• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN PUSTAKA. bimbingan (Terjemahan dari kata guidance ). Dan konseling (diadopsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN PUSTAKA. bimbingan (Terjemahan dari kata guidance ). Dan konseling (diadopsi"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

9 A. Kajian Teori

1. Bimbingan dan Konseling

Secara etimologis bimbingan dan konseling, terdiri atas dua kata yaitu

“bimbingan” (Terjemahan dari kata ”guidance” ). Dan “konseling” (diadopsi dari kata “counseling”). Dalam praktik, bimbingan dan konseling merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan. Keduanya merupakan bagian integral (Tohirin, 2011:15).

a. Pengertian Bimbingan dan Konseling

Menurut schertezer dan stone (dalam mu’awanah dan hidayah 2009:53) menyatakan bahwa bimbingan adalah memberikan batasan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan secara individu yang bertujuan agar individu dapat memahami diri dan dunianya. Bimbingan digunakan untuk membantu siswa agar mengerti tentang dirinya sendiri dan dunianya bagaimana siswa bisa mengenali kemampuan yang dimiliki dan mengenali lingkungan sekitar mereka. Siswa yang bisa mengenali kemampuan dirinya dan mengenali lingkungan sekitar mereka akan mudah untuk menjalani semua permasalahan yang di hadapi siswa.

Menurut Surya (dalam Tohirin, 2011:17) menyatakan bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik laki-laki atau perempuan yang memiliki pribadi yang baik dan pendidikan yang memadai,

(2)

kepada seseorang (individu) dari setiap usia untuk menolongnya mengembangkan kegiatan – kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandanngnya sendiri, memikul bebannya sendiri.

Menurut Miller (dalam Tohirin, 2011:17) menyatakan bahwa bimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyasuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga dan masyarakat.

Bimbingan di sekolah Hamalik menyatakan (dalam Tohirin, 2011:20) menyatahkan bahwa bimbingan di sekolah merupakan aspek program pendidikan yang berkenaan dengan bantuan terhadap para siswa agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapinya dan merencanakan masa depannya sesuai dengan minat, kemampuan, dan kebutuhan sosialnya.

Merujuk kepada proses perkembangan individu yang dibimbing, maka bimbingan juga berarti proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing kepada terbimbing agar individu yang dibimbing mencapai perkembangan yang optimal. Apabila merujuk pada persoalan-persoalan yang dihadapi individu yang dibimbing mampu mengenal, menghadapi, dan memecahkan masalah–masalah dalam hidupnya. Masalah-masalah yang dimaksud dalam makna diatas tentu dalam arti luas yang mencakup masalah pribadi, sosial, pendidikan (akademik), karier, penyesuaian diri, dan lain sebagainya.

Bimbingan merupakan suatu proses yang berkesinambungan bukan kegiatan yang seketika atau kebetulan. Bimbingan merupakan serangkaian

(3)

tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian tujuan (Yusuf, 2006:6). Bimbingan suatu proses yang tidak dapat seketika bimbingan harus dilaksanakan dengan bertahap untuk melaksanakan suatu kegiatan. Bimbingan merupakan bantuan kepada individu atau kelompok agar individu atau kelmpok dapat memecakan sebuah masalah yang dihadapi dengan melibatkan pembimbing. Kerena pembimbing adalah sebuah solusi agar masalah yang dihadapi memperoleh jalan keluar dengan memberikan saran kepada individu atau kelompok agar mencapai jalan keluar.

Menurut jones (dalam Sutirna, 2013:13) meyatakan konseling itu membicarakan masalah seseorang dengan berdiskusi dalam prosesnya, hal ini dapat dilakukan secara individual dimana masalahnya sangat rahasia dan kelompok masalahnya yang umum (bukan rahasia). Menurut Prayitno dan Erman Amti (dalam Sutirna, 2013:15) konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapai klien.

Menurut winkel (dalam Sutirna, 2013:15) konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.Menurut Montersen (dalam Tohirin, 2011:15) konseling merupakan proses hubungan antar pribadi dimana orang yang satu membantu yang

(4)

lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya. Dalam pengertian ini dijelaskan bahwa konseling pertemuan antara konselor dengan konseli dimana konselor membantu konseli untuk memecahkan masalah dengan membantu untuk mencari jalan keluar masalah yang dihadapi.

Konseling merupakan situasi pertemuan tatap muka antara konselor dengan klien (siswa) yang berusaha memecahkan masalahnya berdasarkan penentuan sendiri. (Tohirin, 2011:23). pengertian ini menunjukan bahwa konseling merupakan suatu situasi pertemuan tatap muka antara konselor dengan klien dimana konselor berusaha membantu klien memecahkan masalah yang dihadapi klien (siswa) berdasarkan pertimbangan bersama- sama, tetapi penentuan pemecahan masalah dilakukan oleh klien sendiri.

Artinya bukan konselor yang memecahkan masalah klien.

Berbagai pendapat yang dikemukakan mengenai bimbingan dan konseling maka dapat ditarik kesimpulam bahwa bimbingan dan konseling di sekolah dasar merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan secara tatap muka antara seorang ahli (di SD yaitu guru kelas) kepada individu yang bermasalah (peserta didik siswa) untuk membantu agar tersebut mampu menjadi pribadi yang mandiri dan berkembang secara optimal dalam kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.

(5)

b. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Tujuan pelayanan bimbingan konseling ialah agar konseli (peserta didik) dapat: merencanakan kegiatan penyelesaian studi, (1) perkembangan karier serta kehidupannya dimasa yang akan datang, (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin, (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya, (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan masyarakat (Sutirna, 2013:18).

Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah sebagai berikut:

1) Memiliki kesadaran akan potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.

2) Memiliki sikap dan kebiasan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.

3) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.

(6)

4) Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif seperti keterampilan membaca buku, menggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian

5) Memiliki keterampilan untuk menetapakan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal pelajaran, mengerjakan tugas memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka megembangkan wawasan yang lebih luas.

6) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

Menurut kurikulum 2013 dan kurikulum 2006 tujuan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :

1) Memahami dan menerima diri dari lingkungannya

2) Merencanakan kegiatan penyelesaia studi, perkembangan karier dan kehidupannya dimasa yang akan datang.

3) Mengembangkan potensinya seoptimal mungkin 4) Menyesuaikan diri dengan lingkungannnya

5) Mengatasi hambatan ayau kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya dan

6) Mengaktualisasikan dirinya secara bertanggung jawab.

(7)

c. Fungsi Bimbingan dan konseling

Bimbingan dan konseling memiliki fungsi dalam mengatasi pemasalahan-permasalahan yang ada diantaranya adalah:

1) Fungsi Pencegahan

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling dimaksudkan untuk mencegah timbulnya masalah pada diri siswa sehingga mereka terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. Fungsi ini dapat diwujudkan oleh guru pembimbing atau konselor dengan merumuskan program bimbingan yang sistematis sehingga hal-hal yang dapat menghambat perkembangan siswa seperti kesulitan belajar, kekurangan informasi, masalah social dan lain sebagainya dapat dihindari.

2) Fungsi Pemahaman

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam rangka memberikan pemahaman tentang diri klien atau siswa beserta permasalahannya dan juga ligkungannya oleh klien itu sendiri dan oleh pihak-pihak yang membantunya (pembimbing)

3) Fungsi Pengentasan

Apabila seseorang mengalami suatu permasalahan dan tidak dapat memecahkannya sendiri lalu ia pergi ke pembimbing atau

(8)

konselor, maka yang diharapkan oleh siswa yang bersangkutan adalah adalah teratasinya masalah yang dihadapinya. Siswa yang mengalami masalah dianggap berada dalam suatu kondisi atau keadaan yang tidak mengenakan sehingga perlu diangkat atau dikeluarkan dari kondisi atau keadaan tersebut. Masalah yang dialami siswa sangat tidak mengenakan bagi siswa oleh sebab itu masalah perlu dientas atau diangkat dari keadaan yang tidak disukai. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan melalui bimbingan konseling pada hakikatnya merupakan upaya pengentasan.

4) Fungsi Pemeliharan

Menurut prayitno dan Erman (dalam Tohirin, 2011:46) fungsi pemeliharaan berarti memelihara segala sesuatu yang baik (positif) yang ada pada diri individu (siswa), baik hal itu merupakan pembawaan maupun hasil-hasil perkembangan yang telah dicapai selama ini. Mempunyai kepintaran, bakat yang sangat baik, mempunyai minat dalam hal-hal yang baik dan produktif. Sikap dan kebiasaan yang baik harus dipelihara agar dapat memperoleh hasil yang baik pula dalam kehidupan sekarang ataupun yang akan datang.

Menurut prayitno dan Erman Amti (dalam Tohirin, 2011:46) menyatakan bahwa fungsi pemeliharan disini bukan sekedar mempertahankan agar hal-hal yang telah disebutkan diatas tetap utuh

(9)

tidak rusak, dan tetap dalam keadaan semula, melainkan juga mengusahakan agar hal-hal tersebut bertambah lebih baik dan berkembang.

5) Fungsi Penyaluran

Setiap siswa hendaknya memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan keadaan pribadinya masing-masing yang meliputi bakat, minat, kecakapan, cita-cita dan lain sebagainya.

Melalui fungsi ini pelayanan bimbingan dan konseling berupaya mengenali siswa secara perorangan.

Bentuk kegiatan bimbingan dan konseling berkaitan dengan fungsi ini adalah: (1) pemilihan sekolah lanjutan, (2) memperoleh jurusan yang tepat, (3) penyusunan program belajar, (4) pengembangkan bakat minat (5) perencanaan karier

6) Fungsi penyesuaian

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling membantu terciptanya penyesuaian antara siswa dengan lingkungannya. Dengan kata lain, melalui fungsi ini pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa memperoleh penyesuaian diri secara baik dengan lingkungannya (terutama lingkungan sekolah bagi siswa).

7) Fungsi Pengembangan

Siswa di sekolah atau madrasah merupakan individu yang sedang dalam proses perkembangan. Misalnya murid SD/MI adalah sosok individu yang sedang berkembang menuju usia SMP/MTS, siswa

(10)

SMP/MTS, adalah sosok individu yang sedang berkembang menuju usia SMA/MA dan seterusnya. Melalui fungsi pengembangan pelayanan bimbingan dan konseling diberikan kepada para siswa untuk membantu para siswa dalam pengembangan keseluruhan potensinya secara lebih terarah. Pelayanan bimbingan dan koseling mengharapkan siswa dapat berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing.

8) Fungsi Perbaikan

Setiap individu ataupun siswa memiliki masalah. Bisa dipastikan bahwa tidak ada individu atau siswa yang tidak mempunyai sebuah masalah. Meskipun pelayanan bimbingan dan konseling melaui fungsi pencegahan, penyaluran dan penyesuaian telah diberikan, tetapi masih mungkin individu (siswa) memiliki masalah-masalah tertentu. Sehingga fungsi perbaikan diperlukan. Berbeda dengan fungsi pencegahan dalam fungsi perbaikan didalam fungsi perbaikan siwa yang mendapatkan masalah yang mendapat prioritas untuk diberikan bantuan, sehingga diharapkan masalah yang dialami oleh siswa tidak terjadi lagi pada masa yang akan datang.

9) Fungsi advokasi

Layanan bimbingan dan konseling melalui fungsi advokasi adalah membantu peseta didik memperoleh pembelaan atas hak dan kepentingannya yang kurang mendapat perhatian. Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana yang terkandung dalam

(11)

fungsi-fungsi tersebut apabila semua fungsi-fungsi itu terlaksana dengan baik, maka peserta didik akan mampu berkembang secara optimal dan untuk kelancaran pelaksanaan fungsi tersebut, diperlukan kerjasama antara konselor guru-guru dan staf sekolah lainnya.

Menurut kurikulum 2013 dan kurikulum 2006 fungsi bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :

1) Pemahaman yaitu membantu konseli agar memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, budaya, dan norma agama).

2) Fasilitas yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai perumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek pribadinya.

3) Penyesuaian yaitu membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

4) Penyaluran yaitu membantu konseli merencanakan pendidikan pekerjaan dan karir masa depan, termasuk juga memilih program peminatan yang sesuai kemampuan, minat, bakat, keahlian, dan cirri-ciri kepribadiannya.

5) Adaptasi yaitu membantu para pelaksanaan pendidikan termasuk kepala satuan pendidikan, staf administrasi, dan guru matapelajaran atau guru kelas untuk menyesuaikan program dan aktivitas pendidikan dengan latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik/konseli.

(12)

6) Pencegahan yaitu membantu peserta didik/konseli dalam mengantisupasi berbagai kemugkinan timbulnya masalah dan berupaya untuk mencegahnya, supaya peserta didik/konseli tidak mengalami masalah dalam kehidupannya.

7) Perbaikan dan penyembuhan yaitu mebantu peserta didik/konseli yang bermasalah agar dapat memperbaiki kekeliruan berfikir, berperasaan, berkehendak, dan bertindak. Konselor atau guru bimbingan dan konseling melakukan memberikan perlakuan terhadap konseli supaya memiliki pola fikir yang rasional dan memiliki perasaan yang tepat, sehinnga konseli berkendak merencanakan dan melaksanakan tindakan yang produktif dan normatif.

8) Pemeliharaan yaitu membentu peserta didik/konseli supaya dapat menjaga kondisi pribadi yang sehat-normal dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.

9) Pengembangan yaitu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli melalui pembangunan jejaring yang bersifat kolaboratif.

10) Advokasi yaitu membantu peserta didik/konseli berupaya pembelaan terhadap hak-hak konseli yang mengalami perlakuan diskriminatif.

d. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling

Agar dapat melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling dengan sebaik- baiknya maka ada beberapa hal yang perlu dijadikan pedoman sehingga pelayanan bimbingan dan konseling dapat sesuai dengan yang diharapakan.

(13)

Adapun prinsip-prinsip bimbingan yang perlu kita pedomani adalah sebagai berikut :

1) Hendaknya dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling individu (siswa) dianggap sebagai individu yang berkemampuan, termasuk kemampuan untuk memecahkan masalahnya. Merupakan tugas pembimbing untuk memecahkan masalahnya.

2) Siswa adalah individu yang berharga, sehingga perlu dihormati bagaimanapun keadaanya, mereka (siswa) tidak boleh diremehkan direndahkan martabatnya, baik oleh sikap perbuatan maupun kata-kata pembimbing. Pembimbing seharusnya menunjukan sikap hormat kepada klien, menunjukan perhatian agar klien tumbuh rasa percaya terhadap pembimbing. Dengan rasa percaya kepada pembimbing maka siswa akan membicarakan semua masalah yang dihadapinya.

3) Siswa sebagai individu yang merupakan kebulatan. Tingkah lakunya diwarnai oleh keadaan fisik, psikis, serta sosial dan latar belakang lainnya, demikian pula kelainan tingkah lakunya. Dengan demikian siswa perlu dipahami oleh pembimbing keadaanya secara menyeluruh juga segi kehidupannya.

4) Siswa adalah merupakan makhluk yang unik, artinya antara siswa satu dengan yang lain terdapat perbedaan. Dengan demikian, perlu sekali dipahami sifat- sifat dari masing-masing siswa.

Keberhasilan pelayanan bimbingan di sekolah amat diperlukan oleh kesediaan serta kesadaran siswa itu sendiri. Tanpa ada kesadaran tersebut layanan

(14)

bimbingan konseling tidak akan berjalan. Oleh karana itu, usaha paling awal yang perlu dilakukan oleh seorang pembimbing di sekolah adalah menanamkan kesadaran akan pentingnya bimbingan bagi diri sendiri, setelah itu baru diberi layanan bimbingan dan konseling.

Prinsip-prinsip menurut kurikulum 2013 dan 2006 adalah sebagai berikut :

1) Bimbingan dan konseling diperuntukan bagi semua peserta didik/konseli dan tidak diskriminatif. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua peserta didik/konseli, baik yang tidak bersalah maupun yang bersalah, baik pria maupun wanita, baik anak-anak, remaja maupun dewasa tanpa dikriminatif.

2) Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap peserta didik bersifat unik (berbeda satu sama lainnya) dan dinamis, dan melalui bimbingan peserta didik/konseli dibantu untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh.

3) Bimbingan konseling menekankan nilai-nilai positif. Bimbingan dan konseling merupakan upaya memberikan bantuan kepada konseli untuk membangun pandangan positif dan mengembangkan nilai-nilai positif yang ada pada dirinya dan lingkungannya.

4) Bimbingan dan konseling merupakan tanggung jawab bersama. Bimbingan dan konseling bukan hanya tanggung jawab konselor atau guru bimbingan dan konseling, tetapi tanggung jawab guru-guru dan pimpinan satuan pendidikan sesuai dengan tugas dan kewenangan serta peran masing-masing.

(15)

5) Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konselung diarahkan untuk membantu peserta didik/konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan serta merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab.

6) Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya berlangsung pada satuan pendidikan, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industry, lembaga-lembaga pemerintah/swasta dan masyarakat pada umumnya.

7) Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan.

Penyelenggaraan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

8) Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam bingkai budaya Indonesia.

Interaksi antar guru bimbingandan konseling atau konselor dengan peserta didik harus senantiasa selaras dan serasi dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh kebudayaan dimana layanan itu dilaksanakan.

9) Bimbingan dan konseling bersifat fleksibel adaptif serta berkelanjutan.

Layanan bimbingan dan konseling harus mempertimbangkan situasi dan kondisi serta daya dukung sarana dan prasarana yang tersedia.

10) Bimbingan dan konseling dilaksanakan oleh tenaga profesional dan kompeten. Layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh tenaga pendidik professional yaitu konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan

(16)

bimbingan dan konseling dan telah lulus profesi guru bimbingan dan konseling/konselor dari lembaga pendidikan tinggi kependidikan yang terakreditasi.

11) Program bimbingan dan konseling disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dalam berbagai aspek perkembangan.

12) Program bimbingan dan konseling di evaluasi untuk mengetahui keberhasilan layanan dan pengembangan program lebih lanjut.

e. Bidang-Bidang Bimbingan dan Konseling

Menurut Hellen (2005:72) pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan yang sistematis dan terarah dan berkelanjutan.

1) Bidang bimbingan pribadi

Dalam bidang bimbingan pribadi, pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani.

2) Bidang bimbingan sosial

Dalam bidang bimbingan dan sosial, pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah berusaha membantu peserta didik mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi pekerti, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.

3) Bidang bimbingan belajar

Dalam bidang bimbingan dan belajar, pelayanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan

(17)

kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan sejalan dengan mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi atau untuk terjun kelapangan tertentu.

4) Bidang bimbingan karier

Dalam bidang bimbingan karier ini, pelayanan bimbingan dan konseling ditunjukan untuk mengenal potensi diri, mengembangkan dan memantapkan pilihan karier.

Meunrut kurikulum 2013 dan kurikulum 2006 tentang bidang layanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :

1) Layanan bimbingan dan konseling pribadi

Bimbingan konseling pribadi adalah suatu proses bantuan dari konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli untuk memahami, menerima, mengarahkan mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab tentang perkembangan aspek pribadinya, sehingga dapat mencapai perkembangan pribadinya secara optimal dan mencapai kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupannya.

2) Layanan bimbingan dan konseling sosial

Program layanan bimbingan dan konseling sosial adalah suatu proses pemberian bantuan dari konselor kepada peserta didik/konseli untuk memahami lingkungannya dan dapat melakukan interaksi sosial secara positif, terampil berinteraksi sosial, mampu mengatasi masalah-masalah

(18)

sosial yang dialaminya, mampu menyesuaikan diri dan memeiliki keserasian hubungan dengan lingkungan sosialnya sehingga mencapai kebahagiaan dan kebermaknaan dalam kehidupannya.

3) Layanan bimbingan dan konseling belajar

Program layanan bimbingan dan konseling belajar adalah suatu bantuan konselor atau guru bimbingan dan konseling peserta didik/konseli dalam mengenali potensi diri untuk belajar, memiliki sikap dan keterampilan belajar, terampil merencanakan pendidikan, memiliki kesiapan menghadapi ujian, memiliki kebiasaan belajar teratur dan mencapai hasil belajar secara optimal sehingga dapat mencapai hasil belajar secara optimal sehingga dapat mencapai kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagian dalam hidupnya.

4) Layanan bimbingan dan konseling karier

Layanan bimbingan dan konseling karier adalah bantuan konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli untuk mengalami pertumbuhan, perkembangan, ekplorasi, aspirasi dan pengembalian keputusan karier sepanjang rentang hidupnya secara rasional dan realistis berdasar informasi potensii diri dan kesempatan yang terssedia di lingkunga hidupnya sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupannya.

(19)

f. Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling

Layanan bimbingan dan konseling dilakukan melalui kontak langsung dengan sasaran layanan (konseli/siswa), dan secara langsung berkenaan dengan permasalahan atau kepentingan tertentu yang dirasakan oleh sasaran layanan itu. Layanan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif secara langsung kepada sasaran (konseli) yang mendapatkan layanan.

Menurut Nurihsan (2003: 73-75), jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar meliputi “(1) layanan orientasi; (2) layanan informasi; (3) layanan penempatan/penyaluran (4) layanan pembelajaran; (5) konseling perorangan; (6) bimbingan kelompok (7) konseling kelompok.

Tohirin (2011: 141-206) menyebutkan ada Sembilan jenis layanan bimbingan dan konseling yaitu (1) layanan orientasi; (2) layanan informasi;

(3) layanan penempatan penyaluran; (4) layanan pengausaan konten; (5) layanan konseling perorangan; (6) layanan bimbingan kelompok; (7) layanan konseling kelompok; (8) layanan konsultasi; (9) layanan mediasi.

1) Layanan oientasi, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (konseli) memahami lingkungan yang baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru tersebut.

2) Layanan informasi, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinan peserta didik (konseli) menerima dan memahami berbagai

(20)

informasi yang mendapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik.

3) Layanan penempetan dan penyaluran, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (konseli) memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan potensi, bakat, minat, serta kondisi pribadinya.

4) Layanan pengausaan konten, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang kemungkinan peserta didik (konseli) mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.

5) Layanan konseling perorangan, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (konseli) mendapatkan layanan langsung tatap muka secara perorangan dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang sedang dihadapinya.

6) Layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari guru pembimbing) dan atau membahas secara bersama-sama pokok bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman dan kehidupannya sehari-hari dan atau untuk perkembangan dirinya baik

(21)

sebagai individu maupun sebagai pelajar, dan untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan, dan atau keputusan tertentu.

7) Layanan konseling kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (konseli) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialamiya melalui dinamika kelompok. Masalah yang dibahas merupakan masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok.

8) Layanan konsultasi, layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan antara seorang guru terhadap konsultasi yang memungkinkannya untuk memeproleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakannya dalam menangani kondisi atau pihak ketiga.

9) Layanan mediasi, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan konselor (guru) terhadap dua orang atau lebih yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan kecocokan.

Selain kegiatan layanan yang telah disebutkan di atas, di dalam bimbingan dan konseling terdapat beberapa kegiatan lain yang disebut kegiatan pendukung. Pada umumnya kegiatan pendukung tidak ditujukan secara langsung untuk memecahkan atau mengentaskan masalah konseli melainkan untuk diperolehnya data dan keteranga lain serta kemudahan- kemudahan atau komitmen yang akan membantu kelancaran dan keberhasilan kegiatan layananan kepada peserta didik.

(22)

Menurut Tohirin (2011: 207-256) menyebutkan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling meliputi “aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus.”

1) Aplikasi insrumentasi, yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, keterangan tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan yang lebih luas, pengimpulan data dan keterangan tentang peserta didik dan lingkungan yang lebih luas, pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrument baik tesmaupun non tes.

2) Himpunan data, yaitu kegiatan bimbingan dan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data dilaksanakan secara berkelanjutan, sistematis, komperhensif, terpadu dan sifatnya tertutup.

3) Konferensi kasus, yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri pleh berbagai pihak yang diharapkan dapat memberikan bahan, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentasnya permasalahan tersebut. Pertemuan dalam rangka konferensi kasus besifat terbatas dan tertutup.

4) Kunjungan rumah, yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik (konseli) melalui kunjungan

(23)

ke rumah. Kegiatan ini memerlukan kerja sama yang penuh dari orang tua dan anggota keluarga lainnya.

2. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar kurikulum 2006 dan 2013

Pemerintah telah mengeluarkan berbagai upaya untuk memajukan pendidikan di Indonesia salah satunya dengan mengeluarkan kurikulum bimbimngan dan konseling yang diatur dalam kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Bimbingan dan konseling yang terdapat pada ktsp atau kurikulum 2006 pada bimbingan dan konseling diatur dalam PERMENDIKNAS Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi yang didalamnya memuat struktur kurikulum, telah mempertajam perlunya disusun dan dilaksanakannya program pengembangan diri yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru kelas, atau tenaga pendidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi, kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.

(24)

Kurikulum 2013 bimbingan dan konseling diatur pada PERMENDIKBUD Nomor 111 Tahun 2014 tentang bimbingan dan konseling pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang memuat program peminatan peserta didik yang merupakan suatu proses pemelihan dan pengambilan keputusan oleh peserta didik yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan peluang yang ada pada satuan pendidikan.

Kegiatan bimbingan dan konseling di SD pada kurikulum 2013 dilaksanakan langsung oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling, atau gugus aatu sejumlah SD dapat mengangkat seorang konselor atau guru bimbingan dan konseling. Kegiatan bimbingan dan konseling konselor atau guru bimbingan dan konseling dapat bekerja sama dengan guru kelas dalam membantu tercapainya perkembangan peserta didik/konseli dalam bidang layanan pribadi, sosial, belajar, dan karir secara utuh dan optimal.

3. Peran guru kelas dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar.

Tugas guru kelas selain mengajar adalah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap seluruh siswa di kelas yang menjadi tanggunga jawabnya. Setiap hari, guru kelas berada bersama siswa dalam proses pendidikan dasar yang amat penting dalam seluruh perkembangan siswa sehingga guru kelas lebih memahami secara mendalam pribadi siswanya. Guru akan lebih mengetahui bagaimana kebiasaan siswanya setiap hari baik di dalam maupun di luar kelas. selama jam sekolah,

(25)

kecenderungan akademik serta bakat dan minatnya, hambatan dan permasalahan yang di hadapi serta kondisi keluarga maupun lingkungannya.

Implementasi kegitan bimbingan dan konseling sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Oleh karena itu peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling sangat penting dalam rangka mengekfektifkan pencapaian tujuan pembelajaran. Menurut sardiman (2011:142) mengatakan bahwa ada Sembilan peran guru kelas dalam kegiatan BK di SD, yaitu :

1) Informator, Guru diharapakn sebagai pelaksana cara mengajar inormatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegaiatan akademik maupun umum.

2) Organisator, Guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain

3) Motivator, Guru harus mamapu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siwa menumbuhkan swadaya (aktifitas) dan daya cipta (kreatifitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar.

4) Director , Guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang di cita-citakan.

5) Inisiator, Guru sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar mengajar

(26)

6) Transmitter, Guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan pengetahuan

7) Fasilitator, Guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar.

8) Mediator, Guru sebagai penengah dalan kegiatan belajar mengajar siswa

9) Evaluator, Guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

4. Pelaksanaaan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar Pelaksanaan bimbingan dan konseling harus dilaksanakan di SD/MI.

Oleh karena itu, guru perlu mempelajari terlebih dahulu sehingga memperoleh pemahaman baik secara konseptual maupun parktikal.

Pelaksanaan bimbingan dan konseling memerlukan guru yang kreatif dan inovatif dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling agar pelaksanaan bimbingan dan konseling dapat berjalan dengan lancar. Menurut Hellen (2005:72) pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan yang sistematis dan terarah dan berkelanjutan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling sebagai berikut:

1) Bidang bimbingan pribadi

Dalam bidang bimbingan pribadi, pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan

(27)

bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani.

2) Bidang bimbingan sosial

Dalam bidang bimbingan dan sosial, pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah berusaha membantu peserta didik mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi pekerti, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.

3) Bidang bimbingan belajar

Dalam bidang bimbingan dan belajar, pelayanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan sejalan dengan mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi atau untuk terjun kelapangan tertentu.

4) Bidang bimbingan karier

Dalam bidang bimbingan karier ini, pelayanan bimbingan dan konseling ditunjukan untuk mengenal potensi diri, mengembangkan dan memantapkan pilihan karier.

B. Kajian penelitian yang relevan

Penelitian sejenis ini pernah dilakukan oleh Ayu Zumaroh (2013) dengan mengambil judul “meningkatkan motivasi belajar siswa UNDERACHIEVER melalui layanan bimbingan dan konseling kelompok pada siswa SD Negeri pakunden semarang”. Menurut Ayu Zumaroh dari kesimpulan penelitian ini adalah motivasi belajar siswa UNDERCHIVIER

(28)

dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan dan konseling kelompok yang tepat. Seharusnya di SD pangkunden ada seorang guru bimbingan dan konseling yang dapat secara khusus mengurusi perkembangkan siswa, karena guru kelas saja tidak cukup dan kurang berkompeten dalam menangani permasalahan siswa.

Sedangkan Eko Yuliani Hasanah (2013) dengan judul “ Korelasi antara peran guru bimbingan konseling dengan prestasi kelas IV B di MIN Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) terdapat korelasi yang positif yang erat dan signifikan antara peran guru bimbingan konseling dengan prestasi siswa kelas IV B MIN Kebonagung Imogiri Bantul Yokyakarta tinggi dan signifikan. (2) korelasi antara peran guru bimbingan dan konseling dengan prestasi siswa kelas IV B di MIN Kebonagung Imogiri Bantul Yokyakarta tinggi dan signifikan. (3) korelasi yang tinggi dan signifikan bahwa intensitas peran guru bimbingan dan konseling semakin tinggi maka prestasi belajar para siswa naik secara signifikan. Korelasi yang signifikan menandakan adanya peran guru yang sangat tinggi dan pengaruh pada prestasi siswa.

Perbedaan penelitan yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya Ayu Zumaroh (2013) adalah dalam penelitian sebelumnya menggunakan penelitian kuantitatif dan penelitian yang akan dilakukan menggunakan penelitian kualitatif. Pada penelitian sebelumnya meneliti tentang meningkatkan motivasi belajar anak UNDERCHEVIER melalui bimbingan dan konseling sedangkan penelitian yang akan dilakukan akan

(29)

meneliti tentang peran guru kelas dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.

selain itu, terdapat perbedaan yaitu dalam hal pendekatan penelitian, yang akan dilakukan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Eko Yuliani Hasanah (2013) adalah penelitian yang akan dilakukan menggunakan penelitian kualitatif sedangkan penelitian sebelumnya ini menggunakan penelitian menggunakan penelitian kuantatif. Sedangkan persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama-sama meneliti tentang peran guru, dalam peran guru kelas dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

C. Kerangka Pikir

Kerangka pikir merupakan dasar penelitian ini dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Kerangka pikir menjelaskan alur penelitian yang dilakukan sehingga mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang peneliti.

Adapun urutan kerangka pikir dalam penelitian ini diringkas dalam Gambar 2.1 berikut ini:

(30)

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Pentingnya guru melaksanakan layanan bimbingan dan konseling bagi siswa SD

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling

Tindakan

1. Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling

2. Faktor penghambat atau kendala dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling

3. Faktor pendukung atau solusi dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling

Cara

Metode: penelitian kualitatif

Pengambilan data:

observasi, wawancara, dokumentasi Sumber: guru kelas I-VI

Analisis data: reduksi data, penyajian data,

dan penarikan kesimpulan dan

verifikasi

Hasil

Analisis Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sd Sunan Kali Jaga Kabupaten Malang

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Referensi

Dokumen terkait

Persoalan yang kemudian muncul adalah dalam kultur paternalistik yang demikian, ketika rujukan keagamaan dianggap sebagai representasi rujukan sikap hidup, maka apapun

Karya ilmiah ini membahas tentang perbandingan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan student teams achievement divisions (STAD) terhadap hasil belajar matematika

Bagian mulut tabung reaksi ditutup dengan kapas kemudian dibungkus dalam plastik dan diikat dengan karet lalu disterilisasi dengan autoclave pada suhu 121 0 C selama 15 menit.

Konsep segerak dalam penjana a.u di sini saya merujuk kepada gelung angker terletak di stator dan gelung medan di lilit pada rotor atau yang dikatakan dari penjana a.u

Kekuatan tarik pada saat putus (tegangan) mengalami peningkatan dengan berkurangnya konsentrasi kitosan yaitu pada perbandingan 25%-75%, proses pengeringan membran

Dari hasil pengujian User Acceptance Testing, yaitu Pre Test dan Post Test yang telah dilakukan, untuk kelompok siswa yang belajar menggunakan buku biologi memiliki

Kriteria kelulusan peserta didik dari Ujian Sekolah untuk semua mata pelajaran ditetapkan oleh satuan pendidikan masing-masing berdasarkan perolehan Nilai Sekolah (Nilai

Di dalam praktiknya, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi cara guru melaksanakan pembelajaran terpadu. Hal ini mengakibatkan terdapatnya beraneka macam bentuk