BAB III
JUGUN IANFU DI INDONESIA
A. Kebijakan Jepang Dalam Merekrut Calon Jugun Ianfu
Jugun Ianfu.1Berasal dari Ju= ikut, Gun= Militer sedangkan Ian= Penghibur, Fu = Perempuan. Kaum perempuan yang direkrut untuk menjadi Jugun Ianfu bukan hanya perempuan yang berasal dari kalangan bawah aja, tetapi berasal dari kalangan atas juga.
Kaum perempuan yang berasal dari kalangan atas dijanjikan untuk mendapatkan beasiswa sekolah di Tokyo. Isu akan disekolahkan oleh Jepang menimbulkan dampak yang positif bagi masyarakat pribumi pada saat itu. Isu tersebut dapat meyakinkan para perempuan bahwa mereka akan disekolahkan. Alasan mengapa perempuan pribumi dapat dengan mudah untuk dikelabui.2
Para wanita yang dijadikan jugun Ianfu usianya masih relatif muda yakni antara 12 sampai 30 tahun.3Ada pun tempat untuk menampung para Jugun Ianfu itu bernama Lanjo4 yang berasal dari Lan = Hiburan dan Jo = Tempat. Barak-barak militer tentara Jepang yang berdiri di suatu wilayah yang didudukinya selalu berdekatan dengan lanjo-lanjoJugun Ianfu.
Alasannya agar pihak militer dapat mengawasi aktifitas seksual prajuritnya. Tim khusus yang dibentuk oleh pemerintah Jepang yang bekerja selama 6 bulan berhasil menemukan 127 Dokumen dari 4 instasi pemerintahan Jepang.5 Dengan dibuktikan adanya kaum perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu oleh Jepang. Dalam dokumen yang ditemukan tim khusus Jepang, dokumen tersebut menyatakan bahwa Jugun Ianfubukan hanya berasal dari Cina, tetapi berasal dari Korea, Filipina, Taiwan, termasuk yang berasal dari Indonesia juga menjadi Jugun Ianfu6.
Dalam sejarah perang dan penjajahan, wanita selalu menjadi korban kekerasan seksual, baik yang dilakukan oleh tentara maupun tenaga sipil. Khususnya di Indonesia,
1Jugun Ianfu. Secara harfiah artinya perempuanpenghibur yang ikut tentara Jepang, dengan pengertian sesungguhnya adalah perempuan yang dijadikan budak seks oleh militer Jepang pada tahun 1942-1945. ( Eka Hindra dan Koichi Khimura. Op. Cit. Hlm 310.)
2Pramodiya Anata Toer. Op. Cit. Hlm 7
3Lucia Juningsih. Op. Cit. Hlm 14.
4Lanjo tempat tinggal perempuan penghibur yang dibangun di sekitar bilik-bilik tentara Jepang. (Eka Hindra dan Koichi Kimura. Op. Cit. Hlm 310.)
5Eka Hindra dan Koichi Kimura. Op. Cit. Hlm 219.
6Ibid.
kekerasan seksual itu terjadi pada masa penjajah Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan Belanda yang relatif lama, bukti dari kekerasan seksual tampak dari lahirnya anak-anak Indo (campuran Indonesia-Belanda). Sedangkan pada masa penjajahan Jepang yang relatif singkat, bukti bahwa sebagian wanita Jawa mengalami kekerasan seksual tampak dari perekrutan massal wanita secara paksa untuk dijadikan pemuas nafsu tentara Jepang dan staf sipilnya.
Para wanita yang direkrut di kemudian hari dikenal dengan nama Jugun Ianfu.
Jugun ianfu merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan yang dilakukan Jepang pada masa pendudukannya. Tidak hanya di Indonesia tetapi di negara- negara yang diduduki Jepang pun terdapat jugun ianfu. Tujuannya adalah agar tentara Jepang tidak melakukan hubungan seksual dengan pelacur atau melakukan kekerasan terhadap perempuan pribumi. Hal inilah memicu banyak tentara Jepang yang terkena penyakit kelamin. Kejadian tersebut menyulitkan pemerintah Jepang dalam melakukan ekspansinya ke daerah lainnya, karena dapat mengganggu mental para tentaranya. Sehingga pemerintah harus mensterilkan tempat-tempat pelacuran, yaitu dengan membuat tempat khusus bagi para tentaranya. Kemudian mengurangi tindak perkosaan terhadap penduduk. Kebutuhan tentara Jepang terhadap perempuan menyebabkan pemerintah Jepang harus mendirikan kamp-kamp khusus perempuan berdampingan dengan barak tentara di garis depan.
Selama masa perang di Asia Pasifik. Militer Jepang mengadakan sebuah perbudakan seks yang diperhalus menjadi “perempuan penghibur” dikenal dengan istilah Jugun Ianfu.
Banyak perempuan yang diambil secara paksa untuk menjadi budak seks militer Jepang.
Jugun Ianfu tidak hanya dipaksa untuk melayani kebutuhan seks anggota militer tetapi juga para pegawai sipil Jepang. Diperkirakan sedikitnya ada 200.000 dari Korea Selatan, Korea Utara, Cina, Taiwan, Filipina, Belanda, Malaysia, Timor Leste dan Indonesia menjadi korban.
Perempuan Indonesia dijadikan Jugun Ianfu dengan cara ditipu. Misalnya akan diberi pekerjaan. Mereka dikumpulkan di rumah khusus dengan penjagaan militer yang super ketat.
Rumah ini dikenal sebagai pusat hiburan. Setiap hari, para Jugun Ianfu harus menunggu tamu dan harus memberikan pelayanan yang tidak mereka kehendaki. Jika ada Jugun Ianfuyang hamil. Ia akan dipaksa menggugurkan kandunganya. Dalam melayani tamu, Jugun Ianfu juga sering mendapat perlakuan kasar dan tidak manusiawi.
Fakta diatas terbukti dalam sejarah dan jelas menunjukan bila Jugun Ianfu bukanlah praktik pelacuran. Sistem ini diselenggarakan sekaligus untuk menghindari berjangkitnya penyakit kelamin dikalangan militer Jepang. Juga menghindari terjadinya konflik diwilayah kekuasaan yang dikuasai militer Jepang. Jadi praktik Jugun Ianfu adalah kegiatan yang secara
intensif dan sistematik yang menjadi bagian dari setrategi penjajahan militer Jepang yang merupakan pelanggaran besar terhadap hak asasi manusia dan undang-undang peperangan.7
Pada masa pemerintahan Jepang, para wanita penghibur atau disebut Jugun Ianfu, para wanita dikumpulkan dalam satu rumah bordir untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang. Umumnya, mereka tertipu atau dijebak dan dijadikan wanita penghibur untuk para tentara Jepang. Mereka seolah menjadi korban atas kebijakan Jepang. Mereka semata - mata hanya dijadikan budak seks bagi para tentara Jepang yang haus akan kebutuhan seks di tengah berkobarnya perang Asia Timur Raya atau perang Asia Pasifik.
Sistem pelacuran Jugun Ianfu ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara-negara jajahan Jepang yang lain. Menurut riset dari Dr. Hirofumi Hayashi seorang profesor dari Universitas Kanto Gaukin ketika melihat fenomena Jugun Ianfu di Indonesia ini, ia mengatakan bahwa Jugun Ianfu padasaat itu terdiri dari wanita-wanita Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya, Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India dan Indo Belanda. Pada saat itu diperkirakan sebanyak 20.000 hingga 30.000 wanita dijadikan Jugun Ianfu oleh pemerintah Jepang.
Keberadaan Jugun Ianfu tidak terlepas dari keberadaan para tentara Jepang yang jenuh ketika berperang. Mereka membutuhkan hiburan berupa berkencan ataupun meniduri para Jugun Ianfu di kamar-kamar bordir yang telah disediakan oleh pemerintah Jepang. Hal ini sangat ironis mengingat para wanita pribumi yang dijadikan Jugun Ianfu adalah para wanita yang dipaksa dan diiming-imingi akan kehidupan yang enak dan pendidikan terjamin.
Namun pada kenyataannya, para tentara Jepang tidak segan-segan menculik ataupun memperkosa para wanita didepan keluarganya sendiri apabila mereka menolak.
Praktek pergundikan pada masa Jepang benar-benar dilegalkan dimana kepuasan seks para tentara Jepang sangat mempengaruhi kinerja para tentara. Perekrutan Jugun Ianfu juga terkesan tertutup di bawah tanah dengan kepala pejabat seperti lurah, camat dan kepala desa sebagai orang yang merekrut.
Perang Dunia II menjadi faktor utama adanya sistem Jugun Ianfu. Peperangan yang terjadi antara tahun 1943-1945 membuat para tentara Jepang membutuhkan wanita untuk melepaskan kerinduan akan seks kepada pasangan-pasangan mereka di Jepang. Wanita- wanita pribumi kemudian dijadikan penggantinya. Hal inilah yang menjadi masa kelam para wanita Indonesia pada masa itu. Para wanita pribumi ditakuti dengan ancaman akan diasingkan, dibuang dan bahkan dibunuh.
7Eka Hindra dan Koichi Kimura. Momoye mereka Memanggilku. (Jakarta. Penerbit Erlangga. 2007.
(Sebuah Pengantar)
Tak sampai disitu, pada tahap pemeriksaan kesehatan, para wanita ini sangat direndahkan dengan digerayangi hingga mereka telanjang bulat oleh petugas medis. Satu persatu vagina mereka diperiksa dengan menggunakan alat yang terbuat dari besi panjang.
Apabila benda tersebut ditekan, maka ujung alat ini akan membesar dan membuka vagina para Jugun Ianfu menjadi lebih lebar. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi adanya penyakit di tubuh para Jugun Ianfu. Betapa mirisnya melihat para wanita pada saat itu. Dan ketika para Jugun Ianfu tidak bisa memuaskan para tentara Jepang, mereka akan diperlakukan tidak manusiawi.
Setelah perempuan direkrut sebelumnya, mereka dibawa ke tempat khusus di tengah kota. Kemudian para perempuan tersebut mendapat perawatan medis berupa tes kesehatan oleh para dokter Jepang sebelum di bawa ke Ianjo (tempat jugun ianfu).
Para wanita yang direkrut menjadi jugun ianfu sebelum dipekerjakan di rumah bordil diperiksa kesehatannya terlebih dahulu, dengan tujuan menjamin kesehatan tentara dan sipil Jepang supaya tidak terjangkit penyakit kelamin yang dapat memperlemah kekuatannya.
Pemeriksaan itu tidak berhenti saat perekrutan, tetapi terus berlanjut sampai Jepang kalah perang.8
Pentingnya pemeriksaan kesehatan para perempuan tersebut merupakan alasan mengapa Jepang membentuk sistem Jugun Ianfu, yaitu untuk mendapatkan perempuan yang bersih dan bisa memenuhi kebutuhan seks prajurit Jepang tanpa perlu khawatir akan terjangkit penyakit kelamin. Apabila ada perempuan yang terkena penyakit, pemerintah Jepang segera memisahkan perempuan tersebut agar tidak menularkan penyakitnya ke perempuan lainnya. Perempuan yang memiliki penyakit biasanya dialihkan untuk bekerja sebagai pembantu di rumah pejabat Jepang atau dipekerjakan ditempat lainnya.
Mardiyem, seorang Jugun Ianfu mengakui perlakuan tersebut. Pada umur 13 tahun ia sudah dijadikan Jugun Ianfu oleh pemerintah Jepang. Pertama kali yang ia layani adalah pria Jepang yang berambut brewok. Siksaan seperti tamparan, pukulan dan tendangan sering ia rasakan dengan umur yang terbilang belia.9
Memasuki masa perang posisi perempuan banyak dipergunakan sebagai alat hiburan semata. Sehingga Karayuki-san didatangkan untuk memenuhi kebutuhan seksual para tentara Jepang di medan pertempuran. Selama perang
8Lucia Juningsih. Op. Cit. Hlm 25
9Rita Elfianis. Sejarah Jugun Ianfu dan Sistem Pelacuran.http://www.idsejarah.net/2017/01/sejarah- jugun-ianfu-sistem-pelacuran.html. Diakses pada 23 maret 2017. Pukul 19.56 WIB.
berlangsung, pasukan Jepang dianggap sebagai salah satu tentara yang menakutkan dan terkenal sadis. Mereka dibentuk sejak dini dengan sistem militer. Dimulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Bahwa watak kekerasan yang ditampilkan Jepang di daerah-daerah pendudukannya berkaitan dengan ciri khas suatu pemerintahan militer.10
Di Jepang sendiri dunia pelacuran sudah dikenal sejak lama. Setelah terbukanya politik isolasi, semakin besar pula kesempatan perempuan Jepang untuk bekerja ke luar negeri untuk bekerja pada bidang yang berhubungan dengan hal tersebut. Pasca Restorasi Meiji, Berdirinya Jepang yang modern pada tahun 1868, jumlah karayuki-san11bertambah drastis. Di antara mereka terdapat perempuan-perempuan yang melacurkan diri, berita tentang adanya pelacuran di Jepang semakin tersebar luas. Bukan hanya di Cina dan Rusia, tetapi sampai ke Negara Asia Tenggara.
Dalam sejarah perang dan penjajahan, wanita selalu menjadi korban kekerasan seksual, baik yang dilakukan tentara maupun sipil penjajah.12 Setiap perang senantiasa berisi heroisme, kekuatan, kejantanan, dan semua atribut yang selama ini dikonstruksikan sebagai sifat laki-laki. Artinya perang, telah terkonstruksikan sebagai wilayah atau dunia kaum laki- laki, dan perempuan hanya menjadi pelengkap atau pendukung bisa aktif atau pasif.13
Kehadiran kaum perempuan pada masa pendudukan, mulai dari teraktualisasi dalam bentuk keterlibatan melalui organisasi bikinan Jepang, keterlibatan masal oleh praktek pengerahan-pengerahan massa di bawah slogan kebangkitan atau kemakmuran Asia Timur Raya, sampai kepada kaum perempuan yang dipaksa untuk menjadi pemuas nafsu bangsa Jepang, utamanya bagi keperluan biologis balatentara, menampakkan bahwa kaum perempuan benar-benar ditempatkan sebagai “logistik” perang.14
Sistem Jugun Ianfu pertama kali diadakan balatentara Jepang di Korea, wilayah yang dikuasainya sejak abad ke-19. Korea juga menyumbangkan kontingen Jugun Ianfu terbesar,
10Budi Hartono dan Dadang Juliantoro. Op. Cit. Hlm 26.
11karayuki-san adalah sebutan bagi anak gadis petani atau nelayan yang pergi meninggalkan Jepang untuk bekerja di luar negeri. ‘Kara’ berarti negara luar, sedangkan ‘yuki’ berarti tujuan. Kata ‘san’ ditambahkan sebagai penghormatan kepada seseorang.
12Lucia Juningsih. Dampak Kekerasan Seksual Pada Jugun Ianfu. (Yogyakarta. Penerbit Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada. 1999.) Hlm 1.
13Budi Hartono dan Dadang Juliantoro. Op. Cit. Hlm 55.
14Ibid. Hlm 75.
di mana sekitar 200.000 orang wanita dari negeri itu pernah dijadikan budak seks oleh tentara Jepang.15
Pada hari-hari pertama penyerbuan Jepang ke Indonesia, banyak wanita dan gadis kulit putih atau Indo diserang secara seksual oleh pasukan Jepang di Tarakan, Manado, Bandung, Padang dan Pulau Flores.16
Secara perlahan kamp-kamp khusus ini menjadi sebuah sistem tersendiri, yaitu dengan membuat jaringan yang akan mengatur perekrutan hingga kepada pengiriman perempuan-perempuan ke berbagai tempat di daerah yang diduduki oleh Jepang. Sistem ini bahkan melibatkan pejabat setempat untuk perekrutan perempuan-perempuan pribumi.
Sehingga menjadi suatu sistem yang terstruktur selama pendudukan Jepang berlangsung Siapa yang dapat dikatakan terlibat atau ikut berpartisipasi, langsung atau tidak dalam usaha pencarian dan pegumpulan tenaga kerja perempuan yang akan dijadikan Jugun Ianfu.
Dari kedekatan hubungan sosial dengan para calon Jugun Ianfu, maka pihak pengumpul atau pencari, dapat dibedakan dalam pihak yang punya hubungan dekat, seperti teman, tetangga, kenalan atau orang yang sudah dikenal.17
Perekrutan terhadap para perempuan yang akan dijadikan jugun ianfu tidak akan mudah tanpa adanya peran dari pejabat setempat. Dalam istilah Jepang dikenal dengan sistem Tonarigumi (rukun tetangga). Tonarigumi merupakan tingkatan paling rendah dalam sistem pemerintahan Jepang. Bila diurutkan dari atas ke bawah.
Mereka yang disebut pencari atau pengumpul calon Jugun Ianfu adalah kepala Desa atau Tonarigumi. Kepala Desa atau Tonarigumi sering diwajibkan untuk mengumpulkan wanita dalam jumlah tertentu. Mereka bahkan diberi target perekrutan dan para penduduk tidak berani menolak.18
Peran Tonarigumi selama perekrutan Jugun Ianfu di Indonesia menjadi sangat penting. Karena para Rukun Tetangga ini yang akan menyeleksi perempuan yang akan dijadikan Jugun Ianfu. Aparat desa tersebut sebenarnya enggan untuk melakukan perekrutan terhadap perempuan bagi Jepang. Tetapi mereka tidak kuasa untuk menolak perintah Jepang dan terpaksa mengorbankan masyarakat desa, khusunya perempuan.19
15Nino Oktorino. Op. Cit. Hlm 258-259.
16Ibid. Hlm 160
17Budi Hartono dan Dadang Juliantoro. Op. Cit. Hlm 91.
18Nino Oktorino. Op. Cit. Hlm 262.
19Budi Hartono dan Dadang Juliantoro. Op. Cit. Hlm 69 .
Seperti di tempat lainnya, mula-mula wanita penghibur di Indonesia yang melayani prajurit Jepang diambil dari para pekerja seks komersial. Namun karena jumlahnya tidak mencukupi, akhirnya rakyat biasa juga menjadi sasaran. Kebanyakan dari mereka diajak oleh Kepala Desa atau Tonarigumi dengan iming-iming, “apakah mau disekolahkan ?” atau “ada pekerjaan yang gajinya tinggi”, kadang-kadang ajakan itu diikuti dengan perintah halus atau bahkan paksaan.20
Berdasarkan hasil wawancara dari 40 mantan Jugun Ianfu dapat diketahui bahwa ada 2 cara dalam perekrutan. Pertama pengambilan paksa dan perkosaan di tempat. Cara pertama itu menimpa sebagian besar penduduk pedesaan seperti yang terjadi di Gunung Kidul Yogyakarta. Para wanita yang diambil tentara Jepang pada waktu itu sedang berada di ladang, di tengah perjalanan menuju ke pasar atau pulang ke rumah, di sungai untuk mandi, dan di rumah wanita itu sendiri. Para wanita yang diambil itu sebagian ada yang dibawa ke markas/barak dekat tempat tinggal wanita itu atau markas yang relatif jauh dari tempat tinggalnya, ke Yogyakarta, Bantul Kaliurang, Klaten, Semarang atau Magelang. Kedua tidak dipaksa, tetapi direkrut melalui seorang perantara, wanita yang direkrut diberi janji akan disekolahkan atau diberi pekerjaan, seperti menjadi pelayan restoran, tukang cuci dan masak, atau pemain sandiwara, itu semua merupakan tipu daya pemerintah Jepang untuk menarik minat perempuan yang akan di jadikan Jugun Ianfu.21
Pola perekrutan yang dilakukan tentara Jepang untuk menjadikan perempuan sebagai jugun Ianfu22 ada tiga cara perekrutan, antara lain.
1) Pemaksaan melalui kekerasan fisik.
2) Pemaksaan dengan cara menyebarkan perasaan takut dan ancaman kekerasan disertai tekanan psikologi.
3) Pemaksaan dengan cara tipu daya dengan iming-iming akan diberi pekerjan dan janji untuk disekolahkan.
Dilihat dari polanya, maka tampak bahwa dalam rekrutmen Jugun Ianfu ini, relasi- relasi sosial yang ada dimanfaatkan untuk mempermudah proses pengerahan Jugun Ianfu.
Adanya pihak-pihak ini membuat proses rekrutmen berjalan cukup lancar, karena masing-
20Aiko Kurasawa. Op. Cit. Hlm 158.
21Lucia Juningsih. Dampak Kekerasan Seksual Pada Jugun Ianfu. (Yogyakarta. Penerbit Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada. 1999.) Hlm 19.
22Ibid. Hlm 240.
masing unsur dari pihak pengumpulan ini memiliki akses tersendiri pada kaum perempuan, baik di desa atau di kota.23
Sisi lain dari perekrutan calon Jugun Ianfu adalah sifatnya tertutup dan biasanya dilakukan dari mulut ke mulut. Tidak dilakukan secara terang-terangan. Dengan adanya model seperti ini maka muncul yang disebut mucikari. Dengan tujuan merekrut para kaum perempuan untuk dijadikan jugun Ianfu.
B. Kondisi Jugun Ianfu Masa Pendudukan Jepang
Penerapan sistem Jugun Ianfu oleh pemerintah Jepang di seluruh kawasan Asia- Pasifik khususnya terhadap kaum perempuan Indonesia menggambarkan kondisi perempuan yang sangat memprihatinkan, ekploitasi perempuan besar-besaran di setiap wilayah di mana Jepang mendudukinya yang mengakibatkan kondisi fisik dan psikologi para Jugun Ianfu menjadi menderita. Pada awal penjajahan Jepang, kebutuhan para Jugun Ianfu sudah terjamin. Dari mulai makanan bergizi, obat-obatan sampai sarana prasarana rumah. Sekitar tahun 1943 mulai ada penurunan persediaan makanan dan penjatahn yang ketat, pada periode ini penyiksaan terhadap Jugun Ianfu mulai dilakukan
Selama berada di dalam Ianjo, kehidupan Jugun Ianfu sepenuhnya menjadi milik Jepang. Mereka diatur sedemikian rupa. Eksploitasi merupakan kata yang tepat dalam menggambarkan keadaan mereka di dalam Ianjo. Mereka dipaksa secara fisik dan psikologis. Bagaimana tidak, sebagai seorang perempuan yang mempunyai sifat lemah lembut harus berhadapan dengan laki-laki yang lebih bersifat kasar.
Dalam hal ini sebagai tentara Jepang yang dikenal kejam dan bengis selama perang.
Ditambah dengan keterpaksaan untuk melayaninya. Tentunya ini sangat berdampak terhadap psikologis perempuan yang menjadi Jugun Ianfu. Tubuh perempuan Jugun Ianfu menjadi objek bagi tentara Jepang, diperlakukan layaknya mainan. Tentara Jepang tidak memikirkan bagaimana kondisi fisik dan psikologis mereka. Hal ini menyebabkan ketidakadilan bagi perempuan yang seharusnya diperlakukan secara lebih lembut dan manusiawi. Seharusnya perempuan yang menjadi jugun ianfu ini memiliki kedudukan yang sederajat dengan kaum laki-laki. Sehingga kaum perempuan tidak perlu mengalami ketidakadilan gender.
23Lihat Lampiran 1
Para Jugun Ianfu pada masa pendudukan Jepang di tempatkan di asrama Telawang di Kalimantan Selatan. Asrama tersebut di sebut sebagai Lanjo. Lanjo yang dibuat oleh tentara Jepang sangat rapih dan tertata dengan baik di mana setiap Lanjo disediakan seorang dokter yang berfungsi untuk memeriksa kesehatan Jugun Ianfu setiap minggu.
Lanjo tersebar di berbagai wilayah seperti pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.24
Para perempuan Indonesia yang dijadikan Jugun Ianfuharus tinggal di dalam ruang Lanjo yang berukuran 3 m x 2.5 m. Kamar-kamar tersebut melingkar seperti huruf U.
Dalam kamar tersebut tersedia :
1. Sebuah tempat tidur (kasur, dipan, kelambu, dan selimut) 2. Sebuah meja dengan dua kursi kayu.
3. Gantungan baju (kapstok)
4. Sebuah ruang kecil di dalam kamar tersebut, yang hanya dibatasi oleh kain.
Dalam ruang tersebut tersedia botol obat.Tampak bahwa ruang kecil tersebut adalah tempat untuk mencuci, sebab dibagian sudutnya berlubang.25
Tamu yang datang ke Lanjo adalah orang Jepang, baik dari Sipil atau pun dari tentara Jepang. Ada perbedaan perlakuan antara tentara Jepang dan tamu Sipil Jepang yang diterima oleh Jugun Ianfu.26 Mereka yang menghuni Lanjo bermacam-macam, ada yang khusus wanita Jepang. Tetapi ada juga yang campur antara wanita Cina dan Indonesia. Para Jugun Ianfu yang menghuni Lanjo dipaksa melayani tamu Sipil dan tentara Jepang menurut pembagian shift seperti yang dialami oleh lasmirah27 dan Mardiyem28 di Asrama Telawang Kalimantan Selatan.
Mardiyem mengatakan:
24Tim Komisi Nasional Kekerasan Terhadap Perempuan.Kita Bersikap Empat Dasawarsa Kekerasan Dalam Perempuan Dalam Perjalanan Bangsa. (Jakarta. Komisi Nasional Kekerasan Terhadap Perempuan.
2011.) Hlm 50.
25Lihat lampiran 2
26Eka Hindra & Koichi Kimura. Op. Cit. Hlm 108.
27 Lasmirah merupakan salah satu gadis dari 24 gadis asal Jawa Tengah yang dikirim ke Borneo.
Lasmirah yang baru berumur 12 tahun mau menjadi penyanyi di Borneo, namun ia terjebak dan dijadikan Jugun Ianfu yang tinggal di Asrama Telawang Kalimantan Selatan. Dan namanya diganti dengan nama Jepang yaitu Miyako. (Enang Rokajat Asura. Jugun Ianfu Jangan Panggil Aku Miyako. Edelweiss Depok. 2015. Hlm 13.)
28Mardiyem merupakan salah satu kaum perempuan yang mana waktu itu umurnya 13 tahun yang akan dijadikan penyanyi di group musik Pantja Soerja tetapi akhirnya dijebak dan dijadikan Jugun Ianfu yang tinggal di Asrama Telawang Kalimantan Selatan. Mardiyem menempati kamar No 11 dan namanya diganti menjadi nama JEPANG yaitu Momoye (Eka Hindra dan Koichi Kimura. Op. Cit. Hlm 93.)
“Tamu yang datang tidak bisa masuk ke kamar-kamar. Semua diatur dan diawasi oleh pengatur asrama. Jam tamu siang hari antara pukul 12.00 – 17.00 khusus untuk sedadu pangkat rendah Jepang dengan karcis seharga 2,5 Yen. Kalau sore hari pukul 17.00 – 24.00 khusus untuk orang sispil Jepang dengan harga karcis 3,5 Yen. Biasanya jam itu banyak dipakai oleh serdadu Jepang berpangkat Perwira.”29
Setiap tamu baik dari serdadu atau perwira tinggi yang sudah mendapatkan karcis akan mendapatkan Kaptujes.30Selama menghuni Asrama Telawang, Lasmirah dan Mardiyem harus melayani tamu dengan jumlah yang banyak. Setiap habis melayani tamu Mardiyem mengalami pendarahan yang hebat. Dengan keaadan pendarahan seperti itu Lasmirah dan Mardiyem diberi obat sejenis pil dan dalam waktu 3 hari kemudian pendarahan itu mulai pulih secara berangsur-angsur. Setiap harinya mereka harus melayani tamu 10 sampai 15 orang.31
Tidak semua tamu yang datang bersikap baik dan sopan terhadap Jugun Ianfu, hampir semua Jugun Ianfu mendapatkan perlakuan yang sama yaitu penderitaan yang tiada henti baik penderitaan fisik mau pun non fisik. Kekerasan fisik yang diterima Jugun Ianfu sangat beragam mulai dari tendangan, pukulan dengan senjata, dan lain-lain. Sedangkan kekerasan non fisik yang dialami Jugun Ianfu yaitu merasa ketakutan yang luar biasa karena mereka dipaksa untuk melayani tamu yang jumlahnya sangat banyak. Akibat dari tekanan dan siksaan yang tiada henti banyak dariJugun Ianfu yang meninggal dunia karena sakit atau bunuh diri.
Nasib yang diterima para Jugun Ianfu baik fisik mau pun non fisik seperti yang dialami Mardiyem yang tidak jauh berbeda dengan nasib Jugun Ianfu lainnya, seperti disiksa kalau tidak mau melayani para tamu yang datang. Setelah tahu Mardiyem hamil, petugas membawanya ke rumah sakit Ulin32 untuk digugurkan kandungannya. Operasi penguguran kandungan tersebut adalah sebuah operasi primitif.‘Saya diplenet’33 perut Mardiyem ditekan dengan paksa oleh dokter.Rasa sakit menjalar keseluruh tubuh Mardiyem.seperti yang diceritakan Mardiyem:
29Eka Hindra & Koichi Kimura. Op. Cit. Hlm 106-107
30Kaptujes nama lainya adalah kondom yang dibagikan kepada para tamu yang mau menggunakan Jugun Ianfu dan biasanya setiap tamu mendapatkan 2 Kaptujes (Ibid. Hlm 107)
31Ibid. Hlm 105.
32Ulin adalah sejnis kayu Kalimantan, yang keras.Dikenal pula sebagai kayu besi.Rumah sakit inilah yang menjadi tempat pemeriksaan kesehatan Mardiyem dan kawan-kawanya pada awal kedatangan di Telawang.(Budi Hartono dan Dadang Juliantoro.Op. Cit. Hlm 142.)
33Diplenet (bahasa Jawa, ditekan dengan paksa) (Ibid. Hlm 143)
“Saking sakitnya, tangan saya sampai tidak bisa digerakan, tubuh saya lemas, lebih sedih lagi, saya tahu anak itu masi hidup, betapa dosanya saya. Saya ingat bayi itu bergerak-gerak, dia masih hidup, dan anak itu laki-laki.”
Hal yang dialami Mardiyem merupakan salah satu gambaran betapa menderitanya para Jugun Ianfu pada masa itu. Jika Jugun Ianfu tidak mau melayani tamu yang datang maka akan mendapatkan hukuman fisik berupa pukulan, tendangan, dan lain-lain. Apabila Jugun Ianfu ketahuan hamil maka harus digugurkan kandunganya dengan cara tidak manusiawi.
Mardiyem juga menuturkan bahwa terdapat nama-nama Jugun Ianfu yang berasal dari angkatan pertama kedua dan ketiga yang menghuni Asrama Telawang Kalimantan Selatan.Ketika pertama kali dibawa ke tempat khusus yang disebut dengan Ianjoini, para jugun ianfu langsung dimasukan ke tiap-tiap kamar. Di depan kamar terpampang nama jugun ianfu yang menggunakan nama Jepang. Sedangkan nama asli para perempuan yang menjadi jugun ianfu tidak lagi dipakai sampai masa pendudukan Jepang berakhir. Penggunaan nama Jepang ini bertujuan agar para tentara atau sipil Jepang merasa sedang berada di kampung halamannya sendiri dan layaknya sedang berhubungan dengan perempuan Jepang. Seperti tabel di bawah ini yang menunjukkan nama asli perempuan yang menjadi jugun ianf ubeserta nama Jepangnya.34
Berada di dalam Ian-jo bukan keinginan bagi para perempuan yang menjadi jugun ianfu. Perempuan yang menjadi jugun ianfu ini dipaksa dan mendapat kekerasan fisik selama melayani tentara dan sipil Jepang. Sehingga tak ayal beberapa jugun ianfu yang menderita luka-luka pada tubuh mereka.
Perlakuan kasar ini didapat apabila mereka tidak menuruti keinginan Jepang.
Tubuh mereka dieksploitasi secara fisik tanpa berani melawan, hanya bisa pasrah saja. Kalau melawan mereka akan mendapatkan tindak kekerasan yang lebih berat lagi. Keinginan Jepang hanyalah memuaskan hasrat mereka melalui perempuan.
Penderitaan mereka ini terus dirasakan pada saat melayani tentara atau sipil Jepang. Walaupun tidak semua yang memperlakukan kasar, tetapi pada dasarnya mereka melakukan hubungan biologis dengan paksaan. Sehingga tidak hanya kekerasan bersifat fisik tetapi juga psikologis para perempuan tersebut.
Berada di dalam masyarakat yang layak itu merupakan keinginan para Jugun Ianfu, memiliki teman dan berbaur dengan masyarakat sekitar, akan tetapi itu merupakan hal yang mustahil, masyarakat pada umumnya tidak mau menerima mereka setelah masyarakat tahu
34Lihat Lampiran 3
kalau mereka itu para mantan Jugun Ianfu. Di kalangan perempuan, Jugun Ianfu mendapat pandangan dan negatif yang membuat trauma dan tekanan psikologis yang sangat kuat.
Tekanan yang terjadi ini disebabkan munculnya kecurigaan dari kalangan perempuan yang sudah mempunyai suami. Hal ini dikarenakan takut para Jugun Ianfu merebut suami-suami mereka.
Kondisi Jugun Ianfu sebenarnya sudah sangat menderita ketika masih berada di dalam Ianjo. Tubuh mereka dieksploitasi secara fisik dan psikologis sehingga menimbulkan berbagai macam luka yang dialami oleh Jugun Ianfu ini, yang ternyata berdampak walaupun sudah berakhir pekerjaan mereka sebagai Jugun Ianfu. Mereka merasakan beberapa dari organ tubuhnya tidak dapat berfungsi dengan baik bahkan ada yang sampai tidak dapat digunakan lagi. Hal ini tentu saja menimbulkan penderitaan bagi mereka.
Mardiyem menuturkan “Tulang punggungku remuk, kaki kiriku mengecil, dan di kepala ada gumpalan darah”. Semua itu akibat perbuatan Jepang pada saat Mardiyem menjadi Jugun Ianfu.35
Kondisi yang dialami jugun ianfu menggambarkan bagaimana perempuan tersebut dianiaya oleh tentara Jepang. Mereka diperlakukan tidak wajar oleh tentara Jepang.
Kemudian penderitaan jugun ianfu ini semakin bertambah, karena setiap perempuan setidaknya harus melayani sekitar 10-15 orang tentara Jepang dalam satu harinya. Hal ini berlangsung setiap hari, kecuali perempuan tersebut mengalami masa Haid ataupun sakit.
Perempuan mengalami nyeri dan sakit pada seluruh badannya terutama pada alat vitalnya.
Seringkali terdapat jugun ianfu yang mengalami pendarahan akibat perlakuan kasar ataupun karena melakukan hubungan biologis secara berulang-ulang. Siksaan semakin bertambah ketika di antara mereka kedapatan hamil. Dokter setempat menganjurkan jugun ianfu tersebut untuk menggugurkan kandungannya. Karena itu masa pengguguran kandungan merupakan masa yang paling menyakitkan bagi para perempuan. Ini merupakan siksaan terberat bagi perempuan, belum lagi itu bisa menyebabkan penyakit permanen. Sehingga perempuan tidak bisa melahirkan lagi karena janinnya telah rusak atau tidak berfungsi dengan baik lagi.
Kebijakan ini diterapkan oleh kaisar Hirohito36 dimana kebijakan ini bertujuan untuk menjaga kestabilan perang dan para prajurit bisa lebih berkonsentrasi dalam tugas-tugasnya di Medan perang supaya Jepang bisa meraih kemenangan dalam perang Asia Timur Raya.
35Eka Hindra & Koichi Kimura. Op. Cit. Hlm 199.
36 Kaisar Hirohito adalah kaisar Jepang yang ke-124. Dalam sejarah Jepang dia adalah Kaisar terlama yang memerintah (1926-1989) dan merupakan salah satu tokoh penting pada masa Perang Dunia II dan pembangunan kembali Jepang. Dewita. Biograi Tokoh Dunia. http://www.biografi.xyz/2015/03/hirohito-kaisar- showa-kaisar-jepang-ke.html. diunduh pada Rabu 23 Agustus 2017. Pukul 08.30. WIB