• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : INDRA KURNIAWAN NIM. 11820114835

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Oleh : INDRA KURNIAWAN NIM. 11820114835"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBERIAN ASI YANG TIDAK SEMPURNA DUA TAHUN DI TINJAU DARI HUKUM ISLAM

(Studi Kasus : Desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Sebagai Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

INDRA KURNIAWAN NIM. 11820114835

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 1444 H/2022 M

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK

Indra Kurniawan (2022): Pemberian ASI Yang Tidak Sempurna Dua Tahun Di Tinjau Dari Hukum Islam (Studi Kasus Dea Alampanjang Kabupaten Kampar)

Latar Belakang dalam penelitian ini yakni ASI merupakan bahan makanan yang diberikan Allah SWT kepada seorang bayi melalui payudara ibunya selama dua tahun pada awal masa kehidupannya. Menyusui sebaiknya dilakukan setelah proses kelahiran bayi dan setiap bayi menyusu kepada ibunya. Bayi pada saat itu diberikan dengan susu kolostrum. Kolostrum merupakan nutrisi pertama paling penting bagi bayi, karena mengandung antibodi yang melindungi bayi dari infeksi dan faktor pertumbuhan yang membantu perkembangan secara normal. Tujuan dalam penelitian ini yakni untuk menegetahui Apa Faktor Penyebab Pemberian ASI Tidak Sempurna Dua Tahun Di Desa Alam Panjang Kabupaten Kampar dan Bagaimana Tinjauan Hukum Islam terhadap Pemberian ASI Yang Tidak Sempurna Dua Tahun, metode yang di gunakan dalam penelitian ini yakni, Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang objeknya mengenai faktor penyebab atau peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kelompok masyarakat Penelitian ini dilakukan di desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah ibu yang menyusui akan tetapi tidak sempurna dua tahun lama penyusuannya.

Objek penelitian ini adalah tinjauan hukum Islam terhadap pemberian ASI Dua tahun. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang menyusui bayinya berjumlah 117 ibu menyusui di Desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar. Sampel yang diambil adalah 50 orang ibu yang tidak menyusui anaknya terhitung dari tahun 2020 dengan menggunakan teknik total sampling yaitu penarikan sampel yang dilakukan dengan mengambil sampel secara keseluruhan. Sumber data data primer dan data sekunder dan data tersier, teknik pengumpulan data megnunakan metode obsevasi, interview (wawancara) teknik penulisan deskriktif, deduktif dan induktif. Dari penelitian yang dilakukan penelitian maka dapat di ambil hasil penelitian yakni:

Faktor yang menyebabkan seorang ibu tidak sempurna menyusui selama dua tahun penuh di Desa Alam Panjang adalah pertama faktor kesehatan yang menghambat penyusuan seperti: air susunya tidak keluar. Faktor kedua ibu seorang wanita karir/bekerja yang membuat ibu kesulitan membagi waktu antara bekerja dan menyusui anaknya. Ketiga karena anak berhenti sendiri penyebab anak berhenti sendiri yaitu karna ASI terlalu sedikit sehingga anak tidak merasa puas dan berhenti sendiri.

Kata Kunci : Pemberian, Tidak Sempurna, Hukum Islam

(6)

ii

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat dan karunia kepada makhlukNya. Sholawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan keluarganya.

Alhamdulillah akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul PEMBERIAN ASI YANG TIDAK SEMPURNA DUA TAHUN DITINJAU DARI HUKUM ISLAM (Studi Kasus Desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar). Skripsi ini merupakan salah satu yang harus dipenuhi oleh mahasiswa/i untuk melaksanakan tugas akhir demi mencapai gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah dan Hukum UIN SUSKA RIAU.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyususunan skripsi ini sampai selesai. Skripsi ini tidak akan tersusun tanpa adanya bantuan dan dorongan berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terimakasih dan penulis mengucapkan Alhamdulillah jazkumullohukhoiroo dan terimakasih yang tulus kepada:

1. Teristimewa buat Kedua Orang Tua, Ayahanda A. Malik B, S.Pd dan Ibunda Dariham, S.Pd yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik, mendorong, memotivasi dan memberikan cinta dan kasih sayangnya hingga hari ini.

2. Yang terhormat bapak Prof. Dr. Hairunnas Rajab, M. Ag, selaku Rektor UIN Suska Riau beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu pengeahuan di Kampus UIN Suska Riau.

3. Yang terhormat bapak Dr. Zulkifli, M. Ag, selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum beserta bapak Dr. H. Erman, M. Ag sebagai

(7)

iii

Wakil Dekan I, bapak Dr. H. Mawardi, S. Ag, M. Si sebagai Wakil Dekan II, dan ibuk Dr. Sofia Hardani, M. Ag sebagai Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syariaf Kasim Riau.

4. Bapak Dr. H. Akmal Abdul Munir, LC, MA, selaku Ketua Jurusan Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum beserta bapak Ahmad Fauzi, MA Sekretaris Jurusan Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

5. Bapak Muhammad Nurwahid, M.Ag, selaku pembimbing skripsi saya, yang telah meluangkan waktunya ditengah-tengah kesibukannya, dengan ikhlas dan sabar memberikan motivasi dan arahan hingga penyelesaian skripsi ini.

6. Ibu Hertina, Dr., M.Pd. selaku dosen Penasehat Akademis. Terima kasih atas semua waktu, bimbingan, dan pengarahan serta nasehat yang telah banyak ibu berikan dengan ikhlas dan sabar dari semester awal hingga semester akhir.

7. Seluruh Bapak dan Ibu dosen pengajar yang telah mendidik dan membantu penulis dalam menyelesaikan perkuliahan di UIN Suska Riau Fakultas Syariah dan Hukum, sekaligus civitas akademik Fakultas Syariah dan Hukum yang telah menyediakan waktu pelayanannya untuk penulis yang sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Pimpinan perpustakaan Universitas Islam Negeri Sultan Syaarif Kasim Riau yang telah memberikan pelayanan dan fasilitas yang membantu penulis menyelesaikan skripsi ini

9. Terima kasih juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dan masukan selama Penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini.

Harapan Penulis semoga Allah Subhanahu Wata’ala membalas kebaikan semua pihak dengan kebaikan yang melimpah baik di dunia dan di akhirat kelak.

Aamiin yarabbal ‘Alamin.

Demikian skripsi ini diselesaikan semampu penulis, harapan penulis semoga penulis skrispi ini dapat berguna bagi penelitian selanjutnya

(8)

iv

Pekanbaru, 28 November 2022 Penulis,

Indra Kurniawan NIM: 11820114835

(9)

v DAFTAR ISI PERSETUJUAN

PENGESAHAN

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan Masalah ... 6

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

BAB II LANDASAN TEORI A. Kerangka Teoristis ... 8

1. Air Susu Ibu ... 8

2. Menyusui Dalam Islam ... 14

3. Manfaat Air Susu Ibu dalam Islam ... 27

4. Menyusui dalam Ilmu Kesehatan ... 30

B. Peneliti Terdahulu ... 36

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 39

B. Lokasi Penelitian ... 40

C. Subjek dan Objek Penelitian ... 40

D. Populasi dan Sampel ... 40

E. Sumber Data ... 41

F. Teknik Pengumpulan Data ... 42

G. Teknik Analisa Data ... 44

H. Teknik Penulisan ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi ... 45

1. Sejarah Desa Alam Panjang ... 45

(10)

vi

ASI dua Tahun ... 52 2. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Kegagalan

Pemberian ASI dua Tahun ... 58 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 67 B. Saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(11)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 36

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Desa Alam Panjang ... 47

Tabel 4.2 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Alam Panjang ... 48

Tabel 4.3 Pekerjaan Masyarakat Desa Alam Panjang... 48

Tabel 4.4 Kepemilikan Hewan Ternak Di Desa Alam Panjang ... 49

Tabel 4.5 Saran Dan Prasarana Desa Alam Panjang ... 49

Tabel 4.6 Tanggapan Responden Mengenai Manfaat Asi Untuk Anak ... 53

Tabel 4.7 Tanggapan Responden Mengenai Barapa Lama Memberikan ASI Kepada Anak ... 54

Tabel 4.8 Tanggapan Responden Mengenai Faktor Penyebab Penyusuan Anak Tidak Sempurna ... 55

Tabel 4.9 Tanggapan Resp onden Cara Ibu Memenuhi Nutrisi Anak Yang Tidak Menerima Asi Secara Langsung ... 56

Tabel 4.10 Tanggapan Responden Terhadap Mendengar Tausiah/Ceramah Tentang Pentingnya Menyusui Anak Selama Dua Tahun ... 57

(12)

1 A. Latar Belakang

Salah satu kodrat seorang istri yang tidak bisa tergantikan perannya oleh suami adalah menyusui, merawat dan mendidik anak yang merupakan kewajiban istri dalam rumah tangga. Karena istri yang memiliki lebih banyak ruang dalam menjalankan tanggung jawab dalam keseharian dari pada suami dalam hal menyusui, istri memiliki kewajiban terhadap anaknya ketika masih bayi sampai berumur dua tahun jika ingin menyempurnakan penyusuan, karena pada masa tersebut anak masih bergantung terhadap air susu ibunya.

Setiap anak yang dilahirkan memiliki hak atas dirinya yang harus dipenuhi oleh seorang ibu yaitu menyusui, islam menganjurkan para ibu (istri) untuk menyusui anaknya hingga berusia dua tahun dan suami bertanggung jawab atas nafkah dan pakaiannya. Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:

ۗ َتَعاَضَّشنا َّىِخُّي ٌَْا َداَسَا ًٍَِْن ٍِْيَهِياَك ٍِْيَنَْٕح ٍََُّْد َلَ َْٔا ٍَْعِضْشُي ُث ٰذِنإَْنأَ

ۚ آََعْعُٔ َّلَِا ٌظْفََ ُفَّهَكُح َلَ ِۗف ُْٔشْعًَْناِب ٍَُُّٓحَْٕغِكَٔ ٍَُُّٓقْصِس َّٗن ِدُْٕنًَْْٕنا َٗهَعَٔ

اَِْذَنَِٕبۢ ٌةَذِنأَ َّسۤاَضُح َلَ

ٌِْاَف ۚ َكِن ٰر ُمْزِي ِدِسإَْنا َٗهَعَٔ ِِٖذَنَِٕب َّّٗن ٌدُْٕنَْٕي َلََٔ

ٌَْا ْىُّحْدَسَا ٌِْأَۗ آًَِْيَهَع َحاَُُج َلََف ٍسُٔاَشَحَٔ آًَُُِّْي ٍضاَشَح ٍَْع الَاَصِف اَداَسَا ْىُخًَّْهَع اَرِا ْىُكْيَهَع َحاَُُج َلََف ْىُكَد َلََْٔا ا ُْْٕٓعِض ْشَخْغَح إُقَّحأَ ِۗفُْٔشْعًَْناِب ْىُخْيَحٰا ْٓاَّي

ٌشْي ِصَب ٌَ ُْٕهًَْعَح اًَِب َ ّٰاللّ ٌََّا ا ًَُْْٕٓهْعأَ َ ّٰاللّ

Artinya:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila

(13)

2

kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.1 (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Berdasarkan ayat diatas dapat dipahami keharusan seorang ibu untuk menyusui anaknya, kewajiban tersebut termasuk ibu yang berstatus sebagai istri maupun dalam keadaan ditalak. Kewajiban menyusui selama dua tahun setelah kelahiran anak, diperbolehkan kurang dari masa dua tahun apabila terdapat halangan atau mudharat.

Muhammad Rasyid Ridha menyatakan bahwa menyusui adalah mutlak wajib. Oleh karena itu, para ibu yang masih jadi istri ataupun telah bercerai mempunyai kewajiban menyusui bayinya, jika tidak mampu misalnya dalam keadaan sakit atau sejenisnya, maka diperbolehkan mencari ibu susuan sehingga tidak mengahalangi kewajiban menyusui karena kewajiban ini bermanfaat untuk menjaga kebaikan atau kesehatan anak bukan hanya menaati perintah Tuhan.2

Demikian kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya. Menggunakan makanan lain seperti susu dan tepung yang khusus untuk bayi sebenarnya tidak dilarang, tetapi sebagai makanan tambahan saja. Dalam topik ini, titik beratnya adalah air susu ibu (ASI) sebagai makanan pokok bayi selama dua tahun penuh sesuai anjuran surah Al-Baqarah ayat 233 diatas.

ASI merupakan bahan makanan yang diberikan Allah SWT kepada seorang bayi melalui payudara ibunya selama dua tahun pada awal masa kehidupannya.

Menyusui sebaiknya dilakukan setelah proses kelahiran bayi dan setiap bayi menyusu kepada ibunya. Bayi pada saat itu diberikan dengan susu kolostrum.

1Departemen Agama, Syamil Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, 2007), h. 37.

2 Rasyid Rida, Tafsir Al-Manar (Beirut: Dar Al-Fikr, 1366 H/1937 M), Juz, 2, h. 408.

(14)

Kolostrum merupakan nutrisi pertama paling penting bagi bayi, karena mengandung antibodi yang melindungi bayi dari infeksi dan faktor pertumbuhan yang membantu perkembangan secara normal.3

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar kesehatan menunjukkan bahwa anak-anak yang di masa bayinya mengkonsumsi ASI jauh lebih cerdas, lebih sehat, dan lebih kuat daripada anak-anak yang di masa kecilnya tidak menerima air susu ibu (ASI).4

Para ulama mendefinisikan al-radha' adalah menurut Hanafiyah bahwa al- radha' adalah seorang bayi yang mengisap puting payudara seorang perempuan

pada waktu tertentu. Sedangkan Malikiyah mengatakan bahwa al-radha' adalah masuknya susu manusia ke dalam tubuh yang berfungsi sebagai gizi. As- Syafi'iyah mengatakan al-radha' adalah sampainya susu seorang perempuan ke dalam perut seorang bayi. Al-Hanabilah mengatakan al-radha' adalah seorang bayi di bawah dua tahun yang mengisap puting payudara perempuan yang muncul akibat kehamilan, atau meminum susu tersebut atau sejenisnya.5

Menyusui anak bagi seorang ibu hukumnya adalah sunnah, namun hal itu terjadi bila seorang ayah merupakan orang yang mampu dan ada orang lain mau menyusuin anaknya. Jika semua hal itu tidak ada, maka menyusui anak tersebut hukumnya wajib.6

3Sunardi, Ayah Beri Aku ASI, (Solo: Aqwa Medika 2008), Cet. Ke-1, h. 48.

4Abdul Hakim Abdullah, Keutamaan Air Susu Ibu, (Jakarta: Fikahati Aneska, 1993), h. 30.

5Cholil, Uman, Agama Menjawab Tentang Berbagai Masalah Abad Modern, (Surabaya:

Ampel Suci, 1994), Cet. Ke-5, h. 267.

6Ahmad Sawi al-Maliki, Haisyiyah al-‘Allamah as-Sawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, (Beirut:

Dar al-fikr, 1993), h.108-109.

(15)

4

Merujuk dari firman Allah dalam Al-Qur‟an surah Al-Baqarah ayat 233, penyusuan sampai dua tahun bukan merupakan perintah wajib, karena dipahami dari potongan ayat liman arada’an yutimma ar-rada’ah (bagi yang ingin menyempurnakan susuan). Akan tetapi, anjuran ini sangat ditekankan, seolah-olah merupakan perintah wajib. Apabila kedua orang tuanya sepakat untuk mengurangi masa tersebut, maka tidak mengapa. Tetapi hendaknya jangan lebih dari dua tahun, karena dua tahun telah dinilai sempurna oleh Allah. Di sisi lain, masa dua tahun itu menjadi tolak ukur bila terjadi perbedaan pendapat diantara ibu bapak.7

Para Ulama berpendapat batas usia penyusuan bayi adalah dua tahun merujuk pada Al-Qur‟an. Penyusuan setelah itu maka bukan dinamakan pernyusuan. Boleh menambah hanya beberapa bulan saja apabila kondisi memang tidak memungkinkan untuk disapih. Imam Ja‟far As Syidiq berkata “menyusui itu selama dua puluh satu bulan, jika kurang dari itu maka segera kedzoliman bagi anak”.8

Kemudian beberapa ulama juga menjelaskan bahwa pemberian ASI saat anak berusia kurang dari dua tahun atau selama dua tahun dianggap sebagai penyususan yang sebenarnya. Sebab, ASI saat itu sangat dibutuhkan untuk mengenyangkan perutnya, sedangkan untuk penyusuan yang lebih dari dua tahun pada kenyataanya bukan karna merasa lapar atau untuk mengenyangkan perut, namun karena masih ingin selalu berada dalam pelukan ibu. Para Ulama juga sepakat bahwa waktu menyusui adalah dua tahun. Apabila orangtua menghendaki

7M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2007) Vol, I, h.470-471.

8Wida Azzahida, Menyusui dan Menyapih Dalam Islam, (Jakarta: Pt Elex Media Komputindo, 2015),h, 47.

(16)

lebih, maka hal tersebut adalah karna ada beberapa pertimbangan yang intinya untuk kebaikan bersama.9

Status ibu yang tidak menunaikan tugas ASI ada tiga. Pertama, mereka khianat terhadap amanah Allah SWT. Kedua, mereka merusak dirinya sendiri, juga menghambat perkembangan bayinya secara sempurna. Ketiga, mereka berutang kepada Allah dalam bentuk pengabdian (ibadah), berutang juga kepada bayinya dalam kolostrum dan ASI.10

Begitulah pentingnya untuk memberikan ASI pada anak. Selain pentingnya ASI bagi anak, menyusui secara efektif meningkatkan kesehatan Ibu itu sendiri.

Bukan memburuk seperti apa yang dipikirkan sebagian orang.

Disisi lain, Al-Qur‟an sebagai hudan dan way of life dalam beberapa kesempatan memerintahkan para ibu untuk menyusukan anaknya hingga dua tahun. Jika Al-Qur‟an memerintahkan suatu pekerjaan, tentu di dalamnya ada maslahat dan manfaat.11 Sebaliknya, jika perintah tersebut diabaikan, akan memunculkan ketidaksempurnaan pada kehidupan manusia. Untuk itu, maka penulis bertujuan untuk mengulas persoalan seputar menyusui anak di tinjau dari Hukum Islam.

Dewasa ini banyak kita temui seorang ibu yang seharusnya menyusui bayinya secara sempurna seperti anjuran Al-Qur‟an, akan tetapi tidak diberikan karena sebab-sebab tertentu. Permasalahan ini terjadi di desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar. Hal ini tentunya mempunyai alasan

9Ibid., h. 45

10Agus Nurcholis Saleh, "Status Hukum Ibu Tidak Menyusui Bayi Dan Solusi Pencegahannya" dalam Ilmiah Syari'ah, Volume 17., No. 2., (Juli-Desember 2018), h. 229.

11 Tim FKI Ahla Sufah, Tafsir Maqashidi, (Lirboyo: Lirboyo Press, 2013), h. 2-3

(17)

6

dan permasalahan seperti ini pastinya mempunyai Hukum dalam pelaksanaannya.

Dari permasalahan tersebut penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang akan dituangkan dalam bentuk karya ilmiah dengan judul “PEMBERIAN ASI YANG TIDAK SEMPURNA DUA TAHUN DI TINJAU DARI HUKUM ISLAM (Studi Kasus Desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar).

B. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraian di atas serta suatu permasalahan yang akan di teliti, maka perlu kiranya membatasi masalah yang di teliti agar penelitian lebih terarah, terfokus dan tidak menyimpang dari topik yang dipersoalkan. Maka penulis menentukan batasan masalah ”Pemberian ASI Yang Tidak Sempurna Dua Tahun Di Tinjau Dari Hukum Islam”.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apa Faktor Penyebab Pemberian ASI Tidak Sempurna Dua Tahun Di Desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar?

2. Bagaimana Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pemberian ASI Yang Tidak Sempurna Dua Tahun?

(18)

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk Mengetahui Apa Faktor Penyebab Pemberian ASI Tidak Sempurna Dua Tahun Di Desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar.

2. Untuk Mengetahui Bagaimana Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pemberian ASI Yang Tidak Sempurna Dua Tahun.

Sedangkan manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini di harapkan dapat memberikan referensi tambahan bagi para akademis dan kalangan yang berminat khususnya dalam bidang tinjauan Hukum Islam mengenai pemberian ASI selama dua tahun.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sebagai bahan masukan pengetahuan serta bahan bacaan bagi pihak-pihak yang ingin mengetahui tantang tinjauan Hukum Islam tentang pemberian ASI selama dua tahun.

3. Manfaat akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi hasil penelitian terdahulu, dan dapat dijadikan bahan masukan dan salah satu referensi seputar tinjauan hukum islam terhadap pemberian ASI selama dua tahun.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H) pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

(19)

8 BAB II

LANDASAN TEORI A. Kerangka Teoristis

1. Air Susu Ibu (ASI) a. Pengertian ASI

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), ASI adalah singkatan dari Air Susu Ibu. Sedangkan menurut istilah, ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya.12

ASI adalah makanan eksklusif bagi bayi dan merupakan makanan satu-satunya yang paling ideal untuk menjamin tumbuh kembang bayi pada usia 6 bulan pertama. Nilai gizi yang terkandung di dalamnya sangat tinggi sehingga tidak memerlukan tambahan makanan apapun lagi dari luar.13 Menurut hasil penelitian para ahli terbukti bahwa dari segi komposisi dan kandungan zatnya ASI lebih unggul dari pada susu formula. keunggulan tersebut diantaranya terdapat zat-zat yang hanya ada pada ASI dan dibutuhkan untuk asupan bayi.14 Yaitu sebagai berikut:

1) Protein, 2) Karbohidrat, 3) Lemak,

12M. Arifin Siregar, Pemberian ASI ekslusif dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Medan: Universitas Sumatera Utara, 2004), h. 3.

13Ibid., h. 46-47.

14Ali Al-Qadhi, Rumah Tanggaku Karirku, (Jakarta: Mustaqiim, 2002), h. 55.

(20)

4) Vitamin, 5) Zat Garam, dan 6) Mineral.

Kebutuhan nutrisi pada bayi berbeda dengan orang dewasa, baik dalam jumlah maupun proporsi. Kebutuhan nutrisi pada bayi akan terus mengalami perubahan seiring dengan pertumbuhannya.15

b. Komposisi Gizi dalam ASI

Setelah bayi lahir ke dunia, hal pertama yang bayi butuhkan adalah ketersedian asupan makanan untuk membantu tumbuh kembangnya.

Material dasar yang bayi perlukan untuk memenuhi nutrisi tubuhnya diperoleh melalui perubahan kimia bahan makanan yang terjadi di saluran pencernaan. Bahan yang di cerna meresap melalui dinding usus dan masuk ke dalam saluran darah. Mengikuti aliran darah, nutrien yang tercampur di dalamnya akan di distribusikan menuju organ-organ yang memerlukan.

Seperti organ lainnya, demikianlah cara kerja kelenjar susu dalam memperoleh makanan dan bahan pembuat air susu.16

Komposisi ASI tidak sama dari waktu ke waktu, hal ini berdasarkan stadium laktasi. Komposisi ASI dibedakan menjadi 3 macam:

1) Kolostrum

Kolostrum adalah ASI yang keluar pada beberapa hari pertama melahirkan, biasanya berwarna kekuning-kuningan kental. Air susu ini sangat kaya protein dan zat kekebalan tubuh atau immunogobulin,

15Ria Riksani, Keajaiban ASI Air Susu Ibu, (Jakarta: Dunia Sehat, 2012), h. 5.

16Lajnah pentashihan mushaf Al-Qur‟an badan litbang dan kementerian agama RI dgn LIPI, Mengenal Ayat-Ayat Sains dalam Al-Qur’aan, (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), juz 1, h. 95.

(21)

10

mengandung sedikit lemak dan karbohidrat. Jumlah kolostrum memang tidak banyak dan hanya tersedia mulai hari pertama hingga maksimal hari ketiga atau keempat.

2) Susu Masa Peralihan atau Transisi

Setelah beberapa hari menghasilkan kolostrum pasca melahirkan, maka selanjutnya ialah susu transisi. Susu transisi mulai diproduksi setelah hari ke 4-10 setelah kelahiran.

Komposisi ASI Peralihan memiliki protein makin rendah, sedangkan lemak dan hidrat arang makin tinggi, dan jumlah volume ASI semakin meningkat. Hal ini merupakan pemenuhan terhadap aktifitas bayi yang mulai aktif karena bayi sudah beradaptasi terhadap lingkungan. Pada masa ini, pengeluaran ASI mulai stabil begitu juga kondisi fisik ibu.

3) ASI Mature atau Matang

ASI mature diproduksi setelah hari ke 10 sampai akhir masa penyapihan nanti yakni 6 bulan. Setelah 6 bulan, ASI tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi sehingga mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI. ASI mature memiliki warna kekuningan dan tidak menggumpal bila dipanaskan, dengan volume 300-850 mL per 24 jam. ASI mature terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi.17

17Fimela, ”Kenali Perbedaan Susu Kolostrum, Susu Transisi, dan Mature Milk”, artikel dari https://www.fimela.com/parenting/read/3840258/kenali-perbedaan-susu-kolostrum-susu-transisi- dan-mature-milk

Diakses pada 18 Mei 2022

(22)

c. Manfaat ASI

ASI memiliki manfaat yang bagus buat perkembangan dan kekebalan tubuh bayi, tidak diragukan lagi bahwa ASI memiliki banyak manfaat yang sangat besar baik untuk bayi, ibu dan keluarga. Berikut ini beberapa manfaat ASI, diantaranya:

1) Manfaat ASI Untuk Bayi

a) ASI mencukupi semua kebutuhan gizi bayi berusia 6 bulan pertama kehidupan untuk tumbuh dan berkembang. Sehingga dapat terhindar dari kekurangan gizi/ malnutrisi;

b) ASI mudah diserap oleh pencernaan bayi sehingga nutrisi dapat terserap sempurna;

c) ASI melindungi dari infeksi radang saluran pernapasan/ paru-paru basah (pneumonia). Penyakit ini tiga kali lebih jarang terjadi pada bayi dengan ASI eksklusif dibandingan dengan bayi yang diberikan pengganti ASI;

d) ASI melindungi bayi dari infeksi saluran pencernaan seperti diare;

e) ASI melindungi bayi dari infeksi akut lainnyaseperti otitis media (radang telinga tengah), haemophilus influenzae meningitis (radang selaput otak), dan infeksi saluran kemih (ISK);

f) Efek jangka panjang ASI mampu mengurangi risiko penyakit jangka panjang dengan sebab imunologi atau alergi seperti asma dan kondisi lainnya;

g) ASI mengurangi risiko diabetes atau kencing manis tipe I;

(23)

12

h) ASI melindungi bayi dari risiko terkena kanker (leukimia limphostik, neuroblastoma, lymphoma maligna)

i) Bayi yang diberikan ASI jauh lebih sehat dan juga menurunkan resiko terjadinya obesitas di masa yang akan datang;

j) Bayi yang menerima ASI memiliki risiko lebih rendah untuk terkena serangan jantung dan darah tinggi dikemudian hari;

k) Mengurangi terjadinya peningkatan kadar kolesterol dalam darah dan ateroskloerosis (radang pembuluh darah) di masa dewasa;

l) Bayi yang diberikan ASI memiliki tingkat kepandaian (intelegensi) dan kemampuan kognitif yang secara umum lebih tinggi dibanding bayi yang tidak mendapatkan ASI. Tentu saja hal ini menjadi aset berharga bagi masa anak-anak hingga dewasanya;

m) Skin to skin contact antara bayi dan ibu menciptakan kedekatan serta perkembangan aktifitas fisik (psikomotorik) dan sosial yang lebih baik.18

2) Manfaat ASI untuk ibu

Manfaat dari pemberian ASI tidak hanya dirasakan oleh bayi saja, tetapi menyusui juga banyak memberikan manfaat kepada ibu.

Bagi Ibu yang menyusui bayinya akan memperoleh beberapa keuntungan diantaranya sebagai berikut:

18Tim Admin Grup Sharing ASI-MPASI (SAM), Superbook For Supermom, (Jakarta Selatan: Fmedia, 2015), h. 54.

(24)

a) Menyusui merupakan metode KB paling aman dan efektif dikarenakan kadar hormon menyusui (prolaktin) yang tinggi dalam tubuh ibu akan menekan terjadinya ovulasi;

b) Mencegah terjadinya pendarahan setelah melahirkan serta mempercepat pengembalian rahim ibu seperti semula. Hal ini dikarenakan isapan bayi saat menyusui merangsang kerja hormon oksitosin sehingga menghasilkan kontraksi rahim;

c) Mengurangi risiko berat badan berlebih, dengan menyusui setidaknya membutuhkan sekitar 500 kalori perhari sehingga ibu tidak perlu mengurangi jumlah makanan bernutrisi untuk dikonsumsi;

d) Mengurangi stres dan kegelisahan;

e) Membantu dalam membangun ikatan emosional dan kasih sayang antara ibu dan bayi, sehingga dapat mengurangi risiko penelantaran bahkan kekerasan pada anak;

f) Mengurangi risiko kanker payudara;

g) Mengurangi risiko kanker indung telur (ovarium) dan kanker rahim;

h) Mengurangi risiko terkena penyakit diabetes dan kencing manis;

i) Mengurangi risiko hipertensi, stroke dan jantung koroner;

j) Mengurangi risiko osteoporosis;

k) Mengurangi risiko terkena rematik.19

19Ibid., h. 53.

(25)

14

3) Manfaat ASI untuk Keluarga

Berikut ini manfaat ASI untuk keluarga, diantaranya:

a) Menguntungkan secara ekonomi, dengan menyusui secara eksklusif ibu maupun ayah tidak perlu mengeluarkan biaya makanan bayi sampai ia berumur 6 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan alat tambahannya. Biaya tersebut dapat digunakan untuk memberikan makanan bernutrisi kepada ibu karena menyusui memerlukan zat gizi lebih;

b) Ibu dan bayi akan lebih sehat (terhindar dari risiko penyakit), sehingga mengurangi biaya perawatan kesehatan;

c) ASI dan menyusui itu praktis. Apabila bayi diberi ASI, ibu tidak perlu repot untuk mempersiapkan alat-alat atau membeli susu formula di toko. ASI selalu tersedia dan ketika bayi ingin menyusu dapat langsung diberikan sehingga ibu tidak perlu repot dan dapat menghemat waktu.20

2. Menyusui Dalam Islam

Menyusui dalam islam disebut dengan ar-radha’ah, hampir semua kitab fiqh dari berbagai madzhab membahas topik ar-radha’ah pembahasan umumnya berkisar pada dua hal pokok. Pertama, pembahasan tentang teknis penyusuan yang menyebabkan mahram. Kedua, pembahasan mengenai upah penyusuan.

20Ibid., h. 54-55.

(26)

a. Pengertian Ar-Radha’ah

Secara bahasa kata ar-rada’ah bermakna menyusui, baik itu seorang perempuan atau pun binatang. Sedangkan secara istilah berarti menyampaikan air susu seorang perempuan kepada mulut bayi yang belum sampai usianya dua tahun.21 Kata radha’ah ini termuat setidaknya 10 kali dengan berbagai derivasinya dalam Al-Qur‟an dan tersebar dalam 6 surat yaitu: QS. Al-Baqarah [2]: 233, QS. Al-Nisa‟ [4]: 23, QS. Al-Hajj [20]: 2, Al-Qashash [28]: 7, Al-Qashash [28]: 12 dan QS. Al-Thalaq [65]:

6.22

Dalam Al-Qur‟an menunjukkan bahwa pada proses menyusui seorang ibu dan anak juga ada proses penyapihan. Jadi proses menyusui ini tidak semata-mata di lakukan sesuai keinginan hati namun ada masanya, yaitu 2 tahun. Dari pengertian di atas dapat menjadi acuan penulis untuk memahami lebih lanjut konteks pembahasan dalam penelitian ini.

Selanjutnya ada kata fishal, yang bermakna menyapih. Fishal dalam bahasa memiliki makna saling memisahkan, sebab dalam proses penyapihan seorang anak akan terpisah dari ibunya, begitupun seorang ibu akan terpisah dari anaknya di karenakan proses pemberhentian menyusui.

Secara bahasa fishal bermakna fitham, yaitu menceraikan. Di artikan makna menceraikan disini yakni pemisahan anak dari susuan, atau

21Abdurrahman al Jaziriy, Kitab Al-Fiqh ‘ala Madzâhibi Al-Arba’ah, (Beirut: Dar AlKutub Al-„Alamiyah, 2003) jilid. 4, h. 23.

22Muhammad Fuad Abd Al-Baqiy, Mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al -Qur’an Al-Karim, (Kairo: DarAl-Hadits, 1346 H), h. 321.

(27)

16

pemisahan susuan karena anak terpisah dari asupan susu ibunya dan beralih kepada asupan makanan lainnya. Karena apabila anak di berikan asupan lain selain ASI dari ibunya, maka lambat laun akan terjadi jarak antara ibu dan anak. Kata atau istilah fishal ini terulang sebanyak 3 kali dalam Al-Qur‟an, yaitu pada QS. Al-Baqarah [2]:233, QS. Luqman [31]:

14 dan QS. Al-Ahqaf [46]: 15.23

Para Ulama berpendapat batas usia penyusuan bayi adalah dua tahun merujuk pada Al-Qur‟an. Penyusuan setelah itu maka bukan dinamakan penyusuan. Boleh menambah hanya beberapa bulan saja apabila kondisi memang tidak memungkinkan untuk disapih. Imam Ja‟far As Syidiq berkata “menyusui itu selama dua puluh satu bulan, jika kurang dari itu maka segera kedzoliman bagi anak”.24

Berdasarkan Surat Al Baqarah: 233 telah di jelaslah bahwa menyusui anak itu sampai dua tahun. Akan tetapi, Allah melapangkan bagi para orang tua, tidak perlu dipaksakan apabila anak ingin disapih sebelum dua tahun maka diperbolehkan dengan di dahului dengan musyawarah suami dan istri. Adapun mengenai penyapihan anak sebelum dua tahun memang diperbolehkan dengan syarat tidak membahayakan kesehatan anak maupun ibu.

Islam sangat memperhatikan keselamatan umatnya termasuk keselamatan ibu dan anak pada saat melakukan penyusuan dan penyapihan. disinilah mengapa Al-Qur‟an memerintahkan untuk

23Ibid., h. 322

24Wida Azzahida, Menyusui dan Menyapih Dalam Islam, (Jakarta: Pt Elex Media Komputindo, 2015), h. 47.

(28)

bermusyawarah dahulu dalam menentukan waktu penyapihan. Hal tersebut bermakna agar kita senantiasa berhati hati terhadap kesehatan anak dan keharusan memikirkan kebaikan bagi anak dan ibu karna kondisi tiap-tiap orang berbeda.

Beberapa ulama menjelaskan bahwa pemberian ASI saat anak berusia kurang dari dua tahun atau selama dua tahun dianggap sebagai penyususan yang sebenarnya. Para Ulama juga sepakat bahwa waktu menyusui adalah dua tahun. Apabila orangtua menghendaki kurang dari dua tahun, maka hal tersebut adalah karna ada beberapa pertimbangan yang intinya untuk kebaikan bersama.25

b. Dasar Hukum Ar-Radha’ah 1) Al-Qur’an

Dasar hukum radha’ah terdapat dalam ayat Al-Qur‟an dan hadits Nabi. Setidaknya ada enam buah ayat dalam Al-Qur‟an yang membicarakan perihal penyusuan anak ar-radha’ah, enam ayat ini mempunyai keterkaitan munasabah hukum yang saling melengkapi dalam pembentukan hukum. Selain enam ayat tersebut, radha’ah juga mendapatkan perhatian dari Nabi Muhammad SAW dalam menjelaskan ayat-ayat tersebut. Baik Al-Qur‟an maupun Hadits, kedua-duanya sangat berarti bagi kekokohan landasan hukum radha’ah.

a) QS Al-Baqarah [2]: 233

25Ibid., h, 45.

(29)

18

َّىِخُّي ٌَْا َداَسَا ًٍَِْن ٍِْيَهِياَك ٍِْيَنَْٕح ٍََُّْد َلَ َْٔا ٍَْعِضْشُي ُث ٰذِنإَْنأَ

َلَ ِۗف ُْٔشْعًَْناِب ٍَُُّٓحَْٕغِكَٔ ٍَُُّٓقْصِس َّٗن ِدُْٕنًَْْٕنا َٗهَعَٔ ۗ َتَعاَضَّشنا اَِْذَنَِٕبۢ ٌةَذِنأَ َّسۤاَضُح َلَ ۚ آََعْعُٔ َّلَِا ٌظْفََ ُفَّهَكُح ِِٖذَنَِٕب َّّٗن ٌدُْٕنَْٕي َلََٔ

آًَُُِّْي ٍضاَشَح ٍَْع الَاَصِف اَداَسَا ٌِْاَف ۚ َكِن ٰر ُمْزِي ِدِسإَْنا َٗهَعَٔ

َلََف ْىُكَد َلََْٔا ا ُْْٕٓعِض ْشَخْغَح ٌَْا ْىُّحْدَسَا ٌِْأَۗ آًَِْيَهَع َحاَُُج َلََف ٍسُٔاَشَحَٔ

ْىُخًَّْهَع اَرِا ْىُكْيَهَع َحاَُُج ٌََّا ا ًَُْْٕٓهْعأَ َ ّٰاللّ إُقَّحأَ ِۗفُْٔشْعًَْناِب ْىُخْيَحٰا ْٓاَّي

ٌشْيِصَب ٌَ ُْٕهًَْعَح اًَِب َ ّٰاللّ

Artinya:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.26 (QS Al- Baqarah [2]: 233)

Secara umum QS. Al-Baqarah: 233 berisi tentang empat hal yang berkaitan penyusuan. Pertama, petunjuk Allah SWT kepada para ibu agar senantiasa menyusui anak-anaknya secara sempurna, yakni selama dua tahun sejak kelahiran sang anak. Kedua, kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma‟ruf.

Ketiga, diperbolehkannya menyapih anak sebelum dua tahun asalkan dengan kerelaan dan permusyawaratan keduanya. Keempat, adanya kebolehan menyusukan anak kepada perempuan lain.

26Departemen Agama, Syamil Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, 2007), h. 37.

(30)

b) QS. An-Nisa‟ [4]: 23

ِخَ ْلَا ُجَُٰبَٔ ْىُكُخٰه ٰخَٔ ْىُكُخ ًَّٰعَٔ ْىُكُح َٰٕخَأَ ْىُكُخَُٰبَٔ ْىُكُخَّٰٓيُا ْىُكْيَهَع ْجَيِّشُح ا ُجَُٰبَٔ

ِتَعاَضَّشنا ٍَِّي ْىُكُح َٰٕخَأَ ْىُكَُْعَضْسَا ْْٓيِخّٰنا ُىُكُخَّٰٓيُأَ ِج ْخُ ْلَ

ْىُخْهَخَد ْيِخّٰنا ُىُكِ ىۤاَغَِّ ٍِّْي ْىُكِسُْٕجُح ْيِف ْيِخ ّٰنا ُىُكُبِ ىۤاَبَسَٔ ْىُكِ ىۤاَغَِ ُجَّٰٓيُأَ

ُج َلََف ٍَِِّٓب ْىُخْهَخَد إَُُْْٕكَح ْىَّن ٌِْاَف ٍََِِّّۖٓب ُىُكِ ىۤاَُْبَا ُمِ ىۤ َلََحَٔ َّۖ ْىُكْيَهَع َحاَُ

ٌَِّا ۗ َفَهَع ْذَق اَي َّلَِا ٍِْيَخ ْخُ ْلَا ٍَْيَب إُْعًَ ْجَح ٌَْأَ ْْۙىُكِب َلَْصَا ٍِْي ٍَْيِزَّنا ااًْيِحَّس ااس ُْٕفَغ ٌَاَك َ ّٰاللّ

Artinya:

Diharamkan atas kamu [mengawini] ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara- saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudaramu yang laki-laki;

anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan;

ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan.27 (QS. An-Nisa‟ [4]: 23)

Ayat ini menjelaskan satu hal bahwa penyusuan anak ar- radha’ah dapat menyebabkan ikatan kemahraman, yakni perempuan

yang menyusui al-murdhi’ah dan garis keturunannya haram dinikahi oleh anak yang disusuinya ar-radhi.

c) QS. Al-Hajj [17]: 2

ٍمًَْح ِثاَر ُّمُك ُعَضَحَٔ ْجَعَض ْسَا ْٓاًََّع ٍتَعِض ْشُي ُّمُك ُمَْْزَح آََََْٔشَح َوَْٕي ٌذْيِذَش ِ ّٰاللّ َباَزَع ٍَِّكٰنَٔ ٖ ٰش ٰكُغِب ْىُْ اَئَ ٖ ٰش ٰكُع َطاَُّنا َٖشَحَٔ آََهًَْح

Artinya:

Ingatlah pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.28 (QS. Al-Hajj [17]: 2)

27Ibid., h. 81.

28Ibid., h. 332.

(31)

20

d) QS. Al-Qashash [20]: 7

ِّىَيْنا ِٗف ِّْيِقْنَاَف ِّْيَهَع ِجْفِخ اَرِاَف ِّْۚيِعِضْسَا ٌَْا ْٰٗٓعُْٕي ِّوُا ْٰٗٓنِا ْٓاَُْيَحَْٔأَ

ٍَْيِهَعْشًُْنا ٍَِي ُِ ُْٕهِعاَجَٔ ِكْيَنِا ُِ ُّْٔدۤاَس اََِّاۚ ْيََِضْحَح َلََٔ ْيِفاَخَح َلََٔ

Artinya:

Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai [Nil]. Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah [pula]

bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya [salah seorang] dari para rasul.29 (QS. Al-Qashash [20]: 7)

e) QS. Al-Qashash [20]: 12

ٍجْيَب ِمَْْا ْٰٗٓهَع ْىُكُّنُدَا ْمَْ ْجَناَقَف ُمْبَق ٍِْي َعِضاَشًَْنا ِّْيَهَع اَُْيَّشَحَٔ

ٌ ُْٕحِصَٰ َّٗن ْىَُْٔ ْىُكَن ََّٗ ُْٕهُفْكَّي

Artinya:

Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan- perempuan yang mau menyusui[nya] sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya.30 (QS. Al-Qashash [20]:

12)

Ketiga ayat ini menjelaskan kisah para perempuan yang menyusui anaknya dalam sejarah, terutama berkaitan dengan masa kecil Nabi Musa. Dijelaskan betapa pentingnya air susu ibu kandung untuk anaknya, hingga Nabi Musa kecil dicegah oleh Allah untuk menyusu kepada perempuan lain. Dan dijelaskan pula kedahsyatan goncangan hari kiamat, bahwa semua perempuan yang tengah menyusui anaknya akan lalai tatkala terjadi kegoncangan hari kiamat tersebut.

29Ibid., h. 386.

30Ibid., h. 386.

(32)

f) QS. At-Talaq [28]: 6

إُْقِّيَضُخِن ٍَُّْ ُّْٔسۤاَضُح َلََٔ ْىُكِذ ْجُّٔ ٍِّْي ْىُخَُْكَع ُذْيَح ٍِْي ٍَُّْ ُُِْٕكْعَا ًَْح ِث َلَُٔا ٍَُّك ٌِْأَ ٍَِّْۗٓيَهَع ٍََُّۚٓهًَْح ٍَْعَضَي ّٰٗخَح ٍَِّْٓيَهَع إُْقِفََْاَف ٍم

ٌِْأَ ٍۚفُْٔشْعًَِب ْىُكَُْيَب أُْشًَِحْأَٔ ٍََُّْۚسُْٕجُا ٍَُُّْْٕحٰاَف ْىُكَن ٍَْعَضْسَا ٌِْاَف ٖۗ ٰش ْخُا َّْٓٗن ُع ِض ْشُخَغَف ْىُح ْشَعاَعَح

Artinya:

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik;

dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.31 (QS. At-Talaq [28]: 6)

Sementara ayat ini menjelaskan dua hal penting berkatan dengan penyusuan. Pertama, dalam ayat ini ditekankan adanya jaminan hak upah dari sang suami bagi sang istri yang sudah ditalak jika dia menyusukan anak-anaknya, di luar kewajiban nafkah yang memang harus diberikan selama belum habis masa „iddah. Kedua, adanya kebolehan dan sekaligus hak upah bagi seorang perempuan yang menyusukan anak orang lain, asalkan dimusyawarahkan secara baik dan adil.

2) Hadist Nabi Muhammad SAW

Riwayat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

:َميِق ؟ِء َلَُؤَْ ُلاَب اَي :ُجْهُق , ُثاَّيَحْنا ٍََُّٓيْذَر ُشََُْٓح ٍءاَغُِِب اَرِإَف يِب َقَهَطَْا َّىُر

ٍْعًََُْي يِح َّلَنا ِء َلَُؤَْ

ٍَََُّٓاَبْنَأ ٍََُّْد َلََْٔأ

31Ibid., h,42.

(33)

22

Artinya:

Kemudian Malaikat itu mengajakku melanjutkan perjalanan, tiba-tiba aku melihat perempuan yang payudaranya dicabik-cabik ular. Aku bertanya, Ada apa dengan mereka? Malaikat menjawab, Mereka adalah para perempuan yang tidak mau menyusui anak-anaknya tanpa alasan yang dibenarkan. (HR. Ibnu Hibban).32

Dalam hadist ini terdapat hukuman bagi perempuan jika tidak terdapat alasan yang dibenarkan secara syari'at atau secara medis ketika seorang perempuan tidak mau menyusui bayinya. Sebagai akibatnya, hak itu menimbulkan bahaya (mudharat) bagi sang anak.

3) Peraturan Perundang-Undangan Indonesia

Setiap anak yang lahir memiliki hak untuk mendapatkan air susu ibu, hal ini diatur dalam peraturan perundang-undangan Indonesia seperti;

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan Pasal 128 ayat (1) Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam bulan) bulan, kecuali atas indikasi medis. Selanjutnya ayat (2) Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.33

c. Konsep Ar-Rada’ah dalam Al-Qur`an

32M. Saifudin Hakim dan Siti Aisyah Ismail, Thibbun Nabawi (Depok: Gema Insani, 1441 H), Cet. Ke-1, h. 197.

33Indonesia, Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan, Pasal 128 Ayat (1- 2)

(34)

Ayat QS. Al-Baqarah [2]: 233 dan Luqman [21]: 14 jelas menyebutkan bahwa dua tahun adalah lama waktu yang disarankan kepada ibu untuk menyusui bayinya. Pada ayat selanjutnya QS. Al-Ahqaf [26]: 15 disebutkan bahwa jumlah total masa dalam kandungan dan masa menyusui bayinya adalah 30 bulan. Apabila usia kandungan adalah sembilan bulan maka masa pemberian ASI ekslusif sebaiknya adalah 21 bulan. Bila ketiga ayat ini kita gabungkan dengan sedikit bantuan hitungan matematis maka akan diperoleh angka antara tujuh hingga sembilan bulan masa kehamilan yang normal.34

As-Suddi dan Adh-Dhahhak berpendapat bahwa QS. Al-Baqarah [2]:

233 berkenaan dengan seorang perempuan yang diceraikan oleh suaminya, semenetara dia memiliki anak dari bekas suaminya itu yang masih berusia dibawah dua tahun. Seorang perempuan tersebut masih berkewajiban menyusui anaknya meskipun telah bercerai dari suaminya. Seorang ibu tidak boleh kehilangan rasa kasih sayang kepada anaknya sehingga rela anaknya disusui oleh sapi, kambing atau keledai. Ayat ini mengisyaratkan menyusui selama dua tahun merupakan kesempurnaan dalam penyusuan.35

Ayat QS. Al-Baqarah [2]: 233 terdapat kewajiban kedua orang tua mensejahterakan anak, terutama dalam memenuhi kebutuhan jasmani anak yang terkandung dalam QS. Al-Baqarah [2]: 233 di antaranya:

1) Kewajiban mendidik anak

34Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an, Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains, (Jakarta: Kementrian Agama RI, 2012), h. 98.

35Imtihan Al-Syafi‟i, Tafsir Ayat-Ayat Wanita: Penjelasan Hukum-Hukum Kewanitaan dalam Al-Qur’an. (Solo: Aqwam, 2009), h. 17.

(35)

24

2) Memenuhi kebutuhan anak

3) Ibu menyusui dengan masa penyempurnaan selama dua tahun 4) kewajiban seorang ayah memberi nafkah kepada anak dan

isterinya dengan cara yang baik dan halal.

Kandungan surat tersebut berisi tentang kesejahteraan anak secara jasmani yang harus dipenuhi oleh orang tuanya dengan cara yang makruf.

Selain mendapatkan kebutuhan jasmani, anak juga mendapatkan kebutuhan secara rohani ketika anak menyusu kepada ibunya. Maka akan timbul rasa rohani anak antara ibu dan anak dengan curahan kasih sayang saat menyusui anaknya.

Kebutuhan terpenting jasmani anak untuk kelangsungan hidup agar anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai fitrah yang dianugrahkan Allah pada dirinya. Dengan demikian kewajiban yang Allah berikan kepada orang tua yang terdapat dalam kandungan ayat tersebut, menjelaskan betapa pentingnya kebutuhan fisik jasmani anak.

Pemenuhan kebutuhan yang terkandung dalam QS. Al-Baqarah [2]:

233 sesuai dengan Undang-Undang Kesejahteraan Anak dan Perlindungan Anak, bahwa tata kehidupan dan penghidupan yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar dan baik secara rohani, jasmani, dan sosialnya serta segala kegiatan untuk menjamin, melindungi memenuhi hak-hak anak agar dapat hidup serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

(36)

Al-Qur‟an sangat istimewa karena Al-Qur‟an telah mendahului zaman dimana setiap ayat Al-Qur‟an ternyata mampu menjawab tantangan hidup manusia, terlihat dari kandungan Surat QS. Al-Baqarah [2]: 233 memberikan penjelasan pentingnya kesejahteraan anak dari segi jasmani, sosial dan rohani, yang paling terpenting adalah kesejahteraan jasmani anak.36

d. Konsep Ar-Radha’ah Dalam Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir mengatakan, dalam QS. Al-Baqarah [2]: 233 Hal ini merupakan petunjuk dari Allah kepada para ibu, menganjurkan agar mereka menyusui anak-anak mereka dengan penyusuan yang sempurna, yaitu selama 2 tahun penuh. Sesudah itu penyusuan tidak berpengaruh lagi terhadap kemahraman.

Kebanyakan para ulama berpendapat bahwa masa penyusuan tidak dapat menjadikan mahram kecuali jika bayi yang disusui berusia di bawah 2 tahun.37 Untuk itu seandainya ada anak yang menyusu kepada seorang wanita, sedangkan usianya di atas 2 tahun, maka penyusuan itu tidak menjadikan mahram baginya.

Pendapat yang mengatakan bahwa persusuan sesudah usia 2 tahun tidak menjadikan mahram diriwayatkan dari Ali, Ibn Abbas, Ibn Mas‟ud, Jabir, Abu Hurairah, Ibn Uma, Ummu Salamah, Said Ibn Musayyab, dan Atta serta jumhur ulama. Pendapat inilah yang dipegang oleh Mazhab

36Arifatul Yuliani, Konsep Kesejahteraan Anak dalam Al-Qur’an, (Yogyakarta: Fakultas Dakwah dan Komunikas, UIN Sunan Kalijaga, 2013), h. 98-99.

37Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir Juz 2, (Bandung: Sinar Baru Algesindo 2000), h. 553-554.

(37)

26

Syafi‟i, Ahmad, Ishak, Ats-Tsauri, Abu Yusuf, Muhammad dan Malik dalam salah satu riwayatnya. Menurut riwayat yang lain dari Imam Malik juga disebutkan bahwa masa persusuan itu adalah 2 tahun 2 bulan dan menurut riwayat yang lainnya lagi yaitu 2 tahun 3 bulan.

Abu Hanifah mengatakan masa penyusuan adalah dua setengah tahun. Zuffar Ibnul Huzail mengatakan “bahwa selagi si anak masih mau menyusu, maka megenyangkan dan ketika menyusu belum disapih". Hal inilah yang diamalkan dikalangan kebanyakan para ulama dari kalangan sahabat Rasulullah dan lain-lainnya. Dimana mereka berpendapat bahwa penyusuan tidak menjadi mahram kecuali bila dilakukan dalam usia dibawah dua tahun, hal ini tidak menjadi mahram sama sekali.38

Pendapat yang mengatakan bahwa persusuan sesudah usia 2 tahun tidak menjadikan mahram diriwayatkan dari Ali, Ibn Abbas, Ibn Mas‟ud, Jabir, Abu Hurairah, Ibn Uma, Ummu Salamah, Said Ibn Musayyab, dan Atta serta jumhur ulama. Pendapat inilah yang dipegang oleh Mazhab Syafi‟i, Ahmad, Ishak, Ats-Tsauri, Abu Yusuf, Muhammad dan Malik dalam salah satu riwayatnya.

Menurut riwayat yang lain dari Imam Malik juga disebutkan bahwa masa persusuan itu adalah 2 tahun 2 bulan dan menurut riwayat yang lainnya lagi yaitu 2 tahun 3 bulan. Abu Hanifah mengatakan masa penyusuan adalah 2 ½ tahun. Zuffar Ibnul Huzail mengatakan bahwa

“selagi si anak masih mau menyusu, maka batas maksimalnya adalah 3

38Ibid., h. 554-555.

(38)

tahun”, pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Al-Auza‟i. Malik mengatakan, “Seandainya seorang anak telah dari penyusuan sebelum usia 2 tahun, lalu ada seorang wanita menyusukannya setelah disapih maka penyusuan kali ini tidak menjadikan mahram karena penyusuan saat itu disamakan kedudukannya dengan makanan”, Pendapat ini merupakan satu riwayat lai dari Al-Auza‟i.

Telah diriwayatkan dari Umar dan Ali bahwa keduanya pernah mengatakan, “Tiada persusuan sesudah penyapihan”. Maka kalimat ini diinterpretasikan bahwa keduanya bermaksud usia 2 tahun, sama halnya dengan pendapat jumhur ulama, yakni baik telah disapih ataupun belum.

Akan tetapi, dapat pula diinterpretasikan bahwa keduanya bermaksud kenyataanya. Dengan demikian, berarti sama dengan apa yang dikatakan oleh Imam Malik.39

3. Manfaat Air Susu Ibu dalam Islam

Air Susu Ibu (ASI) memiliki manfaat yang bagus buat perkembangan dan kekebalan tubuh bayi, berikut manfaat ASI di tinjau dari agama islam:

1) Makanan yang terbaik untuk pertumbuhan

Kata

ثاذنإنا

(al-walidat) dalam penggunaan Al-Qur‟an berbeda

dengan kata ummahat yang merupakan bentuk jamak dari kata أ

و

(umm).

Kata ummahat digunakan untuk menunjuk kepada para ibu kandung, sedang kata al-walidat adalah para ibu, baik ibu kandung maupun bukan.

Ini berarti bahwa Al-Qur‟an telah sejak dini telah menggariskan bahwa

39Ibid., h. 557.

(39)

28

air susu ibu, baik ibu kandung maupun bukan, adalah makanan terbaik buat bayi hingga usia dua tahun. Namun demikian, air susu ibu kandung lebih baik daripada selainnya.40 Hal ini juga diungkapkan oleh Syaidina Ali AS :

“Tidak ada air susu yang lebih berbarakah bagi anak bayi dari air susu ibunya sendiri”.41

Sebagaimana yang diungkapkan sebagian ulama bahwa menyusui bayi sebaiknya dilakukan oleh ibu sendiri, karena air susu adalah makanan utama bagi bayi dan ia sangat memerlukan perawatan yang seksama dan tidak mungkin dilakukan oleh orang lain kecuali ibunya sendiri.42

2) Membentuk jasmaniyah, kewajiban dan karakter

Syeikh Muhammad Abduh berkata “bahwasanya air susu berdampak kepada jasmani anak bayi dan akhlaknya, oleh sebab itu perhatikan ibu susuannya, maka jauhilah dari ibu susuan yang sedang sakit dan akhlaknya rusak. Namun jangan takut dari air susu ibu kandungnya walaupun ibunya memiliki penyakit pada badannya atau akhlaknya sebab anak tersebut sudah mengambil tabi‟at ibunya semenjak didalam Rahim”.43

40M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Pisangan Ciputat: Lentera Hati, 2012), h. 609.

41Hidayatullah Ismail, “Syariat Menyusui Dalam AlQuran” dalam Kajian Surat Al-Baqarah Ayat 233, Volume 3., No. 1., (2013), h. 62.

42Ahmad Musthafa‟, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: CV Toha Putra, 1986), juz 1,2,3, h. 320.

43Muhammad Rasyid Ridho, Tafsir Al-Qur’an Al-Hakim, (Beirut: Dar Al-kotob Al-ilmiyah, 2011), juz 2, h. 288.

(40)

Bahkan ada di kalangan ulama yang sangat menjaga kesucian darah anaknya, tidak mau memberikan anaknya disusukan oleh perempuan lain yang tidak dikenalnya keagungan budi perempuan tersebut,44 karena air susu terbentuk dari darah yang mana merupakan makanan utama bagi bayi dan air susu tersebut selain memberikan pengaruh jasmaniyah bayi juga memberikan pengaruh kejiwaan dan kecerdesaan.45

Dalam riwayat ahlul bait dikatakan: “Dengan menyusui, hubungan cinta dan kasih sayang antara ibu dan anak akan semakin erat dan membuat anak merasa tenang dan aman”.

Menyusui bayi akan berdampak positif pada hubungan emosional antara ibu dan bayi. Secara naluriah, ibu akan mengelus dan membelai kepala bayinya saat menyusui ibu juga akan mendoakan bayinya agar menjadi anak shaleh, pintar, panjang umur dan berguna bagi masyarakat.

Tidak jarang pula ibu mendendangkan ayat-ayat atau lagu-lagu yang berbau nasehat saat menyusui anaknya. Dengan menyusu pada ibu kandung, anak merasa lebih tentram sebab, Menurut penelitian ilmuan, ketika itu bayi mendengar suara detak jantung ibu yang telah dikenalnya secara khusus sejak dalam perut. Detak jantung itu berbeda antara seorang wanita dan wanita yang lain.46

d. Memperkuat tulang dan menumbuhkan daging

44Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta : Pustaka Panjimas, 2015), juz 1, h. 232.

45Ahmad Musthafa‟, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: CV Toha Putra, 1986), juz 1,2,3, h. 319.

46 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Pisangan Ciputat: Lentera Hati, 2012), h. 609.

(41)

30

Ibnu Mas‟ud rodhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah dikatakan persusuan kecuali apa-apa yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging”.47

Air susu yang keluar dari ibu susuan dan di isap oleh anak bayi menjadi darah, pertumbuhan daging dan tulang bagi anak bayi.48

4.

Menyusui dalam Ilmu Kesehatan a. Pengertian

Menyusui adalah proses pemberian air susu ibu (ASI) kepada bayi, dimana secara langsung bayi akan memiliki refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan ASI. Menyusui adalah pemberian sangat berharga yang dapat diberikan seorang ibu pada bayinya. Dalam keadaan miskin, sakit atau kurang gizi, menyusui merupakan pemberian yang dapat menyelamatkan kehidupan bayi. Menyusui merupakan tindakan alamiah yang keberhasilannya tidak diperlukan alat-alat khusus dan biaya yang mahal namun membutuhkan kesabaran, waktu, dan pengetahuan tentang menyusui serta dukungan dari lingkungan keluarga terutama suami . Selain itu menyusui merupakan realisasi dari tugas yang wajar dan mulia seorang ibu.

ASI merupakan makanan dan minuman yang pertama untuk bayi.

ASI mengandung sumber gizi yang sempurna sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Bayi adalah makhluk yang

47Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy‟as, Sunan Abi Dawud, (Bairut: Maktabah misriyah, 2006), juz 2, h. 222.

48Muhammad Rasyid Ridho, Tafsir Al-Qur’an Al-Hakim, (Beirut: Dar Al-kotob Al-ilmiyah, 2011), juz 2, h. 288.

(42)

yang sangat rentan terhadap penyakit. Karena bayi harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sehingga bayi memerlukan anti bodi dan imun yang kuat untuk dapat melindungi dirinya. Hal tersebut hanya dapat di dapat dari kandungan ASI.

Sejauh ini belum ada makanan yang dapat menandingi kualitas dari air susu ibu. ASI memiliki kedudukan tertinggi sebagai nutrisi lengkap untuk bayi. Hanya ASI saja yang dapat diterima oleh sistem pencernaan bayi sehingga ASI harus diberikan secara eksklusif selama enam bulan tanpa bantuan makanan pendamping lainnya. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama akan mengalami pertumbuhan otak yang optimal pada bagian otak keseluruhan dan kemampuan anak dalam bahasa, motorik, dan juga emosi. Hal ini menunjukkan bahwa ASI memiliki komponen lengkap dalam pertumbuhan jasmani dan rohani seorang bayi.49

b. ASI eksklusif dan ASI dua tahun

ASI merupakan cairan hasil sekresi kelenjar payudara dari seorang perempuan (ibu). ASI merupakan emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garam garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu yang berguna sebagai makanan utama bagi bayi.

Sebagaimana telah di sebutkan di atas bahwa Air susu ibu adalah makanan tunggal dan terbaik yang memenuhi semua kebutuhan tumbuh kembang

49Sri Astuti DKK, Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui, (Jakarta: Erlangga, 2015), h.

152.

(43)

32

fisik dan motoric bayi sampai usia enam bulan . Berikut adalah penjelasan tentang tahapan ASI eksklusif sampai ASI 2 tahun.

1) ASI Eksklusif

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman lain pada bayi berusia 0-6 bulan. Pada tahun 2001 Word Health Organitation (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama 6 bulan

pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikan, ketentuan sebelumnya bahwa ASI eksklusif itu cukup 4 bulan sudah tidak berlaku lagi.50

ASI eksklusif atau lebih tepatnya pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air putih dan tanpa pemberian makanan lain makanan padat seperti pisang, pepaya, biskuit, bubur nasi dan tim. ASI eksklusif berperan penting untuk bayi bagi masa depannya. ASI ini sangat banyak manfaatnya baik untuk bayi, ibu, keluarga, negara bahkan dunia.

WHO merekomendasikan ASI Eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Di mulai pada usia enam bulan, selanjutnya bayi di harapkan agar diperkenalkan makanan padat seperti buah buahan dan sayuran yang dihaluskan untuk melengkapi nutrisi ASI sampai anak berusia dua tahun.51 2) ASI dua tahun

Pada tahapan selanjutnya, dengan tetap memberikan ASI pada bayi, bayi di anjurkan untuk di perkenalkan atau di berikan makanan

50Sri Astuti DKK, Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui, (Jakarta: Erlangga, 2015), h.

154.

51Ibid., h. 157.

(44)

pendamping air susu ibu (MPASI). Makanan pendamping ASI adalah makanan lunak maupun padat yang di buat dari bahan makanan khusus untuk bayi. Biasanya di buat dari bahan-bahan yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak tambahan. Tingkat tekstur juga sangat mempengaruhi proses pemberian MPASI . pemberian MPASI yang baik biasanya telah di ajarkan petugas kesehatan dalam pemeriksaan kehamilan untuk di pelajari lebih lanjut.52.

c. Faktor Kesehatan Yang Menghambat Pemberian ASI

Ada beberapa kondisi yang membuat ibu tidak boleh atau tidak dapat menyusui bayinya. Misalnya beberapa ibu tidak dapat menghasilkan pasokan ASI yang sehat, sementara itu yang lain mungkin menggunakan obat-obat tertentu atau perlu menjalani perawatan medis yang tidak aman untuk menyusui. Berikut beberapa kondisi medis yang menyebabkan ibu tidak bisa menyusui anaknya:

1) Mengidap HIV

Bagi wanita yang positiv HIV, ada kemungkinan besar menularkan virus ke anak di dalam kandungannya. Namun, masih ada kemungkinan hamil dengan infeksi HIV jika viral load ibu rendah dan menggunakan obat antiretroviral. Meski bgitu, sebagai tindakan pencegahan ibu disarankan untuk tidak menyusui bayinya setelah menyusui bayinya setelah meahirkan. Pasalnya, selalu ada kemungkinan penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi melalui ASI.

52Elisabeth Siwi Walyani, Perawatan Kehamilan dan Menyusui Anak Pertama Agar Bayi Lahir dan Tumbuh Sehat, (Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2015), h. 181.

(45)

34

Meski WHO menyarankan ibu yang terinfeksi HIV untuk tetap menyusui asalkan ibu dan bayinya mengkonsumsi obat antiroviral, masih banyak dokter yang menyarankan ibu untuk tidak menyusui sang buah hati sebagai salah satu tindakan pencegahan terbaik yang bisa dilakukan.

2) Tuberkulosis atau TBC

Ibu yang mengidap infeksi tuberkulosis aktif dan sedang dalam pengobatan anti-tuberkulosis disarankan untuk tidak menyusui bayinya. Bukan tanpa alasan , selalu ada kemungkinan besar ibu bisa menularkan infeksi tersebut ke anak melalui ASI.

3) Herpes

Jika ibu mengidap infeksi herpes aktif di payudara, maka menyusui adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Pasalnya, ibu yang tetap menyusui dalam kondisi ini akan membuat anak turut terkena infeksi. Ibu perlu tahu bahwa mengobati herpes pada bayi bisa menjadi prosedur yang menyakitkan dan terlalu banyak untuk diterima oleh Si Kecil. Ibu bisa kembali menyusui setelah infeksi mereda dan benar- benar sembuh.

4) Flu Babi

Infeksi virus ini tidak menyebar melalui ASI. Namun, ibu dan anak tetap dipisahkan satu sama lain agar infeksi tidak menular melalui kontak langsung. Meskipun ibu dan anak terpisah, tetapi ibu tetap dapat memompa ASI dan memberikannya kepada pengasuh atau

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan perumusan perhitungan value , dengan menggunakan perbandingan performansi tiap alternatif dengan mesin awal dan biaya yang dibutuhkan didapatkan Alternatif 1

Selain belajar menceritakan pengalaman, dalam bab ini kalian juga dapat belajar menggunakan huruf kapital, membaca cerita tokoh idola serta membuat karangan sederhana...

Jadi dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa special event merupakan suatu peristiwa atau kegiatan khusus di luar kebiasaan sehari hari yang dalam perencanaannya

Sehubungan dengan adanya program efisiensi dalam upaya untuk menyeimbangkan biaya operasional sekolah sesuai dengan jumlah karyawan yang ada yang dalam hal

Salah satu hal penting dari computer vision adalah ciri ( feature ) citra, ciri digunakan sebagai dasar untuk mendeteksi objek baik itu benda, manusia maupun hewan, ciri

Sesuatu yang menjadi sasaran pemeriksaan adalah untuk mencari adanya interpretasi undang-undang yang tidak benar, kesalahan hitung, pelaporan penghasilan yang tidak sesuai dengan

inframerah thermal yang dapat mendeteksi suhu permukaan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pati. Adapun data yang digunakan adalah data Landsat 7 dan Landsat 8. Tujuan

Pada tatap muka pertama, semua komponen berusaha menempatkan diri pada posisinya masing-masing, sesuai dengan rancangan tindakan yang tetapkan. Dosen pengampu menjelaskan