The study on the leadership values not only by artifacts, but also based on manuscript in Javanese

Teks penuh

(1)

KEPEMIMPINAN, KEKUASAAN, DAN ORGANISASI MASA LAMPAU BERDASARKAN SUMBER TERTULIS

Leadership, Powers, and Past Organizations Based on Written Records

Djoko Dwiyanto

Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta Jln. Cendana No.11 Yogyakarta

E-mail: djoko.dwiyanto@gmail

Abstract

T

he study on the leadership values not only by artifacts, but also based on manuscript in Ja- vanese tradition, I referred and chosen is Serat Jatipusaka Makutharajawritten in 1847 Anno Domino, collection of Widya Budaya with code of W.298.C-33. Several results obtained in this research are personality of a leader, leadership values as an exemplary form which is relevant to theories of leadership; leadership values are implemented fully in life, those leadership values can become referents or are still relevant to present time. The factors are influences in between leadership are (1) personality, (2) character of groups, and situation or events. These factors are multidemensionally in a leadership, there are include social-psychologic, sociology - anthtro- pologic, and sosial - historic aspect. Serat Jatipusaka Makutharaja related to leadership values which can be implemented in the life of society, especially in order to develop a complete human being or insan kamil, and to study those leadership values as the referents for education of char- acter of the nation. Into the Serat Jatipusaka Makutharaja which teaching and leadership value, there are ideal type with honorable of the king which a leader of kingship is King Yudhistira.

These character are not forget to bukari samsi narendra (the origins of turn around of the king), sukahar rêtna adi murti (existence wish honorable noble), and to flow like rever stream. The good king have a heart beware to tajali or Allah appeearance with character to become one on his heart as far as to lead correct, clean, and just righteous. The king always cheerful/happy to get means of livelihood, as ussually like manggala yuda in accordance with institusion/law as well as clear and standardized, to consist of manggala yuda, patih, jaksa, a n d pengulu.

The king always make an effort to rise understanding,training,and effort to understand teaching, believe to real knowledge, alls to keep and to sink in to yin or his heart. On the contrary,this at- titude supposing that arpajala wêni nrus buwana or rainy to be absorbed into the earth. Serat Jatipusaka Makutharaja are studied specifically from the aspects of leadership values, especially Javanese cultural values which are influenced strongly by Islam. Study on leadership values expressed through manuscript is considered as model of Javanese-Islamic leadership. In Islam, when a person is about to apply leadership, he must follow the steps (i’tiba’) of The Prophet who was honest as his basic character (shiddiq), told the truth (tabligh), did things based on the mes- sages, the norms, the rules, and the responsibilities (amanah), and was smart (fathanah). There- fore, amanah is very important in leadership since a leader who is described as a perfidious one, he does not lead in accordance to his skills; then doomsday is the one that is left behind.

Keywords: leadership, power, and litarature.

Abstrak

P

engkajian tentang nilai kepemimpinan tidak hanya bersandar pada artefak-artefak, tetapi juga didukung oleh naskah-naskah kesastraan, terutama yang berisi filosofi nilai dan ajaran kepemimpinan. Kepemimpinan Jawa-Islam misalnya, jika kemudian difokuskan seperti itu, dapat dihubungkan dengan konteks sosial dan politik serta kedudukan dan perannya

(2)

dalam masyarakat tradisional. Dimensi-dimensi kepemimpinan yang dapat diamati antara lain terdiri atas status dan peranan, kekuasaan, pengaruh dan otoritas, personalitas, fungsi, nilai-nilai sosio-kultural dan situasi. Adapun faktor yang mempengaruhi kepemimpinan itu adalah (1) kepribadian; (2) sifat-sifat golongannya; dan (3) situasi atau kejadian. Jika dikaji secara mendalam ketiga faktor itu bersifat multidimensional dalam sebuah kepemimpinan, yaitu meliputi aspek sosial-psikologis, sosiologis- antropologis, dan sosial-historis. Salah satu karya sastra yang berisi ajaran dan nilai-nilai kepemimpinan adalah Serat Jatipusaka Makutharaja, yang mengidolakan kemuliaan hati seorang raja yang memimpin kerajaan dengn Raja Yudhistira. Adapun sifat-sifat itu, antara lain, adalah tidak boleh melupakan bukari samsi narendra (asal usul perputaran leluhur raja), sukahar rêtna adi murti (wujud kehendak mulia dari leluhur), dan mengalir bagaikan aliran air sungai. Raja yang baik harus memiliki hati yang awas terhadap tajali atau penampakan Allah dalam sifat-sifatnya yang menyatu dalam kalbunya sehingga dapat memimpin secara benar, bersih, dan adil. Raja hendaknya selalu gembira dalam mencari nafkah untuk hidup, dibiasakan sebagai manggala yuda sesuai dengan pranata yang sudah jelas dan baku, terdiri atas manggala yuda, patih, jaksa, dan pengulu. Raja selalu berusaha untuk meningkatkan pemahaman, berlatih, dan berikhtiar memahami ajaran, percaya pada ilmu nyata, semuanya disimpan dan diendapkan dalam yin atau kalbunya. Apabila bertindak sebaliknya, sikap itu diandaikan sebagai arpajala wêni nrus buwana atau air hujan yang meresap terus ke dalam tanah. Nilai-nilai kepemimpinan ketika seorang pemimpin harus melakukan sesuatu yang jauh dari sifat-sifat tercela, seperti tidak konsisten, tidak dapat dipercaya, bermuka dua, dan lain-lain. Sifat-sifat tercela yang dilakukan oleh seorang pemimpin akan menjauhkan kewibawaan, ketauladanan, dan sebagai panutan bagi bawahan. Ajaran kepribadian seorang pemimpin sebagaimana yang dinasihatkan di dalam Serat Wulangreh memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, sebagai berikut : (1) pemimpin harus memahami halal dan haram; (2) pemimpin harus bersikap sederhana; (3) pemimpin harus loyal kepada negara; (4) pemimpin tidak berwatak pedagang;

dan (5) pemimpin harus rendah hati dan adil. Serat Jatipusaka Makutharaja yang dijadikan acuan dalam studi ini secara khusus diteliti dari aspek nilai-nilai kepemimpinan, terutama nilai- nilai budaya Jawa yang telah terpengaruh kuat oleh ajaran Islam. Kajian nilai kepemimpinan yang yang diekspresikan melalui artefak dan naskah ini dapat disebut sebagai model kepemimpinan Jawa-Islam. Di dalam ajaran Islam, jika akan menjalankan kepemimpinan, seseorang diharuskan mengikuti jejak (i’tiba’) Rasul yang memiliki sikap dasar jujur (shiddiq), menyampaikan yang benar (tabligh), menjalankan sesuatu sesuai dengan pesan, norma, aturan, dan bertanggung jawab (amanah), serta cerdas (fathanah). Demikian pentingnya amanah dalam kepemimpinan sehingga digambarkan bahwa seorang pemimpin yang berkhianat, termasuk yang memimpin tidak sesuai dengan keahliannya, tinggal menunggu kiamat.

Kata kunci: kepemimpinan, kekuasaan, dan sumber tertulis PENDAHULUAN

P

ada tahun 1945, Biro Penelitian Bisnis Universitas Ohio melakukan serangkaian penemuan di bidang kepemimpinan. Suatu tim penelitian interdisiplin seperti psikologi, sosiologi, dan ekonomi mengembangkan angket yang disebut Angket Deskripsi Perilaku Pemimpin (the Leader Behaviour Description Questionnaire) atau terkenal dengan singkatan LBDQ. Angket ini untuk mendapatkan data kepemimpinan dalam berbagai unit kerja (Stogdill & Coons, 1957, dalam Husaini Usman, 2006: 254-260).

Tim peneliti merumuskan kepemimpinan itu sebagai suatu perilaku seseorang yang

mengarah pada pencapaian tujuan tertentu yang terdiri atas dua dimensi, yaitu struktur pembuatan inisiatif (initiating structure) dan perhatian/pertimbangan (consideration).

Struktur pembuatan inisiatif menunjukkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada pencapaian tugas. Perhatian menunjukkan perilaku pemimpin pada hubungan manusiawi kepada bawahannya. Jika LBDQ diisi oleh bawahannya, maka LOQ (Leader Opinion Questionnaire) diisi oleh pimpinan.

Namun demikian dalam konteks Indonesia (Nusantara) di dalam pembahasan terhadap model kepemimpinan masa lampau tampaknya tidak hanya tinggalan tertulis yang

(3)

berisi pokok bahasan tentang kepemimpinan saja, tetapi juga perlu dilakukan perbandingan terhadap naskah-naskah kesastraan yang berisi filosofi nilai dan ajaran kepemimpinan.

Kepemimpinan Jawa-Islam misalnya, yang jika kemudian difokuskan seperti itu, dapat dihubungkan dengan konteks sosial dan politik serta kedudukan dan perannya dalam masyarakat tradisional (Kartodirdjo, ed., 1984: v). Dimensi-dimensi kepemimpinan yang dapat diamati antara lain terdiri atas status dan peranan, kekuasaan, pengaruh dan otoritas, personalitas, fungsi, nilai-nilai sosio- kultural dan situasi.

Berdasarkan arah pembahasan itu, maka hal-hal pokok sebagai prinsip dasar dalam pembahasan tentang kepemimpinan adalah sebagai berikut.

1. Kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dengan kolektivitas sosial di mana pemimpin itu berada.

2. Berbagai aspek kepemimpinan saling mempengaruhi, sehingga konsep kepemimpinan perlu dijelaskan sebagai proses sistemik, yaitu interaksi antara pemimpin dan konteks situasional.

3. Pada umumnya teori-teori

kepemimpinan lebih menonjolkan salah satu dimensi tersebut di atas, dalam kajian ini diharapkan lebih dari satu faktor.

4. Sesuai dengan pokok pembahasan di atas, maka tidak dapat dihindari ciri-ciri umum kepemimpinan harus menggunakan determinisme situasionalis dengan memperhitungkan faktor-faktor situasional dan konteksnya (Kartodirdjo, ed., 1984: vi).

Di dalam kajian tentang wacana kepemimpinan, salah satu teori kepemimpinan yang cukup populer adalah teori lingkungan, yaitu teori yang menyatakan bahwa munculnya pemimpin disebabkan oleh waktu, tempat, dan keadaan. Namun demikian, tidak dapat dihindari bahwa kepemimpinan juga tidak dapat dilepaskan dengan kepribadian si pemimpin, apa pun jenis pemimpin itu,

baik tradisional, kharismatik, maupun legal- rasional. Oleh karena itu, tampaknya terasa lebih menyeluruh (komprehensif) jika landasan teori yang digunakan dalam kajian ini berusaha untuk memadukan antara teori kepribadian dengan teori lingkungan.

Dengan demikian teori kepribadian dalam situasi tertentu menggambarkan akibat adanya interaksi antara seseorang dengan kepribadian yang kuat dengan faktor situasi, sehingga melahirkan seorang pemimpin. Faktor- faktor yang mempengaruhi kepemimpinan itu adalah (1) kepribadian; (2) sifat-sifat golongannya; dan (3) situasi atau kejadian.

Jika dikaji secara mendalam ketiga faktor itu bersifat multidimensional dalam sebuah kepemimpinan, yaitu meliputi aspek sosial- psikologis, sosiologis- antropologis, dan sosial-historis (Kartodirdjo (ed), 1984: vii).

Di dalam kajian ini lebih ditekankan pada gejala sosial-historis, yaitu kondisi sosial yang terjadi berdasarkan catatan sejarah pada masa sejarah, baik sejarah kuno maupun sejarah masa Islam.

Di dalam pembahasan terhadap kepemimpinan pada masa sejarah dapat dilakukan berdasarkan tinggalan tertulis baik berupa prasasti, maupun naskah kesastraan.

Berdasarkan sumber dari naskah kesastraan, kepemimpinan Jawa sangat populer dikaitkan dengan ajaran Sastra Cetha dan Astha Brata, seperti antara lain dimuat dalam Serat Rama karya R.Ng. Jasadipura (Suyami, 2008: 11 – 99). Ajaran kepemimpinan dalam Sastra Cetha terutama dikaitkan dengan pemahaman seorang raja terhadap tiga tingkatan nilai perbuatan, yaitu nistha (hina), madya (sedang), dan utama (terbaik).

Perbuatan nistha, misalnya sikap yang selalu khawatir, selalu bimbang, dan pikirannya ikut-ikutan, selalu menaruh syakwasangka kepada para bangsawan, punggawa, dan para menteri, sehingga selalu tumbuh benih kebimbangan. Perbuatan madya, suatu upaya untuk menghindari (menghilangkan) perbuatan nistha yang dilakukan dengan jalan menimbang-nimbang secara tepat segala sesuatu yang meragukan. Perbuatan utama

(4)

adalah suatu perbuatan yang mencakup semua hal, yang buruk maupun yang baik karena memang telah menjadi tanggung jawab seorang raja.

Sebagai langkah antisipasi dalam melaksanakan perbuatan yang baik dan buruk, maka pengetahuan tentang perbuatan yang membahayakan dan menyusahkan harus dapat dicegah, diredam, dan dimusnahkan. Perbuatan yang membahayakan itu terdiri atas pencurian, pencurian (pelecehan terhadap) wanita, penyamun, penjudi dan penjahat, dan penjilat.

Oleh karena itu, ajaran kepemimpinan dalam Serat Cetha ini intinya adalah bahwa seorang pemimpin (raja) senantiasa harus mendekatkan diri kepada Tuhan, segala tindakannya harus untuk kesejahteraan warganya. Ia adalah ibarat wadah bagi kepandaian, kesaktian, kemasyhuran, dan kemuliaan dalam sikap pemaaf dan budi pekerti luhur. Seseorang yang selalu menaruh curiga ibarat hama yang membawa kemalangan bagi seluruh isi dunia (Suyami, 2008: 101 – 114).

Padahal fungsi pemimpin menurut teori manajemen keilmuan (teori klasik) adalah menetapkan dan menerapkan kriteria prestasi untuk mencapai tujuan, sehingga fokus pemimpin adalah pada kebutuhan organisasi.

Mayo (1920), berpendapat bahwa dalam memimpin adalah: a). selain mencari teknik atau metode kerja terbaik, juga harus memperhatikan perasaan dan hubungan manusiawi yang baik, b). pusat-pusat kekuasaan adalah hubungan pribadi dalam unit-unit kerja, c). fungsi pemimpin adalah memudahkan pencapaian tujuan anggota secara kooperatif dan mengembangkan kepribadiannya.

Selain itu terdapat penelitian yang mengidentifikasikan dua konsep gaya kepemimpinan, yaitu berorientasi pada bawahan dan berorientasi pada produksi.

Pemimpin yang berorientasi pada bawahan menekankan pentingnya hubungan dengan pekerja dan menganggap setiap pekerja penting, diperhatikan minatnya, diterima keberadaannya dan dipenuhi kebutuhannya.

Pemimpin yang berorientasi pada produksi menekankan pentingnya produksi dan aspek teknik-teknik kerja. Pekerja diperlakukan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi.

Kedua orientasi ini paralel dengan gaya kepemimpinan demokratis dan otoriter dalam konsep perilaku kontinum dari Tannenbaum- Schmidt.

Analisis ilmiah tentang kepemimpinan dimulai dengan memusatkan perhatian kepada diri pemimpin itu sendiri. Pertanyaan penting yang ingin dijawab, ”apakah sifat-sifat yang membuat seseorang menjadi pemimpin?”.

Teori awal tentang sifat-sifat pemimpin dapat ditelusuri kembali sejak jaman Yunani dan Romawi Kuno. Ketika itu orang percaya bahwa pemimpin itu dilahirkan (leaders are born), bukan diciptakan. Teori itu disebut teori the great man. Menurut teori ini, jika seseorang dilahirkan sebagai pemimpin, maka dengan sendirinya ia akan menjadi pemimpin.

Sedikit perbedaan pandangan yang disampaikan oleh Bram Setiadi, (2013:

23) bahwa seorang pemimpin dipandang dari Patrap dan Pangucap (tutur kata dan perbuatan) yang mencerminkan keteladanan dan kejuangannya. Nilai keteladanan dan nilai kejuangan pemimpin mencerminkan pula budaya masyarakat yang mendukungnya.

Ia sependapat pula dengan konsep yang disampaikan oleh Gunawan Sumodiningrat (1989), bahwa seorang pemimpin harus seirama antara tutur kata dan perbuatan.

Berdasarkan pandangan-pandangan terhadap kepemimpinan di atas penulis berpendapat, bahwa sebagai esensi dari kepemimpinan dalam konteks bidang pendidikan haruslah menampakkan karakter terhadap adanya nilai keteladanan dan kejuangan yang tentu saja akan tampak dalam ”patrap” (tingkah laku-perbuatan), dan ”pangucap” (tutur kata) dari seorang pemimpin. Dari uraian di atas penulis kemudian menyimpulkan, bahwa definisi kepemimpinan dalam pendidikan adalah seseorang (kepala sekolah) yang mempunyai kekuasaan, kewenangan, dan kemampuan

(5)

untuk mempengaruhi perilaku orang lain (guru, staf tata usaha, komite sekolah, dan siswa) dalam pelaksanaannya untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan berbagai tugas yang harus dilaksanakan. Sesuai dengan aturan dan budaya yang dianut dengan norma yang dianut di institusinya.

Kajian tentang Kepemimpinan dan Kekuasaan

Di dalam bidang susastra, salah satu hasil penelitian pernah dilakukan terhadap Serat Jatipusaka Makutharaja, secara khusus ditinjau dari segi inventarisasi nilai-nilai moral kepemimpinan, terutama berdasarkan nilai-nilai budaya Jawa yang telah mendapat pengaruh kuat dari ajaran Islam (Nurhayati, 2006). Dengan demikian kajian nilai kepemimpinan yang terkandung dalam naskah itu dapat disebut sebagai model kepemimpinan Jawa-Islam. Pada hakikatnya tuntutan moral kepemimpinan yang baik dalam hal ini telah digariskan oleh agama dan tertulis dalam kitab suci dari masing-masing agama (Suseno, 1997:

83). Moral atau kesusilaan adalah nilai yang paling hakiki bagi manusia. Dengan kata lain, moral atau kesusilaan adalah kesempurnaan manusia sebagai manusia. Kesusilaan adalah tuntutan kodrat manusia (Drijarkara, 1978:

25). Pada umumnya manusia mempunyai pengetahuan adanya baik dan buruk, sehingga pengakuan manusia mengenai baik dan buruk itu disebut kesadaran moral atau moralitas (Poedjawijatna, 1983: 130).

Kriteria perbuatan susila adalah kehendak yang baik, keputusan akal yang baik, dan penyesuaian dengan hakikat manusia (Fudyartanta, 1974: 18). Poerwadarminta menyebutkan bahwa moral mempunyai arti ajaran tentang baik-buruk perbuatan, kelakuan, akhlak, dan kewajiban. Di samping itu, moral juga berarti kesusilaan yang terbentuk dari kata sila yang berasal dari bahasa Sanskerta dan mempunyai arti berbagai ragam (Poerwadarminta, 1985: 654). Sementara itu menurut Sunoto (1985), moral berasal dari

kata mores yang berarti adat istiadat, ialah sesuatu yang ada di luar diri manusia dan memberi pengaruh ke dalam.

Khusus dalam arti adat-istiadat atau kebiasaan, kata moral ini dalam bahasa Yunani disebut ethos, yang populer disebut dengan kata etika. Menurut Encyclopedia Britanica, yang disusun oleh William Benton, disebutkan bahwa:

Ethics from Greeks ethos character is the systematic study of the nature of value concept good and bad, ought, right, wrong, etc, and at general principle with justify us in applying them anything, also called moral philosophy from latin mores customs. (Benton, 1973: 752).

Suseno (1993) membedakan antara pengertian ajaran moral dengan etika. Ajaran moral adalah ajaran-ajaran, wejangan- wejangan, khotbah- khotbah, patokan- patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan, entah lisan atau tertulis, tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Sumbernya dapat berupa guru, orang tua, pemuka agama atau orang bijak seperti pujangga Ranggawarsita, Paku Buwana IV, dan Sri Mangkunegara IV.

Etika bukan suatu sumber tambahan bagi ajaran moral, melainkan merupakan sastra atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Oleh karena itu, etika dan ajaran moral tidak setingkat. Hal-hal yang mengatakan bagaimana seseorang harus hidup adalah ajaran moral, bukan etika.

Etika mau mengerti mengapa seseorang harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana seseorang dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral (Suseno, 1989: 14).

Etika memang tidak dapat menggantikan agama, tetapi di lain pihak etika juga tidak bertentangan dengan agama, bahkan diperlukan oleh agama (Suseno, 1997: 6).

Untuk mengimbangi perkembangan ilmu dan teknologi pun, peranan agama dan etika

(6)

menjadi lebih penting (Jacob, 1988: 30).

Manusia dibentuk oleh kesusilaan, yang berarti bahwa manusia hidup dalam norma- norma yang membatasi tingkah lakunya, yang menunjukkan bagaimana seharusnya bertingkah laku dalam masyarakat. Apabila seseorang telah memenuhi syarat-syarat kesusilaan, maka ia dapat dikatakan baik dipandang dari segi kesusilaan.

Manusia Indonesia dikatakan bermoral apabila ia tidak hanya mementingkan kebutuhan jasmani saja, melainkan juga kebutuhan rohani, bersama-sama dalam keseimbangan, antara kebutuhan individu dan masyarakat, antara kedudukannya sebagai makhluk yang mandiri dan sebagai makhluk Tuhan. Masyarakat Jawa menyebut ajaran moral dengan istilah unggah-ungguh, subha sita, tata krama, tata susila, sopan santun, budi pekerti, wulang wuruk, pranatan, pituduh, pitutur, wejangan, wursita, duga prayoga, wewaler, dan pitungkas. Orang Jawa akan berhasil hidupnya dalam bermasyarakat kalau dapat empan papan, kalau dapat menempatkan diri dalam hal unggah-ungguhing basa, kasar alusing rasa, dan jugar genturing tapa (Dwiyanto, 2012).

Pesan-pesan moral dalam masyarakat Jawa disampaikan lewat media seni, dongeng, tembang, pitutur, piweling para orang tua secara turun- temurun. Hal ini dapat dilacak dengan banyaknya sastra piwulang.

Ungkapan tradisional seperti sing becik ketitik sing ala ketara, titènana wong cidra mangsa langgenga dan sura dira jayaningrat lebur déning pangastuti menunjukkan bahwa eksistensi dan esensi moralitas dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Kebanyakan agama yang universal juga mengajarkan sikap hormat terhadap kehidupan manusia. Dimensi sosial nilai-nilai etis memberikan suatu kadar objektif yang jarang terdapat dalam bidang kreativitas yang pada dasarnya bersifat pribadi.

Objektivitas ini merupakan suatu prasyarat bagi universalitas nilai- nilai etis (Shah, 1986: 99). Tujuan penelitian etika dapat dilukiskan sebagai upaya mencari

norma-norma yang seharusnya mengatur hubungan antarpribadi. Keamanan sosial dan kebebasan berpikir merupakan prasyarat dasar bagi perkembangan individu. Penyelidikan etika akan mencurahkan perhatiannya kepada upaya menemukan kualitas-kualitas kemanusiaan dan bentuk-bentuk kelembagaan sosial yang dapat memberikan dorongan yang optimal kepada realisasi kondisi itu (Shah, 1986: 100).

Arti penting moral juga terpatri dalam epitaph makam Imannuel Kant: Cellum stellatum supra me, lex morralis intra me, yang berarti begitu cemerlang bintang- bintang di angkasa raya, demikian pula moral susila di dada manusia (Supadjar, 1993:

117). Di dalam bidang sastra tampaknya penggambaran sifat-sifat atau perilaku yang sangat mendasar terdapat pada para tokoh wayang yang diteladankan. Kawruh sangkan paraning dumadi, satataning panembah, kawruh jumbuhing kawula gusti, ngèlmu kasampurnan, dan ngèlmu kasunyatan (Haryanto, 1992: 157).

Berdasarkan pengertian di atas, maka konsep moral yang terkandung dalam berbagai karya sastra dapat dicoba diungkapkan dalam makalah ini. Mutiara-mutiara etis-filosofis dan ajaran hidup, sekali lagi antara lain dimuat dalam Serat Jatipusaka Makutharaja di antaranya tentang moralitas sebagai pemimpin, berguru, mawas diri, pembentukan pribadi yang bertakwa, usaha menjadi manusia paripurna atau insan kamil, renungan mengenai hakikat hidup, konsep manunggaling kawula gusti, ilmu sangkan paraning dumadi dan hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dengan demikian, dapat disebutkan bahwa nilai-nilai kepemimpinan itu juga dapat menggambarkan tingkat keadaban masyarakat bersangkutan sesuai dengan model kepemimpinan yang tercermin dari pemimpin masyarakat itu. Oleh karena itu, sesungguhnya ruang lingkup kepemimpinan yang paling pokok mencakup pemimpin (leader), pengikut

(7)

(followers), dan situasi (Kartodirdjo, 1990: 27). Keberhasilan suatu organisasi atau institusi sangat dipengaruhi oleh ketiga faktor itu.

Definisi tentang kepemimpinan sangat banyak dijumpai dalam berbagai bidang studi, tetapi jika dipilih salah satu yang paling sederhana, kepemimpinan adalah sebuah proses memengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui apa yang menjadi kebutuhan untuk mengerjakan sesuatu dan bagaimana cara mengerjakannya, dan proses memfasilitasi individu dan kelompok dalam upaya untuk menyelesaikan atau mencapai tujuan bersama (Yukl dalam Wirawan, 2014: 6). Di dalam kepemimpinan sekurang- kurangnya tercakup beberapa elemen pokok, yaitu proses, pemimpin, visi (apa yang ingin dicapai waktu yang akan datang), pengaruh (memengaruhi), pengikut, dan merealisasikan visi. Di lain pihak, kajian terhadap kepemimpinan meliputi teori kepemimpinan, psikologi, perilaku organisasi, dan aplikasi, termasuk di dalamnya model dan gaya kepemimpinan.

Berbagai hal yang terkait dengan kepemimpinan semakin menarik perhatian para ahli untuk dibahas dan diteliti. Beberapa di antara hasil kajian membagi kepemimpinan dalam tiga kelompok gaya kepemimpinan, yaitu gaya otoriter, demokratis, dan laisser faire (semaunya sendiri). Pemimpin otoriter bertindak sangat direktif, selalu mengarahkan, dan tidak memberikan kesempatan bertanya apalagi membantah. Bawahan harus patuh pada perintah atasan tanpa membantah.

Pemimpin demokratis mendorong kelompok untuk berdiskusi, berpartisipasi, menghargai pendapat orang, siap berbeda, dan perbedaan tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk didapatkan hikmahnya. Pemimpin demokratis mencoba untuk bersikap objektif dalam memuji dan mengkritik. Pemimpin laisser faire memberikan kebebasan mutlak pada kelompok. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut di atas dimanipulasi sedemikian rupa terhadap variabel-variabel kepuasan dan prestasi-agresi (Kurniawan, 2013: 9).

Penelitian tentang pemimpin yang efektif dan tidak efektif menjelaskan, bahwa pemimpin yang efektif tidak berdasarkan pada sifat manusia tertentu, tetapi terletak pada seberapa jauh sifat seorang pemimpin dapat mengatasi keadaan yang dihadapinya. Sifat- sifat yang dimiliki oleh pemimpin yang efektif dikenal dengan singkatan K-11, yaitu:

1. ketakwaan, 2. kejujuran, 3. kecerdasan, 4. keikhlasan, 5. kesederhanaan, 6. keluasan pandangan, 7. komitmen, keahlian, 8. keterbukaan,

9. keluasan hubungan sosial, 10. kedewasaan, dan

11. keadilan (Wexley dan Yukl dalam Moeljono, 2004: 82).

Di dalam implementasi kepemimpinan efektif terdapat beberapa persyaratan untuk menjadi pemimpin yang efektif, yaitu kemampuan yang lebih tinggi dari rata-rata bawahannya, antara lain memiliki kecerdasan, memiliki kemampuan berbicara, memiliki kepercayaan diri, memiliki inisiatif, memiliki motivasi berprestasi, dan memiliki ambisi.

Beberapa ahli, seperti disebut di muka, berpendapat bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan, artinya seseorang telah membawa bakat kepemimpinan sejak dilahirkan, bukan dididik atau dilatih.

Pemimpin yang dilahirkan tanpa melalui pendidikan dan pelatihan sudah dapat menjadi pemimpin yang efektif. Pelatihan kepemimpinan hanya bermanfaat bagi mereka yang memang telah memiliki sifat- sifat kepemimpinan. Artinya, seseorang yang tidak memiliki sifat dan bakat kepemimpinan yang dibawa sejak lahir tidak perlu dilatih kepemimpinan karena akan sia-sia saja. Teori kepemimpinan yang menganggap bahwa pemimpin itu dilahirkan dan tidak diciptakan, disusun berdasarkan kepercayaan bahwa para pemimpin merupakan orang istimewa yang ketika dilahirkan telah membawa kualitas dan

(8)

ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Teori seperti inilah yang kemudian melahirkan teori orang besar atau greatman theory (Wirawan, 2014: 111).

Seperti telah disebut di muka, syarat pemimpin dan kepemimpinan sekurang- kurangnya terdiri atas adanya pengikut dan pendukung, dan pengikut ini yang selalu membantu segala program kerja, visi dan misi yang akan ditempuh sehingga pemimpin efektif bukanlah selalu seseorang yang akan selalu dipuja atau dicintai. Namun, mereka adalah individu yang menjadikan para pengikutnya berbuat benar; pemimpin adalah mereka yang sangat tampak. Oleh karena itu, mereka harus memberikan keteladanan dalam perbuatannya, dan kepemimpinan bukanlah kedudukan, jabatan, atau uang.

Perbedaan pandangan tentang kepemimpinan disampaikan oleh Setiadi (2013: 13) bahwa seorang pemimpin dipandang dari patrap dan pangucap (perbuatan dan tutur kata) yang mencerminkan keteladanan dan kejuangannya. Nilai keteladanan dan nilai kejuangan pemimpin mencerminkan pula budaya masyarakat yang mendukungnya. Dengan demikian, secara umum dapat diketahui bahwa tipe orientasi kepemimpinan terdiri atas teologis, antropologis, dan kosmologis (Setiadi, 2013:

26). Kepemimpinan teologis memusatkan perhatian atau orientasi utamanya adalah Ketuhanan, artinya segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan. Implikasi dari pendapat ini cenderung menganggap bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dikonstruksi.

Kepemimpinan antropologis memusatkan perhatian atau orientasi pokoknya bertumpu pada kemampuan manusia sehingga implikasinya cenderung menganggap bahwa kesaktian atau kemampuan teknologi menjadi pilihan bagi pemimpin yang diidealkan.

Kepemimpinan kosmologis berorientasi pada sifat-sifat alam sebagai simbol dari sifat-sifat pemimpin atau yang diidealkan. Berhubung konteks masyarakat Indonesia sejak masa prasejarah dan masa Indonesia Kuno yang

dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Budha dari India hingga kini memberikan indikator ke arah orientasi alam dan kekuatan supranatural, sifat-sifat pemimpin lebih berorientasi kepada sifat-sifat alam.

Beberapa teori kepemimpinan secara umum juga dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda, di antara beberapa pandangan itu adalah sebagai berikut. Menurut Robbins, (2003: 59), teori kepemimpinan kharismatik humanis adalah teori kepemimpinan yang kharismatik bahwa para pengikut membuat atribusi dari kemampuan kepemimpinan yang heroik atau luar biasa bila mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu. Teori kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang memandu atau memotivasi pengikut mereka ke arah tujuan-tujuan yang ditetapkan dengan memperjelas peran dan tuntutan tugas.

Di dalam ajaran agama Islam jelas disebutkan bahwa nilai kepemimpinan yang paling hakiki dalam keluarga adalah kepemimpinan laki-laki seperti disebut dalam Kitab Suci Al-Qur.'an: ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki- laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki- laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An-Nisa’:

34). Firman ini juga diperkuat dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Tidak akan bahagia suatu kaum apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita” (HR. Bukhari). Beberapa alasan terhadap ketentuan ini antara lain adalah kisah putri Kisra menjadi raja di Persia sehingga keluar sabda Nabi Muhammad SAW seperti di atas; wanita dianggap kurang akal dan agama;

ketika salat berjamaah menempati shaf paling belakang; wanita tidak dapat menikahkan dirinya; wanita menurut tabiatnya cenderung pada kerusakan; wanita mengalami haid, hamil, melahirkan, dan menyusui; dan wanita mudah putus asa dan tidak sabar (N.N., 2014:

337-340). Oleh karena itu, fakta menunjukkan bahwa sepanjang sejarah Kerajaan Mataram

(9)

Islam, baik awal (pertama) maupun baru (kedua) belum pernah seorang wanita menduduki tahta kerajaan.

Data Tertulis tentang Kepemimpinan dan Kekuasaan

Persepsi tentang kepemimpinan, khususnya di Indonesia, telah dapat ditemukan sebelum adanya sumber-sumber tertulis (tekstual) atau sering disebut dengan masa prasejarah di Indonesia. Pada masa itu kondisi sosial-budaya masyarakat dikelompokkan berdasarkan cara hidupnya, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa perundagian (Soejono, ed.

dkk, 1992: 42). Gambaran itu diperoleh dari hasil analisis dan rekonstruksi berdasarkan tinggalan artefaktual. Berdasarkan tinggalan artefaktual itu, dapat diketahui bahwa kelompok masyarakat prasejarah dalam melakukan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya telah dilakukan dengan cara pengorganisasian dengan baik, meski masih sederhana. Kelompok itu dapat dipastikan telah memiliki seorang pemimpin.

Pada saat sekelompok masyarakat berkumpul untuk tujuan tertentu, misalnya berburu dan mengumpulkan makanan, meskipun masih dalam taraf yang paling sederhana, dapat dipastikan ada salah satu yang dipilih menjadi pemimpin atau sering dikenal dengan sebutan primus inter pares (yang pertama dalam semua).

Kehidupan masyarakat prasejarah, dalam berbagai tingkatan, berdasarkan indikator artefak yang ditemukan, hampir semua berorientasi pada kepercayaan terhadap alam dan lingkungannya sehingga lebih bersifat kosmologis. Sebagai contoh misalnya, orientasi penguburan biasanya diarahkan ke gunung atau laut, sebagai kekuatan supranatural yang dipercaya dapat memengaruhi kehidupannya.

Demikan pula simbolisasi terhadap para pemimpinnya biasanya dilambangkan dalam bentuk tugu (monumen) yang disebut dengan menhir dan gambaran penghormatan terhadap pemimpinnya juga dapat dilihat dari bangunan

berundak. Bangunan seperti ini berfungsi sebagai penghormatan kepada arwah nenek moyang dalam bentuk upacara. Di dalam pelaksanaannya, dipimpin oleh seorang pemimpin upacara dan diikuti oleh peserta upacara atau umatnya (Soejono, ed. dkk., 1992: 201).

Pada masa selanjutnya, ketika pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha masuk ke wilayah Nusantara (Indonesia) dan membawa bentuk institusi kerajaan. Meskipun tata cara atau sistem pemilihan pemimpin sudah berganti dengan menggunakan sistem heriditas (atas dasar keturunan), paham dan kepercayaan terhadap kekuatan alam (kosmologis) masih sangat kuat. Selain telah dikenal sistem pergantian kekuasaan (suksesi) dan legitimasinya melalui paham kosmolosis, tetapi juga masih sering digunakan simbol- simbol alam. Schrieke (1957: 27) membagi legitimasi pergantian kekuasaan dalam masa Jawa Kuno menjadi empat, yaitu (1) sinar ke-raja-an (the light of royalty), (2) penguasa dan kedewaan (ruler and deity- yang kemudian dikenal dengan konsep dewa- raja), (3) kesinambungan (continuity), dan (4) pergantian kekuasaan berdasarkan garis keturunan perempuan (succession and descent along the female line). Tetapi, dalam ekspresi fisik masih tetap berorietasi pada alam semesta, baik dalam upacara pemujaan maupun dalam hubungan antara raja dan rakyatnya. Demikian pula dalam penggunaan nama-nama gelar raja, pada umumnya telah mengisyaratkan raja sebagai titisan dewa di dunia (teologis), misalnya “saksat wisnwâwataramurti” yang berarti benar-benar titisan dewa Wisnu.

Dewa Wisnu sendiri digambarkan dalam sebuah arca yang diletakkan di salah satu bagian candi sebagai tempat pemujaan.

Pengembangan konsep alam atau kosmologis sebagai alternatif konsepsi barat tampaknya telah ada di Indonesia, misalnya konsepsi masyarakat Jawa dan Bali. Di Jawa dikenal konsep jagad gedhé (alam dunia akhirat), jagad tengahan (alam), dan jagad cilik (alam manusia). Konsep tata hubungan yang harus dikembangkan oleh manusia terhadap alam

(10)

digambarkan dengan konsep hamemayu hayuning bawana, yang dapat dirinci lagi sebagai berikut: (1) mangasah mingising budi (mempertajam kepekaan budi atau cipta, rasa, dan karsa), memasuh malaning jagad (nahi mungkar, mencegah dan menyingkirkan hal-hal yang merusak alam), dan hamemayu hayuning bawana (melestarikan, membangun, dan mempercantik dunia). Di Bali konsep tentang alam ini dikenal dengan konsep sekala dan niskala (alam dhahir dan alam ghoib). Ada konsep parahiyangan (alam supranatural), pawongan (alam human), dan pelemahan (alam pra human). Konsep tata hubungan manusia dengan alam dalam konsep kebudayaan Bali dikenal dengan sebutan konsep Tri Hita Kirana, yang berarti menjunjung tinggi keharmonisan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia (Parimin, 1986: 16).

Selanjutnya, lingkungan budaya sebagai aspek budaya alamiah yang diekspresikan dalam kehidupan konkret sehari-hari disebut lingkungan hidup, yang bagi para penganutnya dianggap biasa, wajar, lazim, dan sudah semestinya terjadi. Sementara itu, lingkungan budaya yang diekspresikan secara resmi dan melibatkan banyak orang sering disebut upacara adat yang terkait dengan bumi dan seisinya. Upacara merupakan wahana untuk mengekspresikan adat-tradisi sehingga adat- tradisi yang memuat nilai dan norma tertentu yang bersifat abstrak kemudian diikrarkan, dinyatakan, dan diwujudkan secara bersama- sama.

Berdasarkan catatan sejarah dapat diketahui bahwa kearifan lokal yang berbasis pada budaya lokal telah mampu memberikan perimbangan (counter - balance) terhadap pengaruh budaya asing yang masuk ke Nusantara. Sejak dari masa Perundagian (perunggu-besi), masa Klasik di Indonesia (Hindu-Budha), masa Islam-Kolonial, hingga masa Modern dengan hegemoni budaya barat, bangsa Indonesia selalu dapat menciptakan karya-karya positif karena memiliki kecerdasan lokal (local genius) yang dapat mengubah budaya lokal menjadi wujud

baru yang lebih indah. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika disebutkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi pilar kemajuan bangsa Indonesia di Era Global seperti saat ini.

Studi sejarah Jawa Kuno dimulai dengan ditemukannya tinggalan tertulis di wilayah Pulau Jawa. Meskipun awal abad ke-5 Masehi telah ditemukan prasasti-prasasti di ujung barat Pulau Jawa, tetapi pada umumnya tidak mencantumkan unsur penanggalan. Prasasti tertua yang mencantumkan penanggalan yang berbentuk candrasengkala adalah Prasasti Canggal dari Gunung Wukir, Magelang yang berangka tahun 654 Çaka atau 732 Masehi (Poerbatjaraka, 1952: 50). Keterangan ini amat berharga berkaitan dengan validitas sumber penulisan historiografi lokal berbasis prasasti, karena di dalamnya memuat keterangan tentang struktur kerajaan, struktur birokrasi, keadaan masyarakat, landasan ekonomi, dan kehidupan keagamaan (Boechari, 1980: 3).

Prasasti-prasasti berbahasa Jawa Kuno yang memuat keterangan seperti itu, termasuk penyebutan pemimpin, semakin lama semakin lengkap. Pada sekitar abad ke-10 Masehi, ibukota kerajaan Jawa Kuno berpindah ke wilayah Jawa bagian timur sampai berakhirnya institusi kerajaan yang berlatar belakang Hindu- Buddha, yaitu Majapahit (Boechari, 1976: 16).

Pada masa awal periode Jawa Timur di bawah pemerintahan pu Sindok antara tahun 851–809 Çaka atau 929–947 Masehi, diduga telah disusun sebuah kitab Buddha Mahayana bernama Sang Hyang Kamahayanikam yang sebagian besar berbahasa Sanskerta dan dideskripsikan dalam bentuk bahasa Jawa Kuno. Sezaman dengan kitab ini adalah Kitab Brahmandapuruna, sebuah kitab agama Siwa (Poerbatjaraka, 1957: 5-6).

Cerita tentang susunan dan sistem kebudhaan mirip dengan yang dipahatkan pada relief candi Borobudur. Sêrat Sang Hyang Kamahayanikam juga menjelaskan tentang tata cara bersemedi. Serat ini telah menjadi bahan disertasi doktor bagi Nurhadi Magetsari untuk disandingkan dengan keberadaan relief

(11)

Candi Borobudur (Magetsari, 1993). Karya disertasi ini, meskipun tidak disebut secara eksplisit, tetapi dapat dianggap sebagai perintis penelitian menggunakan kajian filoarkeologi.

Setelah pengaruh budaya Islam masuk ke Nusantara, maka kemudian diperkenalkanlah suatu paham bahwa seorang pemimpin selain harus memahami hal-hal yang bersifat halal dan haram dalam menjalankan pengabdian formalnya, juga harus faham membaca ayat- ayat Tuhan (teologis). Dalam pemahaman ajaran agama Islam, yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah tidak hanya yang diwahyukan melalui malaikat Jibril dan diterima melalui Rasulullah Muhammad salallahualaihi wassalam. Tetapi, ia juga harus mengimani dan paham terhadap ayat-ayat Tuhan yang menjadi ciptaanNya, baik yang berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan maupun segenap alam seisinya yang terletak antara langit dan bumi. Dengan demikian, pengertian halal dan haram haruslah dipahami sebagai tindakan untuk tetap memperhatikan aturan main yang ada (dalam kehidupan sekarang dapat berupa undang-undang, peraturan, dan kebijakan pemerintah), sehingga dapat ditentukan langkah dan tindakan yang diperkenankan (halal) dan langkah atau tindakan yang dilarang (haram) termasuk terhadap alam dan lingkungannya (Kurniawan, 2013: 23– 44).

Salah satu lingkup kepemimpinan yang paling menonjol dalam masa kerajaan- kerajaan Islam di Nusantara adalah pergantian kekuasaan atau pemimpin, yang dikenal dengan istilah suksesi. Suksesi di lingkungan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara masih mempertahankan sistem heriditas, yang mulai diperkenalkan pada masa kerajaan Jawa Kuno (Hindu-Buddha). Namun demikian, terdapat perbedaan dalam penyebutan raja atau pemimpinnya. Jika pada masa kerajaan Hindu- Buddha raja dianggap sebagai titisan dewa di dunia, maka pada masa kerajaan Islam raja dianggap sebagai wakil Tuhan (khalifatullah fil ardhi) di dunia. Meskipun demikian, beberapa tinggalan tata ruang kerajaan Islam juga masih menggunakan fenomena alam dan buatan sebagai simbol kekuasaan. Gunung

sesungguhnya atau tiruan berupa tugu, lautan atau berupa kolam, panggung (representasi Yoni pada masa Hindu-Buddha) masih mewarnai wilayah inti kerajaan. Demikian pula, sebutan gelar dan kedudukan raja pada masa kerajaan Islam selanjutnya diabadikan dalam karya-karya sastra, terutama yang diterbitkan oleh lingkungan istana atau atas perintah raja yang sedang memerintah (Marsono, 2004: 37).

Pada masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, selain masih mengikuti paham kosmologis, beberapa di antaranya sudah bercampur dengan menggunakan paham teologis. Pada penggunaan nama-nama gelar, misalnya Paku Buwana, Hamengkubuwana, Paku Alam, Mangkunegara, juga digunakan gelar Sunan (pemimpin agama). Bahkan gelar lengkap raja Kasultanan Yogyakarta adalah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping (Sedasa). Hal ini menunjukkan bahwa orientasi mereka tidak hanya kepada alam (alamiah), tetapi juga kepada Tuhannya (ilahiah) atau kosmologis bercampur dengan teologis (Hadi dan Majidi, 2013: 34).

Di dalam ajaran agama Islam, seorang pemimpin harus mampu melaksanakan Rukun Islam secara konsekuen dan tidak boleh ditinggalkan. Rukun Islam ini merupakan pedoman dari Tuhan agar selalu terpelihara dalam jalan yang lurus yang diwujudkan dalam lima hal pokok yang harus dilakukan, yaitu mempercayai bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah (syahadat); melakukan hubungan spiritual yang rutin dengan rukun yang telah ditetapkan (salat); menjalankan ibadah puasa ramadhan;

berbagi rasa terhadap sesama (zakat); dan melakukan perjalananan spiritual (haji).

Nilai-nilai kepemimpinan yang tersirat dalam ajaran ini adalah bahwa seorang pemimpin harus meneladani, menuruti petuah mulia dari orang-orang sebelumnya (orang tua dan para leluhur) sebagai pedoman dalam langkah perilakunya.

(12)

Langkah perilaku ini akan menuai sebuah aktivitas yang sangat mulia dalam pengelolaan sebuah organisasi. Sebagai contoh, ada sebuah istilah titi, tata, tita yang merupakan petuah mulia orang tua dahulu, ketika memberikan ajaran kepada putranya, bahwa untuk mengelola sesuatu itu harus berpedoman pada ketelitian, manajemen yang baik, dan keterbukaan. Seorang pemimpin harus memahami bahwa setiap kesuksesan terjadi atas ridha Tuhan. Campur tangan Tuhan dalam setiap kesuksesan sebuah organisasi nyata adanya, manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Di dalam implementasinya, pedoman kepemimpinan bagi seorang muslim adalah mencontoh akhlak mulia Rasulullah Muhammad SAW., yang terdiri atas (1) shiddiq (benar); (2) tabligh (menyampaikan kebenaran dan kebaikan dengan cara mendidik); (3) amanah (dapat dipercaya); dan (4) fathonah (arif bijaksana) (Laranta, 2013:167 - 178).

Meskipun masa selanjutnya sudah memasuki zaman modern dan diperkenalkan sistem demokrasi di Indonesia, nuansa kepemimpinan yang bersifat khalifatullah masih dipercaya memiliki kharisma yang tinggi. Oleh karena itu, para ahli menyebut tipe kepemimpinan Hamengkubuwana IX, seorang raja sekaligus pernah menjabat sebagai Gubernur DIY dan Wakil Presiden RI, dengan sebutan prophetic leader (pemimpin kenabian), yang memimpin dengan kecerdasan intelektual dan spiritual (Hadi dan Majidi, dkk., 2013). Pengertian kepemimpinan jenis ini dirangkum dalam formula sebagai berikut.

“Seorang pemimpin kenabian menjalankan tugasnya sebagai amanah dari Allah dan semata-mata sebagai ibadah, bukan untuk mencari kekuasaan, kekayaan, penghormatan, dan pujian dari semua manusia” (Hadi dan Majidi, dkk., 2013: 25).

Sifat-sifat kepemimpinan sebagai pilar yang mendukung kepemimpinan menurut Sanusi (1989: 62), antara lain, adalah kesehatan dan kesegaran fisik, kreativitas dalam menangkap tuntutan jaman (zeigist), kemampuan intelektual, efektivitas informasi dan komunikasi sosial, kemantapan emosional,

keteguhan pendirian, integritas pribadi, kedudukan ekonomi dan finansial, kedudukan hukum, dan prestasi masa lampau.Di dalam keadaan normal, orang yang tidak sehat tidak berpeluang menjadi pemimpin. Orang yang mampu melahirkan kreativitas yang tinggi dalam menerjemahkan tuntutan filosofis dan ideologis menurut kebutuhan zamannya berpeluang menjadi pemimpin. Orang yang memiliki kemampuan intelektual dalam menilai dan menganalisis situasi kemudian menyiapkan jalan keluar yang strategis dan logis menurut pertimbangan nalar berpeluang menjadi pemimpin.

Pada masa yang lebih muda, ketika pengaruh budaya Islam telah masuk dan memengaruhi kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, bidang keilmuan atau pengetahuan menjadi dasar kepemimpinan yang bersifat antropologis, seperti disebutkan dalam Serat Wedhatama sebagai berikut.

Ngèlmu iku kalakoné kanthi laku, Lekasé lawan kas.

Tegesé kas nyantosani,

Setya budya pangekesé dur angkara, Angkara gung, nèng angga anggung

gumulung, Gegolonganira, Triloka lekeré kongsi,

Yèn dèn umbar ambabar dadi rubéda.

Taman limut, Durgamèng tyas kang wèh limput, Kèrem ing karamat,

Karana karoban ing sih,

Sihing sukma ngrebda saardi gengira.

(Serat Wedhatama, pupuh Pocung, pada:

1- 8)

Terjemahan :

Ilmu itu dapat terwujud apabila dijalankan Dimulai dengan kemauan

Kemauan inilah yang membuat sentausa Budi yang setia itu penghancur nafsu angkara.

Nafsu angkara yang besar di dalam diri Selalu berkumpul

Dengan kelompok nafsu

Bila dibiarkan, berkembang menjadi bahaya.

(13)

Itulah yang pantas ditiru dan diikuti Segala petunjuknya

Jangan seperti zaman sekarang

Banyak anak muda mengagungkan rapal dan mantera.

(terjemahan oleh: Jatmiko, 2005: 28 – 31).

Petikan kalimat yang diambil dari Serat Wedhatama di atas penuh dengan kearifan yang muncul dan berkembang di lingkungan istana, dalam hal ini adalah Kraton (Pura) Mangkunegaran. Adapun kearifan lokal (local wisdom) dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bersikap dan bertindak terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu (Hamengkubuwono X, 2009:

1). Kearifan lokal merupakan pengetahuan eksplisit (explicit knowledge) yang berevolusi di masyarakat dalam sistem lokal yang dialami bersama-sama. Seorang pemimpin harus berbicara secara proporsional dan penuh isi, artinya, dalam mengarahkan, memberikan petunjuk, melakukan supervisi harus bermedia bahasa yang komunikatif proporsional.

Seorang pemimpin harus menjauhkan diri dari pembicaraan ngaya wara (pembicaraan yang tak ada ujung-pangkalnya), yang selalu menghiasi dalam setiap arahannya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan aktivitas yang tidak efisien dan tidak efektif. Seorang pemimpin harus ikut berpartisipasi untuk melenyapkan tindakan-tindakan tercela atau kebiasaan-kebiasaan tercela, seperti minum minuman keras, berjudi, mencuri, dan komersialisasi. Tindakan partisipasi terhadap tindakan tercela ini merupakan nilai tersendiri bahwa seorang pemimpin harus bersih dari kebiasaan-kebiasaan tercela.

Salah satu contoh menarik adalah pada sosok Pangeran Mangkubumi, seorang pangeran pendiri Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Di dalam dimensi temporal ia sangat merepresentasikan pemimpin yang bersifat teologis. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan tokoh ini digambarkan menjadi seorang pemimpin

karena memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pangeran Mangkubumi resmi menjadi raja Yogyakarta dengan gelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Kalifatullah Ngabdurrahman Sayiddin Panatagama Ingkang Jumeneng Ing Negari Yogyakarta Hadiningrat Ingkang Jumeneng Sepisan. Khalayak umum lebih mengenal dengan sebutan Sri Sultan Hamengkubuwana I. Gambaran kemampuan dan karakter utama Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwana I dijelaskan oleh Pujangga Yasadipura sebagai berikut.

Mung wania padha bangsa den rewangi laku pati jamak wong ngaku prawira kaya Sultan Mangkubumi atapa tur undhagi ing weweka gothak-gathuk micara tan sikara

presaja nalare mintir

lamun aprang padha Jawa nora arsa (Serat Wicara Keras, pupuh Sinom, pada 7)

Terjemahan:

Hanya berani sesama bangsa sampai ditekati mati

lumrah dikatakan perwira seperti Sultan Mangkubumi pertapa dan cekatan dalam siasat lihai

bicara tak mengecewakan sederhana nalar pintar

perang sesama saudara tak bersedia (terjemahan oleh: Harsono, 2005: 63).

Sifat keperwiraan seperti terlihat pada kutipan tembang sinom di atas itu pantas dijadikan sebagai suri tauladan.

Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ronggowarsito yang paling terkenal mungkin dapat menjadi contoh lain yang menarik karena di dalam serat ini diisyaratkan tentang zaman edan. Setiap orang yang membicarakan tentang zaman edan selalu merujuk kepada serat ini. Lewat serat yang bernada amarah yang terpendam ini, nama Ronggowarsito menyejarah di bumi Nusantara karena

(14)

ramalannya tentang zaman edan. Zaman edan sebenarnya merupakan siklus sejarah yang akan selalu berulang setiap periode tertentu.

Setiap babakan sejarah, ada yang namanya zaman keemasan atau Kertayuga, dan zaman kesengsaraan atau Kalatidha. Lebih lanjut gambaran tentang zaman edan, di bawah ini disajikan kutipan ringkasnya.

Mangkya darajating praja, kawuryan wus sunyaturi, rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi,

atilar silastuti, sujana sarjana kelu, kalulun kala tida,

tidhem tandhaning dumadi, ardayengrat dene karoban rubeda

(Serat Kalatidha, pupuh Sinom, pada 2) Terjemahan :

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot,

keadaan negara telah rusak,

karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi,

sudah banyak yang meninggalkan aturan- aturan lama, orang cerdik cendekiawan terbawa arus kalatidha, suasananya mencekam,

karena dunia penuh dengan kerepotan.

(terjemahan oleh: Kamajaya, 1989: 56).

Kutipan tembang sinom di atas memberikan gambaran tentang situasi negara yang sedang mengalami krisis sosial. Selanjutnya, salah satu contoh kepemimpinan yang bertumpu pada pengetahuan atau kemampuan seseorang atau bersifat antropologis adalah pendapat Ki Suratman (1990: 19 – 21). Tokoh Taman Siswa ini mengemukakan pandangannya tentang trilogi kepemimpinan dari ajaran Ki Hadjar Dewantara yang sangat populer, yaitu (1) ing ngarsa sung tuladha, artinya sebagai seorang pemimpin harus dapat memberikan teladan baik terhadap anak buahnya dengan cara berdisiplin, jujur, penuh toleransi, dan bertindak adil; (2) ing madya mangun karsa, artinya dalam melaksanakan tugas bersama- sama anak buahnya, seorang pemimpin harus

mampu memberikan motivasi agar anak buahnya senang melaksanakan tugas dengan baik. Pemimpin tidak hanya memerintah saja, tetapi ikut melaksanakan tugas bersama- sama dengan anak buahnya agar sasaran dan tujuan bersama dapat tercapai dengan baik dan memuaskan, dan (3) tut wuri handayani, artinya seorang pemimpin harus dapat mendelegasikan wewenang sesuai dengan kemampuan anak buahnya. Pemimpin harus memberikan kepercayaan penuh pada anak buahnya. Selama anak buahnya mampu melaksanakan tugas dengan baik, penuh dedikasi dan tanggung jawab, maka pemimpin tinggal merestui saja.

Salah satu karya sastra yang sangat penting dan berisi ajaran moral kepemimpinan adalah Serat Jatipusaka Makutharaja karya Hamengkubuwana V. Naskah ini berisi sekumpulan serat-serat yang termasuk dalam kategori Sastra Piwulang, terutama dalam hal tata kelola pemerintahan kerajaan. Di dalam naskah ini diketahui berisi informasi tentang nilai-nilai kepemimpinan dalam lingkungan kerajaan sehingga kajian terhadap naskah ini diharapkan dapat mendukung dan memperkuat isyarat dari atribut yang dapat menjadi simbol- simbol kepemimpinan yang tergambar dari artefak-artefak fisik masa pemerintahan Hamengkubuwana V.

Secara ringkas deskripsi naskah dengan kode lengkap W.298. C-33 adalah sebagai berikut. Naskah ini merupakan kumpulan berbagai teks moral - didaktik, yang sebagian besar disajikan dalam bentuk tembang macapat. Rincian isi seluruhnya adalah sebagai berikut.

1. Serat Jatipusaka Makutharaja atau Serat Makutharaja (hlm. 2 – 9);

2. Serat Suryanalendra, atau Serat Candra Nata: Senapati dumugi HB IV (hlm. 9 – 21);

3. Serat Tenajulsalatin (pethikan) (hlm. 21 – 26);

4. Serat Sipatulmuluk (hlm. 26 – 27);

5. Serat Atining Mekrad (hlm. 27 – 31);

(15)

6. Serat Suryengmanon (hlm. 31 – 32);

7. Serat Wandhansari (hlm. 32 – 33);

8. Suryeng rat Kawidasanama (hlm. 33 – 34);

9. Serat Sateka Wredi Johar Mukmin (hlm.

34 – 57);

10. Asthabrongta Winangngun Jayaresmi (hlm. 57 – 70);

11. Suluk Istigena (hlm. 70 – 72);

12. Suluk Purwajati (hlm. 72 – 73);

13. Suluk Bab Napas Nem Prakarsa (hlm. 73 – 75);

14. Serat Martabating Dhéyanira (hlm. 75-- 76);

15. Serat Ruhyating Kayat (hlm. 76 – 77);

16. Sandining Aksara (?) (hlm. 77 – 113);

17. Janjanana sesma 500 gugu 2056 (hlm.

113 – 126);

18. Iku kang sipat akadhun/lukita ing karaptah (hlm. 126 – 127).

Naskah tersebut dibuat atas prakarsa Sultan Hamengkubuwana V (1822 - 1855).

Salinan dimulai pada Rabu Kliwon, 29 Dulkaidah, Jé 1774 (19 November 1846) dan selesai pada Selasa Kliwon, 29 Sapar, Dal 1775 (26 September 1847). Selain itu terdapat naskah dengan kode W.299 dan W.299a, yang ditulis dengan babon atau berbasis naskah W. 298 ini (Jennifer Lindsay dkk., 1994: Reel No. 118, Item No.3, YKM No. YKM/W-298 dalam Dwiyanto, 2012).

Secara ringkas isi naskah Serat Jatipusaka Makutharaja dengan kode W.298.C-33 adalah sebagai berikut.

Serat Jatipusaka Makutharaja atau Serat Makutharaja digubah (diputrani) secara turun-temurun oleh dinastinya agar dapat membuat tenteram, selaras, membahagiakan semua orang, dan dapat dipahami oleh para prajurit. Intisari nilai kepemimpinan yang diidealkan dalam serat ini adalah kemuliaan hati seorang raja yang memimpin kerajaan seperti Raja Yudhistira. Adapun sifat-sifat itu, antara lain, adalah tidak boleh melupakan bukari samsi narendra (asal usul perputaran

leluhur raja), sukahar rêtna adi murti (wujud kehendak mulia dari leluhur), dan mengalir bagaikan aliran air sungai. Raja yang baik harus memiliki hati yang awas terhadap tajali atau penampakan Allah dalam sifat-sifatnya yang menyatu dalam kalbunya sehingga dapat memimpin secara benar, bersih, dan adil. Raja hendaknya selalu gembira dalam mencari nafkah untuk hidup, dibiasakan sebagai manggala yuda sesuai dengan pranata yang sudah jelas dan baku, terdiri atas manggala yuda, patih, jaksa, dan pengulu. Raja selalu berusaha untuk meningkatkan pemahaman, berlatih, dan berikhtiar memahami ajaran, percaya pada ilmu nyata, semuanya disimpan dan diendapkan dalam yin atau kalbunya.

Apabila bertindak sebaliknya, sikap itu diandaikan sebagai arpajala wêni nrus buwana atau air hujan yang meresap terus ke dalam tanah.

Selain itu, raja sebagai pemimpin yang berwibawa selalu meningkatkan kemuliaannya, mampu mengendalikan perasaan yang diumpamakan sebagai sindu upaka atau bagaikan air jernih yang mengalir di lereng gunung. Sikap seperti ini harus selalu melekat dalam hati yang juga ditempati oleh Yang Agung, ibarat kadirun lir danirat, lir tikta manjali murti atau bagaikan hati dan empedu dalam badan, yang bersatu, tetapi terpisah.

Raja sebagai pemimpin yang menyimpang dari sikap seperti itu disebut tanajul makutharaja atau orang yang tidak paham asal usul kehidupan manusia dan sakwa kun kayatin atau asal usul penciptaan kehidupan atau asal-usuling dumadi. Sebaliknya, jika seorang pemimpin dapat mewujudkan sifat- sifat itu seperti makutharaja (mahkota raja) akan seperti awan-awan di gunung.

Makutharaja sesungguhnya bukan perhiasan atau mahkota emas, tetapi menyimbolkan tujuan atau kehendak sang mulki (sang hati).

Sifat-sifat lain yang juga harus dimiliki oleh raja sebagai seorang pemimpin adalah pandai bertutur, terbiasa, terampil (akladia), berhati-hati, sayidin Maha Mulia Agung, menempatkan diri sebagai bisyara atau utusan Yang Widi, hatinya dipayungi dzat kemuliaan

(16)

Gusti, menjelma di hati sebagai Yin, yang mengandung cahaya sum, dan yang berarti nur kun kayatulahi. Pendek kata seorang raja sebagai seorang pemimpin harus dapat menguasai tanajul makutharaja sebagai pengendali kehendak manusia. Jika dapat mengendalikan hatinya, di dalam hatinya akan disinari Yang Manon yang menjelma dalam kehidupannya (Nurhayati, 2006: 18 - 21).

Di antara ajaran moral kepemimpinan dalam serat itu dikatakan bahwa baik pemimpin negara maupun abdi negara sebagai insan supaya mempergunakan duabelas butir ajaran, yang disampaikan oleh Sri Purwajati kepada muridnya, sebagai berikut.

1. Supaya selalu ingat bahwa telah dijadikan manusia (eling yen tinitah imsi, 249: 2).

2. Supaya selalu diingat bahwa telah diberi pakaian dan makanan (elinga sutaningsun, yen sinung sandhang lan pangan, 249: 2) 3. Supaya diingat bahwa diwajibkan mencari

rezeki dari tangannya sendiri atau dari keringatnya sendiri (wetune sandhang lan rejeki kasaba saking tapak tangan, 249: 3).

4. Ngibadah secara Islam menurut nabi utusan Allah (kinen Islam manut jeng nabi, rasul tubadiling Hyang)

5. Tentang pakaian dan kesenangan (busana lan pakareman, 429: 3)

6. Tentang berteman (akekancan samining imsi, 249: 4)

7. Tata cara makan di rumah, tidur, berjalan dan bepergian (yen bukti aneng wismane, yen turu, yen lumaku, mentar saking wisma, 249: 4).

8. Tata cara menghormat tamu (kurmat maring tamu, 249: 4)

9. Masalah berbicara dan pembicaraan (wetuning ngling myang wetune panggusthi, 249: 4).

10. Menerima nasib dari Illahi (yen tinitah sirang Allah gedhe kelawan cilike, 249: 5).

11. Menerima perubahan karena kodrat dari Allah (eling titahing Widi, sudane kang derajat, gingsiring Wahyu, 249: 5).

12. Selalu ingat akan perubahan zaman (dipun eling, owah osiking jaman, 294).

Di antara materi dakwah dalam tembang Jawa adalah mengenai kehidupan manusia atau siklus hidup sejak masih dalam kandungan hingga wafat. Siklus hidup ini bahkan juga tergambar dari jenis tembang Jawa yang diberi nama sesuai dengan maknanya, yaitu mulai dari mijil (keluar, muncul, terbit, lahir) hingga megatruh dan pocung (terputus ruh dengan jazadnya, kemudian dibungkus kain kafan).

Tradisi pemberian ajaran moral kepemimpinan di lingkungan istana juga di jumpai di Kasultanan Yogyakarta.

Di lingkungan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sultan Hamengkubuwana V ternyata juga menciptakan karya sastra yang penuh dengan ajaran kepemimpinan, salah satunya dikenal dengan nama Serat Jatipusaka Makutharaja. Adapun salah satu contoh ajaran kepemimpinan yang ditemukan dalam bait- bait Serat Jatipusaka Makutharaja antara lain terlihat di bawah ini.

Marma juluk kalipatulahi badlun ing Yang Manon Manon iku jroning tingal rame

kyat wiwaha ing purnama jati nur kang mêrdayani

purweng buwanagung

(Serat Jatipusaka Makutharaja, pupuh Mijil, pada 6 – 8)

Terjemahan :

adapun gelar kalifatullah, seorang kalifah Allah,

tampak sungguh tepat untuk beliau, bagaikan cahaya bulan purnama, yang memberi terang di gelap malam, di dunia yang luas ini.

(terjemahan oleh: Djoko Dwiyanto dan Diah Setiani, 2008).

Makna dari nilai-nilai kepemimpinan dalam Serat Jatipusaka Makutharaja dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan yang berasal dari sumber-sumber lain tentang hal yang sama, terutama dalam

(17)

hal ide-ide pokok tentang kepemimpinan ini dapat memberikan gambaran tentang persepsi kepemimpinan Hamengkubuwana V. Selanjutnya, kenyataan dapat pula dalam wujud sesuatu yang terdapat tentang hal, peristiwa atau kenyataan lain yang mengandung pengetahuan untuk dijadikan dasar keterangan selanjutnya. Sangat mungkin kenyataan dapat juga berbentuk gejala, yaitu sesuatu yang tampak sebagai tanda adanya peristiwa atau kejadian. Ketiga aspek itu akan mendapatkan titik berat yang berbeda menurut masing-masing disiplin ilmu (Bakker dan Zubair, 1994: 41). Serat Jatipusaka Makutharaja mengandung ajaran luhur yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kutipan kalimat di bawah ini menunjukkan keterangan tersebut.

Irika tata kruding pangesthi manglunturing arju ginupita taseng iradat wijile pamêrdinireng masbun

gebak toran cêndhana minging

tinrap ing tontro wistha prathisthaning sirtu winangun miruda raras

kang winuni marasudaning narpati munggeng surya narendra

(Serat Jatipusaka Makutharaja, pupuh Dhandhanggula, pada 1 – 2)

Terjemahan:

raja yang adil adalah benar dalam berkuasa, hendaknya tidak bersikap mendua,

tidak melebihkan maupun mengurangi takdir.

tidak berada di depan maupun di belakang, tidak berada di luar atau di dalam.

sesungguhnya raja yang agung artinya raja yang senantiasa melihat segala

sesuatu dengan hati sehingga tahu yang benar dan salah. Sehingga anugrah dari Yang Maha Kuasa

selalu terlimpah pada sang raja.

(terjemahan: Djoko Dwiyanto dan Diah Setiani, 2008).

Kutipan di atas mengajarkan tentang keindahan, kebenaran dan kebaikan yang seharusnya dipegang oleh para pemimpin.

Pengertian kesusastraan pertama-tama tergantung dari konvensi sosio-budaya yang berlaku dalam masyarakat tertentu, sehingga memberikan definisi sastra yang universal tidak mungkin (Teeuw, 1982: 9). Objek yang disebut kesusastraan adalah objek yang dinamikanya ditentukan oleh syarat-syarat dan norma-norma kemasyarakatan yang berbeda-beda.

Penafsiran terjadi sambil meleburkan cakrawala masa silam dan masa kini. Penafsir harus memahami teksnya dan menerapkan teks yang kaku dan lepas dari keterkaitan waktu pada situasinya sendiri. Sebagai contoh, kutipan kalimat di bawah ini.

Sunan Mangkurat Mas pan winuni sebak danu tan mawa tiksyana endra marhatin arjunetyas murla walu-walu

kyat wara sapata dipati wasis sumbaga kênnya karêm jupiteku

patistha ngraras wanodya

ngêntha karsa pêngpêngan wilaya pati dêstun yoga sumbaga

(Serat Jatipusaka Makutharaja, pupuh Dhandhanggula, pada 14-16)

Terjemahan:

diceritakan tentang Kangjeng Sunan Mangkurat Mas. raja yang dihormati oleh seluruh rakyat.

segala sabdanya ditaati rakyat dan aparat raja yang tersohor karena kebijaksanaannya, karena kemuliaan hatinya,

dan keindahan budi pekertinya yang luhur. menumpas segala kejahatan

sehingga rakyat dapat hidup tenang dan damai.

(terjemahan oleh: Djoko Dwiyanto dan Diah Setiani, 2008).

Salah satu tembang yang berisi sanjungan terhadap raja, yaitu Hamengkubuwana V, sekaligus menunjukkan adanya unsur-unsur

(18)

kepemimpinan dalam kesusastraan Jawa adalah seperti kutipan di bawah ini.

Mulku kang nyakra buwana iku tan kina ngendrani bukari samsi narendra sukahar rêtnadi murti

lan sindu upakaji

apiknya masbun amiru yen jasaning arêlala

byakta tan kêneng nendraning nêtêpana asma sang makutharadi

(Serat Jatipusaka Makutharaja, pupuh Sinom, pada 1 – 8)

Terjemahan:

adapun dikisahkan sang raja, yang menjadi pemimpin dunia, dimulai pada saat matahari terbit,

sang raja berhiaskan permata yang indah dan merasa senang hatinya.

Raja yang menguasai dunia, raja yang agung,

tidak pilih kasih terhadap rakyatnya.

jelas raja yang menguasai dunia bagai matahari menerangi bumi, selalu halus tutur bahasanya, dan luhur budinya.

(terjemahan oleh: Djoko Dwiyanto dan Diah Setiani, 2008).

Pelajaran yang dapat diperoleh tentang musyawarah dalam situasi lingkungan pemerintahan kerajaan yang dikenal dengan sistem monarkhi, ternyata dalam mekanisme pengambilan keputusan juga menggunakan musyawarah. Pengambilan keputusan terhadap kasus pergantian Mahapatih Gajah Mada adalah bahwa keputusan itu atas masalah bersama. Musyawarah diadakan agar suatu keputusan yang telah diambil dapat diterima secara keseluruhan oleh semua orang (Budiardjo, 1982: 55). Bukan oleh mayoritas, tetapi oleh seluruh peserta rapat.

Masing-masing mengurangi pendirian agar dapat saling mendekati. Kekuatan oleh tokoh pemimpin (leader) dapat mendorong dan mengintegrasikan pendapat. Mencocokkan adalah mengubah sedikit/banyak pendapat

yang berbeda, sedangkan mengintegrasikan adalah melebur seluruh pendapat yang berbeda ke dalam konsepsi baru (sintesis).

Pertimbangannya adalah meluruskan keselarasan/tidak atau sesuai kepentingan bersama dalam perkembangan harmonis.

Beberapa istilah atau kata yang digunakan dalam sumber tertulis adalah: pulung tandas atau puluh rahi dan höm yang berarti bentuk pembahasan bersama dengan maksud untuk mencapai suatu keputusan atas peyelesaian masalah bersama (KBBI, 1989:

603).

Organisasi sebagai Alat Mencapai Tujuan

Pokok bahasan tentang kepemimpinan selalu aktual dalam kehidupan manusia, karena terkait langsung dengan perilaku manusia dalam organisasi, apa pun bentuk organisasi itu. Sebagai akibat tidak langsung dari aktualisasi itu, maka definisi atau pengertian tentang kepemimpinan pun sangat banyak dijumpai dalam berbagai bidang kehidupan. Salah satu pengertian yang paling sederhana dari kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi aktivitas dari seorang individu atau kelompok dalam upaya mencapai tujuan prestasi dalam situasi tertentu. Batasan ini terutama terkait dengan proses dari fungsi seorang pemimpin, pengikut, dan variabel situasi lainnya (Hersey dalam Wirawan, 2014: 6).

Sementara itu, nilai yang dimaksud dalam kajian ini ialah kualitas yang terdapat pada barang sesuatu atau yang sengaja diberikan kepada barang sesuatu yang merangsang manusia untuk menggapainya. Istilah barang sesuatu menunjuk pada entitas baik konkret maupun abstrak. Sesungguhnya, semua nilai bersifat abstrak, tetapi manifestasinya dapat menggejala baik dalam sesuatu yang konkret (Mudhofir, 1988: 7). Oleh karena itu, yang dimaksud nilai kepemimpinan adalah sesuatu yang menempel pada karakter atau ciri-ciri pemimpin, baik abstrak maupun konkret dan memiliki kualitas tertentu.

(19)

Nilai-nilai kepemimpinan sesungguhnya telah lama tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat tradisional sejak mereka memiliki kesadaran berorganisasi. Kepemimpinan bahkan telah dikenal dalam masyarakat yang masih sangat tradisional dan belum mengenal tulisan (nirlekha) atau masa prasejarah, setidaknya tampak dari cara mereka memilih pemimpinnya. Secara kronologis pola dan model kepemimpinan dapat diketahui dari sumber-sumber artefaktual dan tekstual.

Sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan peradaban, maka pengetahuan dan penjelasan tentang kepemimpinan sudah sangat berkembang, sehingga melahirkan berbagai model kepemimpinan. Model kepemimpinan akhirnya tidak hanya melekat pada organisasi, tetapi juga melekat pada setiap individu dalam berbagai kelompok masyarakat. Nilai-nilai kepemimpinan ada yang terdokumentasikan dengan baik, tetapi ada juga yang tidak didokumentasikan.

Di dalam kehidupan sosial, istilah kepemimpinan mulai dikenal bersamaan dengan terjadinya gejala berkumpulnya sejumlah orang yang memiliki kepentingan bersama. Kumpulan orang itu, baik yang disebut komunitas atau yang semakin teratur disebut organisasi, yang secara alamiah, naluriah, maupun terencana pasti memerlukan pemimpin untuk mencapai tujuan bersama.

Jauh sebelum teori kepemimpinan muncul, terlebih dahulu telah muncul penemu- penemu klasik tentang kepemimpinan sehingga studi tentang kepemimpinan telah menarik perhatian para ahli. Kepemimpinan pada kenyataannya banyak memengaruhi sistem kerja dan perilaku orang banyak, sebagian ada yang sudah dapat diketahui dan sebagian lagi masih misterius.

Di dalam ranah manajemen, sesungguhnya organisasi sosial bukanlah tujuan tetapi alat untuk mencapai tujuan. Menurut Moeljono (2004: 30), kepemimpinan intuitif harus ditransformasi menjadi ’kepemimpinan manajemen’, dengan tujuan pembangunan karakter, yaitu mengedepankan kepentingan kelompok, pembuatan keputusan management

leadership dalam sebuah tim, fokus kepada tugas manajerial (bukan teknikal), komunikatif, menjalankan organisasi sesuai dengan kerja dan tujuan yang hendak dicapai, setiap prestasi diberi ganjaran dan tidak pilih kasih, dan mengontrol dengan cara memberikan eksepsi. Moeljono (2004: 47) berpendapat bahwa kepemimpinan bukanlah sebuah kekuasaan, melainkan sebuah tugas, tanggung jawab, dan pengorbanan. Di dalam kepemimpinan yang ideal harus terkandung 15 karakteristik atau sifat-sifat seorang pemimpin, yaitu:

1. memiliki kekuatan jasmani dan rohani yang cukup,

2. memiliki semangat dan antusiasme untuk mencapai tujuan,

3. ramah-tamah dan penuh perasaan, 4. cerdas dan memiliki kacakapan teknis, 5. dapat mengambil keputusan,

6. memiliki kecakapan mendidik atau mengajar,

7. jujur dan adil, 8. memiliki keberanian,

9. penuh keyakinan dan percaya diri, 10. ulet dan tahan uji,

11. suka melindungi, 12. penuh inisiatif,

13. simpatik dan memiliki daya tarik,

14. bergairah dalam bekerja dan bertanggung jawab, dan

15. waspada, rendah hati, dan objektif.

Nilai-nilai kepemimpinan yang terkandung dalam ajaran ini bahwa seorang pemimpin mempunyai kewajiban menjaga persatuan dan kesatuan organisasi untuk mewujudkan tujuan organisasi. Setiap konflik di antara anggota organisasi harus dimaknai sebagai hikmah sebuah perbedaan untuk dijadikan sebuah kekuatan yang dapat menunjang pencapaian tujuan organisasi.

Artinya, seorang pemimpin harus dapat mengelola setiap konflik yang ada menjadi sebuah keberhasilan dalam mewujudkan tujuan organisasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :
Outline : DAFTAR PUSTAKA