BAGIAN 5. PROFESIONALISME GURU
PERUBAHAN KURIKULUM DAN PROFESIONALISME GURU DI ERA MEA 2014 Mintasih Indriayu, Dewi Kusumawardani, Harini & Jonet Ariyanto Nugroho
FKIP UNS Surakarta [email protected] Abstrak
Menghadapi persaingan pasar bebas ASEAN, kesiapan bukan lagi hal yang harus dipertanyakan karena siap tidak siap Indonesia harus menghadapi hal tersebut.
Namun dalam realitasnya masih banyak berbagai sektor yang mesti dibenahi oleh pemerintah Indonesia menghadapi persaingan tingkat ASEAN ini, terutama sektor pendidikan. Untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, dunia pendidikan harus membuat terobosan meningkatkan kualitas pendidikan, sehingga mampu mencetak tenaga-tenaga profesional. Profesionalisme tenaga pendidik merupakan keharusan yang perlu ditingkatkan. Kreativitas menjadi salah satu sarana mewujudkan sebagai sosok guru profesional. Karena itu, pelatihan pendidikan serta peningkatan penguasaan keilmuan dan teknologi bagi guru tetap harus terus dilakukan. Apalagi, di era globalisasi, tantangan pendidik menjadi tidak ringan. Setiap perubahan kurikulum selalu menjadi harapan besar bagi seluruh masyarakat Indonesia akan adanya perubahan dalam dunia pendidikan terutama untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kata Kunci: Kurikulum, Profesionalisme, MEA 2015
PENDAHULUAN
Faktor utama pendidikan yang berkualitas terletak pada faktor guru, bukan semata ditentukan oleh kurikulumnya. Karena proses interaksi antara guru dan peserta akan menentukan efektif dan efisiennya tujuan pembelajaran. Sedangkan kurikulum adalah alat untuk menjalin hubungan yang bertujuan untuk menjadikan sistem pendidikan lebih sistematis dan dapat dikerjakan secara terstruktur dan merata.
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar.
Kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan dalam mencapai tujuan pendidikan. Apabila masyarakat dinamis, kebutuhan anak didik pun akan dinamis sehingga tidak tersaing dalam masyarakat, karena memang masyarakat berubah berdasarkan kebutuhan itu sendiri. Tak heran jika di Indonesia telah berganti kurikulum sebanyak tujuh kali, mulai 1968 sampai 2013 (Tempo, 2014). Berikut ini adalah ringkasan perubahan kurikulum yang ada di Indonesia.
Kurikulum 1968
Sifat: perubahan dari program Pancawardhana (Kurikulum 1964) yang menitikberatkan pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keperigelan, dan jasmani. Sedangkan Kurikulum 1968 menitikberatkan pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Pengganti kurikulum Orde Lama ini lebih
menekankan kelompok pembinaan Pancasila. Pelajaran inti: pelajaran ilmu hayat dam ilmu alam, digabung menjadi ilmu pengetahuan alam (IPA)
Kurikulum 1975
Sifat: berorientasi pada tujuan. Tujuan pendidikan nasional, institusional, kurikuler, instruksional umum, dan instruksional khusus. Perbedaan dengan kurikulum sebelumnya adalah memberikan penilaian pada akhir semester atau akhir tahun saja.
Pelajaran inti: agama, pendidikan moral Pancasila, bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan sosial (IPS), matematika, IPA, olahraga dan kesehatan, kesenian, serta keterampilan khusus. Ciri Kurikulum 1975 adalah dimulainya penjurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, dan bahasa.
Kurikulum 1984
Sifat: berorientasi pada tujuan instruksional. Pelajaran inti: agama, pendidikan moral Pancasila, pendidikan sejarah perjuangan bangsa, bahasa dan kesusasteraan Indonesia, geografi Indonesia, geografi dunia, ekonomi, kimia, fisika, biologi, matematika, bahasa Inggris, kesenian, keterampilan, pendidikan jasmani dan olahraga, serta sejarah dunia dan nasional. Alasan pergantian kurikulum kali ini adalah memenuhi tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan masyarakat. Selain itu, pendekatan berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). Tujuan pengadaan program studi baru (seperti di SMA) adalah memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.
Perubahan penjurusan dengan istilah program A dan B mulai SMA.
Program A: A1 adalah fisika. A2 untuk pelajaran biologi. A3 untuk pelajaran ekonomi. A4 lebih penekanan bahasa dan budaya. Program B: Lebih menekankan keterampilan kejuruan.
Kurikulum 1994
Sifat: diterapkannya sistem caturwulan dan bersifat populis. Dengan sifat populis, masing-masing daerah dapat mengembangkan pelajarannya sendiri yang disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Sedangkan dalam tataran jawaban dari murid, guru memberikan soal yang jawabannya dimungkinkan lebih dari satu jawaban.
Kurikulum 2004
Sifat: sentralis pendidikan. Bersifat sentralis karena kurikulum ini disusun oleh tim pusat. Kurikulum 2004 lebih dikenal dengan Kurikulum Penguasaan Materi Hasil dan Kompetensi (KBK). KBK tidak mempersoalkan proses belajar, tapi mementingkan peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan. Jumlah jam pelajaran 32-40 jam per minggu, tapi jumlah mata pelajaran belum bisa dikurangi. Sedangkan Kurikulum 2004 harus mencakup muatan lokal; kegiatan pengembangan diri; pengaturan beban belajar;
kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan; pendidikan kecakapan hidup; serta pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
Kurikulum 2006
Sifat: desentralisme pendidikan. Pada kurikulum ini, guru daerah dapat mengembangkan kerangka dasar yang disusun oleh tim pusat. Tujuan utama Kurikulum
2006 adalah agar peserta didik berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, serta kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
Kurikulum 2013
Sifat: pendidikan berbasis karakter. Kurikulum 2013 mengutamakan pemahaman, keterampilan, dan siswa dituntut memahami materi, aktif berdiskusi dan presentasi, serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi. Dalam Kurikulum 2013 terdapat mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan sesuai dengan keinginan peserta didik.
Walaupun sudah berganti-ganti kurikulum, namun peringkat kualitas pendidikan Indonesia di mata dunia masih rendah. Berdasarkan data The Learning Curve Pearson 2014, sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia, memaparkan bahwa Indonesia menempati posisi ke-40 dengan indeks ranking dan nilai secara keseluruhan yakni minus 1,84. Posisi Indonesia ini menjadikan yang terburuk di mana Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan Thailand, menjadi lima negara dengan ranking terbawah yang berada di atas Indonesia. Pendidikan merupakan aspek penting yang bisa menghasilkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada peringkat ke-121 dari 187 negara. Kita berada jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura (peringkat 18), Malaysia (peringkat 64), Thailand (peringkat 103), dan Filipina (peringkat 114). Oleh sebab itu peningkatan kualitas SDM untuk bersaing dalam menghadapi MEA harus dimulai dari proses pendidikan. Kemampuan pengetahuan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibanding Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand
Kemajuan suatu negara ditentukan oleh bagaimana pendidikan tersebut dilaksanakan. Pada pendidikan tingkat dasar dan menengah guru sebagai komponen penting dalam pendidikan yang berperan sebagai pengajar dan pendidik bagi siswa. Oleh sebab itu, seorang guru mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencapai kemajuan pendidikan bangsa. Guru dengan profesionalitas tinggi dan mau berdedikasi terhadap pendidikan, maka akan menghasilkan pendidikan yang berkualitas dan mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas juga.
Peningkatan kualitas pendidikan salah satunya dicapai melalui peningkatan profesionalisme pendidik yang dibuktikan dengan sertifikasi. Profesionalisme guru tidak sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen namun lebih merupakan sikap dan pengembangan profesionalisme pada keterampilan yang tinggi dengan tingkah laku sesuai dengan yang disyaratkan. Guru profesional hendaknya menjadi guru yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang dapat menciptakan hasil pembelajaran secara optimal. Selanjutnya memiliki kepekaan dalam membaca tanda-tanda zaman, serta memiliki wawasan intelektual dan berpikiran maju, tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang ada pada dirinya. Menurut Isjoni (2006) bahwa guru masa depan yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas. Program kerja tersebut tidak hanya berupa program rutin, akan tetapi guru harus merencanakan
bagaimana setiap pembelajaran yang dilakukan berhasil maksimal dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang dilakukan dan sudah terprogram secara baik
2. Innovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan yang berkenaan dengan pola pembelajaran termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, sistem dan alat evaluasi. Secara individu maupun bersama- sama mampu untuk mengubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil maksimal. Dengan mengubah pola baru pembelajaran, maka akan berdampak kepada hasil yang lebih maksimal
3. Motivator, artinya guru mampu memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didiknya untuk belajar dan terus belajar
4. Capable, artinya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan dan sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif
5. Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan dan menularkan kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang.
Guru juga menjadi salah satu faktor menentukan dalam konteks meningkatkan mutu pendidikan dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas karena guru adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dan berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Mutu pendidikan yang baik dapat dicapai dengan guru yang profesional dengan segala kompetensi yang dimiliki. Selain itu juga rasa tanggung jawab menunjukkan professional dalam melakukan sesuatu. Seorang guru yang mengajar harus merasa bertanggung jawab atas materi yang disampaikannya kepada siswa sesuai dengan kurikulum, tepat waktu masuk dan keluar kelas, meningkatkan kompetensi, kecakapan, keterampilan siswa dan menilai hasil belajar siswanya. Sehingga seorang guru perlu kesiapan sebelum dan sewaktu masuk kelas dengan pengetahuan, ketrampilan yang akan diajarkannya. Tanggung jawab di sini bukanlah hanya memberi materi saja, akan tetapi bertanggungjawab mengkodisikan belajar yang mudah dipahami siswa dengan Susana yang harmonis, tenang dan menyenangkan. Untuk itu seperti yang diungkapkan oleh Gagne dan Briggs (1979) yang dikutip oleh Martinis Yamin (2006), bahwa seorang guru sebaiknya:
1. Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa
2. Menjelaskan indicator/tujuan instruksional yang harus dicapai 3. Mengingatkan kompetensi prasyarat
4. Memberikan stimulus dari suatu masalah, topik atau konsep materi 5. Memberikan petunjuk belajar yang mudah dipahami
6. Memunculkan penampilan, kompetensi dan keterampilan siswa 7. Memberikan umpan balik
8. Menyimpulkan materi yang telah disampaikan kepada siswa.
Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar, menurut Lukmanul Hakim “Tiga aspek yang mempengaruhi keberhasilan guru
dalam proses belajar mengajar yaitu: kepribadian, pandangan terhadap anak didik dan latar belakang guru”. (Hakim, 2010: 91), yaitu:
1. Kepribadian
Hal ini akan mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas di dalam kelas.
2. Pandangan terhadap anak didik
Proses belajar dari guru yang memandang anak didik sebagai mahluk individual dengan yang memiliki pandangan anak didik sebagai mahluk sosial akan berbeda.
Karena prosesnya berbeda, hasil proses belajarnya pun akan berbeda.
3. Latar belakang guru
Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena ia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya. Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin berkurang pada aspek tertentu seiring dengan bertambahnya pengalamannya.
Oleh sebab itu guru professional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode pembelajaran. Keahlian yang dimiliki oleh guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus. Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi, dan lisensi dari pihak yang berwenang (dalam hal ini pemerintah dan organisasi profesi). Profesionalisme guru juga akan menentukan peran pendidikan secara strategis dalam kemitraan global serta dapat memutus lingkaran setan dalam pengentasan kemiskinan.
Pada tingkat pendidikan tinggi seorang dosen juga merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidikan pada perguruan tinggi.
Ketentuan ini mencakup tipe macam kegiatan yang harus dilaksanakan oleh dosen yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Tiga macam kegiatan tersebut secara hirarki melambangkan tiga upaya berjenjang dan meluas gerakannya (Riva. 2009).
Untuk itu dosen mempunyai peran yang multi fungsi, yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, inovator, konselor, evaluator dan administrator, (Syamsudin, 2003 dalam Akhmad Sudrajat, 2008).
Para guru di era MEA 2015, mau tidak mau harus siap bersaing dengan tenaga pengajar dari luar Indonesia. Karena melalui pasar bebas, tenaga kerja dari luar akan bebas mencari tempat kerja antar lintas negara, termasuk menjadi pengajar di Indonesia.
Oleh karena itu, guru di Indonesia harus mempersiapkan diri dengan meningkatkan kualitasnya sebagai pendidik yang profesional agar siap menghadapi persaingan di antara negara-negara Asia Tenggara. Indonesia sebagai negara yang hampir sepertiga penduduknya berusia di bawah 15 tahun, sudah seharusnya melakukan investasi yang
lebih dan memberdayakan sumber daya generasi muda guna mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial masa depan.
Salah satu bentuk investasi yang dapat dilakukan adalah dengan membekali generasi muda dengan pendidikan berkualitas tinggi yang relevan. Sumber daya manusia yang berpendidikan serta memiliki keahlian yang memadai merupakan hal krusial untuk ekonomi berbasis inovasi. Ditambah lagi, dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki zona persaingan bebas, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Oleh sebab itu sistem pendidikan yang tepat dan berkualitas dapat menjadikan generasi muda Indonesia siap menghadapi segala bentuk persaingan global, seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.
MEA 2015 merupakan suatu konsep pembentukan pasar tunggal yang bertujuan mewujudkan suatu area perekonomian yang kompetitif, suatu kawasan dengan pembangunan ekonomi yang mampu terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global. Hal ini berarti membuka peluang sekaligus tantangan bagi tenaga kerja Indonesia yang terdidik untuk berkesempatan bekerja di negara-negara anggota ASEAN.
Sebenarnya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) tidak hanya berbicara mengenai persaingan di bidang ekonomi, melainkan di bidang pendidikan sebagai sektor yang akan memproduksi Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal. Pendidikan memainkan peran penting dan menjadi program prioritas di sepuluh negara anggota ASEAN. Pemimpin ASEAN pada tahun 2003 telah sepakat untuk membentuk ASEAN Community pada tahun 2015 yang akan didukung oleh tiga pilar, yaitu pilar politik dan keamanan, pilar ekonomi dan pilar sosial budaya, sebagaimana ditetapkan dalam ASEAN Vision 2020.
ASEAN bertekad untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan untuk kepentingan generasi sekarang melalui kerjasama yang lebih erat di bidang pendidikan.
Pendidikan merupakan inti dari proses pembangunan ASEAN, menciptakan masyarakat berbasis pengetahuan sehingga dapat berkontribusi terhadap peningkatan daya saing ASEAN dalam membangun kehidupan masyarakat yang produktif dan kohesif.
Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu kerjasama yang erat, melengkapi kualitas pengajaran, pembelajaran dan penelitian kelas dunia. Semua ini menuntut sistem pendidikan dan pelatihan yang responsif terhadap tuntutan warga dan ekonomi.
Keikutsertaan Indonesia dalam program perdagangan di ASEAN dengan tujuan yang luhur untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia, namun harus dibarengi dengan upaya kerja keras untuk perbaikan dan peningkatan kemampuan Pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skill) dan tata laku (attitude) secara personil maupun kelembagaan secara simultan, terintegrasi dan konsisten, pada semua tingkatan, dari semua.
DISKUSI
Di Indonesia, kurikulum disusun dan berlaku secara Nasional untuk semua sekolah pada jenjang yang sama. Ini dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita Nasional Bangsa Indonesia. Setiap kurikulum selalu berisikan sesuatu yang dicita-citakan dalam bidang pendidikan artinya hasil belajar yang diinginkan agar dimiliki oleh anak didik.
Untuk mewujudkan cita-cita yang terdapat dalam kurikulum, para gurulah yang memegang peranan sentral dalam pelaksanaan kurikulum tersebut. Antara kurikulum dan tenaga pendidik akan saling berhubungan satu sama lain. Kurikulum tentunya merupakan awal atau rancangan bagaimana pendidikan nantinya akan dijalankan.
Kesesuaian kurikulum dalam instansi pendidikan akan mempermudah seorang guru dalam menentukan model dan metode mengajarnya serta mempermudah dalam menyiapkan dan menyampaikan materi pembelajaran nantinya. Dengan adanya kesesuaian kurikulum, model dan metode mengajar yang disesuaikan oleh guru diharapkan kualitas pendidikan juga akan meningkat. Hal ini mungkin terjadi karena sejak dari awal telah ditetapkan bagaimana rancangan pendidikan nantinya dijalankan dengan perencanaan kurikulum yang baik dan relevan. Seorang guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang berperan dalam kegiatan belajar mengajar. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Untuk itu sebagai tenaga yang profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dan sekaligus digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada berbagai jenis dan tingkat sekolah. Kurikulum haruslah dinamis dan terus berkembang untuk menyesuaikan berbagai perkembangan yang terjadi pada masyarakat dunia dan haruslah menetapkan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan pengajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan belajar mengajar di perguruan tinggi. Jadi kurikulum menjadi inti dalam menggapai kompetensi lulusan.
Di era MEA, kurikulum sebaiknya tidak lagi berorientasi pada kurikulum perguruan tinggi sendiri, melainkan harus dibuat dengan melihat lingkup ASEAN. Karena lulusan Indonesia tidak hanya akan bersaing dengan lulusan dari Indonesia, melainkan dengan lulusan di tingkat regional ASEAN. Untuk itu, standar pendidikan perguruan tinggi di Indonesia harus mampu bersaing di tingkat regional. Persaingan bukan lagi hanya di kancah nasional, tapi juga regional dan internasional. Memang sebagai bagian dari masyarakat global tentu Indonesia harus siap berkompetisi di bidang pendidikan.
Lebih-lebih kita sudah terikat dengan berbagai kesepakatan-kesepakatan global.
Harapan ke depan bahwa Indonesia mampu menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan memiliki kompetensi pada bidang. Kompetensi merupakan akumulasi kemampuan seseorang dalam melakukan suatu deskripsi kerja secara terukur melalui asesmen yang terukur, mencakup aspek kemandirian dan tanggung jawab individu pada bidang kerjanya. Kompetensi ini menciptakan profesional dan skills labors terlebih memasuki persaingan kompetitif saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) digulirkan mulai tahun 2015
SIMPULAN
Profesionalisme guru. UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah memberikan landasan kuantitatif bagi peningkatan mutu guru, yaitu kualifikasi akademik, sertifikat pendidik, dan empat kompetensi: pedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian. Kompetensi pedagogis adalah kemampuan mengelola pembelajaran dengan mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Peningkatan profesionalisme guru seyogyanya ditandai berbagai aktivitas pembaruan metode dan kinerja guru.
Kurikulum merupakan alat mencapai suatu tujuan dan membutuhkan keandalan penggunanya. Dalam perspektif kepentingan bangsa dan negara, kurikulum ini akan berfungsi dan berperan baik jika para pelaku dan pemerhati punya kejelasan tujuan dan visi bersama, peta jalan yang benar, serta keandalan dalam pemanfaatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukmanul (2010) Perencanaan Pembelajaran, Bandung: CV Wacana Prima
Isjoni (2006) Gurukah Yang Dipersalahkan? Menakar Posisi Guru Di tengah Dunia Pendidikan Kita. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riva, Dede M (2009) Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru http://beta.pikiran- rakyat.com. Diunduh tanggal 15 Februari
Sudrajat, Akhmad (2008). Artikel. Peran Guru Dalam Pendidikan. http://www.
Akhmadsudrajat.wordpress.com/ Blog Pendidikan 6 Maret 2014
Tempo (2014) Sejak Orde Baru, Indonesia 7 Kali Ganti Kurikulum. Selasa, 19 Agustus 2014 Yamin, Martinis (2006). Sertifikasi Profesi Keguruan Di Indonesia. Jakarta: Gaung Persada
Press
PERSPEKTIF PENDIDIK EKONOMI DALAM KURIKULUM 2013 DAN ERA MEA Ady Soejoto
Fakultas Ekonomi UNESA [email protected] Abstrak
Pendidik ekonomi sebagai key’s person merupakan input instrumental dalam mentransformasi input menjadi outcome pendidikan. Dalam menghadapi kurikulum 2013 dan MEA maka perlu diterapkannya indikator perspektif bagi pendidik ekonomi yaitu memiliki dan mengembangkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik dalam disiplin ilmu ekonomi;
menguasai ilmu ekonomi dalam spektrum mendalam dan luas; mendiagnosis materi pembelajaran ekonomi; mendiagnosis penilaian pembelajaran;
menggunakan kolaborasi model pembelajaran; menguasai dan menggunakan teknologi informasi; dan memiliki dinamika kehidupan.
Kata Kunci: Pendidik Ekonomi, indikator perspektif
PENDAHULUAN
Pendidik merupakan instrumental input yang memainkan peranan penting dalam pelaksanaan proses transformasi input menjadi outcome pendidikan. Dalam proses transformasi pendidikan, pendidik merupakan key’s person yang terutama perlu diperhitungkan dalam dunia industri pendidikan.
Pendidik dapat bertindak aktif dan pasif dalam proses transformasi pendidikan tergantung model pembelajaran yang dipergunakannya. Aktif, ketika pendidik menjelaskan dan menanyakan pada siswa. Aktif, jikalau pendidik tidak memberi kesempatan berinteraksi antar peserta didik dan peserta didik nasibnya tergantung pada pola yang dianut pendidik di kelas. Pasif, dalam arti menumbuhkan respons dan kreativitas peserta didik dalam proses transformasi pendidikan. Pendidik bertindak sebagai inisiator, fasilitator dan motivator dalam proses transformasi pendidikan.
Proses transformasi input menjadi outcome pendidikan yang berlangsung pada tingkat satuan pendidikan bersifat otonom. Walaupun otonom, satuan pendidikan diselimuti oleh banyak faktor baik faktor makro maupun mikro sehingga mempengaruhi bekerjanya proses transformasi. Dan salah satu elemen yang perlu diperhitungkan adalah urgensi pendidik ekonomi yang kapabel.
PEMBAHASAN
Faktor yang mempengaruhi
Dalam proses transformasi pendidikan ada beberapa faktor yang mempengaruhi di antaranya kebijakan pemerintah, sekolah, keluarga dan proses. Kebijakan pemerintah merupakan dasar pijakan bagi berlangsungnya pendidikan dari pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. Pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk software dan hardware. Software pendidikan seperti peraturan pendidikan, kurikulum, sertifikasi pendidik, sertifikasi sekolah. Dan hardware pendidikan
seperti gaji dan tunjangan profesi, pengeluaran pendidikan untuk membangun infrastruktur pendidikan, pengembangan sarana belajar, subsidi baik untuk sekolah maupun untuk anak didik.
Di samping kebijakan pemerintah, faktor sekolah sebagai satuan pendidikan juga mempengaruhi proses transformasi pendidikan. Sekolah merupakan pabrik dunia industri pendidikan. Faktor yang perlu dipertimbangkan dan mungkin terjadi berhubungan dengan prospektif peserta didik, kepemimpinan yang efektif, administrasi dan organisasi sekolah, organisasi kurikulum, otonomi sekolah, insentif dan reward, disiplin, sikap positif pendidik, dan tenaga pendidik yang kapabel.
Keluarga dan masyarakat memiliki kontribusi keberhasilan proses transformasi pendidikan. Struktur sosial ekonomi, struktur keluarga dan sumber baik material dan non material dari keluarga juga ikut mempengaruhi. Struktur sosial ekonomi masyarakat heterogen dari kalangan pendapatan tinggi, menengah dan rendah bahkan berada di bawah garis kemiskinan. Karena itu dukungan material untuk biaya pendidikan anak didik tidak akan sama. Perbedaan itu akan didukung oleh status anak didik dalam suatu keluarga, seperti harapan orang tua, gender, urutan anak, status orang tua, lingkungan keluarga dalam arti luas mungkin akan mempengaruhi proses transformasi pendidikan.
Proses pembelajaran, merupakan proses belajar yang berlangsung di kelas dan di luar kelas secara langsung menentukan outcome pendidikan. Proses pembelajaran merupakan proses alih pengetahuan, sikap dan keterampilan dari sumber belajar kepada anak didik. Sumber belajar dalam proses pembelajaran di antaranya pendidik, media informasi, buku referensi, buku ajar, laboratorium, perpustakaan, pusat dokumentasi, institusi terkait dengan pendidikan, dan bahkan lingkungan. Ada dua komponen dalam proses pembelajaran yaitu pembelajaran efektif dan penilaian efektif. Proses pembelajaran merupakan kegiatan pembelajaran pendidik dan pembelajar dalam suatu satuan pendidikan, meliputi kegiatan mendiagnosis materi, waktu pembelajaran materi, lamanya pembelajaran, jumlah waktu yang disediakan, strategi pembelajaran, pekerjaan rumah, penilaian efektif meliputi teratur, kontinyu dan diagnose.
Indikator perspektif pendidik ekonomi
Untuk mencapai pembelajaran efektif, pendidik ekonomi memainkan peranan penting sebagai salah satu sumber belajar yang diharapkan oleh anak didik. Pendidik ekonomi bukanlah satu-satunya sumber belajar. Sumber belajar lainnya adalah buku referensi, buku ajar pegangan siswa, media informasi, perpustakaan, laboratorium, dan pusat dokumentasi serta institusi terkait di mana terdapat sumber belajar.
Pendidik ekonomi yang dapat menjalankan fungsinya dalam mengelola pembelajaran ekonomi tentunya merupakan pendidik ekonomi yang kapabel. Ada beberapa indikator perspektif bagi pendidik ekonomi untuk melaksanakan kurikulum 2013, di antaranya:
1. Memiliki dan mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik dalam disiplin ilmu ekonomi.
2. Menguasai ilmu ekonomi dalam spektrum mendalam dan luas.
Penguasaan ilmu ekonomi dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Fokus pembahasan pada ekonomi deskriptif, teori dan terapan. Wawasan kajian pada ekonomi nasional, regional, internasional serta mengangkat masalah ekonomi lokal.
3. Mendiagnosis materi pembelajaran ekonomi.
Melakukan diagnose materi pebelajaran ekonomi amatlah penting. Melalui diagnose materi pembelajaran pendidik dapat memaparkan fakta dan data ekonomi, menentukan konsep apa saja yang akan diajarkan pendidik pada anak didik serta teori ekonomi. Konsep merupakan variabel mediator antara faktadan teori.
Berangkat dari konsep dikembangkan teori yang mendasarinya sesuai dengan substansi keilmuan.Untuk itu pendidik ekonomi bertindak sebagai insan yang produktif, inovatif, kreatif dan afektif melalui penguatansikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
4. Mendiagnosis penilaian pembelajaran.
Kegiatan mendiagnosis penilaian pembelajaran tidak dipisahkan dengan pembelajaran yang telah berlangsung. Pembelajaran yang dilakukan secara teratur dan kontinyu mengandung konotasi sesuaikah dengan tingkat penguasaan siswa.
Setiap item penilaian yang diagnose oleh pendidik hendaknya berkorelasi secara signifikan dengan diagnose materi pelajaran. Proses penilaian melekat pada setiap materi yang dirancang oleh pendidik di kelas. Untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik sebaiknya penilaian diberikan pada setiap satuan pembahasan hubungan antara beberapa konsep dengan berkiblat pada teori. Seperangkat penilaian sebaiknya disusun oleh pendidik ekonomi sesuai kondisi kelas berdasarkan diagnose materi secara signifikan. Penilaian yang dilakukan bukan hanya bersumber dari tes tetapi juga dari tugas yang diberikan oleh pendidik. Berilah kesempatan untuk peserta didik membuat dan merangkai narasi atas tugas yang diberikan dalam bentuk ringkasan, laporan kegiatan dan solusi atas problem yang diberikan pendidik pada anak didik. Penilaian yang dilakukan tidak terlepas dari penerapan model pembelajaran yang dipergunakan dalam kurikulum 2013 yaitu inquiry based learning, discovery learning, project based learning dan problem based learning.
5. Menggunakan Kolaborasi Model Pembelajaran.
Selain model inquiry based learning, discovery learning, project based learning dan problem based learning, digunakan juga model yang lain seperti Model Pembelajaran Langsung (MPL), Model Pembelajaran Kontekstual, dan Model Pembelajaran Kooperatif. Kolaborasi model diperlukan sesuai dengan substansi materi ilmu ekonomi.
6. Menguasai dan menggunakan teknologi informasi.
Penguasaan dan penggunaan teknologi informasi amatlah penting bagi pendidik ekonomi. Melalui teknologi informasi, penampakan gejala/fakta/data ekonomi mudah diperoleh sebagai sumber informasi dari mana saja dan kapan saja.Informasi yang diperoleh tidak hanya berupa gejala/fakta/data tetapi juga konsep, dan teori.
Penggunaan dan penguasaan teknologi informasi berkaitan erat dengan ciri paradigma belajar abad 21 yaitu informasi, komputasi, otomasi dan komunikasi.
7. Memiliki dinamika kehidupan.
Kehidupan bersifat dinamis sepanjang masa. Kehidupan ditandai oleh kebutuhan hidup yang beraneka ragam jenisnya dan kompleks serta luas, bahkan melampaui batas daerah dan negara. Kebutuhan akan kebendaan baik bersifat konsumtif dan produktif menjadi tujuan utama bagi pembangunan nasional. Bukankah pembangunan nasional itu merupakan pembangunan manusia seutuhnya dengan harapan dapat meningkatkan kebutuhan manusia terutama kebutuhan yang berhubungan dengan konsumsi, distribusi dan produksi. Kebutuhan ekonomi bukanlah satu-satunya kebutuhan, kebutuhan lain juga harus terpenuhi seperti kebutuhan ideologi, politik, sosial, budaya dan agama. Antara bermacam kebutuhan itu saling berkorelasi, saling tergantung satu sama lain.
SIMPULAN
Membahas ekonomi juga sedikit banyak berhubungan dengan bidang ilmu lainnya seperti status sosial, keresahan sosial, stabilitas politik, tingkat laku, kerukunan umat, kebebasan dalam beribadat, serta perspektif penduduk suatu bangsa, dan lainnya.
Dengan demikian manusia dapat bertindak sebagai insan ekonomi, politik, sosial, budaya dan agama. Karenanya kehidupan itu bersifat dinamis dan untuk itu pendidik ekonomi harus memiliki dinamika kehidupan yang bersifat multidisiplin atau interdisiplin.
Beberapa indikator yang harus dimiliki pendidik ekonomi kapabel, di antaranya:
(1) memiliki dan mengembangkan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan terintegrasi, (2) menguasai ilmu ekonomi, (2) mendiagnosis materi pembelajaran, (3) mendiagnosis penilaian pembelajaran, (4) menggunakan kolaborasi model pembelajaran;
(5) menguasai dan menggunakan teknologi informasi dan (6) memiliki dinamika kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofan. 2013. Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
Jakarta: PT Prestasi Pustakarya
Bowles, S., and Levin, H.M. 1968. The Determinants of scholastic Achievement: An Appraisal of Some Recent Finding. Journal of Human Resources 3 (Winter): 3-24.
Buchmann, Claudia; Emily Hannum. 2001. Education and Stratification in Developing Countries: A Review of Theories and Research. Sosiol (27); 77-102.
Brown, Douglas. 2000. Principles of Language Learning and Teaching, Fourth Edition. New York: Addison Wesley Longman, Inc.
Cohn. 1979. The Economic of Education. Bellinger Publishing Company. USA.
PERUBAHAN MINDSET DAN KESIAPAN GURU SEKOLAH DASAR DALAM PERSAINGAN PENDIDIKAN DI ERA MEA
Andi Prastowo
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta [email protected]
Abstrak
Guru menjadi figur sentral dalam peningkatan mutu pendidikan suatu bangsa.
Fakta bahwa mutu pendidikan, termasuk untuk jenjang sekolah dasar, di Indonesia masih rendah menunjukkan bahwa mayoritas guru mutunya masih memprihatinkan. Padahal pendidikan pada jenjang sekolah dasar sangat penting peranannya dalam keberhasilan belajar di jenjang berikutnya. Kondisi tersebut akan semakin diperparah saat MEA diterapkan. Tantangan pendidikan nasional bertambah. Karena pada era MEA salah satu tantangannya adalah arus bebas tenaga kerja terampil lintas negara ASEAN. Jika sumber daya guru di Indonesia masih diliputi berbagai kelemahan baik pada aspek kompetensi, kualifikasi, produktivitas, dan kesejahteraan, maka mereka dapat tersisih dalam persaingan regional maupun global. Untuk itu, upaya pengembangan profesionalisme guru sekolah dasar harus menyentuh sampai aspek yang paling fundamental dalam perubahan kompetensi mereka, yaitu mindset. Karena mindset merupakan penentu perubahan perilaku dan sikap seseorang. Untuk itu, mindset guru harus berubah dari passenger menjadi good driver agar dapat memenangkan persaingan di era MEA.
Kata Kunci: guru, sekolah dasar, MEA, mindset, good driver
PENDAHULUAN
Guru merupakan figur sentral dalam peningkatan mutu pendidikan suatu bangsa.
Karena, guru menjadi garda terdepan dalam proses pembelajaran. Guru juga merupakan pemimpin di kelas. Oleh karenanya, berhasil dan tidaknya suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas guru dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Hal tersebut senada dengan ungkapan Anies Baswedan, “Guru adalah ujung tombak proses pendidikan. Tanpa guru, tidak mungkin bangsa Indonesia bisa membuat konversi tingkat melek huruf dari 5% menjadi 92%. Tanpa guru, tidak mungkin program pendirian sekolah dan universitas dapat berhasil. Tanpa guru, tidak mungkin muncul generasi berkualitas” (Chatib, 2014: xiv). Begitu pula penjelasan Zamroni (2011: 99), “Pendidikan yang berkualitas hanya muncul apabila terdapat guru yang berkualitas. Oleh karena itu keberadaan guru berkualitas, profesional dan sejahtera merupakan kondisi yang tidak ditawar lagi”. Studi-studi internasional termutakhir juga menunjukkan bahwa komponen yang paling berpengaruh pada sekolah yang efektif adalah setiap guru di dalam sekolah tersebut (Marzano, 2013: 1). Semua fakta dan pendapat tersebut semakin menegaskan bahwa untuk memperbaiki mutu pendidikan di sekolah maka memprioritaskan perbaikan mutu guru menjadi suatu keniscayaan.
Jika mencermati perkembangan mutu pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di Indonesia pada satu dekade terakhir, mutu sekolah dan madrasah pada
kenyataannya masih jauh dari harapan. Mutunya masih tertinggal dari negara-negara tetangga di ASEAN, seperti Malaysia dan Singapura. Termasuk di dalamnya, yaitu mutu pendidikan sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyahnya. Sebagaimana data yang diungkapkan oleh E. Mulyasa (2013:60) dari berapa lembaga survei internasional sebagai berikut: pertama, hasil survei TIMS yang dilakukan oleh Global Institute pada tahun 2007 menunjukkan hanya 5% peserta didik Indonesia yang mampu mengerjakan soal penalaran tinggi; padahal Korea dapat mencapai 71%. Sebaliknya, 78% peserta didik Indonesia mampu mengerjakan soal hafalan berkategori rendah sementara peserta didik Korea hanya 10%. Kedua, hasil studi PISA tahun 2009 menempatkan Indonesia pada peringkat bawah 10 besar dari 65 negara peserta PISA. Dalam penelitian itu diungkapkan bahwa semua peserta didik Indonesia ternyata hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara peserta didik dari banyak negara yang lain dapat menguasai pelajaran sampai level 5 bahkan 6. Dari kedua survei itu lalu disimpulkan bahwa prestasi peserta didik Indonesia tertinggal dan terbelakang.
Hal tersebut juga diperkuat dengan dua indikasi di lapangan sebagai berikut (Ali, 2009: 252-259): pertama, masih rendahnya kualitas hasil belajar yang ditandai oleh standar kelulusan yang ditetapkan, yaitu 4,25 dari skala 10 dan 4,50 pada tahun 2008.
Seorang siswa dinyatakan lulus meskipun hanya mampu menyerap mata pelajaran sebesar 4,25%, Dengan standar kelulusan yang rendah pun masih banyak siswa yang tidak lulus pada Ujian Nasional 2007. Nilai kelulusan Ujian Nasional ini ternyata masih di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Kondisi ini menunjukkan peserta didik kurang dapat bersaing dengan negara-negara tetangga. Walaupun angka kelulusan ujian nasional setiap tahun mengalami kenaikan, tetapi masih di bawah negara-negara Asia lain yang telah mematok angka di atas enam. Indikasi kedua yakni angka ketidaklulusan ujian nasional (UN) tahun 2004/2005 lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun 2003/2004. Namun, bila dilihat dari nilai rata-rata yang dicapai terdapat peningkatan yang cukup berarti yakni dari 5,55 tahun 2003/2004 menjadi 6,76 pada tahun 2004/2005. Angka mengulang kelas pada SD kelas awal juga cukup tinggi, yaitu I 7,92%. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapan memasuki SD masih rendah. Dilihat kecenderungan angka mengulang kelas menurut tingkat, makin tinggi tingkat kelas makin rendah angka mengulang kelas di I SD. Walaupun menunjukkan kecenderungan yang makin menurun setiap tiga tahun terakhir ini sekitar 700.000 siswa SD/Ml putus sekolah setiap tahun.
Berdasarkan sejumlah fakta tersebut, perbaikan mutu pendidikan di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah menjadi sesuatu hal yang krusial dan sangat urgen. Hal tersebut semakin diperkuat dengan urgensi pendidikan di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah bagi tumbuh kembang potensi peserta didik. Oleh karenanya, mutu pendidikan pada jenjang tersebut memiliki peranan yang sangat penting, fundamental, dan krusial bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. Sebagaimana diungkapkan Collier, Houston, Schematz, dan Walsh (1971:27) bahwa pendidikan dasar memiliki tujuan utama yaitu: pertama, membantu peserta didik mengembangkan segi intelektual dan
mental; kedua, membantu pertumbuhan peserta didik sebagai individu yang mandiri;
ketiga, membantu peserta didik sebagai makhluk sosial; keempat, membantu peserta didik belajar hidup dengan perubahan-perubahan; dan kelima, membantu peserta didik meningkatkan kreativitasnya (Sidi, 2003: 78-79). Dan, juga pendapat Mohammad Ali (2009: 290-291) yang mengemukakan bahwa tujuan penyelenggaraan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) adalah menyiapkan siswa agar menjadi manusia yang bermoral, menjadi warga negara yang mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, dan menjadi orang dewasa yang mampu memperoleh pekerjaan. Dan, secara operasional, tujuan pokok pendidikan dasar adalah membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan intelektual dan mentalnya, proses perkembangan sebagai individu yang mandiri, proses perkembangan sebagai makhluk sosial, belajar hidup menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan, dan meningkatkan kreativitas. Diperkuat oleh pernyataan A.
Malik Fadjar (1999: 34) bahwa pendidikan di level madrasah ibtidaiyah (sekolah dasar) memegang peran penting dalam proses pembentukan kepribadian peserta didik, baik yang bersifat internal (bagaimana mempersepsi dirinya), eksternal (bagaimana mempersepsi lingkungannya), maupun supra internal (bagaimana mempersepsi dan menyikapi Tuhannya dengan sebagai ciptaan-Nya).
Sebagaimana telah diungkap pada bagian awal makalah ini bahwa berbagai hasil studi telah membuktikan bahwa keberhasilan peningkatan mutu pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh kualitas gurunya. Dipertegas oleh Ace Suryadi (2014: 88-89), guru merupakan satu-satunya faktor terpenting dalam mewujudkan pendidikan yang unggul dan bermutu. Oleh karena itu, fokus dan skala prioritas perbaikan mutu guru pada sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia perlu menjadi perhatian utama.
Apalagi jika melihat realitas di lapangan bahwa jumlah guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia yang bermutu rendah sangat besar, bahkan angkanya terbesar jika dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Seperti diungkapkan oleh Muhammad Ali (2009: 255-257) sebagai berikut: pertama, data Balitbang Depdiknas RI tahun 2005/2006 bahwa dari sejumlah 1.346.846 orang guru SD yang berpendidikan Sarjana hanya 15.18%, S2/S3 berjumlah 0,12%, D3 sebanyak 2,97%, D2 berjumlah 48,95%, dan D1 atau dibawahnya sebanyak 32,78%. Dan, kondisi tersebut telah berubah enam tahun kemudian, yaitu pada tahun ajaran 2011/2012, data dari MOEC (2012:58) menunjukkan bahwa dari total 1.550.276 guru SD sekitar 820.995 orang guru sudah memenuhi kualifikasi S1 sedangkan 729.281 orang guru masih belum S1. Ini artinya setelah enam tahun terjadi peningkatan kualifikasi guru SD dari yang belum S1 menjadi S1 sebesar 3,5 kali lipat. Meskipun demikian, masih tersisa sekitar 47% guru SD yang masih harus kembali mengikuti perkuliahan untuk mendapatkan ijazah S1. Kedua, menurut data Balitbang Kemendikbud tahun 2011 yang dikutip Subrayanti (2013:2-3) menunjukkan bahwa kelayakan mengajar guru SD (negeri maupun swasta tidak jauh berbeda) hanya 28.94%. Angka ini berbeda jauh dengan kelayakan mengajar guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73%, dan guru SMK negeri 55,91% , swasta 58,26%.
Kondisi seperti jika tidak segera diatasi maka akan menimbulkan persoalan yang semakin rumit. Salah satu dan yang utama yaitu sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan sejenis dari luar negeri. Seperti sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam, dan lain sebagainya. Apalagi pada akhir tahun 2015 (Majalah Sertifikasi, 2014: 10), tepatnya mulai tanggal 31 Desember 2015 akan diterapkan kebijakan pasar tunggal ASEAN sebagai perwujudan dari salah satu pilar komunitas ASEAN 2015, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN atau disingkat MEA (Hakim, 2013: 4). MEA adalah suatu program liberalisasi perdagangan di lingkungan negara-negara ASEAN yang bertujuan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang ada di negara-negara anggota ASEAN.
Di mana pada saat itu arus barang dan jasa di antara negara-negara ASEAN akan bebas dapat melintasi batas- batas negara secara fisik dan administrasi, tanpa sesuatu hambatan apapun. Pelaksanaan MEA juga akan menghilangkan hambatan aliran barang, investasi dan jasa di antara negara ASEAN. Namun apabila tidak siap maka justru akan membawa dampak yang merugikan (Siradjudin, 2014:4).
Dalam hal MEA mengembangkan pasar dan basis produksi tunggal, terdapat lima elemen inti: pertama, arus bebas barang; kedua, arus bebas jasa; ketiga, arus bebas investasi; keempat, arus modal yang lebih bebas; dan kelima, arus bebas tenaga kerja terampil (Sertifikasi, 2014: 1). Dipertegas oleh Ulwiyah (2015:4), pada saat komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berlaku efektif, mobilitas tenaga kerja terampil tidak akan terbendung pada 2015. Indonesia tidak bisa lagi menutup pasar tenaga kerjabagi negara ASEAN lainnya. Tanpa akselerasi dalam peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan serta kesungguhan dalam menjalankan konsep link and match antara dunia pendidikan dan dunia usaha, bukan mustahil, pasar tenaga kerja di sektor usaha yang menjanjikan pendapatan tinggi diisi oleh pekerja asing. Tenaga kerja Indonesia bisa jadi bakal terpinggirkan dan hanya akan menjadi pesuruh bangsa lain.
Ketika kondisi sudah seperti demikian, jika guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia tidak mampu meningkatkan mutunya, baik kompetensi, profesionalitas dan produktivitasnya, maka mereka akan semakin tersisih dan terpinggirkan. Karena pada era tersebut terjadi arus bebas tenaga kerja terampil, termasuk di dalamnya tenaga pendidik atau guru di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Namun, juga sebaliknya bagi guru yang profesional mereka akan memiliki peluang yang besar untuk semakin meningkatkan kualitas kinerja, kesejahteraan, dan jejaring kerjasama. Sebagaimana diungkapkan Wuryandani (2014:14) yaitu, “MEA memberi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Sebaliknya, situasi seperti ini juga memunculkan risiko ketenagakerjaan bagi Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand”.
Mencermati dilema perubahan tersebut, pengembangan profesionalisme guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah harus dimulai dengan perubahan pada aspek
yang paling fundamental dalam diri para guru yang menentukan perilaku dan kepribadian mereka. Karena jika hanya memperhatikan faktor-faktor eksternal dan teknis saja, seperti perbaikan kesejahteraan, kemampuan berbahasa, keterampilan mengajar, keterampilan meneliti, keterampilan pengelolaan kelas, kualifikasi pendidikan, dan lain sebagainya, upaya pengembangan profesionalisme guru sulit membawa perubahan besar dalam kinerja mereka. Dibutuhkan perubahan pada aspek yang fundamental yang mempengaruhi perilaku dan kepribadian guru, yaitu mindset. Hal ini mengingat bahwa tuntutan guru profesional di era MEA yang harus siap bersaing dengan guru-guru dari negara ASEAN lainnya, yang memiliki mutu lebih baik, bukanlah persoalan yang ringan. Para guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah harus memiliki mindset baru (yang sesuai dengan tuntutan MEA) untuk mewujudkan hal tersebut. Tanpa ada modal tersebut maka terlalu sulit bagi guru SD dan MI untuk melakukan perubahan yang membutuhkan banyak pengorbanan, baik harta, tenaga, maupun waktu.
Sebagaimana kasus yang pernah terjadi di Amerika Serikat, kebijakan sertifikasi bagi guru belum berhasil meningkatkan kualitas kompetensi guru, yang antara lain disebabkan oleh kuatnya resistensi kalangan guru sehingga pelaksanaan sertifikasi berjalan lamban (Suryadi, 2014:89).
Dari uraian di atas, penulis melihat bahwa persoalan perubahan mindset guru untuk menghadapi persaingan pasar bebas ASEAN atau dikenal MEA menjadi hal yang penting dan urgen untuk segera dilakukan. Untuk itu, dirumuskan tiga masalah utama yang dibahas dalam makalah ini, yaitu: pertama, bagaimana kesiapan guru sekolah dasar dalam persaingan pendidikan di era MEA? Kedua, bagaimana perubahan mindset berpengaruh terhadap peningkatan profesionalisme guru sekolah dasar? Ketiga, seperti apakah mindset yang dibutuhkan guru sekolah dasar profesional di era MEA? Berangkat tiga rumusan masalah tersebut ditetapkan tiga buah tujuan pembahasan dalam makalah ini yaitu untuk mengungkapkan: pertama, kesiapan guru sekolah dasar dalam persaingan pendidikan di era MEA; kedua, peran perubahan mindset untuk peningkatan profesionalisme guru sekolah dasar; dan ketiga, mind set driver untuk guru sekolah dasar pada era MEA.
KESIAPAN GURU SEKOLAH DASAR DALAM PERSAINGAN PENDIDIKAN DI ERA MEA Dalam menghadapi sebuah persaingan pasar bebas antar negara ASEAN yang dimulai tanggal 31 Desember 2015, guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia harus bekerja keras sekuat tenaga untuk menghadapi dan mempersiapkan diri dalam persaingan tersebut. Karena, dalam sebuah kompetisi pasti ada pihak yang menang dan pihak yang kalah. Mereka yang kalah harus siap-siap tersingkir dari arena permainan atau kemungkinan kedua harus mengikuti alur permainan yang dibuat oleh pemenang. Analogi seperti itu dibuat untuk membantu para guru di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah dalam mengatur strategi untuk menghadapi dan memenangkan persaingan antar sekolah dasar dari berbagai negara ASEAN di era MEA.
Salah satu hal terpenting dan harus dimengerti oleh pengelola sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia adalah menimbang dan mengkalkulasi kesiapan sumber daya guru dalam menghadapi persaingan pendidikan di era MEA. Dalam hal ini beberapa data tentang kondisi mutu guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia dalam satu dekade terakhir terungkap sebagai berikut: pertama, fakta dari temuan Bank Dunia (2007) yang dikutip oleh Anies Baswedan (Chatib, 2014: xiv) menunjukkan bahwa terdapat sekolah kekurangan guru, yaitu 21% sekolah di perkotaan dan 37% sekolah di pedesaan; lalu 66% sekolah di daerah terpencil kekurangan guru.
Kemudian, secara nasional 34% sekolah di Indonesia masih kekurangan guru. Selain itu, juga diungkapkan oleh Baswedan bahwa jika melihat sebaran kualitas guru di seluruh provinsi maka menurut data dari Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2009 menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan kualitas antara provinsi di Jawa dan di luar Jawa. Yang lebih parah adalah secara rata-rata tidak ada provinsi yang mampu mencapai separuh dari nilai maksimal indeks kualitas guru.
Kedua, menurut data dari MOEC (2012:58) pada tahun ajaran 2011/2012 dari total 1.550.276 guru SD sekitar 820.995 orang guru sudah memenuhi kualifikasi S1 sedangkan 729.281 orang guru masih belum S1. Ini artinya, sekitar 47% guru SD harus kembali mengikuti perkuliahan untuk mendapatkan ijazah S1. Dan, hal itu terjadi mayoritas di luar Jawa. Karena untuk guru-guru SD yang berada di Pulau Jawa, mayoritas sudah berkualifikasi S1 yakni mencapai 64%, sedangkan yang belum S1 tinggal 34%.
Namun, di satu sisi yang lain menurut MOEC (2012:57) pada tahun ajaran 2011/2012 mayoritas guru SD yang berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) mencapai 1.074.701 (69,32%) orang sedang guru yang bukan PNS mencapai 475.575 (30,68%) orang. Ini artinya, dari segi kesejahteraannya mayoritas guru SD memiliki penghasilan yang sudah layak.
Kemudian, untuk guru madrasah ibtidaiyah pada tahun 2005 dari total 209.465 guru hanya sekitar 13 persennya saja telah memenuhi kualifikasi S1(Zamroni, 2011: 47- 48). Namun, delapan tahun kemudian tepatnya pada tahun pelajaran 2012/2013 menurut data Dirjen Pendis Kemenag (EMIS Pendis, 2014a; EMIS Pendis, 2014b) jumlah guru MI telah mencapai 287.865 guru, terdiri dari 171.379 (59,53%) guru telah berkualifikasi S1 sedangkan 116.486 (40,47%) guru masih belum S1. Ini artinya sekitar 40,47% guru MI harus mengikuti perkuliahan untuk mendapatkan ijazah S1. Namun, hal yang berbeda dengan kondisi guru SD adalah guru MI mayoritas berstatus bukan PNS.
Data Dirjen Pendis Kemenag RI (EMIS Pendis, 2014a; EMIS Pendis, 2014b) tahun pelajaran 2012/2013 menunjukkan 72,37% guru MI berstatus non PNS sedangkan 27,26% saja yang PNS. Ini artinya dari segi kesejahteraan mayoritas guru MI belum memiliki penghasilan yang layak sebagaimana guru SD. Apalagi menurut data Dirjen Pendis Kemenag RI (EMIS Pendis, 2014c; EMIS Pendis, 2014d) pada tahun pelajaran 2012/2013, jumlah guru MI yang telah tersertifikasi baru 94.506 guru atau baru sekitar 32,83% saja dari total seluruh guru MI se-Indonesia. Ini artinya 67,17% guru yang pada umumnya di MI swasta masih menghadapi kendala kesejahteraan yang belum layak.
Dengan kata lain, kualitas guru sekolah dasar dan guru madrasah ibtidaiyah di Indonesia mayoritas sudah cukup baik, setidak-tidaknya dilihat dari peningkatan kualifikasi akademiknya yang mayoritas sudah S1. Tetapi dilihat dari pemerataannya, belum terjadi pemerataan guru SD berkualifikasi S1 di seluruh wilayah Indonesia, karena sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara itu, dilihat dari kesejahteraannya terjadi ketimpangan yang sangat besar antara guru SD dan guru MI, karena mayoritas guru SD berstatus PNS sedangkan guru MI berstatus bukan PNS.
Ketiga, menurut data yang diungkapkan oleh Fasli Jalal pada tahun 2007 bahwa gaji guru di Indonesia dibandingkan dengan penghasilan guru di beberapa negara lain, pada semua jenjang pendidikan, baik gaji permulaan ataupun gaji tertinggi, gaji guru Indonesia berada pada posisi yang paling rendah. Bahkan dengan Malaysia, Thailand, Filipina, gaji guru Indonesia masih jauh lebih rendah (Zamroni, 2011: 52). Keempat, menurut data Balitbang Kemendikbud tahun 2011 yang dikutip Subrayanti (2013:2-3) menunjukkan bahwa kelayakan mengajar guru SD (negeri maupun swasta tidah jauh berbeda) hanya 28.94%. Angka ini berbeda jauh dengan kelayakan mengajar guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73%, dan uru SMK negeri 55,91% , swasta 58,26%.
Adapun menurut keterangan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad (Kompas, 2 April 2015), dari total 1,6 juta guru sekolah dasar, sekitar sepertiganya atau 512.000 guru merupakan guru honorer yang diangkat oleh kepala sekolah tanpa memperhatikan kriteria standar dalam pengangkatan guru. Mereka mendapatkan gaji dari bantuan operasional sekolah (BOS) yang besarannya sekitar Rp200.000,00 hingga Rp250.000,00 per bulan ditambah bantuan dari pemerintah daerah (tetapi tidak semua daerah memberikan). Kemudian, Syawal Gultom (Kompas, 2 April 2015), Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mengungkapkan bahwa sekitar 60% guru termasuk kategori 1-3, yaitu guru belum menguasai materi, tetapi tidak menguasai metodologi;
serta guru yang menguasai materi dan metodologi, tetapi belum berjiwa pendidik.
Hanya sebagian kecil guru berada di kelompok 4-5, yaitu guru yang sudah menguasai pembelajaran kreatif dan inovatif dalam pembelajaran.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwasannya guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia masih banyak yang menghadapi keterbatasan, baik pada aspek kompetensi, aspek kualifikasi, maupun aspek kesejahteraan. Dengan kata lain, guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah masih banyak yang belum siap menghadapi persaingan pendidikan di era MEA. Untuk memperbaiki kondisi tersebut dalam waktu singkat tentu bukan hal yang mudah. Perubahan untuk menuju ke arah guru profesional yang mampu memenangkan persaingan pendidikan di era MEA masih membutuhkan banyak perubahan yang memerlukan upaya dan kerja keras serta dana yang tidak sedikit. Sementara itu, pelaksanaan MEA kurang dari satu tahun lagi. Oleh karena itu, salah satu usaha yang paling memungkinkan dengan kondisi kesiapan guru
seperti itu adalah melakukan perubahan mindset para guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Mindset para guru perlu diubah dari memandang persaingan antar sekolah hanya dalam batas satu negara dengan persaingan antar sekolah dengan lingkup yang lebih luas, yaitu antar negara ASEAN. Hal ini menggambarkan semakin beratnya tingkat persaingan pendidikan pada jenjang sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di era MEA.
Namun, melalui perubahan mindset itulah meskipun kondisi guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia masih diliputi dengan banyak keterbatasannya diharapkan lebih siap dan lebih mampu beradaptasi dengan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Selain itu, dengan perubahan mindset para guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah dapat memanfaatkan berbagai kesempatan yang mungkin diperoleh.
PERUBAHAN MINDSET UNTUK PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
Peningkatan profesionalisme guru pada dasarnya adalah suatu perubahan kemampuan dan sikap menuju sosok pribadi guru yang lebih berkompeten, lebih menguasai materi dan metodologi pembelajaran dengan baik sekaligus mampu memiliki jiwa pendidik, dengan demikian ia mampu menjalankan profesi keguruannya dengan profesional. Dalam hal tersebut, Renald Kasali dalam Kata Pengantar buku The Secret of Mindset karya Adi W. Gunawan (2008:xii) mengungkapkan,“...perubahan belum akan berhasil sebelum kita berhasil mengubah cara pandang dan cara berpikir para pelaku perubahan. Perubahan bukanlah semata-mata mengubah alat, teknologi, sistem, organisasi, dan sebagainya. Melainkan mengubah attitude melalui cara berpikir”. Dengan kata lain, untuk mengubah profesionalisme guru hal utama dan paling mendasar untuk dilakukan adalah perubahan cara pandang atau cara berpikir atau biasa disebut perubahan mindset terlebih dahulu. Dengan demikian, segala upaya yang dilakukan untuk peningkatan profesionalisme guru, baik dalam bentuk pelatihan, diklat, workshop, pendidikan profesi guru, sertifikasi guru, peningkatan kesejahteraan guru, dapat berfungsi secara optimal.
Menurut Adi W. Gunawan (2008: 13-15), istilah mindset terdiri dari dua kata, yaitu mind dan set. Mindset sebagai satu istilah bermakna kepercayaan (belief) atau sekumpulan kepercayaan (set of beliefs) atau cara berpikir yang memengaruhi perilaku (behavior) dan sikap (attitude) seseorang, yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya. Dengan demikian, untuk mengubah mindset seseorang maka belief atau kumpulan belief orang tersebut harus diubah terlebih dahulu.
Sementara itu, untuk memahami mengapa masih banyak guru belum bisa melakukan transformasi diri untuk menjadi guru profesional, meskipun sudah mengikuti studi lanjut ke S1, program pendidikan profesi guru, pelatihan, diklat, workshop, dan lain sebagainya, menurut Adi W. Gunawan (2008: 15-16) dapat dijelaskan sebagai berikut:
manusia menurut filosofi Transformational Thinking terdiri dari tiga sistem yaitu sistem perilaku (behavior system), sistem berpikir (thinking system), dan sistem kepercayaan (belief system). Sistem perilaku adalah cara manusia berinteraksi dengan dunia luar, juga
interaksi manusia dengan realitas sebagaimana manusia mengerti realitas tersebut.
Perilaku seseorang mempengaruhi pengalamannya, demikian pula sebaliknya.
Selanjutnya pengalaman akan mempengaruhi sistem berpikir. Sistem berpikir berlaku sebagai filter dua arah yang menerjemahkan berbagai kejadian atau pengalaman yang dialami seseorang menjadi suatu kepercayaan (belief). Selanjutnya, kepercayaan (belief) tersebut akan mempengaruhi tindakan seseorang, sehingga menciptakan realitas bagi dirinya. Sedangkan sistem kepercayaan adalah inti dari segala sesuatu yang diyakini seseorang sebagai realitas, kebenaran, nilai hidup, dan segala sesuatu yang diketahui seseorang mengenai dunia ini. Ilustrasi mengenai hubungan antara sistem perilaku, sistem berpikir, dan sistem kepercayaan dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Tiga Sistem dalam Transformational Thinking (Gunawan, 2008:16) Lebih lanjut dijelaskan oleh Adi W. Gunawan, bahwa untuk memahami proses perubahan dalam diri seseorang dapat dijelaskan dengan The Change Cube atau Kubus Perubahan. Jadi menurut analogi Kubus Perubahan ini, manusia saat berinteraksi dengan orang lain yang terlihat adalah perilaku atau behavior-nya. Perilaku tersebut sama dengan sisi atas kubus. Sedangkan sisi-sisi yang menopang perilaku tersebut meliputi self talk, perception, state, dan emotion. Adapun alasannya adalah belief. Oleh karena itu, untuk mengubah perilaku atau behavior dapat dilakukan dengan mengubah self talk, perception, state, emotion dan terutama belief. Visualisasi dari Kubus Perubahan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.
Adapun cara paling cepat untuk melakukan modifikasi atau perubahan perilaku adalah dengan melakukan modifikasi atau perubahan belief atau belief system. Belief adalah master key untuk perubahan yang cepat, efektif, efisien, dan permanen. Dengan perubahan belief, self talk, persepsi, state, dan emosi juga akan berubah. Dengan demikian, perilaku atau behavior akan turut berubah. Hal ini sejalan dengan penjelasan Piaget, bahwa hanya berfokus pada kemampuan berpikir logis saja tidaklah cukup, karena belief system juga memainkan peran yang sama penting atau bahkan lebih penting daripada kemampuan berpikir logis membentuk pola pikir seseorang (Gunawan, 2008:19).
Gambar 2. The Change Cube atau Kubus Perubahan (Gunawan, 2008:17)
Namun, fakta di lapangan selama ini bahwa meskipun pemerintah dan pengelola sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah sudah melakukan berbagai program dan kegiatan peningkatan profesionalisme guru, tetapi hasilnya masih saja belum banyak perubahan yang terjadi pada dasarnya, menurut penjelasan Adi W. Gunawan (2008: 20), karena adanya mekanisme homeostasis dalam diri manusia. Jadi semua hambatan dalam proses perubahan, baik hambatan yang bersifat sadar maupun tidak sadar, merupakan hasil kerja dari kekuatan terbesar dalam perilaku manusia yaitu homeostasis. Homeostasis adalah kecenderungan untuk selalu tetap di posisi yang sama. Homeostasis sangat baik dan bertujuan melindungi diri manusia dari perubahan yang mendadak dan tidak diinginkan. Homeostasis menjaga agar manusia tidak mudah berubah akibat pengaruh orang lain maupun lingkungan. Namun, homeostasis juga yang menjadi penghambat perubahan saat seseorang ingin mengubah dirinya ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, setiap perubahan yang akan dilakukan seseorang pasti akan mendapat perlawanan (resistensi) dari homeostasis. Resistensi adalah mekanisme pertahanan pikiran bawah sadar yang bertujuan melindungi diri seseorang dari situasi yang (dipandang) tidak menyenangkan. Oleh karenanya, perubahan bukanlah hal yang menyakitkan, sebab resistensi terhadap proses perubahanlah yang membuat perubahan menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Sementara itu, untuk menggantikan sebuah belief system yang telah terbentuk di pikiran bawah sadar seseorang seringkali tidak mudah. Belief system terbentuk dari penerimaan informasi secara terus-menerus dalam rentang waktu yang cukup lama dan telah menjadi kebiasaan. Oleh karenanya, saat menerima informasi yang berlawanan atau dianggap oleh pikiran bawah sadar sebagai sesuatu hal yang baru dan bertentangan maka informasi tersebut lebih banyak menerima penolakan. Untuk itu, menurut Willy Wong (2010: 25-29) bahwa sebuah belief system baru hanya dapat dibentuk melalui pemberian informasi yang masuk akal, bermanfaat, dan berdaya guna, bahkan kadang- kadang masih diperlukan perulangan kegiatan pemberian informasi untuk memperkuatnya. Secara lebih rinci, Adi W. Gunawan (2008: 37-41) menjelaskan bahwa ada lima hal yang dapat membentuk belief system seseorang, yaitu: repetisi (pengulangan), identifikasi kelompok atau keluarga, ide yang disampaikan oleh figur yang dipandang memiliki otoritas, informasi disampaikan melalui emosi yang intens, dan informasi diterima dalam kondisi relaks (keadaan alpha).
Setelah belief telah terbentuk atau ditetapkan, ada dua proses alamiah yang bekerja mempertahankan kelangsungan belief tersebut. Dijelaskan oleh Adi W. Gunawan (2008:41-45), yaitu: pertama, bias konfirmasi (confirmatory bias) atau validasi subjektif (subjective validation) atau efek validasi personal (personal validation effect); dan kedua, kompas mental. Bias konfirmasi adalah kecenderungan seseorang untuk hanya menerima atau memperhatikan informasi yang sejalan dengan belief yang dimilikinya. Jika informasi tersebut tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan belief-nya, maka orang tersebut akan mengabaikan informasi tersebut. Padahal belum tentu informasi tersebut salah. Sedangkan kompas mental adalah jalur psikologis yang akan digunakan oleh seseorang jika dirinya menemui situasi sulit, tidak pasti, atau membingungkan. Belief adalah kompas mental yang akan membantu seseorang membuat keputusan terhadap situasi yang tidak menentu. Di sini yang membedakan belief positif dan belief negatif adalah dengan memperhatikan efek yang ditimbulkannya terhadap diri seseorang. Belief positif akan mendukung pencapaian keberhasilan seseorang dengan melakukan upaya maksimal sedangkan belief negatif adalah yang menghambat pencapaian keberhasilan seseorang dengan tidak berupaya secara tidak maksimal.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa untuk perubahan mutu kinerja guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, dalam bentuk peningkatan profesionalismenya, hal utama dan mendasar yang harus dilakukan adalah melakukan perubahan mindset.
Untuk dapat melakukan perubahan yang berhasil tersebut maka diperlukan perubahan belief system pada diri masing-masing guru tersebut. Guru-guru di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah perlu dibantu untuk mengubah belief system negatif yang sebelumnya mereka miliki dengan belief system positif yang memberdayakan dan mendukung pencapaian keberhasilan mereka.
MINDSET “DRIVER” UNTUK GURU SEKOLAH DASAR PROFESIONAL DI ERA MEA Salah satu hal yang paling besar pengaruhnya terhadap eksistensi guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia pada era MEA adalah arus bebas tenaga kerja terampil (Sertifikasi, 2014:1). Kondisi guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia yang secara umum masih diliputi dengan keterbatasan kompetensi, profesionalisme, produktivitas, kesejahteraan, dan kualifikasi akademik, tentu akan kehilangan kepercayaan diri kemudian tersingkir dan tersisih jika tidak memiliki mindset positif untuk menghadapi pesaing dari negara-negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan lain sebagainya. Salah satu mindset positif dan penting untuk menghadapi era kompetisi yang semakin mengglobal di era MEA adalah, merujuk pendapat Renald Kasali, mindset seorang driver (Kasali, 2014: xii). Dengan kata lain, para guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang ingin berubah menjadi guru profesional dan siap memenangkan kompetisi di era MEA harus memiliki mindset
“driver”.
Makna “driver” di sini menurut Renald Kasali (2014: 6-8) adalah sebuah sikap hidup atau cara pandang yang membedakan dirinya dengan “passenger”. Sebagai
seorang driver, guru SD/MI bisa hidup di mana pun mereka berada, dan selalu menumbuhkan harapan. Sebagai seorang driver, guru SD/MI mengajak orang-orang di sekitarnya untuk berkembang dan keluar dari tradisi lama menuju tanah harapan baru.
Mereka melakukan pembaruan-pembaruan dan menantang keterkungkungan dengan penuh keberanian. Mereka berinisiatif memulai perubahan tanpa ada ada yang memerintahkan namun tea rendah hati dan kaya empati. Dengan kata lain, seorang driver harus memiliki keseimbangan antara logic (rasionalitas, hitung-hitungan, analisis, dan targetnya) dengan hatinya (empati, kepedulian, hubungan-hubungan sosial, tata nilai).
Adapun perbedaan mindset antara driver dan passenger diungkapkan oleh Kasali dalam Tabel 1.
Tabel 1. Perbedaan Mindset Passenger dan Driver
Passenger Driver
Hanya menumpang Mengemudikan kendaaan menuju
titik tertentu
Tidak harus tahu arah jalan Mutlak harus tahu jalan
Boleh mengantuk, boleh tertidur Dilarang mengantuk apalagi tertidur Tidak perlu merawat kendaraan Harus mampu merawat kendaraan Sebuah pilihan yang bebas dari bahaya Sebuah pilihan mengekspos diri
pada bahaya Sumber: Kasali, 2014:9
Driver’s mentality pada dasarnya adalah sebuah kesadaran yang dibentuk oleh pengalaman dan pendidikan. Jadi seorang driver tidak cukup hanya bermodalkan tekad dan semangat, ia juga membutuhkan referensi dari pengetahuan akademis (Kasali, 2014:
8). Prinsip seorang driver adalah inisiatif, melayani, navigasi, dan tanggung jawab (Kasali, 2014: 41-42). Implementasinya untuk para guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah dalam menghadapi persaingan di era MEA yaitu: pertama, guru harus selalu memiliki inisiatif. Maksudnya adalah para guru SD/MI mampu bekerja tanpa ada yang menyuruh.
Berani mengambil langkah berisiko, responsif, dan cepat membaca gejala. Termasuk di sini adalah guru harus mampu membaca gejala persaingan dengan guru-guru profesional dari negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapura dan Malaysia yang memiliki tingkat sumber daya manusia dan kualitas pendidikan lebih baik daripada Indonesia.
Kedua, guru harus mampu melayani. Maksudnya, guru SD/MI harus mampu menjadi orang yang berpikir tentang orang lain, mampu mendengar, mau memahami, peduli, berempati. Guru harus menjadi orang yang mendidik dengan sepenuh hati dan totalitas, bukan sekedar menggugurkan kewajiban. Guru tidak segan membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada rekan-rekan se-profesinya yang lain. Dengan demikian, kemajuan yang diperolehnya tidak sekedar bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi kemajuan bersama, sesama rekan guru, maupun dengan stakeholder.
Ketiga, guru harus memiliki tujuan dan target yang jelas (navigasi). Para guru SD/MI harus memiliki keterampilan membawa gerbong ke tujuan, tahu arah, mampu
mengarahkan, memberi semangat, dan menyatukan tindakan. Sekaligus, guru SD/MI harus mampu memelihara kendaraan untuk mencapai tujuan. Guru SD/MI sebagai self driver bukan karena tidak memiliki pilihan untuk hidup yang lebih baik, melainkan karena kesadaran. Sadar bahwa sesuatu hanya akan menjadi lebih baik jika diri mereka sendiri yang mengubahnya.
Keempat, guru harus mau dan mampu bekerja secara tanggungjawab. Maksudnya, dalam pelaksanaan tugas profesi maupun sebagai individu pada saat melakukan kekeliruan, kegagalan, dan atau tidak sempurna tidak menyalahkan orang lain, tidak berbelit-belit atau menutupi kesalahan diri sendiri. Mereka memiliki keterbukaan untuk menerima kritik dan saran dari sekitarnya. Dari kritik dan saran tersebut, kemudian mereka melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam kinerja ke depan.
Adapun mentalitas guru SD/MI yang telah menjadi “driver”, merujuk penjelasan Kasali (2014: 42-43), yaitu ditandai dengan: pertama, sangat tidak puas dengan keadaan sekarang (status quo); kedua, menyukai tantangan-tantangan baru, mengeksplorasi peluang-peluang baru; ketiga, memecahkan masalah bersama, menginspirasi orang lain;
keempat, bekerja dengan hati, mencintai sesama, menjaga hubungan baik, memiliki kepedulian; kelima, memimpin dengan pertanyaan, memperbaiki cara berpikir penumpang-penumpangnya (para peserta didik maupun rekan-rekan seprofesi); keenam, memberikan arah jalan yan jelas, merangkul orang-orang yang berbeda paham dengannya; ketujuh, berani melakukan kesalahan-kesalahan kecil dan mengambil risiko;
kedelapan, sangat mencintai perubahan, namun rendah hati, dan penuh empati;
kesembilan, dikendalikan oleh creative thinking; kesepuluh, selalu belajar hal-hal baru;
dan kesebelas, membebaskan para sandera dari penumpang yang membajak organisasi.
Namun, mentalitas “driver” yang menjadi mindset untuk guru SD/MI profesional di era MEA tersebut bukanlah bad driver tetapi good driver. Seperti dijelaskan Renald Kasali (2014: 89-90), bad driver adalah kumpulan dari orang-orang yang sakit hati, agresif, mudah tersulut kebencian, tidak menentukan arah tindakannya, lebih mencari pembenaran ketimbang kebenaran, dan senang membuat alasan-alasan untuk menutupi kekalahan atau kesalahan-kesalahannya. Mereka adalah orang-orang yang terlatih, tetapi mereka tidak tahu menempatkan iri, kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan, kapan harus bergerak maju dan kapan harus mundur. Mereka bergerak cepat, berinisiatif tinggi, tetapi selalu menimbulkan masalah. Mereka sebenarnya orang- orang yang secara kualifikasi akademis dan skill-nya sangat mumpuni tetapi memiliki karakter yang buruk. Dengan demikian, orang –orang seperti itu harus dijauhi (atau diterapi).
Sedangkan good driver adalah seorang inisiator, tokoh perubahan, dan mampu menjadi role model bagi banyak orang. Mereka tidak sekedar memiliki aneka kompetensi yang memampukan untuk mengambil keputusan-keputusan penting dan strategis secara cepat dan tepat, tetapi juga memiliki kematangan kepribadian, siap menghadapi tantangan-tantangan baru dan berani keluar dari comfort zone. Mereka juga sosok pribadi yang mampu berpikir kritis dan kreatif sehingga senantiasa mampu secara cepat