• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR PEMBENARAN PEMERIKSAAN PERKARA KEPAILITAN DI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DASAR PEMBENARAN PEMERIKSAAN PERKARA KEPAILITAN DI"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

421 BAB V

DASAR PEMBENARAN PEMERIKSAAN PERKARA KEPAILITAN DI BIDANG EKONOMI SYARIAH OLEH PENGADILAN NIAGA PASCA PERLUASAN KOMPETENSI ABSOLUT PENGADILAN AGAMA BERDASARKAN UU NO. 3 TAHUN 2006 jo. UU NO. 50 TAHUN 2009.

A. Pengadilan Niaga Memiliki Kewenangan Memeriksa, Memutus dan Menyelesaikan Semua Perkara Kepailitan Termasuk yang Timbul dari Akad-Akad Ekonomi Syariah Berdasarkan Undang-Undang Kepailitan.

Salah satu perubahan penting dari Peraturan Kepailitan (Faillessement Verordering) diubah menjadi Undang-Undang Kepailitan Tahun 1998 adalah adanya pembentukan Pengadilan Niaga.419 Kemudian pada tanggal 20 Agustus 1998, Menteri Kehakiman dan Ketua Mahkamah Agung telah meresmikan terbentuknya Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pengadilan Niaga adalah suatu pengadilan khusus di lingkugan Peradilan umum yang dibentuk dan bertugas untuk menerima, memeriksa dan menutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan berwenang pula untuk memeriksa dan memutuskan

419 M. Hadi Subhan berpendapat bahwa pembentukan Pengadilan Niaga yang diatur dalam undang-undang kepailitan adalah tidak tepat. Semestina pembentukan Pengadilan Niaga yang merupakan diferensiasi/spesialisasi dari peradilan umum harus dibentuk dengan undang- undang tersendiri, tidak hanya diselipkan dalam Undang-Undang Kepailitan. Filosofi diselipkannya pengaturan Pengadilan Niaga dalam Undang-Undang Kepailitan barangkali lebih kepada aspek pragmatisnya, sebab jika hanya diatur secara sumir yang kemudian akan diatur dalamundang-undang tersendiri, biasanya pelaksanaannya molor dan tidak dibuat secara cepat. Hal ini pula bisa dikaitkan dengan terdesaknya waktu untuk memberlakukan Undang- Undang Kepailitan pada tahun 1998 berkaitan dengan jadwal dari letter of intent antara Indonesia dengan IMF. Namun demikian alasan ini sama sekali tidak relevan pada saat lahirnya UU 37 tahun 2004, di mana tidak ada pertimbangan pragmatis pada tahun 1998 tersebut.

Lihat : M. Hadi Subhan, Op.Cit, hlm. 102-103. commit to user

(2)

422

perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan Peraturan Pemerintah.420

Berbeda dengan kewenangan Pengadilan Agama untuk memeriksa perkara-perkara tentang kontrak syariah di bidang ekonomi yang secara implisit disebutkan dalam Undang-Undang Peradilan Agama, kewenangan Pengadilan Niaga dalam memeriksa dan memutus perkara-perkara tentang akad-akad syariah berdasarkan kepada kewenangan Pengadilan Niaga untuk memeriksa dan memutus perkara kepalitan dan PKPU disebutkan secara eksplisit.

Kewenangan Pengadilan Niaga untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan termasuk kepailitan yang timbul berdasarkan akad-akad ekonomi syariah adalah sebagai berikut.

1. Pasal 1 angka 7 UU Kepailitan yang berbunyi, ”Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan umum”.

2. Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan yang berbunyi :

(1) Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.

3. Pasal 300 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan secara tegas dinyatakan :

“Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, selain memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang”.

420 Mahkamah Agung Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan Administrasi Penyelesaian Perkara Pada Pengadilan Niaga, Mahkamah Agung Republik Indonesia, Jakarta, 1998, hlm.

1.

commit to user

(3)

423

4. Pasal 303 UU Kepailitan mempertegas kewenangan absolut Pengadilan Niaga yang terikat dengan perjanjian yang memuat klausul arbitrase, berbunyi :

“Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak yang terikat perjanjian yang memuat klausul arbitrasi, sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) undang-undang ini.”

Kewenangan Pengadilan Niaga dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara mengenai kontrak syariah muncul ketika terdapat permohonan kepailitan yang dasar permohonannya adalah akad- akad yang mengunakan prinsip syari’at Islam. Undang-Undang Kepailitan tidak membatasi ruang lingkup pemeriksaan mengenai dasar hukum yang digunakan di dalam perjanjian atau akad.

Berdasarkan teori kewenangan, kewenangan Pengadilan Niaga dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah merupakan kewenangan atributif yaitu berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU yang merupakan syarat permohonan Pailit, yang berbunyi:

“Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonan satu atau lebih kreditornya”.421

Ketentuan sebagaimana tersebut diatas, maka apabila suatu permasalahan dari hubungan hukum yang telah terjadi dipandang telah memenuhi syarat-syarat permohonan pailit antara lain adanya dua kreditor atau lebih, adanya utang, ada utang yang telah jatuh tempo dan dapat

421 Syarat-syarat permohonan pailit sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU apabila dijabarkan adalah sebagai berikut.

1. Syarat adanya dua kreditor atau lebih (Concursus Creditorum);

2. Syarat harus adanya utang;

3. Syarat cukup satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.

4. Syarat Pemohon Pailit

Lihat : Jono, Op.Cit., hlm, 5-11. commit to user

(4)

424

ditagih, serta ditambah dengan memperhatikan asas pembuktian sederhana atas adanya kreditor dan utang sebagaimana tersebut diatas, permohonan kepailitan dapat diajukan ke Pengadilan Niaga oleh pihak yang dirugikan atas suatu kontrak atau akad.

Kewenangan absolut Pengadilan Niaga dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan dan PKPU tidak mempermasalahkan dasar hukum yang digunakan dalam suatu hubungan hukum para pihak, demikian pula tidak mempermasalahkan apakah para pihak yang terikat dengan suatu hubungan hukum meyakini suatu agama tertentu. Hal yang menjadi pokok permasalahan dalam kepailitan pada dasarnya adalah adanya utang, sedangkan utang dalam Pasal 1 angka 6 UU Kepailitan didefiniskan sebagai berikut.

“Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dengan jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontingen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitor”.422

422 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memberikan pengertian utang dengan batasan secara tegas dibandingkan dengan Undang-Undang yang mengatur tentang kepailitan sebelumnya, demikian juga dengan pengertian jatuh waktu. Pada Undang-Undang Kepailitan sebelumnya, yaitu Undang-Undnag Nomor 4 Tahun 1998 juncto Pearturan Kepailitan tidak dijelaskan mengenai batasan utang tersebut. Sehingga pada mulai berlakunya UU Kepalitan dan PKPU yang baru, terdapat dua interprestasi baik dari kalangan akademisi maupun praktisi. Satu kelompok menyatakan bahwa utang di sini berarti utang yang timbul dari perjanjian utang piutang berupa sejumlah uang.

Kelompok ini menginterprestasikan utang dalam arti sempit sehingga tidak mencakup presatsi yang timbul sebagai akibat adanya perjanjian di luar perjanjian utang piutang.

Sedangkan sebagian kelompok berpendapat bahwa yang dimaksud utang dalam Pasal 1 UU Kepailitan \adalah prestasi yang harus dibayar yang timbul sebagai akibat perikatan. Utang disini dalam arti yang luas. Istilah utang tersebut menunjuk kepada hukum kewajiban hukum perdata. Kewajiban atau utang dapat timbul baik dari kontrak atau dari undang-undang (Pasal 1233 KUHPerdata). Prestasi tersebut terdiri dari: memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu.

Lihat: M. Hadi Shubhan, Op.Cit., hlm. 88-89, lihat juga Mutiara Hikmah, Aspek-Aspek Hukum Perdata Internasional dalam Perkara-Perkara Kepailitan, Refika Aditama, Bandung, 2007, hlm. 63.

commit to user

(5)

425

Ada pun berdasarkan definisi utang tersebut diatas menjelaskan bahwa tidak dipertimbangkan dasar hukum dari perikatan yang menimbulkan utang, apakah berdasarkan KUHPerdata atau berdasarkan syari’at Islam yang bersumber utama dari Al-Qur’an dan Hadits. Definisi dari utang dalam UU Kepailitan menitikberatkan kepada kewajiban yang wajib dipenuhi debitor dan hak kreditor. Padahal dalam praktiknya, di masyarakat terdapat 2 (dua) macam perikatan yang sering dipergunakan, yaitu perikatan yang bersumber dari KUHPerdata sebagai contoh adalah perikatan-perikatan yang digunakan oleh bank konvensional dengan nasabah debiturnya. Perikatan yang kedua adalah perikatan yang berdasarkan syari’at Islam bersumber utama kepada Al-Qur’an dan Al- Hadits, dalam hal ini diterapkan antara lain oleh lembaga-lembaga keuangan syariah (perbankan syariah, asuransi syariah, dll.)

Potensi Pengadilan Niaga untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara kontrak syariah adalah ketika pada Pengadilan Niaga sesuai dengan kompetensi absolutnya menerima permohonan kepailitan yang akad-akadnya yang berdasarkan syari’at Islam bersumber utama kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kembali pada konteks kekuasaan kehakiman dan lingkungan peradilan yang ada di Indonesia, Penulis berpendapat bahwa tidak tepat apabila perikatan yang berdasarkan syari’at Islam bersumber utama kepada Al-Qur’an dan Al- Hadits diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Niaga masuk di bawah lingkugan Peradilan Umum karena untuk menyelesaikan sengketa yang hubungan hukumnya berdasarkan prinsip-prinsip syariat Islam maka harus berdasarkan hukum Islam (fiqh) pula dan kewenangan untuk memutus dan memeriksa perkara-perkara mengenai kontrak syariah berada pada Pengadilan Agama di bawah lingkungan Peradilan Agama.

commit to user

(6)

426

B. UU No. 3 Tahun 2006 Jo. UU No. 50 Tahun 2009 Tidak Menyebutkan Secara Jelas Kewenangan Pengadilan Agama untuk Memeriksa, Memutus dan Menyelesaikan Perkara Kepailitan di Bidang Ekonomi Syariah (Ambiguity Norm).

Sebelum Penulis mengkaji kewenangan Pengadilan Agama dalam memeriksa dan memutus perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah, Penulis hendak memaparkan Pengadilan Agama dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di bidang ekonomi syariah. Menggunakan historical approach, Penulis bertitik tolak dari penjelasan Pasal 10 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, lingkungan Peradilan Agama adalah salah satu diantara lingkungan “Peradilan Khusus” berhadapan dengan lingkungan Peradilan Umum. Ada tiga lingkungan peradilan khusus yang berhadapan dengan lingkungan Peradilan Umum. Masing-masing lingkungan Peradilan Khusus yang terdiri dari lingkungan Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara, hanya melaksanakan fungsi kewenangan mengadili perkara-perkara tertentu dan terhadap golongan rakyat tertentu. Jadi fungsi kewenangan mengadili lingkungan Peradilan Agama ditentuka dua faktor yang menjadi ciri keberadaannya. Pertama faktor perkara tertentu dan yang kedua faktor golongan tertentu.

Mengenai siapa yang dimaksud dengan golongan tertentu yang tunduk sebagai subyek hukum ke dalam kekuasaan mengadili lingkungan Peradilan Agama, telah ditegaskan beberapa kali dalam Pasal 2 dan Pasal 49 ayat (1) Undang-Undang 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama ( untuk selanjutnya disebut UU No. 3/2006).

Ada pun Pasal 2 UU No. 3/2006 berbunyi :

“Peradilan Agama merupakan salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam Undang-Undang ini.”

commit to user

(7)

427

Penjelasan dari Pasal 2 UU No. 3/2006 tersebut berbunyi :” Yang dimaksud dengan “rakyat pencari keadilan” adalah setiap orang baik warga negara Indonesia atau orang asing yang mencari keadilan pada pengadilan di Indonesia. Sedangkan pada pasal 49 ayat (1) UU 3/2006 berbunyi,

“Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, menyelesaikan pertama di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang : a) perkawinan, b) waris, c) wasiat, d) hibah, e) wakaf, f) zakat, g) infaq, h) shadaqah dan i) ekonomi syariah.”

Penjelasan umum dari Pasal 49 ayat (1) UU No. 3/2006 berbunyi:

“Penyelesaian sengketa tidak hanya dibatasi di bidang perbankan syari'ah, melainkan juga di bidang ekonomi syari'ah lainnya. Yang dimaksud dengan "antara orang-orang yang beragama Islam" adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan din dengan sukarela kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Peradilan Agama sesuai dengan ketentuan Pasal ini.”

Kewenangan (kompetensi) absolut423 Pengadilan Agama sebagaimana tersebut diatas sekaligus mempersempit kewenangan absolut Pengadilan Negeri karena sebelum UU No. 3/2006 disahkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, perkara-perkara ekonomi syariah diperiksa dan diadili di Pengadilan Negeri. Meskipun demikian, lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah pada masa itu menyebabkan terkikisnya kompetensi absolut Pengadilan Agama dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara kontrak Syariah di bidang perbankan syariah karena pada Pasal 55 ayat (2) Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah memberikan kebebasan para pihak untuk menyelesaikan sengketa sesuai dengan isi

423 Kompetensi adalah kewenangan mengadili perkara dari suatu pengadilan. Kompetensi digolongkan menjadi dua jenis, yaitu :

a. Kompetensi realtif, yaitu kewenangan mengadili perkara dari suatu pengadilan berdasarkan kepada daerah hukum.

b. Kompetensi absolut, yaitu kewenangan mengadili perkara dari suatu pengadilan berdasarkan kepada kewenangan/beban tugas yang ditetapkan oleh Undang-Undang.

Lihat : Abdulkadir Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2008, hlm. 23-24.

commit to user

(8)

428

akad yang telah disepakati, hal demikian memberikan peluang bagi para pihak untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kontrak- kontrak syariah pada perbankan syariah di Pengadilan Negeri.

Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 93/PUU- XII/2012 telah memperkuat kewenangan Pengadilan Agama dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara yang berkaitan dengan kontrak syariah. Putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tersebut diatas pada pokoknya menyatakan Pasal 55 ayat (2) Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia sehingga tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Artinya, para pihak dalam akad-akad syariah pada perbankan syariah, dalam ranah penyelesaian sengketa secara litigasi, sudah tidak memiliki kebebasan untuk memilih penyelesaian sengketa perbankan syariah di Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama.

Pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 93/PUU-XII/2012 sebagaimana tersebut diatas, perkara-perkara dalam ruang lingkup perbankan syariah, dalam hal penyelesaian secara litigasi menjadi kompetensi absolut Pengadilan Agama. Meskipun demikian, para pihak dalam kontrak-kontrak syariah pada perbankan syariah tetap diberikan kebebasan untuk menyelesaikan sengketa secara non litigasi antara lain melalui negoisasi, mediasi perbankan424, arbitrase syariah,425 dll.

424Salah satu upaya Bank Indonesia untuk memberdayakan nasabah adalah mekanisme mediasi.

Lihat : Inosentius Samsul, Pengembangan Model Penyelesaian Sengketa Perbankan dalam Perspektif Perlindungan Kepentingan Konsumen, Artikel dalam Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan Volume 7 Nomor 1, Direktor Hukum Bank Indonesia, 2009, hlm. 27-28 dalam Rachmadi Usman, Penyelesaian Pengaduan Nasabah dan Mediasi Perbankan : Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan dalam Perspektif Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah, Mandar Maju, Bandung, 2011, hlm. 196.

Menurut Gatot Soemartono, mediasi sering dinilai sebagai perluasan dari proses negoisasi. Hal itu disebabkan para pihak tidak mampu menyelesaikan sengketanya sendiri menggunakan jasa pihak ketiga yang bersikap netral untuk membantu mereka mencapai suatu kesepakatan.

Lihat : Gatot Soemartono, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006, hlm. 122 dalam ibid, hlm. 203 commit to user

(9)

429

Perkembangan selanjutnya, pada tanggal 29 Desember 2016, Mahkamah Agung Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 14 tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah. PERMA yang berisi hukum acara penyelesaian sengketa ekonomi syariah di Pengadilan Agama tersebut melengkapi Perma No. 2 tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) pada tahun 2008 sebagai implementasi Pasal 49 UU No. 3 tahun 2006 tentang Peradilan Agama.

Terkait dengan analisa kewenangan Pengadilan Agama dalam memeriksa dan memutus perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah, Penulis memulai dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama karena dalam Undang-Undang ini, secara atributif diberikan kepada Pengadilan Agama untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di bidang ekonomi syariah. Hal ini berarti selain menambahkan kompetensi absolut Pengadilan Agama, juga memperkuat

425 Arbitrase dalam studi hukum Islam (fiqh) dikenal dengan sebutan tahkim. Tahkim berasal dari bahasa Arab yang terambil dari kata hakkam, yuhakkimu, tahkiman, berarti menjadikan seorang sebagai pencegah suatu sengketa. . Secara literal, tahkim berarti mengangkat sebagai wasit atau juru damai.

Lihat: Mardani, Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2001, hlm.

98 dalam Muhammad Arifin, op.cit, hlm. 229.

Tahkim yang dikenal dalam hukum Islam tidak memiliki pengertian yang berbeda dari Arbitrase yang dikenal dewasa ini, yaitu sebagai cara penyelesaian sengketa di luar peradilan dengan mengangkat hakam (arbiter) sebagai penengah atas perselisihan yang terjadi di antara para pihak yang bersengketa (disputant). Karena itu, tahkim dalam hukum Islam dipadankan dengan arbitrase.

Di Indonesia, lembaga arbitrase yang berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa perniagaan ekonomi syariah adalah Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS). Keberadaan BASYARNAS tidak terlepas dari perkembangan kehidupan sosial ekonomi umat Islam di Indonesia. Kebutuhan terhadap BASYARNAS di masa depan semakin perlu untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi syariah yang begitu pesat.

Perkembangan ini ditandai dengan lahirnya berbagai lembaga keuangan syariah di bidang pasar modal syariah, pegadaian syariah, modal ventura syariah, serta perwakafan. Kehadiran BASYARNAS akan memberi kesempatan bagi umat Islam unuk menyelesaikan sengketa berdasarkan hukum Islam, di luar peradilan negara.

Lihat: Muhammad Arifin, Op.Cit, hlm. 230 & 311. commit to user

(10)

430

asas personalitas keislaman dalam konteks lembaga penyelesaian sengketa. Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, orang yang tidak beragama Islam apabila mengikatkan diri dalam perikatan-perikatan berdasarkan prinsip syariah, maka yang bersangkutan dianggap menundukkan diri dan tunduk ke dalam hukum Islam. Implikasinya adalah, apabila ada perikatan yang salah satu pihaknya bukan orang Islam akan tetapi akadnya adalah akad syariah, maka apabila ada sengketa, maka secara litigasi yang berwenangan adalah Pengadilan Agama sebagaimana bunyi penjelasan Pasal 49 Undang Undang Peradilan Agama No. 3/2006 sebagai berikut.

Penyelesaian sengketa tidak hanya dibatasi di bidang perbankan syari'ah, melainkan juga di bidang ekonomi syari'ah lainnya. Yang dimaksud dengan "antara orang-orang yang beragama Islam" adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan din dengan sukarela kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Peradilan Agama sesuai dengan ketentuan Pasal ini.

Merujuk pada Pasal 49 yang berbunyi,”Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam,” serta penjelasan Pasal 49 huruf (i) Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 yang berbunyi,” Yang dimaksud dengan "ekonomi syari'ah" adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari'ah, antara lain meliputi: a) bank syari'ah, b) lembaga keuangan mikro syari'ah, c) asuransi syari'ah, d) reasuransi syari'ah, e) reksa dana syari'ah, f) obligasi syari'ah dan surat berharga berjangka menengah syari'ah, g) sekuritas syari'ah, h) pembiayaan syari'ah, i) pegadaian syari'ah, j) dana pensiun lembaga keuangan syari'ah, dan k) bisnis syari'ah, dapat diketahui bahwa secara atributif, Undang-Undang Peradilan Agama No.3/2006 memberikan kewenangan kepada Pengadilan Agama untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara ekonomi syariah, akan tetapi tidak dijelaskan apakah termasuk dengan perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah. commit to user

(11)

431

Terhadap bunyi Pasal 49 sebagaimana tersebut di atas, Abd. Shomad berpendapat bahwa terhadap bunyi frasa “bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara” memiliki makna Pengadilan Agama berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan semua perkara di bidang ekonomi syariah termasuk perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah.

Sedangkan Adi Sulistiyono menyebutkan bahwa kepailitan di bidang ekonomi syariah sudah termasuk dalam frasa bisnis syariah sebagaimana tersebut dalam penjelasan Pasal 49 huruf i Undang-Undang Peradilan Agama No.3/2006. Artinya, kewenangan memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara ekonomi syariah oleh Pengadilan Agama sudah termasuk dengan perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah.

Kurang tegasnya bunyi Pasal 49 huruf i Undang-Undang tentang Peradilan Agama No. 3/2006 yang secara atributif memberikan kewenangan secara absolut kepada Pengadilan Niaga untuk memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara ekonomi syariah sebagaimana tersebut di atas merupakan suatu ambiguitas norma. Seharusnya dengan melihat substansi Undang-Undang Kepailitan No. 37/2004 yang tidak membedakan kepailitan yang timbul berdasarkan kontrak-kontrak konvensional dan yang timbul berdasarkan akad-akad syariah, maka seharusnya hal tersebut dijadikan kesempatan bagi para pembentuk Undang-Undang Peradilan Agama No. 3/2006 untuk membagi kewenangan memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan dengan Pengadilan Niaga yaitu untuk perkara kepailitan yang timbul berdasarkan kontrak-kontrak konvensional diperiksa oleh Pengadilan Niaga sedangkan perkara kepailitan yang timbul berdasarkan akad-akad syariah diperiksa dan diadili oleh Pengadilan Agama atau Pengadilan Khusus di lingkungan Peradilan Agama. Pembagian tersebut di atas sangat dimungkinkan untuk dilakukan dengan berpegang pada asas lex spexialis derogat lege generale dalam arti Pengadilan Agama merupakan pengadilan yang khusus memeriksa, memutus dan menyelesaikan commit to user

(12)

432

perkara-perkara di bidang ekonomi syariah termasuk di dalamnya kepailitan di bidang ekonomi syariah.

Terkait dengan kewenangan Pengadilan Agama untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di bidang ekonomi syariah, Mahkamah Agung telah mengesahkan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) No. 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES). Terkait dengan kewenangan Pengadilan Agama untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara kepailitan bidang ekonomi syariah, KHES telah memberikan ketentuan sebagai berikut.

a) Pasal 2 ayat (2) Buku I ; “Badan usaha yang berbadan hukum atau tidak berbadan hukum, dapat melakukan perbuatan hukum dalam hal tidak dinyatakan taflis / pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.”

b) Pasal 5 ayat (2) Buku yang sama; “Dalam hal badan hukum terbukti tidak mampu lagi berprestasi sehingga menghadapi kepailitan, atau tidak mampu membayar utang dan ma minta permohonan penundaan kewajiban pembayaran Utang, maka pengadilan dapat menetapkan kurator atau pengurus bagi badan hukum tersebut atas permohonan pihak yang berkepentingan.”

c) Pasal 88 ayat (1) Buku II KHES; “Jika pembeli jatuh pailit setelah menerima barang yang dibelinya, kemudian meninggal dunia, namun belum membayarnya, maka penjual boleh menuntut pembeli untuk mengembalikan barang yang telah dijualnya.”

d) Pasal 89 ayat (I) Buku yang sama; “Jika penjual jatuh pailit setelah menerima pembayaran tetapi belum menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli, barang tersebut dianggap barang titipan kepunyaan pembeli yang ada di tangan penjual.”

e) Pasal 350 ayat (1) Buku II KHES; “Apabila pemberi gadai meninggal dunia dalam keadaan pailit, pinjaman tersebut tetap berada dalam status harta gadai.”

commit to user

(13)

433

Penulis berpendapat bahwa frasa ‘Pengadilan’ pada ketentuan di atas harus dibaca Pengadilan Agama atau Mahkamah Syariah. Hal tersebut mengacu pada Pasal ayat 8 Buku I; “bahwa yang dimaksud dengan pengadilan dalam KHES ini adalah pengadilan/ mahkamah syariah dalam lingkungan Peradilan Agama. Dengan demikian, sebutan pengadilan yang antara lain terdapat dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 5 ayat (2) Buku I, Pasal 88 ayat (1), Pasal 89 ayat (1), dan Pasal 350 Buku II (tentang Akad), adalah untuk Pengadilan Agama, Mahkamah Syari’ah. Secara eksplisit Pasal-Pasal KHES yang dikutip di atas, terutama Pasal 2 ayat ayat (2) dan Pasal 5 ayat (2) memberikan penegasan bahwa Pengadilan Agama memiliki kewenangan absolut untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan ekonomi syariah.

Keadaan ambiguity norm tersebut di atas pun berlanjut meskipun Undang-Undang tentang Peradilan Agama dilakukan perubahan yang kedua kalinya yaitu dengan Undang-Undang No. 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Dalam Undang-Undang tentang Peradilan Agama yang terbaru ini sudah tidak dibahas mengenai kompetensi absolut atau kewenangan mengadili. Maka sudah jelas tidak ada perubahan ketentuan tentang kewenangan mengadili bagi Pengadilan Agama untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah.

Meminjam pendapat Gustav Radbruch yang menyebutkan kepastian hukum sebagai nilai yang pertama kali disebutkan( diantara kepastian, keadilan dan kemanfaatan ), karena hukum dalam bentuk tertulis, terutama Undang-Undang harus memberikan suatu kepastian terhadap sasarannya, artinya harus jelas dan tidak menimbulkan penafsiran.

Menjamin kepastian oleh karena hukum menjadi tugas dari hukum.

Hukum yang berhasil menjamin banyak kepastian dalam hubungan- hubungan kemasyarakatan adalah hukum yang berguna. Sedangkan kepastian dalam atau dari hukum tercapai apabila hukum itu sebanyak-commit to user

(14)

434

banyaknya hukum undang-undang, dalam undang-undang tersebut tidak ada ketentuan yang saling bertentangan (undang-undang berdasarkan pada sistem logis dan pasti). Undang-undang tersebut dibuat berdasarkan kenyataan hukum (rechtswerkelijheid) dan undang-undang tersebut tidak ada istilah-istilah hukum yang dapat ditafsirkan secara berlain-lainan.426

Demikian pula, apabila dianalisa dengan menggunakan kepastian hukum sebagaimana yang telah dikemukakan oleh H.L.A Hart, dalam konteks kepastian hukum, apabila dikaitkan dengan UU Kepailitan serta permasalahan tentang kompetensi absolut untuk memeriksa dan mengadili perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah, kata-kata dalam Pasal 49 huruf i UU No. 3/2006 jo. 50/2009 dikaitkan dengan UU Kepailitan tidak jelas sehingga maknanya pun tidak jelas, apakah kewenangan yang secara atributif diberikan kepada Pengadilan Agama untuk memeriksa perkara ekonomi syariah termasuk memeriksa perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah.

Terkait dengan modernitas hukum, berpijak pada pendapat Mark Fenwick and Stefan Wrbka, UU No. 3/2006 jo. 50/2009 tidak begitu jelas untuk memberikan kewenangan bagi Pengadilan Agama dalam memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah.

Berdasarkan hal tersebut, Penulis menyatakan, Undang-Undang Peradilan Agama No.3/2006 maupun Undang-Undang Peradilan Agama No.50/2009 tidak dapat memberikan kepastian hukum kepada Pengadilan Agama dalam kaitannya dengan kewenangan memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah.

426 E. Utrecht, 1959, Pengantar dalam Hukum Indonesia (Cetakan Keenam,) Penerbit Balai Buku Ichtiar, Jakarta, 1959, hlm. 26

commit to user

(15)

435

C. Pengadilan Niaga Secara Atributif Tetap Memiliki Kewenangan Secara Penuh untuk Memeriksa, Memutus dan Menyelesaikan Semua Perkara Kepailitan sedangkan Pengadilan Agama hanya Berwenang Memeriksa, Memutus dan Mnyelesaikan Perkara Ekonomi Syariah Non Kepailitan.

Undang-Undang yang mengatur tentang Pengadilan Agama dan Kepailitan telah mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan kedua undang-undang tersebut di atas tentu dilakukan sebagai respon atas perubahan situasi dan kondisi pada masa itu, dan pertimbangan-pertimbangan dilakukannya perubahan masing-masing Undang-Undang tersebut dapat dilihat dari konsideran masing-masing Undang-Undang sebagai berikut.

1. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

UU No. 37/2004 adalah undang-unndang yang menjadi pokok bahasan Penulis dalam penelitian disertasi ini karena dalam UU No.

37/2004 ini termuat ketentuan yang memberikan Pengadilan Niaga kewenangan untuk memeriksa perkara kepailitan. Sebelum berlaku UU No. 37/2004, Undang-Undang yang mengatur tentang kepailitan adalah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 tentang Kepailitan Menjadi Undang-Undang.

Ada pun latar belakang perubahan UU No. 4/1998 menjadi UU No.

37/2004 antara lain sebagai berikut.

a. bahwa pembangunan hukum nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 harus dapat mendukung dan menjamin kepastian, ketertiban, penegakan, dan perlindungan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran;

b. bahwa dengan makin pesatnya perkembangan perekonomian dan perdagangan makin banyak permasalahan utang piutang yang timbul di masyarakat;

commit to user

(16)

436

c. bahwa krisis moneter yang terjadi di Indonesia telah memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap perekonomian nasional.

Sehingga menimbulkan kesulitan besar terhadap dunia usaha dalam menyelesaikan utang piutang untuk meneruskan kegiatannya;

d. bahwa sebagai salah satu sarana hukum untuk penyelesaian utang piutang, Undang-undang tentang Kepailitan (Faillissements verordening, Staatsblad 1905:217 juncto Staatsblad 1906:348) sebagian besar materinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat dan oleh karena itu telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang tentang Kepailitan, yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1998, namun perubahan tersebut belum juga memenuhi perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat;

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu dibentuk Undang-undang yang baru tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Kewenangan Pengadilan Niaga untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan terdapat pada pasal-pasal yang tersusun secara sistematis sebagai berikut.

1) Pasal 1 angka 7 UU Kepailitan yang berbunyi, “Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan umum.”

2) Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan yang berbunyi, “Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya”.

3) Pasal 3 ayat (1), (2), (3), (4) UU Kepailitan :

(1) Putusan atas permohonan pernyataan pailit dan hal-hal lain yang berkaitan dan/atau diatur dalam Undang-Undang ini, diputuskan commit to user

(17)

437

oleh Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum Debitor.

(2) Dalam hal Debitor telah meninggalkan wilayah Negara Republik Indonesia, Pengadilan yang berwenang menjatuhkan putusan atas permohonan pernyataan pailit adalah Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum terakhir Debitor.

(3) Dalam hal Debitor adalah pesero suatu firma, Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum firma tersebut juga berwenang memutuskan.

(4) Dalam hal debitur tidak berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia tetapi menjalankan profesi atau usahanya di wilayah negara Republik Indonesia, Pengadilan yang berwenang memutuskan adalah Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan atau kantor pusat Debitor menjalankan profesi atau usahanya di wilayah negara Republik Indonesia.

4) Pasal 300 ayat (1) UU Kepailitan yang berbunyi,” Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, selain memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang”.

Berdasarkan pasal-pasal sebagaimana tersebut di atas, jelas bahwa Pengadilan Niaga diberikan kewenangan oleh Undang-Undang untuk memeriksa dan mangadili perkara kepalitan secara utuh. Artinya adalah tidak membedakan perkara kepailitan yang timbul dari kontrak-kontrak konvensional atau pun akad-akad.

2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

UU No. 3/2006 juga merupakan undang-undang yang menjadi pokok bahasan Penulis dalam penelitian disertasi ini karena dalam UU No. commit to user

(18)

438

3/2006 ini termuat ketentuan yang memberikan Pengadilan Agama kewenangan untuk memeriksa sengketa ekonomi syariah.

Ada pun latar belakang pembentukan UU No. 3/2006 antara lain sebagai berikut.

a) bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negarg Republik Indonesia Tahun 1945, bertujuan untuk rnewujudkan tata kehidupan bangsa, negara, dan masyarakat yang tertib, bersih, makmur, dan berkeadilan;

b) bahwa Peradilan Agama merupakan lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung sebagai pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan;

c) bahwa Peradilan Agama sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat dan kehidupan ketatanegaraan menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

d) bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama;

Pada huruf (c) termuat jelas bahwa UU No. 7/1989 sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum di Indonesia dan selanjutnya dijelaskan dalam penjelasannya bahwa dalam Undang-Undang No.

3/2006, kewenangan pengadilan di lingkungan Peradilan Agama diperluas, hal ini sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan hukum masyarakat, khususnya masyarakat muslim. Perluasan tersebut antara lain meliputi ekonomi syari'ah.

commit to user

(19)

439

Secara konkrit, perluasan kewenangan Pengadilan Agama sebagaimana tersebut di atas diatur dalam ketentuan Pasal 49 huruf i UU No. 3/2006 sebagai berikut.

“Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, menyelesaikan pertama di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang : a) perkawinan, b) waris, c) wasiat, d) hibah, e) wakaf, f) zakat, g) infaq, h) shadaqah dan i) ekonomi syariah.”

Penjelasan umum dari Pasal 49 ayat (1) UU No. 3/2006 berbunyi:

Penyelesaian sengketa tidak hanya dibatasi di bidang perbankan syari'ah, melainkan juga di bidang ekonomi syari'ah lainnya. Yang dimaksud dengan "antara orang-orang yang beragama Islam" adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan diri dengan sukarela kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Peradilan Agama sesuai dengan ketentuan Pasal ini.”

Kemudian yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, antara lain meliputi bank syari’ah, lembaga keuangan mikro syari’ah, asuransi syari’ah, reasuransi syari’ah, reksa dana syariah, obligasi syari’ah, dan surat berjangka menengah syari’ah, sekuritas syari’ah, pembiayaan syari’ah, pegadaian syari’ah, dana pensiun lembaga keuangan syari’ah, dan bisnis syari’ah.

Kemudian pada tanggal 29 Oktober 2009, pemerintah melakukan perubahan UU No. 3/2006 menjadi Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (UU No. 50/2009). Perubahan UU No.

3/2006 menjadi UU No. 50/2009 tidak memberikan perubahan terhadap kompetensi absolut pengadilan agama. Hal ini disebabkan karena perubahan UU No. 3/2006 menjadi UU No. 50/2009 dilatarbelakangi oleh adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006, dimana dalam putusannya tersebut telah menyatakan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman dan ketentuan pasal-pasal yang menyangkut commit to user

(20)

440

mengenai pengawasan hakim dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Berdasarkan uraian di atas telah jelas, bahwa dalam Undang-Undang Kepailitan yang berlaku saat ini, tidak membedakan antara kepailitan yang timbul berdasarkan kontrak-kontrak konvensional dan akad-akad ekonomi syariah. Hal tersebut tentu berdampak kepada Pengadilan Niaga yang pada akhirnya berwenang memeriksa dan memutus seluruh perkara kepailitan di Indonesia. Sedangkan Pengadilan Agama yang dalam UU No. 3/2006 telah diperluas kewenangannya yaitu berwenang pula untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara ekonomi syariah, tidak diberikan kewenangan secara jelas untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara kepailitan yang muncul dari akad-akad ekonomi syariah.

Akibatnya, hingga saat ini perkara-perkara kepailitan yang timbul berdasarkan akad-akad ekonomi syariah diperiksa oleh Pengadilan Niaga yang berada di lingkungan Peradilan Umum.

D. Tidak Diterapkannya Asas Lex Specialis Derogat Legi Generali dalam Pembentukan UU No. 3 Tahun 2006 Jo. UU No. 50 Tahun 2009 dan Relevansinya dengan Permasalahan Kompetensi Absolut dalam Memeriksa, Mengadili dan Menyelesaikan Perkara Kepailitan di Bidang Ekonomi Syariah.

Menurut Nieuwenhuis, pengertian asas (beginsel) dapat didekati dengan dua cara. Pertama, adalah dalam “makna global (globale beketenis)”, yakni asas dimengerti sebagai “sifat yang penting (belangrijke eigenschsp)’. Kedua, asas juga dapat dimengerti dalam konteks yang sangat khusus, yakni sebagai

“dasar pembenaran” (terrechtvaardiging) dari aturan-aturan maupun putusan- putusan.427 Umumnya asas-asas lebih bersifat abstrak daripada aturan,

427 J.H. Nieuwenhuis, Drie beginselen van contractenrecht, diss. RUL 1979, Deventer, 1979, hlm.5. dalam Herlien Budiono, Asas Keseimbangan bagi Hukum Perjanjian Indonesia :

commit to user

(21)

441

sekalipun juga dapat ditemukan aturan yang sangat abstrak maupun asas-asas yang relatif konkret.428

Ronald Dworkin yang dikutip oleh Manuel Atienza dan Juan Ruiz Manero menyebutkan bahwa aturan dan asas memiliki karakter yang berbeda, salah satunya adalah asas tidak dapat dipengaruhi oleh suatu kepentingan apapun. Secara lengkap, Ronald Dworkin menjelaskan sebagai berikut.429

"Both sets of standards point to particular decisions about legal obligation in particular circumstances,but they differ in the character of the direction they give. Rules are applicable in an allor-nothing fashion. If the facts a rule stipulates are given, then either the rule is valid, in which case the answer it supplies must be accepted, or it is not, in which case it contributes nothing to the decision [...] But this is not the way [...] principles [...] work.

Even those which look most like rules do not set out legal consequences that follow automatically when the conditions provided are met [...] Principles have a dimension that rules do not - the dimension of weight or importance.

When principles intersect [...] one who must resolve the conflict has to take into account the relative weight of each [...] Rules do not have this dimension."

Gustav Radbruch juga mengutarakan hal yang sama, bahwa hukum (aturan) berbeda dengan asas. Asas lebih berat daripada aturan, sehingga apabila aturan bertentangan dengan asas, maka hukum (aturan) tersebut tidak memiliki validitas. Secara lebih lengkap Gustav Radbruch menyatakan sebagai berikut,”There are principles of law, therefore, that are weightier than any legal enactment, so that a law in conflict with them is devoid of validity. These principles are known as natural law or the law of reason”.430

Esser menyatakan asas adalah norma-norma yang menjabarkan dasar- dasar suatu aturan . Secara lengkap Esser menjelaskan sebagai berikut.

Hukum Perjanjian Berlandaskan Asas-Asas Wigati Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, hlm. 76

428Asser-Scholten, Algemeen Deel, Zwolle, 1974, hlm 62-64 dalam Herlien Boediono, ibid, hlm.

78.

429 Ronald Dworkin, Taking Rights Seriously, Duckworth, London, 1978, hlm. 24 dalam Manuel Atienza & Juan Ruiz Manero, A Theory of Legal Sentences, Springer Science and Business Media, New York, 1998, hlm. 1

430 Gustav Radbruch ( diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Bonnie Litschewski Paulson

& Stanley L. Paulson, Five Minutes of Legal Philosophy (1945), Oxford Journal of Legal Studies, Vol. 26, No. 1 (2006), hlm. 14.

commit to user

(22)

442

“... principles are those norms that set forth the grounds for a given commandment to be found. More than a distinction based on the degree of abstraction of the normative provision, the difference between principles and rules would be a qualitative distinction. The criterion that distinguishes principles and rules would then be the role of normative foundation for making decisions”.431

Sejalan dengan pemikiran Esser, Larenz mendefinisikan asas sebagai norma-norma yang sangat relevan dengan tatanan hukum, karena asas menetapkan dasar-dasar normatif untuk penafsiran dan penerapan hukum yang secara langsung atau tidak langsung menghasilkan norma-norma perilaku.

Secara lengkap, Larenz menjelaskan sebagai berikut.

“Larenz defines principles as norms of great relevance to the legal order, since they set forth normative grounds for the interpretation and application of law which directly or indirectly derive behavior norms. For him, principles would be directive thoughts of a possible or existing legal regulation, but still not applicable rules because they lack the formal aspect of legal propositions, i.e., the connection between an operative fact and a legal consequence. This is why principles would only show the way for the rule to be found, as if setting a first guiding step to the other steps that lead to the rule. The criterion that distinguishes principles and rules would also be the role of normative foundation for making decisions, a quality derived from the conditional pattern of drafting normative prescriptions”.432

Menurut pandangan Smits asas-asas hukum memenuhi tiga fungsi.

Pertama asas-asas hukumlah yang memberikan keterjalinan dari aturan-aturan hukum yang tersebar. Kedua, asas-asas hukum dapat difungsikan untuk mencari pemecahan atas masalah. Masalah baru yang muncul dan membuka bidang-bidang liputan masalah baru. Asas-asas hukum juga rnenjustifikasikan prinsip-prinsip "etikal" yang merupakan substansi dari aturan-aturan hukum.

Dari kedua fungsi tersebut di atas diturunkan fungsi ketiga bahwa asas-asas dalam hal-hal demikian dapat dipergunakan untuk "menulis ulang" bahan-

431 Josef Esser, Grundsatz und Norm in der richterlichen Fortbildung des Privatrechts (4th Printing), Mohr Siebeck, Tübingen, 1990, hlm. 51 dalam dalam Humberto Ávila, Theory of Legal Principle, Springer, Dordrecht,2007, hlm. 8

432 Karl Larenz, Richtiges Recht, Beck, Munich, 1979, hlm. 26, Karl Larenz, Methodenlehre der Rechtswissenschaft, (6th ed.), Beck, Munich, 1991, hlm. 474 dalam Humberto Ávila, ibid, hlm. 8-9.

commit to user

(23)

443

bahan ajaran hukum yang ada sedemikian Sehingga dapat dimunculkan solusi terhadap persoalan-persoalan baru yang berkembang". 433

Beranjak dari fungsi tersebut, Herlien Budiono menyimpulkan bahwa asas-asas hukum bertujuan untuk memberikan arahan yang layak/pantas (menurut hukum; Rechmatig) dalam hal menggunakan atau menerapkan aturan-aturan hukum. Asas-asas hukum tersebut berfungsi sebagai pedoman atau arahan orientasi berdasarkan hukum mana dapat dan boleh dijalankan.434 Terkait relevansi asas dan pembentukan perundang-undangan, Wahiduddin Adams berpendapat bahwa proses pembentukan peraturan perundang- undangan perlu dilakukan secara taat asas dalam rangka membentuk peraturan perundang-undangan yang baik yang memenuhi berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem, asas, tata cara penyampaian dan pembahasan, teknis penyusunan serta pemberlakuannya dengan membuka akses kepada masyarakat untuk berpartisipasi.435

Asas lex specialis derogat legi generali yang memiliki arti hukum yang khusus mengesampingkan hukum yang umum merupakan asas preferensi.

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto menyatakan bahwa maksud dari asas lex specialis derogat legi generali adalah bahwa terhadap peristiwa khusus wajib diberlakukan undang-undang yang menyebut peristiwa itu, walaupun untuk peristiwa khusus tersebut dapat pula diberlakukan undang-undang yang menyebut peristiwa yang lebih luas atau lebih umum yang dapat mencakup peristiwa khusus tersebut.

Berdasarkan UU No. 37/2004, perkara kepailitan secara umum merupakan kewenangan yang mutlak dari Pengadilan Niaga yang berkedudukan di lingkungan Peradilan Umum sebagai peradilan khusus.

Sedangkan perkara kepailitan di bidang ekonomi syari’ah merupakan hal yang khusus karena di dalamnya terkandung asas personalitas keislaman serta sifat

433 J.M. Smits, Het vertouwensbeginsel en de contractuele gebondenheid, diss. RUL 1995, hlm.

68-69, dalam Herlien Boediono, ibid, hlm. 82.

434 Herlien Boediono, ibid, hlm. 83.

435 Komisi Yudisial Republik Indonesia, Dialektika Pembaruan Sistem Hukum Indonesia ( Bunga Rampai ), Sekretariat Jenderal Komis Yudisial Republik Indonesia, Jakarta, 2012, hlm. 146.

commit to user

(24)

444

akad-akad yang dipergunakan dalam bisnis tersebut. Berdasarkan Pasal 49 UU No. 3/2006 yang telah memberikan kewenangan absolut Pengadilan Agama untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di bidang ekonomi Syari’ah, seharusnya berdasarkan asas lex specialis derogat legi generali, Pengadilan Niaga tidak berwenang memeriksa perkara-perkara kepailitan di bidang ekonomi syari’ah melainkan kewenangan dari Pengadilan Agama.

Apabila asas diterapkan dalam pembentukan UU No. 3/2006 jo. UU No.

50/2009, maka Pengadilan Agama secara tersurat/implisit dan spesifik akan diberikan kewenangan untuk mengadili perkara-perkara kepailitan di bidang ekonomi syari’ah yang secara implikatif membatasi kewenangan Pengadilan Niaga untuk memeriksa dan memutus perkara kepailitan terbatas pada kepailitan yang timbul dari kontrak-kontrak konvensional.

Dalam melalukan analisa lebih lanjut, Penulis menggunakan Undang- Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- Undangan karena Undang-Undang ini merupakan dasar dari dibentuknya Undang-Undang tentang Kepailitan dan Undang-Undang tentang Peradilan Agama yang terbaru. Pada dasarnya di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan tidak disebutkan asas lex specialis derogat legi generali, baik di dalam asas pembentukan peraturan perundang-undangan mau pun asas-asas yang dikandung dalam materi muatan peraturan Perundang-undangan.

Ada pun asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan antara lain : a) kejelasan tujuan;

b) kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c) kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d) dapat dilaksanakan; e) kedayagunaan dan kehasilgunaan; f) kejelasan rumusan; dan g) keterbukaan.

commit to user

(25)

445

Demikian pula asas-asas yang harus dikandung dalam materi muatan436 Peraturan Perundang-undangan di Negara Republik Indonesia dirumuskan dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan antara lain : a) pengayoman; b) kemanusiaan;

c) kebangsaan; d) kekeluargaan; e) kenusantaraan; f) bhinneka tunggal ika; g) keadilan; h) kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, i) ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau, j) keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.

Dikaitkan dengan kewenangan mengadili perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah oleh Pengadilan Niaga, Penulis berpendapat bahwa materi muatan437 yang terkandung dalam UU No. 3/2006 jo. UU No. 50/2009 tidak sesuai dengan asas ketertiban dan kepastian hukum. Hal tersebut dikarenakan UU No. 3/2006 jo. UU No. 50/2009 yang memberikan kewenangan memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di bidang ekonomi syariah, tidak serta merta memberikan kewenangan Pengadilan Agama untuk memeriksa perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah yaitu perkara-perkara kepailitan yang timbul berdasarkan akad-akad ekonomi Syariah. Implikasinya adalah Pengadilan Agama hanya berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara biasa (non-kepailitan) di bidang ekonomi syariah saja, sedangkan untuk perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah masih menjadi kewenangan Pengadilan Niaga.

Demikian pula, materi muatan yang terkandung dalam UU No. 3/2006 jo.

UU No. 50/2009 bertentangan dengan prinsip pemisahan kewenangan absolut

436 Tentang materi muatan, pada dasarnya diarahkan untuk menghindari duplikasi pengaturan pada aturan hukum yang tingkatannya berbeda. Di sisi lain, materi muatan juga menghindarkan terjadinya konflik antar regualasi yang akhirnya menyulitkan dalam penerapan.

Lihat : Maria Farida, dkk, Laporan Kompendium Bidang Hukum Perundang-Undangan, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2008, hlm. 8.

437 Bagir Manan mengartikan materi muatan adalah muatan yang sesuai dengan bentuk peraturan perundang-undangan tertentu. Lebih lanjut, Bagir Manan menyatakan hingga saat ini belum pernah ada satu ketentuan atau ajaran yang memastikan materi muatan suatu peraturan perundang-undangan. Ajaran mengenai materi muatan lebih bersifat asas-asas umum daripada materi kaidahnya.

Lihat :Yahya Ahmad Zein, Ristina Yudhanti, Aditia Syaprillah, Legislative Drafting (Perancangan Perundang-Undangan), Thafa Media, Yogyakarta, 2016, hlm. 32.

commit to user

(26)

446

yang ditentukan oleh konstitusi yaitu Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 dan tidak sinkron dengan Pasal 25 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Penulis berfokus pada UU No. 3/2006 jo. UU No. 50/2009 karena dalam pendekatan historis, UU No. 37/2004 lebih dahulu dibentuk dan berlaku di Indonesia. Penulis bependapat bahwa kewenangan absolut Pengadilan Niaga untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara ekonomi syariah merupakan kewenangan yang masih setengah-setengah karena tidak memiliki kewenangan untuk memeriksa perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah.

Kembali pada asas lex specialist derogat lege generale, berpedoman pada Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan, seharusnya pembentuk Undang-Undang memperhatikan bahwa UU 3/2006 jo. UU No. 50/2009 adalah suatu Undang-Undang yang bersifat khusus dalam sistem hukum Indonesia yang berfungsi sebagai lembaga penyelesaian sengketa438 antara orang-orang yang beragama Islam serta orang- orang yang menundukkan diri pada hukum Islam (asas personalitas keislaman).

Meminjam pendapat Atienza439 yang menyatakan bahwa ada 5 (lima) aspek rasionalitas yang perlu terintegrasi di setiap undang-undang, antara lain rasionalitas bahasa, rasionalitas legal formal, rasionalitas teleologis, rasional

438 Friedmann mengemukakan bahwa sistem hukum mengemban empat fungsi yaitu :

1) Hukum sebagai bagian dari sistem kontrol sosial (social control) yang mengatur perilaku manusia;

2) Sebagai sarana untuk menyelesaikan sengketa (dispute settlement);

3) Sistem hukum memiliki fungsi sebagai social enginering function; dan

4) Hukum sebagai social maintenance, yaitu fungsi yang menekankan pada peranan hukum sebagai pemeliharaan status quo yang tidak menginginkan perubahan.

Lihat : Lawrence M. Friedmann, American Law, An Introduction, WW Norton & Co.,New York, 1984, hlm.5-6 dikutip dalam Umbu Rauta, Konstitusionalitas Pengujian Peraturan Daerah, Genta Publishing, Yogyakarta, 2016, hlm.94.

439 Dikutip oleh Victor Immanuel W.Nale, Konstruksi Model Pengujian Ex Ante Terhadap Rancangan Undang-Undang di Indonesia, Jurnal Konstitusi, Sekretariat Jendral Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2013, hlm. 445

commit to user

(27)

447

pragmatis dan rasional etis440, maka pada konteks integrasi rasionalitas, Penulis berpendapat bahwa UU No. 3 Tahun 2006 jo. UU No. 50 Tahun 2009 tidak memenuhi aspek rasionalitas legal formal dan rasionalitas etis.

Penulis menyebut melanggar rasionalitas legal formal karena UU No. 3 Tahun 2006 jo. UU No. 50 Tahun 2009 tidak koheren dengan UU 37/2004 tentang Kepailitan dan UU No. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang telah memisahkan kewenangan absolut lembaga peradilan di Indonesia yang berimplikasi pada inkonsistensi norma.

Demikian pula Penulis menyebut melanggar rasionalitas etis karena UU No. 3 Tahun 2006 jo. UU No. 50 Tahun 2009 tidak secara penuh memberikan Pengadilan Agama kewenangan absolut untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara kepailitan di bidang ekonomi syariah karena tidak termasuk perkara kepailitan yang muncul berdasarkan wanprestasi akad- akad ekonomi syariah.441

440 Penjelasan 5 (lima) aspek rasionalitas yang perlu terintegrasi di setiap undang-undang pemikiran Atienza sebagai berikut.

1) Rasionalitas bahasa (linguistic rationality), bahwa setiap undang-undang harus jelas dan memiliki presisi untuk menghindari masalah inkonsistensi dan ketidakjelasan.

2) Rasionalitas legal formal (legal-formal rationality), bahwa undang-undang bukan hanya harus valid (berlaku umum, abstrak, impersonal dan permanen) tetapi juga koheren, tidak berlebih-lebihan, tidak saling bertentangan, tidak berlaku surut, dan diumumkan untuk menghindari problem antinomi, berlebih-lebihan dan kesenjangan dalam rangka menciptakan sistem perundang-undangan yang sempurna.

3) Rasionalitas teleologis (teleological rationality), bahwa undang-undang bermanfaat dalam mencapai tujuan akhir. Artinya, yang ingin dihasilkan melalui undang-undang bukanlah hal yang tidak mungkin atau simbolis belaka.

4) Rasionalitas pragmatis (pragmatic rationality), bahwa undang-undang bukan hanya bermanfaat tetapi juga efektif secara sosial dan efisien secara ekonomi dalam setiap peristiwa hukum konkrit.

5) Rasionalitas etis (ethical rationality), bahwa substansi undang-undang harus adil dan benar.

441 Hasil yang sama akan muncul apabila dilakukan kajian dengan berpedoman kepada Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan jo.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku saat ini.

Masih sama dengan undang-undang sebelumnya, di dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan tidak disebutkan asas lex specialis derogat legi generali, baik di dalam asas pembentukan peraturan perundang-undangan mau pun asas-asas yang dikandung dalam materi muatan peraturan Perundang-undangan. Penulis berpendapat bahwa materi

commit to user

(28)

448

E. Kompetensi Absolut Pengadilan Niaga dalam Memeriksa dan Mengadili Perkara Kepailitan di Bidang Ekonomi Syariah dan Relevansinya dengan Politik Hukum Pembentukan Pengadilan Niaga dan Pengadilan Agama

Ronald Dworkin mengenai hubungan antara hukum dengan politik menyebutkan bahwa hukum adalah konsep politik. Secara lebih lengkap, Ronald Dworkin menjelaskan ,“law is a political concept : people use it to form claims of law, that is, claims that the law of some place or other prohibits or permits or requires certain actions, or provides certain entitlements, or has other consequences”.442 Hubungan hukum dengan politik dijelaskan oleh Jürgen Habermas bahwa hukum yang merupakan sistem hak dapat berlaku dan ditegakkan hanya oleh suatu organisasi yang membuat keputusan (politik) yang mengikat secara kolektif. Secara lengkap Jürgen Habermas sebagai berikut.443

“The law presents itself as a system of rights only as long as we consider it in terms of its specific function of stabilizing behavioral expectations. These rights can take effect and be enforced only by organizations that make collectively binding decisions. Conversely, these decisions owe their collective bindingness to the legal form in which they are clad. This internal connection of law with political power is reflected in the above-noted implications that "subjective" rights have for "objective" law.”

Mengenai hal tersebut diatas, James Bernard Murphy memiliki pendapat yang sama, klaim bahwa semua hukum sengaja dipaksakan oleh otoritas tertinggi dari komunitas politik dan hal tersebut bekerja dengan baik dalam proses legislasi. Secara lebih lengkap James Bernard Murphy menyatakan:

“Yet, as we have seen, the claim that all human law is deliberately imposed by the supreme authority of a political community applies much better to some sources of law than to others. It works tolerably well for

muatan yang terkandung dalam UU No. 3/2006 jo. UU No. 50/2009 tidak sesuai dengan asas ketertiban dan kepastian hukum

442Ronald Dworkin, Justice in Robes, The Belknap Press of Harvard University Press, London, 2006, hlm. 162.

443 Jürgen Habermas ( diterjemahkan oleh William Regh), Between Facts and Norms : Constributions to A Discourse Theory of Law and Democarcy, The MIT Press, Massachusetts, hlm. 133

commit to user

(29)

449

legislation but requires some rather Procrustean methods in order to accommodate the other sources of law”.444

Meski demikian, Mauro Zamborini menyampaikan bahwa hukum menjaga jarak (tingkat pemisahan) tertentu dari politik. Hal tersebut dikarenakan hukum berbeda dengan politik. Hukum memiliki inti norma yang hanya bisa dianalisa oleh teori di dunia hukum. Secara lebih lengkap, Mauro Zamborini menyatakan sebagai berikut.

In the intersecting model, in contrast to the embedded one, the law only partially collides with politics, and is not totally embedded into the political mass; the law does keep a certain degree of separation. Law is distinct from politics because the law has a true normative core, an area which can be defined, can work and which can be investigated using only a specific theoretical apparatus produced by and inside the legal world. This core consists of viewing the law as a mechanism of coercion that, regardless of its value-content, tends to be passed from one generation to the next.445

Pada prinsipnya, perdebatan hubungan antara hukum dan politik memiliki akar sejarah yang panjang. Bagi kalangan penganut aliran positivisme hukum seperti John Austin, hukum tidak lain adalah produk dari politik atau kekuasaan. Pada sisi lain, pandangan berbeda lahir dari kalangan aliran sejarah dalam ilmu hukum, yang melihat hukum tidak dari dogmatika hukum dan undang-undang semata, akan tetapi dari kenyataan-kenyataan sosial yang ada dalam masyarakat dan pandangan bahwa hukum itu tergantung pada penerimaan umum dalam masyarakat dan setiap kelompok menciptakan hukum yang hidup.446

Memanfaatkan pendapat Soehardjo Sastro Soehardjo yang menyatakan bahwa politik hukum bertugas meneliti perubahan-perubahan mana yang perlu diadakan terhadap hukum yang ada agar supaya memenuhi kebutuhan-

444James Bernard Murphy, The Philosophy of Positive Law, Yale University Press, London, 2005, hlm. 213

445 Mauro Zamborini, Law and Politics: A Dilemma for Contemporary Legal Theory, Springer, Berlin, 2008, hlm. 86

446 Lili Rasyidi dan Ira Rasyidi, Pengantar Filsafat dan Teori Hukum ( Cetakan ke-8), Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001 dalam Merdi Hajiji, Relasi Hukum dan Politik dalam Sistem Hukum Indonesia, Jurnal Rechtsvinding, Vol, 2 No. 3 tahun 2013, hlm. 362.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

2) Berikan dua alasan, mengapa sebelum melakukan komunikasi kita perlu mempelajari siapa saja yang akan menjadi sasaran komunikasi tersebut!. 3) Masukkan ke dalam tabel

Sebagai wujud peran serta masyarakat, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Tengah juga diberi wewenang, tugas dan kewajiban sebagaimana yang diatur

Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan pada kapal penumpang KM Kelud yang merupakan salah satu armada pelayaran PT PELNI untuk rute Jakarta-Batam-Tanjung Balai-Medan,

Pada bagian inilah peran dari sensor hall dibutuhkan untuk mendeteksi bagian koil atau phasa pada rotor yang telah diberikan sinyal oleh fluks magnet sehingga

Hasil penelitian adalahproduk program pembelajaran multimedia interaktif matakuliah Jaringan Komputer berbasis CDT (Component Display Theory) dalam bentuk CD yang memiliki

344 Nadhila Annifa Ichsan MI Ibtidaiyah Muhammadiyah GORONTALO 345 Nabilla Fiqriya Putri SD Negeri Model Terpadu Madani SULTENG. 346 Yudha Kencana SD Inpres I

Sistem Iformasi Manajemen Agenda pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Kabupaten Karanganyar.. Sentra Penelitian Engineering dan Edukasi

a) The appropriate limited rating. b) Adequate housing and facilities. c) Recommended tools, equipment, and materials, or equivalent. Record and Report the Results. The