______________________________________ Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tema : Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015
ii
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
TEMA:
PENINGKATAN PROFESIONALITAS PENDIDIK MATEMATIKA DALAM MENGHADAPI MEA 2015
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
ISBN: 978-602-97671-7-8
______________________________________ Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tema : Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015
iii EDITOR
Dra. Bintang Zaura, M.Pd.
Juanda Kelana Putra, S.Pd., M.Sc
PENATA LETAK
Dra. Suryawati, M.Pd.
DESAIN COVER Juanda BJ, S.Pd.
TEBAL BUKU 229 + x PENERBIT
Program Studi Pendidikan Matematika FKIP
Darussalam – Banda Aceh
Laman: http://matematika.fkip.unsyiah.ac.id/
© FKIP Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Syiah Kuala Cetakan Pertama
ISBN: 978-602-97671-7-8
______________________________________ Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tema : Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015
iv
LAPORAN KETUA PANITIA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Tiada ucapan yang lebih pantas disampaikan kecuali puji dan syukur kepada Allah S.W.T, karena hanya atas ridho-Nya kegiatan “Seminar Nasional Pendidikan” sesuai dengan waktu yang direncanakan. Seminar ini akan menjadi kegiatan rutin dimasa yang akan datang (setiap tahun) di FKIP Unsyiah.
Seminar Nasional Pendidikan yang berlangsung di Auditoruim FKIP Unsyiah lantai 3 Darussalam Banda Aceh pada tanggal 16 Februari 2015, diselenggarakan atas kerjasama FKIP UNSYIAH. Tema Seminar Nasional Pendidikan adalah “Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015”. Dalam acara seminar tersebut panitia mengundang 3 orang keynote speaker yaitu; (1) Prof. dr. Ahmad Fauzan, M.Pd., M.Sc. dan (2) Dr. Rahmah Johar, M.Pd. (Pascasarjana Universitas Syiah Kuala - Indonesia)
Pada kesempatan yang baik ini, kami sampaikan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada Rektor Unsyiah, Dekan FKIP Unsyiah, para tamu undangan, para donatur, dan seluruh peserta seminar, atas segala partisipasi dan bantuannya.
Rasa bangga dan terimakasih juga kami sampaikan kepada seluruh anggota panitia yang telah bekerja keras, bahu membahu untuk menyukseskan acara ini.
Akhirnya kami mengucapkan selamat mengikuti seluruh rangkaian seminar, semoga bermanfaat.
Penanggung Jawab Seminar Ketua Pelaksana
Ttd Ttd
Dra. Suryawati, M.Pd. Rifki
______________________________________ Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tema : Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015
v
SAMBUTAN KETUA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM, BANDA ACEH
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang paling utama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya kita dapat bertemu di forum "Seminar Nasional Pendidikan" dalam kondisi sehat jiwa dan raga. Tema seminar ini adalah
“Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015”. Tema tersebut sangatlah urgen dan up to date saat ini dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di Provinsi Aceh dan umumnya di Indonesia.
Saya selaku Ketua Program Studi begitu gembiranya melihat antusias para panitia, dan para praktisi matematika, para alumni dan sarjanawan matematika dari berbagai instansi beserta partisipasi dari himpunan mahasiswa pendidikan matematika yang ikut ambil bagian dalam mensukseskan acara Seminar Nasional Pendidikan Matematika (Seminar Nasional).
Penelitian dan pengembangan yang terkait dengan dunia pendidikan harus terus digalakkan dan dikomunikasikan kepada semua stakeholder. Karenanya, upaya mengundang keynotespeaker, baik dari tingkat internasional dan nasional pun kami tempuh untuk menyemarakkan Seminar Nasional ini.
Pada kesempatan ini saya juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada;
Rektor Unsyiah yang telah memberikan arahan dan berkenan membuka seminar ini; Bapak Dekan FKIP Unsyiah, Bapak Prof. Dr. Ahmad, M.Pd., M.Sc, dan Ibu Dr. Rahmah Johar, M.Pd. sebagai keynotespeaker pada seminar ini. Saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada penyelenggara dan seluruh panitia yang terlibat dalam merancang kegiatan tersebut, atas upaya kreatif yang cukup mendasar sehingga pelaksanaannya cukup mengesankan.
Demikianlah sambutan saya, mudah-mudahan Seminar Nasional Pendidikan Matematika ini berjalan dengan baik dan lancar serta memberikan pemikiran-pemikaran segar bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di Aceh.
Wassalammu’alaikum Wr. Wb.
Ketua Program Studi Matematika FKIP Unsyiah Ttd
Dra. Suryawati, M. Pd.
______________________________________ Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tema : Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015
vi
DAFTAR ISIHAL A. KATA PENGANTAR
PEMAKALAH SESI STADIUM GENERAL
PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALITAS GURU
Dr. Rahmah Johar, M.Pd. 1
PEMAKALAH SESI PARALEL
PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA PEMBELAJARAN PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL
Linda Vitoria 14
PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA BERDASARKAN PENGALAMAN MENGAJAR GURU SMP NEGERI 15 BANDA ACEH
Salasi R, Putri Lestari 24
ANALISIS KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA KELAS IX SMPN 6 BANDA ACEH DALAM MENYELESAIKAN SOAL KONTES LITERASI MATEMATIKA (KLM)
Ellianti, Rahmah Johar, Asmaul Husna 31
THE MATH BODY, UNTUK EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Asmudi 46
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PLANTET QUESTION PADA MATERI SEGI EMPAT DI KELAS VII
SMP NEGERI 3 BANDA ACEH
Tuti Zubaidah, Khairul Umam, Baniar Rideni Putri 59
______________________________________ Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tema : Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015
vii
LEVEL PROBLEM POSING SISWA PADA MATERI BANGUN RUANG DI KELAS VIII SMP NEGERI 8 BANDA ACEH
Bintang Zaura 65
HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INDEX CARD MATCH PADA MATERI STATISTIKA DI SMP NEGERI 17 BANDA ACEH
Leviani, Musafir Kumar 73
PERAN TECHNOLOGY PEDAGOGICAL AND CONTENT KNOWLEDGE (TPACK) GURU MATEMATIKA SMA LABSCHOOL BANDA ACEH
Ellianti, Mukhlis Hidayat, Maulana Saputra 81
PENGARUH KEGIATAN LESSON STUDY PADA PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGELOLA PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN DI KELAS IV SDN LAMSAYEUN
Monawati, Cut Khairunnisak 91
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIFITAS SISWA PADA MATERI LOGARITMA DI KELAS X-IPS2 MAN 3 BANDA ACEH TAHUN AJARAN 2014-2015.
Mutia Fariha, Sri Ekayanti 101
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL PISA DI KELAS VIII SMP NEGERI 6 BANDA ACEH TAHUN AJARAN 2013-2014
Ellianti, Rahmah Johar, Nana Mulya 107
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMPN 19
PERCONTOHAN MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN PENDEKATAN SAINTIFIK
Bainuddin Yani, Sarah Shalsabilla Amalia 122
______________________________________ Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tema : Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015
viii
IMPLEMENTASI PENDEKATAN ILMIAH BERBASIS MASALAH DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Sumarno Ismail, Satra Hamzah 131
AL-KHAWARIZMI DAN PERSAMAAN KUADRAT
Budiman, Suryawati, Herizal 141
PEMBELAJARAN QUANTUM DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Yuhasriati 148
PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC PADA MATERI LIMIT DI KELAS X SMAN 3 BANDA ACEH TAHUN AJARAN 2013/2014
Erni Maidiyah, Roza Yefissa 156
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 BANDA ACEH DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL PISA PADA KONTEN SPACE AND SHAPE
Yusrina, Rahmah Johar 165
PENGGUNAAN PENDEKATAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK
MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA NEGERI 2 SIGLI
Zuraida IM 178
PENERAPAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA KELAS XI-B1 SMK-PP NEGERI SAREE
Yustina 190
KEMAMPUAN SISWA MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI MODEL LEARNING CYCLE “5E” DI KELAS VIII SMP PLUS AL-‘ATHIYAH ACEH BESAR
Suhartati 208
______________________________________ Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tema : Peningkatan Profesionalitas Pendidik Matematika dalam Menghadapi MEA 2015
ix
KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIKA PADA MATERI
PERBANDINGAN DENGAN PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE
Suryawati, Bainuddin Yani, Lisa Ramadhani 214
PENDEKATAN METAKOGNITIF UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS MAHASISWA PGSD PADA
PEMBELAJARAN SOAL CERITA MATEMATIKA: PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN
Murni, Roslina 221
208 Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah Matematika melalui Model Learning Cycle “5e”
di Kelas VIII SMP Plus Al-‘Athiyah Aceh Besar Suhartati
2Prodi Pendidikan Matematika, Universitas Syiah Kuala Mail: [email protected]
ABSTRAK: Pemecahan masalah sangat penting dalam pembelajaran matematika. Sementara itu masih banyak siswa di SMP Plus Al-Athiyah yang kesulitan dalam melakukan pemecahan masalah matematika. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian dengan fokus masalah bagaimana kemampuan siswa memecahkan masalah matematika melalui model pembelajaran Learning Cycle “5E” di kelas VIII SMP Plus Al-‘Athiyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP Plus Al-Athiyah kelas VIII melalui penerapan model Learning Cycle “5E”. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIIB yang berjumlah 27 siswa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode kuasi eksperimen. Desain yang digunakan adalah one-shot case study design.
Kemampuan pemecahan masalah yang diukur dalam penelitian ini meliputi empat aspek, yaitu 1) memahami masalah, 2) merencanakan penyelesaian masalah, 3) menyelesaikan masalah, dan 4) mengiterpretasikan hasil. Data pada penelitian ini diperoleh melalui tes dan wawancara. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa: Kemampuan pemecahan masalah matematika oleh siswa kelas VIII SMP Plus Al-‘Athiyah berada pada katagori rendah. Kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari masing-masing aspek adalah sebagai berikut: (a) kemampuan mengindentifikasi masalah berada pada kategori baik, (b) kemampuan merencanakan penyelesaian masalah sebesar berada pada kategori kurang, (c) kemampuan menyelesaikan masalah berada pada kategori kurang, dan (d) kemampuan mengecek kembali solusi yang diperoleh berada pada kategori kurang.
Kata Kunci: bangun ruang, learning cycle, pemecahan masalah
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu kajian dalam pembelajaran matematika di sekolah adalah pemecahan masalah matematika. Pemecahan masalah (problem solving) matematika lebih ditekankan pada cara memecahkan masalah dan pemrosesan informasi matematika. Biasanya dalam pemecahan masalah (problem solving), masalahnya bersifat non-rutin yaitu apabila siswa diberikan masalah tersebut, siswa tidak langsung dapat menyelesaikannya dengan prosedur-prosedur matematika yang telah ada, sehingga siswa harus mencari strategi-strategi untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk itu, siswa harus menguasai cara mengaplikasikan konsep dan keterampilan yang dimilikinya.
Strategi problem solving memiliki tahap fokus pada masalah, mengaitkan permasalahan dengan konsep matematika, merencanakan solusi, menjalankan rencana penyelesaian dan menafsirkan dan evaluasi solusi. Polya dkk dalam Johar (2011:5) menyatakan bahwa beberapa strategi dalam pemecahan masalah yaitu mengabaikan hal yang tidak mungkin (ignore the impossible thing), membuat gambar (draw a picture), mencobakan pada soal yang lebih sederhana (look for similar problem), dan coba-coba (trial and error).
Sementara itu kemampuan siswa di SMP Plus Al-‘Athiyah dalam pemecahan masalah matematika masih relatif rendah. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas masih berpusat pada guru dengan kebiasaan-kebiasaan rutin yaitu guru menjelaskan dan memberikan contoh soal dan kemudian memberikan latihan mengerjakan soal. Sedangkan siswa cenderung pasif mendengarkan, menyimak dan mencatat penjelasan yang diberikan guru.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Salah satunya dengan model pembelajaran learning cycle “5E”. Learning cycle merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa serta didasarkan pada pandangan konstruktivisme di mana pengetahuan dibangun dari pengetahuan siswa itu sendiri. Djumhuriyah (2008:86) menjelaskan bahwa pada mulanya model ini terdiri dari tiga tahap, yaitu exploration, concep interduction dan concep aplication. Tiga tahap terebut saat ini berkembang menjadi lima tahap yang terdiri atas engagement, exploration, explanation, elaboration serta evaluation. Learning cycle dengan lima tahap ini dikenal dengan learning cycle “5E”.
Pada tahap elaboration, siswa secara individu maupun kelompok, berlatih menerapkan
209 konsep yang telah mereka peroleh sebelumnya untuk memecahkan masalah. Hal ini membantu siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi, dalam hal ini adalah masalah matematika. Artinya, tiga tahap sebelumnya bertujuan mengantar siswa untuk mampu memecahkan masalah matematika.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan siswa memecahkan masalah matematika melalui model pembelajaran learning cycle “5E” di kelas VIII SMP Plus Al-‘Athiyah Aceh Besar?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan siswa memecahkan masalah matematika melalui penerapan model learning cycle
“5E” pada materi bangun ruang.
II. Tinjauan Teoretis
2.1 Model Learning Cycle “5E”
Learning cycle (siklus belajar) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (student centered). Learning cycle merupakan tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif (Fajaroh dan Dasna, 2008:26).
Wena (2009:170) menuturkan learning cycle “5E” merupakan salah satu model pembelajaran terdiri dari lima tahap yaitu sebagai berikut:
a. Pembangkitan Minat (Engagement).
Pada tahap ini guru berusaha memotivasi siswa dengan cara mengajukan pertanyaan dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik pembahasan). Dari jawaban siswa, guru melakukan identifikasi ada/tidaknya kesalahan konsep pada siswa.
b. Eksplorasi (Exploration)
Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 4 siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.
c. Penjelasan (Explanation).
Siswa menjelaskan suatu konsep dengan kalimat/pemikiran sendiri, membuktikan, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antar siswa atau guru. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memahami penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi
d. Elaborasi (elaboration)
Siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru yaitu problem solving.
Dengan demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan/mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru.
e. Evaluasi (Evaluation)
Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep atau kompetensi siswa melalui problem solving.
Cohen dan Clough (dalam Soebagio, 2000) menyatakan bahwa learning cycle merupakan strategi jitu bagi pembelajaran di sekolah menengah karena dapat ilakukan secara luwes dan memenuhi kebutuhan nyata guru dan siswa. Menurut Fajaroh dan Dasna (2007:53) penerapan strategi ini memperluas wawasan dan meningkatkan kreatifitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran, meningkatkan motivasi belajar siswa, meningkatkan sikap ilmiah siswa dan pembelajaran menjadi lebih bermakna.
2.4 Pemecahan Masalah Matematika
Menurut Johar dkk (2006:118), metode problem solving (pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi merupakan suatu metode berpikir. Metode ini mendorong anak didik untuk berpikir secara sistematik dengan menghadapkannya pada problem- problem. Jika anak didik telah terlatih dengan metode ini, mereka diharapkan dapat menggunakannya dalam situasi problematik dalam hidupnya.
Polya (dalam Suherman, 2003:91), mengemukakan bahwa pemecahan masalah memuat
210 empat langkah, yaitu:
1.
Memahami masalahTanpa adanya pemahaman terhadap masalah yang diberikan, siswa tidak mungkin mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan benar. Hudojo(2003:162) menambahkan bahwa tahap ini meliputi beberapa komponen,yaitu:
a) Identifikasi apa yang diketahui dari masalah tersebut b) Identifikasi apa yang hendak dicari
c) Mengabaikan hal-hal yang tidak relevan dengan permasalahan
2.
Merencanakan penyelesaian masalah.Kemampuan ini sangat tergantung pada pengalaman siswa dalam menyelesaikan masalah.
Semakin bervariasi pengalaman siswa, ada kemungkinan siswa akan semakin kreatif dalam menyusun rencana penyelesaian masalah. Menurut Hudojo (2003: 163) Dalam merencanakan pemecahan masalah, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan siswa, antara lain:
a) Membuat tabel, grafik atau diagram
b) Menyederhanakan permasalahan dengan membagi menjadi bagian-bagian c) Menggunakan rumus
d) Menyelesaikan masalah yang ekuivalen
e) Menggunakan informasi yang diketahui untuk mengembangkan informasi baru 3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana.
Jika rencana penyelesaian masalah telah dibuat, baik secara tertulis maupun tidak, selanjutnya dilakukan penyelesaian masalah sesuai dengan rencana yang dianggap paling tepat.
4. Melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah dikerjakan.
Dengan langkah terakhir ini, maka berbagai kesalahan yang tidak perlu dapat terkoreksi kembali sehingga siswa dapat sampai pada jawaban yang benar sesuai dengan masalah yang diberikan. Terdapat empat komponen untuk mereviu suatu penyelesaian, yakni:
a) Cek kembali hasilnya
b) Mengintepertasikan jawaban yang telah diperoleh c) Mencoba cara lain untuk memperoleh jawaban yang sama
d) Mengecek apakah ada kemungkinan penyelesaian lain dalam permasalahan yang kita selesaikan.
Kemampuan masing-masing siswa dalam menyelesaikan masalah berbeda-beda, namun demikian kemampuan ini dapat ditingkatkan. Menurut Van de Walle (dalam Wulandadi, 2007:
19), terdapat beberapa aspek dalam diri siswa yang perlu dikembangkan untuk menunjang kemampuannya dalam memecahkan masalah, di antaranya adalah strategi pemecahan masalah, serta keyakinan dan perilaku siswa terhadap matematika yang mencakup kepercayaan diri, tekad, kesungguhan danketekunan siswa dalam mencari pemecahan masalah. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah antara lain:
1. kemampuan memahami ruang lingkup masalah dan menemukan informasi yang relevan guna memperoleh solusi
2. kemampuan dalam memilih strategi yang akan digunakan dalam pemecahan masalah 3. kemampuan berpikir yang fleksibel dan objektif
4. keyakinan yang positif tentang belajar matematika
5. perilaku siswa yang positif, mencakup kepercayaan diri, tekad, kesungguhan dan ketekunan siswa dalam mencari pemecahan masalah
6. latihan-latihan soal pemecahan masalah.
III. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Kualitatif. Adapun desain dalam penelitian ini adalah one- shot case study. Menurut Arikunto (2006:84), desain ini termasuk ke dalam pre eksperimental design atau sering juga disebut quasi eksperimen.
Subjek penelitian adalah 27 siswa dari kelas VIII-B SMP Al-‘Atiyah Aceh Besar.
Data yang dikumpulkan adalah data kemampuan siswa memecahkan masalah matematika setelah proses pembelajaran dengan learning cycle “5E” . Data ini diperoleh melalui tes hasil belajar dan wawancara. Selama pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan agar pemebelajaran sesuai dengan tahapan learning cycle “5E”. Data yang diperoleh kemudian ditabulasikan dan dilakukan analisis deskriptif kualitatif untuk menentukan kemampuan siswa memecahkan masalah. Kemampuan siswa memecahkan masalah dikelompokkan berdasarkan 4 aspek yaitu 1) memahami masalah, 2) merencanakan penyelesaian masalah, 3) menyelesaikan
211 masalah, dan 4) pengecekan kembali solusi yang diperoleh (mengiterpretasikan hasil). Kategori ini berdasarkan tahapan pemecahan masalah matematika menurut Polya. Sedangkan tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dekelompokkan sesuai dengan kategori yang dikemukakan Arikunto ( 2006:18), yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.1 Kategori Kemampuan Siswa
Persentase Kemampuan Kategori 80 < ݔ ≤ 100 Baik sekali
60 < ݔ ≤ 80 Baik 40 < ݔ ≤ 60 Cukup 20 < ݔ ≤ 40 Kurang
0 ≤ ݔ ≤ 20 Kurang sekali
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
Hasl penelitian yang diperoleh berupa hasil tes setelah pembelajaran dengan Learning Cycle “5E” , dan hasil wawancara terhadap siswa tentang proses pemecahan masalah yang mereka lakukan.
4.1.1 Hasil Tes Setelah Pembelajaran
Berikut ini adalah skor tes siswa yang dilakukan setelah pembelajaran:
Tabel 4.1 Data Hasil Tes Setelah Pembelajaran dengan Learning Cycle “5E”
Siswa Skor Kategori Kemampuan Skor Total
A B C D
01 0 4.35 8.7 0 13.0
02 17.4 5.8 14.5 5.8 43.5
03 8.7 1.45 7.25 0 17.4
04 11.6 4.35 2.9 0 18.85
05 15.95 10.15 34.8 5.8 66.7
06 8.7 5.8 14.5 2.9 31.9
07 8.7 0 0 0 8.
08 8.7 4.35 11.6 2.9 27.55
09 15.95 1.45 4.35 0 21.75
10 15.95 4.35 11.6 2.9 34.8
11 15.95 15.95 43.5 8.7 84.1
12 17.4 5.8 31.9 8.7 63.8
13 17.4 8.7 39.15 11.6 76.85
14 15.95 0 0 0 15.95
15 15.95 14.5 33.35 5.8 69.6
16 17.4 10.15 33.35 5.8 66.7
17 14.5 2.9 5.8 2.9 26.1
18 8.7 4.35 17.4 2.9 33.35
19 8.7 0 0 0 8.7
20 17.4 4.35 4.35 0 26.1
21 15.95 10.15 26.1 5.8 58
22 8.7 4.35 11.6 2.9 27.55
23 14.5 4.35 0 0 18.85
24 14.5 11.6 26.1 8.7 60.9
25 5.8 4.35 10.15 0 20.3
26 13.05 4.35 8.7 0 26.1
27 13.05 4.35 26.1 5.8 49.3
Jumlah 346.55 152.25 427.75 89.9 1016.46
Rata-rata 12.84 5.64 15.84 3.33 37.65
Persentase 74% 28% 32% 29% 38%
Keterangan:
212 A : Mengidentifikasi masalah ( mengidentifikasi informasi yang diketahui dari soal dan
mengidentifikasi apa yang ditanyakan dari soal)
B : Merencanakan penyelesaian masalah ( menentukan cara penyelesaian yang sesuai) C = Menyelesaikan masalah
D = Pengecekan kembali hasil yang diperoleh
4.1.2 Hasil Wawancara dengan Siswa
Melalui wawancara, peneliti memperoleh data tentang sebagai berikut:
a. Siswa umumnya mampu menuliskan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal yang diberikan,
b. Siswa mengalami kesulitan dalam merencanakan untuk memecahkan masalah yang diberikan
c. Siswa cenderung tidak melakukan pengecekan kembali solusi yang diperoleh d. Siswa merasa pemecahan masalah adalah materi yang sulit.
e. Siswa mengaku bahwa dengan model pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti (Learning Cycle “5E”), mereka dikondisikan untuk terbiasa dengan pemecahan masalah matematika.
4.2 Pembahasan
Hasil tes siswa tentang kemampuan memecahkan masalah matematika setelah mengalami pembelajaran dengan Learning Cycle “5E” terlihat masih belum mencapai kategori cukup. Hanya pada aspek mengidentifikasi masalah, kemampuan siswa berada pada kategori baik. Fakta ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa akan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika masih belum memadai, karena untuk dapat menentukan strategi atau rencana pemecahan masalah dan melanjutkannya dalam proses pemecahan masalah matematika, siswa harus mempunyai pemahaman yang baik tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang berhubungan dengan masalah yang akan diselesaikan.
Di samping itu keterampilan dalam menggunakan konsep dan prinsip matematika juga sangat mempengaruhi keberhasilan memecahkan masalah matematika. Dengan rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika, ini berarti bahwa keterampilan siswa dalam memilih dan menggunakan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika juga masih rendah.
Berdasarkan hasil tes dan wawancara diketahui bahwa siswa cenderung tidak melakukan pengecekan kembali atas solusi yang diperoleh. Akhir dari pemecahan masalah yang dilakukan, langsung dianggap sebagai solusi dari masalah matematika yang pecahkan dan diterima sebagai akhir dari proses pemecahan masalah. Sehingga kesalahan-kesalahan yang terjadi selama merencanakan dan menyelesaikan masalah, meskipun hanya karena ketidaktelitian tidak teridentifikasi oleh siswa.
Kesulitan yang dihadapi siswa dalam pemecahan masalah matematika lebih disebabkan karena pembelajaran yang terjadi biasanya hanya sampai menyelesaikan soal-soal rutin. Sehingga siswa tidak terlatih dalam mengaitkan informasi yang terdapat dalam masalah matematika dengan strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Siswa mengakui selama pembelajaran dengan Learning Cycle “5E” mereka terbiasa memecahkan masalah matematika, meskipun belum berhasil. Artinya agar siswa memiliki kemampuan yang baik dalam memecahkan masalah matematika, selayaknya mereka dikondisikan untuk terbiasa memecahkan masalah matematika.
Melalui Learning Cycle “5E” siswa selalu diberi waktu untuk memecahkan masalah matematika, karena memecahkan masalah matematika terdapat pada tahap elaborasi pada pembelajaran dengan Learning Cycle “5E”. . Ini berarti rendahnya kemampuan siswa bukan disebabkan oleh proses pembelajaran yang menggunakan Learning Cycle “5E”.
V. Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika oleh siswa kelas VIII SMP Plus Al-‘Athiyah berada pada katagori rendah.
Kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari masing-masing aspek adalah sebagai berikut:
1.
Kemampuan mengindentifikasikan masalah berada pada kategori baik dengan pencapaian kemampuan sebesar 74%2.
Kemampuan merencanakan penyelesaian masalah sebesar berada pada kategori kurang dengan pencapaian kemampuan sebesar 28%3.
Kemampuan menyelesaikan masalah berada pada kategori kurang dengan pencapaian213 kemampuan sebesar 32%
4.
Kemampuan mengecek kembali solusi yang diperoleh berada pada kategori kurang sebesar 38%.5.2 Saran
Saran yang diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Guru sebaiknya mengalokasikan waktu untuk pemecahan masalah matematika dalam setiap pembelajaran, hal ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika.
2. Dalam proses pemecahan masalah matematika guru harus mengingatkan siswa agar tidak mengabaikan tahap pengecekan kembali solusi yang diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rieneka Cipta.
Djumhuriyah, Siti. (2008). Penggunaan Model Pembelajaran Learning Cycle untuk Meningkatkan Ketuntasan Belajar Siswa Pada Konsep Pemuaian di Kelas VIID SMP Negeri 8 Bogor. Tersedia di www.docstoc.com diakses pada Sabtu, 17 Oktober 2011.
Fajaroh dan Dansa. (2007). Pembelajaran dengan Siklus Belajar.
http://molucasablog.blogspot.com/2010/07/pembelajaran-dengan-model siklus.html.
di akses 30 September 2011.
Johar, R, dkk. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.
Johar, R dan Afrina, M. (2011). The Teacher’s Effort to Encourage the Student’s Strategies to Find the Solution of Fraction Problem in Banda Aceh. (Research). Presented in International Conference of School Effectiveness and Improvement (ICSEI) at Limassol, Cyprus, Jan 4th till Jan 7th .
Suherman. dkk, (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Komtemporer. Bandung: JICA-UPI.
Wena, M. (2010). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.