10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.2.Televisi Sebagai Media Masa
2.1.1. Pengertian Media Masa
Komunikasi merupakan hal penting yang tidak bisa lepas dari seluruh bidang aspek kehidupan. Setiap orang tentu pernah berkomunikasi, karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu bergantung pada manusia lain. Sehingga komunikasi merupakan cara atau alat mereka untuk saling berinteraksi. Baik itu melalui komunikasi sederhana maupun komunikasi yang tergolong canggih karena proses penyampaian melalui saluran yang disebut media massa.
Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio dan televisi, Cangara (1998). Media massa mampu menjangkau khalayak yang lebih luas dan relatif lebih banyak, pesannya juga bersifat abstrak dan terpencar. Media massa dapat berupa media cetak seperti koran dan majalah maupun media elektronik berupa radio dan televisi.
Masyarakat mampu ikut serta memberikan apresiasinya dalam pembuatan kebijakan pemerintah dengan keberadaan media massa sangat mudah dijumpai maupun diperoleh dan lebih mempermudah dalam mencari sebuah informasi. Media massa selama beberapa dasawarsa telah menjadi arus utama sumber informasi dan hiburan bagi khalayak. Media massa tidak hanya sekedar memberikan informasi dan hiburan semata, tetapi juga mengajak khalayak untuk melakukan perubahan perilaku. Konten media yang khas dan unik membawa pesan media terlihat sangat menarik, menimbulkan rasa penasaran khalayak.(Tamburaka, 2013: 39).
Pesan media tidak jadi begitu saja, tetapi dibuat dan diciptakan oleh media massa dengan tujuan tertentu. Media massa merupakan perantara atau alat yang digunakan dari suatu proses komunikasi seperti ketika seorang menulis surat, maka media yang digunakan adalah kertas. Media massa juga dikenal sebagai pers karena digunakan sebagai komunikasi di ruang pers. Pers merupakan istilah yang digunakan pada tahun 1920-an untuk memperkenalkan jenis media yang secara khusus dirancang untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Media
11
dapat diartikan sebagai: alat atau sarana komunikasi seperti majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi, sehingga dapat dikatakan media merupakan perantara dari suatu proses komunikasi seperti ketika seorang menulis surat, maka media yang digunakan adalah kertas atau ketika menelepon menggunakan media telepon.(Tamburaka, 2013: 39).
Media sebagai perantara komunikasi pada umumnya, pemahaman akan media massa lebih dari sekedar sebagai perantara komunikasi, akan tetapi media massa adalah media yang digunakan dalam komunikasi diruang pers. Sangat penting bagi pengguna media massa untuk mengidentifikasi karakteristik dan perbedaan setiap media massa baik cetak dan elektronik, dan sebelum mengakses informasi media massa, khalayak perlu mengidentifikasi media massa untuk menghubungkan dengan kebutuhan dan kepentingan pribadi dalam mengakses media massa.
2.1.2. Efek Media Massa
Efek adalah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri audience akibat keterpaan pesan-pesan media. David Berlo mengklasifikasikan efek atau perubahan dalam ranah pengetahuan, sikap dan perilaku nyata. Perubahan perilaku biasanya didahului oleh perubahan sikap, dan perubahan sikap biasanya didahului oleh perubahan pengetahuan. Efek diketahui melalui tanggapan khalayak (response audience) yang digunakan sebagai umpan balik (feed back). Jadi, umpan balik merupakan sarana untuk mengetahui efek (Wiryanto, 2000).
Ada tiga dimensi efek komunikasi massa, yaitu kognitif, afektif dan behavioral atau konatif. Efek kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan.
Efek afektif berhubungan dengan emosi, perasaan dan attitude (sikap). Sedangkan behavioral atau konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu (Sukendar, 2017).
1. Efek Kognitif
Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya. Menurut Mc Luhan, media massa adalah
12
perpanjangan alat indra kita. Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Karena kita tidak dapat, bahkan tidak sempat, mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata bersandarkan pada apa yang dilaporkan media massa (Elvinaro dkk, 2014).
Dengan kata lain, dampak ini berkaitan dengan penyampaian informasi, pengetahuan, keterampilan maupun kepercayaan oleh media massa. Dalam dunia modern, dampak kognitif penyebaran media massa terhadap khalayak semakin kuat. Pengaruh media massa terassa lebih kuat pada masyarakat modern karena mereka memperoleh banyak informasi dari media massa (Yasir, 2009).
2. Efek Afektif
Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberi tahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya (Elvinaro dkk, 2014).
Dampak pesan media massa sampai pada tahap afektif terjadi bila pesan yang disebarkan media mengubah apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Dampak ini berkaitan dengan perasaan, penilaian, rangsangan emosional, dan sikap (Yasir, 2009).
Sikap itu sendiri memiliki arti reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup pada suatu stimulus atau objek, sehingga perbuatan yang dilakukan manusia tergantung pada permasalahan dan berdasarkan keyakinan atau kepercayaan masing-masing individu.
Manifestasi sikap tidak langsung terlihat, akan teteapi dapat ditafsirkan dahulu dalam perilaku yang tertutup. Dengan demikian, sikap merupakan gambaran dari sesuatu kesiapan atau kesediaan individu untuk bertindak, bukan pelaksanaan motif tertentu. Meskipun kadang- kadang secara umum untuk menentukan sikap sebagai perasaan terhadap objek, mempengaruhi (yaitu, emosi diskrit atau gairah keseluruhan), dipahami sebagai pembeda dari sikap sebagai ukuran favorability.
Sikap memungkinkan untuk mengevaluasi seseorang dari suatu objek yang bervariasi mulai dari sangat negatif sampai sangat positif, selain itu mengakui manusia yang bertentangan atau ambivalen terhadap makna objek pada waktu berbeda mengekspresikan sikap positif dan negatif terhadap objek yang sama (Herri & Lumongga, 2010).
13 3. Efek Behavioral
Efek behavioral merupakan akibat timbulnya pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. Pernyataan ini mencoba mengungkapkan tentang efek komunikasi massa pada perilaku, tindakan dan gerakan khalayak yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Adegan kekerasan dalam televisi atau film akan menyebabkan orang menjadi beringas. Siaran kesejahteraan keluarga yang banyak disiarkan dalam televisi menyebabkan para ibu rumah tangga memiliki keterampilan baru. Pernyataan – pernyataan ini mencoba mengungkapkan tentang efek komunikasi massa pada perilaku, tidndakan dan gerakan khalayak yang tampak dalam kehidupan sehari – hari (Elvinaro dkk, 2014).
Perilaku manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni; perilaku dasar (umum) sebagai makhluk hidup dan perilaku makhluk sosial. Perilaku dalam arti umum, memiliki arti yang berbeda dengan perilaku sosial. Perilaku sosial adalah perilaku spesifik yang diarahkan pada orang lain.penerimaan perilaku sangat tergantung pada norma– norma sosial dan diatur oleh berbagai sarana kontrol sosial.
Perilaku dasar merupakan suatu tindakan atau reaksi biologis dalam menanggapi rangsangan eksternal atau internal, yang didorong oleh aktivitas dari sistem organisme, khususnya efek, respon terhadap stimulus. Selain itu, perilaku manusia tidak terlepas dari faktor – faktor yang mempengaruhinya, seperti genetika, intelektual, emosi, sikap, budaya, etika, wewenang, hubungan, dan persuasi (Kuswana, 2014).
2.1.3. Pengertian Televisi
Televisi berasal dari kata, yaitu tele (bahasa Yunani) yang berarti jauh, dan visi (videra bahasa latin) yang berarti penglihatan. Kata visi dalam bahasa Inggris diartikan dengan melihat jauh. Melihat jauh diartikan dengan gambar dan suara yang diproduksi oleh suatu tempat (studio televisi yang dapat dilihat dari tempat lain melalui sebuah perangkat penerima (televisi set). Sistem transmisi/pancaran gambar dan suara yang dihasilkan kamera elektronik, dan selanjutnya ditransmisikan melalui pemancar. Televisi bermula ditemukannya electrische teleskop oleh mahasiswa Jerman yang bernama Paul Nipkov yang dijuluki ”bapak” televisi untuk mengirim gambar melalui udara dari satu tempat ketempat lainnya (Muhyidin, 2002)
14
Siaran televisi di Indonesia secara resmi dimulai pada tahun 1962. Selama 27 tahun penonton televisi di Indonesia hanya dapat menonton satu saluran televisi (Takariani, 2013).
Televisi merupakan paduan audio dari dua bagian yang berbeda yaitu audio segi penyiarannya (broadcast) dan video dari segi gambar bergeraknya (moving images). Ditinjau dari stimulasi alat indera, maka karakteristik televisi adalah sebagai berikut :
1. Audio Visual
Televisi memiliki kelebihan, yakni dapat di dengar sekaligus dapat dilihat (audiovisual). Jadi, khalayak televisi dapat melihat gambar yang bergerak. Namun demikian, tidak berarti gambar lebih penting dari pada kata-kata. Keduanya harus ada kesesuaian secara harmonis.
2. Berpikir dalam Gambar
Pihak yang bertanggung jawab atas kelancaran acara televisi adalah pengarah acara.
Bila ia membuat naskah acara, ia harus berpikir dalam gambar (think in picture). Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dalam gambar. Pertama, adalah visualisasi (visualization), yakni menerjemahkan katakata yang mengandung gagasan yang menjadi gambar secara individual. Dalam proses visualisasi, pengarah acara harus berusaha menunjukkan obyek-obyek tertentu menjadi gambar yang jelas dan menyajikan sedemikian rupa, sehingga mengandung suatu makna. Menurut Effendy obyek tersebut bisa manusia, benda, kegiatan dan lain sebagainya.Tahap kedua adalah penggambaran (picturization), yakni kegiatan merangkai gambar-gambar individual sedemikian rupa, sehingga kontinuitasnya mengandung makna tertentu (Nurfalah, 2007).
Media massa televisi meskipun sama dengan radio dan film sebagai media elektronik, tetapi mempunyai ciri dan sifat yang berbeda, terlebih lagi dengan media cetak seperti surat kabar dan majalah, untuk itulah dalam menyampaikan pesan-pesannya juga mempunyai kekhususan. Pada umumnya, isi program siaran di televisi meliputi acara sebagai berikut : News Reporting (Laporan Berita), Talk Show, Call-in Show, Documentair, Magazine/Tabloid, Rural Program, Advertising, Education/Instructional, Art & Culture, Music, Srap Operas/Sinetron/Drama, TV Movies, Game Show/Kuis, Comedy/Situation Comedy dll (muda, 2003:9).
Berbicara mengenai televisi tidak akan terlepas dari komunikasi massa karena televisi merupakan salah satu alat yang digunakan dalam menyampaikan komunikasi massa. Oleh
15
karena itu karakteristik televisi tidak jauh berbeda dengan karakteristik komunikasi massa pada umumnya.
Beberapa karakteristik tersebut, penulis coba rangkum dari pendapat Nurudin dalam bukunya Komunikasi Massa (2003:16-29) sebagai berikut :
1. Komunikator dalam komunikasi massa melembaga; bukan satu orang tetapi kumpulan orang-orang, artinya, gabungan berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga.
2. Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen, artinya berasal dari beragam pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, ekonomi, jabatan, agama, atau bahkan kepercayaan yang tidak sama.
3. Pesannya bersifat umum; pesan-pesan dalam komunikasi massa itu tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu sehingga khalayaknya plural, maka pesannya tidak bersifat khusus untuk golongan tertentu saja.
4. Komunikasinya berlangsung satu arah; kita tidak bisa langsung memberikan respon kepada komunikatornya, kalaupun bisa sifatnya tertunda dan dalam kasus-kasus tertentu saja.
5. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan; dalam waktu bersamaan isinya dapat diterima di seluruh pelosok dunia.
6. Komunikasi massa mengandalkan peralatan teknis; media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis (TV misalnya membutuhkan pemancar)
7. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper; gatekeeper adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui media massa. Gatekeeper ini berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disampaikan lebih mudah diterima.
2.1.4. Pengaruh Televisi
Televisi sebagai media yang memiliki banyak kelebihan tentunya juga memiliki banyak pengaruh kepada masyarakat. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa, menonton televisi menimbulkan pengaruh yang baik, yang lain menganggap merusak (Hurlock, 1978) Pengaruh yang sering muncul akibat berkembangnya televisi adalah pengaruh yang merusak.
Akibat dari perkembangan teknologi komunikasi massa televise, maka akan memberikan
16
pengaruh-pengaruh dalam bidang politik, ekonomi, social, budaya, bahkan pertahanan dan keamanan negara (Diahlok, 2012).
Banyaknya waktu senggang yang dimiliki oleh anak menimbulkan pengaruh yang mendalam pada anak. Anak menjadi sasaran terbesar yang dipengaruhi oleh televisi. Berbagai pengaruh televisi terhadap anak antara lain :
1. Pengaruh fisik
Menonton televisi seringkali mengganggu aktivitas anak untuk makan dan tidur, sehingga menyebabkan anak menjadi sakit pencernaan dan kurang tidur.
2. Pengaruh pada bentuk bermain lainnya
Menonton televisi mengurangi waktu yang tersedia bagi kegiatan bermain anak bersama teman sebayanya. Ini menimbulkan kuraangnya pergaulan anak terhadap seman sebaya dan lingkungannya.
3. Pengaruh pada pekerjaan sekolah
Televisi dianggap lebih menarik dan menggairahkan daripada buku pelajaran. Akibatnya, anak menjadi malas untuk belajar dirumah karena ada televisi.
4. Pengaruh pada hubungan keluarga
Menonton televisi sering membatasi interaksi sosial antar anggota keluarga dan membatasi percakapan.
5. Motivasi untuk memperoleh pengetahuan
Televisi dijadikan sebagai pedoman oleh anak-anak, sehingga seringkali anak termotivasi untuk mengikuti yang dilihatnya di layar televisi.
6. Pengaruh pada sikap
Tokoh di televisi biasanya digambarkan dengan berbagai stereotip. Anak kemudian berfikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang yang digambarkan dalam televisi. Ini tentunya memperngaruhi sikap anak terhadap sekelompok orang yang digambarkan tersebut.
7. Pengaruh pada nilai
Acara di televisi terus menerus menampilkan adegan-adegan kekerasan yang tidak layak ditonton, hal ini akan menumpulkan kepekaan dan mendorong pengembangan nilai anak
17
yang tidak sejalan dengan nilai mayoritas kelompok sosial. Apabila anak sudah tidak peka terhadap kekerasan, maka mereka anak menerima perilaku tersebut sebagai hal yang normal terjadi didalam masyarakat.
8. Pengaruh pada perilaku
Salah satu kebiasaan anak adalah suka meniru hal-hal yang mereka lihat. Apabila anak- anak sering melihat adegan-adegan yang tidak pantas yang di tayangkan di televisi, tentunya hal tersebut yang akan dicontoh oleh anak.
9. Pengaruh pada cara berbicara
Cara berbicara anak sangat dipengaruhi oleh apa yang didengarnya. Sesuatu yang diucapkan seseorang di layar televisi tentu akan mempengaruhi pola berbicara anak.
10. Model untuk peran dalam hidup
Tokoh televisi memberi model untuk berbagai peran dalam kehidupan, perilaku yang sesuai dengan jenis kelamin, dan karir. Hal ini memberi mereka wawasan mengenai apa yang diharapkan kelompok sosial dari mereka.
11. Pengaruh pada keyakinan
Banyak anak yakin bahwa apa saja yang dikatakan televisi merupakan hal yang benar dan bahwa penyiar televisi lebih mengetahui segala sesuatu dibanding orang tua dan guru. Hal ini cenderung membuat anak mudah tertipu.
Berangkat dari hal diatas, penelitian ini dapat diklasifikasikan dalam model jarum Hipodermik (Hypodermic Needle). Penggunaan teori ini tidak dimaksudkan untuk mengujinya, melainkan sebagai dasar pijakan atau kerangka dalam mengkaji pengaruh dari Sinetron “Anak Langit” terhadap perilaku imitasi anak usia dini didaerah Tlogomas.
Model ini mempunyai asumsi bahwa komponen-komponen komunikasi (komunikator, pesan, media) amat kuat dalam mempengaruhi komunikasi. Disebut model jarum hipodermik karena dalam model ini dikesankan seakan-akan pesan “disuntikkan”
langsung ke dalam jiwa komunikan. Model ini sering juga disebut dengan “bullet theory”
(teori peluru) yang memandang pesan-pesan komunikasi bagaikan melesatnya peluru-peluru senapan yang mampu merobohkan tanpa ampun siapa saja yang terkena peluru (Jalaludin, 1997).
18
Peneliti akan menyajikan beberapa contoh kajian yang menggunakan teori jarum suntik, diantaranya :
1. Hasil penelitan menunjukkan bahwa aktivitas ceramah di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan mempunyai pengaruh yang lemah atau rendah terhadap akhlak karyawan dalam melayani pasien rawat inap di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (Muflihatul, 2008).
2. Hasil penelitan menunjukkan bahwa metode ceramah terhadap perubahan tingkah laku beragama Masyarakat Boto Putih Kelurahan Simolawang Kecamatan Simokerto Kodya Surabaya itu sangat berpengaruh dengan tingkat pengaruh yaitu hubungan yang cukup berarti dengan prosentase 0,48 (Anam, 1995).
3. Hasil penelitan menunjukkan bahwa aktivitas ceramah agama terhadap keharmonisan hubungan kerja para karyawan Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Lamongan itu berpengaruh dengan tingkat pengaruh yaitu berada diantara 76% - 100% yang berarti kategori pengaruhnya adalah baik (Khotimah, 1996).
Peneliti memilih teori ini karena pada teori ini terdapat penjelasan tentang bagaimana cara individu dipengaruhi oleh pesan dan komunikator. Dan dalam konteks penelitian ini media diidentifikasikan memuat pesan yang menimbulkan pengaruh dari sinetron Sinetron “Anak Langit” terhadap perilaku imitasi anak usia dini didaerah Tlogomas.
2.2. Program Acara Televisi
Program berasal dari bahasa inggris programme atau program yang berarti acara atau rencana. Undang-undang pentiaran Indonesia tidak menggunakan kata program untuk acara tetapi menggunakan istilah “siaran” yang didefinisikan sebagai rangkaian pesan yang disajikan dalam berbagai bentuk. Dengan demikian, pengertian program adalah segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiencenya. Program atau acara yang disajikan adalah faktor yang membuat audience tertarik untuk mengikuti siaran yang dipancarkan stasiun penyiaran apakah itu radio atau televisi (Sosiawan, 2010).
Suatu program televisi selalu mempertimbangkan agar program acara tersebut itu digemari atau dapat diterima oleh audience. Berikut ini empat hal tang terkait dalam karakteristik suatu program televisi :
1. Product, yaitu materi program yang dipilih haruslah yang bagus dan diharapkan akan disukai audience yang dituju.
19
2. Price, yakni biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoduksi atau membeli program sekaligus menentukan tarif bagi pemasang iklan yang berminat memasang iklan pada program yang bersangkutan.
3. Place, yaitu kapan waktu siaran yang tepat untuk program itu. Pemilihan waktu siar yang tepat bagi suatu program akan sangat membantu keberhasilan program bersangkutan.
4. Promotion, yaitu bagaimana memperkenalkan dan kemudian menjual acara itu sehingga dapat mendatangkan iklan dan sponsor.
2.2.1. Macam- macam Program Televisi
Berbagai macam program yang disajikan stasiun berikut jenis-jenis program terbagi menjadi dua bagian yaitu (Sosiawan, 2010) :
4. Program informasi, adalah segala jenis siaran yang bertujuan untuk memberitahukan tambahan pengetahuan (informasi) kepada khalayak.
a. Berita keras (Hard news), adalah segala bentuk informasi yang penting dan menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena sifatnya yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui oleh khalayak secepatnya, macamnya yang terdiri dari :
1) Straight News, suatu berita singkat (tidak detail) yang hanya menyajikan informasi terpenting saja terhadap suatu peristiwa yang diberitakan.
2) Feature, adalah berita yang menampilkan berita-berita ringan namun menarik.
3) Infotaiment, adalah berita yang menyajikan informasi mengenai kehidupan orang-orang yang dikenal masyarakat (selebriti).
b. Berita lunak (Soft News), adalah informasi yang penting dan menarik yang disampaikan secara mendalam (indepth) namun tidak bersifat harus segera ditayangkan, beberapa contoh diantaranya:
1) Current Affair, adalah program yang menyajikan informasi yang terkait dengan suatu berita penting yang muncul sebelumnya namun dibuat secara lengkap dan mendalam.
2) Magazine, adalah program yang menampilkan informasi ringan dan mendalam.
Magazine menekankan pada aspek menarik suatu informasi ketimbang aspek pentingnya
20
3) Dokumenter, adalah program informasi yang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan dengan menarik.
4) Talk Show, adalah yang menampilkan beberapa orang untuk membahas suatu topik tertentu yang dipandu oleh seorang pembawa acara.
5. Program hiburan, adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audience dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan permainan. Program yang temasuk dalam kategori hiburan adalah drama, musik, dan permainan (game), beberapa contohnya:
a. Drama, adalah pertunjukan (show) yang menyajikan cerita mengenai kehidupan atau karakter seseorang atau beberapa orang (tokoh) yang diperankan oleh pemain (artis) yang melibatkan konflik dan emosi.
b. Sinetron, merupakan drama yang menyajikan cerita dari berbagai tokoh secara bersamaan. Masing-masing tokoh memiliki alur cerita mereka sendiri-sendiri tanpa harus dirangkum menadi suatu kesimpulan.
c. Film, televisi menjadi media paling akhir yang dapat menayangkan film sebagai salah satu programnya karena pada awalnya tujuan dibuatnya film untuk layar lebar.
Kemudian film itu sendiri di distribusikan menjadi VCD atau DVD setelah itu film baru dapat ditayangkan di televisi.
d. Permainan atau (game show), adalah suatu bentuk program yang melibatkan sejumlah orang baik secara individu atau kelompok yang saling bersaing untuk mendapatkan sesuatu
e. Musik, program ini merupakan pertunjukan yang menampilkan kemampuan seseorang atau beberapa orang pada suatu lokasi baik di studio ataupun di luar studio.
Program musik di televisi sangat ditentukan artis menarik audience. Tidak saja dari kualitas suara namun juga berdasarkan bagaimana mengemas penampilannya agar menjadi lebih menarik.
f. Pertunjukan, merupakan program yang menampilkan kemampuan seseorang atau beberapa orang pada suatu lokasi baik di studio ataupun luar studio.
2.2.2. Sinetron
Sinetron merupakan kepanjangan dari sinema elektronik yang berarti sebuah karya cipta senibudaya, yang merupakan komunikasi pandang dengar yang dibuat berdasar sinematografi yang direkam pata pita video, melalui proses elektronik lalu ditayangkan melalui
21
stasiun penyiaran televisi. Sebagai media komunikasi massa, sinetron memiliki ciri-ciri diantaranya bersifat satu arah serta terbuka untuk publik secara luas dan tidak terbatas (Muhyidin, 2002).
Sinetron adalah pertunjukan suatu drama yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronik (televisi) yang ditayangkan dengan durasi waktu tertentu pada hari dan jam tertentu (KBBI, Hal 994). Sinetron merupakan sinema berseri sesuatu yang harus ditayangkan di media televisi, dengan cerita yang dibuat sedemikian rupa sehingga sinetron yang ditayangkan menjadi acara yang dapat dilihat dari segala kalangan terutama para kaum perempuan, baik dari ibu-ibu, dewasa, remaja hingga tak jarang anak-anak juga ada yang melihatnya. Penonton sinetron juga dari berbagai kalangan dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas. Sadar atau tidak sadar tayangan sinetron mampu mengubah pola hidup masyarakat yang melihatnya. Dengan alasan, bahwa masyarakat ingin meniru kehidupan yang dikisahkan dalam sinetron, ditambah lagi jika yang berperan dalam sinetron tersebut adalah idolanya.
Istiah sinetron pertama kali dikenalkan oleh Soemarjono, salah satu pendidiri kampus IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Sinetron mempunyai ciri khas yaitu pada pengerjaannya yang kejar tayang. Jadi pengerjaan sinetron ini tidak seperti film yang dalam satu produksi hanya memerlukan beberapa hari untuk take. Beda sinetron dengan film juga nampak pada tayangannya bahwasanya film hanya tayang satu atau dua episode saja tetapi untuk sinetron ini bisa mencapai ribuan episode.
Dalam pengerjaannya sinetron ini biasanya syuting dengan berdasarkan episode.
Berbeda dengan sinetron luar negeri yang memiliki musim (season) sehingga penayangan dilakukan setelah syuting satu musim selesai. Hal ini menjadikan jalan cerita bisa diubah dengan mudah. Akibatnya, alur cerita menjadi berlebihan atau tidak masuk akal. Sinetron lebih sering ditayangkan saat prime time atau disaat waktu-waktu senggang misalnya pukul 18.00- 20.00 WIB. Durasi sinetron pada umumnya setengah jam per episode. Seiring dengan bertambahnya jumlah stasiun televisi di Indonesia, maka tema sinetron yang ditampilkan semakin beragam.
Sinetron tentunya memiliki nilai-nilai tertentu sehingga disukai oleh masyarakat.
Berikut ini faktor yang membuat sinetron disukai menurut Kuswandi (1996):
1. Isi pesannya sesuai dengan realitas sosial pemirsa.
22
2. Isi pesannya mengandung cerminan tradisi nilai luhur dan budaya masyarakat (pemirsa).
3. Isi pesannya lebih banyak mengangkat permasalahan atau persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat
2.2.3. Dampak Tayangan Sinetron
Disamping memiliki manfaat maka adanya tayangan sinetron juga dapat memberikan dampak yang dkurang baik terutama bagi anak. Dampak sinetron yang terjadi pada anak menurut Sari (2011), sebagai berikut:
1. Pada usia 0-3 tahun akan mengganggu perkembangan otak yang berdampak pada perkembangan bicara, kemampuan membaca verbal, maupun pemahaman,
2. Pada usia 5-10 tahun akan menghambat kemampuan dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresifitas dan kekerasan serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan,
3. Membuat anak menjadi konsumtif,
4. Karena anak belum mempunyai daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di sinetron,
5. Anak akan berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang yang di drama sinetron. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa,
6. Bahasa yang digunakan dalam drama sintron terlalu simpel, memikat, banyak kata-kata yang disingkat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar,
7. Terlalu sering nonton drama sinetron dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola fikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, dan perkembangan kognitifnya.
Menurut Amri (2016) dampak positif dan negatif dari tayangan sinetron ini adalah sebagai berikut :
1. Menghargai orang tua 2. Memanfaatkan pesan baik 3. Lebih mengerti kehidupan
4. Membangun rasa simpatik dan kasih sayang 5. Belajar memecahkan masalah
23
Disamping dampak positif adanya tayangan sinetron maka terdapaat pulan dampak negatif tayangan sinetron yaitu:
1. Sering menampilkan kekerasan 2. Menimbulkan contoh yang tidak baik.
3. Menonjolkan percintaan 4. Meniru sifat antagonis.
Perkembangan tayangan sinetron di Indonseia berkembang pesat seiiring dengan kemajuan stasiun televisi itu sendiri. Hampir semua stasiun televisi di Indonesia menayangkan tema yang sama dalam tayangan sinetron ini. Seperti kita ketahui bahwasanya sekarang ini ada banyak sekali stasiun-stasiun televisi yang menayangkan kisah remaja atau sinetron remaja.
2.3. Tinjauan Perilaku
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan, (KBBI, hal 859). Hal ini berarti bahwa Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni disebut rangsangan. Dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Menurut Skiner ada beberapa bentuk perilaku yang dapat dibedakan menjadi:
1. Perilaku yang alami (innate behavior), yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan, yaitu yang berupa refleks-refleks dan insting.
2. Perilaku operan (operan behavior), yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.
perilaku ini merupakan perilaku yang dibentuk, dipelajari dan dapat dikendalikan, karena itu dapat berubah melalui proses belajar.
Sedangkan Menurut Sarwano perilaku mempunyai arti lebih konkrit dari pada “jiwa”.
Karena lebih konkrit itu, maka perilaku lebih mudah dipelajari dari pada jiwa dan melalui perilaku kita tetap akan dapat mempelajari jiwa. Termasuk dalam perilaku di sini adalah perbuatan yang terbuka (overt) maupun yang tertutup (covert).
1. perilaku terbuka adalah perilaku yang kasat mata, dapat diamati secara langsung oleh pancaindra, seperti cara berpakaian atau cara berbicara.
2. perilaku yang tertutup adalah perilaku yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung, misalnya berfikir, sedih, berhayal, bermimpi, takut dan sebagainya, Hasnawati (2013).
24
Perilaku manusia sebagian besar ialah berupa perilaku yang dibentuk, perilaku yang dipelajari. Berkaitan dengan hal tersebut maka salah satu persoalan ialah bagaimana cara membentuk perilaku itu sesuai dengan yang diharapkan, Istianah (2014).
1. Pembentukan perilaku dengan Kondisioning atau Kebiasaan.
2. Pembentukan perilaku dengan Pengertian (Insight).
3. Pembentukan perilaku dengan menggunakan model atau contoh.
Perubahan perilaku selalu beriringan dengan proses perkembangan. Secara umum perkembangan merupakan pola perubahan yang dimulai sejak masa pembuahan dan terus berlangsung selama masa hidup. Sebagian besar perkembangan melibatkan proses pertumbuhan, meskipun perkembangan juga melibatkan proses pembusukan (seperti dalam proses kematian). Pola perkembangan bersifat kompleks karena pola perkembangan melibatkan sejumlah proses, Istianah (2014). Proses perkembangan tersebut antara lain : 1. Proses biologis (biological process) melibatkan perubahan fisik dalam tubuh individu.
Gen-gen yang diwariskan dari orang tua, perkembangan otak, tinggi dan berat tubuh, perubahan dalam keterampilan motorik, perubahan hormonal dimasa pubertas, semuanya mencerminkan proses biologis.
2. Proses kognitif (cognitive process) melibatkan perubahan pemikiran dan intelegensi individu. Mengingat sebuah puisi, memecahkan soal matematika, menghayalkan sesuatu (berimajinasi), semuanya melibatkan proses kognitif.
3. Proses sosio-emosional (socioemutional process) melibatkan perubahan dalam hal emosi, kepribadian, relasi individu dengan orang lain, dan konteks sosial. Menaggapi perkataan orang tua, agresif terhadap kawan-kawan sebaya, kegembiraan dalam pertemuan sosial, semua mencerminkan proses sosio- emosional dalam perkembangan remaja, Istianah (2014).
Jadi, perkembangan adalah perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaanya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, atau berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah). Yang dimaksud dengan sistematis, progresif, dan berkesinambungan adalah:
1. Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.
25
2. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis).
3. Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan, tidak terjadi secara kebetulan atau locat-loncat, Syamsu (2009).
Masa remaja adalah masa dimana bertepatan dengan tahapan pendidikan masih menempuh jenjang pendidikan sekolah menegah. Masa remaja merupakan masa yangbanyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dan dalam masyarakat dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa, yaitu sebagai berikut.
1. Masa praremaja (remaja awal). Biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat.
Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negatif pada si remaja sehingga sering kali masa ini disebut masa negatif dengan gejalanya seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pesimistik, dan sebagainya.
2. Masa remaja (remaja madya). Masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman untuk memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa mencari sesuatu yang dapat dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja-puja sehingga masa ini disebut masa merindu puja (mendewa-dewakan), sebagai gejela remaja.
3. Masa remaja akhir. Setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir dan telah terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup dan masuklah individu ke dalam masa dewasa, Syamsu (2009).
Adapun peranan sekolah dalam mengembangkan tugas-tugas perkembangan siswa adalah, sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut moral spiritual, intelektual emosional, maupun sosial.
Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak (siswa). Dalam cara berfikir, bersikap maupun cara berperilaku. Sekolah berperan sebagai subtitusi keluarga dan guru
26
substitusi orang tua. Ada beberapa alasan, mengapa sekolah memainkan peranan yang berarti bagi perkembangan kepribadian anak, yaitu:
1. Siswa harus hadir di sekolah
2. Sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini seiring dengan masa perkembangan “konsep dirinya”.
3. Anak-anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di tempat lain di luar rumah.
4. Sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses.
5. Sekolah memberikan kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistik, Syamsu (2009).
Karena begitu pentingnya peran sekolah dalam proses perkembangan siswa sehingga objek penelitian ini adalah sekolah. Sekolah merupakan salah satu tempat bagi siswa menghabiskan banyak waktu setelah rumah dan keluarga. Sekolah adalah rumah kedua bagi siswa sehingga guru menjadi pendidik yang sangat berperan penting dalam kelangsungan pembentukan diri siswa pada masa perkembangan. Karena siswa dalam tahap jenjang pendidikan sekolah menengah adalah masa yang labil dan sangat rentan berpengaruh oleh media dan perkembangan zaman.
2.4. Tinjauan Perilaku Imitasi 2.4.1. Definisi Perilaku Imitasi
Imitasi merupakan salah satu faktor yang mendukung terjadinya interaksi sosial.
Imitasi sendiri secara harafiah berarti juga meniru. Terdapat beberapa pendapat ahli dari berbagai sudut pandang yang menjelaskan mengenai definisi imitasi. Imitasi dalam ilmu jiwa diartikan sebagai suatu gejala pada seseorang yang melakukan sesuatu karena pengaruh orang lain.
Imitasi dalam sosiologi menurut Tarde (dalam Soegarda, 1982: 142) merupakan suatu aspek dalam kehidupan masyarakat yang manifestasinya terlihat dalam penciptaan-penciptaan hal-hal baru dan peniruan (imitasi) dari penemuan baru itu. Menurut Tim Sosiologi (dalam Dyah Ayu M, 2012: 15) imitasi adalah proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa saja yang dimiliki oleh orang lain. Proses imitasi pertama kali berlangsung di lingkungan keluarga, ketika seorang
27
anak menirukan kebiasaan-kebiasaan orang tuanya. Proses imitasi yang berlangsung dapat mengarah ke hal-hal positif maupun negatif.
Menurut Tarde (dalam Bimo Walgito, 2003: 66-67) imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain. Masyarakat itu tiada lain dari pengelompokkan manusia di mana individu-individu yang satu mengimitasi dari yang lain dan sebaliknya. Bahkan masyarakat itu baru menjadi masyarakat sebenarnya apabila manusia mulai mengimitasi kegiatan manusia lainnya. Kata Tarde “la societe e’ est l’imitation”. Selain itu, Bimo Walgito (2003: 67) menyebutkan bahwa “imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya, sehingga individu yang satu akan dengan sendirinya mengimitasi individu yang lain, demikian sebaliknya. Dengan kata lain, imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi”.
Abdul Hadis (2006: 73) menyebutkan bahwa “imitasi atau modeling yakni peserta didik atau individu melakukan aktivitas belajar dengan cara meniru perilaku orang lain, dan pengalaman vicarious, yaitu belajar dari kegagalan dan keberhasilan orang lain”. Imitasi merupakan tindakan manusia untuk meniru tingkah laku pekerti orang lain yang berada di sekitarnya. Imitasi banyak dipengaruhi oleh tingkat jangkauan indranya, yaitu sebatas yang dilihat, didengar, dan dirasakan (Elly M. Setiadi & Usman Kolip, 2011: 67).
Melengkapi pernyataan di atas, menurut Graham Richards (2010: 138) imitasi berbeda dengan identifikasi karena hanya melibatkan simulasi yang tampak jelas dari perilaku orang lain, tanpa harus mengikutsertakan suatu wawasan atau empati pada mereka. Namun demikian, ada suatu keadaan yang dapat menganggap imitasi sebagai sebuah rute menuju pemahaman yang lebih dalam terhadap orang lain. Berperilaku seperti seseorang atau sesuatu yang berpotensi untuk memberikan wawasan mengenai bagaimana rasanya menjadi orang lain tersebut. Dengan kata lain, imitasi merupakan proses yang menjadikan manusia belajar dari perilaku atau hal-hal yang ada pada orang lain dan mempraktekkannya pada diri sendiri.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa imitasi termasuk cara belajar yang sangat efektif bagi anak-anak. Hal tersebut terjadi karena dalam masa perkembangannya, anak cenderung lebih tertarik pada hal-hal di sekitar yang menurutnya mendatangkan banyak perhatian dari orang lain atau anak bisa mendapat apa yang ia inginkan setelah melakukan imitasi. Oleh karena itu, secara umum dapat disimpulkan bahwa imitasi
28
merupakan peniruan terhadap apa yang didapatkan melalui pengamatan yang diwujudkan secara nyata baik dengan sikap maupun perilaku.
2.4.2. Bentuk-bentuk Perilaku Imitasi
Perilaku imitasi dibedakan atas beberapa bentuk diantaranya adalah menurut Miller dan Dollard. Miller dan Dollard (dalam B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, 2008: 357- 358) membagi perilaku imitasi (tiruan) menjadi tiga kategori, yakni: a) same behavior (perilaku sama), perilaku ini terjadi ketika dua atau lebih individu merespon situasi yang sama dengan cara yang sama; b) copying behavior (perilaku meniru atau menyalin), perilaku ini terjadi ketika seseorang melakukan perilaku sesuai dengan perilaku orang lain; dan c) matched-dependent behavior (perilaku yang tergantung pada kesesuaian), seorang pengamat diperkuat untuk mengulang begitu saja tindakan dari seorang model. Berikut ini adalah penjelasan dan pembahasan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk perilaku imitasi tersebut di atas.
1. Same behavior (perilaku sama)
Perilaku ini terjadi ketika dua atau lebih individu merespon situasi yang sama dengan cara yang sama. Misalnya, kebanyakan orang berhenti di lampu merah, bertepuk tangan saat suatu konser berakhir, dan tertawa saat orang lain tertawa. Melalui perilaku yang sama, semua individu yang terlibat di dalamnya telah belajar secara independen untuk merespon stimulus tertentu dengan cara tertentu, dan perilaku mereka muncul secara simultan saat stimulus, atau sejenisnya terjadi di lingkungan itu.
2. Copying behavior (perilaku meniru atau menyalin)
Perilaku ini terjadi ketika seseorang melakukan perilaku sesuai dengan perilaku orang lain. Perilaku meniru atau menyalin merupakan suatu perilaku yang didasarkan atas pengamatan yang jelas terhadap model. Misalnya adalah ketika seorang guru memberikan suatu contoh perilaku menulis yang baik dan benar di papan tulis, kemudian anak-anak menirukan atau menyalinnya. Perilaku anak yang meniru atau menyalin inilah yang kemudian disebut dengan copying behavior.
3. Matched-dependent behavior (perilaku yang tergantung pada kesesuaian)
Menurut kategori ini seorang pengamat diperkuat untuk mengulang begitu saja tindakan dari seorang model. Miller dan Dollard memberikan contoh dengan mendeskripsikan situasi di mana anak yang lebih tua belajar lari ke pintu depan setelah mendengar langkah
29
kaki sang ayah mendekati pintu. Ayah memperkuat perilaku anak itu dengan permen.
Adiknya mengetahui bahwa jika dia berlari di belakang kakaknya menuju pintu, dia juga akan mendapatkan permen dari ayahnya. Tidak lama kemudian si adik berlari ke pintu setiap kali dia melihat kakaknya melakukan hal itu. Pada poin ini perilaku kedua anak itu dipertahankan oleh penguatan, namun masing-masing anak mengasosiasikan penguatan itu pada petunjuk yang berbeda. Bagi si kakak (model), suara langkah ayahnya mendekati pintu menyebabkan dia lari menyongsongnya, dan respon lari ini diperkuat oleh permen.
Bagi si adik (imitator), dia lari jika melihat kakaknya lari dan respon lari ini juga diperkuat dengan permen.
Selain itu, Miller dan Dollard (dalam B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, 2008:
358) juga menunjukkan bahwa imitasi dapat menjadi kebiasaan. Akibat dari penguatan yang diterima setelah melakukan imitasi sebelumnya, maka probabilitas seseorang untuk melakukan imitasi akan semakin bertambah. Tendensi untuk meniru perilaku secara lebih luas disebut sebagai generalized imitation (imitasi atau peniruan yang digeneralisasikan). Teori Miller dan Dollard ini kemudian dilanjutkan oleh Albert Bandura. Albert Bandura dalam teori belajarnya (teori modeling) menjelaskan bahwa anak-anak akan lebih mudah belajar dari proses meniru. Selain itu, Bandura juga sempat melakukan penelitian mengenai imitasi perilaku agresif oleh anak. Penelitian ini menggunakan beberapa subjek anak dan dalam kondisi yang berbeda. Beberapa anak yang diperlihatkan perilaku yang biasa dan lainnya lagi diperlihatkan perilaku agresif. Hasilnya anak yang diperlihatkan perilaku agresif menunjukkan perilaku yang sama dengan perilaku yang diamatinya atau menunjukkan perilaku yang agresif pula.
2.4.3. Efek Perilaku Imitasi
Menurut Bandura (dalam Ahmadi dan Supriyono, 2004: 219) perilaku imitasi dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu a) Inhibitory-disinhibitory effect, kuat lemahnya perilaku oleh karena pengalaman tidak menyenangkan atau vicorious reinforcement; b) eleciting effect, ditunjangnya suatu respon yang pernah terjadi dalam diri, sehingga timbul respon serupa; c) modelling effect, pengembangan respon-respon baru melalui observasi terhadap suatu model perilaku. Berikut ini adalah penjelasan dan pembahasan lebih lanjut mengenai tiga macam perilaku imitasi menurut Bandura di atas.
30
1. Inhibitory-disinhibitory effect, yaitu kuat lemahnya perilaku oleh karena pengalaman tidak menyenangkan atau vicorious reinforcement. Contoh dari inhibitory effect adalah misalnya seorang anak melihat temannya dihukum karena membolos sekolah. Setelah mengamati apa yang dialami oleh model tadi, akan mengurangi kemungkinan anak tersebut mengikuti perilaku yang dilakukan oleh temannya. Sebaliknya, disinhibitory effect terjadi ketika seseorang melihat seorang model yang diberi penghargaan atau imbalan untuk suatu perilaku tertentu. Misalnya seorang anak melihat temannya diberi hadiah karena dapat menyelesaikan soal dengan benar semua. Menurut teori ini, kecenderungan anak tersebut untuk mengikuti jejak temannya akan meningkat.
2. Eleciting effect, yaitu ditunjangnya suatu respon yang pernah terjadi dalam diri, sehingga timbul respon serupa. Maksudnya adalah ketika seorang individu menunjukkan respon yang sama dengan apa yang pernah ia alami sebelumnya. Misalnya saja adalah ketika seorang anak pernah menjadi korban perilaku agresif (dipukul teman), maka anak tersebut memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku agresif sama seperti yang pernah ia alami.
3. Modelling effect, yaitu pengembangan respon-respon baru melalui observasi terhadap suatu model perilaku. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat ditarik rumusan bahwa dari proses observasi atau mengamati suatu model seorang individu dapat memperoleh respon-respon baru yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Contoh dari perilaku ini adalah seorang anak yang dengan belajar berbicara akan mengeluarkan kata-kata baru sebagai hasil dari pengamatannya terhadap perkataan yang ada di sekitarnya.
Menurut Sunaryo (2004: 277), bentuk perilaku imitasi berdasarkan sifat dan dampaknya terbagi menjadi dua yaitu:
1. Perilaku Imitasi Positif
Imitasi positif yaitu imitasi yang mendorong individu untuk mematuhi kaidah, nilai, dan norma yang berlaku. Contoh: seorang anak mencontoh orang dewasa untuk bersikap sopan santun terhadap orang lain.
2. Perilaku Imitasi Negatif
Imitasi negatif yaitu imitasi yang mendorong individu mencontoh perilaku yang menyimpang, tidak sesuai norma, etika, dan moral sosial. Contoh: seorang anak menjadi pecandu narkoba karena bergaul dengan kelompok pemakai narkoba dan menirunya.
31
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku imitasi secara sifat, perilaku yang ditiru, dan dampaknya dapat dikelompokkan menjadi perilaku imitasi positif dan perilaku imitasi negatif. Selain itu, perilaku imitasi berdasarkan dampak juga dapat dikelompokkan menjadi inhibitory-disinhibitory effect, eleciting effect, dan modelling effect. Pengelompokkan berdasarkan sifat dan dampak ini pada dasarnya mengacu kepada jenis perilaku yang ditiru serta perilaku/peristiwa yang terjadi setelahnya.
Secara umum perilaku imitasi dapat dikelompokkan menjadi same behavior (perilaku sama), copying behavior (perilaku meniru atau menyalin), dan matched-dependent behavior (perilaku yang bergantung pada kesesuaian).
2.5. Anak Usia Dini
2.5.1. Pengertian Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah anak yang berada pada usia 0-8 tahun. Menurut Beichler dan Snowman (Dwi Yulianti, 2010: 7), anak usia dini adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun.
Sedangkan hakikat anak usia dini (Augusta, 2012) adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosioemosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus yang sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut. Menurut Piaget (Slamet Suyanto, 2003: 56-72), anak memiliki 4 tingkat perkembangan kognitif yaitu tahapan sensori motorik (0-2 tahun), pra operasional konkrit (2-7 tahun), operasional konkrit (7-11 tahun), dan operasional formal (11 tahun ke atas). Dari berbagai definisi, peneliti menyimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental.
Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah “golden age” atau masa emas. Pada masa ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Anak usia dini merupakan masa peka dalam berbagai aspek perkembangan yaitu masa awal pengembangan kemampuan fisik motorik, bahasa, sosial emosional, serta kognitif. Perkembangan setiap anak tidak sama karena setiap individu memiliki perkembangan yang berbeda. Makanan yang bergizi dan seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Apabila
32
anak diberikan stimulasi secara intensif dari lingkungannya, maka anak akan mampu menjalani tugas perkembangannya dengan baik.
Masa kanak-kanak merupakan masa saat anak belum mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Mereka cenderung senang bermain pada saat yang bersamaan, ingin menang sendiri dan sering mengubah aturan main untuk kepentingan diri sendiri. Dengan demikian, dibutuhkan upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan, baik perkembangan fisik maupun perkembangan psikis. Potensi anak yang sangat penting untuk dikembangkan. Potensi-potensi tersebut meliputi kognitif, bahasa, sosioemosional, kemampuan fisik dan lain sebagainya.
2.5.2. Karakteristik Anak Usia Dini
Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, sosial, moral dan sebagainya. Menurut Siti Aisyah,dkk (2010: 1.4-1.9) karakteristik anak usia dini antara lain;
a) memiliki rasa ingin tahu yang besar, b) merupakan pribadi yang unik, c) suka berfantasi dan berimajinasi, d) masa paling potensial untuk belajar, e) menunjukkan sikap egosentris, f) memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek, g) sebagai bagian dari makhluk sosial, penjelasannya adalah sebagai berikut.
Usia dini merupakan masa emas, masa ketika anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada usia ini anak paling peka dan potensial untuk mempelajari sesuatu, rasa ingin tahu anak sangat besar. Hal ini dapat kita lihat dari anak sering bertanya tentang apa yang mereka lihat. Apabila pertanyaan anak belum terjawab, maka mereka akan terus bertanya sampai anak mengetahui maksudnya. Di samping itu, setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri yang berasal dari faktor genetik atau bisa juga dari faktor lingkungan.
Faktor genetik misalnya dalam hal kecerdasan anak, sedangkan faktor lingkungan bisa dalam hal gaya belajar anak. Anak usia dini suka berfantasi dan berimajinasi. Hal ini penting bagi pengembangan kreativitas dan bahasanya.
Anak usia dini suka membayangkan dan mengembangkan suatu hal melebihi kondisi yang nyata. Salah satu khayalan anak misalnya kardus, dapat dijadikan anak sebagai mobil- mobilan. Menurut Berg, rentang perhatian anak usia 5 tahun untuk dapat duduk tenang memperhatikan sesuatu adalah sekitar 10 menit, kecuali hal-hal yang biasa membuatnya senang. Anak sering merasa bosan dengan satu kegiatan saja. Bahkan anak mudah sekali mengalihkan perhatiannya pada kegiatan lain yang dianggapnya lebih menarik. Anak yang
33
egosentris biasanya lebih banyak berpikir dan berbicara tentang diri sendiri dan tindakannya yang bertujuan untuk menguntungkan dirinya, misalnya anak masih suka berebut mainan dan menangis ketika keinginannya tidak dipenuhi. Anak sering bermain dengan teman-teman di lingkungan sekitarnya. Melalui bermain ini anak belajar bersosialisasi. Apabila anak belum dapat beradaptasi dengan teman lingkungannya, maka anak anak akan dijauhi oleh teman- temannya. Dengan begitu anak akan belajar menyesuaikan diri dan anak akan mengerti bahwa dia membutuhkan orang lain di sekitarnya.
2.6. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Uji Batirahmah (2017) berjudul "Pengaruh Sinetron Anak Jalanan Terhadap Perilaku Siswa Smkn I Sarudu" penelitian kuantitatif dengan metode field research (penelitian lapangan). Adapun pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kausal yakni peneliti menyelidiki hubungan sebab akibat diantara variabel.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 83 siswa responden yang menonton sinetron Anak Jalanan. penentuan sampel yang digunakan adalah nonprobability sampling yaitu purposive sampling. Adapun Pengujian intrumen penelitian ini yakni uji validitas dan uji reliabilitas. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis frequensi, regresi linear sederhana, uji asumsi klasik, uji t, uji korelasi dan uji determinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh sinetron Anak Jalanan (X) terhadap perkembangan perilaku siswa SMKN 1 Sarudu. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji t bahwa nilai signifikan 0,000 < 0,05 yakni 0,000<1,348. Korelasi antara variabel X dengan variabel Y tergolong kuat yakni 0,751. Hasil korelasi determinasi menunjukkan pengaruh perubahan perilaku siswa SMKN 1 Sarudu setelah menonton sinetron Anak Jalanan sebesar 0,564 atau 56,4 % sedangkan sisanya sebesar 43,6% adalah pengaruh dari luar.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Malikhah (2013), berjudul "Korelasi Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Perilaku Negatif Anak Usia Dini"
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tayangan televisi dengan perkembangan perilaku negatif anak dan di Taman Kanak-kanak tersebut, dan seberapa besar hubungan tersebut. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah proporsional random sampling. Data yang diperoleh diolah dengan bantuan SPSS versi 11.00 dengan statistik model linier, sebelum analisis dilakukan uji t, uji F
34
dan uji asumsi klasik yakni; uji Multikolinearitas, uji normalitas dan uji heterokedastitas. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengaruh tayangan televisi (X) dengan perkembangan perilaku negatif anak (Y) di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal V Kudus dengan hasil yang menunjukkan bahwa korelasi antara variable x dan y tergolong cukup. Nilai signifikan F hitung (38,019) > dari nilai F table (2,31) atau signifikan (0.00) < alpha (0.05), menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara variabel x dan y.
Didukung dengan hasil penelitian oleh Fauzia Rahmi (2017) berjudul "Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Perilaku Anak" Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tayangan televisi sinetron, film kartun animasi, dan hiburan musik terhadap perkembangan perilaku anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan populasi sebanyak 90 orang dari murid. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif dengan menggunakan presentase dan frekuensi untuk menentukan karakter setiap responden dan analisis statistik inferensial dengan analisis korelasi, analisis regresi linear sederhana serta uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis secara parsial (Uji t), tayangan televisi(X) berpengaruh terhadap perkembangan perilaku anak (Y) dengan nilai thitung4,264. Hal ini dapat dilihat bahwa nilai thitung> ttabel (4,264>1,987) maka Ho ditolak dan Ha diterima artinya tayangan televisi (X) ada pengaruh terhadap perkembangan perilaku anak (Y) dan nilai 0,171 pada variabel perkembangan perilaku anak dapat dijelaskan oleh tayangan televisi, sedangkan sisanya 82,9%
perkembangan perilaku anak dipengaruhi oleh variabel yang tidak diteliti sehingga tayangan televisi berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan perilaku negatif anak. Hal ini dapat dijelaskan oleh bukti yang menunjukan bahwa tayangan dapat menyebabkan perilaku yang tidak sesuai dengan perilaku anak pada umumnya.
Perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu pada penelitian ini berfokus pada anak usia dini dengan rentang usia 5-7 tahun, dimana pada rentang usia tersebut anak dapat mengamati dan menirukan segala sesuatu yang mereka lihat tanpa memperhitungkan baik buruknya perilaku tersebut.
35 2.7. Hipotesis dan Definisi Variabel
2.7.1. Hipotesis
Menurut Kriyantono (2006, hlm 28) hipotesis dapat diartikan sebagai pendapat yang kurang, maksudnya bahwa hipotesis merupakan pendapat atau pernyataan yang masih belum tau kebenarannya, masih harus diuji lebih dulu dan karenanya bersifat sementara atau dugaan awal. Penelitian yang merumuskan hipotesis merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Selanjutnya hipotesis, tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian ini peneliti mengemukakan hipotesis penelitian sebagai berikut:
H0 : Tidak terdapat pengaruh antara tayangan sinetron Anak Langit terhadap perilaku imitasi anak usia dini di daerah Tlogomas.
H1 :Terdapat pengaruh antara tayangan sinetron Anak Langit terhadap perilaku imitasi anak usia dini di daerah Tlogomas.
2.7.2. Definisi Konseptual
Definisi konseptual merupakan penggambaran secara umum dan menyeluruh yang menyiratkan maksud dari konsep atau istilah tertentu. Menurut Hamidi (2010) Definisi konseptual adalah batasan tentang pengertian yang diberikan peneliti terhadap variabel- variabel yang akan diukur, diteliti, dan digali datanya. Definisi konseptual ini bertujuan untuk membatasi persoalan yang akan diteliti. Berdasarkan judul dari penelitian ini “Pengaruh Tayangan Sinetron Anak Langit Terhadap Perilaku Imitasi Anak Usia Dini didaerah Tlogomas” maka peneliti memberikan batasan agar tidak menimbulkan kesalahan pengertian.
Penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel bebas (Independent variabel) ditandai dengan simbol X dan variabel terikat (dependent variabel) ditandai dengan simbol Y. Berikut adalah penjelasannya:
Variabel Bebas (Independent Variabel) Yang dimaksud dalam definisi konseptual pada variabel bebas ini adalah sinetron Anak Langit. Sinetron adalah pertunjukan suatu drama yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronik (televisi) yang ditayangkan dengan durasi waktu tertentu pada hari dan jam tertentu. Sinetron merupakan penyampai pesan dari stasiun televisi kepada masyarakat, sinetron dapat berfungsi sebagai alat media massa.
Variabel Terikat (Dependent Variabel) Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat
36
merupakan perilaku imitasi anak usia dini. Menurut Tim Sosiologi (dalam Dyah, 2012) imitasi adalah proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa saja yang dimiliki oleh orang lain. Proses imitasi pertama kali berlangsung di lingkungan keluarga, ketika seorang anak menirukan kebiasaan- kebiasaan orang tuanya. Proses imitasi yang berlangsung dapat mengarah ke hal-hal positif maupun negatif.
Anak usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun, menurut (Augusta, 2012) adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosioemosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus yang sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut.
2.7.3. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional yaitu petunjuk unsur penelitian bagaimana cara suatu variabel tersebut diukur (Hamidi, 2007). Dengan melihat definisi operasional sebuah penelitian, maka seorang peneliti akan mengetahui suatu variabel yang akan di teliti. Dengan kata lain definisi operasional merupakan indikator-indikator dari sebuah variabel.
Tabel 2.1 Definisi Operasional Variabel Pengaruh Sinetron Anak Langit Terhadap Perilaku Imitasi Anak Usia Dini didaerah Tlogomas
Judul Variabel Indikator Item Skala
Pengaruh Sinetron Anak Langit Terhadap Perilaku Imitasi Anak Usia Dini
didaerah Tlogomas
Sinetron Anak Langit (X)
Pengaruh positif
1. Menghargai orang tua 2. Memanfaatkan pesan
baik
3. Lebih mengerti kehidupan
4. Membangun rasa simpatik dan kasih sayang
5. Belajar memecahkan masalah
Likert
Pengaruh negatif
1. Sering menampilkan kekerasan
2. Menimbulkan contoh yang tidak baik.
3. Menonjolkan percintaan
4. Meniru sifat antagonis
Likert
Perilaku imitasi (Y)
bentuk perilaku imitasi
1. Same behavior 2. Copying behavior
Likert
37
3. Matched-dependent behavior