• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA

PENGARUH PENGGUNAAN FILM KARTUN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA TERHADAP

KETERAMPILAN BERCERITA ANAK AUTIS KELAS 5 DI SDLB NEGERI SURAKARTA

TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Nama : Achmad Nufirrozziqin

NIM : K5110001

E – mail : [email protected] No. HP : 082327601113

Pembimbing : 1. Dr. Abdul Salim Choiri, M. Kes 2. Drs. Gunarhadi, M.A, P.hD

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2015

(2)

commit to user

PENGARUH PENGGUNAAN FILM KARTUN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA TERHADAP

KETERAMPILAN BERCERITA ANAK AUTIS KELAS 5 DI SDLB NEGERI SURAKARTA

TAHUN AJARAN 2014/2015 ABSTRAK

Achmad Nufirrozziqin, Abdul Salim Choiri, Gunarhadi Telp.082327601113;Email: [email protected] Pendidikan Luar Biasa FKIP Universitas Sebelas Maret

Achmad Nufirrozziqin. PENGARUH PENGGUNAAN FILM KARTUN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA TERHADAP KETERAMPILAN BERCERITA ANAK AUTIS KELAS 5 DI SDLB NEGERI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Januari 2015.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penggunaan Media Film Kartun dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia terhadap Keterampilan Bercerita Anak Autis Kelas 5 Di Sdlb Negeri Surakarta.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan one group pre-post test design, dimana sekelompok subjek diberikan perlakuan dalam jangka waktu tertentu, dan pengaruh dari perlakuan tersebut diukur dari perbedaan antara pengukuran awal (pretest) dan pengukuran akhir (posttest). Subyeknya adalah 3 siswa autis kelas 5 SDLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2014/2015. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan dokumentasi.

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data statistik non parametrik, Tes Rangking Bertanda Wilcoxon dengan bantuan program komputer SPSS 20. Berdasarkan analisis data tersebut, diketahui nilai Z hitung -1,604 (pada posttest 1) dan -1.604 (pada posttest 2) dengan Asymp.Sig (2-tailed) 0,05 pada taraf signifikansi (α) 5 %. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan penggunaan media film kartun dalam Pembelajaran bahasa indonesia terhadap keterampilan bercerita Anak Autis kelas 5 Semester I di SDLB Negeri Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015.

Kata Kunci: Film Kartun, Keterampilan Bercerita, Anak Autis

(3)

commit to user

ABSTRACT

Achmad Nufirrozziqin, Abdul Salim Choiri, Gunarhadi Telp.082327601113;Email: [email protected] Pendidikan Luar Biasa FKIP Universitas Sebelas Maret

Achmad Nufirrozziqin. THE EFFECT OF USING CARTOON FILM AS MEDIA FOR LEARNING INDONESIAN LANGUAGE TO STORY TELLING SKILL OF AUTISM CHILD IN 5 CLASS SDLB NEGERI SURAKARTA IN YEAR OF 2014/2015. Thesis, Surakarta : Teacher Training and Education Faculty Sebelas Maret University Surakarta, January 2015

The aim of this research is to know the Effect Of Using Cartoon Film As Media for Learning Indonesian Language to Story Telling Skill Of Autism Child In 5 Class Of SDLB Negeri Surakarta In Year 2014/2015 .

The research uses the experimental method with one group pre post test design, where a group of subject is given treatment in certain time span and the effect of the treatment is measured from the difference between first measurement (pretest) and last measurement (posttest). The subject in this research are 3 students of SDLB Negeri Surakarta in year of 2014/2015. Test technique and documentation is used in collecting data technique.

This research uses non parametric statistical analysis Signed Rank Test Wilcoxon with SPSS 20 computer program to analize the data, According to the result of analysis, it can be found that the probability of Z value is -1,604 (on 1st posttest) and -1,604 (on 2nd posttest), with Asymp.Sig (2-tailed) 0.05 at the 5% significance level (α). It can be concluded that there is significant effect using of cartoon film as media for learning Indonesian Language to story telling skill of autism child in 5 class of SDLB Negeri Surakarta in year 2014/2015.

Key Words: Cartoon Film, Story Telling Skill, Autism Child

(4)

commit to user

A. PENDAHULUAN

Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia sangat dipengaruhi dari faktor tingkat pendidikan manusia tersebut.

Pendidikan mampu mengubah sikap dan perilaku seseorang untuk menghadapi segala macam hal yang akan dilalui.

Dengan alasan tersebut, bangsa Indonesia menekankan tentang pentingnya pendidikan untuk setiap warganya. UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.

Layanan pendidikan yang dijalankan di bangsa Indonesia yaitu dengan menyediakan lembaga – lembaga penyelenggara pendidikan, diantaranya adalah sekolah. Dalam sekolah termuat banyak ilmu pengetahuan yang akan diberikan

kepada peserta didik. Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang diberikan adalah bahasa. Alasan mengapa ilmu bahasa diberikan di sekolah, karena bahasa merupakan sarana terpenting dalam berkomunikasi. Secara umum bahasa merupakan alat kumunikasi yang sangat penting untuk menyampaikan sesuatu dari seseorang ke orang lain agar sesuai dengan maksud dan tujuan.

Pada lembaga pindidikan yang ada di Indonesia, pembelajaran bahasa yang pasti ada diseluruh sekolah yang ada di Indonesia adalah pelajaran bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi bangsa Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Seperti yang dijelaskan oleh Ahmad (2013:2), “pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan”. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, terdapat empat kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, yaitu membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan.

Dari keempat kompetensi diatas, kompetensi berbicara merupakan kompetensi yang memiliki tingkat

(5)

commit to user

kesulitan lebih tinggi dibandingkan yang

lain. Karena alasan itu pula, berbicara sering dikatakan sebagai keterampilan yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Untuk pembelajaran di sekolah, guru telah mempunyai strategi agar pembelajaran itu dapat berjalan dengan baik dan dapat menghasilkan output yang memuaskan. Salah satu strategi tersebut ialah dengan menggunakan media pembelajaran.

Media pembelajaran yang digunakan oleh guru bisa bermacam- macam bentuknya, tergantung pada keadaan yang ada di kelas tersebut.

Menurut Munadhi (2012:7), “media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari sumber dan disusun secara terencana sehingga dapat menciptakan kondisi yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan pembelajaran yang efisien dan efektif”.

Namun harus disadari bahwa media pembelajaran tidak selamanya menghasilkan hal yang positif, semua itu perlu perhitungan yang matang sebelum menggunakan media pembelajaran tersebut. Media pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik anak yang diberikan bimbingan atau pelajaran. Karena hal ini sangat penting agar apa yang menjadi tujuan

pembelajaran dapat tersampaikan secara pas dan menyeluruh.

Salah satu lembaga pendidikan yang sangat memperhatikan karakteristik peserta didiknya ialah Sekolah Luar Biasa atau yang lebih dikenal dengan SLB. Dalam sekolah tersebut, terdapat berbagai macam tipe anak yang memiliki hambatan dan memiliki perbedaan dengan anak normal lainnya dalam menggali pengetahuan.

Perbedaan atau hambatan yang dimiliki anak-anak di SLB antara lain ; gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan gerak, gangguan emosi dan perilaku. Dalam menggali ilmu pengetahuannya, anak-anak tersebut membutuhkan layanan pendidikan yang khusus dan menyesuaikan dengan karakteristik mereka.

Dunia pendidikan luar biasa, erat kaitannya dengan keadaan siswanya yang berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas tadi, bahwa ada anak yang mengalami ganggungan penglihatan, pendengaran, gerakan, mental dan perilaku. Salah satu gangguan yang juga dikenal dalam dunia pendidikan luar biasa adalah autis, dimana anak tersebut memiliki hambatan dalam berperilaku dan lebih khusus lagi dalam komunikasi sosial. Seperti yang dijelaskan oleh Dawson (dalam Prasetyo, 2014) yang

(6)

commit to user

menyatakan bahwa autis (autisme)

adalah gangguan perkembangan yang parah, yang meliputi ketidakmampuan dalam membangun hubungan sosial, ketidaknormalan dalam berkomunikasi, dan pola perilaku yang terbatas, berulang-ulang dan stereotip.

Seperti yang telah dipaparkan di atas mengenai pendidikan yang ada di Indonesia, bahwa pada lembaga pendidikan memuat pembelajaran bahasa Indonesia yang di dalamnya ada materi tentang kompetensi berbicara, maka jika dikaitkan dengan keadaan anak autis pembelajaran ini harus mendapatkan perhatian khusus dari berbagai pihak, terutama dari guru kelas yang mengajarnya. Dalam kompetensi berbicara yang dipelajari di sekolah, kompetensi tersebut senantiasa mendapatkan perkembangan dalam pembelajarannya. Diketahui bahwa aspek berbicara yang dikembangkan dan diajarkan dalam pelajaran bahasa Indonesia terbagi dalam berbagai macam, antara lain berpidato, berpendapat, dan ada juga bercerita.

Mengenai kompetensi bercerita, bercerita ini merupakan pengembangan dari keterampilan berbicara yang paling banyak dilakukan oleh kebanyakan orang. Seperti yang telah dijelaskan oleh Fitriani (2013:1) bahwa “salah satu bentuk kegiatan berbicara yang dapat

dilatih untuk dapat mengembangkan keterampilan berbicara siswa adalah keterampilan bercerita”. Dalam bercerita tersebut seseorang mampu mengutarakan hasil pengamatan yang dilakukannya, ataupun menyampaikan sebuah peristiwa yang telah terjadi.

Dalam konteks pembelajaran di sekolah, kurikulum menuntut agar siswa mampu menceritakan kembali pengalaman ataupun hasil pengamatan yang dilakukan di depan kelasnya. Jika hal ini dikenakan kepada anak autis yang memiliki kecenderungan sukar berkomunikasi, maka tujuan dari pembelajaran ini akan sangat sulit tercapai. Padahal aspek tersebut merupakan hal yang harus diajarkan guru terhadap muridnya dan termuat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Anak autis memiliki ciri-ciri yaitu sulit untuk berkonsentrasi saat melakukan kegiatan belajar mengajar.

Mereka justru akan melakukan kegiatan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar tersebut. Hal itu akan berlangsung secara terus menerus setiap harinya. Keadaan ini membuat kondisi pembelajaran di kelas menjadi tidak kondusif. Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia yang harus diberikan guru terhadap siswanya, guru akan kesulitan mengajarkan hal

(7)

commit to user

tersebut kepada anak autis karena tipe

anak autis yang sukar berkomunikasi.

Padahal tuntutan dalam mata pelajaran ini adalah untuk mengembangkan pola komunikasi peserta didik.

Berdasarkan keadaan tersebut, banyak guru-guru yang mengajar anak autis yang mencari strategi atau cara mengajar yang tepat untuk anak autis, agar dapat membuat anak mampu berkonsentrasi dengan baik, lebih menarik dan paling penting tujuan dari pembelajaran tersebut bisa tercapai.

Salah satu strategi yang sering dilakukan oleh kebanyakan guru ialah dengan menggunakan media pembelajaran.

Berhubungan dengan mata pelajaran bahasa Indonesia tentang keterampilan bercerita dan peserta didik anak autis, maka guru benar-benar dituntut untuk mencari media yang pas dan sesuai.

Menelisik mengenai alternatif cara untuk mengembangkan kemampuan konsentrasi dan komunikasi anak autis, sekelompok orangtua anak autis yang menamakan kelompok mereka dengan nama Putrakembara (2014), menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dijadikan alternatif terapi untuk pengembangan konsentrasi dan keterampilan verbal anak autis. Antara lain yaitu ; permainan secara tiba-tiba, lomba menamai benda, menyanyikan lagu-lagu, menonton televisi atau film

dan bermain peran. Beberapa hal tersebut terbukti mampu meningkatkan daya konsentrasi dan keterampilan verbal anak autis. Dan jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia dalam aspek keterampilan bercerita, maka film merupakan sarana yang sangat memungkinkan untuk dijadikan media pembelajaran bagi anak autis, terlebih lagi jika film tersebut merupakan film kartun. Karena kebanyakan anak usia sekolah pasti tertarik dengan film kartun. Dan hal ini juga sesuai dengan kompetensi dasar yang ada pada pelajaran bahasa Indonesia yaitu anak dituntut untuk mengamati sesuatu dan kemudian menceritakanya kembali di depan kelas.

Hasil observasi di SDLB Negeri Surakarta diketahui bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih bersifat klasikal, yaitu pembelajaran yang masih terpusat pada guru. Padahal diketahui bahwa anak autis memiliki tingkat konsentrasi yang sangat rendah. Hal tersebut menyebabkan siswa autis yang ada menjadi lebih banyak melakukan kegiatan diluar aspek pelajaran yang sedang diberikan. Guru hanya menjelaskan dengan suara lantang di kelas dan berharap anak didiknya mampu menagkap apa yang telah disampaikannya dan tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai.

(8)

commit to user

Diharapkan melalui media film kartun

ini siswa akan tertari perhatiannya sehingga konsentrasi mereka juga bertambah serta mampu memceritakan kembali film tersebut. Dan diharapakan juga, apa yang menjadi tujuan dari pembelajaran ini dapat tercapai.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalahnya adalah “Apakah Pengaruh Penggunaan Film Kartun sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia terhadap Keterampilan Bercerita Anak Autis Kelas 5 di SDLB Negeri Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015?”

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengeruh penggunaan Film Kartun sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia terhadap Keterampilan Bercerita Anak Autis Kelas 5 di SDLB Negeri Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015.

B. METODE PENELITIAN

Penelitian ini mengambil lokasi penelitian di SDLB Surakarta dan dilakukan pada akhir bulan November sampai awal bulan Desember 2014.

Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dengan metode pre- experimen atau experimen lemah.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Group Pretest-Posttest Design, yaitu sekelompok subjek

diberikan perlakuan yang sama (dengan menggunakan media film kartun) dalam jangka waktu tertentu. Pengukuran dilakukan sebelum (pretest) dan sesudah perlakuan (posttest) diberikan, dan perbedaan hasil pengukuran awal (T1) dengan hasil pengukuran akhir (T2) adalah merupakan pengaruh dari perlakuan yang diberikan.

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas 5 Autis semester I di SDLB Negeri Surakarta yang berjumlah 3 orang. Penelitian ini menggunakan teknik sampling jenuh karena sampel yang digunakan adalah seluruh siswa kelas 5 autis. Seperti yang telah dijelaskan oleh Sugiyono (2013:120), “sampling jenuh adalah teknik penentuan sample bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel”.

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini dengan statistik non parametrik, yaitu teknik analisis tes Uji Rangking Bertanda Wilcoxon (Wilcoxon Sign Rank Test), karena uji ini dapat digunakan untuk mengetahui perbedaan antara sebelum dan sesudah diberikannya perlakuan (treatment). Penggunaan statistik ini juga didasarkan dari sampel yang tidak diambil secara acak dan sampel yang digunakan relatif kecil.

(9)

commit to user

C. HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan film kartun sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia terhadap keterampilan bercerita anak autis kelas 5 di SDLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2014/2015.

Hasil dari pelaksanaan penelitian akan disajikan pada tabel- tabel di bawah ini :

Tabel 1 Nilai Pretest

No. Nama Inisial Siswa

Nilai Pretest

1 CSR 24

2 DMS 80

3 GL 52

Jumlah 156

Rata-rata 52

Berdasarkan hasil capaian pretest yang tercantum pada tabel 1 tersebut, dapat di jelaskan bahwa hanya satu orang siswa yang telah mendapatkan nilai di atas rata-rata, sementara dua siswa lainnya memperoleh nilai di bawah rata-rata.

Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 80 dan terendah adalah 24, dengan rata-rata kelas sebesar 52.

Tabel 2 Nilai Posttest 1

No.

Nama Inisial Siswa

Nilai Posttest 1

1 CSR 48

2 DMS 92

3 GL 60

Jumlah 200

Rata-rata 66.67

Berdasarkan hasil capaian posttest 1 yang tercantum pada tabel 2 tersebut, dapat di jelaskan bahwa ada 1 siswa yang sudah mendapatkan nilai di atas rata-rata, sedangkan 2 siswa lainnya masih dibawah rata-rata kelas.

Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 92 dan terendah adalah 48, dengan rata-rata kelas sebesar 66.67. Pada posttest pertama ini mulai terlihat adanya peningkatan nilai keterampilan bercerita pada siswa, walaupun nilai dua siswa masih berada pada batas minimum rata- rata kelas dan dibawah rata-rata kelas.

Tabel 3 Nilai Posttest 2

No.

Nama Inisial Siswa

Nilai Posttest 2

1 CSR 68

2 DMS 96

3 GL 84

Jumlah 248

Rata-rata 82.67

Berdasarkan hasil capaian posttest ke-2 yang tercantum pada tabel 4.8 tersebut, dapat di jelaskan bahwa

(10)

commit to user

seluruh siswa telah mengalami

peningkatan keterampilan bercerita, pernyataan tersebut dilihat dari nilai tertinggi yang diperoleh adalah 96 dan terendah adalah 68, dengan rata-rata kelas sebesar 82.67. Pada Posttest ke-2, prestasi siswa mulai menunjukkan peningkatan yang lebih signifikan, dilihat dari nilai rata-rata yang dihasilkan lebih tinggi dari hasil pretest dan posttest 1.

Selanjutnya untuk mengetahui secara lebih rinci nilai pretest dan posttest hasil nilai keterampilan bercerita anak autis kelas 5 di SDLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2014/2015, berikut disajikan tabel deskriptif data nilai pretest dan posttest subyek penelitian:

Tabel 4 Deskriptif Data Nilai Pretest dan Posttest

N Min Max Mean Std.

Deviation Pre 3 24 80 52.00 28.000 Post 1 3 48 92 66.67 22.745 Post 2 3 68 92 81.33 12.220 Valid N

(listwise) 3

Berdasarkan deskripsi data di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata nilai keterampilan bercerita siswa autis pada pelajaran bahasa Indonesia kelas 5

di SDLB Negeri Surakarta, sebelum menggunakan media film kartun adalah 52.00. Sedangkan rata-rata nilai keterampilan bercerita setelah menggunakan media film kartun selama dua kali berturut-turut menjadi 66.67 dan 81.33. Oleh karena itu, merujuk pada data yang tertera pada table – table diatas, terlihat ada peningkatan nilai rata-rata antara sebelum dan setelah menggunakan media film kartun dalam pembelajaran bahasa Indonesia materi bercerita, dimana rata-rata nilai pretest, posttest 1, dan posttest 2 adalah 52.00 menjadi 66.67, kemudian menjadi 81.33.

Selisih nilai rata-rata yang didapatkan cukup banyak dalam setiap tahapan test yang dilakukan, dan semakin meningkatnya perbandingan nilai rata- rata antar test tersebut memperlihatkan bahwa ada perbedaan pencapaian nilai keterampilan bercerita sebelum dan setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan film kartun.

Hasil analisis pengaruh penggunaan film kartun sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia terhadap keterampilan bercerita anak autis kelas 5 di SDLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2014/2015 disajikan pada tabel.

Tabel 5 Hasil Analisis Pengaruh Penggunaan Film Kartun sebagai Media Pembelajaran Bahasa

(11)

commit to user

Indonesia terhadap Keterampilan

Bercerita Anak Autis Tabel 1. Hasil Tes Statistik Test Statisticsa

posttest1 - pretest

posttest2 - pretest

Z -1.604b -1.604b

Asymp. Sig. (2-

tailed) .109 .109

a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on negative ranks.

Pengujian persyaratan analisis dilakukan dengan membandingkan Asymp.Sig (2-tailed) dengan taraf signifikansi (α) 5% agar dapat diketahui keputusan ditolak atau diterimanya hipo- tesis. Berdasarkan analisis nilai pretest dan posttest diperoleh nilai Asymp.Sig (2-tailed) = 0.005 < 0.05 maka hipotesis (Ha) diterima.

Hipotesis yang berbebunyi :

“penggunaan film kartun sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia berpengeruh dan dapat meningkatkan keterampilan bercerita anak autis kelas 5 di SDLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2014/2015”.

2. Pembahasan

Analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan media film kartun sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia berpengaruh terhadap keterampilan

bercerita anak autis kelas 5 di SDLB Negeri Surakarta. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari peningkatan nilai keterampilan bercerita anak autis sebelum dan sesudah penggunaan film kartun pada saat pembelajaran bahasa Indonesia materi bercerita.

Peneliti mengidentifikasi pengaruh dari film kartun terhadap keterampilan bercerita anak autis melalui tahapan pretest dan posttest.

Pada tahapan pretest, nilai yang diperoleh siswa masih tergolong kurang, karena nilai yang didapatkan masih merupakan nilai terendah dalam perhitungan nilai yang ditetapkan pada penelitian ini. Dari pretest yang telah dilakukan tersebut, dapat dijelaskan bahwa keterampilan bercerita siswa belum cukup baik, hal tersebut dilihat dari hanya ada satu siswa yang mendapatkan nilai lebih dari rata-rata nilai kelas, sehingga keterampilan siswa autis dalam bercerita masih tergolong kurang atau rendah.

Rendahnya prestasi yang diperoleh siswa merupakan hasil kondisi awal sebelum digunakannya film kartun sebagai media pembelajaran, yaitu guru masih menggunakan model klasikal yang menuntut siswa berkonsetrasi penuh kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran. Seperti yang telah diketahui, bahwa anak autis sangat

(12)

commit to user

kesusahan untuk melakukan konsentrasi

penuh, apalagi dengan hal-hal yang tidak cukup menarik perhatian mereka.

Hal ini menyebabkan hasil pembelajaran yang didapatkan menjadi tidak maksimal dan masih sangat rendah.

Sama seperti yang dijelaskan oleh Yatim (2002:12), yang menyatakan bahwa anak autis akan sangat kesusahan untuk melakukan interaksi sosial, apalagi dalam pembelajaran ini guru menuntut agar anak autis berkonsentrasi penuh terhadap penjelasan yang diberikan guru, sudah tentu mereka akan kesusahan dapat menyerap materi yang diajarkan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa autis adalah dengan cara mengubah strategi pembelajaran yang digunakan.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Dick

& Carey (Anitah, 2009:45), strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan dan cara pengorganisasian materi pelajaran, peserta didik, peralatan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu tujuan dari strategi pembelajaran adalah menciptakan suasana kelas yang menyenangkan demi menumbuhkan semangat belajar peserta didik. Dalam penelitian eksperimen ini, siswa

diarahkan agar berfokus pada media pembelajaran, tidak seperti biasanya menuntut siswa untuk berkonsentrasi pada penjelasan guru. Mengaitkan pada media pembelajaran, dalam penelitian ini peneliti menggunakan media film kartun sebagai alat untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkannya.

Penggunaan media tersebut mengacu pada pendapat Yulianto (2012), yang mengemukanan bahwa film mampu mempercepat pemahaman siswa dalam belajar, sehingga belajar menjadi lebih efekif. Dan dalam penelitian ini peneliti menggungakan film kartun sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia untuk materi keterampilan bercerita.

Pembelajaran menggunakan media film kartun dalam materi bercerita, merupakan salah satu cara untuk menarik perhatian anak autis yang mempunyai karakteristik kurang bisa tenang dan konsentrasi saat pembelajaran berlangsung. Pengaruh penggunaan film kartun dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini ternyata memang terbukti membawa pengaruh bagi anak autis.

Dalam proses penggunaannya anak autis sangat tertarik untuk melihat film tersebut, dan konsentrasi mereka juga secara bertahap menjadi lebih meningkat. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Riza (2012), yang

(13)

commit to user

menyatakan bahwa film kartun mampu

memotivasi siswa untuk memperhatikan karena menghadirkan daya tarik bagi siswa terutama karena adanya animasi yang dilengkapi dengan suara. Adanya gambar animasi dan suara tersebut mampu mengaktifkan indera yang ada apada anak autis secara bersamaan, yaitu indera penglihatan dan indera pendengaran sehingga kandungan atau materi yang ada dalam film kartun mampu ditangkap anak autis secara komplit. Pengaruh tersebut juga bisa dilihat dari peningkatan nilai yang didapatkan pada posttest 1 dan posttest 2 yang telah dilakukan. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan keterampilan bercerita anak autis setelah mendapat perlakuan yaitu berupa penggunaan film kartun dalam kegiatan belajar mengajar.

Oleh karena itu, media pembelajaran menggunakan film kartun dimana siswa tidak lagi harus terpusat kepada guru untuk mendengarkan sebuah cerita, terbukti memang efektif bagi pembelajaran anak autis. Selain meningkatkan nilai keterampilan bercerita, penerapan media pembelajaran ini dalam pelajaran bahasa Indonesia juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melatih daya konsentrasi anak autis yang seringkali sangat sulit untuk dilakukan. Hal tersebut memang

merupakan kelebihan dari penggunaan film kartun sebagai media pembelajaran.

Dari beberapa kelebihan film kartun, film kartun yang dikatakan juga dapat menjadi penambah motivasi belajar dan memberikan suasana baru dalam kegiatan belajar, juga terbukti dalam penelitian ini.

Perubahan yang terjadi pada anak autis setelah mengikuti posttest 1 dan posttest 2 antara lain adalah siswa menjadi mudah untuk menangkap semua pesan yang terkandung dalam film kartun tersebut. Perhatian siswa autis menjadi terpusat ke film kartun yang ditonton sehingga konsentrasi siswa autis juga meningkat dengan ditandai ketenangan mereka dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian ketika siswa autis diminta untuk menceritakan ulang film kartun yang ditonton, kelancaran mereka dalam bercerita juga meningkat serta mampu bercerita dengan ditambahi gerakan-gerakan tubuh lain untuk memperjelas cerita. Perasaan dan kepekaan mereka terhadap alur cerita juga terlihat pada saat mereka menceritakan kembali. Dari beberapa perubahan yang terjadi pada diri anak autis tersebut, ternyata perubahan tersebut sesuai dengan fungsi psikologis yang dijelaskan Levie dan Lents (Herminegari, 2013), yaitu media pembelajaran mampu meningkatkan

(14)

commit to user

perhatian dan konsentrasi siswa,

menggugah perasaan dan emosi siswa dalam menerima materi pembelajaran, meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran, meningkatkan imajinasi siswa serta mampu meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Hambatan – hambatan yang terjadi selama penelitian ini berlangsung yaitu terkendalanya peneliti untuk mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan, seperti laptop dan LCD proyektor. Hal ini disebabkan karena di SDLB Negeri Surakarta belum ada ruang multimedia yang khusus digunakan untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis komputer.

Hambatan lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah peneliti tidak bisa dengan mudah menggunakan semua jenis film kartun yang ada. Peneliti harus memilih dan memilah film kartun yang benar-benar mengandung unsur positif dan sesuai pengembangan moral peserta didik, karena saat sekarang ini tidak jarang dijumpai banyak film-film kartun yang mengesampingkan aspek moral dalam pembuatannya. Kendala-kendala yang ada di lapangan, ternyata sesuai dengan penjelasan Munadhi (2012:54), mengenai kekurangan yang dimiliki oleh film kartun, yaitu pada penggunaannya

film kartun butuh ruangan khusus untuk dapat menampilkan secara lebar, guru juga harus mempersiapkan alat-alat pendukung seperti LCD proyektor, komputer dan pengeras suara. Film kartun tidak selalu memuat pesan positif di dalam cerita yang disajikan, jadi guru harus benar-benar memilih film kartun yang memuat cerita positif dan tidak jarang film kartun justru membuat peserta didik terlena setelah melihat fim tersebut sehingga tujuan utama dari penggunaan film menjadi tersampingkan oleh peserta didik.

Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini yaitu penggunaan film kartun sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia terhadap keterampilan bercerita anak autis kelas V di SDLB Negeri Surakarta tahun pelajaran 2014/2015 adalah benar/terbukti. Hal tersebut dikuatkan dengan salah satu referensi hasil penelitian lain terkait pengaruh film kartun sebagai media pembelajaran. Penelitian tersebut yaitu penelitian yang dilakukan Weni Tria dan Sri Hariani (2013) yang berjudul Penggunaan Media Film Kartun untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Cerita di Sekolah Dasar. Tempat diadakannya penelitian ini yaitu di SD Negeri Takeran Magetan dengan menggunakan subyek siswa kelas V sebanyak 20 siswa. Penelitian ini

(15)

commit to user

menggunakan dua siklus. Siklus yang

pertama, skor pelaksanaan hasil pembelajaran yang didapat yaitu 77 dengan presentase keterlaksanaan sebesar 92%. Hasil tersebut belum memenuhi standar keteuntasan yang ditetapkan yaitu harus lebih dari 80, sehingga dilaksanakan siklus kedua.

Pada siklus kedua, skor ketercapaian pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan sebesar 89,75 dengan presentase keterlaksanaan pembelajaran sebesar 100%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan media film kartun dapat meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas V SD Negeri Takeran Magetan.

D. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Penggunaan film kartun sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia berpengaruh dan dapat meningkatkan keterampilan bercerita anak autis kelas V di SDLB Negeri Surakarta 2014/2015.

Berdasarkan simpulan di atas, peneliti mengajukan saran sebagai berikut:

Bagi guru kelas yang mengajar di SLB, terutama yang memiliki kelas autis diharapkan dapat menggunakan media film kartun sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia dalam

materi bercerita. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam kegiatan belajar mengajar tersebut. Karena melihat karakteristik anak autis yang sangat sukar untuk berkonsentrasi, film kartun ini mampu menjadi salah satu sarana untuk menarik perhatian siswa autis. Namun karena karakteristik anak autis yang berbeda- beda, diharapkan guru dapat memodifikasi film kartun tersebut untuk disesuaikan dengan karakteristik anak autis yang dibimbing.

Bagi Sekolah Luar Biasa (SLB) terutama SLB yang memiliki siswa autis hendaknya membimbing dan memberikan fasilitas kepada guru untuk dapat menggunakan media film kartun di sekolah. Adapun sarana yang diperlukan yaitu seperti ruang multimedia yang di dalamnya terdapat komputer atau laptop dan LCD proyektor sebagai sarana untuk memainkan film kartun.

Saran bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini, masalah dalam penelitian ini dikhususkan pada keterampilan bercerita yang hanya meliputi lima aspek, yaitu lafal, tata bahasa, kosa kata, kelancaran dan pemahaman dengan hanya menggunakan media film kartun yang diunduh langsung dari internet, sehingga perlu dikembangkan untuk

(16)

commit to user

memodivikasi film kartun yang benar-

benar disesuaikan dengan karakteristik anak autis. Kemudian untuk aspek yang diteliti juga perlu dikembangkan lagi pada aspek mimik atau karakter yang diceritakan, aspek intonasi untuk penekanan kata, aspek gestur tubuh yang akan memberikan gambaran kondisi dalam cerita, sehingga anak autis akan mampu bercerita tentang suatu hal yang dilihatnya dengan baik dan dapat diterima orang lain lebih mudah.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Hendra. (2013). Kemampuan Siswa Berbicara dengan Metode Diskusi di Kelas IV SDN No. 88 Kota Tengah Kota Gorontalo.

Jurnal Penelitian FIP, UNG, 1-10.

Anitah, Sri. Media Pembelajaran.

Surakarta : Yuma Pustaka. 2008.

Fitriani, Dian. (2013). Peningkatan Keterampilan Bercerita dengan Media Gambar Seri pada Siswa Kelas VII MTs Padureso. Jurnal PBS-UMP,1-6.

Herminegari. (2013). Belajar IPA Menyenangkan. Diperoleh 30 September 2014, dari http://herminegari.wordpress.com/

Munadi, Yudhi. Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru, Jakarta : Gaung Persada (GP) Pers, 2012.

Prasetyo, Nino. (2013). Makalah Autisme. Diperoleh 19 maret

2014, dari

http://www.academia.edu/457422 5/MAKALAH_AUTISME

Putrakembara. 2014.

Mengembangankan Kemampuan Verbal Anak Autis. Diperoleh 22

Desember 2014 dari

http://komunitas-

puterakembara.net/joomla/menge mbangkan-kemampuan-verbal- anak-autis.html

Riza, Vaiz. (2012). Media Pembelajaran. Diperoleh 30

September 2014 dari

http://rizavaiz.wordpress.com/201 2/12/13/media-pembelajaran-5/

Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D. Bandung : Alfabeta. 2013

Yatim, Faisal., Autisme sebagai gangguan jiwa pada anak, Jakarta : Pustaka Populer Obor, 2012.

Yulianto, Joko. (2012). Film sebagai Media Pembelajaran Bahasa.

Diperoleh 15 Desember 2014 dari http://pascaunesa2011.blogspot.co m/2012/01/film-sebagai-media- pembelajaran-bahasa.html

Gambar

Tabel 1 Nilai Pretest
Tabel  4  Deskriptif  Data  Nilai  Pretest  dan Posttest

Referensi

Dokumen terkait

(https://id.wikipedia.org/ diakses tanggal 04/02/2016) Takalar salah satu daerah yang termasuk ke dalam Kawasan Maminasata memiliki banyak potensi untuk dikembangkan baik

Dalam Hukum Internasional, kesatuan politik (negara atau pemerintah) yang diakui, menjadi anggota penuhdari masyarakat internasional. Dengan kata lain negara

[r]

Sebagai Badan Usaha Milik Daerah, mekanisme perubahan bentuk badan hukum yang akan ditempuh oleh Bank Perkreditan Rakyat dalam rangka perubahan bentuk hukum dari

[r]

Apabila negara ini ingin menjadi negara yang besar maka diperlukan kerjasama antara masyarakat dan pemerintahan untuk memberantas kondisi tersebut dan juga

Pada perancangan tugas akhir ini, penulis merancang pemodelan helikopter yang dapat mempertahankan ketinggian yang diinginkan dengan beberapa pilihan level ketinggian.. Pengaturan

kendaraan ke dalam peta digital, sistem juga dilengkapi dengan notifikasi bunyi pada perangkat mobile yang digunakan di dalam kendaraan sebagai peringatan jika