• Tidak ada hasil yang ditemukan

AQLI Lembaga Penelitian dan Penulisan Ilmiah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AQLI Lembaga Penelitian dan Penulisan Ilmiah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN: 2597-4726

AQLI

Lembaga Penelitian dan Penulisan Ilmiah

Jurnal Riset Sains Manajemen

Volume 2, Nomor 1, 2018

Shafira Nabilla

Pengaruh citra merek dan minat beli terhadap loyalitas merek Hal. 31-38

DOI: 10.5281/zenodo.1322107

Informasi Artikel

Cara sitasi

Nabilla, S. (2018). Pengaruh citra merek dan minat beli terhadap loyalitas merek. Jurnal

Riset Sains Manajemen, 2(1), 31-38. Retrieved from

http://ejurnal.id/index.php/jsm/article/view/178 Atau,

Nabilla, S. (2018). Pengaruh citra merek dan minat beli terhadap loyalitas merek. Jurnal Riset Sains Manajemen, 2(1), 31-38. DOI: 10.5281/zenodo.1322107

Tautan permanen ke dokumen ini http://doi.org/10.5281/zenodo.1322107

brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk

provided by EJurnal.ID LPPI-AQLI

(2)

© LPPI AQLI Jurnal Riset Sains Manajemen

Vol. 2 No. 1 Hlm. 31-38

PENGARUH CITRA MEREK DAN MINAT BELI TERHADAP LOYALITAS MEREK

Shafira Nabilla

Program Studi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara E-mail: [email protected]

ABSTRACT

Purposes The purpose of this research is to analyze the influence of brand image on buying interest; the influence of the brand image on brand loyalty; the influence of buying interest on brand loyalty; and the influence of brand image and brand loyalty mediated by buying interest.

Methods The approach of this research pertained to quantitative approach, especially correlational approach. With data collection techniques non- probability sampling, especially accidental sampling. This research was conducted 30 respondent and using path analysis for analyzing data.

Findings The result of this research shows that brand image has a positive and significant effect on buying interest, while brand image has positive but not significant effect on brand loyalty, buying interest has a positive and significant effect on brand loyalty, while buying interest as intervening variable has an effect on brand image and brand loyalty.

Keywords Brand image, Buying interest, Brand loyalty.

PENDAHULUAN

Pada saat ini dalam dunia bisnis yang semakin ketat dan semakin berkembang membuat pelanggan mempunyai ekspektasi masing-masing terhadap hal yang diinginkan. Hal ini yang mendorong perusahaan untuk terus berinovasi dan mempertahankan pelanggan yang ada dengan sebaik mungkin. Pelanggan yang loyal tentu akan memberikan hubungan timbal balik yang baik terhadap perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan juga harus memperhatikan loyalitas merek agar pelanggan tidak beralih ke produk atau merek dari pesaing lain.

Loyalitas dapat diartikan sebagai suatu komitmen yang mendalam dari pelanggan sehingga ia melakukan pembelian ulang produk atau jasa yang menjadi preferensinya secara konsisten pada masa yang akan datang dan membeli ulang merek yang sama meskipun ada pengaruh dari berbagai situasi yang bermacam-macam dan usaha pemasaran yang dapat menimbulkan perilaku peralihan(Tjahjaningsih & Yuliani, 2009). Atau loyalitas merek dapat diartikan sebagai suatu ukuran keterkaitan pelanggan terhadap sebuah merek. Ukuran ini dapat memberikan berbagai gambaran mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke merek lain, terutama apabila produk tersebut mengalami perubahan dari beberapa aspek (Yunitasari & Yuniawan, 2006).

(3)

© LPPI AQLI Jurnal Riset Sains Manajemen

Vol. 2 No. 1 Hlm. 31-38

Loyalitas merek sangat penting bagi perusahaan karena dapat memberikan profitabilitas atau keuntungan bagi perusahaan (Tjahyadi, 2006). Dan juga loyalitas merek sangat penting untuk strategi pemasaran dalam suatu perusahaan karena keberadaan konsumen yang loyal pada merek sangat diperlukan agar perusahaan tersebut dapat berkembang dengan baik dan bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama (Tjahjaningsih & Yuliani, 2009).

Loyalitas merek dalam penelitian ini adalah mengukur loyalitas konsumen sebagai alat pertimbangan dalam memperkuat proses keputusan dalam pembelian Teh Botol Sosro.

Fakta-fakta di lapangan memperlihatkan bahwa permasalahan-permasalahan loyalitas merek untuk produk Teh Botol Sosro adalah mulai terbaginya pangsa pasar atau market share dari produk Teh Botol Sosro. Dikarenakan banyaknya pilihan merek teh minum kemasan sejenis di pasaran, dan juga rata-rata konsumen akan membeli produk lain yang sejenis apabila tidak terdapat produk Teh Botol Sosro di suatu tempat (hasil pengamatan, Desember 2017). Fakta-fakta di lapangan juga menunjukkan permasalahan-permasalahan loyalitas merek Teh Botol Sosro yaitu adanya penurunan persentase pangsa pasar atau market share Teh Botol Sosro sebesar 8,4% dalam kurun waktu empat tahun untuk kategori teh dalam kemasan siap minum (Rizan, Saidani, & Sari, 2012).

Loyalitas merek dapat mengukur tingkat kesetiaan pelanggan terhadap suatu merek. Tinggi atau rendahnya tingkat kesetiaan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jika dilihat dari penelitian-penelitian terdahulu, faktor-faktor loyalitas merek diantaranya adalah citra merek, kepercayaan terhadap merek (Rizan, Saidani, & Sari, 2012), iklan, kualitas yang dirasakan (perceived quality) dan minat beli (Kurniawan, 2012). Namun demikian, di dalam penelitian ini diantara sekian banyak faktor tersebut di atas, hanya 2 faktor saja yang saya pilih untuk dikaji dalam penelitian ini yaitu citra merek dan minat beli.

Alasan-alasan di atas menjadi dasar bagi penulis untuk mengkaji loyalitas merek yang dipengaruhi oleh faktor citra merek dan minat beli. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: pengaruh citra merek terhadap loyalitas merek; pengaruh citra merek terhadap minat beli; pengaruh minat beli terhadap loyalitas merek; dan pengaruh citra merek terhadap loyalitas merek melalui minat beli.

KAJIAN LITERATUR

Loyalitas merek adalah suatu kondisi dimana pelanggan memiliki sikap yang positif terhadap suatu merek, dengan memiliki komitmen terhadap merek tersebut dan cenderung untuk melakukan pembelian ulang dimasa yang akan datang (Rizan, Saidani, &

Sari, 2012). Loyalitas merek dapat juga diartikan sebagai ukuran yang mampu memberikan gambaran tentang mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke merek produk lain, terutama jika pada mere tersebut didapati adanya perubahan seperti harga ataupun atribut merek lainnya (Marthin & Samuel, 2007). Loyalitas Merek diukur dari indikator- indikator yaitu kebiasaan (behavior) dan komitmen pembeli (commitment) (Rizan, Saidani,

& Sari, 2012). Indikator lain dari loyalitas merek adalah struktur keyakinan seorang pelanggan terhadap merek (kognitif), tingkat kesukaan konsumen pada suatu merek

(4)

© LPPI AQLI Jurnal Riset Sains Manajemen

Vol. 2 No. 1 Hlm. 31-38

daripada merek pesaing (efektif), dan niat seorang pelanggan untuk membeli merek tersebut dibanding merek pesaing (kognitif) (Utami, 2009).

Loyalitas merek dipengaruhi oleh banyak faktor. Dalam penelitian-penelitian terdahulu, terlihat bahwa yang menjadi faktor loyalitas merek antara lain asosiasi merek, citra merek, ekuitas merek (Severi & Ling, 2013). Faktor lain dari loyalitas merek adalah iklan, penerimaan kualitas (perceived quality) dan minat beli (Kurniawan, 2012). Namun demikian, di dalam penelitian ini hanya dua faktor loyalitas merek yang dikaji, yakni citra merek dan minat beli.

Pertama, minat beli. Minat beli adalah suatu persepsi seorang pelanggan yang diperoleh dari proses belajar dan proses pemikiran yang menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benak pelanggan tersebut dan menjadi suatu keinginan untuk mengaktualisasi keinginannya tesebut (Arista & Triastuti, 2011). Minat beli juga dapat diartikan sebagai suatu tahap kecenderungan konsumen untuk bertindak sebelum membuat sebuah keputusan membeli benar-benar akan dilaksanakan(Saidani & Arifin, 2012). Minat beli dapat diukur dari indikator-indikator yaitu keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas, keputusan waktu, dan keputusan metode pembayaran (Arista & Triastuti, 2011). Indikator lain dari minat beli adalah minat transaksional, minat referensial, minat preferensial dan minat eksploratif (William & Japarianto, 2014).

Penelitian-penelitian terdahulu banyak mengkaji bagaimana kaitan antara loyalitas merek dengan minat beli. Dari kesimpulan penelitian merek terlihat bahwa minat beli

“berpengaruh” terhadap loyalitas merek (Kurniawan, 2012; Hadi & Sumarto, 2010).

Dengan demikian, penulis berasumsi bahwa minat beli berpengaruh terhadap loyalitas merek.

Kedua, citra merek. Citra merek adalah kumpulan dari kesan yang ada di dalam benak seorang konsumen mengenai suatu merek yang berasal dari ingatan-ingatan konsumen terhadap merek tersebut (Rizan, Saidani, & Sari, 2012). Citra merek dapat juga diartikan sebagai suatu kondisi yang dimiliki oleh produk yang apabila ditinjau dari segi sosial dan psikologi dimana konsumen tersebut memiliki perasaaan dan gagasan tentang merek yang bersifat krusial terhadap konsumen dalam menentukan pilihannya (Sondakh, 2014). Citra merek diukur dari indikator-indikator yaitu merek, kemasan, kualitas (Wijaya, 2013).

Indikator lain dari citra merek adalah merek tersebut merupakan merek terkenal, merek tersebut merupakan merek yang bergengsi, merek tersebut mudah diingat dalam pikiran konsumen, dan merek tersebut memiliki reputasi yang baik dimata konsumen (Bowo, Hoyyi, & Mukid, 2013). Penelitian-penelitian terdahulu banyak mengkaji bagaimana kaitan antara citra merek dengan loyalitas merek. Dari kesimpulan penelitian mereka terlihat bahwa citra merek “berpengaruh” terhadap loyalitas merek (Kurniawan, 2012; William &

Japarianto, 2014). Dengan demikian, penulis berasumsi bahwa citra merek berpengaruh terhadap loyalitas merek.

Penelitian-penelitian terdahulu juga banyak mengkaji bagaimana kaitan antara citra merek dengan minat beli. Dari kesimpulan penelitian mereka terlihat bahwa citra merek

“berpengaruh” terhadap minat beli (Prawira & Yasa, 2012). Tetapi, dalam penelitian lain terlihat bahwa citra merek “tidak berpengaruh” terhadap minat beli (Arista & Triastuti,

(5)

© LPPI AQLI Jurnal Riset Sains Manajemen

Vol. 2 No. 1 Hlm. 31-38

2011). Dengan demikian, penulis berasumsi bahwa citra merek berpengaruh terhadap minat beli.

Gambar 1. Kerangka berpikir penelitian

Berdasarkan kajian-kajian literatur yang telah dibahas di atas, maka terlihat bahwa: citra merek berpengaruh terhadap minat beli; citra merek juga berpengaruh terhadap loyalitas merek; selain itu minat beli juga berpengaruh terhadap loyalitas merek. Dengan demikian, pengaruh citra merek terhadap loyalitas merek “dimediasi” atau “diantarai” oleh minat beli. Hubungan-hubungan tersebut dirangkum dalam gambar 1.

METODE PENELITIAN

Pendekatan penelitian ini tergolong kepada pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2016). Dan menggunakan metode korelasional yaitu metode yang digunakan untuk melihat hubungan antar variabel-variabel (Juliandi, Irfan, & Manurung, 2014).

Untuk mengukur variabel-variabel di dalam penelitian ini digunakan ukuran / indikator sebagai berikut. Pertama, citra merek, indikatornya adalah merek, kemasan, kualitas (Wijaya, 2013), terkenal, bergengsi, mudah diingat, dan merek reputasi baik (Bowo, Hoyyi,

& Mukid, 2013). Kedua, minat beli, indikatornya adalah keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas, keputusan waktu, dan keputusan metode pembayaran (Arista & Triastuti, 2011), minat transaksional, minat referensial, minat preferensial dan minat eksploratif (William & Japarianto, 2014). Ketiga, loyalitas merek, indikatornya adalah kebiasaan, komitmen pembeli (Rizan, Saidani, & Sari, 2012), keyakinan pelanggan, tingkat kesukaan, dan niat membeli (Utami, 2009).

Sampel penelitian ini adalah sebanyak 30 orang responden yang berasal dari konsumen Teh Botol Sosro di Medan. Teknik pengambilan sampel adalah non-probability sampling.

Salah satu teknik non-probability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling, yakni teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan pada saat seorang peneliti bertemu dengan seseorang yang cocok sebagai sampel penelitian atau narasumber (Sugiyono, 2016). Teknik pengumpulan data di dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, terdiri dari 12 butir pertanyaan (citra merek); 9 butir pertanyaan

Citra Merek

Loyalitas Merek Minat

Beli

(6)

© LPPI AQLI Jurnal Riset Sains Manajemen

Vol. 2 No. 1 Hlm. 31-38

(minat beli); dan 7 butir pertanyaan (loyalitas merek). Skala kuesioner tersebut menggunakan skala bertingkat (rating scale).

Teknik analisis data di dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur (path analysis).

Analisis jalur bertujuan untuk menganalisis regresi ganda secara bertahap apakah variabel- variabel tersebut berhubungan antar satu sama lain atau tidak. Persamaan modelnya adalah: X2=p1X1+1 (persamaan pertama); dan Y=p2X1+p3X2+2 (persamaan kedua). Dimana, X1 (citra merek); X2 (minat beli); Y (loyalitas merek); p1,p2(koefisien jalur); 1,2 (variabel residual/error).

HASIL DAN DISKUSI Hasil

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur yang bertujuan untuk menguji pengaruh variabel-variabel di dalam penelitian ini, yakni: pengaruh langsung X1 (citra merek) terhadap X2 (minat beli); pengaruh langsung X1 (citra merek) terhadap Y (loyalitas merek); pengaruh langsung X2 (minat beli) terhadap Y (loyalitas merek); dan pengaruh tidak langsung X1 (citra merek) terhadap Y (loyalitas merek) melalui X2 (minat beli). Gambar 1 memperlihatkan nilai-nilai yang akan digunakan untuk menguji hipotesis pengaruh langsung dari persamaan jalur model pertama(X2=p1X1+1).

Gambar 1. Rangkuman nilai-nilai koefisien pengaruh langsung

Berdasarkan nilai yang ada di dalam Gambar 1, maka diperoleh nilai persamaan untuk model pertama (Y=0,722+1) dan persamaan untuk model kedua (Y=0,205X1+0,773X2+2).

Dengan demikian, maka kesimpulan yang diperoleh untuk pengujian hipotesis pengaruh langsung adalah sebagai berikut: (1) Pengaruh langsung X1 (citra merek) terhadap X2 (minat beli) adalah positif dan signifikan; (2) Pengaruh langsung X1 (citra merek) terhadap Y (loyalitas merek) adalah positif, tetapi tidak signifikan; dan (3) Pengaruh langsung X2 (minat beli) terhadap Y (loyalitas merek) adalah positif dan signifikan.

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian hipotesis untuk pengaruh tidak langsung.

Nilai koefisien pengaruh langsung X1 (citra merek) terhadap Y (loyalitas merek) yakni p2

(0,205), sedangkan nilai koefisien pengaruh tidak langsung X1 (citra merek) terhadap Y (loyalitas merek) melalui X2 (minat beli) adalah p1 X p3 yakni0,722 x 0,773 atau sebesar

X1 Y

X2

p1=0,722 Sig=0,000

p2=0,205 Sig=0,053

p3=0,773 Sig=0,000

1 2

(7)

© LPPI AQLI Jurnal Riset Sains Manajemen

Vol. 2 No. 1 Hlm. 31-38

0,5581. Dengan demikian pengaruh tidak langsung (0,5581) > pengaruh langsung (0,205), sehingga kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa pengaruh X1 (citra merek) terhadap Y (loyalitas merek) dimediasi (diantarai) oleh X2 (minat beli), dengan kata lain minat beli berperan sebagai variabel intervening.

Diskusi

Empat temuan yang perlu didiskusikan dibagian ini, antara lain: pengaruh citra merek terhadap minat beli; pengaruh citra merek terhadap loyalitas merek; pengaruh minat beli terhadap loyalitas merek; dan pengaruh citra merek terhadap loyalitas merek yang dimediasi atau dilalui oleh minat beli.

Pertama, pengaruh citra merek terhadap minat beli. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan kali ini menunjukkan bahwa bagaimana citra merek dapat berperan dalam mempengaruhi minat beli. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara variabel citra merek dengan variabel minat beli Teh Botol Sosro. Hal tersebut berarti bahwa citra merek membawa pesan positif tentang merek yang akan di beli oleh pelanggan. Relevan dengan hal tersebut, hasil penelitian ini terlihat sejalan dengan beberapa teori dan penelitian sebelumnya seperti yang telah dikaji dalam kajian pustaka, antara lain bahwa citra merek berpengaruh terhadap minat beli (Prawira & Yasa, 2012; Wijaya, 2013). Beberapa bukti yang menunjukkan bahwa citra merek berpengaruh terhadap minat beli para pelanggan Teh Botol Sosro adalah baik ini terlihat pada jawaban responden yang mayoritas menyatakan setuju, terutama untuk hal-hal berikut ini: merek Teh Botol Sosro cukup terkenal, kemasan, logo, iklan yang menarik, dan juga harga yang terjangkau serta kualitas, mutu produk yang terjaga dengan baik dan juga rasa Teh Botol Sosro lebih enak dibanding produk pesaing. Melihat jawaban dari responden tersebut, maka wajarlah jika citra merek berpengaruh signifikan terhadap minat beli.

Kedua, pengaruh citra merek terhadap loyalitas merek. Dari hasil pengujian hipotesis yang dilakukan menunjukkan pengaruh positif namun tidak signifikan antara variabel citra merek terhadap loyalitas merek. Hasil yang positif tersebut menunjukkan bahwa dengan citra merek berarti bisa meningkatkan loyalitas merek. Namun hasil yang tidak signifikan seperti itu berarti bahwa citra merek tidak terlalu mempunyai pengaruh besar dalam menciptakan loyalitas merek. Dengan kata lain, citra merek penting dalam meningkatkan loyalitas merek, tetapi tidak terlalu berpengaruh. Dengan demikian, hasil penelitian ini terlihat tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya, yang menyatakan bahwa citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas merek (Kurniawan, 2012; William & Japarianto, 2014). Hasil penelitian ini dapat terlihat jelas pada jawaban responden yang menyatakan bahwa mayoritas responden kurang setuju akan tetap membeli Teh Botol Sosro dibanding merek lain, akan tetap membeli Teh Botol Sosro apabila harganya mahal. Tetapi ada juga jawaban responden yang menyatakan bahwa seandainya produk teh botol susah ditemukan di pasar maka tidak akan membeli produk lain sejenis dan juga merek Teh Botol Sosro adalah produk jenis teh dalam kemasan yang paling terkenal pada saat ini.

(8)

© LPPI AQLI Jurnal Riset Sains Manajemen

Vol. 2 No. 1 Hlm. 31-38

Ketiga, pengaruh minat beli terhadap loyalitas merek. Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara variabel minat beli terhadap loyalitas merek. Ini artinya minat beli yang ada dalam benak konsumen dibutuhkan untuk meningkatkan loyalitas merek yang tinggi. Oleh karena itu, kesimpulan tersebut relevan dengan kajian atau penelitian yang menyatakan bahwa minat beli berpengaruh terhadap loyalitas merek (Kurniawan, 2012; Hadi & Sumarto, 2010).

Keempat, pengaruh citra merek terhadap loyalitas merek yang dimediasi oleh minat beli.

Hasil penelitian dalam sub-judul sebelumnya memperlihatkan bahwa minat beli merupakan variabel intervening (mediator) yang mengantarai hubungan citra merek dengan loyalitas merek. Ini berarti bahwa citra merek yang tepat akan meningkatkan loyalitas merek. Namun sebelum terbentuk loyalitas merek yang tinggi diperlukan minat beli yang tinggi pula. Temuan dalam penelitian ini seperti dijelaskan diatas sesuai dengan fakta dilapangan yaitu citra merek sangat penting dalam meningkatkan loyalitas merek, tetapi sebelum terbentuk loyalitas merek yang tinggi pada Teh Botol Sosro dibutuhkan minat beli yang tinggi oleh para pelanggan Teh Botol Sosro.

PENUTUP

Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Pengaruh langsung citra merek terhadap minat beli adalah positif dan signifikan; (2) Pengaruh langsung citra merek terhadap loyalitas merek adalah positif tetapi tidak signifikan; (3) Pengaruh langsung minat beli terhadap loyalitas merek adalah positif dan signifikan; dan (4) Pengaruh tidak langsung citra merek terhadap loyalitas merek dimediasi oleh minat beli. Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran-saran penulis adalah sebagai berikut: Bagi perusahaan sebaiknya harus selalu berusaha untuk terus mempertahankan atau bahkan memperbaiki citra mereknya, agar mendatangnya minat beli yang tinggi terhadap produknya. Bagi perusahaan juga perlu meningkatkan citra mereknya agar dapat meningkatkan loyalitas merek. Perusahaan perlu meningkatkan minat beli produknya agar terciptanya loyalitas merek yang tinggi pula. Penelitian ini memiliki kekurangan dalam hal jumlah sampel yang hanya berjumlah 30 orang. Jumlah tersebut belum memadai untuk penggunaan analisis jalur yang sampelnya harus berjumlah besar (minimal 100 sampel). Untuk itu penulis berharap agar para peneliti berikutnya yang bermaksud meneliti variabel maupun objek yang sama harus memperbesar jumlah sampel penelitiannya.

REFERENSI

Arista, E. D., & Triastuti, S. R. (2011). Analisis Pengaruh Iklan, Kepercayaan Merek, dan Citra Merek Terhadap Minat Beli Konsumen. Aset , 13 (1), 37-45.

Bowo, K. A., Hoyyi, A., & Mukid, M. A. (2013). Analisis Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian dan Kepuasan Konsumen Pada Notebook Merek Acer. Jurnal Gaussian , 2 (1), 29-38.

Hadi, P., & Sumarto. (2010). Pentingnya Brand Loyalty Terhadap Minat Beli Ulang. Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis , 10 (1), 9-18.

(9)

© LPPI AQLI Jurnal Riset Sains Manajemen

Vol. 2 No. 1 Hlm. 31-38

Juliandi, A., Irfan, & Manurung, S. (2014). Metode penelitian bisnis: Konsep dan aplikasi.

Medan: UMSU Press.

Kurniawan, S. D. (2012). Analisis Pengaruh Brand Loyalty, Brand Image, Iklan dan Perceived Quality Terhadap Minat Beli Konsumen XL Prabayar di Kota Surabaya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen , 1 (1), 1-5.

Marthin, J., & Samuel, H. (2007). Analisis Tingkat Brand Loyalty Pada Produk Shampoo Merek "Head & Shoulder". Jurnal Manajemen Pemasaran , 2 (2), 90-102.

Prawira, B., & Yasa, N. N. (2012). Pengaruh Kualitas Produk, Citra Merek dan Persepsi Harga Terhadap Minat Beli Produk Smartphone Samsung di Kota Denpasar. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana , 3 (12), 3642-3658.

Rizan, M., Saidani, B., & Sari, Y. (2012). Pengaruh Brand Image dan Brand Trust Terhadap Brand Loyalty teh Botol Sosro. Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) , 3 (1), 1-17.

Saidani, B., & Arifin, S. (2012). Pengaruh Kualitas Produk dan Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Konsumen dan Minat Beli pada Ranch Market. Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia , 3 (1), 1-22.

Severi, E., & Ling, K. C. (2013). The Mediating Effects Of Brand Assosiation, Brand Loyalty, Brand Image and Perceived Quality On Brand Equity. Asian Social Science , 9 (3), 125.

Sondakh, C. (2014). Kualitas Layanan, Citra Merek dan Pengaruhnya Terhadap Kepuasan Nasabah dan Loyalitas Nasabah Tabungan. Jurnal Riset Bisnis dan Manajemen , 3 (1), 19-32.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (New ed.). Bandung:

CV. Alfabeta.

Tjahjaningsih, E., & Yuliani, M. (2009). Analisis Kualitas Produk dan Citra Merek dalam Mempengaruhi Keputusan Pembelian dan Dampaknya Terhadap Loyalitas Merek HP Nokia. TEMA , 16 (2), 104-118.

Tjahyadi, R. A. (2006). Brand Trust Dalam Konteks Loyalitas Merek: Peran Karakteristik Merek, Karakteristik Perusahaan dan Karakteristik Hubungan Pelanggan-Merek.

Jurnal Manajemen , 6 (1), 65-78.

Utami, M. M. (2009). Anteseden Experiental Marketing dan Konsekuensinya pada Customers Brand Loyalty Motor Yamaha Di Kota Semarang. Tesis , 1-248.

Wijaya, M. H. (2013). Promosi, Citra Merek, dan Saluran Distribusi Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Jasa Terminix di Kota Manado. Jurnal EMBA , 1 (4), 105-114.

William, C., & Japarianto, E. (2014). Analisis Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Beli Konsumen Ice Cream di De Bolivia Surabaya. Jurnal Hospitality dan Manajemen Jasa , 2 (2), 1-15.

Yunitasari, H., & Yuniawan, A. (2006). Analisis Pengaruh Kesadaran Merek, Persepsi Kualitas dan Loyalitas Merek Terhadap Nilai Pelanggan Mobil Merek Toyota. Jurnal Studi Manajemen dan Organisasi , 3 (2), 15-28.

Gambar

Gambar 1. Rangkuman nilai-nilai koefisien pengaruh langsung

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini menunjukkan naik atau turunnya rasio keuangan (current ratio, debt to asset ratio, total asset turnover dan net profit margin) akan mempengaruhi posisi laba hal

Semakin besar dana pihak ketiga yang dapat dihimpun oleh bank syariah maka semakin besar pula jumlah pembiayaan yang dapat disalurkan kepada para nasabah yang membutuhkan,

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian mengenai pengaruh perputaran

Secara umum, hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel pemberian mata kuliah kewirausahaan (X1) dan Pelatihan usaha kreatif (X2) berpengaruh positif

Artinya gaya hidup dan literasi keuangan memiliki proporsi pengaruh terhadap perilaku konsumtif mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulannya sebagai berikut : (1) Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (action research) untuk menelaah prestasi belajar mahasiswa dalam mata kuliah akuntansi perbankan

Sementara itu, nilai koefisien regresi pengaruh langsung komunikasi terhadap kualitas kerja adalah β3 = 0,656 dan nilai sig 0,001 < α 0,05, dengan demikian pengaruh