• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH MAKSITEK ISSN Vol. 6 No. 1 Maret 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL ILMIAH MAKSITEK ISSN Vol. 6 No. 1 Maret 2021"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

81

PENGARUH ANGGARAN BIAYA OPERASIONAL DAN ANGGARAN PENDAPATAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN RETURN ON ASSET PADA PDAM TIRTANADI MEDAN

MAJU SIREGAR UNIVERSITAS DARMA AGUNG

ABSTRACT

The purpose of this study is to find out how the operating cost budget and revenue budget affect financial performance based on its profitability ratio, namely Return On Asset (ROA) for the period 2016-2018. This research was conducted at Tirta Malem Kabanjahe Water District Company starting from February 2019. From the results of the analysis and discussion can be drawn some conclusions as follows: ROA PDAM Tirta Malem Kabanjahe from 2016 to 2018 experienced fluctuations and even tends to lose money in 2017 to 2018 a huge influence caused by profit gains that continue to decline until losses.

While the total assets each year increase in size. The losses experienced by PDAM every year cause the ROA ratio to be smaller. Which means that the ROA level obtained by the company does not yet have the ability to generate a rate of return on assets into net profit. The revenue earned by the company fluctuates. With the highest gain occurred in 2016 amounting to Rp.35,994,381,857 where the budget made is smaller than the realization of Rp.7,604,222,500. The company's operating costs decreased from the planned so that this year the company still experienced a profit that is not large until the ROA obtained only 0.21.

Keywords : Operating Costs, Revenue, ROA PENDAHULUAN

Perusahaan menetapkan anggaran induk sebagai bahan perencanaan kerja perusahaan. Anggaran induk yang memiliki pengaruh besar terhadap kinerja perusahaan adalah anggaran laba rugi. Anggaran laba rugi ini dibedakan menjadi beberapa jenis, dua diantaranya adalah anggaran biaya operasional dan anggaran pendapatan.

Kedua anggaran tersebut disusun dalam bentuk perencanaan anggaran dan membandingkan dengan realisasi anggaran sesuai dengan kegiatan operasional perusahaan, apakah sesuai dengan perencanaan serta bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan. Kemudian memberikan feedback kepada perusahaan mengenai hasil penelitian tersebut.

KAJIAN PUSTAKA Manajemen Keuangan

Pengertian manajemen keuangan menurut Agus Sartono (2010:6), “Manajemen keuangan adalah sebagai manajemen baik yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efesian”.

Sedangkan Irham Fahmi (2013:2), mengemukakan bahwa :

Manajemen keuangan merupakan penggabungan dari ilmu dan seni yang membahas, mengkaji dan menganalisis tentang bagaimana seorang manajer keuangan dengan mempergunakan seluruh sumberdaya perusahaan untuk mencari dana, mengelola dana dan membagi dana dengan tujuan pemberian profit atau kemakmuran bagi para pemegang saham dan Suistainanility (keberlanjutan) usaha bagi perusahaan. Dari pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa manajemen keuangan adalah suatu proses dalam aktivitas keuangan perusahaan yang mengkaji tentang bagaimana seorang manajer keuangan dalam mempergunakan sumberdaya perusahaan yang dapat dimulai dari cara memperoleh dana dan mempergunakannya. Di mana penggunaannya harus efektif dan efesien supaya tujuan keuangan perusahaan yang telah ditetapkan dalam perencanaan bisa terwujud.

(2)

82 Anggaran

Menurut Supriyono (2012:40)” Anggaran adalah suatu rencana terinci disusun secara sistematis dan dinyatakan secara formal dalam ukuran kuantitatif, biasanya dalam satuan uang, untuk menunjukkan perolehan dan penggunaan sumber- sumber suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun”.

Sedangkan Nafarin (2013:11) mendefenisikan bahwa “Anggaran (budget)merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan dalam satuan barang/jasa”.

Untuk mencapai tujuan perusahaan secara umum, manajemen selalu berupaya menyusus anggaran dengan sebaik- baiknya, sehingga menghasilkan anggran yang baik pula.

Biaya

Pengertian biaya menurut Mulyadi (2015:8): “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu”.

Menurut Siregar dkk (2013:23): “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk memproleh barang - barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat sekarang atau yang akan datang”.

Berdasarkan penjelasan diatas biaya adalah jumlah uang yang dinyatakan dan sumber-sumber (ekonomi) yang dikorbankan terjadi dan akan terjadi untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai tujuan tersebut.

Anggaran Biaya Operasional

Menurut Rudianto (2009;26) Anggaran operasional adalah rencana kerja perusahaan yang mencakup semua kegiatan utama perusahaan dalam memperoleh pendapatan di dalam suatu periode tertentu. Anggaran biaya operasional adalah semua rencana pengeluaran yang berkaitan dengan distribusi dan penjualan produk perusahaan serta pengeluaran untuk menjalankan roda organisasi. Menurut Munandar (2011:26) penyusunan anggaran biaya operasional yang lazim terjadi pada suatu perusahaan adalah mencakup anggaran berikut :

1. Anggaran Biaya Tetap (Fixed Cost Budgeting), 2. Anggaran Biaya Variabel (Variable Cost Budgeting), 3. Anggaran Biaya Semi-Variabel.

Anggaran Pendapatan

“Anggaran yang merencanakan secara sistematis dan terperinci tentang penghasilan yang diperoleh perusahaan dari waktu ke waktu selama periode tertentu.”

Menurut Kasmir (2017:46), komponen pendapatan yang diperoleh perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok (usaha utama) perusahaan.

2. Pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dari luar usaha pokok perusahaan.

Misalnya : penyusunan anggaran perusahaan sebagi alat manajemen dalam pencapaian tujuan.

Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2017:7), Laporan keuangan adalah: “Laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu”.

Menurut Wahyudiono (2014:10) Laporan keungan adalah: “Laporan pertanggungjawaban manajer atau pimpinan perusahaan atas pengelolaan perusahaan yang dipercayakan kepadanya kepada pihak -pihak luar perusahaan”.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah suatu laporan yang menggambarkan kondisi keuangan perusahaan dalam periode tertentu sesuai dengan prinsip manajemen keuangan.

Kinerja Keuangan

Fahmi (2012:56) yang dikutip oleh Marsel Pongoh (2013) menyatakan kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan dengan baik dan benar. Menurut Munawir (2010:30), kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar penilaian mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap rasio

(3)

83

keuangan perusahaan. Kinerja keuangan merupakan suatu usaha formal untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba dan posisi kas tertentu. Dengan pengukuran kinerja keuangan, dapat dilihat prospek pertumbuhan dan perkembangan keuangan perusahaan. Perusahaan dikatakan berhasil apabila perusahaan telah mencapai suatu kinerja tertentu yang telah ditetapkan. Kinerja keuangan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah return on return on total Asset (ROA) merupakan rasio yang menunjukan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROA juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya.

Return On Assets (ROA)

Menurur Kasmir (2017:201) ROA digunakan untk menunjukkankemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total aset yang dimiliki. Return on Asset (ROA) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan. Return on Asset (ROA) atau yang sering disebut juga Return on Investment (ROI) diperoleh dengan cara membandingkan laba bersih setelah pajak terhadap total aktiva. ROA meerupakan rasio pengukuran profitabilitas yang sering digunakan oleh manajer keuangan untuk mengukur efektivitas dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia.

Kerangka Berpikir

Sumber : Data Diolah Oleh Penulis Hipotesis

Anggaran biaya operasional dan anggaran pendapatan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan berdasarkan Return on asset perusahan.

METODE PENELITIAN Lokasi Dan Objek Penelitian

Adapun lokasi dan objek penelitian ini adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Medan Sumatera Utara.

Jenis Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang diperoleh dalam bentuk angka- angka seperti perencanaan dan realisasi anggaran laporan keuangan pereusahaan.

Sumber Data

Sumber data yang akan menjadi analisis dalam tulisan ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari dokumen-dokumen perusahaan, dari hasil penelitian kepustakaan, dan dari instansi lainnya yang terkait.

Populasi

Populasi menurut Sugiyono (2012:80) didefenisikan sebagai: “Wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”

Anggaran Biaya Operasional

Anggaran Pendapatan

Return On Asset

(ROA) Kinerja Keuangan

(4)

84 Sampel

Sampel menurut Sugiyono (2012:81), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang digunakan oleh penelitian ini adalah Laporan Posisi Keuangan atau Neraca, Laporan Laba Rugi, Anggaran Biaya Operasional dan Anggaran Pendapatan PDAM Medan Sumatera Utara pada periode 2017-2019.

Teknik Pengumpulan Data

Dalam rangka pengumpulan data yang diperlukan bagi penyusun skripsi ini, digunakan beberapa cara sebagai berikut : 1. Riset lapangan yaitu meninjau langsung objek penelitian dengan maksud memperoleh data skunder. Riset lapangan

dapat dilakukan dengan cara :

a. Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung mengenai aktivitas atau kegiatan usaha perusahaan.

b. Interview yaitu melakukan wawancara atau tanya jawab dengan pihak perusahaan.

2. Riset pustaka yaitu untuk memperoleh data sekunder yang sudah diolah atau berdasarkan studi kepustakaan terhadap literatur-literatur yang berkaitan dengan penulisan.

3. Dokumentasi, yaitu mempelajari dokumen-dokumen dan catatan-catatan tentang perusahaan yang diteliti seperti, biaya penjulan serta biaya administrasi dan umum.

Metode Analisis Data

Teknik analisis data data yang diperlukan dalam peneltian ini adalah :

a. Mengumpulkan data Laporan Keuangan yang terdiri dari lapuran neraca dan laporan laba rugi dari tahun 2016-2018 yang diperoleh dari PDAM Tirta Malem Kabanjahe.

b. Menghitung dan menganalisis Rasio Return On Asset (ROA) periode 2017-2019.

c. Mmbandingkan hasil analisis sementara tahun 2017, 2018, dan 2019 sehingga dapat dinilai kinerja Laporan Keuangan tersebut sudah baik apa belum.

d. Menarik kesimpulan dari analisis yang dilakukan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Tabel 4.1. Jumlah Anggaran Biaya Operasional PDAM Medan Tahun 2017-2019 Biaya Operasional Tahun 2017 (Rp) Tahun 2018 (Rp) Tahun 2019 (Rp)

Biaya pegawai 3.232.521.480 3.481.216.974 3.280.604.592

Biaya listrik 2.030.219.772 2.475.760.311 2.473.483.252

Biaya BBM 24.345.960 44.212.156 63.240.000

Biaya pembelian Air Curah/Air

Baku 649.771.116 720.000.000 600.000.000

Biaya pemeliharaan 428.396.081 362.477.850 290.439.745

Biaya ATK dan Barang cetakan 49.922.304 33.831.532 47.445.876

Biaya kantor 363.726.986 505.533.844 433.885.613

Biaya gaji tertunggak 597.707.341 521.691.385 737.357.385 Biaya Rek. Tirtanadi 323.537.000 424.912.500 446.647.200

Biaya ke rekanan 208.378.656 81.680.500 67.820.000

Biaya penyusutan aktiva tetap 133.516.565 133.516.565 133.516.565 Biaya kerugian piutang usaha 1.655.711.835 1.622.641.102 2.035.641.102 Biasa operasional lainnya 65.789.000 70.889.201 72.062.000 Jumlah biaya operasional

lainnya 9.704.333.996 10.478.363.920 10.682.143.330

Sumber : PDAM Tirtanadi Medan Sumatera Utara

(5)

85

Rencana biaya operasional dari tahun 2017 ke tahun 2018 mengalami kenaikan yang signifikan dari pada rencana biaya operasional tahun 2018 ke tahun 2019. Di mana pada tahun 2017 ke tahun 2018, penurunan yang terjadi hanya pada biaya ke rekanan dikarenakan realisasi biaya ke rekanan yang kosong pada tahun 2017 sehingga untuk tahun 2018 anggaran yang dibuat lebih kecil dari tahun sebelumnya dengan harapan terhindar dari penyimpangan. Sedangkan untuk tahun 2018 ke tahun 2019, penurunan terjadi pada biaya pemeliharaan.

Tabel 4.2. Jumlah Realisasi Biaya Operasional PDAM Tirtanadi Medan Tahun 2017-2019 Biaya Operasional Tahun 2017 (Rp) Tahun 2018 (Rp) Tahun 2019 (Rp) Biaya pegawai 2.832.568.511 2.395.929.265 2.627.173.095 Biaya listrik 1.896.021.066 2.049.871.021 2.158.310.184

Biaya BBM 34.009.351 47.253.525 22.036.900

Biaya pembelian Air Curah/Air

Baku - 584.113.625 483.740.500

Biaya pemeliharaan 272.783.500 229.559.925 312.919.985 Biaya ATK dan Barang

cetakan 156.713.076 125.996.863 39.052.172

Biaya kantor 591.764.655 672.621.609 584.702.408

Biaya gaji tertunggak - 713.407.295 1.201.957.200

Biaya Rek. Tirtanadi 347.553.125 43.749.000 -

Biaya ke rekanan - - 209.691.250

Biaya penyusutan aktiva tetap 120.768.215 646.502.200 1.760.753.842 Biaya kerugian piutang usaha 1.496.963.743 1.845.197.958 1.896.157.618 Biasa operasional lainnya 70.889.201 72.062.000 53.122.000 Jumlah biaya operasional

lainnya 7.820.034.443 9.426.264.286 11.349.617.153

Sumber : PDAM Tirtanadi Medan Sumatera Utara

Dari analisis di atas, dibuktikan bahwa anggaran biaya operasional memegang peran yang cukup penting untuk terhindarnya dari penyimpangan yang merugikan perusahaan. Hal terburuk yang dapat terjadi adalah ketidakmapuan perusahaan untuk menutupi segala kerugian yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu, anggaran yang dibuat harus dikondisikan dan dibandingkan dengan tepat antara anggaran dan relaisasi dari tahun-tahun sebelumnya guna membuat anggaran yang tepat di tahun yang akan datang. Maka ada baiknya perencanaan yang telah direncanakan dihitung jumlah penyimpangannya seperti rencana dan realisasi biaya operasional yang terjadi pada tahun 2017, 2018 dan 2019 untuk membuat rencana yang lebih baik di tahun selanjutnya.

Tabel 4.3. Penyimpangan Realisasi Dari Anggaran Biaya Operasional PDAM Tirtanadi Medan Tahun 2017 Biaya Operasional Anggaran

(Rp) Realisasi

(Rp) Penyimpangan

Jumlah(Rp) Persentasi(%) Biaya pegawai 3.232.521.480 2.832.568.511 399.952.969 12,3 Biaya listrik 2.030.219.772 1.896.021.066 134.198.706 6,62

Biaya BBM 24.345.960 34.009.351 9.663.391 39,69

Biaya pembelian Air

Curah/Air Baku 649.771.116 - 0 0

Biaya pemeliharaan 428.396.081 272.783.500 155.612.581 36,33 Biaya ATK dan Barang

cetakan 49.922.304 156.713.076 106.790.772 213,92

Biaya kantor 363.726.986 591.764.655 228.037.679 62,70

(6)

86 Sumber : Olahan Penulis (2019)

Penyimpangan yang melebihi 5% sudah merupakan penyimpangan yang cukup besar, tetapi bagi perusahaan penyimpangan yang cukup besar jika anggaran yang dibuat melebihi 10% dari realisasinya. Pada tabel 4.3 dapat dilihat bahwa jumlah rencana biaya operasional perusahaan tahun 2017 adalah Rp. 9.704.333.996, sedangkan realisasinya lebih kecil yaitu Rp. 7.820.034.443. Hal ini dikarenakan banyaknya biaya yang tidak dapat dikeluarkan dalam realisasi biaya operasional perusahaan, jadi walaupun terjadi penyimpangan yang cukup besar dalam beberapa poin biaya operasional namun jumlah biaya operasional tidak melebihi anggaran yang telah dibuat. Salah satu contoh penyimpangannya yang cukub besar terjadi pada biaya ATK dan barang cetakan yang mencapai 213,92% dan biaya kantor yang mencapai 62,70%.

Maka untuk tahun selanjutnya, anggaran untuk biaya ATK dan barang cetakan juga biaya kantor harus lebih rendah dari biaya tahun ini untuk menghindari penyimpangan yang mungkin terjadi di tahun selanjutnya.

Tabel 4.4. Penyimpangan Realisasi Dari Anggaran Biaya Operasional PDAM Tirtanadi Medan Tahun 2018

Sumber : Olahan Penulis (2019)

Biaya gaji tertunggak 597.707.341 - 0 0

Biaya Rek. Tirtanadi 323.537.000 347.553.125 24.016.125 7,43

Biaya ke rekanan 208.378.656 - 0 0

Biaya penyusutan aktiva

tetap 133.516.565 120.768.215 12.748.350 9,55

Biaya kerugian piutang

usaha 1.655.711.835 1.496.963.743 158.748.092 9,59

Biasa operasional lainnya

65.789.000 70.889.201 5.100.201 7,75 Jumlah biaya operasional

lainnya 9.704.333.996 7.820.034.443 1.884.299.553 19,41

Biaya Operasional Anggaran

(Rp) Realisasi

(Rp) Penyimpangan

Jumlah(Rp) Persentasi(%) Biaya pegawai 3.481.216.974 2.395.929.265 1.085.287.709 31,17 Biaya listrik 2.475.760.311 2.049.871.021 425.889.290 17,20

Biaya BBM 44.212.156 47.253.525 3.041.369 6,87

Biaya pembelian Air

Curah/Air Baku 720.000.000 584.113.625 135.886.375 18,87 Biaya pemeliharaan 362.477.850 229.559.925 135.917.925 36,67 Biaya ATK dan

Barang cetakan 33.831.532 125.996.863 92.165.331 272,42

Biaya kantor 505.533.844 672.621.609 167.087.765 33,05

Biaya gaji tertunggak 521.691.385 713.407.295 191.715.910 36,75 Biaya Rek. Tirtanadi 424.912.500 43.749.000 381.163.500 87,70

Biaya ke rekanan 81.680.500 - 0 0

B.penyusutan aktiva

tetap 133.516.565 646.502.200 512.985.635 384,21

Biaya kerugian

piutang usaha 1.622.641.102 1.845.197.958 222.556.856 13,71 Biasa operasional

lainnya 70.889.201 72.062.000 1.172.799 1,65

Jumlah biaya

operasional lainnya 10.478.363.920 9.426.264.286 1.052.099.634 10,04

(7)

87

Pada tabel 4.4 di atas, dapat dilihat bahwa jumlah anggaran biaya operasional perusahaan tahun 2018 adalah Rp.

10.478.363.920, sedangkan realisasinya lebih kecil yaitu sebesar Rp. 9.426.264.286. Terdapat penyimpangan yang lebih besar dari tahun sebelumnya yaitu Rp. 1.052.099.634 dengan persentase melebihi 5% yaitu 10,04% dari anggaran biaya operasional. Namun hal ini tidak sampai merugikan perusahan. Penyimpangan yang paling besar pun terdapat pada biaya penyusutan aktiva tetap dengan persentase penyimpangan mencapai 384,21%. Hal ini dikarenakan banyanya aktiva tetap perusahaan yang dibiarkan tak terpakai kembali dan menjadi sampah rongsokan dengan nilai penyusutan yang selalu ada.

Sedangkan penyimpangan yang paling kecil terdapat pada biasa operasional lainnya yaitu 1,65, lebih kecil dari 5%. Maka dari itu untuk tahun selanjutnya nilai realisasi biaya operasional tersebut akan menjadi nilai anggaran di tahun selanjutnya.

Tabel 4.5. Penyimpangan Realisasi Dari Anggaran Biaya Operasional PDAM Tirtanadi Medan Tahun 2019

Sumber : Olahan Penulis (2019)

Pada tabel 4.5 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah recana biaya operasional perusahaan tahun 2019 adalah Rp.

10.682.143.330, sedangkan realisasinya lebih besar yaitu Rp. 11.349.617.153, terjadi penyimpangan yang melebihi anggaran dengan persentasi penyimpangan lebih besar dari 5% dengan harga Rp. 667.473.820 yaitu 6,25%. Penyimpangan yang besar terjadi lagi pada Biaya penyusutan aktiva tetap dengan nilai penyimpangan mencapai Rp. 1.627.237.277 dan persentase sebesar 1218,75%. Hal ini dikarenakan ternyata perusahaan masih juga belum menjual aset tetap tak terpakainya untuk menghilangkan nilai penyusutan pada aktiva tersebut.

Tabel 4.6. Jumlah Anggaran Pendapatan Air PDAM Tirtanadi Tahun 2017-2019 Pendapatan Air Tahun 2016 (Rp) Tahun 2017 (Rp) Tahun 2018 (Rp)

Kabanjahe 5.584.495.200 305.349.000 7.332.275.400

Barusjahe 297.537.000 140.397.000 409.272.600

Tiga Binaga 403.011.000 116.868.600 533.520.000

Biaya Operasional Anggaran

(Rp) Realisasi

(Rp) Penyimpangan

Jumlah(Rp) Persentasi(%) Biaya pegawai 3.280.604.592 2.627.173.095 653.431.497 19,92 Biaya listrik 2.473.483.252 2.158.310.184 315.173.068 12,74

Biaya BBM 63.240.000 22.036.900 41.203.100 65,15

Biaya pembelian Air

Curah/Air Baku 600.000.000 483.740.500 116.259.500 19,38

Biaya pemeliharaan 290.439.745 312.919.985 22.480.240 7,74 Biaya ATK dan Barang

cetakan 47.445.876 39.052.172 8.393.704 17,69

Biaya kantor 433.885.613 584.702.408 150.816.795 34,76

Biaya gaji tertunggak 737.357.385 1.201.957.200 464.599.815 63,01

Biaya Rek. Tirtanadi 446.647.200 - 0 0

Biaya ke rekanan 67.820.000 209.691.250 141.871.250 209,19 Biaya penyusutan aktiva

tetap 133.516.565 1.760.753.842 1.627.237.277 1218,75

Biaya kerugian piutang

usaha 2.035.641.102 1.896.157.618 139.483.484 6,86

Biasa operasional

lainnya 72.062.000 53.122.000 18.940.000 151,17

Jumlah biaya

operasional lainnya 10.682.143.330 11.349.617.153 667.473.820 6,25

(8)

88

Tiga Panah 172.942.600 199.218.000 589.269.600

Lau Baleng 14.016.000 32.630.400 80.020.800

Simpang Empat - 65.260.800 195.771.600

Kuta Buluh 81.865.200 32.630.400 27.937.200

Juhar 74.362.200 65.260.800 155.466.000

Munte 40.699.500 39.843.600 99.189.000

Perbesi - 63.372.000 48.574.800

Kidupen - 56.158.800 45.709.600

Singgamanik 21.369.600 - 62.824.200

Payung 38.547.800 - 105.198.000

Jumlah 6.810.989.500 1.116.989.400 9.705.029.000

Sumber : PDAM Tirtanadi Medan Sumatera Utara

Pada tabel 4.6 di atas diketahui bahwa pendapatan air pada perusahaan menurun drastis di tahun 2018 yaitu sebesar Rp.1.116.989.400 dari tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp.6.810.989.500. Hal ini dikarenakan konsumen tidak memperoleh air dengan lancar akibat kebocoran pipanisasi sehingga konsumen terpaksa membeli air dari sumur bor yang terdapat di Kabanjahe. Bagian kotak yang kosong pada tabel memperlihatkan bahwa perusahaan sudah memperkirakan desa tersebut tidak akan membayar rekening airnya akibat ketidaklancaran pendistribusian air bersih ke rumah mereka.

Tabel 4.7. Jumlah Realisasi Pendapatan Air PDAM Tirtanadi Tahun 2017-2019 Pendapatan Air Tahun 2016 (Rp) Tahun 2017 (Rp) Tahun 2018 (Rp)

Kabanjahe 5.767.867.600 5.776.343.850 5.729.467.450

Barusjahe 284.074.650 294.659.250 300.265.000

Tiga Binaga 414.296.650 430.908.600 395.159..550

Tiga Panah 276.782.450 406.493.550 402.915.950

Lau Baleng 65.678.000 71.084.000 29.039.000

Simpang Empat 17.514.500 20.935.750 10.736.000

Kuta Buluh 100.625.600 119.452.650 140.159.700

Juhar 108.147.900 103.933.750 100.537.650

Munte 80.847.350 79.143.300 81.866.150

Perbesi 42.721.250 42.720.050 10.680.000

Kidupen - - -

Singgamanik 20.586.350 27.176.200 33.760.850

Payung 92.232.450 73.147.550 14.664.000

Jumlah 7.271.374.750 7.445.998.500 7.249.251.300

Sumber : PDAM Tirtanadi Medan Sumatera Utara

Pada tabel 4.7 memperlihatkan bahwa jumlah pendapatan tiap tahunnya bergerak fruktuasi yang mana pendapatan air terbesar diperoleh pada tahun 2018 yaitu sebesar Rp.7.445.998.500 sedangkan tahun selanjutnya kembali menurun menjadi Rp.7.249.251.300. Hal ini dikarenakan peningkatan penggunaan air perusahaan oleh desa Tiga Binanga dan Tiga Panah juga tidak terjadi tersendatnya pembayaran oleh kedua desa tersebut. Berdasarkan anggaran yang telah dibuat, perusahaan mengalami penyimpangan di tahun 2018 yang mana anggran mencapi Rp.9.705.029.000 sedangkan realisasinya hanya Rp.7.249.251.300. Hal ini disebabkan oleh penganggaran pada kota kabanjahe yang terlalu besar dan kosongnya realisasi pada desa Kidupen padahal sudah dibuat penganggaran sebesar Rp.45.709.600.

Analisis Return On Aset Pada Perusahaan

Kinerja keuangan yang digunakan dalam hal ini adalah return on return on total Asset (ROA) merupakan rasio yang menunjukan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROA juga merupakan suatu ukuran

(9)

89

tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya. Berikut adalah perhitungan untuk memperoleh ROA dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 pada perusahaan.

Tahun 2017 ROA =

aktiva Total

pajak sesudah bersih

Laba ROA =

= 0.21 Tahun 2018

ROA =

= -0,11 Tahun 2019

ROA =

= -0,16

Tabel 4.9. Hasil Perhitungan Return On Aset

Tahun Hasil

2017 0,21

2018 -0,11

2019 -0,16

Sumber : Olahan penulis (2019)

Pada tahun 2018 hingga tahun 2019, perusahaan memperoleh kerugian yang menyebabkan laba bernilai minus hingga ROA yang diperoleh -0,11 untuk tahun 2018 dan -0,157 untuk tahun 2019 yang artinya kinerja perusahaan dalam keadaan tidak baik.

Pembahasan Hasil Penelitian

Perencanaan Biaya Operasional Terhadap Return On Aset

ROA PDAM Tirta Malem Kabanjahe dari tahun 2017 hingga 2019 mengalami fluktuasi bahkan cenderung merugi pada tahun 2018 hingga 2019 pengaruh yang sangat besar disebabkan oleh perolehan laba yang terus menurun hingga mengalami kerugian. Sedangkan total asset tiap tahun bertambah besar,, kerugian yang dialami PDAM ini disetiap tahunnya menyebabkan rasio ROA menjadi semakin kecil. Berikut adalah tabel yang memperlihatkan hasil anggaran dan realisasi biaya operasional pada perusahaan pada tahun 2017-2019.

Tabel 4.10. Anggaran dan Realisasi Biaya Operasional PDAM Tirtanadi Medan Tahun 2017-2019

Tahun Anggaran Realisasi Selisih Persentase

2017 12.704.333.994 7.820.034.443 4.884.299.551 19,41%

2018 10.478.363.921 9.426.264.286 1.052.099.635 10,04%

2019 10.682.143.326 11.349.617.153 667.473.827 6,25%

Sumber : Olahan penulis (2019)

(10)

90

Pada tabel 4.10 memperlihatkan perolehan biaya operasional yang selalu meningkat tiap tahunnya. Terutama pada tahun 2019 yang mengalami penyimpangan karena realisasinya melebihi anggaran dengan selisih sebesar Rp.667.473.827, mengakibatkan perolehan laba menjadi menurun hingga mengalami minus yaitu sebesar minus Rp.3.580.498.178. Hal ini lah mengakibatkan perolehan ROA tidak mencapai nilai satu atau pun positif yaitu sebesar -0,16. Hal ini juga diakibatkan meningkatnya aset tetap perusahaan yang berupa pompa air. Begitu juga dengan tahun 2018 yang memperoleh biaya operasonal sebesar Rp.9.426.264.286 dengan selisi Rp.1.052.099.635 dari anggaran yang dibuat. Persentase selisihnya yang mencapai 10,04% mengakibatkan perolehan laba bersih menurun hingga minus Rp.1.739.620.521. Hal ini lah yang mengakibatkan perolehan ROA kembali menurun dari tahun sebelumnya yaitu sebesar -0,11. Yang artinya tingkat ROA yang diperoleh perusahaan belum memiliki kemampuan dalam menghasilkan tingkat pengembalian atas aset menjadi laba bersih.

Perencanaan Pendapatan Perusahaan Terhadap Return On Aset

Berikut adalah tabel yang memperlihatkan hasil pendapatn air dan non-air perusahaan pada tahun 2017-2019.

Tabel 4.11. Anggaran Dan Realisasi Pendapatan PDAM Tirtanadi Medan Tahun 2017-2019

Tahun Anggaran Realisasi Selisih Persentase

2016 7.604.222.500 35.944.381.857 28.340.159.357 472,6%

2017 10.218.323.000 13.164.945.200 2.964.622.200 128,8%

2018 10.746.574.800 16.423.433.200 5.676.858.400 152,8%

Sumber : Olahan penulis (2019)

Pada tabel 4.11 di atas memperlihatkan pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan bergerak fluktasi. Dengan perolehan tertinggi terjadi di tahun 2017 sebesar Rp.35.994.381.857 yang mana anggaran yang dibuat lebih kecil dari realisasinya yaitu sebesar Rp.7.604.222.500. Hal ini memperlihatkan selisih yang sangat besar yang mengartikan pendapatan perusahaan berada dalam nilai positif dan baik. Namun tahun selanjutnya perusahaan tidak menaikkan anggaran dengan terlalu besar karena melihat dari keadaan pada tahun 2018 yang dilakukan perbaikan jalan sepanjang jalan Kabanjahe hingga Berastagi.

Terbukti pada tahun 2018 pendapatan perusahaan menurun drastis dengan realisasi hanya mencapai Rp.13.164.945.200 dari anggarannya yaitu sebesar Rp.10.218.323.000 dengan selisih persentase 128,8%. Nilai ROA pada tahun 2017 dipengaruhi oleh laba perusahaan yang diperoleh berdasarkan pendapatan dan biaya operasional tiap tahunnya. Dapat kita lihat bahwa pendapatan pada tahun 2017 lebih besar daripada target pendapatannya walaupun tingginya realisasi pendapatan ini disebabkan oleh dana hibah yang diberikan pada PDAM. Biaya operasional perusahaan mengalami penurunan dari yang direncanakan sehingga pada tahun ini perusahaan masih mengalami keuntungan yang tidak besar hingga ROA diperoleh hanya sebesar 0,21. Sedangkan kerugian yang dialami pada tahun 2018, yang mempengaruhi kecilnya nilai ROA (-0,11) ini disebabkan karena kecilnya pendapatan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp.13.164.945.200 lalu diakibatkan dari tingginya biaya operasional perusahaan walaupun sebenarnya anggaran pendapatan lebih besar dari yang direncanakan. Kemudian pada tahun 2019, ROA menjadi semakin kecil dikarenakan total aset yang mengalami kenaikan pesat sedangkan perusahaan mengalami kerugian dengan perolehan laba mencapai minus Rp.3.580.498.178. Ini dapat dilihat juga dari realisasi biaya operasional lebih tinggi daripada yang dianggarkan, walaupun realisasi dari anggaran pendapatan lebih besar dari yang direncanakan namun pada kenyataan sebenarnya perusahaan mengalami kerugian ini disebabkan karena realisasi anggaran ditambahkan dengan dana hibah.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :

1. ROA PDAM Tirta Malem Kabanjahe dari tahun 2016 hingga 2018 mengalami fluktuasi bahkan cenderung merugi pada tahun 2017 hingga 2018 pengaruh yang sangat besar disebabkan oleh perolehan laba yang terus menurun hingga mengalami kerugian. Sedangkan total asset tiap tahun bertambah besar. Kerugian yang dialami PDAM ini disetiap tahunnya menyebabkan rasio ROA menjadi semakin kecil. Laba yang kecil juga dipengaruhi atas biaya operasional yang besar seperti pada tahun 2018 yang mengalami penyimpangan karena realisasinya melebihi anggaran dengan selisih

(11)

91

sebesar Rp.667.473.827, mengakibatkan perolehan laba menjadi menurun hingga mengalami minus sebesar Rp.3.580.498.178. Hal ini lah mengakibatkan perolehan ROA tidak mencapai nilai satu atau pun positif yaitu sebesar - 0,16. Yang artinya tingkat ROA yang diperoleh perusahaan belum memiliki kemampuan dalam menghasilkan tingkat pengembalian atas aset menjadi laba bersih.

2. Pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan bergerak fluktasi. Dengan perolehan tertinggi terjadi di tahun 2016 sebesar Rp.35.994.381.857 yang mana anggaran yang dibuat lebih kecil dari realisasinya yaitu sebesar Rp.7.604.222.500. Dapat kita lihat bahwa pendapatan pada tahun 2016 lebih besar daripada target pendapatannya walaupun tingginya realisasi pendapatan ini disebabkan oleh dana hibah yang diberikan pada PDAM. Biaya operasional perusahaan mengalami penurunan dari yang direncanakan sehingga pada tahun ini perusahaan masih mengalami keuntungan yang tidak besar hingga ROA diperoleh hanya sebesar 0,21.

3. Pada tahun 2017 pendapatan perusahaan menurun drastis dengan realisasi hanya mencapai Rp. 13.164.945.200 dari anggarannya yaitu sebesar Rp.10.218.323.000 dengan selisih persentase 128,8%.Sedangkan kerugian yang dialami pada tahun 2017, yang mempengaruhi kecilnya nilai ROA (-0,11) ini disebabkan karena kecilnya pendapatan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp. 13.164.945.200 lalu diakibatkan dari tingginya biaya operasional perusahaan walaupun sebenarnya anggaran pendapatan lebih besar dari yang direncanakan. Kemudian pada tahun 2018, ROA menjadi semakin kecil dikarenakan total aset yang mengalami kenaikan pesat sedangkan perusahaan mengalami kerugian dengan perolehan laba mencapai minus Rp.3.580.498.178.

Saran

Berdasarkan hasil temuan dari penelitian ini, maka peneliti merumuskan beberapa saran, sebagai berikut :

1. Diharapkanuntuk meningkatkan ROA perusahaan dapat dilakukan dengan meningkatkan margin perusahaan yaitu dengan mengurangi biaya operasional, karena terbukti seberapa besar biaya operasional yang dimiliki sebuah perusahaan akan mempengaruhi besar kecilnya ROA yang akan diperoleh perusahaan. Maka ada baiknya selalu dilakukan penganggaran pada tiap biaya operasional perusahaan agar terhindarnya dari penyimpangan sehingga perusahaan dapat mengambil tindakan yang tepat guna menghindari kerugian yang lebih besar guna memperoleh laba yang sudah diharapkan perusahaan.

2. Diharapkan pemimpin perusahaan dapat meminta kesadaran semua pegawai agar sama-sama menggunakan segala alternatif kantor seperlunya untuk menghemat biaya operasioanal perusahaan dan ada baiknya menggunakan tipe pengawasan pendahuluan yang mana tipe ini mendeteksi masalah-masalah dan mengambil tindakan yang diperlukan sebelum suatu masalah tersebut terjadi.

3. Diharapkan perusahaan melakukan pelayanan yang lebih baik lagi bagi para konsumen dengan menangani masalah kebocoran pipa atau tersendatnya penyaluran air agar konsumen dapat membayar tagihan airnya dengan lancar dan meningkatnya perolehan pendapatan non-air dari sambungan baru yang dilakukan hingga penyimpangan anggaran pendapatan pun tak terjadi dan merugikan pihak perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Fahmi, Irham. 2013. Pengantar Manajemen Keuangan. Edisi keempat. Alfabeta. Bandung.

Kasmir. 2014. Analisis Laporan Keuangan. Cetakan Kesembilan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Riyanto, Bambang. 2011. Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan. Edisi Keempat. Yogyakarta : Yayasan Penerbit Gajah Mada.

Sudana, Made I. 2011. Manajemen Keuangan Perusahaan. Erlangga, Jakarta.

Sugiyono, 2017. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta,

Referensi

Dokumen terkait

Jika dilihat lebih dalam pada internal industri perbankan syariah, variabel interaksi D1 dengan RR menunjukkan bahwa BUS mendapatkan tambahan tingkat DPK yang lebih besar

a) Wilayah A merupakan stakeholders dengan tingkat pengaruh tinggi dalam implementasi program agropolitan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi tetapi

Apabila terdapat komponen yang menggunakan mata uang asing, maka nilai tukar yang dipakai untuk membandingkan adalah nilai kurs tengah Bank Indonesia yang berlaku pada saat satu

Albatross Eagle Birdie Par Hole  in  One Contribution idr 100 Million Contribution idr 50 Million Contribution idr 25 Million Contribution idr 10 Million Contribution idr 25

Analisis komponen utama (AKU) terhadap rataan spektrum inframerah yang dihasilkan dari kombinasi segitiga kisi 6 ekstrak SDSBL menghasilkan jumlah proporsi kumulatif KU 1 dan KU

Di samping itu, hal tersebut didukung dengan informasi dari guru yang mengajar Alquran di sekolah tersebut bahwa kebanyakan siswa masih belum dapat dikatakan

Maka dari itu, penulis mengadakan suatu penelitian untuk dapat memahami lebih lanjut tentang Evaluasi Kinerja BPBD Kabupaten Badung dan faktor pendukung serta penghambat

Foto morfologi permukaan dari spesimen baja dalam larutan NaCl yang telah dilapisi ekstrak daun teh selama 24 jam, setelah itu direndam pada medium korosif pada perendaman