Jurnal Ilmiah Kefarmasian
Journal homepage : http://e-jurnal.stikesalirsyadclp.ac.id/index.php/jp
Optimasi Formula SNEDDS Ekstrak Etanol Daun Sirsak ( Annona muricata) Sebagai Antibakteri ( Stapylococcus aureus) Dengan Metode Simplex Lattice Design
Optimization Of Formula SNEDDS Ethanol Extract Of Soursoup Leaf (Annona muricata) As An Antibactery (Staphylococcus aureus) With Simplex Lattice Design Method
*Septiana Indratmoko
1, Sivi Dwi Cahyani
2Andi Tenri N.L.O
31,2,3STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia
INFO ARTIKEL
Kata Kunci :
Ekstrak daun sirsak, SNEDDS, Simplex Lattice Design,
Staphylococcus aureus
Keyword : Soursoup extract, SNEDDS , Simplex Lattice Design,
Staphylococcus aureus
ABSTRAK/ABSTRACT
Ekstrak daun sirsak (Annona Muricata) memilki kandungan senyawa metabolit sekunder yang bersifat sebagai antibakteri diantaranya yaitu flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin. Pemanfaatan ekstrak daun sirsak diformulasikan dalam sediaan Self Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) untuk meningkatkan kelarutan sehingga tercapai efek terapi yang maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formula optimum SNEDDS ekstrak daun sirsak berserta uji sifat fisik dan efektivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penggunaan nanoemulsi dioptimalkan dengan menggunakan Simplex Lattice Design sehingga didapatkan perbandingan formulasi terbaik (tween 80) 6 : (PEG 400) 1 : (Minyak terpilih) 1 dengan nilai desirability 0,987 dengan drug loading ekstrak sebesar 25 mg/mL. Parameter uji sifat fisik SNEDDS diperoleh pengamatan stabilitas sediaan stabil, nilai transmitan 97,7%, emulsification time 3 menit dan pH sebesar 6. Uji aktivitas antibakteri sediaan SNEDDS ekstrak daun sirsak memiliki daya hambat lebih besar daripada ekstrak daun sirsak. Hasi uji efektivitas antibakteri dianalisis dengan paired sample t-test memiliki signifikasi < 0,05 sehingga ada perbedaan antar kelompok.
Soursoup leaf extract (Annona muricata) has secondary metabolite compounds that are as antibacterial including flavonoid, alkaloid, tannin, and saponin. Development of the use of soursoup leaf extract is formulated in Self Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) preparations to increase solubility and have a maximum therapeutic effect. The purpose of this study was to determine the optimum SNEDDS formula for soursoup leaf extract and physical test and effectiveness of staphylococcus aureus bacteria.
Nanoemusion was optimized by Simplex Lattice Design provided the best formulation ratio (tween 80) 6: (PEG 400) 1: (accumulate oil) 1 with drug loading extract 25 mg/mL of SNEDDS preparation. SNEDDS physical parameters test obtained observation of stable preparation stability, transmittance value of 97,7% emulsification time 25,67 second and pH 6.
The antibacterial activity test of SNEDDS preparation for soursop leaf extract has greater inhibitory power than soursop leaf extract. The results of the antibacterial effectiveness test were analyzed by using paired sample t-test which has a significance <0.05 so that there are differences between groups.
A. PENDAHULUAN
Tumbuhan sirsak (Annona muricata) memiliki persebaran yang luas di Indonesia, tumbuhan ini dapat tumbuh dengan mudah dan tidak perlu perlakuan khusus. Daun sirsak memiliki kandungan senyawa yang berkhasiat diantaranya yaitu, senyawa flavonoid, triterpenoid, saponin, polifenol, dan metabolit sekunder lainnya yang dapat menjadi bahan antikanker (Bilqistiputri et al., 2014).
Menurut penelitian yang dilakukan sebelumnya daun sirsak juga mengandung senyawa acetogenin (Utari et al., 2013).
Senyawa ini merupakan kumpulan senyawa aktif yang berada hampir pada setiap bagian tanaman sirsak (Li et al., 2008).
Kandungan senyawa acetogenin lebih banyak terdapat pada daun sirsak yang tua daripada daun yang lebih muda. Senyawa ini berperan sebagai agen aktif antibakteri yang dapat digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri (Takashi et al., 2006). Aktivitas antibakteri dari daun sirsak didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Hidana et al., 2014), menyatakan bahwa sari daun sirsak dengan konsenterasi terendah 20% dan konsenterasi tertinggi yaitu 100% pada bakteri Escherchia Coli dengan daya hambat yang terbentuk 6,5 mm-25mm. Ekstrak daun sirsak memiliki kelarutan yang rendah dalam air sehingga efektivitasnya terbatas.
Untuk meningkatkan kelarutan ekstrak tanaman salah satunya dengan sediaan Self Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS).
SNEDDS merupakan suatu formulasi nanopartikel berbasis minyak atau lemak.
SNEDDS terdiri atas campuran isotropik antara minyak, surfaktan, dan kosurfaktan yang dapat membentuk nanoemulsi secara spontan ketika kontak dengan cairan lambung (Makadia et al., 2013).
Kosurfaktan (PEG 400) merupakan senyawa amfifilik seperti propilen glikol, polietilen glikol, dan glikol ester yang memiliki afinitas terhadap fase air dan minyak (Makadia et al., 2013). Sedangkan surfaktan (Tween 80) berperan dalam menurunkan tegangan permukaan. Pemilihan Surfaktan dalam SNEDDS pada umumnya didasarkan
pada keamanan penggunaan dan nilai hydrophile-lipophile balance (HLB).
Pada penelitian ini dilakukan optimasi dan formulasi sediaan SNEDDS dari ekstrak daun sirsak dengan menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD) beserta pengujiannya terhadap aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus. Karakteristik sediaan SNEDDS ditunjukkan dengan melakukan analisis untuk mengetahui kualitas sediaan tersebut memenuhi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan berupa ukuran partikel, potensial zeta, drug loading, turbiditas, emulsification time dan stabilitas.
B.
METODEAlat
Alat yang digunakan diantaranya adalah sarung tangan, masker, cawan proselen, neraca analitik digital (Ohausse), gelas beaker (Pyrex), ose, pH meter, labu takar, erlenmeyer (Iwaki), alat-alat gelas (Pyrex), spektrofotometri UV-Vis (Genesys), Particle size dan Zeta Potensial Analyzer (Horiba), magnetic stirer, hot plate, aplikasi software design expert, dan alat pendukung lainnya.
Bahan
Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan SNEDDS yaitu, ekstrak daun sirsak, etanol 70% (Brataco), minyak zaitun (Qonita), minyak jagung, minyak ikan cucut botol, tween 80 (Brataco), PEG 400 (Brataco), aquadest (Brataco), bakteri Staphylococcus aureus.
Prosedur Penelitian
Pembuatan Ekstrak Daun Sirsak
Pembuatan ekstrak daun sirsak menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70% pada perbandingan 1 : 10 selama 3 x 24 jam untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Setelah diperoleh maserat kemudian ditampung dan diupakan dengan waterbath pada suhu 40-50oC sampai diperoleh ekstrak kental sebesar 19,040 gram.
Identifikasi senyawa a. Uji flavonoid
Sampel ekstrak diambil ditambahkan dengan 5 ml pelarut etanol. Ditambah dengan HCl pekat 3 tetes dan Mg.
Apabila timbul warna kuning jingga hingga merah maka positif mengandung flavonoid ( Mustikasari &
Ariyani, 2010).
b. Uji alkaloid
Sampel ekstrak dilarutkan dalam 2 mL asam klorida, dipanaskan 5 menit dan disaring. Filtrat ditambahkan 2-3 tetes pereaksi dragendorff. Apabila timbul warna merah atau endapan warna jingga menunjukan adanya senyawa alkaloid (Dian et al., 2016).
c. Uji tanin
Sampel ditambahkan dengan larutan besi (III) klorida. Kemudian akan menghasilkan reaksi warna hijau-biru- hitam (Nonci, 2014).
d. Uji saponin
Sampel diambil ditambahkan dengan air, kemudian dipanaskan. Setelah dikocok kuat kuat maka akan timbul adanya busa (Tiwari et al., 2011).
Penetapan Kadar Air
Sebanyak 1 gram ekstrak ditimbang, kemudian dikeringkan pada suhu 105oC selama 60 menit. Pemanasan dilakukan hingga bobot tetap. Sampel yang sudah didapat bobotnya tetap yaitu sampai perbedaan penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25%, kemudian dikeluarkan dari oven, dicatat bobot tetap yang diperoleh untuk menghitung presentase susut pengering (Rostinawati, 2009).
Uji Solubilitas ekstrak daun sirsak
Sebanyak 10 mg ekstrak daun sirsak dilarutkan pada masing-masing surfaktan, kosurfaktan dan minyak (Miinyak ikan cucut botol. Tween 80, PEG 400, minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak jagung) yang dikondisikan dalam magneticc stirrer dan sonikator untuk memaksimalkan kelarutan. Kemudian dilakukan pengamatan dengan parameter endapan dan apakah terjadi pemisahan.
Optimasi Formulasi
Optimasi formula dilakukan dengan menggunakan Simplex lattice design sehingga menghasilkan 14 formula, dan dapat digunakan untuk menentukan
formula optimum. Kemudian dilakukan pengamatan pada sediaan parameter ketidakstabilan seperti terjadinya pemisahan, pengendapan, creaming, dan cracking. Sediaan yang stabil dilakukan pengujian selanjutnya yaitu uji pemanasan (40°C) dan pendinginan (4°C) dengan lama penyimpanan 48 jam (Senapati et al., 2016). Uji Turbiditas juga dilakukan untuk mengetahui kejernihan sistem SNEDDS dengan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 650 nm dengan blanko akuades. Nilai absorbansi yang mendekati 100% menunjukkan bahwa ukuran tetesan dispersi yang dihasilkan oleh SNEDDS telah mencapai ukuran nanometer, yang secara visual tampak dari transparansi sistem yang terbentuk (Bali et al., 2010).
Drug Loading
Optimasi ini dilakukan dengan bobot seri ekstrak daun sirsak yaitu 50, 100, 150, 200 mg. Ekstrak daun sirsak ditambahkan 5 ml formula optimal dalam SNEDDS, dihomogenkan dengan vortex selama 5 menit, dengan sonikator selama 5 menit, waterbath 45°C selama 5 menit, diulangi kembali dengan cara yang sama sebanyak 2 kali siklus dengan perubahan waktu sonikasi menjadi 10 menit. Pengamatan kelarutan ekstrak daun sirsak dalam SNEDDS dilakukan secara visual Cara ini mengacu pada solid dispersion technique (Aprian, 2015).
Pengamatan Emulsification time
Penghitungan emulsification time dilakukan terhadap nanoemulsi ekstrak daun sirsak dalam akuades. Media sebanyak 500 mL dikondisikan pada suhu 37°C pada alat disolution tester tipe aparatus I1 dengan kecepatan 100 rpm. SNEDDS 1 mL berisi ekstrak daun sirsak dimasukan kedalam labu yang terdapat pada alat disolution tester.Nanoemulsi yang terbentuk, ditandai dengan terlarutnya SNEDDS ekstrak daun sirsak secara sempurna dalam media (Patel et al., 2011).
Karakterisasi Droplet size Ekstrak Daun Sirsak
Droplet size menggambarkan ukuran partikel solid nanoemulsi ekstrak daun sirsak. Ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel dari solid nanoemulsi ekstrak daun sirsak dilakukan dengan cara 0,1 g dari formula solid SNEDDS ekstrak daun sirsak
dilarutkan dalam 10 mL air suling dengan pengadukan konstan pada suhu 250C, disentrifugasi dan diambil cairan yang bening. Pengukuran distribusi ukuran partikel menggunakan alat particle size analyze.
Uji pH
Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Sebelum digunakan, elektroda dikalibrasi atau diverifikasi dengan menggunakan larutan standar dapar pH 4,5 - 6.
Uji Aktivitas Antibakteri
Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi dengan metode cakram (disc). Uji ini dilakukan dengan menyelupkan kapas lidi steril pada suspensi bakteri yang telah dibandingkan kekeruhannya dengan standar Mc.Farland dan di ratakan pada media.Kertas cakram yang telah dicelupkan dalam berbagai konsentrasi zat yang memiliki daya antibakteri sehingga akan menghasilkan daerah hambat. Kemudian dibuat kontrol positif menggunakan (antibiotik kloramfenikol) dan kontrol negatif menggunakan (aquadest). Setelah media ditempelkan kertas cakram masing-masing zat antimikroba maka diinkubasi selama 18- 24 jam pada suhu 37°C dalam kondisi anaerob. Hasil inkubasi diamati dengan
aadanya area jernih disekitar caram sebagai zona hambat bakteri (Sulistiyowati, 2017).
C. HASIL DAN PEMBAHSASAN
Pembuatan Ekstrak Daun SirsakPembuatan ekstrak etanol daun sirsak dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% selama 3 x 24 jam. Metode maserasi dipilih karena untuk menjaga kandungan daun sirsak yang tidak tahan dengan pemanasan tinggi. Dari proses ekstraksi ini diperoleh maserat yang kemudian dilakukan penguapan etanol 70% menggunakan waterbath pada suhu 40 – 50 °C. Ekstrak kental yang diperoleh sebesar 19,046 gram sehingga didapatkan rendemen ekstrak sebesar 9,52%.
Identifikasi Senyawa Fitokimia
Identifikasi senyawa alkaloid pada daun sirsak mendapatkan hasil positif setelah ditambahkan HCl pekat dan larutan dragendroff karena pada pengujian membentuk warna merah coklat bata, dimana endapan tersebut adalah kalium alkaloid. Hasil positif uji flavonoid ditandai dengan terbentuknya garam flavilium berwarna coklat merah atau orange. Reaksi tersebut dikarenakan adanya penambahan HCl dan logam Mg yang bereaksi dengan flavonoid. Pengujian saponin ekstrak daun sirsak menunjukan hasil positif karena terbentuk busa yang stabil setelah dikocok dengan penambahan air Hasil identifikasi senyawa ekstrak daun sirsak dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil identifikasi senyawa ekstrak daun sirsak
Metabolit sekunder Hasil Keterangan
Alkaloid Flavonoid
Saponin Tanin
+ + + +
Warna merah coklat bata Warna merah orange
Terbentuknya busa Warna biru-hitam Ket : (+) positif artinya ekstrak mengandung senyawa yang diujikan
Pengujian tanin pada ekstrak daun sirsak yang direaksikan dengan FeCl3
menghasilkan warna biru-kehitaman.
Penambahan FeCl3 untuk mengetahui keberadaan gugus fenol dalam sampel, yang ditandai dengan terbentuknya warna hijau, biru-kehitaman.
Penetapan Kadar Air
Hasil pengujian penetapan kadar air ekstrak daun sirsak mendapatkan hasil sebesar 8,96 % sehingga memenuhi persyaratan standar kadar air pada parameter ≤10% (Depkes RI, 2008).
Uji Solubilitas
Berdasarkan hasil uji solubilitas yang telah dilakukan menunjukkan bahwa minyak yang dapat melarutkan ekstrak adalah minyak ikan cucut botol hal ini
ditandai dengan minyak ikan cucut botol menghasilkan larutan yang jernih dan tidak keruh dibandingkan minyak yang lainnya tidak dapat terlarut dengan sempurna.
Hasil solubilitas ekstrak daun sirsak dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Solubilitas Ekstrak Daun Sirsak
Minyak Solubilitas ekstrak daun sirsak 10 mg/10mL Minyak Ikan Cucut Botol Jernih dan terlarut
Minyak Jagung Keruh dan tidak terlarut Minyak Kedelai Keruh dan tidak terlarut Minyak Bunga Matahari Jernih dan tidak terlarut
Minyak Zaitun Jernih dan tidak terlarut
Tween 80 Jernih dan terlarut
PEG 400 Jermh dan terlarut
Fase pembawa tween 80 dan PEG 400 juga menghasilkan larutan yang homogen dan jernih karena memiliki nilai HLB berkisar antara 15-21 yang sesuai dengan sistem sediaan Self nanoemulsifying drug delivery system (SNEDDS) (Makadia et al., 2013).
Optimasi Formulasi SNEDDS Ekstrak Daun Sirsak
Pada penentuan formulasi optimum komposisi surfaktan dan kosurfaktan sangat mempengaruhi tipe nanoemulsi
yang terbentuk, pada tween 80 dan PEG 400 memiliki nilai HLB 15-21 sehingga memenuhi kriteria nanoemulsi tipe minyak dalam air (M/A) karena nilai HLB diatas 10, sebagaimana menurut penelitian yang dilakukan oleh (Soni et al., 2014) kombinasi surfaktan dan kosurfaktan dengan HLB tinggi dapat membentuk nanoemulsi yang jauh lebih stabil.
Komposisi bahan untuk menentukan formulasi optimum dapat dilihta pada
tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Bahan untuk Menentukan Formulasi Optimum Formulasi Tween
80 PEG
400 Minyak Ikan
cucut Botol Turb.
(%) Stab. Ket.
1 3,5 3,5 1 15,8 Tidak stabil Tidak larut
2 1 6 1 7,5 Tidak stabil Tidak larut
3 6 1 1 98,2 Stabil Terlarut
4 3,5 3,5 71 17,4 Tidak stabil Tidak larut
5 1 6 1 15,9 Tidak stabil Tidak larut
6 2,66 2,66 2,66 0,4 Tidak stabil Tidak larut
7 1 3,5 3,5 0,8 Tidak stabil Tidak larut
8 4,33 1,83 1,83 1,6 Tidak stabil Tidak larut
9 1 1 6 0,4 Tidak stabil Tidak larut
10 6 1 1 97,7 Stabil Terlarut
11 1,83 4,33 1,83 4,2 Tidak stabil Tidak larut 12 1,83 1,83 4,33 0,8 Tidak stabil Tidak larut
13 3,5 1 3,5 0,4 Tidak stabil Tidak larut
14 1 1 6 0,8 Tidak stabil Tidak larut
Berdasarkan metode simple lattice design dari formulasi terpilih yaitu pada perbandingan 6 : 1 : 1 memiliki nilai turbiditas sebesar 98,2% yang
menunjukkan memiliki nilai turbiditas baik dan stabil sebagaimana yang telah dinyatakan oleh (Bali, et al., 2010) karena mendekati 100% yang berarti dapat
membentuk dispersi yang jernih dengan mencapai ukuran nanometer.
Overlay plot diatas menunjukkan respon terhadap stabilitas dan turbiditas, dimana daerah optimum ditunjukkan pada daerah berwarna kuning. Menurut prediksi memiliki nilai turbiditas sebesar 97,67%
dengan stabilitas sebesar 0,997506 yang dihasilkan oleh formula perbandingan 6 : 1 :1. Sedangkan pada pengujian sistem SNEDDS pada formula 6 :1:1 memiliki nilai turbiditas sebesar 97,7% dan 98,2%.
Berdasarkan hasil analisis diatas dapat diketahui formulasi optimum yang diprediksi oleh Simplex lattice design (SLD) diperoleh nilai desirability terhadap respon turbiditas dan stabilitas. Penetapan nilai Goal Optimization dari formulasi optimum dilakukan berdasarkan respon nilai yang dikehendaki, dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Verifikasi Respon Nilai Goal Optimization
Parameter Nilai Goal Importance
Turbiditas 0-100 % Maximize +++
Stabilitas 1 Maximize +++
Berdasarkan hasil uji turbiditas dan stabilitas dilakukan verifikasi nilai hasil observasi dan nilai prediksi menggunakan
analisis One Sample t-test dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Verifikasi Nilai Prediksi dan Nilai Hasil Penelitian Respon Nilai Observasi Nilai Prediksi Sig.2-tailed Kesimpulan
Stabilitas 1,00 0,997 0,686 Tidak berbeda
bermakna
Turbiditas 98,2% 97,67% 0.634 Tidak berbeda
bermakna Berdasarkan data tabel 5, verifikasi
dari formulasi optimum dengan parameter stabilitas dan turbiditas yang telah di analisis menggunakan One sample t-test memiliki nilai P > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara nilai hasil penelitian dengan nilai prediksi dari Simplex lattice design.
Drug Loading
Berdasarkan hasil perlakuan optimasi drug loading ekstrak daun sirsak menunjukkan konsentrasi maksimal esktrak dapat larut dalam formula atau sistem SNEDDS adalah sebesar 45 mg/5 mL. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi maksimal ekstrak daun sirsak sebesar 45 mg yang mampu terlarut dalam sistem SNEDDS pada formula optimum (6:1:1).
Apabila dinaikkan konsenterasi daun sirsak maka akan membentuk larutan yang keruh dan adanya endapan dalam formula SNEDDS.
Pengamatan Emulsification Time
Pengujian emulsification time ini dilakukan dengan menggunakan alat disolution tester aparatus II dengan suhu 37°C dan kecepatan 100 rpm. Berdasarkan hasil waktu emulsifikasi menunjukkan bahwa formulasi sediaan SNEDDS ekstrak daun sirsak mampu terdispersi pada waktu ke 25,67 detik. Semakin cepat waktu emulsifikasi maka cukup menghasilkan sistem emulsi yang jernih dimana menurut (Makadia et al., 2013) syarat waktu emulsifikasi yang direkomendasikan dalam sediaan SNEDDS adalah kurang dari 2 menit.
Karakteristik SNEDDS Ekstrak Daun Sirsak a. Ukuran Partikel
Distribusi ukuran partikel yang seragam akan akan menyebabkan zat aktif dapat diabsorbsi dengan kecepatan relatif sama dan cepat sehingga dapat meningkatkan bioavailibilitas (Kumar, Sharma and Kamble, 2010). Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui nilai indeks polidispersitas (PI) dari formulasi SNEDDS ekstrak daun sirsak 3 replikasi bertururt- turut yaitu 0,187 pada ukuran tetesan 13,0 nm, 0,177 pada ukuran tetesan 13,3nm, dan 0,109 pada ukuran tetesan 12,7 nm, sehingga hal ini membuktikan bahwa sampel SNEDDS ekstrak daun sirsak memiliki bentuk nanoemulsi yang seragam. Hal ini dapat dilihat pada indeks polidispersitas (PI) merupakan nilai standar deviasi dari rata-rata ukuran partikel yang mengindikasikan keseragaman ukuran nanoemulsi, dimana apabila nilai indeks polidispersitas (PI) semakin kecil maka dapat diartikan ukuran nanoemulsi yang terbentuk semakin seragam.
b. Potensial Zeta
Berdasarkan data pengujian hasil potensial zeta sediaan SNEDDS ekstrak daun sirsak berturut-turut 6,9 mV, 6,7 mV dan 7,3 mV memenuhi kriteria
karena berada pada rentang (+/-) 30 mV maka dapat dikatakan dispersi SNEDDS ekstrak daun sirsak akan stabil, sebaliknya apabila nilai potensial zeta lebih rendah maka akan mementuk sistem dispersi yang tidak stabil.
c. Stabilitas
Berdasarkan hasil uji stabilitas sediaan yang telah disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 30 menit menunjukkan sediaan yang stabil karena tidak adanya pemisahan pada formula 6 : 1 : 1, dibandingkan dengan formula lainnya memiliki visual keruh, terjadi pemisahan dan tidak homogen. Pengujian ini juga berlaku untuk mengetahui kestabilan SNEDDS ekstrak daun sirsak dimana dikatakan stabil karena dilihat tidak adanya pemisahan fase, jernih dan tidak adanya endapan. Hal ini dipengaruhi karena, semakin besar kemampuan surfaktan dan kosurfaktan dalam mengurangi tegangan permukaan maka akan semakin membentuk nanoemulsi yang stabil (Villar et al., 2012).
d. Viskositas
Berdasarkan pengujian viskositas diperoleh hasil 3 replikasi dengan hasil berturut-turut 0,896 mPa.s, 0,897 mPa.s dan 0,897 mPa.s. Viskositas merupakan suatu sifat yang menunjukkan bagaimana tingkat kekentalan cairan untuk mengalir.
Apabila suatu cairan makin kental maka akan semakin besar kekuatan yang diperlukan untuk mengalir.
Besarnya viskositas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah suhu, ukuran partikel, konsentrasi larutan, serta gaya tarik menarik antar molekul (Martin and Cummarta, 2008).
Uji pH
Nilai pH sediaan berada dalam kisaran pH kulit yaitu 4-6 (Ali and Yosipovitch, 2013), sehinga dapat meminimalkan resiko terjadinya iritasi.
Pada sediaan SNEDDS ekstrak daun sirsak memiliki nilai pH sebesar 6, hal ini dapat terjadi kemungkinan karena komposisi
tween 80 yang lebih banyak. Tween 80 memiliki nilai pH dalam rentang 6-8 sehingga semakin meningkat konsentrasi tween 80 maka akan meningkatkan pH sediaan.
Uji Antibakteri
Pada pengujian antibakteri ekstrak daun sirsak terhadap Staphylococcus aureus dilakukan menggunakan metode difusi cakram. Sediaan ekstrak dan SNEDDS ekstrak daun sirsak yang diujikan pada konsentrasi 2,25 mg/mL, 4,50 mg/mL, 6,75 mg/mL dan 9 mg/mL dengan hasil sebagai berikut :
Tabel 6. Hasil uji aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus Konsentrasi Ekstrak daun sirsak SNEDDS daun sirsak
2,25 mg/mL 5 mm 8 mm
4,50 mg/mL 7 mm 9 mm
6,75 mg/mL 8 mm 10 mm
9 mg/mL 10 mm 12 mm
Kloramfenikol (+) 35 mm Aquadest steril (-)
Hasil analisis uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan SPSS paired
sample t-test dengan perolehan hasil nilai sig(2-tailed) sebesar 0,003 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara konsentrasi (2,25 mg/mL, 4,50 mg/mL, 6,75 mg/mL dan 9 mg/mL) pada data daya hambat ekstrak daun sirsak dan SNEDDS ekstrak daun sirsak.
D. KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil optimasi menggunakan Simplex Lattice Design menghasilkan formulasi optimum SNEDDS ekstrak daun sirsak dengan perbandingan 6 (tween 80) : 1 (PEG 400) : 1 (minyak ikan cucut botol).
2. SNEDDS ekstrak daun sirsak memiliki nilai drug loading 45 mg/mL, turbiditas memiliki nilai 98,2%, emulsification
time 25,67 detik, dan pH 6.3. Uji aktivitas antibakteri pada sediaan SNEDDS ekstrak daun sirsak memiliki daya hambat lebih besar daripada ekstrak murni yaitu 12 mm pada konsentrasi 9 mg/mL.
DAFTAR PUSTAKA