• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II TINJAUAN TEORI A. Obesitas

4. Definisi dan Klasifikasi Obesitas

Organisasi kesehatan dunia mendefinisikan obesitas sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan dalam jaringan yang berakibat pada gangguan kesehatan lebih lanjut. Obesitas juga diartikan sebagai penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan dalam waktu lama (Kemenkes, 2018). Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas digolongkan berdasarkan BMI. BMI (Body Mass Index) merupakan alat ukur yang paling berguna untuk mengukur tingkat obesitas untuk kedua jenis kelamin dan untuk semua usia namun, dapat dianggap sebagai panduan kasar karena dapat tidak sesuai dengan derajat kegemukan yang sama pada individu yang berbeda. Nilai BMI diperoleh melalui penghitungan berat badan dalam kilogram di bagi dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.

Definisi obesitas pada anak umur 5-19 tahun menurut (WHO, 2021) adalah sebagai berikut :

a. Overweight : >+1SD (BMI setara dengan 25 kg/m2) b. Obesitas : >+2SD (BMI setara dengan 30 kg/m2) c. Normal : (BMI 18 kg/m2 sampai dengan < 25 kg/m2)

Tabel 2. 1 Klasifikasi Obesitas

BMI (kg/m2) Deskripsi Kelas Obesitas

< 18.0 Underweight

18.0 – 24.9 Normal

25.0 – 29.9 Overweight

30.0 – 34.9 Obesity I

35.0 – 39.9 Morbid Obesity II

≥ 40.0 Extreme Obesity III

5. Penilaian Status Gizi

Menurut (Thamaria, 2017) Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu :

a. Survei Konsumsi

Metode penentuan status gizi dengan melihat jumlah dan zat gizi yang dikonsumsi, dapat memberikan gambaran tentang konsumsi zat gizi pada masyarakat, keluarga

(2)

dan individu. Metode ini juga dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi.

b. Statistik Vital

Menganalisa beberapa data statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur dan angka kesakitan berdasarkan umur.

c. Faktor Ekologi

Digunakan untuk mengetahui penyebab masalah gizi di masyarakat sebagai dasar untuk melakukan intervensi.

Berbagai macam cara yang dapat digunakan untuk menilai status gizi, cara pengukuran status gizi yang sering digunakan di masyarakat adalah antropometri gizi. Pengukuran antropometri menggunakan beberapa parameter seperti umur, berat badan (BB), tinggi badan (TB) lingkar lengan atas (LILA), lingkar kepala, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lipatan kulit.

Menurut (Kemenkes, 2020) dalam pengukuran antropometri digunakan beberapa indeks sebagai berikut:

a. BB/U : menggambarkan berat badan relatif dibandingan dengan umur anak.

Indeks ini digunakan untuk menilai anak dengan berat badan kurang (underweight) atau sangat kurang (severely underweight), tetapi tidak dapat digunakan untuk mengklasifikan anak gemuk atau sangat gemuk.

b. TB/U : menggambarkan pertumbuhan tinggi badan anak berdasarkan umurnya.

Indeks ini dapat mengidentifikasi anak-anak yang pendek (stunted) atau sangat pendek (severely stunted) yang disebabkan oleh gizi kurang dalam waktu yang lama atau sering sakit.

c. BB/U : menggambarkan apakah berat badan anak sesuai terhadap tinggi badannya. Indeks ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi anak gizi kurang (wasted), gizi buruk (severely wasted) serta anak yang memiliki resiko gizi lebih (possible risk of overweight). Kondisi gizi buruk ini biasanya disebabkan oleh penyakit dan kekurangan asupan gizi yang baru saja terjadi (akut) maupun yang telah lama terjadi (kronis).

d. IMT/U : digunakan untuk menentukan kategori gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, beresiko gizi lebih, gizi lebih dan obesitas. Grafik IMT/U dan grafik BB/TB cenderung menunjukan hasil yang sama. Indeks IMT/U lebih sensitif untuk

(3)

penapisan anak gizi lebih dan obesitas. Anak dengan ambang batas IMT/U >+1SD beresiko gizi lebih sehingga perlu ditangani lebih lanjut untuk mencegah terjadinya gizi lebih dan obesitas.

6. Epidemiologi

Menurut (Nittari et al., 2020) prevalensi obesitas pada anak usia 5-19 tahun meningkat pesat hampir di seluruh dunia dari tahun 1980 hingga 2016. Yunani dan Kroasia juga menunjukkan peningkatan secara sekuler dalam prevalensi obesitas anak di antara negara-negara Uni Eropa di wilayah mediterania. Selain itu, prevalensi obesitas di Inggris juga meningkat tiga kali lipat untuk kedua jenis kelamin dari tahun 1980 hingga 2016, masing-masing berkisar antara 3.4 hingga 10.2%. Demikian pula di Prancis dan Spanyol prevalensinya meningkat hampir tiga kali lipat dari tahun 1980 hingga 2016. Di sisi lain di Siprus, Lituania, Portugal, dan Belanda, prevalensinya meningkat lebih dari lima kali lipat selama 36 tahun di setiap negara. Prevalensi obesitas di Irlandia pada anak-anak dan remaja terus meningkat selama 36 tahun yakni 1,5% pada tahun 1980 dan 9,8% pada tahun 2016.

Adapun Kelly et al (2008) memperkirakan bahwa 57,8% dari populasi dunia akan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2030 jika trend saat ini terus berlanjut.

Obesitas dapat terjadi di semua usia termasuk pada anak dan remaja, penelitian terbaru juga menemukan bahwa prevalensi obesitas dapat terjadi di semua usia tanpa memandang etnis, status ekonomi, asal negara dan jenis kelamin (Chooi et al., 2019)

7. Patogenesis

Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan. Asupan dan pengeluaran energi tubuh diatur oleh mekanisme saraf dan hormonal. Hampir setiap individu pada saat asupan makanan meningkat konsumsi kalorinya juga meningkat, begitu pula sebaliknya. Karena itu berat badan dipertahankan dengan sangat baik dalam cakupan yang sempit dalam waktu yang lama. Diperkirakan, keseimbangan yang baik ini dipertahankan oleh internal sel point atau lipostat yang dapat mendeteksi jumlah energi yang tersimpan pada

(4)

jaringan adipose dan semestinya meregulasi asupan makanan supaya seimbang dengan energi yang dibutuhkan (Krebs et al., 2007).

Secara garis besar ada tiga komponen sistem keseimbangan energi, yaitu : a. Sistem aferen, menghasilkan sinyal humoral dan jaringan adipose (leptin), pancreas (insulin) dan perut (ghrelin).

b. Sentral prosesing unit, terutama terdapat pada hipotalamus yang terintegrasi dengan sinyal afaren.

c. Sistem efektor, membawa perintah dari hipotalamus dalam bentuk reaksi untuk makan dan pengeluaran energi.

Pada keadaan energi tersimpan berlebih dalam bentuk jaringan adipose dan individu tersebut makan, maka sinyal adipose inferen (insulin, leptin dan gherlin) akan di kirim ke unit proses sistem saraf pusat pada hipotalamus. Disini sinyal adipose menghambat jalur anabolisme dan mengaktifkan jalur katabolisme. Lengan efektor pada jalur sentral ini kemudian mengatur keseimbangan energi dengan menghambat masukan makanan dan mempromosi pengeluaran energi. Hal ini akan mereduksi energi yang tersimpan. Sebaliknya, jika energi yang tersimpan sedikit maka ketersediaan jalur katabolisme akan diganti menjadi jalur anabolisme untuk menghasilkan energi yang akan disimpan dalam bentuk jaringan adipose, sehingga tercipta keseimbangan diantara keduanya (Kane et al., 2010).

Sinyal aferen, insulin dan leptin mengontrol siklus energi dalam jangka waktu yang lama dengan mengaktifkan katabolisme dan menghambat anabolisme.

Sebaliknya, gherlin secara dominan menjadi mediator dalam waktu yang singkat.

Hormon gherlin menstimulasi rasa lapar melalui aksinya di hipotalamus. Sintesis gherlin terjadi dominan di sel-sel epitel di bagian fundus lambung. Sebagian kecil dihasilkan di plasenta, ginjal, kelenjar pituarituri yang mensekresikan hormon pertumbuhan, hipotalamus, jantung dan jaringan adipose. Konsentrasi gherlin dalam darah rendah terjadi setelah makan dan meningkat ketika puasa sampai waktu makan berikutnya. Insulin dalam leptin sama-sama berpengaruh dalam siklus energi, namun data yang ada menyatakan bahwa leptin mempunyai peran yang lebih penting daripada insulin dalam pengaturan hemostatis energi di sistem saraf pusat (Kane et al., 2010) .

(5)

Sel-sel adipose berkomunikasi dengan pusat hipotalamus yang mengontrol selera makan dan pengeluaran energi dengan cara mengeluarkan leptin, salah satu jenis sitokin. Jika terdapat energi yang tersimpan dalam bentuk jaringan adipose, dihasilkan leptin dalam jumlah besar, melintasi sawar darah otak dan berkaitan dengan reseptor leptin. Reseptor leptin menghasilkan sinyal yang mempunyai dua efek yaitu menghambat jalur anabolisme dan memicu jalur katabolisme melalui neuron yang berbeda. Hasil akhir dari leptin adalah mengurangi asupan makanan dan mempromosikan faktor pengeluaran energi. Karena itu dalam beberapa saat energi yang tersimpan dalam sel-se adipose mengalami reduksi dan mengakibatkan berat badan berkurang. Cara kerja leptin secara molekuler sangat kompleks dan belum dapat diuraikan secara lengkap. Secara garis besar, leptin bekerja melalui salah satu bagian jaras neural terintegrasi yang disebut leptin melanocortin circuit (Kane et al., 2010).

8. Etiologi

Obesitas pada anak dan remaja merupakan konsekuensi dari suatu interaksi antara sekumpulan faktor yang kompleks terkait dengan lingkungan, genetika dan efek ekologis seperti keluarga, komunitas, dan sekolah (Kumar and Kelly, 2017).

Ketidakseimbangan dalam konsumsi dan pengeluaran energi di lingkungan menyebabkan aktivitas fisik tingkat rendah dan perilaku menetap yang terus- menerus serta konsumsi makanan yang berlimpah, terutama makanan yang kaya energi (misalnya dalam bentuk lemak, minyak, gula dan pati). Sulit untuk menahan kenaikan berat badan karena secara alami di program untuk meminimalkan upaya dan menyimpan makanan berlebih sebagai lemak tubuh. Lemak yang memberikan efek thermogenesis lebih rendah (3% dari total energi yang dihasilkan lemak) dibandingkan karbohidrat (6% hingga 7% dari total energi yang dihasilkan karbohidrat) dan protein (25% dari total energi yang dihasilkan protein), sehingga jika kuantitas lemak bertambah maka akan sulit untuk menurunkannya (Damayanti et al., 2014).

9. Faktor Resiko

Menurut Aggarwal and Jain (2017) Beberapa faktor resiko yang dapat mempengaruhi terjadinya overweight dan obesitas pada anak dan remaja, yaitu : a. Gaya hidup (life style)

(6)

1) Asupan makanan

Asupan makanan yang berlebih merupakan faktor utama yang mendukung terjadinya kegemukan. Kebiasaan konsumsi makanan yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan dengan kalori berlebih, fast food, junk food, pemanis gula, konsumsi snack berlebihan, kebiasaan melewatkan makan dan jarang mengkonsumsi sayur dan buah (Kurdanti et al., 2015).

Obesitas terjadi jika seseorang mengkonsumsi kalori melebihi jumlah kalori yang dibakar. Pada hakikatnya, tubuh memerlukan asupan kalori untuk kelangsungan hidup dan aktivitas fisik, namun untuk menjaga berat badan perlu adanya keseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Asupan makanan berlebih yang berasal dari jenis makanan olahan serba instan, minuman soft drink dan jajanan yang beredar luas saat ini seperti junk food, makanan cepat saji (fast food) (burger, pizza, hotdog) serta makanan siap saji lainnya (Kurdanti et al., 2015).

2) Kurangnya aktifitas fisik

Aktivitas fisik merupakan setiap pergerakan tubuh yang ditimbulkan oleh otot-otot skeletal dan mengakibatkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang rutin dapat mendorong penurunan yang cukup besar pada jaringan lemak, hal ini dikarenakan aktifitas fisik dapat meningkatkan massa jaringan bebas lemak (Gibney et al., 2009).

3) Kurangnya waktu tidur

Terdapat beberapa penelitian yang membuktikan bahwa durasi tidur yang sedikit kualitas tidur yang buruk akan berpengaruh terhadap obesitas, penurunan insulin dan adipositas (Tripathi and Mishra, 2019).

4) Bertambahnya screen time

Aktifitas screen time adalah waktu yang diperlukan secara pasif untuk menonton tv, bermain game online, bermain sosial media dan menonton youtube. Penelitian yang dilakukan oleh Robinson et al (2017) menyatakan bahwa lebih dari sepertiga asupan energi dan kalori pada anak dan remaja dikonsumsi di depan layar, sehingga media saat ini mempengaruhi durasi waktu makan anak dan remaja menjadi panjang serta mengalihkan perhatian dan mengabaikan rasa kenyang.

(7)

b. Faktor Psikologis seperti faktor emosi (bosan, marah, tegang) bisa mendorong overeating yang berakhir dengan obesitas (Sagar and Gupta, 2018).

c. Lingkungan Mikro 1) Keluarga

Gaya dan perilaku pengasuhan serta pola makan dan aktivitas fisik orang tua sendiri memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pilihan asupan makanan dan olahraga anak. Kebiasaan orang tua seperti merokok juga dapat berpengaruh terhadap kejadian obesitas pada anak dan remaja (Kakinami et al., 2015).

2) Sekolah

Lingkungan sekolah bisa menjadi penyebab obesitas apabila tidak mendapat perhatian khusus pada aktifitas anak (pendidikan jasmani) dan asupan makan anak (gizi) di sekolah. Kurangnya tempat bermain dan fasilitas olahraga, makan siang di sekolah yang berpotensi tidak sehat dan ketersediaan makanan yang tidak sehat seperti jajanan dan minuman di sekolah akan meningkatkan resiko obesitas pada anak dan remaja.

3) Faktor ekonomi

Faktor ekonomi berkaitan dengan ketidaktauan dan ketidakmampuan memilih makanan yang sehat, atau tidak mampu memasak makanan sehat dan tidak punya cukup uang untuk membeli makanan sehat. Obesitas terjadi karena masyarakat lebih cenderung memakan makanan yang kurang berkualitas karena proporsi lemak yang berlebih dan tidak sehat.

4) Budaya makan

Budaya sangat berpengaruh terhadap status gizi seseorang karena termasuk nilai, sikap, kebiasaan yang dipelajari dan diperoleh seseorang dari kecil. Banyak orang tidak mengkonsumsi bahan makanan yang bergizi karena alasan agama, pantangan, dan kepercayaan.

d. Lingkungan Makro 1) Industri makanan

Tingginya produksi fast food, junk food, makanan dan minuman dalam kemasan saat ini. Serta penggunaan taktik penjualan seperti pemasangan iklan di berbagai macam sosial media yang dapat membatasi kemampuan konsumen untuk memilih menu makanan yang sehat.

(8)

2) Iklan

Media memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap pola makan anak-anak.

Oleh karena itu pengaturan mengenai media, terutama media massa seperti televisi perlu diawasi oleh pemerintah. Secara keseluruhan, tujuan dari iklan adalah untuk mengajak konsumen membeli barang atau jasa. Anak-anak memiliki kemampuan kognitif yang terbatas dan sangat mudah berpikir bahwa makanan dan minuman yang berada di iklan adalah makanan dan minuman sehat (Harris et al., 2009).

Remaja dan anak yang cenderung menggunakan gadget dalam kehidupan sehari-hari sehingga sangat membutuhkan lebih banyak aktivitas fisik, menurut penelitian yang dilakukan oleh (Lamboglia et al., 2013) anak yang terpapar iklan di televisi berisiko mengalami obesitas dibandingkan dengan anak yang jarang terpapar iklan.

3) Pemerintah

Kebijakan mengenai nutrisi diperlukan untuk membatasi ketersediaan jajanan yang tidak sehat, perpajakan, labelisasi pangan yang jelas dan pengendalian harga buah dan sayur. Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang aman dan kondusif untuk melakukan aktivitas fisik seperti tempat bermain, gym terbuka, fasilitas sepeda, dan ramah pejalan kaki.

Upaya-upaya dari pemerintah untuk memberikan informasi tentang upaya pencegahan obesitas nampaknya memiliki banyak hambatan. Salah satu hambatannya adalah persepsi mengenai keseriusan masalah obesitas pada masyarakat yang masih kurang. Penyuluhan upaya pencegahan obesitas diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya melakukan pencegahan obesitas, mengubah perilaku makan mereka yang salah, dan juga membuat remaja lebih peduli terhadap kesehatannya. Sehingga remaja rutin untuk melakukan cek kesehatan ataupun menimbang berat badan secara rutin.

e. Faktor Genetik 1) Jenis kelamin

Jenis kelamin menjadi salah satu faktor genetik yang menjadi penyebab obesitas.

Wanita lebih banyak menderita obesitas dibandingkan pria. Hal ini disebabkan oleh metabolisme wanita lebih lambat daripada pria. Basal metabolik rate (tingkat metabolisme pada kondisi istirahat) wanita 10% lebih rendah dibandingkan dengan

(9)

pria. Oleh karena itu, wanita cenderung lebih banyak mengubah makanan menjadi lemak, sedangkan pria lebih banyak mengubah makanan menjadi otot dan cadangan energi siap pakai. Wanita juga memiliki lebih sedikit otot dibandingkan pria. Otot membakar lebih banyak lemak daripada sel-sel lainnya, sehingga wanita memperoleh kesempatan yang lebih kecil untuk membakar lemak (Wells, 2013).

2) Parental fatness

Faktor genetik yang memiliki peranan besar dalam kejadian obesitas pada anak, jika ayah dan atau ibu menderita kelebihan berat badan, maka kemungkinan anaknya memiliki kelebihan berat badan sebesar 40-50%. Apabila kedua orang tua mengalami obesitas, kemungkinan anaknya menjadi obesitas sebesar 70-80%

(Saraswati et al., 2021).

Faktor genetik sangat berperan dalam peningkatan berat badan. Data dari berbagai studi genetik menunjukkan adanya beberapa hasil yang menunjukkan predisposisi untuk menimbulkan obesitas. Di samping itu, terdapat interaksi antara faktor genetik dengan kelebihan asupan makanan padat dan penurunan aktivitas fisik. Studi genetik terbaru telah mengidentifikasi adanya mutasi gen yang mendasari obesitas (Saraswati et al., 2021)

10. Dampak Obesitas

Menurut Reilly and Kelly (2010) Obesitas selama masa kanak-kanak dan remaja memiliki dampak negatif, baik secara kesejahteraan fisik maupun psikologis, antara lain sebagai berikut:

a. Sudut pandang fisik

Obesitas dikaitkan dengan resiko yang lebih tinggi untuk berkembangnya resistensi insulin, diabetes mellitus tipe II, dan sejumlah kelainan kardiovaskular selama masa kanak-kanak dan remaja, meskipun resiko kardiovaskular tidak selalu terlihat pada masa kanak-kanak atau remaja (Rossouw et al., 2012). Sebagian besar kasus diabetes mellitus pada masa kanak-kanak menjadi tipe I, namun selama beberapa dekade terakhir, telah terjadi peningkatan yang cepat dalam perkembangan diabetes mellitus tipe II yang dikaitkan dengan obesitas (Hannon et al., 2005). Kondisi lain yang ditemukan pada kejadian obesitas di masa kanak-kanak dan remaja adalah gangguan pernafasan seperti risiko asma, atau peningkatan keparahan asma yang

(10)

ada, low-grade systemic inflammation, sleep apnea, tidur ngorok dan sering mengantuk di siang hari.

b. Masalah gigi karies dan penyakit periodontal

Penyakit periodontal terdiri dari berbagai kondisi peradangan yang mempengaruhi struktur pendukung gigi (gingiva, tulang, dan periodontal ligament). Terdapat hubungan positif antara obesitas terhadap penyakit periodontal pada anak. Obesitas menyebabkan laju aliran yang lebih rendah dari saliva dan meningkatkan pertumbuhan spesies bakteri penyebab periodontal (Martens et al., 2017).

c. Gangguan endokrin seperti pubertas dini.

d. Kelainan pada kaki dan tulang lainnya akibat beban tubuh yang terlalu berat.

e. Ganguan pikologis

Gangguan psikologis seperti rasa rendah diri, depresif dan menarik diri dari lingkungan, hal ini karena anak dengan berat badan lebih sering menjadi bahan olok-olokan teman bermain dan teman sekolah, selain itu karena ketidakmampuan untuk melaksanakan suatu tugas atau kegiatan terutama olahraga akibat adanya hambatan pergerakan oleh kegemukannya.

B. Fast Food 11. Definisi

Fast food atau yang biasa disebut dengan makanan siap saji adalah istilah yang digunakan untuk makanan yang disiapkan dan disajikan dengan sangat cepat, pertama dipopulerkan pada 1950-an di Amerika Serikat. Istilah fast food biasanya mengacu pada makanan yang dijual di restoran atau toko dengan bahan-bahan yang sudah matang, dipanaskan dan disajikan kepada pelanggan dalam bentuk kemasan untuk dibawa keluar atau dibawa pergi (Islam and Ullah, 2010).

Fast food didefinisikan dalam dua pengertian yaitu: pertama, sebagai makanan yang disajikan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Kedua, makanan yang dapat dikonsumsi secara cepat. Kehadiran fast food dalam industri makanan bisa mempengaruhi pola makan seseorang khususnya pada kalangan remaja. Saat ini telah banyak ditemukan restoran fast food di berbagai belahan dunia yang ditawarkan dengan harga terjangkau, servisnya cepat dan jenis makanannya memenuhi selera.

(11)

12. Faktor yang Mempengaruhi Minat Mengkonsumsi Fast Food

Menurut Ashakiran and Deepthi (2012) faktor yang mempengaruhi remaja dan anak-anak lebih tertarik dengan fast food dalah sebagai berikut :

a. Life style

Kehidupan modern seperti saat ini masyarakat beranggapan bahwa waktu merupakan hal yang sangat berharga dan penting. Oleh karena itu, semua orang mencari waktu tambahan untuk bekerja, rekreasi, atau berkumpul dengan keluarga.

Salah satu metode untuk menghemat waktu adalah dengan menggunakan layanan restoran yang menghidangkan fast food karena menawarkan harga lebih rendah dan dapat menghemat waktu daripada makanan tradisional di dalam kafe dan restoran (Md and Islam, 2020).

b. Faktor waktu

Banyak masyarakat yang lebih memilih untuk mengkonsumsi fast food karena praktis dan sederhana, mudah disiapkan dan siap dikonsumsi dalam waktu singkat.

c. Faktor rasa

Fast food menawarkan rasa yang lebih bervariasi dan enak yang menjadi alasan penting masyarakat lebih memilih fast food.

d. Daya Tarik

Pengepakan makanan yang menarik dan kekinian dengan menambahkan bahan tambahan makanan dan pewarna tambahan sehingga banyak menarik perhatian remaja dan anak-anak saat ini.

e. Faktor iklan

Periklanan memiliki faktor utama yang berperan dalam menarik minat masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Iklan pada fast food menerapkan strategi pemasaran untuk mempromosikan produknya agar bisa menjangkau masyarakat luas, sifat dan tingkat iklan mempengaruhi masyarakat untuk mengkonsumsi fast food yang berakibat pada perilaku diet terkait obesitas pada masyarakat. Sarana pemasaran untuk menjangkau anak-anak adalah televisi, perusahaan fast food bisa menghabiskan sebagian besar anggaran untuk publisitas. Kampanye iklan tidak hanya dilakukan secara langsung (seperti: poster lorong, mencicipi makanan gratis, iklan baliho, kerjasama dengan influencer dan sebagainya) tetapi juga melibatkan iklan tidak langsung (misalnya logo sponsor pada materi sekolah).

(12)

f. Kemajuan transportasi

Banyak alat transportasi pengantar makanan di seluruh belahan dunia. Kemudahan pengangkutan dan ketersediaan alat transportasi tersebut akan meningkatkan konsumsi fast food dalam waktu per hari dan semakin diminati. Kemajuan transportasi yang ada saat ini membuat masyarakat bisa meluangkan waktu untuk menelpon nomor hotline, mengirimkan pesanan melalui aplikasi dan makanannya akan sampai ke depan pintu setelah ±1/2 jam.

13. Kandungan Gizi dalam Fast Food

Fast food mengandung zat gizi yang terbatas dan rendah, diantaranya adalah kalsium, riboflavin, vitamin A, magnesium, vitamin C, asam folat dan serat. Selain itu terdapat kandungan lemak dan natrium yang tinggi pada fast food. Menurut Ashakiran and Deepthi (2012) nilai gizi yang terdapat di dalam fast food berbeda- beda dalam setiap kemasan antara lain sebagai berikut:

a. > 35% kalori dari lemak (kecuali untuk susu rendah lemak).

b. > 10% kalori dari lemak jenuh.

c. > 35% kalori dari gula, kecuali yang dibuat dengan 100% buah dan tanpa tambahan gula.

d. > 200 kalori per porsi untuk camilan.

e. > 200 mg per porsi untuk natrium (garam) untuk makanan ringan.

f. > 480 mg per porsi untuk natrium (garam) untuk desert.

14. Pola Konsumsi Fast Food

Pola konsumsi fast food mencakup frekuensi dan jumlah fast food yang dikonsumsi setiap hari. Menurut Kurdanti et al (2015) frekuensi mengkonsumsi fast food dikategorikan sebagai berikut : skor frekuensi konsumsi fast food ≥ 24,5 (nilai median skor frekuensi fast food secara keseluruhan) sedangkan jumlah energi fast food diperoleh dari sejumlah makanan fast food baik di rumah atau di luar rumah dengan cut off point dikategorikan tinggi jika jumlah asupan energi fast food ≥ 322,16 kkal (jumlah energi fast food seluruh sampel dalam satu hari).

15. Pengaruh Fast Food terhadap Kesehatan

Menurut Md and Islam (2020) fast food mempunyai kandungan yang dapat memberikan dampak negatif bagi tubuh, antara lain:

(13)

a. Kandungan lemak yang tinggi pada fast food seperti burger, pizza, ayam goreng, dan keripik akan memberikan dampak negatif seperti kelebihan berat badan, kelebihan berat badan merupakan risiko untuk kesehatan jantung dan menyebabkan berbagai penyakit. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa fast food berpengaruh pada masalah berat badan remaja, penyakit jantung, diabetes dan penyakit kronis lainnya.

b. Kandungan garam yang tinggi akan berpengaruh buruk pada kebugaran, dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, meningkatkan kemungkinan stroke atau serangan jantung dan membuat stres.

c. Kurangnya energi merupakan efek yang tidak menguntungkan dari mengkonsumsi fast food, hal ini dikarenakan di dalam fast food tidak menyediakan vitamin penting (seperti vitamin, protein, dan serat). Sebuah studi ilmiah baru-baru ini membuktikan bahwa terlalu banyak mengkonsumsi fast food tidak hanya membuat gemuk, tetapi juga membuat seseorang secara mental menjadi lebih lambat.

d. Kolesterol tinggi dan penyakit jantung merupakan masalah yang serius bagi banyak orang. Terdapat banyak faktor yang mengakibatkan kolesterol tinggi pada seseorang salah satunya adalah terlalu banyak mengkonsumsi fast food.

e. Konsentrasi buruk, sering merasa mengantuk dan gagal fokus. Mengkonsumsi fast food yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan sirkulasi darah, akumulasi lemak, kekurangan oksigen, kekurangan nutrisi dan protein.

f. Zat adiktif yang tinggi pada fast food seperti pewarna dan pengawet buatan yang ditambahkan untuk membuat makanan menjadi segar, membuat makanan terlihat dan terasa lebih enak, tetapi berbahaya bagi tubuh karena dapat mengakibatkan penimbunan lemak di bronkiolus, sehingga suplai oksigen cenderung berkurang dalam tubuh dan menyebabkan gangguan pernafasan.

C. Screen Time 16. Definisi

Definisi screen time sangat bervariasi, dalam kamus bahasa inggris oxford screen time didefinisikan sebagai waktu yang digunakan selama individu terpapar media eletronik seperti TV, gadget dan computer. Adapun WHO mendefinisikan screen time sebagai waktu yang dihabiskan secara pasif untuk menonton hiburan berbasis

(14)

layar (TV, computer dan gadget), namun tidak termasuk game berbasis layar aktif yang memerlukan aktifitas fisik untuk memainkannya (Kaye et al., 2020).

17. Kategori

Screen time dikategorikan menjadi berbagai macam, sebagai berikut : b. Passive consumption

Waktu yang dihabiskan di depan layar dengan menonton TV, membaca di berbagai platform digital dan mendengarkan musik.

c. Interactive consumption

Waktu yang digunakan di depan layar dengan bermain game, menonton youtube dan browsing di internet.

d. Communication

Waktu yang digunakan di depan layar dengan video chatting dan bermain social media.

e. Content Creator

Menggunakan waktu di depan layar untuk membuat digital art atau musik.

4. Dampak Screen Time

Media digital tertanam dalam masyarakat abad ke-21 hal ini sejalan dengan kemajuan teknologi saat ini, jumlah peluang untuk terpapar media digital atau melakukan screen time telah meningkat. Oleh karena itu tidak mengherankan jika penggunaan layar pada anak-anak meningkat, pada usia 5 hingga 19 tahun menggunakan media digital selama sekitar 15 jam per hari dan 99 persen usia 6 hingga 36 bulan menggunakan media digital setiap hari. Banyak ancaman terhadap kesehatan anak-anak dan remaja termasuk gangguan perkembangan kognitif dan sosial, obesitas, gangguan tidur, gangguan kesejahteraan, dan penggunaan media yang bermasalah (Galpin and Taylor, 2018).

Anak dan remaja yang kecanduan gadget atau sering melakukan screen time, dapat dipastikan pola makannya tidak teratur, anak hanya akan makan makanan yang disuka dan kurang tidur. Dampak negatif dari penggunaan digital adalah sebagai berikut:

a. Kesehatan mata anak, paparan berlebihan terhadap screen time dan menggunakan gadget dapat memicu masalah pada penglihatan.

(15)

b. Masalah tidur, masalah tidur pada anak dan remaja akan terjadi karena terlalu lama melihat layar digital (screen time).

c. Kesulitan konsentrasi, penggunaan media digital memiliki efek pada keterampilan mengubah perhatian anak sehingga dapat meningkatkan perilaku yang terlalu aktif dan kesulitan untuk konsentrasi.

d. Menurunnya prestasi belajar, penggunaan digital yang berlebihan dapat menurunkan prestasi belajar anak.

e. Perkembangan fisik, penggunaan digital dapat membatasi aktifitas fisik yang diperlukan tubuh terhadap tumbuh kembang anak.

f. Ketidakseimbangan bobot tubuh, hal tersebut dikarenakan anak sering menahan rasa lapar, haus, serta menahan keinginan untuk buang air besar yang mengakibatkan gangguan terhadap sistem pencernaan.

Selain dampak negatif yang dapat ditemukan dari keterpaparan screen time juga terdapat manfaat dari keterpaparan screen time apabila digunakan dalam batasan waktu yang tepat, karena baik media tradisional maupun media sosial dapat memberikan paparan ide-ide baru dan informasi, meningkatkan kesadaran peristiwa dan isu terkini. Interaktif media juga dapat memberikan peluang untuk promosi, partisipasi dan keterlibatan warga. Setiap individu dapat berkolaborasi dengan orang lain pada tugas dan membuat proyek di berbagai platform media online (Hill et al., 2016).

5. Durasi Screen Time

Rata-rata orang dewasa menghabiskan lebih dari 10 jam sehari di depan layar (termasuk pekerjaan). Waktu layar (screen time) untuk anak-anak biasanya berkisar 5 hingga 7 jam sehari. The American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan dalam suatu keluarga di segala usia agar dapat menentukan waktu bebas screen time bersama, hal tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari screen time. Rekomendasi The American Academy of Pediatrics (AAP) durasi penggunaan media atau screen time sesuai umur adalah sebagai berikut :

a. 18 bulan – 5 tahun

Durasi yang dianjurkan dalam menggunakan media (1 jam sehari) hanya program yang berkualitas tinggi, orang tua atau pengasuh harus melihat bersama-sama media

(16)

dengan anak-anak untuk membantu mereka mengerti apa yang mereka lihat dan bagaimana menerapkannya kepada dunia sekitar.

b. Lebih dari 6 tahun

Batasan waktu menggunakan sosial media adalah 3 jam, menempatkan batasan yang konsisten pada waktu yang dihabiskan menggunakan media, dan jenis media serta tidak menganggu waktu tidur, aktivitas fisik dan perilaku penting kesehatan lainnya.

D. Anak-anak dan Remaja 6. Definisi

Masa anak-anak dan remaja merupakan bagian dari fase perkembangan dalam kehidupan seorang individu. Menurut WHO seorang anak adalah setiap manusia dibawah usia 18 tahun kecuali jika dibawah undang- undang yang berlaku bagi anak, mayoritas umur lebih awal. Di Indonesia, definisi tentang anak dikemukakan oleh Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, undang-undang tersebut menyebutkan anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang ada dalam kandungan. WHO mendefinisikan remaja merupakan anak usia 10 – 19 tahun. Undang-Undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak mengatakan remaja adalah individu yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah.

Masa remaja merupakan salah satu fase perkembangan manusia yang paling cepat. Meskipun terdapat banyak perubahan yang tampak universal, waktu dan kecepatan perubahannya bervariasi di pada setiap individu (misalnya jenis kelamin) dan faktor eksternal (misalnya nutrisi yang tidak memadai dan lingkungan sekitar) (WHO, 2021).

7. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak-anak dan Remaja

Bertumbuh adalah perubahan fisik yang dengan mudah dapat diukur. Berkembang adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh menjadi lebih kompleks. Pertumbuhan yakni suatu perubahan yang bersifat kuantitatif yang dapat diukur. Titik beratnya ada pada fisik, pertumbuhan bisa dipantau dengan pengukuran tinggi badan, lingkar kepala, berat badan, dan ukuran standar yang telah disepakati secara internasional. Adapun perkembangan ialah terjadinya

(17)

pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang sangat kompleks (Nahriyah, 2018).

Pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi banyak faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang terjadi pada anak kita meliputi jenis kelamin, usia, perbedaan ras, genetik, dan kromosom. Adapun faktor eksternal terdiri dari keadaan lingkungan sosial, nutrisi, ekonomi, dan stimulasi psikologis. Perkembangan anak sudah menjadi bidang ilmu yang luas dan kompleks. Perkembangan merupakan suatu proses halus dan berkesinambungan atau kontinu yakni sebuah proses penambahan yang bertahap terhadap suatu keterampilan yang sama yang pernah digunakan sejak dulu.

Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan pada remaja adalah sebagai berikut:

b. Pertumbuhan Fisik

Pertumbuhan meningkat cepat dan mencapai puncak kecepatan. Pada fase remaja awal (11-14 tahun) karakteristik seks sekunder mulai tampak, seperti penonjolan payudara pada remaja perempuan, pembesaran testis pada remaja laki-laki, pertumbuhan rambut ketiak, atau rambut pubis. Karakteristik seks sekunder ini tercapai dengan baik pada tahap remaja pertengahan (usia 14-17 tahun) dan pada tahap remaja akhir (17-20 tahun) struktur dan pertumbuhan reproduktif hampir komplit dan remaja telah matang secara fisik.

c. Kemampuan Berpikir

Tahap awal remaja mencari-cari nilai dan energi baru serta membandingkan normalitas dengan teman sebaya yang jenis kelaminnya sama. Sedangkan pada remaja tahap akhir, mereka telah mampu memandang masalah secara komprehensif dengan identitas intelektual sudah terbentuk.

d. Identitas

Ketertarikan terhadap teman sebaya ditunjukkan dengan penerimaan atau penolakan. Remaja mencoba berbagai peran, mengubah citra diri, kecintaan pada diri sendri meningkat, mempunyai banyak fantasi kehidupan idealistis. Stabilitas harga diri dan definisi terhadap citra tubuh serta peran gender hampir menetap pada remaja di tahap akhir.

e. Hubungan dengan Teman Sebaya

(18)

Remaja pada tahap awal dan pertengahan mencari afiliasi dengan teman sebaya untuk menghdapi ketidakstabilan yang diakibatkan oleh perubahan yang cepat,pertemanan yang lebih dekat dengan jenis kelamin yang sama, namun mereka mulai mengekplorasi kemampuan untuk menarik lawan jenis. Mereka berjuang untuk mengambil tempat di dalam kelmpok. Standar perilaku dibentuk oleh teman sebaya sehingga penerimaan oleh sebaya adalah hal yang sangat penting.

f. Hubungan dengan Orang tua

Keinginan yang kuat untuk tetap bergantung pada orangtua adalah ciri yang dimiliki oleh remaja pada tahap awal. Dalam tahap ini, tidak terjadi konflik utama terhadap kontrol orang tua. Remaja pada tahap pertengahan mengalami konflik utama terhadap kemandirian dan kontrol. Pada tahap ini terjadi dorongan besar untuk emansipasi dan pelepasan diri. Perpisahan emosional dan fisik dari orangtua dapat dilalui dengan sedikit konflik ketika remaja akhir.

(19)

4. Kebutuhan Gizi pada Anak dan Remaja

Anak dan remaja membutuhkan zat gizi setiap hari, yang diperoleh dari berbagai macam makanan dan minuman yang digunakan sebagai sumber energi, pertumbuhan, mengganti sel-sel yang rusak, dan untuk menjaga kesehatan. Selain usia kebutuhan gizi pada anak-anak dan remaja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin (BPOM, 2013). Berdasarkan Permenkes RI nomor 28 tahun 2019, angka kecukupan energi, protein, karbohidrat, serat air yang dianjurkan pada anak dan remaja setiap hari adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2 Angka Kecukupan Energi

Uraian Umur

Laki-Laki Perempuan

Umur (tahun) 4-6 7–9 10-12 13–15 16-19 4-6 7–9 10-12 13–15 16-19

Berat badan (kg) 19 27 36 50 60 19 27 38 48 52

Tinggi badan (cm) 113 130 145 163 168 113 130 147 156 159

Energi (kkl) 1400 1650 2000 2400 2650 1400 1650 1900 2050 2100

Protein (g) 25 40 50 70 75 25 40 55 65 65

Lemak (g) 50 55 65 80 85 50 55 65 70 70

Karbohidrat (g) 220 250 300 350 400 220 250 280 300 300

Serat (g) 20 23 28 34 37 20 23 27 29 29

Air (ml) 1450 1650 1850 2100 2300 1450 1650 1850 2100 2150

(20)

E. Kebaruan Penelitian

1. Kebaruan penelitian pada penelitian ini yaitu menggunakan systematic review menggunakan PRISMA flow diagram dan meta-analisis dalam merangkum dan menggabungkan penelitian yang relevan terhadap pengaruh intervensi screen time dan fast food terhadap kejadian obesitas pada anak, sehingga hasil dari analisis dapat memberikan ringkasan berbasis bukti.

2. Kualitas artikel dinilai menggunakan critical appraisal checklist for cross sectional.

3. Kebaruan penelitian lainnya yakni menggunakan artikel dari lima benua yaitu Eropa, Asia, Amerika, Australia dan Afrika.

4. Variabel independen yang digunakan menggunakan dua variabel yaitu screen time dan fast food.

F. Meta Analisis

5. Definisi Systematic Review dan Meta Analisis

Meta analisis merupakan studi epidemiologi yang menggabungkan dan memadukan secara sistematik hasil-hasil dari sejumlah penelitian primer yang dapat digabungkan pada cara yang sama sehingga didapatkan hasil kuantitatif, tidak hanya menggabungkan data secara tidak langsung (Murti, 2018). Dalam meta analisis, populasi dan sampel yang biasanya merupakan individua atau kelompok pada data primer, maka di penelitian meta analisis menggunakan temuan-temuan penelitian atau artikel penelitian (Retnawati et al., 2018)

6. Kelebihan dan Kelemahan Meta Analisis

Menurut Murti (2018) Kelebihan dan Kekurangan Meta Analisis, antara lain sebagai berikut :

a. Kelebihan Meta Analisis

1) Merupakan respon logis dari suatu persoalan “eksplosi informasi” yang dapat membantu pengguna hasil penelitian dengan cara memberikan ringkasan gabungan hasil-hasil berbagai penelitian.

2) Memberikan bukti ilmiah yang terkuat dari intervensi atau paparan diantara semua desain studi.

3) Dapat mengatasi kontroversi hasil studi primer.

4) Memperluas kemampuan penerapan bukti validasi internal.

(21)

5) Mengurangi kesalahan random, meningkatkan presisi estimasi dan meningkatkan statistical power.

6) Memfasilitasi praktisi dalam menggunakan bukti riset dalam praktik berbasis bukti.

b. Kelemahan Meta Analisis

1) Validasi hasil meta analisis tergantung dengan kualitas studi primer.

2) Kecenderungan peneliti dalam menerbitkan hasil studi primer dapat menyebabkan publication bias.

3) Akses data yang tidak mudah.

G. Konsep Aplikasi Review Manager 5.3 7. Definisi Aplikasi Review Manager 5.3

Review Manager (Revman 5.3) adalah perangkat lunak The Cochrane Collaboration untuk mempersiapkan dan memelihara ulasan Cochrane. RevMan memfasilitasi persiapan protokol dan ulasan lengkap, termasuk teks, karakteristik studi, tabel perbandingan, dan data studi. Revman 5.3 dapat melakukan meta- analisis dari data yang dimasukkan, dan menyajikan hasil secara grafis (Cochrane, 2014)

Gambar 2. 1 Tampilan Awal Revman 5.3 8. Pelaporan Meta Analisis menggunakan Review Manager 5.3 a) Forest Plot

Forest Plot adalah diagram yang menunjukkan selayang pandang informasi dari masing-masing studi yang diteliti dalam meta analisis dan estimasi tentang hasil- hasil keseluruhan. Hal tersebut menunjukkan secara visual besarnya variasi (heterogenitas) diantara hasil-hasil studi (Murti, 2018).

(22)

Gambar 2.2 Grafik Forest Plot b) Funnel Plot

Funnel plot adalah diagram dalam meta-analisis yang digunakan untuk memperagakan kemungkinan bias publikasi. Funnel plot menunjukan relasi antara effect size studi dan besar sampel atau standar error dari effect size dari berbagai studi yang diteliti. Funnel plot adalah titik sebaran dari masing-masing efek, kesalahan standar memberikan ukuran ketepatan rasio peluang sebagai perkiraan parameter populasi. Uji coba dengan ukuran sampel yang lebih kecil menghasilkan pikiran efek yang kurang tepat. Ketika ukuran sampel meningkat, presisi efek yang diperkirakan juga meningkat dan ukuran kesalahan standar berkurang (Sedgwick, 2013).

Gambar 2.3 Funnel Plot c) Metode fixed effect dan random effect

Fixed effect model didefinisikan sebagai model statistik yang digunakan dalam penggabungan efek dari berbagai studi dalam meta-analisis, yang mengasumsikan homogenitas pengaruh lintas studi yang digabungkan. Sedangkan random effect model yaitu model statistik yang digunakan dalam menggabungkan efek dari

(23)

berbagai studi meta-analisis dimana heterogenitas antar studi dimasukkan ke dalam estimasi gabungan dengan cara memasukkan variasi antar studi (Murti, 2018)

Gambar 2.4 Model Fixed Effect dan Random Effect c) Tes Heterogenitas

Nilai heterogenitas ditunjukkan dengan nilai I2. Nilai I2 baru-baru ini dikembangkan dan diperkenalkan sebagai tes yang lebih disukai dan lebih dapat diandalkan untuk heterogenitas. I2 berkisar antara 0% hingga 100%. Heterogenitas mengukur variabilitas antara studi, yang memberi indikasi perbandingan nilai studi di meta- analisisnya. Selain itu, nilai heterogenitas juga ditunjukkan oleh nilai Confident Interval (CI). Heterogenitas juga menilai variasi antar dan intra- studi atau perbandingan studi dari model meta-analisis. Secara umum, seseorang dapat memilih di antara dua model meta-analisis yaitu fixed effect dan random effect.

Nilai heterogenitas (I2) <50%, maka dianggap homogen dan memakai fixed effect dan heterogenitas (I2) >50% atau heterogenitas sangat tinggi, peneliti harus menggunakan model random effect untuk meta analisis (Retnawati et al., 2018).

(24)

Gambar 2.5 Tes Heterogenitas H. Penelitian Relevan

1. Penelitian Febriani and Sudiarti (2019) dengan judul Fast food as drivers for overweight and obesity among urban school children at Jakarta, Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan yang berhubungan dengan overweight dan obesitas pada siswa sekolah dasar perguruan Cikini Jakarta Pusat, penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 145 siswa yang berada di kelas 3, 4, dan 5. Hasil dari penelitian ini adalah siswa yang mengkonsumsi fast food >3 kali/minggu memiliki kemungkinan untuk mengalami overweight dan obesitas 2.25 kali dibandingkan dengan siswa yang mengkonsumsi makanan cepat saji <3 kali/minggu (OR= 2.25; 95% CI= 1.03 - 4.89; p= 0.021).

Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti menggunakan meta-analisis untuk analisis statistik dan tidak melakukan eksperimen secara langsung, peneliti menggunakan dua variabel independen yaitu fast food dan screen time dan peneliti menggunakan logistik ganda.

2. Penelitian Frayon et al (2020) dengan judul Overweight in the pluri-ethnic adolescent population of New Caledonia: dietary patterns, sleep duration and screen time. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan overweight dan obesitas terhadap area tempat tinggal, pola makan, durasi

(25)

tidur dan waktu layar. Desain pada penelitian ini adalah cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan 954 remaja. Hasil pada penelitian ini adalah resiko obesitas lebih tinggi pada remaja Melanesia (OR = 1.67) dan Polinesia (OR = 5.40) dibandingkan dengan remaja Eropa, bahkan setelah mengontrol usia, SES, area tempat tinggal, pola diet, durasi tidur, dan screen time.

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti menggunakan meta-analisis untuk analisis statistik dan tidak melakukan eksperimen secara langsung, Peneliti menggunakan dua variabel independen yaitu fast food dan screen time, peneliti menggunakan logistik ganda.

3. Penelitian Bharati et al (2017) dengan judul Influence of socio-economic status and television watching on childhood obesity in Kolkata.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase obesitas di antara anak-anak 6-10 tahun dan menilai pengaruh variabel sosial ekonomi yang berbeda dan menonton TV pada obesitas anak, desain pada penelitian ini adalah deskriptif analitik. Jumlah sampel yang digunakan adalah 5216 anak dari 20 sekolah dasar yang terdapat di Kolkata. Hasil pada penelitian ini adalah durasi menonton TV memiliki efek langsung pada obesitas. Anak-anak yang tidak menonton TV, memiliki rata-rata BMI terendah dan mereka yang menonton tv ≥4 jam memiliki angka BMI yang lebih tinggi.

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti menggunakan meta-analisis untuk analisis statistik dan tidak melakukan eksperimen secara langsung, peneliti menggunakan dua variabel independen yaitu fast food dan screen time dan peneliti menggunakan logistik ganda.

4. Penelitian Hu et al (2019) dengan judul Association between television viewing and early childhood overweight and obesity: a pair-matched case-control study in China.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi menonton televisi dengan kelebihan berat badan berdasarkan usia. Penelitian ini menggunakan desain case control. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 933 anak yang berusia sampai 5 tahun. Hasil pada penelitian ini adalah waktu menonton TV > 1 jam memiliki resiko 1.72 kali terhadap prevalensi perilaku

(26)

tidak sehat dibandingkan dengan anak yang tidak menonton televisi (OR= 1.72;

95% CI= 1.16 - 2.54; p= 0.001).

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti menggunakan meta-analisis untuk analisis statistik dan tidak melakukan eksperimen secara langsung, Peneliti menggunakan dua variabel indipenden yaitu fast food dan screen time dan peneliti menggunakan logistik ganda, partisipan yang digunakan oleh peneliti adalah anak dan remaja usia 5-19 tahun.

5. Penelitian Ardic and Omar (2019) dengan judul Obesity frequency and related risk factors in primary school children.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan situasi obesitas dan faktor-faktor yang terkait di antara anak-anak antara usia 6-11 yang belajar di Rize, Turki. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 180 pasien anak (86 perempuan dan 94 laki-laki) yang lahir antara tahun 2006 dan 2010. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah epidemiologikal study dengan cross sectional study. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara obesitas dengan jenis kelamin, indeks massa tubuh orang tua, menonton tv >2 jam, konsumsi fast food dan aktivitas fisik yang rendah namun tidak ada hubungan yang ditemukan antara status pendidikan orang tua, waktu memulai makanan tambahan pada masa bayi dan durasi menyusui total. Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti menggunakan meta-analisis untuk analisis statistik dan tidak melakukan eksperimen secara langsung.

6. Penelitian Xian et al (2021)dengan judul Influence of the request and purchase of television advertised foods on dietary intake and obesity among children in China.

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh permintaan dan pembelian makanan yang diiklankan di TV dengan asupan makanan pada anak- anak, overweight dan obesitas di Cina. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dari 1417 anak (usia 6–17 tahun) dalam Survei Kesehatan dan Gizi China 2011. Desain pada penelitian ini adalah CHNS kohort terbuka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa prevalensi obesitas pada anak-anak yang membeli makanan yang diiklankan 1 kali/minggu (OR= 1.46; 95% CI= 1.01 - 2.11; p= 0.001) dan pada orang tua (OR= 1.59; 95% CI= 1.15 - 2.18; p= 0.001) dan untuk anak- anak yang meminta makanan yang diiklankan 1 kali/minggu (OR= 1.39; 95% CI=

(27)

1.00 - 1.95; p= 0.001), permintaan dan pembelian makanan yang diiklankan di TV dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas anak-anak.

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti menggunakan meta-analisis untuk analisis statistik dan tidak melakukan eksperimen secara langsung. Peneliti menggunakan dua variabel independen yaitu fast food dan screen time dan peneliti menggunakan logistik ganda.

7. Penelitian Emond et al (2020) dengan judul Fast food intake and excess weight gain over a 1-year period among preschool-age children.

Penelitian ini bertujuan menganalisis konsumsi fast food dengan kejadian overweight dan obesitas pada anak-anak usia pra sekolah. Desain yang digunakan dalam penelitian yaitu prespektif kohort dengan jumlah sampel 541 anak yang berusia 3-5 tahun. Hasil pada penelitian ini adalah resiko peningkatan status berat badan meningkat secara linier dengan setiap kali tambahan fast food dikonsumsi dalam rata-rata minggu selama tahun penelitian (RR=1.38; 95% CI= 1.13-1.67; p=

0,001).

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti menggunakan meta-analisis untuk analisis statistik dan tidak melakukan eksperimen secara langsung, partisipan yang digunakan oleh peneliti adalah anak dan remaja usia 5-19 tahun.

8. Penelitian Hayyat et al (2019) dengan judul Assessing the nexus of fast food consumption and childhood obesity in Lahore Metropolitan City of Pakistan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah konsumsi fast food pada siswa di kota Lahore. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 240 yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berusia 5 -12 tahun. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dari sekolah swasta mengkonsumsi lebih banyak fast food daripada yang lain dan tingkat obesitas lebih tinggi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Faktor teman, variasi rasa, iklan di televisi, rutinitas orang tua dan pendapatan keluarga, serta waktu yang singkat dapat meningkatkan konsumsin fast food.

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti menggunakan meta-analisis untuk analisis statistik dan tidak melakukan eksperimen secara langsung. Peneliti menggunakan dua variabel indipenden yaitu fast food dan screen time dan peneliti menggunakan logistik ganda.

(28)

9. Penelitian Tripathi and Mishra (2019) dengan judul Screen time and adiposity among children and adolescents: a systematic review.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara waktu layar dan indikator adipositas pada anak-anak dan remaja. Ini merupakan penelitian meta- analisis dengan menggunakan pencarian artikel berbahasa inggris dari tahun 2010 sampai dengan 2017, sampel yang digunakan adalah anak-anak dan remaja baik perempuan maupun laki-laki yang berusia 5-19 tahun. Hasil pada penelitian ini adalah di antara studi yang dipilih untuk ditinjau, 85% (31 cross-sectional, 6 longitudinal dan 1 intervensi) menunjukkan hubungan positif antara waktu layar dan insiden adipositas di antara anak-anak dan remaja. Namun, 15% (n = 6) dari desai studi (4 cross-sectional, 1 longitudinal dan 1 intervensi) melaporkan tidak ada hubungan yang signifikan antara waktu yang dihabiskan di perangkat layar dan salah satu indikator adipositas.

Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti hanya menggunakan artikel dengan metode cross sectional, waktu terbit (publikasi) artikel yang digunakan adalah antara 2011-2021, peneliti menggunakan dua variabel independen yaitu fast food dan screen time.

10. Penelitian Biswas et al (2017) dengan judul Overweight and obesity among children and adolescent in Bangladesh: a systematic review and meta- analysis.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalesndi obesitas pada anak dan remaja di Bangladesh. Penelitian ini menggunakan meta analisis dengan mengumpulkan artikel dari tahun 1993-2003. Hasil pada penelitian ini adalah tingkat prevalensi obesitas meningkat secara substansial selama bertahun-tahun dari 3.6% selama 1999-2003 menjadi 5.7% selama 2004-2009 dan 7.9% pada tahun 2010-2015. Namun, tingkat prevalensi obesitas yang dikumpulkan mengalami penurunana tajam anatara tahun 1998-2003 dan 2004-2009 dari 9.7% menjadi 2.0%

dan kemudian meningkat secara signifikan menjadi 9.0% pada tahun 2010—2015.

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti hanya menggunakan artikel dengan desain cross sectional, waktu terbit artikel antara tahun 2022-2021, penelitian menggunakan logistic ganda, peneliti tidak membatasi wilayah geografis

(29)

artikel, peneliti menggunakan dua variable independen yaitu fast food dan screen time.

11. Penelitian Ardeshirlarijani et al (2019) dengan judul The link between breakfast skipping and overweigh/obesity in children and adolescents: a meta-analysis of observational studies.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara melewatkan sarapan dengan kejadian obesitas pada anak dan remaja. Penelitian menggunakan meta- anaisis dengan artikel dari tahun 2000-2018. Hasil pada penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara melewatkan sarapan dan obesitas (OR=1.43; 95%

CI= 1.32-1.54; p=0.001), sedangkan studi kohort tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (OR= 1.01; 95% CI= 0.93 - 1.11; p=0.14).

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti hanya menggunakan artikel dengan metode cross sectional, waktu terbit (publikasi) artikel yang digunakan adalah antara 2011-2021, peneliti menggunakan dua variabel independen yaitu fast food dan screen time, peneliti menggunakan logistik ganda.

12. Penelitian Rachmi et al (2017) dengan judul Overweight and obesity in Indonesia: prevalence and risk factorsda literature review.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui data yang dipublikasikan tentang prevalensi dan faktor resiko kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa di Indonesia. Desain penelitian ini adalah literature review. Hasil pada penelitian ini adalah prevalensi obesitas telah meningkat selama dua dekade terakhir pada anak-anak, remaja dan orang dewasa di Indonesia.

Tingkat prevalensi lebih tinggi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, tetapi lebih tinggi pada wanita pada kelompok usia remaja dan dewasa. Prevalensi kelebihan berat badan atau obesitas juga lebih tinggi pada mereka yang tinggal di perkotaan dan dengan pendapatan atau pendidikan yang lebih tinggi.

Perbedaan pada penelitian ini adalah peneliti hanya menggunakan artikel dengan metode cross sectional, waktu terbit artikel adalah antara 2011-2021, peneliti menggunakan regresi logistik ganda, peneliti tidak membatasi wilayah geografis artikel, peneliti menggunakan dua variabel independen yaitu fast food dan screen time.

(30)

I. Kerangka Berpikir

: Diteliti

Gambar 2. 6 Kerangka berpikir Keterangan :

Obesitas merupakan suatu keadaan dimana terjadi sebagai penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi (energi intake) dengan energi yang digunakan (energi expenditure) dalam waktu lama (Kemenkes, 2018). Obesitas pada anak dan remaja saat ini salah satunya disebabkan oleh life style (gaya hidup) yang menjadikan seseorang bertambah dalam mengkonsumsi fast food, aktifitas fisik kurang, waktu tidur kurang dan semakin banyak melakukan screen time, Hal

Life Style

Bertambahnya fast food

Kurangnya aktifitas fisik

Kurangnya waktu tidur

Bertambahnya screen time

Asupan total energi sehari meningkat

Penumpukan energi

Ketidakseimbangan asupan energi

Obesitas pada anak dan remaja

(31)

tersebut secara tidak sadar dapat menjadikan tidak beraturnya pola makan yang sebelumnya dan menjadikan asupan energi dalam sehari menjadi meningkat sehingga terjadi penumpukan energi dan ketidakseimbangan gizi yang mengakibatkan obesitas pada anak remaja.

J. Hipotesis

1. Kebiasaan mengkonsumsi fast food dapat meningkatkan terjadinya obesitas pada anak dan remaja.

2. Kebiasaan melakukan screen time dapat meningkatkan terjadinya obesitas pada anak dan remaja.

Gambar

Gambar 2. 1 Tampilan Awal Revman 5.3  8.  Pelaporan Meta Analisis menggunakan Review Manager 5.3  a)  Forest Plot
Gambar 2.2 Grafik Forest Plot  b)  Funnel Plot
Gambar 2.4 Model Fixed Effect dan Random Effect  c)  Tes Heterogenitas
Gambar 2.5 Tes Heterogenitas  H.  Penelitian Relevan
+2

Referensi

Dokumen terkait

motivasi ekstrinsik terhadap prestasi kerja agen asuransi Bumida. Syariah

Pendekatan pertama adalah restorasi (restoration) yang didefinisikan sebagai upaya untuk memulihkan kembali (recreate) ekosistem hutan aslinya melalui penanaman dengan jenis

Departemen Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP Haji Adam Malik Medan di saat penulis melakukan penelitian

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang berdasarkan yang berlandaskan konstruktivisme dan mengakomodasi

Periklanan adalah salah satu alat pemasaran yang paling terlihat karena setiap konsumen yang ingin membeli produk, bisa tertarik dan membeli suatu produk tersebut dengan

Kuasa Hukum Setya Novanto, Firman Wijaya menanggapi santai langkah Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono yang melaporkannya ke Bareskrim Polri atas

Berdasarkan data dan pembahasan pada penelitian pengembangan modul mitigasi bencana berbasis potensi lokal yang terintegrasi dalam pelajaran IPA di SMP maka dapat