• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH: DETI INDRIA NINGSIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH: DETI INDRIA NINGSIH"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

1

IMPLEMENTASI PASAL 310 UU NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG SANKSI PELANGGARAN LALU LINTAS TERHADAP PENGENDARA ANAK DIBAWAH UMUR

TANPA MEMILIKI SURAT IZIN MENGEMUDI (SIM) DILIHAT DARI TEORI UQUBAH

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana Hukum (SH) dalam fakultas Syariah IAIN Bukittinggi program studi Hukum Pidana

Islam (Jinayah)

OLEH:

DETI INDRIA NINGSIH 1417055

PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM (JINAYAH) FAKULTAS SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

TAHUN 2021 M/ 1442 H

(2)

2

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Implementasi Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Sanksi Pelanggaran Lalu Lintas Terhadap Pengendara Anak Dibawah Umur Tanpa Memiliki Surat Izin Mengemudi (Sim) Dilihat Dari Teori Uqubah”

yang ditulis oleh Deti Indria Ningsih, NIM 1417.055, Program Studi Hukum Pidana Islam (Jinayah), Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Skripsi ini ditulis bertujuan untuk mengetahui beentuk sanksi dari pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) dan bagaimana bentuk tinjauan teori uqubah terhadap pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM). Surat izin mengemudi (SIM) adalah bukti registrasi dan identifikasi yang diberikan oleh Polri kepada seseorang yang telah memenuhi persyaratan adminitrasi, sehat jasmani dan rohani, memahami peraturan lalu lintas, dan terampil mengemudikan kendaraan bermotor. Pada dasarnya Pengaturan mengenai lalu lintas terdapat dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009, kemudian pada Pasal 310 uu nomor 22 tahun 2009 tentang sanksi pelanggaran lalu lintas. Ditinjau dari teori uqubah perbuatan pwlanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak dibawah umur tanpa memeliki surat izin mengemudi termasuk kepada hukum (uqubah) ta‟zir. Pelaku pelanggaran lalu lintas tanpa memiliki surat izin mengemudi yang dilakukan oleh anak dibawah umur sepenuhnya diserahkan kepada Ulil Amri, karena berupa jenis maupun sanksinya belum diatur dalam Syara‟.

Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penulisan skripsi ini adalah, menggunakan library Research dan teknik Wawancara. Sumber data Sekunder, yaitu dari karya-karya pakar hukum dan referensi lainnya yang memiliki keterkaitan dengan hukum yang efektif dan khusus tentang 310 uu nomor 22 tahun 2009 tentang sanksi pelanggaran lalu lintas. Pada pengumpulan data penelitian ini menggunakan pengkajian kepustakaan, adapun yang digunakan pada tahapnya yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Teknis analisis yang digunakan adalah deskriptif analitis yang menggunakan pola pikir deduktif dengan mengungkapkan ketentuan dalam teori uqubah.

Berdasarkan hasil penelitian Pasal 310 UU Nomor 22 tahun 2009 tentang sanksi pelanggaran lalu lintas. Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) seharusnya sudah menjadi sebuah perhatian yang khusus baik dari pihak yang berwajib maupun dari orang tua sendiri. Perlunya pembahasan mengenai pengaturan terhadap pelanggaran lalu lintas oleh anak dibawah umur ini, agar memunculkan ksadaran bagi segala pihak agar selalu waspada atas keselamatan diri, dan menjaga agar tidak terjadinya kecelakaan akibat kecerobahan dan kelalaian.

Kata Kunci: Surat Izin Mengemudi (SIM), Lalu lintas, Anak dibawah Umur, Uqubah.

(3)

3

KATA PENGANTAR

Puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah Swt yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunianya serta Nikmat kepada kita semua. Dan tidak lupa di sampaikan kepada baginda kita Nabi Muhammad Saw yang telah berjuang untuk mengembangkan ajaran Islam di permungkaan bumi ini, demi keselamatan manusia, khususnya Umat Islam yang beriman.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak menemukan kesulitan, baik dari segi maupun keterbatasan yang penulis miliki. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibuk Ridha Ahida, M. Hum selaku Rektor IAIN Bukittinggi yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk membina ilmu pengetahuan di kampus tercinta ini.

2. Bapak Dr. H. Ismail, M. Ag selaku Dekan Fakultas Syari‟ah IAIN Bukittinggi.

3. Bapak H. M. Ridha, LC, MA selaku Ketua Program Studi Hukum Pidana Islam (Jinayah) IAIN Bukittinggi.

4. Bapak Dr. H. Edi Rosman. Sag M. Hum selaku Dosen pembimbing yang senantiasa membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan skripsi dengan sabar hingga penulisan skripsi dengan sabar hingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan arahan, bimbingan serta bantuan bantuan selama perkuliahan.

6. Seluruh civitas Akademika dan seluruh petugas kepustakaan Fakultas Syariah IAIN Bukittinggi.

(4)

4

7. Ayahanda Mukhtar dan Ibunda Kamiar tercinta atas segala doa dan pengorbanan yang telah dicurahkan untuk mendidik dan membesarkan dengan penuh cinta.

8. Saudara- saudari tersayang Muhammad Ilham dan Dina Adelia, yang selalu mensupport dan memberikan cinta serta dukungan dalam mempelancar perjuangan dan pendorong penyelesaian perkuliahan ini.

9. Sahabat-Sahabat tersayang Felia Nevira, Ulfia Rahmi Ananda Putri, Wirda Afriani, Murni, Dessy, Idmawati, Detti Indria Ningsing, yang senantiasa memberikan cinta serta dukungan dalam mempelancar perjuangan penyelesaian Skripsi ini.

10. Sahabat dan teman- teman HPI-A yang senantiasa memberikan dukungan.

Dalam mempelancar perjuangan dan pendorong penyelesaian skripsi ini.

11. Sahabat dan teman-teman Pengurus HMPS HPI yang senatiasa memberikan dukungan. Dalam mempelancar perjuangan dan pendorong penyelesaian skripsi ini.

12. Sahabat-sahabat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bukittinggi yang senatiasa memberikan dukungan dalam mempelancar perjuangan dan pendorongan penyelesaian perkuliahan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Sehubungan dengan itu penulis menghargai penulis segala kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis memohon kepada Allah Swt. Agar semua kebaikan yang disampaikan kepada penulis menjadi ibadah, Aaamiin.

(5)

5

Bukittinggi, Juli 2021 Penulis

DETI INDRIA NINGSIH NIM. 1417.055

(6)

6 DAFTAR ISI

HALAMAN PERSEMBAHAN ...

SURAT PERNYATAAN ...

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ...

ABSTRAK ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Kegunaan Penelitian... 8

E. Penjelasan Judul ... 9

F. Metodologi Penelitian ... 11

G. Tinjauan Pustaka ... 15

H. Sistematika Penulisan ... 17

BAB II UQUBAH A. Pengertian Uqubah ... 19

B. Tujuan Uqubah ... 23

C. Syarat-syarat Uqubah ... 27

D. Macam-macam uqubah ... 28

BAB III SURAT IZIN MENGEMUDI A. Pengertian Surat Izin mengemudi ... 49

B. Syarat-syarat Pembuatan Surat Izin Mengemudi ... 53

C. Masa Berlaku Surat Izin Mengemudi ... 59

D. Manfaat dan Tujuan Surat Izin Mengemudi ... 60

E. Sanksi Tidak Memiliki Surat Izin Mengemudi ... 63

BAB IV IMPLEMENTASI PASAL 310 UU NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG SANKSI PELANGGARAN LALU LINTAS TERHADAP PENGENDARA ANAK DIBAWAH UMUR TANPA MEMILIKI SURAT IZIN MENGEMUDI (SIM) DILIHAT DARI TEORI UQUBAH A. Sanksi pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) berdasarkan Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 ... 67

(7)

7

B. Tinjauan teori uqubah terhadap pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) berdasarkan Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 ... 73 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 80 B. Saran ... 81 DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(8)

8 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah

Hukuman dalam istilah bahasa Arab sering disebut Uqubah, yaitu bentuk balasan bagi seseorang atas perbuatannya yang melanggar ketentuan syara‟

yang ditetapkan oleh Allah dan Rasi-Nya untuk kemaslahatan manusia. (A.

Rahman Ritonga, 1997:1871). Tujuan dari adanya hukum dalam syari‟at Islam merupakan realisasi dari tujuan hukum Islam itu sendiri, yakni sebagai pembalsan atas perbuatan jahat, pencegahan secara umum dan pencegahan secara khusus serta perlindungan terhadap hak-hak si korban. Hukum juga di artikan sebagi suatu penderitaan yang di bebankan kepada seseorang akibat perbuatannya melanggar aturan (Abd. Al-Qadir Awdah,t.t: I: 214).1

Di indonesia, Undang-undang yang mengatur tentang anak adalah undang- undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Di undang-undang ini disebutkan bahwa yang tergolong anak adalah seseorang yang umurnya dibawah 18 tahun, termasuk yang di dalam kandungan. Adapun yang mengenai peradilan terhadap anak di atur dalam UU Nomor 11 tahun 2012 tentang sistem perlindungan anak.

Sebagian besar kecelakaan lalu lintas di akibatkan oleh kesalahan dan kelalaian manusia. Ketidak patuhan penegmudi/pengendara terhadap peraturan lalu lintas adalah sebagai penyebab terjadinya kecelakaan.

1 Jurnal: REKAPITULASI TEORI HUKUMAN DALAM HUKUM PIDANA ISLAM, Siti Jaroh, S.H.I, M.S.I Jururan Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. JHI, Volume 9, Nomor 2, Desember 2011.

(9)

9

Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak banyak sekali dijumpai di masyakat mulai dari yang ringan sampai berat. Pelanggaran yang kerap terjadi seperti, tidak memakai helm, menerobos lampu merah, berboncengan lebih dari dua orang, tidak memiliki SIM, tidak menghidupkan lampu motor ketika siang hari, tidak menggunakan lampu sen ketika ingin putar balik atau belok arah dan sebaginya, hal ini sudah membudaya dikalangan anak-anak yang masih duduk dikalangan pelajar.2 Pelanggaran yang seperti ini lah yang kerap terjadi ketika pihak kepolisian melekukan penertiban lalu lintas (razia) banyak sekali tertangkapnya anak sekolah. Maka tidak sedikit yang terjaring kasus pelanggaran lalu lintas dan tidak jarang karena kasus tersebut kerap menuimbulkan kecelakaan.

Namun yang sangat memperihatinkan saat ini yaitu anak-anak yang belum bisa mendapatkan SIM malah di fasilitasi sendiri oleh orang tua mereka, dengan membelikan kendaraan untuk mereka gunakan sendiri tanpa ada pengasawan khusus oleh orang tuannya. Dengan alasan orang tua yaitu untuk memudahkan anak-anaknya pergi kesekolah dan mengurangi biaya. Para orang tua, tanpa pernah memikirkan dampak buruk yang akan menimpa anak mereka.

Pandangan dari sebagian masyarakat sendiri terhadap para orang tua yang memfasilitasi kendaraan kepada anak-anaknya yang masih duduk di bangku

2 Fadilah Andy Nastiti, HUBUNGAN ANTARA KEPEMILIKAN SIM C DAN KEIKUT SERTAAN DALAM TES PEMBUATAN SIM DENGAN PENGETAHUAN BERKENDARA DAN KECELAKAAN LALULINTAS DI KABUPATERN SIDOARJO, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga Surabaya, Published online 31 Desember 2017.

(10)

10

SD dan SMP kurang baik, dan sangat amat membahayakan keselamatan terhadap anak-anak mereka.

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Izin Berkendara Dari Orang Tua Di Pasar Rao.

MendapatIzin Berkendara Dari

Orang Tua

Jumlah Persentase (%)

SD 20 22

SMP 30 32

SMA 42 46

Jumlah 92 100

Tabel 2. Distribusi Karakteristik Reponden Berdasarkan Kepemilikan SIM Di Jengjang SMA Di Pasar Rao.

Kepemilikan SIM Jumlah Pesentase (%)

Punya 5 5

Tidak Punya 45 95

Jumlah 50 100

Tabel 3. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pernah Mengalami Kecelakaan.

(11)

11

Mengalami Kecelakaan Jumlah Persentase (%)

Pernah 89 97

Tidak Pernah 3 3

Jumlah 92 100

Tidak hanya itu, masyarakat sering merasa risih, terganggu dan juga khawatir terhadap anak-anak yang masih dibawah umur ini ketika membawa kendaraan bermotor di jalan raya3, karena mereka ketika berkendara selalu membawa dengan kecepatan melebihi batas normal dan juga sering didapatai mereka berboncengan dengan muatan 3 (tiga orang) di tengah-tengah keramaian, tanpa memperhatikan sekitarnya dan peraturan lalu lintas yang berlaku, sehingga kerap terjadi kecelakaan, baik itu tunggal atau dengan kendaraan lain bahkan sempat juga menghilngkan nyawa seseorang, atas kecerobohan yang mereka kerjakan.4

Dengan hal ini, kebanyakan tidak sedikit yang meregang nyawa, bahkan jika hidup sekalipun akan didapati beberapa organ tubuh yang patah bhkn hingga lumpuh.5 Hal ini jugalah kenapa masyarakat memiliki pandangan yang buruk akan orang tua yang memfasilitasi kendaraan sepeda motor kepada

3 Khoeriyah, PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ANAK DIBAWAH UMUR PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Analisis Kasus Kecelakaan Abdul Qodir Jaelani (DUL) di Tol Jagorawi), Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol. 3, No. 2, Mei 2014.

4 Andriana Vega, SANSI PIDANA TERHADAP ANAK YANG MELAKUKAN PELANGGARAN LALU LINTAS, Vol. II/No.7/Ags/2014.

5 Mardatila, Rahman Syamsudin PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR YANG MENYEBABKAN KEMATIAN, Universitas Alauddin Mkassar, Volume 2 Nomor 1, Maret 2020.

(12)

12

anak-anak mereka dengan usia yang belum pantas untuk mendapatkn fasilitas tersebut.

Bahkan tidak hanya masyarakat, pihak yang berwajib pun sering timbul keheranan tetang kurangnya kesadaran akan keselamatan dan keamanan terhadap anak-anaknya terhadap para orang tua yang tidak jera untuk memfasilitasi anak-anaknya ini.

Bakhan ketika diberikan teguran oleh pihak yang berwajib sekalipun ketika anak-anak dari mereka tertangkap razia lalu lintas (penilangan kendaraan) oleh polantas, mereka hanya menyetujui hal tersebut, dan akan mengulanginya kembali.

Masyarakat selalu berharap dari Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 dan peran dari pihak yang berwajib dapat membrantas dan lebih tegas terhadap setiap pelanggar lalu lintas baik itu anak-anak maupun orang dewasa, agar terciptanya lingkungan yang aman damai dan tenang yang bebas dari para pelanggar lalu lintas.

Menurut uraian Undang-undang Nomor 22 Tahun 20096 tentang lalu lintas dan angkutan jalan mengatur tentang setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor karena kelalaiannya dengan korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang dengan luka berat dan/atau mengakibatkan orang lain meninggal dapat dipidana tanpa melihat siapa pelakunya anak atau orang dewasa.

6 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009

(13)

13

Pasal 310 ayat 4 LLAJ mengatur setiap orang yang terlibat dalam kecelakaan, dan akibat kelalaiannya membuat orang lain meninggal dunia, dapat dijerat dengan pidana selama 6 tahun atau denda maksimal Rp 12 juta.

Berikut pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009:7

1) Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan kerusakan kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah.

2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah).

3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah)

4) Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana

7 Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 ayat (1), (2), (3), dan (4).

(14)

14

penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Namun, meskipun sudah ada Undang-undang yang mengatur pelanggaran Lalu Lintas ini memang tidak bisa dipungkiri sampai saat ini masih terus ada bahkan bisa dikatakan meningkat pula. Karna banyaknya kekurangsadaran dari pihak para orang tua yang masih kurang peduli akan keselamatan dari anak-anaknya.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka Penulis bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Sanksi Pelanggaran Lalu Lintas Terhadap Pengendara Anak Dibawah Umur Tanpa Memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) Dilihat Dari Teori Uqubah”.

B. Rumusan masalah

1. Bagaimana bentuk sanksi pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) berdasarkan Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009?

2. Bagaimana bentuk tinjauan teori uqubah terhadap pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) berdasarkan Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009?

(15)

15 C. Tujuan penelitian

1. Untuk mengetahui bentuk sanksi pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) berdasarkan Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009.

2. Untuk mengetahui bentuk tinjauan teori uqubah terhadap pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) berdasarkan Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009.

D. Manfaat penelitian 1. Bagi Masyarakat

Dengan adanya peraturan mengenai penegakan hukum atau sanksi terhadap anak karna telah melakukan pelanggaran lalu lintas dengan membawa kendaraan bermotor tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) maka akan meningkatkan kesadaran kepada masyarakat sendiri terutama kepada pihak orang tua bahwa, peraturan di buat bukan hanya sekedar untuk di patuhi namun juga harus di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada hakihatnya peraturan dibuat untuk dipatuhi dan diterapkan bukan malah untuk dilanggar. Dengan tujuan tidak lain peraturan dibuat untuk kesejahteraan, keselamtan dan kedamaian bagi kehidupan dalam bermasyarakat.

2. Lingkungan Hidup

Dampak bagi lingkungan hidup tidak lain yaitu terciptanya kedamaian serta ketentraman atas hilangnya hiruk pikuk dalam lingkungan

(16)

16

kehidupan. Menghindarkan dari berbagai konflik antar sesama atas ketidak nyaman yang di timbulkan akibat kegaduhan dari kurang patuhnya dan kurang pedulinya terhadap peraturan yang ada.

E. Penjelasan Judul

Agar lebih mudah di pahami dan dimengerti secara baik, penulis menjelaskan pengertian istilah dari judul Implementasi Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Sanksi Pelanggaran Lalu Lintas Terhadap Pengendara Anak Dibawah Umur Tanpa Memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) Dilihat Dari Teori Uqubah.

Implementasi : adalah penerapan atau pelaksanaan8

Sanksi : hukuman atau sanksi apa yang dapat dijatuhkan kepada seseorang yang melakukan tindak pidanya dan kepadanya dapat dianggap bertanggung jawab.9

Pelanggaran : adalah perbuatan yang melanggar peraturan perundangundangan, kode etik, dan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta tindakan lain yang sejenis berupa ancaman langsung atas kepentingan publik, serta Korupsi,Kolusi,dan

8KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

9 Mardani, HUKUM PIDANA ISLAM, (2019. Jakarta: PRENADA MEDIA GRUP) Hal.8

(17)

17

Nepotisme (KKN) yang terjadi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.10

Lalu lintas : adalah gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan.11

Pengendara : adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang memiliki surat izin mengemudi.12

Anak dibawah umur : adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.13

Surat izin mengemudi : adalah bukti registrasi dan identifikasi yang diberikan oleh Polri kepada seseorang yang telah memenuhi persyaratan adminitrasi, sehat jasmani dan rohani, memahami peraturan lalu lintas, dan terampil dalam mengemudikan kendaraan bermotor.14

Uqubah : bentuk balasan bagi seseorang atas perbuatannya yang melanggar ketentuan syara‟ yang ditetapkan

10https://wbs.kemdikbud.go.id/testimonials/pelanggaran/

11UNDANG-UNDANG LALU LINTAS & ANGKUTAN JALAN 2009 (UU No. 22 Tahun 2009), (2009. Jakarta: Transmedia Pustaka) hal. 11

12 UU No. 22 tahun 2009 Pasal 1

13Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 1 ayat 1 tentang Perlindungan Anak

14Much. Nurachmad, Pedoman Mengurus Segala Macam Surat Perizinan & Dokumen Secara Legal Formal, (2013. Yogyakarta: Medpress Digital) hlm. 29

(18)

18

oleh Allah dan Rasi-Nya untuk kemaslahatan manusia

F. Tinjauan Pustaka

1. IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

(Studi Tentang Penertiban Lalu Lintas di Wilayah Hukum Kepolisian Kota Besar Banda Aceh ) oleh: WALIYUL AHDI

a. Pelaksanaan tugas Kepolisian di wilayah hukum Poltabes Kota Banda Aceh berjalan dengan sangat aman dan tertib sesuai dengan ketentuan Undang-undang yang berlaku. Meliputi segala usaha, pekerjaan dan kegiatan dalam pengendalian lalu lintas untuk mencegah dan meniadakan segala bentuk gangguan serta ancaman agar terjamin keamanan, ketertiban, keselamatan dan kelancaran lalu lintas di jalan umum. Namun dari semua pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh Kepolisian Kota Banda Aceh masih juga didapati pelanggaran dan penyelewengan yang dilakukan yaitu seperti dalam kurang aktifnya pihak Polisi Jalan Raya (PJR) dalam berpatroli di setiap jalan raya, sehingga masih bnyak terdapat pelanggaran kasat mata yang terjadi di jalan raya, seterusnya lalai dan keterlambatan dalam kasus tindak lanjut proses kecelakaan, dan yang terakhir yaitu dalam kasus pemungutan liar dalam pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Keterangan Kendaraan Bermotor (STNK).

(19)

19

b. Aturan-aturan yang terdapat di dalam Undang-undang Nomor 22 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan belum sepenuhnya dapat dikatakan efektif dalam meningkatkan keamanan dan keselamatan khususnya bagi kalangan masyarakat kota Banda Aceh. Meski dalam Undang-undangsudah ada aturan tentang pelanggaran atau hukuman bagi si pelanggar lalu lintas, namun masih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh warga Kota Banda Aceh. Adapun faktor yang menjadi penghambat efektifnya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yaitu penggunaan kendaraan oleh anak sekolah, mereka belum cukup usia untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM), struktur pengetahuan sosiologis masyarakat, yaitu pemikiran yang selalu menyepelekan sesuatu hal, pengetahuan masyarakat tentang Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 itu masih sangat minim.

2. Jurnal Warta Edisi : 53 Juli 2017 | ISSN : 1829 – 7463 Universitas Dharmawangsa

“PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALANBAGI PELAKU ANAK” Oleh : Azmiati Zuliah

a. Aparat penegak hukum baik itu pihak Kepolisian, Kejaksaan maupun Hakim Pengadilan, dalam setiap kasus tindak pidana lalu lintas yang melibatkan anak sebagai pelaku pelanggaran lalu lintas harus selalu mengedepan-kan pelaksanaan diversi dengan pendekatan keadilan

(20)

20

restoratif dan melaksanakan secara maksimal penerapan-nya demi kepentingan terbaik bagi anak.

b. Para aparat penegak hukum, Balai Pemasyarakatan, masyarakat harus bisa menjadi penengah atau perantara dalam mencari penyelesaiannya yang terbaik demikepentingan terbaik bagi anak, para pihak terutama pelaku maupun korban harus sama-sama bersedia untuk melakukan musyawarah diversi mengingat dalam pelaksanaanya seringkali terdapat hambatan. Sehingga dengan demikian para pihak harus menyadari pentingnya diversi, karena penyelesaian secara kekeluargan jauh lebih baik daripada memberi hukuman bagi pelaku tindak pidana lalu lintas yang dilakukan oleh anak.

c. Hambatan yang ditimbulkan dalam proses penerapan diversi dalam system peradilan pidana anak juga meliputi hambatan internal dan hambatan eksternal. Adapun yang sering menjadi kendala dalam penerapan diversi khususnya terkait kasus tindak pidana lalu lintas yang dilakukan oleh anak antara lain yaitu pihak korban dan/atau orang tua/walinya meminta perdamaian dalam bentuk ganti kerugian yang tidak dapat disanggupi oleh pihak anak dan orang tua/walinya, selain itu korban meninggal dunia dan pihak keluarga korban tidak bersedia berdamai walaupun perdamaian yang ditawarkan oleh pihak anak dan orang tua/walinya dalam bentuk ganti kerugian, mengingat kerugian berupa non fisik dengan hilangnya nyawa yang tidak dapat tergantikan oleh materi.

(21)

21

3. PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN

2009TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN

JALANTERHADAP PENERTIBAN SIMDI KOTA

MAKASSARRAJADIANTO BURHANUDDIN

Dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya dari skripsi yang berjudul “Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan terhadap penertiban SIM Di Kota Makassar”, maka dapatdisimpulkan bahwa:

a. Ketentuan hukum tentang keharusan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) pada dasarnya berpedoman pada Undang-undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, khususnya pada Pasal 77 ayat (1) yang berbunyi “setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki Surat izin Mengemudi (SIM) sesuai dengan jenis kendaraan bermotor yang dikemudikan”.

Selanjutnya, Surat Izin Mengemudi harus dimiliki disebabkan karena : 1) Sebagai sarana identifikasi atau jati diri seseorang.

2) Sebagai alat bukti.

3) Sebagai sarana upaya paksa.

4) Sebagai sarana perlidungan masyarakat.

5) Sebagai sarana pelayanan masyarakat.

b. Adapun praktek penegakkan hukum orang yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), khususnya di Kota Makassar bahwa peranan kepolisian sebagai aparat penegak hukum cukup signifikan

(22)

22

sebagaimana ketentuan Undang-undang. Namun, beberapa pengaruh dalam penegakan hukum bagi mereka yang tidak Memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) perlu melihat kondisi karena factor yang menyebabkan pengendara tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) adalah karena:

1) Besarnya Biaya Pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) 2) Tidak Memiliki Kendaraan Sendiri

3) Belum Cukup Umur

Olehnya itu, ini harus menjadi catatan bagi pihak kepolisian, sehingga penindakan terhadap mereka yang melanggar dapat dipertimbangkan sebagaimana kondisi yang ada pada pengendara kendaraan bermotor yang tidak memiliki Surat Izi Mengemudi (SIM).

Dari penulisan yang sebelumnya tidak ada yang membahas secara khusus tentang implementasi terhadap anak di bawah umur yang berkendara tanpa memiliki SIM, dan diketahui unsur yang dilihat dari penelitian ini berbeda dengan apa yang akan penulis teliti dalam proposal skripsi.

G. Metode Penelitian

Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langah-langkah sistematis. Metode penelitian adalah

(23)

23

mengemukakan secara teknis tentang metode-metode yang digunakan dalam suatu kegiatan penelitian.

1. Jenis penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research).Yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.15Hal ini mengandung pengertian bahwa dalam melakukan penelitian kepustakaan (library research) mengenai sanksi pelanggran lalu lintas oleh anak dibawah umur tanpa SIM di Indonesia.Penulis harus melakukan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, dan mencatat serta mengolah bahan penelitian yang sesuai dengan pembahasan yang ditulis.

2. Sumber Data

Untuk memudahkan mengidentifikasi sumber data, maka penulis mengklasifikasikan sumber data menjadi dua sumber data, yaitu:

a. Data primer

Data primer adalah yaitu sumber-sumber yang membahas konsep sanksi bagi pelanggran lalu lintas oleh anak dibawah umur tanpa SIM.

b. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang memberikan penjelasan terhadap data primer.Data sekunder ini dapat berupa buku-buku

15 Mustika Zed, “Metode Penelitian Kepustakaan”, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), hlm.3

(24)

24

(literatur), teks, dokumen-dokumen, kasus-kasus yang terjadi, jurnal hukum, tulisan-tulisan para ahli di bidang terkait.

3. Teknik Pengumpulan Data

Di dalam mengumpulkan data penulis melakukan kajian kepustakaan (library research), dengan mencari literatur yang relevan dengan pembahasan serta menganalisa, mengutip, menjelaskan, dan menyimpulkan beberapa hal penting.Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan studi dokumen yaitu mempelajari data-data terkait mulai dari data primer dan sekunder yang berhubungan dengan konsep radikalisme di Indonesia.

4. Teknik Analisa Data

Adapun metode analisa data yang penyusun gunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif, yaitu analisa dengan mengklasifikasikan data-data berdasarkan kategori-kategori atas persamaan jenis dari data-data tersebut kemudian data tersebut diuraikan sehigga diperoleh gambaran yang utuh tentang permasalahan yang diteliti.

H. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan proposal ini terdiri dari I BAB yang terdiri sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan

Dalam bab ini penulis meuliskan latar belakang, rumusan maslah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, dan sitematika penelitian.

(25)

25 Bab II : Uqubah

Dalam bab ini penulis menuliskan Pengertian Uqubah, Tujuan Uqubah, Syarat-syarat Uqubah, Macam-macam Uqubah.

Bab III :Surat Izin Mengemudi

Dalam bab ini penulis menuliskan Pengertian Surat Izin mengemudi, Syarat-syarat Pembuatan Surat Izin Mengemudi, Masa Berlaku Surat Izin Mengemudi, Fungsi dan Tujuan Surat Izin Mengemudi, dan Sanksi Tidak Memiliki Surat Izin Mengemudi.

BAB IV : Implementasi Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Sanksi Pelanggaran Lalu Lintas Terhadap Pengendara Anak Dibawah Umur Tanpa Memiliki Surat Izin Mengemudi (Sim) Dilihat Dari Teori Uqubah

Dalam bab ini penulis menuliskan Sanksi pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) berdasarkan Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009, danTinjauan teori uqubah terhadap pelanggaran lalu lintas terhadap pengendara anak dibawah umur tanpa memiliki surat izin mengemudi (SIM) berdasarkan Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009.

BAB V :PENUTUP

Dalam bab ini penulis menuliskan Kesimpulan dan Saran.

DAFTAR PUSTAKA

(26)

26 BAB II UQUBAH A. Pengertian Uqubah

Uqubah berasal dari kata aqabah yang menunjukkan adanya perbuatan yang mendahului uqubah yaitu jinayah.16

Hukuman secara etimologi berarti sanksi atau balasan atas suatu kejahatan/pelanggaran, dalam bahasa Arab disebut „uqubah. Uqubah menurut bahasa berasal dari kata „aqoba, yang memiliki sinonim „aqobahu bidzanbihi au „ala dzanbihi, yang bearati menghukum, atau dalam sinonim lain yaitu

„akhodzahu bidzanbihi, yang berarti menghukum atas kesalahannya.

Pendapat Abdul Qadir Audah yaitu, sebagai berikut:

ََأَْلَُع

َُقَْوََب

َُةَ

ََيَ َِى

ََْلاََ

زَُءاَ

َْلاَُم

ََقَ ر

َُرََِل

ََم

َْصََل

ََحَِة

ََْلا َ

ََم

ََعَا

ََعَ ل َِةَ

َِعَى

َْصََي

َِنا

َْمَِر َََأ

َ شلا َ

َِع َِرا

Artimya:

“Hukuman adalah pembalasan yang ditetapkan untuk kemaslahatan masyarakat, karena adanya pelanggaran atas ketentuan-ketentuan Syara”(Audah, tt).

An-nisa:58

Sanksi hukuman, yaitu hukuman atau sanksi apa yang dapat dijatuhkan kepeda seseorang yang melakukan tindak pidana dan kepadanya dapat

16 Haq Ismul, FIQH JINAYAH, (2020, Sulawesi Selatan: IAINParepare Nusantara Press) hal. 9

(27)

27

dianggap bertanggung jawab. Istilah ini merupakan terjemahan dari istilah

„uqubah dalam bahasa Arab.17

Dalam bahasa Indonesia, hukuman diartikan sebagai “siksa dan sebagainya”, atau “keputusan yang dijatuhkan oleh hakim”.18 Menurut hukum positif di Indonesia, istilah hukuman hampir sama dengan pidana. Walaupun sebenarnya seperti apa yang dikatakan oleh Wirjono Projodikoro, kata hukuman sebagai istilah tidak dapat menggantikan kata pidana, oleh karena ada istilah hukuman pidana dan hukuman perdata.

Hukuman dalam bahasa berarti siksa, sebagaimana Allah SWT berfirman sebagai berikut:

َ ي اَهُّ يَا ٓ

ََنْيِذ لا َ اْوُ نَم ا َ

ََبِتُك َ

ََلَع َ

َُمُكْي ى لْ تَقْلاَ ِفَُِصاَصِقْلا َ

َ ٓ

َى ثْ نُْلْاَوَِدْبَعْلاِبَُدْبَعْلاَوَِّرُْلْاِبَُّرُْلَْا

ى ثْ نُْلْاِب

َ ٓ وَلََيِفُعَْنَمَف

َ ٓ

َْنِم

َِوْيِخَا َ

ٌَعاَبِّ تاَفٌَءْيَش َ

َِفْوُرْعَمْلاِب ٓ

ٌَءۤاَدَاَو َ

َِوْيَلِا َ

ٍَناَسْحِاِب َ

َ

َ ٓ

ََكِل ذ

َ

ٌَةَْحَْرَوَْمُكِّب رَْنِّمٌَفْيِفَْتَ

َِنَمَف ٓ ى دَتْعا َ

ََدْعَ ب َ

ََكِل ذ َ وَلَ ف َ

َ ٓ

ٌَباَذَع

ٌَمْيِلَا َ

َ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Dwajibkan atas kamu (melaksanakan) qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi barang siapa memperoleh maaf dari saudaranya,

17 Mardani, Hukum Pidana Islam, (2019, Jakarta: PRENADA MEDIA GROUP) hal. 8

18 Anton M. Moeliono, et al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, cetakan II, 1989, hlm. 315

(28)

28

hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dengan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barang siapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih”. (QS. Al-Baqarah 2: 178)

Menurut istilah para fuqaha, „uqubah (hukuman) itu adalah pembalasan yang telah ditetapkan demi kemaslahatan masyarakat atas pelanggaran perintah pembuat syariat (Allah dan Rasul-Nya).Hukuman dalam bahasa Arab disebut „uqubah. Lafaz „uqubah menurut bahasa berasal dari kata „aqaba yang sinonimnya khalafahu wa ja a bi‟aqabihi, artinya: mengiringnya dan datang di belakangnya. Dalam pengertian yang agak mirip dan mendekati pengertian istilah, barangkali lafazh tersebut bisa diambil dari lafaz: „aqaba yang sinonimnya jazahu sawa a bima fa‟ala, artinya: membalasnya sesuai dengan apa yang dilakukannya.

Dalil-dalil mengenai uqubah sebagai berikut:

َِسا نلاَ َْيَْ بَْمُكَحاَفَشضْرَلأاَ ِفًَِةَفيَلَخَ َكاَنْلَعَجَا نإََدواَداَي

ََك لِضُيَ فَىَوَْلْاَ ِحِب تَ تََلَْوَِّقَْلْاِب َ

َ ّللاَِلْيِبَسْنَع

َ ّللاَِلْيِبَسَْنَعََنْوُّلِضَيََنْيِذ لاَ نِإَِو

َ ِباَسِْلْاََمْوَ يَاْوُسَنَاَِبٌَِديِدَشٌَباَذَعَْمَُلَِْو

َ

Atrinya:

"Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat

(29)

29

dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Q.S. Shad, 38: 26)

َۤاَي

َ أَ َنْيِذ لاَاَهُّ يَأ

ََهُشَ ِطْسِقْلاِبََْيِْما وَ قَاْوُ نْوُكَاْوُ نَم

َ ّللََء ََدآ

َ لَعَ ْوَلَوَِو

َِنْيَدِلاَ َوْلاَِوَأَْمُكشسُفْ نَأَى

َ ّللاَفَاًرْ يِقَفَ ْوَأَاَيِنَغَ ْنُك يَ ْنِإَ َْيِْبَرْ قَلأاَو

َ لْوَأَو

َِإَوَاوُلِدْعَ تَ ْنَأَىَوَْلْاَاوُعِب تَ تَاََفَاَمِهشبَ

َوْلَ تَ ْن آَ

َ ّللاَ نِإَفَاْوُضِرْعَ تْوَأ اًرْ يِبَخََنَْوُلَمْعَ تَاَِبََِناَكََو

َ

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan. (Q.S.

An-nisa‟ 4:135)

َةشاَشَةاضقاأَ"َلاقَملسوَوياعَو ّللاَى لصَبينلاَنأَ؛ويبأَنعَةديربَنباَن ع

٬َ

َرانلاَفَِنايضاق

َ َكاَذََمِلَعَ فَِّقَْلْاَِرءيَغِبَى ضَقٌَلُجَرَ:َةلاَفَِضاقو

َ.َِرا نلاَ ِفَِكاذَف ٬َ

ََكَلْىَأَفََمَلْعَ يَلَْ ٍضاقو

َى ضَقٍَضاقوَ.َِرا نلاَ ِفََِوُهَ فَِسَا نلاَشقَوُقُح

َ".ةنلْاَفَِكاذَفَِّقَْلْاِب }يَذيمترلَهاور{

َ

(30)

30 Artinya:

Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, sesungguhnya Rasullah SAW. Bersabda

“Qadhi-qadhi (hakim-hakim) itu ada tiga golongan, dua golongan dineraka san satu golongan di surga. Seorang yang memutus dengan curang (tidak benar) sedangkan dia mengetahui kebenarannya, maka dia dineraka. Dan seorang memutus dengan kebodohan dan merusak hak orang lain, dia juga di neraka. Dan seorang hakim yang memutus dengan jujur 9benar) maka dia di surga” (HR. At-Turmudzi).

B. Tujuan Uqubah

Berikut dari tujuan penetapan uqubah, yaitu:19

1. Menjamin keamanan al maqashid al syari‟ah Al khamsah (lima tujuan syari‟ah) yang bersifat primer (daruriyyat) yaitu:

a. Hafzh al din (memelihara agama)

Allah SWT memerintahkan manusia untuk tetap berusaha menegakkan agama. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah SWT:

وِبَى ّصَواَمَِنْيِّدلاََنِّمَْمُكَلََعَرَش

َ ٓ

َْيِذ لا وَاًحْوُ ن

َ ٓ اَنْ يَحْوَا

ََمْيِى رْ بِاَوِبَاَنْ ي صَوَاَموََكْيَلِا ٓ

َ سْيِعَوَى سَ ْوَمَو

ََوََنْيِّدلاَاوُمْيِقَاَْنَاَى ٓ

َْيِفَاْوُ ق رَفَ تَ ت ََاَ

َِو

ََ ٓ

َُ بَك

َاَمََْيِْكَِرْشُمْلاَىَلَعََر

َِوْيَلِاَْمُىْوُعْدَت

َ ٓ

َِْبيَتَْيََُو ّللَا

َ ٓ ا شْيَْنَمَِوْيَلِا

َْيِدْهَ يَوَُء ٓ

َ ٓ

َُبْيِنُّيَْنَمَِوْيَلِا

Artinya:

19 Haq Ismul, FIQH JINAYAH,... hal.27-2

(31)

31

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu Ibrahim, Musa, „Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.

Sangat berat bagi oarang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. Asy- Syura 42:13)

b. Hafzh al nafsi (memelihara jiwa)

Memelihara (menjaga) jiwa dari diri manusia (nyawa), Islam mensyari‟atkan agar mewujudkan dan melestarikan ras manusia dengan jalan pernikahan dan melanjutkan keturunan. Agar dapat menjaga dan menjamin kehidupan manusia, Islam mewajibkan secara pasti untuk makan, minum, pakain, dan sebaginya.

c. Hafzh al mal (memelihara harta)

Harta adalah sesuatu yang berharga yang dimiliki seseorang untuk tetap bisa bertahan hidup. Sehingga syari‟at mewajibkan agar menghasilkan harta, dan berusaha untuk mendapatkan harta.

Melaksanakan muamalah dengan cara jual-beli, sewa, dan sebaginya untuk bisa menghasilkan harta dan di syaria‟at juga memperbolehkan hal ini.

(32)

32

d. Hafzh al nasli (memelihara keturunan)

Untuk memelihara keturunan, syari‟at menganjurkan pelaksanaan pernikahan. Dan untuk menjaganya syari‟at mengharamkan zina dan memberlakukan hukuman bagi yang melakukannya. Tujuannya agar mencegah bercampurnya nasab dan menjaga kemuliaannya manusia.

e. Hafzh al aqli (memelihara akal pikiran)

Akal adalah sebuah nikmat yang agung. Allah SWT memebrikannya kepada manusia agar menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk-nya yang lain. Karena Allah SWT menganjurkan agar manusia mampu menggunakan dan memelihara akal untuk digunakan mencari ilmu.

2. Pencegahan (Ar Rad‟u wa Zajru)

Pengertian pencegahan adalah menahan orang berbuat jarimah agar ia tidak mengulangi perbuatan jarimahnya, atau agar ia tidak terus menerus melakukan jarimah tersebut. Disamping mencegah pelaku, pencegahan juga mengandug arti mencegah orang lain selain pelaku agar ia tidak ikut-ikutan melakukan jarimah, sebab ia bisa mengetahui bahwa hukuman yang dikenakan kepada pelaku juga akan dikenakan kepada orang lain yang juga melakukan perbuatan yang sama. Dengan demikian, kegunaan pencegahan adalah rangkap, yaitu menahan orang yang berbuat itu sendiri untuk tidak mengulangi perbuatannya, dan menahan orang lain untuk tidak berbuat seperti itu serta menjauhkan diri dari lingkungan jarimah.

(33)

33

Tujuan yang pertama ini, berefek kepada masyarakat, sebab dengan tercegahnya pelaku dari perbuatan jarimah maka masyarakat akan tenang, aman, tenteram dan damai. Dan juga efeknya terhadap pelaku, sebab dengan tidak dilakukannya jarimah maka pelaku akan selamat dan terhindar dari penderitaan akibat dari hukuman itu.

3. Perbaikan dan Pendidikan (Al Ishlah wa Tahdzib)

Maksudnya adalah agar bisa mendidik pelaku jarimah agar ia menjadi orang yang baik dan menyadari kesalahannya. Dengan adanya hukuman ini, diharapkan akan timbul dalam diri pelaku suatu kesadaran bahwa ia menjauhi jarimah bukan karena takut akan hukuman, melainkan karena kesadaran diri dan kebencian terhadap jarimah serta dengan harapan mendapat ridha Allah.

Disamping kebaikan pribadi pelaku, syari‟at islam dalam menjatuhkan hukuman juga bertujuan membentuk masyarakat yang baik yang diliputi oleh rasa saling menghormati dan mencintai antara sesama anggotanya dengan mengetahui batas-batas hak dan kewajibannya.

Pelaksanaan „Uqubah pada dasarnya dilakukan oleh penguasa atau wakilnya, namun dalam kondisi kasus-kasus tertentu si korban atau walinya juga mempunyai hak untuk melakukan hukuman itu sendiri terhadap si pelaku jarimah.

(34)

34 C. Syarat-syarat Uqubah

Berkaitan dengan pemberian hukuman, hukuman itu sendiri harus memiliki syarat-syarat sebagai bentuk adanya hukum itu sendiri. Dengan kata lain agar hukum itu dapat diakui keberadaanya. Adapun diantara beberapa syarat tersebut diantaranya :20

1. Hukuman harus ada dasarnya dari syara‟Hukuman dianggap mempunyai dasar (syari‟iyah) apabila ia didasarkan kepada sumber-sumber syara‟, seperti Al-Qur‟an, As-Sunnah, Ijma‟, atau undang-undang yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang (ulil amri) seperti dalam hukuman ta‟zir.

Yang hukuman tersebut disyaratkan tidak bertentangan dengan ketentuan- ketentuan syara, karena apabila bertentangan maka ketentuan hukuman tersebut batal.

Dengan adanya persyaratan tersebut maka seorang hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman atas dasar pemikirannya sendiri walaupun ia berkeyakinan bahwa hukuman tersebut lebih baik dan lebih utama daripada hukuman yang telah ditetapkan.

Al-isra‟ :15

ََثَعْ بَ نَ ّتَّحََْيِْبِّذَعَمَا نُكاَمَو...

َْوُسَر َ

ًاَ

َ

“...tetapi kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang Rasul.”

َِاَاًسْفَ نَُو ّللاَُفِّلَكُي ََاَ

ََّاَ

َُو

َاَهَعْس ٓ

20 http://repository.radenintan.ac.id/2869/4/BAB_II_Penjara.pdf

(35)

35

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”

2. Hukuman harus bersifat pribadi (perorangan) Hukuman disyaratkan harus bersifat pribadi atau perorangan. Ini mengandung arti bahwa hukuman harus dijatuhkan kepada orang yang melakukan tindak pidana dan tidak mengenai orang lain yang tidak bersalah. Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai pertanggungjawaban pidana.

3. Hukuman harus berlaku umumSelain kedua syarat yang telah disebutkan diatas, hukuman juga disyaratkan harus berlaku umum. Ini berarti hukuman harus berlaku untuk semua orang tanpa adanya diskriminasi, apapun pangkat, jabatan, status dan kedudukannya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa di dalam hukum semua orang statusnya sama.Di dalam hukum pidana Islam, persamaan yang sempurna itu hanya terdapat dalam jarimah dan hukuman had atau qishash, karena keduanya merupakan hukuman yang telah ditentukan oleh syara‟. Setiap orang yang melakukan jarimah hudud, maka akan dihukum dengan hukuman sesuai dengan jarimah yang dilakukannya. Adapun dalam hukuman ta‟zir persamaan yang dituntut ialah aspek dampak hukuman terhadap pelaku, yaitu mencegah, mendidik dan memperbaikinya.

D. Macam-macam Uqubah

Macam-macam hukuman („uqubah) dapat dikategorikan menjadi beberapa hal tergantung dari sudut pandang, diantaranya :21

21 http://eprints.walisongo.ac.id/1864/3/092211001_Bab2.pdf

(36)

36

Dari segi hubungan diantara hukuman-hukuman tersebut. Dalam hal ini ada empat kategori, yaitu :22

1. Hukuman Pokok („Uqubah Ashliyah)

Adalah hukuman asal yang telah ditetapkan untuk suatu jarimah karena melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, dan menyimpang dari jalan yang lurus. misalnya hukuman potong tangan untuk pencurian dll.

2. Hukuman Pengganti („Uqubah Badaliyah)

Adalah hukuman yang menggantikan hukuman pokok jika hukuman pokok tidak dapat dilaksanakan karena suatu sebab yang diakui sah oleh hakim karena adanya saksi atau ma‟fu, seperti hukuman diyat sebagai pengganti hukuman qishash.

3. Hukuman Tambahan („Uqubah Taba‟iyah)

Adalah hukuman yang mengikuti hukuman pokok tanpa memerlukan keputusan tersendiri dari pengadilan, seperti larangan pembunuh memperoleh harta warisan orang yang dibunuhmya (apabila yang dibunuh adalah anggota keluarga), sebagai tambahan dari hukuman qishash.

4. Hukuman Pelengkap („Uqubah Takmiliyah)

Adalah hukuman yang mengikuti hukuman pokok dengan syarat ada keputusan tersendiri dari hakim. Contohnya, penggantungan tangan pencuri yang telah dipotong dilehernya.

22 http://eprints.walisongo.ac.id/1864/3/092211001_Bab2.pdf

(37)

37

Dari segi kekuasaan hakim dalam menentukanya. Dalam hal ini hukuman dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :23

1. Hukuman yang Mempunyai Satu Batas

Yaitu hukuman yang hakim tidak boleh menambah ataupun menguranginya meskipun bisa ditambah ataupun dikurangi. Contoh:

hukuman celaan dan nasihat.

2. Hukuman yang Mempunyai Dua Batas

Yaitu hukuman yang mempunyai batas terendah dan batas tertinggi dan hakim diberi kekuasaan untuk memilih kadar yang sesuai menurutnya, seperti hukuman penjara dan hukuman cambukan dalam hukuman ta‟zir.

Dari segi kewajiban menghukum. Dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua kategori juga yaitu:

1. Hukuman yang Telah Ditetapkan

Adalah hukuman yang telah ditetapkan oleh syariat baik macam dan kadarnya sedangkan hakim wajib menjatuhkanya tanpa mengurangi atau menambahi ataupun menukarnya. Hukuman ini disebut pula hukuman lazimah (mengikat) karena penguasa tidak bisa menggugurkanya ataupun memaafkannya.

2. Hukuman yang Tidak Ditetapkan

Adalah hukuman yang diserahkan kepada hakim untuk memilih macam dan kadarnya menurut kebijaksanaanya sesuai dengan situasi

23 http://eprints.walisongo.ac.id/1864/3/092211001_Bab2.pdf

(38)

38

jarimah dan kondisi dari pelaku jarimah. Hukuman ini disebut juga hukuman mukhayyarah (pilihan) karena hakim diperbolehkan memilih salah satu diantaranya.

Jika dilihat dari segi sudut pandang sasaranya, hukuman dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu :

1. Hukuman badan

Adalah hukuman yang dijatuhkan atas badan, misalnya hukuman mati, cambukan, kurungan dll.

2. Hukuman jiwa

Adalah hukuman yang dikenakan atas jiwa manusia bukan badannya, misalnya hukuman nasihat, celaan, ancaman dll

3. Hukuman harta

Adalah hukuman yang dikenakan terhadap harta seseorang, misalnya hukuman diyat, denda, perampasan harta dll

Ditinjau dari sisi macamnya jarimah, hukuman dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu :24

1. Hukuman Hudud

Adalah hukuman yang telah ditetapkan untuk jarimah hudud, yang mana merupakan hak prerogatif Allah SWT yang termaktub dalam Alquran. Dalam hal ini hakim hanya menjalankan apa yang sudah ditetapkan Allah dan tidak boleh menambah ataupun menguranginya.

Jarimah hudud ada tujuh macam, yakni :

24 Mardani, Hukum Pidana Islam,... hal. 10-16

(39)

39 a. Jarimah Zina

Zina secara harfiah berarti fahisyah, yaitu perbuatan keji. Secara istilah adalah hubungan kelamin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan juga satu sama lain tidak terikat dalam hukuman dalam hubungan perkawinan. Allah SWT berfirman sebagaimana berikut:

ٍَةَدْلَجََةَئاِمَاَمُهْ نِّمٍَدِحاَوَ لُكَاْوُدِلْجاَفَْ ِنِا زلاَوَُةَيِنا زلَا

ََلْ و ٓ

َْمُكْذُخْأَت َ اَمِِبِ َ

ٌَةَفْأَر َ

َِْفَ َ

ََْنِاَِو ّللاَِنْيِد

ََ يْلاَوَِو ّللاِبََنْوُ نِمْؤُ تَْمُتْنُك

َِر ِخ ْلْاَِمْو

َ ٓ

َْدَهْشَيْلَو اَمُهَ باَذَع َ

ٌَةَفِٕىۤاَط َ

ََنِّم َ

ََْيِْنِمْؤُمْلا َ

Artinya:

Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.

(QS. An-nur 24: 2).25

b. Jarimah Qadzaf

Qadzaf secara harfiah berarti melemparkan sesuatu. Istilah qadzaf dalam hukum Islam adalah tuduhan terhadap seseorang bahwa tertuduh telah melakukan perbuatan zina. Qadzaf atau fitnah merupakan suatu

25 QS. An-nur 24: 2

(40)

40

pelanggaran yang terjadi bila seseorang dengan bhong menuduh seorang muslim berzina atau meragukan sisilahnya. Ia merupakan kejahatan yang besar dalam Islam dan yang melakukan disebut pelanggar yang berdosa. Berikut di jelaskan dalam firman Allah SWT:

َْلَجََْيِْن َثََْمُىْوُدِلْجاَفََءۤاَدَهُشَِةَعَ بْرَاِبَاْوُ تْأَيََْلََ ُثَُ ِت نَصْحُمْلاََنْوُمْرَ يََنْيِذ لاَو

َْمَُلَْاْوُلَ بْقَ تَ َلْ وًَةَد

اًدَبَاًَةَداَهَش

َ ٓ

ََكِٕىۤ لوُاَو

َُمُى َ

ََنْوُقِس فْلا َ ٓ

Artinya:

Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-nur 24:4)26

c. Jarimah Syurb al-Khamr

Jarimah ini dijatuhi hukuman 80 kali Jilid. Menurut Imam Syafi‟i hukuman jarimah ini adalah 40 kali Jilid sebagai hukuman had, sedangkan 40 kali Jilid lainnya tidak termasuk hukuman had, melainkan sebagi hukuman ta‟zir, artinya sebagai hukuman yang dijatuhkan apabila dipandang perlu oleh hakim. Berikut dijelaskan dalam firman Allah SWT:

26 QS. An-nur 24:4

(41)

41

َِرِسْيَمْلاَوَِرْمَْلْاَِنَعَ َكَنْوُلَ ْسَي

َ ٓ

َْلُق اَمِهْيِف َ

َ ٓ

ٌَْثُِاَ

َِسا نلِلَُعِفاَنَم وٌَرْ يِبَك َ

َ ٓ

َُْثَِاَو اَمُه

َ ٓ

َُرَ بْكَا

َ

َْنِم اَمِهِعْف ن َ

َ ٓ

ََكَنْوُلَ ْسَيَو اَذاَم َ

ََنْوُقِفْنُ ي َ

َە

َ ٓ

َِلُق

ََوْفَعْلا َ

ََ ٓ

َ ِت ي ْلْاَُمُكَلَُو ّللاَُِّيَْ بُ يَ َكِل ذَك

َْمُك لَعَل

ََنْوُر كَفَ تَ ت َ ٓ

Artinya:

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan. (QS. Al-Baqarah 2: 219)27

d. Jarimah Pencurian

Pencurian adalah orang yang mengambilbenda atau barang milik orang lain secara diam-diam untuk dimiliki. Pencurian diancamkan hukuman potong tangan dan kaki, sesuai dengan firman Allah SWT.

َْوُعَطْقاَفَُةَقِرا سلاَوَُقِرا سلاَو اَ ٓ

اَمُهَ يِدْيَا

ًَءۤاَزَج َ

َ ٓ اَِبََِ

َِو ّللاََنِّمَ ًلْاَكَنَاَبَسَك

َُو ّللاَو ٓ

ٌَزْ يِزَع َ

ٌَمْيِكَح َ

Artinya:

27 QS. Al-Baqarah 2: 219

(42)

42

Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS. Al-maaidah 5:38)28

َْنِمََباَتَْنَمَف

َ ٓ

َِدْعَ ب وِمْلُظ َ

َ ٓ

ََحَلْصَاَو

َ نِاَف َ

ََو ّللا َ

َُبْوُ تَ ي َ

َِوْيَلَع َ

َ

َ نِا ٓ

ََو ّللا َ

ٌَرْوُفَغ َ

ٌَمْيِح ر َ

َ

Artinya:

Tetapi barangsiapa bertobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya.

Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al- maaidah 5:39).29

e. Jarimah Hirabah

Hirabah adalah pembegalan (qat‟u at-tariq) atau pencurian besar.

Hirabah adalah keluarnyasekelompok orang Islam dari negaranya untuk membuat keonaran, menumpahka darah, merampas harta, menghancurkan kehormatan, merusak tanaman dn keturunan, dengan menentang agama, akhlak, norma dan aturan. Hirabah juga dijelaskan dalam firman Allah SWT:

28 QS. Al-maaidah 5:38

29 QS. Al-maaidah 5:39

(43)

43

َ لَصُيَْوَأَاوُل تَقُ يَْنَأَاًداَسَفَِضْرَْلأاَ ِفََنْوَعْسَيَوَُوَلوُسَرَوََو للاََنوُبِراَُيَََنيِذ لاَُءاَزَجَاَ نَِّإ

َْوَأَاوُب

َ ِضْرَْلأاََنِمَاْوَفْ نُ يَْوَأَ ٍف َاَِخَْنِمَْمُهُلُجْرَأَوَْمِهيِدْيَأََع طَقُ ت

َ ٓ

َْزِخَْمَُلََْكِل َذ

َاَيْ نُّدلاَ ِفٌَي

َ ٓ

ٌَميِظَعٌَباَذَعَِةَرِخ ْلْاَ ِفَْمَُلَْو

Artinya:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

(QS. Al-Maaidah 5: 33).30 f. Jarimah Riddah

Secara etimologi riddah memiliki akar kata yang sama dengan irtidad, keduanya berasal dari akar kata radd yang berarti “berbalik kembali”. Irtidad dapat berarti pula tahawwul atau berubah. Istilah riddah (irtidad) secara umum, berarti kembali dari suatu agama atau akidah.

Secara istilah, riddah berarti kembali dari agama Islam kepada kekafiran, baik dengan niat atau perbuatan kongkrit atau biasa disebut murtad. Berikut dijelaskan juga dalam firman Allah SWT:

30 QS. Al-Maaidah 5: 33

(44)

44

َِنِإَْمُكِنيِدَنَعَْمُكوُّدُرَ يََ تَّحَْمُكَنوُلِتاَقُ يََنوُلاَزَ يََلَْو

َِوِنيِدَنَعَْمُكنِمَْدِدَتْرَ يَنَمَوَْاوُعاَطَتْسا َ

َِرا نلاَُباَحْصَأََكِئ َلْوُأَوَِةَرِخلْاَوَاَيْ نُّدلاَ ِفَْمُُلْاَمْعَأَْتَطِبَحََكِئ َلْوُأَفٌَرِفاَكََوُىَوَْتُمَيَ ف

ََنوُدِلاَخَاَهيِفَْمُى

Artinya:

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. “ ( Qs Al Baqarah : 217 )31

g. Jarimah al-Baghyu

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan pemberontakan adalah proses, cara pembuatan pemberontak, penentangan terhadap kekuasaan yang sah dan pelaku yang melakukan tindakan tersebut disebut pemberontakan. Pemberontakan dalam Islam disebut Al-Baghyu, menurut etimologi yaitu

َِءْي شَلاَ ُبَلَط

yang artinya

31 Qs Al Baqarah : 217

(45)

45

“mencari atau menuntut sesuatu”. Berikut dijelaskan dalam firman Allah SWT:

وِبَاْوَرَ تْشاَاَمَسْئِب ٓ ٓ

َْمُهَسُفْ نَا َ

َْنَا َ اَِبَِاْوُرُفْك ي َ

َ ٓ

ََلَزْ نَا

َُو ّللا َ اًيْغَ ب َ

َْنَا َ

ََلِّزَ نُّ ي َ

َُو ّللا َ وِلْضَفَْنِم َ

َ ٓ

ى لَع

َْنَم َ

َُءۤاَش ي َ

َْنِم َ هِداَبِع َ

َ ٓ

َ ٓ

َْوُءۤاَبَ ف

ٍَبَضَغِب َ

ٍَبَضَغَى لَع َ

َ ٓ

ََنْيِرِف كْلِلَو

ٌَباَذَع َ

ٌَْيِْهُّم َ

Artinya:

Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya, dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orang- orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan. (QS. Al- Baqarah 2:90).32

2. Hukuman Qishash wa Diyat

Adalah hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul Nya untuk jarimah qishash wa diyat. Sedangkan qishash wa diyat adalah nama untuk dua macam hukuman yakni hukuman qishash dan hukuman diyat. Hukuman qishash wujudnya adalah pembalasan yang serupa sedangkan diyat adalah pembayaran ganti rugi dari si pelaku kepada

32 QS. Al-Baqarah 2:90

Gambar

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Izin Berkendara  Dari Orang Tua Di Pasar Rao

Referensi

Dokumen terkait

bagi peserta yang merasa keberatan atas hasil Pengumuman Pemenang Pelelangan ini, diberi kesempatan untuk mengajukan sanggahan lewat aplikasi SPSE pada paket E-Lelang yang

Timor microfilariae in man were reported from Indonesian Timor, (Oemijati and Tjoen, 1966) following the original documentation of their occurence in the human

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1)Pengembangan modul berbasisP2OEW, 2)Kelayakan modul berbasisP2OEW, dan 3) Keefektifanmodul berbasisP2OEW padamateri

Kebiasaan positif yang menjadi dasar budaya profesional dapat tumbuh dan berkembang di SMK Sepuluh Nopember Semarang dimulai dengan proses internalisasi nilai-nilai luhur

Model interaksi peran teman sebaya dalam pembentukan nilai kepribadian siswa di lingkungan sekolah yaitu kebersamaan merekatkan pertemanan, pertemanan memberikan

Ruang Terbuka Hijau Binaan (RTHB) adalah ruang atau kawasan yang lebih luas, baik dalam bentuk areal memanjang/jalur atau mengelompok, dimana penggunaannya lebih bersifat

Tujuan dari tesis ini yaitu untuk menganalisis dan membandingkan besarnya beban maksimum pondasi tiang bor dengan menggunakan analisis tiang tunggal dengan menggunakan data bored

Komponen ruang kota yang merupakan wujud konsep budaya tersebut adalah Sumbu Tugu – Kraton – Panggung Krapyak, Kawasan Malioboro, Kawasan Njeron Beteng. Analisis