• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Definisi Komunikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Definisi Komunikasi"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENDAHULUAN

Tenaga kerja merupakan salah satu komponen penting dalam menjalankan segala aktivitas perusahaan, karena tenaga kerja dapat menentukan kemajuan, kemunduran, atau bahkan perubahan dalam suatu perusahaan. Dalam menghadapi tantangan dan mewujudkan tujuan, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas, andal, dan kompeten. Guna menciptakan tenaga kerja dengan kriteria tersebut perlu kerjasama yang positif antara perusahaan dengan tenaga kerja di dalamnya. Untuk menciptakan suatu kerjasama yang positif perlu adanya komunikasi yang efektif antara atasan dan bawahan yang ada dalam suatu perusahaan. Komunikasi yang baik akan mewujudkan sikap saling pengertian antara atasan dan bawahan ketika bekerja sehingga dapat berdampak pada seluruh aktivitas perusahaan, namun masalah efektivitas komunikasi sering diabaikan oleh perusahaan sehingga sering timbul kesalahpahaman komunikasi antara atasan dan bawahan yang dapat merugikan perusahaan. Menurut Robbins dan Judge (2013) efektivitas komunikasi dapat mendukung proses terbentuknya dorongan positif dengan mendeskripsikan kepada karyawan mengenai apa yang harus dikerjakan, bagaimana kinerja mereka, serta bagaimana meningkatkan kinerja atau membenahi kinerja yang dibawah standar. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dimengerti bahwa kinerja atau prestasi kerja karyawan dalam suatu perusahaan dapat meningkat seiring dengan terwujudnya efektivitas komunikasi dalam suatu perusahaan.

Davis dan Newstrom (2004) mengemukakan jika suatu perusahaan tidak dapat mewujudkan efektivitas komunikasi maka karyawan sulit memahami apa yang harus dilakukan untuk pekerjaan mereka, atasan tidak dapat menerima saran dari bawahan serta atasan tidak dapat memberikan instruksi kepada bawahan, sehingga dapat berdampak pada kinerja karyawan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tambingon, Tewal, dan Tumade (2014) ditemukan bahwa efektivitas komunikasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT Pegadaian (persero) Manado. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Londa, Senduk, dan Boham (2014) dibuktikan bahwa Sparkle Event Organizer Manado meningkatkan efektivitas komunikasi antara pimpinan dan anggota tim kerja dengan cara mewujudkan pemahaman yang sama diantara pimpinan dan anggota tim yang disertai keterbukaan, kerjasama serta tanggung jawab.

Menurut Mahmudi (2005) efektivitas yaitu hubungan antara output yang telah dihasilkan dengan tujuan yang telah ditetapkan, semakin besar kontribusi output terhadap pencapaian tujuan, maka dapat dikatakan semakin efektif organisasi dalam progam atau kegiatan. Sedangkan menurut Agung (2005) suatu kemampuan untuk melaksanakan tugas

(2)

2

atau pekerjaan serta fungsi dalam suatu organisasi tanpa ada tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaanya disebut dengan efektivitas. Dapat dipahami bahwa salah satu fungsi dalam organisasi adalah komunikasi, sehingga efektivitas dapat berkaitan dengan komunikasi yang dilakukan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Himstreet dan Baty (1990) mendifinisikan komunikasi sebagai suatu mekanisme pertukaran ide atau gagasan antar individu atau kelompok dalam suatu organisasi, melalui tanda maupun perbuatan. Sedangkan menurut Gibson, et all (2012) “Komunikasi merupakan suatu mekanisme pengalihan atau pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan dari individu kepada individu lain atau dari individu kepada kelompok. Sehingga dapat dipahami bahwa komunikasi merupakan salah satu faktor penting yang berkaitan dengan segala aspek perusahaan, salah satunya adalah kinerja karyawan.

Dari pembahasan di atas dapat dimengerti bahwa dalam menjalankan aktivitas perusahaan sangat diperlukan komunikasi yang efektif antara atasan dan bawahan mengenai instruksi, informasi, pengarahan, dan evaluasi dari pihak perusahaan. Bawahan atau karyawan juga berhak untuk menyampaikan saran, kesulitan, atau ketidakjelasan mengenai pekerjaan mereka, dengan demikian bawahan atau karyawan dapat memahami apa yang harus mereka lakukan guna memperbaiki atau meningkatkan kinerja mereka selain itu mereka juga akan lebih mengerti serta memahami apa yang sebaiknya di kerjakan dan bagaimana cara mengerjakanya sesuai prosedur atau tolok ukur yang telah ditentukan oleh perusahaan.

Penelitian sebelumnya telah banyak yang mengkaji hubungan variabel komunikasi dengan variabel-variabel lain. Takasenseran, Mandey, dan Kojo (2014) menemukan bahwa komunikasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara. Sarbin (2014) juga menemukan bahwa komunikasi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Klaten. Sedangkan penelitian yang dilakukan Cahyanto dan Utama (2016) menemukan bahwa komunikasi organisasi pada PT. Cakra Tranport Utama Jimbaran, Bali berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. Paripurna (2013) juga menemukan bahwa komunikasi secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kepuasan kerja karyawan Suriwathi Beach Hotel Kuta Bali. Selain itu Indrajaya dan Adnyani (2014) menemukan bahwa komunikasi berpengaruh signifikan terhadap produktivitas karyawan pada CV. Hitakara Denpasar.

(3)

3

Sudah banyak penelitian terdahulu yang mengkaji hubungan variabel komunikasi dengan beberapa variabel lain dalam organisasi atau perusahaan seperti kinerja, kepuasan kerja serta produktivitas kerja, oleh karena itu peneliti lebih tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas komunikasi yang terjadi dalam proses komunikasi dari atasan ke bawahan (downward communication) serta dari bawahan ke atasan (upward communication). Penelitian ini akan dilakukan pada perusahaan swasta yang berkiprah di bidang karoseri yaitu CV. Laksana Semarang bagian produksi. Penelitian ini akan fokus pada komunikasi secara lisan antara atasan dan bawahan (vertikal), karena peneliti berpendapat bahwa komunikasi antara atasan dan bawahan lebih menentukan dalam hal kinerja, produktivitas maupun kepuasan kerja, selain itu juga tidak mudah dalam menjalin komunikasi secara lisan antara atasan dan bawahan dalam suatu perusahaan. Pengamatan awal pada CV. Laksana Karoseri Semarang terdapat fenomena kurangnya komunikasi antara atasan dan bawahan pada bagian produksi. Hal ini diduga terjadi karena Supervisor dan Foreman kurang jelas dalam memberikan instruksi atau perintah mengenai apa yang seharusnya dikerjakan karyawan dan apa saja yang seharusnya dilaksanakan karyawan untuk menuntaskan suatu pekerjaan. Hal tersebut menyababkan munculnya ketidakyakinan dalam diri karyawan mengenai apakah aktivitas yang mereka lakukan sudah sesuai dengan prosedur dan kriteria yang telah ditentukan perusahaan.

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan maka dapat ditarik rumusan masalah Seberapa efektif komunikasi dari atasan ke bawahan pada bagian finishing CV.

Laksana Karoseri Semarang? serta Seberapa efektif komunikasi dari bawahan ke atasan pada bagian finishing CV. Laksana Karoseri Semarang? Sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu guna memperoleh gambaran mengenai efektivitas kegiatan komunikasi yang terjadi antara atasan dan bawahan pada bagian finishing CV. Laksana Karoseri Semarang. Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu penelitian diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan wawasan, serta dapat dijadikan referensi bagi pembaca sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk mempermudah dalam melaksanakan penelitian berikutnya. Selain itu penelitian diharapkan dapat menyumbangkan informasi kepada perusahaan maupun karyawan mengenai pentingnya efektivitas komunikasi dalam menjalankan segala aktivitas perusahaan.

(4)

4 TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Komunikasi

Komunikasi merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin communicatio, serta berasal dari kata communis yang artinya sama atau lebih jelasnya sama makna (Effendy 2003). Menurut Robbins dan Coulter (2007) komunikasi merupakan penyampaian disertai dengan pemahaman terhadap suatu maksud. Sedangkan menurut Rivai (2004) komunikasi merupakan suatu mekanisme pengiriman ide atau gagasan kepada pihak penerima. Jika pihak penerima tidak memahami informasi yang diberikan oleh pihak pengirim, maka dapat dikatakan bahwa komunikasi yang dilakukan tidak berjalan secara efektif. Menurut Widjaja (2000) komunikasi akan berlangsung dengan baik jika antara pihak pengirim dan pihak penerima dalam komunikasi terwujud keselarasan mengenai ide atau informasi yang akan dikomunikasikan. Dari beberapa teori diatas dapat dimengerti bahwa komunikasi merupakan proses pertukaran informasi, ide, atau gagasan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok guna memperbaiki perilaku atau memengaruhi pihak lain sesuai tujuan yang diinginkan.

Menurut Rahmat (2000) komunikasi yang efektif harus menimbulkan pengertian, kesenangan, merubah sikap, hubungan sosial, serta tindakan. Pengertian, yaitu pemahaman dan penerimaan yang cermat terhadap isi pesan seperti yang diharapkan oleh pengirim pesan. Kesenangan, bahwa dengan melakukan komunikasi akan mewujudkan kesenangan dan kepuasan tersendiri bagi pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi. Merubah sikap, bahwa komunikasi dapat memperbaiki sikap atau perilaku orang-orang yang berkomunikasi sesuai dengan ide atau gagasan yang disampaikan dalam suatu pesan.

Hubungan sosial, komunikasi memiliki tujuan untuk menciptakan hubungan sosial yang positif. Tindakan, merupakan hasil akhir dari mekanisme komunikasi yang efektif dengan menimbulkan tindakan nyata dan positif. Dari beberapa penjelasan diatas dapat dimengerti bahwa komunikasi merupakan proses pertukaran informasi, ide, atau gagasan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok guna memperbaiki perilaku atau memengaruhi pihak lain sesuai tujuan yang diinginkan.

(5)

5 Proses Komunikasi

Bovee dan Thill (1998) menjelaskan proses komunikasi terdiri dari enam tahapan yaitu:

Sumber: Bovee dan Thill (1998)

Gambar 1. Tahapan Proses Komunikasi

Pada tahap pertama dijelaskan bahwa sebelum pesan disampaikan kepada pihak penerima, pengirim harus memiliki gagasan untuk disampaikan kepada pihak penerima pesan. gagasan yang akan diungkapkan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan penerima pesan, pengirim harus bisa menyeleksi perihal yang tidak penting dan fokus pada perihal yang lebih penting atau memang perlu untuk disampaikan. Kemudian pada tahap kedua pengirim merombak ide menjadi gagasan, namun tidak semua gagasan dapat dipahami dengan baik oleh penerima pesan. Supaya gagasan dapat dipahami dengan baik, pengirim pesan harus memperhatikan topik yang akan disampaikan, tujuan, siapa audiensnya, dan latar belakang budaya. Selanjutnya pada tahap ketiga pengirim menyampaikan pesan kepada pihak

Tahap 1 Pengirim memiliki

gagasan

Tahap 2 Pengirim merombak

ide menjadi pesan

Tahap 3 Pengirim menyampaikan pesan

Tahap 4 Penerima menerima

pesan Tahap 5

Penerima menafsirkan pesan

Tahap 6

Penerima memberikan tanggapan, umpan balik

ukumpanfeedback

Saluran dan Media

(6)

6

penerima melalui berbagai saluran yang tersedia. Saluran komunikasi yang digunakan akan berdampak pada efektivitas pesan yang disampaikan.

Setelah itu pada tahap keempat penerima mulai menerima pesan, komunikasi antara individu dengan kelompok akan terjadi apabila pihak pengirim menyampaikan suatu pesan kemudian pihak penerima menerima pesan tersebut. Sedangkan pada tahap kelima penerima akan menafsirkan pesan, dalam hal ini pesan yang disampaikan oleh pengirim sebaiknya tidak ambigu sehingga pihak penerima lebih mudah dalam memahaminya. Apabila pihak penerima telah memahami isi pesan seperti yang dimaksud oleh pihak pengirim maka dapat dikatakan bahwa pesan tersebut dapat ditafsirkan dengan tepat. Kemudian pada tahap keenam penerima pesan akan memberikan tanggapan dan umpan balik (feedback) kepada pihak pengirim. Feedback tersebut merupakan respon dari pihak penerima pesan yang memungkinkan pihak pengirim untuk menilai efektivitas pesan yang telah disampaikan.

Efektivitas Komunikasi

Efektivitas yaitu hubungan antara output yang telah dihasilkan dengan tujuan yang telah ditetapkan, semakin besar kontribusi output terhadap pencapaian tujuan, maka dapat dikatakan semakin efektif organisasi dalam progam atau kegiatan (Mahmudi 2005). Menurut Agung (2005) suatu kemampuan untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan serta fungsi dalam suatu organisasi tanpa ada tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaanya disebut dengan efektivitas. Sedangkan Afriyadi (2015) menjelaskan bahwa efektivitas merupakan suatu pengukuran dimana ketika suatu organisasi atau perusahaan dapat memenuhi sasaran sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Menurut Steers (2005) efektivitas harus dinilai atas dasar tujuan yang bisa dilaksanakan, bukan atas dasar konsep tujuan yang maksimum.

Menurut Kuswarno (2001) hal penting pada efektivitas komunikasi dalam suatu perusahaan yaitu bagaimana membuat makna menjadi sama diantara pemberi informasi dan penerima informasi. Efektivitas komunikasi terjadi apabila maksud pengirim informasi dapat dipahami dan dimaknai dengan baik oleh penerima informasi. Robbins (2001) menjelaskan komunikasi akan menjadi efektif apabila memiliki beberapa kriteria yaitu keterbukaan, empati, dukungan verbal/nonverbal, kepositifan, serta kesamaan. Keterbukaan, merupakan sikap terbuka dan jujur ketika melakukan interaksi dengan pihak lain, dengan tujuan supaya seseorang lebih terbuka dalam menyerap atau menyampaikan informasi. Dalam keterbukaan terdapat dua aspek penting, pertama harapan untuk terbuka bagi setiap orang yang

(7)

7

berinteraksi dengan orang lain, keinginan untuk terbuka dimaksudkan supaya setiap orang tidak tertutup dalam menerima atau menyampaikan informasi. Kemudian aspek kedua yaitu harapan untuk menanggapi dengan jujur semua hal yang ada dalam isi pesan.

Empati, perihal komunikasi yang sulit diwujudkan salah satunya adalah kesadaran untuk melakukan empati. Empati merupakan sikap memahami dan menghayati apa yang dirasakan orang lain. Dukungan verbal dan nonverbal, dukungan yang tidak diungkapkan dengan kata-kata dapat menjadi aspek positif dari komunikasi. Misalnya anggukan kepala, senyum yang tulus, atau tepukan tangan merupakan dukungan positif yang tak terucapkan.

Kepositifan, aspek dalam kepositifan komunikasi yaitu adanya perhatian yang positif terhadap pihak lain dalam komunikasi, perasaan yang positif kepada pihak lain serta perasaan positif dalam situasi komunikasi dapat mengefektifkan kerja sama. Kesamaan, komunikasi akan lebih efektif apabila pihak-pihak yang melakukan komunikasi memiliki kesamaan dalam beberapa hal sehingga dapat mewujudkan kedudukan yang sama antara pembicara dan pendengar dari segi pengalaman, pengetahuan dan lain-lain. Hendaknya ada usaha untuk mecapai kesamaan antara pembicara dan pendengar, memang terdapat kedudukan bahwa seseorang sebagai pembicara dan pihak lain sebagai pendengar, namun tidak berarti seorang pembicara harus mendominasi semua waktu yang ada.

Dapat dipahami apabila suatu proses komunikasi dapat berjalan secara efektif maka proses komunikasi tersebut dapat berdampak positif bagi masing-masing pihak yang melakukan komunikasi. Untuk mewujudkan komunikasi yang efektif masing-masing pihak yang melakukan komunikasi harus terbuka dalam menyampaikan setiap informasi yang diperlukan, selain itu masing-masing pihak harus mampu mewujudkan kesamaan kedudukan dalam proses komunikasi dengan memahami apa yang diinginkan lawan komunikasi disertai dengan respon atau tanggapan yang positif.

Peran Komunikasi dalam Organisasi

Menurut Athoilah (2010) salah satu prinsip dalam manajemen dan organisasi adalah kerjasama. Kerjasama dapat diwujudkan apabila terjadi komunikasi yang efektif antara pimpinan dan karyawan dalam suatu perusahaan. Masmuh (2010) menjelaskan komunikasi organisasi adalah proses transmisi berbagai ide atau gagasan dalam kelompok-kelompok organisasi atau perusahaan. Davis dan Newstrom (2004) mengemukakan jika dalam suatu perusahaan tidak dapat mewujudkan komunikasi yang efektif maka karyawan sulit memahami apa yang harus dilakukan untuk pekerjaan mereka, pimpinan atau atasan tidak

(8)

8

dapat menerima saran atau keluhan dari bawahan, serta tidak dapat memberikan instruksi kepada bawahan.

Robbins dan Judge (2013) komunikasi dapat mendukung proses terbentuknya dorongan positif dengan mendeskripsikan kepada karyawan mengenai apa yang harus dikerjakan, bagaimana kinerja mereka, serta bagaimana meningkatkan kinerja atau membenahi kinerja yang di bawah standar. Tujuan dari komunikasi yaitu untuk mewujudkan kesamaan pemahaman antara pimpinan atau atasan dengan karyawan dalam suatu perusahaan. Kualitas manajemen sebuah perusahaan dinilai dari proses karyawanya berkomunikasi (Razi dan More 2008). Keberhasilan komunikasi dalam suatu perusahaan dapat ditunjukan dengan peningkatan kinerja karyawan karena telah berhasil menunjukan kerjasama yang baik (Garnet, Marlowe, dan Pandey 2008).

Menurut Sopiah (2008) empat fungsi komunikasi dalam organisasi atau perusahaan yaitu: (1)Komunikasi menjalankan peran sebagai pengatur tingkah laku dalam suatu perusahaan, dalam hal ini hendaknya karyawan secara jujur dan terbuka dapat menyampaikan keluhan atau kesulitan mengenai pelaksanaan tugas dan kewajiban dalam perusahaan.

(2)Komunikasi berperan dalam membentuk motivasi karyawan, fungsi ini bekerja ketika pemimpin ingin meningkatkan kinerja karyawan. (3)Komunikasi berperan dalam mengungkapkan emosi atau perasaan seperti rasa kecewa atau rasa puas terhadap perusahaan.

(4)Komunikasi berperan dalam proses pengambilan keputusan perusahaan, fungsi ini bekerja ketika proses komunikasi dapat memberikan informasi yang diperlukan individu atau kelompok untuk menilai atau mempertimbangkan berbagai alternatif keputusan.

Berdasarkan uraian diatas dapat dimengerti bahwa komunikasi sangat penting guna mencapai tujuan perusahaan, karena komunikasi yang baik dapat berdampak positif dalam setiap aktivitas perusahaan. Perusahaan harus mampu mewujudkan efektivitas komunikasi antara semua pemangku kepentingan dalam perusahaan. Dengan terwujudnya komunikasi yang efektif, pimpinan dan karyawan dapat saling berinteraksi dengan nyaman guna merencanakan suatu pekerjaan. Atasan dapat menyampaikan dengan jelas mengenai informasi, prosedur, instruksi, dan kebijakan mengenai pekerjaan. Selain itu karyawan juga dapat menyampaikan pendapat, keluhan, permasalahan/kesulitan mengenai pekerjaan mereka.

(9)

9 Komunikasi Vertikal

Menurut Effendy (2003) komunikasi vertikal merupakan komunikasi dari atasan ke bawahan (downward communication) dan dari bawahan ke atasan (upward communication) secara timbal balik. Dalam Downward communication, komunikasi mengalir dari pengelola tingkat atas ke level bawah dalam hierarki organisasi. Komunikasi ini adalah tipe dasar dari komunikasi formal. Kebanyakan komunikasi dari atasan ke bawahan dimanfaatkan untuk menyampaikan hal yang berkenan dengan tugas-tugas, tanggung jawab, kewenangan dan pemiliharaan. Selain itu juga digunakan dalam hal umpan balik mengenai kinerja. Dalam downward communication seorang atasan menyampaikan informasi yang berkaitan dengan pengarahan, koordinasi, motivasi, evaluasi, pelatihan, perintah, dan pengendalian berbagai kegiatan yang ada di level bawah, maka penyampaian dalam downward communication haruslah sederhana, tidak bertele-tele dan mudah dipahami (Herimanto dan Indrojiono 2005).

Upward communication, merupakan suatu mekanisme ketika informasi mengalir dari karyawan tingkat rendah menuju karyawan yang lebih tinggi atau atasan. Dalam hal ini bawahan menyampaikan masalah atau kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan mereka.

Komunikasi dari bawahan ke atasan dalam suatu perusahaan memiliki peran yang penting yaitu dalam hal menyampaikan informasi hasil pekerjaan, serta memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan gagasan mengenai pekerjaan. Menurut Herimanto dan Indrojiono (2005) bentuk informasi yang disampaikan dalam upward communication biasanya berupa laporan, pengaduan, dan pengajuan usul.

Untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara tepat dalam suatu organisasi sudah sepantasnya atasan memperhatikan dan mendengarkan usulan atau saran dari level bawah. Selain itu untuk mencapai keberhasilan dalam upward communication sebaiknya atasan meningkatkan kepercayaan kepada bawahanya.

Namun masing masing arah komunikasi memiliki kelemahan, Menurut Purwanto (2010) dalam upward communication mayoritas karyawan level bawah hanya menyampaikan laporan yang positif saja, sedangkan laporan yang negatif cenderung tidak disampaikan. Hal tersebut terjadi karena karyawan tingkat bawah tidak ingin kehilangan posisi dalam perusahaan atau tidak ingin memiliki masalah dalam pekerjaan mereka. Sedangkan dalam downward communication sering terjadi masalah dalam penyampaian informasi atau pesan yang ditujukan kepada karyawan level bawah, isi informasi yang ditujukan kepada karyawan level bawah sudah tidak lengkap seperti aslinya. Masalah tersebut terjadi karena panjangnya saluran komunikasi mulai dari manajer puncak hingga ke karyawan level bawah.

(10)

10 Hambatan Komunikasi

Menurut Robbins dan Coulter (2007) terdapat enam hambatan dalam komunikasi yaitu penyaringan, emosi, kebanjiran informasi, perilaku defensif, bahasa, dan budaya nasional. Penyaringan, merupakan manipulasi informasi yang sengaja dilakukan sehingga informasi yang disampaikan menjadi berkurang atau berlebihan dengan tujuan informasi menjadi tampak lebih menyenangkan bagi pihak penerima. Emosi, keadaan perasaan pihak penerima misalkan sedang emosi atau gembira ketika menerima suatu pesan dapat memengaruhi bagaimana dia menafsirkan pesan tersebut, begitu juga dengan pihak pengirim hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap penyampaian pesan kepada pihak penerima.

Kebanjiran Informasi, banyaknya informasi yang masuk kepada pihak penerima pesan menyebabkan banyak informasi yang terlewatkan atau bahkan diabaikan oleh pihak penerima, hal tersebut mengakibatkan komunikasi tidak lagi berjalan dengan efektif.

Perilaku defensif, ketika seseorang merasa terancam, maka mereka cenderung akan bereaksi dengan cara yang akan mengurangi kemampuan mereka untuk mencapai saling pengertian, hal tersebut juga akan mengakibatkan komunikasi menjadi kurang efektif.

Bahasa, kata atau kalimat yang disampaikan seseorang terkadang memiliki arti yang berbeda bagi orang lain. Faktor umur, pendidikan, dan latar belakang sangat berpengaruh terhadap bahasa, kata, atau kalimat yang disampaikan seseorang, begitu juga dengan pemahaman terhadap kata atau kalimat yang disampaikan oleh orang lain. Budaya nasional, perbedaan budaya dapat memengaruhi cara komunikasi dalam suatu perusahaan, perbedaan juga dapat menjadi penghalang keefektifan komunikasi apabila tidak dikenali dan diperhatikan.

Faktor yang Memengaruhi Komunikasi

Menurut Mangkunegara (2008) terdapat dua tinjauan faktor yang dapat mempengaruhi proses komunikasi yaitu faktor pihak sender dan faktor pihak receiver. faktor pihak sender meliputi : (1) Keterampilan sender, sender sebagai pengirim pesan perlu mengetahui cara penyampaian pesan dengan baik. (2) Sikap sender, sender harus menunjukan sikap yang meyakinkan receiver terhadap pesan yang disampaikan. (3) Pengetahuan sender, sender akan lebih jelas dalam memberikan informasi kepada receiver apabila memiliki pengetahuan yang luas. (4) Media Saluran Sender, media atau saluran komunikasi akan mempermudah dalam proses penyampaian informasi kepada receiver.

Faktor pihak receiver meliputi : (1) Keterampilan receiver, ketrampilan mendengarkan dan memahami pesan sangat penting. (2) Sikap receiver, sikap receiver terhadap sender sangat memengaruhi efektivitas komunikasi. Apabila receiver menunjukan

(11)

11

sikap yang negatif tehadap sender, maka secara tidak langsung sender menjadi tidak respect terhadap receiver. Masalah tersebut mengakibatkan komunikasi menjadi tidak efektif. (3) Pengetahuan receiver, pengetahuan receiver memiliki dampak bagi komunikasi. Dengan pengetahuan yang luas, informasi yang diterima akan lebih mudah dimengerti. (4) Media saluran receiver, media saluran komunikasi memiliki peran yang penting dalam penerimaan informasi.

Kesalahpahaman Komunikasi

Wursanto (2005) menjelaskan bahwa komunikasi dalam organisasi tidak selamanya berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan. Dalam komunikasi organisasi sering terjadi kesalahpahaman antara atasan dengan bawahan mengenai pesan atau informasi yang disampaikan. Purwanto (2010) menjelaskan terdapat empat masalah utama penyebab kesalahpahaman dalam komunikasi diantaranya : (1) Masalah dalam mengembangkan pesan, permasalahan yang sering muncul ketika mengembangkan pesan adalah dalam menyusun atau merumuskan pesan sesuai kebutuhan. Permasalahan tersebut biasanya mencakup : tidak yakin terhadap isi pesan yang disampaikan, kesulitan dalam mengekspresikan gagasan, serta kurang beradaptasi dengan situasi atau kondisi ketika komunikasi berlangsung.

(2) Masalah dalam menyampaikan pesan, komunikasi akan terhambat apabila terdapat masalah dalam penyampaian pesan dari pihak pengirim ke pihak penerima. Masalah tersebut biasanya muncul dalam bentuk faktor fisik atau teknis. Misalnya, terdapat masalah pada sound sistem atau audiens terhalang tembok bangunan. (3) Masalah dalam menerima pesan, masalah yang sering terjadi dalam proses penerimaan suatu pesan yaitu adanya persaingan antara pengliatan dan suara yang dapat mengganggu konsentrasi. (4) Masalah dalam menafsirkan pesan, perbedaan latar belakang, perbedaan bahasa, serta ungkapan emosional dapat menyebabkan kesalahpahaman komunikasi antara pihak pengirim dan pihak penerima pesan.

Menurut Mangkunegara (2008) ada tiga rintangan dalam berkomunikasi, yaitu rintangan pribadi, rintangan fisik, dan rintangan bahasa. (1) Rintangan pribadi, merupakan hambatan individu yang muncul akibat faktor emosi atau alat indera yang terganggu, serta kebiasaan yang berlaku pada nilai budaya tertentu. (2) Rintangan fisik, terbentangnya jarak antara pengirim dan penerima ketika melakukan komunikasi. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu disediakan media komunikasi seperti telepon, alat pengeras suara, dan alat

(12)

12

komunikasi lainya. (3) Rintangan bahasa, merupakan kesalahpahaman dalam mengartikan istilah kata.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dimengerti bahwa setiap individu atau kelompok yang melakukan proses komunikasi baik sebagai penerima pesan maupun pengirim pesan pasti memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, selain itu faktor perbedaan latar belakang, kebudayaan, pendidikan, dan pemahaman juga turut hadir dalam proses komunikasi. Sehingga kesalahanpahaman dalam komunikasi memang tidak bisa dipungkiri, dalam proses komunikasi tidak selalu mendapatkan hasil yang dikehendaki oleh masing- masing pihak atau dengan kata lain tidak setiap saat komunikasi dapat berjalan dengan efektif. Untuk mengatasi permasalahan tersebut masing-masing pihak dalam komunikasi harus bisa melakukan intropeksi diri disertai usaha untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan mengenai bagaimana melakukan komunikasi yang baik.

(13)

13 METODE PENELITIAN

Pendekatan Penelitian

Karena penelitian ini dilakukan guna menganalisis serta mendeskripsikan fenomena, peristiwa maupun aktivitas yang berlangsung dalam objek penelitian melalui data berupa angka maka penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif.

Subjek dan Data Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan bagian finishing pada CV. Laksana Karoseri Semarang yang berjumlah 85 orang. Untuk menentukan jumlah sampel, peneliti

menggunakan rumus Slovin dengan perhitungan sebagai

berikut : n = n =

n = 70

Dengan demikian dapat diperoleh jumlah sampel sebanyak 70 orang.

Keterangan : n = jumlah sampel N = jumlah populasi

E = batas toleransi kesalahan

(14)

14 Teknik Pengambilan Sampel

Sampel dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik accidental sampling, peneliti mengambil sampel karyawan bagian finishing CV. Laksan Karoseri Semarang yang secara tidak sengaja ditemuinya pada saat proses pengumpulan data.

Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer berupa opini dan informasi yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner secara langsung kepada karyawan bagian finishing CV.

Laksana Karoseri Semarang.

Teknik Analisis Data

Data dalam penelitian ini akan diolah menggunakan aplikasi Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Peneliti akan melakukan analisis statistik deskriptif dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi menganai data yang diperoleh berdasarkan nilai rata-rata (mean) yang terdapat dalam tabel statistik deskriptif. Selanjutnya peneliti menentukan tingkat capaian efektivitas dengan perhitungan sebagai berikut:

Sehingga berdasarkan perhitungan tersebut dapat diperoleh panjang kelas 0,75.

Tabel 1. Pengukuran Efektivitas Komunikasi

Nilai Keterangan

1 – 1,75 Tidak Efektif

1,76 – 2,50 Kurang Efektif 2,51 – 3,25 Cukup Efektif 3,26 – 4,00 Sangat Efektif

Tabel diatas merupakan nilai acuan yang digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas komunikasi dalam penelitian ini. Dapat dipahami bahwa nilai 1-1,75 merupakan kategori komunikasi yang tidak efektif, sedangkan nilai 1,76-2,51 merupakan kategori komuniksi yang kurang efektif, kemudian untuk nilai 2,52-3,27 termasuk dalam komunikasi

(15)

15

yang cukup efektif, dan untuk nilai tertinggi yaitu 3,28-4,03 termasuk dalam komunikasi yang sangat efektif.

Skala Pengukuran

Skala Likert akan diterapkan dalam penelitian ini, skala Likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur tanggapan atau persepsi responden menganai sebuah peristiwa atau fenomena yang telah terjadi. Berikut ini merupakan tabel skor skala Likert yang akan diterapkan dalam penelitian ini :

Tabel 2. Skala Likert

Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju

1 2 3 4

Dapat dipahami bahwa jawaban sangat tidak setuju memiliki skor terendah yaitu 1, jawaban tidak setuju memiliki skor 2, jawaban setuju memiliki skor 3 kemudian jawaban sangat setuju memiliki skor tertinggi yaitu 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN Downward Communication

Berikut ini merupakan hasil pengolahan data menggunakan software IBM SPSS Statistic 22. Dapat dipahami tabel 4 merupakan hasil uji statistik deskriptif komunikasi dari atasan ke bawahan (downward communication) yang terjadi pada bagian finisihing CV.

Laksana Karoseri Semarang. Diketahui bahwa N menunjukan jumlah responden yaitu sebanyak 70 orang, kemudian terdapat 5 indikator yang digunakan dalam downward communication diantaranya keterbukaan, empati, dukungan verbal/nonverbal, kepositifan serta kesamaan.

Tabel 3. Hasil Statistik Deskriptif Downward Communication Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean

Keterbukaan_1 70 3.00 4.00 3.4571

Keterbukaan_2 70 2.00 4.00 3.2571

Keterbukaan_3 70 2.00 4.00 3.3286

(16)

16

Empati_1 70 2.00 4.00 3.1857

Empati_2 70 2.00 4.00 3.1857

Empati_3 70 2.00 4.00 3.0143

Dukungan_1 70 2.00 4.00 3.0429

Dukungan_2 70 2.00 4.00 3.2429

Kepositifan 70 1.00 4.00 3.2571

Kesamaan 70 1.00 4.00 3.2286

Valid N

(listwise) 70

Tabel 4. Nilai Mean Indikator Downward Communication DOWNWARD

Keterbukaan 3.35 Sangat Efektif

Empati 3.13 Cukup Efektif

Dukungan verbal/nonverbal 3.14 Cukup Efektif

Kepositifan 3.26 Cukup Efektif

Kesamaan 3.23 Cukup Efektif

16.10

Cukup efektif 3.22

Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa keterbukaan memiliki nilai mean tertinggi yaitu sebesar 3,35 sehingga termasuk dalam kategori sangat efektif, maka dari itu atasan sebagai pihak pengirim informasi harus mempertahankan keterbukaan secara optimal dengan beberapa cara yaitu mengkomunikasikan hasil kinerja karyawan dengan jujur, menjelaskan setiap prosedur yang harus dilakukan karyawan dalam pekerjaan dengan jelas dan benar, mengkomunikasikan informasi mengenai pekerjaan serta kebijakan perusahaan secara lengkap dan terbuka.

Kemudian untuk indikator kedua yaitu empati memiliki nilai mean terendah yaitu 3,13, sehingga empati dalam downward communication masih berjalan dengan cukup efektif.

Menurut Robbins (2001) dalam meningkatkan empati pihak pengirim informasi (atasan) perlu mewujudkan sikap memahami dan menghayati apa yang dirasakan atau diinginkan oleh pihak penerima informasi (bawahan). Dalam hal ini misalnya ketika bawahan menyampaikan laporan atau saran mengenai pekerjaan yang mereka lakukan hendaknya atasan menanggapinya dengan baik, selain itu atasan juga dapat memberikan pujian kepada bawahan yang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

(17)

17

Selanjutnya untuk dukungan verbal/nonverbal memiliki nilai mean yang cukup rendah yaitu 3,14, sehingga termasuk dalam kategori cukup efektif. Maka atasan masih perlu mewujudkan dukungan verbal/nonverbal dengan lebih optimal ketika melakukan komunikasi dengan bawahan. Menurut Robbins (2001) dukungan yang tidak diungkapkan dengan kata- kata seperti anggukan kepala, senyum yang tulus, dan tepukan tangan dapat menjadi aspek positif dalam proses komunikasi. Selain itu misalnya ketika pihak pengirim (atasan) menyampaikan informasi mengenai pekerjaan hendaknya menggunakan kata-kata dan bahasa yang menyenangkan serta mudah dipahami oleh pihak penerima (bawahan).

Kepositifan dalam downward communication memiliki nilai mean sebesar 3,26 sehingga masih dalam kategori cukup efektif. Menurut Robbins (2001) kepositifan dalam komunikasi dapat diwujudkan melalui perhatian serta perasaan yang positif terhadap pihak lain dalam berkomunikasi sehingga dapat menciptakan kerjasama yang positif antara pihak pengirim dan penerima informasi. Salah satu prinsip dalam manajemen dan organisasi adalah kerjasama. Kerjasama dapat diwujudkan apabila terjadi komunikasi yang efektif antara pimpinan dan karyawan dalam suatu perusahaan (Athoilah 2010).

Kesamaan dalam downward communication memiliki nilai mean sebesar 3,23 sehingga termasuk dalam kategori cukup efektif . Komunikasi akan lebih efektif apabila pihak-pihak yang berkomunikasi memiliki kesamaan dalam beberapa hal sehingga dapat mewujudkan kedudukan yang sama antara pembicara dan pendengar dari segi pengalaman, pengetahuan dan lain-lain (Robbins 2001). Dalam mewujudkan kesamaan dengan pihak penerima informasi (bawahan), pihak pengirim informasi (atasan) hendaknya tidak terlalu mendominasi pembicaraan ketika melakukan komunikasi dengan memberikan kesempatan bagi pihak penerima informasi untuk memberikan pendapat.

Upward Communication

Berikut ini merupakan hasil pengolahan data menggunakan software IBM SPSS Statistic 22. Dapat dipahami tabel 6 merupakan hasil uji statistik deskriptif komunikasi dari bawahan ke atasan (upward communication) yang terjadi pada bagian finisihing CV. Laksana Karoseri Semarang. Diketahui bahwa N menunjukan jumlah responden yaitu sebanyak 70 orang, kemudian terdapat 5 indikator yang digunakan dalam upward communication diantaranya keterbukaan, empati, dukungan verbal/nonverbal, kepositifan serta kesamaan.

Tabel 5. Hasil Statistik Deskriptif Upward Communication

(18)

18

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Keterbukaan_1 70 2.00 4.00 3.2429 Keterbukaan_2 70 2.00 4.00 3.1000 Keterbukaan_3 70 2.00 4.00 3.1429

Empati_1 70 2.00 4.00 3.1571

Empati_2 70 2.00 4.00 2.9571

Empati_3 70 2.00 4.00 3.2000

Dukungan_1 70 2.00 4.00 3.0714

Dukungan_2 70 2.00 4.00 3.2714

Kepositifan 70 2.00 4.00 3.2143

Kesamaan 70 3.00 4.00 3.2286

Valid N

(listwise) 70

Tabel 6. Nilai Mean Indikator Upward Communication UPWARD

Keterbukaan 3.16 Cukup Efektif

Empati 3.10 Cukup Efektif

dukungan verbal/nonverbal 3.17 Cukup Efektif

Kepositifan 3.21 Cukup Efektif

Kesamaan 3.22 Cukup Efektif

15.87

Cukup Efektif 3.17

Berdasarkan tabel 7 dapat dipahami bahwa semua indikator dalam upward communication masih dalam kategori cukup efektif. Keterbukaan memiliki nilai mean yang cukup rendah yaitu 3,16, dalam meningkatkan keterbukaan pihak pengirim informasi (bawahan) hendaknya lebih jujur dan terbuka terhadap pihak penerima informasi (atasan) ketika menyampaikan laporan, saran atau kesulitan mengenai pekerjaan. Dengan demikian atasan akan lebih memahami apa yang dibutuhkan oleh bawahan, sesuai dengan yang disampaikan oleh Sopiah (2008) bahwa salah satu fungsi komunikasi yaitu sebagai pengatur tingkah laku dalam perusahaan, yaitu hendaknya karyawan secara jujur dan terbuka

(19)

19

menyampaikan keluhan atau kesulitan mengenai pelaksanaan tugas dan kewajiban terhadap perusahaan.

Kemudian empati juga masih perlu ditingkatkan secara optimal karena memiliki nilai mean terendah yaitu 3,10, dalam meningkatkan empati bawahan hendaknya memahami apa yang dibutuhkan atau diinginkan oleh atasan, misalnya bawahan dapat melakukan perubahan dengan tindakan nyata dan positif terhadap pekerjaan setelah melakukan komunikasi dengan atasan, dengan demikian akan muncul rasa senang dan puas dalam diri atasan. Sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh Rahmat (2000) bahwa komunikasi yang efektif harus merubah sikap, yaitu komunikasi dapat memperbaiki sikap atau perilaku orang-orang yang berkomunikasi sesuai dengan ide atau gagasan yang disampaikan dalam suatu pesan.

Selanjunya dukungan verbal/nonverbal juga memiliki nilai mean yang cukup rendah yaitu 3,17. Wursanto (2005) menjelaskan bahwa dalam komunikasi organisasi sering terjadi kesalahpahaman antara atasan dengan bawahan mengenai informasi yang disampaikan. Untuk menghindari kesalahpahaman tersebut perlu adanya dukungan verbal/nonverbal dalam proses komunikasi. dukungan verbal/nonverbal dapat tingkatkan dengan cara misalnya ketika menyampaikan informasi maupun pendapat mengenai pekerjaan kepada atasan, hendaknya bawahan menggunakan bahasa yang jelas dan menyenangkan disertai dengan dukungan yang tidak terucapkan seperti anggukan kepala dan senyum yang tulus.

Hal lain yang masih perlu ditingkatkan dalam upward communication yaitu kepositifan dengan nilai mean 3,21. Menurut Robbins (2001) kepositifan dalam komunikasi dapat diwujudkan melalui perhatian serta perasaan positif terhadap pihak lain dalam berkomunikasi sehingga dapat menciptakan kerjasama yang positif antara pihak pengirim dan penerima informasi. Dalam hal ini hendaknya bawahan (pengirim informasi) selalu berpikir positif terhadap atasan (penerima informasi) supaya proses komunikasi berjalan secara menyenangkan dan bersahabat. Dengan situasi tersebut besar kemungkinan proses komunikasi akan menumbuhkan kerjasama dan tindakan positif antara atasan dan bawahan dalam perusahaan.

Sedangkan untuk kesamaan memiliki nilai mean tertinggi yaitu 3,22 namun demikian masih perlu untuk ditingkatkan. Dalam mewujudkan kesamaan antara pembicara dan pendengar hendaknya bawahan tidak ragu untuk menyampaikan pendapat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti apa yang disampaikan oleh Effendy (2003) bahwa

(20)

20

komunikasi dari bawahan ke atasan dalam suatu perusahaan memiliki peran yang penting yaitu dalam hal menyampaikan informasi hasil pekerjaan, serta memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan gagasan mengenai pekerjaan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian serta analisis data yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka peneliti menarik kesimpulan bahwa komununikasi dari atasan ke bawahan (downward communication) pada bagian finishing CV. Laksana Karoseri Semarang secara keseluruhan masih berjalan dengan cukup efektif. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata (mean) keseluruhan indikator pada downward communication sebesar 3,22. Selain itu komununikasi dari bawahan ke atasan (upward communication) pada bagian finishing CV.

Laksana Karoseri Semarang secara keseluruhan juga masih berjalan dengan cukup efektif. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata (mean) keseluruhan pada downward communication indikator sebesar 3,17.

Implikasi Penelitian

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi bagi pihak perusahaan serta karyawan CV. Laksana Karoseri Semarang untuk terus meningkatkan efektivitas komunikasi antara atasan dan bawahan pada bagian finishing dengan cara mewujudkan keterbukaan,

(21)

21

empati, dukungan verbal/nonverbal, kepositifan serta kesamaan dengan lebih optimal. Untuk mewujudkan keterbukaan ketika proses komunikasi berlangsung atasan maupun bawahan harus selalu jujur dan terbuka ketika menyampaikan, mendengarkan maupun menanggapi informasi mengenai pekerjaan. Kemudian dalam mewujudkan empati atasan maupun bawahan harus memahami apa yg sebenarnya diharapkan dan dibutuhkan pihak lain dalam komunikasi. Selanjutnya untuk mewujudkan dukungan verbal/nonverbal dalam melakukan komunikasi sebaiknya menggunakan bahasa yang menyenangkan dan bersahabat disertai dengan dukungan yang tak terucapkan seperti senyum yang tulus, tepuk tangan. Kepositifan dapat diwujudkan dengan cara masing-masing pihak dalam komunikasi vertikal harus berprasangka positif serta bertindak positif ketika proses komunikasi berlangsung. Sedangkan untuk mewujudkan kesamaan ketika proses komunikasi berlangsung atasan sebaiknya tidak mendominasi pembicaraan dan memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berpendapat.

Implikasi secara teoritis adalah bahwa temuan dalam penelitian ini melangkapi penelitian yang dilakukan oleh Londa, Senduk, dan Boham (2014) dimana penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif yang hasilnya dapat menjelaskan secara teoritis bagaimana cara meningkatkan efektivitas komunikasi vertikal antara pimpinan dan anggota tim kerja. Selain itu penelitian ini juga melengkapi penelitian yang dilakukan oleh Tambingon, Tewal, dan Tumade (2014) yang menemukan bahwa efektivitas komunikasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT Pegadaian (persero) Manado.

Maka penelitian ini dilakukan guna mengkaji lebih lanjut mengenai efektivitas komunikasi menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yang hasilnya dapat memperoleh gambaran mengenai seberapa efektif proses komunikasi yang terjadi dari atasan ke bawahan (downward communicaton) serta dari bawahan ke atasan (upward communication) dalam suatu organisasi atau perusahaan.

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini telah diusahakan serta dilaksanakan sesuai dengan prosedur metode ilmiah, namun demikian masih memiliki beberapa keterbatasan diantaranya terdapat jawaban kuesioner yang cenderung asal-asalan atau tidak sesuai dengan apa yang dialami oleh masing-masing responden. Dalam hal ini responden cenderung tidak membaca pernyataan dalam kuesioner secara mendalam atau cenderung mengikuti jawaban dari responden lain.

Kemudian untuk indikator efektivitas komunikasi dalam penelitian ini merupakan indikator komunikasi secara umum tidak spesifik pada komunikasi vertikal. Selain itu penelitian ini hanya sebatas menganalisis serta mendeskripsikan fenomena, peristiwa maupun aktivitas

(22)

22

yang berlangsung dalam objek penelitian melalui data angka (kuantitaif deskriptif), hal ini dikarenakan kendala yang dihadapi oleh peneliti ketika melaksanakan proses penyebaran kuesioner.

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat disampaikan saran bahwa untuk penelitian-penelitian selanjutnya dalam proses pengumpulan data menggunakan metode wawancara. Dengan metode tersebut data atau informasi yang diperoleh akan lebih akurat karena dengan metode wawancara setiap pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti, selain itu narasumber juga dapat memberikan penjelasan-penjelasan tambahan ketika proses wawancara berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Afriyadi, F. (2015). Efektivitas Komunikasi Interpersonal Antara Atasan dan Bawahan Karyawan PT Borneo Enterprsindo Samarinda. Jurnal Ilmu Komunikasi, 3(1), 362- 376. Retrieved from www.ejournal.ilkom.fisip-unmul.ac.id

Athoillah, A. (2010). Dasar-dasar Manajemen. Bandung: CV Pustaka Setia.

Bovee, C. L., & Thill, J. V. (1998). Business Communication Today. New Jersey.

Cahyanto, B. D., & Utama, I. M. (2016). Pengaruh Komunikasi Organisasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Pada PT Cakra Transport Utama Jimbaran Bali. E- Jurnal Manajemen Unud, 5(5), 3248-3273. Retrieved from www.ojs.unud.ac.id Davis, K., & Newstrom, J. W. (2004). Perilaku dalam Organisasi (Ketujuh ed.). Jakarta:

Erlangga.

Effendy, O. U. (2003). Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Garnett, J. L., Marlowe, J., & Pandey, S. K. (2008). Penetrating the Performance Predicament : Communication as a Mediator or Moderator of Organization Culture's Impact on Public Organizational Performance. Public Administration Review, 68(2), 266-281.

Retrieved from www.onlinelibrary.wiley.com

(23)

23

Gibson, J. L., Ivancevich, J. M., Donnelly, Jr., J. H., & Konopaske, R. (2012). Organizations Behavior, Structure, Processes (eight ed.). Boston: Richard D Irwin Inc Homewood.

Hadian, D., & Suharyani, Y. (2014). Pengaruh Motivasi, Komunikasi, dan Kompetensi Dari Efektivitas Kinerja Aparatur Serta Dampaknya Terhadap Efektivitas Organisasi Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Provinsi Jawa Barat. Jurnal Ekonomi, Bisnis & Entrepreneurship, 8(1), 1-14. Retrieved from www.neliti.com Herimanto, B., & Indrojiono. (2005). Komunikasi Bisnis. Yogyakarta: Amara Books.

Himstreet, W. C., & Murlin, B. W. (1990). Business Communicationss : Principles and Methods. Boston: PWS Kent.

Indrajaya, I. A., & Adnyani, I. A. (2013). Pengaruh Budaya Organisasi, Komunikasi, dan Lingkungan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan CV. Hitakara Denpasar.

410-421. Retrieved from www.neliti.com

Kurniawan, A. (2005). Transformasi Pelayanan Publik. Yogyakarta: Pembaruan.

Kuswarno, E. (2001). Efektivitas Komunikasi Organisasi. Mediator, 2(1), 55-61. Retrieved from www.ejournal.unisba.ac.id

Londa, B. N., Senduk, J., & Boham, A. (2014). Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi Dalam Meningkatkan Kesuksesan Sparkle Organizer. 3(1), 1-8. Retrieved from www.medianeliti.com

Mahmudi. (2005). Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: Pembaruan.

Masmuh, A. (2010). Komunikasi Organisasi dalam Perspektif Teori dan Praktek (kedua ed.).

Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Muhammad, A. (2002). Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

paripurna, I. D. (2013). Pengaruh Kepemimpinan, Lingkungan Kerja, dan Komunikasi Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Suriwati Beach Hotel Bali. 581-593. Retrieved from www.medianeliti.com

Purwanto, D. (2010). Komunikasi Bisnis (keempat ed.). Jakarta: Erlangga.

Rahmat, J. (2000). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Razi, N., & More, E. (2010). The Role of Communication in The Acquisition of High Performance Work System Organizations. Australian Journal of Communication, 37(1), 55-74. Retrieved from www.researchers.cdu.edu.au

Rivai, V. (2004). Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (kedua ed.). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Robbins, S. P. (2001). Perilaku Organisasi : Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Jakarta:

Prenhallindo.

Robbins, S. P. (2006). Perilaku Organisasi. Jakarta: Prenhallindo.

Robbins, S. P., & Coulter, M. (2007). Manajemen (delapan ed.). PT Indeks.

Robbins, S. P., & Timothy, A. J. (2008). Perilaku Organisasi (ke 12 ed.). Jakarta: Salemba Empat.

(24)

24

Robbins, S. P., & Timothy, A. J. (2013). Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.

Sarbin. (2014). Pengaruh Kepemimpinan Komunikasi Terhadap Kinerja Guru SMKN 4 Klaten dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening. Jurnal Advance, 1(2), 1-15. Retrieved from www.e-journal.stie-aub.ac.id

Simamora, H. (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia (kedua ed.). Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.

Sopiah. (2008). Perilaku Organisasional. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Steers, R. M. (2005). Efektivitas Organisasi. Jakarta: Erlangga.

Takasenseran, M. C., Mandey, S. L., & Kojo, C. (2014). Pengaruh Lingkungan Kerja, Komunikasi, dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulut. Jurnal EMBA, 2(3), 1726-1736. Retrieved from www.ejournal.unsrat.ac.id

Tambingon, J., Tewal, B., & Tumade, P. (2014). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, Efektivitas Komunikasi dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada Wilayah V PT Pegadaian (Persero) Manado. Jurnal EMBA, 2(4), 1-12. Retrieved from www.neliti.com

Tubbs, S. L., & Moss, S. (2000). Human Communication : Konteks-Konteks Komunikasi.

Bandung: PT Rosda.

Wibowo. (2007). Manajemen Kinerja (kedua ed.). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Widjaja, H. (2000). Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: Rineka Cipta.

Wursanto, I. (2005). Dasar-dasar Ilmu Organisasi. Yogyakarta: CV. Andi Offset.

LAMPIRAN

1. Kuesioner Penelitian Dengan hormat,

Saya Aji Yuwono Santosa mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga sedang mengadakan penelitian di CV. Laksana Ungaran untuk keperluan tugas akhir. Data yang diperoleh hanya digunakan untuk kepentingan penelitian dan akademik. Dengan ini saya meminta kesediaan bapak/ibu/saudara/I untuk dapat meluangkan waktu guna mengisi kuesioner ini. Saya akan menjamin kerahasiaan, baik dalam hal identitas maupun semua jawaban dari pernyataan yang terlampir. Atas kesediaan dan waktunya saya ucapkan terimakasih.

KUESIONER KOMUNIKASI

(25)

25

( Diisi oleh karyawan yang bersangkutan )

Nama :

Usia :

Pendidikan Terakhir : Bagian/Divisi :

Petunjuk pengisian kuesioner

Anda dapat mengisi kolom dengan memberikan tanda ( √ ) pada alternatif pilihan jawaban dari pernyataan yang tersedia sesuai dengan kondisi selama anda bekerja di CV. Laksana Ungaran.

Keterangan :

SS = Sangat Setuju TS = Tidak Setuju

S = Setuju STS = Sangat Tidak Setuju

(26)

26

No Pertanyaan Jawaban

SS S TS STS

1

Atasan mengkomunikasikan informasi

mengenai pekerjaan serta kebijakan-kebijakan

perusahaan

2 Atasan mengkomunikasikan hasil kinerja saya 3 Atasan menjelaskan prosedur untuk setiap

pekerjaan yang harus saya laksanakan 4 Laporan hasil pekerjaan yang saya sampaikan

kepada atasan mendapat respon yang baik

5

Saran mengenai pekerjaan yang saya sampaikan kepada atasan mendapat respon

yang baik

6 Atasan memberi pujian bila saya menjalankan tugas dengan baik

7

Informasi yang disampaikan oleh atasan saya menggunakan kata-kata atau simbol-simbol

yang dapat saya terima dan mengerti

8 Atasan saya mampu menyampaikan informasi

dengan bahasa yang mudah saya pahami 9 Sikap atasan dalam menyampaikan informasi

sangat bersahabat

10

Ketika menyampaikan informasi, atasan memberikan kesempatan kepada saya untuk

berpendapat

(27)

27

No Pertanyaan Jawaban

SS S TS STS

1

Saya mengadukan kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan kepada atasan

saya

2 Saya rutin menyampaikan laporan kepada

atasan setelah melakukan suatu pekerjaan

3

Saya memberikan saran yang relevan kepada atasan mengenai hal yang

berhubungan dengan pekerjaan

4 Perintah atau intruksi yang diberikan atasan

dapat saya mengerti dengan baik

5

Informasi mengenai pekerjaan yang disampaikan oleh atasan dapat

memengaruhi pemikiran saya

6

Saya melakukan tindakan nyata dan positif setelah menerima informasi mengenai

pekerjaan dari atasan

7

Ketika menyampaikan informasi kepada atasan, saya menggunakan kata-kata atau simbol-simbol yang dapat diterima dan

dimengerti

8

Ketika menyampaikan informasi kepada atasan, saya menggunakan bahasa yang mudah dipahami

9 Komunikasi antara saya dan atasan berjalan

dengan menyenangkan

10

Saya menyampaikan pendapat mengenai hal-hal yang berhubungan dengan

pekerjaan

(28)

28 2. Rekapitulasi Data Penelitian

Kepositifan Kesamaan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 4 3 4 2 4 2 2 2 2 2

2 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3

3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4

4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

6 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3

7 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

8 3 3 3 3 3 2 3 3 4 4

9 3 3 4 3 3 2 3 4 3 3

10 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3

11 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3

12 4 3 4 3 3 3 3 4 3 3

13 3 3 3 3 3 4 3 3 4 4

14 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3

15 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3

16 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

17 4 3 4 3 3 4 4 3 4 3

18 3 4 3 3 3 3 3 4 4 4

19 3 4 3 3 3 3 3 4 4 4

20 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3

21 3 4 4 4 3 4 3 4 4 3

22 3 3 4 3 3 4 4 4 4 4

23 3 3 3 3 4 3 4 3 4 4

24 4 3 3 3 3 2 2 2 3 3

25 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4

26 4 3 4 3 4 3 3 4 3 4

27 4 3 4 3 3 4 3 4 4 4

28 4 3 3 2 3 2 3 3 3 3

29 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3

30 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3

31 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3

32 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3

33 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

34 3 3 2 2 3 3 3 2 1 1

35 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3

36 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3

37 3 4 3 4 4 3 3 4 3 3

38 4 3 3 4 4 3 4 3 3 3

39 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4

40 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3

41 3 2 3 3 2 2 2 3 3 3

42 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3

43 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3

44 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4

45 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3

46 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3

47 3 4 3 4 4 3 3 3 3 3

48 4 3 4 3 3 3 3 4 3 3

49 3 3 3 4 3 3 2 3 4 4

50 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3

51 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

52 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

53 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3

54 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4

55 4 4 4 4 4 3 3 4 3 2

56 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4

57 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4

58 4 4 4 3 3 2 3 3 3 3

59 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3

60 4 3 3 3 3 3 4 4 3 4

61 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3

62 4 3 3 3 3 2 3 4 4 3

63 3 3 4 3 3 2 2 4 4 3

64 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3

65 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4

66 3 4 3 4 3 3 3 3 4 3

67 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

68 3 4 4 3 3 3 4 3 3 4

69 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3

70 4 4 4 3 3 3 2 2 3 3

Total 242 228 233 223 223 211 213 227 228 226

228 226

228 226

3.26 3.23 DOWNWARD

RESPONDEN Keterbukaan Empati Dukungan verbal/nonverbal

Ʃ

3.35 3.13 3.14

703 234.3333333

657 219

440 220

Gambar

Gambar 1. Tahapan Proses Komunikasi
Tabel 1. Pengukuran Efektivitas Komunikasi
Tabel 2. Skala Likert
Tabel 4. Nilai Mean Indikator Downward Communication  DOWNWARD
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini dikarakterisasi bahan TiO 2 yang akan digunakan sebagai bahan semikonduktor dalam sel surya pewarna menggunakan difraksi sinar X dan dianalisa

Penggunaan teknologi informasi dan e-system lainnya: Dalam menjalankan administrasi perpajakan dan meningkatkan pelayanan dikembangkan aplikasi seperti e-Regristation,

Peneltian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi kesetimbangan padat-cair yang terjadi pada sistem inklusi urea, ditinjau dari model kesetimbangan termodinamik asam

Akibatnya, individu yang mengalami pertumbuhan karir dengan bekerja pada tugas-tugas yang berhubungan dengan tujuan karir mereka, akan memungkinkan mereka untuk belajar

Keterkaitan konstruk kualitas jasa dan tujuh dimensi ini dapat dipahami melalui deskripsi berikut, yaitu ketika konsumen diminta untuk menjelaskan mengapa jasa e-banking

Data-data yang dibutuhkan pada penelitian ini antara lain data spasial citra satelit optis Sentinel 2 Level 1C perekaman bulan Juli 2018 hingga Januari 2019, data lahan

Set data uji coba terdiri dari atribut campuran numerik dan kategorikal serta memiliki beberapa kelas atau klaster dimana sebagian di antaranya adalah kelas dengan