HUBUNGAN PENURUNAN KADAR HEMOGLOBIN TERHADAP LAMANYA OPERASI TURP DAN
BERAT PROSTAT YANG DI KELUARKAN DI RSUP H.ADAM MALIK
MEDAN
Oleh : Dr. Abdul Haris
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
SURAT KETERANGAN
JUDUL : HUBUNGAN PENURUNAN KADAR
HEMOGLOBIN TERHADAP LAMANYA OPERASI TURP DAN BERAT PROSTAT YANG DI KELUARKAN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : ABDUL HARIS
No. CHS : 22476
DEPARTEMEN : ILMU BEDAH
INSTITUSI : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
TESIS INI TELAH DIPERIKSA DAN DISETUJUI OLEH
PEMBIMBING I
Dr. BUNGARAN SIHOMBING, Sp.U NIP. 1955 1008 1983 0310 13
PEMBIMBING II
Dr. SYAH MIRSYA WARLI, Sp.U NIP. 1965 0505 1995 0310 01
KETUA DEPARTEMEN ILMU BEDAH FK USU,
Dr. EMIR TARIS PASARIBU, Sp. B(K) Onk NIP. 1952 0304 1980 0210 01
KETUA PROGRAM STUDI ILMU BEDAH FK USU,
Dr. MARSHAL, Sp.B, Sp.B-TKV(K) NIP. 1961 0316 1986 1110 01
SURAT KETERANGAN
JUDUL : HUBUNGAN PENURUNAN KADAR
HEMOGLOBIN TERHADAP LAMANYA
OPERASI TURP DAN BERAT PROSTAT YANG DI KELUARKAN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT H. ADAM MALIK MEDAN
NAMA : ABDUL HARIS
No. CHS : 22476
DEPARTEMEN : ILMU BEDAH
INSTITUSI : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TESIS INI TELAH DIPERIKSA DAN DISETUJUI OLEH
KONSULTAN METODOLOGI PENELITIAN FAKULTAS KEDOKTERAN USU
PROF. DR. H. AZNAN LELO, PHD, SP.FK NIP. 19511202197021001
PERNYATAAN
HUBUNGAN PENURUNAN KADAR HEMOGLOBIN TERHADAP LAMANYA OPERASI TURP DAN BERAT PROSTAT YANG DI
KELUARKAN DI RSUP. H.ADAM MALIK MEDAN
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Juni 2016
Abdul Haris
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan, karena berkat segala rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis ini yang merupakan salah satu persyaratan tugas akhir untuk memperoleh keahlian dalam bidang Ilmu Bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan. Selawat dan salam tak lupa penulis sampaikan kepada junjungan Rasulullah Muhammad SAW.
Dengan selesainya penulisan tesis ini, perkenankanlah penulis untuk menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara dan Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Bedah di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Ketua Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, dr. Emir T Pasaribu, SpB(K)ONK dan Sekretaris Departemen, dr. Erjan Fikri, SpB,SpBA. Ketua Program Studi Ilmu Bedah, dr. Marshal SpB,SpBTKV dan Sekretaris Program Studi Ilmu Bedah, dr. Asrul S, SpB-KBD, yang telah bersedia menerima, mendidik dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran selama penulis menjalani pendidikan.
Dr.Syah Mirsya Warly SpU; Ketua Divisi Bedah Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan dr. Bungaran S.SpUsebagaipembimbing penulisan tesis, besertaseluruh staff Divisi Bedah Urologi, terima kasih yang sedalam-dalamnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya yang dapat penulis sampaikan, yang telah membimbing, mendidik, membuka wawasan penulis, senantiasa memberikan dorongan dan motivasi yang tiada hentinya dengan penuh bijaksana dan tulus ikhlas disepanjang waktu sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada guru-guru saya : Prof. Bachtiar Surya, SpB-KBD,Prof.A.Gofar Sastrodiningrat,SpBS(K), Prof. Iskandar Japardi, SpBS(K), Prof. Adril A Hakim, SpS,SpBS(K), Prof. Nazar Moesbar, SpB,SpOT, Prof. Hafas Hanafiah, SpB,SpOT, Alm.Prof Usul Sinaga, SpB, Alm.Prof Buchari Kasim, SpBP, dr.
Asmui Yosodihardjo, SpB,SpBA, dr. Syahbuddin Harahap, SpB, DR. dr. Humala Hutagalung, SpB(K)ONK, dr. Gerhard Panjaitan, SpB(K)ONK, dr.Kamal Basri Siregar SpB(K)ONK, dr.Suyatno SpB(K)ONK,dr.Albiner SpB(K)ONK, dr. Harry Soejatmiko, SpB,SpBTKV, dr. Chairiandi Siregar, SpOT, dr. Frank B.B, SpBP,
dr. Utama Taringan, SpBP dan seluruh guru bedah saya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, di lingkungan RSUP H Adam Malik, RSU Pirngadi Medan dan di semua tempat yang telah mengajarkan ketrampilan bedah pada diri saya.
Semua telah tanpa pamrih memberikan bimbingan, koreksi dan saran kepada penulis selama mengikuti program pendidikan ini.
Prof. Aznan Lelo, PhD, SpFK, yang telah membimbing, membantu dan meluangkan waktu dalam membimbing statistik dari tulisan tugas akhir ini.
Para Senior, dan sejawat peserta program studi Bedah yang bersama-sama menjalani suka duka selama pendidikan.
Para pegawai dilingkungan Departemen Ilmu Bedah FK USU, dan para tenaga kesehatan yang berbaur berbagi pekerjaan memberikan pelayanan Bedah di RSUP H Adam Malik, RSU Pirngadi, dan di semua tempat bersama penulis selama penulis menimba ilmu.
Kedua orang tua, ayahanda Alm. Achmad Effendi SH dan ibundaRosni, terima kasih yang sedalam-dalamnya dan setulus-tulusnya, yang telah membesarkan dan mendidik penulis sejak kecil dengan penuh kesabaran, kasih sayang dan perhatian, dengan diiringi doa dan dorongan yang tiada hentinya sepanjang waktu, memberikan contoh yang sangat berharga dalam menghargai dan menjalani kehidupan.
Kepada abang Adis Kamal, adik-adik dan seluruh keluarga besar, penulis menucapkan terima kasih atas pengertian dan dukungan yang diberikan selama penulis menjalani pendidikan.
Akhirnya hanya Allah SWT yang dapat membalas segala kebaikan.
Semoga ilmu yang penulis peroleh selama pendidikanspesialisasi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Terima kasih.
Medan, Juni 2016 Penulis
Dr. Abdul Haris
HUBUNGAN PENURUNAN KADAR HEMOGLOBIN TERHADAP LAMANYA OPERASI TURP DAN BERAT PROSTAT YANG
DIKELUARKAN DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
Haris A1, Sihombing B2, Warli S M2
1 Residen Bedah,Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
2 Konsultan, Divisi Urologi Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan
ABSTRAK
Tujuan : Mengetahui hubungan antara lama operasi dan berat prostat yang dikeluarkan dengan penurunan kadar Hemoglobin.pasca TURP di RSUP H. Adam Malik Medan.
Materi dan Metode : Penelitian cross sectional dengan data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien yang dilakukan operasi TURP sejak 01 Januari 2014 – 31 Desember 2015. Data yang dikumpulkan yaitu mengenai Hb sebelum operasi dan sesudah operasi, berat prostat yang di keluarkan, dan lama operasi TURP.
Hasil: Terdapat sebanyak 27 pasien yang termasuk dalam kriteria inklusi pada penelitian ini. Usia pasien memiliki rerata 69.15 ± 8.31 tahun, berat prostat yang dikeluarkan memiliki rerata 26.78 ± 10.58 gr, rerata penurunan kadar Hb yaitu 1.32 ± 1.00, dengan lama operasi berkisar 71.67 ± 14.07 menit. Analisis dengan korelasi pearson antara berat prostat yang dikeluarkan dengan penurunan kadar Hb ditemukan adanya hubungan yang bermakna secara statistik dengan korelasi lemah (Pearson Correlation 0.389; p = 0.045).
Kesimpulan: Terdapat adanya korelasi antara berat prostat yang dikeluarkan dengan penurunan kadar Hb, namun tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara lama operasi TURP dengan berat prostat yang dikeluarkan dan dengan penurunan kadar Hb.
Kata Kunci : TURP, Pendarahan, Berat reseksi prostat
i
CORRELATION OF DECREASING HEMOGLOBIN TO OPERATION TIME (TURP) AND VOLUME OF RESECTED PROSTATE AT
H. ADAM MALIK GENERAL HOSPITAL
Haris A1, Sihombing B2, Warli S M2
1 Residence of General Surgery, Departement of Surgery Medical Faculty of Sumatera Utara H. Adam Malik Hospital Medan
2 Consultant, Urology Division, Departement of Surgery Medical Faculty of Sumatera Utara University H. Adam Malik Hospital Medan
ABSTRACT
Objectives: To find the correlation between prostate resection weight and length of procedure with decrease in hemoglobin count after transurethral resection of prostate (TURP) in H. Adam Malik Hospital Medan.
Material and Method: Cross – sectional study with secondary data obtained from medical records of patient undergoing TURP procedure since 1 January 2014 to 31 December 2015. Obtained data include patient Hb pre operative dan post operative, weight of prostate resection , and length of operation.
Results: There are 27 patients who passed the inclusion criteria and eligible for this study. Mean of age from the subject is 69.15 ± 8.31 year, mean from weight of resected prostate is 26.78 ± 10.58 gr, average decrease in Hb is 1.32 ± 1.00 g/dL, with length of operation in this study 71.67 ± 14.07 minutes. Analysis with pearson correlation test between weight of resected prostate with decrease in Hb shows a statistically significant data with weak correlation (Pearson Correlation 0.389; p = 0.045).
Conclusions: There is a correlation between weight of resected prostate with decreasing Hb, although this study did not find any significant relationship between length of operation with the weight of resected prostate and decreasing Hb.
Keyword: TURP, Blood Loss, Weight of resected prostate
DAFTAR ISI SURAT KETERANGAN
ABSTRAK ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Hipotesis Penelitian ... 2
1.4. Tujuan Penelitian ... 2
1.4.1. Tujuan umum ... 2
1.4.2. Tujuan Khusus ... 2
1.5. Manfaat Penelitian ... 3
1.5.1. Bidang Akademik/ Ilmiah ... 3
1.5.2. Bidang Pelayanan Masyarakat... 3
1.5.3. Bidang Pengembangan Penelitian ... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Anatomi Prostat ... 4
2.2. Definisi BPH ... 5
2.3. Etiologi BPH ... 5
2.4. Patofisiologi BPH ... 6
2.5. Transuretrhral Resection of Prostat (TURP) ... 7
2.5.1. Indikasi TURP... 8
2.5.2. Kontraindikasi ... 8
2.6. Komplikasi TURP ... 9
2.6.1. Perdarahan intraoperative ... 9
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 13
3.1. Desain Penelitian ... 13
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 13
3.3. Populasi Penelitian ... 13
3.3.1. Populasi ... 13
3.3.2. Sampel Penelitian ... 13
3.4. Kriteria inklusi dan Eksklusi ... 13
3.4.1. Kriteria Inklusi ... 13 iii
3.4.2. Kriteria Eksklusi... 14
3.4.3. Besar Sampel ... 14
3.5. Alur kerja... 15
3.6. Kerangka Konsep... 15
3.7. Analisis Data ... 15
3.8. Definisi Operasional ... 15
3.9. Analisis dan Penyajian Data ... 16
3.9.1. Analisis Univariate ... 16
3.9.2. Analisis Bivariat ... 16
3.10. Penyajian Data ... 17
3.11. Identifikasi Variabel... 17
BAB 4 HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ... 18
BAB 5 PEMBAHASAN Pembahasan ... 22
BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ... 26
Saran ... 26
DAFTAR PUSTAKA ... 27 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
4.1 Karakteristik pasien ... 17
4.2 Tabel dan grafik korelasi antara penurunan Hb dan berat prostat ... 17
4.3 Tabel dan grafik korelasi antara penurunan Hb dan lama operasi ... 18
4.4 Karakteristik tindakan TURP yang dilakukan oleh residen urologi ... 19
v
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Pembuluh darah prostat ... 5 Gambar 1.2. Resektoskop diatur kembali agar mendapatkan visualisai
pada sumber perdarahan ... 10 Gambar 1.3. Cara efektif dalam melakukan koagulasi secara melingkar 10 Gambar 1.4. Adanya billard efek dari perdarahan arteri yang
menyebabkan sulitnya identifikasi perdarahan ... 11 Gambar 1.5. Melakukan kompresi perdarahan vena kecil dengan kateter 11 Gambar 1.6 Korelasi antara Besar Prostat yang dikeluarkan dan
Penurunan Hb ... 19 Gambar 1.7 Korelasi antara lama operasi dan penurunan Hb ... 20
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Susunan Penelitian Lampiran 2. Riwayat Hidup
Lampiran 3. Rencana Anggaran Penelitian Lampiran 4. Jadwal Penelitian
vii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostate Hyperplasia (BPH) adalah suatu proses patologi pada prostat yang menyebabkan terjadinya gejala pada saluran kemih bagian bawah (LUTS/lower urinary tract symptoms) umumnya pada pria (Roehrborn, 1996). Gejala LUTS yang terjadi dapat dinilai dengan International Prostate Symptom Score (IPSS), berguna dalam mengukur derajat keparahan dari keluhan LUTS dan menilai kualitas hidup penderita LUTS (AUA, 2010).
BPH meningkat seiring bertambahnya usia, dimulai kira-kira usia 40 tahun.
Dari hasil pemeriksaan histopatologi dari berbagai belahan dunia, didapatkan angka BPH sekitar 10% pada usia 30 tahun, 20% pada usia 40 tahun, mencapai 50 – 60 % pada usia 60, dan 80 – 90% pada usia 70 dan 80 tahun (Roehrborn 2002).
Pengobatan BPH dapat berupa medikamentosa dan bedah. Intervensi bedah di indikasikan setelah terapi medis gagal atau terdapat BPH dengan komplikasi, seperti retensi urin berulang, gross hematuria berulang, batu vesika urinaria berulang, infeksi saluran kemih yang berulang dan insufisiensi renal berulang (Bozdar, 2010).
Transurethral Resection of the Prostate (TURP) adalah suatu tindakan endoskopis pengurangan masa prostat (prostatektomi) dengan tujuan agar urin dapat mengalir lancar. TURP merupakan gold standard dalam tatalaksana bedah untuk (BPH) yang menyebabkan gangguan atau sumbatan pada kandung kemih saat akan berkemih / bladder outlet obstruction (BOO) (Rassweiler, 2006).
Komplikasi tindakan TURP yaitu perdarahan, sindroma TUR, trauma sfingter externa, retensi urin, inkontinensia, striktur, sampai gangguan disfungsi seksual Perdarahan saat dan setelah TURP masih merupakan perhatian dan dapat menyebabkan morbiditas meningkat dan gangguan yang fatal. Pada penelitian Reich menyatakan bahwa angka kejadian post TURP yang membutuhkan tranfusi darah adalah 2,9% (Reich, 2008). Data dari penelitian Hahn dkk menyatakan rata-rata penurunan hemoglobin saat dilakukan TURP adalah 2.15-2.55 Hb/g (Hahn, 2006).
Pada penelitian dengan residen sebagai operator TURP didapatkan penurunan
hemoglobin sebanyak 1.7 g/dl dan tidak terdapat kasus yang ditranfusi (Del Rosso, 2012). Meski angka kejadian komplikasi terus membaik, pendarahan masih merupakan komplikasi paling sering yang terjadi selama prosedur TURP, terutama pada prostat dengan volume >30 cc (Welliver et al, 2013). Selain dari perdarahan komplikasi lain seperti TUR sindrom yang memiliki gejala mual, muntah, hipertensi, gangguan penglihatan, dan bradikardia juga perlu diawasi serta kejadian cedera pada sfingter eksterna dan orifisium urethra dapat terjadi (Marszhalek, 2009). Beberapa hal yang dapat menyebabkan jumlah perdarahan yang banyak saat TURP adalah, volume prostat yang direseksi, waktu reseksi / lama operasi, histologi dari prostat, dan penggunaan aspirin sebelum operasi (Marshzalek, 2009). Pada penelitian ini ingin diketahui hubungan antara lama operasi dan berat hasil prostat yang direseksi dengan penurunan angka hemoglobin.
1.2. Rumusan Masalah
Adakah hubungan penurunan hemoglobin dengan lama operasi dan berat prostat yang dikeluarkan ?
1.3. Hipotesis Penelitian
Terdapat hubungan penurunan hemoglobin dan lama operasi dan berat prostat yang dikeluarkan.
1.4. Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum
Menentukan hubungan penurunan hemoglobin setelah operasi TURP.
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Menentukan hubungan penurunan hemoglobin dan lama operasi.
2. Menentukan hubungan penurunan hemoglobin dan berat prostat yang dikeluarkan.
1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1 Bidang Akademik/ Ilmiah
Dengan mengetahui hubungan penurunan hemoglobin dan lama operasi dan berat prostat yang dikeluarkan sehingga dapat melakukan tatalaksana bedah yang lebih baik.
1.5.2 Bidang Pelayanan Masyarakat
Sebagai tambahan edukasi kepada masyarakat mengenai tatalaksana pada BPH yang lebih aman bila dilakukan dengan tepat dan persiapan yang baik sebelum operasi.
1.5.3 Bidang Pengembangan Penelitian
Dengan penelitian ini, diharapkan menjadi bahan pertimbangan pada penelitian lanjutan mengenai hubungan penurunan hemoglobin dan lama operasi dan berat prostat yang dikeluarkan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Prostat
Prostat merupakan kelenjar berbentuk konus terbalik yang dilapisi oleh kapsul fibromuskuler, yang terletak disebelah inferior vesika urinaria, mengelilingi bagian proksimal urethra (urethra pars prostatika) dan berada disebelah anterior rektum.
Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 18 gram, dengan jarak basis ke apex kurang lebih 3 cm, lebar yang paling jauh 4 cm dengan tebal 2 cm. Kelenjar prostat terbagi menjadi 5 lobus, yaitu, lobus medius, lobus lateralis (2 lobus), lobus anterior, dan lobus posterior. Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior, lobus posterior akan menjadi satu dan disebut lobus medius saja (Ross, 2008).
Prostat terdiri dari 70% unsur kelenjar dan 30% stroma fibromuskular. Mc Neal (1976) membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain adalah: zona perifer, zona sentral, dan zona transisional. Zona perifer menyusun 70% dari jaringan kelenjar prostat dan mencakupi bagian posterior dan lateral kelenjar tersebut. Zona transisional mencakup 5% hingga 10% daripada jaringan kelenjar prostat. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional yang letaknya proximal dari spincter externus dikedua sisi dari verumontanum. Zona sentral mencakupi 25% dari jaringan kelenjar prostat dan membentuk konus sekitar duktus ejakulatorius sehingga ke basis kandung kemih (Roehrborn, 1996).
Vaskularisasi prostat berawal dari arteri vesikalis inferior; yang merupakan cabang dari arteri iliaka internal. Arteri vesikalis inferior memperdarahi dasar kandung kemih, ureter distal, dan prostat (Bilhim, 2012). Cabang arteri pertama adalah arteri urethra yang memasuki persimpangan posterolateral prostatovesical, dan berjalan tegak lurus dengan urethra ke arah leher kandung kemih kira-kira pada arah pukul 5 dan 7 (Benninghoff, 1993). Arteri urethra kemudian bergerak ke arah kaudal sejajar dengan urethra untuk memperdarahi zona transisional, arteri inilah yang menjadi pasokan utama untuk adenoma pada kasus BPH. Cabang lain berjalan
dari posterolateral prostat bersamaan dengan saraf cavernosa, arteri ini kemudian memasuki prostat untuk memperdarahi kapsul kelenjar prostat. (Gambar 1.1)
Gambar 1.1 Pembuluh darah prostat 2.2 Definisi BPH
BPH adalah suatu proses patologi yang menyebabkan terjadinya gejala pada saluran kemih bagian bawah (LUTS/lower urinary tract symptoms) umumnya pada pria tua, biasanya disebut juga “male LUTS” (Roehrborn, 1996). Istilah benign prostatic hiperplasia (BPH) merupakan proses proliferasi dari bagian stroma dan epithelial kelenjar prostat, menyebabkan prostat membesar, dan mengakibatkan aliran dan pancaran urin menurun yang biasanya disebut dengan bladder outlet obstruction (BOO) (Lepor, 2007).
2.3 Etiologi BPH
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan (Roehrborn, 1996). Beberapa teori atau hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah: teori hormonal, teori growth hormon, teori peningkatan lama hidup sel prostat karena berkurangnya sel yang mati, teori sel stem, teori reawakening.
2.4 Patofisiologi BPH
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen urethra pars prostatika dan akan menghambat aliran urin. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu (Presti, 2013).
Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi.
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatismus. Dengan semakin meningkatnya resistensi urethra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin (Lepor, 2004). Tekanan intravesikal yang semakin tinggi ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali tekanan tersebut mempengaruhi kedua muara ureter. Tekanan yang tinggi buli-buli menyebabkan urin dari ureter tidak dapat masuk ke buli-buli sehingga mengakibatkan penumpukan urin di ureter bahkan sampai ke ginjal. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal (Presti, 2013).
Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala yaitu komponen mekanik dan komponen dinamik. Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar periurethra yang akan mendesak urethra pars prostatika sehingga terjadi gangguan aliran urin (obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan kapsulnya, yang
merupakan reseptor alpha adrenergik. Stimulasi pada reseptor alpha adrenergik akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan tonus. Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi syaraf simpatis, yang juga tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik (Presti, 2013).
2.5 Transurethral resection of prostate (TURP)
Transurethral Resection of the Prostate (TURP) adalah suatu tindakan endoskopis pengurangan masa prostat (prostatektomi) dengan tujuan agar urin dapat mengalir lancar. TURP merupakan gold standar pembedahan endoskopik untuk Benign Prostat Hypertrophy (pembesaran prostat jinak) (Rassweiler, 2006). Istilah benign prostate hyperplasia yang disingkat BPH, mengacu pada perubahan histologis yang ditandai dengan hiperplasia nodular kelenjar prostat pada zona periurethral yang sifatnya perlahan dalam jangka waktu yang lama dan progresif.
TURP dilakukan dengan cara bedah elektro (electrosurgical) atau metode alternatif lain yang bertujuan untuk mengurangi perdarahan, masa rawat inap, dan absorbsi cairan saat operasi. Metode alternatif ini antara lain vaporization TURP (VaporTode), TURP bipolar, vaporisasi fotoselektif prostat (PVP), dan enukleasi laser holmium serta tidanakan invasif minimal lainnya seperti injeksi alkohol, pemasangan stent prostat, dan laser koagulasi. Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup murah adalah H2O steril (aquades) (Rahardjo, 1999).
Rekomendasi AUA, batasan ukuran prostat yang aman untuk dilakukan prosedur TURP masih belum jelas. Untuk ukuran di atas 80 cc, AUA dan EUA merekomendasikan tindakan prostatektomi terbuka. Studi oleh Muzzonigro et al (Muzzonigro, 2004) dan Simforoosh et al (Simforoosh, 2010) menggunakan batas 70 cc sebagai batas aman tindakan TURP. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa prosedur TURP yang berdurasi lebih dari 60 menit memiliki risiko perdarahan dan striktur yang lebih besar.
2.5.1 Indikasi TURP
Indikasi untuk dilakukan TURP mengacu pada gangguan berkemih yang sedang hingga berat walaupun dengan pemberian obat-obatan.
Indikasi absolut pembedahan pada BPH adalah sebagai berikut:
1. Retensi urin yang berulang.
2. Infeksi saluran kemih berulang akibat pembesaran prostat.
3. Gross hematuria berulang.
4. Insufisiensi ginjal akibat obstruksi saluran kemih pada buli.
5. Kerusakan permanen buli atau kelemahan buli-buli.
6. Divertikulum yang besar pada buli yang menyebabkan pengosongan buli terganggu akibat pembesaran prostat.
Secara umum pasien dengan gejala LUTS sedang-berat yang tidak berespon terhadap pengobatan dengan alfa-adrenergik bloker dan/atau 5-alfa reduktase blok inhibitor dipertimbangakan untuk menjalani prosedur pembedahan. TURP diindikasikan pada pasien dengan gejala sumbatan saluran kencing menetap dan progresif akibat pembesaran prostat yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi obat-obatan (Roehrborn, 1996).
2.5.2 Kontraindikasi
TURP merupakan prosedur elektif dan tidak direkomendasian pada pasien tertentu.
Hampir semua kontraindikasinya adalah kontraindikasi relatif, berdasarkan kondisi komorbid pasien dan kemampuan pasien dalam menjalani prosedur bedah dan anestesi. Kontraindikasi relatif antara lain adalah status kardipulmoner yang tidak stabil atau adanya riwayat kelainan perdarahan yang tidak bisa disembuhkan. Pasien yang baru mengalami infark miokard dan dipasang stent arteri koroner sebaiknya ditunda sampai 3 bulan bila akan dilakukan TURP (Roehrborn, 1996).
2.6 Komplikasi TURP
2.6.1 Perdarahan Intraoperatif
Walaupun prosedur TURP telah lama ditemukan, namun prosedur ini masih mempunyai komplikasi yang cukup bermakna. Meski angka kejadian komplikasi terus membaik, pendarahan masih merupakan komplikasi paling sering yang terjadi selama prosedur TURP, terutama pada prostat dengan volume >30 cc (Welliver et al, 2013).
Perdarahan yang berasal dari arteri lebih sering dijumpai pada kasus dengan adanya riwayat infeksi saluran kemih dan retensi urin. Dengan pemberian anti- androgen sebelum TURP dapat mengurangi perdarahan. Pemberian anti androgen (5 alpha reductase inhibitor) seperti finasteride atau dutasteride, didalilkan mampu menurunkan kejadian pendarahan akibat TURP dengan cara menurunkan ekspresi dari VEGF dan jumlah pembuluh mikro pada prostat (prostatic microvessel density).
Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan dari anti androgen sebelum TURP menurunkan jumlah pendarahan pada saat prosedur; namun penelitian oleh Hahn dkk tidak menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari penggunaan dutasteride preoperatif dengan banyaknya pendarahan (Hahn et al. 2007). Perdarahan dari vena umumnya terjadi karena perforasi dari kapsul dan terbukanya sinus vena.
Jumlah perdarahan tergantung pada ukuran prostat dan jumlah prostat yang dikeluarkan/direseksi (Rassweiler, 2006).
Beberapa penelitian mencoba mengaitkan mengenai kecepatan reseksi dengan komplikasi pendarahan, namun penelitian oleh Rassweiler dkk tidak menemukan adanya pengaruh dari kecepatan reseksi dengan komplikasi pendarahan.(Rassweiler et al. 2006) Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa rata- rata kecepatan reseksi pada prosedur TURP adalah 0.6 g/ menit; jauh dari batas yang didapatkan pada sitasi lainnya yaitu 1 g/menit (AUA, 2010).
Tindakan TURP dengan teknik Mauermeyer melakukan penanganan awal pada pembuluh darah jam 5 dan jam 7, sedangkan teknik Nesbit melakukan penanganan pada jam 11 dan jam 1. Kedua teknik ini dapat dilakukan untuk
mengurangi perdarahan yang terjadi namun tidak terdapat perbedaan (Rassweiler et al. 2006).
Berikut adalah masalah yang timbul pada perdarahan arteri saat TURP:
1. Perdarahan tepat menutupi bagian optic alat TURP 2. Perdarahan tertutup oleh bekuan darah
3. Perdarahan dekat dengan daerah apex (jam 12) atau pada bladder neck Pada arteri yang lebih besar, resektoskop dapat digunakan untuk melakukan kompresi pada daerah yang berdarah. Setelah itu dilakukan pengaturan pada lensa untuk mendapatkan posisi yang baik dalam melihat sumber perdarahan (Gambar 1.2).
Gambar 1.2. Resektoskop diatur kembali agar mendapatkan visualisai pada sumber perdarahan
Perdarahan arteri dilakukan koagulasi mengelilingi daerah yang berdarah (Gambar 1.3). Koagulasi daerah perdarahan harus dilakukan dengan seksama dan cairan irigasi dialirkan secara minimal agar terlihat bagian prostat yang masih berdarah terutama arteri-arteri kecil (Gambar 1.4).
Gambar 1.3. Cara efektif dalam melakukan koagulasi secara melingkar
Gambar 1.4. Adanya billard efek dari perdarahan arteri yang menyebabkan sulitnya identifikasi perdarahan
Perdarahan yang disebabkan oleh vena dapat menyebabkan masuknya cairan irigasi ke aliran sistemik bila tidak teridentifikasi. Perdarahan pada sinus vena dapat dikoagulasi namun harus dilakukan dengan sangat hati-hati bila berhubungan dengan perforasi kapsul prostat. Perdarahan pada vena yang kecil dapat ditangani dengan
“three-way balloon” kateter saat selesai tindakan TURP, balon kateter diberikan 20cc lebih besar dibandingkan dengan volume prostat yang dikeluarkan (Gambar 1.5).
Gambar 1.5. Melakukan kompresi perdarahan vena kecil dengan kateter
Penanganan pendarahan paska TURP, dapat dilakukan dengan medikamentosa maupun dengan cara aktif. Cara aktif berupa kontrol pendarahan selama operasi dan pemasangan balon kompresi. Penanganan medikamentosa yaitu dengan cara pemberian antifibrinolitik (asam traneksamat); pemberian anti androgen;
maupun terapi lokal dengan epinefrin (Kavanagh et al. 2011). Pemberian anti fibrinolitik terutama berpengaruh untuk menstabilisasi proses penggumpalan darah (clotting).
Pendarahan paska TURP juga sangat jarang memerlukan transfusi. Studi oleh Mteta dkk menunjukkan bahwa transfusi pada pasien paska TURP biasanya adalah akibat penilaian klinis yang tidak tepat, sehingga memunculkan resiko pendarahan yang pada dasarnya dapat diminimalisir (Mteta, 2012). Dengan ditemukannya berbagai teknologi dalam alat TURP sekarang ini angka kejadian tranfusi dapat ditekan, dimana pada awal TURP didapatkan angka tranfusi 22% dan saat ini turun pada angka 0.4-7.1% (Rassweiler, 2006). Menurut studi oleh Ather et al, transfusi 2 unit darah diindasikan untuk menghindari anemia post operatif yang signifikan, yaitu ketika Hb post op berada di bawah 10 mg/dl (Ather, 2003)
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dari rekam medis pasien yang pernah dilakukan tindakan Transurethral Resection of the Prostate (TURP) untuk menilai hubungan penurunan nilai Hb dengan lama operasi dan berat prostat.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Pengambilan data dilakukan dari rekam medis pasien yang berobat di Bagian Urologi Rumah Sakit Adam Malik, Medan yang dilakukan TURP pada periode 1 Januari 2014 – 31 Desember 2015.
3.3 Populasi Penelitian 3.3.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah pasien dengan tindakan operasi TURP yang berobat di Rumah Sakit Adam Malik, Medan.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah dengan tindakan operasi TURP yang berobat di RS Adam Malik, Medan pada 1 Januari 2014 – 31 Desember 2015 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian.
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi penelitian ini adalah
Pasien BPH yang menjalani TURP mulai 1 Januari 2014 – 31 Desember 2015
3.4.2 Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi penelitian ini adalah
1. Pasien dengan operasi lain bersamaan dengan TURP 2. Pasien yang dihentikan tindakan karena komplikasi lain 3. Pasien yang mendapatkan tranfusi saat dilakukan TURP
3.4.3 Besar Sampel
Besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus pengambilan sampel sebagai berikut
N = . ( ) + 3
Dalam penelitian ini, variabel-variabel yang terdapat dalam rumus di atas ditetapkan sebagai berikut:
N = besar sampel
Zα = telah ditetapkan bahwa α adalah 0,05 sehingga Zα bernilai 1,96
Zβ = untuk power penelitian sebesar 80%, sehingga digunakan nilai Zβ sebesar 0.842
r = koefisien korelasi senilai 0.9 (Ungjaroenwathana,2007)
N1 = N2 = . .
. ( ,
, ) + 3
2.802
− ln 0.5 ( .
. ) + 3 −→ 2.802
−1.457 = 25
Sehingga jumlah sampel minimal untuk penelitian ini adalah 25 pasien.
3.5 Alur Kerja
3.6 Kerangka Konsep
3.7 Analisis Data
Data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan secara analitik. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS 20.
3.8 Definisi Operasional 1. Kadar Hemoglobin
Data nilai hemoglobin (Hb) didapatkan dari status rekam medik pasien. Data Hb yang diambil merupakan pemeriksaan sebelum dan sesudah operasi TURP. Kadar Hb dinyatakan dalam satuan g/dL. Pada penelitian ini, data Hb disajikan dan
Pasien yang dilakukan TURP
Diukur data Hb sebelum dan sesudah TURP, berat chip
prostat, dan lama operasi
Pengolahan dan analisis data
Waktu Operasi yang semakin lama
Jumlah perdarahan semakin meningkat
Hemoglobin menurun
Berat prostat yang dikeluarkan semakin banyak
dianalisis dalam bentuk numerik.
2. Hemoglobin Sesudah Operasi
Kadar hemoglobin yang diperiksa sesudah dilakukan TURP (post operasi).
3. Lama Operasi
Lama operasi didapatkan dari data laporan operasi pasien. Data lama operasi dinyatakan dalam satuan menit dan disajikan dalam bentuk numerik
4. Berat Prostat
Berat prostat didapatkan dari data laporan operasi pasien. Data berat prostat dinyatakan dalam gram dan disajikan dalam bentuk numerik. Menggunakan timbangan elektronik merk Kris
5. TURP
Trans Urethral Resection of Prostate, operasi reseksi prostat dengan menggunakan alat elektrocauter yang dilakukan oleh Residen Urologi di RSUP Haji Adam Malik.
3.9 Analisis dan Penyajian Data 3.9.1 Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi dari variabel yang dinilai baik dalam skala ordinal dan nominal. Selain itu dapat diperoleh nilai rata-rata, minimal, maksimal untuk data yang berskala numerik.
3.9.2 Analisis Bivariat.
Analisis bivariat pada penelitian ini untuk melihat korelasi antara penurunan kadar Hb dan lama operasi atau berat prostat dengan menggunakan uji Pearson jika didapatkan sebaran data normal. Akan tetapi, jika sebaran data tidak normal digunakan uji alternatifnya yaitu uji Spearman. Adapun kriteria korelasi yang digunakan adalah sebagai berikut:
r = 0; tidak ada korelasi
r = 0 – 0.5; korelasi lemah
r = 0.5 – 0.8; korelasi sedang
r = 0.8 – 1 korelasi kuat/ erat
r = 1, korelasi sempurna
3.10 Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk tabel disertai dengan penjelasan yang bersifat naratif.
3.11 Identifikasi variabel
1. Variabel bebas: lama operasi dan besar prostat 2. Variabel terkait: penurunan hemoglobin
BAB 4 HASIL
Setelah dilakukan pengumpulan data, terdata 27 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data mengenai karakteristik pasien ditampilkan pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Karakteristik Pasien
(mean ± SD) Range
Umur (Tahun) 69.15 ± 8.31 53 – 83
Berat Prostat yang dikeluarkan (gr) 26.78 ± 10.58 10 – 50 Penurunan kadar Hb (mg/dL) 1.32 ± 1.00 0 – 3.6
Lama operasi (menit) 71.67 ± 14.07 50 – 90
Dari tabel didapatkan bahwa rerata umur pasien adalah 69 tahun. Nilai rerata berat prostat yang di keluarkan kisaran 26.78 gr. Rerata perbedaan Hb setelah prosedur TURP ada pada kisaran 1.32 mg/dL. Rerata lama operasi pada sampel penelitian ini adalah 71.67 menit.
Tabel 4.2 Tabel dan Grafik Korelasi antara Penurunan Hb dan Berat Prostat
Korelasi Pearson Penurunan Kadar Hb
Berat Prostat Koefisien Korelasi .468*
Sig. (2-tailed) .014
N 27
18
Gambar 1.6 Korelasi antara Besar Prostat yang dikeluarkan dan Penurunan Hb
Data di atas kemudian dilakukan uji normalitas untuk menentukan apakah data berdistribusi normal. Hasil uji normalitas dengan uji Saphiro-Wilk menemukan bahwa variabel berat prostat yang dikeluarkan dan penurunan kadar Hb berdistribusi normal, sedangkan variabel lama operasi berdistribusi tidak normal. Oleh karena itu, dilakukan uji korelasi Pearson antara variabel berat prostat yang dikeluarkan dengan penurunan kadar Hb, dan didapatkan korelasi lemah dengan r = 0.47 (p= 0.014).
Tabel 4.3 Tabel dan Grafik Korelasi antara Penurunan Hb dan Lama Operasi
Korelasi Spearman Berat Prostat Penurunan Kadar Hb
Lama Operasi Koefisien Korelasi .371 -.108
p .057 .591
N 27 27
Gambar 1.7 Korelasi antara lama operasi dan penurunan Hb Meskipun dijumpai korelasi positif antara berat prostat dengan lama operasi TURP namun nilai korelasinya lemah (r = 0.371) dan belum signifikan (p = 0.057).
Sementara hubungan lama operasi dengan penurunan Hb sifat hubungan terbalik (negatif) yaitu makin cepat operasi berlangsung maka semakin cepat juga penurunan Hb dengan nilai (r = -0.108) dengan nilai statistik tidak bermakna (p = 0.591) (Tabel 4.3).
Tabel 4.4. Karakteristik Tindakan TURP yang Dilakukan oleh Residen Urologi No Jumlah
Operasi
Jumlah Pasien (n)
Jumlah Prostat Direseksi (mean, range)
Lama Operasi (mean, range)
1 < 10 7 26.42 gr, 13 – 40 gr 69.71 m, 60 – 90 m 2 10 – 20 17 27.05 gr, 10 – 50 gr 63.17 m, 50 – 90 m 3 > 20 3 26.62 gr, 20 – 30 gr 63.33 m, 60 – 70 m
* gr : gram; m : menit
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari jumlah operasi yang lebih banyak menentukan jumlah prostat yang direseksi lebih banyak dan lama operasi yang lebih pendek. (Tabel 4.4) Dari tabel 4.4 dengan anova satu arah diperoleh perbedaan yang tidak signifikan dalam berat prostat yang direseksi dan lama operasi diantara jumlah operasi < 10, 10 – 20, dan > 20 kali (p> 0.05).
BAB 5 PEMBAHASAN
Pada penelitian ini didapatkan rerata berat prostat yang dikeluarkan sebesar 26.78, hampir mendekati hasil berat prostat yang dikeluarkan pada penelitian oleh Reich dkk (2008), yaitu 28.4 gr. Pada penelitian tersebut, Reich juga mendapatkan adanya korelasi kuat antara besar prostat yang dikeluarkan dengan morbiditas, begitu juga dengan penelitian awal oleh Kirollos menemukan bahwa pada reseksi prostat dengan massa reseksi < 30 g dengan resiko transfusi setelah prosedur sekitar 1% (Kirollos, 1997). Kirollos juga menyatakan bahwa berat prostat merupakan faktor utama yang mempengaruhi jumlah perdarahan. Pada berat prostat yang <30 gram, transfusi darah tidak diperlukan, sementara pada pengeluaran jaringan melebih batas tersebut, transfusi biasanya diperlukan. Penelitian ini juga menyampaikan adanya faktor lain yang memepengaruhi seperti penggunaan regional anesthesia yang relatif membatasi jumlah perdarahan dibanding general anesthesia. Namun, efek penggunaan anesthesia ini tertutupi oleh besar efek berat prostat yang di keluarkan.
Sementara itu, dibandingkan penelitian Kirollos, penelitian kami hanya mendapatkan korelasi yang lemah antara berat prostat yang dikeluarkan dengan penurunan kadar Hb setelah prosedur. Hasil yang berbeda ini mungkin disebabkan karena pada penelitian oleh Reich dan Kirollos, parameter yang dinilai adalah morbiditas secara keseluruhan seperti adanya pendarahan, sindrom TUR, TURP berulang maupun infeksi saluran kemih. Sementara pada penelitian ini kami mengukur perbedaan kadar Hb sebagai hasil yang dihitung untuk menggambarkan morbiditas. Terdapat juga perbedaan karakteristik pasien, dimana pada penelitian Kirollos rerata usia pasien adalah 74 tahun sementara rerata usia pasien kami adalah 69 tahun.
Penelitian oleh Hahn dkk (2007) menyatakan bahwa terdapat penurunan kadar Hb sebesar 2.15 – 2.55 selama prosedur TURP. Hal ini cukup berbeda dengan hasil dari penelitian ini, dimana rerata penurunan kadar Hb adalah 1.32 dengan SD 1.00. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan nilai variabel yang terdapat pada
22
penelitian, dimana pada penelitian Hahn, rerata berat prostat dikeluarkan adalah 23 gram dengan lama operasi berkisar 45 menit. Sementara pada penelitian di rumah sakit Adam Malik ini kami mendata rerata berat prostat yang dikeluarkan adalah sekitar 27 gram dengan rerata lama operasi mencapai hamper 72 menit.
Penelitian oleh Hahn juga tidak menemukan adanya hubungan antara lama operasi TURP dengan berat prostat yang dikeluarkan maupun hubungan antara lama operasi dengan penurunan kadar Hb. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian kami yang tidak menemukan adanya korelasi yang bermakna secara signifikan antara lama operasi dengan berat prostat yang dikeluarkan dan penurunan kadar Hb.
Penelitian oleh Rassweiler dkk (2006) yang menilai insidens komplikasi akibat TURP dari tahun 1989 sampai 2005 menyatakan bahwa resiko komplikasi pendarahan pada prosedur TURP adalah tidak bergantung pada lama operasi, melainkan pada kemampuan operator dan instrumentasi yang digunakan. Pada penelitian kami, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengalaman operator (dilihat dari jumlah operasi TURP yang pernah dilakukan) dengan luaran lama operasi dan berat prostat yang direseksi. Sehingga, tidak terdapat perbedaan kemampuan operator pada data kami. Hal yang sama di dapatkan Descazeud dkk yang dalam penelitiannya menemukan bahwa rerata penurunan Hb pada prosedur TURP adalah 0.71 g/dL; dengan faktor yang berhubungan signifikan yaitu volume prostat, berat jaringan yang direseksi, kadar Hb preopratif dan lama operasi, tidak ditentukan oleh kemampuan operator. (Descazeud et al, 2010).
Penelitian lainnya terhadap 220 pasien dengan TURP oleh Mteta et al menemukan bahwa rerata penurunan Hb pada TURP adalah berkisar 1.1 g/dl, dengan reseksi prostat lebih dari 40 gr mempunyai hubungan signifikan dengan jumlah pendarahan selama tindakan (Mteta, 2012). Hal ini memang berbeda dengan temuan data penelitian kami yang menyatakan korelasi lemah antara berat prostat dengan penurunan kadar Hb. Namun, hal ini bisa dijelaskan dengan rasional karena terdapat perbedaan baseline berat prostat yang di keluarkan dimana pada penelitian Mteta mencapai 40 gram, sementara pada penelitian kami hanya sekitar 27 gram.
Pada penelitian dengan residen sebagai operator TURP didapatkan penurunan hemoglobin sebanyak 1.7 g/dl dan tidak terdapat kasus yang ditranfusi (Del Rosso,
2012). Dari penelitian Del Rosso dkk, membandingkan antara TURP yang dikerjakan oleh residen urologi dan spesialis urologi dalam hal volume prostat yang direseksi memiliki perbedaan yang signifikan, dengan hasil reseksi rata-rata oleh residen sebanyak 27 gram dan oleh spesialis urologi sebanyak 42 gram, hasil ini secara statistik berbeda bermakna (p<0.05). Namun pada penelitian ini dibandingkan antara sesama residen urologi yang dibedakan berdasarkan tingkat pengalaman jumlah tindakan TURP, didapatkan hasil secara statistik tidak bermakna. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah sample dan tidak secara keseluruhan tindakan dilakukan oleh satu residen urologi.
Penelitian oleh Shah et al pada tahun 2004 menyatakan hubungan antara penurunan Hb post operasi dengan faktor yang berhubungan. Dilaporkan pada penelitian ini bahwa berat prostat memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan penurunan Hb hingga memerlukan tranfusi (p < 0.001). Namun, perbedaan ini secara klinis dinilai tidak bermakna. Terlebih rasio pasien post operasi TURP yang membutuhkan transfusi darah hanya sekitar 0.85%. Oleh karena itu, penelitian ini bahkan tidak merekomendasikan pengecekan darah post operasi, karena dengan demikian dapat menekan risiko venaseksi dan menekan biaya secara ekonomis. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian kami yang menyatakan terdapat hubungan antara berat prostat dengan perbedaan Hb namun perbedaan ini hanya memiliki korelasi yang lemah. (Shah, 2004)
Levin et al menganalisa hubungan antara kehilangan darah selama operasi TURP terhadap lama operasi dan berat prostat yang direseksi. Setelah dilakukan analisa data dari sekitar 400 pasien, didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik. Perdarahan yang membutuhkan transfusi lebih besar risiko nya pada operasi yang lebih dari satu jam atau pada prostat yang lebih dari 30 gram. Rerata perdarahan yang dialami pasien adalah 15 ml per gram prostat yang direseksi (Levin, 1981)
Meski terbukti terdapat hubungan antara kehilangan darah dengan penurunan Hb, namun menurut penelitian Freedman, pengukuran Hb serial tidak diperlukan.
Pada penelitiannya tahun 1985, dikatakan bahwa pengukuran kadar hematokrit dan hemoglobin tidak signifikan pada perdarahan akut akibat operasi TURP. Pengukuran hemodinamik terpenting adalah monitoring anesthesia, tanda vital, dan volume perdarahan yang terjadi selama operasi. (Freedman, 1985)
BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara berat prostat yang dikeluarkan dengan penurunan kadar Hemoglobin.
6.2 Saran
1. Kelemahan dalam penelitian ini terdapat pada sample masing-masing kategori residen yang tidak merata, sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan sample yang lebih besar.
26
DAFTAR PUSTAKA
American Urological Association, 2010. American Urological Association Guideline: Management of Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).
Ather MH, Abid F, Faruqui N. Optimization of Low Preoperative Hemoglobin Reduces Transfusion Requirements in Patients Undergoing Transurethral Resection of Prostate. JPMA. 2003; 53(1): 4
Benninghoff, A. 1993. Makroskopische Anatomie, Embryologie und Histologie des Menschen. 15. Auflage. Munchen.
Bilhim, T. et al. Radiological Anatomy of Prostatic Arteries. Tech Vasc Interv Radiol. 2012 Dec; 15(4):276-85.
Bozdar, R. H., Memon, R. S., Paryani, P. J., 2010. Outcome Of Transurethral Resection of Prostate in Clinical Benign Prostatic Hyperplasia. J Ayub Med Coll Abbottabad.
Descazeaud A, Azzousi AR, Ballereau C et al. Blood loss during transurethral resection of the prostate as measured by the chromium-51 method. J Endourol 2010; 24: 1813–6
Del Rosso, et al. 2012. Resident Training in Urology: Bipolar Transurethral Resection of The Prostate – A Safe Method in Learning Endoscopic Surgical Procedure. Archivio Italiano di Urologia e Andrologia 2013; 85, 2.
Freedman M, Van Der Molen SW, and Makings E. Blood loss measurement during transurethral resection of prostate gland. British Journal of Urology 1985:57;311-316
Hahn, R.G. et al., 2007. Blood loss and postoperative complications associated with transurethral resection of the prostate after pretreatment with dutasteride. BJU international, 99(3), pp.587–594.
Kavanagh, L.E., Jack, G.S. & Lawrentschuk, N., 2011. Prevention and management of TURP-related hemorrhage. Nature Reviews Urology, 8(9), pp.504–514.
Kirollos MM, Campbell N. Factors influencing blood loss in transurethral resection of the prostate (TURP): Auditing TURP. Br J Urol 1997;80:111–115.
Lepor, H. 2007. Alpha Blockers for the Treatment of Benign Prostatic Hyperplsia.
Reviews in Urology, 9(4), 181-190.
Lepor, H., 2004. Pathophysiology, Epidemiology, and Natural History of Benign Prostatic Hyperplasia. Reviews in Urology, Volume 6.
Levin K, Nyren O, and Pompeius R. blood loss, tissue weight and operating time in transurethral prostatectomy. Scand J Urol Nephrol 1981: 15; 197-200.
Marszalek, M., Ponholzer, A., Pusman, M., Berger, I., Madersbacher, S. 2009.
Transurethral Resection of the Prostate. European Urology Supplements, (8), p504 – 512
Mteta, K.A., Musau P.N.K., 2012. Blood Transfusion in Transurethral Resection of the Prostate (TURP): A Practice that Can be A voided. EastCent.Afr.J.surg, 17(August), pp.52–64.
Muzzonigro G, Milanese G, Minardi D, Yehia M, Galosi AB, and Dellabella M.
Safety and Efficacy of Transurethral Resection of Prostate Glands up to 150 ml: A Prospective Comparative Study with 1 Year of Follow Up. The Journal of Urology 2004; 172: 611-615.
Presti, J.C., 2008. Neoplasm of The Prostate Gland. In E. Tanagho, ed. Smith’s General Urology. USA: The McGraw Hill Companies Inc.
Rahardjo, D., Birowo, P., Pakasi, L. S., 1999. Correlations between Prostate Volume, PSA and Age in the BPH Petients. Medical Journal of Indonesia, Volume 8.
Rassweiler J, Teber D, Kuntz R, Hofmann R. Complications of transurethral resection of the prostate (TURP)—incidence, management, and prevention.
Eur Urol 2006;50:969–80.
Reich O, Gratzke C, Bachmann A, et al. Morbidity, mortality and early outcome of transurethral resection of the prostate: a prospective multicenter evaluation of 10,654 patients. J Urol. 2008;180:246–9. Epub 2008 May 21.mar
Roehrborn, C.G., 1996. 103 - Benign Prostatic Hyperplasia: Etiology, Pathophysiology, Epidemiology, and Natural History. In Campbell – Walsh Urology 11th ed., Elsevier Inc. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/B978- 1-4557-7567-5.00103-5.
Ross, A.E., Rodriguez, R. 2008. Development, Molecular Biology, and Physiology of the Prostate. In Campbell – Walsh Urology 11th ED . Elsevier Inc, p 2393- 2424
Shah J and Nethercliffe J. Is routine post-operative haemoglobin measurement required after transurethral resection of the prostate? Transfusion Medicine.
2004;14:343-346
Simforoosh N, Abdi H, Kashi AH, Jare S, Tabibi A, Danesh A, Basiri A, and Ziaee SAM. Open Prostatectomy versus Transurethral Resection of the Prostate, where are We Standing in the New Era: A Randomized Controlled Trial.
Urology. 2010; 7:262-9.
Singodimedjo, P. 2000. International-Prostate Symptom Score sebagai Cara untuk Menentukan Derajat Hiperplasia Prostat Jinak dan Menilai Keberhasilan Tindakan Operasi Prostatektomi. Kumpulan Makalah Karya Ilmiah.
Jogjakarta.
Ungjaroenwathana W, Bunyaratavej C, Tosukhowong P, Dissayabutra T. Estimation of blood loss in transurethral resection of prostate (TUR-P) by urin-strip. J Med Assoc Thai. 2007 Nov;90(11):2409-15
Welliver, C. & Facs, K.T.M., 2013. 105 - Minimally Invasive and Endoscopic Management of Benign Prostatic Hyperplasia. In Campbell – Walsh Urology 11th ed. Elsevier Inc.
Lampiran 1 Susunan Peneliti
Peneliti
Nama lengkap : dr. Abdul Haris
Fakultas : Kedokteran
Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara
Pembimbing I
Nama lengkap : dr. Bungaran Sihombing, SpU Pangkat/Gol/NIP : 195510081983031013
Jabatan Fungsional : Staf Pengajar
Fakultas : Kedokteran
Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara Bidang Keahlian : Bedah Urologi
Pembimbing II
Nama lengkap : dr. Syah Mirsya Warli, SpU Pangkat/Gol/NIP : 196505051995031001 Jabatan Fungsional : Kepala Divisi Urologi
Fakultas : Kedokteran
Perguruan Tinggi : Universitas Sumatera Utara Bidang Keahlian : Bedah Urologi
Lampiran 2 RIWAYAT HIDUP
Nama : dr.Abdul Haris
Alamat : Jl,Syukur no 40/2A, Kel.Sitirejo II, Kec. Medan Amplas, Medan
Telepon : 061 – 7879987
HP : 081397609336
Tempat / tgl. lahir : Jakarta, 21 Mei 1974
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Pendidikan
1. SD No. 59 Padang, 1981 – 1987 2. SMP Adabiah Padang, 1987– 1990 3. SMA No. 10 Palembang, 1990
4. SMA Nasional Gultom Medan ,1990-1993
5. S-1 Sarjana Kedokteran (S.Ked), Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, 1993 – 1998
6. Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, 1998 – 2001
Lampiran 3
Rencana Anggaran Penelitian
No Uraian Jumlah
1 Honorarium Rp 1.800.000,-
2 Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian Rp 700.000,-
3 Pemeriksaan Rutin Rp ~
4 Penggandaan Proposal dan Laporan Penelitian Rp 1.500.000,-
Total Rp 4.000.000,-
Sumber dana ditanggung sepenuhnya oleh peneliti.
Lampiran 4 Jadwal Penelitian
Maret 2016
April 2016
Mei 2016 PERSIAPAN
PELAKSANAAN PENYUSUNAN LAPORAN PENGGANDAAN LAPORAN