• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Penyakit ginjal kronik adalah penurunan progresif fungsi ginjal dalam beberapa bulan atau tahun. Penyakit ginjal kronik adalah kondisi kerusakan ginjal dan/atau penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR) kurang dari 60mL/min/1,73m2 selama minimal 3 bulan (Kemenkes, 2017).

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat global dengan prevalensi dan insiden gagal ginjal yang meningkat. Hasil systematic review dan metaanalysis yang dilakukan oleh Hill, et al (2016), mendapatkan prevalensi global penyakit ginjal kronik sebesar 13,4%. Menurut hasil Global Burden of Disease tahun 2010, penyakit ginjal kronik merupakan penyebab kematian peringkat ke-27 di dunia tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke-18 pada tahun 2010 (Kemenkes, 2017).

Menurut Riskesdas 2018, prevalensi penyakit ginjal kronik dengan usia ≥ 15 tahun berdasarkan diagnosis dokter sebanyak 3,8 permil atau 0,38%, angkat tersebut meningkat dari hasil riskesdas sebelumnya pada tahun 2013 dengan prevalensi sebesar 0,2%. Menurut data Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) dalam Indonesian Renal Regisrty (IRR) pada tahun 2017 terdapat 77892 pasien aktif hemodialisis, jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan data pada tahun 2016 yaitu sebanyak 52835 pasien aktif hemodialisa. Untuk daerah Jawa Barat tercatat penderita penyakit ginjal kronik sebanyak 21051 pasien aktif dengan 7444 kasusmerupakan pasien baru. Angka tersebut juga menunjukkan peningkatan dari data tahun sebelumnya dengan 14869 pasien aktif

(2)

hemodialisa dan 6288 kasus merupakan kasus baru. Menurut penelitian yang telah dilakukan di RSUP dr Kariadi Semarang, terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab dari penyakit ginjal kronik, antara lain hipertensi, obstruksi dan infeksi, penyakit polikistik ginjal, dan diabetes mellitus (Fakhruddin, 2013). Selain itu glomerulonefritis kronis, nefritis intersisial kronis, dan obesitas juga menjadi salah satu penyebab timbulnya penyakit ginjal kronik (Kemenkes, 2017). Sedangkan faktor risiko dari terjadinya penyakit ginjal kronik, antara lain usia >60 tahun, jenis kelamin laki-laki, riwayat penyakit hipertensi atau diabetes mellitus, riwayat penggunaan obat analgetika dan OAINS, riwayat merokok, dan riwayat penggunaan suplemen energi (Pranandari, dkk, 2014).

Pada penurunan fungsi ginjal yang sudah mencapai stadium akhir dan ginjal tidak berfungsi lagi, perlu dilakukan terapi hemodialisis (HD) untuk membuang zat-zat racun dari tubuh. Namun, disamping dapat mengeluarkan zat-zat toksik dan kelebihan cairan, proses hemodialisis juga dapat membuang zat-zat gizi yang masih diperlukan tubuh, seperti protein, glukosa, dan vitamin larut air. Bila hal tersebut tidak ditanggulangi dengan baik maka dapat menyebabkan gangguan status gizi (Susetyowati, dkk, 2017).

Beberapa laporan menunjukkan bahwa prevalensi kekurangan gizi energi-protein pada pasien dialisis tetap meningkat, 23-76% pasien hemodialisis (HD) dilaporkan mengalami malnutrisi, dan variabilitasnya mungkin terkait dengan faktor-faktor seperti usia, campuran kasus, kondisi komorbiditas dan kualitas terapi dialisis (Moncef El et al., 2011).

Menurut penelitian yang dilakukan Fahmia, dkk pada tahun 2012 di RSUD Tugurejo Semarang, terdapat 30,3% pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa yang memiliki status gizi underweight (IMT < 18,5).

Sedangkan menurut penelitian lainnya yang dilakukan di RSUD DR.

Pirngadi Medan, terdapat 69,6 % pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa memiliki status gizi kurang (Siagian, 2018).

(3)

Penyebab gizi kurang pada pasien penyakit ginjal kronik sangat multifaktorial, menurut penelitian Sharif dkk pada tahun 2012, beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa, antara lain gangguan metabolik, inflamasi dan proses dialisis tidak dilakukan analisis. Teknik yang digunakan dalam terapi hemodialisis juga dapat berpengaruh pada malnutrisi karena hilangnya zat gizi selama proses hemodialisis berlangsung (Susetyowati, 2017). Selain itu, rendahnya asupan pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa dapat menyebabkan penurunan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik. Penelitian Rokhmah dkk (2017), menunjukkan bahwa penurunan nafsu makan pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa berkaitan dengan lamanya proses hemodialisis, kondisi mual muntah, dan depresi yang dialami pasien.

Berdasarkan penelitian Kusumastuti (2015), didapatkan prevalensi sebanyak 89,1% pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa memiliki asupan energi yang tidak baik dan 87% pasien dengan asupan protein yang juga tidak baik.

Asupan energi yang adekuat sangat penting untuk mencegah katabolisme dan mencapai status gizi yang optimal. Kalori dari karbohidrat dan lemak yang adekuat dapat membantu mencegah degradasi protein otot dan viseral agar tidak digunakan sebagai sumber energi (Insani AA, 2017). Dengan kata lain, asupan energi yang memadai dapat mencegah penggunaan protein sebagai sumber energi melalui jalur glukoneogenesis.

Jika asupan energi tidak memadai maka keseimbangan nitrogen positif tidak dapat dicapai meskipun asupan protein tinggi (Gunes, 2013).

Asupan minimal protein yang dibutuhkan pasien hemodialisis lebih besar dari kebutuhan pasien pre-dialisis (Damayanti, 2017). Fungsi protein bagi tubuh adalah membangun jaringan tubuh, seperti tulang, otot, kulit, dan rambut. Selain itu protein juga membantu tubuh melawan infeksi, menjaga kadar albumin darah tetap stabil, mempertahankan keseimbangan nitrogen, dan mengganti asam amino yang hilang saat

(4)

dialisis (Siagian, 2018). Untuk memenuhi kebutuhan protein pasien gagal ginjal kronik dengan terapi hemodialisa, NFK-K/DOQ merekomendasikan protein dengan nilai biologis tinggi, yaitu protein yang memiliki kandungan asam amino mirip dengan protein yang ada pada manusia sehingga bisa menggantikan 10 sampai 12 gram protein yang hilang pada setiap kali proses hemodialisa (National Kidney Foundation, 2000 dalam Siagian, 2018).

Gizi yang kurang merupakan prediktor yang penting untuk terjadinya kematian pada pasien penyakit ginjal kronik 5-HD (Lajuck, dkk, 2016).

Malnutrisi energi-protein telah terbukti memberikan efek yang tidak baik terhadap outcome klinis pasien penyakit ginjal kronik. Efek yang tidak diharapkan tersebut antara lain depelesi dari sel-sel tubuh yang disebabkan oleh penurunan asupan atau asimilasi dari energi dan protein, inflamasi berkaitan dengan mekanisme pada penyakit yang menyebabkan anoreksia dan perubahan komposisi tubuh, serta adanya stress metabolik (Susetyowati, 2017). Untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik melalui terapi hemodialisa diperlukan pengaturan diet untuk mencapai status gizi yang optimal (Fahmia, 2012). Status gizi yang baik pada pasien hemodialisa dapat mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien (Gunes, 2013).

Berdasarkan uraian tersebut terlihat cukup banyak kejadian malnutrisi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa, dan asupan zat gizi menjadi salah satu hal penting yang mempengaruhi kejadian malnutrisi tersebut. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran asupan energi, protein, dan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran asupan energi, protein, dan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa di Rumah Sakit Dustira Cimahi?

(5)

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui gambaran asupan energi, protein, dan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa di Rumah Sakit Dustira Cimahi.

1.3.2 Tujuan Khusus

1) Mengetahui gambaran asupan energi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa.

2) Mengetahui gambaran asupan protein pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa.

3) Mengetahui gambaran status gizi pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa.

4) Mengetahui gambaran asupan energi dan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa.

5) Mengetahui gambaran asupan protein dan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini mengkaji mengenai gambaran asupan energi, protein dan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa di Rumah Sakit Dustira Cimahi.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan terutama pada mata kuliah patologi penyakit tidak menular dan dietetika penyakit tidak menular, serta dapat menambah pengalaman bagi peneliti.

(6)

1.5.2 Bagi Sampel / Responden

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi pasien mengenai pentingnya asupan energi, protein dan status gizi yang optimal bagi pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa.

1.5.3 Bagi Rumah Sakit Dustira Cimahi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai gambaran asupan energi, protein dan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa.

1.5.4 Bagi Jurusan Gizi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi media informasi, menambah wawasan dan bahan rujukan bagi mahasiswa Jurusan Gizi terutama mengenai gambaran asupan energi, protein dan status gizi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa.

1.6 Keterbatasan Penelitian

Faktor keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian ini, adalah, keterbatasan responden dalam mengingat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsinya ketika dilakukan Semi Quantitative Food Frequency Questionaire (SQ-FFQ). Upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan teknik probing yang tepat pada saat melakukan SQ-FFQ.

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian budaya sangat luas dan kompleks, berikut dikemukakan beberapa unsur budaya yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian suatu

telah dilakukan oleh beberapa ahli yaitu, Indarti dan Rokhima (2008), Shawqy (2010),.. Need for achievement pertamakali dikemukakan oleh Henry Murray dan dikembangkan oleh

untuk liabilitas keuangan non-derivatif dengan periode pembayaran yang disepakati Grup. Tabel telah dibuat berdasarkan arus kas yang didiskontokan dari liabilitas

Apabila terbukti karya ini merupakan plagiarism , saya bersedia menerima sanksi yang akan diberikan oleh Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.. Saya

Berdasarkan model pendekatan Sistem Informasi Geografi (SIG) menunjukkan bahwa Klasifikasi yang dihasilkan analisis SIG berdasarkan kontribusi nilai produksi komoditas

Segala puji dan syukur penulis penjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

Pengaturan Pemilihan Umum Kepala Daearah dan Wakil Kepala Daearah harus dilaksanakan tidak dalam satu pasangan calon karena bertentangan dengan konstitusi dalam

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang