• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembaca budiman, selamat bertemu kembali dengan Baca! edisi 09,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pembaca budiman, selamat bertemu kembali dengan Baca! edisi 09,"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Dari reDaksi

Daftar isi

P

embaca budiman, selamat bertemu kembali dengan Baca! edisi 09, Mei – Juni 2015. Tak lupa kami sampaikan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan dan Idul Fitri 1436 H, mohon maaf lahir- batin.

Pada edisi ini kami sajikan Laporan Utama yang berhubungan dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dalam undang-un- dang tersebut banyak pasal yang mengatur tentang informasi, transpa- ransi, dan keterbukaan informasi. Undang-undang tersebut juga menjadi landasan mengucurnya dana yang cukup besar dari pemerintah pusat dan menginisiasi terwujudnya “otonomi desa” di masa men- datang.

Oleh karena itu desa yang menerima APBN (ataupun APBD) adalah suatu Badan Publik. Jika dia Badan Pu- blik maka terkena ketentuan Undang-Undang Nomor 14 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Dalam konteks itulah topik ini kita bahas. Sejak dari perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan di desa dan penggu- naan anggarannya, harus melibatkan publik. Demikian juga dari sisi pengawasannya. Komisi Informasi di dae- rah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, diharapkan perhatian dan intensitasnya dalam ikhwal ini.

Hal lain yang penting dimuat di Buka! edisi ini adalah soal peringatan kelahiran UU KIP. Seperti kita ketahui, UU KIP dilahir- kan pada 30 April 2008 dan mulai dilaksanakan dua tahun berikutnya atau 30 April 2010. Dalam rangka memperingati itu, KIP menggelar serang- kaian acara yang dihadiri sejumlah pihak, termasuk para Komisioner KI Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pada saat itu, ada dua hal bersejarah yakni mulai dikumandangkannya Mars KI dan pencanangan Hari Keterbukaan Informasi Nasional (KIN). Mengapa harus ada KIN? Dalam Fokus edisi kali ini kami paparkan.

Selain Laporan Utama dan Fokus, seperti edisi-edisi sebelumnya, tetap kami sajikan berita-berita kronikal tentang kegiatan dan sidang-sidang, baik di pusat (KIP) maupun KI Daerah. Ini tak lain sebagai sebuah bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada publik. Dana dari APBN yang kami terima harus dipertanggungjawabkan dengan mengekspos apa yang kami lakukan. Dengan pengungkapan segala kegiatan, maka segala “gerak-ge- rik” KIP, utamanya para komisionernya, juga dapat dipantau oleh publik.

Selamat membaca Buka! dengan wajah baru. Salam keterbukaan!

Ketua Dewan Redaksi

BUKA!

i n f o r m a s i p u b l i k komisi informasi pusat republik indonesia

Mengawal Transparansi

Dana Desa

Fokus: Mengakselerasi keTerbukaan inForMasi kegiaTan kip: inDonesia Tuan ruMah iCiC X Tahun 2017

opini:

Menggelorakan lagi ogi

Edisi 09/Juni-Juli 2015 www.komisiinformasi.go.id

komisi informasi pusat republik indonesia

dari redaksi 1

laporan utama 2

aspirasi 8

fokus 12

kegiatan ki pusat 18

sidang ki pusat 22

kegiatan ki provinsi 26

opini 31

Penerbit:

komisi informasi pusat (kip) ri Penanggung Jawab:

ketua dan Wakil ketua komisi informasi pusat ri

Dewan Redaksi:

abdulhamid dipopramono (ketua), dyah aryani prastyastuti, evy trisulo dianasari, Henny s Widyaningsih, John fresly, rumadi ahmad, Yhannu setyawan, Bambang Hardi Winata Pemimpin Redaksi:

komisioner kip Bidang ase Manajer Umum:

sekretaris kip Staf Redaksi:

feri firdaus, leny sulistiani, muhammad salim (karel), reno Bima Yudha, tya tirtasari

Fotografer:

abdul rahman

Proses Cetak dan Distribusi:

dedy gunawan Staf Sekretariat:

alissa riandini aulia

redaksi menerima sumbangan tulisan dari masyarakat, khususnya artikel opini, terkait isu-isu keterbukaan informasi publik dan transparansi.

tulisan opini panjangnya 2.500 – 3.000 karakter dengan dilampiri identitas beserta foto headshot (bukan pasfoto). artikel dikirim via email ke:

[email protected].

Alamat Redaksi:

gedung ppi/itC lantai 5,

Jln. abdul muis no. 8 Jakarta pusat 10160. telepon 021 348 30741, fax 021 348 30757.

situs: www.komisiinformasi.go.id.

twiter: @kipusat.

i n f o r m a s i p u b l i k

i n f o r m a s i p u b l i k

(2)

laporan utama

Mengawal

Transparansi

Dana Desa

(3)

p

Penyaluran dana desa sebesar Rp20,7 triliun kepada 74.093 desa yang tersebar di 434 kabupaten/kota di seluruh Indo- nesia, segera digulirkan. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah Indonesia:

pemerintah mengalokasikan dana dalam jumlah cukup besar ke desa. Namun, di tengah kabar baik tersebut, banyak pi- hak mengkhawatirkan pengelolaan dana desa yang sangat rawan diselewengkan.

Pemerintah diharapkan dapat membuat sistem pengawasan yang ketat agar dana desa tersebut benar-benar tepat sasaran dan dapat dirasakan langsung manfaat- nya oleh masyarakat.

“Sebelum dana desa itu digulirkan, pemerintah haruslah lebih dulu memas- tikan kepala dan aparat desa mempunyai kapasitas untuk mengelola dana yang nilainya cukup besar itu. Baik terkait kapasitas perencanaan, implementasi, maupun pelaporan,” ujar Komisioner Komisi Informasi Pusat Rumadi Ahmad di Jakarta, Rabu (10/6).

Menurutnya, tanpa itu semua, dana desa tidak akan punya banyak arti un- tuk meningkatkan kesejahteraan ma- syarakat desa. Selain itu, lanjut Rumadi, aparat desa juga harus diberikan wa- wasan tentang keterbukaan Informasi Publik. Hal ini penting agar prinsip- prinsip tata kelola pemerintahan yang baik bisa diterapkan. Utamanya me- nyangkut transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik, dan keadilan.

Di tempat lain, komitemen serius untuk mengawal dana desa yang akan

mulai disalurkan ditunjukkan

oleh Komisi Informasi Provinsi Suma- tera Utara (KI Sumut). Sebagai lembaga mandiri yang menjadi garda terdepan dalam mendorong keterbukaan Infor- masi Publik di daerahnya, KI Sumut berjanji akan melakukan pengawalan dan mendorong aparat desa agar trans- paran dan bertanggungjawab terhadap setiap anggaran yang dibelanjakannya.

Sebab, masyarakat berhak untuk tahu

sebagaimana yang telah dijamin oleh UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Ke- terbukaan Informasi Publik.

“Hak masyarakat terhadap Infor- masi Publik tidak hanya harus dipenuhi pada tingkat provinsi atau kabupaten/

kota saja, tapi juga harus menjangkau sampai dengan tingkat kelurahan/desa,”

ujar Komisioner KI Sumut Syahyan. Me- nurutnya, dana desa yang begitu besar, harus diketahui pemanfaatannya oleh publik. Jika tidak, kata Syahyan, dana yang besar tersebut sangat rentan digu- nakan untuk kepentingan pribadi mau- pun golongan.

Kekhawatiran akan terjadinya pe- nyelewengan dana desa juga diungkap- kan oleh Forum Indonesia Untuk Trans- paransi Anggaran (Fitra). Sebagaimana beritakan oleh Cnnindonesia.com, Ma- na ger Advokasi dan Investigasi Fitra Apung Widadi menilai, potensi adanya mafia dana desa cukup tinggi. Hal itu menurutnya dipicu adanya kebijakan dana desa yang tidak 100 persen turun ke desa. “Urutannya, dari pusat ke kabu- paten. Lalu dari kabupaten diolah lagi dengan berbagai perumusan daerahnya.

Biasanya oleh kabupaten digunakan un- tuk belanja pegawai dan sebagainya, akhirnya turun ke desa cuma sekitar 50- 60 persen dari anggaran yang ada,” kata Apung. Dana desa juga berpotensi disele- wengkan karena bertepatan dengan Pil- kada langsung. Menurut Apung, daerah saat ini kekurangan dana pelaksanaan Pilkada karena belum teralokasi di APBD. Selain itu, ujar Apung, dana desa

“Hak masyarakat terhadap informasi publik tidak hanya harus dipenuhi pada tingkat provinsi atau kabupaten/

kota saja,  tapi juga harus menjangkau sampai dengan tingkat kelurahan/desa.”

Syahyan

komisioner ki sumut

(4)

sional (Rakornas) Percepatan Penya- luran Dana Desa Tahap Pertama 2015 di Jakarta sebagaimana dikutip dari Antaranews.com, Senin (25/5).

UU Desa, imbuh Marwan, juga telah menempatkan masyarakat desa sebagai sasaran sekaligus pelaku pembangunan desa. Sedangkan, pemerintahan desa berperan sebagai penggerak pem- bangunan dan pemberdayaan desa guna mewujudkan kesejahteraan masyara- kat. Bagi para kepala desa dan aparat desa, lanjut dia, yang menjadi tantangan saat ini adalah kesiapan untuk menyu- sun perencanaan pembangunan dan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa secara tepat, terukur, dan transparan sesuai dengan potensi dan prioritas kebutuhan desa. “Juga kesiapan untuk mengelola keuangan desa secara berhati-hati, transparan, dan akuntabel guna mewujudkan tata kelola pemerin- tahan yang baik di desa,” tambahnya.

Agar penyaluran dana desa tahap awal tahun 2015 ini lancar, sambung dia, ada beberapa hal pokok yang diha- rapkan menjadi masukan bagi para gu- bernur serta bupati atau wali kota, serta melaksanakan sosialisasi dan pelatihan kepada aparat pemerintah daerah mau- pun aparat desa agar mempunyai pema- haman yang tepat dan kompetensi yang memadai dalam melaksanakan Undang- Undang Desa. “Diharapkan semua aparat desa akan mempunyai pemahaman dan kompetensi yang baik dalam mengelola pemerintahan, pembangunan, dan ke- uangan Desa,” kata Marwan.

PenDAMPingAn APARAt DeSA Marwan sepenuhnya memahami akan pentingnya melakukan pendampingan kepada aparat desa dalam menyusun pe- rencanaan dan penganggaran desa, pe- laksanaan teknis program atau kegiatan desa, penatausahaan dan akuntansi, serta penyusunan laporan keuangan dan pertanggungjawaban desa. Pihaknya juga akan melakukan proses merekrut, melatih, dan mendistribusikan tenaga pendamping baru ke desa-desa di selu- ruh Indonesia. “Direncanakan (tenaga pendamping, Red.) akan dimulai proses perekrutan dan seleksinya pada per-

tengahan bulan Juni 2015,” cetusnya.

Sehingga ditargetkan akan siap diter- junkan untuk menjadi pendamping desa mulai Juli hingga akhir Desember 2015, akan dilanjutkan dan diperluas cakupan wilayah kerjanya pada 2016.

Senada dengan Marwan, sebagai- mana diberitakan Antaranews.com, Wa- kil Ketua Komisi II DPR RI Lukman Edy mengatakan telah jauh-jauh hari meng- ingatkan pemerintah agar penyaluran dan alokasi dana desa harus “dikawal”

oleh tim pendamping guna menghin- dari potensi penyimpangan. “Saat ini sudah ada sekitar 35.000 tenaga pen- damping alumni dari program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Ma- syarakat) Mandiri,” kata Lukman. Me- nurutnya, jumlah 35.000 orang tenaga pendamping itu akan disebar ke setiap kecamatan di seluruh Indonesia dan masing-masing kecamatan akan ditem- patkan dua pendamping. Berikutnya, kata dia, pemerintah melalui Kemen- terian Desa akan merekrut lagi seba- nyak 50.000 tenaga pendamping untuk ditempatkan di desa-desa.

Lukman menambahkan, ia juga sa- ngat memberikan perhatian terhadap laporan pertanggungjawaban dana desa dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang mengatur laporan dana desa disampaikan secara berjenjang dari pe- merintahan desa ke pemerintahan ke- camatan, ke pemerintahan kabupaten, hingga ke pemerintah pusat. Menurut- nya, waktu pelaporan tersebut sangat lama dari tingkat desa sampai ke peme- rintah pusat hingga melampaui tahun anggaran, sehingga sulit untuk mela- kukan pengawasan. Pada rapat kerja antara Komisi II dan Menteri Dalam Negeri serta Menteri Keuangan, kata Lukman, Komisi II DPR RI mengusul- kan Pemerintah merevisi PP Nomor 60 Tahun 2014 sehingga pengawasannya dapat dilakukan setiap saat.

Menurutnya, agar dana desa dapat diawasi setiap saat, maka salah satu so- lusinya kantor desa dilengkapi dengan perangkat teknologi informasi sehingga informasi yang di”input” langsung da- pat diakses oleh seluruh pemerintah rawan dipolitisasi oleh calon petahana

dalam bentuk distribusi alokasi ke desa yang tidak merata dan diarahkan pada desa basis pendukung calon.

Menyadari besarnya kekhawatiran dari berbagai pihak perihal penyaluran dan pengelolaan dana desa, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar lalu mengingatkan kepala daerah hingga kepala desa bahwa besarnya pengalo- kasian dana desa bagi setiap desa harus dikelola secara benar, penuh tanggung jawab, dan bebas korupsi. Undang-Un- dang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa) telah menempatkan Kepala Desa sebagai pemegang kekuasaan pe- ngelolaan keuangan desa. “Dengan be- sarnya tanggung jawab pengelolaan ke- uangan desa tersebut, maka diperlukan peningkatan kapasitas atau kemampuan para kepala desa dan perangkat desa lainnya tentang pengelolaan keuangan,”

ujar Marwan dalam Rapat Kerja Na-

laporan utama

“dengan besarnya tanggung jawab pengelolaan keuangan desa tersebut,

maka diperlukan peningkatan kapasitas atau kemampuan para kepala desa dan perangkat desa lainnya tentang pengelolaan keuangan.”

Marwan Jafar

menteri desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi

(5)

daerah maupun pemerintah pusat. Luk- man juga mengusulkan format laporan pertanggungjawabannya dibuat seder- hana karena paradigma orang desa ada- lah sederhana. Mantan Menteri Perce- patan Pembangunan Daerah Tertinggal ini melihat kemampuan kepala desa dan perangkat desa masih berbeda-beda.

Menteri Keuangan Bambang Bro- djo negoro, sebagaimana dikabarkan Antaranews.com, mengamini apa yang disampaikan Menteri Marwan dan Ko- misi II DPR RI perihal pentingnya tata kelola dan pendampingan dalam pe- manfaatan dana desa. Hal tersebut agar dana desa benar-benar digunakan un- tuk pembangunan infrastruktur desa dan pemberdayaan masyarakat desa sesuai prioritas yang ditetapkan Kemen- terian Desa, PDT, dan Transmigrasi.

“Jangan lupa ini pertama kali pemerin- tah mencairkan dana desa, kita harap pengelolaan keuangan dana desa bisa dibantu. Jadi akan ada pendampingan, pelatihan sosialisasi ke penegak hukum, supaya semua sepaham, karena ini baru pertama kali dan semua bisa belajar dari pengelolaan dana desa,” ujarnya.

Menurut Menkeu, pendampingan kepada aparat desa dalam menyusun pe- rencanaan, penganggaran dan laporan pertanggungjawaban dana desa bisa disiapkan Kementerian Desa, PDT, dan

luran dana desa hingga 25 Mei 2015 baru mencapai Rp4,4 triliun atau 20 persen dari pagu APBNP sebesar Rp20,7 tri- liun. Situasi tersebut yang membuat pe- nyaluran dana desa tahap pertama baru diberikan untuk 234 kabupaten kota yang telah memenuhi syarat atau sekitar 53 persen dari kewajiban penyaluran ta- hap pertama.

Pemerintah telah memutuskan pe- nyaluran dana desa senilai Rp20,7 triliun dari rekening kas umum negara ke reke- ning kas umum daerah kabupaten atau kota serta rekening desa untuk dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama seba- nyak 40 persen dicairkan paling lambat minggu kedua April, setelah pemerintah daerah menyampaikan perda APBD dan peraturan bupati atau peraturan wali kota mengenai pembagian dana desa ke- pada setiap desa. Tahap kedua sebanyak 40 persen paling lambat minggu kedua Agustus 2015 dan tahap ketiga sebanyak 20 persen paling lambat minggu kedua Oktober 2015, yang sama-sama dicairkan setelah pemerintah daerah menyampai- kan laporan realisasi penggunaan dana desa semester I tahun berjalan.

KPA DJPK

Menerbitkan SPM KPPn Jakarta ii selakuKuasa BUn Menerbitkan SP2D

Bank Operasional

Melaksanakan transfer DD ke Kab/Kota (dari RKUn ke RKUD)

Pemerintah Kab/Kota Melaksanakan transfer DD ke Desa

(dari RKUD ke RKUDes) pemerintaH

kaB/kota (mekanisme transfer apBd)

pemerintaH pusat (mekanisme transfer apBn)

MekanisMe penyaluran Dana Desa

1 2 3

4

Rekening KAS DeSA

5

sumBer: kementerian keuangan

“Jangan lupa ini pertama kali

pemerintah mencairkan dana desa, kita harap pengelolaan keuangan dana desa bisa

dibantu...”

Bambang Bro djo negoro

menteri keuangan

Transmigrasi, termasuk memberdaya- kan fasilitator eks PNPM. Secara keselu- ruhan, kekurangan syarat administrasi tersebut yang membuat realisasi penya-

(6)

Formulasi pengalokasian dana desa ke setiap desa sesuai amanat UU Nomor 6 Tahun 2014 ditetapkan melalui alokasi dasar yang ditetapkan 90 persen dari pagu dana desa Rp20,7 triliun atau setara dengan Rp18,7 triliun. Dengan jumlah desa seluruh Indonesia mencapai 74.093 buah, maka alokasi dasar, yaitu alokasi minimal yang diterima setiap desa ada- lah sekitar Rp252 juta. Sisanya 10 persen berasal dari jumlah anggaran dana desa dialokasikan berdasarkan formula.

SiSteM inFORMASi DeSA

Komisi Informasi sebagai lembaga man- diri yang telah diamanatkan UU KIP untuk menjamin pemenuhan hak ma- syarakat dalam mengakses Informasi Publik, memiliki tanggung jawab moral yang tinggi dalam mencegah terjadinya tindakan korupsi di desa sebagai bagian dari badan publik pemerintah. Masya- rakat menaruh harapan besar kepada seluruh Komisi Informasi khususnya yang ada di daerah untuk melakukan tindakan-tindakan preventif sehingga penyaluran dan pengelolaan dana desa menjadi lebih transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan. Se- lama ini, ada kesan hanya Badan Publik di tingkat pusat, provinsi, dan kabu- paten/kota saja yang cenderung telah bersentuhan langsung dengan UU KIP maupun Komisi Informasi, sedang desa masih belum begitu tersentuh.

Namun, hal berbeda ditunjukkan oleh Komisi Informasi Provinsi Jawa Tengah (KI Jateng). Komisioner KI Jateng Nur Fuad mengatakan, pihaknya telah berkonsolidasi dengan Badan Per- musyawaratan Desa (BPD) yang ada di Jawa Tengah dalam penerapan Undang- Undang Desa. Konsolidasi ini, jelas Fuad, bertujuan agar pemerintah desa dapat menyiapkan infrastruktur yang menjamin pengelolaan dana desa da- pat berlangsung secara transparan. Se- hingga, dalam hal penerapan UU Desa, kepala desa dan jajarannya sudah siap dari sisi transaparansi informasi dalam pengelolaan dana desa.

“Kita sudah berkerja sama dengan pemerintah daerah untuk memberikan bimbingan teknis tentang pemahaman

terhadap UU KIP kepada kepala desa yang ada di Jateng,” terang Fuad. Diri- nya melihat bahwa pemerintah desa saat ini masih butuh pendampingan dalam hal keterbukaan informasi. Sebab, me- nurutnya masih banyak aparatur desa yang belum paham mengenai UU KIP.

Selain itu, ia sepakat bahwa kapasitas pemerintah desa dalam mengelola dana desa dan melibatkan publik dalam pen- gawasannya perlu ditingkatkan. Hal ter- sebut agar dapat menutup celah korupsi baik yang terjadi karena disengaja mau- pun karena ketidakpahaman terhadap prosedur dan administrasi.

Pemerintah desa, sambung Fuad, harus menyiapkan sistem informasi pemerintah desa, agar informasi yang memang menjadi hak masyarakat desa dapat terpenuhi. Tidak harus lewat web- site, namun lewat media yang disesuai- kan dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat desa, seperti lewat papan pengumuman dan sebagainya. Pihak- nya juga akan mendorong agar masyara- kat desa dapat berpartisipasi aktif dalam memonitor program yang dijalankan

Provinsi Aceh Rp 1.707.817.995

Provinsi Sumatera Utara Rp 1.461.156.834

Provinsi Sumatera Barat Rp 267.003.839

Provinsi Riau Rp 445.646.965

Provinsi Jambi Rp 381.560.156

Provinsi Sumatera Selatan Rp 775.043.818 Provinsi Bengkulu

Rp 362.962.239

Provinsi Lampung Rp 684.727.653

Provinsi Banten Rp 352.516.368 Provinsi Jawa Barat

Rp 1.589.711.596 Provinsi Kepulauan Riau

Rp 79.199.724

laporan utama

“kita sudah berkerja sama dengan

pemerintah daerah untuk memberikan bimbingan teknis tentang pemahaman terhadap uu kip kepada kepala desa yang ada di Jateng.”

nur Fuad

komisioner ki Jateng

“mereka jadi tahu informasi apa saja yang wajib diumumkan dan disediakan untuk publik.”

Ajeng Roslinda

komisioner ki ntB

(7)

Provinsi Di Yogyakarta Rp 128.076.618

Provinsi Jawa timur Rp 2.214.014.855 Provinsi Jawa tengah Rp 2.228.889.296

Provinsi Kalimantan Barat Rp 537.066.678

Provinsi Kalimantan tengah Rp 403.351.015

Provinsi Kalimantan Selatan Rp 501.119.950

Provinsi Kalimantan Utara Rp 129.874.894

Provinsi Kalimantan timur

Rp 240.542.413

Provinsi Sulawesi Utara Rp 402.546.360 Provinsi Sulawesi tengah

Rp 500.301.180

Provinsi Sulawesi Selatan Rp 635.355.795 Provinsi Sulawesi tenggara

Rp 496.077.234

Provinsi Bali Rp 185.428.984

Provinsi ntB Rp 301.797.520 Provinsi Bangka Belitung

Rp 91.927.560

Provinsi gorontalo Rp 179.957.839

Provinsi Maluku Utara Rp 291.071.202

Provinsi Papua Barat Rp 449.326.962

Provinsi Papua Rp 1.433.226.742

Provinsi Maluku Rp 334.004.517 Provinsi ntt

Rp 812.875.565 Provinsi

Sulawesi Barat Rp 162.019.634

rp. 20.766.200.000 ToTal Dana

sumBer: diolaH dari data kementerian keuangan (27 maret 2015)

oleh pemerintah desa dengan mem- berikan sosialisai ke masyarakat desa.

“Informasi mengenai pengelolaan dana desa harus dapat diakses masyarakat dengan cara yang mudah, biaya ringan, dan sederhana,” tandas Fuad.

Berbeda dengan KI Jateng yang te- lah mulai melakukan konsolidasi de- ngan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengawal dana desa, Komisi Informasi Provinsi Nusa Tenggara Ba- rat (KI NTB) memilih pendekatan lain.

Untuk mendorong transparansi infor- masi di desa, Komisioner KI NTB Ajeng Roslinda meminta Komisi Informasi Pusat untuk segera mengeluarkan se-

buah regulasi yang mengatur tentang standar layanan Informasi Publik di tingkat desa. Dari regulasi tersebut, kata Ajeng, perangkat desa diharapkan menjadi lebih paham dan tahu menge- nai transparansi informasi sehingga mampu melaksanakannya. “Mereka jadi tahu informasi apa saja yang wajib diumumkan dan disediakan untuk pu- blik,” jelasnya.

Ajeng membandingkan pengelo la- an dana desa dengan pengelolaan be- ras untuk orang miskin (raskin) oleh pemerintah desa yang selama ini cen- derung dilakukan secara tertutup. Ia mencontoh kan, informasi tentang siapa

saja yang berhak mendapatkan raskin dan jumlah raskin yang didistribusikan oleh pemerintah desa, masih dinilainya dilakukan secara tertutup. Oleh kare- nanya, lanjut Ajeng, dengan dana besar yang dikeluarkan oleh pemerintah, di- butuhkan tanggung jawab yang besar pula dalam pengelolaannya. “Terutama mereka harus melibatkan peran serta publik agar pengelolaan dana desa bisa dilaksanakan secara transparan dan akuntabel,” tandas Ajeng. l

rincian Dana Desa MenuruT provinsi

reporter: feri firdaus, reno Bima Yudha penulis: feri firdaus editor: abdulhamid dipopramono

(8)

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

$$$ $$$

$$$ $$$

$$$ $

Menyoal

iMpleMenTasi Dan pengawasan Dana Desa

aspirasi

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa) akan dijalankan secara bertahap mulai tahun 2015. UU Desa menyebutkan bahwa desa akan mendapatkan tambahan dana khusus untuk meningkatkan pembangunannya.

Bagaimana pandangan para Komisioner KI

Provinsi? Berikut pandangan mereka.

(9)

Yuli Zulaikha

Komisioner KI Jawa Timur

d

i Jawa Timur masih banyak desa dikepalai oleh kepala desa, bukan lurah, terutama yang letaknya di wilayah pinggir. Desa-desa ter- sebut memiliki anggapan bahwa mereka bukan Badan Publik dengan alasan karena dipilih langsung oleh masyarakat dan memiliki pikiran kalau kepala desa tidak bertanggung jawab secara langsung kepada pe- merintah. Hal ini mengkhawatirkan karena dengan persepsi seperti itu pengelolaan dana yang akan me- reka dapatkan akan dilakukan atas kemauan mereka sendiri.

Oleh karena itu saya menilai bahwa keterbukaan harus menjadi bagian penting yang diutamakan da- lam proses pengelolaan dana desa. Masyarakat harus tahu berapa uang yang didapat, bagaimana penggu- naannya, dan laporannya dapat diakses oleh masyara- kat. Dengan mengedepankan keterbukaan dalam pe- ngelolaan dana desa maka tindakan penyelewengan dapat diminimalisasi bahkan dihindari.

Mengacu pada UU KIP dan UU Desa, kita perlu membuat petunjuk teknis bagaimana layanan infor- masi di perdesaan itu harus diberikan. Saya berharap pada masa mendatang KI Jatim menerima sengketa informasi terkait dengan penyaluran dana desa se- hingga lurah-lurah semakin paham UU KIP. Untuk itulah KI Jatim terus melakukan melakukan sosiali- sasi soal ini. l

liZa DaYani Komisioner KI Aceh

s

ecara umum, para kepala desa sudah tahu sis- tem penyaluran dana desa yang akan mereka dapatkan sesuai Undang-undang Desa. Penya- luran dana desa di Aceh berdasarkan pada ABG (Alo- kasi Dana Gampong). Tapi akhir-akhir ini terdapat permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat Aceh, yakni ABG yang disusun berdasarkan rencana pembangunan yang ada di Gampong diminta untuk diulang untuk RPDG. Sementara kepala desa sudah menyusun rencana sejak tiga tahun lalu sehingga re- pot untuk mengakses informasi dana tersebut.

Saya menilai secara umum masyarakat belum tahu tentang dan desa dan ini menandakan bahwa sistem belum terbuka. Beberapa kepala desa di Aceh pernah dikumpulkan oleh Bappeda untuk diminta menyusun dan mengajukan program kerja Gampong agar dana bisa diakses. Tapi itu menyebabkan mereka harus me- nyusun ulang sehingga memakan waktu. Dengan sis- tem seperti itu kecil kemungkinan publik bisa turut mengawasi. Secara keseluruhan warga Gampong pun tidak bisa melakukannya sendiri dan harus melalui perwakilan-perwakilan. Hal itu tidak mudah.

Jangakan mengawasi dana desa, untuk mernga- wasi raskin saja tidak bisa. Oleh karena itu masyarakat perlu disiapkan untuk ikut berpartisipasi mengawasi pengelolaan dana desa. Saya berharap pemerintah da- pat mengatur sistem pengelolan dana Gampong yang benar, bukan hanya diketahui oleh kepala desa dan camat saja. Harus ada pemaparan yang lebih jelas de- ngan sistem yang terbuka.

Sebenarnya KI Aceh pernah terlibat dengan tim yang melakukan sosialisasi UU Desa dan memberikan pengarahan khusus tentang keterbukaan Informasi Publik. Sayangnya sosialisasi tersebut tidak masif dan hanya dilakukan di beberapa titik saja diakibatkan ke- terbatasan sumber daya anggaran. l

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$ Menyoal iMpleMenTasi Dan pengawasan Dana Desa

(10)

SYamSul Rani

Komisioner KI Kalimantan Selatan

i

dealnya sebelum dana desa dikucurkan, sosial- isasi terhadap masyarakat baik aparat pemerintah desa, maupun masyarakat umum harus dilakukan.

Aparat desa maupun masyarakat harus tahu dengan jelas peruntukkan dana tersebut dan bagaimana pe- ngelolaannya. Setiap desa harus dibekali pedoman pengelolaannya agar penyelenggaraannya bisa efek- tif, efisien, dan sesuai sasaran. Karena tanpa pengeta- huan dan pemahaman yang jelas dikhawatirkan jus- tru membuat masyarakat terjerat masalah hukum.

Harus ada juklak yang jelas, BPD dan kepala desa harus diberi pemahaman yang sama. Demikian pula aparat desanya dididik dengan benar. Selama ini desa tidak pernah diserahi tanggung jawab untuk menge- lola uang sebesar yang dijanjikan pemerintah. Maka pelatihan harus clear dari A sampai Z ,baru kemudian dana dikucurkan.

Demi kelancaran pengelolaan dana desa, KI Kali- mantan Selatan berkomitmen untuk mensosialisasi- kan transparansi di desa-desa. Kami siap untuk di- libatkan oleh pemerintah daerah untuk memberikan awarness kepada masyarakat tentang keterbukaan Informasi Publik. Meskipun tidak bicara mengenai juklak dan juknis pengelolaan anggaran, namun KI bisa mengambil bagian dalam mengajak masyarakat ikut mengawal dan mengawasi pengelolaan dana desa tersebut.

Apa yang harus dipersiapkan agar publik dapat ikut mengawasi pengelolaan dana desa ini adalah transparansi sejak awal. Kapan dana dikucurkan, kepada siapa, peruntukannya apa, pengawasan oleh siapa, semuanya perlu dipublikasikan untuk kejelasan informasi tersebut. Caranya melalui media, karena saat ini penggunaan media papan pengumuman ma- sih menjadi media penting di desa maka penggunaan- nya perlu dimaksimalkan. l

anDaYani Komisioner KI NTB

s

istem penyaluran dana desa di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih kecil realisasinya karena masih ada sharing dengan APBD. Sebenarnya penyaluran dana desa masih menimbulkan gejolak karena belum ada pemerataan. Realisasinya pun be- lum sesuai dengan sasaran yang dituju.

KI NTB sudah menyuarakan untuk keterbukaan dana desa, yakni dengan melakukan sosialisasi. Kami memanfaatkan undangan dari pemerintah kabupaten yang dihadiri oleh para camat dan lurah untuk mem- berikan pencerahan mengenai keterbukaan informasi dalam pengelolaan dana desa. Dalam setiap kegiatan sosialisasi yang mengundang kepala desa di kabupaten, KI NTB terus menyuarakan transparansi. Karena pe- merintahan Desa sebagai bagian dari pemerintah dae- rah merupakan Badan Publik yang terikat UU KIP.

Desa punya kewajiban menyampaikan informasi se- tiap saat maupun berkala yang terkait dengan program, kegiatan, dan anggaran terkait dengan lembaganya.

Apalagi regulasi turunan dari UU Desa sudah ada, yaitu PP Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang ber- sumber dari APBN. Kemudian Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.

Dengan adanya aturan-aturan tersebut pemerin- tahan desa wajib melaksanakan tata kelola keuangan secara tertib, taat pada ketentuan peraturan perun- dang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transpa- ran, dan bertanggung jawab. Hal ini penting kami suarakan karena kondisi SDM di level pemerintahan desa masih rendah. Pemerintah Pusat perlu bersinergi agar penyaluran ADD, penggunaannya, tata kelola, pelaporan sampai pengawasannya bisa berjalan baik.

Dengan demikian tujuan ADD benar-benar te- pat sasaran sesuai regulasinya, yaitu pemberdayaan masyarakat desa, peningkatan derajat kesehatan, pendidikan, dan perbaikan infrastruktur. Untuk realisasi ADD di NTB tahap I yang dicairkan baru Rp301.797.520, berdasar data dari Badan Pemberda- yaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Prov NTB, dari total dana Rp172.547.793.041 tahun 2015 ber- dasarkan penetapan Kementerian Keuangan. l

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$ Menyoal iMpleMenTasi Dan pengawasan Dana Desa

aspirasi

(11)

aRfitRiati

Komisioner KI Sumatera Barat

d

ari hasil pengamatan kami, di wilayah Suma- tera Barat sedang ada training of trainer untuk pengelolaan dana desa, proses pengkucuran dana desa masih dalam tahap persiapan. Karena per- lunya payung hukum dan dari sisi teknis mengacu pada aturan-aturan, sehingga upaya pendampingan yang merupakan rencana pemerintah diharapkan berjalan dengan baik.

Undang-Undang Desa mewajibkan keterlibatan masyarakat harus tinggi. Oleh karenanya sosial- isasi harus disiapkan. Publik wajib ikut mengawasi pembangunan desa mulai dari anggaran APBD. Sa- lah satu pasal dalam UU Desa menyebutkan bahwa anggaran desa adalah hak masyarakat, dan peme- rintah wajib memberikan informasi yang valid dan berkala. Dari mulai perencanaan masyarakat harus dilibatkan.

Terkait dengan isu keterbukaan Informasi Publik, ada tanggung jawab dari Komisi Informasi untuk ikut serta mengawasi dana desa karena ada yang ha- rus dipertanggungjawabkan. Pemerintah desa harus menyiapkan metode informasi yang harus dipastikan.

Menggunakan papan informasi atau pertemuan-per- temuan yang merupakan medium komunikasi yang kerap digunakan di daerah sampai memanfaatkan website.

UU Desa juga mewajibkan memperhatikan keari- fan lokal untuk membangun kesejahteraan masyara- kat. Dengan memiliki mindset yang positif dalam pro- ses pengelolaan dana desa maka hasilnya akan bagus, benturan dapat diminimalisasi. Namun jika mindset pemerintah desa tidak benar, walaupun dalam pe- ngelolaan dana desa pengawasannya tinggi, hasilnya akan tidak baik pula. Jangan sampai dana desa di- anggap sebagai bagi-bagi kue. Oleh karenanya perlu didampingi. l

SaRwoRo SoePRaPto Komisioner KI DIY

p

enyaluran dana desa di wilayah DIY tidak ber- jalan dengan lancar karena terkendala regu- lasi. Belum semua kabupaten membuat Perda terkait, sebagai salah satu syarat disalurkannya dana desa. Sedangkan di kabupaten yang telah menyusun Perda, seperti Kabupaten Kulonprogo, kendala ber- ikutnya berupa penyusunan RAPBDes yang belum bisa dilaksanakan oleh seluruh desa. Sedikit sekali pemerintah desa yang berhasil menyusun APBDes.

Di Kabupaten Bantul, misalnya, saat ini baru tiga desa yang berhasil menyusun APBDes. Padahal sebe- lum tersusun Perda tentang penyaluran dana desa dan tersusunnya APBDes, dana desa belum bisa disalurkan.

Konsep mengenai penggunaan dana desa, berdasarkan pengamatan empirik, masih didominasi oleh pemanfa- atan untuk pembangunan fisik dan infrastruktur. Pa- dahal pembangunan nonfisik, seperti pengembangan kualitas sumberdaya manusia di pedesaan dan pe- ngembangan kewiraswastaan tidak kalah penting.

Sistem penyaluran dana desa yang ada saat ini be- lum memungkinkan publik turut mengawasi. Masya- rakat di perdesaan pada umumnya belum dilibatkan untuk mengawasi penyaluran dan pemanfaatan dana desa. Walaupun sudah ada UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, yang memung- kinkan publik di perdesaan untuk mengawasi peng- gunaan dana desa, Badan Publik di pedesaan belum secara terus terang menjelaskan kepada masyarakat bahwa publik, yakni warga masyarakat desa, diberi pintu untuk ikut mengawasi penggunaan dana desa.

KI DIY pada tahun 2014 secara khusus telah me- lakukan sosialisasi UU Nomor 14 Th 2008 kepada pe- merintah desa di seluruh kabupaten di DIY. Kepada kepala desa atau aparat pemerintah desa yang bertu- gas melakukan pengelolaan dan pelayanan informasi, yakni Sekretaris Desa. l

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$

$$$$$$

$$$$$$

$$$$ Menyoal iMpleMenTasi Dan pengawasan Dana Desa

reporter: leny sulistiani penulis: leny sulistiani editor: abdulhamid dipopramono

(12)

fokus

Mengakselerasi keTerbukaan

inforMasi

(13)

Para pegiat keterbukaan informasi ma- sih bertanya-tanya apakah pemerin- tah cukup serius dalam melaksanakan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP)? Karena meski UU KIP telah diundangkan sejak tujuh tahun silam, namun masih ada tujuh provinsi yang belum membentuk Komisi Informasi (KI) padahal perintah UU KIP, dua ta- hun setelah UU dilaksanakan, yakni ta- hun 2010, maka seluruh provinsi telah membentuk KI.

Keterlambatan provinsi untuk se- gera membentuk KI baru satu indikator dasar tidak tegasnya pemerintah dalam menjalankan UU KIP. Satu indikator dasar lagi adalah mengenai kelambanan pelaksanaan keterbukaan Informasi Publik oleh pemerintah. Dapat dilihat kurangnya greget pemerintah adalah dari pembentukan Pejabat Pengelola In- formasi dan Dokumentasi (PPID) di lem-

baga pemerintah yang baru terealisasi di kisaran 49,14 persen. Selengkapnya rekap progres penunjukan PPID hingga Februari 2015 dapat dilihat pada tabel.

Melihat kondisi ini, Komisi Infor- masi Pusat (KIP) mengambil inisiatif agar akselerasi keterbukaan informasi semakin cepat, antara lain dengan cara mendeklaresaikan tanggal 30 April se- bagai Hari Keterbukaan Informasi Na- sional (KIN). Pemilihan tanggal 30 April sebagai Hari KIN karena tanggal tersebut, di tahun 2008, adalah tanggal disahkannya UU KIP. Undang-undang hasil inisiatif DPR atas dorongan kuat masyarakat sipil tersebut telah meng- alami pembahasan dan pergulatan pan- jang dengan pemerintah (eksekutif), se- hingga lalu terjadi kompromi-kompromi dan lahir tepat 30 April 2008.

Dengan begitu hari KIN juga ingin memberi penghargaan dan dedikasi luhur kepada para pejuang keterbukaan informasi yang dengan gigih tanpa le- lah mendorong agar UU KIP lahir. Ma- syarakat dengan berbagai komponenya yang terdiri aktivis prodemokrasi, jur- nalis, akademisi, dan lainnya mendapat gayung sambutan dari para wakil rak- yat di DPR, utamanya angota-anggota Komisi I. Mereka bergerak sejak awal era Reformasi dan mengemban amanah rakyat yang secara konstitusional ditu- angkan dalam Tap MPR tahun 1999. Ka- langan eksekutif atau pemerintah pun kemudian mendukungnya.

Lantas apa bedanya Hari KIN de- ngan Hari Hak untuk Tahu Internasio- nal atau International Right to Know

p

ReKAP PROgReS PenUnJUKAn PPiD hinggA FeBRUARi 2015

sumBer: kementerian komifo

no Lembaga Jumlah Yang Sudah

Menunjuk PPiD

Persentase (%)

1 kementerian 34 34 100,00

2 lembaga negara/lembaga

stingkat menteri/lns/lpp 129 43 33,33

3 provinsi 34 30 88,24

4 kabupaten 399 174 43,61

5 kota 98 60 61,22

Jumlah 694 341 49,14

(14)

Day (RTKD) yang selama ini selalu di- peringati setiap tanggal 27 Semptem- ber? Keduanya saling mendukung dan komplementer. Memang selama ini para aktivis keterbukaan informasi su- dah secara rutin merayakan RTKD ber- barengan serempak dengan masyarakat dunia. Tapi itu gerakan internasional.

Di Indonesia sendiri hari itu bukan se- bagai hari perayaan nasional. KIP yang selama ini selalu merayakannya dengan para pegiat keterbukaan informasi tidak mengurangi komitmennya untuk mera- yakan dan memeriahkan RTKD.

Namun Indonesia yang telah memi- liki UU KIP (semacam Freedom of In- formation Act di negara demokrasi lain) pantas berbangga dan merayakannya de- ngan penuh percaya diri. Sebab di mata dunia, kelahiran UU KIP telah mengerek posisi Indonesia di level internasional sebagai negara yang pemerintahannya berkomitmen terbuka. Indonesia juga termasik pioner dalam pemerintahan terbuka dan memimpin OGP (Open Go- vernment Partnership), yakni perkum- pulan negara-negara terbuka dunia.

Deklarasi Hari KIN digelar di Ge- dung Joang 45, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, pada 30 April 2015. De- klarasi tersebut merupakan salah satu rangkaian dari sekian acara yang dige- lar KIP. Kegiatan lain pada hari itu ada- lah Refleksi Lima Tahun Pemberlakuan UU KIP, launching Mars KI, pemberian penghargaan kepada Badan Publik dan partner strategis KIP yang termasuk pelopor dalam keterbukaan Informasi Publik, dan diskusi publik. Ada juga pe- nampilan grup band Powerslave.

Dekalarasi dilakukan oleh seluruh hadirin dengan diwakili di panggung depan oleh para Ketua KI Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia, perwakilan PPID, dan perwakilan or- ganisasi masyarakat sipil (CSO), yang dipimpin langsung oleh Ketua KIP Ab- dulhamid Dipopramono. Dari KIP yang ikut maju berdeklarasi adalah Komi- sioner Henny S Widyaningsih dan Ru- madi Ahmad, serta beberapa Tenaga Ahli dan Asisten. Henny adalah koor- dinator rangkaian acara pada 30 April 2015 tersebut. Menteri Komunikasi dan

Informatika Rudiantara juga hadir dan memberi sambutan mewakili Prisiden Joko Widodo.

Pada diskusi publik yang bertema

“Diskusi Publik Lima Tahun Pemberla- kuan UU KIP dan Deklarasi Hari Ke- terbukaan Informasi Nasional” tersebut bertindak selaku narasumber adalah Deputi Kepala Staf Presiden Yanuar Nu- groho, Anggota Komisi I DPR Gamari Soetrisno, Kepala Puspen Kemendagri Dody Riatmadji, Direktur IPC/Foini Sulastio, Ketua KIP Abdulhamid Dipo- pramono, dengan moderator Henny S Widyaningsih.

Dalam diskusi publik tersebut Sulastio yang mewakili masyarakat sipil mengata- kan bahwa diperlukan upaya akselerasi keterbukaan Informasi Publik di tanah air. Pasalnya, persoalan yang kita hadapi sekarang bukan hanya capaian pemben- tukan PPID yang rendah dan masih ada- nya KI yang belum terbentuk. Data yang menyebutkan 341 PPID yang baru terben- tuk dari 694 lembaga pemerintah, atau be- lum 50 persen, itu baru mandat pemben- tukan PPID. “Belum termasuk mandat penyusunan SOP pengelolaan dan pela- yanan informasi, penyusunan daftar in- formasi publik, laporan pelaksanaan UU KIP, dan sebagainya,” kata Tio.

Dijelaskannya, jika keseluruhan mandat ini diakumulasikan, maka da- pat dipastikan tingkat ketaatan Badan Publik (BP) dalam melaksanaan UU KIP

akan jauh lebih rendah dari data resmi yang sekarang ada. Menurutnya, masih rendahnya persentase pembentukan PPID pada level kabupaten dan kota, cukup mengherankan karena sudah ada Permendagri Nomor 35 Tahun 2010 tentang Pedoman dan Pengelolaan Pe- layanan Informasi dan Dokumentasi di Lingkungan Kemdagri dan Pemda.

“Dalam analisis kami, hal ini lebih dikarenakan komitmen dari kepala dae- rah yang masih rendah,” katanya. Untuk itu, ia mengatakan akselerasi impele- mentasi UU Keterbukaan Informasi Pu- blik perlu terus dilakukan. Namun demi- kian, menurutnya, akselerasi tersebut tidak hanya menjadi kewajiban Komisi Informasi semata akan tetapi juga oleh seluruh elemen negara. “Akselerasi itu membutuhkan komitmen pimpinan se- luruh Badan Publik,” tandas Tio.

Sebagaimana fakta yang ada pada saat ini, Sulastio mengatakan kondisi KI dari sisi regulasi dan fakta belum “man- diri”. Hal ini seharusnya menjadi syarat mutlak apabila suatu lembaga memiliki tugas untuk menyelesaikan sengketa ka- rena lembaga tersebut harus memutus dan menyelesaikan sengketa secara be- bas dari tekanan pihak mana pun.

Untuk itu kemandirian menjadi kata kunci yang harus terejawantahkan baik dalam regulasi yang mengaturnya mau- pun dalam mental para personelnya. Apa- lagi, saat ini KIP telah memasuki periode

fokus

dari kiri ke kanan: sulastio (direktur ipC/foini), abdulhamid dipopramono (ketua kip), gamari soetrisno (anggota komisi i dpr ri), dody riadmadji (Juru Bicara kementerian dalam negeri), dan Yanuar nugroho (deputi kepala staf kepresidenan).

(15)

kepengurusan kedua, yakni periode 2013 – 2017, periode yang idealnya ditargetkan menjadi tonggak atas perbaikan kinerja jika dibandingkan periode sebelumnya yang masih disibukkan dengan pem- bentukan KI Provinsi, penataan kelem- bagaan, penyusunan berbagai tata kerja, regulasi dan lainnya, yang akan menjadi dasar dan landasan bekerja.

tAgih JAnJi PReSiDen

Menurut Tio, penguatan KI tidak cukup tanpa dibarengi sinergi antara KIP dan gerakan masyarakat sipil. Oleh karena- nya masukan dan program yang telah disusun masyarakat sipil jangan menjadi tumpukan kertas dan catatan kegiatan semata, melainkan harus dijadikan ma- sukan bagi penguatan KIP dan analisis substansi UU KIP setelah lima tahun di- terapkan. “Maka sudah saatnya UU KIP ini diperbaiki sehingga dapat optimal da- lam mewujudkan keterbukaan Informasi Publik yang berkualitas,” tegas Tio.

Ini sekaligus momentum masyarakat sipil untuk menagih janji dan komitmen kampanye Presiden Jokowi yang ter- cantum dalam Nawacita yang diturun- kan dalam 9 Program Priotitas Memba- ngun Tata Kelola Pemerintahan. Agenda Strategis Jokowi-JK 2015 – 2019 dalam bagian tata kelola pemerintahan adalah peningkatan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan pemerintahan, mewajibkan instansi pemerintah mem- buat laporan kinerja dan membuka akses Informasi Publik sesuai UU KIP dan menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebi- jakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan.

“Kurang lebih enam bulan Presiden Jokowi memerintah, maka kini saatnya pemerintah segera membuat program guna menjawab tantangan pelaksanaan keterbukaan informasi yang juga ter- cantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah pada sisi Badan Pu- blik. “Faktanya saat ini komitmen Badan Publik dan sejumlah kepala daerah ma- sih rendah, keterbukaan masih dianggap sebagai beban dan bukan modalitas, dan keterbatasan SDM bidang komunikasi dan informasi,” kata Tio.

Untuk itu, guna mengakselerasi im- plementasi keterbukaan informasi Tio memberi lima catatan. Pertama, analisis substansi UU KIP terutama pada item yang berpotensi kontra produktif terha- dap perwujudan keterbukaan informasi.

Kedua, penguatan Komisi Informasi guna mewujudkan lembaga penyele- saian sengketa yang terpercaya. Ketiga, mempercepat pembentukan infrastruk- tur pelayanan informasi di Badan Publik (PPID, SOP dll). Keempat, mengkampa- nyekan penyampaian informasi secara proaktif guna menumbuhkan partisipa- si publik. Dan kelima, kampanye publik untuk meningkatkan permintaan infor- masi oleh masyarakat.

FASiLitASi PPiD

Sementara itu, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Dody Riadmadji mengata- kan bahwa pemerintah terus berupaya mendorong pembentukan PPID dan pembentukan KI Provinsi. Ia mengata-

“maka sudah saatnya uu kip ini diperbaiki sehingga dapat optimal dalam mewujudkan keterbukaan

informasi publik yang berkualitas.”

Sulastio

direktur ipC/foini

ketua kip abdulhamid dipopramono menyerahkan plakat kepada deputi kepala staf kepresidenan Yanuar nugroho disaksikan anggota komisi i dpr ri gamari soetrisno pada saat deklarasi Hari kin di gedung Joang 45 Jakarta pusat, 30 april 2015.

(16)

kan Mendagri telah membuat regulasi yang cukup untuk pembentukan PPID, mulai dari PP Nomore 61 Tahun 2010 Pasal 21, ayat (1) , yang berbunyi “PPID harus sudah ditunjuk paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Peraturan Peme- rintah ini diundangkan.”

Juga Permendagri Nomor 35 Tahun 2010 Pasal 7, ayat (1) yang berbunyi: “Un- tuk mengelola pelayanan informasi dan dokumentasi di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan pemerintahan daerah ditetapkan PPID”. “Termasuk mengha- ruskan kelengkapan PPID pemerintah daerah, Prosedur Operasional Stantadar pelayanan informasi, Daftar Informasi Publik (DIP), ruang pelayanan infor- masi, aplikasi PPID pada website peme- rintah daerah, laporan pelayanan infor- masi, dan pendanaan,” kata Dody yang juga Juru Bicara Kemendagri.

Dody mengatakan, Permendagri Nomor 35 Tahun 2010 pada Pasal 15 me- nyebutkan segala biaya yang diperlukan untuk pengelolaan pelayanan informasi dan dokumentasi di lingkungan peme- rintahan provinsi dibebankan pada Ang- garan Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi. Dan segala biaya yang diper- lukan untuk pengelolaan pelayanan in- formasi dan dokumentasi di lingkungan

fokus

pemerintahan kabupaten/kota dibeban- kan pada Anggaran Pendapatan dan Be- lanja Daerah Kabupaten/Kota.

DPR teRUS MenDUKUng

Anggota Komisi I DPR RI Gamari Soe- trisno mengatakan, legislatif akan se- lalu mendukung apa saja yang dapat mempercepat pelaksanaan keterbukaan Informasi Publik di Indonesia. “Kami akan terus mendukung eksistensi Ko- misi Informasi, jika memerlukan ang- garan lebih untuk memaksimalkan pelaksanaan keterbukaan informasi, maka DPR siap memperjuangkan,” te- gas Gamari.

“UU KIP merupkan produk refor- masi yang harus terus-menerus dijaga dan dikembangkan sehingga rakyat Indonesia dapat lebih cerdas dan se- jahtera,” lanjut Anggota DPR yang per- nah menjabat Deputi Menko Polhukam tersebut. Menurut Gamari, manfaat UU KIP adalah untuk mendorong transpa- ransi dan akuntabilitas Badan Publik

sehingga tercipta tata kelola pemerin- tahan yang baik.

“Keterbukaan informasi juga dapat mengakselerasi pemberantasan KKN dan mengoptimalisasi perlindungan hak-hak masyarakat terhadap pela- yanan public.” Namun menurut Gamari, masih ada beberapa kendala dalam pe- laksanaan UU KIP, seperti BP belum siap membuka diri sesuai prinsip UU KIP karena BP belum didukung dengan database yang lengkap.

“Di Indonesia juga belum terben- tuk budaya untuk mendokumentasikan di lingkungan pemerintah,” kata dia.

Selain itu, lanjutnya, sosialisasi kebe- radaan UU KIP baik di pusat maupun belum maksimal. “Dukungan anggaran juga belum memadai di tingkat pusat maupun daerah,” tegasnya.

Gamari menjamin, dukungan DPR RI tidak akan pernah berhenti agar ke- terbukaan informasi benar-benar ter- laksana dengan baik. Untuk itu, DPR se- lalu mendorong pemerintah dan semua pihak terkait untuk memiliki komitmen kuat guna menindaklanjuti UU KIP, se- hingga transparansi dan akuntabilitas segera terwujud dan tata kelola peme- rintahan yang baik tercipta.

KiP MeLOBi DUniA

Dalam kesempatan bicara di diskusi pu- blik tersebut Ketua KIP Abdulhamid Dipopramono mengatakan KIP terus berjuang bagi akselerasi keterbukaan informasi di tanah air. Berbagai cara telah dilakukan mulai dari melakukan kunjungan ke setiap daerah, terutama provinsi yang belum membentuk KI dan PPID lewat berbagai forum dan penyele- saian sengketa informasi, hingga mela- kukan lobi internasional.

Hamid yang baru mendarat kem- bali dari Chile tanggal 29 April 2015 malam, mengatakan bahwa berkat lobi yang dilakukan saat mengikuti Kon- ferensi Komisioner Komisi Informasi se-Dunia (ICIC) IX di Chile maka In- donesia ditunjuk menjadi tuan rumah konferensi berikutnya pada tahun 2017.

Pelaksanaan ICIC X yang direncana- kan digelar di Bali pada 2017 merupakan promosi yang bagus bagi Indonesia. “Ini

“pemerintah terus berupaya mendorong pembentukan ppid dan pembentukan ki provinsi.”

Dody Riadmadji

Juru Bicara kementerian dalam negeri

“uu kip merupkan produk reformasi yang harus terus- menerus dijaga dan dikembangkan sehingga rakyat indonesia dapat lebih cerdas dan sejahtera.”

gamari Soe trisno

anggota komisi i dpr ri

(17)

juga sebuah sosialisasi yang dapat mem- percepat pelaksanaan keterbukaan in- formasi di Indonesia karena akan men- jadi topik dan pembahasan masyarakat luas,” kata Ketua KIP.

Dijelaskan bahwa jika Indonesia mampu menyelenggarakan ICIC X ta- hun 2017 maka akan menjadi negara di benua Asia pertama yang jadi tuan ru- mah. “Dari ICIC pertama sampai ke- sembilan, tuan rumah selalu berputar antara Eropa dan Amerika dan terakhir di Chile yang termasuk Amerika Sela- tan,” kata Hamid. Dalam kesempatan tersebut Ketua KIP juga membagikan file rumusan atau resolusi ICIC yang dislenggarakan di Santiagi, Chle, yang baru saja diikutinya bersama Komision- er John Fresly dan Evy Trisulo.

DUKUngAn KAStAF KePReSiDen Dalam kesempatan sama, Deputi Kantor Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho me- ngatakan kuatnya komitmen Presiden Joko Widodo untuk keterbukaan infor-

masi publik.. Apalagi menurut Yanuar, sangat banyak manfaat dengan adanya open government, di antaranya dapat menekan angka korupsi, pemerintah le- bih responsif, pelayanan meningkat, dan mendorong inovasi baru untuk mening- katkan efisiensi.

“Open government telah mampu mendorong kemajuan dalam koordinasi dan pengambilan keputusan, kemajuan dalam kinerja pelayanan birokrasi, ke- majuan dalam partisipasi publik dan rasa memiliki bersama, serta kemajuan dalam akuntabilitas dan pencegahan korupsi,” kata doktor lulusan Inggris ini. “Hal ini pada akhirnya akan meng- hasilkan pemerintahan dengan kinerja tinggi, program pembangunan yang efektif, dan kesejahteraan rakyat yang lebih baik,” sambungnya.

Yanuar menyatakan tidak ada alasan untuk mengulur-ulur implementasi ke- terbukaan Informasi Publik karena ada enam ketentuan undang-undang dan peraturan yang mendorong dan menja- minnya. Mulai dari UU Nomor 14/2008, UU Nomor 37/2008 Ombudsman Re- publik Indonesia, UU Nomor 25/2009 Pelayanan Publik, PP Nomor 61/2010 tentang Pelaksanaan UU KIP, Perpres Nomor 26/2010 Industri Ekstraktif, dan Permendagri Nomor 35/2010 tentang Pelayanan di Daerah.

Kastaf Kepresidenan berupaya terus mendorong keterbukaan Informasi Pu- blik melalui website www.lapor.go.id. Sa- rana ini menurut Yanuar sangat aspirasif untuk pengaduan dan permintaan infor- masi berbasis media sosial yang berprin- sip mudah, terpadu, dan tuntas untuk pengawasan program pembangunan dan pelayanan publik di Indonesia

Mantan orang penting UKP4 ini me- nekankan perlunya koordinasi antara KIP dengan Kantor Staf Kepresidenan untuk keselarasan antara inisiatif data terbuka. UU KIP, dan kepentingan na- sional. Juga koordinasi dengan K/L stra- tegis untuk perumusan kebijakan keter- bukaan data yang berkesinambungan.

Koordinasi dengan KIP juga untuk meningkatkan kualitas dan penguasaan data dan informasi dalam BP; meka- nisme uji konsekuensi dan kebutuhan kanal diseminasi terpadu; memperkuat komitmen keterbukaan dengan per- luasan cakupan Informasi Publik dan proactive disclosure; serta perbaikan kualitas layanan Informasi Publik mela- lui kebijakan kepemilikan dan produksi data dan informasi publik.

“Koodinasi dengan KIP juga untuk kerja sama dalam perumusan kerangka kerja atas aspek reusability/hak guna pakai dari data dan Informasi Publik;

mendefinisikan secara eksplisit tang- gung jawab dan batas kewenangan peme- rintah atas penggunaan data dan Infor- masi Publik; serta pendalaman potensi data.go.id sebagai kanal diseminasi. l

penulis: muhammad salim (karel) editor: abdulhamid dipopramono

“ini juga sebuah sosialisasi yang dapat mempercepat pelaksanaan

keterbukaan informasi di indonesia karena akan menjadi topik dan pembahasan masyarakat luas.”

Abdulhamid Dipopramono

ketua kip

“Open government telah mampu

mendorong kemajuan dalam koordinasi dan pengambilan keputusan, kemajuan dalam kinerja

pelayanan birokrasi, kemajuan dalam partisipasi publik dan rasa memiliki bersama, serta kemajuan dalam akuntabilitas dan pencegahan korupsi.”

Yanuar nugroho

deputi kepala staf kepresidenan

(18)

kegiatan ki pusat

r

ombongan dprpB (dewan per- wakilan rakyat papua Barat) mela- kukan audiensi ke komisi informasi pusat (kip), di Jakarta, kamis (18/6). rom- bongan yang terdiri Wakil ketua dprpB Ja Jumame bersama aggota komisi a ismail, arifin, Xaverius kameubun, dan febry J andjar, disertai staf moses r frimisela, Barnabas mandakan, dan Yosias sayori. me- reka ditemui oleh ketua kip abdulhamid dipopramono dan komisioner evy trisulo.

mereka melakukan konsultasi terkait keter- bukaan informasi publik di papua Barat pada umumnya dan perkembangan pembentukan komisi informasi (ki) papua Barat.

rombongan dprpB melaporkan bahwa 10 nama calon komisioner ki papua Barat sudah lolos panitia seleksi (pansel) dan se- karang sudah berada di meja gubernur, na- mun belum diserahkan ke dprpB untuk di-

lakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). dalam konteks tersebut ketua kip menyarankan agar dprpB menanyakan hal tersebut ke gubernur mengingat proses penjaringan sudah lebih dari setahun. “ka- lau gubernur lamban, dprpB harus inisiatif dan aktif menanyakan,” kata dia.

mereka juga menanyakan tentang pe- doman seleksi dan kriteria calon yang layak diloloskan. kip menyarankan agar pedoman dari kip tahun 2010 dipergunakan, sedang- kan untuk fit and proper test di dprpB atau

com didik supriyanto, pemred PR Indo- nesia asmono Wikan, ketua dewan pers prof Bagir manan, komisioner kip Henny s Widyaning sih, serta para srikandi pr/

kehumasan ternama seperti miranty abi- din, magdalena Wenas, prita k gani, inke maris, dan maria Wongsonagoro. selain materi teori, para peserta juga melakukan diskusi dan praktik profesi.

dalam pidatonya, abdulhamid selain memaparkan hal-hal bersifat makro terkait perkembangan peradaban dan platform pemerintahan, juga menguraikan tentang faktor-faktor yang bisa menjadikan kondisi terbuka pada suatu Badan publik. ia juga menguraikan tentang transformasi fungsi humas ke ppid (pejabat pengelola infor- masi dan dokumentasi), peran media massa dalam menciptakan kondisi terbuka, peran keterbukaan informasi dalam membangun reputasi lembaga, serta layanan informasi dan dokumentasi berdasar uu nomor 14 tahun 2008 yang bisa mengisi kekurangan dari fungsi media massa. l

legislatif memang tidak menutup ke- mungkinan ada- nya pertimbangan politik dari para anggota dewan.

“itu keniscayaan yang wajar saja dan harus dihor- mati,” kata ketua kip. abdulhamid juga menyarankan agar dprpB me- lakukan inisiatif pembuatan perda tentang keterbukaan informasi di papua Ba- rat yang hingga kini belum ada.

sedangkan evy trisulo mengingatkan perlunya dukungan dprpB untuk sekreta- riat ki papua Barat jika sudah terbentuk.

sebab, menurut evy, jika komisioner ditun- juk tapi tanpa dukungan sekretariat maka lembaga juga tidak berjalan. “kalau ki su- dah dibentuk tapi tidak ada anggaran untuk sekretariat ya tidak akan jalan. apalagi un- tuk penanganan sengketa informasi, harus ada sekretaris selaku panitera,” lanjut evy. l

k

etua komisi informasi pusat (kip) abdulhamid dipopramono me- nyampaikan pidato kunci (keynote speech) pada acara Jambore media dan pr indonesia yang diadakan serikat penerbit surat kabar (sps) pusat di denpasar, Bali, kamis (11/6). tema yang disampaikan ketua kip berjudul “keterbukaan informasi untuk kejayaan Bangsa”. Jambore digelar selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 Juni 2015, de- ngan diikuti para profesional bidang kehu- masan dari pemerintah, Bumn, maupun swasta; praktisi media/jurnalis; serta ppid pemerintah pusat dan daerah.

setelah acara keynote speech dari ketua kip, acara diisi dengan pemberian materi kelas yang antara lain diberikan oleh pemred majalah Tempo arif Zulki- fli, pemred koran Bisnis Indonesia arief Budisusilo, pemred situs warta merdeka.

KetUA KiP SAMPAiKAn Keynote Speech Di JAMBORe MeDiA DAn PR inDOneSiA Di BALi KiP SARAnKAn

DPRPB tAnYA

CALOn KOMiSiOneR

Ke gUBeRnUR

(19)

B

eberapa kementerian dan lembaga (kl) yang tergabung dalam tim inti open government indonesia (ogi) melakukan rapat koordinasi guna membahas model sekretariat bersama, bertempat di kantor kementerian ppn/Bappenas, rabu (17/6), mulai pukul 08.00 WiB. Hadir dalam rapat tersebut perwakilan kl seperti dari kantor staf presiden (ksp), komisi informasi pusat (kip), kementerian luar negeri, ke- menterian dalam negeri, kementerian pan &

rB, kementerian kominfo, dan kementerian ppn/Bappenas sendiri selaku tuan rumah.

mereka yang hadir antara lain deputi kepala staf presiden (ksp) Yanuar nugroho beserta staf, deputi kepala Bappenas Bidang politik dan keamanan rizki feriyanto didam- pingi direktur aparatur negara siliwanti, ketua kip abdulhamid dipopramono didam- pingi asisten ahli feri firdaus dan elbinsar purba, kapuspen kementerian dalam ne- geri doddy riatmadji, deputi menteri pan &

rB, direktur komunikasi publik kementerian kominfo tulus subardjono dan tim, dan peja- bat eselon dari kementerian luar negeri.

sebagai salah satu penggagas gerakan inisiatif multilateral kemitraan pemerin- tahan terbuka dunia atau open government partnership (ogp), indonesia telah terlibat

secara intensif dalam mendorong transpa- ransi, partisipasi, dan akuntabilitas baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hal ter- sebut menjadi penting lantaran pemerin- tahan terbuka hingga kini dipercaya sebagai solusi untuk mewujudkan tata kelola peme- rintahan yang baik dan bebas dari korupsi, serta landasan sistem demokrasi.

“sekretariat ogi dirancang untuk mem- bantu menjaga memori institusional, me- ngelola komunikasi, dan menjamin kelang- sungan hubungan organisasi dalam tubuh tim inti ogi,” ujar Yanuar nugroho saat memberi pengantar pertemuan tersebut.

sekretariat ogi, tambah Yanuar, nantinya akan berfungsi sebagai pihak yang netral antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta kemungkinan perguruan tinggi dan sektor swasta akan dilibatkan, guna memastikan keseimbangan yang produktif di antara unsur-unsur tersebut, terkait pen- ciptaan pemerintahan terbuka di indonesia.

ketua kip abdulhamid dipopramono dalam rapat tersebut mengatakan bahwa

tiM inti Ogi BAhAS SeKRetARiAt

BeRSAMA

RAKeR DengAn DPR, KiP SAMPAiKAn SeRAPAn AnggARAn DAn iSU StRAtegiS

Bersambung ke hal 25 di dunia internasional, indonesia diang- gap sebagai motor dalam mendorong pe- merintahan yang terbuka khususnya sejak uu kip lahir. Hal tersebut setidaknya diakui oleh negara-negara yang hadir dalam per- temuan komisioner komisi informasi sedu- nia (iCiC) iX di Chile beberapa waktu lalu.

Bahkan, tahun 2017 nanti indonesia didau- lat sebagai tuan rumah dalam penyeleng- garaan pertemuan tingkat dunia tersebut.

“namun demikian, kondisi internal di indo- nesia sendiri masih perlu banyak pembena- han,” kata dia.

secara kelembagaan, menurut Hamid, bisa saja ogi diformulakan seperti saat ada- nya ukp4 dengan dilakukan pengembangan atau perluasan. tetapi dia mengingatkan un- tuk tidak melupakan substansi dan membuat ukuran-ukuran atau indikator jelas untuk men- capai pemerintahan terbuka. “dan penca- paian pemerintahan terbuka tidak bisa hanya oleh pemerintah sendiri, perlu peran pihak lain seperti Cso, perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat. tapi formula keterlibatan mereka harus ditata secara pas,” lanjutnya.

ia juga menginformasikan bahwa in- donesia akan menjadi tuan rumah konfe- rensi komisioner komisi informasi se-dunia (iCiC) X pada tahun 2017. untuk itu diper- lukan dukungan dari kementerian lain dan Bappenas. iCiC X tahun 2017 di indonesia, menurut abdulhamid, bisa semakin men- dorong pemerintahan terbuka di indonesia dan mengo kohkan peran indonesia di dunia internasional. l

k

ementerian komunikasi dan informa- tika (kominfo), beserta lembaga man- diri terkait, memenuhi undangan ra- pat kerja (raker) komisi i dpr ri di senayan, Jakarta, pada rabu (10/6). dari kominfo ha- dir menteri rudiantara, sekjen suprawoto, para dirjen dan kepala badan, serta para pejabat eselon ii. dari lembaga terkait hadir para ketua kpi, kip, dewan pers, dan direktur perum lkBn antara. ketua kip abdulhamid dipopramono hadir didampingi komisioner kip Henny s Widyaningsih, sekretaris kip

Bambang Hardi Winata, dan kabag perenca- naan daulat siregar.

setelah menteri kominfo mengawali presentasi, lantas presentasi dilanjutkan berturut-turut oleh ketua komisi penyiaran indonesia (kpi) Judhariksawan, ketua ko- misi informasi pusat (kip) abdulhamid di- popramono, ketua dewan pers prof Bagir manan, dan direktur perum lkBn antara endah sri Wahyuni. mereka diminta men- jelaskan progres serapan anggaran hingga bulan mei 2015, program kerja yang telah

dilakukan, dan paparan isu-isu strategis hingga tahun 2016.

ketua kip menyampaikan bahwa serapan anggaran di kip hingga akhir mei 2015 mencapai 26, 15 persen. persentase

(20)

t

im dari management system inter- national (msi) yang didukung usaid memperesentasikan rancangan revisi peraturan komisi informasi (perki) tentang prosedur penyelesaian sengketa informasi publik (psi) dan sistem informasi manaje- men sengketa informasi publik (simpsi) di depan komisioner dan tenaga ahli komisi informasi pusat (kip) di kantor kip Jakarta, senin (1/6). kedua produk tersebut dipres- entasikan karena sangat berkaitan erat, bah- kan simpsi harus mendasarkan pada perki psi yang harus direvisi terlebih dahulu.

tim msi hadir selain dari unsur manaje- men yang terdiri desi viciana dan angeline Hoseani juga dari tim konsultan yang terdiri Bani pamungkas untuk aspek legal dan le- gal drafting, indradhi nugraha untuk ana- lisis sistem dan asesmen teknologi informasi (it), serta syaifuddin untuk it program- ming. sedangkan dari kip yang menerima

di seluruh kementerian di bawah koordi- nasinya. “ppid kemenko perekonomian seharusnya bisa mengkoordinasi ppid ke- menterian teknis di bawah koordinasinya,”

kata John fresly. “untuk best practices bisa ppid kementerian keuangan karena dua kali berturut-turut mendapat peringkat pertama dalam keterbukaan yang diadakan kip,” kata Hamid. sedang Henny menyarankan agar diadakan rapat koordinasi di antara mereka.

“agar di kemenko perekonomian memiliki standar sama,” kata dia.

KiP DOROng KOORDinASi KeteRBUKAAn inFORMASi Di KeMenKO PeReKOnOMiAn

MSi PReSentASiKAn RAnCAngAn ReviSi PeRKi PSi DAn SiMPSi

untuk pelaksanaan iCiC X yang rencana- nya dilaksanakan di Bali pada tahun 2017, so- fyan djalil menyarakan agar kip bekerja sama dengan berbagai pihak. selain kementerian terkait seperti kominfo dan luar negeri, dia menyarankan untuk kerja sama dengan pihak swasta, misalnya dari sisi hotel untuk mengi- nap para delegasi, transportasi, dan teleko- munikasinya. “saya sarankan juga pelaksa- naannya jangan pada peak season kunjungan wisatawan ke Bali seperti waktu summer, nanti tarif jadi mahal,” sambungnya. l

presentasi terdiri ketua abdulhamid dipo- pramono, Wakil ketua John fresly, serta para komisioner rumadi ahmad, dyah aryani, Henny s Widyaningsih, dan Yhannu setyawan. mereka didampingi tenaga ahli agus Wijayanto, fathul ulum, annie londa, aditya nuriya, dan tya tirtasari.

Bagi msi bantuan program ini meru- pakan bagian dari siap-1, sedangkan bagi kip program tersebut sangat bermanfaat.

sebab hingga usia yang ke-6 saat ini pe- ngelolaan data dan manajemen psi masih

dilakukan secara manual. dengan demikian tidak saja data-data tak terkonsolidasi de- ngan baik, tetapi alur proses manajemen psi juga belum berbasis it, masih manual dengan tingkat human error tinggi. dengan simpsi nantinya seluruh peroses psi, se- jak dari registrasi perkara hingga putusan akan berbasis komputerisasi. publik pun akan bisa memantau status sengketa infor- masi yang ditangani kip. program ini kelak juga akan diterapkan di ki daerah (provinsi, kabupaten/kota) dan di-link ke kip.

sedangkan revisi perki psi (yang se- lama ini dikenal dengan perki nomor 1 tahun 2013) harus dilakukan disebabkan selain usia perki sudah dua tahun dan ada beberapa hal tidak sesuai semangat uu kip, juga un- tuk kemudahan penanganan perkara. revisi perki juga dibutuhkan sebagai dasar desain simpsi. alur dari simpsi akan didasarkan pada uu kip dan perki psi yang diperbarui/

direvisi. program kerja sama antara msi-kip ini dimulai sejak bulan maret 2015 dengan penanggung jawab komisioner kip rumadi ahmad dibantu aditya nuriya. l

t

iga komisioner komisi informasi pu- sat (kip) yang terdiri ketua abdul- hamid dipopramono, Wakil ketua John fresly, dan Henny s Widyaningsih ber- temu menteri koordinator perekonomian sofyan djalil di kantornya, Jakarta, senin (1/6). mereka selain menyampaikan rencana indonesia sebagai tuan rumah international Conference of information Commisioners (iCiC) iX tahun 2017, juga mendorong men- ko untuk mengkoordinasi keterbukaan in- formasi publik di kementerian-kementerian di bawah koordinasinya.

kip mendorong agar kementerian ko- ordinator (kemenko) perekonomian agar mendorong keterbukaan informasi publik

kegiatan ki pusat

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa sebagaimana Pasal 374 yang menyebutkan, “Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan oleh karena ada hubungan kerja, atau karena

• Faktor internal yang mengacu pada permasalahan belajar matematika siswa kelas IV SDN Jejeruk adalah faktor minat dan motivasi siswa terhadap matematika yang rendah sehingga

Bahan ajar yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran dan yang dibutuhkan peserta didik dalam meningkatkan hasil belajar

Kegiatan Bimbingan Teknis Pemeliharan Ayam KUB mendukung Program Bekerja di Sulawesi Barat dilaksanakan pada tanggal 27-29 November 2019 di Hotel Maleo Town

Pada saat penelitian dilakukan, perturan yang masih berlaku dan mejadi dasar untuk pembuatan sistem presensi di lingkungan Kementerian XYZ adalah Pemerintah nomor: 53

Ketua Tim Peneliti wajib membuat Surat Pernyataan Tidak Ada Aset (untuk yang tidak ada aset)/Berita Acara Serah Terima Aset (untuk yang memiliki aset) mengikuti format yang

Adapun posisi suami adalah berada di dekat calon bunda (duduk di samping atau di belakang). 2) Suami meminta calon bunda untuk menarik napas yang dalam lalu keluarkan dengan

Kualitas produk merupakan modal untuk menentukan keunggulan kompetitif terutama bagi perusahaan perangkat komunikasi.Kualitas produk pada penelitian ini dibentuk