harus dicapai, sehingga diperlukan strategi kerja tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Strategi diperlukan sebagai langkah-langkah atau tindakan tertentu yang dilaksanakan demi tercapainya suatu tujuan yang dikehendaki. Strategi pemberdayaan yaitu terdiri dari pemberian motivasi, peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan, manajemen diri, mobilitas sumber daya, pembangunan dan pengembangan jejaring (Wahyuni, 2018).
Strategi dalam mewujudkan keberdayaan masyarakat meliputi pelibatan mobilisasi sumber daya, penguatan jaringan komunitas, pengembangan koalisi, peningkatan kapasitas, dan keterlibatan masyarakat terutama melalui pengorganisasian dan penjangkauan lokal.
Kemitraan itu sendiri dapat bertindak sebagai katalisator perubahan,
karena warga, tokoh masyarakat, dan peneliti melakukan tindakan kolektif menuju visi bersama dan tujuan yang ditetapkan bersama.
Tujuan dari pengembangan masyarakat ini termasuk memberdayakan warga sehingga mereka dapat bertindak untuk memajukan perubahan sosial yang positif di tingkat komunitas. Keterlibatan warga dan pemangku kepentingan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dengan strategi ini mampu membangun kapasitas masyarakat untuk menentukan kesejahteraannya sendiri melalui pengembangan kepemimpinan dan penyediaan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan masyarakat (Martinez et al., 2010).
Masyarakat dilibatkan dalam pemberdayaan masyarakat karena hakikatnya setiap manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan, artinya tidak ada sumberdaya manusia atau masyarakat tanpa daya.
Pemberdayaan dalam konteks ini sebagai upaya membangun daya, kekuatan atau kemampuan dengan mendorong (encourage) dan membangkitkan kesadaran (awareness) akan potensi yang dimiliki serta berupaya mengembangkannya. Pemberdayaan memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering) sehingga diperlukan langkah yang lebih positif, selain dari iklim atau suasana. Pemberdayaan dalam prosesnya harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah, oleh karena ketidakberdayaannya dalam menghadapi yang kuat (Ismail et al., 2016).
Upaya menciptakan penguatan dalam pemberdayaan dan dalam rangka mencapai good governance hendaknya mampu mendekatkan antara unsur pemerintah, swasta dan masyarakat. Keberdayaan masyarakat bisa terwujud dengan tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta maupun masyarakat melalui mekanisme kemitraan yang serasi, selaras dan seimbang. Pihak swasta hendaknya mampu memberikan kontribusi dalam memberikan dukungan untuk melaksanakan pemberdayaan bersama pemerintah dan masyarakat (Sulistyani, 2017).
4. Pemberdayaan Masyarakat oleh Perusahaan
Perusahaan berkontribusi dalam pembangunan daerah sebagai implementasi tanggung jawab sosialnya melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL/CSR). Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL/CSR) merupakan salah satu model dari pemberdayaan masyarakat. Setiap perusahaan harus memegang prinsip-prinsip 3P (profit, people, planet) yang artinya selain mengejar keuntungan juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan wilayah kerja perusahaan serta upaya dalam pelestarian alam lingkungan. Peran perusahaan cukup strategis melalui program CSR membantu pemerintah dalam menggerakkan hingga mempercepat laju roda perekonomian daerah sehingga bisa memberikan kontribusi peningkatan indeks daya beli karena mulai menurunnya pengangguran (Rasyid et al., 2015).
Corporate Social Responsibility (CSR) itu sendiri diartikan sebagai sebuah komitmen perusahaan atau dunia bisnis dalam memberikan kontribusi terhadap pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dan menitikberatkan pada aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Program CSR di Indonesia diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta dalam PP No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas. Tanggung jawab sosial dan lingkungan berdasarkan perundang-undangan tersebut adalah bentuk komitmen perseroan guna berperan serta dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan serta meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi perseroan secara internal dan eksternal, komunitas pemberdaya setempat dan masyarakat secara umum (Pranoto & Dede, 2014).
Pelaksanaan komitmen perusahaan terhadap masyarakat salah satunya dengan hadirnya CSR yang kuncinya memegang isu mengenai pentingnya hubungan harmonis antara pihak pemangku kepentingan (stakeholders), serta pihak perusahaan itu sendiri (shareholders).
Stakeholders adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
keberadaan perusahaan yang mempengaruhi pengambilan keputusan dan kebijakan perusahaan yang akan diterapkan serta pihak-pihak yang terkait dampak operasional perusahaan. CSR itu sendiri sebagai bentuk tanggung jawab atau kepedulian perusahaan terhadap lingkungan maupun kepedulian sosial dengan melindungi dan memberi kontribusi pada masyarakat dimana perusahaan itu berada (Disemadi & Paramita, 2020).
Hubungan antara perusahaan dan pemangku kepentingan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya digambarkan dalam piramida Carrol. Piramida tersebut menggambarkan tanggung jawab ekonomi, hukum, etis dan menempatkan tanggung jawab filantropis di puncak piramida. Tanggung jawab ekonomi ditempatkan sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa tujuan utama perusahaan adalah laba. Perusahaan juga harus mematuhi peraturan yang berlaku dan menjalankan bisnis secara etis, adil dan menghormati norma yang berlaku di masyarakat.
perusahaan diharuskan menunjukkan kewarganegaraan yang baik dengan memberikan kontribusi kepada komunitas masyarakat melalui kegiatan pembangunan sosial (Agus, 2020).
Kontribusi nyata perusahaan pada masyarakat dalam pembangunan sosial melalui program CSR diantaranya dapat memberikan pelayanan, bantuan bahkan pemberdayaan kepada masyarakat melalui tanggung jawab sosial guna peningkatan kualitas hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Kegiatan tersebut bisa dilakukan dengan pemberdayaan atau pengembangan masyarakat oleh perusahaan yang pada hakikatnya pengembangan masyarakat menekankan pada partisipasi masyarakat.
Perusahaan melalui program corporate social responsibility dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat menciptakan kesejahteraan hidup dan kemandirian dalam masyarakat (Rahmadani et al., 2018).
Pengaruh positif adanya program CSR perusahaan karena telah memenuhi triple bottom line: sosial, lingkungan dan ekonomi. Program CSR dianggap memberikan keuntungan kepada masyarakat, lingkungan
dan tetap memenuhi tujuan financial perusahaan. Berbagai program CSR yang lebih efektif dan tepat sasaran adalah program CSR berbasis pemberdayaan partisipatif. Pemberdayaan bisa berlangsung secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Partisipatif berarti adanya peran serta masyarakat terlibat dalam program tersebut (Kurniasari, 2015).
Pemberdayaan masyarakat dalam program CSR telah membantu dalam hal pendidikan, mengurangi angka pengangguran, dan peningkatan status sosial ekonomi masyarakat. Pelaksanaan pemberdayaan dengan melibatkan masyarakat dari pengambilan keputusan, implementasi dan evaluasi hasil. Tahapan yang pertama yaitu menciptakan suasana yang memungkinkan pengembangan potensi dengan asumsi bahwa setiap individu dan masyarakat memiliki potensi untuk dikembangkan. Tahapan yang kedua dengan memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat dalam penyediaan baik fisik (irigasi, jalan dan listrik) maupun sosial yaitu sarana dan prasarana (sekolah dan pelayanan kesehatan). Tahapan ketiga dengan melindungi dan membela kepentingan yang lemah. Program CSR dengan pemberdayaan masyarakat di dalamnya harus memperhatikan aspek potensial yang dimiliki oleh masyarakat binaan (Kardiyati et al., 2020).
5. Kemitraan dalam Pemberdayaan Masyarakat a. Definisi Kemitraan
Kemitraan dilihat dari perspektif etimologis diadaptasi dari kata partnership dan berasal dari akar kata partner. Partner dapat diterjemahkan “pasangan, sekutu atau kompanyon”, sedangkan partnership diterjemahkan menjadi persekutuan atau perkongsian.
Kemitraan dapat dimaknai sebagai suatu bentuk persekutuan antara dua pihak atau lebih membentuk suatu ikatan kerjasama atas dasar kesepakatan dan rasa saling membutuhkan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitas di suatu bidang usaha tertentu atau tujuan tertentu sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih baik.
Kemitraan dapat terbentuk apabila memenuhi syarat seperti ada dua
pihak atau lebih, memiliki kesamaan visi dalam mencapai tujuan, ada kesepakatan dan saling membutuhkan (Sulistiyani, 2017).
Kemitraan atau partnership dalam UU No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah diartikan sebagai hubungan kerjasama antara dua atau lebih pihak yang bersinergis dan bersifat sukarela atas dasar saling memerlukan, saling memperkuat, saling menguntungkan. Hubungan yang terjalin ini, tidak ada pihak yang dirugikan, masing-masing pihak yang bermitra akan mendapat manfaat dari kerjasama tersebut.
Hubungan kemitraan yang berjalan seimbang dapat menciptakan pemberdayaan terhadap kelompok mitra sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2008 bahwa kemitraan mencakup pemberdayaan terhadap usaha kecil melalui proses alih keterampilan bidang produksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumberdaya manusia dan teknologi sesuai dengan pola kemitraan.
Program kemitraan yang dilakukan oleh pihak swasta (perusahaan) sering mengedepankan aspek sosial (kesejahteraan) tetapi pertimbangan keuntungan ekonomi jauh lebih dominan, sebab misi utamanya adalah mendapatkan keuntungan dari setiap hubungan bisnis yang terjalin (Lopulalan, 2010).
Prinsip-prinsip kemitraan adalah persamaan atau equality, keterbukaan atau transparansi dan saling menguntungkan atau mutual benefit. Kemitraan adalah jalinan kerjasama antara berbagai pelaku agribisnis, mulai dari tingkat produksi sampai tingkat pemasaran (Supriyati & Roosganda, 2009). Keuntungan-keuntungan petani yang mengikuti pola kemitraan adalah sebagai berikut: a) adanya kepastian pemasaran hasil dan keuntungan relatif lebih stabil, b) memperoleh kemudahan akses permodalan, c) memperoleh benih berkualitas serta bimbingan teknik budidaya dan penanganan pasca panen, dan d) resiko kerugian lebih rendah (Rudiyanto, 2014).
Manfaat kemitraan adalah meningkatkan efisiensi pengembangan lokal, distribusi teknologi lebih efektif, memberikan nilai sosial dan ekonomi kepada petani dan masyarakat. Pelaksanaan kerjasama melalui kemitraan dapat menyatukan pengalaman, pengetahuan, investasi, teknologi dan sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi masalah pertanian yang mungkin terlewatkan oleh satu sektor program atau pendekatan. Kapasitas untuk mengidentifikasi peluang berkembang menjadi kepentingan bersama dalam sebuah komitmen merupakan prasyarat tercapainya kemitraan yang berjalan sukses (Raidimi & Kabiti, 2017).
b. Pola Kemitraan
Kemitraan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu a) pseudo partnership atau kemitraan semu, b) mutualism partnership atau kemitraan mutualistik, c) conjugation partnership atau kemitraan melalui peleburan dan pengembangan. Kemitraan semu merupakan sebuah persekutuan yang terjadi antara dua pihak atau lebih, namun tidak sesungguhnya melakukan kerjasama secara seimbang satu dengan lainnya. Kemitraan mutualistik merupakan persekutuan dua pihak atau lebih yang sama-sama menyadari aspek pentingnya melakukan kemitraan untuk saling memberikan manfaat dan mendapatkan manfaat lebih sehingga akan dapat mencapai tujuan secara lebih optimal. Kemitraan konjugasi adalah kemitraan yang di dalamnya ada organisasi, agen-agen, kelompok-kelompok atau perorangan yang memiliki kelemahan di dalam melakukan usaha atau mencapai tujuan organisasi. Dua pihak atau lebih dapat melakukan konjugasi dalam rangka meningkatkan kemampuan masing-masing (Sulistiyani, 2017).
Pola kemitraan diartikan sebagai bentuk kerjasama yang saling menguntungkan antara dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Kemitraan adalah kesepakatan antar sektor dimana individu, kelompok atau organisasi sepakat bekerja sama untuk memenuhi
sebuah kewajiban atau melaksanakan kegiatan tertentu, bersama-sama menanggung resiko maupun keuntungan dan secara berkala meninjau kembali hubungan kerjasama (Vitratin, 2010).
Bentuk kemitraan antara petani dengan pengusaha besar dalam sistem agribisnis di Indonesia ada lima yaitu sebagai berikut:
1) Pola kemitraan inti plasma
Pengertian pola kemitraan inti plasma menurut beberapa sumber diantaranya merupakan pola yang menggambarkan hubungan antara petani, kelompok tani atau kelompok mitra sebagai plasma dan perusahaan sebagai inti (Sumardjo et al., 2004).
Pasal 26 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2008 menyebutkan bahwa pola inti plasma sebagai hubungan kemitraan usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang di dalamnya usaha menengah atau usaha besar bertindak sebagai inti dan usaha kecil sebagai plasma. Perusahaan sebagai inti melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis sampai dengan pemasaran. Plasma yang merupakan petani maupun yang tergabung dalam kelompok petani berperan dalam fungsi produksi (Wiwin, 2015). Peran kelompok mitra berkewajiban memenuhi kebutuhan perusahaan inti sesuai dengan kesepakatan bersama (Asiati & Nawawi, 2016). Pasal 27 Peraturan Pemerintah RI No. 44 Tahun 1997 Tentang Kemitraan menyebutkan bahwa peran dari usaha kecil sebagai plasma dalam penyediaan lahan, mendapatkan bimbingan teknis manajemen usaha, memperoleh penguasaan dan peningkatan teknologi bagi efisiensi dan produktivitas usaha.
Pola kemitraan inti plasma telah berkembang menjadi beberapa pola kemitraan yaitu (a) pola kemitraan inti plasma yang dikelola oleh koperasi; (b) pola kemitraan inti plasma yang dikelola oleh perusahaan inti; dan (c) pola kemitraan inti plasma yang dikelola oleh petani secara individu. Kemitraan inti plasma yang dikelola oleh koperasi yaitu koperasi sebagai sebuah entitas produksi, setiap
anggota atau pemilik lahan berkontribusi dan mendapatkan keuntungan dari seluruh kebun yang dikelola oleh koperasi, tidak hanya dari luas lahan miliknya. Kemitraan inti plasma yang dikelola oleh perusahaan inti yaitu petani menyerahkan lahan dan pengelolaan kebunnya kepada perusahaan inti setelah mendapat Surat Adat/Surat Keterangan Tanah (SKT) dari pemimpin adat/kepala desa, pemberian modal dari bank dikelola sepenuhnya oleh perusahaan inti dengan seluruh biaya pembangunan dan operasional kebun petani (plasma) juga dikelola perusahaan inti.
Kemitraan inti plasma yang dikelola petani secara individual yaitu petani yang memiliki lahan bergabung untuk membentuk kemitraan dengan perusahaan. Perusahaan inti menentukan minimal 10 petani dalam satu kelompok mitra dengan tanggung jawab diserahkan ke masing-masing petani untuk mengelola lahan miliknya sendiri (Suharno et al., 2015).
Pola kemitraan inti plasma adalah pola kemitraan dengan perusahaan/pemodal sebagai inti sementara petani sebagai plasma.
Program kemitraan tersebut bisa memberi manfaat kepada petani karena persepsi yang positif dari petani plasma yang merupakan sasaran dari program kemitraan yang dijalankan oleh perusahaan.
Kondisi ini menggambarkan bahwa petani masih membutuhkan dukungan kemitraan dari pihak lain untuk meningkatkan pendapatan mereka. Keuntungan lain dari program kemitraan dengan petani adalah apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kerugian, petani tidak menanggung sendiri (Matualage et al., 2019).
Kemitraan pada dasarnya memberikan manfaat bersama antar dua atau lebih pihak yang menjalin hubungan tersebut. Kemitraan inti plasma yang di dalamnya terdapat pola hubungan perusahaan dan petani dalam mencapai tujuan bersama pastinya terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pola kemitraan inti
plasma. Faktor-faktor tersebut diantaranya perusahaan dan kelompok mitra sering berkomunikasi. Komunikasi dianggap penting karena pihak mitra dapat menyampaikan ide, keluhan ataupun evaluasi-evaluasi kepada perusahaan, sebaliknya perusahaan juga dapat menyampaikan ide, tujuan, visi dan misi perusahaan kepada pihak mitra. Faktor selanjutnya yaitu perusahaan dan mitra mengerahkan kemampuan secara maksimal, kedua belah pihak bersedia melakukan usaha yang maksimal untuk kesuksesan kerjasama yang dijalankan, sama-sama berusaha bekerja keras untuk menjalankan kerjasama yang baik, perusahaan dan kelompok mitra sadar akan perannya untuk mencapai tujuan menghasilkan keuntungan bersama dan saling memegang prinsip kepercayaan (Ardiansyah & Hilmi, 2019).
Pengaruh adanya pola kemitraan terhadap peningkatan pendapatan usaha tani yang secara langsung atau tidak langsung dapat berpengaruh juga terhadap kesejahteraan petani. Petani dinilai akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar serta mudah dalam memasarkan hasil produksinya karena sudah memiliki pasar yang jelas dan permintaan yang berkelanjutan. Pengaruh tersebut dikarenakan adanya bentuk kerjasama antara perusahaan dan petani yang terjalin dalam pola kemitraan inti plasma berupa kesepakatan mengenai pengadaan sarana produksi, adanya kepastian pasar serta jaminan harga yang diberikan pihak perusahaan kepada petani mitra dan petani sebagai plasma berperan dalam menyediakan lahan dan tenaga kerja (Umyati, 2019).
2) Pola kemitraan sub kontrak
Pengertian pola kemitraan sub kontrak menurut beberapa sumber diantaranya merupakan pola kemitraan antara perusahaan dengan kelompok mitra yang memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan sebagai bagian dari produksinya (Sumardjo et al., 2004). Perusahaan sebagai usaha menengah dan
besar berfungsi untuk melakukan pembelian komponen dari usaha kecil untuk keperluan produksinya (Wiwin, 2015).
Pasal 27 Peraturan Pemerintah RI No. 44 Tahun 1997 Tentang Kemitraan menyebutkan bahwa pada pola kemitraan sub kontrak, usaha besar sebagai perusahaan induk (parent firm) meminta usaha kecil (subkontraktor) untuk mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan dengan tanggung jawab penuh pada perusahaan induk.
Pola kemitraan ini ditandai dengan adanya kesepakatan tentang kontrak bersama menyangkut volume, harga, mutu dan waktu.
Manfaat adanya pola kemitraan ini bagi transfer alih teknologi, keterampilan, modal dan produktivitas (Asiati & Nawawi, 2016).
Kemitraan idealnya kedua belah pihak yang bermitra harus saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Kemitraan sub kontrak ditandai dengan pembuatan kontrak perjanjian sebelum program dimulai dan adanya kesamaan ciri adanya dukungan yang diberikan oleh usaha besar yaitu kesempatan usaha kecil mengerjakan sebagian produksi maupun komponennya, kesempatan usaha kecil memperoleh bahan baku yang berkesinambungan, memberi bimbingan dan kemampuan teknis usaha dan sistem perolehan yang saling menguntungkan (Prasetyo & Kliwon, 2016).
Pola kemitraan sub kontrak dilaksanakan oleh perusahaan dengan kelompok mitra yang merupakan petani komoditas tertentu.
Pelaksanaan kemitraan dilakukan dalam beberapa tahapan seperti petani melakukan pendaftaran dan permohonan lahan petani mitra, proses pendaftaran ini disertai dengan mengajukan permohonan lahan yang dimiliki oleh petani. Tahap kedua yaitu perusahaan melakukan evaluasi dan survey lahan milik petani meliputi kegiatan pengukuran luas lahan milik petani yang diajukan kepada perusahaan, hal ini untuk memastikan bahwa lahan tersebut hanya dipergunakan untuk usahatani yang disepakati bersama dan sesuai dengan luas lahan yang diajukan. Tahap ketiga yaitu persetujuan
permohonan lahan petani mitra oleh perusahaan, kemudian perusahaan mencetak gambar lahan petani mitra untuk dipergunakan sebagai arsip atau bukti bahwa lahan tersebut sudah terdaftar di perusahaan. Tahap selanjutnya yaitu petani mitra melengkapi berkas untuk perjanjian kerjasama berupa materai 6000 dan sertifikat tanah atau BPKB sebagai jaminan, setelah semua persyaratan telah dipenuhi maka para pihak akan merilis perjanjian kerjasama tertulis dan disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat (Azmie et al., 2019).
Pola kemitraan sub kontrak salah satu contohnya yaitu yang terjalin antara petani dengan pabrik gula yang berawal dari adanya keperluan “saling membutuhkan”. Pihak pabrik sebagai perusahaan membutuhkan pasokan bahan baku tebu untuk diolah menjadi gula, sedangkan pihak petani tebu membutuhkan bantuan permodalan yang cukup tinggi dan bimbingan teknis maupun non teknis dalam mengelola usaha tani tebunya. Aspek-aspek yang dimitrakan dalam pola kemitraan sub kontrak antara petani tebu dan pabrik gula antara lain: (a) permodalan, (b) pembinaan dalam perencanaan produksi dan pengembangan dalam permodalan, pemasaran, teknologi dan manajemen, (c) pengolahan yang harus memenuhi syarat dan ketentuan perusahaan mitra, (d) jaminan pemasaran, (e) jaminan pendapatan dengan sistem bagi hasil (Hidayah, 2016).
Pola kemitraan sub kontrak contohnya yaitu antara agrowisata dengan petani kopi. Pola kemitraan ini ada beberapa hal yang disepakati seperti harga, volume, dan waktu pengiriman. Hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra yaitu antara pihak Agrowisata dengan petani kopi juga disepakati. Manfaat adanya pola kemitraan sub kontrak yaitu terjaminnya pasokan kopi dengan kualitas dan kuantitas sesuai dengan standar yang diinginkan.
Manfaat lain seperti kepastian harga jual dan volume penjualan yang konsisten sepanjang tahun, selain itu rata-rata harga yang
diterima petani mitra lebih tinggi dan konsisten dibandingkan petani non mitra (Larasati & Ketut, 2020).
Kemitraan sub kontrak memiliki keuntungan diantaranya adanya dukungan teknis untuk proses produksi, dukungan kontrol, kualitas, penyediaan peralatan produksi, pelatihan teknis dan pemasaran.
Kemitraan sub kontrak antara UKM dengan perusahaan yang lebih besar bermanfaat untuk keberlanjutan UKM terkait dengan akses sumber daya, kualitas produk, desain, inovasi dan diferensiasi produk. Hal ini dikarenakan perusahaan yang lebih besar mampu menjadi sumber modal, memberi jaminan kualitas produk, akses pasar untuk penjualan dan jangkauan distribusi yang luas (Zulhida & Ragil, 2016).
3) Pola kemitraan dagang umum
Pengertian pola kemitraan dagang umum menurut beberapa sumber diantaranya merupakan pola kemitraan yang terjalin atas dasar hubungan usaha dalam pemasaran hasil produksi. Pihak yang terlibat dalam pola ini adalah pihak pemasaran dengan kelompok usaha pemasok komoditas yang diperlukan oleh pihak pemasaran tersebut (Sumardjo et al., 2004). Pola kemitraan ini terjalin atas dasar saling menguntungkan dengan pihak usaha menengah dan besar memasarkan hasil produksi usaha atau usaha kecil sebagai pemasok kebutuhan usaha menengah dan besar (Wiwin, 2015).
Pola kemitraan ini terjadi atas dasar hubungan usaha dalam pemasaran hasil produksi. Pihak yang terlibat adalah pihak pemasaran dengan kelompok usaha pemasok komoditas tertentu.
Kelompok petani hortikultura bergabung dalam bentuk koperasi kemudian bermitra dengan swalayan atau supermarket. Pihak kelompok tani berkewajiban memasok barang-barang dengan persyaratan dan kualitas produk yang telah disepakati bersama (Asiati & Nawawi, 2016). Pasal 27 Peraturan Pemerintah RI No. 44 Tahun 1997 Tentang Kemitraan menyebutkan bahwa pada pola
kemitraan terdapat bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha atau penerimaan pasokan dari usaha kecil mitra usahanya.
Sistem kemitraan pola dagang umum adalah pelaksanaan kemitraan yang legal di Indonesia sesuai dengan regulasi Menteri Pertanian Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 13/PERMENTAN/PK.240/5/2017 tentang Kemitraan Usaha Peternakan. Sistem kemitraan pola dagang umum dapat dilakukan dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan pasokan dari usaha mikro, kecil dan menengah oleh usaha besar yang dilakukan secara terbuka. Sistem kemitraan pola dagang umum biasanya dilakukan peternak dalam bentuk kerjasama pemasaran dan penerimaan pasokan untuk perusahaan industri pengolahan. Sistem kemitraan pola dagang umum biasanya dilakukan peternak dalam bentuk kerjasama pemasaran dan penerimaan pasokan untuk perusahaan industri pengolahan, sehingga jenis kemitraan ini hanya sebatas kerjasama jual beli untuk mendapatkan jaminan pemasaran. Kewajiban perusahaan dalam usaha ternak ayam pedaging sistem kemitraan pola dagang umum meliputi; penentuan kualitas ayam pedaging yang dapat dijual peternak, memberikan jaminan harga sesuai standar dan memasarkan ayam dari peternak (Amam et al., 2019).
Pola kemitraan dagang umum merupakan pola hubungan kemitraan usaha yang memasarkan hasil dengan kelompok usaha yang mensuplai kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan.
Kebutuhan untuk memenuhi atau mensuplai sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan oleh perusahaan mitra usaha.
Keuntungan dari pola ini adalah adanya jaminan harga atas produk yang dihasilkan dan kualitas sesuai dengan yang telah ditentukan atau disepakati. Kelemahan dari adanya pola ini adalah memerlukan permodalan yang kuat sebagai modal kerja dalam
menjalankan usahanya baik oleh kelompok mitra usaha maupun perusahaan mitra usaha (Rahman, 2020).
Pola kemitraan dagang umum dimana salah satu mitra memasarkan hasil atau produk mitra hasil dari kerjasama.
Kemitraan dengan pola ini contohnya yaitu dalam hal kemitraan pemasaran ini industri sirup dimana pemerintah turut mendukung dan membina dalam hal proses pengembangan usaha. Dukungan tersebut salah satunya dengan mengadakan bazar, expo, dan pelatihan yang diikuti oleh industri sirup tersebut. Kemitraan dagang umum dengan pemasaran dalam upaya memasarkan atau memperkenalkan brand (merek) kepada seluruh konsumen baik tingkat lokal, maupun nasional (Imtihan & Kardoyo, 2019).
4) Pola kemitraan waralaba
Pengertian pola kemitraan waralaba menurut beberapa sumber diantaranya merupakan pola kemitraan yang terjalin atas dasar hubungan kemitraan yang di dalamnya pemberi waralaba memberikan hak pengguna lisensi, merk dagang dan saluran distribusi perusahaan kepada penerima waralaba dengan disertai bantuan bimbingan manajemen (Pasal 26 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008). Pasal 27 Peraturan pemerintah RI Nomor 44 tahun 1997 tentang Kemitraan menyebutkan bahwa pola kemitraan ini menggambarkan hubungan antara usaha besar (franchisor) dengan usaha kecil (franchisee) dimana franchisee diberikan hak atas kekayaan intelektual dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak franchisor dalam rangka penyediaan atau penjualan barang dan atau jasa. Pola ini pada prinsipnya digunakan bagi merek-merek terkenal dan dikonsumsi banyak orang.
Pemberian waralaba memberikan penggunaan lisensi merek dagang dan saluran distribusi perusahaannya kepada penerima waralaba dengan bantuan bimbingan manajemen (Wiwin, 2015). Pola kemitraan waralaba dapat membuka kesempatan kerja yang sangat
luas, sedangkan kelemahannya adalah salah satu mitra ingkar dalam menepati kesepakatan yang telah ditetapkan akan terjadi perselisihan (Harisman, 2017).
Sistem waralaba dalam pola kemitraan tidak hanya merek dagang dan logo yang ditawarkan, tetapi juga sistem yang utuh dan komprehensif mengenai tata cara bisnis dijalankan termasuk di dalamnya pelatihan dan konsultasi usaha dalam hal pemasaran, penjualan, pengelolaan stok, akunting, personalia, pemeliharaan dan bisnis yang dikembangkan. Prinsip yang melandasi kerjasama dalam waralaba merupakan prinsip yang sama dengan menjalankan pola kemitraan. Upaya pengembangan UMKM berbagai macam cara dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah. Pelaksanaan pola kemitraan yang berkembang, pada umumnya pelaku usaha besar memberikan permodalan untuk UMKM agar mampu melakukan kegiatan usaha serta menjadi mandiri tanpa bantuan dari pelaku usaha besar dalam kurun waktu tertentu. Prinsip-prinsip tersebut merupakan penerapan terhadap asa yang secara terencana mengupayakan berjalannya proses pembangunan melalui pemberdayaan UMKM yang dilakukan secara berkesinambungan, dengan begitu pola kemitraan sistem waralaba dapat tepat dilakukan karena pada prinsipnya waralaba merupakan lisensi (Suardana & I Wayan, 2020).
Pola kemitraan waralaba dalam bisnis memiliki dua jenis kegiatan yaitu; (1) waralaba produk dan merek dagang dan (2) waralaba format bisnis. Waralaba produk dan merek dagang, pemberi waralaba memberikan hak kepada penerima waralaba untuk menjual produk yang dikembangkan oleh pemberi waralaba yang disertai dengan pemberian izin untuk menggunakan merek dagang milik pemberi waralaba. Pemberian izin penggunaan merek dagang tersebut diberikan dalam rangka penjualan produk yang diwaralabakan tersebut. Waralaba format bisnis adalah pemberian
sebuah lisensi oleh seorang (pemberi waralaba) kepada pihak lain (penerima waralaba), lisensi tersebut memberi hak kepada penerima waralaba untuk berusaha dengan menggunakan merek dagang/nama dagang pemberi waralaba dan di dalamnya juga terdapat bantuan pendampingan bisnis (Habibah, 2018).
5) Pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis
Pengertian pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis menurut beberapa sumber diantaranya merupakan pola kemitraan yang terjalin atas dasar hubungan bisnis yang dijalankan oleh kelompok mitra dan perusahaan mitra. Kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan tenaga kerja sedangkan pihak perusahaan mitra menyediakan biaya, modal, manajemen dan pengadaan sarana produksi (Sumardjo et al., 2004). Perusahaan mitra terkadang berperan sebagai penjamin pasar dengan meningkatkan nilai tambah produk melalui pengolahan dan pengemasan. Penerapan ini pada usaha perkebunan tebu, tembakau, sayuran dan pertambakan dan diatur pula tentang kesepakatan pembagian hasil dan resiko (Asiati & Nawawi, 2016).
Keunggulan pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis sama dengan keunggulan sistem inti plasma. Pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis paling banyak ditemukan pada masyarakat pedesaan, antara usaha kecil di desa dengan usaha rumah tangga dalam bentuk sistem bagi hasil. Contoh dari pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis jika pemilik lahan menyediakan lahan untuk diolah, sedangkan petani menyediakan tenaga, modal dan sarana pertanian lainnya maka bagi hasilnya 40:50, artinya jika 40% keuntungan untuk pemilik lahan dan 50%
untuk petani. Perusahaan yang menggunakan pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis salah satunya yang terjalin antara PT. CP Prima dengan pembudidaya ikan patin di Desa Kraton Kecamatan Kencong Kabupaten Jember. Hal ini dapat dilihat dari
hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak.
Pihak PT. CP Prima menyediakan pinjaman pakan, pembinaan serta jaminan pasar, sedangkan pihak pembudidaya ikan patin menyediakan lahan, sarana dan tenaga serta bahan baku produksi perusahaan PT. CP Prima (Sa’diyah, 2015).
Pelaksanaan kemitraan kerjasama operasional agribisnis didasari pada prinsip saling percaya dan saling menguntungkan. Kedua belah pihak bekerja untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.
Petani mitra sebagai penyedia lahan dan bertanggung jawab atas kegiatan budidaya, sementara itu pihak lain sebagai juragan menyediakan seluruh kebutuhan permodalan terutama untuk sarana produksi seperti benih, pupuk, pestisida, mulsa dan kebutuhan lain petani mitra. Pihak juragan tersebut juga bertanggung jawab untuk membeli dan memasarkan hasil panen dari petani mitranya. Pada contoh kasus ini, tidak ada kontrak kerjasama berupa MOU yang disepakati secara tertulis antara petani dengan juragan.
Kesepakatan kerjasama hanya dibuat secara lisan antara petani mitra dan pihak juragan tersebut yang diwakili oleh pihak lain sebagai petani perantara (Yulianjaya & Kliwon, 2016).
Pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis dalam contoh kasus antara petani mitra dengan perusahaan UD Wulan Jaya dimana petani menyediakan lahan, tenaga kerja, bahan baku (pupuk dan obat-obatan) dan permodalan sendiri. Perusahaan dalam hal ini menjamin produk dengan melakukan sortasi dan grading juga pemilihan pasar tetap dengan harga jual yang menguntungkan baik untuk petani maupun perusahaan. Hubungan kerjasama dalam pola kemitraan ini antara petani mitra dengan perusahaan yaitu di bidang pemasaran, budidaya dan penyuluhan. Bidang pemasaran dimana perusahaan membeli hasil panen dari petani mitra maupun non mitra dan petani wajib menjual kepada perusahaan dengan kriteria yang telah ditentukan perusahaan. Bidang budidaya dimana
perusahaan berperan sebagai koordinator bantuan pemerintah yang diberikan setiap periodenya. Bidang penyuluhan mitra dengan memberikan penyuluhan kepada petani. Keberlanjutan kerjasama kemitraan secara tidak langsung dirasakan petani yaitu mendapatkan motivasi untuk menjalin hubungan yang baik secara personal maupun hubungan jual beli yang berakhir mencapai manfaat bersama (Rasmikayati et al., 2020).
Pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis misalnya juga diterapkan oleh PT. Vasham selaku pihak pertama yang merupakan produsen penyedia modal dan saprotan kepada petani mitra.
Saprotan yang diperoleh dari PT. Vasham selanjutnya dikembangkan dan dibudidayakan oleh petani mitra selaku pihak kedua dibantu dengan pihak perusahaan. Pelaksanaan pola kemitraan ini juga di dalamnya terdapat peran dari fasilitator dilihat dari fungsi atau tugas yang terdapat pada indikator sebagai fasilitator yaitu dalam melakukan edukasi, diseminasi, informasi, fasilitasi, konsultasi dan pemantauan. Fasilitator berfungsi untuk membantu petani dalam meningkatkan pengetahuan petani tentang program kemitraan dan membina petani dalam berusahatani (Dermawan et al., 2019).
c. Pemberdayaan Berbasis Kemitraan
Program pemberdayaan masyarakat yang paling tepat untuk dilaksanakan adalah melalui program kemitraan. Kemitraan usaha adalah jalinan kerjasama usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah/besar (perusahaan mitra) disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha besar sehingga saling memerlukan, menguntungkan dan memperkuat.
Kemitraan usaha akan menghasilkan efisiensi dan sinergi serta sumber daya yang dimiliki oleh pihak-pihak yang bermitra dan karenanya menguntungkan semua pihak yang bermitra (Santosa et al., 2016).
Kemitraan diambil sebagai salah satu strategi pemberdayaan yang dapat memberikan hasil maksimal karena kemitraan merupakan strategi yang mengkolaborasikan dari 2 sumber daya atau lebih untuk tujuan yang sama. Kemitraan dalam sebuah pemberdayaan dapat berhasil ketika pihak yang bermitra bersama sama memiliki sumberdaya yang diunggulkan serta memiliki tujuan yang sama. Salah satu wujudnya dengan mendorong program CSR dari yang bersifat karitatif menjadi bersifat pemberdayaan (Hayati & Suparjan, 2017).
Kemitraan telah muncul sebagai kontra-paradigma untuk pendekatan pembangunan up to down yang menyampaikan rasa keterlibatan dan manfaat yang sama. Kemitraan adalah kunci untuk koherensi kebijakan, penciptaan sinergi antar bidang kebijakan yang berbeda dan untuk memberikan nilai bagi semua yang terlibat visi misi, tujuan bersama, keselarasan, dan transparansi. Perubahan tersebut sangat berguna dalam konteks pemberdayaan masyarakat untuk kemitraan sejalan dengan tujuan SDGS 17. Kekuasaan yang terhubung secara bersama dan kekuatan antar peran dalam kesadaran akan mampu mengembangkan potensi diri dalam kegiatan pemberdayaan (Dolezal & Marina, 2020).
Kontribusi masyarakat yang aktif dalam pemberdayaan yang digambarkan dalam proses perubahan sosial dengan menentukan target, kondisi yang ingin dicapai dan pola pihak yang berperan di dalamnya. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pemberdayaan tidak terlepas dari pembahasan soal pengembangan masyarakat yang terpadu dan serentak sesuai kegiatan program yang direncanakan salah satunya dengan strategi kemitraan. Kemitraan dengan dukungan peran perusahaan, pemerintah dan masyarakat akan mampu mencapai tujuan dan target bersama (Rizal, 2017).
6. Manfaat Kemitraan
Manfaat kemitraan dalam aspek ekonomi yaitu petani mendapatkan jaminan harga dari perusahaan/instansi sesuai dengan kesepakatan bersama. Pendapatan usahatani meningkat serta adanya kemudahan produk yang diterima oleh pasar. Produksi dari perusahaan meningkat karena adanya pasokan dari petani pemasok sehingga perusahaan dapat menutupi kekurangan produk karena kebutuhan dan permintaan konsumen. Aspek sosial dari terjalinnya kemitraan yaitu adanya keinginan kontinuitas kerjasama dengan masing-masing pihak mendapatkan keuntungan dan sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan dimana petani dan perusahaan sepakat untuk menekan penggunaan pestisida kimia dalam proses produksinya (Suriati et al., 2015).
Manfaat dari terbentuknya pola kemitraan yang tepat yaitu bagi usaha kecil dan menengah dapat menstabilkan dan menambah penjualan.
Kemitraan juga memberikan kesempatan untuk mengerjakan sebagian produksi dan atau komponen, bimbingan dan kemampuan teknis produksi atau manajemen, perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan. Manfaat bagi perusahaan besar adalah dapat memfokuskan perhatian pada bagian lain, memenuhi kekurangan kapasitas, memperoleh sumber pasokan barang dengan harga yang lebih murah daripada impor (Risambessy, 2017).
Aspek manfaat dalam kemitraan secara ekonomi, teknis dan sosial.
Kemitraan secara ekonomi faktor-faktor yang dinilai antara lain pendapatan, harga, produktivitas, dan risiko usaha. Pendapatan merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu usahatani. Kedua belah pihak baik petani mitra maupun perusahaan menilai sama yang berarti pendapatan yang diterima itu meningkat dibandingkan sebelumnya.
Setiap usaha yang dijalankan memiliki risiko, dan risiko usaha yang terjadi dalam kemitraan ini akan ditanggung oleh masing-masing pihak.
Indikator teknis yaitu dari faktor mutu dan penguasaan teknologi. Mutu yang dimaksudkan adalah mutu produksi komoditas yang dihasilkan.