Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2022
ISSN: 2442-9090 e-ISSN: 2579-9509
• Kompetensi Absolut Pengadilan Niaga sebagai Lembaga Penyelesaian Sengketa Utang Piutang
Rai Mantili ... 39
ADHAPER
1. Peranan Disnakertrans dalam Melakukan Mediasi Perselisihan Hubungan Industrial di Masa Pandemi
Agus Mulya Karsona, Hazar Kusmayanti, Anita Afriana ... 1 2. Peningkatan Status Hukum Kesepakatan Perdamaian oleh Mediator di Luar
Pengadilan Menjadi Akta Perdamaian
Dedy Mulyana ... 19 3. Kompetensi Absolut Pengadilan Niaga sebagai Lembaga Penyelesaian Sengketa
Utang Piutang
Rai Mantili ... 39 4. Implementasi Penyelesaian Sengketa Tanah Melalui Mediator Non Sertifi kat di
Kota Kediri
Emi Puasa Handayani, Zainal ArifIn, ... 59 5. Pembubaran Perseroan Terbatas yang Diajukan oleh Pemegang Saham yang
Memiliki Persentase Saham Berimbang Melalui Penetapan Pengadilan
Vinie Rachmadiena Devianti, Nyulistiowati Suryanti, Anita Afriana ... 75 6. Pernyataan Perkawinan Putus sebagai Petitum Gugatan Perceraian (Analisa
Perkara No. 645/Pdt.G/2019/Pn. Jkt.Sel)
Sufi arina, Hidayatul Afdal, Herman Sudrajat ... 93 7. Studi Perbandingan Hukum Terkait Ketentuan Penolakan Pelaksanaan dan
Pembatalan Putusan Arbitrase di Indonesia dengan di Thailand
Muhammad Mpu Samudra, Ning Adiasih ... 107 8. Kajian Hukum Peniadaan Peninjauan Kembali dalam Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial
Mustakim ... 127 9. Kedudukan Parate Eksekusi pada Jaminan Fidusia dengan Putusan Mahkamah
Konstitusi Nomor 18/Puu-Xvii/2019
Misnar Syam, Yussy Adelina Mannas ... 149 10. Dirumahkannya Pekerja yang Berujung Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
pada Masa Pandemi Covid-19 secara Sepihak Berdasarkan Penyelesaian Sengketa Ketenagakerjaan Secara Non Litigasi
Sherly Ayuna Putri, Agus Mulya Karsona, Holyness Singadimedja ... 167
Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2022
DAFTAR ISI
JURNAL HUKUM ACARA PERDATA
ADHAPER
e-ISSN: 2579-9509
39
LEMBAGA PENYELESAIAN SENGKETA UTANG PIUTANG
Rai Mantili*
Penulis adalah dosen Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran
ABSTRAK
Pengertian mengenai utang dapat diartikan secara luas dan sempit. Penyelesaian sengketa utang piutang dapat diselesaikan di Pengadilan Negeri ataupun di Pengadilan Niaga yang merupakan pengadilan khusus. Namun, penyelesaian sengketa utang piutang di Pengadilan Negeri dan di Pengadilan Niaga mempunyai karakteristik yang berbeda. Proses penyelesaian perkara utang piutang melalui Pengadilan Negeri dan Pengadilan Niaga terletak pada jangka waktu. Proses penyelesaian di Pengadilan Niaga diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Putusan Pengadilan atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan paling lambat 60 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan. Hal berbeda dengan proses di Pengadilan Negeri yang tidak memiliki ketentuan berapa lama penyelesaian perkara tersebut dijatuhi putusan. Kompetensi absolut Pengadilan Niaga dalam memeriksa dan memutus perkara utang piutang diatur dalam Pasal 300 ayat (1) UUKPKPU. Dengan kompetensi absolut ini maka hanya Pengadilan Niaga sebagai satu-satunya badan peradilan yang berhak memeriksa dan memutus perkara perniagaan, termasuk perkara utang piutang (kepailitan).
Kata Kunci: utang; kepailitan; pengadilan negeri; pengadilan niaga
ABSTRACT
The defi nition of debt can be interpreted broadly and narrowly. Settlement of debt and receivable disputes can be resolved in the District Court or in the Commercial Court which is a special court.
However, the settlement of debt and receivable disputes in the District Court and the Commercial Court has different characteristics. The process of settling debt cases through the District Court and Commercial Court lies in the time period. The settlement process at the Commercial Court is held within a period of no later than 20 days after the date the application is registered. The Court’s decision on the petition for a declaration of bankruptcy must be pronounced no later than 60 days after the date on which the petition for a declaration of bankruptcy is registered. This is different from the process in the District Court which does not have a stipulation on how long it will take for the settlement of the case to be sentenced. The absolute competence of the Commercial Court in examining and deciding debt and receivable cases is regulated in Article 300 paragraph (1) of the UUKPKPU. With this absolute competence, only the Commercial Court as the only judicial body has the right to examine and decide on commercial cases, including debt and debt (bankruptcy) cases.
Keywords: bankruptcy; commercial court; debt; district court.
LATAR BELAKANG
Krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada pertengahan tahun 1997 menimbulkan ketidakstabilan kondisi politik dalam negeri sehingga menyebabkan banyak debitor Indonesia tidak mampu membayar utang-utangnya kepada kreditor asing. Perangkat hukum kepailitan masa itu yakni Verordening ter Invoering van de Faillissements Verordening Stb. 217 Tahun 1905 (Faillissements Verordening) yang merupakan peraturan perundang-undangan peninggalan zaman pemerintahan Hindia Belanda yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan hukum masyarakat untuk penyelesaian utang piutang, serta tidak mampu untuk mengadakan restrukturisasi utang dikarenakan prosesnya yang sangat lambat.
Kelemahan dari segi substansi yang ada dalam Faillisement Verordening antara lain adalah: 1) tidak jelasnya time frame yang diberikan untuk penyelesaian kasus kepailitan, 2) jangka waktu untuk penyelesaian utang melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) bisa sangat lama yakni sampai 18 bulan, 3) jika Pengadilan menolak PKPU, tidak diwajibkan menyatakan debitor dalam keadaan pailit, 4) Kedudukan kreditor masih lemah.
Selain itu, ada pula kelemahan dari segi implementasi peraturan tersebut, yaitu peraturan kepailitan ini tidak dirasakan sebagai peraturan milik golongan bumiputera karena pada mulanya peraturan ini hanya ditujukan kepada Golongan Eropa dan Timur Asing, kecuali terhadap golongan bumiputera yang melakukan penundukan diri secara sukarela.1 Kelemahan- kelemahan dalam Faillisement Verordening tersebut yang mendasari para kreditor asing mendesak Pemerintah Indonesia melalui Letter Of Intent agar peraturan kepailitan tersebut diganti melalui International Monetary Fund (IMF). Penggantian atau perubahan peraturan mengharapkan agar krisis moneter di Indonesia dapat segera ditanggulangi.
Pada tanggal 22 April 1998 kemudian diterbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 1 Tahun 1998. Perpu ini hanya mengubah dan menambah peraturan yang diatur dalam peraturan sebelumnya. Lima bulan kemudian Perpu tersebut ditetapkan menjadi Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan (UUK). Selanjutnya, pada tanggal 19 Oktober 2004 ditandatangani Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUKPKPU) yang mencabut Verordening ter Invoering van de Faillissements Verordening dan UUK, dimana salah satu tujuannya adalah memberi kesempatan kepada kreditor dan debitor untuk mengupayakan penyelesaian yang adil, sehingga diperlukan sarana hukum yang dapat digunakan secara cepat, terbuka, dan efektif.
1 H. Heru Pramono, Hukum Acara Dalam Kepailitan dan Hubungan Antara Kurator dan Hakim Pengawas, Makalah disampaikan pada Pendidikan Kurator dan Pengurus AKPI Angkatan XIX di Hotel Harris Tebet, November 2012.
Begitu besar harapan lahirnya undang-undang tentang kepailitan membuat Pemerintah Indonesia tidak hanya melakukan perbaikan terhadap ketentuan-ketentuan dari UUKPKPU tersebut sebagai upaya untuk mewujudkan mekanisme penyelesaian sengketa secara adil, cepat, terbuka dan efektif. UUKPKPU secara khusus juga menghadirkan Pengadilan Niaga sebagai suatu pengadilan yang khusus memeriksa dan memutuskan perkara kepailitan dan PKPU dengan tata pengaturan waktu yang sangat ketat. Di samping itu, UUKPKPU juga memperkenalkan Kurator dan Pengurus swasta (selain BHP) sehubungan dengan tugas dan kewenangan untuk melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit, ataupun pengurusan debitor dalam PKPU. Undang-undang ini lah yang sampai sekarang menjadi landasan yuridis utama tentang masalah yang berkaitan dengan kepailitan.
Pengadilan Niaga sebagai pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Umum dibentuk untuk menyempurnakan aturan kepailitan yang sangat mendesak. Pengadilan Niaga yang pertama dibentuk adalah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, selanjutnya berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 97 Tahun 1999 Tentang Pembentukkan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri didirikan Pengadilan Niaga di Makassar, Surabaya, Medan, dan Semarang.
Pemerintah Indonesia memberikan ruang terbentuknya Pengadilan Khusus yang berada di bawah lingkungan Peradilan Umum dengan syarat bahwa pembentukan Pengadilan Khusus tersebut ditetapkan melalui undang–undang. Hal ini menjelaskan bahwa pembentukan Pengadilan Niaga merupakan suatu implementasi dari bentuk Pengadilan Khusus yang berada di bawah lingkungan Peradilan Umum. Secara konvensi teori perundang–undangan, pembentukkan Pengadilan Khusus biasanya dilakukan melalui undang–undang tersendiri yang mengamanatkan pembentukannya tersebut.
Permasalahan kemudian muncul dari kewenangan yang dimiliki oleh Pengadilan Niaga dan Pengadilan Negeri yang mengakibatkan terjadinya dualisme kewenangan dalam proses penyelesaian sengketa antara Pengadilan Niaga dengan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada saat itu. Dalam hal pemeriksaan perkara, terutama perkara yang memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan pailit, dengan adanya putusan pernyataan pailit kepada debitor, maka secara langsung mengakibatkan segala bentuk putusan hakim yang telah dijatuhkan sebelum pernyataan pailit dikeluarkan, dinyatakan tidak dapat dilaksanakan. Hal ini menunjukkan adanya suatu bentuk kompetensi yang dimiliki oleh Pengadilan Niaga untuk menghentikan putusan Pengadilan Negeri yang menetapkan eksekusi atas harta kekayaan debitor pailit.
Berbagai fakta hukum menunjukkan adanya kompetensi yang dimiliki oleh Pengadilan Niaga untuk menghentikan putusan Pengadilan Negeri yang menetapkan eksekusi atas harta kekayaan debitor pailit.
Problematika lebih lanjut dari kewenangan Pengadilan Niaga dalam sengketa kepailitan adalah apakah Pengadilan Niaga memiliki kompetensi absolut tersebut hanya untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara permohonan pailit dan PKPU. Artinya, bagaimana dengan perkara-perkara yang berkaitan dengan kepailitan, misalnya actio pauliana kepailitan, sengketa perburuhan dalam Perseroan Terbatas yang pailit, bantahan terhadap sita jaminan atas harta kekayaan debitor sebelum dinyatakan pailit.
Pengaturan khusus mengenai landasan hukum Pengadilan Niaga belum disusun sampai saat ini. Pengaturannya masih didasarkan pada Bab Ketiga mengenai Pengadilan Niaga di dalam UUKPKPU. Sementara itu, pengaturan mengenai hukum acara terpisah-pisah dalam peraturan-peraturan tersendiri untuk setiap bidang kegiatan niaga, yang sampai saat ini baru mencakup bidang Kepailitan dan PKPU serta Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI).
Pengakuan atas keberadaan dan eksistensi Pengadilan Niaga dalam masing-masing Undang- Undang tersebut belum bersifat integratif dan koordinatif. Hal ini antara lain terlihat dari pengaturan prosedur beracara, atau hukum acara perkara niaga di luar masalah kepailitan.
Hukum acara yang selama ini digunakan dalam pemeriksaan perkara kepailitan di Pengadilan Niaga masih menggunakan ketentuan Herziene Indonesisch Reglement/Rechtsreglement Buitengewesten (HIR/R.BG).2
Menurut Soerjono Soekanto, sengketa merupakan ketidakserasian antara pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok yang mengadakan hubungan karena hak salah satu pihak terganggu atau dilanggar.3 Tugas pokok pengadilan, yang menyelenggarakan kekuasaan kehakiman adalah untuk menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya.4 Salah satu asas dalam pelaksanaan peradilan adalah sebagaimana yang dituangkan dalam Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu; peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan.
Penyelesaian sengketa utang piutang dapat diselesaikan di Pengadilan Negeri ataupun di Pengadilan Niaga yang merupakan pengadilan khusus. Namun, penyelesaian sengketa utang piutang di Pengadilan Negeri dan di Pengadilan Niaga mempunyai karakteristik yang berbeda. Pada penulisan artikel ini peneliti akan membahas mengenai kewenangan absolut
2 Hukum acara perdata yang berlaku di Indonesia adalah Herziene Indonesisch Reglement (HIR) dan untuk beberapa materi dari Rechtsreglement Buitengewesten (R.BG) serta Rechtsvordering (R.V). Pasal 284 ayat (1) UUKPKPU menyatakan bahwa kecuali ditentukan lain dengan undang-undang, hukum acara perdata yang berlaku diterapkan pula terhadap Pengadilan Niaga. UUK yang lebih banyak mengatur tentang ketentuan dan prosedur beracara dalam proses kepailitan, merupakan lex specialis dari ketentuan hukum acara perdata yang berlaku umum. Sehingga, hukum acara dalam proses kepailitan ini dapat merujuk pada HIR terutama untuk hal-hal yang tidak atau belum diatur dalam UUKPKPU.
3 Soerjono Soekanto, 1979, Mengenal Antropologi Hukum, Penerbit Alumni, Bandung, h. 26.
4 Sudikno Mertokusumo, 2002, Hukum Acara Perdata Indonesia, Edisi Keenam, Penerbit Liberty, Yogyakarta, h. 75.
Pengadilan Niaga dalam penyelesaian utang piutang. Hal yang perlu diperhatikan adalah, walaupun Pengadilan Negeri dan Pengadilan Niaga memiliki aturan hukum beracara yang sama dan merujuk pada HIR/RBg sebagai pedoman proses persidangan, namun terdapat beberapa perbedaan dalam proses penyelesaiannya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk membahas perbedaan/karakteristik proses penyelesaian utang piutang di Pengadilan Niaga.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah: 1). Bagaimana perbedaan proses penyelesaian perkara utang piutang melalui Pengadilan Negeri dan Pengadilan Niaga? dan; 2). Bagaimanakah kompetensi absolut Pengadilan Niaga dalam memeriksa dan memutus perkara utang piutang?
PEMBAHASAN
Perbedaan Proses Penyelesaian Perkara Utang Piutang Melalui Pengadilan Negeri Dan Pengadilan Niaga
Mengacu pada ketentuan dalam KUHPerdata, utang diartikan sebagai kewajiban membayar sejumlah uang yang timbul baik dari perjanjian maupun undang-undang. Pasal 1756 KUHPerdata yang secara khusus mengatur tentang pengertian utang yang terjadi karena peminjaman uang, menyebutkan bahwa utang yang terjadi karena peminjaman uang hanyalah terdiri atas jumlah uang yang disebutkan dalam perjanjian.
Utang secara khusus didefinisikan dalam Pasal 1 Angka 6 UUKPKPU sebagai kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam jumlah mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan debitor.
Memperhatikan rumusan Pasal 1 Angka 6 UUKPKPU, dapat dikatakan bahwa UUKPKPU menganut pengertian utang dalam arti yang sangat luas, karena utang menurut UUKPKPU singkatnya adalah setiap prestasi dari debitor. Terdapat perbedaan pengertian mengenai utang menurut UUK dan UUKPKPU. UUK memberikan pengertian utang dalam arti sempit karena berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UUK, utang yaitu utang pokok dan bunga yang hanya bersumber dari perjanjian utang piutang (perjanjian kredit).
Perbedaan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan utang, khususnya diantara para hakim, muncul karena UUK yang dipakai sebagai acuan pada saat itu, tidak merumuskan definisi operasional tentang utang. Padahal, para ahli telah memberikan pendapatnya tentang
utang. Dengan tidak dirumuskannya pengertian tentang utang dalam UUK, maka dalam praktik beracara di Pengadilan timbul 2 aliran diantara para hakim dalam mendefinisikan utang secara kasuistis. Aliran pertama mendefinisikan utang dalam arti sempit dan dalam arti luas.5 Penganut aliran sempit mengatakan bahwa utang adalah kewajiban debitor untuk membayar sejumlah uang yang timbul dari perjanjian utang piutang/perjanjian kredit, yang terdiri dari utang pokok dan atau bunga, sedangkan menurut penganut aliran luas yang dimaksud dengan utang bukan saja hanya kewajiban debitor untuk membayar sejumlah uang yang timbul dari perjanjian utang piutang saja, tetapi juga kewajiban debitor untuk membayar sejumlah uang yang timbul dari perjanjian atau undang-undang.
Pada prinsipnya, utang timbul dari adanya sebuah perikatan yang menimbulkan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai balasan atas hak-hak yang telah diterimanya terlebih dahulu, dengan menganggap bahwa perutangan sebagai hubungan hukum sehingga oleh karenanya seseorang berhak mengharapkan suatu prestasi dari seseorang yang lain, bahkan dengan perantaraan hakim apabila diperlukan.6 R. Setiawan menyatakan bahwa utang seharusnya memberi pengertian luas yang berarti, bahwa utang merupakan kewajiban membayar sejumlah uang tertentu yang timbul karena adanya perjanjian utang-piutang (dimana debitor menerima sejumlah uang tertentu dari kreditornya), maupun kewajiban pembayaran sejumlah uang tertentu yang timbul dari perjanjian atau kontrak lain yang menyebabkan debitor harus membayar sejumlah uang tertentu.7 Dengan perkataan lain, yang dimaksud dengan utang bukan hanya kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu yang disebabkan karena debitor telah menerima sejumlah uang tertentu karena perjanjian kredit, tetapi juga kewajiban membayar debitor yang timbul dari perjanjian-perjanjian.
Persyaratan Pengajuan Permohonan Pailit yang merupakan syarat utama untuk dinyatakan pailit melalui putusan pengadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UUKPKPU, yaitu:
1. Terdapat minimal 2 (dua) orang kreditor;
2. Debitor tidak membayar lunas sedikitnya satu utang, dan;
3. Utang tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih.
Mengenai syarat minimum 2 (dua) kreditor, ini memiliki arti penyelesaian sengketa utang piutang di Pengadilan Niaga memerlukan atau diperlukan adanya kehadiran kreditor
5 Syamsudin M Sinaga, 2012, Hukum Kepailitan Indonesia, Tatanusa, Jakarta, Hukum Kepailitan Indonesia, h. 11.
6 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, 1989, Hukum Perdata-Hukum PerUtangan, Bagian A, Seksi Hukum Perdata UGM, Yogyakarta, h. 1.
7 Rudhy A. Lontoh, et.al., 2001, Penyelesaian Utang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni, Bandung, h. 117.
lain. Hal ini berbeda dengan penyelesaian perkara utang piutang di Pengadilan Negeri yang dapat terdiri dari 1 (satu) kreditor saja. Pasal 2 ayat (1) UUKPKPU menetapkan syarat-syarat dapat dinyatakan pailit adalah sebagai berikut:
“Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.”
Menurut Pasal 2 ayat (1) UUKPKPU tersebut, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah debitor harus memiliki dua kreditor atau lebih. Sehingga harus ada kreditor lainnya selain daripada kreditor yang mengajukan permohonan pailit/PKPU. Dengan demikian, UUPKPU ini hanya memungkinkan seorang debitor dinyatakan pailit apabila debitor memiliki paling sedikit 2 (dua) kreditor. Syarat mengenai adanya minimal dua atau lebih kreditor dikenal sebagai concursus creditorum. Keharusan adanya dua kreditor yang disyaratkan dalam UUKPKPU sehingga selaras dengan ketentuan Pasal 1132 KUHPerdata.8
Berbeda halnya dengan permohonan pailit ke Pengadilan, pengajuan gugatan perkara utang piutang di Pengadilan Negeri tidak mengatur ketentuan mengenai adanya 2 orang kreditor atau lebih. Namun, perihal utang yang telah jatuh tempo dan tidak dibayar oleh debitor dapat diajukan berdasarkan wanprestasi ke pengadilan negeri. Apabila debitor hanya mempunyai satu kreditor, maka seluruh harta kekayaan debitor otomatis menjadi jaminan atas pelunasan utang debitor tersebut dengan demikian tidak diperlukan lagi pembagian secara pro rata dan pari passu. Dengan demikian, jelas bahwa debitor tidak dapat dituntut pailit, jika debitor tersebut hanya mempunyai satu kreditor, sedangkan pada Pengadilan Negeri dapat dilakukan proses penyelesaian perkara dengan satu kreditor saja.
Tata cara penyelesaian utang piutang di Pengadilan Negeri memerlukan gugatan yang diajukan dengan surat gugat yang ditandatangani oleh penggugat atau kuasanya yang sah dan ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri. Gugatan disampaikan kepada Pengadilan Negeri, kemudian akan diberi nomor dan didaftarkan da lam buku Register setelah penggugat membayar panjar biaya perkara, yang besarnya ditentukan oleh Pengadilan Negeri (Pasal 121 HIR). Berdasarkan kompetensi relative yang diatur dalam Pasal 118 ayat (1) HIR, Pengadilan Negeri berwenang memeriksa gugatan yang daerah hukumnya yang meliputi:
dimana tergugat bertempat tinggal, dimana tergugat sebenarnya berdiam (jikalau tergugat tidak diketahui tempat tinggalnya), salah satu tergugat bertempat tinggal, jika ada banyak tergugat
8 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, Raja Grafi ndo Persada, Jakarta, h. 107.
yang tempat tinggalnya tidak dalam satu daerah hukum Pengadilan Negeri, tergugat utama bertempat tinggal (jika hubungan antara tergugat-tergugat adalah sebagai yang berhutang dan penjaminnya), Penggugat atau salah satu dari penggugat ber tempat tinggal dalam hal tergugat tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak diketahui dimana ia berada atau tergugat tidak dikenal. Apabila yang menjadi objek gugatan adalah benda tidak bergerak (tanah), maka ditempat benda yang tidak bergerak terletak sebagaimana yang diatur dalam Pasal 142 Rbg.
Berbeda halnya dengan proses penyelesaian perkara di Pengadilan Negeri, tata cara mengajukan permohonan pailit berdasarkan pada UUPKPU adalah:
1. Permohonan pernyataan proses Pailit harus diajukan pada ketua pengadilan. Permohonan ini diajukan melalui panitera sesuai dengan Pasal 6 ayat (2) UUPKPU.
2. Selanjutnya Panitera akan menyampai kan permohonan tersebut kepada ketua pengadilan.
Permohonan penyataan Pailit tersebut paling lambat 2 hari setelah tanggal permohonan pailit didaftarkan. Dalam tempo 3 hari sesudah mendaftar kan tanggal permohonan, pengadilan akan menetapkan hari persidangan.
3. Sidang pemeriksaan akan dilakukan dalam waktu paling lama 20 hari sesudah pendaftaran tanggal permohonan pailit (Pasal 6 UUPKPU)
4. Selanjutnya pengadilan akan memanggil pihak debitur apabila pihak kreditur, Kejaksaan,Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal atau Menteri Keuangan yang mengajukan permohonan pailit (Pasal 8 UUPKPU).
5. Pengadilan bisa memanggil pihak Kreditur apabila pernyataan Pailit diajukan oleh Debitur dan ada keraguan jika persyaratan pailit sudah terpenuhi (Pasal 8 UUPKPU).
6. Proses pemanggilan biasanya dilakukan oleh juru sita dengan menggunakan surat kilat tercatat paling lama 7 hari sebelum proses persidangan pertama dilaksanakan (Pasal 8 ayat (2) UUPKPU).
7. Putusan kepailitan dari pengadilan mengenai permohonan pailit harus bisa dikabulkan jika ada fakta yang memang membuktikan jika persyaratan pailit sudah lengkap dan keputusan tersebut harus segera diucapkan, paling lambat selama 60 hari setelah tanggal pendaftaran (Pasal 8 UUPKPU).
8. Keputusan mengenai permohonan pailit ini harus memuat secara lengkap segala pertimbangan hukum yang mendasari keputusan tersebut lengkap dengan pendapat dari majelis hakim dan wajib diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum dan bisa dilakukan lebih dulu sekalipun pada putusan tersebut terdapat usaha hukum (Pasal 8 ayat (7) UUPKPU.
Secara singkat, tahapan proses beracara di Pengadilan Niaga diantaranya adalah:
1. Pendaftaran Permohonan Pernyataan Pailit 2. Jawaban Termohon
3. Pembuktian Para Pihak (Pengajuan Bukti)
4. Kesimpulan (tidak wajib, hanya jika kehendaki para pihak) 5. Putusan
Dalam praktek di Pengadilan Niaga, untuk kasus kepailitan maka Replik dan Duplik ditiadakan, namun terkadang dalam praktek dalam beberapa kasus di perkenankan oleh majelis hakim. Mengingat jangka waktu persidangan yang begitu singkat, maka tidak jarang sidang perkara kepailitan di laksanakan dua kali seminggu.
Selain perbedaan mengenai ketentuan jumlah kreditor, proses penyelesaian perkara, terdapat juga perbedaan mengenai pembuktian dalam penyelesaian perkara di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Niaga. Hukum Kepailitan mengenal adanya asas pembuktian sederhana.
Pembuktian sederhana ini terkait dengan tenggang waktu pemeriksaan terbatas, yaitu hanya 60 hari. Pembuktian sederhana” sebagaimana disebutkan Pasal 8 ayat (4) UU UUKPPU yang menyebutkan: “Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah dipenuhi.”
Merujuk pada ketentuan tersebut, jelas bahwa yang harus dibuktikan secara sederhana adalah syarat kepailitan dalam Pasal 2 ayat (1) UUKPKPU, yaitu:
1. Ada dua atau lebih kreditor. Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan. “Kreditor” di sini mencakup baik kreditor konkuren, kreditor separatis maupun kreditor preferen.
2. Ada utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih yang tidak dibayar lunas oleh debitor.
Artinya adalah ada kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena putusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase.
Penyelesaian perkara menurut hukum acara perdata, para pihak yang bersengketa secara aktif menyampaikan pendapatnya melalui eksepsi dan seterusnya. Tidak demikian halnya dengan hukum acara kepailitan di Pengadilan Niaga yang cenderung merupakan agenda para majelis memeriksa kesesuaian fakta-fakta yang menjadi dasar permohonan diajukannya kepailitan, dan apabila dapat dibuktikan secara sederhana permohonan itu sudah benar, maka
hakim wajib menetapkan debitor pailit. Oleh karena esensi dari hukum kepailitan adalah perlindungan menyeluruh, maka debitor yang telah berada dalam keadaan tidak mampu membayar, juga dapat secara sukarela mengajukan permohonan agar dinyatakan Pailit, sehingga selanjutnya hukum acara kepailitan yang akan berlaku untuk melindunginya dari tekanan dan ancaman para kreditornya. Dalam hal inilah terletak perbedaan yang hakiki dari konsep wanprestasi dalam hukum perjanjian dan konsep utang dalam hukum kepailitan, sehingga dalam hukum acara perdata, gugatan wanprestasi selalu diajukan oleh pihak kreditor kepada debitornya, dalam hal perjanjian timbal balik sekalipun, sedangkan dalam hukum acara kepailitan, baik kreditor maupun debitor dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit.
Hal lain yang diatur dalam proses penyelesaian perkara utang piutang di Pengadilan Niaga adalah adanya Kurator dan Hakim Pengawas. Standar Profesi Kurator dan Pengurus yang diterbitkan oleh Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI) menyebutkan bahwa Kurator adalah perseorangan atau persekutuan perdata yang memiliki keahlian khusus sebagaimana diperlukan untuk mengurus dan membereskan harta pailit dan telah terdaftar pada Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, sebagaimana dimaksud dalam UUKPKPU dan peraturan pelaksanaannya. Selanjutnya, di dalam Pasal 15 UUKPKPU dinyatakan bahwa:
“Dalam putusan pernyataan pailit, harus diangkat Kurator dan seorang Hakim Pengawas yang ditunjuk dari hakim Pengadilan”. Dalam hal Debitor, Kreditor, atau pihak yang berwenang mengajukan permohonan pernyataan pailit tidak mengajukan usul pengangkatan Kurator kepada Pengadilan maka Balai Harta Peninggalan diangkat selaku Kurator. Putusan Pernyataan Pailit dan Pengangkatan Kurator sifatnya ialah sidang terbuka untuk umum dan dapat dihadiri oleh siapa saja. Kurator yang akan mengurus dan membereskan harta debitor pailit diangkat oleh pengadilan atas permohonan debitor atau kreditor. Kurator juga tidak dapat ditunjuk jika terdapat conflict of interest (benturan kepentingan) didalamnya karena kurator haruslah independen dan tidak memihak. Pada penyelesaian perkara utang piutang di Pengadilan Negeri tidak diperlukan kurator.
Pihak pada proses penyelesaian utang piutang di Pengadilan Negeri hanya terdiri dari Tergugat dan Penggugat, sedangkan pihak dalam proses penyelesaian utang piutang di Pengadilan Niaga terdiri dari Pemohon dan Termohon. Berbeda halnya dengan gugatan di pengadilan negeri, permohonan pailit tidak hanya dapat dimohonkan oleh pihak kreditor saja, namun juga dapat dilakukan oleh debitor sendiri, Jaksa untuk kepentingan umum,. Bank Indonesia jika debitornya bank, Bapepam jika debitornya perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, dan lembaga penyimpanan dan penyelesaian, Menteri Keuangan jika debitornya perusahaan asuransi, reasuransi, dana pensiun, dan BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik.
Selain itu, dalam perkara kepailitan terdapat tiga macam kreditor yang perlu diketahui dan ketiga kreditor ini tidak dikenal dalam perkara utang piutang di Pengadilan Negeri. Tiga macam kreditor tersebut yaitu:
1. Kreditor Preferen, diartikan sebagai kreditur yang memiliki hak istimewa. Hak istimewa adalah hak kreditur untuk didahulukan daripada kreditur lainnya karena alasan yang sah menurut hukum seperti karena diperintahkan oleh undang-undang. Kreditur preferen yang memiliki hak istimewa berdasarkan perindah undang-undang adalah negara. Artinya, negara sebagai kreditur yang terlebih dahulu yang wahib didahulukan untuk mendapatkan pembayaran seperti kewajiban debitur untuk membayar pajak terlebih dahulu atau kewajiban lainnya yang harus dibayarkan kepada negara. Selain itu, biaya-biaya yang timbul dalam proses kepailitan seperti jasa kurator yang dapat diartikan sebagai tagihan yang perlu di dahulukan sebagaimana diatur dalam UU K-PKPU.
2. Kreditor Separatis, yaitu kreditor yang memegang hak jaminan seperti hak gadai, hak jaminan, hak hipotek dan hak-hak jaminan atas kebendaan lainnya. Kreditur separatis ini dapat dikasifi kasi sebagai berikut:
a. Pemegang Hak Gadai;
b. Pemegang Hak Fidusia;
c. Pemegang Hak Tanggungan;
d. Pemegang Hipotik Kapal;
Salah satu kelebihan dari kreditur separatis ini adalah dapat mengeksekusi objek jaminannya seolah-olah tidak terjadi kepailitan sebagaimana diatur dalam Pasal 55 ayat (1) UU K-PKPU. Selain itu, kelebihan kreditur separatis adalah mendapatkan pembayaran terlebih dahulu dari kreditur konkuren.
3. Kreditur Konkuren, yaitu kreditor yang tidak memegang hak jaminan namun memiliki hak untuk menagih debitur karena memiliki tagihan yang dapat ditagih terhadap debitur yang didasarkan pada perjanjian. Sebagai contoh, kreditur memiliki tagihan terhadap debitur yang didasarkan pada perjanjian utang piutang tanpa adanya jaminan (agunan).
Biasanya perjanjian yang dibuat antara kreditur dan debitur ini jumlahnya tidak besar, sehingga tagihannya pun kecil.
Setelah adanya putusan pengadilan Negeri pada perkara utang piutang, pihak yang tidak puas terhadap putusan tersebut dapat melakukan upaya hukum berupa banding di Pengadilan Tinggi, selanjutnya kasasi di Mahkamah Agung dan juga apabila masih belum puas serta memiliki bukti-bukti baru, dapat melakukan upaya hukum ke Mahkamah Agung. Upaya hukum dalam putusan pailit di Pengadilan Niaga adalah kasasi dan Peninjauan Kembali. Ketiadaan
upaya hukum melalui banding di Pengadilan Tinggi dikarenakan proses penyelesaian perkara kepailitan mengandung asas adil, cepat, terbuka dan efektif. Asas-asas tersebut dipengaruhi dari sistem pembuktian sederhana dalam proses kepailitan.
Sidang pemeriksaan atas permohonan pernyataan pailit diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Atas permohonan debitor dan berdasarkan alasan yang cukup, Pengadilan dapat menunda penyelenggaraan sidang sampai dengan paling lambat 25 hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Putusan Pengadilan atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan paling lambat 60 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan. Hal ini tentu saja berbeda dengan proses di Pengadilan Negeri yang tidak memiliki ketentuan harus berapa lama penyelesaian perkara tersebut dijatuhi putusan.
Kompetensi Absolut Pengadilan Niaga Dalam Memeriksa Dan Memutus Perkara Utang Piutang
Pengertian kepailitan menurut Pasal 1 angka 1 UUKPKPU dinyatakan sebagai suatu sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Namun, istilah PKPU tidak diberikan definisi tersendiri oleh UUKPKPU. Akan tetapi, rumusan pengaturan mengenai PKPU dalam UUKPKPU dapat dilihat bahwa PKPU adalah sebuah cara yang digunakan oleh debitor maupun kreditor dalam hal debitor atau kreditor menilai debitor tidak dapat atau diperkirakan tidak akan dapat lagi melanjutkan pembayaran utang-utangnya yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih. Dengan maksud agar tercapai rencana perdamaian (meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada kreditur) antara debitor dan kreditor agar debitor tidak perlu dipailitkan.9
Munir Fuady dalam bukunya yang berjudul Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek10 mengatakan bahwa yang dimaksud dengan penundaan pembayaran utang (Suspension of Payment atau Surseance van Betaling) adalah suatu masa yang diberikan oleh undang- undang melalui putusan hakim niaga di mana dalam masa tersebut kepada pihak kreditur dan debitur diberikan kesempatan untuk memusyawarahkan cara-cara pembayaran seluruh atau sebagian utangnya, termasuk apabila perlu untuk merestrukturisasi utangnya tersebut.
Utang didefiniskan dalam Pasal 1 Angka 6 UUKPKPU sebagai kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam jumlah mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau kontinjen,
9 Pasal 222 UUKPKPU jo. Pasal 228 ayat (5) UUKPKPU.
10 Munir Fuady, 2017, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 177.
yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan debitor. Memperhatikan rumusan Pasal 1 Angka 6 UUKPKPU tersebut, dapat dikatakan bahwa UUKPKPU menganut pengertian utang dalam arti yang sangat luas, karena utang menurut UUKPKPU singkatnya adalah setiap prestasi dari debitor. Terdapat perbedaan pengertian mengenai utang menurut UUK dan UUKPKPU. UUK memberikan pengertian utang dalam arti sempit karena berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UUK, utang yaitu utang pokok dan bunga yang hanya bersumber dari perjanjian utang piutang (perjanjian kredit).
Penyelesaian sengketa utang piutang, selain dapat dilakukan di Pengadilan Niaga, secara umum dapat dilakukan di Pengadilan Negeri. Penyelesaian utang piutang di Pengadilan Negeri dapat dilakukan atas dasar wanprestasi, dan para pihak yang ada dalam perkara tersebut hanya kreditor dan debitor. Hal yang membedakan penyelesaian utang piutang di Pengadilan Negeri.
Tujuan-tujuan dari hukum kepailitan adalah:11
a. Melindungi para kreditor konkuren untuk memperoleh hak mereka sehubungan dengan berlakunya asas jaminan, bahwa “semua harta kekayaan debitor baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang baru aka nada di kemudian hari, menjadi jaminan bagi perikatan debitor”;
b. Menjamin agar pembagian harta kekayaan debitor di antara para kreditor sesuai dengan asas pari passu (membagi secara proporsional harta kekayaan debitor kepada para kreditor konkuren berdasarkan pertimbangan besarnya tagihan masing-masing);
c. Mencegah agar debitor tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditor. Dengan dinyatakan seorang debitor pailit, maka debitor menjadi tidak lagi memiliki kewenangan untuk mengurus dan mengalihkan harta kekayaannya.
Putusan pailit memberikan status hukum dari harta kekayaan debitor berada di bawah sita umum;
d. Memberikan kesempatan kepada debitor dan para kreditornya untuk berunding dan membuat kesepakatan mengenai restrukturisasi utang-utang debitor.
Lembaga Kepailitan hadir dengan tujuan dan harapan. Penjelasan umum UUKPKPU mengemukakan mengenai beberapa faktor yang mendasari perlunya pengaturan mengenai kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang, yaitu:
11 Sutan Remy Sjahdeini, 2009, Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, CV Pustaka Utama Grafi ti Press, Jakarta, 2009, h. 29 – 31.
a. Untuk menghindari perebutan harta debitor apabila dalam waktu yang sama ada beberapa kreditor yang menagih piutangnya dari debitor;
b. Untuk menghindari adanya kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara menjual barang milik debitor tanpa memperhatikan kepentingan debitor atau para kreditor lainnya;
c. Untuk menghindari adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh salah seorang kreditor atau debitor sendiri. Misalnya, debitor berusaha untuk memberi keuntungan kepada seorang atau beberapa orang kreditor tertentu sehingga kreditor lainnya dirugikan, atau adanya perbuatan curang dari debitor untuk melarikan semua harta kekayaannya dengan maksud untuk melepaskan tanggung jawabnya terhadap para kreditor.
Pengadilan Niaga adalah pengadilan khusus yang berada pada Pengadilan Negeri yang bertugas memeriksa dan memutus perkara-perkara di bidang perniagaan, termasuk tetapi tidak terbatas pada perkara kepailitan. Pengadilan Niaga untuk pertama kali dibentuk pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berdasarkan Perpu No 1 Tahun 1998 yang telah ditetapkan menjadi UU No 4 Tahun 1998 yang kemudian diubah menjadi UU No. 37 Tahun 2004.
Pengadilan Niaga selanjutnya dibentuk pada Pengadilan Negeri Makasar, Surabaya, Semarang, dan Medan berdasarkan Kepres No 97 Tahun 1999.12 Dari seluruh wilayah nusantara, sekarang, telah terdapat 5 (lima) Pengadilan Niaga yang tersebar di lima wilayah yakni:
1. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan, dengan wilayah hukum: Propinsi Nangroe Aceh Darussalam; Propinsi Sumatera Utara; Propinsi Riau; Propinsi Sumatera Barat; Propinsi Bengkulu; Propinsi Jambi.
2. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta, dengan wilayah hukum: Propinsi DKI;
Propinsi Jawa Barat; Propinsi Banten; Propinsi Sumatera Selatan; Propinsi Lampung;
Propinsi Kalimantan Barat.
3. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang, dengan wilayah hukum: Propinsi Jawa Tengah; Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
4. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya, dengan wilayah hukum: Propinsi Jawa Timur; Propinsi Kalimantan Selatan; Propinsi Kalimantan Timur; Propinsi Kalimantan Tengah; Propinsi Bali; Propinsi Nusa Tenggara Barat; Propinsi Nusa Tenggara Timur.
5. Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makasar, dengan wilayah hukum: Propinsi Sulawesi Selatan; Propinsi Sulawesi Barat; Propinsi Sulawesi Tenggara; Propinsi Sulawesi Tengah; Propinsi Sulawesi Utara; Propinsi Gorontalo; Propinsi Maluku; Propinsi Maluku Utara; Propinsi Papua; Propinsi Papua Barat.
12 H. Heru Pramono, Ibid.,
Hak dan kewajiban Pengadilan Niaga diatur antara lain diatur menurut Pasal 300 ayat (1) UUKPKPU yaitu: “Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, selain memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang”. Berdasarkan pasal di atas maka terdapat 2 (dua) kewenangan yang melekat pada Pengadilan Niaga yaitu memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan memeriksa dan memutus perkara di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang misalkan mengenai masalah Hak Kekayaan Intelektual.
Hakim-hakim yang ada di Pengadilan Niaga adalah Hakim khusus yang mempunyai sertifikasi Hakim Niaga dan ditunjuk dengan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung.
Kewenangan dan kekuatan lembaga Kepailitan sifatnya adalah extraordinary judicial terhadap lembaga arbitrase, dimana maksudnya adalah ketentuan hukum kepailitan mengalahkan ketentuan hukum arbitrase sekalipun hal tersebut diatur di dalam Perjanjian yang merupakan dasar kesepakatan dari para pihak dalam suatu transaksi. Pasal 303 UUKPKPU menyatakan bahwa: “Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak yang terikat perjanjian yang memuat klausula arbitrase, sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang ini”.
Eksistensi Pengadilan Niaga, sebagai Pengadilan yang dibentuk berdasarkan Pasal 280 ayat (1) Perpu Republik Indonesia No. 1 tahun 1998 memiliki kewenangan khusus berupa yurisdiksi substansif eksklusif terhadap penyelesaian perkara kepailitan. Yurisdiksi substansif eksklusif tersebut mengesampingkan kewenangan absolut dari Arbitrase sebagai pelaksanaan prinsip pacta sunt servanda sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 1338 KUHPerdata dan telah memberikan pengakuan extra judicial atas klausula Arbitrase untuk menyelesaikan sengketa para pihak sebagaimana telah diperjanjikan. Oleh karena itu, Pengadilan Niaga tetap memiliki kewenangan memeriksa dan memutus walaupun dalam perjanjian telah disepakati cara penyelesaian sengketa melalui arbitrase.
Kewenangan Pengadilan Niaga mengandung kompetensi relatif dan kompetensi absolut.
Kompetensi relatif merupakan kewenangan atau kekuasaan mengadili antar Pengadilan Niaga.
Pengadilan Niaga sampai saat ini baru ada lima. Pengadilan Niaga tersebut berkedudukan sama di Pengadilan Negeri. Pengadilan Niaga hanya berwenang memeriksa dan memutus perkara pada daerah hukumnya masing-masing. Pasal 3 UUKPKPU menyatakan bahwa putusan atas permohonan pernyataan pailit diputus oleh Pengadilan Niaga yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum Debitur, apabila debitur telah meninggalkan wilayah
Negara Republik Indonesia, maka Pengadilan yang berwenang menjatuhkan putusan atas permohonan pernyataan pailit adalah Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum terakhir Debitur.
Kompetensi absolut merupakan kewenangan memeriksa dan mengadili antar badan peradilan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur tentang badan peradilan beserta kewenangan yang dimiliki.
Pengadilan Niaga merupakan pengadilan khusus yang berada di bawah Pengadilan umum yang diberi kewenangan untuk memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Selain itu, menurut Pasal 300 ayat (1) UUKPKPU, Pengadilan Niaga juga berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang. Perkara lain di bidang perniagaan ini misalnya, tentang gugatan pembatalan paten dan gugatan penghapusan pendaftaran merek. Kedua hal tersebut masuk ke dalam bidang perniagaan dan diatur pula dalam undang-undang yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek. Dengan kompetensi absolut ini maka hanya Pengadilan Niaga sebagai satu-satunya badan peradilan yang berhak memeriksa dan memutus perkara-perkara tersebut.
Terdapat beberapa argumentasi yuridis mengenai kewenangan absolut yang ekslusif dalam persoalan kepailitan, yaitu:13
1. Undang-Undang Kepailitan merupakan lex specialis dari Undang-Undang Arbitrase.
Dalam Undang-Undang Kepailitan secara tegas dinyatakan bahwa Pengadilan Niaga merupakan satu-satunya pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara kepailitan dan PKPU. Ketentuan ini merupakan ketentuan yang memaksa (aanvullenrechts) dan tidak dapat dikesampingkan oleh para pihak dengan mencantumkan klasula arbitrase.
2. Undang-undang juga tidak memberikan pilihan hukum dalam permohonan kepailitan selain daripada kewenangan Pengadilan Niaga sebagai pengadilan khusus, dan tentang kewenangan mengadili kepailitan tersebut, Pengadilan Niaga tidak tunduk pada pilihan hukum dan kewenangan yang diatur dalam perjanjian.
Adapun Sengketa Niaga yang termasuk kompetensi absolut Pengadilan Niaga dapat diartikan sebagai:14
13 M. Hadi Subhan, 2008, Hukum Kepailitan “Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan”, Kencana, Jakarta, h. 343.
14 Annalisa Yahanan, 2007, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, UNSRI, Palembang, h. 19.
1. Sengketa yang tidak termasuk kompetensi absolut Pengadilan Negeri, Peradilan Agama, Peradilan Militer, Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Anak-anak, Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN);
2. Sengketa antara orang-orang yang beragama Islam, mengenai nikah, talak, rujuk, perceraian, perwalian, warisan, wakaf;
3. Sengketa mengenai status perorangan termasuk warisan yang diatur dalam KUHPerdata;
4. Sengketa yang berhubungan dengan perjanjian dimana para pihak telah membuat perjanjian arbitrase tertulis yaitu para pihak telah membuat kesepakatan tentang cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum. Menurut ketentuan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menyatakan bahwa Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian atbitrase. Namun, ketentuan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa tidak sinkron dengan UndangUndang Kepailitan yang justru berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak yang terikat perjanjian yang memuat klausula arbitrase.
Pemindahan kewenangan absolut dari Pengadilan Umum kepada Pengadilan Niaga menunjukkan adanya perubahan kewenangan dalam hal memeriksa dan mengadili antar badan peradilan, selain itu juga adanya faktor dikarenakan Pengadilan Niaga merupakan pengadilan khusus yang berada di bawah Pengadilan Umum yang diberi kewenangan untuk memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Pengadilan Niaga merupakan peradilan khusus yang menyelesaikan masalah kepailitan secara umum Berdasarkan Penjelasan Pasal 15 ayat 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 menjelaskan mengenai hal yang dimaksud dengan pengadilan khusus.
Peradilan Niaga adalah suatu pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum yang dibentuk dan bertugas menerima, memeriksa, memutuskan permohonan pailit dan penundaan pembayaran utang yang penempatannya dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah. Pembentukkan Pengadilan Niaga ini merupakan langkah diferensial atas Peradilan Umum, yang dibolehkan pembentukkannya berdasarkan undang-undang yang berlaku pada saat itu yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman. Dalam kedua Undang-Undang tersebut, Peradilan Khusus yang disebut adalah Pengadilan Niaga tersebut akan khusus bertugas menangani permintaan pernyataan pailit.
Selanjutnya pada ketentuan Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 Tentang
Perubahan kedua atas UndangUndang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum menyatakan bahwa lingkungan Peradilan Umum dapat dibentuk Pengadilan Khusus yang diatur dengan undang-undang.
PENUTUP
Perbedaan proses penyelesaian perkara utang piutang melalui Pengadilan Negeri dan Pengadilan Niaga terletak pada jangka waktu. Proses penyelesaian di Pengadilan Niaga diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Putusan Pengadilan atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan paling lambat 60 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan. Hal berbeda dengan proses di Pengadilan Negeri yang tidak memiliki ketentuan berapa lama penyelesaian perkara tersebut dijatuhi putusan.
Kompetensi absolut Pengadilan Niaga dalam memeriksa dan memutus perkara utang piutang diatur dalam Pasal 300 ayat (1) UUKPKPU. Dengan kompetensi absolut ini maka hanya Pengadilan Niaga sebagai satu-satunya badan peradilan yang berhak memeriksa dan memutus perkara perniagaan, termasuk perkara utang piutang (kepailitan).
DAFTAR BACAAN
Buku
A, Rudhy Lontoh, et.al., 2001, Penyelesaian Utang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni, Bandung.
Fuady, Munir, 2017, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Hadi, M. Subhan, 2008, Hukum Kepailitan “Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan”, Kencana, Jakarta.
M, Syamsudin Sinaga, 2012, Hukum Kepailitan Indonesia, Tatanusa, Jakarta.
Mertokusumo, Sudikno, 2002, Hukum Acara Perdata Indonesia, Edisi Keenam, Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Muljadi, Kartini dan Widjaja, Gunawan, 2003, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, Raja Grafi ndo Persada, Jakarta.
Remy, Sutan Sjahdeini, 2009, Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, CV Pustaka Utama Grafi ti Press, Jakarta.
Soedewi, Sri Masjchoen Sofwan, 1989, Hukum Perdata-Hukum PerUtangan, Bagian A, Seksi Hukum Perdata UGM, Yogyakarta.
Soekanto, Soerjono, 1979, Mengenal Antropologi Hukum, Penerbit Alumni, Bandung.
Yahanan, Annalisa, 2007, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, UNSRI, Palembang.
Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Herziene Indonesisch Reglement (HIR).
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang tentang Kepailitan Menjadi Undang-Undang.
Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penangguhan Pembayaran Utang.
Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang kekuasaan Kehakiman.
Sumber lainnya
H. Heru Pramono, Hukum Acara Dalam Kepailitan dan Hubungan Antara Kurator dan Hakim Pengawas, Makalah disampaikan pada Pendidikan Kurator dan Pengurus AKPI Angkatan XIX di Hotel Harris Tebet, November 2012.