• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Mengapa kita berkomunikasi? Apakah komunikasi bagi manusia? Pertanyaan ini begitu luas, bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga tidak mudah kita jawab. Para pakar selama ini lebih fasih membahas “Bagaimana berkomunikasi” dari pada “Mengapa kita berkomunikasi”. Dari perspektif agama, secara gampang kita bisa menjawab bahwa Tuhan- lah yang mengajari kita berkomunikasi, dengan menggunakan akal dan kemampuan berbahasa yang dianugerahkan-Nya kepada kita.

Dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rahman ayat 1 – 4 yang berbunyi:

ß≈oΗ÷q§9$#

∩⊇∪

zΝ¯=tæ

tβ#uöà)ø9$#

∩⊄∪

šYn=y{

z≈|¡ΣM}$#

∩⊂∪

çµyϑ¯=tã

tβ$u‹t6ø9$#

∩⊆∪

Artinya “Tuhan yang maha pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, yang mengajarinya pandai berbicara.” ( QS. Ar-Rahman:1-4)

Komunikasi merupakan istilah yang sangat popular terdengar sekarang ini, meskipun sebenarnya manusia boleh dikatakan hampir tidak mungkin hidup tanpa berkomunikasi.

Penyampaian komunikasi yang digunakan pun bukan hanya secara verbal tapi juga secara nonverbal.

Hal dasar yang perlu diketahui, adalah komunikasi berguna untuk memenuhi kebutuhan biologis kita, seperti makan dan kebutuhan psikologis kita seperti kebahagiaan.

Contoh bentuk komunikasi yakni diskusi, pidato, demonstrasi, menangis, marah, tertawa, tersenyum, merupakan sebagian cara manusia untuk berinteraksi, saling bertukar pendapat, mencurahkan perasaan, menceritakan pengalaman, tidak jarang berkomunikasi juga digunakan untuk mempengaruhi pemikiran orang lain untuk tujuan tertentu.

Dari fungsi komunikasi yang telah dijabarkan di atas yang salah satunya berfungsi untuk mencurahkan perasaan dan bahkan menpengaruhi pemikiran orang lain untuk tujuan tertentu, terlihat dalam bentuk komunikasi yang terjadi dalam hubungan pertemanan.

Komunikasi adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sejak pertama manusia dilahirkan manusia sudah melakukan proses komunikasi. Manusia adalah makhluk social, artinya makhluk itu hidup dengan manusia lainnya yang satu sama lain saling

1

(2)

membutuhkan, untuk melangsungkan kehidupannya manusia berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan antara manusia akan tercipta melalui komunikasi, baik komunikasi verbal (bahasa) maupun nonverbal (simbol, gambar, atau media komunikasi lainnya).

Menurut Larry L.Barker dalam bukunya (Deddy Mulyana, 1994) bahasa memiliki 3 fungsi: Penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi. Penamaan atau penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan, atau orang atau menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.

Fungsi Interaksi menurut Barker, menekankan beberapa gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. Melalui Bahasa, Informasi dapat disampaikan kepada orang lain. Anda juga menerima informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga akan tidur kembali, dari orang lain, baik secara langsung maupun tidak langung(melalui media massa misalnya). Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi.

Persepsi merupakan Pengamatan dan penilaian seseorang terhadap obyek, peristiwa dan realitas kehidupan, baik itu melalui proses kognisi maupun afeksi untuk membentuk konsep tentang obyek tersebut. Persepsi yang sehat mempunyai pengaruh yang besar terhadap pengembangan kemampuan mengelola pengalaman dan belajar dalam kehidupan secara terus menerus, meningkatkan keaktifan, kedinamisan dan kesadaran terhadap lingkungan.

Dalam sebuah komunikasi komunitas atau organisasi, komunikasi merupakan komponen yang sangat penting. Menurut Dedy Mulyana, tanpa komunikasi tidak ada komunitas. Komunitas atau kelompok organisasi yang bersifat social bergantung pada pengalaman dan emosi bersama. Disini komunikasi berperan dan menjelaskan kebersamaan itu. Oleh karena itu, komunitas atau kelompok organisasi dalam proses komunikasinya juga berbagi bentuk-bentuk komunikasi yang berkaitan dengan seni, budaya, agama dan bahasa.

Masing-masing bentuk tersebut mengandung dan menyampaikan gagasan sikap, perspektif dan pandangan yang mengakar kuat dalam sejarah komunitas atau kelompok organisasi tersebut.

Seperti halnya anggota-anggota dalam organisasi Oi (Orang Indonesia). Sebuah organisasi massa (ORMAS) yang lahir dari sebuah komunitas fansclub penggemar Iwan Fals dan simpatisannya. Ibu Rossana Listanto (Ibu Yos) selaku ketua BPP Oi mengatakan bahwa, Oi adalah salah satunya organisasi diidunia yang berlatar belakang fansclub. Karena mempunyai latar belakang yang berbeda dengan pada umumnya sebuah organisasi, Oi mempunyai anggota dengan berlatar belakan pendidikan, sosial, budaya dan ekonomi yang

(3)

unik pula. Diantaranya pelajar, mahasiswa, guru, pengusaha, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pengamen, pengemis, hingga pengangguran. Hal ini tak lupa terlepas dari sosok Iwan Fals, sebagai penyanyi yang menyuarakan ketidak adilan, kritik terhadap pengusaha dan penindasan terhadap rakyat kecil. Untuk menjebatani perbedaan ini, peran komunikasi interpersonal yang baik sangat diperlukan, untuk menimilasir miss communication antar anggota.

Maksud didirikan Oi adalah mendorong, membina, menumbuh kembangkan minat, bakat, serta potensi-potensi anggota Oi dan masyarakat untuk sebesar-besarnya bermanfaat bagi kehidupan berbangsa, dan bernegara Indonesia. Tujuan didirikan Oi adalah memberdayakan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur, memahami nilai-nilai pancasila, untuk terwujudnya masyarakat yang bermartabat, bersatu, berdaya dan bermanfaat di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penggunaan Simbol-simbol verbal dan nonverbal yang dalam suatu komunitas biasa berfungsi sebagai identitas diri. Maka terkadang simbol-simbol itu hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang berada dalam komunitas. Namun misalnya Oi tidak lagi dikhususkan bagi para penggemar Iwan Fals. Banyak anggota yang tidak berlatar belakang fansclub, hal ini dikarenakan Oi tidak berorientasi pada organisasi pemberdayaan masyarakat dan pemuda, sehingga banyak pemuda maupun masyarakat luas yang tertarik bergabung dengan Oi. Untuk itu pasti diperlukan proses pengenalan simbol komunikasi terhadap komunikasi terhadap anggota baru yang tidak mengerti latar belakang berserta simbol-simbol komunikasi yang digunakan.

Peneliti tertarik untuk mengetahui dan memahami bagaimana persepsi interpesonal yang terjalin antar anggota didalam organisasi Oi, baik dalam bentuk komunikasi verbal maupun non verbal. Maka penulis ingin mengambil masalah dari judul “Pola Komunikasi Interpersonal Anggota Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon”

1.2 Perumusan Masalah

Agar pembahasan dan analisis dalam penelitian ini lebih terarah dan sistematis, maka dirumuskan perumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana persepsi dalam membangun pola komunikasi interpersonal anggota Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon.

(4)

2. Bagaimana simbol komunikasi verbal yang digunakan dalam komunikasi interpersonal anggota Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon.

3. Bagaimana simbol komunikasi Nonverbal yang digunakan dalam komunikasi interpersonal anggota Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan memahami secara mendalam persepsi dalam membangun pola komunikasi interpersonal anggota Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon.

2. Untuk mengetahui dan memahami simbol komunikasi verbal dan nonverbal dalam komunikasi interpersonal anggota Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon.

3. Untuk mengetahui dan memahami simbol komunikasi verbal dan nonverbal dalam komunikasi interpersonal anggota Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon.

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis

a. Diharapkan memberikan sumbangan pengetahuan bagi ilmu pengetahuan bagi ilmu komunikasi, sehingga penellitian ini dapat dimanfaatkan sebagai masukan atau referensi bilamana akan dilakukan penelitian lebih lanjut.

b. Penelitian ini diharapkan mengetahui teori yang berkaitan dengan ilmu komunikai secara umum maupun secara khusus dan mengembangkan ilmu komunikai khususnya mengenai bagaimana komunikasi interpersonal dalam anggota Oi (Orang Indonesia).

1.4.2 Kegunaan Praktis a. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengalaman, pengetahuan dan pemahaman lebih mendalam mengenai komunikasi interpersonal anggota Oi (Orang Indonesia).

(5)

b. Bagi Institut

Bagi institut khususnya pogram studi komunikasi penyiaran islam penellitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi ilmu untuk pengembangan disiplin ilmu yang bersangkutan.

c. Bagi Organisasi atau komunitas

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang berguna bagi Organisasi Oi diseluruh nusantara, khususnya di wilayah Badan Pengurus Kota Oi Cirebon, dalam meningkatkan solidaritas melalui pemahaman komunikasi interpersonal dalam anggota Oi (Orang Indonesia).

1.5 Kerangka Pemikiran 1.5.1 Komunikasi

Komunikasi merupakan mekanisme yang menyebabkan adanya hubungan antar manusia didalam masyarakat atau kelompok, dengan menggunakan lambang-lambang yang mengandung makna dan dapat dilakukan untuk menembus ruang menyimpannya dalam dimensi waktu. (Deddy Mulyana, 2010:46)

Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna. Jadi, kalau dua orang terlibat komunikasi misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan lain perkataan, mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Jelas bahwa percakapan kedua orang tua dapat dikatakan komunikatif apalagi kedua duanya, selain mengerti bahasa yang dipergunakan, juga mengerti makna dari bahan yang dipercakapkan. (Deddy Mulyana, 2010:46)

1.5.2 Komunikasi Interpersonal

Komunikasi adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sejak pertama manusia dilahirkan manusia sudah melakukan proses komunikasi. Manusia adalah makhluk social, artinya makhluk itu hidup dengan manusia lainnya yang satu sama lain saling membutuhkan, untuk melangsungkan kehidupannya manusia berhubungan dengan manusia

(6)

lainnya. Hubungan antara manusia akan tercipta melalui komunikasi, baik komunikasi verbal (bahasa) maupun nonverbal (simbol, gambar, atau media komunikasi lainnya).

Menurut Sasa Djuarsa, Interpersonal Communication atau komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi, baik yang terjadi secara langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui medium). Beberapa contoh komunikasi interpersonal adalah kegiatan percakapan tatap muka (face to face communication), percakapan melalui telepon dan surat menyurat pribadi.

Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. (Muhammad, 2005:158-159).

Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Onong Uchjana Effendy, 2003:30).

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya (Deddy Mulyana, 2000:73)

Menurut Effendi, pada hakekatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan komunikan, komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga. Pada saat komunikasi dilancarkan, komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif atau negatif, berhasil atau tidaknya. Jika ia dapat memberikan kesempatan pada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya (Sunarto, 2003:13).

a. Fungsi Komunikasi interpersonal

Adapun fungsi komunikasi interpersonal menurut Muhammad (2005) dalam bukunya (Deddy Mulyana, 2000:73) adalah

1. Untuk mendapatkan respon/ umpan balik.

2. Untuk melakukan antisipasi setelah mengevaluasi respon/ umpan balik.

3. Untuk melakukan kontrol terhadap lingkungan sosial, yaitu kita dapat melakukan modifikasi perilaku orang lain dengan cara persuasi.

(7)

Seringkali komunikan tidak saling memahami maksud pesan atau informasi dari lawan bicaranya. Hal ini disebabkan beberapa masalah antara lain dengan dijelaskan oleh M. Ghojali Bagus A.P., S.Psi dalam Buku Ajar Psikologi Komunikasi yaitu:

1. Komunikator

a) Hambatan biologis, misalnya komunikator gagap.

b) Hambatan psikologis, misalnya komunikator yang gugup.

c) Hambatan gender, misalnya perempuan tidak bersedia terbuka terhadap lawan bicaranya yang laki-laki.

2. Media

a) Hambatan teknis, misalnya masalah pada teknologi komunikasi (microphone, telepon, power point, dan lain sebagainya).

b) Hambatan geografis, misalnya blank spot pada daerah tertentu sehingga signal HP tidak dapat ditangkap.

c) Hambatan simbol/ bahasa, yaitu perbedaan bahasa yang digunakan pada komunitas tertentu. Misalnya kata-kata “wis mari” versi orang Jawa Tengah diartikan sebagai sudah sembuh dari sakit sedangkan versi orang Jawa Timur diartikan sudah selesai mengerjakan sesuatu.

d) Hambatan budaya, yaitu perbedaan budaya yang mempengaruhi proses komunikasi.

3. Komunikate

a) Hambatan biologis, misalnya komunikate yang tuli.

b) Hambatan psikologis, misalnya komunikate yang tidak berkonsentrasi dengan pembicaraan.

c) Hambatan gender, misalnya seorang perempuan akan tersipu malu jika membicarakan masalah seksual dengan seorang lelaki.

b. Ciri-Ciri Interpersonal

Adapun komunikasi interpersonal mempunyai ciri-ciri interpersonal (Muhammad, 2004):

1. Pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerima pesan secara spontan baik secara verbal maupun non verbal.

2. Keberhasilan komunikasi menjadi tanggung jawab para perserta komunikasi.

3. Kedekatan hubungan pihak-pihak komunikasi akan tercermin pada jenis-jenis pesan atau respon nonverbal mereka, seperti sentuhan, tatapan mata yang ekspresif, dan jarak fisik yang dekat.

(8)

c. Tujuan Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal mungkin mempunyai beberapa tujuan, antara lain ( Muhammad, 2004 : 165-168 ) :

a. Menemukan diri sendiri b. Menemukan dunia luar

c. Membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti d. Berubah sikap dan tingkah laku

e. Untuk bermain dan kesenangan d. Efektivitas Komunikasi Interpersonal

Efektivitas Komunikasi Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality). (Devito, 1997 : 259- 264).

1. Keterbukaan (Openness) 2. Empati (empathy)

Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk

‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya

3. Sikap mendukung (supportiveness) 4. Sikap positif (positiveness)

5. Kesetaraan (Equality)

1.5.3 Simbol Verbal dan Non Verbal

Simbol verbal dan nonverbal dalam proses komunikasi interpersonal, manusia menggunakan berbagai macam bentuk komunikasi untuk menjebatani tersampaikannya sebuah pesan. Menurut Onong Uchajana Effendi ditinjau dari sifatnya, komunikasi dibagi menjadi 4 bagian yaitu:

a. Tatap muka (face to face) b. Bermedia (Mediated) c. Verbal

1) Lisan (Oral)

(9)

2) Tulisan/cetak d. Non Verbal

1) Kial / Isyarat badaniah (Gestural) 2) Bergambar (Pictorial)

Menurut Dedy Mulyana symbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan bicara termasuk dalam kategori pesan verbal. Sedangkan suatu system kode verbal disebut Dedy Mulyana sebagai bahasa.

Bahasa didefinisikan sebagai seperangkat symbol dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.

Kategori komunikasi non verbal yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah beragam cara yang digunakann orang-orang untuk berkomunikasi secara non verbal. Yaitu vocalic atau paralanguage, kinesics yang mencakup gerakan tubuh, ekspresi wajah, perilaku mata.

Lingkungan yang mencakupobjek benda dan artifak, proxemics yang merupakan ruang dan teritori pribadi, haptics (sentuhan), penampilan fisik (tubuh dan cara berpakaian), Chronemics (waktu) dan bau.

Komunikasi verbal yang termasuk dalam komunikasi vocal adalah bahasa lisan, sedangkan yang tergolong dalam komunikasi non vocal adalah bahasa tulisan. Sementara komunikasi nonverbal yang termasuk dalam klasifikasi komunikasi non vocal adalah isyarat, geraka tubuh, penampilan fisik, ekspresi wajah dan sebagainya

1.5.4 Persepsi Interpersonal

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi atau menafsirkan informasi inderawi. Persepsi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang (komunikan), yang berupa pesan verbal dan non verbal. (Rakhmat, Jalaluddin.

1985:51)

Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap komunikasi, seorang perserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibatkan kegagalan komunikasi.

(10)

1.5.5 Organisasi Oi (Orang Indonesia)

Komunitas Oi (Orang Indonesia) adalah satu organisasi yang awal muasalnya adalah Komunitas Iwan Fals Fans Club (IFFC). Nama “Oi” bukan merupakan singkatan ataupun kepanjangan sebuah makna, melainkan hanya sebuah seruan atau ajakan untuk berkumpul,

“Oi….”. Berdiri nya Komunitas Oi (Orang Indonesia) ini dilatar belakangi karena terlalu banyaknya penggemar Iwan Fals, serta atas rasa keprihatinan para penggemar Iwan Fals terhadap Konser Iwan Fals yang tidak diberikan izin karena di anggap selalu membuat keributan. Maka dari itu, pihak manajemen Iwan Fals mengundang 300 orang perwakilan dari beberapa daerah untuk membentuk Komunitas Oi (Orang Indonesia). Kemudian pada tanggal 16 - 17 Agustus 1999 terbentuklah Komunitas Oi (Orang Indonesia). Setelah terbentuknya Komunitas Oi (Orang Indonesia), seluruh pengemar Iwan Fals menjadi lebih terorganisir, sehingga tidak ada lagi pencekalan terhadap konser yang dilakukan oleh Iwan Fals.

(Hadiyanto, 2008 : 67).

Iwan Fals merupakan satu-satunya artis di Indonesia yang melahirkan atau membentuk sebuah organisasi. Dan sampai saat ini Komunitas Oi mampu bertahan dalam jumlah anggota yang sangat banyak, dan tercatat kurang lebih ada 14 juta anggota yang tersebar diseluruh indonesia, bahkan ada dibeberapa Negara (Jepang, Malaysia, Amerika Serikat tepatnya di Boston dan Arab). Oi memiliki kantor di 72 kota dari 23 provinsi di Indonesia. Kantor pusatnya di rumah Iwan Fals didesa Leuwinanggung. (Hadiyanto, 2008 : 68)

1.6 Subjek Penelitian dan Informan 1.6.1 Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah sesuatu, orang, benda ataupun lembaga (organisasi), yang sifat keadaannya akan diteliti. Kesimpulannya subjek informan adalah sesuatu yang di dalam dirinya melekat atau terkandung objek penelitian. Dalam penelitian ini subjek penelitiannya adalah pengurus beserta anggota komunitas Oi.

1.6.2 Informan Penelitian

Informan merupakan bagian dari subjek yang memiliki karakteristik tertentu, dan dianggap bisa mewakili subjek. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan cara purporsive sampling dimana peneliti memilih langsung informan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Untuk menghindari kejenuhan data, maka peneliti memutuskan untuk mewawancarai sepuluh.

(11)

Tabel 1.1. Tabel Data Informan

No Nama Umur Jabatan

1 Teguh Santoso 27 th Ketua BPK Oi Cirebon

2 Ifullivan 32 th Kabid Pendidikan BPW Ormas Oi Cirebon 3 Mas Alex 28 th Mantan Ketua Oi sekaligus merangkap

anggota Oi Hijau

4 Suwarto (Mas Atho) 36 th Kabit Niaga sekaligus merangkap anggota Oi 5 Mas Dimas 26 th Kabit Seni sekaligus merangkap anggota Oi 6 M. Haerudin (ifoel) 22 th Anggota dari Oi kampus

7 Mas Lukman 27 th Anggota dari kelompok Oi Srenge 8 Abdul Rohman (Mas Sio) 37 th Sekjen di BPK Oi Cirebon

9 Bustomi 24 th Ketua dari kelompok Oi Depan Gerbang

10 Ronald 26 th Simpatisan Oi Cirebon

1.7 Langkah-Langkah Penelitian 1.7.1 Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk pendekatan jenis kualitatif. Dan menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang berusaha menggambarkan atau melukiskan objek yang diteliti berdasarkan fakta yang ada di lapangan. (Lexy J. Moleong : 2005:4)

1.7.2 Lokasi penelitian

Sedangkan lokasi penelitian dalam penelitian ini nomaden atau berpindah-pindah mengikuti alur informan dan para anggota Oi. Namun segala kegiatan administrasi BPK Oi Kota Cirebon sementara berskretariatan di Jl. Juriman No. 17 Rt06/Rw07 Desa. Battembat Kec. Tengah Tani Kab. Cirebon. Telp: 085224225580

1.7.3 Sumber data a) Sumber Data Teoritik

Sumber data teoritik yang dimaksud disini adalah mendayagunakan sebagai informasi yang terdapat dari berbagai macam buku, oleh para ahli dan sebagainya untuk menggali teori dasar, khususnya yang berkenaan dengan persepsi interpersonal dalam pola komunikasi interpersonal dalam anggota komunitas Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon.

(12)

b) Sumber Data Empirik

Sumber data empirik disini yang dimaksud adalah sumber data yang diperoleh peneliti dengan terjun langsung ke objek penelitian untuk memperoleh data tentang persepsi interpersonal dalam pola komunikasi interpersonal dalam anggota komunitas Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Cirebon.

1.7.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi adalah kegiatan yang setiap saat manusia lakukan. Dengan perlengkapan panca indera. Dalam teknik ini peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke lapangan dengan melakukan keikutsertaan di setiap kegiatan dan perkumpulan anggota Oi dan komunitas Falsmania. Peneliti juga bergabung dengan mereka secara intens, untuk memahami kehidupan dan komunikasi yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Indepht Interview (Wawancara)

Wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (Indepht Interview).

Meskipun system wawancaranya terbuka dan berkembang, namun wawancara ini dilakukan berulang-ulang dengan beberapa informan secara intensif, agar data yang didapat semakin valid dan holistik.

Disini peneliti tidak hanya memperhatikan jawaban atau informasi dari informan, namun juga respon verbal dan no verbal yag timbul dari informan selama wawancara berlangsung.

Dalam menentukan informan, peneliti menggunakan teknik Purporsive Sampling, yaitu dengan menentukan informan sesuai dengan kriteria-kriteria atas kebutuhan informasi peneliti. Dan menggunakan teknik snowball sampling yaitu tenknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil kemudian terus membesar ibarat bola salju.

3. Study Pustaka

Teknik pengumpulan data dengan menggunakan buku/referensi sebagai penunjang penelitian, dengan melengkapi dan mencari data-data yang dibutuhkan dari literature, referensi, makalah dan yang lainnya. Sehingga peneliti memperoleh data-data yang tertulis melalui bacaan yang ada kaitannya dengan masalah penelitian.

(13)

4. Penulusuran Data Online

Penulusuran data online menurut Burhan Bungin adalah:

“ Tata cara melakukan penelusuran data melalui media online seperti internet atau media jaringan lainnya yang menyediakan fasilitas online, sehingga memungkinkan peneliti dapat memanfaatkan data informasi online yang berupa data maupun informasi teori, secepat atau semudah mungkin dan mungkin dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademis” (Bungin, Burhan 2008: 148).

Dari pendapat Burhan Bungin yang dikutip di atas, peneliti menggunakan sumber yag online sebagai data pendukung untuk kebutuhan informasi penelitian ini, baik dengan menggunakan jasa ‘search engine’ seperti: google, yahoo, blog bahkan facebook yang menjadi salah satu media komunikasi anggota Oi senusantara, karena didalam situs ini banyak informasi-informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan penelitian ini. Jadi, selayaknya untuk mendapatkan iformasi yang berkaitan, yang bisa didapat dari jaringan online untuk umum.

5. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi dapat berupa tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.

1.7.5 Teknik Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yaitu mendeskripsikan serta menganalisis data yang telah diperoleh dan selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penjelasan sebenarnya. Dengan menggunakan analisis kualitatif model interaktif, berdasarkan pendapat Mathew B. Miles dan A. Michael Huberman Soegoyono, 2006:247) sebagai berikut :

Data Collection

Data Display

Conclution Drawing &

Evaluation Data Reduction

(14)

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model aliran Miles dan Huberman, sebagaimana dikutip oleh Imam Suprayogo, tahap analisis data dimulai dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi.

1. Reduksi Data

Reduksi diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, trasformasi data kasar, yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Reduksi data juga dilakukan dengan membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, menulis memo dan sebagainya. Reduksi ini terus berlanjut sesudah penelitian lapangan sampai laporan akhir tersusun.

2. Penyajian Data

Penyajian data adalah menyajikan sekumpulan iformasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi

Dari permulaan pengumpulan data, maka akan dimulai dengan mencari arti, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi.

Kesimpulan “final” mungkin tidak muncul sampai pengumpula data berakhir, bergantung besarnya kumpula catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang digunakan. Kesimpulan-kesimpulan juga di verifikasi selama kegiatan berlangsung. Verifikasi juga dilakukan dengan meninjau ulang pada catatan-catatan lapangan.

(15)

1.8 Literature Review ( Kajian literature terdahulu yang relevan)

Tabel 1.2 Literature Review (Kajian literature terdahulu yang relevan) Sasaran

Penelitian

Peneitian Terdahulu

1 2 3

Nama Peneliti Mariana Fajarwati Ika Nur Wahyu Utami Yuni Rizani Judul Penelitian Pola Komunikasi

Organisasi pada Komunitas Oi

(Penggemar Iwan Fals) Studi Deskriptif tentang Pola Komunikasi Organisasi Oi di Kota Bandung

Komunikasi

Interpersonal Anggota Oi (Orang Indonesia) di Wilayah Badan Pengurus Kota Sidoarjo

Komunikasi Organisasi Komunitas Motor

“KNC” (Kawasaki Ninja Club) Wilayah Bandung (Studi Deskriptif Tentang Pola Komunikasi Organisasi Komunitas Motor

“KNC” (Kawasaki Ninja club) Wilayah Bandung Dalam membangun Solidaritas Anggotanya).

Jenis Penelitian Skripsi Skripsi Skripsi

Tahun Penelitian 2011 2012 2012

Tujuan Penelitian Untuk mengetahui arus hambatan dan pola komunikasi dalam anggota Oi (penggemar Iwan Fals)

Untuk mengetahui dan memahami secara mendalam komunikasi interpersonal dan simbol komunikasi verbal dan non verbal anggota Oi (Orang Indonesia)

Untuk mengetahui arus pesan

komunikasi

organisasi, peranan jaringan kerja komunikasi organisasi, pola komunikasi organisasi, dan solidaritas pada organisasi komunitas motor “KNC”

(Kawasaki Ninja Club) Wilayah Bandung Hasil Penelitian Arus pesan komunikasi

organisasi berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Hambatan yang dialami oleh Komunitas Oi di Kota Bandung berupa bahasa dan minimnya

Bahwa proses kmunikasi

interpersonal anggota Oi diawali dari tahap perekenalan antar anggota Oi dengan masyarakat luar yang menyebabkan

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa arus pesan terjalin saling bergantungan dan saling

mempengaruhi antara satu jabatan dengan jabatan yang lain, hal

(16)

penggunaan teknologi.

Selain itu pola komunikasi orgnisasi yang terjadi meski rumit tetapi berjalan dengan baik.

ketertarikan masyarakat untuk bergabung dalam organisasi Oi dan simbol verbal dan nonverbal.

ini membentuk pola komunikasi

organisasi yang dapat terlihat dari peranan jaringan kerja komunikasi organisasi KNC (Kawasaki Ninja Club) Bandung.

Dengan adanya perbedaan jabatan.

Perbedaan Penelitia ini

memfokuskan pada arus pesan, hambatan dan pola komunikasi organisasi dalam komunitas Oi

Penelitian ini memfokuskan pada proses komunikasi dan simbol verbal dan nonverbal organisasi Oi.

Penelitian ini memfokuska pada arus pesan

komunikasi

organisasi, peranan jaringan kerja komunikasi organisasi, pola komunikasi organisasi dan solidaritas pada organisasi komunitas motor “KNC”

(Kawasaki Ninja Club) Wilayah Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

1. Adanya perasaan senang terhadap belajar. Adanya keinginan yang tinggi terhadap penguasaan dan keterlibatan dengan kegiatan belajar. Adanya perasaan tertarik yang

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ekstrak Etanolik Herba Ciplukan memberi- kan efek sitotoksik dan mampu meng- induksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7

Fotokopi laporan kronologis bagi PNS yang Cacat karena dinas dibuat oleh pimpinan instansi yang bersangkutan;.. Fotokopi surat keterangan sakit dari Tim

Berbagi linkmelalui note dapat dilakukan oleh guru Anda, kawan-kawan Anda, maupun Anda sendiri. Apabila Anda ingin berdiskusi atau menanyakan sesuatu melalui

Pada Ruang Baca Pascasarjan perlu dilakukan pemebersihan debu baik pada koleksi yang sering dipakai pengguna maupun

Menurut teori hukum Perdata Internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai

Borges (2008) mengatakan nilai rendahnya DIC dan TA pada musim hujan di ekosistem mangrove terkait dengan salinitas, yaitu pada musim kemarau tingginya temperatur

Untuk menentukan adanya perbedaan antar perlakuan digunakan uji F, selanjutnya beda nyata antar sampel ditentukan dengan Duncan’s Multiples Range Test (DMRT).