• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Guru Kelas Terhadap Pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Persepsi Guru Kelas Terhadap Pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

173

Jurnal Pendidikan & Pembelajaran Sekolah Dasar https://ojs.unm.ac.id/jppsd/index

Persepsi Guru Kelas Terhadap Pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle

Satri Ayu

1

, Rukayah

2

, Sidrah Afriani Rachman

3

123

PGSD FIP UNM

Kata kunci:

Persepsi; Guru Kelas;

Pembelajaran Daring

Keywords:

Perception; Classroom Teacher; Online Learning

Abstrak

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Bertujuan untuk mengetahui persepsi guru kelas terhadap pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone. Hasil penelitian ini mengungkapkan deskripsi persepsi guru kelas mengenai pelaksanaan, kendala/kekurangan, kelebihan, dan kesan terhadap pembelajaran Daring adalah Mayoritas guru kelas menanggap bahwa pelaksanaan pembelajaran Daring sudah tepat dilaksanakan. Akan tetapi, masih banyak kendala/kekurangan dalam pelaksanaanya seperti, jaringan yang tidak mendukung, fasilitas untuk pembelajaran Daring masih terbatas, dan masih banyak orang tua dan peserta didik yang gagap teknologi. Selain itu, terdapat kelebihan dari pelaksanaan pembelajaran Daring yaitu,waktu bersama antara peserta didik dan orang tua lebih banyak dan meningkatkan kemampuan pendidik, peserta didik, dan orang tua dalam memanfatakan teknlogi. Adapun kesan yang dirasakan guru kelas adalah memberikan dampak positif dan negatif serta memberikan rasa suka duka selama pembelajaran Daring. Pembelajaran Daring kurang efektif diterapkan karena pembelajaran Daring membuat tujuan pembelajaran tidak tersampaikan sepenuhnya kepada peserta didik.

Abstract

This research is a descriptive qualitative research. This study aims to determine the perception of classroom teachers on online learning at SD Negeri 100 Melle, Dua Boccoe District, Bone Regency. Data analysis techniques are data reduction, data display, conclusion drawing/verification. The results of this study reveal a description of classroom teachers' perceptions regarding implementation, constraints/weaknesses, advantages, and impressions of online learning. The majority of classroom teachers think that the implementation of online learning is appropriate. However, there are still many obstacles/

shortcomings in its implementation, such as an unsupported network, limited facilities for online learning, and many parents and students who are technology stuttering. In addition, there are advantages of implementing online learning, namely, more time together between students and parents and increasing the ability of educators, students, and parents in utilizing technology. The impression felt by the classroom teacher is to have a positive and negative impact and provide a sense of joy and sorrow during online learning. Online learning at SD Negeri 100 Melle is less effective because online learning makes learning objectives not fully conveyed to students.

© Universitas Negeri Makassar 2021 Alamat Penulis:

E-mail: [email protected]

e-ISSN : 2807-7016

PENDAHULUAN

▸ Baca selengkapnya: anjab guru kelas sd berdasarkan permendikbud

(2)

174 Saat ini Indonesia sedang dilanda penyakit yang disebabkan oleh virus yang bernama corona atau dikenal dengan istilah Covid-19 (Corona virus diseases-19). Menurut Rachim ( 2020 ) “Virus corona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus ini bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian” (h. 2). Banyak cara yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus corona ini, di antaranya adalah social distancing. Social distancing juga disebut pembatasan sosial atau secara informal jaga jarak merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit virus corona dengan menjaga jarak antara satu orang dengan orang lain serta tidak berkerumun yang memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan masyarakat termasuk di bidang pendidikan. Pada sektor pendidikan, di Indonesia terpaksa menutup sementara lembaga-lembaga pendidikan sebagai upaya untuk membendung laju penyebaran pandemi covid-19 ini.

John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang tanpa dan pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental (Primasari

& Zulela,2021) . Proses belajar merupakan kunci untuk keberhasilan pendidikan agar proses belajar menjadi berkualitas. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan harus berjalan dalam keadaan apapun. Untuk mengurangi angka penyebaran covid-19 dan kegiatan pendidikan dapat berjalan seperti biasanya maka pemerintah melakukan beberapa upaya agar pendidikan tetap berlangsung.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mengeluarkan kebijakan untuk menutup sementara seluruh lembaga pendidikan pada semua jenjang pendidikan. Pemerintah memindahkan proses pembelajaran peserta didik dari sekolah ke rumah. Cara pembelajaran yang dari sekolah ke rumah ini memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur agar pembelajaran tetap berlangsung, yaitu pemanfaatan teknologi. Pembelajaran ini disebut dengan pembelajaran dalam jaringan (Daring). Penyampaian materi ajar, penugasan, diskusi, hingga evaluasi dilakukan secara Daring dengan memanfaatkan berbagai aplikasi.

Menurut Bilfaqih & Qomaruddin (2015, h. 5) Pembelajaran Daring adalah pembelajaran yang diselenggarakan melalui jaringan web. Setiap

mata kuliah/pelajaran menyediakan materi dalam bentuk rekaman video atau slideshow, dengan tugas-tugas mingguan yang harus dikerjakan dengan batas waktu pengerjaan yang telah ditentukan dan beragam sistem penilaian.

Pembelajaran Daring merupakan pembelajaran yang dilakukan dalam jaringan secara online menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial.

Pembelajaran Daring merupakan pembelajaran yang dilakukan tanpa melalui tatap muka, tetapi melalui non tatap muka dengan bantuan aplikasi yang telah tersedia. Melalui pembelajaran Daring ini diharapkan dapat mempermudah setiap orang untuk terhubung secara online dan dapat mengakses informasi dan pembelajaran dengan cepat dan efektif. Sementara itu menurut Permendikbud Nomor 109 Tahun 2013 Pasal 1 pendidikan jarak jauh adalah proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan media komunikasi.

(Kemendikbud, 2013).

Kebijakan Daring diatur melalui Surat Edaran Kemendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) pada poin 2 yang menyatakan bahwa terdapat empat pokok kebijakan mengenai proses belajar dari rumah, yaitu (1) kegiatan pembelajaran dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa terbebani tuntutan untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum, (2) memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat covid-19, (3) aktivitas dan tugas pembelajaran menghasilkan berbagai variasi antar peserta didik, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah, (4) guru memberikan umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna tanpa diharuskan memberi skor (Kemendikbud, 2020).

Pada beberapa sekolah di Indonesia ada yang sudah biasa menerapkan metode pembelajaran Daring namun di sisi lain ada juga sekolah yang baru pertama kali menerapkan pembelajaran secara Daring. Guru yang biasanya mengajar secara tatap muka di kelas, tiba-tiba harus mengajar non tatap muka secara online.

Selain itu, masih ada sejumlah guru yang belum

melek teknologi. Pelaksanaan pembelajaran

Daring, terdapat beberapa kendala yang dirasa

kurang efektif, seperti pemberian materi

(3)

175 pembelajaran oleh guru, melek teknologi dari guru maupun orang tua yang akan membimbing peserta didik, serta keadaan ekonomi peserta didik. Hal tersebut merupakan salah satu tantangan para pendidik dan guru pada masa pembelajaran Daring berlangsung.

Berdasarkan rekaman wawancara peneliti dengan guru- guru kelas di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone pada tanggal 25 Januari 2021 bahwa guru di SD Negeri 100 Melle telah menerapkan pembelajaran Daring sejak mewabahnya covid- 19. Proses pembelajaran Daring yang dilakukan melalui aplikasi WhatsApp Messenger. Namun, pada pelaksanaannya masih banyak kendala yang dialami peserta didik sehingga pembelajaran tidak berlangsung maksimal. Kendala yang dialami tersebut di antaranya: (1) jaringan yang tidak memadai, (2) kemampuan ekonomi orang tua, (3) dukungan atau bimbingan orang tua yang masih sangat minim, (4) peserta didik cenderung cepat merasa bosan/jenuh, karena tidak adanya teman sebaya yang diajak bekerja sama dan bermain bersama di rumah, dan (5) berdasarkan pengamatan belajar dengan pendampingan orang tua di rumah, peserta didik lebih manja dan cenderung lebih malas mengerjakan tugas karena tidak ada saingan seperti halnya di sekolah saat Luring.

Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Anggianita , Yusnira & Rizal (2020) dengan judul “Persepsi guru terhadap pembelajaran Daring di Sekolah Dasar Negeri 013 Kumantan” yang menyimpulkan bahwa pembelajaran daring terdapat beragam dampak dan kendala bagi guru maupun bagi peserta didik. Persepsi guru mengenai dampak yang dirasa pada peserta didik adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang kurang memadai, perbedaan suasana saat belajar di kelas dengan belajar di rumah yang berpengaruh pada motivasi belajar peserta didik.

Kecenderungan gaya belajar daring ialah visual dan tulisan. Guru dan peserta didik merasakan terbebani oleh kuota internet, terlebih lagi jika berada di kawasan yang terganggu sinyal, pemantauan perkembangan anak terbatas, guru merasa tidak leluasa seperti di kelas. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Arifin (2020) dengan judul “ Persepsi guru Madrasah Ibtidaiyah terhadap pembelajaran daring selama program belajar dari rumah (BDR) di masa pandemi covid-19” yang menyatakan bahwa persepsi guru-guru terhadap pembelajaran Daring di masa pandemi covid-19 ini belum berjalan

dengan efektif. Hal ini dikarenakan sejumlah faktor mulai dari keterbatasan sarana-prasarana, kesiapan orang tua/wali dalam melakukan pendampingan kepada anak pada saat belajar dari rumah, dan sebagian guru belum mampu merespon dan beradaptasi dengan model pembelajaran daring karena keterbatasan pengetahuan ilmu teknologi sehingga materi ajar dan proses pembelajaran yang dilaksanakan belum sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Tujuan pelaksanaan penelitian ini yaitu Mengetahui persepsi guru kelas terhadap penerapan pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, mengetahui persepsi guru kelas terhadap dampak (kelebihan & kekurangan) pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, mengetahui persepsi guru kelas terhadap kesan yang dirasakan selama pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone.

Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang persepsi guru mengenai pembelajaran. daring yang dilakukan baik dari sisi positif maupun negatif di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone dengan mengkaji suatu judul penelitian “Persepsi Guru Kelas terhadap Pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Menurut Sidiq, Choiri, and Mujahidin (2019)) “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan penemuan- penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan cara kuantitatif”. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian.

Penelitian kualitatif juga menekankan pada

pencarian makna secara menyeluruh untuk

memahami suatu gejala sentral yang disajikan

secara naratif atau kata-kata. Penelitian ini

merupakan penelitian deskriptif, artinya bahwa

penelitian ini dimaksudkan untuk menguraikan

atau mendeskripsikan suatu situasi tertentu yang

bersifat faktual. Moleong 2015 mengemukakan

bahwa “deskriptif adalah suatu bentuk penelitian

yang datanya berupa kata-kata, gambar, dan

bukan angka-angka”(h.11).

(4)

176 Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 100 Melle, Jalan Poros Uloe-Sailong Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone dan waktu penelitian yaitu selama penelitian berlangsung.

Penelitian ini mulai dirancang dan dilaksanakan selama 6 bulan mulai bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2021. Penelitian ini dimulai pada tanggal 19 April sampai 30 Mei 2021.

Subjek dalam penelitian ini, peneliti menentukan subjek penelitian yaitu guru kelas di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone berjumlah 6 orang, yaitu guru kelas I sampai dengan guru kelas VI.

Prosedur dalam penelitian ini adalah; 1) melakukan pra penelitian, 2) menentukan partisipan yang akan diwawancarai, 3) melakukan pengumpulan data, 4) menentukan analisis data, 5) merencanakan pemeriksaan keabsahan data, 6) melakukan analisis akhir, 7) membuat interpretasi data dan kesimpulan penelitian, 8) membuat laporan akhir penelitian.

Pengumpulan data dan informasi di lapangan menggunakan teknik; (1)wawancara, yaitu pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan. Bentuk wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur yaitu pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan- pertanyaan yang akan diajukan dengan menggunakan pedoman wawancara. (2) Angket, yaitu pengumpulan data yang berupa pertanyaan ataupun pernyataan. Jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket terbuka yang berisi daftar pertanyaan dengan kesempatan jawaban yang bersifat terbuka dan tertulis.

Teknik analisis data adalah teknik dimana peneliti melakukan analisis data yang diperoleh. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data menurut Sidiq, Choiri, and Mujahidin (2019) menyebutkan bahwa proses analisis data kualitatif ada tiga yaitu, data reduction (reduksi kata), data display (penyajian data), dan conclusion drawing / verifikasi (penarikan kesimpulan/ verifikasi).

Penelitian ini dilakukan dengan pemeriksaan keabsahan data dengan meningkatkan ketekunan yaitu, melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Kemudian, triangulasi yaitu dilakukan dengan cara membandingkan data hasil wawancara dan angket. Selain itu memeriksa keabsahan data dengan member check yaitu dengan cara peneliti menunjukkan dan

mengkonfirmasi kembali data-data yang diterima sebelumnya kepada informan yang sama.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN

Persepsi Guru Kelas terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Daring

a. Kebijakan pelaksanaan pembelajaran Daring

Persepi guru kelas terhadap kebijakan pemerintah tentang pelaksanaan pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, menunjukkan bahwa kebijakan pembelajaran Daring ini sudah tepat dikeluarkan pemerintah demi keselamatan dan kesehatan baik dari pendidik maupun peserta didik serta dapat memotong rantai penyebaran covid-19 yang terjadi pada saat ini. akan tetapi, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kebijakan tersebut mengharuskan menggunakan sistem pembelajaran Daring atau dilakukan di rumah. Hal ini dilakukan agar peserta didik tetap bisa belajar walaupun dari rumah dan Kesehatan dari pendidik dan peserta didik tetap terjaga.

b. Persiapan pelaksanaan pembelajaran Daring

Persepi guru kelas guru kelas terhadap persiapan pelaksanaan Daring diketahui bahwa pembelajaran Daring perlu melakukan persiapan yang matang. Persiapan yang dilakukan seperti, kesiapan mental, persiapan perangkat pembelajaran, persiapan alat yang mendukung pembelajaran yaitu smartphone , kuota data dan jaringan, serta persiapan materi yang akan diajarkan ke peserta didik.

c. Pelaksanaan pembelajaran Daring

Persepsi guru kelas terhadap pelaksanaan Daring diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran Daring di SD Negeri 100 seluruh proses pembelajaran yang berlangsung memanfaatkan android, guru kelas memberikan pembelajaran melalui aplikasi whatsapp (WA).

Hanya aplikasi WA yang mendukung untuk digunakan di lingkup daerah SD Negeri 100 Melle karena jaringan yang tidak mendukung.

Proses pembelajaran Daring, penggunaan waktu yang digunakan sangat berbeda pada saat Luring.

Perbedaannya adalah pada saat Daring waktu

(5)

177 yang digunakan relatif lebih lama sedangkan pada saat Luring penggunaan waktu terjadwal sampai siang hari. Penjelasan guru kelas terhadap pelaksanaan Daring diketahui bahwa langkah- langkah yang dilakukan guru kelas pada dasarnya sama. Mulai dari menyapa peserta didik, mengabsen, memberikan materi, umpan balik, memberikan tugas dan mengumpulkan tugas.

penjelasan guru kelas terhadap pelaksanaan Daring diketahui bahwa melalui aplikasi WA dan menggunakan RPP Daring dan Luring. Guru kelas menjelaskan materi dalam bentuk buku elektronik, video youtube ataupun gambar.

Setelah materi diberikan, guru kelas memberikan tugas kepada peserta didik. Penjelasan guru kelas terhadap pelaksanaan Daring diketahui bahwa penilaian dilakukan apabila peserta didik aktif dalam pembelajaran seperti tepat waktu mengikuti proses pembelajaran, tepat waktu mengumpulkan tugas, peserta didik selalu aktif merespon dalam proses tanya jawab atau umpan balik, isi tugas yang diberikan dijawab dengan baik, dan ketepatan mengumpulkan tugas.

Persepsi Guru Kelas terhadap Dampak (Kelebihan/kekurangan) Pelaksanaan Pembelajaran Daring

a. Kelebihan pembelajaran Daring

Persepsi guru kelas terhadap kelebihan pelaksanaan pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle diketahui bahwa kelebihan pembelajaran Daring adalah waktu bersama antar peserta didik dan orang tua lebih banyak, meningkatkan kemampuan pendidik, peserta didik dan orang tua dalam memanfaatkan teknologi, orang tua dapat mengetahui dan memahami peran guru di sekolah, serta mengurangi aktivitas peserta didik di luar rumah dan hak anak untuk belajar tetap terpenuhi.

Manfaat pembelajaran Daring adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak dari rumah, orang tua siswa bisa membimbing langsung anak saat proses pembelajaran dan hubungan antara guru dan orang tua siswa bisa lebih ditingkatkan begitupun hubungan antara peserta didik dan orang tua bisa semakin erat.

b. Kendala/kekurangan pelaksanaan pembelajaran.

Persepsi guru kelas, kendala/ kekurangan pelaksanaan pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle adalah jaringan yang tidak memadai, banyak siswa yang tidak memiliki android, sulitnya membeli kuota internet, peserta didik

kesulitan dalam memahami materi yang diberikan sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai, tidak semua orang tua dan peserta didik mampu menggunakan android dan menjalankan aplikasi, serta sebagian peserta didik kurang minat untuk belajar dan lebih memilih membantu pekerjaan orang tua. Solusi yang diberikan guru kelas dalam mengatasi kekurangan pembelajaran Daring, seperti peserta didik yang kesulitan membeli kuota maka diberikan kuota dari pemerintah, peserta didik yang tidak memiliki smartphone guru menyarankan untuk belajar di rumah tetangga yang sama-sama belajar Daring, peserta didik yang jarang mengumpulkan tugas, guru melakukan kunjungan ke rumah peserta didik tersebut dan untuk penyampaian materi yang belum dimengerti guru membuat jadwal belajar kelompok yang dilakukan di rumah guru.

Persepsi Guru Kelas terhadap Kesan yang dirasakan selama Pelaksanaan Pembelajaran Daring

Persepsi guru kelas, kesan yang didapatkan dalam pelaksanaan pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle adalah guru kelas mendapatkan ilmu baru dalam penggunaan teknologi dan mendapatkan pengalaman baik suka maupun duka selama pembelajaran. Selain itu kesan yang didapatkan adalah pendidik dapat mengajar dimanapun dan peserta didik dapat belajar dimanapun apabila kondisi jaringan yang mendukung.

PEMBAHASAN

Persepsi Guru Kelas terhadap Penerapan Pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle

a. Kebijakan pelaksanaan pembelajaran Daring

Berdasarkan temuan peneliti di SD Negeri 100 Melle, persepsi guru kelas terhadap kebijakan pembelajaran Daring menunjukkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sudah tepat untuk memutus rantai penyebaran covid-19. Pandemi covid-19 telah berdampak di sektor pendidikan. Demi mengurangi penyebaran covid-19, pemerintah menerapkan strategi social distancing salah satunya dengan menutup sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak maka sudah sangat tepat diterapkan strategi Belajar Dari Rumah (BDR). Kebijakan tersebut mengharuskan menggunakan sistem pembelajaran Daring atau dilakukan di rumah.

Hal ini dilakukan agar peserta didik tetap bisa

(6)

178 belajar walaupun dari rumah dan kesehatan dari pendidik dan peserta didik tetap terjaga. Hal ini sejalan dengan pendapat Arifin (2020) menyatakan bahwa “tujuan dari pembelajaran Daring adalah meminimalisasi kerumunan massa dan kontak fisik di sekolah” (h.153). Kebijakan ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan hak setiap anak tetap mendapatkan layanan pendidikan.

Kebijakan pembelajaran Daring diatur pada Surat Edaran Menteri No 04 Tahun 2021 yaitu belajar dari rumah melalui pembelajaran Daring yang berlaku untuk semua peserta didik.

Begitupun di SD Negeri 100 Melle, proses pembelajaran dilakukan secara Daring.

Pembelajaran secara Daring dianggap menjadi solusi terbaik terhadap kegiatan belajar mengajar di tengah pandemic covid-19 demi berlangsungnya suatu proses pembelajaran.

b. Persiapan pelaksanaan pembelajaran Daring

Pembelajaran Daring merupakan hal yang dianggap menjadi satu-satunya media yang dilakukan dalam pembelajaran sebagai penyampai materi antara guru dan peserta didik, dalam masa darurat pandemi. Berdasarkan temuan penelitian hasil angket dan wawancara tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran Daring adalah untuk guru kelas di SD Negeri 100 Melle sudah terbiasa melakukan pembelajaran secara tatap muka, kondisi ini memunculkan ketidaksiapan persiapan pembelajaran. Akan tetapi siap atau tidak siap, pembelajaran Daring ini harus tetap dilaksanakan sebagai suatu cara untuk memutus rantai penyebaran covid-19 dan agar peserta didik tetap bisa untuk belajar. Perubahan yang terjadi secara cepat dan mendadak membuat guru, peserta didik dan orang tua harus mampu menggunakan teknologi. Kesiapan guru sangat dibutuhkan dalam pembelajaran Daring ini. Hal ini sejalan dengan pendapat Jamila (2020) mengatakan bahwa “faktor kesiapan pendidik merupakan penentu dari keberhasilan pendidikan peserta didik” (Magdalena dkk, 2021, h.58) .

Selain itu, persepsi guru kelas di SD Negeri 100 Melle menyatakan bahwa pembelajaran Daring ini guru perlu melakukan persiapan yang matang. Persiapan yang dilakukan seperti, kesiapan mental, persiapan perangkat pembelajaran, persiapan alat yang mendukung pembelajaran yaitu android, kuota data dan

jaringan, serta persiapan materi yang akan diberikan.

c. Pelaksanaan pembelajaran Daring

Hasil angket dan wawancara dengan guru kelas pelaksanaan pembelajaran Daring di SD Negeri 100 dilaksanakan sesuai kebijakan pemerintah yang mengharuskan pembelajaran secara jarak jauh dengan kata lain dilakukan di rumah. Seluruh proses pembelajaran yang berlangsung memanfaatkan android, guru kelas memberikan pembelajaran melalui aplikasi whatsapp (WA). Aplikasi yang digunakan guru kelas dalam pembelajaran hanya aplikasi WA saja, karena guru kelas menganggap bahwa WA lebih mudah dibandingkan dengan aplikasi yang lainnya. Selain itu hanya WA yang mendukung untuk digunakan di lingkup daerah SD Negeri 100 Melle karena jaringan yang tidak mendukung. Hal ini sejalan dengan penelitian Wiguna (2020) menyatakan bahwa “seluruh proses pembelajaran berlangsung dengan memanfaatkan smartphone, guru memberikan materi maupun tugas melalui aplikasi WA”(h.67). Selama proses pembelajaran Daring, penggunaan waktu sangat berbeda pada saat Luring. Perbedaannya adalah pada saat Daring waktu yang digunakan relatif lebih lama sedangkan pada saat Luring penggunaan waktu terjadwal sampai siang hari.

Langkah-langkah dalam pembelajaran Daring adalah melalui aplikasi WA guru memberikan salam dan menyapa peserta didik.

Kemudian memberikan motivasi agar semangat untuk belajar walaupun berada di rumah. Melalui aplikasi WA guru menjelaskan materi dalam bentuk video youtube ataupun gambar. Setelah materi diberikan, guru memberikan tugas kepada peserta didik. Peserta didik mengerjakan tugas dari guru di rumah masing-masing dengan dampingan orang tua. Tugas yang telah selesai dikerjakan oleh peserta didik, kemudian difoto dan dikirimkan kepada guru kelas atau bisa langsung mengumpulkan tugas di rumah guru kelas. Pelaksanaan pembelajaran Daring ini, rata- rata guru kelas menggunakan RPP Daring, akan tetapi terkadang juga menggunakan RPP biasa.

Sistem penilaian yang guru kelas lakukan

selama pembelajaran Daring sama seperti

pembelajaran Luring, hanya saja proses

penilaiannya dilakukan secara Daring. Nilai yang

diperoleh peserta didik berdasarkan keaktifan

peserta didik. Nilai harian peserta didik diperoleh

peserta didik melalui tugas yang telah dikerjakan,

ketepatan memasuki WA, keaktifan dalam sesi

(7)

179 umpan balik. Nilai ulangan diperoleh peserta didik jika peserta didik mengikuti ulangan. Dari macam-macam nilai tersebut akan dijumlahkan dan dirata-rata, jika peserta didik tidak aktif maka tidak akan mendapatkan nilai dan berpengaruh terhadap nilai rapor.

Persepsi Guru Kelas terhadap Dampak (Kendala/Kekurangan) Pelaksanaan Pembelajaran Daring

a. Kelebihan Pelaksanaan Pembelajaran Daring

Persepsi guru kelas SD Negeri 100 Melle mengenai kelebihan pembelajaran Daring berdasarkan angket dan wawancara diketahui bahwa kelebihan pelaksanaan pembelajaran Daring adalah waktu bersama antar peserta didik dan orang tua lebih banyak, meningkatkan kemampuan pendidik, peserta didik dan orang tua dalam memanfaatkan teknologi, orang tua dapat mengetahui dan memahami peran guru di sekolah, serta mengurangi aktivitas peserta didik di luar rumah dan hak anak untuk belajar tetap terpenuhi. Kelebihan pembelajaran Daring dari penelitian Mustakim (2020) di antaranya adalah mengatasi persoalan jarak dan waktu, membangun suasana belajar baru, dan meningkatkan kesempatan belajar (Magdalena dkk, 2021, h.58) .

Kelebihan dalam pelaksanaan pembelajaran Daring yang telah dipaparkan di atas, memiliki manfaat tersendiri bagi pendidik, peserta didik dan orang tua. Adapun manfaatnya adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak dari rumah, orang tua siswa bisa membimbing langsung anak saat proses pembelajaran dan hubungan antara guru dan orang tua siswa bisa lebih ditingkatkan begitu pun hubungan antara peserta didik dan orang tua bisa semakin erat.Bates dan Wulf menjelaskan bahwa manfaat pembelajaran Daring antara lain 1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dan guru, 2) Memungkinkan terjadinya fleksibilitas interaksi pembelajaran, baik tempat maupun waktu, 3) Menjangkau peserta didik semakin luas, dan 4) Mempermudah pembaruan dan penyimpanan materi ajar (Arifin, 2020)

b. Kekurangan Pelaksanaan Pembelajaran Daring

Persepsi guru kelas SD Negeri 100 Melle mengenai kendala/kekurangan

pembelajaran Daring berdasarkan angket dan wawancara diketahui bahwa terkait tingkat efektivitas pengajaran yang dilaksanakan, para guru kelas beranggapan bahwa masih banyak kendala/kekurangan yang dihadapi selama pembelajaran Daring. Sebagian besar guru kelas mengungkapkan bahwa kegiatan pembelajaran Daring selama ini tidak efektif.

Kendala/kekurangan pembelajaran Daring yang dikemukakan oleh para guru kelas adalah jaringan yang tidak memadai, banyak siswa yang tidak memiliki android, sulitnya membeli kuota internet, peserta didik kesulitan dalam memahami materi yang diberikan sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai, tidak semua orang tua dan peserta didik mampu menggunakan smartphone dan menjalankan aplikasi, serta sebagian peserta didik kurang minat untuk belajar dan lebih memilih membantu pekerjaan orang tua. Kendala yang dirasakan disebabkan karena adanya ketidaksiapan pendidik, peserta didik dan orang tua untuk segera beradaptasi dengan perubahan pembelajaran dari tatap muka ke pembelajaran non tatap muka (pembelajaran Daring). Alhasil, semua peserta didik merasa bosan, jenuh dan malas dengan pembelajaran Daring dan melampiaskan dengan banyak bermain dan menjadi candu bermain smartphone. Orang tua juga merasa menjadi kewalahan dalam pembelajaran Daring ini karena harus menyisihkan waktu di tengah berbagai kesibukan dan pekerjaan untuk mendampingi anak mereka belajar dan mengerjakan berbagai tugas yang semestinya menjadi tanggung jawab mereka, serta menggunakan lebih banyak uang untuk membeli kuota internet. Akan tetapi, terdapat juga orang tua yang tidak peduli dengan sekolah anaknya, sehingga tidak memperhatikan anaknya bahkan senang menyuruh anaknya membantu pekerjaan mereka pada saat pembelajaran Daring di jam sekolah.

Berdasarkan penelitian dapat dikatakan

banyak sekali kendala/kekurangan yang

dirasakan selama pembelajaran Daring ini. Hal

ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

(Arifin, 2020) menyatakan bahwa kendala

dalam pembelajaran Daring adalah

keterbatasan/ketiadaan kuota internet,

keterbatasan/ketiadaan alat komunikasi yang

memadai, keterbatasan/ketiadaan jaringan

signal, materi kelas rendah sulit untuk di

Daringkan, peserta didik belum siap, terutama

(8)

180 peserta didik kelas rendah, dan penilaian pembelajaran hanya berbasis penugasan.

Para guru kelas menyadari bahwa dalam pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle memiliki beberapa kendala dan kekurangan.

Untuk mengatasi kendala dan kekurangan yang ada dalam pembelajaran Daring, guru kelas memberikan solusi seperti peserta didik yang kesulitan membeli kuota maka diberikan kuota dari pemerintah. Peserta didik yang tidak memiliki android guru menyarankan untuk belajar di rumah tetangga yang sama-sama belajar Daring. Peserta didik yang jarang mengumpulkan tugas, guru melakukan kunjungan ke rumah peserta didik tersebut dan untuk penyampaian materi yang belum dimengerti guru membuat jadwal belajar kelompok yang dilakukan di rumah guru.

Persepsi Guru Kelas terhadap Kesan yang didapatkan dalam Pelaksanaan Pembelajaran Daring.

Persepsi guru kelas SD Negeri 100 Melle mengenai kesan yang didapatkan selama pembelajaran Daring berdasarkan hasil angket dan wawancara diketahui bahwa guru kelas mendapatkan ilmu baru dalam penggunaan teknologi dan mendapatkan pengalaman baik suka maupun duka selama pembelajaran. Kesan lain yang didapatkan adalah pendidik dapat mengajar dimanapun dan peserta didik dapat belajar dimanapun apabila kondisi jaringan yang mendukung. Selain itu terdapat beberapa dampak yang dirasakan baik positif maupun negatif.

Dampak positif yang bisa dirasakan adalah guru tetap bisa mengajar walaupun pandemi covid-19 melanda kepada peserta didik dan dapat mengetahui atau mengikuti perkembangan dalam hal penggunaan teknologi. Sedangkan dampak negatif yang dirasakan adalah guru kelas tidak dapat melihat langsung perkembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik selama pembelajaran Daring, jaringan yang tidak mendukung serta masih banyak peserta didik, dan pendidik yang belum bisa menggunakan teknologi dengan lancar. Menurut Arifin, 2020 dalam penelitiannya menyatakan bahwa pembelajaran Daring tidak akan dapat berlangsung ketika guru dan peserta didik sama- sama memiliki keterbatasan untuk mengakses perangkat dan jaringan internet secara memadai.

KESIMPULAN DAN SARAN

Pembelajaran Daring dalam masa pandemi covid-19 ini merupakan satu-satunya alternatif yang bisa digunakan agar pembelajaran tetap berlangsung. Persepsi guru kelas terhadap pembelajaran Daring di SD Negeri 100 Melle Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, pelaksanaan pembelajaran Daring dikatakan kurang efektif karena semua aktivitas peserta didik tidak terpantau secara langsung sehingga tujuan pembelajaran tidak tersampaikan sepenuhnya kepada peserta didik.

Disarankan guru lebih meningkatkan pelaksanaan pembelajaran Daring sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah agar hasil pembelajaran lebih baik dan efektif sesuai yang diharapkan, orang tua diharapkan harus mampu berperan aktif dan terbuka melaporkan kepada guru mengenai informasi perkembangan anak selama melakukan pembelajaran Daring di rumah, dan tetap semangat sebagai guru di rumah. Selain itu, peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan rumusan masalah yang lebih mendalam terkait dengan proses pembelajaran Daring.

DAFTAR PUSTAKA

Anggianita, Sonia, and Muhammad Syahrul Rizal. 2020. Persepsi Guru terhadap Pembelajaran daring Di Sekolah Dasar Negeri 013 Kumantan. Journal of Education Research, Vol. 1(2): 177–182.

Arifin AS., Sukati. 2020. Persepsi Guru Madrasah Ibtidaiyah terhadap Pembelajaran Daring Selama Program Belajar dari Rumah (BDR) di Masa Pandemi Covid-19.

LITERASI, Vol. XI(2): 150–158.

Bilfaqih, Yusuf, and Nur M Qomaruddin. 2015.

Esensi Pengembangan Pembelajaran Daring. Yogyakarta: Deepublis publisher.

Kemendikbud. 2013. “Permenkes RI Nomor 109 Tahun 2013.” : 1–8.

Magdalena I., Anisa FW., Fidinda M., &

Ramdhini SA.2021 Persepsi Guru terhadap Pembelajaran daring (E-Learning) Siswa Kelas IV SDN Sangiang Jaya pada Masa Pandemi Covid-19. Journal Sosial dan Sains (SOSAINS), Vol. 1(2): 53–62.

Moleong, Lexy j. 2015. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Primasari & Zulela. 2021. Kendala Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Secara Online Selama Masa Pandemik Covid-19 di Sekolah Dasar.

JIKAP PGSD:Jurnal Ilmiah Ilmu

(9)

181 Pendidikan, Vol. 5(1):64-73.

Rachim, Elvania. 2020. Hubungan Pelaksanaan Pembelajaran Daring Dengan Minat Belajar Siswa MI Pada Masa Pandemi Covid-19 Di Desa Krincing Secang Magelang Tahun 2020. Skripsi. Salatiga: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

Republik Indonesia, Kemendikbud. 2020. “Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19).” : 300.

S Sidiq, Umar, Miftachul Choiri, and Anwar Mujahidin. 2019. Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan. Ponorogo:

CV. Nata Karya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian Analisis Pembelajaran Daring Melalui Media Whatsapp Terhadap Minat Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 2 Lubuk Seberuk maka dapat

pengunaan aplikasi whastapp ang dilakukan secara daring. Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dilakukan secara online. Pembelajaran daring yang digunakan pada

Atas kehendak-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PERSEPSI PESERTA DIDIK KELAS IV SD TERHADAP PEMBELAJARAN IPA MELALUI DALAM JARINGAN (DARING)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (1) strategi guru dalam penguatan nilai karakter kedsiplinan melalui pembelajaran daring siswa SD Negeri Keji 2 Muntilan yaitu

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru di SD N 4 Bawu Jepara terhadap proses pembelajaran daring melalui media whatsapp yang telah

1. Pola Pembelajaran guru SD Negeri Ngelowetan selama masa pandemi Covid-19 adalah menggunakan model pembelajaran daring. Teknik pembelajaran daring menggunakan

Temuan penelitian menunjukkan bahwa 1) Pelaksanaan pembelajaran daring dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas II A kurang efektif. 2) Kelebihan pembelajaran

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran matematika berbasis daring di kelas IV SD Negeri 7 Air Kumbang tahun pelajaran 2021 dan apa