• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Hasil Penelitian dan Analisis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. Hasil Penelitian dan Analisis"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

4. Hasil Penelitian dan Analisis

4.1. Gambaran Umum 4.1.1. Gambaran Sampel

Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dimana terdapat 45 perusahaan atau 135 data yang menjadi sampel. Penelitian ini menggunakan sampel berupa perusahaan yang terdaftar di BEI pada sektor perdagangan dan jasa yang mengeluarkan laporan keuangan tahunan secara beruntun dari tahun 2009 – 2011 dan sudah menerapkan good corporate governance (GCG). Jumlah populasi yang ada berjumlah 77 perusahaan atau 231 data. Dari populasi tersebut, 32 perusahaan diantaranya tidak mengeluarkan laporan keuangan secara beruntun.

Rinciannya sebagai berikut :

 19 perusahaan tidak mengeluarkan laporan keuangan tahunan tahun 2009.

 8 perusahaan tidak mengeluarkan laporan keuangan tahunan tahun 2010.

 6 perusahana tidak mengeluarkan laporan keuangan tahunan tahun 2011.

Data pengamatan yang digunakan sebagai variabel adalah data Komisaris Independen, Komite audit, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, jumlah asset, jumlah asset tetap, pendapatan bersih, laba bersih, dan arus kas dari aktivitas operasional. Daftar perusahaan yang digunakan sebagai sampel dapat dilihat di lampiran 1.1. Dari sampel data yang ada dikeluarkan lagi 6 data yang diduga sebagai outlier, yaitu PT First Media tahun 2009, PT Perdana Bangun Pusaka tahun 2009, PT Bintang Mitra Semestaraya tahun 2009, PT Jasuindo Tiga Perkasa tahun 2009, PT Star Pacific tahun 2010, dan PT Intraco Penta tahun 2011.

4.1.2. Perhitungan Variable Penelitian

Penjelasan perhitungan variabel dependen dan independen menggunakan sampel perusahaan PT Ace Hardware Indonesia sebagai contoh perhitungan :

a) Aktivitas Manajemen laba

Dalam perhitungan aktivitas manajemen laba digunakan model Jones

(2)

total accruals dengan mengurangi net income dengan cash flow from operating activities.

𝑇𝐴

𝑖𝑡

= 𝑁𝐼

𝑡

− 𝑂𝐶𝐹

𝑡

Total Accrual/ ACES 2009 = - 0.0399 Total Accrual/ ACES 2010 = 0.0706 Total Accrual/ ACES 2011 = 0.1660

Setelah itu melakukan regresi untuk mendapatkan koefisien yang digunakan untuk menghitung non – discretionary accruals. Total accruals digunakan sebagai variable dependen untuk menghitung koefisien non – discretionary accrual, yang kemudian menghasilkan rumus :

𝑁𝐷𝐴

2009 = 0.007 1/ 𝐴𝑖𝑡−1 − 0.249 ∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡/ 𝐴𝑖𝑡−1 − 0.665 𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡/ 𝐴𝑡−1 + 𝜀𝑖𝑡

(4.1)

𝑁𝐷𝐴

2010 = −0.001 1/ 𝐴𝑖𝑡−1 + 0.009 ∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡/ 𝐴𝑖𝑡−1 − 0.057 𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡/ 𝐴𝑡−1 + 𝜀𝑖𝑡

(4.2)

𝑁𝐷𝐴

2011 = 0.001 1/ 𝐴𝑖𝑡−1 − 0.005 ∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡/ 𝐴𝑖𝑡−1 + 0.025 𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡/ 𝐴𝑡−1 + 𝜀𝑖𝑡

(4.3)

Untuk menghitung (1/Ait-1), (∆REVit/Ait-1), dan (PPEit/Ait-1) maka membutuhkan data perusahaan sebagai berikut:

1/ Ait-1 ACES tahun 2009 = 1.27 1/ Ait-1 ACES tahun 2010 = 1.03 1/ Ait-1 ACES tahun 2011 = 0.84

∆REVit/ Ait-1 ACES tahun 2009 = 0.18

∆REVit/ Ait-1 ACES tahun 2010 = 0.29

∆REVit/ Ait-1 ACES tahun 2011 = 0.65 PPEit/ Ait-1 ACES tahun 2009 = 0.13 PPEit/ Ait-1 ACES tahun 2010 = 0.23 PPEit/ Ait-1 ACES tahun 2011 = 0.30

Persamaan Nondiscretionary Accrual pada ACES tahun 2009 adalah

Nondiscretionary Accrual =0.007(1.27)-0.249(0.18)-0.665(0.13)

Nondiscretionary Accrual = 0.08

(3)

Setelah itu, untuk mendapatkan nilai dari discretionary accruals, maka total accruals dikurangi dengan non – discretionary accruals. Didapati nilai discretionary accrual dari ACES 2009 adalah 0.07

b) Komisaris Independen

Jumlah komisaris suatu perusahaan dapat dilihat dilaporan GCG perusahaan tersebut, dari laporan itu juga terdapat jumlah komisaris independen yang ada. Perhitungan dilakukan dengan membagi jumlah komisaris independen dengan jumlah total komisaris yang ada diperusahaan. ACES pada tahun 2009 memiliki 2 orang Komisaris independen dari total 4 orang Komisaris Independen yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh karena itu proporsi independensi Komisaris Independennya adalah 50%.

c) Kepemilikan Institusi

Perhitungan kepemilikan institusi ini dilakukan dengan membagi jumlah saham yang dimiliki oleh institusi lainnya dengan total modal saham yang beredar. Pada ACES tahun 2009, saham yang dimiliki oleh institusi sebesar 1.231.297.500 lembar saham sedangkan jumlah saham perusahaan yang beredar adalah 1.715.000.000 lembar saham sehingga proporsi kepemilikan institusionalnya adalah 72%.

d) Kepemilikan Manajemen

Perhitungannya hampir sama dengan kepemilikan institusi. Dilakukan dengan membagi jumlah saham yang dimiliki dewan direksi dengan total modal saham yang beredar. Pada ACES tahun 2009, saham yang dimiliki oleh direksi sebesar 0 lembar saham sedangkan jumlah saham perusahaan yang beredar adalah 1.715.000.000 lembar saham sehingga proporsi kepemilikan manajemen adalah 0%.

e) Komite Audit

Perhitungan Komite audit hampir sama dengan komisaris independen.

Menganalisa komite audit dari luar perusahaan lalu membaginya

dengan jumlah komite audit keseluruhan. ACES pada tahun 2009

memiliki 2 orang Komite Audit independen dari total 3 orang Komite

(4)

Audit yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh karena itu proporsi independensi Komite Auditnya adalah 67%.

f) Reputasi KAP

Reputasi KAP dihitung dengan menggunakan variable dummy.

Menggunakan nilai 0 untuk KAP non – big four, dan nilai 1 untuk KAP big four. Pada tahun 2009, ACES menggunakan KAP non – big four oleh karena itu di nilai 0.

4.1.3. Uji Statistik Deskriptif Table 4.1 Analisa Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

DA 135 -.88 1.11 -.0006 .26919

KI 135 .00 .75 .3796 .13748

INST 135 .02 6.46 .6952 .55663

KPMJ 135 .00 .86 .0448 .12341

KMA 135 .00 1.00 .5293 .25604

R_KAP 135 .00 1.00 .4000 .49172

Valid N (listwise) 135

Berdasarkan hasil analisis deskriptif diketahui bahwa discretionary accruals yang dihitung dengan menggunakan model Jones (1991) memiliki nilai minimum sebesar -0.88, nilai maksimum sebesar 1.11 nilai mean sebesar -0.0006, dan standar deviasi sebesar 0.26919. Nilai discretionary accruals yang mendekati angka 0 menunjukkan perilaku manajemen laba relatif rendah pada sampel perusahaan atau perusahaan tidak melakukan manajemen laba (Praditia, 2010).

Dari Table 4.1 juga dapat diketahui pula bahwa nilai minimum dari proporsi

dewan komisaris sebesar 0.00 dan proporsi tertinggi adalah 0.75. Secara umum

dapat disimpulkan bahwa perusahaan – perusahaan terkait belum memenuhi

ketentuan dari Peraturan Pencatatan Nomor IA tentang Ketentuan Umum

Pencatatan Efek bersifat Ekuitas di Bursa yang menyatakan bahwa jumlah

minimum dari komisaris independen adalah 30%. Kepemilikan institusi memiliki

nilai minimum 0.02 dan maksimum 6.46. Kepemilikan manajemen memiliki nilai

minimum 0.00 yang berarti manajemen tidak memiliki saham pada perusahaan

(5)

yang bersangkuran dan maksimum sebesar 0.86. Komite audit memiliki nilai minimum 0.00 dan maksimum sebesar 1.00. Melalui nilai maksimum, bisa diketahui bahwa perusahaan memenuhi ketentuan dalam surat edaran Bapepam nomor SE-03/PM/2002 yang menyatakan bahwa komite audit terdiri dari sedikitnya tiga orang, dan diketuai oleh komisaris independen perusahaan dengan proporsi 30% untuk tereselenggaranya pengelolaan korporasi yang baik. Reputasi KAP memiliki nilai minimum 0.00 dan maksimum 1.00.

4.2. Uji Asumsi Klasik

4.2.1. Uji Normalitas Data Awal

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji, didapati hasil sebagai berikut :

Table 4.2 Uji Normalitas

Variabel Saphiro Wilk

Komisaris Independen 0.194 Kepemilikan Institusional 0.226 Kepemilikan Manajemen 0.706

Komite Audit 0.171

Reputasi KAP 0.023

Hasil pengujian dari Shapiro – Wilk pada Table 4.2 nilai signifikansi signifikan untuk variabel komisaris independen, kepemilikan institusi, kepemilikan manajemen, dan komite audit bernilai > 0.05, yang berarti data tersebut lolos uji normalitas. Sedangkan untuk variable reputasi KAP bernilai <

0.05, yang berarti tidak lulus uji normalitas. Masalah normalitas pada reputasi

KAP ini dikarenakan reputasi KAP dihitung menggunakan dummy.

(6)

4.2.2. Uji Multikolinieritas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independent. Uji multikolinieritas ini dapat melihat nilai tolerance > 0.1 atau VIF < 10 (Ghozali, 2005). Dengan hasil seperti itu maka seluruh variable bebas dari multikolinieritas. Hasil pengujian masing – masing variabel adalah sebagai berikut :

Table 4.3 Uji Multikolinieritas

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF

1

(Constant)

KI .760 1.316

1.036

INST .965

KPMJ .968 1.033

KMA .755 1.325

1.012 R_KAP .988

Dari hasil penelitian pada Table 4.3 diatas, semua variabel memiliki nilai tolerance > 0.1 dan nilai VIF < 10. Maka antara semua variabel independen tidak ditemukan korelasi.

4.2.3. Uji Autokorelasi

Table 4.4 Uji Autokolerasi

Model Summary

b

Mode

l

R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin- Watson

1 .311

a

.097 .060 .12972 2.313

a. Predictors: (Constant), R_KAP, INST, KI, KPMJ, KMA b. Dependent Variable: DA

Uji autokorelasi digunakan uji Durbin – Watson dengan hasil angka pada

Table 4.4 diantara 1.54 – 2.46, yaitu 2.313 maka dengan demikian tidak terjadi

autokorelasi pada model regresi ini.

(7)

4.2.4. Uji Heterokedastisitas

Table 4.5 Uji Heterokedastisitas

Model t Sig.

1

(Constant) 4.707 .000

KI -1.956 .053

INST -.897 .372

KPMJ -1.076 .284

KMA 2.077 .064

R_KAP .855 .394

Pengujian Heterokedastisitas menggunakan uji Glejser, dalam pengujian pada Table 4.5 nilai signifikansi semua variabel lebih besar dari 0.05. Sehingga semua variabel yang digunakan bebas dari heterokedastisitas.

4.3. Pengujian Hipotesis Table 4.6 Nilai R Square

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .311

a

.097 .060 .12972

Table 4.7 Uji F

Model F Sig.

1

Regression 2.629 .027

b

Residual

Total

(8)

Table 4.8 Uji t

Model t Sig.

1

(Constant) 1.724 .087 KI -2.694 .008 INST -1.099 .274 KPMJ -1.747 .083

KMA 2.506 .014

R_KAP .518 .605

Nilai R sebesar 0.311 menunjukkan bahwa hubungan antara variable independen dan dependen tidak kuat. Nilai Adjusted R square 6.0% yang menunjukkan variable dependen dapat dijelaskan oleh variable independen yang diteliti sedangkan sisanya dijelaskan oleh variable – variable yang lain.

Dari Tabel 4.7, hasil signifikansi model fit sebesar 0.027 atau < 5%.

Menunjukkan bahwa variabel secara keseluruhan atau bersama – sama memiliki kemampuan yang prediktif dalam memprediksi aktivitas manajemen laba. Dari Table 4.8 hasil uji t, menunjukkan bahwa signifikansi variabel komisaris independen dan komite audit < 0.05, yang berarti variabel tersebut memiliki pengaruh terhadap manajemen laba. Sedangkan untuk variabel kepemilikan institusi, kepemilikan manajemen, dan reputasi KAP tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba

4.4. Analisa dan Pembahasan

4.4.1. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Aktivitas Manajemen Laba

Hasil pengujian menunjukkan bahwa tingkat signifikansi dari variabel Komisaris Independen sebesar 0.008 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima.

Komisaris independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas

manajemen laba. Komisaris Independen berpengaruh negative terhadap aktivitas

manajemen laba. Hal ini konsisten dengan penelitian dari Kusumaning (2004)

komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Komisaris

independen akan mengawasi pembuatan laporan keuangan serta kebijakan yang

(9)

dibuat manajemen dan melindungi hak – hak pemegang saham untuk mendapatkan laporan keuangan tanpa rekayasa. Menurut Herawati (2008) menyatakan bahwa komisaris independen dapat memonitor manajemen dalam rangka menyelaraskan perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajemen.

4.4.2. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Aktivitas Manajemen Laba

Kepemilikan Institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba menurut hasil penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikan 0.274. Dengan demikian adanya kepemilikan saham oleh institusi tidak dapat mengurangi aktivitas manajemen laba. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian dari Astuti (2004). Penelitian ini bertentangan dengan penelitian dari Jama’an (2008). Kepemilikan institusi tidak berpengaruh ini mungkin disebabkan karena tidak efektifnya fungsi pengawasan terhadap kinerja manajer dan pengaruh dalam pengambilan keputusan, sehingga manajer dapat melakukan aktivitas manajemen laba. Rata – rata nilai kepemilikan institusi sebesar 0.6952. Hasil data menunjukkan bahwa kepemilikan institusi dimiliki oleh beberapa perusahaan yang kepemilikannya tidak mencapai 50%

sehingga institusi tidak memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan dalam pelaporan keuangan. Hal ini membuat kepemilikan institusi tidak berpengaruh signifian terhadap aktivitas manajemen laba.

4.4.3. Pengaruh Kepemilikan Manajemen terhadap Aktivitas Manajemen Laba

Hasil signifikansi dari variable kepemilikan manajemen lebih dari 0.05,

yaitu sebesar 0.083 yang berarti Ha ditolak. Berdasarkan hasil ini, menunjukkan

bahwa, kepemilikan manajemen tidak berpengaruh signifikan terhadap

manajemen laba. Penelitian ini didukung oleh penelitan dari Midiastuty (2005)

dan Astuti (2004) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajemen tidak

berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini dikarenakan manajer

selain sebagai pemilik juga sebagai pengelola perusahaan yang akan mengambil

keputusan bagi perusahaan. Oleh karena itu keputusan pemilik merupakan

(10)

cerminan dari keputusan manajer yang memberikan ruang bagi manajer untuk melakukan manajemen laba.

4.4.4. Pengaruh Komite Audit terhadap Aktivitas Manajemen Laba

Dari uji hipotesis, didapati nilai signifikan dari komite audit sebesar 0.014 yang berarti bahwa komite audit berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Komite audit berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wedari (2004), dengan menggunakan sampel perusahaan non financial listing. Dengan hasil bahwa komite audit berpengaruh positif signifikan terhadap aktivitas manajemen laba. Dari penelitian ini bisa disimpulkan bahwa komite audit tidak menjalankan tugasnya sebagai pengawas dengan baik dan efektif. Mengingat Keputusan Ketua BAPEPAM yang menyatakan bahwa pembentukan komite audit merupakan suatu keharusan, dimana komite audit memiliki peranan penting dalam corporate governance.

Perusahaan membentuk komite audit hanya untuk memenuhi ketentuan dari BAPEPAM. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Guna & Herawaty (2010).

4.4.5. Pengaruh Reputasi KAP terhadap Aktivitas Manajemen Laba

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa reputasi KAP tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, didapati nilai signifikansinya sebesar 0.605.

Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa semakin besarnya reputasi KAP

tidak menjamin dapat mendeteksi terjadinya manajemen laba melalui proses audit

laporan keuangan perusahaan. Penelitian ini didukung oleh Widyaningdyah

(2001) yang menyatakan bahwa reputasi KAP tidak berpengaruh signifikan

terhadap manajemen laba.

Gambar

Table 4.2 Uji Normalitas
Table 4.4 Uji Autokolerasi
Table 4.5 Uji Heterokedastisitas
Table 4.8 Uji t  Model  t  Sig.  1  (Constant)  1.724  .087 KI -2.694 .008 INST -1.099 .274  KPMJ  -1.747  .083  KMA  2.506  .014  R_KAP  .518  .605

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini mengacu pada karakteristik bahan yang berkaitan dengan aspek dari proses perakitan; yaitu handling, insertion dan fastening pada produk piston dengan tingkat

Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara Peran Individu dengan Kinerja Karyawan pada pria dan wanita.. Tuntutan Kerja memiliki

Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Islam Nomor 4867 tahun 2016 tentang Pencabutan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor Dj.I/DT.I.IV/1591.A/2011

Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah sama-sama mengunakan metode kuantitatif dan terdapat 3 variabel yang sama yaitu budaya organisasi,

Peluang terjadinya mutasi pada kalus nodular yang diiradiasi adalah perubahan struktur kromosom dibandingkan dengan tipe mutasi lainnya, karena kalus nodular merupakan kumpulan

Adalah bagian otak besar yang berfungsi mengontrol atau mengendalikan.. pergerakan tubuh bagian kiri, fungsinya

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan produk multimedia interaktif untuk keterampilan menyimak cerita bahasa Indonesia kelas V SD Kanisius

menjadi masalah bagi siswa, yaitu 1). Menentukan amanat puisi singkat dan utuh; 2). Mengganti kalimat simpulan paragraf generalisasi yang salah/rancu. Sementara pada