• Tidak ada hasil yang ditemukan

EXECUTIVE SUMMARY LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EXECUTIVE SUMMARY LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 ii

EXECUTIVE SUMMARY

Laporan Akuntanbilitas Kinerja ini merupakan sarana untuk menyampaikan pertanggung jawaban kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan kepada Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan beserta seluruh pemangku kepentingan, serta sebagai sumber informasi untuk perbaikan perencanaan dan peningkatan kinerja di masa mendatang.

Secara keseluruhan hasil capaian kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Tahun 2021 telah berhasil mencapai target yang ditetapkan dalam perjanjian kinerja. Pencapaian indikator Nilai Reformasi Birokrasi di lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan dengan target 51 dengan nilai standar 58 (87,93%) dan capaian sebesar 34.57 dari nilai standar 36.30 (95.24%) atau tercapai sebesar 108,31%, karena ada perubahan metode penilaian reformasi birokrasi dari Kemenpan RB , dan indikator Persentase kinerja RKAKL pada lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan dengan target 82.5 dan capaian sebesar 88.96 (107,83%)

Namun demikian ada 2 indikator prioritas nasional yang secara hasil belum mencapai target yaitu Persentase RS yang melakukan pencataan dan pelaporan kematian ibu dengan target 50% dan capaian sebesar 48.58% (97.15%) dan Jumlah RS UPT Vertikal yang dikembangkan dan ditingkatkan sarana dan prasarananya dengan target 6 dan capaian baru pada tahap pengadaan PMU Managemen Expert, sedangkan penganggaran untuk konstruksi pada tahun 2022

Upaya yang telah dilakukan untuk pencapaian target kedua indikator di atas adalah sosialisasi, advokasi, pengalokasian anggaran sesuai kewenangan dan melakukan pembinaan kepada satuan kerja.

Adapun permasalahan yang dihadapi adalah anggaran yang terbatas, dan pandemi covid yang masih berlangsung pada tahun 2021, sehingga merubah mekanisme pelaksanaan kegiatan dari offline menjadi online.

Upaya pemecahan masalah yang dilakukan adalah melakukan optimalisasi sisa dana kegiatan menjadi sebuah kegiatan baru pada tahun 2021.

(4)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 iii

Realisasi anggaran Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan sampai dengan tanggal 20 Januari 2022 sebesar 88,29% dari total pagu sebesar Rp135.385.243.000.

(5)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 iv

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Executive Summary ii

Daftar Isi iii

Daftar Tabel v

Daftar Gambar vii

Daftar Lampiran viii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang

B. Penjelasan Umum Organisasi

C. Aspek Strategis Organisasi dan Isu Strategis yang dihadapi Organisasi

D. Sistematika

1 2

2 4

BAB II PERENCANAAN KINERJA 6

A. Perencanaan Kinerja B. Perjanjian Kinerja

6 8

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 9

A. Capaian Kinerja Organisasi

B. Pencapaian Kinerja Setditjen Pelayanan Kesehatan

C. Indikator Antara yang Menjadi Pendorong Tercapainya Indikator Kinerja Kegiatan Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

D. Prestasi dan Inovasi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

E. Realisasi Anggaran F. Sumber Daya Lainnya

9

9 35

37 59 62

BAB IV PENUTUP 64

Lampiran 65

(6)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 v

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Matrik Indikator Kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan 2020-2024

7

Tabel 2.2 Perjanjian Kinerja Sekretariat Ditjen Pelayanan

Kesehatan 8

Tabel 3.1 Pencapaian nilai reformasi birokrasi di lingkup Ditjen

Pelayanan Kesehatan 12

Tabel 3.2 Hasil Penilaian Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Ditjen Pelayanan Kesehatan Tahun 2020

13 Tabel 3.3

Tabel 3.4

Tabel 3.5

Pencapaian persentase kinerja RKAKL pada lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

Jumlah RS Vertikal yang dikembangkan dan ditingkatkan sarana dan prasarananya

Prosentase RS yang melakukan pencatatan dan pelaporan kematian ibu

22

26

34

Tabel 3.6 Indikator kinerja bagian Sekretariat Ditjen Pelayanan

Kesehatan 35

Tabel 3.7 Alokasi dan Realisasi Anggaran Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Output 59 Tabel 3.8 Alokasi dan Realisasi Anggaran Sekretariat Ditjen

Pelayanan Kesehatan Tahun 2021 Berdasarkan

Jenis Belanja 59

Tabel 3.9 Distribusi Pegawai Sekretariat Direktorat Jenderal

Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Jabatan 60 Tabel 3.10 Distribusi Pegawai Sekretariat Direktorat Jenderal

Pelayanan Kesehatan berdasarkan Jenis Kelamin 61 Tabel 3.11 Distribusi Pegawai Sekretariat Direktorat Jenderal

(7)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 vi

Pelayanan Kesehatan Berdasarkan tingkat

pendidikan 61

Tabel 3.12 Distribusi Pegawai Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Berdasarkan golongan 62

(8)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 : Struktur Organisasi Ditjen Pelayanan Kesehatan Keadaan tanggal 31 Desember 2020

3

Gambar 3.1 : Delapan Area Perubahan Kebijakan Reformasi Birokrasi

11

Gambar 3.2 : Pelantikan Pejabat Administrasi di Kantor Pusat dan Kantor Daerah yang disetarakan ke dalam

jabatan fungsional 17

Gambar 3.3 : Kegiatan Rapat Evaluasi Pokja dan Koordinasi Antar Pokja Tim Reformasi Birokrasi Ditjen

Pelayanan Kesehatan 19

Gambar 3.4 : Kegiatan PMPRB dipandu oleh Inspektorat Jenderal

21

Gambar 3.5 : Nilai Kinerja Ditjen Pelayanan Kesehatan 23 Gambar 3.6 : Pertemuan pemantauan dan evaluasi kinerja 25 Gambar 3.7 : Penyerahan Penghargaan Penyusun Laporan

Keuangan dan BMN Eselon I Terbaik

58

(9)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Perjanjian Kinerja tahun 2021 65

(10)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, dalam menjalankan tugas dan fungsinya, senantiasa berusaha melaksanakan sistem kerja pemerintahan secara bijaksana, akuntabel, transparan, efektif, dan efisien. Hal ini sesuai dengan prinsip good governance seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Laporan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan disusun berdasarkan perjanjian kinerja yang telah ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan dengan Program Dukungan Manajemen pada Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan dengan 2 (dua) Indikator kinerja kegiatan yaitu:

1. Nilai Reformasi Birokrasi di lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan 2. persentase kinerja RKAKL pada lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan

Kesehatan

Disamping itu Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan bertanggung jawab terhadap 2 (dua) indikator Prioritas Nasional (RPJMN) dimana dalam rencana strategis Kementerian Kesehatan, kedua indikator tersebut dititipkan pada Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan yaitu :

1. Persentase RS yang melakukan pencataan dan pelaporan kematian ibu persentase kinerja RKAKL pada lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

2. Jumlah RS UPT Vertikal yang dikembangkan dan ditingkatkan sarana dan prasarananya

Laporan kinerja ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan atas pelaksanaan tugas dan fungsi selama Tahun 2020. Di samping merupakan pelaksanaan amanat peraturan perundang-undangan terkait, yakni Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan

(11)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 2

Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Pemerintah.

Laporan Kinerja ini juga sekaligus menjadi bahan evaluasi guna meningkatkan kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan di masa yang akan datang.

B. PENJELASAN UMUM ORGANISASI

Permenkes nomor 25 tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas dan pemberian dukungan administrasi Direktorat Jenderal.

Dalam melaksanakan tugas tersebut Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan menyelenggarakan fungsi:

1. Koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran, Direktorat Jenderal;

2. Pengelolaan dan penyusunan laporan keuangan Direktorat Jenderal;

3. Pengelolaan dan penyusunan laporan keuangan Direktorat Jenderal;

4. Penyusunan peraturan perundang-undangan Direktorat Jenderal;

5. Penyusunan rumusan perjanjian kerjasama Direktorat Jenderal;

6. Pelaksanaan advokasi hukum Direktorat Jenderal;

7. Pengelolaan hubungan masyarakat Direktorat Jenderal;

8. Penataan dan evaluasi organisasi dan tata laksana Direktorat Jenderal;

9. Fasiitasi pelaksanaan reformasi birokrasi Direktorat Jenderal;

10. Pengelolaan kepegawaian Direktorat Jenderal;

11. Pengelolaan data dan informasi Direktorat Jenderal;

12. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan; dan

13. Pelaksanaan urusan administrasi Direktorat Jenderal;

Adapun susunan organisasi Sekretariat Direktorat Jenderal terdiri atas : a. Subbagian administrasi umum ; dan

b. Kelompok Jabatan Fungsional

Subbagian Administrasi Umum mempunyai tugas melakukan koordinasi penyusunan rencana, program, dan anggaran, pengelolaan keuangan dan barang milik negara, urusan kepegawaian, organisasi dan tata laksana,

(12)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 3

pemantauan, evaluasi, dan pelaporan, kearsipan, persuratan, dan kerumahtanggaan Sekretaris Direktorat Jenderal.

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Setditjen Pelayanan Kesehatan Keadaan tanggal 31 Desember 2021

C. ASPEK STRATEGIS ORGANISASI DAN ISU STRATEGIS YANG DIHADAPI ORGANISASI

Untuk mendukung kebijakan nasional pembangunan kesehatan, yakni meningkatkan pelayanan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan setinggi- tingginya dengan penguatan pelayanan kesehatan dasar (primary health care) dan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif, didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi, maka ditetapkan arah kebijakan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan sebagai berikut:

a. Penguatan pelayanan kesehatan primer dengan mengutamakan UKM tanpa meninggalkan UKP, serta mensinergikan FKTP pemerintah dan FKTP swasta.

b. Penguatan sistem kesehatan di semua level pemerintahan menjadi responsif dan tangguh, guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dengan didukung inovasi teknologi.

(13)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 4

c. Peningkatan sinergisme lintas sektor, pusat dan daerah, untuk menuju konvergensi dalam intervensi sasaran prioritas dan program prioritas, termasuk integrasi lintas program

Maka dalam hal ini, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan selaku bagian dari entitas organisasi bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan peningkatan dukungan manajemen dan tugas teknis lainnya, mengambil kebijakan untuk mendukung dan menerapkan arah kebijakan tersebut dengan melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1. Penyiapan koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran dan pengelolaan data dan informasi, dan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.

2. Penyiapan koordinasi dan pelaksanaan urusan hukum, organisasi dan tata laksana dan hubungan masyarakat.

3. Melaksanakan urusan keuangan dan pengelolaan barang milik negara.

4. Melaksanakan urusan kepegawaian, pengelolaan layanan pengadaan barang/jasa, kerumahtanggaan, kearsipan, dan dokumentasi.

Sedangkan strategi yang akan diambil untuk melaksanakan arah kebijakan diatas adalah:

1. Terwujudnya Ketepatan Alokasi Anggaran

2. Terwujudnya Sistem Perencanaan yang terintegrasi

3. Terwujudnya Penguatan Mutu, Organisasi Ditjen Pelayanan Kesehatan 4. Tersedianya Dukungan Regulasi

5. Tersedianya SDM Kompeten & Berbudaya Kinerja

C. SISTEMATIKA

Sistematika penulisan laporan akuntabilitas kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan terdiri dari:

Bab I Pendahuluan

A. Penjelasan Umum Organisasi

B. Aspek Strategis Organisasi dan Isu Strategis yang Dihadapi Organisasi

(14)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 5

C. Sistematika Bab II Perencanaan Kinerja

A. Perencanaan Kinerja B. Perjanjian Kinerja Bab III Akuntabilitas Kinerja

A. Capaian Kinerja Organisasi B. Realisasi Anggaran

Bab IV Penutup Lampiran

(15)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 6

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. PERENCANAAN KINERJA

Perencanaan Kinerja merupakan proses penetapan kegiatan tahunan dan indikator kinerja berdasarkan program, kebijakan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam sasaran strategis. Perencanaan Kinerja juga merupakan dasar yang menentukan tingkat keberhasilan dalam pelaksanaan sebuah kegiatan.

Dalam rencana kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan tahun 2020, sebagaimana telah ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan dan target masing-masing indikator untuk mencapai sasaran strategis organisasi.

Berdasarkan Peraturan Kementerian Kesehatan nomor 21 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2020-2024 yang, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan melaksanakan kegiatan dukungan manajemen dan pelaksana tugas teknis lainnya pada program pembinaan pelayanan kesehatan.

Berdasarkan Permenkes nomor 25 tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas dan pemberian dukungan administrasi Direktorat Jenderal.

Sasaran strategis dan sasaran program/kegiatan yang ingin dicapai selama kurun waktu 5 tahun sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Strategis Program Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Tahun 2020-2024 adalah sebagai berikut:

(16)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 7

Tabel 2.1 Matrik Indikator Kinerja Kegiatan Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan 2020-2024

No. Sasaran Strategis IKK Target

2020 2021 2022 2023 2024 1 Meningkatnya

nilai reformasi birokrasi di lingkup

Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

Nilai Reformasi Birokrasi di lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan

Kesehatan

50 51 52 53 53

2 Meningkatnya kinerja RKA-KL pada lingkup Direktorat

Jenderal Pelayanan Kesehatan

Persentase kinerja RKAKL pada lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

80 82.5 85 87.5 90

D. PERJANJIAN KINERJA

Perjanjian Kinerja adalah lembar/dokumen yang berisi penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja.

Diharapkan melalui perjanjian kinerja dapat terwujud komitmen penerima amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi dan wewenang serta sumber daya yang tersedia. Perjanjian kinerja yang diwujudkan dalam penetapan kinerja merupakan dokumen pernyataan kinerja atau kesepakatan kinerja atau perjanjian kinerja antara atasan dan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan pada sumber daya yang dimiliki.

(17)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 8

Dalam penyusunan perjanjian kinerja tahun 2021, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan mengacu pada Rencana Aksi Kegiatan Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan tahun 2020-2024. Target kinerja ini menjadi komitmen bagi Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan untuk mencapai target tersebut pada tahun 2021.

Tabel 2.2 Perjanjian Kinerja Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan tahun 2021 No Sasaran

Program/Kegiatan

Indikator Kinerja Target 2020

1 Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas

teknis lainnya

1

Nilai Reformasi Birokrasi di lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

51

2

Persentase kinerja RKAKL pada lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

82.5

Pada tahun 2021 dialokasikan anggaran sebesar Rp135.385.243.000.,- untuk kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya.

(18)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 9

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

Pengukuran kinerja dilakukan untuk mengukur tingkat kinerja yang dicapai menggunakan standar, rencana, atau target serta indikator kinerja yang telah ditetapkan. Pengukuran kinerja diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana realisasi atau capaian kinerja yang berhasil dilakukan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan dalam kurun waktu Januari sampai dengan Desember 2021, selain itu pengukuran kinerja dapat menjadi evaluasi untuk perencanaan dan kebijakan dimasa mendatang.

Sasaran Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan adalah sebagai berikut:

.

Indikator pencapaian sasaran tahun 2021 dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024 yang menjadi tanggung jawab Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan adalah sebagai berikut:

1. Nilai Reformasi Birokrasi di lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan 2. Persentase kinerja RKAKL pada lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan

Kesehatan

B. PENCAPAIAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN Indikator kinerja kegiatan dari Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan merupakan indikator output strategis untuk mencapai indikator outcome di tingkat eselon I (Ditjen Pelayanan Kesehatan). Sekretariat Jenderal Ditjen Pelayanan Kesehatan pada tahun 2021 telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan indikator yang tertuang dalam perjanjian kinerja. Uraian kinerja dari masing-masing indikator adalah sebagai berikut:

MENINGKATNYA KOORDINASI PELAKSANA TUGAS, PEMBINAAN DAN PEMBERIAN DUKUNGAN MANAJEMEN

DITJEN PELAYANAN KESEHATAN

(19)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 10

1. Nilai Reformasi Birokrasi di lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

Reformasi birokrasi pada prinsipnya merupakan upaya untuk melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business process), dan sumber daya manusia aparatur, yang dilakukan secara bertahap dan terus-menerus/berkelanjutan serta bersifat komprehensif dan sistematik.

Hal-hal yang melatarbelakangi perlunya pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintahan antara lain adanya perubahan lingkungan strategis sebagai dampak dari adanya kemajuan ilmu pengetahuan, dan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga perlu adanya penyesuaian pelaksanaan pemerintahan terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat. Berbagai hambatan yang mengakibatkan sistem penyelenggaraan pemerintahan tidak berjalan atau diperkirakan tidak akan berjalan dengan baik juga harus ditata ulang atau diperharui (reform).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa reformasi birokrasi dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), melalui langkah-langkah strategis untuk membangun aparatur negara agar lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, pelaksanaan Reformasi Birokrasi di tahun 2020 sudah memasuki periode lima tahunan ketiga, yaitu tahun periode 2020- 2024. Agar pelaksanaan reformasi birokrasi dapat berjalan sesuai dengan arah yang telah ditetapkan, maka perlu dilakukan monitoring dan evaluasi berkala untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dari hasil pelaksanaannya.

Disamping itu monitoring dan evaluasi juga bertujuan untuk memberikan masukan dalam menyusun rencana aksi perbaikan berkelanjutan bagi pelaksanaan reformasi birokrasi tahun berikutnya.

(20)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 11

Sejak tahun 2014, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB) telah menetapkan kebijakan untuk pelaksanaan evaluasi secara mandiri melalui instrumen PMPRB (Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi). Isi instrumen penilaian tersebut mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan, di antaranya pada tahun 2018 dan tahun 2019.

Adapun komponen penilaian mengikuti kebijakan Roadmap Reformasi Birokrasi, yang tertuang dalam 8 area perubahan, yaitu: (1) manajemen perubahan, (2) deregulasi kebijakan (3) penataan organisasi, (4) penataan tatalaksana, (5) penataan SDM Aparatur, (6) penguatan akuntabilitas, (7) penguatan pengawasan, dan (8) peningkatan kualitas pelayanan publik.

Gambar 3.1 Delapan Area Perubahan Kebijakan Reformasi Birokrasi

*Peraturan Menteri PANRB Nomor 25 Tahun 2020 tentang Roadmap Reformasi Birokrasi 2020-2024

a. Definisi operasional

Hasil penilaian dari Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Kementerian PANRB terkait pelaksanaan 8 area perubahan pada Reformasi Birokrasi di Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

b. Cara perhitungan

Menggunakan lembar kerja evaluasi (LKE) Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Kementerian PANRB.

(21)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 12

c. Target dan Realisasi Capaian Kinerja

Tabel 3.1 Target Realisasi dan Capaian Kinerja N

o Indikator

Target Capaian

Renstra PK TW IV %

1

Nilai Reformasi Birokrasi di lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

51/58 51/58

=87.9%

34.57/3

6.30 95.23%

Penilaian pelaksanaan Reformasi Birokrasi dilaksanakan melalui penilaian mandiri menggunakan instrumen LKE (Lembar Kerja Evaluasi) melalui bimbingan Sekretaris Inspektorat Jenderal selaku Ketua Tim Monev Reformasi Birokrasi Kemenkes. LKE diisi oleh masing-masing pokja Reformasi Birokrasi Direktorat Pelayanan Kesehatan. Setelah dilakukan validasi oleh asesor dan tim monev masing-masing eselon I, LKE kemudian diinput ke dalam aplikasi Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) milik Kementerian PANRB melalui link https://pmprb.menpan.go.id/. Berbeda dengan proses penilaian hasil evaluasi pada umumnya, penilaian reformasi birokrasi dilakukan berdasarkan kinerja sampai tahun berjalan berikutnya, tidak pada akhir tahun anggaran saja. Proses penilaian pelaksanaan Reformasi Birokrasi tahun 2020 merupakan hasil pelaksanaan antara bulan Maret 2019 sampai dengan bulan April 2020. Sedangkan penilaian yang diperoleh di tahun 2021 merupakan hasil pelaksanaan bulan Maret 2020 sampai dengan bulan April 2021.

Target Nilai Reformasi Birokrasi di lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan untuk tahun 2021 adalah 51. Hasil penilaian pada tahun 2021 berdasarkan LKE Inspektorat Jenderal adalah melalui website Kementerian PANRB adalah 54,13 dan hasil penilaian ini melebihi target yang ditetapkan. Sedangkan hasil penilaian tahun 2020 berdasarkan PMPRB Kementerian PANRB adalah sebagai berikut:

(22)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 13

Tabel 3.2 Hasil Penilaian Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Ditjen Pelayanan Kesehatan Tahun 2021

Area/ Indikator/ Pernyataan Nilai Evaluasi Pengisian

LKE Unit oleh Asesor Unit

Verifikasi LKE Unit oleh TPI

Pemantauan PMPRB oleh Sekretariat RB

Evaluasi TPN

PENGUNGKIT (UNIT) 13.97 13.97 35.56

Pemenuhan (Unit) 14.08 13.97 13.97 13.97

1.Manajemen Perubahan 2 2 2 2

Tim Reformasi Birokrasi 0.40 0.40 0.40 0.40

Road Map Reformasi Birokrasi 0.40 0.40 0.40 0.40

Pemantauan Dan Evaluasi Reformasi Birorkasi

0.80 0.80 0.80 0.80

Perubahan Pola Pikir Dan Budaya Kinerja

0.40 0.40 0.40 0.40

2. Deregulasi Kebijakan 0.75 0.75 0.75 0.75

3. Penataan Dan Penguatan Organisasi

2 2 2 2

Evaluasi Kelembagaan 1 Tindak Lanjut Evaluasi 1

4. Penataan Tatalaksana 1 1 1 1

Proses Bisnis dan Operasional Prosedur tetap (SOP)

0.5 Keterbukaan informasi publik 0.5 5. Penataan Sistem Manajemen

Sdm Aparatur

1.10 1.10 1.10 1.10

Perencanaan Kebutuhan Pegawai sesuai dengan Kebutuhan Organisasi

0.20

Pengembangan Pegawai Berbasis Kompetensi

0.20 Penetapan Kinerja Individu 0.38 Penegakan Aturan

Disiplin/Kode Etik/Kode Perilaku Pegawai

0.15

Pelaksanaan Evaluasi Jabatan 0.08 Sistem Informasi

Kepegawaian

0.20

6. Penguatan Akuntabilitas 2.50 2.50 2.50 2.50

Keterlibatan pimpinan 1 Pengelolaan Akuntabilitas

Kinerja

1.5

(23)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 14

7. Penguatan Pengawasan 2.14 2.14 2.14 2.14

Gratifikasi 0.3

Penerapan SPIP 0.3

Pengaduan Masyarakat 0.50 Whistle Blowing System 0.30 Penanganan Benturan

Kepentingan

0.24 Pembangunan Zona Integritas 0.5 8. Peningkatan Kualitas

Pelayanan Publik

2.48 2.48 2.48 2.48

Standar Pelayanan 0.4

Budaya Pelayanan Prima 0.38 Pengelolaan Pengaduan 0.60 Penilaian kepuasan terhadap

pelayanan

0.70 Pemanfaatan teknologi informasi 0.4

REFORM 20.49 0 0 21.59

Manajemen Perubahan 2.78 0 0 6.45

Deregulasi Kebijakan 2 0 0 1

Penataan Dan Penguatan Organisasi

1.5 0 0 2.25

Penataan Tata Laksana 3.75 0 0 2.36

Penataan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia Aparatur

1.59 0 0 0.92

Penguatan Akuntabilitas 3.18 0 0 3.04

Penguatan Pengawasan 1.95 0 0 1.19

Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

3.75 0 0 4.38

Total Nilai Reform dan Pengungkit

34.57 57.15

*Sumber LKE Ditjen Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan table tersebut dapat terlihat bahwa target kinerja Nilai Reformasi Birokrasi DItjen Pelayanan Kesehatan tahun 2021 tercapai sebesar 114,3%.

d. Analisa Keberhasilan

Sejak tahun 2019, evaluasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi juga dilakukan di tingkat eselon I. Penilaian ini dilakukan dengan menggunakan

(24)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 15

instrumen Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) yang dilakukan secara online melalui website PMPRB Kementerian PANRB. Ditjen Pelayanan Kesehatan dalam hal ini mendapatkan hasil (komponen pengungkit) sebesar 54,13 dan nilai 57,15 untuk tahun 2021.

Nilai ini turut mempengaruhi total nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Kesehatan, melalui komponen pengungkit tiap eselon I.

Penilaian pelaksanaan Reformasi Birokrasi dilakukan dalam delapan (8) perubahan yang dikerjakan oleh kelompok kerja (pokja), dan masing masing pokja mempunyai bobot nilai yang berbeda-beda. Pokja Pelayanan Publik memberikan kontribusi pencapaian yang paling besar yaitu 75% dari nilai bobotnya, sedangkan Pokja Penataan Sistem Manajemen SDM hanya mencapai 19,91% dan pokja ini yang mempunyai nilai bobot paling besar. Untuk pokja lainnya sekitar 50-60% dari nilai bobotnya.

Keberhasilan kinerja indikator ini juga tidak lepas dari pelaksanaan reformasi Birokrasi di Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kontribusi Tim Reformasi Birokrasi Ditjen Pelayanan Kesehatan serta pejabat struktural lainnya, serta peran penting tim kelompok kerja yang menggerakkan pelaksanaan Reformasi Birokrasi.

Adapun Analisa perbandingan capaian indikator diatas adalah sebagai berikut :

Capaian indikator indeks reformasi birokrasi di lingkungan Ditjen Pelayanan Kesehatan pada tahun 2021 adalah sebesar 114,3% atau sama dengan capaian tahun 2020.

e. Efisiensi Sumber Daya

Efisiensi sumber daya pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Ditjen Pelayanan Kesehatan terlihat dari 2 aspek, yaitu aspek alokasi anggaran dan aspek pemanfaatan sumber daya manusia.

(25)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 16

Berdasarkan aspek alokasi anggaran, Ditjen Pelayanan Kesehatan dapat mencapai target nilai Reformasi Birokrasi meskipun didukung dengan anggaran yang sangat terbatas. Pada tahun 2021 anggaran fasilitasi implementasi reformasi birokrasi di Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan hanya sebesar Rp 311.500.000.

Adapun efisiensi dari aspek pemanfaatan sumber daya manusia dapat dilihat dengan adanya SK Tim Reformasi Birokrasi Ditjen Pelayanan Kesehatan yang hanya terdiri beberapa SDM, dan didominasi oleh Setditjen Pelayanan Kesehatan, namun capaian target cukup memuaskan.

f. Program/Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target

Kegiatan yang dilakukan untuk pencapaian target dari masing-masing Pokja diantaranya adalah :

1) Manajemen Perubahan

a) Pembentukan dan penetapan tim Reformasi Birokrasi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan berdasarkan usulan perubahan.

b) Rapat koordinasi dan penyusunan rencana kerja tim Reformasi Birokrasi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

c) Internalisasi dan implementasi Road Map Reformasi Birokrasi Kementerian Kesehatan di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan melalui kegiatan Rakontek, Rakordit, dan rapat lainnya.

d) Pelaksanaan Capacity Building untuk meningkatkan budaya kerja pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

e) Pelaksanaan Morning Briefing secara rutin dan berkala.

f) Pertemuan rutin tiap Pokja untuk melakukan pemantauan dan evaluasi program (monitoring dan evaluasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan).

g) Penyusunan laporan tim Reformasi Birokrasi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

(26)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 17

2) Area Penataan Peraturan Perundang-undangan

a) Identifikasi dan pemetaan peraturan perundang-undangan yang tidak harmonis

b) Analisis peraturan peraturan perundang-undangan yang tidak harmonis

c) Proses revisi pemetaan peraturan perundang-undangan yang tidak harmonis

3) Area Penataaan dan Penguatan Organisasi

a) Penataan organisasi dan tata kerja Ditjen Pelayanan Kesehatan

b) Penataan organisasi dan tata kerja UPT di lingkungan Ditjen Pelayanan Kesehatan

Gambar 3.2 Pelantikan Pejabat Administrasi di Kantor Pusat dan Kantor Daerah yang disetarakan ke dalam jabatan fungsional

(27)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 18

4) Area Penataan Tatalaksana

a) Menyesuaikan peta proses bisnis dengan Pedoman Penyusunan Proses Bisnis dari Kementerian PANRB terbaru

b) Pengintegrasian sistem dengan Aplikasi Satu Data Kesehatan diperluas implementasi dan cakupannya. Implementasi Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) diperluas dengan menambah jumlah rumah sakit yang menggunakan SISRUTE.

Pengembangan juga dilakukan dengan menyusun resume rekam medis dengan memudahkan pengintegrasian sistem informasi rujukan dan sistem informasi rawat inap serta sistem informasi Puskesmas (SIKDA Generik)

c) Monitoring dan evaluasi keterbukaan informasi publik akan dilakukan secara berkala disertai dengan perbaikan terhadap kekurangan dan hambatan.

d) Meningkatkan kualitas kearsipan di Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan sesuai dengan pedoman dan jadwal disertai pengawasan melekat oleh Tim Pengawas Kearsipan.

5) Area Penguatan Sistem Manajemen SDM

a) Usulan penetapan peta jabatan di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

b) Menyusun perencanaan kebutuhan pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

c) Akan dibentuk Tim Penilaian Prestasi Kerja Pegawai.

d) Akan dilaksanakan workshop tentang pembinaan kepegawaian.

e) Akan dilaksanakan Medical Cek Up (MCU) dan tes Narkoba bagi PNS Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan di UPK.

f) Sosialiasi, monitoring, dan evaluasi tentang aplikasi e-PAK ke unit pelaksana teknis vertikal di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

g) Penyusunan rancangan SK Tim Penilai Jabatan Fungsional Kesehatan di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

h) Impelementasi penilaian perilaku 360 derajat.

(28)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 19

i) Penilaian dan penghargaan terhadap PNS kantor pusat yang berprestasi.

j) Sidang tim penilai DUPAK Jabatan Fungsional.

6) Area Penguatan Akuntabilitas

a) Penyusunan dan Penetapan Rencana Aksi Program Ditjen Pelayanan Kesehatan 2020-2024

b) Penyusunan Perjanjian Kinerja 2021 entitas akuntabilitas Ditjen Pelayanan Kesehatan

7) Area Penguatan Pengawasan

a) Melakukan sosialisasi current issue penerapan manajemen risiko di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

b) Pemantauan tindak lanjut Hapsem dengan Inspektrorat Jenderal setiap semester.

c) Membuat surat edaran pembentukan tim PIPK tingkat satuan kerja.

d) Evaluasi Dewan Pengawas RS BLU.

8) Area Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

a) Pelaksanaan kompetisi kepatuhan interaksi pelayanan publik sebagai tindak lanjut atas Peraturan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Perilaku, kompetisi inovasi pelayanan publik di lingkungan Kementerian Kesehatan, kompetisi Call Center, ikut serta dalam kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Kementerian PANRB tahun 2019.

b) Intergrasi SRK dengan kanal media sosial, sharing informasi kesehatan dengan radio swasta.

Gambar 3.3 Kegiatan Rapat Evaluasi Pokja dan Koordinasi Antar Pokja Tim Reformasi Birokrasi Ditjen Pelayanan Kesehatan

(29)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 20

g. Permasalahan

Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Kesehatan tahun 2021 yang telah dilakukan penilaian oleh Kementerian PANRB pada tanggal 15 September 2021 sampai saat ini belum keluar penetapannya dari Kementerian PANRB, sehingga terdapat kesulitan dalam menyampaikan hasil capaian indikator ini untuk tahun 2021. Dalam laporan ini yang dapat disampaikan adalah hasil penilaian mandiri pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Kementerian Kesehatan.

Adapun untuk hasil penilaian Reformasi Birokrasi Ditjen Pelayanan Kesehatan pada tahun 2021 terdapat 2 komponen penilaian yaitu komponen nilai pengungkit dan nilai reform sama seperti tahun 2020.

Nilai yang dicapai belum memperoleh 100% dari indikator yang sudah ditetapkan, sehingga diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan kesehatan.

Capaian kinerja nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Kesehatan tidak terlepas dari peran seluruh eselon I, dan bergantung pada hasil penilaian

(30)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 21

saat evaluasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi Kementerian Kesehatan oleh Tim Penilai Reformasi Birokrasi Kementerian PANRB.

Permasalahan lain adalah situasi pandemi yang menjadi kendala dalam pengumpulan data dukung pelaksanaan Reformasi Birokrasi, dan kendala dalam koordinasi dikarenakan adanya pegawai yang tertular covid19 sehingga membutuhkan waktu untuk isolasi dan penyembuhan.

Selain itu alokasi anggaran yang sangat terbatas dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan Reformasi Birokrasi di tingkat Ditjen Pelayanan Kesehatan serta meningkatkan peran Agen Perubahan dalam menginternalisasi nilai-nilai revolusi mental yang dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia aparatur sipil negara di setiap pokja reformasi birokrasi.

Gambar 3.4 Kegiatan PMPRB dipandu oleh Inspektorat Jenderal dari Panel I Tanggal 31 April 2021 dan Panel II Tanggal 25 Mei 2021

h. Usulan Pemecahan Masalah

Adapun upaya yang dilakukan Ditjen Pelayanan Kesehatan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada antara lain:

1) Memperkuat peranan AoC baik di kantor pusat maupun di UPT dengan peningkatan kapasitas dan pembinaan yang berkesinambungan agar dapat menginternalisasi semangat integritas, kerja keras, gotong royong agar menjadi budaya kerja kepada setiap aparatur sipil negara.

2) Menyusun peta keterkaitan kebijakan untuk menghindari terjadinya tumpang tindih antara peraturan yang satu dengan yang lainnya, baik yang sederajat maupun antara peraturan yang lebih tinggi dengan peraturan di bawahnya.

(31)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 22

3) Melakukan integrasi dan pengembangkan terhadap sistem pemerintahan berbasis elektronik sebagai penerapan dari e- government.

4) Evaluasi organisasi difokuskan pada kesesuaian struktur dengan kinerja yang dihasilkan

5) Menyelaraskan kinerja individu pegawai dengan kinerja organisasi di berbagai level, sehingga capaian kinerja individu selaras dengan capaian kinerja organisasi.

6) Melakukan survei mandiri terhadap kualitas pelayanan publik dan persepsi korupsi terhadap stakeholder secara terbuka dan menginformasikan hasilnya secara terbuka sebagai upaya memperbaiki atau meningkatkan kualitas pelayanan publik.

i. Realisasi Anggaran:

Alokasi anggaran untuk kegiatan fasilitasi implementasi reformasi birokrasi di Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan hanya sebesar Rp.

11.799.000 dengan realisasi sebesar Rp. 11.627.000 atau sebesar 98,54%.

2. Persentase kinerja RKAKL pada lingkup Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

a. Definisi Operasional

Persentase kinerja RKA-K/L Program Pembinaan Pelayanan Kesehatan yang efektif dan efisien adalah hasil penilaian kinerja RKA-KL dengan menggunakan tools aplikasi SMART DJA Kementerian Keuangan

b. Cara Perhitungan

Menggunakan hasil penilaian kinerja dari SMART DJA Kementerian Keuangan

c. Target dan Realisasi Capaian Kinerja

Tabel 3.3 Target Realisasi dan Capaian Kinerja N

o Indikator

Target Capaian

Renstra PK TW IV %

(32)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 23 N

o Indikator

Target Capaian

Renstra PK TW IV %

1

Persentase kinerja RKAKL pada lingkup Ditjen

Pelayanan Kesehatan

82.5 82.5 88.96 107

Berdasarkan data tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa target kinerja yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis dan Perjanjian Kinerja sudah tercapai lebih dari 100%.

Gambar 3.5 Nilai kinerja Ditjen Pelayanan Kesehatan

d. Analisa Keberhasilan

Persentase kinerja RKAKL pada lingkup Ditjen Pelayanan Kesehatan merupakan penilain kinerja RKAKL yang mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan nomor 214/PMK.02/2017 tentang Pengukuran dan evaluasi kinerja anggaran atas pelaksanaan RKAKL dan diterjemahkan dalam aplikasi monev kinerja anggaran (SMART DJA).

Pengukuran nilai kinerja tersebut menggunakan 2 aspek yaitu aspek manfaat dan implementasi sebesar 50% dan nilai kinerja dari satuan kerja dilingkup organisasi (Eselon I) sebesar 50%.

Sehingga nilai kinerja unit organisasi sangat tergantung pada nilai kinerja dari masing-masing satuan kerja di bawahnya.

(33)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 24

Ditjen Pelayanan Kesehatan yang melakukan program dan kegiatan pembinaan pelayanan kesehatan mempunyai 90 satker yang terdiri dari 6 Satker Kantor Pusat, 50 Satker Kantor Daerah, dan 34 Satker Dekonsentrasi pada tahun 2021 mempunyai target nilai kinerja sebesar 82.5 dan capaian sebesar 88.96 (107%)

Adapun keberhasilan pencapaian target kinerja tersebut disebabkan karena Ditjen Pelayanan Kesehatan melaksanakan kegiatan :

a) pemantauan dan evaluasi secara periodik serta memberikan feedback/umpan balik kepada satuan kerja

b) Pembinaan kepada satuan kerja yang mempunyai nilai kinerja rendah atau belum optimal.

Berdasarkan capaian tersebut diatas dapat disampaikan Analisa perbandingan capaian sebagai berikut :

• Capaian indikator Persentase kinerja RKAKL pada lingkup Ditjen Pelayanan Kesehatan tahun 2021 adalah sebesar 108%

• Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2020 maka indikator tersebut mengalami penurunan capaian sebesar 1% karena terdapat beberapa rincian volume output satker yang tidak terealisasi

• Jika dibandingkan dengan target akhir rencana strategis tahun 2024 maka prosentase capaiannya sebesar 98.84%

e. Efisiensi Sumber Daya

Efisiensi Sumber Daya yang dilakukan untuk mencapai target kinerja ini diantaranya adalah mengalihkan pemantauan dan evaluasi serta pembinaan kepada satuan kerja secara daring, sehingga perjalanan dinas maupun pertemuan secara offline dapat di efisiensikan. Dengan anggaran sebesar Rp. 1.290.000.000,- dan terealisasi sebesar 93,21%

maka output yang dihasilkan adalah sebesar 88.96 dari target sebesar 82.50 atau tercapai 107 persen.

f. Program/Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah :

(34)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 25

a) Umpan balik nilai kinerja kepada satker secara periodik melalui media komunikasi.

b) Pertemuan Pemantauan dan evaluasi kinerja per triwulan secara online dengan mengundang narasumber dari Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan.

c) Melakukan monev dan pendampingan kepada satker dengan nilai kinerja yang masih rendah.

Gambar 3.6 Pertemuan pemantauan dan evaluasi kinerja

g. Permasalahan

Permasalah yang dapat diidentifikasi untuk mencapai target kinerja tersebut adalah sebagai berikut :

a) Terdapat rincian output dengan nilai besar seperti Gedung atau alat Kesehatan yang tidak terealisasi.

b) Perubahan indikator output kegiatan pada akhir triwulan IV sehingga menyebabkan terjadi perubahan capaian dan nilai kinerja

c) Perbedaaan pemahaman baik secara substansi maupun teknis pengisian aplikasi monev kinerja anggaran

d) Pergantian petugas penanggung jawab monev kinerja anggaran pada satuan kerja

h. Usulan Pemecahan Masalah

Adapun upaya yang dilakukan DItjen Pelayanan Kesehatan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada antara lain:

(35)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 26

a) Melalukan pertemuan sosialisasi dan konsolidasi dengan satuan kerja terkait perubahan indikator output kegiatan, substansi dan teknis pengisian aplikasi monev kinerja anggaran

b) Memberikan umpan balik nilai kinerja secara periodik kepada satuan kerja

c) Melaporkan perkembangan nilai kinerja Ditjen Pelayanan Kesehatan secara periodik kepada pimpinan

i. Realisasi Anggaran:

Tahun 2021, anggaran untuk kegiatan yang mendukung indikator tersebut sebesar Rp. 1.290.000.000,- dengan realisasi sebesar Rp.1.052.536.777,- (93.21%)

Adapun capaian indikator prioritas nasional yang menjadi tanggung jawab Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Jumlah RS UPT vertikal yang dikembangkan dan ditingkatkan sarana dan prasarananya

a. Definisi Operasional

Jumlah Rumah Sakit Vertikal yang mendapatkan dana PHLN dan ditunjukkan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarananya (tidak kumulatif)

b. Cara Perhitungan

Jumlah Rumah Sakit Vertikal yang mendapatkan dana PHLN dan ditunjukkan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarananya (tidak kumulatif)

c. Target dan Realisasi capaian Kinerja

Tabel 3.4 Target Realisasi dan Capaian Kinerja No Indikator

Target Capaian Renstra PK TW IV %

1 Jumlah RS UPT Vertikal yang dikembangkan dan ditingkatkan sarana dan

6 6 0 0

(36)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 27

No Indikator Target Capaian

Renstra PK TW IV % prasarananya

d. Analisis Keberhasilan

Kronologis perkembangan proses proyek pinjaman luar negeri (PLN) The Islamic Development Bank (IsDB) “Strengthening of National Referral Hospital and Vertical Technical Units/Penguatan RS Rujukan Nasional dan RS UPT Vertikal” IDN-1031 sebagai berikut:

1) Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan menyampaiakan Dokumen Bukti Penganggaran Komponen Proyek Strengthening of National Referral Hospitals and Vertical Technical Units yang Tidak Dibiayai Pinjaman kepada Direktorat Pinjaman dan Hibah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko pada awal Januari 2021.

2) Proyek untuk Step 1/Instalment Sale A dengan nomor registrasi 1NAPT2PA (signed 8 Desember 2020 closing 6 Juni 2026) senilai USD 12.153.000,00 dinyatakan efektif per tanggal 18 Maret 2021 melalui surat Direktorat Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, serta surat IsDB Regional Hub Indonesia (RHI).

3) Satuan kerja Project Management Unit (PMU) di Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan melakukan:

a. Pengadaan PMU Management Expert per Maret 2021, pekerjaan kontrak konsultan telah aktif per 1 Juli 2021

b. Persiapan pembukaan rekening khusus,

4) Rekening khusus untuk Strengthening of National Referral Hospitals and Vertical Technical Units Projects Pinjaman IsDB IDN-1031 di Bank Indonesia berhasil dibuka per 21 Juni 2021 dan penarikan dana pertama berhasil dilaksanakan per 3 Agustus 2021 untuk pelaksanaan pengelolaan PMU dan start up workshop (bagian dari Instalment sale 1)

(37)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 28

5) Kementerian Kesehatan telah menerbitkan SK Menteri Kesehatan RI tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Proyek IDN-1031, SK Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan tentang PMU; dan SK para Direktur Utama ke-6 RS lokasi proyek (RS Kanker Dharmais, RSUP Persahabatan, RSUP Dr. Hasan Sadikin, RSUP Dr. Sardjito, RSUP Sanglah, dan RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo).

6) PMU menyelenggarakan kegiatan start-up workshop yang melibatkan ke-6 RS lokasi proyek Project Implementation Unit (PIU), BPKP Pusat dan BPKP Wilayah, Kementerian Perencanaan Pembanunan Nasional, Kementerian Keuangan, LKPP, Kelompok kerja PMU dan sekretariat PMU, unit perizinan satu pintu wilayah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Dinas PUPR wilayah lokus RS.

7) Pengadaan staf sekretariat PMU, dan aktif per 6 Agustus 2021

8) Telah dilaksanakan kegiatan benchmarking bangunan Gedung RS yang modern ke RS Mandaya Royal Tangerang pada bulan Oktober 2021.

9) Pertemuan koordinasi (Bekasi dan Bogor) minggu ke-1 bulan Oktober 2021 untuk penyiapan pengadaan dan tindak lanjut pertemuan reviu perkembangan Detail Engineering Design (DED) oleh Menteri Kesehatan, penyusunan pengelolaan keuangan proyek, serta penyusunan roadmap kegiatan “soft component”.

10) Pertemuan koordinasi lanjutan (Jakarta) minggu ke-3 bulan Oktober 2021: koordinasi kemajuan DED; pengelolaan proyek IsDB (baik yang bersumber pinjaman maupun dana pemerintah Indonesia).

11) Pertemuan koordinasi lanjutan (Jakarta) minggu ke-2 byulan Desember 2021 finalisasi DED dan masukan ahli bangunan, struktural, arsitektural, dan Mechanical, Engineering, dan Plumbing (MEP)

12) Konsultan Perencana di masing-masing RS (PIU) menggunakan dana masing-masing BLU telah melaksanakan kegiatannya dan secara periodik dipantau langsung oleh Menteri Kesehatan. Saat ini hasil DED dalam proses mendapatkan Persetujuan Bangunan dan Gedung dalam reviu kementerian/Dinas PUPR terkait.

(38)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 29

13) Sekretariat PMU dan PIU telah berkoordinasi untuk penyiapan pengadaan Project Management and Supervision Consultant (PMSC) atau setara Konsultan Manajemen Konstruksi. Proses lelang dilaksanakan secara pra-DIPA di masing-masing PIU melakui SPSE Kementerian Kesehatan mulai akhir Desemeber 2021. Proyeksi pengumuman pemenang dan pelaksanaan awal pekerjaan pada bulan Juni 2022. PMSC akan melaksanakan pekerjaan dengan memulai penyusunan dokumen pengadaan kontraktor bangunan. Sehingga, proyeksi pekerjaan kontraktor bangunan (civil work) akan dimulai per September 2022.

14) Belanja operasional perkantoran dan modal mesin peralatan/mesin/alat pengolah data untuk Sekretariat PMU telah terealisasi

15) Belanja perjalanan untuk pemantauan kemajuan persiapan kegiatan pembangunan terutama terkait Value engineering (persiapan MEP) dan atau kesiapan “soft component” proyek IDN-1031 ke RSUP Dr.

Hasan Sadikin Bandung, RS Kanker Dharmais Jakarta, RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta, RSUP Sanglah Denpasar, dan RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Resume milestone utama:

a. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan dan pemerintah RI telah melaksanakan upaya pengefektifan proyek pinjaman luar negeri IDN-1031 dalam waktu tiga bulan dari maksimal tenggat waktu enam bulan sejak financial framework agreement ditandatangani pada bulan Desember 2020.

b. Kerja sama dan koordinasi intensif para pihak terkait, penarikan pertama dana pinjaman dalam rekening khusus dapat dilaksanakan dalam waktu tiga bulan dari maksimal tenggat waktu enam bulan sejak pinjaman dinyatakan efektif.

c. Jajaran pimpinan memberikan pengawalan dan bimbingan melekat terkait kualitas pekerjaan konsultan DED yang menjadi dasar utama pembangunan Gedung pada enam RS UPT lokus proyek pinjaman luar negeri IDN-1031.

d. Pengadaan PMSC dilaksanakan pra-DIPA pada akhir 2021.

(39)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 30

e. Anggaran pinjaman IsDB yang dialokasikan pada tahun 2022 untuk kegiatan PMSC, pembangunan konstruksi, dan soft component lainnya (termasuk operasional PMU).

e. Efisiensi Sumber Daya

Pada masa pandemi Covid-19, proses pertemuan dilaksanakan secara daring murni atau hybrid (daring dan luring) dengan pihak-pihak terkait, melakukan koordinasi dengan narahubung kunci. Pertemuan 2021 dilaksanakan antara lain:

a) Pertemuan koordinasi kemajuan proyek periodik dua mingguan dan per triwulanan (daring)

b) Pertemuan startup workshop (daring, sumber biaya pinjaman IsDB)

c) Kunjungan benchmarking Gedung RS yang modern, smart, bersih, dan berkonsep green building (luring, bersumber RM APBN dan BLU)

d) Pertemuan Koordinasi Bogor dan Bekasi (hybrid, sumber biaya RM APBN)

e) Pertemuan Koordinasi lanjutan Jakarta (hybrid, sumber biaya RM APBN) f) Pertemuan Koordinasi lanjutan Jakarta (masukan para ahli) (hybrid,

bersumber RM APBN)

g) Pertemuan koordinasi langsung bersama Menteri Kesehatan terhadap kemajuan pekerjaan konsultan perencanaan hingga mendapatkan persetujuan rancangan oleh Menteri Kesehatan (daring penuh)

h) Belanja perjalanan dinas dilaksanakan secara selektif, tetap memperhatikan protokol kesehatan dan pengaturan pembatasan perjalanan dalam dinamika status covid-19 di Indonesia, khususnya wilayah Jawa-Bali dan Sulawesi Selatan.

f. Program/Kegiatan yang Dilakukan untuk Mencapai Target

1. Koordinasi kemajuan proyek periodik oleh PMU, ke-6 PIU, pihak IsDB, dan pihak lain terkait.

2. Keterlibatan aktif narahubung/tim kunci dari PMU, PIU RS dan kelompok kerja terkait, Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan, Direktorat Kesehatan dan

(40)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 31

Gizi Masyarakat Bappenas, Direktorat Pendanaan Luar Negeri Multilateral, Direktorat Pinjaman dan Hibah, dan BPKP, serta IsDB.

g. Permasalahan/Hal-hal yang Perlu Diperhatikan

1. Anggaran tahun 2021 bersumber pinjaman yang disetujui untuk pengelolaan PMU dan start-up workshop, belum mencakup kegiatan PMSC (idealnya kegiatan PMSC berjalan beririsan dengan masa pelaksanaan pekerjaan DED).

2. Secara umum, gambar DED dari ke-6 lokasi RS (RS kanker Dharmais, RSUP Persahabatan, RSUP Dr. hasan Sadikin, RSUP Dr. Sardjito, RSUP Sanglah dan RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo) telah disetujui Menteri Kesehatan dengan perbaikan minor. Dan seluruh RS saat ini proses persidangan perizinan bangunan Gedung, Proyeksi Perizinan bangunan dan gedung (PBG) dapat terbit per Februari 2022.

3. Kesiapan lahan bangunan:

a) RS Kanker Dharmais: lahan siap bangun (kosong).

b) RSUP Persahabatan: sudah di demolish, lahan siap bangun (kosong).

c) RSUP Dr. Hasan Sadikin: sudah di demolish, lahan siap bangun (kosong). Saat ini juga proses sertifikasi bangunan hijau (green hospital)

d) RSUP Dr. Sardjito: Gedung eksisting untuk pembangunan Gedung baru direncanakan pada bulan Maret sampai dengan April 2022 dan baru akan di-demolish. Pemindahan layanan sudah dilakukan dengan beberapa tahap.

e) RSUP Sanglah: Gedung eksisting untuk pembangunan Gedung baru sudah dibongkar (eks rumah dinas yang lama tidak dipakai akan di- demolish pada bulan Februari 2022) sehingga tidak memerlukan pemindahan layanan.

f) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo: Gedung eksisting untuk pembangunan Gedung baru selesai proses pembongkarannya per Desember 2021, ada pemindahan layanan poliklinik ke gedung Private Care Center (PCC).

(41)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 32

4. Lingkup kegiatan proyek dalam kategori “soft component” Strengthen Human Resource Capacity tidak terserap secara maksimal karena regulasi Kemen-PANRB yang terdahulu terdapat batasan usia bagi pegawai RS. Anggaran operasional PIU belum terserap maksimal (pengaturan satuan biaya) per Desember 2021.

h. Usulan Pemecahan Masalah

1. Koordinasi dengan mitra pembangunan (IsDB) agar surat Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) menjadi dasar untuk mendapatkan persetujuan/No Objection Letter (NoL) terhadap bidding document civil work yang terdiri dari:

a. Gambar Arsitektur,

b. Struktur, Mechanical, Electrical, Plumbing, Bill of Quantity (BoQ), c. Rencana Kerja dan Syarat (RKS).

Sehingga PMU/PIU tidak perlu menunggu kontrak PMSC untuk melakukan reviu hasil dari DEDC sehingga waktu dapat dimanfaatkan lebih efektif.

2. Pelaksanaan kegiatan “soft component” Strengthen Human Resource Capacity akan dapat lebih optimal setelah terbitnya peraturan baru dari Kemen-PANRB pada Desember 2021 yang hasil kegiatannya kelak (Peningkatan pendidikan dan pelatihan SDM) akan mendukung operasional dan kinerja pelayanan di Gedung baru serta indikator BLU RS UPT lokus proyek secara umum.

i. Realisasi Anggaran

1. Sumber RM APBN: Rp 639.434.705,00

2. Sumber Pinjaman rekening khusus: Rp 763.541.156,00 dari Rp 1.659.800.000,00

Kegiatan anggaran PMU yang tidak terserap 2021 berupa:

a. jasa konsultan proses pengumuman pengadaan di akhir 2021 dan wawancara seleksi dilaksanakan pada awal tahun 2022

b. pengadaan furniture (akan dilaksanakan pada tahun 2022)

(42)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 33

c. selektif pelaksanaan perjalanan dinas mengingat pembatasan kegiatan luar kantor terkait dinamika status pandemi wilayah

3. Sumber BLU RS untuk kegiatan DED:

a. RS Kanker Dharmais: Rp. 6.777.494.240 dari Rp 8.471.867.800 b. RSUP Persahabatan: Rp. 7.440.049.820 dari Rp 9.300.062.750

Alokasi anggaran yang disediakan Rp 10,9 M namun committed contract yang didapat hanya sebesar Rp 9,3M, ada kelebihan anggaran 8,07%.

c. RSUP Dr. Hasan Sadikin: Rp. 4.736.708.400 dari Rp 5.920.885.500 Alokasi anggaran pembayaran konsultan DED tahun 2021 Rp 5,1M.

d. RSUP Dr. Sardjito: Rp. 3.305.024.359 dari Rp. 4.131.280.450

Alokasi anggaran untuk pembayaran konsultan DED sebesar Rp 5,3M namun committed contract yang didapat hanya sebesar Rp 4,1M, ada kelebihan anggaran 18,18%.

e. RSUP Sanglah: Rp. 3.151.410.592 dari Rp.3.939.263.240

f. RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo: Rp. 2.341.000.000 dari Rp.

4.682.000.000

Alokasi anggaran untuk pembayaran konsultan DED sebesar Rp 5,9M namun committed contract yang didapat hanya Rp 4,6M, ada kelebihan anggaran Rp 1,2M. Pembayaran yang tidak terserap dari 30% pekerjaan yang akan dibayarkan pada akhir Januari 2022.

Secara umum, pada sisa anggaran dari committed contract yang tidak terserap, sebesar 5% akan digunakan untuk pembayaran pada saat proses lelang konstruksi dan 15% untuk pembayaran jaminan pemeliharaan.

2. Persentase RS yang melakukan pencataan dan pelaporan kematian ibu a. Definisi Operasional

Persentase RSU Kls A, Kls B dan RSIA yang melakukan pelaporan kematian ibu

b. Cara Perhitungan

(43)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 34

c. Target dan Realisasi capaian Kinerja

Tabel 3.5 Target Realisasi dan Capaian Kinerja

No Indikator

Target Capaian

Renstr

a PK TW IV %

1

Prosentase RS yang melakukan pencatatan dan pelaporan kematian ibu

50 50 48,58 % 97,15 %

d. Program/Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target

Pelaporan kematian ibu terdapat di RL 3.4 Data Pelayanan Kebidanan di dalam pelaporan SIRS. RL 3.4 merupakan data rekapitulasi yang dilaporkan tahunan oleh RS ke Kementerian Kesehatan melalui aplikasi SIRS Online.

Sesuai dengan Permenkes No. 1171 Tahun 2011 tentang Sistem Informasi Rumah Sakit maka seluruh RS baik milik pemerintah maupun non pemerintah wajib untuk melaporkan SIRS. Maka untuk mencapai target tersebut maka dilakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi untuk melakukan monitoring terhadap pelaporan dari RS ke aplikasi SIRS Online, dan mendorong RS untuk mengirimkan pelaporan SIRS. Pada tahun 2021 telah disampaikan surat edaran dari Ditjen Yankes ke Dinas Kesehatan Provinsi untuk menggunakan keterisian pelaporan SIRS Online termasuk RL 3.4 sebagai salah satu pertimbangan pengajuan Dana Alolasi Khusus (DAK) bagi RSUD/RSKD. RS diminta untuk segera melaporkan data sampai dengan 31 Maret 2021 atau akhir triwulan 1, namun demikian Rumah Sakit tetap mengirimkan pelaporan sampai dengan akhir tahun 2021.

e. Permasalahan

Capaian tahun 2021 belum mencapai target dikarenakan pelaporan SIRS terdampak pandemi Covid-19, disebabkan petugas pelaporan SIRS di RS dikerahkan untuk melaporkan data covid ke Kemenkes. Selain itu monitoring di Kemenkes dan Dinas Kesehatan berfokus pada pelaporan Covid-19 dari

(44)

LAPORAN KINERJA SEKRETARIAT DITJEN PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2021 35

RS supaya dapat menyediakan data dan informasi sebagai bahan pertimbangan pembuatan kebijakan dalam hal penangananan Covid-19 di rumah sakit.

f. Usulan Pemecahan Masalah

Perlu dibuat surat edaran secara berkala untuk mengingatkan RS mengirimkan pelaporan SIRS, termasuk RL 3.4 Data Pelayanan Kebidanan dan meningkatkan monitoring terhadap pelaporan SIRS.

C. Indikator Antara yang Menjadi Pendorong Tercapainya Indikator Kinerja Kegiatan Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

Sekretariat Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan juga memiliki beberapa indikator kinerja bagian yang menjadi pendorong tercapainya indikator kinerja kegiatan yang tercantum dalam Rencana Aksi Kegiatan. Sebagaimana gambaran secara umum dapat terlihat dalam matriks capaian berikut ini:

Tabel 3.6 Indikator kinerja bagian Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan

Kegiatan / Bagian Indikator Kinerja Kegiatan /

Indikator Kinerja Bagian Target Capaian % Keterangan

Bagian Program dan Informasi

Persentase Satker BLU Ditjen Yankes yang mempunyai dokumen RBA sesuai standar

100% 100% 100

Persentase Satker Ditjen Yankes yang melakukan Revisi DIPA kewenangan DJA kurang dari 4 kali dalam setahun

50% 61% 122

Persentase Satker Ditjen Yankes yang mempunyai nilai

SAKIP lebih dari 90% 70% 35% 50

Gambar

Gambar 1.1  :  Struktur Organisasi Ditjen Pelayanan Kesehatan  Keadaan tanggal 31 Desember 2020
Gambar 1.1 Struktur Organisasi  Setditjen Pelayanan  Kesehatan Keadaan tanggal  31 Desember 2021
Tabel 2.1 Matrik Indikator Kinerja Kegiatan Sekretariat Direktorat Jenderal  Pelayanan Kesehatan 2020-2024
Tabel 2.2 Perjanjian Kinerja Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan tahun 2021  No  Sasaran
+7

Referensi

Dokumen terkait

SOSIALISASI PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI Merauke, 24 Februari 2017 KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS III MERAUKE JL PRAJURIT MERAUKE LAPORAN KEGIATAN SOSIALISASI PELAKSANAAN

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, hipotesis dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe MURDER berpengaruh positif terhadap

Program pengembangan kemahasiswaan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara saksama dan terencana, yang dilakukan dengan asas dan pedoman tut wuri handayani,

Penelitian ini dilakukan untuk untuk mengetahui perbandingan aktivitas antimikroba pucuk daun dan daun tua pada daun beluntas (Pluchea indica L) yang dibuat dalam

Kode dan nama matakuliah Jumlah kelas per penawaran Jumlah ruang kuliah dan kapasitas Jumlah set peralatan laboratorium atau studio Jumlah set peralatan TIK

b) terdapat media komunikasi secara reguler untuk mensosialisasikan tentang reformasi birokrasi yang sedang dan akan dilakukan. Berbagai sarana komunikasi seperti

Pelaksanaan PMPRB dilakukan oleh Asesor sesuai dengan SK Kepala Dinas Perdagangan Nomor 17 Thn 2020 Tentang Pembentukan Tim Assesor Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi

KEENAM : Tim Asesor Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Kementerian Pemuda dan Olahraga yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pemuda dan