Persiapan untuk pemeriksaan:
Rontgen
Laparoskopi
Cardiotocography (CTG)
Non-stress test
Contraction stress test
Biophysical profile
Doppler velocimetry
Radiodiagnostic (Rontgen) merupakan
pemeriksaan yang menggunakan Sinar X
untuk dapat menampilkan organ tubuh.
Memotret bagian-bagian dalam tubuh, yang
kemudian dijadikan sebagai alat diagnosa untuk dasar pengobatan.
Skrining berbagai
kelainan yang ada pada organ.
Mendeteksi kelainan pada berbagai organ:
Dada, jantung, abdomen,
Lakukan informed consent.
Tidak ada
pembatasan
makanan atau
cairan.
Rontgen jantung:
Foto PA dan lateral kiri diindikasikan
untuk mengevaluasi ukuran dan bentuk jantung.
Perhiasan pada leher harus dilepaskan.
Baju diturunkan
hingga ke pinggang.
Rontgen dada:
Foto dengan posisi PA (posterior-
anterior), posisi AP (anterior-posterior) dan lateral dilakukan dengan posisi berdiri.
Baju diturunkan
sampai ke pinggang.
Baju kertas atau baju kain dapat digunakan.
Perhiasan dilepaskan.
Anjurkan pasien untuk tarik napas dan
Rontgen abdomen:
Pelaksanaan foto dilakukan sebelum pemeriksaan IVP.
Baju dilepaskan dan digunakan baju kain/
kertas.
Pasien tidur telentang dengan tangan
menjauh dari tubuh.
Rontgen tengkorak:
Sebelum
pelaksanaan foto:
penjepit rambut, kaca mata, gigi palsu harus
dilepaskan.
Rontgen rangka:
Bila dicurigai
terdapat fraktur.
Anjurkan puasa (jika
Laparoskopi merupakan tindakan bedah yang
menggunakan teknik Minimaly invasive
surgery (bedah invasif minimal)
Menggunakan
teleskop/kamera kecil yang dimasukkan
kedalam perut dan
instrumen bedah dalam bentuk mini.
Sering dikenal sebagai istilah awamnya
“diteropong”.
Mendiagnosis adanya kelainan (Laparoskopi Diagnostik):
Diagnosis untuk melihat adanya kelainan pada kasus infertilitas (susah punya anak).
Tindakan operasi
tertentu (Laparoskopi Operatif):
Sterilisasi.
Pembebasan
Melihat saluran telur (tuba) dan memperbaiki bila ada kelainan.
Operasi hamil di luar kandungan.
Pengangkatan kista, mioma.
Pengangkatan rahim (histerektomi).
Operasi radikal pada kanker kandungan.
Dll.
Kulit bagian pusar
dibersihkan dan ditutup dengan kain kassa yang telah dibasahi dengan alkohol.
Dilakukan pengosongan usus besar untuk
membuang sisa-sisa kotoran (klisma).
Diberikan obat pencahar, premedikasi, antibiotik profilaksis.
Pasien dirawat minimal 12 jam pra-operasi
dengan membawa hasil pemeriksaan
laboratorium, rontgen dada, konsultasi ahli jantung dan lainnya sesuai indikasi.
Puasa selama 8 jam sebelum tindakan
operasi.
Dilakukan dengan membuat dua atau tiga lubang kecil (berdiameter 5-10 milimeter) pada dinding perut pasien.
Satu lubang pada pusar digunakan untuk memasukkan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor.
Dua lubang yang lain untuk instrumen bedah yang lain.
Selanjutnya digunakan gas karbondioksida
(CO2) untuk
mengembangkan rongga perut sehingga mudah melakukan tindakan.
Namun ada pula teknik yang melihat langsung tanpa gas dengan
mengangkat kulit dinding perut dengan alat khusus (gasless laparoscopy).
Teknik
anestesi/pembiusan yang digunakan
umumnya anestesi umum.
Cardiotocography (CTG) adalah teknik merekam denyut jantung fetal dan
kontraksi uterus selama kehamilan, terutama
pada trimester ketiga.
Alat yang digunakan disebut:
Cardiotocograph / electronic fetal
monitor / external fetal monitor (EFM).
Nonstress test (bila digunakan selama trimester III).
Untuk memonitor kesejahteraan fetal
Hasil positif (baik) ditunjukkan dengan
reactive non-stress test.
Hal ini berarti bahwa frekuensi jantung fetal meningkat (akselerasi) sedikitnya 15 x/menit
selama sedikitnya 15 detik pada sedikitnya dua kali selama interval 20 menit.
Contraction stress test / stress test
Digunakan selama persalinan.
Biophysical profile.
Digunakan ketika
nonstress test tidak reaktif (non reactive).
Doppler velocimetry.
Cardiotocography digunakan untuk :
Mengidentifikasi tanda dan gejala fetal distress.
Memonitor kontraksi uterus.
Memonitor keempat
gambaran denyut jantung fetal:
Baseline heart rate
Variabilitas
Akselerasi
Deselerasi
Kontraksi uterus –
waktu antara kontraksi, yang mengurangi
kemajuan persalinan.
Diukur sebagai angka dari kontraksi yang
terdapat dalam 10 menit dan di rata-rata pada 30 menit.
Normal jika ≤ 5 kontraksi dalam 10 menit; jika > 5 kontraksi dalam 10 menit menunjukkan adanya
tachysystole.
Baseline heart rate – rata-rata baseline denyut jantung fetal (normal
110–160).
Variabilitas – variabilitas denyut jantung fetal dari baseline per menit
(normal ≥5).
Akselerasi –
peningkatan denyut jantung fetal dari
baseline pada sedikitnya 15 denyut/menit, berakhir selama
sedikitnya 15 detik.
Normalnya harus
Deselerasi –
penurunan denyut jantung fetal dari baseline pada sedikitnya 15 denyut/menit, berakhir selama
sedikitnya 15 detik.
Normalnya minimal.
Sebaiknya dilakukan 2 jam setelah makan.
Waktu pemeriksaan selama 20 menit,
Selama pemeriksaan posisi ibu berbaring nyaman dan tak
menyakitkan ibu maupun bayi.
Bila ditemukan kelainan maka pemantauan
dilanjutkan dan dapat segera diberikan
pertolongan yang sesuai.
Konsultasi langsung dengan dokter
kandungan.
Persetujuan tindak medik (Informed Consent) :
Menjelaskan indikasi
Cara pemeriksaan
Kemungkinan hasil yang akan didapat.
Persetujuan tindak medik ini dilakukan oleh dokter penanggung jawab
pasien (cukup
persetujuan lisan).
Kosongkan kandung kencing.
Ibu tidur terlentang, bila ada tanda-tanda
insufisiensi utero-
plasenter atau gawat janin, ibu tidur miring ke kiri dan diberi oksigen 4 liter / menit.
Lakukan pemeriksaan Leopold untuk
menentukan letak,
presentasi dan punktum maksimum DJJ.
Hitung DJJ selama satu
Pasang transduser untuk tokometri di daerah fundus uteri dan DJJ di daerah
punktum maksimum.
Dikerjakan dengan menggunakan dua transduser.
Transduser pertama untuk mengukur kontraksi
uterus.
Transduser kedua untuk mengukur denyut jantung fetal.
Masing-masing transduser diletakkan pada bagian luar atau bagian dalam.
Bagian luar terdiri dari dua sensor yang direkatkan atau dililitkan pada dinding
abdomen.
Sensor ultrasonik
jantung, mirip Doppler fetal monitor, yang secara
kontinyu memancarkan ultrasound dan mendeteksi denyut jantung fetal.
Pressure-sensitive
contraction transducer, yang disebut
tocodynamometer (toco), mengukur tegangan dari dinding abdomen maternal
Bagian dalam mengukur derajat dilatasi servikal, dengan memasukkan pressure catheter
kedalam rongga uterus, serta meletakkan scalp electrode pada kepala fetal untuk mengukur denyutan secara
adequat.
Transduser bagian dalam mengukur lebih tepat,
dan dapat
memperkirakan
kemungkinan komplikasi
Setelah transduser terpasang baik, beri tahu ibu bila janin terasa
bergerak, pencet bel yang telah disediakan dan hitung berapa
gerakan bayi yang dirasakan oleh ibu
selama perekaman CTG.
Hidupkan komputer dan Kardiotokograf.
Lama perekaman adalah 30 menit (tergantung
keadaan janin dan hasil yang ingin dicapai).
Lakukan dokumentasi data pada disket
komputer (data untuk rumah sakit).
Matikan komputer dan mesin kardiotokograf.
Bersihkan dan rapikan kembali
Beri tahu pada pasien bahwa pemeriksaan telah selesai.
Berikan hasil rekaman CTG kepada dokter
penanggung jawab atau paramedik membantu membacakan hasil interpretasi komputer secara lengkap kepada dokter. PARAMEDIK (BIDAN) DILARANG MEMBERIKAN
INTERPRETASI HASIL CTG KEPADA PASIEN
Ultrasonography
(USG) adalah teknik imaging untuk
diagnosis atau evaluasi.
Menggunakan
gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound: 2 – 18 megahertz) untuk memetakan
(mapping) gambaran struktur internal
tubuh.
Gelombang ultrasound di transmisikan melalui
transduser, yang juga mendeteksi jalur interaksi
gelombang
suara dengan
Menentukan usia gestasi secara lebih tepat pada kasus yang akan menjalani seksio sesarea berencana, induksi persalinan atau pengakhiran kehamilan secara elektif.
Perbedaan bermakna antara besar uterus dengan usia gestasi
berdasarkan tanggal hari pertama haid terakhir
(HPHT).
Evaluasi pertumbuhan janin, pada pasien yang telah diketahui menderita insufisiensi
uteroplasenter, misalnya:
Preeklampsia berat, hipertensi kronik,
penyakit ginjal kronik, atau diabetes mellitus berat.
Menderita gangguan
nutrisi sehingga dicurigai terjadi pertumbuhan janin terhambat, atau
makrosomia.
Kecurigaan adanya kehamilan ganda berdasarkan
ditemukannya dua DJJ yang berbeda frekuensinya atau tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan usia gestasi, dan
atau ada riwayat
pemakaian obat-obat pemicu ovulasi.
Pengamatan serial pertumbuhan janin pada kehamilan
ganda.
Perdarahan per- vaginam pada kehamilan yang
penyebabnya belum diketahui.
Pemeriksaan janin
pada wanita usia
Menentukan bagian terendah janin bila pada saat persalinan bagian terendahnya sulit ditentukan atau letak janin masih
berubah-ubah pada trimester ketiga akhir.
Teraba masa pada daerah pelvik.
Kecurigaan adanya mola hidatidosa.
Suspek kehamilan ektopik.
Membantu tindakan amniosentesis atau biopsi villi koriales.
Pengamatan lanjut letak plasenta pada kasus plasenta
praevia.
Menentukan taksiran berat janin dan atau presentasi janin
pada kasus ketuban pecah preterm dan atau persalinan
preterm.
Evaluasi tindakan pengikatan serviks
Penilaian profil
biofisik janin pada kehamilan diatas 28 minggu.
Observasi pada
tindakan intrapartum,
misalnya versi atau
ekstraksi pada janin
kedua gemelli,
Alat bantu dalam tindakan khusus, misalnya fetoskopi, transfusi intrauterin, tindakan “shunting”, fertilisasi in vivo,
transfer embrio, dan
“chorionic villi
sampling” (CVS).
Kecurigaan adanya kematian mudigah / janin.
Kadar serum alfa feto protein
abnormal.
Pengamatan lanjut pada kasus yang dicurigai menderita cacat bawaan.
Riwayat cacat bawaan pada kehamilan
sebelumnya.
Kecurigaan adanya
hidramnion atau oligohidramnion.
Kecurigaan
terjadinya solusio plasentae.
Alat bantu dalam tindakan versi
Kecurigaan adanya
abnormalitas uterus.
Lokalisasi alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
Pemantauan
perkembangan
folikel.
Tanyakan apakah ia seorang nyonya atau nona, terutama bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal.
Cocokkan identitas pasien, keluhan klinis dan
pemeriksaan fisik yang ada.
Berikan penjelasan dan ajukan persetujuan
terhadap tindakan medik yang akan dilakukan.
Mintakan persetujuan tindak medik tertulis, terutama
tindakan yang bersifat invasif misalnya
amniosintesis.
PERSIAPAN PEMERIKSA
Cuci tangan sebelum dan setelah kontak langsung dengan pasien, setelah kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, dan setelah melepas sarung tangan
Periksa dengan teliti surat pengajuan pemeriksaan USG:
Apa indikasinya dan
apakah perlu didahulukan karena bersifat darurat gawat, misalnya pasien dengan kecurigaan
kehamilan ektopik.
PERSIAPAN ALAT
Hidupkan peralatan USG sesuai dengan tatacara
yang dianjurkan oleh pabrik pembuat peralatan tersebut.
Perhatikan tegangan listrik pada kamar USG, karena tegangan yang terlalu naik- turun akan membuat
peralatan elektronik mudah rusak.
Bila perlu pasang stabilisator tegangan listrik dan UPS.
Setiap kali selesai
melakukan pemeriksaan USG, bersihkan semua peralatan dengan hati-hati, terutama pada transduser (penjejak) yang mudah rusak.
Bersihkan transduser
dengan memakai kain yang lembut dan cuci dengan larutan anti kuman yang tidak merusak transduser.
Selanjutnya taruh kembali transduser pada tempatnya, rapikan dan bersihkan
kabel-kabelnya, jangan
PERSIAPAN PASIEN
Berikan informasi yang cukup
mengenai
pemeriksaan USG yang akan
dijalaninya.
Harapan dari hasil pemeriksaan
Cara pemeriksaan (termasuk posisi pasien)
Berapa biaya pemeriksaan
Sebelum melakukan pemeriksaan USG, pastikan bahwa
pasien benar-benar telah mengerti dan memberikan
persetujuan untuk dilakukan
pemeriksaan USG
atas dirinya.
Pada pemeriksaan USG transrektal,
kondom yang dipasang sebanyak dua buah, hal ini penting untuk mencegah penyebaran infeksi.
Terangkan secara benar dan penuh pengertian bahwa USG bukanlah suatu alat yang dapat melihat seluruh tubuh janin atau organ
kandungan.
Bila akan melakukan pemeriksaan USG
transvaginal, tanyakan kembali apakah ia
seorang nona atau nyonya ?
Jelaskan dan
perlihatkan tentang pemakaian kondom yang baru pada setiap pemeriksaan (kondom penting untuk
mencegah penularan infeksi).
USG
TRANSABDOMINAL
Setelah pasien tidur
terlentang, perut bagian bawah ditampakkan
dengan batas bawah
setinggi tepi atas rambut pubis, batas atas setinggi sternum, dan batas
lateral sampai tepi abdomen.
Letakkan kertas tissue besar pada perut bagian bawah dan bagian atas untuk melindungi pakaian wanita tersebut dari jelly yang kita pakai.
Taruh jelly secukupnya pada kulit perut, lakukan pemeriksaan secara sistematis.
Pertama-tama gerakkan transduser secara
longitudinal ke atas dan ke bawah, selanjutnya horisontal ke kiri dan ke kanan.
• Transduser digerakkan dari bawah ke atas, dimulai dari garis sisi kanan perut, kemudian setelah sampai daerah perut atas transduser digerakkan ke bawah, selanjutnya transduser digerakkan kembali ke arah atas.
Selanjutnya gerakkan transduser kearah lateral perut (horisontal), juga secara sistematis, dimulai dari sisi kanan ke arah kiri, kemudian dari kiri ke
USG TRANSVAGINAL
Sebelum melakukan pemeriksaan, tanyakan apakah ia seorang nona atau nyonya.
Bila statusnya masih nona tetapi sudah tidak gadis lagi, dan memang perlu dilakukan
pemeriksaan
transvaginal, mintakan ijin tertulis dari pasien
tersebut dan sebaiknya disertai seorang saksi.
Perhatikan apakah tombol pemindah jenis transduser sudah menunjukkan bahwa yang dipakai adalah
transduser vaginal
Minta pasien mengosongkan kandung kemihnya.
Posisi pasien dapat lithotomi atau tidur dengan kaki ditekuk dan pada bagian pantat ditaruh
bantal agar mudah untuk memasukkan dan memanipulasi posisi transduser.
Taruh sedikit jelly pada permukaan transduser.
Pasangkan kondom baru pada transduser,
kemudian beri jelly secukupnya pada permukaan
kondom dan selanjutnya masukkan transduser
Cari uterus sebagai petunjuk, kemudian cari kandung kemih.
Uterus akan tampak di garis tengah (median) seperti gambaran buah alpukat yang memanjang dengan endometrium dibagian tengahnya.
Bila fundus uteri mendekati kandung kemih, maka uterus tersebut dalam posisi antefleksi, bila menjauhi, maka
posisi uterus adalah retrofleksi (lihat gambar).
Sangat penting menilai kembali apakah arah gelombang suara sudah sesuai dengan tampilan yang ada dalam layar monitor.
Setelah pemeriksaan selesai, lepaskan kondom secara hati-hati dengan memakai sarung tangan tidak sterill atau kertas tissue, kemudian lakukan dekontaminasi kondom tersebut dengan larutan klorin 0,5%.
Menggunakan x-ray untuk memeriksa payudara
terhadap massa atau benjolan yang tidak spesifik.