Identifikasi Risiko Kerja pada Industri Pakan Ternak dengan Metode HIRARC (Studi Kasus: CV. X)
Ronaldi Saputra, A. Velahyati Baharuddin, Amrin Mangada Jurusan Teknik Industri Agro, Politeknik ATI Makassar Email: [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Industri pakan ternak adalah jenis industri yang populer di kalangan masyarakat baik dalam skala kecil, menengah maupun besar. Proses pengolahannya yang tergolong sederhana menjadikan usaha ini digeluti oleh banyak IKM. Hal ini menjadi perhatian karena jika tidak dikelola dengan baik proses pengolahan pakan ternak dapat memiliki potensi bahaya yang dapat mengancam jiwa pekerja produksi. Penelitian ini melakukan studi kasus pada CV. X di Sulawesi Selatan untuk mengidentifikasi dan melakukan analisis risiko dengan menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assesment And Risk Control (HIRARC). Penelitian ini mengidentifikasi risiko bahaya di tempat kerja, memberikan penilaian serta pengendalian kerja dengan mengkaitkan antara pekerja, tugas, peralatan kerja dan lingkungan kerja yang ada di CV. X. Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa rekomendasi perbaikan risiko kerja pada CV. X.
Kata kunci: pakan ternak, Risiko kerja, IKM, HIRARC
ABSTRACT
The animal feed industry is a type of industry that is popular among the people both on a small, medium or large scale. The relatively simple processing process has made this business done by many SMEs. This potentially brings concern because if it is not managed properly, the process of animal feed processing can have potential hazards that can threaten the lives of production workers. This study conducted a case study at CV. X in South Sulawesi to identify and conduct risk analysis using the Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) method. This study identifies the risk of hazards in the workplace, provides an assessment and work control by linking workers, tasks, work equipment and the work environment in CV. X. The final result of this study is a recommendation to improve work risk at CV. X.
Keywords: animal feed, occupational risk, SME, HIRARC
PENDAHULUAN
Potensi bahaya terdapat di tempat kerja dan dapat mengakibatkan kerugian baik dari sisi perusahaan, karyawan maupun terhadap masyarakat sekitar. Usaha untuk mencegah hal tersebut adalah dengan menerapkan suatu konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (Sucipto, 2014).
Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah sarana utama dalam mencegah kecelakaan kerja, cacat dan kematian akibat dari kecelakaan kerja yang berasal dari potensi bahaya yang ada. Kecelakaan kerja selain menyebabkan kerugian langsung juga menyebabkan kerugian yang tidak langsung yaitu kerugian pada kerusakan mesin dan peralatan kerja, terhentinya proses produksi, kerusakan lingkungan dan lain-lain (Suma’mur, 1996).
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Permenaker No. 5 tahun 2018 memberikan pedoman baru mengenai nilai ambang batas (NAB) faktor fisika dan kimia, standar faktor biologi, ergonomi dan psikologi serta persyaratan kebersihan dan sanitasi, termasuk kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality) untuk terwujudnya tempat kerja yang aman,sehat dan nyaman. Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja diamanatkan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan. Begitu juga dengan setiap orang lain yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya. Oleh karena itu, sesuai dengan peraturan yang berlaku setiap perusahaan yang didalamnya terdapat pekerja dan risiko terjadinya bahaya, wajib untuk memberikan perlindungan keselamatan.
Penelitian ini mengidentifikasi risiko- risiko kerja pada industri pembuatan pakan ternak. Industri pakan ternak adalah industri yang melibatkan banyak faktor peralatan dan
menyebabkan kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Penelitian ini melakukan studi kasus pada CV. X yang bergerak pada pengolahan pakan ternak berbahan dasar jagung. Setelah mengidentifikasi risiko-risiko kerja dibuat juga rekomendasi perbaikan risiko kerja sebagai luaran penelitian ini.
METODOLOGI
HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) dimulai dari menentukan jenis kegiatan kerja yang kemudian diidentifikasikan sumber bahayanya sehingga didapatkan risikonya. Kemudian akan dilakukan penilaian risiko dan pengendalian risiko untuk mengurangi paparan bahaya yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan.
Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya merupakan langkah awal dalam mengembangkan manajemen risiko K3 (AS/NZS 4360:2004).
Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui adanya bahaya dalam aktivitas organisasi. Identifikasi risiko merupakan landasan dari manajemen risiko.
Tanpa melakukan identifikasi bahaya tidak mungkin melakukan pengelolaan risiko dengan baik (Ramli, 2010). Cara sederhana adalah dengan melakukan pengamatan.
Melalui pengamatan maka kita sebenarnya telah melakukan suatu identifkasi bahaya.
Identifikasi bahaya merupakan landasan dari program pencegahan kecelakaan atau pengendalian risiko. Tanpa mengenal bahaya, maka risiko tidak dapat ditentukan sehingga upaya pencegahan dan pengendalian risiko tidak dapat dijalankan (Ramli, 2010).
Penilaian Risiko
Setelah semua risiko dapat teridentifikasi, dilakukan penilaian risiko melalui analisa dan evaluasi risiko.Analisa risiko dimaksudkan untuk menentukan
mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dan besar akibat yang ditimbulkannya.
Berdasarkan hasil analisa dapat ditentukan peringkat risiko sehingga dapat dilakuakan pemilahan risiko yang memiliki dampak besar terhadap perusahaan dan risiko yang ringan atau dapat diabaikan.
Hasil analisa risiko dievaluasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan atau standard dan norma yang berlaku untuk menentukan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Jika risiko dinilai tidak dapat diterima, harus dikelola atau ditangani dengan baik. Penilaian risiko (risk assessment) mencakup dua tahapan proses yaitu menganalisa risiko ini sangat penting karena akan menentukan langkah dan strategi pengendalian risiko. Tabel 1 menunjukkan tingkat kemungkinan terjadinya risiko kecelakaan kerja.
Tabel 1. Penilaian Tingkat Kemungkinan Terjadinya Risiko (Occurance / O)
Tingka
t Deskripsi Keterangan 1 Rate Hampir tidak pernah 2 Unlikely Jarang terjadi 3 Possible Dapat terjadi sesekali 4 Likely Sering terjadi 5
Almost Certain
Dapat terjadi setiap saat
Sumber: AS/NSZ 4360:2004
Tahap awal proses HIRARC adalah dengan Mengidentifikasi semua kegiatan baik yang rutin maupun tidak rutin (abnormal) di unit kerja, atau kegiatan yang dapat menyebabkan keadaan darurat. kemudian mengidentifikasi sumber bahaya yang berhubungan dengan kergiatan yang diidentifikasi. Tabel 2 menunjukkan tingkat keparahan risiko kecelakaan kerja.
Tabel 2. Penentuan Tingkat Keparahan Risiko (Severity/S)
Tingkat Deskripsi Keterangan 1 Insignificant Tidak ada cedera,
kerugian finansial sangat kecil dan dapat diabaikan 2 Minor Ada luka dan
membutuhkan pertolongan pertama, kerugian finansial kecil 3 Moderate Cedera
membutuhkan perawatan medis, kerugian finansial medium
4 Major Cedera
parah,membutuhkan penanganan rumah sakit secara
langsung, kerugian finansial besar 5 Catastropic Kematian, kerugian
finansial sangat besar
Sumber: AS/NSZ 4360:2004
Setelah menentukan tingkat risiko suatu pekerjaan, tahap selanjutnya adalah dengan mengklasifikasikan risiko yang ada mulai dari tingkatan paling rendah hingga ke tingkat yang tinggi dimana tingkat pengendalian pekerjaannya dapat disesuaikan dengan pengendalian risiko yang ada. Tabel 3 menunjukkan analisis resiko (level of risk).
Pengendalian Risiko
Kendali (kontrol) terhadap bahaya di lingkungan kerja adalah tindakan- tindakan yang diambil untuk meminimalisir atau mengeliminasi risiko kecelakaan kerja melalui eliminasi, subsitusi, engineering control, warning system, administrative control, alat pelindung diri (Socrates, 2013).
.
Tabel 3. Klasifikasi risiko
Sumber: AS/NZS 4360:2004
Pengendalian Risiko
Kendali (kontrol) terhadap bahaya dilingkungan kerja adalah tindakan- tindakan yang diambil untuk meminimalisir atau mengeliminasi risiko kecelakaan kerja melalui eliminasi, subsitusi, engineering control, warning system, administrative control, alat pelindung diri (Socrates, 2013).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi dan Penilaian Risiko
Hasil identifikasi jumlah kejadian kecelakaan kerja pada CV. X bulan April 2020 sampai dengan bulan September 2020 adalah 53 kejadian. Kejadian-kejadian tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok dengan faktor penyebab kecelakaan yang serupa lalu diidentifikasi bahaya dalam setiap kegiatan produksi.
Setelah itu, kemudian dilakukan penjabaran risiko dari setiap kegiatan yang telah diidentifikasi.
1. Pada saat melakukan pada saat mengangkat bahan baku jagung potensi bahaya yang bisa saja terjadi pada pekerja adalah terjatuh pada saat mengangkat dikarenakan untuk menurunkan bahan baku tersebut hanya menggunakan balok kayu untuk jalan menurunkan jagung. Jika pekerja lalai atau balok kayu tersebut licin dapat
tertimpa jagung dan mengakibatkan pekerja luka serius bahkan kematian.
Maka dari itu diberi penilaian occurrence 3 dan nilai severity 4 yang artinya tingkat risiko tinggi (high risk).
2. Kelalaian operator pada saat melakukan kegiatan proses produksi yang menyebabkan terjadinya korsleting listrik dan mengakibatkan kebakaran pada ruang produksi. Potensi bahaya ini diberi nilai occurrence 2 dan nilai severity 3 artinya tingkat risiko sedang (moderate risk).
3. Bahaya yang disebabkan tidak menggunakan APD yang lengkap seperti sarung tangan kerja dan helmet kerja yang dapat menyebabkan potensi bahaya yang tinggi seperti terbenturnya anggota badan dengan benda yang keras. Maka dari itu potensi bahaya ini diberi nilai occurrence 4 dan nilai severity 3 yang artinya tingkat risiko tinggi (high risk).
4. Bahaya yang terjadi ketika melakukan proses produksi yaitu kebisingan yang dapat mengganggu kesehatan pada pendengaran, jadi potensi bahaya ini diberi nilai occurrence 3 dan nilai severity 2 yang artinya tingkat risiko sedang (moderate risk).
5. Adanya penyebaran limbah jagung dan debu yang mengakibatkan gangguan
Catastropic Major Moderate Minor Insignificant
5 4 3 2 1
Almost
Certain 5 Extreme Extreme High High High
Likely 4 Extreme High High Moderate Moderate
Possible 3 High High Moderate Moderate Low
Unlikely 2 High Moderate Moderate Low Low
Rate 1 Moderate Moderate Low Low Low
occurrence 3 dan nilai severity 3 yang artinya tingkat risiko sedang (moderate risk).
6. Bahaya kerja yang disebabkan manusia adalah pada penyusunan pallet yang tidak beratur dan kelalaian pada saaat mengangkat jagung secara manual. Jika pekerja tidak memperhatikan keselamatan kerja dengan baik maka potensi bahaya dapat terjadi contohnya robohnya pallet yang tidak tersusun baik yang akan menimpa karyawan sehingga menyebabkan luka parah bahkan cacat.
Maka dari itu penilaian pada potensi risiko kerja ini diberi nilai occurrence 2 dan nilai severity 3 dengan tingkat risiko sedang (moderate risk).
Penilaian dan Pengendalian Risiko
Setelah mendapatkan hasil identifikasi bahaya, tahap selanjutnya dalam metode HIRARC adalah penilaian dan pengendalian risiko. Penilaian ini digunakan untuk mengetahui tingkatan risiko dari potensi bahaya yang teridentifikasi sebelumnya. Tingkatan risiko bahaya dalam penilaian ini berdasarkan dengan perbandingan tingkat kemungkinan terjadinya suatu risiko (occurrence) dengan tingkat keparahan terjadinya risiko (severity).
Setelah penliaian risiko dilakukan, tahap berikutnya adalah menentukan pengendalian risiko. Pengendalian risiko ini bertujuan untuk mengeliminasi atau meminimalisir potensi risiko yang telah diidentifikasi. Pengendalian risiko lebih diutamakan untuk tingkatan risiko yang tinggi, seperti pada risiko tingkat ekstrem (extreme) dan risiko tinggi (high).
1. Pada potensi risiko kerja yang disebabkan dari penyusunan pallet menunjukkan bahwa perlunya membuat tempat penyusunan pallet khusus dan memiliki batas tingkat penyusunan maksimal 15 pallet tiap susun. Hal ini dapat
menghindari dari risiko yang menimpa karyawan.
2. Pada industri biasa terjadi korsleting listrik yang tanpa disengaja dan menyebabkan kerusakan yang parah, maka dari itu perlu diperhatikan dengan cara melakukan pemeliharaan yang rutin agar menghilangkan potensi bahaya terjadinya korsleting listrik.
3. Dalam proses pekerjaan potensi bahaya jika tidak menggunakan APD berpotensi tinggi. Maka dari itu setiap pekerja diharuskan menggunakan APD seperti sepatu boots, helm kerja, pelindung mata dan masker penutup mulut. Hal ini dapat menghindari dari kecelakaan kerja yang telah diidentifikasi sebelumnya.
4. Pada ruang produksi banyak mesin yang memiliki suara yang sangat bising, maka diperlukan alat pelindung telinga (ear plug) agar dapat melindungi telinga dari suara yang bising dari mesin. Hal ini dapat mengurangi risiko terganggunya kesehatan pada telinga.
5. Ketika proses produksi yang berlangsung akan mengakibatkan debu berterbangan yang dapat mengganggu kesehatan, maka dari itu perlu pengendalian yang serius untuk meminimalisirkan limbah debu jagung ini seperti pemasangan alat hisap debu (blower) agar limbah tersebut dapat dihilangkan. Selain itu APD juga sangat diperlukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bahaya yang ada.
6. Pada potensi risiko kerja yang disebabkan dari penyusunan pallet menunjukkan bahwa perlunya membuat tempat penyusunan pallet khusus dan memiliki batas tingkat penyusunan maksimal 15 pallet tiap susun. Hal ini dapat menghindari dari risiko yang menimpa karyawan.
Tabel 4 menunjukkan hasil identifikasi risiko, hasil penilaian risiko, dan hasil pengendalian risiko.
Tabel 4. Hasil Identifikasi, Penilaian dan Pengendalian Risiko
No Bahaya Risiko Occurrence Severity Tingkat
Risiko Rekomendasi Strategi Faktor Risiko: Kelalaian Pekerja
1 Kesalahan dalam melakukan pengangkatan jagung
Mengalami luka ringan hingga berat pada bagian tubuh seperti pada tangan dan kaki
3 4 Risiko
Tinggi
Mengurangi
pengangkatan bahan baku secara manual dan di gantikan menggunakan dengan Forklift
2 Tidak melakukan pemeliharaan pada instalasi listrik
Karyawan kesetrum ringan karena kabel yang terbuka
2 3 Risiko
Sedang
Melakukan
pemeliharaan dengan rutin seperti
pemeriksaan kabel dan tegangan listrik Faktor Risiko: Kelengkapan APD
1 Karyawan sering mengalami kecelakaan kerja pada anggota tubuh
Karyawan mengalami luka ringan hingga berat pada anggota tubuh
4 3 Risiko
Tinggi
Menyediakan APD secara lengkap seperti sarung tangan dan helmet kerja dan memberikan sanksi jika pekerja tidak
menggunakan APD 2 Kebisingan yang
disebabkan oleh mesin
Kecelakan kesehatan kerja pada telinga karyawan
3 2 Risiko
Sedang
Menggunakan alat pelindung telinga setiap melakukan proses produksi seperti Ear Plug
3 Debu yang banyak berterbangan
Gangguan kesehatan kerja pada pernapasan dan mata
3 3 Risiko
Sedang
Memasang alat penghisap debu ( Blower ) dan menggunakan APD seperti masker dan kacamata pelindung Faktor Risiko: Lingkungan Kerja
1 Penyusunan pallet yang tidak baik
Rubuhnya pallet karena susunan dan tempat yang tidak baik
2 3 Risiko
Sedang
Membuat tempat khusus penyusunan pallet dan memiliki batas tingkat penyusunan yaitu maksimal 15 susun
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kecelakaan pada industry pakan ternak CV. X pada umumnya disebabkan oleh 3 faktor yaitu kelalaian pekerja, penggunaan APD, dan lingkungan kerja. Setelah mengidentifikasi dengan memberikan penilaian berdasarkan seberapa besar tingkat terjadinya risiko (occurrence)
(severity), kemudian dilakukan pengendalian risiko.
Untuk mencegah dan mengurangi risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) agar kiranya pihak perusahaan dapat mempertimbangkan hasil penelitian yang dilakukan seperti adanya solusi untuk perbaikan proses pekerjaan dan penambahan penunjang keselamatan kerja agar para pekerja selalu terhindar dari potensi risiko
DAFTAR PUSTAKA
AS/NZS 4360. (2004). 3rd Edition The Australian and New Zealand Standard on Risk: Risk Management Guide. Australia.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
27 April 2018. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 567. Jakarta.
Ramli, S. (2010). Pedoman Praktik Manajemen RIsiko dalam Perspektif K3 OHS Risk Management. Jakarta:
Dian Rakyat.
Socrates, M F. 2013. Analisis Risiko Keselamatan Kerja Dengan Metode
HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control) Pada Alat Suspension Preheater Bagian Produksi Di Plant 6 dan 11 Field Ceteureup PT Indocement Tunggal Prakarsa. Jakarta.
Sucipto C D. 2014. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta:
Penerbit Gosyen Publishing.
Suma’mur,P.K 1996. Hygene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : CV.
Toko Gunung Agung.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970. 12 Januari 1970. Keselamatan Kerja. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1. Jakarta.