ANALISIS TINDAK PIDANA PEMBERIAN IZIN USAHA ATAU KEGIATAN OLEH PEJABAT TANPA DILENGKAPI IZIN
LINGKUNGAN
JURNAL
Oleh:
HERBET RICARDO MANALU NIM : 140200109
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
CURICULUM VITAE A. IDENTITAS DIRI
1 Nama Lengkap
2 NIM 140200109
3 Tempat/tanggal lahir Huta Bulu, 22 Desember 1996 4 Jenis kelamin Laki-laki
5 Anak ke 2 (dua) dari 4 (empat) bersaudara 6 Agama Kristen Protestan
8 Program Studi Ilmu Hukum 9 Departemen Hukum Pidana
10 Alamat Huta Bulu, Desa Dolok Saribu, Kecamatan pagaran , kabupaten Tapanuli Utara
11 Alamat e-mail [email protected] B. RIWAYAT PENDIDIKAN
Jenjang Nama Institusi Pendidikan
Tahun Masuk
Tahun Lulus Jurusan/
Bidang Studi
SD SD Negeri
No.176347
2002 2008 -
SMP SMP Negeri
1 Pagaran
2008 2011 -
SMA SMA Negeri
1 Pagaran
2011 2014 IPA
Strata 1(S1) Universitas Sumatera Utara
2014 2018 Hukum/Ilmu
Hukum
C. Kepanitiaan
No Nama Kepanitiaan Jabatan Tahun 1 Panitia USU Law
Competition
Anggota Seksi PTTD
2015 2 Panitia Natal Fakultas
Hukum USU
Anggota Seksi Dekorasi
2016 3 Panitia Penerimaan
Mahasiswa Baru Fakultas Hukum USU
Anggota Koordinator Lapangan
2017
4 Panitia Natal Fakultas Hukum USU
Koordinator seksi konsumsi
2017
5 Panitia Retreat UKM KMK Koordinator 2018
FH USU Seksi PTTD D. Seminar
Tahun Judul Seminar Penyelenggara 2015 Polemik Hukuman Mati di Indonesia GMKI FH USU
2015 USU Law Competition PEMA FH USU
2015 Kupas Tuntas RUU KUHP GMKI FH USU
2016 Seminar Lingkungan Hidup MAPALA NJ FH USU 2016 Entrepreneur Tour 2016 GenBI SUMUT
2016 Eksploitasi Perempuan HMI FH USU
2016 Peraturan Daerah PERMATA
2017 Anti Korupsi Jurnal Integritas KPK FH USU 2017 Perlindungan Hukum Terhadap
ekonomi Kreatif Menuju Indonesia 2025
Gemar Belajar FH USU
2017 Disparitas Pemmidanaan Pada Tindak Pidana Korupsi
Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia 2017 Wawasan Kebangsaan Resimen Mahasiswa
Batalyon 2017 Urgensi Constitusional Complaint di
Indonesia
Departemen HTN FH USU
2017 Urgensi Perubahan UU NO.30 Thn 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Setjen dan BK DPR RI
E. Riwayat Organisasi
No Nama Organisasi Bidang Organisasi
Jabatan Periode 1 UKM KMK FH
USU
Rohani Kristen Komisi Peralatan
2016-2017 Pemimpin
Kelompok Kecil
2017- sekarang
2 IMADANA Hukum Anggota 2017
3 IMSN Kemasyarakatan Ketua 2016- 2017
ABSTRAK Herbet Ricardo Manalu*
Alvi Syahrin**
Syafruddin Sulung Hasibuan***
Lingkugan hidup merupakan bagian yang tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Lingkungan hidup akan memberikan dampak terhadap manusia sesuai dengan kondisi lingkungan tersebutKerusakan terhadap lingkungan ini tidak terlepas dari tanggung jawab dari pejabat pemerintah. setiap kegiatan dan/atau usaha yang bersentuhan dengan lingkungan tentu akan mempengaruhi kualitas dari pada lingkungan tersebut.
Sehingga dalam mengontrol setiap kegiatan dan/atau usaha yang berpotensi mempengaruhi lingkungan perlu dilakukan pengaturan izin lingkungan dari setiap kegiatan dan/atau usaha sebagai mana yang diatur dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
pejabat yang memberikan izin lingkungan juga harus mengikuti prosedur sebagai yang tercantum dalam pasal 111 UUPPLH. Oleh karena jarangnya tindak pidana ini muncul dan lebih sering diselesaikan secara administratif maka penulis tertarik menganalisis tindak pidana pemberian izin usaha oleh pejabat tanpa dilengkapi izin lingkungan.
Metode yang digunakan adalah metode yuridis normatif yaitu penelitian yang menggunakan perundang-undangan sebagai dasar permasalahan yang dikemukakan.Data yang dipergunakan adalah data primer dan sekunder.Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research).Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif, yaitu dengan menguraikan data secara bermutu dalam bentuk kalimat yang teratur,runtun,logis dan tidak tumpang tindih serta efektif sehingga memudahkan interpretasi data dan analisis.
Hasil penelitian sebagai jawaban permasalahan diatas yakni, pemberian izin lingkungan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan.Dan bagi pejabat yang memberikan izin linkungan tanpa dilengkapi amdal atau UKL UPL maka, pejabat dapat dipidana karena telah mengeluarkan izin lingkungan melalui penyelesaian dalam persidangan dengan menguji izin yzng dikeluarkan oleh pejabat.
* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
** Dosen Pembimbing I
*** Dosen Pembimbing II
ABSTRACT Herbet Ricardo Manalu*
Alvi Syahrin**
Syafruddin Sulung Hasibuan***
Environment is a part that can not be separated from human life everyday.
The environment will have an impact on people in accordance with environmental conditions. Damage to the environment is inseparable from the responsibilities of government officials. any activity and / or business that is in contact with the environment will certainly affect the quality of the environment. Therefore, in controlling every activity and / or business that has the potential to influence the environment, environmental permit arrangements of each activity and / or business as regulated in Law No. 32 of 2009 regarding Environmental Protection and Management shall be conducted. the officer giving the environmental permit must also follow the procedure as mentioned in article 111 of UUPPLH. Because of the rarity of these criminal acts and more frequently resolved administratively, the authors are interested in analyzing the crime of granting business licenses by officials without the permission of the environment.
The method used is the normative juridical method of research that uses the legislation as the basis of the issues raised. The data used are primary and secondary data. Data collection method used in this research is library research.
While the data analysis used is qualitative analysis, that is by describing the data in quality in the form of a regular sentence, cascade, logical and not overlapping and effective so as to facilitate the interpretation of data and analysis.
The results of the research as the answer to the above problems namely, the granting of environmental permits as one of the requirements for obtaining business licenses and / or activities. And for officers who give permission without enabling environmental permit or UKL UPL then, officials can be punished for having issued environmental permit through completion in the trial by testing the permits issued by officials.
*Student of Faculty of Law University of North Sumatra
** Lecturer I
***Lecturer II
ANALISIS TINDAK PIDANA PEMBERIAN IZIN USAHA ATAU KEGIATAN OLEH PEJABAT TANPA DILENGKAPI IZIN LINGKUNGAN I. Latar Belakang
Perkembangan zaman yang semakin kompleks bahwa yang menjadi kepentingan setiap mansia semakin meluas dan menyadari hal-hal sederhana yang ada dalam sekelilingnya karena mulai berpengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat.Ada ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia secara tidak langsung juga menimbulkan persoalan yang sangat serius, dalam arti bahwa melalui terganggunya alam lingkungan berpengaruh terhadap keberadaan mahluk hidup lainnya.Sehingga dalam hal ini manusia membutuhkan lagi pengaturan yang lebih lanjut yang harus dimuat dalam hu kum atau undang- undang yang mengaturnya.
Krisis lingkungan hidup yang sehat merupakan tantangan yang sangat besar pada abab ini, terutama di negara-negara yang sedang membangun, karena adanya aktivitas pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia yang sering pula membawa dampak terhadap perubahan lingkungan.
Aktivitas pembangunan yang tidak disertai dengan pengawasan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik akan mengakibatkan malapetaka bagi manusia.
Dengan demikian konsep pengawasan, pengelolaan, dan pelaksanaan undang- undang lingkungan hidup adalah kunci utama terhadap pencapaian kelestarian lingkungan.1 Pelanggaran terhadap lingkungan merupakan suatu tindakan yang dapat memberikan perubahan terhadap lingkunga dari fungsi dan kondisi semula, setiap aktivitas manusia yang berkaitan dengan lingkungan hidup akan membawa dampak dan perubahan yang dapat mengubah lingkungan hidup tersebut.
Permasalahan hukum lingkungan di Indonesia memuat hukum pidana, bahwa permasalahan yang timbul, yang diakibatkan subjek hukum yang dapat
1Djanius djamin, Pengawasan & Pelaksanaan Undang-undang Lingkungan Hidup suatu analisis, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), hal.1.
dipidana apabila memenuhi unsur-unsur pidana yang dimuat dalam Undang- undang tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Wacana konstitusi hijau mulai muncul diakhir abad ke-21 dan awal abad ke-21 ketika orang mulai merasa sangat risau dengan lambatnya respon konkret pemerintah negara-negara konstitusional akan pentingnya memelihara lingkungan hidup agar kelangsungan hidup manusia dapat terjamin berdaasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable Development).
Tak terkecuali, Indonesia juga mempunyai tuntutan yang sama, yaitu perlunya disusun suatu kebijakan yang dapat dipaksakan berlakunya dalam bentuk undang-undang tersendiri yang mengatur dalam undang-undang.2
Pengaturan mengenai lingkungan hidup yang terbaru saat ini diatur dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. penulis menyoroti dalam hal pemberian izin Usaha oleh Pejabat tanpa dilengkapi izin lingkungan hidup. Pasal 111 ayat (1) Pejabat pemberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan tanpa dilengkapi dengan amdal atau UKL-UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).Pasal 111 ayat (2) Pejabat pemberi izin usaha dan/atau kegiatan yang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
Permasalahan pengelolaan lingkungan, kita berhadapan dengan hukum sebagai sarana pemenuhan kepentingan.Sebagai displin ilmu yang sedang berkembang sebagian besar materi hukum lingkungan merupakan bagian dari hukum administrasi ((administratiefrecht).Hukum lingkungan juga mengandung aspek hukum perdata, pidana, pajak, internasional dan penataan ruang sehingga tidak dapat digolongkan kedalam pembidangan hukum klasik (publik dan privat).3Hukum pidana dipandang sebagai ultimum remediumartinya hukum
2Jimly Assiddiqie, Green Constitution, (Jakarta:PT Rajagrafindo Persada, 2009), hal.10.
3 Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan kebijaksanaan Lingkungan Nasional, (Surabaya: Airlangga University Press, 2000), hal.3-4
pidana hendaknya diapandang sebagai upaya terakhir dalam memperbaiki kelakuan manusia.Perkataan ultimum remedium ini pertama sekali dipergunakan oleh menteri kehakiman Belanda yaitu Mr.Modderman.namun menurut Prof. Alvi Syahrin bahwa dalil ultimum Remedium, dapat dikesampingkan dalam hal tindak pidana yang dilakukan merupakan suatu pelanggaran terhadap hak subyektif maupun kepentingan masyarakat luas.4
Pemberian izin lingkungan yang tidak sesuai prosedur oleh pejabat merupakan Tindak pidana kejahatan sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 pasal 97 mengatakaan bahwa tindak pidana dalam undang-undang tersebut adalah kejahatan. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik mengkaji dan menuangkannya dalam tugas akhir berupa Skripsi yang berjudul: ANALISIS TINDAK PIDANA PEMBERIAN IZIN USAHA ATAU KEGIATAN OLEH PEJABAT TANPA DILENGKAPI IZIN LINGKUNGAN.
II. PENGATURAN HUKUM LINGKUNGAN DI INDONESIA
Hukum lingkungan merupakan hukum yang masih muda, yang perkembangannya baru terjadi empat dasawarsa akhir ini.Moenajat membedakan anatara hukum lingkungan modern yang berorientasi pada lingkungan atau environment-oriented law dan hukum lingkungan klasik yang berorientasi kepada penggunaan lingkungan atau use-oriented law.
Hukum lingkungan modern menetapkan ketentuan dan norma-norma guna mengatur tindak perbuatan manusia dengan tujuan untuk melindungi lingkungan dari kerusakan dan kemerosotan mutunya demi untuk menjamin kelestariannya agar dapat secara langsung terus-menerus digunakan oleh generasi sekarang maupun generasi-generasi yang akan datang. Sebaliknya hukum lingkungan klasik menetapkan ketentuan dan norma-norma dengan
4Alvi Syahrin, Beberapa Isu hukum Lingkunagan kepidanaan, (Medan: PT Sofmedia, 2008), hal.9-10.
tujuan terutama sekali untuk menjamin penggunaan dan eksploitasi sumber- sumber daya lingkungan dengan berbagai akal dan kepandaian manusia guna mencapai hasil semaksimal mungkin, dan dalam jangka waktu yang sesingkat- singkatnya.5
Dalam penegakan hukum dilaksanakan karena adanya pelanggaran akan ketetapan yang ditentukan, begitujuga halnya dalam penegakan hukum lingkungan yang dilaksanakan karena adanya tindakan atau perbuatan yang menggangu kondisi lingkungan yang biasa disebut dengan pencemaran lingkungan hidup. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkunganhidup yang telah ditetapkan.6
Pembangunan merupakan upaya dasar yang dilakukan manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, hakikat kehidupan adalah bagaimana agar kahidupan hari depan lebih baik dari hari ini. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan akan selalu bersentuhan dengan lingkungan. Bruce Mitchell mengatakan pengelolaan sumber daya lingkungan akan mengalami empat situasi pokok, yaitu:7
a) Perubahan (change) b) Kompleksitas (complexity) c) Ketidakpastian (uncertainty)
5Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, ( Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005), hal.40-41.
6Undang-undang No.32 Tahun 2009, Pasal 1 angka (14)
7Supriadi, Hukum lingkungan di Indonesia Sebuah Pengantar, (Jakarta Raja wali Pers, 2006),hal.38.
d) Konflik (conflict).
Dalam penegakan hukum lingkungan telah diatur segala bentuk pelanggaran maupun kejahatan, bagi pelaku baik yang dilakukan perorangan maupun badan dengan upaya pencegahan (preventif) maupun penindakannya (represif). Untuk tindakan represif ini ada beberapa jenis instrument yang dapat diterapkan dan penerapannya tergantung dari keperluannya, sebagai pertimbangan antara lainmelihat dampak yang ditimbulkannya.8
Jenis-jenis instrumen yang dimaksud meliputi:9 a. Tindakan Administrasi
b. Tindakan Perdata (proses perdata) c. Tindakan Pidana (proses pidana)
Berkaitan dengan tindak pidana lingkungan, ada beberapa asas yang perlu diperhatikan yaitu; asas legalitas, asas pembangunan berkelanjutan, asas pencegahan, dan asas pengendalian. Asas legalitas didalamnya terkandung asas kepastian hukum dan kejelasan serta ketajaman dalam merumuskan peraturan dalam hukum pidana, khususnya sepanjang berkaitan dengan definition of crimes against the environment dan sanksi yang perlu dijatuhkan agar sipelaku mentaati normanya. Asas legalitas perlu dipahami sebagai asas legalitas yang bersifat materil yang memungkinkan kepada hukum yang hidup dan berkembang dalam masyrakat sebagai sumber-sumber hukum pidana, karena setiap kejadian dan peristiwa konkrit serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sekitarnya.
8Joko Subagyo, Hukum Lingkungan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hal.81.
9Alvi Syahrin, Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan, (Jakarta: PT Sofmedia, 2009), hal.50-51
Undang-undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH), menembah asas-asasnya yaitu sebagai berikut:
1) asas tanggung jawab negara 2) asas kelestarian dan keberlanjutan 3) asas keserasian dan keseimbangan.
4) asas keterpaduan.
5) asas manfaat.
6) asas kehati-.
7) asas keadilan.
8) asas.
9) asas keanekaragaman hayati.
10) asas pencemar membayar.
11) asas partisipatif.
12) asas kearifan lokal.
13) asas tata kelola pemerintahan yang baik.
14) asas otonomi daerah.
Kekhasan hukum lingkungan terletak pada substansinya atau kepentingan-kepentingan tercakup didalamnya sangat luas dan beragam sehingga hukum lingkungan tidak dapat ditempatkan pada salah satu diantara kedua bidang hukum, yaitu hukum privat dan hukum publik.Pada umumnya sarjana menggolongkan hukum lingkungan kedalam hukum publik.Alasannya, hukum lingkungan mengatur hubungan-hubungan yang berkenaan dengan masalah alam, sumber daya alam (hutan, tambang, perairan, perikanan dan sebagainya) yang dipergunakan untuk kesejahteraan publik.10
Sejauh ini hukum lingkungan belum dijadikan sebagai golongan tersendiri, sebagai salah satu bagian tersendiri dari hukum public.Namun, hukum lingkungan digolongkan sebagai bagian dari hukum administrasi
10N.H.T. Siahaan, Op.Cit., hal.67.
negara.Penggolongan demikian didasarkan pada bidang dominan yang dicakupi hukum lingkungan adalah mengenai kekuasaan negara atas asset-aset lingkungan atau sumber daya alam.Di fakultas Hukum Unversitas Indonesia dan Airlangga, hukum lingkungan dimasukkan sebagai bagian dari bidang (departemen) hukum administrasi negara.
hukum lingkungan dikomponenkan kedalam dua bidang dari segi pembentukannya. Kedua bidng itu adalah hukum lingkungan nasional dan hukum lingkungan internasional.Hukum lingkungan nasional memperoleh sumber hukumnya dari legislasi nasional.Sedangkan hukum lingkungan internasional bersumber pada deklarasi Stockholm dalam konferensi PBB tentang lingkungan hidup tahun 1972. Mengenai sumber hukum lingkungan internasional cukup banyak koferensi yang menjadi acuan dalam penegakan hukumnya , deklarasi oleh UNCED tanggal 3-14 Juni 1992 di Rio de Janeiro, Brazil yang menghasilkan lima dokumen sebagai berikut:11
1) Deklarasi Rio tentang lingkungan hidup dan pembangunan
2) Agenda 21, sebuah dokumen yang terdiri dari 800 halaman yang berisi pembangunan berkelanjutan abad ke-21
3) Dokumen tentang prinsip-prinsip pengelolaan kehutanan 4) Konvensi tentang perubahan iklim
5) Konvensi tentang keanekaragaman hayati.
11Ibid.,hal.27.
III. PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PEMBERIAN IZIN LINGKUNGAN HIDUP
Penegakan hukum lingkungan sebagai suatu tindakan dan/atau proses paksaan untuk mentaati hukum yang didasarkan kepada ketentuan, peraturan perundang-undang dan/atau persyaratan-persyaratan ;ingkungan. UUPPLH telah menegaskan 3 (tiga) langkah penegakan hukum secara sistematis, yaitu mulai dengan penegakan hukum administratif, penyelesaian sengketa diluar pengadilan atau melalui pengadilan, dan penyidikan atas tindak pidana lingkungan hidup.
Fungsionalisasi hukum pidana untuk mengatasi masalah perusakan lingkungan akibat pembangunan diwujudkan melalui perumusan sanksi pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ada dua alasan diperlukannya sanksi pidana, yaitu:12
1. Sanksi pidana selain dimaksudkan untuk melindungi kepentingan manusia, juga untuk melindungi kepentingan lingkungan karena manusia tidak dapat menikmati harta benda dan kesehatannya dengan baik jika persyaratan dasar tentang kualitas lingkungan yang baik tidak terpenuhi.
2. Pendayagunaan sanksi pidana juga dimaksudkan untuk memberikan rasa takut kepada pencemar potensial. Sanksi pidana dapat berupa pidana penjara, denda, perintah memulih lingkungan yang tercemar dan/atau rusak, penutupan tempat usaha dan pengumuman melalui media massa yang dapat menurunkan nama baik badan usaha yang bersangkutan.
12Ibid.hal.7-8.
Penegakan hukum lingkungan didasarkan pada asas legalitas, baik aspek materil maupun aspek formilnya. Kegiatan penegakan hukum penegakan hukum lingkungan kepidanaan hanya sah bila substansi materilnya didasarkan pada pasal-pasal pidana lingkungan hidup yang sebagian besar bertebaran diluar KUHP, dan kegiatan penegakan dilakukan sesuai dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, serta berpedoman kepada keputusan menteri kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01.PW.07.03 Tahun 1982 tentang pedoman pelaksanaan KUHAP.
Pelaksanaan penegakan hukum lingkungan kepidanaan dalam praktek dilapangan bermula dari pengumpulan bahan keterangan (penyelidikan), dilanjutkan dengan kegiatan penyidikan, penuntutan, putusan hakim dan eksekusi putusan hakim, harus pula memperhatikan sifat-sifat khas dan kompleksitas dari suatu kasus lingkungan hidup.karena itu, sesuai dengan asas pengelolaan lingkungan hidup, maka penegakan hukum lingkungan kepidanaan juga dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dengan aparat sektoral, terutama yang berwenang dalam bidang penerbitan izin, pengawasan, pemantauan lingkungan dan penegakan hukum administratif.
Perangkat hukum telah memberikan adanya pengakuan hak-hak yang dipunyai, baik oleh individu-individu warga masyarakat atau kelompok sosial tertentu dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup seperti yang ditetapkan dalam undang-undang nomor 32 tahun 2009.
Dengan adanya pengakuan hak-hak demikian , maka timbul pula lah kewajiban-kewajiban yang harus dilaksakan oleh sipemegang hak tersebut,
karena menurut hukum orang individu, warga masyarakat atau kelompok sosial mempunyai status sebagai subyek hukum.13
Dalam pasal 65 UUPPLH, ada 5 (lima) kategori hak yang diberikan kepada setiap orang, yaitu:
1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia.
2) setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.
4) Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
5) Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
Ketentuan perizinan dalam Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH), dalam pasal 36 ayat (1) “Setiap usaha dan/atau kegiatan yangwajib memiliki amdal atau UKL-UPLwajib memiliki izin lingkungan.” Sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 23 ayat (1) bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang memiliki dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki amdal. Selanjutnya dalam pasal 23 ayat (2) dampak penting ditentukan berdasarkan kriteria:
13Ibid.
a. Besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan;
b. Luas wilayah penyebaran dampak
c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. Banyaknya komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak;
e. Sifat kumulatif dampak;
f. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak;
Kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Izin lingkungan hidup sebagai instrumen bagi pemerintah untuk mengendalikan aktivitas pengelolaan lingkungan hidup.tujuannya agar lingkungan hidup tidak rusak, untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Perizinan memberikan pengendalian terhadap kelestarian lingkungan hidup, meskipun tidak tertutup dalam pelaksanaannya bersinggungan dengan hak-hak masyarakat dalam berusaha maupun dalam mendapatkan haknya dalam lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pemerintah melalui instrumen perizinan dapat membebankan kewajiban tertentu secara sepihak kepada masyarakat, mengingat karakteristik yuridisnya secara sepihak kepada masyarakat, mengingat karakteristik yuridisnya sebagai perbuatan publik bersegi satu.
UUPPLH terdapat dua konsep izin yakni:
1. Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib aAmdal atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai
prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan (pasal 1 angka 35).
2. Izin usaha dan/atau kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi teknis untuk melakukan usaha dan/atau kegiatan (pasal 1 angka 36).
UUPPLH mengatur pejabat yang melakukan pelanggaran dalam pemberian izin lingkungan dikenakan hukuman penjara dan denda yang berat.
Ketentuan ini diatur dalam pasal 111-112 UUPPLH, perbuatan pejabat yang diancam pidana yaitu:
1) Menerbitkan izin lingkungan tanpa dilengkapi dengan Amdal atau UKL-UPL;
2) Menerbitkan izin Usaha atau kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin lingkungan;
3) Dengan sengaja tidak melakukan pengawasan terhadap ketaatan penanggungjawab usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang- undangan dan izin lingkungan yang mengakibatkan terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan, yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia.
Pidana (hukuman) yang diancam terhadap si pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup serta kepada pejabat atau aparat (instansi) yang membidangi lingkungan hidup, yaitu hukuman dapat dijatuhkan kepada setiap pelaku yang melanggar UUPPLH hanya ada dua bentuk pidana yang dapat dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana lingkungan yaitu hukuman penajra dan denda.
Pelaku tindak pidana lingkungan dipidana denga pidana paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. pidana denda yang besarnya mulai
dari yang paling sedikit Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).14
Berdasarkan uraian tersebut, disatu penyelenggaraan izin lingkungan merupakan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup.pengelolaan sumber daya lingkungan hidup memperhitungkan kemampuan dan daya tampung dan daya dukung lingkungan hidup itu sendiri. Disisi lain penyelenggaraan izin lingkungan dianggap mempersulit aktivitas investasi di Indonesia. Sementara oleh beberapa instansi pemerintah, izin lingkungan dianggap penyelenggaraan kewenagan untuk mendapatkan pemasukan pendapatan bagi keuangan negara, sehingga pemberlakuan UUPPLH yang mengintegrasikan berbagai izin lingkungan menjadi satu sistem izin lingkungan terpadu memunculkan pertentangan antar intitusi di pemerintahan.15
IV. PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PEMBERIAN IZIN USAHA TANPA DILENGKAPI IZIN LINGKUNGAN
Dasar adanya perbuatan pidana terhadap seseorang atau korporasi adalah asas legalitas, yaitu asas yang menentukan bahwasuatu perbuatan adalah terlarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melakukan suatu perbuatan yang dilarang, sedangkan dasar dari dipidanannya sipelaku adalah asas Nullum delictum sine praevia lege poenali (tidak dapat dipidanan jika tidak ada undang-undang yang mengaturnya) atau asas schuld en haftung (kesalahan dan pertanggungjawaban). Artinya, orang atau badan hukum yang melakukan suatu tindak pidana akan dipidana apabila mempunyai kesalahan atau tidak dipidana jika tidak ada kesalahan (actus non facit reum nisi mens sir
14Syamsul Arifin, Op.Cit.,hal.228.
15Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, (Jakarta: Sinar Grafika)hal.199.
rea).Asas pertanggungjawaban pidana didasarkan pada pelanggaran dari delik hukum yang dilakukannya (rechtdelict).16
Kesalahan yang dilakukan merupakan dasar utama dari sumber konflik/sengketa para pihak sebelumnya sehingga bermuara pada masalah pelanggaran hukum merugikan pihak lain. Kesalahan ini mengakibatkan dapat dipidananya seseorang atau korporasi, ada empat syarat yang harus dipenuhi, yaitu:17
1. Melakukan perbuatan pidana;
2. Mampu bertanggungjawab;
3. Dengan sengaja atau alpa (lalai);
4. Tidak ada alasan pemaaf.
Subjek yang dapat dipertanggungjawabkan dalam delik lingkungan biasanya diawali dengan kata “barang siapa” yang menunjuk pada pengertian orang atau manusia.Pada pasal 67 UUPPLH ditegaskan bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.dalam pasal 1 angka 32 setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. Dalam penjelasan pasal 1 angka 24 UUPLH yang dimaksud “orang” adalah orang perorangan dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan di depan hukum.
16Teguh Sulistia dan Aria Zurnetti, Hukum Pidana: Horizon Baru Pasca Reformasi, (Jakarta; Raja Wali Pers, 2012), hal.181.
17Ibid.
Pengertian setiap orang dalam pasal 1 angka (32) UUPPLH, adalah orang perorangan atau badan usaha baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. Dari ketentuan tersebut bawa subjek tindak pidana lingkungan yaitu:18
1. Orang perseorangan atau individu;
2. Badan usaha;
3. Badan usaha yang berbadan hukum.
Badan usaha yang berbadan hukum dan yang tidak berbadan hukum sebagai subjek dalam hukum pidana dengan istilah atau nama Korporasi.
Formulasi tentang badan hukum sebagi subjek hukum dalam peraturan perundang-undangan dapat digolongkan dalam beberapa bagian, yaitu:
1) Ada peraturan perundang-undangan yang merumuskan secara tegas bahwa badan hukum merupakan subjek hukum dari undang-undang tersebut dan sekaligus dimuat dalam pasal-pasal yang mengatur mengenai ketentuan pidana.
2) Ada peraturan perundang-undangan yang merumuskan bahwa badan hukum termasuk dalam subjek hukum dari undang-undang tersebut, akan tetapi tidak dimuat secara tegas dalam pasal-pasal yang mengatur mengenai ketentuan pidananya.
Salah satu instrumen yang penting dalam penegakan hukum di bidang lingkungan adalah audit lingkungan. Audit lingkungan merupakan alat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dapat menjamin agar kepeduliaan lingkungan dapat diintegrasikan kesetiap kegiatan dalam
18Syamsul Arifin, Op.Cit.,hal.229.
pemenuhan kebutuhan manusia. Menurut keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 42/MENLH/II/1994, audit lingkungan adalah alat manajemen yang meliputi alat evaluasi secara sistematik, terdokumentasi, periodik, dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi, sistem manajeman dan peralatan dengan tujuan memfasilitasi sistem kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhdap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan hidup.19
Hakim pidana berwenang menguji keabsahan suatu perizinan, hakim pidana dalam menilai kualifikasi tindak pidana pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan dapat memeriksa apakah persyaratan izin yang dilanggar dibuat dengan tidak bertentangan dengan, misalnya: asas persamaan, asas kecermatan atau asas kepercayaan (kepastian hukum). Pelaksanaan hak uji yang dilakukan hakim pidana bukan hanya kontrol dari segi peraturan perundang-undangan, tetapi lebih merupakan kontrol keabsahan.Kontrol keabsahan ini selalu berkenan dengan pengujian tindak penguasa terhadap peraturan (hukum/ perundang-undangan) yang mendasarinya dan pengaturan mengenai pola tingkah laku serta asas-asas umu pemerintahan yang baik, dan bukan merupakan pengujian tindak penguasa dalam arti yang sepenuhnya.20
Hakim (pidana) menyatakan suatu ketetapan tidak berlaku/mengikat dengan alasan bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik, serta mempunyai wewenang untuk menggunakan alat uji: asas larangan untuk menetapkan kebijakan secara sembarangan dan asas detournement de pouvoir,
19Masrudi Muchtar, Op.Cit.,hal 136.
20Ibid. hal.26.
termasuk menggunakan asas kecermatan dan persamaan. Hak uji Hakim (pidana) juga berpengaruh terhadap soal apakah Hakim masih dapat menggunakan kompetensinya utuk menilai pertimbangan (kesimbangan) kepentingan dalam rangka pemeriksaan dasar-dasar yang meniadakan pidaana yang tercakup dalam noodtoestand atau pun putusan avas.21
V. Kesimpulan dan Saran a) Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Hukum lingkungan adalah hukum yang mengatur tingkah laku manusia dalam aktivitas sehari-hari agar mematuhi hukum lingkungan. Hukum lingkungan berisi kaidah-kaidah tentang perilaku manusia yang positif terhadap lingkungan, baik secara langsung mauoun tidak langsung. Hukum lingkungan yang berlaku saat ini telah diatur dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan lingkungan hidup di indonesia yang termasuk kedalam golongan hukum publik.
2. Penegakan hukum lingkungan merupakan suatu usha untuk mewujudkan ide-ide dan konsep-konsep dalam hukum lingkungan untuk menjadi kenyataan, yakni berupa pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Salah satu upaya penegakan hukum lingkungan adalah melalui pemberian izin bagi setiap usaha dan/atau kegiatan oleh pejabat
21Ibid.
sebagaimana yang diatur dalam UUPPLH.Perizinan merupakan instrument hukum lingkungan yang mempunyai fungsi preventif, yaitu mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pejabat yang memberikan izin lingkungan dapat dipidana apabila dalam pemberian izin terhadap usaha atau kegiatan tidak melalui prosedur yang diatur dalam UUPPLH. Dalam pemberian izin oleh pejabat yang biasanya dipegang Menteri, Gubernur, Bupati atau Wali kota dan instansi yang berwenang, sangat rentang dengan praktek penyuapan dan kepentingan, sehingga banyak pemberian izin yang tidak sesuai dengan prosedur dan kegiatan atau usaha yang memperoleh izin tersebut merusak lingkungan.
3. Pertanggungjawaban pidana didasarkan pada pelanggaran dari delik hukum yang dilakukannya (rechtdelict), kesalahan merupakan dasar dapat dipidananya seseorang atau korporasi, yang melakukan perbuatan pidana, mapu bertanggungjawab, dengan sengaja atau alpa (lalai) dan tidak ada alasan pemaaf. Dalam hal tindak pidana penerbitan izin oleh pejabat juga harus disesuaikan dengan unsur-unsur pidana tersebut.
b) Saran
1. Melihat semakin meningkatnya jumlah kejahatan dan/atau pelanggaran di bidang lingkungan hidup, khususnya dalam perizinan setiap usaha dan/atau kegiatan harus betul-betul dilakukan pengawasan terhadap pejabat yang memberikan izin. Karena pemberian izin merupakan tonggak penegakan dalam pencengahan dan pengendalian lingkungan hidup sesuai dengan
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tetang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. Dalam penegakan perizinan lingkungan hidup dalam UUPPLH dan peraturan pelaksananya belum diatur secara lengkap mengenai dapat dipidananya pejabat yang memberin izin lingkungan. Sehinnga dalam pelaksanaannya sulit penegakan hukum lingkungan yang dicita-citakan dalam UUPPLH tersebut.
3. Pengambilan kebijakan oleh pejabat lingkungan hidup juga harus memperhatikan ketentuan yang diwajibkan dalam memberikan izin lingkungan maupun izin usaha. Sedangkan dalam penegakan hukum (pidana) harus memahami asas subsidaritas sehingga penegakan hukum dapat berjalan sesuai dengan asasnya.
4. Dalam hal pertanggungjawaban pidana dalam tindak pidana yang dilakukan Pejabat yang memberikan izin lingkungan dapat meninjau kembali pemberlakuan hukum pidana sebagai Ultimum remedium sebagaimana dalam pasal 100 ayat (2), maka ketentuan dalam pasal 111 UUPPLH dapat langsung diterapkan.
DAFTAR PUSTAKA A. BUKU-BUKU
Arifin, Syamsul. 2012. Hukum Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia.Jakarta: PT Softmedia.
Assiddiqie, Jimly. 2009. Green Constitution. Jakarta:PT Rajagrafindo Persada.
Djamin, Djanius. 2007. Pengawasan & Pelaksanaan Undang-undang Lingkungan Hidup suatu analisis.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hardjasoemantri, Koesnadi. 2005. Hukum Tata Lingkungan Edisi VIII.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Helmi. 2012. Hukum Perizinan Lingkungan Hidup. Jakarta: Sinar Grafika.
Rangkuti ,Siti Sundari. 2000. Hukum Lingkungan dan kebijaksanaan Lingkungan Nasional, Surabaya: Airlangga University Press.
Siahaan, N.H.T. 2004.Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan.Jakarta:
Erlangga.
Sulistia, Teguh dan Aria Zurnetti. 2012. Hukum Pidana: Horizon Baru Pasca Reformasi, Jakarta: Raja Wali Pers.
Supriadi.2006. Hukum Lingkungan di Indonesia Sebuah Pengantar.Jakarta:
Sinar Grafika.
Syahrin, Alvi. 2008. Beberapa Isu hukum Lingkunagan kepidanaan.Medan: PT Sofmedia.
Syahrin, Alvi. 2011. Ketentuan Pidana Dalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: PT Soft Media.
B. UNDANG-UNDANG
Republik Indonesia.Undang-Undang Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.UU Nomor 29 Tahun 2009.