• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Belajar Mengajar a. Pengertian Belajar

Menurut Tim Penyusun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:14), “Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”.

Sehingga belajar tidak bisa lepas dari usaha atau proses pembelajaran itu sendiri. Proses ini merupakan suatu proses dari yang tidak tahu sampai seseorang memperoleh pengetahuan tertentu.

Selain itu belajar bukan hanya sekedar menghafal dan mengingat.

Menurut Nana Sudiana (2000:28), “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang”. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu.

Sedangkan menurut Witherington dalam Ngalim Purwanto (1995:84),

“Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”.

Menurut Chaplin dalam Muhibbin Syah (2004:90), belajar dibatasi dalam dua rumusan yaitu, “Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman”. Sedangkan rumusan yang kedua yakni, “Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus”.

Sedang menurut Reber dalam Muhibbin Syah (2004:91), ia membatasi definisi belajar dalam dua macam yakni, “Belajar adalah proses memperoleh pengetahuan”, dan “Belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat”.

9

(2)

commit to user

Sehingga dari beberapa pengertian belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses memperoleh pengetahuan yang ditandai dengan perubahan yang terjadi dalam diri seseorang dari hal yang tidak tahu menjadi tahu yang mana perubahan tersebut bersifat menetap yang diperoleh dari akibat latihan dan pengalaman.

b. Pengertian Mengajar

Persoalan yang sering muncul adalah bagaimana cara guru mengembangkan dan menciptakan serta mengatur situasi yang memungkinkan siswa melakukan proses belajar sehingga bisa berubah tingkah lakunya dalam proses belajar. Persoalan ini menyangkut masalah mengajar, yakni kegiatan dan pekerjaan yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran.

Sehingga mengajar bukan hanya menyampaikan sesuatu hal, melainkan melibatkan kognitif siswa atau peserta didik. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mulyani Sumantri dan H. Johar Permana (2001:54), mereka menerangkan bahwa, “Mengajar adalah penciptaan lingkungan dimana struktur kognitif siswa dapat terbentuk dan berubah”. Tujuan mengajar adalah menyediakan pernyataan belajar yang memungkinkan siswa untuk mempraktekkan operasi tertentu. Dalam pengalaman belajar ini siswa harus berperan aktif menemukan sendiri secara induktif. Kepada anak harus diberikan kesempatan yang ekspensif untuk memanipulasikan lingkungan.

Sedangkan menurut Nana Sudjana (2000:28), “Mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yakni suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar”.

Selanjutnya Oemar Hamalik (1992:58) juga menyatakan bahwa,

“Mengajar adalah menyampaikan proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan kepada siswa”.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan kepada siswa dengan cara mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitarn

(3)

commit to user

siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.

2. Prestasi Belajar Matematika a. Pengertian Prestasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:787) kata prestasi mempunyai pengertian, “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan/dikerjakan dan sebagainya)”.

Sehingga dapat dikatakan bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan sebaik-baiknya dalam suatu hal tertentu.

b. Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:787) dikatakan bahwa,

“Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”.

Berdasarkan dari uraian di atas, prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil usaha yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar, yaitu adanya suatu perubahan pada diri siswa berupa perkembangan pengetahuan baru yang ditunjukkan dengan hasil berupa nilai.

c. Pengertian Matematika

Matematika merupakan salah satu bidang dalam ilmu pengetahuan.

Matematika timbul dari pemikiran manusia yang berhubungan dengan penalaran seseorang. Menurut Tim Penyusun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:637) menyatakan bahwa, “Matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaiaan masalah mengenai bilangan”.

Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten.

(4)

commit to user

Namun demikian, pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika.

Dari pengertian di atas, bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dan memakai penalaran dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

d. Pengertian Prestasi Belajar Matematika

Berdasarkan pengertian prestasi belajar dan matematika yang telah diuraikan di atas dapat dikatakn bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam mengikuti pelajaran matematika yang mengakibatkan perubahan pada diri seseorang berupa penguasaan dan kecakapan baru yang ditunjukkan dengan hasil berupa nilai dari suatu tes.

3. Pendekatan Pembelajaran a. Pendekatan Kontekstual

Pengertian Pembelajaran Kontekstual Menurut Nurhadi (2002:1) pengertian pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebagai berikut:

“Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat”.

Dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual ini sangat ditekankanpentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran dan pendekatan ini juga mengutamakan keterampilan berpikir siswa dan kemampuan dalam pemecahan masalah.

Dengan pendekatan konteksual, proses pembelajaran yang terjadi bukan hanya sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa tetapi siswa belajar dalam bentuk kegiatan bekerja dan mengalami. Peranan guru dalam hal ini adalah mengarahkan siswa membuat hubungan antara apa yang

(5)

commit to user

mereka pelajari disekolah dan bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sesungguhnya, sehingga siswa dapat memahami bahwa apa yang mereka pelajari adalah penting dan bermanfaat bagi dirinya. Pola pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran tradisional yang kita kenal selama ini. Beberapa perbedaan tersebut dapat kita gambarkan dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.1 Perbedaan Pendekatan

Pendekatan Kontekstual Pendekatan Tradisional 1. Siswa secara aktif terlihat

dalam proses pembelajaran.

2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi.

3. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa.

4. Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan

mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing.

1. Siswa dalam menerima infromasi secara pasif.

2. Siswa belajar secara individu.

3. Rumus itu ada diluar diri siswa yang harus diterangkan,

diterima, dihafalkan dan dilatih.

4. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.

Dalam pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) terdapat tujuh komponen yang mendasari dalam proses pembelajaran, yaitu :

1) Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme (Constructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong (Nurhadi, 2002:10-11). Dalam hal ini pemahaman dibangun oleh diri

(6)

commit to user

siswa sendiri dari pengalaman-pengalaman baru yang merupakan pengalaman awal mereka dan kemudian dikembangkan lebih dalam melalui pengalaman belajar bermakna “Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.” (Nurhadi, 2002: 11). Siswa aktif terus menerus mengkonstruksi pengetahuan sehingga sealu terjadi perubahan konsep yang lebih rinci dan lengkap.

Adapun tahapan-tahapan konstruktivisme adalah :

1. Siswa membangun konsep sederhana dari apa yang ia amati dan dialami dalam kehidupan sehari-hari.

2. Siswa menghubungkan konsep sederhana yang ia peroleh dengan pengetahuan yang diperoleh saat pembelajaran.

3. Siswa dapat mengkonstruksikan konsep yang lebih rinci dari yang ia alami dengan pengetahuan yang diperoleh.

2) Menemukan (inquiry)

Dalam kegiatan pembelajaran berbasis CTL, guru harus selalu merancang kegiatan yang mengacu pada kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkannya (Nurhadi, 2002:12). Dengan demikian siswa diharapkan dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan menemukan sendiri, bukan sekedar mengingat fakta-fakta melalui kegiatan inkuiri, siswa dapat mengembangkan dan menggunakan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Dalam rangka untuk memahami suatu konsep, inkuiri memilih siklus yang terdiri dari kegiatan observasi (mengamati), bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data dan menyimpulkannya (Nurhadi, 2002).

Adapun tahapan-tahapan inkuiri adalah :

1. Siswa mengamati hal-hal yang ada disekitarnya dan perjalanan yang pernah ia alami terutama berhubungan dengan bangun ruang sisi datar.

(7)

commit to user

2. Siswa dapat menghubungkan antara materi yang ia pelajari dengan apa yang telah ia alami dan amati dalam kehidupan sehari-hari.

3. Siswa mengadakan observasi sehingga dapat menyimpulkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan hal nyata yang ada disekitarnya.

3) Bertanya (Questioning)

Kegiatan bertanya dalam pembelajaran digunakan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.

Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang beum diketahuinya (Nurhadi, 2002). Ketika siswa belajar, berdiskusi atau bekerja dalam kelompok, siswa akan terdorong untuk melakukan kegiatan bertanya antara siswa dengan siswa maupun bertanya antara siswa dengan guru dan sebagainya

4) Masyarakat Belajar (Learning community)

Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar memberikan informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya (Nurhadi, 2002). Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa belajar, bekerjasama dan berbagi pengalaman dengan orang lain daripada bekerja sendiri. Pembentukan kelompok belajar pada pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk dari masyarakat belajar.

5) Pemodelan (Modeling)

Dalam sebuah pembelajaran, untuk mengajarkan keterampilan atau pengetahuan tertentu selalu ada model yang dapat diamati dan ditiru oleh siswa. Guru dapat menjadi model dalam pembelajaran dengan cara demonstrasi atau memberi contoh atau menunjukkan cara

(8)

commit to user

mengerjakan sesuatu kepada siswa sehingga apa yang telah dilakukan guru tersebut dapat ditiru oleh siswa. Dengan melakukan pemodelan, guru telah menunjukkan kepada siswa bagaimana cara belajar. Tetapi dalam pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning, guru bukan satu-satunya model (Nurhadi, 2002). Pemodelan dapat dilakukan dengan melibatkan siswa, orang yang ahli dalam materi yang dipelajari, atau dengan cara menunjukkan contoh karya siswa atau benda-benda yang berhubungan dengan cara pembuatan tugas dari suatu materi dan sebagainya.

6) Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa lalu (Nurhadi, 2002:18). Refleksi ini sebagai respon terhadap kegiatan atau yang baru diterima siswa. Guru meminta siswa melakukan refleksi pada akhir pembelajaran dengan mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru dalam bentuk pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu atau kesan dan saran siswa menganai pembelajaran hari itu.

7) Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)

Untuk menentukan kualitas unjuk kerja siswa, guru biasanya melakukan penilaian atau assessment. Menurut Nurhadi (2002:19),

“Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa”. Jika data yang dikumpulkan diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran, maka penilaian tersebut merupakan penilaian autentik. Penilaian autentik digunakan untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Proses dan produk dua-duanya dapat diukur, tidak hanya dengan tes tetapi penilaian dapat dilakukan dengan berbagai cara.

(9)

commit to user

4. Model Pembelajaran a. Model Pembelajaran Konvensional

Menurut Tim penyusun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999:

523), “Konvensional adalah tradisional”, sedangkan “ Tradisional diartikan sebagai sikap dan cara berfikir dan bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaa yang ada secara turun menurun”.

Dalam pembelajaran, model konvensional yang biasa dipakai oleh guru dalam mengajar adalah metode ceramah ataupun metode ekspositori.

Langkah-langkah dalam model konvensional:

1) Pembukaan

Kegiatan pembukaan dalam proses pembelajaran dengan model konvensional adalah guru memberi salam dan menerangkan tentang materi yang akan dipelajari.

2) Kegiatan Inti

Kegiatan inti pembelajaran dalam model konvensional adalah berupa penjelasan materi yang terkait dari guru. Penyampaian materi ini dilakukan guru dengan berceramah atupun ekspositori. Umumnya pertama guru menuliskan materi di papan tulis dan selanjutnya menjelaskan materi tersebut dengan cara berceramah. Dapat pula selanjutnya guru memberi latihan soal-soal sekadarnya.

3) Penutup

Guru menutup pembelajaran di dalam kelas tersebut.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang biasa dipakai guru pada umumnya yaitu melalui metode ceramah atupun metode ekspositori.

b. Model Pembelajaran Kooperatif

Nurhadi (2004:113) berpendapat bahwa “Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”. Pembelajaran ini

(10)

commit to user

memungkinkan siswa belajar dan bekerja sama untuk mencapai pada pengalaman yang optimal, baik yang berupa pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pengalaman tersebut muncul karena siswa memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan tentang masa depan yang berbeda-beda dalam satu kelompok atau kelompok lainnya.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Elemen-elemen tersebut adalah :

1) Saling ketergantungan positif

Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan sehingga muncul kerja sama diantara mereka.

2) Interaksi tatap muka

Interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling tatap muka dalam kelompok sehingga mereka dapat berdialog secara langsung. Interaksi semacam itu sangat penting karena siswa merasa lebih mudah belajar dari sesamanya.

3) Akuntabilitas individual

Akuntabilitas individual yaitu penilaian kelompok yang didasarkan atas rata-rata penguasan semua anggota kelompok secara individual.

Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok.

Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, karena itu tiap anggota kelompok harus memberikan sumbangan demi kemajuan kelompok.

4) Ketrampilan menjalin hubungan antar pribadi

Ketrampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. (Nurhadi, 2004: 112).

Terdapat enam fase utama dalam pembelajaran kooperatif (Arends, 1997: 113). Adapun fase-fase pembelajaran kooperatif tersebut sebagai berikut:

(11)

commit to user

1. Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

2. Fase 2 : Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

3. Fase 3 : Mengorganisasikan siswa dalam kelompok - kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

4. Fase 4 : Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

5. Fase 5 : Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

6. Fase 6 : Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Menurut Nurhadi (2004:116) model pembelajaran kooperatif dikelompokkan menjadi 4 macam :

1. Tipe STAD (Student Team Achievement Division) 2. Tipe Jigsaw

3. Tipe GI (Group Investigastion) 4. Tipe struktural

Dalam penelitian ini akan digunakan model pembelajaran kooperatif tipe struktual yaitu Think Pair Share (TPS)

c. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)

Dalam pembelajaran kooperatif terdapat empat pendekatan yang bisa digunakan oleh guru dalam mempersiapkan diri mengajar suatu

(12)

commit to user

pelajaran, dan menurut Ibrahim dkk (2000) bahwa memilih pendekatan merupakan salah satu tugas perencanaan dan keputusan yang unik yang dibutuhkan oleh guru. Terdapat empat pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan yaitu STAD (Student Teams Acheicement Division), Jigsaw, Investigasi Kelompok, dan Pendekatan Struktural.

Think pair share merupakan salah satu tipe dari pendekatan struktural yang ada dalam pembelajaran kooperatif, selain NHT (Numbered Head Together). Menurut Ibrahim dkk (2000):26), TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Selain itu menurut W.Gulo (2002:131), interaksi dalam kelompok dipengaruhi juga oleh banyaknya anggota dalam kelompok, makin besar kelompok, makin kurang intensif interaksi, dan makin lama kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, pendekaan struktural tipe think pair share ini dipilih untuk diterapkan dalam penelitian ini.

Dalam model pembelajaran kooperatif tipe think pair share, siswa dikelompokkan secara berpasangan untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe think pair share adalah sebagai berikut :

Tahap-1 : Thinking (Berpikir)

Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berkaitan dengan pelajaran dan meminta siswa untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

Tahap-2 : Paring (Berpasangan)

Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Pada tahap ini siswa dapat berbagi jawaban terhadap pertanyaan yang telah diajukan dan saling bertukar ide terhadap persoalan khusus yang telah diidentifikasi oleh masing-masing siswa sehingga pada akhirnya mereka dapat menentukan

(13)

commit to user

kesepakatan. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.

Tahap-3 : Sharing (Berbagi)

Guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas apa yang telah mereka diskusikan. Ini efektif dilakukan secara bergiliran pasangan demi pasnagan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share ini memiliki beberapa kelebihan seperti yang dijelaskan Ibrahim dkk (2000).

Pembelajaran ini memberikan lebih banyak waktu kepada siswa untuk berpikir dan saling membantu dalam menuntaskan materi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran ini juga dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran ini juga dapat membantu meningkatkan hubungan yang lebih baik diantara siswa, juga secara bersamaan dapat meningkatkan kemampuan akademik siswa.

Selain memiliki kelebihan, tentu saja pembelajaran kooperatif tipe think pair share juga memiliki kelemahan, antara lain memerlukan biaya dan waktu yang relatif banyak dan apabila banyak siswa dalam kelas sangat besar, maka guru akan kesulitan dalam membimbing siswa secara keseluruhan. Untuk mengantisipasi dan mangatasi kelemahan tersebut, guru perlu melakukan persiapan dan pengelolaan waktu yang tepat, dalam mengamati kegiatan belajar dalam kelompok, guru supaya melakukan secara bergantian tiap kelompok dan meminta pada siswa untuk mengangkat tangan apabila mengalami kesulitan dalam belajar kelompok.

5. Aktivitas Belajar

Aktivitas sangat diperlukan dalam belajar, karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat sesuatu untuk mengubah tingkah laku. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(1997 : 17). ”Aktivitas berarti keaktifan, kegiatan atau kesibukan.”

(14)

commit to user

Pendapat yang dikemukakan oleh Rousseau dalam (Sardiman A.M, 2003 : 96) memberikan penjelasan bahwa ”Dalam Kegiatan belajar mengajar segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri, baik secara rohani, maupun teknis.” Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang yang belajar harus aktif sendiri, tanpa adanya aktivitas maka proses belajar tidak mungkin terjadi. Pendapat serupa dikemukakan oleh J. Dewey (dalam Sardiman A. M, 2003 : 97) yang mengatakan bahwa, ”Belajar adalah berbuat, learning by doing”. Dia juga mengemukakan bahwa sekolah harus dijadikan tempat kerja.

Oemar Hamalik (2003: 91) berpendapat bahwa manfaat aktivitas dalam pembelajaran antara lain:

a. Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.

b. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi.

c. Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan para siswa yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok.

d. Siswa belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan sendiri, sehingga sangat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan individual.

e. Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokratis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.

Membina dan memupuk kerjasama antar sekolah dan masyarakat, dan hubungan antar guru dan orang tua siswa, yang bermanfaat dalam pendidikan siswa.

Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas tidak hanya cukup mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisional. Paul B. Diedrich (dalam Sardiman A. M. 2003 : 101) membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa antara lain dapat digolongkan sebagai berikut :

a. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, dan pekerjaan orang lain.

b. Oral activities, misalnya menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, dan interupsi.

(15)

commit to user

c. Listening activities misalnya mendengarkan : uraian, percakapan, diskusi, musik, dan pidato.

d. Writing activities contohnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, dan menyalin.

e. Drawing activities misalnya menggambar, membuat grafik, peta, dan diagram.

f. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain : melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, dan beternak.

g. Mental activities, sebagai contoh menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, dan mengambil keputusan.

h. Emotional activities, sebagai contoh menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang dan gugup.

Dalam penelitian ini aktivitas belajar siswa yang dimaksud hanya meliputi kegiatan bertanya, diskusi, mengambil keputusan, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, berargumentasi, mengungkapkan gagasan mencatat materi pelajaran, mendengarkan, mengerjakan soal dan mempelajari kembali catatan matematika.

6. Tinjauan Materi Luas Permukaan dan Volume Bangun Ruang Sisi Datar

a. Luas Permukaan Bangun Ruang Sisi Datar

Luas suatu bangun ruang adalah jumlah luas seluruh permukaan sisi bangun tersebut, dengan demikian untuk menentukan luas perlu diketahui :

1. Banyaknya sisi pada bangun tersebut.

2. Bentuk dari masing-masing sisi (bidang).

Kemudian digunakan berbagai rumus luas bangun datar, baik luas persegi, persegi panjang, segitiga dan sebagainya.

(16)

commit to user

Tabel 2.2 Rangkuman Rumus Luas Permukaan Bangun Ruang

b. Volume Bangun Ruang Sisi Datar

Volume suatu bangun ruang adalah hasil kali dari luas alas bangun ruang dengan tinggi bangun ruang tersebut. Khusus untuk limas, volumenya adalah sepertiga dari hasil kali dari luas alas limas dengan tinggi limas.

Tabel 2.3 Rangkuman Rumus Volume Bangun Ruang

No Bangun Ruang Rumus Luas Permukaan Keterangan 1 Kubus Luas Permukaan Kubus

= 6×( s × s )

= 6 × s2

= 6s2

s = panjang rusuk kubus

2 Balok Luas Permukaan Balok

= 2 × ( p×l + p×t + l×t )

= 2×( pl + pt + lt)

= 2 ( pl + pt + lt )

p = panjang balok l = lebar balok t = tinggi balok

3 Prisma Luas Selimut Prisma

= Keliling Alas × Tinggi Luas Permukaan Prisma

= 2 × A + Luas Selimut

=2A + Luas Selimut

A = Luas alas prisma

4 Limas Luas Permukaan Limas

= A + Jumlah luas segitiga pada sisi tegak

A = Luas alas limas

No Bangun Ruang Rumus Volume Keterangan

1 Kubus Volume Kubus

= s × s × s

= s3

s = panjang rusuk kubus

(17)

commit to user B. Kerangka Berpikir

Salah satu indikator bahwa seseorang telah mengalami proses belajar adalah dengan adanya prestasi. Bahkan prestasi dianggap sebagai indikator keberhasilan proses belajar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar antara lain pemilihan model pembelajaran dan aktivitas belajar siswa.

1. Kaitan antara Model Pembelajaran dan Prestasi Belajar Matematika Siswa

Dalam pembelajaran matematika guru harus dapat memilih model pembelajaran yang tepat agar penguasaan materi konsep yang disampaikan ke siswa dapat dipahami dengan baik. Model pembelajaran matematika yang digunakan selama ini adalah model pembelajaran konvensional dimana siswa hanya duduk diam mendengarkan ketika guru mengajar. Dalam model pembelajaran konvensional siswa hanya menunggu informasi yang disampaikan oleh guru. Guru sangat mendominasi sekali dalam proses pembelajaran akan tetapi kurang adanya keterlibatan siswa dalam proses belajar. Dengan proses belajar yang seperti ini siswa tidak mempunyai pengalaman sendiri untuk lebih

2 Balok Volume Balok

= p × l × t

= plt

p = panjang balok l = lebar balok t = tinggi balok 3 Prisma Volume Prisma

= A×t

= At

A = luas alas prisma t = tinggi prisma

4 Limas Volume Limas

=3

1 × A × t

= 3 1At

A = luas alas limas t = tinggi limas

(18)

commit to user

menguasai konsep materi. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat memilih model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, meningkatkan kemampuan individual siswa serta dapat mengarahkan siswa untuk bekerja sama. Sehingga apabila ada kesulitan dalam pemahaman konsep atau kesulitan dalam memecahkan soal siswa dapat mendiskusikannya.

Siswa kurang menguasai konsep materinya dan siswa tidak ikut aktif dalam proses pembelajaran dan terkadang siswa hanya mengorganisir sendiri apa yang diperolehnya tanpa mengkomunikasikannya dengan siswa lain karena guru menggunakan model pembelajaran konvensional. Untuk mengatasi hal tersebut guru mencoba menggunakan model pembelajaran kooperatif think pair share dengan pendekatan kontekstual. Melalui pendekatan ini, siswa diberi kesempatan untuk berpikir secara individu terlebih dahulu mengenai permasalahan yang diberikan. Akan tetapi jika merasa kesulitan siswa pun diarahkan untuk bekerja sama. Diskusi dalam kelompok kecil ini dilakukan untuk membahas permasalahan–permasalahan dimana siswa tidak mampu untuk menyelesaikannya sendiri. Sehingga diharapkan model pembelajaran think pair share dengan pendekatan kontekstual dapat menghasilkan prestasi belajar matematika pada luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar yang lebih baik dibandingkan menggunakan model pembelajaran konvensional.

2. Kaitan Aktivitas Belajar Matematika terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa. Jadi, penggunaan model pembelajaran yang bervariasi dan tepat serta didukung oleh adanya aktivitas belajar yang optimal pada diri siswa kemungkinan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa pada materi luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar.

Sedangkan bagi siswa yang aktivitas belajarnya sedang, model ini kurang begitu tepat untuk mereka. Karena dengan aktivitas yang sedang atau biasa-biasa saja, ia lebih mampu menerima pelajaran langsung dari guru seperti biasanya

(19)

commit to user

dibandingkan dengan dari hasil diskusi bersama teman-temannya dalam suatu kelompok tertentu yang terkesan rumit dan membingungkan bagi mereka. Atau mungkin, dengan pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang suasananya santai, ia justru tidak bisa fokus terhadap pelajaran yang sedang berlangsung dengan bekal aktivitas terhadap pelajaran yang sedang-sedang saja. Namun bagi siswa yang memiliki aktivitas belajar rendah, model ini akan membantu mereka untuk dapat berdiskusi dengan kelompoknya untuk pemecahan permasalahan dalam soal karena mereka dapat berdiskusi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Didukung dengan suasana yang nyaman dan menyenangkan maka iapun akan merasa lebih betah dalam pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga tingkat pemahaman merekapun dapat meningkat. Namun hal ini mungkin membuat siswa dengan aktivitas belajar sedang ataupun rendah menjadi tergantung dengan siswa lain sehingga pada saat evaluasi, prestasi yang diperoleh menjadi kurang optimal. Atau dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan model pembelajaran dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika, khususnya dalam kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang terkait dengan materi luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar.

3. Kaitan Model Pembelajaran dan Aktivitas Belajar Matematika terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa

Di sekolah seorang guru berperan sangat penting untuk dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan, dengan model pembelajaran konvensional ternyata aktivitas tidak muncul secara maksimal karena pembelajaran berpusat pada guru pada prinsipnya belajar merupakan berbuat atau melakukan. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung tidak hanya mendengarkan dan mencatat saja. Bertanya pada teman saat diskusi, berani mengemukakan pendapat, dan aktivitas lainnya baik secara mental, fisik, dan sosial sehingga siswa dapat menggunakan berbagai cara sesuai dengan daya kreatif mereka untuk memecahkan masalah tersebut, sehingga sebagian tujuan pembelajaran matematika terpenuhi.

(20)

commit to user

Menelaah dari permasalahan diatas, salah satu alternatif yang mungkin dapat membantu adalah pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan pendekatan kontekstual , yang diharapkan dapat menjangkau semua tingkat kemampuan siswa serta didukung aktivitas belajar sehingga membantu dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa pada materi luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar.

C. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

1. Siswa yang diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan pendekatan kontekstual menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang diberi pembelajaran dengan model konvensional pada materi luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar.

2. Prestasi belajar matematika siswa dengan aktivitas belajar tinggi lebih baik jika dibandingkan dengan aktivitas belajar sedang dan siswa dengan aktivitas belajar sedang memiliki prestasi belajar yang lebih baik dari pada siswa dengan aktivitas belajar rendah.

3. Siswa dengan aktivitas belajar tinggi jika diberi model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan pendekatan kontekstual akan menghasilkan prestasi belajar yang sama jika dibandingkan dengan diberi model pembelajaran konvensional. Sedangkan siswa dengan aktivitas belajar sedang dan rendah jika diberi model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan pendekatan kontekstual akan menghasilkan prestasi belajar lebih baik jika dibandingkan dengan diberi model pembelajaran konvensional.

Referensi

Dokumen terkait

Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan metode prospektif agar peneliti dapat mengamati secara langsung kondisi pasien dan terapi obat yang diberikan

Lokasi yang digunakan untuk melakukan penelitian adalah Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Mengenai kondisi letak geografis Desa Tanah Towa

 pengembangan kawasan industri dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ekologis.  pengembangan kawasan industri harus didukung oleh adanya jalur hijau sebagai

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh keputusan investasi, keputusan pembiayaan, kebijakan dividen dan tingkat suku bunga terhadap nilai

Akun Pembelajaran merupakan akun elektronik dengan domain belajar.id yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan dapat digunakan oleh peserta didik,

Evaluasi pelaksanaan pembelajaran oleh dosen adalah dengan mengevaluasi SAP, Silabus serta bahan ajar, adapun kendala dalam pelaksanaan pendidikan karakter pada FKIP Uniska

pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, iklim kelas, dan

Pada Gambar 4, terlihat juga bahwa puncak Raman untuk SiC-TO bergeser menuju bilangan gelombang yang lebih pendek ketika temperatur deposisi dinaikkan dari 750